"MINI NIAGARA" INDONESIA

Pertengahan Januari 2016 kemarin aku dan beberapa teman-teman KJJI beserta handai taulannya berpetualang ke suatu tempat yang agak berbeda di suatu kota yang sudah pasti tidak asing lagi bagi kita semua yaitu Kota Bandung. Ada apa sih yang istimewa kali ini di kota Bandung selain belanjanya? Biasanya kalau aku ajak temen-temen ke Bandung, pasti yang terlintas di benak kita hanya belanja di FO, kulineran, Kawah Putih, Ciater, Tangkuban Perahu, Lembang, Rumah Sosis, Floating Market, Kampung Gajah, Cafe Maja, Dusun Bambu, dan seterusnya. Terus reaksinya “bosen ah”. Dah sering kesana.


Naahhh…. Ceritanya kali ini kita ingin mencoba ke suatu destinasi yang sedikit extreme dan masih asri, belum banyak yang tau atau mungkin sudah tau tapi belum pernah dikunjungi karena jaraknya yang memang cukup jauh dari kota Bandung. Apa sih itu? Dimana? Apa yang bagus di sana? Yuk, mari simak laporannya berikut ini.
Curug Malela. Curug Malela bukan Curug Maminya Lela lho yah… dan memang sebuah curug yang kalo menurut aku bagus banget untuk dikunjungi, secara bentuk pancuran airnya memang di luar dari kebiasaan. Aku pernah mengunjungi beberapa air terjun sebelumnya, di Mega Mendung, Gunung Salak, Lombok, semua bagus-bagus, tapi… yang ini.. memang sedikit lebih istimewa karena pancurannya yang mengingatkan kita kepada salah satu air terjun di Negeri Paman Sam yaitu Niagara Waterfall. Tak heran apabila banyak orang yang sudah pernah mengunjungi Curug Malela ini menyebutnya dengan sebutan Indonesia’s “Mini Niagara”. Memang agak mirip sih. Bagaimana caranya menuju kesana? Yuk, kita lanjut!!
Curug Malela terletak di perbatasan dengan Kab. Cianjur tepatnya di Kampung Manglid, desa Cicadas, Kec. Rongga, Kab. Bandung Barat. Curug Malela merupakan air terjun paling atas dari rangkaian 7 air terjun sepanjang 1 km. Urutannya (dari yg paling atas sampai kebawah) adalah Curug Malela, Curug Katumiri, Curug Manglid, Curug Ngebul, Curug Sumpel, Curug Palisir dan ditutup dengan Curug Pameungpeuk. Curug Malela ini memiliki ketinggian sekitar 60-70 meter dan lebar 50 meter dengan hulu sungai berasal dari Lereng Utara Gunung Kendeng yang nantinya mengalir dan membentuk jaringan sungai Cidadap dan bermuara ke Cisokan. Curug Malela memiliki air terjun yang terpisah saat jatuh dengan 5 jalur yang ada.
Untuk dapat mencapai Curug Malela ini bisa ditempuh melalui 2 jalur. Yaitu jalur Sukabumi atau Cianjur dan Jalur Bandung atau Cimahi. Kami memilih lewat jalur Bandung atau Cimahi karena lebih simple dan plang kearah Curug lebih jelas.
Rombongan yang berjumlah 15 orang pun berkumpul di rest area KM 19 arah Bandung dan demi menghindari kemacetan kamipun berangkat pagi-pagi dari Jakarta. Sesampainya di rest area sekitar pukul 07.00 pagi hari.

Dengan menggunakan 3 unit kendaraan pribadi kami menuju ke lokasi dengan melewati jalur tol Jakarta, Cikampek, Karawang, Bandung, Padalarang, keluar tol Cimahi, pilih jalur Cimareme, Batujajar, Cihampelas, Cililin, SindangKerta, GunungHalu, Buni Jaya, Curug Malela.
Jalan tol menuju Padalarangpun kami tempuh dengan lancar, tanpa hambatan yang berarti. Dengan jarak tempuh sekitar 80 km arah barat daya dari pusat Kota Bandung, desa Cicadas ini terbilang desa “paling ujung” dari Kabupaten Bandung Barat, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cianjur. Perjalanan dari keluar pintu tol Cimareme memakan waktu kurang lebih 3-4 jam dengan rata-rata kecepatan 60-80 km/jam dengan melewati beberapa kecamatan yaitu Batujajar, Cililin, Sindangkerta, Gununghalu hingga Kecamatan Rongga. Pengendara mesti benar-benar konsentrasi karena jalur yang dilalui agak kecil, berliku-liku dan tidak kalah dahsyatnya dengan kelok 44 di Bukit Tinggi, Letter S, Letter O, Letter L, semua ada, dari yang beraspal, bertebing sampai dengan berlobang cukup besar dan berbatu2 juga ada. Perjalanan terasa sulit pada saat kami lepas dari Kota Kecamatan Rongga, sekitar 8 km lagi ke arah Curug, kondisi jalan berubah menjadi berbatu kasar-kasar, berkubangan dibeberapa titik dengan tanjakan sedikit curam. Disarankan membawa kendaraan jenis tinggi jangan jenis sedan.
Setibanya di lokasi batas akhir parkir kendaraan roda 4, mobil pun kami titipkan disalah satu rumah penduduk yang memang telah disediakan untuk kami. Kami sudah dijemput oleh 15 unit ojek dengan berbagai jenis kendaraan motor roda 2. Dari yang motor sekelas King sampai dengan yang sekelas Bebek pun ada. Ojek-ojek ini sengaja kami pesan jauh-jauh hari untuk menemani kami melanjutkan perjalanan menuju ke lokasi curug. Tarif per-ojek adalah Rp 100.000,-/unit pergi-pulang termasuk juga biaya tiket masuk curug (yang sebenarnya masih rancu ada atau tidak ada) dan guide pemandu sampai ke lokasi curug. Bukan tidak bisa dilanjutkan dengan mobil, tetapi memang tidak direkomendasikan, mengingat jalannya yang sempit dan hanya bisa dilalui dan dikondisikan untuk kendaraan beroda 2 saja serta masih sepi penduduk. Perjalanan yang harus ditempuh kurang lebih sekitar 12 km dari tempat parkir mobil.
Belum ada 1 pun dari kami yang terbayang medan perjalanan yang bakal kami tempuh dengan ojek tersebut. Ketika rombongan satu per satu sudah duduk dan jalan dengan ojeknya masing2, aku baru mulai duduk di ojek seorang Bapak tua yang kalau aku tebak umurnya berkisar 50 s/d 55 tahun. Sebelum duduk aku terlebih dahulu bertanya berapa lama perjalanan kita menuju ke curug Malela tersebut? Dijawab oleh Bapak Ojek (saya tdk sempat bertanya namanya), “sekitar 1 jam lah Neng”, terus berapa jauh kita dari simpang batas akhir ojek jalan kaki turun ke Curugnya? Dijawab lagi, “sekitar 30 menit tetapi kalo sudah kelar kita harus berjalan kaki naik keparkiran ojek sekitar 1 jam lah”. O..ow… terbayang donk, artinya perjalanan turun kebawah butuh perjuangan yang tidak ringan. Okeh… Mari Bapak, kita taklukan Curug Malela.

Dengan penuh keyakinan Bapak ini membawa aku menempuh perjalanan. Berjalan sekitar 10-15 menit, jalanannya masih bagus. Ketika melewati gerbang masuk curug Malela, si Bapak tua menyapa rombongan ojek-ojek lainnya yang sedang menunggu pelanggan, seakan-akan meminta ijin lewat wilayah tersebut dengan menyebut bahwa mereka dapat orderan dari Kang Dedi.

Lewat dari gerbang curug Malela sekitar 500 meteran jalanannya mulai berbatu-batu, semakin jauh semakin besar-besar batunya, berjalan 30 menit, bukan hanya bebatuan tetapi juga tanah merah yang juga sedikit becek, terlihat jelas jalur-jalur roda motor yang besar-besar, andaikata yang jalan kesana adalah seorang pengendara motor di kota pastilah tidak berani lewat dan andaikan bisa lewat pun mungkin kakinya ikutan berlumpur atau malah mesti dorong karena licin seperti beberapa warga luar yang kami temui di jalan yang menenteng motor2 mereka.

Andaikan ada yang nekad menggunakan kendaraan beroda 4 pun belum tentu bisa melewati medan perjalanan ini, karena rodanya bisa nyelip. Yang namanya dugem (duduk gemetar), dumel (duduk mental-metal), perasaan was-was, perasaan ngeri tergelincir, jatuh dari motor, jatuh ke jurang, kerangka motornya bisa patah… semua ada… tiap kali nanjak dan menurun aku minta turun dari motor keBapaknya, tetapi tak disangka, si Bapak menjawab, “jangan neng, kalo eneng turun jalan saya malu” Nah lho… apa maksudnya yah?? Baiklah, terpaksa aku bertahan. Yang tadinya aku ma Bapaknya ngobrol2 banyak jadi terdiam karena takut mengganggu konsentrasi si Bapak. Soalnya si Bapak mesti konsentrasi penuh memilih jalur agar tidak tergelincir motornya.

Setelah kurang lebih hampir 1 jam lamanya ber”mental-mental ria” tibalah kami di tempat akhir batas ojek, yang artinya perjuangan awal telah usai, medan sesungguh telah didepan mata.…

Sepintas melihat medannya dari sini… aaahhh… tak seberapa… jalannya aspal gitu… amaaannnlah yah…

Yuk ramai2 kita taklukan Ma’Lela…. Eh salah… Curug Malela maksudnya…. Xixixi. Malelaa… Here We Come!!

Berjalan turun ke bawah diperkirakan berjarak 3 km dengan jarak tempuh kurang lebih 30 menit lamanya… Dari jalan aspal berubah menjadi jalan bertanah merah dengan sekat-sekat bamboo membentuk tangga, tidak ada pegangan di samping kiri-kanan jalan, semua poloss… sepolos pemikiran kami…

Sambil tetap narsis dengan kamera kami masing-masing, perjalanan ditempuh tanpa terasa lelah dan tanpa keluhan…

Setelah melangkah sekitar 300-400 meter ke bawah, banyak ojek-ojek khusus wilayah curug yang beraksi menawarkan diri untuk turun, dengan berbagai istilah, “ ayo neng, ojek aja, 25.000 aja seorang, jauh lho, cape lho, bla.. bla.. bla…”. Belum ada 1 pun dari kami yang bergeming dan meladeni mereka. Jalan teruss.. jalan lagi… terussss….

Sampai kami mulai mendengar suara derasnya air terjun dari ujung sana… seberapa jauh, kami pun tak tahu… hanya samar2 kami mulai melihat… air terjun nan indah itu, meskipun kecil tapi tak mengurangi kegembiraan kami…. Waahhh… bagussnyyyaaa…. Foto2 sekejap..

Lalu kami pun jalan lagi… sudah tidak sabar main air nih.

Berjalan sekitar 15 menit menurun dengan medan bertanah merah sedikit licin (diperkirakan kemiringannya 70-75 derajat), karena menurut info, baru 2 hari yang lalu hujan didaerah sekitar sana,

Akhirnya kami pun sampailah pada tempat tujuan…

Air Terjun Malela…. Indahnyaa… dengan cuaca yang memang cukup bersahabat saat itu, mendung-mendung gimanaaa gitu. Suara derasnya arus air yang jatuh dari atas ke bawah, angin yang lumayan kencang menambah semangat dan sejuk tubuh kita.

Untuk menyeberang dari batu ke batu disarankan lebih baik tidak menggunakan alas kaki dan mesti berhati-hati sekali, karena arus airnya yang sangat deras. Kalau tidak berhati-hati bisa terbawa arus dan nabrak bebatuan sekitarnya atau kalau lucky yach nyangkut doank di salah satu batu besar seperti kejadian di tahun 2003. Tetapi jangan khawatir, belum pernah ada korban jiwa di Curug Malela ini kecuali yang nyangkut tadi. Yang terpenting adalah mesti mengingat2 nasihat dari Bapak-bapak pemandu bahwa di Curug Malela ini kedalaman tiap titik pijakan batu tidak ada yang bisa memprediksinya. Arus kencang dan warna airpun tidak bisa mewakili kedalaman sungai tersebut sehingga amat sangat tidak diijinkan untuk berenang disana.

Apabila sedang musim kemarau dan rombongan beruntung, debit airnya tidak begitu deras, kitapun bisa berjalan menapaki bebatuan besar sampai ke titik pancuran air yang katanya dibaliknya ada goa yang entah goa apa itu namanya. Dan bisa mandi-mandi di bawah pancuran air curug (tapi bukan berenang yah). Konon menurut legendanya, curug ini dikuasai oleh seorang Eyang yang bernama Tadjimalela, bahkan kalau sedang kebetulan dia bisa menampakkan dirinya, tapi mungkin hanya ke orang-orang tertentu saja yah. Seperti yang dilihat oleh 2 orang di antara rombongan kami. Ada kakek-kakek berjubah putih. Yang satu orang lihatnya “beliau” sedang duduk disalah satu batu dekat pancuran air terjun, yang satu orang lagi melihatnya “beliau” sedang berjalan dari arah kanan ke kiri melewati bebatuan. Entah lah, yang tahu hanya yang melihat saja. Jadi jangan jadi beban pikiran, nikmati saja pemandangan sekitar dan derasnya pancuran air terjun, sisanya biarkan Tuhan yang mengaturnya…

Warna air pada saat itu cukup jernih. Di beberapa titik akan terlihat airnya cokelat, itu pertanda batasan dibawah sana jauh alias cukup dalam. Di Curug Malela ini banyak jebakan batman, disaat kita sedang asik-asiknya pindah dari 1 batu ke batu yang lain ada kemungkinan batu tsb berakhir begitu saja tanpa ada “teman”nya tempat berpijak yang artinya kedalamannya tidak terjangkau. Jadi diharapkan dan disarankan untuk saling mendampingi apabila memang hendak berjalan mendekat ke arah pancuran air terjun tersebut.

Kurang lebih 2-3 jam lamanya kami bermain-main air dan melepas lelah dengan menikmati pemandangan sekitar, menikmati deru air yang mengalir, rasanya tennaaanngg sekali… tiba lah saatnya kita mesti balik lagi ke pangkalan Ojek karena hari sudah semakin sore, takutnya tidak keburu naik kembali ke Bandung karena harus menempuh jarak yang begitu jauh lagi dalam kondisi gelap. Tak lupa sebelum naik kami duduk-duduk dulu menikmati gorengan di sebuah warung kecil diarea curugnya persis. Pisang gorengnya enak, garing dan manis. Ada jual popmie juga dan air mineral dan kopi sachet. Harga pisang gorengnya Rp 1.000,-/pc. Air mineral Rp 5.000,-/botol. Setelah puas menikmati gorengan kami pun melanjutkan perjalanan.

Disarankan sebisa mungkin kembalinya dari curug Malela ke Pangkalan ojek berjalan kaki saja, jalan perlahan-lahan pasti sampai koq.. Soalnya pengalaman kemarin, ada salah satu dari kami jatuh dan tertimpa motor ketika melewati jalur yang kemiringannya 70-75 derajat itu. Mungkin abang ojeknya grogi atau memang tidak konsen sehingga ketika menarik gas tidak dalam keadaan yang seimbang antara pengendara dengan yang dibonceng, entah lah. Karena aku tidak berada di lokasi pada saat itu. Aku bersama Cici Eka Wibisono, Mba Sonya dan Mas Ifan memilih berjalan kaki saja. Meskipun diledekin dan diketawain sama guidenya dan ojek-ojek disana, “si Eneng takut jatuh dari motor katanya” berkali2 disebut ke ojek2 sekitar pada saat ditawari tumpangan. Kami tidak tertarik dan kami membuktikan bahwa memang kami sanggup koq menaklukkan Curug Malela…

Kami Anti Ojek (meskipun setelah tiba di atas pangkalan ojek, Mba Onya sempat menyesal kenapa tidak mau naik ojek saja dari bawah… Lah?? Aku pikir menikmati…hehehe). Sekitar pukul 16.00 semua sudah tiba dipangkalan ojek (termasuk 4 orang terakhir, yang “Anti Ojek”) untuk kembali menaiki ojek-ojek kami sebelumnya untuk kembali ke parkiran mobil dan memanggilkan tukang urut juga buat yang jatuh. Pas kembali ini pun ada lagi 1 orang teman kami yang jatuh, tapi kali ini tidak sampai tertimpa motor, karena memang jalanannya menanjak denga kemiringan 60-65 derajat dan berbatu. Mungkin abang ojeknya kurang sigap sehingag motornya oleng. Bikin jantungan peserta yang lainnya. Sekitar kurang lebih 1 jam kita berhasil melewati jalan berbatu untuk kembali ke parkiran mobil. Kami beristirahat kurang lebih 30 menit diparkiran sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Bandung, ada yang sambil menikmati bekal yang dibawa oleh Cici Maya Sartika (kue-kue bikinan sendiri – Makasih Mami Maya), ada yang sholat di masjid terdekat, ada yang bebersih diri, mandi (karena memang sudah jam 17.00 pd saat itu), ada yg diurut karena jatuh tadi, ada yang lanjut naik ojek minta diantar ke sebuah rumah bergaya Londo yang konon dipercaya bekas rumah orang Belanda. Menurut warga sekitar, rumah yang tidak berpenghuni itu masih mistis, beberapa warga pernah menyaksikan dan mendengar ada keramaian seperti pesta kecil didalam rumah itu pada pukul 18.00 (setelah maghrib).

Sekitar pukul 17.30 WIB, rombongan berkumpul lagi untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Bandung. Usai sudah perjalanan kami kali ini. Tidak ada keluh kesah yang terdengar meskipun medannya cukup berat. Tidak ada penyesalan dari kami meskipun ada yang cedera. Semua dilalui dengan hati gembira. Semua enjoy.

NB:

- Bagi yang berminat silahkan menghubungi Kang Dedi (kepala ojek), no. Hp nya 0878-22873886.

- Disarankan untuk membawa makanan dari Bandung, karena agak sulit mencari warung-warung nasi ataupun mini market di perjalanan menuju Curug.

- Snack, air minum, obat-obatan, minyak angin, tolak angin juga diperlukan buat berjaga-jaga.

- Hanya ada 1 warung di pangkalan ojek yang menjual popmie, air mineral dan sedikit snack untuk persiapan ke Curug & 1 warung lagi dicurugnya persis.

- Amat sangat tidak disarankan menuju ke curug Malela pada waktu musim hujan atau dalam keadaan hujan 6-12 jam sebelumnya.
- Popmie Rp 10.000,-/cup

Tulisan Berhubungan

Tags: curug malela, bandung barat