Welcome , Guest   Sign in with
food, products or place Zip code or address

Kebun Pala

0 out of 5 stars based on 0 Review

Address : Neira, Maluku

Time :

Wisata Kebun Pala

Perdagangan rempah di dunia dan gugusan kepulauan Banda adalah kombinasi yang tidak bisa dipisahkan. Bangsa China sudah mendatangi pulau-pulau yang berada di Maluku semenjak tahun 600-an. Bangsa Moro menyusul kemudian di tahun 1500 an. Portugis adalah bangsa eropa pertama yang menjejakkan kaki di kepulauan tersebut pada tahhun 1611 di ikuti oleh Inggris dan bangsa belanda di seputaran tahun 1621.

Di pasaran rempah dunia, pala adalah ‘emasnya’. Bahkan ada sebagian pendapat yang berkata bahwa mencari buah pala di kepulauan Banda (Maluku) adalah tujuan awal dari pelayaran Colombus di abad ke 15. Namun bukan Banda yang ditemukan, namun sebuah benua baru bernama Amerika.

Kepulauan Banda dihuni oleh beberapa pulau, namun hanya dua pulau diantaranya terselimuti oleh vegetasi buah pala dan kenari. Salah satunya adalah pulau terbesar yang bernama pulau Banda Besar. Jutaan pohon yang tumbuh di daratannya telah berusia ratusan tahun Perkebunan pala yang ada di Banda besar merupakan kebun-kebun peninggalan VOC, sedangkan kenari adalah tanaman pelindungnya.

Sejak datangnya VOC di Banda, banyak sekali pembantaian manusia di lakukan oleh organisasi dagang milik Belanda tersebut. Ada yang kepalanya di penggal, ada juga yang dusunnya di bakar. Sisanya di kirim ke Batavia dan di jadikan budak. Ada juga yang melarikan diri ke pulau Kei, Seram dan Aru. Kini warga Banda asli hanya tersisa tak lebih dari 600 jiwa dari 15 ribu orang pada saat sebelum kedatangan Belanda.

Banda besar dijuluki pula Lonthoir. Pulau yang terbentuk dari isi perut gunung berapi yang keluar kala meletus ini adalah pulau pertama di gugusan kepulauan Banda yang di tempat tinggali oleh manusia. Konon, nama ‘lonthoir’ diambil dari pengucapan ‘lontar’ oleh tentara-tentara Portugis.

Di Banda besar, pemandangan para wanita dan anak-anaknya yang mengupas biji pala lalu mengolahnya menjadi manisan adalah hal biasa yang bisa di saksikan. Di dermaga-demaga pelabuhan juga terlihat kapal-kapal kayu yang terisi oleh berkarung-karung pala, siap untuk di jual ke berbagai pelosok negara. Di atas landscape Banda Besar, hampir di setiap jengkal daratannya tertanami oleh tanaman pala.

Iklim di kepulauan Banda rupanya turut memberikan peran bagi sempurnanya pertumbuhan pala di sana. Buahnya berbuah setelah pohon berumur sekitar sepuluh tahun. Setelah itu, hampir setiap tahun buah pala bisa di panen dari tanamannya. Untuk bijinya, harga pala biasanya bernilai 150 ribu rupiah/kg-nya. Fulinya (selaput yang menutupi biji pala), harganya bisa lebih mahal. Harga fuli di Banda berkisar 220 ribu/kg-nya.

Di daratan Banda Besar, panen pala yang di hasilkan dari perkebunan milik warga Banda di sebut dengan panen besar. Biasanya berlangsung serentak. Sedangkan panen pala yang di dapatkan dari perkebunan warisan belanda di sebut dengan panen kecil. Panen besar berlangsung sekali dalam setahunnya, sementara untuk panen kecil terjadi dua kali.

Di desa Walang, Banda Besar, rindangnya tanaman pala dan lebatnya hutan kenari bisa di saksikan oleh para penyuka jalan-jalan. Yang menarik di lahan perkebunan pala hampir tidak ada dedaunan kering yang lama tercecer di atas tanah.

Warga di sana segera membakarnya karena asap yang dikeluarkan bisa mempercepat keluarnya buah pala dan mempercepat pertumbuhan pohonnya. Para pelancong juga dapat mendengarkan kicauan merdu fauna endemik karena perkebunan pala adalah juga tempat tinggal bagi burung-burung kakak tua, walor dan nuri yang dilindungi keberadaannya.

Pemandangan warga desa yang mencari buah-buah kenari dan pala juga bisa di saksikan. Tak hanya itu, para pelancong juga dapat turut serta memanfaatkan peralatan tradisional yang dibuat khusus untuk mencari buah kenari dan memetik buah pala yang di temukan. Tak jauh dari rerimbunan vegetesi pala dan kenari, panorama gunung api dan pulau Neira bisa dinikmati sebagai latar belakangnya.

Bekas tempat tinggal para pekerja perkebunan juga jadi pemandangan menarik yang bisa disaksikan bila kita berada di Banda Besar. Rumah-rumah tersebut berdiri tak jauh dari perkebunan pala warisan Belanda. Kini, bangunan-bangunan tersebut hanya digunakan sebagai tempat beristirahat para pekerja perkebunan.

Perkebunan pala bekas peninggalan Belanda di Banda besar di bagi menjadi beberapa blok yang tiap blok nya di tanami beberapa pohon pala. Warga sekitar biasanya ditunjuk oleh sebuah perusahaan (yang bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat) sebagai pekerjanya.

Dulu, para pekerja di perk-perk (perkebunan) ini adalah tenaga-tenaga kasar yang di datangkan oleh VOC dari Bali, Batavia dan pulau Jawa. Inilah awal mula migrasi orang-orang luar Banda masuk ke sana. Kini, anak-cucu mereka sudah hidup menyatu dengan warga masyarakat asli kepulauan Banda.

Di Banda besar para penyuka jalan-jalan juga bisa melongok peternakan Mutiara. Berada di lokasi pesisir, peternakan ini memberikan pengalaman kepada para pelancong dan wisatawan untuk menyaksikan proses penangkaran mutiara-mutiara asli Banda. Hasil panen mereka sebagian besar telah di ekspor ke manca negara, Jepang adalah salah satunya.

Harga pala yang selangit membuat banyak orang beranggapan bahwa petani pala pastilah orang yang kaya. Pdahal kenyataan yang ada adalah sebaliknya. Kehidupan yang layak sebenarnya hanyalah milik para warga yang punya lahan pribadi. Sementara kehidupan para pekerjanya tidaklah demikian.

Apalagi barang-barang sembako yang harganya mahal masih bergantung dari pulau Jawa. Karenanya warga pulau Banda besar banyak yang juga mencari buah kenari untuk menambah kepulan asap di dapur-dapur mereka.

Place Tags: Kebun Pala and neira.

Apa Pendapat Anda ?

Berikan penilaian pada tempat ini dengan memilih bintang di bawah :

Captcha Verification
captcha image

Upload Image

Attach a image to your review.

Send To Friend

Captcha Verification
captcha image

Send Enquiry

Captcha Verification
captcha image

Claim Listing

What is the claim proccess?

Captcha Verification
captcha image