Welcome , Guest   Sign in with
food, products or place Zip code or address

Pulau Buru (Part 2)

0 out of 5 stars based on 0 Review

Address : Ambon, Maluku

Time :

Memburu Keindahan di Pulau Buru

Seiring perjalanan waktu, citra buram yang dimiliki pulau ini lambat laut menjadi surut. Bila di masa yang lalu pulau Buru lebih dikenal sebagai tempat yang menyeramkan karena menjadi kawasan orang-orang buangan, kini pulau yang berjarak 4 jam perjalanan laut dari kota Ambon tersebut tengah membenahi diri.

Keindahan alam dan kearifan lokal yang dimilikinya menawarkan sketsa menarik yang makin dicari oleh para wisatawan maupun pelancong.

Untuk menuju pulau Buru, pelancong atau wisatawan bisa menaiki feri yang berangkat dari kota Ambon setiap pukul 17.00. Dengan feri tersebut, sebuah pelabuhan di kota Namlea bisa ditempuh dalam waktu 12 jam.

Bila menggunakan feri dirasa terlalu lama, kapal cepat yang bertolak dari pelabuhan Yos Sudarso di kota Ambon bisa dijadikan alternatif. Dengan kapal cepat, lama perjalanan akan dipersingkat menjadi 4 jam. tariff kapal cepat rute Ambon – P.Buru adalah 120 ribu untuk kelas non-kamar*. Kapal ekspress ini juga menawrkan kelas kamar seharga 300 ribu rupiah*.

Penginapan yang memiliki dua lantai bernama Grand Sahar Hotel di kota Namlea bisa dijadikan tempat beristirahat atau menginap bila ingin menelusuri di pelosok kota lebih lama. Tariff per-malam penginapan yang punya fasilitas paling lengkap se-Namlea ini di patok 250 ribu per kamar.

Salah satu destinasi wisata yang bisa dikunjungi di pulau ini adalah danau rana. Selain pesona yang ditawarkan di perjalanan, danau terbesar di kepulauan Maluku ini punya keunikan dan keindahan yang patut dikagumi. Dua rute perjalanan bisa di jadikan pilihan bila ingin berkunjung kesana. Satu rute lewat jalan darat, satunya menyusuri perairan.

Bila pilihan jatuh ke rute darat, danau rana bisa di datangi dengan melewati sebuah desa yang bernama Wamlana. Desa ini berada di kecamatan air Buaya, sebuah kecamatan yang berjarak sekitar 80 KM dari kota Namlea. Dari kota yang menjadi satu-satunya pusat keramaian di pulau Buru tersebut perjalanan menuju ke kecamatan Air Buaya memakan waktu sekitar 1,5 jam.

Perjalanan masih akan di lanjutkan dengan berganti kendaraan milik sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perkayuan. Nama perusahaan ini adalah PT. Gema Hutan Lestari. Suguhan panorama yang cantik sudah mulai bisa dinikmati dari desa Wamlana.

Perjalanan lanjutan sejauh lebih dari 40 KM ini akan menyusuri beberapa desa dan beraneka tanaman yang indah. Bila beruntung, sajian tari sawat bisa dijadikan tontonan yang menarik. Tarian selamat datang ini adalah asset berharga bagi suku asli pulau Buru yang menghuni desa-desa di pedalaman.

Rute kedua adalah rute yang penuh dengan petualangan dan sangat tidak disarankan. Perjalanan lewat rute ini akan menyinggahi desa Tifu di kecamatan Leksula. Dari Namlea , desa ini bisa dicapai dengan menggunakan speedboat selama kurang lebih 5 jam perjalanan.

Setibanya di sana perjalanan masih akan berlanjut dengan menumpang mobil truck sejauh 40 KM menuju desa Waelo. Dari desa ini, danau Rana bisa di capai setelah berjalan kaki sejauh kurang lebih 6 jam.

Danau yang berada di ketinggian 700 meter diatas permukaan laut ini punya beberapa dusun yang berdiri di sekitarnya. Nama-nama dusun tersebut adalah Air Dapa, Waegrahe, Waemite, Waeremang, Waemamboli, dan dusun Kaktuan. Mayoritas penhuninya adalah suku Rana.

Saat panen tiba, sebuah kearifan lokal yang disebut dengan wahadegen menjadi tradisi yang sayang bila dilewatkan begitu saja. Cerminan titisan leluhur ini bisa disaksikan lewat gerakan penari-penari yang menarikan ingafuka. Tetabuhan tifa dan lantunan syair-syair berbahasa lokal menjadi pengiring tarian yang indah tersebut.

Wahadegan adalah gelaran panjtan syukur atas panen pertama yang didapatkan. Bagi suku Rana yang menghuni kawasan pinggiran danau, panen pertama selayaknya tidak lalu dijual namun dinikmati bersama-sama.

Jangan heran bila terlihat banyak hidangan berbahan kacang tersaji; kacang rebus, kacang goreng, kue kacang dan beraneka sayur adalah variasi kuliner lokal yang bisa disantap bersama-sama di pinggiran danau. Selain berkebun suku Rana juga membuka lahannya dengan menjadikan padi sebagai tanaman utama.

Alam rupanya sudah menjadi satu dengan keberadaan suku Rana. Kekurangan bahan pangan tak pernah menjadi persoalan bagi suku yang terisolasi ini. Lahan yang mereka miliki tak semuanya dibuka untuk ditanami padi. Tanaman penghasil beras tersebut hanya ditanam kala musim hujan tiba.

Di masa kemarau mereka bergantung kepada hasil kebunnya.
Kecantikan danau Rana bisa dinikmati dengan berperahu diatas permukaan airnya yang tenang. Pendaran warna lembayung terlukis oleh paparan sinar sang surya diatas riak-riak air danau.

Arakan awan yang membentuk kanopi langit menjadi latar belakang yang menciptakan aura surgawi. Semilir angin yang berhembus selalu menggoda pengunjung danau Rana untuk tak segera bergegas pulang.

Tak rugi rasanya bila mengeluarkan selembar uang 100 ribuan* untuk menyewa perahu milik warga dusun setempat. Terlebih lagi sampan-sampan kayu tersebut bisa diminta menghantarkan kemana saja tanpa ada batasan waktu.

Selain danau Rana, pelancong dan wisatawan juga bisa mendatangi pantai Jikumerasa yang lokasinya tak jauh dari kota Namlea. Selain itu, melongok sentra produksi pembuatan minyak kayu putih juga dijamin bisa menambah pengalaman berwisata anda di pulau Buru.

*harga bisa berubah sewaktu-waktu

Place Tags: ambon, buru, pulau, and Pulau Buru.

Apa Pendapat Anda ?

Berikan penilaian pada tempat ini dengan memilih bintang di bawah :

Captcha Verification
captcha image

Upload Image

Attach a image to your review.

Send To Friend

Captcha Verification
captcha image

Send Enquiry

Captcha Verification
captcha image

Claim Listing

What is the claim proccess?

Captcha Verification
captcha image