Welcome , Guest   Sign in with
food, products or place Zip code or address

To Sisemba

0 out of 5 stars based on 0 Review

Address : Rantepao, Sulawesi Selatan

Time :

Menendang Lawan di To Sisemba

Gagal panen. Itulah resiko yang harus dihadapi bila atraksi saling tendang ini tidak diselenggarakan. Keyakinan ini dipercaya oleh warga masyarakat Toraja khususnya yang berada di ‘Kande Api’, sebuah desa yang berada di kabupaten Tana Toraja Utara.

Setiap tahunnya, warga desa kande Api terutama para prianya menggelar acara ‘To Sisemba’ atau ‘Sisemba’ yang merupakan bagian dari sebuah prosesi ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang sudah diberikan. Tradisi ini adalah juga warisan dari leluhur masyarakat Tana Toraja.

Di dalam tradisi ini para warga desa terutama kaum wanitanya akan datang membawa nasi bambu. Oleh warga Toraja, hidangan ini lebih dikenal dengan nama ‘piong’. Sebuah sajian yang akan disantap bersama-sama dalam acara “ma’piong”.
Lenggak-lenggok remaja putri menarikan “Ma’galu” biasanya menjadi pembuka dari atraksi Sisemba.

Ma’galu adalah simbolisasi dari rasa syukur atas hasil bumi yang di dapatkan. Di dalam tarian ini para prianya memukul lesung padi secara bergantian sambil sesekali menyuarakan teriakan khas suku Toraja.

Pukulan lesung dipercaya dapat mengusir hama tanaman padi. Semakin tinggi irama yang didapatkan dari ketukan atau tumbukan lesung maka akan semakin banyak hama tanaman yang bisa di usir.

Setelahnya penduduk desa secara beramai-ramai akan menumbuk padi hasil panen. Untuk mempersiapkan diri menghadapi musim tanam yang akan datang, pada acara ini juga di gelar wejangan yang di berikan oleh seorang sesepuh adat.

Wejangan ini biasanya berupa tata cara bertani yang baik sehingga nantinya akan mendapatkan hasil panen yang melimpah. Aturan-aturan bertani ini sudah di jalankan semenjak dahulu kala dan di wariskan secara turun-temurun. Pemberian wejangan ini di sebut dengan tahapan “Ma’Parappa”

Ma’Parappa akan dilanjutkan dengan adu ketangkasan menendang kaki lawan untuk menjatuhkan dan melumpuhkannya. Serangan kepada lawan hanya boleh di lakukan dengan menggunakan kedua kaki.

Biasanya pertandingan yang dilakukan di lapangan ini dilakukan antara dua desa yang bertetangga. Bagi yang belum pernah melihatnya, atraksi Sisemba menyerupai perkelahian masal antara 2 kelompok. Agar tidak jatuh biasanya di dalam 1 kelompok para pesertanya akan bergandengan tangan sambil terus bergantian menendang lawan mereka. Meski hanya sebuah permainan, aksi para peserta nya tidaklah main-main.

Suara-suara teriakan khas Toraja pun bercampur menjadi satu dengan jeritan kesakitan dari para peserta. Kaki terluka, terkilir bahkan patah tulang adalah resiko dari permainan ini. Namun meski menyakitkan dan penuh dengan kekerasan setiap peserta diharapkan mampu menahan emosinya.

Bila lawan sudah terjatuh maka serangan terhadapnya harus segera dihentikan. Hal ini untuk mencegah cedera serius terjadi kepada lawan. Pada saat acara ini digelar para sesepuh adat juga turut mengawasi jalannya permainan dan menghentikan serangan yang sudah terlalu kasar dan kelewatan.

Sebuah kearifan lokal bisa terlihat ketika acara telah usai, para peserta yang tadinya saling tendang kembali akrab tanpa menyimpan rasa dendam diantara mereka. Persaingan dan pertarungan hanya terjadi di dalam lapangan.

Selain di gelaran panjatan rasa syukur atas hasil panen padi, To Sisemba juga kerap kali digelar pada acara-acar lain seperti di pemakaman khas masyarakat Toraja yakni Rambu Solo atau juga Rambu Tuka. Desa Kande Api berada tak begitu jauh dari kota Rantepao. Ibukota Tana Toraja ini bisa ditempuh dengan perjalanan udara atau juga dengan menggunakan kendaraan beroda lewat jalur perjalanan darat.

Bila mengambil rute udara, Bandara Pongtiku di Rantepao akan menjadi gerbang bagi para pendatang. Pesawat kelas perintis dari Makassar akan terbang selama 2 jam sebelum mendarat di landasannya. Harga tiket nya ditawarkan sekitar 250 ribu rupiah* per tempat duduk. Penerbangan ini memiliki jadwal yang tidak tetap, karenanya mencek ulang jadwal penerbangan pesawat menjadi hal yang penting.

Bila memilih jalur darat, bis bisa dinaiki dari terminal Daya di Makassar. Harga nya bervariasi tergantung pada fasilitas yang diberikan oleh masing-masing perusahaan angkutan. Namun pada umumnya, penumpang akan membayar sewa tempat duduk sebesar 80 ribu hingga 100 ribu*, sebelum tiba di terminal Bolu, kota Rantepao.

Perjalanan ke Rantepao dari Makassar memakan waktu 8 hingga 10 jam. Bagi yang berbudget lebih atau datang berombongan bisa menggunakan kendaraan sewaan yang banyak tersedia di Makassar.

Selain berfasilitas lengkap, Rantepao juga memiliki tempat-tempat menarik yang layak di singgahi seperti Pasar Bolu, dimana banyak di jual hewan kerbau dan babi yang harga nya jauh lebih mahal dari daerah lainnya. Kerbau dan babi memang menjadi hewan sakral bagi masyarakat Toraja.

Di Pasar Bolu juga bisa dibeli Kopi Toraja yang sudah terkenal kenikmatan nya di Indonesia dan mancanegara. Tempat-tempat wisata budaya dan destinasi wisata alam di tana Toraja juga lebih cepat terjangkau dari Rantepao. Diantara nya adalah Kete Kesu, Londa, Bori Kalimbuang, Lokamata dan lain sebagainya.

Untuk penginapan, hotel Misiliana adalah favorit para wisatawan domestik. Hotel yang memiliki lebih dari 100 kamar ini berarsitektur rumah adat Toraja, Tongkonan. Pilihan kamarnya beragam dengan berbagai variasi harga. Nah, tunggu apalagi, segera kemasi perlengkapan anda untuk menyaksikan kecantikan budaya loka dan keindahan alam bak surgawi yang di miliki oleh Tana Toraja.

Place Tags: Rantepao, To Sisemba, and tradisi.

Apa Pendapat Anda ?

Berikan penilaian pada tempat ini dengan memilih bintang di bawah :

Captcha Verification
captcha image

Upload Image

Attach a image to your review.

Send To Friend

Captcha Verification
captcha image

Send Enquiry

Captcha Verification
captcha image

Claim Listing

What is the claim proccess?

Captcha Verification
captcha image