Welcome , Guest   Sign in with
food, products or place Zip code or address

Klenteng Sam Po Kong

4.5 out of 5 stars based on 3 Reviews

Address : Jln. Simongan no.129 , Semarang

Time :

Secuil Sejarah Klenteng Sam Po Kong

Inilah versi singkat dari apa yang beredar di tengah masyarakat Semarang tentang Klenteng Sam Po Kong.

Cerita bermula pada abad ke-15, saat Laksamana Zheng He, lebih menempel di lidah rakyat Semarang dengan sebutan Cheng Ho, bersandar di Laut Jawa. Beberapa dari Anda tidak asing dengan Cheng Ho, mengingat ia adalah tokoh besar yang pernah singgah di tanah Jawa, meski tidak lama. Sebagian perjalanan hidupnya pernah diringkas dalam sebuah film apik, yang kalau tidak keliru, dimainkan oleh mantan Menteri Hukum dan HAM Yusril Ihza Mahendra.

Historiografi Indonesia masih secarut-marut sejarah dan nasib bangsa ini, hingga kepastian berlabuhnya Cheng Ho pada abad ke-15 masih sangat diperdebatkan. Namun, kali ini tanpa perlu perdebatan, begini kisah berdirinya Klenteng Sampo Kong yang pernah tercatat di beberapa media, literatur, dan menurut kisah turun-temurun masyarakat di Semarang.

Cheng Ho dan Klenteng Sam Po Kong

Menempuh perjalanan jauh dari negeri asal, daratan China, sedikit banyak mempengaruhi stamina awak kapal. Kelelahan dan penyakit disebut-sebut penyebab utama tim ekspedisi Cheng Ho membuang sauh di wilayah utara Jawa, tepatnya masuk wilayah Semarang. Sampailah mereka di tepian pantai, beserta awak kapal, Cheng Ho menyusuri sungai besar (saat ini dikenal sebagai sungai Kaligarang). Cheng Ho memutuskan berhenti di Desa Simongan, desa yang tak seberapa jauh letaknya dari tepi Kaligarang. Daerah ini juga disebut Gedong Batu karena adanya gua batu besar yang terletak di sebuah bukit batu.

Awak kapal diobati dan dipulihkan. Cheng Ho memanfaatkan batu besar di desa ini sebagai tempat ibadah sholat (Cheng Ho adalah seorang muslim), sedangkan gua batu besar dijadikan tempat semedi. Batu besar dan gua inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Klenteng Sam Po Kong.

Selang beberapa waktu awak kapal sehat kembali, dan Cheng Ho melanjutkan pelayaran. Namun, tidak semua kru ikut kembali berlayar. Sebagian tetap tinggal di Simongan, membaur dengan penduduk asli, mengajarkan cara bercocok tanam. Batu Besar dan gua bersejarah tempat sang laksamana beribadah tetap utuh dan bahkan disucikan sebagai petilasan oleh masyarakat keturunan Tiong Hoa.

Ratusan tahun kemudian, tepatnya tahun 1724 keturunan Tiong Hoa di daerah Semarang melakukan upacara besar-besaran di lokasi tersebut. Dibangunlah sebuah kuil sebagai simbol terimakasih pada Cheng Ho (sebagian literatur menyebutnya dengan nama Sam Po Tay Djien). Bagi mereka Laksamana Cheng Ho adalah tokoh besar, seorang pemberani yang bijaksana, pelaut ulung yang kisahnya tersebar hingga jauh generasi setelahnya. Maka sang legenda Cheng Ho layak menjadi dewa, dan berdirilah Klenteng Sam Po Tay Djien, belakangan disebut Sam Po Kong.

Namun, gua yang kini bisa Anda jumpai di Klenteng ini bukan seperti gua pada umumnya, yang penuh padas, atau bahkan stalaktit dan stalakmit. Menurut cerita, gua asli tempat Cheng Ho bersemedi telah runtuh tersambar penting. Bersamaan dengan pembangunan kuil, dibangun pula gua yang konon memiliki mata air yang tak pernah berhenti mengalir ini. Setelah pembangunan gua dan klenteng selesai, ditempatkan patung Cheng Ho beserta empat anak buah kepercayaannya di dalam kuil. Semuanya didatangkan dari Tiongkok.

Arsitektur Klenteng

Seperti pada umumnya Klenteng yang tersebar di wilayah Indonesia, Sam Po Kong didominasi warna merah. Klenteng ini memiliki beberapa anjungan, yaitu Klenteng Besar, gua Sam Po Kong, Klenteng Tho tee Kong, dan empat lokasi pemujaan lain yang diberi nama Kyai Juru Mudi, Kyai Jangkar, Kyai Cundrik Bumi, dan Kyai Tumpeng. Kegiatan sembahyang atau pemujaan terpusat di Klenteng Besar dan Gua Sam Po Kong. Jika suatu waktu Anda berkesempatan mengunjungi klenteng ini, tentu rasa penasaran timbul seperti apa gua Sam Po Kong ini? Namun sayang, bagi yang tidak berkepentingan sembahyang dilarang masuk ke Gua ini.

Klenteng Sam Po Kong terus dibangun, bukan hanya untuk kepentingan ibadah kaum Tiong Hoa, tetapi juga sebagai lokasi wisata. Lokasi parkir diperlebar, disediakan pula taman dan tempat duduk di bagian luar klenteng untuk wisatawan.

Tradisi

Daya tarik Klenteng Sam Po Kong tidak hanya terletak pada sisi historisnya saja, tradisi dan budaya Tiong Hoa bisa jadi jauh lebih memikat. Abad ke-19 Simongan dikuasai seorang tuan tanah. Berkunjung ke Sam Po Kong tidak lagi gratis. Tiket masuknya sangat mahal, dan peziarah tidak mampu membayar. Muncullah ide: pemujaan dialihkan ke klenteng Tay Kak Sie.

Replika patung Sam Po Kong pun dibuat dan diletakkan di dalam Tay Kak sie. Agar replika ini mendapat berkah dari patung yang asli, diaraklah ia ke Simongan setiap tanggal 29 atau 30 penanggalan China. Pada tahun 1879 atau tahun kelima Guang Xu, Oei Tjie Sien ayah dari Oei Tiong Ham, raja gula Indonesia dan terkenal sebagai penderma, membeli Simongan. Peziarah tak lagi dipungut biaya untuk berdoa di kuil ini. Tradisi arak-arakan sempat terhenti, dan kembali dihidupkan di tahun 1937 hingga sekarang.

Sam Po Kong Saat Imlek

Klenteng Sam Po Kong adalah tempat terbaik di Semarang saat imlek, selain kampung Semawis. Lampion-lampion merah, carikan kertas berisi doa-doa dan harapan bergantungan di langit-langit klenteng utama, semuanya berhurufkan Mandarin.
Selain arak-arakan, sering kali imlek di Sam Po Kong juga dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit.

Ramainya bukan kepalang. Tidak hanya masyarakat Tiong Hoa yang datang untuk berdoa, penduduk Semarang berbondong-bondong menyaksikan rangakaian upacara yang digelar setahun sekali. Segala jenis pedagang pun berdatangan, dan Anda bisa sekaligus berwisata kuliner menikmati jajanan khas Semarang. Ada wedang ronde, tahu gimbal, lumpia, dan banyak lagi.

Menuju Klenteng Sam Po Kong

Jarak tempuh klenteng ini dari bandara Ahmad Yani relatif dekat. Tak perlu melewati pusat kota Semarang yang sibuk, naik taksi hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Jika Anda dari arah barat kota Semarang dan menggunakan transportasi bis umum, ada banyak armada yang melewati klenteng ini, salah satunya bis jurusan Mangkang-terminal Terboyo.

Jika anda dari Magelang, Jogja, Solo dan sekitarnya, setelah masuk kota Semarang, Anda bisa memilih, mau menggunakan bis jurusan Mangkang, atau angkot jurusan Pasar Karang Ayu, atau Manyaran. Anda yang dari arah timur Kota Semarang, bis jurusan terminal Terboyo-Mangkang adalah pilihan paling tepat.
Jika Anda memanfaatkan transportasi kereta api, turun di stasiun Poncol di Semarang, dan Anda bisa memilih naik taksi, bis, atau angkot.

Place Tags: Klenteng, Klenteng Sam Po Kong, and semarang.

3 User Reviews on Klenteng Sam Po Kong
desmaster lives in

Sam Po Kong ini memang satu tempat wisata budaya yang sangat menarik. Bukan hanya untuk kaum chinese ataupun buddhis, tapi untuk seluruh rakyat. Tempatnya juga sangat menarik dan terkesan klasik dengan banyak barang asli dr China. Yang saya paling ingat ada yang kapal Cheng Ho.

Assessment on 02-24-2013
3 User Reviews on Klenteng Sam Po Kong
JUNASIKPARK lives in

ini adalah tempat bersejarah yang harus dirawat dan dijaga kelestariannya. Harus menyempatkan diri untuk berkunjung ke kelenteng ini kalau sedang di Semarang :)

Assessment on 02-25-2013
3 User Reviews on Klenteng Sam Po Kong
Ubaidillah lives in

jadi kpengen ke sini :)
Ini Khn Masjid, niat awalnya L.Cheng Ho ini untuk Masjid, Apa Bisa Shalat di Sini?

Assessment on 06-09-2014

Apa Pendapat Anda ?

Berikan penilaian pada tempat ini dengan memilih bintang di bawah :

Captcha Verification
captcha image

Upload Image

Attach a image to your review.

Send To Friend

Captcha Verification
captcha image

Send Enquiry

Captcha Verification
captcha image

Claim Listing

What is the claim proccess?

Captcha Verification
captcha image