Welcome , Guest   Sign in with
food, products or place Zip code or address

Masjid Menara Kampung Melayu

0 out of 5 stars based on 0 Review

Address : Jln. Layur Nomor 33, Kampung Melayu,Semarang

Time :

Masjid Menara Kampung Melayu –Masjid Peninggalan Ulama Arab

Tidak sulit mencari lokasi Masjid Menara Kampung Melayu –di Semarang lebih populr dengan nama Masjid Layur. Dari Simpang Lima, ambil arah Pasar Johar. Di perempatan Johar, memutar menuju arah Stasiun Tawang. Ambil arah ke Jalan Layur. Sampai di rel kereta api, menara masjid sudah Nampak. Masjid Menara ada di tengah perkampungan. Alamat persisnya di Jalan Layur Nomor 33, Kampung Melayu,Semarang.

Disebut Kampung Melayu, konon, tahun 1743 sebagian besar penghuni daerah ini adalah orang-orang melayu. Ini kampung terbentuk karena banyak kapal dan perahu yang mendarat di sini. Semuanya membawa dagangan. Lama-lama bukan cuma orang Melayu yang menempati kampung ini. Letaknya strategis, sehingga orang-orang Arab dan Tiong Hoa pun tertarik tinggal di sini.

Cerita lain menyebutkan, kampung ini diberi nama Kampung Melayu, bukan karena dihuni orang Melayu. Melayu hanya simbol keragaman karena tempat ini dihuni bersama oleh warga keturunan Arab dan keturunan Tiong Hoa. Sekarang kabarnya tak banyak orang Arab dan Tiong Hoa yang menghuni kawasan ini. Kenapa? Mungkin, karena daerah ini sering terkena rob sehingga tidak nyaman ditempati.

Dibanding budaya Tiong Hoa, di kampung ini pengaruh budaya Arab terasa lebih kental. Warga Tiong Hoa dulu hendak mendirikan klenteng di kawasan ini, namun ditolak mentah-mentah oleh warga keturunan arab. Tepatnya pada periode 1900-an.

Arsitektur Masjid Dipengaruhi Budaya Jawa dan Arab.

Di Indonesia, banyak masjid yang memiliki menara. Tetapi, menara Masjid Kampung Melayu ini unik. Menaranya berbentuk seperti mercusuar. Konon, menara itu memang awalnya bangunan mercusuar. Digunakan untuk memantau lalu lintas kapal yang keluar masuk Kali Semarang. Pada akhir abad ke-18 Belanda membangun menara mercusuar baru, lokasinya lebih dekat dengan pelabuhan, diberi nama Mercusuar Wilhem III, praktis menara di Kampung Melayu tak difungsikan lagi.

Karena tidak lagi digunakan, para saudagar Arab yang bermukim di Kampung Melayu kemudian membangun masjid di bawahnya, dan menggunakan mercusuar ini sebagai menara masjid. Beberapa sumber menyebutkan masjid ini dibangun tahun 1802, diprakarsai oleh ulama Arab bernama Hadramaut, kabarnya berasal dari Yaman.

Dari luar masjid ini sudah terlihat berbeda. Meski tidak ada kesan megah dan mewah, ini memang bukan masjid biasa. Nilai sejarahnya kuat, dan penampilan masjid ini tidak bisa dikatakan tidak menarik. Memang ukurannya tidak besar, dan bukan hanya menara mercusuarnya yang membuat masjid ini unik. Tembok tinggi di bagian depan masjid menguatkan aroma Timur Tengah di sini. Masuk ke dalam, arsitektur khas Jawa terlihat lebih menonjol. Atap masjid bersusun tiga. Sedangkan lantai masjid mengingatkan kita pada gaya rumah Gadang, ada tangga di bagian depan. Ornamen dan hiasan-hiasan di dalam masjid pun tampak indah.

Awalnya, Masjid Menara Kampung Melayu ini memiliki dua lantai, terbuat dari kayu. Tetapi, karena adanya pengurukan setinggi 200 centimeter, lantai satu masjid tak lagi berfungsi, dan lantai dua diperluas ke arah timur laut dan tenggara. Pondasi masjid terbuat dari batu bata, kedalamannya tiga meter dan lebar satu meter. Ada tangga melingkar, terbuat dari kayu, ditanam di dinding menara. Konon menara ini pernah disambar petir, sebagian menara terbakar, dan kini tinggal dua pertiga bagiannya saja yang masih utuh.

Jaman dulu masjid ini tidak punya tempat wudlu. Orang-orang yang hendak sholat di sini mengambil air wudlu di Kali Semarang, persis di sebelah timur masjid. Kala itu air kali masih jernih, tidak berbau. Makin lama Kali Semarang makin tercemar. Maka dibangunlah tempat wudlu pada tahun 1956. Secara keseluruhan, masjid ini masih asli. Tidak banyak berubah, kecuali lantainya yang diuruk. Misalpun ada perbaikan, biasanya hanya pergantian genting. Penambahan ruang pun hanya di sisi kanan masjid, yaitu ruang pengelola.

Oya, satu lagi yang harus Anda ketahui tentang Masjid Menara Kampung Melayu ini. Di sini tersimpan kita-kitab kuno. Menurut cerita kitab ini dibawa oleh para ulama arab sebagai pegangan mereka menyebarkan agama Islam. Kitab-kitab tersebut berbahasa Arab, dan dibaca hanya pada acara-acara khusus saja. Pun, yang diijinkan membaca dan mendengar isi kitab ini hanya kalangan tertentu, Islam ortodoks. Kenapa? Katanya, agar kitab-kitab itu terjaga kesakralannya.

Berkunjung Saat Bulan Puasa, Cicipi Kopi Arab

Jika memungkinkan, berkunjunglah ke masjid ini saat bulan puasa. Kenapa? Agar anda bisa mencicipi minuman khas Kampung Melayu, kopi Arab. Ini bukan kopi biasa. Pembuatannya dicampur rempah-rempah, seperti pandan, serai, kayu manis, juga kapulaga. Di bulan puasa, kopi ini dibagikan Cuma-Cuma pada jamaah masjid.

Konon resep kopi Arab ini asli dari Arab. Yang membawa resep ini tentu leluhur orang-orang Arab yang datang ke Semarang untuk berdagang dan kemudian menetap di sini. Resepnya diwariskan turun-temurun.

Ada juga yang menyebut resep kopi Arab tidak sengaja diciptakan. Dulu masjid ini sering menjadi tempat berkumpulnya para saudagar Arab. Nah, mereka senang minum kopi, dan resep kopi Arab tak sengaja diciptakan. Entah cerita versi mana yang benar, yang pasti masyarakat Semarang percaya kopi Arab ini berkhasiat menjaga kesehatan tubuh, bahkan bisa menyembuhkan penyakit.

Penasaran ingin mencicipi bagaimana rasanya kopi Arab? Nikmat!

Place Tags: Masjid Menara Kampung Melayu and semarang.

Apa Pendapat Anda ?

Berikan penilaian pada tempat ini dengan memilih bintang di bawah :

Captcha Verification
captcha image

Upload Image

Attach a image to your review.

Send To Friend

Captcha Verification
captcha image

Send Enquiry

Captcha Verification
captcha image

Claim Listing

What is the claim proccess?

Captcha Verification
captcha image