Welcome , Guest   Sign in with
food, products or place Zip code or address

Pelabuhan Kalimas Surabaya

0 out of 5 stars based on 0 Review

Address :

Time :

Bernostalgia di Pelabuhan Kalimas Surabaya

Bagi Anda yang mungkin sempat melihat bagaimana rupa Pelabuhan Kalimas tempo dulu dan punya kesempatan untuk mengunjunginya kembali hari ini pasti akan menjadi suatu nostalgia tersendiri. Betapa tidak, pelabuhan tradisional ini menyimpan romantisme akan masa lalu. Pemandangan kapal-kapal tradisional yang terbuat dari kayu berlabuh dan berjejer rapi, menanti bongkar dan muat barang masih bisa disaksikan sampai saat ini.

Memang Pelabuhan Kalimas telah banyak berubah. Kondisinya tak seramai dulu, saat pelabuhan ini menjadi pusat pergerakan ekonomi Surabaya dan menjadi pintu keluar-masuk barang. Sebab itu juga dari Kalimas ini sering disebut cikal-bakal tumbuhnya Kota Surabaya menjadi seperti sekarang ini.

Namun meski suasananya kini lebih tenang, jauh dari kesan hiruk-pikuk seperti umumnya pelabuhan, Pelabuhan Kalimas tak kehilangan pesonanya. Ketenangan itu justru menimbulkan romantisme sendiri. Ada suasana melankolis yang terasa saat menyusuri jalanan di dermaga pelabuhan ini sambil memandangi perahu-perahu tradisional yang berderet rapi. Serasa berada di masa silam, saat mesin dan teknologi belum menguasai peradaban manusia.

Pelabuhan pertama di Surabaya

Pelabuhan Kalimas merupakan pelabuhan pertama di Surabaya. Pelabuhan ini mulai beroperasi diperkirakan sejak zaman Kerjaan Majapahit pada abad ke-14. Transportasi air sudah menjadi pilihan terbaik untuk mengangkut hasil-hasil pertanian dari pedalaman untuk dibawa melintasi Sungai Brantas sampai ke pelabuhan.

Saat VOC (Belanda) datang pada tahun 1746, mereka sadar akan fungsi pelabuhan ini. Maka pelabuhan ini dijaga betul fungsi pertahannya dan dimaksimalkan sehingga semakin berkembang dan bahkan termasuk pelabuhan terbesar di Indonesia. Walau kemudian Pelabuhan Tanjung Perak mulai dibangun pada awal abad ke-20, namun Pelabuhan Kalimas tetap menjadi pelabuhan primadona, setidaknya sampai pertengahan abad ke-20.

Dulu, yang disebut pelabuhan Kalimas adalah pelabuhan yang membentang di sepanjang Sungai kalimas dari hilir sampai pelabuhan utama yang berada di dekat Jembatan Merah. Banyaknya pelabuhan tersebut tak lain karena memang padatnya aktivitas transportasi laut saat itu. Masa kejayaan pelabuhan ini terjadi sekitar tahun 1870-an sampai 1930-an. Saat itu, jumlah kapal yang melakukan aktivitas bongkar muat bisa lebih dari 300 kapal. Barang yang diangkut tak hanya untuk tujuan Nusantara, namun sampai ke Eropa. Hasil-hasil bumi kita dikirim ke Eropa oleh pemerintah kolonial Belanda. Namun pasca 1930-an, penurunan aktivitas mulai terjadi, seiring mulai berfungsinya Pelabuhan Tanjung Perak dan semakin baiknya transportasi darat.

Kini, Pelabuhan Kalimas yang juga dinamakan Pelabuhan Pelayaran Rakyat (Pelra) Kalimas ini berada di jalan Kalimas, kawasan Perak. Letak pelabuhan ini pun tak jauh dari pelabuhan Tanjung Perak yang berada di sebelah baratnya. Untuk menuju Pelabuhan Kalimas, dari pusat kota Surabaya kira-kira dibutuhkan waktu sekitar 30 menit menuju arah utara. Letaknya tak jauh dari Markas Komando Armada RI Kawasan Timur, tempat Monumen Jalesveva Jayamahe.

Pelabuhan Kalimas berdiri di atas lahan seluas sekitar 5,2 hektar. Panjang dermaga juga lumayan, sekitar 2.270 meter. Dengan panjang tersebut, puluhan kapal mampu ditampung di dermaga. Di Pelabuhan kalimas juga terdapat gudang-gudang penyimpanan yang total luasnya mencapai 6.180 meter persegi. Jumlah gudang ada sekitar 20 buah, dan sebagian sudah berusia lebih dari 100 tahun.

Barang yang diangkut bermacam-macam, dari beras, jagung, sampai mebel dan barang-barang lainnya. Anda bisa perhatikan bagaimana proses pengangkutan dan penurunan barang itu terjadi. Anda bisa dengar sang mandor memerintahkan para pekerja tersebut untuk mengangkut dan menurunkan barang-barang. Dari atas kapal, kuli tersebut turun melewati landasan kayu yang sempit sambil memikul barang yang jelas beratnya bisa sampai berpuluh kilogram. Sementara di daratan truk-truk berderet siap menampung “muntahan” muatan dari kapal.

Kapal Pinisi yang Melegenda

Salah satu pemandangan yang menjadi ciri khas Pelabuhan kalimas adalah kapal Pinisi. Kapal-kapal asal Makassar itu masih menjalankan aktivitasnya seperti dulu: mengangkut dan membongkar barang.

Anda bisa datangi kapal-kapal Pinisi yang bersandar itu. Anda bisa lihat dari dekat dan mengelus-elus badan kapal ini. Anda akan rasakan bagaimana tekstur kayu dari badan kapal ini yang telah bertahun-tahun menerjang ganasnya ombak lautan.
Jika sudah, Anda bisa coba naik ke atas kapal. Minta ijinlah kepada pemilik kapal untuk naik dan Anda bisa rasakan bagaimana rasanya naik di atas kapal yang sudah tersohor ini.

Anda bisa sentuh tiang penyangga kapal yang kokoh itu. Anda bisa berjalan-jalan di atas kapal dan membayangkan bagaimana rasanya jika menaiki kapal ini di tengah laut lepas. Jangan lupa keluarkan kamera Anda untuk mengabadikan momen menarik ini. Bila perlu, ajak juga para pekerja kapal untuk foto bersama Anda. Itu akan menjadi salah satu momen tak terlupakan dalam hidup Anda.

Waktu terbaik untuk mengunjungi Pelabuhan kalimas adalah di pagi hari. Anda bisa melihat para pekerja menggunakan tenaga fisiknya untuk membongkar dan memuat barang. Aktivitas pelabuhan yang seperti ini yang juga terjadi sejak berpuluh dan bahkan beratus tahun lampau, walau saat ini suasananya tak sesibuk dulu. Menikmati suasana pagi di Pelabuhan Kalimas sambil merasakan hangatnya sinar mentari pasti akan menjadi pengalaman menarik
Anda mau bernostalgia mengenang suasana pelabuhan masa lalu? Datanglah ke Pelabuhan Kalimas…

Place Tags: Pelabuhan Kalimas and surabaya.

Apa Pendapat Anda ?

Berikan penilaian pada tempat ini dengan memilih bintang di bawah :

Captcha Verification
captcha image

Upload Image

Attach a image to your review.

Send To Friend

Captcha Verification
captcha image

Send Enquiry

Captcha Verification
captcha image

Claim Listing

What is the claim proccess?

Captcha Verification
captcha image