Welcome , Guest   Sign in with
food, products or place Zip code or address

Pulau Bacan

0 out of 5 stars based on 0 Review

Address : Labuha, Maluku

Time :

Pulau Bacan

Kepulauan Halmahera di Maluku Utara tak hanya di berkahi oleh keindahan alam semata. Kearifan lokal dan kekayaan alam di daratannya juga jadi pemikat para pelancong untuk mengunjungi gugusan kepulauan ini. Salah satu pulau yang mendiaminya adalah pulau Bacan.

Desa Leilei yang berlokasi di kecamatan Kayoa adalah salah satu kawasan menarik yang bisa dikunjungi di pulau yang berada di bagian paling selatan dari provinsi Maluku Utara tersebut. Di desa tersebut cottage-cottage kayu bernuansa tradisional telah terbangun untuk menyambut para pelancong dan wisatawan. Struktur bangunan yang bermateri kayu tersebut berdiri di atas bentangan kelembutan pasir putih milik landscape Halmahera Selatan.

Kawasannya juga terlengkapi dengan fasilitas jogging track yang diteduhi oleh rindangnya tanaman nyiur sebagai saran pelepas rasa bosan dan berolah raga. Buah kelapanya pun bisa di petik dan airnya dijadikan pelepas dahaga.

Perairan di bibir pantainya merupakan area yang sempurna bagi penyuka diving dan snorkeling. Bunga-bunga karang yang belum terjamah dan ragam ikan karang yang berenang di sela-selanya, teramat indah untuk dilewatkan begitu saja.

Desa yang terkenal dengan kue angkak nya ini berada dalam satu paket wisata terpadu yang meng-koneksikan raja ampat di Irian Jaya dan bunaken di provinsi Sulawesi Utara. Meski demikian masih ada sedikit kekurangan yang dimilikinya.

Seandainya saja warga mau membangun pondok souvenir yang diisi dengan anyaman dedaunan lontar atau ikan asin dan ikan asap bagi para turis yang ada di sana, kawasan ini akan lebih bisa berpotensi di masa yang akan datang.

Untungnya, kawasan ini masih memiliki keraton Sultan Bacan. Lokasinya berada di Jl. Usmansyah di pusat kota Labuha. Struktur bangunan yang tersaput warna kuning ini mengingatkan kita pada rumah adat di Bima, pulau Sumbawa Besar.

Ini wajar terjadi mengingat kesultanan Bima punya hubungan erat dengan kesultanan Bacan di masa yang lampau. Payung kebesaran dan mahkota kesultanan adalah beberapa item menarik yang bisa di tilik di dalam bangunan keraton Bacan.

Lakare adalah sebutan lain bagi mahkota tersebut. Kain bludru yang menjadi bahan pembuatnya di percantik oleh batu-batu mulia yang asli. Namun, tak setiap saat para wisatawan bisa melihatnya. Lakare, payung kebesaran dan keris hanya bisa di saksikan bila sultan Bacan berada di kediamannya.

Masjid Raya Bacan adalah bangunan menarik lain yang bisa di longok. Kawasannya menjadi satu dengan makam para ulama dari malaka dan beberapa sultan. Selain berziarah, wisatawan bisa merasakan kesegaran air suci yang konon berkhasiat bagi kesehatan dan mencegah ketuaan. Mata airnya sendiri berada di belakang bangunan masjid.

Halmahera selatan juga dikenal dengan Batu bacan nya. Tambang-tambang batu yang berwarna hijau ini sebenarnya terletak di pulau Kasiruta. Bila ingin mendatanginya, waktu tempuh yang dibutuhkan adalah 2 hingga 3 jam dengan menggunakan speedboat yang bertolak dari pulau Bacan.

Mencari batu bacan tidaklah mudah karena batu ini termasuk jenis batu yang langka. Penambangnya harus menggali tanah di tempat yang sangat dalam demi mendapatkan urat-urat galur dari batu yang butuh waktu bertahun untuk mengkristal tersebut.

Dari sana, batu-batu ini di bawa ke pulau bacan untuk di asah dan diolah menjadi perhiasan. Harganya tidaklah murah. Untuk batu yang masih mentah (belum terasah), per kilogram-nya bisa mencapai angka 2,5 juta rupiah. Yang menarik, hanya 40 hingga 60 persen dari batu mentah yang di di olah untuk di jadikan perhiasan.

Pasaran Indonesai mengenal dua jenis batu bacan, yaitu bacan palamea dan doko. Nama keduanya di ambil dari nama desa-desa yang berlokasi di pulau Kasiruta. Bacan doko memiliki warna hijau tua, sedangkan palamea warnanya hijau muda kebiruan. Masih ada beberapa desa yang di wilayahnya terdapat tambang-tambang batu bacan seperti besori dan imbu-imbu.

Mendatangi pulau Bacan amatlah mudah. Pulau ini bisa di datangi dengan menggunakan ferry yang bertolak dari pelabuhan Bastiong di Ternate. Setiap minggunya, ada 3 kali jadwal ferry yang menuju ke pelabuhan babang di pulau Bacan. Waktu tempuh kapal ferry ber-rute Ternate – Bacan adalah 8 hingga 10 jam dengan 2 jenis harga tiket.

Untuk kelas deknya tiket dijual seharga 100 ribu*, dan kelas kabin di tawarakan seharga 250 ribu*. Ferry dari Ternate ke Bacan biasanya bertolak dari pelabuhan Ternate pada pukul 8 malam.

Dari pelabuhan bacang kota Labuha bisa di tempuh dengan menggunakan angkutan kota (mikrolet) seharga 10 ribu per-penumpangnya*. Lama perjalanannya kira-kira 30 menit. Mikrolet dari pelabuhan Bacang biasanya baru akan jalan bila penumpangnya sudah penuh.

Bila ingin cepat tiba di Labuha pelancong bisa menggunakan jasa ojek yang banyak parkir di pelabuhan. Tariff ojek Labuha sekitar 20 ribu rupiah*.

Alternatif lain adalah lewat udara. Beberapa maskapai penerbangan kini sudah menjadikan bandara Usman Sadik di pulau Bacan sebagai tempat landasan pesawat yang terbang dari bandara Baabulah di Ternate. Maskapai-maskapai tersebut adalah NBA, Express Air dan Merpati. Harga tiketnya berkisar 150 hingga 350 ribu*.

*harga bisa berubah sewaktu-waktu

Place Tags: labuha, pulau, and Pulau Bacan.

Apa Pendapat Anda ?

Berikan penilaian pada tempat ini dengan memilih bintang di bawah :

Captcha Verification
captcha image

Upload Image

Attach a image to your review.

Send To Friend

Captcha Verification
captcha image

Send Enquiry

Captcha Verification
captcha image

Claim Listing

What is the claim proccess?

Captcha Verification
captcha image