Sign in to follow this  
  • entries
    16
  • comments
    115
  • views
    5,394

About this blog

Catatan perjalanan traveler amatir

Entries in this blog

sunawang

Ada sebuah lagu yang sangat saya suka dari Bondan Prakoso and Fade2Black. Judulnya Kau Puisi. Lagu ini adalah lagu cinta yang dibawakan dengan irama rap dan pop.

Pada salah satu bagian lirik lagu ini ada sebuah kalimat seperti ini: “Saat nikmati indah sunset Pantai Kuta. Hadirmu jadi pelengkapku di tata surya”.

Sunset dan Pantai Kuta memang seperti sepasang sendal yang saling melengkapi. Jika salah satunya hilang, maka sendal itu tak bisa dipakai. Kalaupun bisa, akan terlihat sangat aneh dan tak enak dilihat. Bondan Prakoso and Fade2Black bukanlah satu-satunya musisi yang terinspirasi oleh keindahan sunset di Pantai Kuta. Jauh sebelum lagu Kau Puisi dibuat, Iwan Fals sudah merilis sebuah lagu berjudul Mata Dewa. Lagu ini diawali dengan sebuah lirik berbunyi “Di atas pasir senja Pantai Kuta. Saat kau rebah di bahu kiriku”.

pantai-kuta-2.jpg

Menikmati suasana sunset di Pantai Kuta menjadi tujuan utama saya ke Bali beberapa hari lalu. Saya pernah ke Bali, namun belum pernah merasakan bagiamana suasana sunset di Pantai Kuta. Saya sangat penasaran dan ingin membuktikan sendiri apakah suasana sunset di pantai ini memang sesuai dengan ekspektasi sebagaimana yang sering diceritakan orang-orang.

Setelah merasakan teriknya udara tropis di Pantai Pandawa yang biru, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Kuta. Masih ditemani Mas Fery yang hari itu menjadi guide dadakan kami selama di Bali. Kata Mas Fery, jalanan di sekitar Kuta akan sangat macet menjelang senja sehingga kita harus segera berbegas supaya tidak ketinggalan momen sunset.

pantai-kuta-6.jpg

Mas Fery benar, setibanya di kawasan Kuta kendaraan mulai padat. Mobil yang kami tumpangi susah sekali untuk maju, padahal waktu sudah menujukkan jam 5 sore. Kalau begini terus kami akan kehilangan momen sunset karna menurut Mas Fery butuh waktu lama untuk sampai ke parkiran Pantai Kuta jika suasana sudah macet seperti ini. Akhirnya, Mas Fery memutuskan untuk memarkir kendaraan di Discovery Mall dan kami akan berjalan ke Pantai Kuta dengan terlebih dulu singgah di sebuah pantai yang berada persis di belakang mall. Kata Mas Fery, orang-orang menyebut pantai ini dengan Pantai Discovery.

pantai-kuta-4.jpg

Pantai Discovery sendiri masih berada satu garis dengan Pantai Kuta. Hanya dibutuhkan waktu beberapa menit saja untuk sampai ke Pantai Kuta.

Matahari sudah mulai beranjak turun ketika kami tiba di Pantai Discovery. Pantai ini tak jauh beda dengan Kuta: sangat landai dan luas. Hanya saja, pasirnya berwarna sedikit kehitaman namun sangat lembut. Kami menikmati suasana di pantai ini sambil berjalan santai menuju Pantai Kuta. Sebenarnya, saya tak bisa membedakan mana yang termasuk Pantai Discovery mana yang termasuk Pantai Kuta. Kata Mas Fery, ada semacam umbul-umbul yang menjadi penanda bahwa ini adalah kawasan Pantai Kuta dan itu kawasan Pantai Discovery. But, who care. Toh suasananya sama saja. Sama-sama indah.

pantai-kuta-3.jpg

Pantai Kuta sendiri memang sangat panjang. Beberapa pantai yang masih berada satu garis dengan pantai ini antara lain Pantai Legian, Seminyak serta Jimbaran.

Beruntung sekali saya hari itu karna langit sedang sangat cerah. Ternyata memang benar, suasana dan pemandangan sunset di pantai ini begitu menggoda. Pantas saja kalau banyak seniman yang terinspirasi olehnya. Momen sunset di Pantai Kuta juga tak luput dari lensa fotografer. Berkali-kali saya melihat muka-muka asing membidik dengan kamera, mengabadikan setiap momen yang mereka lihat. Pemandangan sunset di Pantai Kuta terlihat semakin dramatis ketika matahari berada tepat di atas garis horison. Dengan alat seadanya, sayapun tak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen langka yang indah ini.

pantai-kuta-7.jpg

Sampai akhirnya penjaga pantai meniupkan “peluit panjang”. Pertanda pengunjung dianjurkan untuk mengakhiri kegiatan di air karna hari semakin gelap. Bersamaan dengan itu, kami juga meluai berjalan meninggalkan Pantai Kuta. Melewati toko-toko serta bar di kawasan Kuta.
Sumber

sunawang

Memang tak bisa dipungkiri bahwa kunjungan ke Bali akan terasa kurang lengkap jika tidak ke tempat-tempat mainstream seperti Kuta atau Tanah Lot. Namun, jika mengingingkan sesuatu yang lain, kamu bisa datang ke tempat-tempat yang belum terlalu terkenal, termasuk Pantai Pandawa.

Pantai Pandawa termasuk pantai baru karna baru dibuka sebagai kawasan wisata pada tahun 2012. Saat ini, kawasan di sekitar pantai ini sedang dalam tahap pengembangan. Ketika berkunjung ke sana tanggal 19 Oktober lalu, saya melihat banyak bangunan-bangunan baru yang sedang dalam tahap pengembangan. Termasuk sebuah konstruksi bangunan yang sepertinya akan dijadikan sebagai pusat perbelanjaan atau penginapan. Yang jelas, dari struktur bangunannnya saya yakin gedung itu nantinya akan dijadikan sebagai pusat keramaian.

Pantai Pandawa sendiri memiliki sejarah yang panjang. Dari penjelasan singkat yang berada di tiket masuk, saya mendapat informasi bahwa pantai ini dulunya bernama Pantai Penyekjekan.

pantai-pandawa-1.jpg

Nama Pantai Pandawa sendiri dipilih oleh warga setempat bukannya tanpa alasan. Dalam cerita pewayangan, kita mengenal sosok Pandawa Lima yang terdiri atas Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Suatu ketika, Pandawa Lima pernah diasingkan ke hutan dan goa gala-gala selama 12 tahun lamanya. Perjuangan inilah yang menjadi inspirasi warga setempat.

Sejak tahun 1997 hingga tahun 2010, masyarakat adat Kutuh yang tinggal di sekitar Pantai Pandawa berjuang untuk melepaskan diri dari keterasingan dengan cara membelah tebing. Perjuangan membelah tebing ini menjadi semakin epic karna tebing yang dibelah merupakan tebing batu cadas. Saat melintasi jalan mulus menuju Pantai Pandawa dan melihat tebing-tebing batu di kiri dan kanan, saya tak bisa membayangkan bagaimana susahnya saat warga setempat membelah bukit kala itu.

pantai-pandawa-5.jpg

Mas Fery – seorang teman baru yang menemani perjalanan saya dan teman-teman selama di Bali – juga sempat menyinggung tentang sejarah pantai ini. Kata mas Fery, kawasan Pantai Pandawa ini dulu merupakan kawasan terpencil dan terisolasi. Setelah dibukanya akses jalan yang memudahkan para pengunjung, dinas terkait di Bali kemudian mengembangkan pantai ini sebagai kawasan wisata baru sebagai salah satu upaya untuk memeratakan ekonomi di sektor wisata. Sebelum dibukanya Pantai Pandawa sebagai destinasi wisata, penduduk setempat kebanyakan berprofesi sebagai petani rumput laut.

pantai-pandawa-4.jpg

Kunjungan saya ke Pantai Pandawa sebenarnya juga tidak terlalu terencana. Tujuan utama saya mampir ke Bali (sebelum ke Lombok) adalah untuk menikmati sunset di Pantai Kuta yang terkenal itu. Karna jam 10.30 WITA pesawat yang saya tumpangi sudah tiba di bandara, maka saya harus mencari destinasi lain untuk menghabiskan waktu. Sayapun meminta Mas Fery untuk mengantarkan saya dan teman-teman ke Pantai Pandawa. Kebetulan, waktu tempuh Bandara Ngurah Rai – Pantai Pandawa adalah sekitar 30 s/d 45 menit. Dipotong waktu makan siang serta asumsi bahwa di kawasan Kuta jalanan akan macet, maka kami akan tiba di Pantai Kuta tepat menjelang senja.

 

Pantainya biru, sebiru langit sore yang tanpa mendung

pantai-pandawa-2.jpg

Pantai dengan air laut berwarna biru adalah hal yang lumrah di Bali. Begitu juga dengan Pandawa. Begitu sampai, saya langsung melepas alas kaki dan menikmati suasana pantai dengan berjalan kaki. Beberapa wisatawan sedang asik dengan aktivitas masing-masing. Ada yang berjemur, ada yang bermain kano, ada pula yang hanya berlari-larian mengejar ombak. Semua tampak ceria.

Aneka rupa manusia saya jumpai di Pantai Pandawa. Bule – sesuai dengan style mereka – selalu mengenakan bikini dan kancut. Seakan mereka tak peduli dengan udara panas yang menyengat. Beberapa bule ada yang asik membaca buku di bayah payung, ada juga yang asik bermain air. Sementara itu, kebanyakan wisatawan lokal hanya berfoto-foto atau duduk-duduk di warung makan. Mungkin mereka tak tahan dengan udara panas yang menyengat.

 

Deretan Patung Pandawa yang menjadi pembeda

pantai-pandawa-7.jpg

 

Selain menjadikan kisah Pandawa sebagai inspirasi untuk melepaskan diri dari keterasingan, warga setempat juga mengabadikan sosok Pandawa melalui media patung. Di tebing batu menuju Pantai Pandawa terdapat 6 cekungan mirip goa. Di cekungan-cekungan itulah patung Pandawa diletakkan. Ukuran masing-masing patung sendiri cukup besar. Tingginya kira-kira 2 s/d 3 meter.

Pantai Pandawa sendiri masuk wilayah Kabupaten Badung. Satu-satunya hal yang saya sesalkan saat mengunjungi Pantai Pandawa adalah perihal waktu kunjungan. Anda saja saya datang ke sana saat sore atau pagi sekalian, mungkin saya akan lebih bisa menikmati suasana.

 

Sumber

sunawang

20160924_131126.jpg

Payung mungkin hanyalah benda sederhana. Ia tak pernah benar-benar ada dalam daftar kebutuhan primer manusia. Tapi payung selalu ada pada saat yang tepat. Menjadi pelindung dari hujan, juga sengatan matahari.

Payung selalu punya ceritanya sendiri. Seperti ketika seorang lelaki tiba-tiba datang membawa payung untuk seorang perempuan di tengah hujan lebat pada drama Korea, supaya terlihat heroik. Lalu, momen itu berlanjut menjadi sebuah kisah cinta yang (katanya) romantis ala drama Korea.

Payung selalu memberi keteduhan. Mungkin karna itu jugalah band indie asal Jakarta, Payung Teduh menamai diri mereka dengan sebutan Payung Teduh. Memberi keteduhan lewat lagu.

Saya kurang paham apa ide awal Festival Payung yang diadakan Solo. Tapi, saya menerka kalau tujuan festival ini adalah untuk membangkitkan kembali segala sesuatu yang berkaitan dengan payung. Juga untuk menghargai peran payung sebagai pemberi keteduhan dan perlindungan.

Oh iya, Festival Payung merupakan sebuah festival tahunan yang ada di Kota Solo. Event ini sudah ada sejak tahun 2014 dan tahun ini memasuki tahun yang ke-3. Pada dua edisi sebelumnya saya selalu melewatkan event tersebut. Tapi tidak untuk tahun ini.

Festival Payung tahun ke-3 berlangsung selama tiga hari, 23 s/d 25 September 2016. Tempatnya masih sama dengan yang dulu-dulu yakni di Taman Balekambang. Saya datang pada hari kedua pada Sabtu siang.

20160924_134855.jpg

Cuaca sedikit mendung ketika saya berangkat menuju Taman Balekambang. Tak seperti hari-hari biasanya. Jalan menuju Taman Belekambang terlihat sangat ramai oleh lalu-lalu manusia. Spot parkir tersebar di beberapa tempat. Saya langsung bergegas menuju kerumuman, berjalan menuju Taman Balekambang.

Suasana serba payung sudah tampak di pintu gerbang taman. Gapura taman didekor sedemikian rupa dengan instalasi payung yang indah. Instalasi payung ini rupanya banyak tersebar di beberapa titik, didukung dengan rangkainan bambu yang telah disusun sedemikian rupa.

Usai berkeliling selama beberapa menit, saya lalu berjalan menuju panggung terbuka yang juga telah didekor sedemikian rupa dengan nuansa payung. Sore nanti, akan ada pertunjukan seni serta fashion show di sini.

Menonton perjunjukan seni. Itulah sebenarnya tujuan utama saya datang ke Festival Payung.

20160924_135729.jpg

Hari masih siang ketika saya duduk di salah satu sudut tribun. Pertunjukan seni masih beberapa jam lagi. Sementara panitia mempersiapkan set panggung, saya melanjutkan keliling untuk mengambil beberapa foto. Tanpa sengaja, saya bertemu dua orang travel blogger asal Jogja, Kharis dan Sitam. Kami ngobrol cukup lama dan akhirnya sepakat untuk menonton pertunjukan seni sama-sama.

Mendekati sore, kami berjalan menuju panggung terbuka. Set panggung sudah selesai ditata. MC sudah berkali-kali koar-koar bahwa acara akan segera dimulai. Nyatanya, hampir lebih dari setengah jam kami duduk di tribun namun acara belum juga mulai. Sementara mendung sudah semakin gelap, hujan sepertinya hanya tinggal menunggu waktu.

20160924_143358.jpg

Kami sempat putus asa menunggu pertunjukan yang tak kunjung dimulai sampai akhirnya benar-benar goyah dan meninggalkan panggung. Dan.. sementara kami berjalan meninggalkan panggung, acara benar-benar dimulai. Sial.

Kamipun bergegas kembali supaya dapat tempat duduk. Sore itu, panggung terbuka di Taman Balekambang penuh sesak oleh pengunjung.

Pertunjukan seni dibuka oleh Kemlaka, kelompok musik yang menyajikan musik etnik dari berbagai daerah Indonesia. Meskipun tak benar-benar paham dengan musik yang dibawakan, saya larut dalam melodi yang mereka mainkan. Sore itu, Kemlaka berkolaborasi dengan dua kelompok penari dari Sanggar Semarak Candra Kirana yang membawakan tarian Jawa serta Pesona Nusantara yang membawakan tarian Kalimantan.

20160924_155934.jpg

Alunan musik dari Kemlaka serta gerakan-gerakan indah dari penari membuat penonton cukup terhibur dan antusias. Buktinya, meski mendung gelap masih tetap menggelayut, mereka tak beranjak dari tempat duduk sampai pertunjukan benar-benar selesai.

Sampai akhirnya, waktu sudah hampir jam 5 sore. Kharis dan Sitam pamit pulang. Beberapa menit kemudian, pertunjukan benar-benar telah selesai dan saya pun juga beranjak meninggalkan Taman Belakambang. Sementara saya berjalan keluar, para pengunjung justru semakin banyak yang berdatangan.

 

Sumber

 

sunawang

Ibarat sebuah lagu, Umbul Ponggok sedang ngehits-ngehits nya. Tempat ini begitu terkenal di kawasan regional Klaten, Solo, Jogja bahkan hingga Semarang. Tak ada kata sepi untuk tempat ini, bahkan saat weekdays sekalipun.

Saking ramainya, kabar terbaru menyebutkan bahwa pengelola menambah jam operasional hingga malam. Memangnya, di sana bisa ngapain aja, sih?.

Bagi yang belum tahu, Umbul Ponggok merupakan sebuah kolam renang yang airnya berasal dari sumber alami yang senantiasa mengalir. Kolam ini memiliki ukuran kira-kira seluas lapangan sepak bola.

Air yang dingin dan segar serta pengelolaan yang cukup baik membuat Umbul Ponggok menjadi salah satu tempat wisata yang disukai banyak orang.

Jika kamu belum pernah ke Ponggok dan penasaran kegiapan apa saja, sih yang bisa dilakukan di sana. Berikut ini adalah 5 kegiatan menarik yang bisa kita lakukan.

1. Meningkatkan skill renang

berenang_ponggok.jpeg

Jika kamu serius ingin meningkatkan skill renang, maka Umbul Ponggok merupakan tempat yang sangat ideal. Sebaliknya, jika kamu belum bisa berenang sama sekali, Umbul Ponggok bukanlah tempat yang cocok untuk belajar berenang.

Kalau dihitung, kedalaman rata-rata kolam ini mungkin sekitar 2 s/d 3 meter. Di beberapa titik bahkan ada yang lebih dalam lagi. Kalau skill renangmu masih pas-pasan, Ponggok adalah tempat yang tepat untuk meningkatkan skill renangmu karna di beberapa titik di tengah kolam terdapat pelampung yang bisa kita capai setahap demi setahap. Keberadaan batu-batu besar di dasar kolam juga bisa kita jadikan tempat berpijak untuk mengambil nafas sejenak

2. Latihan menyelam

menyelam-di-umbul-ponggok.jpg

Seperti yang sudah disinggung di atas, kedalaman rata-rata Umbul Ponggok sekitar 2 s/d 3 meter. Di beberapa titik, khususnya di bagian sebelah timur, bahkan mungkin lebih dalam lagi. Kedalaman seperti itu ternyata sudah cukup ideal untuk belajar menyelam.

Dalam banyak kesempatan, kolam ini sering dikunjungi oleh mereka yang ingin belajar menyelam. Kedalaman di kolam ini mungkin dianggap ideal untuk mempelajari teknik-teknik dasar menyelam.

3. Berpose di dalam air

adityazp2.jpg

Jika kamu mencari foto-foto Umbul Ponggok di Instagram dengan hashtag #umbulponggok, maka kamu akan menemukan banyak sekali foto-foto narsis para pengunjung yang sedang berpose di dalam air. Umbul Ponggok memang memiliki pemandangan underwater yang tidak biasa.

Pemandangan underwater di sana terlihat cukup natural dengan dasar kolam berupa pasir serta batu-batu besar yang sudah mulai berlumut. Keberadaan ikan-ikan hias dalam berbagai ukuran turut membuat suasana naturalnya semakin terasa. Bahkan, ada operator khusus yang menyewakan jasa foto underwater di Umbul Ponggok. Beberapa properti seperti sepeda ontel, motor, layar monitor hingga tenda sering digunakan para pengunjung untuk bergaya.

4. Snorkeling

snorkeling-ponggok.jpg

Jika kamu tidak bisa berenang sama sekali namun cukup penasaran dengan Umbul Ponggok yang sedang hype, datang saja. Ada beberapa kegiatan menarik selain berenang yang bisa kamu lakukan di sana. Salah satunya adalah snorkeling. Tak perlu repot-repot membawa peralatan snorkeling dari rumah karna di Ponggok sudah tersedia banyak jasa persewaan alat-alat snorkeling mulai dari jaket pelampung hingga kacamata.

Snorkeling di Umbul Ponggok kita akan disambut oleh sekumpulan ikan yang sedang berenang manja kesana kemari. Ikan yang ada di kolam ini cukup beragam. Ada yang kecil banget, ada yang seukuran badan orang dewasa (serius).

5. Foto-foto

foto_ponggok.jpeg

Yes, kalau kamu orang cukup narsis, Umbul Ponggok juga merupakan tempat yang cocok untuk foto-foto. Mau foto dengan pose seperti apapun, tak ada yang melarang. Jika kamu ingin mengambil foto bawah air menggunakan kamera smartphone, di Umbul Ponggok juga tersedia banyak persewaan casing kamera underwater untuk melindungi kamera dari air.


Sumber

 

sunawang

Pernah mendengar Candi Gedong Songo? Sebuah kompleks percandian yang berada di lereng Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Candi ini sedikit banyak cukup mirip dengan Candi Arjuna di Dieng. Sama-sama berada di dataran tinggi.

Candi Gedong Songo berada di lereng Gunung Ungaran pada ketinggian sekitar 1.200 mdpl. Dari beberapa titik di kompleks candi ini kita bisa melihat puncak Gunung Ungaran dengan sangat jelas.

Candi Gedong Songo lebih dari sekedar candi. Candi ini tidak hanya cocok untuk dijadikan objek wisata sejarah-kultural sebagaimana candi-candi lain. Lokasinya yang berada di lereng gunung akan membuat kita sekaligus mendapatkan suasana dan pemandangan alam pegunungan yang indah. Terlebih lagi, lokasi antar candi cukup jauh sehingga kita mau tak mau harus trekking melewati jalan setapak untuk menuju masing-masing lokasi candi. Dalam perjalanan kita juga akan melewati perkebunan penduduk.

Ada 9 bangunan candi yang akan kita temukan di kompleks Candi Gedong Songo. Namun, yang benar-benar masih utuh hanya ada 5 (plus sebuah candi perwara). Sisanya hanya berupa reruntuhan yang tak berbentuk. Masing-masing candi diberi nama sesuai dengan lokasinya. Candi Gedong I berada di paling bawah dekat pintu masuk sedangkan Candi Gedong V berada paling jauh dari pintu masuk, di sebuah bukit.

Berikut ini adalah 4 hal penting yang perlu kamu ketahui sebelum berkunjung ke Candi Gedong Songo.

1. Candi ini ditemukan oleh pendiri Singapura

20160828_120301.jpg

Candi Gedong Songo merupakan sebuah candi bercorak Hindu. Candi ini berada di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Lokasinya berada sekitar 25 km dari Ungaran. Sedangkan jika ditempuh dari Kota Semarang, jaraknya sekitar 45 km.

Menurut catatan sejarah, candi ini ditemukan oleh Stamford Raffles pada tahun 1804. Candi ini dibangun pada abad ke-9 pada wangsa Syailendra. Stamford Raffles sendiri merupakan salah satu gubernur besar Hindia Belanda yang cukup terkenal. Ia juga dikenal sebagai pendiri negara Singapura.

2. Miskin relief

20160828_124835.jpg

Candi-candi yang ada di kompleks Candi Gedong Songo sedikit berbeda dengan candi-candi pada umumnya. Jika kita perhatikan lebih detail dari dekat pada masing-masing candi, hampir tidak ada relief yang kita temukan. Di beberapa dinding candi Hindu lain (Prambanan, misalnya), terdapat relief-relief yang menceritakan tentang filosofi tertentu. Selain relief, arca adalah sesuatu yang juga tidak akan kita temukan di candi Gedong Songo.

3. Siapkan fisik yang prima sebelum berkunjung

20160828_121515.jpg

Seperti yang sudah disebutkan di atas, Candi Gedong Songo berada di lereng Gunung Ungaran pada ketinggian 1.200 mdpl. Ada 5 buah bangunan candi yang dapat kita kunjungi di sana yang masing-masing berjarak cukup jauh. Untuk berpindah dari satu candi ke candi yang lain kita harus berjalan melewati jalanan setapak dengan track yang naik turun. So, persipkan fisik yang prima jika kamu ingin mengunjungi semua candi.

Kalau tidak mau capek, ada kuda yang siap mengantarkanmu. Ada beberapa pangkalan kuda yang ada di kompleks Candi Gedong Songo. Selain di dekat pintu masuk, ada juga pangkalan kuda di dekat Candi Gedong IV.

4. Ada kolam air hangat

20160828_121918.jpg

Dalam perjalanan dari Candi Gedong III ke Candi Gedong IV dan V kita akan menemukan sebuah sumber belerang yang senantiasa mengeluarkan asap. Bau belerang cukup tajam di titik ini. Tak jauh dari sumber belerang tersebut terdapat sebuah kolam pemandian air panas alami. Dengan membayar tiket masuk para pengunjung bisa merasakan segarnya berendam di air hangat alami sebelum melanjutkan perjalanan menuju Candi Gedong IV dan V


Sumber

sunawang

20160330_155044.jpg

Candi Ijo, kecuali mereka yang domisili di Jogja dan sekitarnya, mungkin tidak banyak yang tahu keberadaan candi ini. Mendengar namanya saja mungkin belum pernah.

Candi ini sejatinya merupakan salah satu candi yang istimewa di Jogja. Dalam hal lokasi, Candi Ijo merupakan candi tertinggi yang ada di Jogja. Lokasinya berada di atas bukit pada ketinggian 425 mdpl. Lebih tinggi dari Ratu Boko, Barong, serta Banyunibo yang juga berada di atas bukit

Melihat statusnya sebagai candi tertinggi di Jogja, candi ini mestinya menjadi pilihan utama para pemburu sunset berlatar belakang candi. Namun faktanya, candi ini masih kalah pamor dibandingkan Ratu Boko untuk urusan sunset. Tentu ada beberapa faktor yang membuat Candi Ijo belum terlalu populer. Salah satunya barangkali adalah perihal akses

Lokasi Candi Ijo yang berada di ketinggian membuat kendaraan harus sedikit bersusah payah untuk mencapainya. Kendaraan harus benar-benar dalam kondisi prima jika ingin sampai ke Candi Ijo. Jalanan sangat menanjak dan bergelombang. Lokasi Candi Ijo sendiri berada di Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DIY

Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke Candi Ijo bersama salah seorang teman. Sayang seribu sayang, saya datang pada waktu yang kurang tepat. Hujan baru saja reda ketika saya melanjutkan perjalanan ke Candi Ijo dari kawasan Babarsari. Waktu pun sudah menunjukkan pukul 4 sore lebih. Namun, karna sudah berada di tengah perjalanan, saya dan teman tetap melanjutkan perjalanan

20160330_155420.jpg

Sekitar setengah 5 sore kami tiba di lokasi Candi Ijo. Awalnya semua tampak normal. Candi Ijo masih terlihat dengan sangat jelas. Namun, beberapa menit memasuki area candi, kabut tiba-tiba datang dengan cukup masif. Candi Ijo pun tertutup kabut dalam waktu singkat. Seketika, suasana berubah menjadi sedikit mistis. Teman saya yang tadinya berniat melihat patung yang berada di dalam candi utama pun mengurungkan niat dan hanya melihat-lihat bagian luar candi

Bentuk fisik Candi Ijo sendiri ternyata cukup besar. Candi ini merupakan sebuah candi bercorak Hindu yang diperkirakan dibangun pada abad ke-10 sampai abad ke-11 pada jaman Kerajaan Medang di periode Mataram. Persis di depan candi utama terdapat dua buah candi pendamping atau biasa disebut candi pewara. Ketiga candi tersebut memiliki patung di dalamnya. Karna suasana yang mulai gelap dan berkabut (dan misitis), saya tak berani melihat isi patung pada candi utama. Seperti yang teman saya lakukan, saya hanya melihat-lihat bagian luar candi sambil sesekali mengambil gambar

candi-ijo.jpg

Seperti halnya candi-candi pada umumnya, lokasi Candi Ijo juga berada di kompleks taman yang tertata rapi. Rumput hijau tampak tumbuh dengan rapi di kompleks taman. Beberapa bunga juga tumbuh di beberapa sudut taman. Untuk masuk ke lokasi candi sendiri ternyata gratis. Oleh petugas, saya hanya diminta mengisi data diri serta keperluan berkunjung

Saya sangat yakin, saat cuaca sedang cerah, pemandangan senja di sekitar Candi Ijo ini tak kalah indah dibandingkan tempat lain di Jogja. Misalnya Ratu Boko. Mungkin butuh sedikit waktu untuk menunggu pesona Candi Ijo semakin diketahui oleh banyak orang

Selain memiliki pemandangan sunset yang istimewa ketika cuaca sedang cerah, lokasi Candi Ijo juga didukung oleh keberadaan tempat wisata lainnya. Sekitar 1 km sebelum sampai ke Candi Ijo kita akan melewati sebuah tempat yang dinamakan Tebing Breksi. Menurut keterangan yang ada di sekitar tebing, Tebing Breksi merupakan endapan vulkanik Candi Ijo. Saya kurang paham maksudnya. Mungkin dulunya bukit di sekitar Candi Ijo ini merupakan sebuah gunung berapi yang kini sudah pensiun

Dalam beberapa waktu ke depan, Candi Ijo dan juga Tebing Breksi ini mungkin akan menjadi salah satu tujuan wisata favorite di Kabupaten Sleman

sunawang

Jogja merupakan salah satu daerah yang menjadi tujuan favorite untuk berwisata. Tak cuma wisatawan lokal tapi juga wisatawan mancanegara. Terutama mereka yang menyukai wisata sejarah

Dari sekian banyak tempat wisata yang ada di Jogja, mungkin tidak banyak yang tahu tentang keberadaan Candi Sambisari. Padahal lokasi candi ini tak jauh-jauh amat dari Prambanan. Hanya berjarak sekitar 4 km ke arah selatan. Candi Sambisari berada di Dusun Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Sleman

Seperti kebanyakan candi yang ada di Jogja, Candi Sambisari juga merupakan sebuah candi bercorak Hindu. Candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan raja Rakai Garung di era kerajaan Mataram Kuno. Jika dilihat dari bentuk bangunannya, candi ini tak jauh beda dengan beberapa candi lain di Jogja. Bagian bawah berbentuk persegi empat serta tedapat sebuah rongga di bagian candi untuk menyimpan arca

Yang membedakan candi ini dengan candi-candi lain di Jogja adalah letaknya yang berada di bawah permukaan tanah. Area di sekeliling candi dikelilingi oleh semacam dinding tanah berumput yang sangat indah. Lokasi candi berada tanah yang lebih rendah. Jadi, jika dilihat secara sekilas dari luar kompleks, lokasi candi ini seperti di sebuah stadion sepakbola dengan rumput-rumput sebagai tribunnya

IMG-20160331-WA0004.jpg

Sejarah singkat Candi Sambisari

Menurut catatan domumentasi yang berada di ruang informasi di kawasan kompleks Candi Sambisari, candi ini pertama kali ditemukan oleh seorang petani setempat pada tahun 1966. Candi ini ditemukan secara tidak sengaja ketika petani tersebut mencangkul tanah di kawah sekitar candi. Tak dinyana, cangkul yang digunakan untuk mencangkul sawah tersebut mengenai sebuah batu yang ternyata adalah Candi Sambisari. Setelah dilaporkan ke otoritas terkait, kemudian dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mempelajari sejarah Candi Sambisari

Kemudian pada tahun 1986 dilakukan pemugaran terhadap Candi Sambisari oleh dinas purbakala. Selain bangunan utama berupa candi, ditemukan pula beberapa arca lain di sekitar bangunan Candi Sambisari. Sayang, saat ini ada beberapa arca hilang dicuri. Di ruang informasi yang juga digunakan sebagai museum mini terdapat foto hitam putih proses pemugaran dan penggalian Candi Sambisari

Penyebab kenapa candi ini bisa terpendam di dalam tanah diperkirakan adalah akibat letusan dari Gunung Merapi pada abad ke 11

IMG-20160331-WA0002.jpg

Dikelilingi oleh taman yang indah

Sebenarnya adalah hal yang biasa untuk sebuah candi dikelilingi oleh kompleks taman. Candi Prambanan dan Ratu Boko, misalnya. Kedua candi tersebut juga dikelilingi oleh kompleks taman yang indah. Namun, kompleks taman yang ada di Candi Sambisari ini terlihat beda. Ini karna lokasi candi yang berada di bawah permukaan rata-rata tanah. Untuk sampai ke lokasi candi sendiri kita harus menuruni puluhan anak tangga. Ada empat pintu masuk ke candi yang masing-masing berada di sisi taman. Sekumpulan huruf bertuliskan “Candi Sambisari” yang berada di sisi utara taman membuat pemandangan di Candi Sambisari terlihat semakin indah

Salah satu kelebihan lain dari Candi Sambisari adalah harga tiketnya yang sangat murah. Untuk masuk ke kompleks candi kita hanya dikenakan biaya Rp 2.000 rupiah saja. Bandingkan dengan, misalnya Ratu Boko yang mencapai Rp 30.000

So, untuk kamu yang suka mengunjungi tempat wisata anti mainstream, Candi Sambisari ini bisa kamu jadikan pilihan

 

Sumber

sunawang

5549480_20160523072519.jpg

Semua pasti sudah tahu kenapa Candi Prambanan dijadikan salah satu ikon wisata di Jogja. Candi ini merupakan monumen Hindu terbesar di Asia Tenggara. Wajar kalau banyak orang ingin sekali mengunjunginya

Meski demikian, ada juga sebagian orang yang tidak suka jalan-jalan ke Prambanan karna alasan sentimentil. Takut terkena mitos, misalnya. Atau karna menganggap bahwa Candi Prambanan sudah terlalu mainstream sehingga ia ingin mengunjungi tempat lain

Jika kamu termasuk orang yang ogah ke Prambanan, ada pilihan candi lain yang bisa kamu kunjungi, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Candi Prambanan. Candi tersebut adalah Candi Plaosan yang jaraknya sekitar 1 km ke arah timur laut dari Candi Prambanan. Meski lokasinya cukup dekat, belum banyak yang tahu keberadaan candi ini. Padahal candinya sendiri cukup besar

Candi Plaosan terdiri atas dua bagian yakni Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul. Candi Plosan Lor terdiri atas dua candi utama dengan beberapa candi pewara di sekitarnya. Sedangkan Candi Plaosan Kidul hanya berupa candi pewara yang ukurannya tidak terlalu besar

Secara administratif, Candi Plaosan berada di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Candi ini merupakan candi bercorak Buddha yang dibangun pada abad ke-9 di era kerajaan Mataram Kuno. Ada beberapa hal yang menjadi alasan kenapa harus mengunjungi candi ini

plaosan-1.jpg

Merupakan tempat yang asik untuk menikmati suasana sore

Salah satu waktu paling ideal untuk mengunjungi sebuah candi adalah saat sore hari. Selain karna tidak panas, menanti momen senja dengan latar belakang bangunan candi merupakan sebuah keasikan tersendiri. Apalagi jika kita punya hobi fotografi. Jika cuaca sedang tidak mendung, suasana pemandangan senja di Candi Plaosan akan terlihat sangat cantik. Apalagi di sebelah barat kompleks candi merupakan area persawahan. Kombinasi seperti itu merupakan objek foto yang sangat menarik

Saat sore tiba, banyak orang berdatangan ke Candi Plaosan untuk menikmati suasana sore di sana. Ada yang mencari spot terbaik untuk foto, ada juga yang duduk-duduk santai sambil menikmati momen

Harga tiketnya tak semahal Prambanan

plaosan-3.jpg

Salah perbedaan mencolok antara Candi Plaosan dengan tetangganya, Prambanan, adalah perihal harga tiket. Jika di Candi Prambanan kita harus mengeluarkan uang 30 ribu untuk masuk ke area candi, maka di Candi Plaosan ini kita hanya dikenakan biaya 3 ribu saja. Harga tersebut sudah satu paket. Artinya, kita bisa masuk ke Candi Plaosan Lor maupun Candi Plaosan Kidul

Candinya unik

Di kompleks Candi Plaosan Lor terdapat dua buah bangunan candi yang bentuknya sangat identik. Dimensinya pun sama. Sekilas, candi ini mengingatkan kita dengan Candi Barong. Bisa dibilang bahwa Candi Plaosan merupakan sebuah candi kembar. Namun, jika diperhatikan lebih detil, kedua candi tersebut ternyata memiliki perbedaan yang sangat mendasar

Dinding candi sebelah utara dipehuni oleh relief-relief yang menggambarkan beberapa tokoh wanita, sedangkan pada dinding candi sebelah selatan kita akan menjumpai relief-relief beberapa tokoh pria. Itulah sebabnya kedua candi tersebut juga sering disebut sebagai Candi Pria dan Candi Wanita. Di bagian timur kedua candi tersebut kita akan mendapati sekitar 8 candi pewara yang dibangun sejarah pada satu garis lurus

Secara keseluruhan, di kompleks Candi Plaosan ini terdapat banyak candi pewara serta reruntuhan-reruntuhan yang melengkapi candi utama

 

Sumber

sunawang

Saat ada seorang millennial menonton acara musik keroncong, mungkin banyak yang mengernyitkan dahi sambil membatin “hah, keroncong?. Bukannya itu musiknya orang tua, ya?”

Tadinya saya juga mikir begitu. Bukan cuma karna kebanyakan audiens keroncong adalah orang yang – maaf – sudah berumur. Tapi juga fakta bahwa musisi keroncong mayoritas adalah orang-orang yang sudah berkeluarga. Kita tahu, ada dua orang di Indonesia yang dianggap sebagai maestro keroncong: Hj. Waljinah dan alm. Gesang

Mereka berdua bukanlah musisi yang ketika muda mengawali karir sebagai penyanyi pop dan berpindah haluan ke keroncong ketika tua. Mereka seperti sudah disiapkan oleh semesta untuk menjadi penyanyi keroncong sejak kecil

Beberapa tahun lalu ketika menghadiri acara Solo Keroncong Festival di Ngarsopuro saya baru ngeh bahwa penyanyi keroncong ternyata bukan hanya orang tua. Ketika itu, bahkan ada anak-anak seusia SMA yang turut menyumbangkan lagu di panggung. Dan kemaren, di Solo Keroncong Festival 2016 yang diadakan di halaman Benteng Vantenburg saya semakin ngeh dan yakin bahwa musik keroncong adalah musik lintas generasi, bukan hanya milik orang tua saja

Saya datang ke acara festival tanggal 15 Mei sekitar jam 20.30. Ketika itu, MC sedang berada di atas panggung membawakan acara sementara penampil berikutnya sedang mempersiapkan diri. Saya lupa nama kelompok musiknya. Satu yang saya ingat, sebagian besar anggotanya adalah mahasiswi kampus ISI Surakarta. Dari situlah semakin ditegaskan bahwa musik keroncong bukan hanya untuk kaum tertentu saja (Generasi X)

skf20162.jpg

Satu-satunya keraguan bahwa keroncong adalah musik lintas generasi barangkali adalah soal penampilan. Saat manggung, hampir semua musisi keroncong mengenakan pakaian resmi. Yang wanita pakai kebaya. Yang lelaki pakai jas atau kemeja dengan dandanan necis. Kesannya jadi cenderung kaku dan enggak banget untuk anak muda. Tapi mungkin memang di situlah yang membedakan musik keroncong dengan musik lainnya. Pemilihan kostum akan menguatkan identitas musiknya. Sama seperti penyanyi heavy metal yang kebanyakan bertato dan berambut gondrong

Acara Solo Keroncong Festival 2016 kemaren sendiri berlangsung selama dua hari, 14 – 15 Mei 2016 di halaman Benteng Vantenburg. Banyak nama-nama besar yang tampil di situ seperti sang diva keroncong, Hj. Waljinah, Djaduk Feriyanto serta Butet Kertarajasa

IMG-20160515-WA0010.jpg

Saya nonton di hari kedua. Cukup kecewa karna tak bisa menyaksikan Waljinah yang terkenal dengan lagu Walang Kekek nya. Kekecewaan saya sedikit terobati karna masih bisa menyaksikan Djaduk Feriyanto yang tampil bersama Sinten Remen. Lagu-lagu daerah seperti Sajojo — yang di-medley dengan lagu-lagu lain — hingga pop modern dari Sindentosca (Kepompong) mereka bawakan dengan aransemen keroncong yang enak didengar dan ditonton. Di bagian akhir, Djaduk bahkan mengajak semua penonton untuk berdiri dan bergoyang untuk menunjukkan bahwa musik keroncong juga bisa goyang dan tidak kaku

Saya tak sampai selesai menonton acara festival karna teman sudah nggriseni ngajak pulang. Lagipula acaranya sepertinya akan sampai pagi sehingga saya juga merasa bahwa sudah waktunya untuk pulang. Sekitar jam 11 malam saya meninggalkan festival dengan kesan yang positif terhadap musik keroncong

Sekedar informasi, Solo Keroncong Festival merupakan festival musik tahunan yang diadakan oleh Pemkot Solo. Kalau kamu termasuk penggemar keroncong, datanglah ke Solo saat berlangsung event tersebut untuk mendapatkan pengalaman liburan yang lebih berkesan

 

sumur

sunawang

Ternyata sudah lama saya nggak posting :tersipu. Mumpung habis jalan-jalan kali ini saya mau posting tentang pengalaman mendaki Gunung Lawu beberapa minggu lalu. Rada telat sih tapi nggak apa-apa lah ya. Better late than never. Cerita pengalaman kemaren sebenarnya sudah saya tulis di sini. Tapi untuk forum ini saya rela nulis ulang :D

Semua berawal dari SMS seorang teman yang tiba-tiba mengajak mendaki Gunung Lawu. Termasuk mendadak karna saya baru dikabarin kurang dari seminggu sebelum hari H. Ini merupakan pendalaman kedua saya naik gunung yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur tersebut. Pada pendakian pertama saya tidak sempat sampai puncak karna terhalang oleh cuaca. Untuk kali ini pun saya tak punya ekspektasi untuk sampai ke puncak tapi syukur alhamdulilah Tuhan memberi saya kekuatan untuk jalan sampai puncak :)

Saya dan teman berangkat mendaki tanggal 2 April 2016, malam Minggu. Kami hanya berdua. Tapi sebagaimana pada pendakian-pendakian sebelumnya, di perjalanan saya bertemu dengan beberapa teman baru yang sangat menyenangkan. Mereka menjadi teman perjalanan saat perjalanan naik dan turun

20160403_062729.jpg.2bf27c39204d6b8c4cee

Kami mulai mendaki sekitar pukul 10 malam melalui Cemoro Sewu. Cuaca malam itu tak sedingin biasanya. Saya bahkan tak mengenakan jaket gunung. Hanya kemeja flanel. Sarung tangan pun baru saya pakai setelah sampai di pos 3 ketika cuaca mulai terisi dingin di kulit. Saya sangat beruntung karna cuaca malam itu terlihat sangat cerah. Tak ada mendung. Pemandangan langit malam terasa istimewa dengan taburan bintang dimana-mana. Beberapa kali ketika beristirahat di jalur pendakian saya mendapati pemandangan bintang jatuh. Indah

Malam itu kami berencana bermalam di pos 3 dan baru akan naik lagi pagi-pagi buta. Namun, rencana kami tak berjalan lancar karna setibanya di pos 3 kami mendapati pos sudah penuh dengan tenda. Kami tak menemukan tempat untuk mendirikan tenda. Kalau tidak lupa, saat itu sudah jam 2 dini hari

Mau tak mau, kami harus meneruskan perjalanan dan itulah yang kami lakukan

Dengan menahan lelah dan mata yang sudah mulai ngantuk, kami melanjutkan perjalanan ke pos 4 dan berencana menikmati sunrise di sana. Dalam perjalanan menuju pos 4 kami sempat merem sejenak ketika istirahat di jalur pendakian, saking ngantuknya :D

Sekitar pukul setengah 5 pagi kami tiba di pos 4. Semburat jingga sudah mulai terlihat di ufuk timur. Udara terasa sangat dingin hingga saya tak berani membuka sarung tangan. Teman saya mulai menyalakan kompor untuk membuat minuman hangat sementara saya sibuk menyiapkan diri untuk menyambut matahari terbit. Setelah matahari benar-benar terbit, saya mulai sibuk mengabadikan momen indah tersebut

20160403_051944.jpg

Menikmati momen sunrise membuat saya lupa diri dan waktu. Tiba-tiba waktu sudah menunjukkan pukul setengah 6. Kepalang tanggung, saya langsung melanjutkan perjalanan ke puncak. Sementara teman saya -- karna tak kuat menahan kantuk -- memilih untuk tidur di pos 4

Ini adalah pertama kalinya saya ke puncak Gunung Lawu. Pemandangan di Gunung Lawu ternyata baru akan terlihat sangat indah ketika kita sudah melewati pos 4. Padang rumput yang luas serta bunga edelweis akan mulai kita jumpai seletah melewati pos 5 yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pos 4

20160403_072752.jpg.3346ccaee322730c29f4

Sekitar jam 7 pagi saya tiba di puncak Hargo Dumilah. Beberapa pendaki lain sudah mendahului saya. Beberapa tampak sibuk mengambil foto dengan latar belakang monumen yang berada di puncak tertinggi Gunung Lawu ini. Berjalan ke arah barat dari Hargo Dumilah kita akan sampai ke sebuah tebing batu dimana dari tebing ini kita bisa menyaksikan pemandangan yang sangat indah. Gunung Merapi dan Merbabu terlihat begitu elegan dengan dihiasi awan-awan putih di sekelilingnya. Melihat pemandangan seperti ini saya tak banyak berkata melalui mulut. Tapi percayalah, batin saya tak pernah berhenti mengucap kalimat kekaguman dalam berbagai bentuk. Tuhan memang Maha Pemurah. Menganugrahi bumi Indonesia dengan alam yang indah

20160403_075117.jpg

Setelah merasa puas menikmati pemandangan di sekitar puncak, saya mulai turun ke pos 4 untuk melanjutkan tidur yang sempat tertunda. Jam setengah 11 siang kami baru mulai benar-benar turun. Dengan senang

sunawang

Kabupaten Gunung Kidul, Jogja adalah daerah yanh memiliki banyak sekali destinasi wisata pantai. Diantara pantai-pantai cantik di Gunung Kidul ada yang suasananya sudah sangat ramai, misalnya Pulang Sawal. Namun ada juga yang masih sepi

Pantai Ngandong adalah pantai yang berada di dua kondisi tersebut. Pantai ini tidak terlalu ramai, namun juga tidak bisa dikatakan sepi. Dibandingkan beberapa pantai lain di Gunung Kidul, pantai ini terhitung jarang terdengar. Namun, suasana disana tidak kalah menarik

Pantai Ngandong berada di antara dua pantai terkenal di Gunung Kidul yakni Sadranan serta Sundak. Kedua pantai tersebut (Sundak dan Sadranan) bisa ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri pantai Ngandong

pantai-ngandong-2.jpg

Suasana di pantai ini sendiri tidak jauh berbeda dengan kedua pantai tetangganya tersebut: memiliki pasir putih serta banyak terdapat batu-batu karang di beberapa bagian. Saat sedang pasang, pantai ini sebenarnya sangat menarik untuk bermain air. Namun, saat air sedang surut -- yang terjadi pada sore hari -- kondisi pantai akan berubah. Lantai karang akan terlihat cukup luas di depan mata. Lantai karang yang dipenuhi oleh tumbuhan-tumbuhan laut ini adalah tempat yang tepat untuk berfoto-foto. Kita juga bisa berjalan diantara lantai karang tersebut untuk lebih dekat dengan laut

pantai-ngandong.jpg

Walau tidak ramai-ramai banget, di Pantai Ngandong sudah banyak warung yang menjual berbagai makanan. Berada di sebelah barat area parkir, kita akan menemukan sebuah masjid yang cukup unik. Kecuali lantai, semua bangunan masjid ini terbuat dari kayu. Nuansanya memang tradisional, namun bangunan masjid tersebut terlihat antik dan artistik

Kembali ke pantai. Pantai Ngandong ini tidak terlalu luas dan juga tidak terlalu landai. Area untuk bermain memang tersedia, namun jika air laut sedang surut, yang mana hal itu akan membuat air laut hanya sampai ke lantai karang, kita tidak akan bisa bermain dengan ombak. Untuk sekedar berfoto-foto atau menikmati suasana pantai, Pantai Ngandong ini cukup oke

pantai-ngandong-4.jpg

Di sebelah timur pantai Ngandong ada sebuah tebing karang yang cukup asik untuk berfoto-foto. Walau tidak seindah Bukit Parang Ndog, sunset dari tebing ini juga terlihat cukup indah. Kita bisa berfoto-foto disini dengan latar belakang lautan lepas serta semburat jingga di ujung barat

sunawang

Sebagai daerah yang menjadi pintu gerbang menuju pulau Bali, Banyuwangi juga tak mau kalah untuk menawarkan pesona alamnya. Sama seperti Bali, Banyuwangi juga punya pantai-pantai cantik yang bisa kita kunjungi

Belakangan ini nama Banyuwangi semakin dikenal sebagai salah satu tujuan wisata impian di Jawa Timur. Selain Kawah Ijen yang sudah lebih dulu terkenal, objek wisata lain yang bisa kita temui di Banyuwangi adalah pantai. Pantai-pantai yang ada di Banyuwangi tidak kalah dengan pantai-pantai yang ada di pulau tetangga. Jika belum pernah ke Banyuwangi dan berencana untuk traveling kesana, 6 pantai cantik ini mungkin bisa kamu pertimbangkan

 

1. Pantai Pulau Merah

pantai-pulau-merah.jpg

Pantai Pulau Merah adalah salah satu ikon wisata pantai yang ada di Banyuwangi. Pantai ini berada di desa Sumber Agung, kecamatan Pesanggrahan. Pantai ini menjadi tujuan favorite para peselancar karna memiliki ombak yang cukup tinggi. Rata-rata ombaknya mencapai 2 meter. Dulunya pantai ini bernama Pantai Ringin Pitu namun berubah menjadi Pantai Pulau Merah

Salah satu daya tarik pantai ini adalah keberadaan sebuah bukit di tengah pantai yang tingginya sekitar 200 meter. Jika dilihat dari bukit tersebut pasir di pantai ini akan terlihat berwarna kemerahan sehingga nama pantai ini diganti menjadi Pantai Pulau Merah

Di pantai ini kamu akan menjumpai banyak wisatawan yang membawa papan selancar. Jika kamu tidak suka berselancar, menikmati suasana pantai sambil berjemur atau jalan bertelanjang kaki merupakan pilihan yang menarik. Pasir di pantai ini sangat lembut sehingga akan menghadirkan suasana yang nyaman di kaki

2. Pantai Watu Dodol

pantai-watu-dodol.jpg

Pantai Watu Dodol ini berada di kemacatan Kalipuro, Banyuwangi. Lokasi pantai ini berada di pinggir jalan yang menghubungkan kabupaten Banyuwangi dan Situbondo. Di pantai ini terdapat sebuah patung selamat datang karna lokasi pantai memang berada di perbatasan antara Banyuwangi dan Situbondo

Nama pantai ini sendiri diambil dari sebuah batu yang ada disana. Di tengah-tengah jalan sebelum turun ke pantai ada sebuah batu besar berwarna hitam yang cukup tinggi. Konon, batu tersebut tidak bisa dipindahkan meski sudah dilakukan berbagai macam upaya. Itulah sebabnya batu tersebut dinamakan Watu Dodol. Lokasi pantai ini sendiri sangat strategis dan gampang diakses baik menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Pantai ini menjadi salah satu tempat favorite warga Banyuwangi dan Situbondo untuk menikmati liburan

3. Pantai Rajegwesi

Nelayan-Rajegwesi.jpg

Pantai Rajegwesi berada di desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran. Pantai ini berada di perkampungan nelayan sehingga pemandangan perahu nelayan bukanlah hal yang asing di pantai ini

Pantai Rajegewesi merupakan bagian dari Taman Nasional Meru Betiri sehingga pemandangan di pantai ini sangat indah. Pantai ini dikelilingi oleh hutan tropis yang seakan melindungi pantai. Di pantai ini selain bermain-main dengan air, kamu juga bisa menyaksikan aktivitas para nelayan

Ombak di pantai sangat tenang. Di pantai ini kamu juga akan menjumpai batu-batu karang yang seakan menjadi penghias pantai. Traveling ke pantai ini akan mendekatkanmu dengan kehidupan para nelayan untuk mendapatkan pengalaman yang mengesankan

4. Pantai Sukamade

Pantai-Sukamade-2.jpg

Pantai ini masih berada satu kompleks dengan pantai Rajegwesi. Berada di desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran. Juga masih merupakan bagian dari Taman Nasional Meru Betiri. Pantai ini merupakan anggota dari segitiga berlian di Banyuwangi selain Kawah Ijen dan pantai Plengkung

Perjalanan ke pantai ini akan melewati dua pantai yang juga berada di wilayan Taman Nasional Meru Betiri: pantai Rajegwesi dan pantai Teluk Hijau

Daya tarik utama pantai ini adalah keberadan penyu yang menjadi trademark pantai Sukamade. Disini kamu akan dengan mudah menemukan bayi-bayi penyu yang lucu. Banyak pengunjung yang justru datang ke pantai pada malam hari karna pada malam hari para induk penyu akan menepi ke pantai untuk bertelur. Selain sebagai tempat wisata tempat ini juga merupakan tempat konservasi penyu. Di pantai ini terdapat laboratorium yang digunakan untuk keperluan penelitian

5. Pantai Teluk Hijau

Green-bay-18-Feb.jpg

Diantara pantai-pantai yang berada di Taman Nasional Meru Betiri pantai Teluk Hijau adalah yang paling indah. Air di pantai ini berwarna hijau toska dengan pasir putih yang sangat lembut. Pantai ini juga dikelilingi oleh hutan tropis dan batuan karang seperti pantai Rajegwesi

Jika di pantai Rajegwesi kita bisa melihat aktivitas para nelayan sementara di pantai Sukamade kita bisa melihat penyu-penyu yang lucu. Maka di pantai ini kita menikmati suasana pantai sambil berenang sepuasnya. Airnya yang hijau toska terlihat begitu menggoda untuk dijamah. Ditambah lagi ombaknya yang tidak terlalu tinggi menjadikan pantai ini sangat swimmable. Melakukan beach camp di pantai juga merupakan ide yang sangat menarik

Oh iya, pantai ini juga berada di desa Sarongan, kecamatan Pesanggrahan. Sama seperti pantai Rajegwesi dan pantai Sukamade

6. Pantai Plengkung

g-land_surfing_1.jpg

Pantai Plengkung adalah pantai paling nge-hits di kalangan peselencar professional. Pantai ini juga dikenal dengan nama G-Land. Ombak di pantai ini sangat tinggi sehingga sangat cocok untuk para penggemar surfing kelas kakap

Formasi ombak yang ada di pantai ini bersifat susul menysul hingga 7 lapis. Konon, formasi ombak seperti ini hanya bisa dijumpai di Hawaii, Afrika Selatan dan pantai Plengkung ini sendiri. Karna ombaknya yang sangat menantang ini pantai Plengkung pernah beberapa kali ditunjuk sebagai tuan rumah untuk event selancar tingkat dunia

Pantai Plengkung sendiri merupakan bagian dari Taman Nasional Alas Purwo sehingga secara keseluruhan pemandangan di pantai sangat indah

7. Pantai Wedi Ireng

wedi-ireng2.jpg

Pantai Wedi Ireng adalah pantai lain di Banyuwangi yang memiliki air berwarna biru toska. Lokasi pantai tidak jauh dari pantai Pulau Merah. Sekitar 4 km saja. Pantai ini tepatnya berada di desa Pancer, kecamatan Pesanggaran. Keberadaan pantai ini belum terlalu diketahui oleh wisatawan sehingga suasananya masih cukup sepi. Ombak di pantai ini sangat tenang sehingga sangat aman apabila ingin berenang

Pasir di pantai ini sangat halus dan nyaman di telapak kaki. Jika dilihat secara sekilas pasir di pantai ini berwarna putih bersih. Namun jika diperhatikan lagi, ada semacam noda-noda hitam yang menghiasi warna putih tersebut sehingga pantai ini dinamakan pantai Wedi Ireng yang artinya pasir hitam. Pantai ini masih minim fasilitas karna keberadaannya baru diketahui segelintir wisatawan saja. Jika kamu mencari tempat wisata yang anti mainstream di Banyuwangi, pantai ini mungkin bisa menjadi salah satu alternatif

 

sunawang

Hari Sabtu tanggal 23 Mei kemaren saya mengikuti sebuah seminar yang diadakan oleh teman-teman dari Fisip UNDIP Semarang. Seminar ini membahas tentang peran travel journalism untuk perkembangan pariwisata di Indonesia

 

Setelah acara seminar selesai yakni sekitar jam 3 sore saya memutuskan untuk mampir ke Masjid Agung Jawa Tengah. Masjid Agung Jawa Tengah merupakan sebuah masjid yang relatif masih baru karna baru diresmikan tahun 2006

 

Sudah lama saya kepengen melihat keindahan arsitektur Masjid Agung Jateng (MAJT) ini dari dekat. Selama ini saya hanya melihat keindahan arsitektur masjid megah ini dari foto-foto yang beredar di internet

 

Walau banyak yang bilang bahwa foto di internet bisa menipu, saya termasuk orang yang kurang setuju pada justifikasi tersebut (foto tempat lho ya, bukan orang). Buktinya, ketika saya datang kesana, pemandangan dan suasananya memang keren banget. Kemegahan bangunan masjid langsung terlihat ketika saya memasuki pelataran masjid

 

Setibanya di pelataran masjid saya tak mau menunggu lama. Langsung saja saya ambil beberapa foto di pelataran masjid dari berbagai angle. Objek yang paling menarik untuk difoto tentu saja adalah bangunan mirip colosseum yang fotonya juga sering saya lihat di internet. Bangunan itu memang menjadi salah satu daya tarik di Masjid Agung Jateng

 

Selesai mengambil beberapa foto dan duduk sejenak untuk mengagumi keindahan arsitektur buatan manusia ini, saya langsung menuju ke dalam masjid untuk sholat asar. Di dalam masjid saya mendapati sebuah Al Quran raksasa yang memiliki dimensi 145×95 cm. Dalam keterangannya, Al Quran ini ditulis oleh Drs Hayat dari Universitas Sains Al Quran Wonosobo. Al Quran ini ditulis selama 2 tahun 3 bulan.

 

masjid-agung-jateng-3.jpg

 

Sekali lagi saya merasa takjub. Bahwa ternyata benda-benda serta bangunan religi juga punya nilai seni yang sangat tinggi

 

Setelah selesai sholat dan melihat-lihat sekali lagi kemegahan arsitektur masjid yang artistik, saya langsung menuju ke menara masjid. Di Masjid Agung jateng ini memang ada sebuah menara setinggi 99 meter yang memiliki fungsi macam-macam. Di lantai 2 misalnya, ada sebuah museum tentang perjalanan islam di Pulau Jawa

 

Menara ini sendiri terdiri atas 19 lantai dimana lantai paling atas bisa digunakan untuk melihat pemandangan kota Semarang dari ketinggian. Pelabuhan Tanjung Perak bahkan juga bisa dilihat dari sini. Sebenarnya ada 3 buah teropong yang bisa digunakan pengunjung untuk melihat sudut lain kota Semarang lebih dekat. Sayangnya, ketiga teropong tersebut sudah tidak berfungsi karna rusak. Entah apa penyebabnya. Tapi saya curiga bahwa ketiga teropong tersebut rusak akibat ulah para pengunjung. Ya memang beginilah salah satu kebiasaan buruk kita. Susah bener diajak menjaga fasilitas tempat wisata :/

 

quran-masjid-agung.jpg

 

Sebelum naik ke lantai paling atas tadinya saya mau mampir dulu ke lantai 2 untuk melihat-lihat benda koleksi museum. Sayangnya, sore itu banyak sekali pengunjung yang datang ke Masjid Agung Jateng. Ketika saya mengantri di lift untuk naik ke menara, tidak satupun dari daftar antrian yang memiliki niat yang sama dengan saya. Semua kepengen langsung ke lantai paling atas sehingga petugas lift langsung mengarahkan pengunjung ke lantai 19. Saya cukup kecewa. Tapi saya tak boleh bersikap egois. Lagipula, sajian pemandangan diatas ketinggian menara ini sudah cukup untuk mengobati rasa kecewa saya

 

 

Menikmati pemandangan kota Semarang dari ketinggian menara ini sangat aman untuk semua umur. Bahkan anak-anak sekalipun. Di sekeliling menara telah dibatasi oleh pagar sehingga aman untuk siapa saja. Termasuk yang fobia ketinggian

 

masjid-agung-jareng-2.jpg

 

Sekitar setengah jam saya berada di atas menara untuk menikmati pemangan kota Semarang sambil mengambil beberapa foto. Gedung-gedung hotel, rumah penduduk, serta kapal yang sedang berlabuh di dermaga terlihat mungil bagai miniatur. Sementara sebuah layang-layang yang sedang terbang memenuhi kehendak sang tuan tampak gontai diterpa angin sore yang terasa lebih kencang di atas menara

 

Hari semakin sore menjelang senja. Saya memutuskan untuk menyudahi kunjungan ke Masjid Agung Karna takut kemalaman sampai Solo

 

sunawang

Sudah lumayan lama saya enggak piknik ke pantai. Terakhir kali main ke pantai kalau tidak salah waktu ngecamp di Parang Tritis tahun lalu

Di May Day 2015 kemaren saya dan para gengs menghabiskan waktu dengan liburan ke pantai Srau di Pacitan. Lumayan jauh, tapi seru banget

Berawal dari sebuah telfon dari Zidni saat saya sedang nongkrong di wedangan di Solo Baru. Dia ngajakin saya untuk main ke pantai. Saya tanya siapa saja yang ikut terus naik apa. Dia bilang kalau ada sekitar 6 orang yang ikut sedangkan untuk ke pantainya naik mobil si Iphin. Saya ayoin aja mumpung lagi ada ongkos. Lagipula udah lama juga enggak main ke pantai

Jumat pagi (1 Mei 2015) sekitar jam setengah delapan saya cus ke rumahnya Iphin karna meeting poinnya disepakatin disana. Enggak sampai sejam setelah semua kumpul, kita langsung berangkat

WP_20150501_031.jpg

Perjalanan ke pantai Srau, yang lokasinya di Pacitan, membutuhkan waktu kira-kira 4 jam dari Solo. Waktu tempuh perjalanan berangkat kemaren sedikit lebih lama daripada perjalanan pulang karna kepotong Juma’atan

Total ada 6 orang kemaren yang ikut ke Srau. Ada si saya, Iphin, Rio, Zidni, Ian dan Fendi. Kecuali Zidni, ini adalah pertama kalinya kita main ke Srau. Perjalanan ke Srau dari Solo bisa ditempuh dari Wonogiri. Memasuki area Pacitan, jalannya lumayan asik (untuk memacu adrenalin) karna terdapat banyak belokan tajam. Untungnya yang nyetir, si Iphin udah canggih, jadi kita aman. Kemaren kita sempet nyasar. Kita hampir saja ke kota Pacitan dan sempet ke arah pantai Teleng Ria juga. padahal jarak pantai Srau dan kota Pacitan lumayan jauh. Sekitar setengah jam-an kita nyasar

Lokasi pantai Srau ini lumayan mblusuk. Di desa Candi, kecamatan Pringkuku. Pantai ini masih sepi banget. Asik buat main sama teman-teman. Kalau temen-temen bilang sih private bitch beach. Pantainya keren. BANGET

pantai%20srau5.jpg

Pantai Srau terbagi atas tiga bagian dimana masing-masing bagian dipisahkan oleh tebing karang. Jarak antar bagian pantai sekitar 200-an meter

Setibanya di pantai Srau kita langsung main di pantai yang pertama. Disini kita main bola 3 on 3 dan tentu saja, foto-foto. Di pantai yang pertama ini saya sempat berjalan di sudut selatan yang terdiri atas batuan karang. Ada lubang-lubang bebatuan karang yang terdapat genangan air. Beberapa ikan kecil terjebak diantara lubang tersebut. Terlihat lucu melihat ikan-ikan kecil yang terjebak disana. Seperti kolam ikan tapi terbentuk oleh alam

Puas dengan pantai yang pertama kita langsung menuju pantai kedua. Tak banyak kegiatan yang kita lakukan disini. Cuma foto-foto sebentar karna sudah tidak tahan untuk ke pantai yang ketiga untuk bermain air

pantai%20srau10.jpg

Fyi, pantai pertama dan kedua ini sangat tidak swimingable. Karna bibir pantainya merupakan karang. Kurang pas buat main kejar-kejaran ombak. Barulah di pantai yang ketiga kita bisa main air sepuasnya. Tapi, sebelum basah-basahan, kita mendaki sebuah bukit yang ada di sekitar situ untuk mencari spot foto serta melihat pemandangan laut lepas yang spektakuler. Pemandangan dari bukit ini memang keren banget. Di bukit ini ada spot yang cukup datar untuk mendirikan tenda. Kebetulan kemaren pas saya kesana ada sebuah tenda yang sedang ditinggal pemiliknya jalan-jalan. Asumsi saya, ini adalah semacam tenda buat honeymoon

Setelah puas menikmati pemandangan dan mengambil beberapa foto, kita langsung menuju pantai untuk main air. Sebelumnya, kita main bola lagi. Leg kedua. Dan tim saya, yang terdiri atas saya, Fendi dan Ian menang telak. Hell yeah

Ombak di pantai Srau ini lumayan tinggi. Saya enggak tahu tinggi ombak paling ideal untuk berselancar. Tapi sepertinya ombak yang ada di pantai ini cukup tinggi untuk kegiatan tersebut. Di pantai ini, saya dan teman-teman bermain kejar-kejaran sama ombak. Karna di pantai ketiga ini bibir pantainya masih berupa pasir, jadi kita bisa manja-manjaan dengan ombak. Seru dan bikin nagih

Suatu saat, kalau ada kesempatan lagi, saya mau banget main kesini. Tapi sama kamu. Iya kamu :D

Foto lainnya

sunawang

Ada yang bilang bahwa salah satu kebahagiaan di dunia ini adalah ketika impian kita bisa terwujud. Bisa liburan ke Lombok adalah salah satu impian saya ketika masih kecil

Dan impian itu akhirnya bisa terwujud pada akhir 2013 lalu ketika saya menghabiskan waktu 2 hari di pulau Lombok. Cerita itu berawal sekitar bulan september 2013 ketika saya akan melaksanakan sidang skripsi.

Waktu itu, menjelang ujian saya iseng mengabari beberapa teman via WahatsApp. Salah satu teman yang kebetulan bekerja di Denpasar, Zaki merespons dengan sebuah kalimat yang cukup membuat saya kaget. Dia menjanjikan akan mengajak saya liburan ke Lombok jika saya lulus. Singkatnya, ujian saya berjalan lancar dan saya dinyatakan lulus dengan beberapa revisi. Artinya, saya akan liburan ke Lombok!

Rasanya saya sudah tak sabar menantikan hari keberangkatan. Akhir November akhirnya saya berangkat. Jadwal liburan sempat berganti beberapa kali karna saya harus menyesuaikan hari libur si Zaki. Saya bahkan sempat mengganti jadwal kereta

Setelah hari yang ditentukan tiba akhirnya saya berangkat. Saya berangkat dari Solo menuju Denpasar sendirian. Karna budget yang tipis saya harus melakukan perjalanan melalui jalur darat via kereta ekonomi Sri Tanjung ke Banyuwangi disambung penyebrangan via kapal dari Ketapang ke Gilimanuk. Dari Gilimanuk baru kemudian disambung dengan sebuah mini bis menuju terminal Ubung di Denpasar

Sesampainya di Ubung saya segera menghubungi Zaki untuk minta dijemput. Waktu itu adalah Jumat pagi. Rencananya kita akan berangkat ke Lombok malam harinya. Jadi saya masih punya beberapa jam untuk menikmati kota Denpasar.

Waktu itu saya sempat jalan-jalan ke pantai Sanur dan Taman Puputan Margarana. Jumat malam sekitar pukul 8 kita akhirnya kita berangkat ke Lombok. Waktu itu kita naik motor. Untuk menyebrang ke Lombok kita harus menuju ke pelabuhan penyebrangan Padang Bai menuju pelabuhan Lembar yang ada di Mataram. Waktu penyebrangan dari Padang Bai menuju Lembar sekitar 4 jam.

Sekitar pukul 4 subuh akhirnya kita tiba di pelabuhan Lembar. Dengan memanfaatkan Google Maps kita langsung motoran menuju kontrakan Galih, teman kuliah Zaki yang kebetulan bekerja di Mataram. Sesampainya di kontrakan kita putuskan untuk istirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan

#Day 1

Hari pertama di Lombok kita memutuskan untuk snorkeling ke Gili Trawangan. Dari Mataram perjalanan dilanjutkan menuju ke pelabuhan penyebrangan Bangsal. Perjalanan kesana melewati jalan Raya Senggigi.

Perjalanan ke pelabuhan Bangsal tak pernah membosankan karna pemandangan yang sangat indah. Sepanjang perjalanan kita disuguhi pemandangan pantai Senggigi di sebelah kiri, sedangkan sebelah kanan adalah area perbukitan hijau yang membuat pemandangan menjadi semakin indah.

Saya bisa dengan puas menikmati pemandangan karna saya bonceng di belakang.

Sekitar satu jam perjalanan akhirnya kita sampai di pelabuhan penyebrangan Bangsal. Untuk menyebrang ke Gili Trawangan kita harus menaiki sebuah perahu penyebrangan. Satu perahu bisa menampung sekitar 50-an orang. Waktu tempuhnya kira-kira 15 menit

Sampai di Gili Trawangan kita langsung mencari warung makan paling ekonomis untuk mengisi perut yang kosong.

Setelah perut terisi, kita langsung mencari perahu yang akan membawa kita snorkeling. Ada dua jenis perahu yang ditawarkan oleh rental yakni private boot — yang bisa digunakan untuk satu rombongan — serta public boot yang bisa digunakan untuk menampung beberapa rombongan

Karna yang akan snorkeling hanya saya dan Zaki (Galih dan Surya memilih untuk tidak ikut), akhirnya kita putuskan untuk menggunakan public boot bersama para bule

20131207_152224.jpg

Fyi, di Gili Trawangan ini lebih didominasi oleh wisatawan asing. Isi perahu yang kita sewa saja kebanyakan adalah turis dari Brasil. Dari rombongan yang jumlahnya sekitar 40 orang, cuma ada 7 orang yang merupKan WNI: Saya beserta Zaki, dua orang wisatawan lain, serta 3 orang kru perahu. Sisanya bule semua

Saya sebenarnya sempat bimbang ketika memutuskan untuk ikut snorkeling. Maklum, saya belum pernah melakukan snorkeling sebelum ini. Skill berenang saya juga masih payah. Tapi karna saya tahu bahwa saat snorkeling nanti saya akan memakai pelampung, saya nekat untuk ikut snorkeling. Lagipula, rugi dong sudah jauh-jauh ke Trawangan kalau tidak mencoba snorkeling.

Rute perjalanan snorkeling ini akan melewati Gili Air dan Gili Meno. Perahu akan berhenti di beberapa titik yang paling cocok untuk melakukan snorkeling. Waktu itu perahu yang kami sewa akan behenti di 3 titik snorkeling

Sampai di titik snorkeling pertama tiba saatnya untuk melakukan snorkeling. Setelah pelampung dan sepatu katak selesai dikenakan semua peserta langsung terjun ke laut untuk menikmati indahnya dunia bawah laut. Sedangkan saya masih ragu antara iya dan tidak untuk ikut terjun ke laut. Setelah diyakinkan oleh salah satu kru perahu akhirnya saya nekat untuk terjun ke laut. Byur!

Saya langsung takjub ketika melihat betapa indahnya dunia bawah laut di Gili Trawangan. Indah sekali. Berbagai jenis ikan warna-warni terlihat berenang kesana kemari dengan manjanya. Rasanya ingin sekali berenang bersama mereka. Pemandangan semakin indah dipadu dengan berbagai tumbuhan laut yang juga warna-warni. Rasanya benar-benar mengagumkan bisa melihat keindahan bawah laut dengan air yang bersih seperti di trawangan. Dan saya yakin tak cuma saya yang kagum dengan keindahan kecil ini. Para bule yang ikut bersama rombongan pastilah juga takjub dengan keindahan dunia bawah laut di Trawangan.

20131207_1450361.jpg

Setelah puas menikmati keindahan bawah laut di titik pertama ini akhirnya saya putuskan untuk kembali ke perahu. Beberapa rombongan lain rupanya juga melakukan hal yang sama. Setelah semua anggota rombongan tiba di perahu, salah satu kru kembali menyalakan mesin untuk membawa kami menuju titik snorkeling selanjutnya

Setelah tiba di titik snorkeling yang kedua, para anggota rombongan — termasuk saya tentu saja — segera terjun ke laut untuk memulai penjelajahan bawah laut sesi kedua. Di titik kedua ini tak kalah menarik. Menurut kru perahu disini kita bisa melihat penyu raksasa. Dan benar, saya sempat melihat binatang bertempurung tersebut sedang berenang dengan bebasnya bersama para ikan. Saya sempat berenang mengikuti penyu tersebut sampai akhirnya dia berenang ke area yang lebih dalam hingga akhirnya saya berhenti mengikutinya. Sayang waktu itu saya tak sempat menyewa kamera bawah air sehingga tak bisa mengabadikan momen indah ini

Setelah puas dengan snorkeling sesi kedua akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke perahu. Kepala saya sempat terasa agak pusing ketika berenang menuju ke perahu. Saya pikir saya sedang mengalami mabuk laut, tapi untunglah tidak terlalu parah. Saya masih bisa berenang hingga ke perahu

Setelah semua anggota rombongan tiba di perahu, salah satu tim kembali menyalakan mesin untuk memacu perahu. Kali ini kita akan dibawa ke Gili Meno untuk beristirahat sambil mengisi perut

Di Gili Meno semua peserta rombongan — kecuali saya dan Zaki — sibuk menyantab makanan di salah satu cafe. Sementara saya dan Zaki lebih memilih berkeliling gili untuk melihat-lihat suasana sekitar. Di Gili Meno ini terdapat beberapa cafe dan toko oleh-oleh. Saya menyempatkan diri mampir ke beberapa toko untuk melihat-lihat meskipun tidak ada item yang saya beli

icon_biggrin.gif

Setelah semua anggota rombongan selesai makan dan istirahat sejenak, perjalanan kembali dilanjutkan menuju spot snorkeling ketiga sebelum menuju ke Gili Air. Di spot ketiga ini saya memutuskan untuk diam saja di perahu karna badan sudah cukup lelah. Lagipula saya tetap masih bisa menyaksikan kehidupan bawah laut melalui lantai perahu yang transparan, walau sangat terbatas. Saya juga bisa menikmati pemandangan laut lepas yang begitu indah

Beberapa menit berada di atas perahu hujan akhirnya turun. Para anggota rombongan yang tadinya terjun ke laut buru-buru naik ke atas perahu. Siang itu, setelah melalui sebuah diskusi singkat, perahu kami akhirnya tak jadi ke Gili Air. Selain karna hujan, waktu yang sudah menjelang sore menjadi alasannya. Maka jadilah, kita langsung kembali ke Gili Trawangan

Sampai di Gili Trawangan saya dan Zaki langsung mencari Galih dan Surya. Berempat kami berjalan ke masjid yang terdapat di Gili Trawangan untuk melaksanakan sholat asar

Hari semakin sore, setelah selesai sholat asar kami memutuskan untuk jalan-jalan sebentar di Gili Trawangan sembari menunggu perahu yang akan membawa kami kembali ke Bangsal. Perahu yang kami tunggu adalah perahu terakhir sehingga kami tak boleh ketinggalan, atau kami tak akan bisa pulang.

Tak lama kemudian perahu yang kami tunggu akhirnya datang. Kami segera naik keatas perahu. Sore itu, sekitar pukul 16.30, kami meninggalkan Gili Trawangan yang cantik

#Day 2

Selong Belanak

Hari kedua di Lombok kami putuskan untuk menjelajahi pantai-pantai yang ada di Lombok Tengah. Ini berdasarkan rekomendasi dari Galih, teman di Lombok yang kami tumpangi menginap sekaligus menemani ke Gili Trawangan kemarin

Katanya, pantai di Lombok Tengah cantik-cantik dan tidak terlalu ramai. Tujuan pertama kami waktu itu adalah pantai Selong Belanak. Kami berangkat dari kontrakan yang berada di kota Mataram sekitar pukul 8 pagi. Membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan naik kendaraan bermotor untuk bisa sampai ke pantai ini. Perjalanan ke pantai ini sangat menyenangkan apalagi jika sudah memasuki area pedesaan. Pemandangannya sungguh indah

Kondisi jalanan menuju pantai sendiri tidak terlalu bagus walau juga tak bisa dibilang jelek

Setelah tiba di pantai Selong Belanak saya langsung takjub dengan suasana pantai ini. Airnya biru banget!

Pasir di pantai ini juga putih bersih. Saya langsung melepas alas kaki untuk berjalan menyusuri pantai bertelanjang kaki. Benar kata Galih, pantai ini masih sangat sepi. Ketika kami tiba disana tidak banyak pengunjung yang datang. Kami hanya menjumpai beberapa penduduk lokal yang sedang bermain bola serta beberapa nelayan yang sedang memperbaiki perahu. Padahal hari itu adalah hari Minggu.

Fasilitas yang dimiliki pantai ini pun hanya sekedar tempat parkir. Belum ada fasilitas apapun. Tak ada toilet apalagi warung. Benar-benar masih alami

20131208_104150.jpg

antai Selong Belanak ini sangat landai dan dikelilingi oleh bukit-bukit hijau yang membuat pemandangan menjadi semakin indah. Di bagian sebelah timur terdapat tumpukan batu-batu halus berwarna hitam untuk menambah suasana indah di sekitar pantai. Dari sini kita bisa menikmati pemandangan indah pantai Selong Belanak sambil duduk-duduk santai

Walau sangat takjub dengan pesona pantai Selong Belanak saya tak banyak bermain dengan air disini. Saya cuma berjalan di pinggiran pantai sembari merasakan lembutnya pasir di telapak kaki. Saya juga sempat menikmati pemandangan indah pantai Selong Belanak dari batu-batu halus yang ada di sisi sebelah timur pantai. Puas bermain di Selong Belanak kami akhirnya beralih ke pantai selanjutnya: Mawun

20131208_104506.jpg

Mawun

Tidak terlalu jauh dari pantai Selong Belanak ada pantai lain yang tak kalah biru. Namanya pantai Mawun. Sama seperti Selong Belanak, air di pantai ini biru banget

Sama seperti pantai Selong Belanak, pantai ini juga masih sepi. Namun, di pantai ini sudah terdapat fasilitas toilet walau sangat sederhana. Tak ada warung apalagi penginapan

Setelah memarkir motor kami langsung mencari tempat yang agak teduh untuk menyantab nasi yang kami beli di perjalanan. Di pantai ini terdapat sebuah pohon yang agak rimbun. Pohon ini biasa digunakan oleh pengunjung untuk berteduh sembari menikmati menikmati indahnya pantai di Mawun. Ada beberapa pengunjung yang menggelar tikar untuk tiduran di pantai ini. Sementara beberapa puluh meter dari pohon terlihat dua orang bule sedang asik berjemur

20131208_1307441.jpg

Saya sudah tak sabar untuk segera bermain air. Setelah selesai menyantab makan siang saya langsung menuju ke pantai untuk berenang. Brrr segar rasanya berenang di pantai yang airnya biru seperti Mawun ini. Berbeda dengan Selong Belanak, pantai Mawun cenderung curam di bibir pantainya. Kedalaman di bibir pantai bisa mencapai lutut orang dewasa.

Ada juga beberapa bule yang membawa papan selancar ke pantai ini meskipun ombaknya tidak terlalu besar. Papan seluncur tersebut lebih sering digunakan untuk mengambang di tengah pantai daripada berselanjar. Pantai Mawun juga dikelilingi oleh bukit-bukit hijau yang membuat pemandangan semakin komplit. Di sisi sebelah selatan pantai ini ada sebuah bukit yang cukup tinggi. Dibawahnya terdapat bebatuan karang hitam dengan ikan-ikan kecil yang sedang berenang manja. Penasaran dengan pemandangan pantai dari ketinggian saya akhirnya memutuskan untuk naik ke bukit. Pemandangannya wow banget!

Saya benar-benar puas bermain air di pantai Mawun. Rasanya beda sekali dengan pantai-pantai lain yang saya kunjungi. Mungkin karna pasir serta air birunya yang membuat suasana menjadi beda. Mungkin karna suasananya yang tidak terlalu ramai. Atau mungkin karna hati saya sedang bahagia. Entahlah, yang pasti seru

icon_smile.gif

Puas bermain air di pantai Mawun kamu melanjutkan penjelajahan ke pantai berikutnya: Pantai Seger

Pantai Seger

Entah kenapa namanya pantai Seger. Yang jelas, suasana di pantai ini benar-benar segar. Tiba di pantai ini saya merasa seperti sedang syuting acara Jejak Petualang. Suasananya benar-benar aduhai. Pantai Seger ini terdiri atas beberapa bagian. Salah satu bagian pantai ini adalah halaman belakang dari Novotel. Di sekitar pantai Seger ini memang terdapat sebuah resort (Novotel) yang biasa digunakan wisatawan untuk menginap. Halaman belakang resort tersebut mengarah langsung ke pantai Seger. Wah!

Di salah satu bagian pantai Seger ini terdapat monumen patung Putri Mandalika. Putri Mandalika sendiri merupakan sebuah cerita legenda masyarakat suku sasak (suku asli Lombok). Saya sendiri waktu itu berenang di sekitaran patung ini

20131208_142255.jpg

Waktu itu kami sangat beruntung karna bertemu dengan beberapa anak lokal yang kebetulan juga sedang berenang disana. Katanya mereka baru saja selesai mancing

Awalnya anak-anak ini agak malu-malu. Namun akhirnya mereka mau membaur bersama kami. Di dekat patung Putri Mandalika ada sebuah jembatan rusak yang sudah tak terpakai. Dari jembatan ini anak-anak tadi bermain lompat-lompat ke dalam air. Saya tak mau ketinggalan. Nggak apa-apa dibilang seperti anak-anak. Lagipula, masa anak-anak itu seru, kan?

icon_biggrin.gif

Saya mencoba untuk tidak menjadi asing bagi mereka, karna traveler tak merasa bahwa dirinya asing. Everywhere we stay, feels like home. Saya benar-benar bahagia dengan pengalaman pertama saya jalan-jalan ke Lombok

20131208_145642.jpg

Tak terasa hari semakin sore. Anak-anak tadi pamit untuk pulang. Sebelum pulang si Surya, salah satu teman saya memberikan beberapa lembar uang jajan untuk mereka

Setelah anak-anak tadi pulang, tak lama kemudian kami juga pulang. Langit sedang mendung waktu itu dan hari juga sudah semakin sore jadi kami memutuskan untuk tidak lama-lama lagi di pantai Seger

Sebelum pulang kami menyempatkan diri mampir ke pantai Tanjung A’an dan pantai Kuta. Kami cuma mampir dan foto-foto sebentar. Cuaca semakin mendekati hujan sehingga kami tak punya banyak waktu untuk bermain-main lagi. Kami pulang sekitar pukul setengah 5 sore

Sebelum pulang kami mampir ke sebuah toko oleh-oleh di pinggir jalan menuju ke Mataram. Di toko ini kami berpisah. Saya dan Zaki langsung menuju ke pelabuhan Lembar untuk kembali ke Mataram sedangkan Surya dan Galih harus kembali ke Mataram karna esoknya sudah kembali bekerja

Lombok was amazing. No doubt!

juga bisa dibaca disini :D

sunawang

Gunung Andong merupakan sebuah gunung yang sebenarnya tidak terlalu tinggi, namun tetap asik untuk didaki. Gunung mungil nan cantik ini berada di kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Jumat tanggal 13/3/2015 saya dan ketiga teman saya melakukan pendakian ke gunung Andong. Ini adalah perngalaman pertama saya naik ke gunung Andong. Kita sengaja memilih hari Jum’at untuk menghindari Sabtu malam karna pendakian pada Sabtu malam akan sangat ramai. Sedangkan untuk hari Senin s/d Kamis jelas tidak bisa karna masing-masing punya kesibukan yang sulit ditinggalkan. So, Friday night is the best choice

Rencananya kita akan berangkat jam 18.30 (dari Solo), namun molor sampai jam 20.30. Beruntungnya, cuaca malam itu cukup cerah sehingga perjalanan tetap lancar. Jika berangkat dari Solo ada dua rute yang bisa dipilih untuk sampai ke base camp pendakian gunung Andong: via Keteb, Boyolali atau via Kopeng, Salatiga. Malam itu kita memilih lewat Kopeng. Rutenya kira-kira seperti ini

Solo –> Kopeng –> Pasar Ngablak –> Base Camp (desa Sawit)

Pendakian gunung Andong sebenarnya bisa dilakukan melalui beberapa jalur. Namun kita lebih memilih jalur Sawit. Jalan untuk sampai ke base camp Sawit cukup mudah karna banyak terdapat rambu-rambu. Yang agak membingungkan mungkin ketika sudah sampai di pasar Ngablak. Setelah sampai ke pasar Ngablak maju saja sedikit lalu belok kanan di gang yang ada gapura warna biru. Setelahnya akan ada rambu-rambu yang mengarahkan ke bace camp

Sekitar pukul 22.15 kita tiba di base camp pendakian gunung Andong di desa Sawit, kecamatan Ngablak, Magelang. Setelah melakukan registrasi dan membayar retribusi kita langsung memulai pendakian

Pendakian malam itu kita mulai sekitar pukul 22.30

IMG_3088.jpg

Malam itu ternyata cukup banyak yang melakukan pendakian. Di camp registrasi terlihat beberapa rombongan pendaki yang sedang istirahat

Fyi aja, gunung Andong memiliki ketinggian 1726 mdpl sehingga waktu tempuh untuk sampai ke puncak tidak terlalu lama. Sekitar pukul 00.00 kita sudah sampai ke puncak. Namun, karna sebagian besar track pendakian memiliki kemiringan lebih dari 45 derajat, cukup untuk membuat kaki pegal. Saya sendiri sempat beberapa kali kena bully gara-gara ketinggialan di belakang

IMG_3220.jpg

Setelah sampai ke puncak kita langsung mencari spot terbaik untuk mendirikan tenda. Malam itu di puncak gunung Andong lumayan ramai. Ternyata di puncak gunung Andong ada dua buah warung. Tadinya saya pikir warung ini adalah tenda para pendaki. Setelah melihat gas LPG 3kg yang berada di dalam tenda plastik ini barulah saya sadar kalau tenda ini adalah warung

Setelah menemukan spot yang cukup datar, kitapun langsung membongkar ransel untuk mendirikan tenda. Setelah tenda berdiri saya langsung menyalakan kompor untuk membuat minuman hangat dan masak mie instan

Malam itu kita beruntung banget karna cuaca cukup cerah — setidaknya sampai jam 3-an. Sambil menikmati malam sembari nyruput minuman hangat, kita menghabiskan waktu dengan main kartu. Biar semakin seru, ada satu peraturan untuk melengkapi permainan: yang kalah tidak boleh makan cemilan haha

Malam itu benar-benar panjang. Keasikan main kartu sambil bercanda membuat kita lupa waktu. Tahu-tahu sudah jam 02.30. Sampai akhirnya gerimis tipis mulai turun sehingga kami memutuskan untuk masuk ke dalam tenda dan tidur

WP_20150314_002.jpg

Saya terbangun sekitar jam 6 pagi. Sholat subuh di dalam tenda lalu melihat sebentar ke sekeliling tenda. Kabut lumayan tebal hingga akhirnya saya memutuskan untuk tidur lagi

Baru sekitar jam 7 saya benar-benar bangun. Meski kabut masih sangat tebal saya memutuskan untuk keluar tenda dan menikmati pagi bersama para pendaki lain. Kabut yang tebal sesekali menjadi tipis tersapu angin. Sesekali pula terlihat gunung Merbabu yang berdiri gagah tepat di hadapan yang disambut teriakan histeris pada pendaki

Baru sekitar pukul 8 kabut benar-benar pergi dan berganti dengan pemandangan yang sungguh luar biasa. Gunung Merbabu terlihat begitu gagah dari puncak gunung Andong. Sementara di kejauhan terlihat gunung-gunung lain seperti Merapi, Sumbing, Sindoro, Prau, Lawu dan Ungaran yang dipadu dengan hijaunya persawahan dan bebukitan. Lukisan alam di puncak gunung memang selalu membuat hati luluh. Saya — dan juga ketiga teman saya tentu saja — langsung mencari spot-spot terbaik untuk foto-foto

Setelah puas menikmati pemandangan yang indahnya tak terkira itu, kita kembali ke tenda untuk bikin sarapan. Setelah perut terisi saatnya untuk menggila lagi. Setelah malamnya bermain kartu, paginya kita gantian nyanyi-nyanyi diirungi suara ukulele. Meski sumbang, namun kita menganggap bahwa suara kita adalah yang paling merdu sedunia. Lagu-lagu galau dari Didi Kempot sampai Iwan Fals kami bawakan dengan sangat percaya diri. Iya, percaya diri

Pagi itu saya benar-benar merasa menjadi anak-anak. Dan memang itulah tujuan saya setiap kali melakukan perjalanan liburan. Menjadi anak-anak: bebas, lepas

Sumber

Sign in to follow this