Sign in to follow this  
  • entries
    4
  • comments
    19
  • views
    1,251

About this blog

Traveler who enjoys culinary experience, taking pictures, learning life and sightseeing. 

Entries in this blog

A Luciana Setiawati

Airterjun.jpg

Destinasi pantai dengan bebatuan granit yang menjulang tinggi merupakan ciri khas Pulau Belitung. Nama-nama seperti Tanjung Kelayang, Pulau Lengkuas ataupun Pantai Tanjung Tinggi sudah sangat familiar bagi para wisatawan yang pernah berkunjung ke Belitung. Keindahan lokasi tersebut pun sudah ramai bersliweran di media sosial.

Nah, kali ini saya ingin menuliskan tentang keindahan yang tersembunyi di kawasan Gunung Tajam.  Gunung Tajam sendiri merupakan gunung tertinggi di Pulau Belitung dengan ketinggian sekitar 510 meter di atas permukaan laut. Lokasinya terletak 32 KM dari Tanjung Pandan tepatnya di Dusun Air Pegantungan, Desa Kacang Botor, Kecamatan Badau. Pintu masuk ke kawasan ini ada di sebelah kanan jalan utama.  Dikenal dengan nama Gunung Tajam karena bentuk bukit ini yang terlihat tajam. Karena posisinya, Gunung Tajam pernah menjadi lokasi Stasiun Relay TVRI. Menaranya masih bisa terlihat dari kaki gunung. Di lokasi ini juga terdapat makam Syekh Abubakar Abdullah yang merupakan salah seorang penyebar agama Islam di Belitong.

IMG_20170621_140918.jpg

Di kawasan Gunung Tajam terdapat sebuah air terjun yang bernama Gurok Beraye. Air terjun ini berasal dari mata air Gunung Tajam. Dari lokasi masuk kawasan Gunung Tajam kami melalui jalanan beraspal namun hanya dapat dilewati oleh satu mobil. Kami melewati kawasan hutan dengan jurang di sepanjang tepi jalanan yang kami lewati. Udara sejuk dan pemandangan yang menyegarkan menjadi hiburan menuju air terjun. Setelah sampai di area parkir, kami hanya melihat sebuah motor yang diparkir dekat pintu masuk. Berbeda seperti

destinasi pariwisata lain di Belitung yang kami kunjungi, area ini seperti private destination, maklum pengunjungnya hanya kami berlima.

 

IMG-20170623-WA0162.jpg

Dari area parkir, kami melewati jalanan berbatu dan jembatan kecil. Terdapat sebuah gazebo yang sudah tidak terlalu terurus dan juga kamar ganti. Suara gemericik air dan suguhan keindahan air terjun yang jatuh berkelok-kelok di atas bebatuan menyambut kedatangan kami. Gerimis hujan pun tidak menghalangi saya dan teman-teman untuk mengagumi keindahan lukisan Tuhan  di tempat ini.

Di bawah air terjun terdapat kolam yang airnya bening bagaikan cermin. Saya melihat beberapa ekor ikan yang berenang di kolam. Kolam ini boleh digunakan untuk mandi dan berenang, asalkan jangan menggunakan sabun. Guide kami bercerita bahwa saat ia masih lebih muda, ia dan kawan-kawannya sering bergelayutan di antara dahan pohon seperti Tarzan lalu terjun ke kolam tersebut. Kolam yang tepiannya terlihat dangkal ternyata cukup dalam di bagian tengah dan di bawah air terjun. Kami memutuskan untuk tidak turun ke kolam dikarenakan licin dan tidak ada yang membawa baju ganti. Cukuplah kami menghabiskan waktu menikmati keindahan Gurok Beraye yang mempesona, keheningan alam dan bersihnya udara yang kami hirup.

Untuk masuk ke kawasan ini tidak ada biaya retribusi apapun. Sebetulnya, lokasi ini tidak termasuk dalam itinerary kami, walaupun saya sempat melihat keindahannya di Instagram dan saat itu berharap bisa kesini. Seperti yang dikatakan Arai di Laskar Pelangi: "Bermimpilah , karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu." maka hari itu saya tahu Tuhan memeluk mimpi saya dan menghadirkannya di hadapan mata saya.

Be a responsible traveler and take only memory from every beautiful place you've visited.

Salam Jalan2,

Luci Saluna

blog: https://purplegreensky.blogspot.co.id

 

A Luciana Setiawati

DSCN0597-1.JPG

 

Dalam rangka memeringati ulang tahun Republik Indonesia yang 70 tahun, saya  terinspirasi untuk menuliskan sebuah catatan perjalanan ke Museum Fatahillah. Museum ini terletak di kawasan Kota Tua. Tepatnya di Jln. Taman Fatahillah 1, Jakarta. Museum Fatahillah merupakan sebuah bangunan kuno yang pernah menjadi Balai Kota pada jaman kolonialisme Belanda. Bangunan tersebut juga berfungsi sebagai pusat administrasi dari VOC atau Kantor Urusan Dagang Hindia Belanda pada abad 18. Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini beralih fungsi menjadi kantor Gubernur Jawa Barat. Tahun 1970 barulah bangunan bersejarah ini digunakan menjadi pusat pemerintahan Kota Jakarta.

Di dalam museum terdapat berbagai koleksi peninggalan kolonial Belanda dan ada juga beberapa prasasti dari kerajaan kuno di Indonesia yaitu Tarumanegara.

2015-08-18-00-35-07_deco.jpg

Salah satu koleksi Museum Fatahillah

Di tengah bangunan terdapat sebuah lapangan yang terdapat patung Hermes yang menurut mitos Yunani kuno merupakan dewa pengantar pesan (Messenger God). Replika dari patung tersebut dapat ditemukan di jembatan Jln. Djuanda.

DSCN0529.JPG

Pose di depan patung Hermes

Di belakang lokasi patung tersebut terdapat juga penjara bawah tanah yang digunakan pada jaman penjajahan Belanda. Dulunya di lokasi lapangan terbuka ini diletakan sebuah meriam yang bernama meriam si Jagur, namun sejak beberapa tahun lalu meriam tersebut dipindahkan ke luar lokasi bangunan, tepatnya berada di sebelah Café Batavia.

DSCN1519.JPG

Meriam Si Jagur

Di sekeliling luar Museum juga terdapat beberapa museum seperti Museum Wayang dan Museum Bank Mandiri. Di bagian luar Museum Fatahillah terdapat sebuah alun-alun atau dikenal dengan nama Taman Fatahillah. Di alun-alun ini seringkali menjadi lokasi para fotografer mulai dari keperluan narsis sampai untuk portofolio. Banyak yang menyewakan sepeda berwarna-warni untuk berkeliling areal Museum bahkan sampai ke Pelabuhan Sunda Kelapa yang tidak jauh dari Museum. Pengunjung dapat menyewa sepeda selama 1 jam dengan tarif kurang lebih Rp 60.000, jika memilih dibonceng menggunakan ojek sepeda maka tarifnya lebih mahal.

FB_IMG_1439811585060.jpg

Areal sekeliling Museum merupakan lokasi yang bagus untuk berfoto dengan nuansa vintage. Di Taman Fatahillah ini juga akan kita temui beberapa seniman jalanan yang menggunakan kostum dan body painting. Beberapa dari mereka berperan sebagai tentara Indonesia, noni Belanda sampai vampire China. Pengunjung bebas berfoto dengan para seniman tersebut tanpa dikenakan tarif wajib, mereka meletakan ember untuk para pengunjung dapat memberikan tips sukarela.

DSCN1472.JPG

Museum berseberangan langsung dengan sebuah Café bernuansa vintage yaitu Café Batavia. Menu yang disuguhkan beragam, mulai dari menu tradisional Indonesia, makanan peranakan dan juga menu dari negeri kincir angin. Suasana ruangan di café ini pun cukup tematik. Harga menu di café ini dimulai dari kisaran Rp 40.000, harga yang lumayan mahal untuk kantong backpacker. Namun suasana dan rasa yang disajikan sebanding dengan harga yang dibandrol di café ini.

DSCN0592.JPG

 

DSCN0581.JPG

Mr. S di depan Hall of Fame Café Batavia 

2015-08-18-00-36-22_deco.jpg

Poffertjes

Kembali ke Museum Fatahillah. Untuk masuk ke museum, pengunjung diwajibkan membayar tiket seharga Rp 2000 untuk turis domestik dan sekitar Rp 10000 untuk turis mancanegara. Jika membutuhkan jasa tour guide, museum juga menyediakan. Pengunjung diminta untuk melepaskan alas kaki dan menggantinya dengan sandal yang sudah disediakan pihak museum. Alas kaki dapat dimasukan ke dalam tas yang telah disediakan.

Setelah puas berkeliling museum, sempatkan untuk bejalan-jalan di sekitar kota tua. Ada banyak lokasi bagus untuk berfoto. Ada sebuah gang dimana mobil antik menjadi obyek foto, atau berjalan sedikit ke lokasi Toko Merah, gedung yang berwarna merah sesuai dengan namanya.

DSCN0541.JPG

 

DSCN0605.JPG

Jika ingin puas menelusuri jejak Batavia, usahakan berkunjung mulai pagi hari saat cuaca masih bersahabat dan pengunjung belum terlalu ramai.

Enjoy Jakarta ☺

A Luciana Setiawati

Tiga kilometer dari lokasi Candi Prambanan terdapat suatu situs cagar budaya yang menjadi lokasi 'berburu' sunset para penggemar photography dan juga para narsistik.

 

2015-07-21-23-48-55_deco.jpg

 

Berbekal informasi dari ibu dan bapak penjaga parkiran di Prambanan, kami pun berangkat menuju lokasi Ratu Boko. Pesan mereka agar kami bergegas sebelum loket tiketnya tutup. Kami berangkat dari Prambanan sekitar pukul 16.30 WIB dan loket tutup pukul 17.30. Menurut info dari mereka, hanya 15 menit perjalanan menuju Ratu Boko.

Jalan menuju Ratu Boko melewati pemukiman dan persawahan.

 

2015-07-21-23-31-16_deco.jpg

Pemandangan menuju Ratu Boko

Tidak lama kami melihat papan petunjuk lokasi Ratu Boko. Kami pun menanjaki lokasi tersebut. Lumayan curam untuk pengendara motor. Sampai di atas, kami diberi tahu bahwa jalan tesebut merupakan jalur bus pariwisata. Kami masih harus lurus lagi sekitar 1 km. Menurut petunjuk jalannya ada di balik lokasi kami. Beberapa kali bertanya, akhirnya kami menemukan belokan menuju Ratu Boko. Jalanannya kecil dan betul-betul menanjak, untungnya aspal jalanan bagus. Jujur saja kami agak ragu karena jalanan yang kami lalui sangat sepi dan kecil, waktu juga sudah hampir menunjukkan pukul 17.00. Kami hampir memutuskan untuk putar balik dan pulang sampai akhirnya kami melihat papan nama lokasi Keraton Ratu Boko dan seorang satpam yang sedang mengatur parkiran. Syukurlah...akhirnya kami sampai juga dan masih sempat membeli tiket.

 

2015-07-22-00-44-19_deco.jpg

 

Berada di atas bukit dengan ketinggian 196 meter di atas permukaan laut, membuat udara di tempat ini terasa sejuk.

Fungsi Ratu Boko masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Menurut legenda, nama Ratu Boko berarti Raja Bangau yang merupakan ayah dari Roro Jonggrang. Ratu Boko diperkirakan merupakan situs Keraton yang dibangun pada abad ke-8 Masehi. Hal ini berdasarkan pada bukti prasati Abhyagiri Wihara yang ditemukan di kawasan Ratu Boko.

Situs budaya ini dikelilingi oleh taman yang luas dan asri dimana disekeliling taman terdapat dilengkapi dengan bangku taman dan juga gazebo untuk bersantai. Di bagian luar juga terdapat Ratu Boko Resto. Dari restaurant ini pengunjung dapat melihat pemandangan Prambanan dari kejauhan.

 

2015-07-21-23-34-19_deco.jpg

Prambanan dari kejauhan.

Bangunan yang paling khas dari Ratu Boko adalah pintu gerbangnya. Selain itu masih ada beberapa bagian yang tersebar di area Ratu Boko. Kami tidak sempat mengitari seluruh area karena terlalu fokus mengejar jatuhnya sinar matahari di celah pintu gerbang utama.

Bagi kami situs ini tidak semegah dua candi yang telah kami kunjungi sebelumnya. Bahkan Mr. S awalnya sempat bergumam, "Cuma segini saja nih?!"

Tapi menjelang sunset, kesan itu berganti menjadi sebuah kekaguman akan kombinasi kecantikan alam sentuhan Yang Mahakuasa dan peninggalan kreasi tangan manusia.

 

2015-07-22-00-11-29_deco.jpg

 

Setelah mentari masuk ke peraduannya, kami pun turun meninggalkan lokasi dan menyempatkan diri untuk bersantap malam di Ratu Boko Resto. Menu yang ditawarkan lumayan beragam dan harganya pun terjangkau. Resto ini tutup pukul 21.00.

Perut kenyang, udara mulai dingin dan malam sudah mulai larut; waktunya kami kembali ke Jogja untuk beristirahat.

Sign in to follow this