• entries
    61
  • comments
    322
  • views
    152,710

Stop Cyberbullying – Pelajaran Dari Kisah Tragis Amanda Todd

cheezlover

2,953 views

Siapa yang tidak mengenal internet di era dunia maya seperti ini? Bila awal kemunculan internet hanya booming di kalangan remaja dan dewasa awal, atau kisaran usia 15 – 30 tahun, kini hampir tidak ada orang yang tidak bersinggungan dengan internet. Sekarang bukan pemandangan yang aneh bila anak usia 7 tahun lebih asyik dengan gadgetnya ketimbang berkumpul bersama keluarga atau pun bermain di lapangan bersama teman – temannya. Sama halnya, orang – orang yang berusia di atas 40 tahun pun juga sama lekatnya dengan internet.

Memang, internet sangat membantu di tengah tuntutan dunia modern yang menginginkan segalanya serba cepat dan praktis. Di sisi lain, kehadiran internet pun juga memunculkan banyak problem baru. Kita semua paham bahwa tidak semua orang yang kenal melalui dunia maya adalah orang yang bertanggungjawab. Banyak predator, penipu, dan orang – orang tidak bertanggungjawab lainnya yang bisa merubah identitas mereka dalam hitungan tiga empat kali klik. Mudahnya berganti wajah dan bersembunyi di balik identitas palsu membuat kejahatan melalui dunia maya makin menjamur. Masalah demi masalah yang mengedepankan internet sebagai media menunjukkan tren naik yang cukup mengkhawatirkan.

Salah satu masalah yang patut mendapat perhatian serius adalah cyberbullying. Dunia sempat tersentak dengan kemunculan kisah Amanda Todd, remaja yang memilih untuk mengakhiri hidupnya di usianya yang ke – 15 tahun. Di usianya yang masih belia, Amanda harus menghadapi cacian dan makian yang akhirnya mendorong gadis manis ini untuk gantung diri.

Kasus Amanda sendiri menarik perhatian karena ia mengunggah video berjudul

di Youtube. Di video berdurasi 9 menit tersebut Amanda menceritakan awal cyberbullying yang ia alami. Amanda memang tidak berbicara sama sekali di video tersebut, ia hanya memperlihatkan potongan – potongan kertas bertuliskan runtutan cerita dan perasaan yang ia alami.

Amanda2_zps228b7ba9.jpg

Berdasarkan kisah yang disampaikan Amanda melalui videonya, cyberbullying yang ia alami berawal dari ketika ia berkenalan dengan seseorang di internet yang berhasil membujuk Amanda untuk menunjukkan payudaranya melalui webcam. Mungkin kita berpikir normatif, mengapa remaja berusia belasan bersedia menunjukkan bagian pribadinya pada seseorang yang baru dikenalnya melalui internet? Tidak sesederhana itu. Banyak dinamika psikologi yang terjadi di sini. Mungkin di artikel lain akan kita ulas lebih mendalam mengapa remaja lebih rentan untuk menjadi korban pelecehan seksual melalui dunia maya.

Amanda3_zpsf11f2fc7.jpg

Kembali ke Amanda. Pelaku kemudian menggunakan potongan foto payudara Amanda sebagai ancaman yang membuat Amanda bersedia menunjukkan bagian vitalnya yang lain pada sang pelaku. Sang pelaku mengancam akan menyebarkan foto payudara Amanda pada teman – teman sekolahnya. Awalnya Amanda menganggap ancaman ini hanya gertakan belaka, namun sang pelaku ternyata mengetahui dimana Amanda tinggal dan dimana Amanda sekolah. Amanda pun mengalami depresi dan anxiety disorder. Keadaan Amanda yang semakin parah membuatnya harus pindah kota setahun kemudian.

Ternyata, cyberbullying tidak berhenti sampai di sini. Selang setahun setelah kepindahan Amanda, pelaku kembali muncul dan membuat Fanpage di Facebook dan menggunakan foto payudara Amanda sebagai profile picture. Yang membuat keadaan Amanda semakin parah, karena pelaku mengundang teman – teman Amanda di sekolahnya yang baru untuk me-like fanpage tersebut.

Amanda berulang kali harus pindah sekolah karena teman – temannya di sekolah terus mengejek bahkan melakukan aksi fisik pada Amanda. Anehnya, pelaku selalu mengetahui dimana sekolah Amanda yang baru dan kejadian yang kurang lebih sama pun terjadi lagi.

Amanda_zps5da45cc5.jpg

Kondisi psikologis Amanda yang buruk berpengaruh ke pencapaian akademisnya yang juga buruk. Merasa tidak bisa menceritakan pada orang tuanya karena ia melakukan kesalahan besar pernah menunjukkan bagian vitalnya pada orang asing, Amanda memilih untuk lari ke alkohol dan obat – obatan terlarang.

Ketika bullying makin parah, Amanda mulai berpikir untuk bunuh diri. Ia bahkan sempat mengalami overdosis hingga dirawat di rumah sakit selama dua hari. Overdosis yang disengaja karena Amanda mengharapkan ia akan meninggal karena overdosis tersebut. Setelah Amanda keluar dari rumah sakit, kondisi psikologis Amanda sempat membaik. Ia menjalani konseling dan diawasi ketat oleh orang tuanya.

Amanda1_zps09e01bc5.jpg

Namun, teman – temannya makin brutal mem-bully Amanda. Di Facebook, teman – temannya mengatakan bahwa Amanda adalah seorang yang psycho bahkan mengatakan bahwa Amanda memang lebih baik mati saja. Separah itu? Iya. Amanda merasa ia tidak memiliki siapa pun dan tidak ada yang mau menerima dirinya hingga ia membuat video berjudul My Story: Struggling, bullying, suicide and self-harm pada tanggal 7 September 2012.

Amanda4_zps3c1f9d20.jpg

Kurang lebih selang sebulan setelah video tersebut diupload, tepatnya pada 10 Oktober 2012, Amanda ditemukan meninggal dengan kondisi tergantung di kamarnya.



4 Comments


Recommended Comments

ya jaman sekarang bullying tidak cuma langsung ke fisik ya

tapi juga ke psikis apalagi dengan ada nya dunia maya

sering dibahas soal bullying ini dan tindakan dari orang tua sangat diperlukan dalam menjaga mental putra putri nya

Share this comment


Link to comment

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now