Pulau Berhala Serdang Bedagai

Sign in to follow this  

Kesatria Sipayung
Album created by
Kesatria Sipayung
Pulau Berhala, Keindahan Titik Terluar Indonesia (1)
Pernah menonton film Pirate of Carribbean yang bercerita tentang bajak laut? Atau, film The Beach yang diperankan oleh Leonardo Dicaprio yang menggambarkan keindahan pantai? Gambaran dalam film tersebut akan menjadi kenyataan, saat Anda berkunjung ke Pulau Berhala.

Hamparan pasir putih dengan air berwarna biru kehijau-hijauan akan menyambut pendatang yang menginjakkan kakinya di Pulau Berhala. Rasa damai pun akan tercipta, begitu melihat pepohonan yang masih asri di pulau terluar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di wilayah Sumatera Utara ini. Dan di pulau ini pula menjadi saksi bisu betapa ganasnya hidup di lautan bebas, terutama di perairan Selat Malaka.

Konon dataran ini diberikan anugerah berupa hutan lebat yang berisi dengan berbagai jenis pohonan tropis yang berukuran besar seperti pohon meranti, jeluntung, rengat, ara, dan lainnya. Menurut kepercayaan tempo dulu, pohon-pohon di pulau ini berubah fungsi sebagai tempat penyembahan (berhala). Dahulunya, berbagai jenis makanan (sesajian) banyak terdapat di pulau ini. Kabarnya, karena kelakuan tempo dulu inilah yang menjadi asa mula nama pulau yang berjarak sekitar 22 mil dari dataran Serdang Bedagai itu.

Cerita pohon besar dengan usia ratusan tahun di pulau ini sangat melekat di hati masyarakat. Contohnya, saat akan dilakukan pembangunan mercusuar atau menara navigasi di pulau ini. Tidak ada yang berani memotong salah satu pohon besar yang ada di sana. Ketakutan melanda semua orang. Hingga akhirnya, seorang warga Serdang Bedagai berhasil memotong pohon tersebut. “Kalau tidak salah kejadiannya tahun 1980-an. Saat itu, menaranya bukan yang itu, tapi yang di sebelahnya yang sekarang sudah dihancurkan. Waktu mau motong pohonnya, dilakukan berbagai aktivitas penyembahan. Mohon izin karena motong,” ujar Zaenal, nelayan asal Belawan yang sering singgah di Pulau Berhala.

Zaenal menambahkan, pria penebang pohon tersebut masih hidup, bahkan saat pertama kali meresmikan Pulau Berhala ini sebagai wilayah Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Serdang Bedagai pada 2008 yang lalu. “Kawan yang operator boat bilang, bahwa saat peresmian ini, kalau gak salah itu terjadi tahun 2008 atau 2009 ya,” ungkapnya.

Seperti diketahui, walau terletak di tengah laut, tetapi pulau berhala sangat kaya dengan air tawar. Air segar mengalir terus menerus melalui celah-celah batu di gunung yang ada di pulau itu.

Legenda tentang pulau bajak laut ini sangat terkenal di kalangan nelayan. Sehingga pada zaman dahulu, saat matahari terbenam tidak ada nelayan yang berani mengarungi perairan, padahal selat ini merupakan salah satu jalur perdagangan terpadat di dunia. Untuk melindungi diri, biasanya para nelayan ini akan langsung menuju ke perairan di Belawan daripada harus menjatuhkan jangkar di pulau tersebut.

Kisah pulau perompak ini sepertinya bukan hanya isapan jempol belaka bila melihat data terkait dengan perampokan di laut Selat Malaka. Rata-rata, para bajak laut akan melarikan diri ke arah Pulau Berhala, yang letaknya juga sangat dekat dengan Pulau Salah Nama dan Pulau Pandang yang ada di Kabupaten Batubara.

Selain para nelayan, pedagang internasional dari China dan India sering menjadi korban pembajakan. Untuk mengantisipasinya, biasanya para pedagang akan singgah di Serdang Bedagai daripada harus di Batubara. Tak heran, bila di ibu kota Serdang Bedagai terdapat berbagai bangunan asli zaman Belanda (saat ini sudah berfungsi sebagai pajak/pasar).

Walaupun memiliki kisah seram dan mistis, Pulau ini sekarang dijaga oleh satuan Marinir dari Angkatan Darat dan beberapa orang dari Kementerian Perhubungan dan sejak dahulu kala pulau ini sudah terkenal dengan keindahannya yang luar biasa. Dalam sejarah Sultan Serdang (Sinar,2009) ada yang menceritakan tentang Pulau Berhala. Pulau ini merupakan salah satu tempat tujuan wisata Sultan Sulaiman Shariful Alamshah beserta keluarga dan kerabat dekatnya untuk menghabiskan waktu.

Tercatat, ada sekitar dua kali, sultan dan keluarganya mengunjungi pulau ini untuk menikmati wisata alam lautnya. Kegiatan yang dilakukan sang sultan dan keluarga pun selayaknya liburan, seperti bermain air, bermain pasir, atau hanya menikmati semilir angin sore laut pada sore hari.
(sumber : SumutPos)
  • 1 image
  • 0 comments
  • 0 image comments

  Report Album

0 Comments

There are no comments to display.

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this