Leaderboard


Popular Content

Showing content with the highest reputation since 01/20/2019 in all areas

  1. 1 point
    Tanggal 16 Mei 2018. Setelah trip Eropa berakhir di Italy, aku terbang dari Roma ke Kuala Lumpur dengan menumpang Emirates. Maksud hati istirahat 2 malam di Kuala Lumpur untuk menyesuaikan jam biologis yang terpaut 6 jam antara Malaysia dengan negara Eropa yang aku kunjungi. Sombong... Istirahat saja harus di Kuala Lumpur... Bukan begitu brosis, aku punya trip selanjutnya ke Cina tanggal 18 Mei 2018, yang akhirnya aku batalin di jam- jam terakhir. Untungnya, rencana trip 10 hari di China belum ada booking apapun. Walaupun sayang, mau bagaimana lagi, toh harus ada yang diutamakan... Nah, selama 2 malam, aku pilih menginap di daerah KL Sentral. Supaya tidak terlalu repot kalau mau bolak- balik KLIA. Dan kali ini, aku pilih POD - The Backpacker`s Home. Letaknya belokan pertama kalau kita turun dari Monorail. Kalau kamu naik bus dari KLIA ataupun naik kereta, ya dekat banget. Kalau yang cari penginapan, yang pertimbangkan masalah jarak dekat, hostel ini boleh-lah. Living Room. Eh, hostel ini sekaligus ada cafe-nya. Karena itu, ada live music kalau malam hari. Penyanyinya, ya, penghuni hostel kali, yang punya bakat. Kurang jelas juga sih. Karena, selama 3 malam di sini ( perpanjang 1 malam karena batal ke Cina ), yang nyanyi ya penghuni hostel. Seru sih, bisa request lagu. Per malam, aku bayar Rp 100.000,- ya, masih lebih mahal dibanding Flip Bunc, yang letaknya juga disekitaran KL Sentral, tapi masih agak jauh. Free wifi kencang baik di living room maupun di kamar sampai kamar mandi sekalipun. Kebetulan, aku nginap di lantai 4. Eitss, ada lift kok. Lift-nya lega, tidak seperti lift pada umumnya di Hongkong. Oh ya, harga segitu untuk 4 beds mixed dorm ya. Masing- masing dapat loker dan handuk mandi. Dan sudah termasuk sarapan. Aku sendiri tidak pernah bangun pagi, jadi tidak pernah sarapan. Lha, baru bisa tidur jam 5 pagi. Masih belum bisa move on dari Eropa. Jam 5 pagi Malaysia, di Eropa baru jam 11 malam shayyyy... Kamar 4 beds.. Lainnya, bersih. Soalnya nyaman, tergantung masing- masing orang. Kalau aku sih nyaman. Tenang. Kamar mandi juga lega, shower air panas ( airnya tidak terlalu panas ), wc pisah. Memang, untuk kamar isi 4 beds, agak sempit. Kamar sebelah, kamar isi 10 beds, aku lihat sih lega banget. Staff-nya ramah dan informatif sih. Ada deposit kunci 20 RM dan dikembalikan saat check out. Sepertinya hostel ini 24 jam. Staff-nya standby terus. Malam terakhir, aku sampai jam 3 pagi, duduk nyantai sambil nge-youtube di living room. Aku kasih nilai 7,5 ya untuk hostel ini. Mungkin, aku akan kembali lagi ke hostel ini kalau ada main ke KL. Ya, kalau ingin menginap sekitaran KL Sentral sini. Tambahan, Setelah kali pertama itu aku nginap disini, aku masih beberapa kali balik ke hostel ini jika ada transit di KL. Pasalnya ya itu, karena dekat banget dengan KL Sentral, akses paling cepat ke KLIA. Tapi, terakhir kali, sebelum terbang ke London Oktober 2018 dan Casablanca Desember 2018 lalu, ada kejadian yang kurang menyenangkan buat aku. Parah. Ceritanya, yang waktu transit ke London, aku memang booked kamar dorm isi 10 orang. Aku dapat ranjang dekat pintu di kamar lantai 3. Saat sedang tidur sih tidak ada kendala apapun. Setelah checked out pun begitu. Tapi setelah di airport, badanku mulai keluar bintik- bintik merah. Gatal. Dan makin lama, makin banyak dan semakin besar bentolannya. Jadinya, sepanjang penerbangan ke London garuk terus. Dan baru sembuh, setelah 1 minggu di London. Aku cuma kasih minyak oles saja. Dan aku tidak bisa memastikan, sumbernya itu dari hostel ini apa bukan? Karena kan, baru mulai gatal, setelah di airport. Setelah checked out, aku masih ada pergi ke pasar. Asumsiku ya mungkin digigit serangga dari pasar. Aku diam dan tidak komplain. Setelah dari London, aku masih nginap di sini, tapi ranjangnya bagian atas dan dekat jendela, kamar yang sama. Ini yang pertama.. Bentolan sekitar pundak sampai ke lengan. Ketika mau transit ke Casablanca Desember 2018 lalu, kali ini sudah confirmed dari ranjangnya yang penuh serangga. 1 jam-an gitu setelah rebahan, badanku terasa gatal- gatal. Aku masih berpikir positif, aku bersihin spreinya sendiri. Tapi, kok semakin gatal ya. Terkejut, ketika melihat bentolannya sudah gede- gede banget. Tidak tahan lagi, langsung protes ke staffnya tengah malam itu juga. Aku minta pindah ranjang. Aku kasih lihat dong bentolan- bentolannya. Ya staffnya, minta maaf ( doang ). Keesokan paginya, ya ampun, bentolannya semakin banyak. Merah kayak delima. Aku kasihkan lihat lagi ke mereka. Dan staffnya bilang, memang sih, sudah saatnya semprot anti serangga. Buset. Oh ya, itu ranjang yang sama dengan ranjang yang aku tempati saat mau ke London sebelumnya, kamar lantai 3, dekat pintu, ranjang bagian bawah. Dan terparah adalah ketika mau ke Casablanca. Kaki kiri bengkak, bentolan juga ada di pundak, lengan dan paha. Dan sekarang, nilai yang pernah aku kasih 7,5 sepertinya tinggal 5 sih. Seharusnya, aku tidak mau balik lagi ke hostel ini, jika memang ada transit lagi di KL. Harga dorm isi 10 orang lebih murah, sekitar Rp 80.000 dan sudah termasuk dapat sarapan juga. Artikel ini bukan untuk menjelekkan hostel ini. Hanya sekedar bagi pengalaman tidak menyenangkan saja. Karena tidak berlaku untuk semua, karena kebetulan ( juga bisa saja ). Karena itu, mau nginap di hostel manapun, lebih waspada saja. Baca dengan seksama reviews dari yang sudah pernah nginap sebelumnya. Baik dari sisi kebersihan maupun keamanannya. Ini adalah pengalaman aku. Ada baiknya, sebelum rebahan diranjang, bersihkan dulu sejenak. Atau bawa sprei cadangan, kalau perlu... Sebetulnya, aku cocok sama hostel ini. Oke- oke saja. Karena memang sesuai harganya lah. Asik, santai dan paling penting karena lokasinya strategis banget. Tapi, pengalaman digigit serangga di hostel ini bukan yang pertama kali dan bukan yang terparah. Next, aku akan bagi pengalaman, bagaimana digigit serangga sampai harus ke 4 dokter baru sembuh. Dan itu gigitannya, aku dapat dari Sydney, Australia. With Love, @ranselahok www.ranselahok.com ---Semua mahluk hidup berbahagia---
  2. 1 point
    Ahook_

    Sehari Jalan- Jalan Di Antwerp, Belgia.

    Tanggal 20 April 2018. Kemaren itu aku hanya 4 hari di Belgium, terasa singkat banget ya. Dan kalau ditanya, selama 4 hari itu, ngapain saja di Belgium, aku malah bingung mau jawab apa. Karena ya itu, aku mah ngetripnya santai pakai banget. Bukan yang bangun pagi- pagi buat kesana -sini, terus pulangnya malam- malam. Eh, mungkin itu dulu kali ya.. Sekarang, sepertinya bergeser ala yang malas. Hahahaha... Tapi, kalau sesekali sih okey-lah, atau, memang harus, sudah tidak ada pilihan, seperti harus dailytrip atau local tour yang menarik hati, boleh sih. Toko- toko seputaran Cathedral. Setelah sadar kalau traveling itu kan semacam liburan. Traveling itu kan mau relax, mau menikmati hidup. Lha kalau diburu- buru, bagaimana mau menikmati waktu yang ada? Ini versi aku sih. Tujuan dari traveling kan beda - beda untuk masing- masing orang. Kalau aku sih, sebisa mungkin untuk santai, kalaupun harus grasak- grusuk, ya ayo juga.... Jadi, 4 hari itu di Belgium, 3 hari-nya aku Brussels (bisa baca disini ) dan 1 hari-nya lagi aku jalan- jalan ke Antwerp. Aku naik Flixbuss jam 7 pagi dari North Station bayar 10, 2 Euro untuk pulang pergi ya. Dan pulang dari Antwerp itu jam 8 malam. Lama perjalanan butuh 1 jam untuk sekali jalan. Aku hampir selalu beli online, tiket bus maupun penginapan selama trip aku di Eropa. Aku juga pisahin antara uang yang dibutuhkan keseharian. Jadi, berasa emak- emak setiap kali mau bayar, keluarin dompet kecil punya emak- emak gitu. Central Station. Sepanjang perjalanan sih, tidak banyak yang bisa dinikmati. Lagian cuma 1 jam perjalanan saja, belum merem saja sudah sampai. Begitu sampai di Antwerp, penunpang diturunkan di Central Station. Masih terasa paginya di Antwerp. Masih sepi. Cuaca dingin, sejuk tapi tidak buat mengigil, begitupun matahari terik. Seperti biasa, aku tidak punya itinerary buat daily trip di Antwerp. Aku bahkan tidak tahu harus ngapain. Yang aku tahu, aku jalan saja, ikutin kaki melangkah sembari bertanya pada om Google. Kemana kaki ini harus melangkah? Kemudian, ikutin rombongan demi rombongan saja, aku kok merasa, mereka pasti memberikan petunjuk kepada aku, mau ngapain saja. Lah, sudah pasti-lah, kemanapun rombongan itu pergi, sudah pasti, objek wisata yang dituju. Dari Central Station, aku berjalan menuju Meir, semacam Orchad rd gitu kalau di Singapore. Sepanjang jalan, kanan kiri butik ternama semua. Lha, ngapin ke sana ? Belanja? Kagak... Numpang lewat doang.. Kan itu akses jalannya, kalau mau ke beberapa objek wisatanya, lewati jalanan bermerk ini. Ya, boleh lah, pas lewat, cara berjalannya lebih sombong dikit, padahal mah, tidak berani ngelirik kanan- kiri. Seputaran Cathedral Kalau masih pagi, masih sepi. Toko juga belum banyak yang buka. Orang- orang yang ada juga masih sedikit. Masih tidur kali ya? Wong, pagi- pagi, enakan tidur...Ya nih, kalau bukan untuk daily trip, aku mah tidurnya sampai kadang, teman- teman sekamar sudah pada berhilangan. Maksud hati sih ingin masuk ke museum Rubenshuis, ehh.. pagi itu, masih tutup. Dia bukanya dari jam 10 pagi - jam 5 sore. Mau masuk, bayar ya. Karena aku tidak masuk, aku tidak tahu bagaimana bentukannya di dalam. Untuk sejarahnya, baca saja disini. Cathedral of Our Lady. Kaki berhenti tepat di depan Cathedral Of Our Lady. Kathedral Bunda Maria ini adalah Katedral Katolik Roma di Antwerp. Walaupun konstruksinya berakhir pada tahun 1521, tapi Kathedral ini tidak pernah selesai. Pada bulan Oktober 1533, gereja ini sempat dilahap oleh api dan sempat diselamatkan oleh Lancelot II of Ursel. Gereja Gothic ini, pada awalnya, akan dibangun 2 menara bagian depan yang sama tingginya. Tapi ketika berakhirnya pembangunan ini, kedua menara tersebut malah tidak sama tinggi. Kemudian, pindah ke Het Steen yang tidak berapa jauh dari area Kathedral. Benteng dari pertengahan abad ke-13 ini berada disamping sungai Scheldt dan merupakan bangunan pertama yang terbuat dari batu. Het Steen Aku sendiri tidak begitu lama di Het Steen. Aku kemudian jalan sekenanya saja, jalan kaki, ikutin langkah kaki dan seperti biasanya, tidak jelas. Keluar masuk lorong- lorong tidak jelas, hingga ketemu pasar loak yang sedang banting harga. Lalu sok- sok macam bule lokal, duduk dan jemuran di taman gitu. Eh, benaran loh.. Lebih hangat ketika badan kena matahari. Tidak sedingin hati ini. #ciaattt.... Pasar loak. Hingga waktu makan siang tiba. Saat itu, seingatku, hampir 3 jam, betah duduk santai di salah satu tempat makan dekat Groenplaats. Maklum, ada dinas yang harus diselesaikan. Oh ya, keramaian Antwerp itu disekitaran Groenplaats dan Grote Markt. Museum Aan De Stroom. Terus, kali ini jalan kaki lebih jauh, ke MAS, Museum aan de Stroom. Yups, jalan kaki sekitar 30 menit. Menurutku sih, museum ini biasa- biasa saja. Ya, karena aku memang tidak masuk ke dalam ruangan museumnya. Aku lihat, yang datang kesini pada umumnya juga begitu. Tidak ada yang beli tiket. Jadi, langsung naik eskalator sampai rooftop untuk menikmati sekeliling kota Antwerp. Kalau betah, yang nongkrong di atas. Kalau tidak, ya turun, terus pulang. Okey, overall, menurutku kalau mau jalan- jalan ke Antwerp seharian doang, itu bisa! Bahkan, aku bilang sih, sudah termasuk yang santai. Walaupun begitu, jika ingin bermalam di Antwerp, itu okey juga. Kotanya lebih santai. With Love, @ranselahok www.ranselahok.com ---Semoga semua mahluk hidup berbahagia---
  3. 1 point
    @Fernando Hutapea 1.) Bisa naik Kereta atau Bus kok, klo saya biasa naik Bus Narita -> Tokyo lumayan murah sekitar 1000 yen. habis itu baru naik kereta ke Shinjuku. 2.) Bisa kok. 3.) Beda area cakupannya (coverage area), bisa lihat di bagian Service Zone JR East Tokoku ; JR East Nagano Niigata ; JR Tokyo Wide Pass (<-- klik untuk detailnya) 4.) tidak perlu harus ke Tokyo, klo mau langsung ke Shinjuku juga bisa kok dari Narita Airport. bisa naik Limousine Bus https://www.limousinebus.co.jp/en/areas/detail/nrt/shinjuku/dep sekitar 3100 Yen.
  4. 1 point
    Dari pertama kali ke Jepang, saya selalu penasaran sensasi onsen di negeri sakura ini, tetapi selalu kebentur waktu/jadwal yang mepet atau tdk pede dengan onsen yang rata-rata minim bhs inggris. Kebetulan utk trip saya ini saya ada jadwal pesawat yang gak memungkinkan utk bolak balik airport ke kota. Jadi akhirnya gak hanya 1x nyoba tp nyoba 2x sekaligus . New Chitose Airport Onsen, terletak di lantai 4 di gedung terminal New Chitose Airport. Untuk nyari escalator nya harus ke lantai 2 bagian keberangkatan (departure) dan menuju ke area shopping world nya. Untuk pengalaman onsen pertama kali, onsen ini recommended bgt karena info bhs inggris cukup memadai, bisa browsing website untuk liat-liat hrg maupun kondisi onsen. Pertama kali masuk kita harus melepas alas kaki dan memasukkannya ke tas kantong yang sudah disediakan baru menuju counter untuk cashier dan information. Di counter, front staff disana memiliki kemampuan bhs inggris yang cukup utk kasi tau kalau kita harus membayar diawal biaya masuk sebesar 1,500yen, nanti kita akan dikasi tas yang isinya handuk ,bathrobe dan gelang kunci sekaligus sebagai alat pembayaran. Disini kalau kita gak request yukata, kita akan dikasi bathrobe standard warna coklat bata. Pengalaman pertama kali karena saya bengong doank pas mas2 nya neranginnya gak bikin tambah jelas, saya terima2 aja bathrobe yang ini. Heheh.. terus nyesel ndiri karena pas udh ngeh, yukata yang lucu-lucu sudah habis. Visit yang ke-2, dari awal saya sudah langsung nunjuk yukata yang saya mau, jadi langsung dikasi tas isi yukata itu. Setelah terima tas handuk+yukata, saya titip koper besar saya ke area penitipan/ cloaking room. Plus titip tas sepatu saya. Baru setelah itu saya liat2 area onsen. (arcade game) (locker kecil berbayar pake gelang kita) Pada dasarnya disini cukup jelas,fasilitas mana yang nambah bayar ataupun all inclusive di 1500yen yang pertama kali kita bayar. Yang membutuhkan barcode dari gelang kunci kita itu menandakan fasilitas itu harus bayar lagi. Di onsen ini , ada self service drink machine yang isinya kopi, teh tawar, green tea dan mineral water. Warna merah dan biru itu untuk pilihan panas/dingin masing-masing minuman. Disebelahnya disediakan juga, gula (bubuk dan cair) beserta creamer nya. Onsen di Jepang ini tidak memperbolehkan memakai baju renang, karena nya dari awal sudah dipisahkan antara ruang ganti wanita dan pria. Dari ruang ganti akan ada pintu langsung menuju kolam pemandian air panas yang sudah terpisah. Perhatikan juga ya tulisan kanji diawal angka di gelang kunci , dan samakan dengan di loker nya. Krn ternyata angka2nya berulang di setiap baris loker. Saya pun kalau gak dibantu org local yg super helpful, juga tdk bakalan ngeh, maksain aja tuh kunci sampai berkali-kali. Disini toiletries nya super lengkap, dari handuk kecil buat basuh, sisir dan sikat gigi yang masih baru, sabun, shampoo,conditioner , lotion, pembersih muka, spray rambut , hairdryer sampai sikat badan semua disediakan gratis disini. Yang kurang itu pasta gigi aja. Ada juga vending machine yang menjual ikatan rambut, sampai celana dalam ganti. Krn nge-trip sendirian, saya gak terlalu self conscious berbugil ria. Lah semua nya jg bugil dan gak kenal pulak. Jadilah sok santai sambil lirik2 ke org lokal harus bgmn dulu. Menuju ke kolam pemandiannya, kita diharuskan mandi di sisi sebelah kolam ada tempat mandi rame-rame yang kurleb seperti di foto (hsl google) cuman bedanya ada sekat2 jadi gak senggol2 amat. Masing-masing ada sabun cuci muka, sabun mandi, shampoo dan conditioner merek keluaran Kracie dari Kanebo. Ada juga bilik shower versi modern tp saya intip toiletries nya justru tidak ada, lagian mendingan mandi sambil duduk2 khan, apalagi sehabis long flight dari Jakarta-Narita-Sapporo. (hasil google bukan dari foto onsen di new chitose ini) Abis mandi langsung siap nyebur. Sebnrnya yang benar rendem kaki dulu biar badan gak kaget , tapi berhubung saat itu Sapporo sudah minus 6 derajat jadi baru berdiri sebentar sudah menggigil. Jadi saya langsung berendam seluruh badan saja.. setelah anget dan mati gaya, baru saya nyobain outdoor bath yang lbh beku lagi. Ternyata seru bgt lho, berendam air panas sementara kita bisa liat snowing. (ini foto dari website nya, susah curi-curi foto disini krn ada aja yg lagi rendem2) Di kolam pemandian ini ada akses ke wc juga, jadi tidak perlu jauh2 ke kamar ganti utk ke wc. Ada akses ke massage berbayar, maupun ke wet dan dry sauna yang gratis. Wet sauna itu kamar steam yang dindingnya ubin, sedangkan dry sauna itu yg dinding nya kayu. Semua nya saya coba. Inget ya kalo di wet/dry sauna itu maximal hanya 10-15menit, yang ada bisa dehidrasi badan kita. Setelah puas mencoba semua jenis sauna yang gratisan, akhirnya stlh bilas baru deh balik ke ruang ganti utk siap2 mo tidur di onsen. Yes… di onsen ini ada fasilitas relaxing room nya dimana kita bisa nginep overnight disini, cukup nambah 1,500 yen yg dibyr pas pulang nanti. Dari tambahan ini besok pagi kita akan dpt breakfast buffet. Relaxing room itu terdiri dari deretan kursi panjang seperti kursi pijat di reflexology, ada tv di masing2 kursi dan bisa reclining juga. Disediakan handuk utk selimut. Karena pada wkt pertama kesini, gak tll penuh, saya ambil handuknya 3lapis. Satu buat alas bdn, satu buat kepala dan satu buat selimut. Mohon jgn ditiru kerakusan saya ini. Sebnrnya ada private room jg, tp hrg room nya start from 5,000 yen. Berhubung saya mau optimal nyobainnya, saya cukup yg relaxing room saja. So far sih gak empuk2 amat tapi gak keras juga kursinya dipakai tidur. Yg jadi mslh krn saya cukup anxious utk early flight keesokan harinya, saya jadi gampang terbangun dengan suara ngorok orang sebelah, pdhal sudah pilih relaxing room yang khusus wanita. Yang tadinya mau bangun jam 6, malah dari tiap 2jam kebangun, yang ada jam 3pagi saya kebangun haus terus foto2 onsen diwaktu sepi.. hehe kalau byk org pasti dilarang foto2 disini.Sayangnya jam 3pagi pun ada aja yg berendem di outdoor bath jadinya saya gak bisa ambil foto disitu. Breakfast buffet di mulai dari jam 6pagi, ada miso soup, nasi, sosis, berbagai sayur fermentasi khas jpn dll. Jgn Tanya halal/tdk ya, saya jg tdk ngerti. Basically onsen di awal dan akhir perjalanan saya ke Hokaido ini merupakan highlight saya saking bahagianya beranget ria di bulan Februari di Hokaido. Untuk info lbh lanjut silakan browse: http://www.new-chitose-airport.jp/en/spend/relax/spa/
  5. 1 point
    deffa

    Rencana pertama kali ke Jepang

    @Fernando Hutapea 1. Cukup kok 3 hari Tokyo 1 hari ke Kawaguchiko dan sekitarnya 2. Cukup PASMO saja, karena ke Kawaguchiko gak di cover JR Pass, atau kalau mau tetap beli pass, beli JR Tokyo Wide Pass, ini cover sampai ke Kawaguchiko 3. Bisa PP, Feb 2018 lalu saya PP dari Tokyo 4. Ke Osaka habis waktu di jalan jadi kurang worth, lebih baik full time di area Tokyo saja 5. Penginapan banyak cek di Traveloka atau agoda saja, untuk referensi daerah Asakusa asik Untuk referensi ini cerita perjalanan saya kemarin ke Kawaguchiko: http://deffautama.com/2018/09/16/babymoon-ke-jepang-part-8-kawaguchiko-akihabara/
  6. 1 point
    kyosash

    Rencana pertama kali ke Jepang

    udah saya jawab di post atas
  7. 1 point
    Indonesia dengan negara kepulauannya yang luas membuat kita bisa menyusuri pulau satu dan lainnya yang masih tergabung dalam satu negara. Jalan-jalan sejauh apapun di Indonesia masih masuk ke dalam perjalanan domestik. Tapi bagaimana rasanya, jika jarak yang tidak terlalu jauh sudah menjadikan kita jalan-jalan lintas negara? Itu bisa dirasakan di beberapa negara di berrbagai belahan dunia. Indonesia dengan Singapura dan Malaysia, Malaysia dan Singapura, dengan Thailand, dan sebagainya. Postingan kali ini, sedikit membahas tentang bagaimana menikmati jalan-jalan lintas negara Malaysia hingga Thailand dengan menggunakan jalur darat. Kenapa Jalur Darat? Dengan menggunakan transportasi darat, anda memang akan membutuhkan waktu yang lama, namun anda bisa menghemat sedikit budget perjalanan anda. Dan bagi yang suka berpetualang, jalur darat ini akan lebih cocok karena anda mendapatkan lebih banyak cerita dan juga menikmati suasana yang berbeda dari pada hanya beberapa jam di dalam pesawat. Mungkin anda tertarik? Ini dia jalurnya: Dengan bus Kita mulai perjalanan dengan menggunkan bus. Anda bisa menuju Terminal Pudu Raya yang ada di kawasan Pudu. Dari Kuala Lumpur City Centre atau dari Bukit Bintang, lokasinya tidak terlalu jauh. Terminal Pudu Raya ini juga jangan dibayangkan seperti terminal-terminal di Indonesia yang padat, panas, seram, dan kotor. Sebaliknya, anda seperti akan menuju ke sebuah mall atau pelayanan publik lain dengan gedung ber-AC, bertingkat, bersih, rapi, dan teratur. Harus diakui, kita memang sebaiknya nggak dipusingin sama masalah berantem ama Malaysia terus, tapi gimana caranya bisa maju lagi kayak mereka (OOT). Ok, setelah di Terminal Pudu, beli karcis di loket yang ada di lantai atas dan cari dengan tujuan Hatyai, Thailand. Harganya sekitar RM 40 hingga RM 50 kalau dirupiahkan sekitar Rp 120.000 hingga Rp 150.000. Oya, Hatyai ini masih di Thailand Selatan ya. Memang kita harus menuju Hatyai ini dulu yang merupakan kota untuk kita transit dan jarak tempuhnya sekitar 10 jam kurang lebih. Nantinya, kita akan diminta untuk turun saat berada di perbatasan untuk pemeriksaan. Dua kali, saat masih di wilayah Malaysia dan saat masuk ke Kuala Lumpur. Setelah tiba di Hatyai, baru kita bisa menentukan perjalanan selanjutnya. Anda bisa ke Phuket atau bisa juga langsung menuju Bangkok. Kalau mau ke Phuket dengan bus, anda bisa merogoh kocek dengan tarif 400 Bath atau dalam rupiah sekitar Rp 130.000 kurang lebih. Nanti dari Phuket anda bisa juga melanjutkan perjalanan ke tempat lainnya. Atau kalau mau langsung dari Hatyai juga bisa menuju Bangkok dengan menggunakan kereta api. Nanti kita bahas. Dengan kereta api Untuk perjalanan kereta api, kita juga mulai dari Kuala Lumpur dan tentunya dari stasiun KL Sentral. Dari sinilah semua tujuan bisa anda kunjungi. Pilihan menuju Thailand dengan kereta api ini beragam. Jika anda ingin menikmati suasana di Penang sejenak, anda bisa naik Kereta dengan tujuan KL Sentral – Butterworth atau Penang dan nantinya lanjut lagi ke Hatyai, Thailand. Jika jalur ini yang anda ingin anda lalui, anda bisa menghabiskan waktu sebenatra di Penang dan menikmati pemandangan di sekitar Penang terlebih dahulu. Tapi jika anda ingin langsung, bisa menggunakan jalur KL Sentral - Hatyai, Thailand. Untuk perjalanan menggunakan kereta, anda bisa mencari informasi soal jam keberangkatannya di banyak situs atau bisa langsung menanyakannya di stasiun. Ada sekitar 3 kali keberangkatan kereta dari Kuala Lumpur menuju Penang setiap harinya. Namun, untuk kereta yang langsung membawa anda ke Hatyai tanpa transit hanya satu kali, yaitu sekitar pukul 9 malam. Untuk sampai ke Hatyai dengan jalur kereta, tarifnya tidak jauh berbeda dengan menggunakan bus, yaitu sekitar 40 RM tapi bisa disesuaikan dengan kelas kereta yang anda naiki. Ada yang kelas 3, 2, juga 1, semua memiliki tarif yang berbeda. Waktu tempuhnya agak lebih lama yaitu sekitar 12 hingga 13 jam kurang lebih. Tapi tenang saja, keretanya nyaman kok. Dari Hatyai, jika ingin langsung ke Bangkok bisa naik kereta api sekitar 300 bath, nggak beda jauh sama naik bus lah. Harganya juga bisa disesuaikan dengan kelas kereta yang dipilih. Untuk waktu tempuh juga sekitar 12 jam. Lumayan lama ya? Hahaha.. memang karena Hatyai ke Bangkok jauh. Biar gampang saya kasih gambaran poinnya. Bus: Pudu Raya - Hatyai - Phuket/Bangkok/dll Kereta : KL - Penang - Hatyai - Bangkok/dll atau KL - Hatyai - Bangkok/dll