Leaderboard


Popular Content

Showing most liked content on 08/16/2017 in all areas

  1. 2 points
    chrizz_msweb

    Freediving di Bunaken

    Bunaken adalah taman laut pertama di Indonesia, keindahan bawah lautnya terkenal sampai manca negara. Saya telah membuktikannya sendiri, selama freediving beberapa kali di Indonesia, yang terbaik menurut saya adalah di Bunaken. Sayang keindahan Indonesia ini tampaknya lebih banyak dinikmati orang asing daripada orang Indonesia sendiri. Terutama sejak Cina membuka penerbangan langsung ke Menado. Sepanjang saya di sana, hanya satu rombongan turis lokal yang saya temui. Sisanya adalah orang asing. Maklum kegiatan yang menarik di Bunaken adalah diving, bahkan snorkeling seperti dianggap kegiatan nomor dua di sini. Mungkin olahraga diving masih terlalu mahal untuk ukuran kantong orang2 Indonesia. Karena tujuan utama saya adalah untuk freediving, susah susah gampang di Bunaken. Kapal dari operator diving hanya mau mengantarkan turis yang diving. Seperti nebeng turis lain yang diving ceritanya. Saat saya sedikit memaksa, mereka mengatakan mau mengantarkan tapi tetap dengan tarif diving. Rugi, saya membawa perlengkapan seperti snorkel dan fin sendiri, juga tidak memerlukan BCD atau regulator seperti orang diving. Tidak kehabisan akal, saya mencari penduduk lokal di warung yang bisa menyewakan kapal unuk snorkeling. Tak lupa juga mengajak turis lokal lain (satu-satunya rombongan turis lokal yang satu hotel dengan kami) untuk patungan. Mereka juga tidak diving, tentu saja mereka lebih senang dengan kapal penduduk lokal ini daripada kapal dari diving operator yang harganya gila gila an bila tidak dibarengi turis yang diving. Lumayan, kami mendapatkan harga 500 ribu untuk 5 orang. Tentu saja kapal nya kalah jauh dengan kapal dari diving operator, tapi inilah yang lebih pas di kantong. Banyak sekali spot yang menarik untuk snorkeling atau diving di bunaken. Keunggulan utamanya adalah jenis terumbu karang yang berbentuk wall. Di tempat lain jarang saya menemukan wall sebagus di Bunaken. Yang terbaik menurut saya adalah spot bernama Cela Cela. Disebut Cela Cela karena banyak terdapat lubang atau celah di kumpulan terumbu karang, di celah ini saya menemukan Lion Fish. Agak susah mengambil gambar nya, saya harus sedikit masuk ke celah tersebut, dan harus berhati-hati juga jangan sampai terkena Lion Fish tersebut. Lion Fish memiliki racun di duri nya yang indah. Spot lain yang saya rekomendasikan adalah Lekuan. Di sini banyak terdapat penyu. Mereka suka bersarang di celah terumbu karang yang berbentuk wall. Guide kita menunjukkan ada penyu sedang tidur di sarangnya. Mungkin ini pengalaman sekali seumur hidup memotret penyu di sarang nya yang alami, biasa saya melihat penyu di perarian saja. Di spot yang dangkal, lebih banyak ikan berwarna-warni. Salah satu yang menarik adalah Trumpet Fish berwarna kuning. Tidak setiap tempat bisa menjumpai Trumpet Fish. Tidak seperti Nemo (Clown Fish) yang bisa dijumpai di hampir semua tempat yang banyak Anemon nya. Sayang tidak terdapat ikan besar di Bunaken. Tidak ada Manta atau Whale Shark seperti di Lombok atau Kalimantan. Memang di Bunaken lebih terkenal dengan sususan terumbu karang nya. Namun yang menarik difoto bukan cuma ikan, banyak juga jenis tanaman yang menarik. Selain ikan, penyu, dan tanaman, yang menarik difoto tentu saja turis lain yang sedang diving. Di Bunaken banyak orang belajar diving atau sekedar Fun Diving. Fun Diving adalah diving ditarik oelh instruktur, tidak perlu sertifikat, namun di kedalaman maksimal sekitar 6 meter. Fun Diving inilah yang paling gampang difoto. Ingat bahwa semakin dalam maka cahaya matahari makin sedikit dan warna makin cenderung kebiru- biruan. Tidak banyak saya melihat turis yang freediving seperti saya. Freediving adalah kegiatan diving tanpa menggunakan tabung oksigen. Hanya mengandalkan fin, masker, dan kekuatan tahan nafas. Cara ini lebih praktis untuk saya, tidak perlu pusing memikirkan tetek bengek seperti safety stop, decompression time, license, dan lain lain. Dan tentunya, lebih bersahabat di kantong. Di kedalaman sekitar 6 meter saya menemukan kerang. Apa yang bisa kita nikmati di Bunaken selain pemandangan bawah laut nya ? Jujur, tidak banyak. Hampir tidak ada apa-apa di sini. Bila tidak ada rencana basah-basahan, tidak disarankan untuk ke Bunaken. Beruntung saya mendapatkan foto sunset yang lumayan. Foto Lengkapnya : http://chrizz-photography.blogspot.co.id/2017/08/freediving-di-bunaken.html
  2. 1 point
    Retzko Ardiyanto

    Sebuah "Halo" dari Depok

    Halo, gue Iko. Lelaki berusia 26 tahun yang sangat menyukai outdoor activity. Namun ketika tiba hari Minggu, aktivitas di kamar itu lebih asik (re: tidur). Gue lebih menyukai aktivitas outdoor ketika hari kerja. Ya, walaupun weekday itu gue kerja, pasti akan gue luangkan jika ada yang ngajakin keluar. Gunakan cutimu, Nak! Oh iya, gue akhir-akhir ini lagi suka-sukanya sama motor (lagi). Bagi kalian yang ingin ngajak jalan-jalan naik motor, ajak gue dong. Siapa tau kita bisa ke sebuah tempat asik yang bisa gokil, pantai atau air terjun cukup asik kok. Oh iya, domisili gue di Depok, Jawa Barat, dan bekerja di daerah Jakarta Selatan. Pas banget kan bagi yang daerahnya sama seperti gue, jalan-jalan yuk. Daripada nge-mall mulu, ngebosenin. Hahaha Oh iya, izinkan gue berkata "Halo" untuk menyapa kalian semua di sini. Halooooooo!!!! Sekian dari gue, kalo mau jalan-jalan ajak gue yah
  3. 1 point
    Rawoniste

    Hiking CIC

    Blog pertama saya Ada keinginan dari teman2 saya, untuk melaksanakan kegiatan rutin tiap bulan sekali , fun sambil berolah raga. Semuanya sepakat ..... Harus ada jalan kaki nya, bukan sekedar piknik. Kegiatan ini sudah berjalan 2 kali, dgn peserta tetap yang sudah komitmen adalah 4 orang. Minggu kemaren kita memilih ke CIC alias Ciwangun indah camp. Hasil googling ini tempat memunginkan untuk hiking ! Seperti biasa kegiatan ini di sebar di group. Dr peserta yang siap ikut sebanyak 8 orang, nyusut menjadi 3 orang. Grhhhh..... Tapi bodo amat, kita bertiga tetap jadi saja Let's go ! Cic berada di daerah lembang, dekat dgn Vib,dusun bambu dan curug pelangi. Jam 7 pagi kita start dr rumah. Lewat jln kolonel masturi /cihideung. Tiba di gapura langsung nanjak, alamat jalan nya sudah rusak meskipun tdk parah2 amat tetapi karena nanjak jadinya harus hati2 saja. Tidak lebih dari 1km dr gapura sampe lah di pos cic. Kesan pertama , jadul banget ini tempat. Kolam renang sudah tidak berpungsi tapi cukup rame dgn parkiran mobil/motor. Ya , ini memang tempat buat camping,outound,hiking dll. Bayar tiket 35000 untuk 3 orang plus kendaraan . Kita langsung clingak clingak nyari Arah musti kemana dulu. Ahirnya kita turun dulu ke bawah , dgn anak tangga yg tinggi melihat air terjun. Kita menyusuri sungai sampe mentok di rakit penyebrangan yg tidak bisa di pake karena nyangkut. Jadi nya kita tidak bisa melsnjutkan ahir sungai tsb. Kitapun balik arah lagi, dan langsung menuju air terjun aseupan . Ada 2 air terjun disini. Yg pertama tanpa perlu susah payah langsung dijadikan objek poto. Meskipun airnya kecil tapi air terjun nya menyebar menyerupai tirai. Tepat di sebelahnya, ada tangga dari besi yg curang bgt. Karena sempit dan hampir tegak berdiri, teman2 gak ada yg punya nyali untuk naik. Padahal air terjun nya Cantik sekali . Dari sini kita istirahat sebentar. Buka perbekalan . Teman saya bawa lepeut oncom yg makyus. Lanjut lg rencana mau ke perkebunan teh nya. Nanya ke orng yg lewat apa bisa lewat jalur bawah ? Bisa katanya sambil nunjuk arah jalan. Akan tetapi sampe di bendungan kita jadi ragu , jalan nya sempit bawahnya sungai , becek dan sepertinya jarang di lalu. Ya puter balik lagi, dgn terpaksa harus naik tangga lg. Nyampe atas, beli air minum dulu dan istirahat sebentar karena saya melihat teman saya ada yg ngos2an gara2 naik tangga tsb. Kita lanjut menuju perkebunan teh , yg entah milik PTP apa..... Jalannya langsung nanjak lagi tapi sedikit kok, langsung di jamu dgn deretan pohon pinus yg tidak terlalu rapat. Tadinya saya mau melipir ke arah kiri ke arah jajanan hutan pinus nya, tapi saya bisa membaca expresi teman ku yg sepertinya keberatan karena memjauh dr area kebun teh. Ahirnya kita langsung ke perkebunan teh nya. Tidak terlalu spektakular view nya Karen kita lihatnya dari bawah . Setelah mengelilingi kebun teh kita istirahat lagi sambil buka perbekalan. Tidak terasa sudah jam 2 lebih, kita memutuskan untuk pulang dgn muter in kebun teh tsb. Mungkin ini tempat bisa dijadikan alternative bagj yang suka jalan kaki /hiking ringan Kalo bosen dgn dago pakar ato bukit moko. Tampat nya lebih bagus drpd dago pakar , tapi untuk urusan pohon pinus, bukit moko juaranya. Gambar menyusul.... Pake hp ini uploaded gak jalan2
  4. 1 point
    kyosash

    Hiking CIC

    nice share , btw ditunggunya
  5. 1 point
    deffa

    Hiking CIC

    ok siap kita cek ya cc @Jalan2
  6. 1 point
    Cerah berawan menyambut aku dan teman-temanku di bandara Tambolaka, Sumba Barat Daya. Bukan bandara besar jadi dengan cepat kami bisa bertemu Pak Harlan yang sudah dua puluh tahun menjelajah jalan-jalan Sumba. Selama empat hari kedepan kami akan ditemani Pak Harlan di tanah Sumba. Sebelum ke tujuan pertama, kami mengisi perut terlebih dahulu. Kami tidak menemukan tempat makan khusus yang menjual makanan khas Sumba. Namun kami dapat memesan makanan spesial yang tidak ada di menu, sambal bunga pepaya tumis di Warungku tempat dimana kami santap siang. Jalan utama di Sumba sudah baik, tidak ada lubang-lubang. Hanya saja jalan berliku-liku mengikuti kontur bukit. Untuk mencapai danau Weekuri sebagai tujuan pertama membutuhkan waktu sekitar satu setengah jam dari Tambolaka karena jalan yang dilalui bukan jalan utama, jadi tidak semuanya mulus. Danau berair asin karena air laut yang terperangkap ini sungguh indah. Siang itu banyak pengunjung lokal karena hari libur nasional. Saya tidak mandi di danau tapi menikmati suasana danau dan deburan air laut yang menghantam dinding sebelah danau. Ke arah selatan kami pergi ke kampung adat Ratenggaro. Kubur-kubur batu seperti tugu selamat datang berbaris di pintu utama. Lestarinya agama adat Marapu juga menjadikan budaya megalitik ini tetap ada sampai sekarang. Kepercayaan akan roh orang yang sudah meninggal menjadi pengubung dengan Sang Pencipta menjadikan orang Sumba tidak bisa jauh dari kerabat yang telah meninggal maka dari itu kubur batu diletakkan di depan rumah atau perkampungan. Hari menjelang sore, bergegas kami melanjutkan perjalanan ke pantai Mawana atau Bawana. Setelah berjalan sepuluh menit di jalan setapak yang terjal kami diberikan keindahan alam yang luar biasa. Menikmati sunset di pantai Bawana bersama penduduk lokal yang memancing ikan. Besok pagi kami bertolak ke Sumba Timur. Jika di Sumba barat pohon hijau tinggi di pinggir jalan, Sumba Timur berbeda. Bukit-bukit dengan padang rumput berpohon perdu lebih mendominasi. Hal ini terlihat jelas di Bukit Wairinding. Walaupun matahari terik tapi udara tetap sejuk dan dengan gembiranya anak-anak sumba bermain di atas bukit segembira saya melihatnya. Setelah melapor di hotel kami melanjutkan ke bukit Morinda. Di atas bukit itu ada rumah makan dan juga kamar jika ingin menginap. Pemandangan di bukit Morinda begitu memesona dengan bukit yang mengelilingi dan lembah subur di bawahnya, tidak mau pulang rasanya. Mama yang menjaga tempat makan sangat ramah dan dengan semangat mempelajari bahas Inggris sebagai penunjang berkomunikasi. Belum puas sebenarnya bersantai di Morinda tapi karena waktu kami harus meninggalkan Morinda untuk mendapatkan pesona matahari terbenam di pantai Walakiri. Dalam perjalanan ke pantai Walakiri akan banyak kandang-kandang peternakan alam dengan pohon sebagai pagar. Kuda, sapi, babi, kerbau atau kambing tidak jarang kita temui di sepanjang jalan. Pantai Walakiri bukan pantai berpasir putih atau pantai dengan laut biru dengan banyak terumbu. Di pantai ini sedikit berlumpur dengan banyak pohon bakau tapi kondisi ini menjadikan pantai ini menjadi tempat yang tepat untuk menikmati matahari terbenam. Waingapu bukan kota yang besar tapi lebih ramai di banding Tambolaka atau Waikabubak. Kota ini sudah memiliki bandara dan karena letaknya yang lebih dekat dengan Flores menjadikan pelabuhan di Waingapu lebih ramai. Malam itu dengan perut yang lapar kami mencoba makanan laut di pinggir pelabuhan. Bukan musim yang tepat memang sehingga hasil laut tidak begitu banyak. Hanya ada ikan dan cumi tapi kesegarannya tidak dapat dipungkiri. Bulan terang dengan sedikit awan mengurungkan niat kami untuk menikmati malam dengan langit penuh bintang di atas bukit pintu kedatangan kota Waingapu. Sebelum kembali ke hotel untuk beristirahat, kami berhenti di alun-alun Waingapu. Jangan lupa untuk menikmati STMJ disini. Pagi-pagi sebelum matahari terbit kami menuju ke Puru Kambera dimana padang rumput dan pantai berpadu bersama kuda-kuda yang dibiarkan bebas. Tidak ada matahari bulat pagi itu karena cuaca yang berawan tapi pemandangan di Puru Kambera sudah membuat suasana hatu kami pagi itu begitu bahagia. Menjelang siang kami menuju pantai Tarimbang. Perjalanan ke Tarimbang memang agak lama karena jalan yang tidak bagus . Hal ini juga yang membuat pantai ini jarang dikunjungi. Tapi pemandangan dalam perjalanan seolah-olah menghilangkan waktu sehingga perjalanan tidak terasa lama. Hanya kami yang ada di pantai Tarimbang waktu itu. Sayangnya, indah pasir putih, deburan ombak dan birunya warna laut tidak dapat dibawa pulang. Hujan menemani kami dalam perjalanan kembali ke Tambolaka sehingga kami tidak bisa melihat matahari terbenam di bukit Lailara. Hari terakhir di Sumba, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke pasar tradisional. Tidak ada penjual makanan jadi atau oleh-oleh. Hanya ada sayuran dan kebutuhan sehari-hari. Saya membeli cabai yang sangat pedas yang saya bawa ke Jakarta dan alpukat. Dibanding harga di Ibukota, harga kebutuhan sehari-hari yang dihasilkan sendiri dari tanah Sumba tidak mahal. Sayangnya siang itu saya harus meninggalkan Sumba, tempat dimana matahari tidak perlu malu untuk menyinari alam dengan bukit-bukit sabana indah. Masih banyak tempat yang sangat indah di Sumba dan tanah ini akan kurindukan.