Leaderboard


Popular Content

Showing most liked content since 07/22/2018 in Blog Entries

  1. 1 point
    Anda seorang yang menyukai cerita-cerita perang, cukup tertarik dengan sejarah, dan berencana jalan-jalan ke Tokyo dalam waktu dekat? Baiklah, museum Samurai yang terletak di Kabukicho, Shinjuku adalah tempat yang tepat untuk anda kunjungi. Buat anda para sejarawan ‘serius’ atau bahkan kolektor pedang, sebenarnya untuk rujukan yang lebih komplet dan detail anda bisa mengunjungi National museum di Taito atau Sword Museum di Yoyogi. Namun bagi anda para traveller yang mencari penjelasan ringkas ditengah kota Tokyo yang cukup bernuansa ‘medsosable’, yup datanglah ke Samurai museum. Gak akan nyesel deh hehehe.. Baiklah, museum ini terdiri atas dua lantai yang masing-masing lantai terbagi dalam beberapa area. Lantai satu-tempat dimana semua bermula-berisi deretan yoroi (baju zirah), ada yang asli dan (kebanyakan) replika-yang dipakai oleh para samurai diwaktu yang berbeda-sejarah para samurai terbentang selama kurang lebih 800 tahun yang terbagi dalam beberapa jaman seperti jaman Kamakura, dan terutama era Muromachi (1336-1573), dan Edo (1600-1868)-dengan derajat yang berbeda sesuai jenjang kepangkatan mereka. Bagi para bangsawan, jenderal, dan kalangan atas lainnya tentu bahan-bahan yang digunakan untuk membuat zirah-zirah tersebut lebih kuat dengan warna-warni dan relief yang menunjukan tingginya derajat mereka. Untuk para prajurit, pastinya lebih sederhana dan minim relief. Oh ya, untuk menikmati dan memahami secara utuh koleksi-koleksi museum, pihak pengelola menyediakan tour guide yang ‘cukup fasih’bahasa Inggris (walau logat Jepangnya kental banget dan bikin kita susah paham apa yang dia ucapkan :D). Satu tour guide melayani sekitar 15 pengunjung untuk satu sesi tour selama kira2 dua jam. Waktu kami (saya, istri dan dua anak saya) tiba sudah ada sekitar 12 orang yang stand by menunggu kuota pengunjung terpenuhi. Pas. Setelah menyelesaikan ‘admission fee’ di reception kami memperoleh tiket dan siap diantar mengelilingi oleh Kyoko, tour guide kami hari itu. Sekedar info, harga tiket masuk atau admission fee disini memang relative mahal dibanding museum-museum pada umumnya. Untuk dewasa, dibanderol 1.900 Yen, usia 12 tahun kebawah 900 Yen, 3 tahun kebawah bebas biaya masuk. Tapi percayalah, gak rugi deh untuk mampir kesini. Lanjut kelantai dua, sebelum memasuki ruang-ruang pamer kita diwajibkan mencopot alas kaki sebelum memasuki area ruang display. Bicara ruang display saya cukup kagum dengan perancang museum ini. Nuansa tradisional yang dihadirkan lewat arsitektur jepang kuno yang bernuansa kayu, pernik-pernik seperti tatami, lampion, lukisan, dengan tata lampu yang redup diperkuat dengan lagu-lagu tradisional Jepang yang diputar lirih. Benar-benar membangun suasana yang oke banget. Ruang pertama yang kami datangi adalah ruang pedang yang berisi aneka pedang katana dan senjata-senjata bilah lainnya (tombak, pedang pendek, pisau, anak panah, tombak pendek, sampai golok besar yang khusus dipergunakan untuk menyerang kaki kuda dalam pertempuran). Kyoko, sang tour leader secara fasih menjelaskan kegunaan dan perkembangan teknologi pembuatan bilah pedang termasuk peralatan-peralatan pendukungnya seperti helm pelindung kepala saat perang berlangsung, yang semakin maju seiring berkembangnya jaman. Seraya juga fasih menceritakan beberapa pertempuran besar yang melibatkan dunia samurai, yaitu perang Sekigahara dan pertempuran melawan invasi bangsa Mongol, yang masing-masing diabadikan dalam lukisan kuno yang dipajang dalam kotak kaca. Sayangnya lukisan itu tidak boleh difoto entah kenapa-saya juga gak nanya, karena lebih tertarik memperhatikan kecantikan Kyoko dan koleksi senjata dalam museum hehehe. Dari penjelasan Kyoko pula saya baru tahu bahwa para samurai tidak selalu identic dengan pedang, ada beberapa samurai yang terkanal sebagai ‘si jago memanah’, bahkan dijaman yang lebih modern, saat senapan matchlock dipergunakan secara luas dalam berbagai pertempuran di Jepang, ada beberapa samurai yang terkenal sebagai ‘jago tembak’, salah satunya Sakatomo Ryoma, samurai terkenal dari daerah Sochi. Sesi keliling terus berlanjut dan diakhiri dengan penjelasan tebntang berakhirnya era samurai semenjak restorasi Meiji yang membawa Jepang kepada ‘abad perubahan’ dimana mereka mulai membuka diri pada pengaruh-pengaruh asing dan memulai era industrialisasi. Kyoko menjelaskan sejarah singkat tokoh-tokoh terkenal dalam dunia samurai, hingga tokoh-tokoh yang membawa Jepang menuju abad modern. Selesai sesi ini kita boleh loh mencoba yoroi, lengkap dengan helm dan pedangnya. Bahkan kalau mau merogoh kocek sedikit lebih dalam, anda dan keluarga bias dirias berdandan ala para shogun atau daimyo tempo dulu unbtuk kemudian diabadikan oleh juru potret professional. Ada pula kursus singkat kaligrafi, ilmu pedang, dan menggambar pada hari-hari dan jam tertentu. Berhubung masih banyak tempat yang harus saya datangi, terpaksa saya skip deh bonus-bonusnya. Cukup foto sekali bergaya komandan samurai dan belanja-belanja dikit di souvenir shopnya. Pedang asli katana dengan kualitas bilah premium juga dijual loh disitu. Tertarik juga sih Cuma bingiung bawa masuknya aja ke Indonesia. Sekian laporan singkat saya dari museum Samurai, Shinjuku, Tokyo. Untuk yang Tanya-tanya arah untuk sampai kesana, saya sertakan link dibawah berikut untuk