Sari Suwito

Members
  • Content count

    2,981
  • Joined

  • Last visited

  • Days Won

    23

Sari Suwito last won the day on August 8

Sari Suwito had the most liked content!

About Sari Suwito

  • Rank
    Petualang Sejati
  • Birthday 07/06/1979

Profile Information

  • Gender
    Female
  • Location
    Jakarta
  • Interests
    Travelling, Nature, Art & Culture, Language,Books, Internet, etc.

Contact Methods

  • Yahoo
    sari_suwito@yahoo.com
  • Website URL
    http://www.amazingholidaytour.blogspot.com

Recent Profile Visitors

17,730 profile views
  1. Half Day Tour Hatyai +Songkhla

    Yes songthaewnya private, THB 600/orang. Berdua jadi THB1200. Iya sy jg nginep di lee garden hotel dan tau ada rental mobil dekat2 situ. Tp saya pengen nyobain jalan2nya pake songthaew.
  2. Half Day Tour Hatyai +Songkhla

    Iyaa.. Mgkn krn jaraknya jauh. Waktu di Krabi town mau ke Aonang beach bayar tuktuk jg skitar THB 500/orang. Iya ternyata banyak jg obyek wisata di Hatyai, itupun belum sempat ke wat/temple lainnya. Sy jg belum sempat ke floating marketnya, karena hanya buka di weekend.
  3. Kalau tidak salah ini kali ketiga saya mengunjungi Hatyai (pertama kali ke Hatyai tahun 2012 lalu yang kedua tahun 2013 hanya singgah sebentar sepulang dari Phuket). Di dua kali kunjungan sebelumnya saya belum sempat mengunjungi obyek wisatanya. Makanya kali ini sepulang dari Brunei Darussalam dan Kota Kinabalu, saya lanjut ke Hatyai selama dua hari. Hari pertama sampai sudah tengah hari jadi cuma istirahat di hotel dan keluar untuk makan siang dan malam saja. Hari kedua baru deh mau jalan-jalan half day tour Hatyai dan Songkhla. Untuk menuju obyek wisata di Hatyai dan Songkhla kita bisa menggunakan songthaew. Bagi yang pernah berkunjung ke Thailand pasti tidak asing dengan kendaran ini, sejenis pickup yang dimodifikasi dengan kursi panjang berhadapan. Untuk songthaew wisata terdapat gambar-gambar obyek wisata di bagian body mobilnya. Jadi ketika kita akan memesan kita tinggal tunjuk aja mau ke destinasi yang mana aja. Waktu itu saya naik songthaew dari depan Lee Garden Plaza, setelah nego dengan drivernya akhirnya dapat harga THB 600/orang. Destinasi pertama adalah Samila Beach di Songkhla. Menempuh perjalanan sekitar 53 menit kalau lihat di google sih jaraknya sekitar 33,6 km. Dalam perjalanan menuju Songkhla saya perhatikan sedang berlangsung pembangunan jalan raya dan flyover di tepi kota Hatyai. Rupanya sejak terakhir kali saya ke Hatyai beberapa tahun lalu sekarang Hatyai sudah berbenah. Bahkan untuk imigrasi di perbatasan Malaysia - Hatyai pun sudah berubah lebih bagus. Dulu hanya seperti melewati pagar besi saja. Sekitar jam setengah sembilan sampailah saya di destinasi pertama di Samila Beach. Pantai dengan hamparan pasir putih dan deretan pohon cemara di pinggirnya. Di pantai ini terdapat patung putri duyung yang sedang duduk di atas batu di tepi pantai. Pagi itu tidak terlalu ramai jadi saya langsung aja deh berfoto dengan icon Golden mermaid. Setelah itu saya berjalan ke arah taman yang berada di pinggir pantai. Disini terdapat patung kucing besar dan tikus. Cerita tentang patung tikus dan kucing ini bisa dibaca di batu prasasti di samping patung. Oh ya disini juga ada fasilitas kuda tunggang. Bagi yang ingin mencoba menunggang kuda, bisa menyewa kuda, harga kalau ga salah ingat THB 50/100 gitu dech. Di pantai ini juga terdapat kedai souvenier dan makanan/minuman. Bisa mampir sebentar untuk membeli minuman dingin dan cenderamata. Waktu itu sih saya beli air minum dan magnet kulkas. Selanjutkan kami menuju destinasi berikutnya yaitu patung naga. Jaraknya tidak begitu jauh dari pantai samila, sekitar 15 menitan kali ya. Dalam perjalanan menuju lokasi saya sempat melihat ada seperti patung badan naga gitu deh. Entah apa maksudnya...mungkin ini nyambung ke kepala naga gitu ya. Nah akhirnya sampailah saya di lokasi patung kepala naga. Kalau di batu prasasti sih ditulisnya The Great Serpent "Nag". Setting patungnya mirip seperti patung merlion di Singapura gitu. Dari dalam mulut naga keluar air mancur yang menyembur ke arah air laut. Berdasarkan tulisan di batu prasasti ternyata patung naga ini di desain dibagi menjadi tiga bagian, bagian kepala naga sebagai simbol kecerdasan dan kebijaksanaan warga terdapat di Laem Son Orn, Suan Song Tale. Bagian perut naga simbol kekayaan kota terletak di Lan Chom Doaw, Sabua Laem Samila. Sedangkan bagian ekornya simbol karisma dan kekuatan masyarakatnya terdapat di area Samila Beach, Chalatad Road. Dalam perjalanan pulang dari lokasi patung kepala naga saya mampir ke Songkhla aquarium. Lokasi berada di antara patung naga dan pantai Samila. Harga tiket untuk orang asing, THB 200 untuk anak dan THB 300 untuk dewasa. Memasuki ruangan aquarium masih sepi, ya mungkin karena masih pagi banget bahkan sebagian lampu pun belum dihidupkan. Di bagian depan terdapat keterangan ekosistem di Thailand selatan, lalu di dinding terdapat entah replika atau asli ikan yang diawetkan gitu, antara lain leopard shark, spotted guitarfish, udang berukuran besar dan ikan pari. Akuarium ini dibagi menjadi beberapa zona, antara lain zona A Freshwater fish, zona B Brackish fish, C marine fish dan terdapat satu tangki besar yang berisi aneka ikan (seperti di Sea World Ancol gitu dech). Kita bisa berjalan di bawah akuarium besar ini. Di jam-jam tertentu kita bisa nonton pertunjukan The Unseen Show. Dari Songkhla aquarium kami kembali ke Hatyai, nah dalam perjalanan kami singgah di beberapa spot wisata di kota Songkhla. Songkhla city wall Saat ini hanya tersisa tembok sepanjang 114 meter, tinggi 5.5 meter dengan ketebalan 4 meter. Sebagian besar bata dan batu dinding pun sudah digunakan untuk paving jalanan kota Songkhla. Di seberang Songkhla city wall ini terdapat Songkhla National Museum. Bangunan museum bergaya Chinese dengan dominasi warna putih dan merah. Sayangnya saat saya kesana museumnya sedang tutup. Jadi saya cuma berfoto-foto di depannya saja. Di bagian depan museum terdapat koleksi beberapa meriam tua, jangkar dan tiang kapal kali ya. Sebetulnya saya sempat googling kalau di Songkhla old town tedapat street art sejenis mural art gitu dech. Lalu sewaktu di pantai Samila saya sempat bilang ke driver songthaew (sambil nunjukin gambar dari google) untuk diantar ke lokasi street art di old town Songkhla. Drivernya bilang iya bisa nanti kita mampir dalam perjalanan menuju Hatyai. Tapi begitu pulang dari Songkhla city wall koq mobilnya jalan terus tau-tau sudah masuk jalan besar arah Hatyai. Gagal deh foto-foto di mural artnya Dalam cuaca panas terik songthaew menuju ke arah Hatyai Municipal Park. Hatyai municipal Park ini lokasinya sekitar 5 km di pinggiran kota Hatyai. Areanya luas banget berada di perbukitan gitu. Selain lokasi wisata juga merupakan tempat ibadah para pemeluk agama Budha. Saya tidak sempat main di lokasi taman-tamannya, jadi kami langsung menuju ke bagian paling atas bukit, ke kuil Four Faces Budha. Four Faces Budha Temple (San Phra Phrom) Begitu memasuki area ini dekat tempat parkir songthaew terdapat dua patung gajah berwarna emas di kiri dan kanan jalan. Naik sedikit ke bagian atas, terdapat patung gajah berkepala tiga disampingnya terdapat tangga dengan deretan lonceng besar di kiri kanannya. Memasuki area kuil, di bagian luar kuil four faces Budha terdapat banyak banget patung gajah berwarna emas. Di dalam kuil inilah terdapat patung four faces Budha, beberapa pemeluk agama Budha menyempatkan diri beribadah, bahkan disini terdapat para penari dan musik yang mengiringi selama ibadah. Di pelataran kuil terdapat patung dewa, tempat pembakaran kertas-kertas perlengkapan ibadah gitu dech (saya ga tau apa itu namanya), lalu ada juga penjual burung-burung kecil. Sepertinya burung-burung kecil ini dibeli untuk kemudian didoakan dan kemudian dilepaskan sebagai rangkaian ibadah. Oh ya disini terdapat stasiun cable car juga. Cable car ini menghubungkan antara kuil four faces Budha dengan kuil standing Budha. Bagi yang pengen nyoba bisa naik, tapi kalau saya sih kan sudah nyewa songthaew sih ga perlu lah, sayang duitnya. hahaha... Dari four faces Budha saya naik songthaew menuju ke kuil standing Budha. Nah sebelum sampai di Standing Budha Temple kami melewati bangunan Hatyai Planetarium. Standing Budha Temple (Phra Budha Mongkol Maharaj) Songthaew parkir di bagian depan kuil, lalu saya jalan kaki menuju ke bangunan kuil. Nah di samping kuil ini terdapat stasiun cable car yang terusan dari kuil Four Faces Budha tadi. Saya kemudian menuju ke halaman depan kuil, di area bagian tengah kuil terdapat patung Budha berdiri berwarna emas dengan ketinggian sekitar 20 meter. Berat patung ini sekitar 200 ton. Dari depan kuil ini kita bisa memandangi kota Hatyai, bahkan kita bisa melihat masjid besar Songkhla di sebelah kanan. Di depan kuil Standing Budha ini terdapat tangga turun menuju ke area Laughing Budha dan Patung Dewi Kuan Yin. Lumayan capek juga menuruni tangga lalu disambung jalan kaki di jalanan pavingblock gitu deh saya nggah ngeh, tapi karena menuruni bukit jadi jalan agak melingkar jadi saya pun ambil jalan pintas dengan menuruni tanah yang lumayan licin sambil pegangan pepohonan. Fat Laughing Budha Di sebelah kanan terdapat kuil pemujaan, lalu di bagian kiri terdapat patung Dewa dan diorama bergambar naga. Nah pas di ujung jalan terdapat patung Fat Laughing Budha. Berjalan agak ke depan akan tampak mulut naga raksasa yang sekaligus berfungsi sebagai jalan untuk menuju ke area Bodhisattva Kuan Yin. Di area ini terdapat beberapa patung disekitar bangungan utama. Sedangkan patung Dewi Kuan Yin berdiri di atas bangunan utama. Patung Dewi Kuan Yin berwarna putih menjulang setinggi 20 meter. Di sekeliling patung terdapat patung kecil-kecil berwarna putih juga. Setelah merasa cukup melihat-lihat saya kembali menuju kuil Standing Budha, dan kali ini harus menaiki anak tangga yang lumayan menguras tenaga. Entah berapa kali saya berhenti karena kelelahan. Ini efek karena penasaran dan ga baca review tentang lokasi tujuan. Tips: untuk lebih hemat tenaga tidak perlu menuruni/naik tangga yang di depan Standing Budha, kita bisa naik kendaraan sewaan kita untuk menuju ke area Patung Dewi Kuan Yin. Jadi setelah foto-foto di sekeliling Standing Budha, kita kembali ke kendaraan kemudian kendaraan akan menuruni bukit menuju area patung Dewi Kuan Yin. Hemat tenaga dech. Dari area Dewi Kuan Yin, kami menuju kota Hatyai. Siang itu udara lumayan panas membuat tenggorokan ikutan berasa kering dan haus. Sampai di kota Hatyai saya minta diturunkan di dekat Clock Tower. Ini dia Songthaew yang membawa kami half day tour Hatyai + Songkhla. Di dekat Clock Tower ini terdapat pasar dan saya pun sekalian mampir untuk makan siang. Tadaaa menu makan siangnya....yummyyyy Setelah selesai makan baru deh saya berkeliling di pasar sambil beli oleh-oleh kemudian naik tuktuk untuk pulang ke hotel. Sekitar jam 3 sore saya check out dari hotel kemudian menuju ke agen bus yang tak jauh dari hotel untuk menuju ke Kuala Lumpur.
  4. Kota Kinabalu - Malaysia

    Aq waktu itu rombongan skitar 40an orang, jd pake bus besar. Selama disana jarang lihat transportasi umum. Tp kalo dr bandara ke pusat kota sih ada bus semacam damri gitu. Mgkn utk ke obyek wisata bisa rental mobil, kalo yg dalam kota naik grab /taxi. Ga sampe dimakan sih, dipatokin doank. Tp kan sakit matoknya.
  5. Kota Kinabalu - Malaysia

    Hehehe itu batu es, jd keliatan spt cendol. Kalo di kotanya sih lumayan panas jg krn ditepi pantai. Iya blm sempat nih, ini aja pengen foto sama icon ikan di pusat kota kinabalu dan masjid kota kinabalu jg belum kesampaian. Ntar kapan2 pengen lagi ke Kota Kinabalu. Kalo fish spa yg ikannya kecil2 aq pernah nyobain di Blok M plaza dan Phuket. Lah kalo ini ikannya gede2 banget, ada yg segede lele dumbo. Hahaha.
  6. mungkin para imigran yang kerja disana, kalau di Malaysia para imigran ini ada bikin rumah di tanah kosong yang tidak terus.
  7. Kota Kinabalu atau biasa disebut KK dulunya dikenal dengan nama Jesselton. Maka tak heran jika pelabuhan tempat kami mendarat dari Labuan bernama Jesselton Point. Jesselton diambil dari nama gubernur dari Inggris yang pernah berkuasa disini yaitu Sir Charles Jessel. Oh ya, sewakatu kapal sudah mendekati pelabuhan dari dari atas kapal sudah tampak pemandangan yang menggugah selera, yaitu deretan tempat makan sea food di tepi laut. Hmmmm...jadi lapar. Meninggalkan pelabuhan Jesselton Point, bus berjalan melalui jalan yang berada di tepi pantai dimana sedang berlangsung pembangunan entah resort/mall. Tak lama kemudian kami memasuki wilayah Kota Kinabalu mulai tampak kemacetan di sepanjang jalan menuju ke hotel Winner, tempat kami menginap di daerah Jalan Pasar Baru – Kampung Air. Di bawah ini view dari hotel tempat saya menginap. Setelah check ini dan beberes, sekitar jam 7 malam kami keluar untuk makan malam di Pasar Malam Sinsuran. Pasar malam Sinsuran ini dekat dari penginapan kami jadi cukup berjalan kaki saja. Suasana pasar malam Sinsuran lumayan ramai pengunjung apalagi di jam makan malam seperti ini. Kedai makan lumayan berjubel. Aneka makanan bisa kita temukan disini, seperti: nasi campur, sea food, ayam panggang, ikan panggang, aneka camilan dan aneka minuman. Di Kota Kinabalu merasa sedikit lega karena makanan lumayan lebih murah dibandingkan di Brunei Darussalam. Beli cendol di Brunei Darussalam harganya $1, di Kota Kinabalu cendol harganya RM 1. Kalo di kurs rupiah harga cendol di Brunei 3x lipat harga cendol di Kota Kinabalu. Hahaha... Salah satu gerai tempat kami makan malam Sudah selesai makan, tapi masih lapar mata, jadi jajan chicken wing dulu deh. Bagi yang mau shopping di sepanjang perjalanan dari Pasar Malam Sinsuran menuju hotel tempat kami menginap juga ada pasar malam yang menjual pakaian, aksesories dll. Hari kedua Setelah sarapan pagi kami pun berangkat menuju obyek wisata di kawasan luar Kota Kinabalu. Sekitar 1,5 jam perjalanan melintasi jalan yang menanjak, sampailah kami di Pekan Nabalu, Kota Belud. Ini merupakan salah satu spot untuk melihat gunung Kinabalu. Tapi sayang sekali sewaktu kami sampai lokasi ternyata gunung Kinabalu tertutup kabut yang lumayan tebal. Belum rejeki dech… Seperti obyek wisata pada umumnya, disini terdapat banyak gerai yang menjual aneka camilan, buah-buahan dan cenderamata. Setelah menunggu beberapa saat ternyata kabutnya tak kunjung hilang. Jadi kami pun memilih untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Fish Spa di Sungai Moroli Tagal Sungai Moroli, Kampung Luanti Baru, Ranau ini merupakan pemenang Malaysia River Care Award 2006. Tagal dalam Bahasa Kadazan Dusun berarti “dilarang memancing” di aliran sungai Moroli. Sungai sepanjang 54 km ini dihuni oleh banyak ikan yang ukurannya lumayan besar. Untuk menjaga ekosistem sungai, maka penduduk dilarang memancing, menjala ataupun menangkap ikan sepanjang tahun. Hanya di bulan Mei penduduk diberi kesempatan untuk mengambil ikan dari sungai Moroli. Di lokasi ini kita bisa fish spa langsung masuk ke dalam aliran sungai. Tetapi sayangnya saat itu air sungai sedang keruh karena tadi malam hujan. Untuk keselamatan pengunjung, aliran sungai dikasih pita pembatas agar pengunjung tetap berada di tepian sungai. Sebelum masuk ke aliran sungai kita bisa membeli pakan ikan terlebih dahulu. Jadi nanti begitu masuk ke dalam air sungai kita bisa taburkan pakan ikan di dekat kaki kita, maka ikan akan bergerombol di sekitar kaki. Nah disaat itu ikan juga akan mematuk kaki…hiiii geliii…. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah kita dilarang memegang ikan ataupun mengangkat ikan keluar dari air. Sudah cukup ber-fish spa? Saatnya istirahat dengan menikmati camilan cempedak goreng,pisang goreng ataupun aneka durian yang di jual di kedai bagian depan fish spa. Harga durian mulai dari RM 6/kg. Dari Tagal, Kampung Luanti Baru kami melanjutkan perjalanan menuju Dataran Sayur Kundasang. Dataran Sayur Kundasang Kundasang adalah sebuah kota di distrik Ranau, Sabah. Kawasan ini dihuni oleh suku dusun asli yang merupakan salah satu kelompok penduduk asli Sabah. Daerah ini meliputi daerah pegunungan dan lembah dengan panorama yang indah. Selain itu Kundasang juga merupakan penghasil sayuran dan buah-buahan. Kita bisa membeli hasil pertanian warga Kundasang di Dataran Sayur Kundasang. Dataran sayur Kundasang ini kalau di Indonesia mirip lah seperti pasar buah dan sayur Brastagi. Dataran sayur Kundasang terletak di pertigaan jalan, menempati area yang lumayan luas. Disini terdapat ratusan gerai yang menjual aneka sayuran dan buah-buahan. Jadi jangan heran kalau kita bakalan lapar mata ketika melihat aneka buah-buahan disini. Saya pun membeli aneka buah potong dan durian mini yang dalamnya berwarna kuning agak orens gitu. Di pertigaan jalan dan jalan lingkar yang tak jauh dari dataran sayur Kundasang terdapat dua icon sawi putih dan kol bulat sebagai symbol daerah ini merupakan daerah penghasil sayuran. Mirip di Brastagi juga sih ini. Hehehe… Sebetulanya di daerah Mesilau, Kundasang juga terdapat Desa Dairy Farm (peternakan sapi perah), tapi kami saat itu tidak berkunjung kesana. Dari Dataran Sayur Kundasang kami langsung kembali menuju Kota Kinabalu dan ternyata sepanjang perjalanan menuruni pegunungan Kinabalu cuaca hujan lebat. Kami akhirnya sampai di Kota Kinabalu sudah menjelang malam. Hari ketiga Setelah sarapan pagi, merupakan waktunya free and easy. Saya berjalan-jalan di Sunday morning market lorong Pasar Baru yang berada di belakang hotel Winner, isinya ya para pelapak yang berjualan pakaian bekas / baru dan aneka aksesories. Dari sini saya berjalan menuju daerah Pasar Besar Kinabalu, saya masuk ke mall yang berlokasi di seberang Pasar Besar Kinabalu, karena masih pagi jadi belum banyak kedai yang buka, disini saya pun hanya melihat-lihat ke salah satu kedai yang menjual produk aksesories mutiara laut. Harganya lumayan mahal sih, jadi saya pun cuma melihat-lihat saja. Keluar dari mall ini saya berjalan menuju ke food court Pasar Besar Kota Kinabalu, food court terletak di lantai 2. Pasar ini merupakan pasar basah (seperti pasar inpres gitu kalau di Indonesia) menjual aneka sayuran dan kebutuhan sehari-hari. Dan di bagian belakang pasar ini juga pasar ikan jadi jangan heran kalau disini suasananya ya bau amis ikan. Hehehe… Walaupun begitu saya sempat memesan ABC (air buah campur) semacam es buah gitu deh. Ya ampun satu mangkuk isinya banyak banget, saya sampe ga habis. Dari Pasar Besar Kinabalu kita bisa berjalan ke arah kiri, disini terdapat Philipino Market. Di pasar ini dijual aneka ikan asin, garam dan produk hasil laut lainnya. Walaupun begitu ada yang jual pakaian dan cendera mata juga koq. Dari Philpino Market saya langsung kembali ke hotel untuk bersiap-siap check out. Setelah check out dari hotel kami makan siang di salah satu restaurant dalam perjalanan menuju ke Masjid Negeri Sabah untuk sholat Dzuhur. Masjid Negeri Sabah Masjid ini terletak di Jalan Tunku Abdul Rahman, Sembulan, Kota Kinabalu. Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1970 dan selesai sepenuhnya pada tahun 1975. Struktur bangunan masjid ini merupakan perpaduan konsep timur tengah dan modern. Kubahnya yang megah berdesain pola sarang lebah berwarna keemasan menandakan kecemerlangan Islam di negeri Sabah. Di bagian kiri dan kanan terdapat 16 tiang berkubah kecil berwarna emas. Di lilitan setiap tiang ini dihiasi dengan potongan ayat suci Al Quran dengan tinta warna emas. Masjid ini memiliki satu menara setingi 215 kaki yang konsepnya diilhami oleh masjid di Istanbul dan Isfahan, melambangkan ketinggian dan kemuliaan Islam. Masjid Negeri Sabah Masjid ini mempunyai serambi yang luas sehingga mampu memuat sekitar lima ribu jamaah. Tempat sholat perempuan terletak di lantai dua, bisa memuat hingga lima ratus jamaah. Masjid ini juga menyediakan ruangan untuk memandikan jenazah (masih jarang kita temui di Indonesia). Masjid Negeri Sabah ini memiliki halaman dan area parkir yang luas, dan ketika saya berkunjung kesana di bagian belakang masjid sedang ada pembangunan (mungkin) sarana pendukung masjid. Setelah selesai sholat Dzhuhur di Masjid Negeri Sabah untuk mengisi waktu sebelum menuju Bandara Kota Kinabalu, kami mampir ke Imago. IMAGO Shopping Mall Imago the mall terletak di KK Times Square, merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Kota Kinabalu. Disini terdapat outlet produk-produk fashion branded dan restaurant franchise. Makanya tak heran jika banyak warga Brunei Darussalam yang datang ke Kota Kinabalu untuk shopping, khususnya di musim liburan sekolah atau ketika mall-mall mengadakan great sale karena tentu saja harganya lebih murah dibandingkan di Brunei. Disini juga terdapat kedai yang menjual oleh-oleh dan cenderamata. Waktu itu saya membeli magnet kulkas harga RM 4/pcs. Di lantai lower ground juga terdapat foodcourt, harganya lumayan ramah di kantong. Ketika saya kesini, sedang ada pertunjukan Kulintangan. Para penari juga mengajak pengunjung untuk memainkan kulintangan. Saya menonton sampai pertunjukan selesai, kemudian di akhir pertunjukan ikut berfoto dengan salah satu penarinya. Sekitar jam empat sore kami meninggalkan imago untuk kemudian menuju ke Bandara Kota Kinabalu. Oh ya, kalau cuaca cerah Gunung Kinabalu bisa terlihat dari bagian depan Bandara lho. Flight saya sebetulnya jam 8 malam, tetapi akhirnya pesawat kena delay sampai jam setengah sebelas malam, sepertinya dikarekan terjadi masalah teknis dengan pesawatnya. Jadi kami tiba di Kuala Lumpur sekitar jam setengah satu pagi. PS: Sebetulnya masih banyak lagi obyek wisata di Kota Kinabalu, tapi sayang karena keterbatasan waktu jadi belum sempat expolore pulau-pulau cantiknya. Bahkan saya pun belum sempat explore kotanya. Semoga suatu saat nanti ada kesempatan untuk kembali ke Kota Kinabalu.
  8. Haram = illegal, alias rumah liar.
  9. Tapiii, di belakang hotel aq nginep, ada juga rumah dari papan kayu/seperti bedeng gitu, di antara semak2. Mungkinkah mereka para pendatang haram?
  10. Iya rata2 warganya punya mobil sendiri, trus jarang banget lihat motor di jalanan, pernah lihat motor 1x itupun model motor sport gitu.
  11. Iya itu masjid paling populer di Brunei selain masjid jamee asr hasanal bolkiah.
  12. Melanjutkan tulisan sebelumnya setelah dua hari di Brunei, kami akan melanjutkan perjalanan ke Kota Kinabalu (Malaysia). Pagi-pagi kami sudah bersiap-siap untuk check out hotel kemudian kami menuju ke Terminal Feri Serasa di Muara. Jarak menuju ke Terminal Feri Serasa sekitar 25 km, ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit. Oh ya,selain terminal ferry penumpang disini juga terdapat terminal peti kemas, jadi selama perjalanan kita akan sering berpapasan dengan truck container sehingga perjalanan jadi agak lambat. Ketika kami sampai terminal feri Serasa karena bus yang kami sewa ukuran besar jadi tidak bisa masuk ke halaman terminal, terpaksa deh kami turun di depan pintu gerbang dan membawa koper masing-masing. Karena tidak sempat sarapan di hotel maka kami pun akhirnya sarapan di cafe yang berada di sebelah pintu kedatangan terminal feri Serasa. Note: Kalau mau naik transportasi umum /bus dari Bandar Seri Begawan bisa naik bus nomer 39 menuju ke Terminal Muara, lalu dari Terminal Muara lanjut naik bus nomer 33 menuju Terminal Feri Serasa. Ongkos bus $1 per trip. Sekitar jam 9 kami bersiap untuk masuk ke dalam ferry. Oh ya untuk masuk ke dalam ferry ini kita melewati imigrasi Brunei secara kami akan melakukan perjalanan menuju ke Labuan (Malaysia) yang kemudian dilanjutkan ke Kota Kinabalu. Saat itu imigrasi lengang karena hanya ada satu ferry yang akan berangkat. Setiap penumpang disuruh buka koper untuk dilihat isinya satu persatu, segala tempat kosmetik, underware organizer, handbag, semua diperiksa. Mungkin juga dikarenakan disini tidak ada mesin x-ray. Setelah selesai proses imigrasi kami pun menuju ke dermaga ferry. Kami menaiki Ferry Shuttle Hope untuk menuju Labuan. Awak kapal akan menyambut kita dan menanyakan barang bawaan akan dibawa naik atau ditinggal di bawah saja? Kalau di tinggal dibawah makan petugas akan menempatkan koper kita di bagian ujung kapal dekat pintu turun dari kapal ferry. Setelah menyerahkan koper, saya naik ke lantai dua ferry. Harga ket ferry Shuttle Hope adalah $15/orang dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 40 menit. Saya memilih duduk di dalam ruangan ber-AC di lantai 2 dan ternyata ACnya dinginnya minta ampun. Oh ya sebelum ferry berlayar, di TV ditayangkan doa naik kapal terlebih dahulu. Mungkin ini sudah menjadi SOP Brunei Ferry ya, biar perjalanannya aman dan lancar. Begitu ferry sudah berlayar dari atas ferry kita bisa menikmnati angin sepoi-sepoi di geladak atau bisa juga duduk manis di ruang utama sambil nonton film box office yang diputar di TV. Di dalam ferry juga terdapai kedai makanan, kalau lapar bisa beli snack dan minuman. Di kapal ini juga terdapat toilet yang lumayan bersih, di lantai dua bagian belakang kapal. Seteleh beberapa saat kapal berlayar kita akan menyaksikan pemandangan begitu banyak kilang minyak di lautan Brunei, gimana negara ini ga kaya ya, itu kilang minyak di laut banyak bangeett. Saya juga melihat beberapa kapal besar yang dilengkapi dengan alat berat atau crane serta helipad. Baru kali ini saya lihat kapal segede itu. Hahaha… Sekitar jam 11an, kapal ferry sudah mendekati dermaga Labuan. Dari atas ferry sudah kelihatan deh gedung terminal ferry wilayah persekutuan Labuan. Setelah turun dari kapal ferry kami langsung menuju ke gedung terminal ferry lalu menuju ke mesin x-ray untuk scan barang bawaan kita kemudian menuju counter imigrasi Malaysia untuk chop paspor. Setelah selesai chop paspor kami berjalan menuju ke rumah makan untuk makan siang. Kami makan di rumah makan yang berada di depan Terminal Feri Antarbangsa Labuan sekitar 300 meter kali kami berjalan di bawah rintik hujan. Setelah selesai makan kami segera menuju ke Terminal Feri Antarbangsa Labuan. Terminal ferry Labuan ini lumayan ramai, di bagian depan terdapat banyak stand yang menjual aneka barang dan souvenier. Karena sudah dekat dengan jadwal keberangkatan kapal, jadi kami tak perlu menunggu di boarding room, kami langsung menuju ke kapal yang sudah bersandar di dermaga. Kami naik kapal LBN Express Tiga untuk tujuan ke Kota Kinabalu, kapal ini mempunyai dua kelas, yaitu kelas ekonomi dan kelas eksekutif. Untuk kelas eksekutif harga tiket RM 44/orang. Perjalanan menuju Kota Kinabalu memakan waktu sekitar 3,5 jam. Jadi bisa tidur dulu deh di dalam kapal, karena ini kapalnya seperti speed boat jadi kita ga bisa berdiri di geladak kapal, cukup menikmati pemandangan dari balik jendela saja. Tapi kalau kita duduk di kelas ekonomi, ga bisa deh lihat pemandangan luar karena posisi berada di lantai bawah. Sekitar jam setengah lima, akhirnya sampailah kami di terminal ferry Jesselton Point. Setelah semua peserta sudah turun dari kapal ferry kami pun segera keluar terminal. Rupanya bus sudah menunggu kami di sebelah kanan pintu keluar Jesselton point, setelah semua peserta naik bus, kami pun berangkat untuk menuju hotel tempat kami menginap di kawasan Lorong Pasar Baru, Kampung Air. **Sebetulnya bisa juga naik bus dari Bandar Seri Begawan menuju Kota Kinabalu, tetapi jadwal keberangkatannya hanya satu kali setiap harinya yaitu sekitar jam 8 pagi. Lama perjalanan sekitar 8 jam (kalau ga salah ya). Kalau ada budget lebih ya paling cepat naik pesawat. Hehehe...
  13. Iya di Brunei serba mahal. Hotel jubilee harga publish skitar $95/night, tapi grupku dpt harga $75/night (kalo ga salah Ingat). Makan skitar $ 3-5 setiap kali makan. Kalo tarif bus umum disana skitar $1. tp kayaknya busnya dikit dan jarak antar busnya lama, ato malah cuma ada di jam2 tertentu.
  14. Ho oh, blm puas foto2 di masjid itu euy, blm sempat lihat dalam masjidnya jg.