Sari Suwito

Members
  • Content count

    2,981
  • Joined

  • Last visited

  • Days Won

    23

Everything posted by Sari Suwito

  1. Hallo…Hallooo Bandung… #eh maksudnya halloo Jalan2ers Ini adalah tahun ketiga Jalan2.com Regional Jabodetabek mengadakan Amazing Race, dua kali Amazing Race terdahulu diadakan di Jakarta, namun untuk kali ini Amazing Race-nya lebih menantang dikarenakan kali ini mengambil lokasi Amazing Race di Bandung. Acara berlangsung pada tanggal 12-13 Maret 2016, untuk amazing race-nya hanya pada tanggal 12 Maret, sedangakan di tanggal 13 Maret acaranya ke Tahua Juanda sebelum balik ke Jakarta. Kami berkumpul di meeting point di sekitar Menara Bidakara Jakarta, untuk peserta yang dari Bekasi dan Bandung, langsung menuju meeting point di Jalan Surapati dekat Gedung Telkom Bandung. Kami berangkat sekitar pukul 8 tapi ada sedikit trouble ternyata tiba-tiba mobil bermasalah dan mengeluarkan bau seperti bau karet terbakar, jadi kami berhenti dulu di km 54, pak sopir bekerja keras untuk mengatasi masalah. Akhirnya sekitar satu jam masalah bisa diatasi, walaupun efeknya AC jadi ga berasa dingin, ya sudah kami lanjut aja yang penting perjalanan lancar sampai Bandung. Sekitar jam dua belasan kami sampai di meeting point dan ternyata dua peserta juga sudah menunggu, total peserta jadi ada tiga belas orang. Selanjutnya kami dibagi menjadi empat team, saya masuk dalam team satu bersama Rahma dan Indra. Semua peserta diwajibkan untuk mengumpulkan dompet dan isinya (alat pembayaran) kepada panitia, peserta hanya diperbolehkan membawa alat komunikasi, alat tulis, dan barang yang diperlukan dalam canvas bag (goodie bag dari panitia). Selanjutnya panitia membagikan amplop yang berisi uang senilai 105ribu untuk keperluan transportasi dan makan siang, kertas halaman pertama clue yang harus kami pecahkan dan kertas petisi sosialisi Indonesia Bebas Sampah 2020. Kami mendapat tugas untuk mensosialisasikan petisi Indonesia Bebas Sampah 2020 yang dilengkapi dengan ditandatangani oleh penduduk sekitar yang sudah mendapat sosialisasi dari kami. Panitia juga membagikan kantong sampah untuk menampung sampah yang tidak dibuang pada tempatnya sepanjang perjalanan PVJ Amazing Race. Kami membagi tugas, saya berperan jadi bendahara, Rahma berperan sebagai pemegang social media yang foto dan upload foto selfie ke twitter, Indra yang mencari jalan untuk menuju ke destinasi sesuai clue. Setelah kami membaca clue dan menemukan jawaban clue pertama yaitu Gedung Sate, kami langsung menuju ke lokasi dan tak lupa untuk foto groufie. Setelah berfoto kami menuju clue kedua yaitu Museum Pos Indonesia, setelah bertanya rute jalan menuju ke Museum Pos Indonesia kepada satpan yang berada di depan Gedung Sate kami langsung berjalan menuju lokasi tersebut. Dalam perjalanan kami menemukan sampah yang tidak dibuang pada tempatnya, jadi pungut sampah in action lah. Kami lanjut lagi berjalan menuju Museum Pos Indonesia, sepanjang jalan rupanya banyak tukan jajajan, waduuh pengen jajan juga, tapi masa baru dapet selesai dua clue udah mau makan aja, ya udah ga jadi makan siang, langsung aja dech groufie dari seberang jalannya aja. Nah, untuk clue ketiga kata-katanya berupa (kaki tiga, set preman pensiun), Indra dengan yakin menyebutkan bahwa itu adalah Monumen Perjuangan Bandung. Dari seberang Museum Pos Indonesia kami berjalan menuju Monumen Perjuangan tersebut. Dalam perjalanan kami menjumpai bapak-bapak yang sedang duduk sambil merokok di pinggir jalan, sebenernya ada dua orang lagi tak jauh dari tempat bapak itu duduk, nah ini yang jadi target sosialisasi Indonesia Bebas Sampah, tapi begitu kami mendekat ternyata bapak yang dua orang beranjak pergi, jadilah kami sosialisasi ke bapak yang sedang merokok tersebut, lalu minta dia untuk tanda tangan petisi. Setelah itu kami lanjut berjalan menuju Monumen Perjuangan, rupanya gerbang di bagian belakang dikunci jadi kami harus berjalan memutar arah menuju pintu bagian depan, nah sepanjang jalan ini kami juga memungut sampah yang dibuang sembarangan dipinggir jalan. Akhirnya sampailah kami di gerbang depan Monumen Perjuangan, sekalian numpang ke toiletnya, setelah selesai dari toilet kami lanjut masuk ke area Monumen Perjuangan dan berfoto di depannya. Cekrek..cekrek… Disini kami tak menemukan panitia, mungkinkan panitianya ngumpet? Kami pun berkeliling monumen tapi tak ketemu juga, akhirnya kami pun menyerah lalu keluar dari monumen dan berjalan menuju ke arah meeting point tadi dimana disana masih terdapat mobil ELF kami yang masih terparkir. Kali ini kami bertanya jalan lain untuk keluar dari area monumen ini, akhirnya kami lewat jalan kecil yang berada di luar tembok pagar monument, di luar pagar ternyata banyak yang jual makanan, Rahma yang merasa lapar pun jadi pengen berhenti makan nasi ayam goreng, tapi clue ketiga belum terpecahkan jadi gimana donk? Ya sudah makannya di pending dulu, kami berjalan menuju ke mobil ELF yang terparkir, kami tengok ke dalam ga ada panitia pun. Nah lhoo…ada dimana panitianya? Kami pun akhirnya memutuskan balik lagi ke lokasi Monumen Perjuangan, sewaktu jalan tadi kata Indra dia lihat ada dua orang cewek duduk di taman seberang monument, mungkinkan itu panitia? Ya sudah yuk kita balik aja kesana lihat…nah sebelum balik ke taman, kami berhenti untuk makan siang, karena saya sudah makan nasi dalam perjalanan ke Bandung jadi saya ga pesan makanan, saya hanya pesan es teh manis, sementara Rahma dan Indra pesan nasi+lauk+minum. Sambil menunggu pesanan datang, Indra balik ke taman untuk melihat apakah itu panitia, tapi Indra kemudian balik dan bilang katanya sewaktu Indra mendekat kedua cewek tadi memalingkan muka gitu tapi bajunya beda dengan panitia. Lah trus…dimana panitianya? Ya sudah kami makan dulu, nanti setelah selesai makan kita bareng-bareng ke taman lagi lihat apakah mereka panitia atau bukan. Setelah selesai makan, saatnya saya untuk membayar makan-minum kami, ternyata seharga 31ribu. Okey, kami lalu lanjut ke taman di depan Monumen Perjuangan, kami berpencar dari sisi kiri dan kanan taman, namun ternyata kami tidak menemukan panitia juga disini…haduuh kayaknya salah lokasi ini mah. Jam 3.27 cek WA ternyata ada WA dari panitia: “ Udah pada dimana nih? Clue selanjutnya gak mau diambil nich? Tim kami pun menjawab: “Makan dulu…tadi muter2 cari panitia ga nemu euy”. Panitia : Yakin tempatnya bener? Udah dari tadi nunggunya. Tim kami : Yakin…sudah posting koq clue 3. Kecuali salah persepsi untuk clue nya. Hahhaa.. Tak lama kemudia tim lain pun menyahut bahwa mereka juga tak menemukan panitia di lokasi yang mereka datangi. Setelah kami kebingungan dengan jawaban clue ketiga akhirnya panitia memposting clue tambahan. Wah ternyata kami pun tak tau itu lokasinya dimana…akhirnya kami pun mencoba bertanya ke beberapa orang yang berada di taman seberang Monumen Perjuangan, awalnya tidak ada yang tau dimana lokasi gambar tersebut akhirnya ada orang yang menjawab itu lokasinya di taman lansia. Langsung dech kami segera keluar dari taman Monumen dan berjalan menuju Taman Lansia, kami pun beberapa kali bertanya arah untuk menuju ke taman lansia, oh ya Rahma juga cek rute ke Taman Lansia lewat google map, dan ternyata kami memilih jalan yang berbelok-belok lewat perkampungan, taman kecil, dan kami pun bertanya lagi ke beberapa penjual makanan, akhirnya dikasih jawaban bisa short cut dari pintu belakang Museum Geologi, kami pun mendekati satpam pintu belakang Museum Geologi dan ditunjukkan arah untuk menuju Taman Lansia. Pas cek WA ternyata ada clue tambahan lagi.. Sekitar jam empat sore, akhirnya kami menemukan lokasi Taman Lansia dan ternyata gerimis mulai deras, kami berputar-putar di dalam Taman Lansia tapii tidak juga menemukan panitia. Haduuuh…dimanakah mereka gerangan? Begitu cek di group whatsapp, rupanya panitia neduh di Kedai Yogurt, jadilah kami pun akhirnya menuju kedai Yogurt dan menemukan panitia. Yeayyyy…. Syarat untuk mendapatkan lembaran kedua clue berikutnya adalah dengan menjawab tugas dari panitia yaitu menuliskan sepuluh nama jalan yang memakai minimal empat huruf yang sudah ditentukan oleh panitia. Kami pun akhirnya menemukan sepuluh nama jalan tersebut, setelah dicek oleh panitia dan jawaban ternyata sudah benar maka kami mendapatkan lembar kedua yang berisi clue empat lokasi berikutnya, dari clue yang kami baca kami menyimpulkan jawaban adalah: Clue 1: Museum Geologi Clue 2: Alun-Alun Bandung Clue 3: Gedung Merdeka Clue 4: Taman Ganesha ITB Dalam gerimis kami berjalan menuju Museum Geologi yang lokasinya tak jauh dari kedai Yoghurt seberang taman Lansia, begitu masuk satpam memberitahu kalau museum sudah tutup, kami jawab Cuma mau foto di luarnya aja koq pak. Oh ya dalam clue lokasi ini adalah purba, berbentuk lumba-lumba, 20-30 juta tahun. Nah lho…saya pun mencari-cari dimana lumba-lumbanya…pertama kali yang saya lihat adalah fosil kayu, tapi sayangnya saya tak membaca informasi dibawahnya jadi saya pun beralih ke koleksi lain di depan museum yang ternyata kebanyakan berbentuk batuan seperti prasasti dan patung, sampailah di bagian depan pintu museum terdapat patung seperti lumba-lumba berwarna hitam tinggi menjulang, tapi saya baca keterangannya ga ada tertulis kata lumba-lumba. Waduuh yang mana donk ya…akhirnya kami pun selfie dengan background tulisan Museum Geologi dan patung batu hitam tersebut (yang awalnya kami sangka itu patung lumba-lumba). Waktu sudah semakin sore dan kami pun memutuskan untuk sholat dulu sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke clue berikutnya, dan ternyata sebelum bergerak menuju masjid Museum Geologi, Indra menemukan tulisan lumba-lumba di keterangan fosil kayu tadi. Huaaaa….ternyata saya tidak teliti sewaktu membaca keterangan fosil kayu tadiii… Ya udah akhirnya foto dulu dech di depan fosil kayu…lalu menuju masjid untuk sholat. Jam 5.07 hujan turun semakin deras, kami pun jadi galau gimana melanjutkan perjalanan nanti, akhirnya whatsapp ke panitia, “Jadi gimana nich lanjut ato gimana…hujan, geludug, kilat menyambar2” Hahahaha…kami mulai hopeless. #lebayyy Lalu panitia menjawab; “tungguin reda aja dlu mba” Saya pun menjawab: “Okay, kalo hujan ga reda langsung ke villa yaks…tolong bayarin taxinya yaks. Sampah masih dibawa2 nich ya? Ribet juga euy, dibuang boleh ga? Panitia pun menjawab: “Bawa sampe clue terakhir mba..tapi udah d ikat yah”. ----- OK fine, kantong sampah pun tetap kami bawa… Untuk ke clue berikutnya adalah Alun-Alun Bandung, bagaimana kita menuju kesana? Kami pun akhirnya menghampiri pos satpam museum Geologi, kami menanyakan rute angkot untuk menuju alun-alun Bandung, dari pos satpam kami menyeberang jalan, dan kami memutuskan untuk mencoba cari tumpangan terlebih dahulu, Indra mengacungkan jempol ke mobil yang lewat, Rahma memegah kertas yang bertuliskan NUMPANG, saya memegang kertas yang bertuliskan ALUN-ALUN. Ternyata dari sekian banyak mobil yang lewat ga ada satupun yang memberi tumpangan kepada kami, akhirnya setelah beberapa angkot jurusan ledeng lewat akhirnya kami pun memutuskan untuk naik angkot saja. Sesuai info dari satpam museum, kami pun berhenti di dukomsel dan lanjut mencari angkot jurusan kalapa. Akhirnya dalam guyuran hujan dan macet angkot pun akhirnya sampai di kalapa, kami langsung turun dan berjalan kaki menuju alun-alun Bandung. Pas adzan maghrib kami sampai di alun-alun, clue meminta kami untuk groufie di atas rumput sintetis tapi berhubung kondisi hujan dan tidak memungkinkan jadi kami foto kaki yang menginjak rumput sintesis aja dech. Maaf ya pak walkot kami ga melepas alas kaki. Dari alun-alun Bandung kami berjalan kaki menuju gedung Merdeka, kami bingung dengan clue dinding bercerita…ini maksudnya yang mana ya…yang ada tulisan negara-negara KAA atau yang di dinding jembatan penyeberangan. Ya sudah kita foto di dua-duanya aja dech. Selesai groufie kami cari tahu bagaimana cara untuk menuju ke clue berikutnya yaitu Taman Ganesha ITB, kami pun akhirnya menuju halte alun-alun Bandung, dan bertanya ke timer yang ada di halte ini, orang pertama yang kami tanyai menjawab kami bisa naik angkot jurusan sukasari, tapi ternyata sampai lama menunggu tak kunjung datang juga angkotnya. Saya pun mulai galau, waktu mulai malam, sementara team lain sudah sampai ke clue terakhir. Akhirnya saya tanya ke timer yang lain dan dijelaskan kami bisa naik angkot jurusan gede bage lalu turun di perempatan jalan sunda lalu naik angkot jurusan dago. Timer pun menginformasikan ongkos naik angkot jurusan gede bage 6ribu rupiah untuk tiga orang, tapi tak lama kemudian dia pun menghampiri kami dan meralat jumlah ongkos angkot menjadi tujuh ribu lima ratus rupiah. Ya sudah baiklah…kami pun masih menunggu angkot jurusan gede bage tersebut tak kunjung datang juga. Akhirnya…datang juga angkot jurusan gede bage, kami pun segera naik angkot dan tak lupa bilang minta diturunkan di perempatan jalan sunda. Setelah melewati beberapa perempatan sampailah kami di perempatan jalan sunda, nah disini mulai bingung lagi angkot jurusan dago datangnya dari mana? Kami coba untuk stay aja di sisi kiri perempatan tempat kami diturunkan tadi, ternyata tak berapa lama datang juga angkot jurusan dago. Haduuuuh…ternyata jalanan maceeett… hari sudah mulai malam dan team lain juga sudah pada sampai. Akhirnya jam 6.50pm panitia pun WA: 2 kelompok lg mana nich? Panitia menginformasikan agar kami jalan kea rah sabuga lewat jalan raya jangan lewat dalam ITB. Sementara itu team kami masih di dalam angkot menuju ITB dari arah dago, panitia akhirnya bilang kami tunggu aja di depan warung pasta ganeca. Nah disini kami bertemu dengan timnya Andi, Susan dan Mala. Akhirnya kami menunggu mobil ELF di depan warpas Ganeca, tak lama kemudian datang juga mobil ELF dan dua tim langsung naik ke mobil untuk menuju villa di daerah dago pakar. Sampai di villa kami bebas memilih kamar dengan kuota tiga orang per kamar. Saya, Rahma dan Stephanie dapat kamar di lantai basement. Awalnya ada tiga orang (Rara, Susan dan siapa ya lagi satunya) ada di kamar lain, tapi kemudian mereka pindah ke kamar yang lantai satu jadilah hanya kami bertiga yang menghuni lantai basement. Ya sudah kami langsung aja taruh barang bawaan, lalu mandi, sholat dan makan malam. Setelah selesai makan malam, saatnya kami berkumpul di ruang tamu yang berada di lantai satu untuk sesi perkenalan, pengumuman pemenang dan kuis berhadiah. Setelah panitia berembug dari aspek ketepatan waktu, lokasi clue yang tepat dan jumlah sisa uang maka panitia menetapkan team kami (team 1) sebagai juara ketiga dengan sisa uang 33ribu. Yeayyy… #juaraketigadariempatpeserta Sekitar jam dua belas kami kami kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat. Oh ya, saking capeknya saya langsung tertidur pulas sampe ga denger adzan subuh, jadi terlambat sholat subuh dech. Selesai sholat subuh saya langsung mandi kemudian packing barang bawaan, lalu saya dan Stephanie jalan-jalan pagi di sekitar villa. Sehabis jalan-jalan pagi, kami ngobrol-ngobrol dengan teman teman lain kemudian sarapan. Menurut run down acara harusnya jam delapan kami menuju Tahura Juanda, tapi ternyata teman-teman banyak yang belum beres jadi sekitar jam sebelasan baru dech kami check out dan langsung menuju Tahura. Sebelum check out kami foto dulu di depan villa. Kami diberi waktu untuk berjalan-jalan di tahura sampai jam 12.30. So saya dan rahma berniat untuk pergi ke Tebing Keraton, tapi setelah tanya-tanya ke tukang parkir di dalam Tahura waktu tempuh bisa satu jam lebih kami pun akhirnya mengurungkan niat untuk ke Tebing Keraton dan memilih untuk ke Goa Jepang saja. Dalam perjalanan ke Goa Jepang ternyata kami ketemu teman-teman yang lain akhirnya kami bergabung dech, bareng-bareng masuk ke Goa Jepang. Setelah foto-foto di sekitar Goa Jepang, sekitar jam 12.10 kami kembali ke pintu gerbang dan ternyata teman-teman lain banyak yang belum balik malah ada yang pergi ke Goa Belanda waah itu mah lebih jauh dan pasti sampenya masih lama. Akhirnya panitia mengundang kami untuk ke Café Armor Kopi karena mereka beli cireng dan ga bisa habisin…ya udah kami serbu dech cirengnya. Hahaha… Jam sudah hampir setengah satu tapi teman-teman yang ke Goa Belanda ternyata belum balik juga, jadi sambil menunggu mereka saya sholat aja dulu di mushola yang berada di bagian belakang Armor Kopi. Sekitar jam satuan akhirnya kami meninggalkan Tahura untuk makan siang di Cabe Hejo Natuna. Jalanan lumayan macet, tapi akhirnya sampailah kami di tempat makan dan tak lama kemudian kami pun dapat duduk dan menikmati makan siang kami. Setelah selesai makan siang, sekitar jam tiga kami berangkat menuju Jakarta dan mampir beli oleh-oleh di rest area km 97. Di km 57 saya lihat ada keTerjadi kemacetan mulai dari pintu masuk Cikarang Utama imbas dari kecelakan yang terjadi di km.22. Jam 8.20 kami sampai di sekitar pancoran saya dan vonny memutuskan untuk turun sebelum tugu pancoran saja, jadi lebih mudah untuk lanjut pulang ke rumah naik taksi. Sekitar jam 9 saya sudah sampai di rumah. Walaupun badan capek, lapar dan ngantuk, tapi happy banget karena sudah mengisi weekend ini dengan mengikuti keseruan Paris Van Java Amazing Race. Buat kalian yang belum pernah ikutan Amazing Race-nya Jalan2.com tunggu aja event berikutnya yaa…semoga Bupati Regional Jabodetabek ngadain lagii.
  2. Melanjutkan tulisan sebelumnya, dari Observatorium Bosscha saya melanjutkan perjalanan ke destinasi ketiga. 3. Kebun Begonia Setelah melewati De Ranch, driver tanya dimana alamat Kebun Begonia, untung saja saya sudah siapin catatan alamatnya, hasil googling sebelum pergi ke Bandung.Saya bilang lokasi Kebun Begonia berada di Jalan Raya Maribaya nomer 120A, samping toko bunga Rizal. Rupanya tak berapa lama kemudian sampailah kami di lokasi. Sambil nunggu antrian beli tiket masuk, saya foto-foto dulu dech. Harga tiket 20ribu dan kalau membawa kamera pocket atau digital dikenakan biaya 50ribu. Masih lebih murah dari TWA Mangrove Pantai Indah Kapuk sich (500ribu). Begitu memasuki Kebun Begonia anda kan langsung disambut oleh lautan bunga warna warna, wow cantik bangeeeett. Oh ya kalau cuaca sedang panas, teman-teman bisa juga meminjam topi anyaman yang tersedia di rak setelah pintu masuk, pinjam topi gratis koq. Hehehe... Kebun bunga begonia (Balinea) memiliki koleksi bunga begonia warna merah dan pink. Bunga begonia merupakan tanaman yang cocok untuk dataran rendah maupun dataran tinggi dengan bunga yang lebat di sepanjang musim. Selain bunga begonia juga terdapat banyak jenis bunga lainnya lho, seperti lavender berbagai warna, sejernis marny, morning glory, dll. Area kebun Begonia ga terlalu luas, tapi lumayanlah untuk foto-foto. Di bagian tengah kebun terdapat aneka bunga dilengkapi dengan properti yang unik untuk befoto, seperti bangku taman, gapura berbentuk hati, bahkan ada juga siput raksasa. Pilih aja spot foto sesukamu. Hehehe... Ada beberapa bangunan yang disediakan untuk acara gathering juga, lalu di bagian belakang ada taman kelinci, stand penjualan buah dan sayuran, dan ada juga kebun sayuran. Oh ya, sebelum masuk ke area kebun sayuran, saya melihat deretan kaktus yang tinggi menjulang, kayaknya sih punya kebon tetangga. Ya udah numpang foto dikit dech. Sebelum keluar dari taman bunga Begonia, saya beli es potong rasa sirsak dan anggur lumayan sambil istirahat dulu di salah satu gazebo. Di bagian luar kebun, di sebelah kantor juga terdapat bangunan yang berfungsi sebagai toko bibit dan benih tanaman, serta peralatan berkebun. Disini saya beli bibit bunga marny mixed isi 15 biji seharga tujuh belas ribu lima ratus. Ada juga dekorasi lucu berbentuk kucing nich...imut imut banget. Setelah selesai beli benih bunga, saya langsung melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. 4. Floating Market Lembang Lokasi di Jl. Grand Hotel No. 33 E, Lembang. Sekitar jam 12an saya sampai di floating market, rupanya parkiran sudah rame banget berarti di dalam juga sudah penuh orang nich. Tiket floating market seharga 20ribu bisa ditukarkan dengan segelas kopi tapi saya memilih untuk tidak menukarkan tiket dulu, nanti aja kalau sudah mau keluar baru dech minum kopi sambil istirahat. Dari pintu masuk saya langsung mengarah ke kanan, dan mulai dech cekrek cekrek di seputaran floating market. Di bagian kanan pintu masuk terdapat beberapa kedai yang menjual aneka souvenier, dan di bagian ujung terdapat taman-taman bermain untuk anak seperti taman kelinci. Sampai di ujung jalan, saya berjalan menuju ke area floating marketnya, disini perahu-perahu yang menjual aneka makanan berjajar di tepi dermaga. Wah makanannya banyak banget, jadi pengen jaja mulu. Berhubung jumlah kursi terbatas jadi agak susah juga untuk mencari tempat duduk disini. Berhubung perut sudah mulai lapar, tapi kursi pada penuh, akhirnya saya memilih untuk makan di Warung Ceret, sebelum pesan saya tukar dulu coin belanjanya kemudian saya ke counter untuk pesan paket nasi soto seharga 30ribuan. Taraaa....akhirnya pesanan saya datang...makan yuuuk... Setelah selesai makan saya lanjut mengitari floating market sambil sesekali berhenti untuk foto-foto. Pas jalan koq ada kerumunan rame-rame pas saya samperin ternyata ada anak-anak lagi kasih makan ikan emas, ya udah saya numpang mejeng dech dengan ikan-ikan. Di tepi danau ini juga terdapat gazebo yang bisa disewa, kalau ga salah 100ribu/2 jam. Ada juga semacam aula yang disewakan untuk acara gathering gitu. Iiih..ada rumput lucuu...numpang foto aaah... Tak terasa, saya berjalan tau-tau sudah sampai depan gedung ticketing, sebelum keluar saya sempatkan tuker tiket masuk dengan kopi panas lalu cari tempat duduk di samping bangunan ticketing. Setelah kopi habis, saya lalu keluar dan tampaklah di seberang ada bangunan Clothing Market…saya pun tergelitik untuk lihat-lihat apa yang dijual di dalamnya. Rupanya yang dijual disini baju-baju branded sisa ekspor, kualitas bahan juga bagus dan lumayan ada kemeja dan blouse dengan harga miring 50ribu/pcs. Pas selesai bayar saya lihat paper bagnya, rupanya ada tulisan Victoria Factory Outlet jalan Juanda. Hehehe… Sekitar jam 2 saya meninggalkan floating market untuk menuju destinasi berikutnya.
  3. Ho Chi Minh City merupakan kota yang berada di tepi Sungai Saigon. Selain sebagai jalur transportasi, sungai ini juga dimanfaatkan untuk wisata kuliner di restaurant yang berada di atas kapal. Pengunjung bisa menikmati makan malam diatas kapal menyusuri sungai Saigon selama 1 jam. Di sungai ini terdapat beberapa operator kapal, anda bisa membeli tiket cruise tentunya sesuai budget masing-masing...hehehe.. Loket penjualan tiket berada di depan dermaga kapal ini. Anda juga bisa memilih tiket untuk makan malam paket buffet atau ala carte dengan harga yang bervariasi. Pengunjung dipersilahkan masuk kapal mulai pukul 18.30, sedangkan kapal mulai berlayar pukul 20.30. Kapal Cruise 3 lantai Terlalu awal bagi kami untuk naik ke kapal....jadii masih sepiiiii... Paket dinner yang kami pesan..isinya banyakan sayurannya (Paket Hemat) :) Seafood dan sayuran siap dimasak Vietnam Coffee tissue basah dengan label special Sementara pengunjung dinner, musik live menyajikan alat musik tradisional Vietnam. Bahkan lagu asal Indonesia : Anak kambing saya dan Bengawan Solo pun dimainkan disini. Waah...saya jadi terharu sekaligus bangga. Setelah itu ada pertunjukan Fire dance yang dilakukan oleh gadis Vietnam lho...soo sexy :) Musik live Fire Dance Beberapa kapal cruise sedang berlayar tak jauh dari kapal yang kami tumpangi.. Setelah 1 jam berlayar di sungai Saigon, saatnya turun dari kapal.
  4. Lake Garden atau Taman Tasik Perdana ini luasnya sekitar 104 ha. Di taman ini Anda bisa pinkink, jogging, ataupun sekedar jalan-jalan menikmati udara segar di bawah rindangnya pepohonan. Di kawasan ini terdapat beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi diantaranya: Butterfly Park Sesuai dengan namanya taman Kupu-kupu maka di dalamnya berisi berbagai macam koleksi kupu-kupu, Taman Kupu-kupu juga disebut dengan Taman Rama-Rama (bahasa melayu). Disini juga ada museum kupu-kupu dimana anda bisa melihat berbagai macam insek, tarantula dan lain-lainnya yang sudah diawetkan. Di bagian belakang museum terdapat taman yang terdapat koleksi sekitar 6000 kupu-kupu dari sekitar 120 spesies dan 15000 jenis tanaman sebagai tempat hidupnya kupu-kupu. Kita bisa leluasa melihat kupu-kupu hinggap di bunga-bunga dan terbang kian kemari diantara rimbunnya pepohonan. Kalau anda datang pagi-pagi anda juga bisa melihat berbagai jenis kupu-kupu hinggap berkerumun diatas buah-buahan yang disediakan oleh petugas. Mungkin ini sebagai nutrisi untuk kupu-kupu yaa...selain hinggap di bunga-bunga yang mekar. Taman ini buka setiap hari dari jam 9 pagi s/d 18.00. Harga tiketnya untuk dewasa RM 18 dan untuk anak-anak RM 8. Biaya tambahan jika anda membawa kamera digital adalah RM 1 dan untuk kamera video RM 4. (kalau belum ada perubahan ya) Bird Park Setelah selesai melihat lihat di Butterfly Park Kuala Lumpur berikutnya saya melanjutkan berkunjung ke Kuala Lumpur Bird Park. Lokasinya tak jauh dari Butterfly park, masih dalam kawasan Lake Garden atau Taman Tasik Perdana. Masuk ke Bird Park hampir sama seperti kita masuk ke sebuah sarang burung dengan kubah raksasa. Kuala Lumpur Bird Park ini memiliki luas sekitar 21 are. Bird Park ini merupakan rumah bagi 3000 burung yang terdiri dari 200 spesies burung lokal maupun asing. Dengan konsep 'free flight'nya ini, kita bisa melihat berbagai tipe burung tanpa harus melihatnya dari sangkar. Jadi tidak heran jika kita berjalan-jalan di Bird Park kita bisa melihat burung Merak sedang nongkrong di pinggir jalan atau bebas bersliweran di tengah jalan. Hanya burung-burung yang masuk kategori liar saja biasanya yang ada di dalam sangkar, seperti burung unta dan burung-burung liar lainnya. Harga tiket masuk ke Bird Park buat saya cukup mahal, untuk dewasa RM 39 dan untuk anak-anak RM 29. Orchid garden Orchid garden ini letaknya persis di seberangnya Bird Park, jadi jika anda ke Bird Park sebaiknya sempatkan diri anda untuk mampir ke Orchid Garden. Orchid Garden merupakan taman anggrek seluas 1 ha. Anda disana bisa melihat berbagai bunga anggrek, belajar tentang anggrek dan juga belanja bunga anggrek di outlet yang sudah disediakan. Bagi penggemar bunga anggrek tempat ini layak untuk dikunjungi. Biaya masuk gratis, hanya di hari-hari libur saja anda harus membayar RM 1
  5. Beberapa waktu lalu saya ikutan trip bareng Komunitas Jalan2.com Regional Jabodetabek one day trip / island hopping ke pulau tiga, empat dan lima. Ketiga pulau ini terletak di teluk Banten. Sekitar jam 7 pagi kami bertemu di meeting point depan Rumah Sakit Harapan Kita, kami patungan menyewat mobil ukuran ELF untuk menuju Serang, ongkos 18ribu/orang. Untuk menuju Serang teman-teman juga bisa naik bus primajasa, turun di pintu keluar tol Serang. Perjalanan sekitar 1 jam, akhirnya kami sampai di meeting point berikutnya yaitu di pintu keluar tol Serang, kami sudah ditunggu mas Mustofa (salah satu member forum.Jalan2.com yang tinggal di Serang). Dari sini kami naik angkot menuju pelabuhan nelayan Karangantu, Kasemen, Serang - Banten dengan lama perjalanan sekitar 30 menitan kali ya. Sampai di pelabuhan kami istirahat sebentar sambil menunggu kapal motor yang akan membawa kami islands hopping. Sekitar jam setengah sepuluh, akhirnya kapal motor berangkat dengan tujuan pertama yaitu pulau Lima. Pulau Lima Lama perjalanan dari pelabuhan nelayan Karangantu ke pulau Lima memakan waktu sekitar 20 menit. Pulau Lima ini termasuk dalam jajaran kepulauan Mujan. Luas pulau Lima ini sekitar 3,5 hektar dan didominasi oleh hutan mangrove di bagian dalam. Pulau ini memiliki pantai dengan pasir putih yang halus. Tetapi untuk fasilitas di pulau ini masih terhitung minim, bahkan tak nampak toilet, mushola atau warung makan (atau karena saya kurang berkeliling area pulau ini ya). Walaupun demikian di pulau ini juga terdapat beberapa bungalow yang dilengkapi dengan AC. Berikut beberapa foto di Pulau Lima Kami hanya sebentar di pulau ini, tak sampai 1 jam kami sudah segera meninggalkan pulau ini untuk segera menuju ke pulau berikutnya yaitu pulau tiga. Pulau Tiga Pulau Tiga merupakan yang terjauh diantara ketiga pulau dalam itinerary one day trip kami. Secara teritorial, pulau Tiga berada di selat sunda, secara administratif masuk dalam wilayah kabupaten Serang. Luas pulau ini sekitar 4,2 hektar. Di bibir pantai pulau Tiga ini didominasi oleh bebatuan karang kecil-kecil, yang berasa tajam bila kita berjalan tanpa alas kaki. Di pulau ini terdapat fasilitas, gazebo, banana boat, perahu kano dan warung makan. Pulau ini terhitung unik lho, pulau ini memiliki dua lapis pulau, yang dihubungkan oleh jembatan asmara. Di bagian atas pulau terdapat satu bangungan yang lumayan besar, bangunan ini bisa juga untuk acara gathering bersama teman-teman dalam jumlah banyak. Dari sini pula, teman-teman juga bisa berfoto dengan background laut serta gazebo-gazebo yang berderet di tepi pantai. Kereeeen bangett dech. Sudah memasuki tengah hari, perut pun sudah berasa lapar, akhirnya saya kembali ke gazebo lalu memesan mie rebus dan minta untuk dihantarkan ke gazebo yang sudah kami sewa. Oh ya, di dalam gazebo ini juga terdapat bed, jadi wisatawan yang berniat untuk menginap disini bisa menjadi pilihan untuk menyewa gazebonya. Setelah berfoto bersama teman-teman di depan gazebo, kami melanjutkan perjalanan menuju destinasi terakhir yaitu Pulau Empat. Pulau Empat Pulau ini terletak di teluk Banten, pulau ini sudah kali lewati saat perjalanan menuju pulau tiga sebelumnya. Dahulu nelayan mengenalnya dengan nama Pulau Pamujan Kecil. Luas pulau ini sekitar 2 hektar. Di bagian belakang pulau ini terdapat hutan/semak, bahkan terlihat beberapa monyet berlarian dari arah hutan ke belakang gazebo-gazebo ini. Di pulau ini terdapat dermaga, di sisi jembatan ini tertulis Jembatan Kasih Sayang. Oh ya, kalau teman-teman berdiri di bagian ujung jembatan ini, dan melihat ke dalam air laut akan tampak sebuat spot hitam besar, begitu teman-teman lihat lebih seksama makan akan kelihatan spot hitam itu ternyata segerombolan ikan-ikan kecil. Saya sampai berdecak kagum, yaa ampuuun....ikannya banyak bangeet berasa pengen menjala mereka dech...hahaha... Semakin sore, air laut semakin pasang, bahkan terlihat ombak yang bertingkat-tingkat, sangat bagus untuk background foto lho. Di pulau Empat ini juga terdapat beberapa gazebo, mushola dan warung juga, tapi berhubung sudah sore sepertinya jadi tampak sepi. Saya melihat ada group lain yang sedang membakar jagung sambil bersantai di gazebo. Sore menjelang, kami segera meninggalkan pulau Empat untuk kembali ke pelabuhan Karangantu, perjalanan terasa lama dan hari mulai gelap. Tapi begitu mendekati daratan, tampak pemandangan kelap kelip lampu dari rumah-rumah penduduk. Tim Sop Duren otw ke pelabuhan....sudah ga sabar pengen nyicipin Sop Duren ter-ENAK di kota Serang. Sekitar jam 6.15 kami mendarat di pelabuhan Karangantu. Sejak dalam perjalanan mone bercerita tentang enaknya sop duren di kota serang, jadilah saya dan yeni ikutan ngiler pengen nyobain sop duren. Jadilah, saya, yeni dan mone memutuskan untuk melanjutkan wisata kuliner sop duren seperti rencana kami selama di perjalanan tadi. Kami naik motor menuju kedai sop duren warjok dengan mampir dulu sholat magrib di masjid. Ada kejadian lucu waktu di masjid, saking buru-buru ngejar waktu sholat magrib ternyata teman saya sampai lupa untuk cabut kunci motor. Begitu selesai salam, teman saya langsung lari ke halaman masjid untuk cek kunci motor, Alhamdulillah...ternyata kunci motor masih menggantung di motor. Kami masih melanjutkan perjalanan menuju kedai sop duren, aduuh rasanya lamaa banget ga nyampe-nyampe, apa karena efek sudah lelah seharian ya? Sekitar jam setengah delapan kami sampai di kedai Sop Duren, berhubung malam minggu suasanya lumayan rame dan antri. Kami bertiga memesan 2 mangkuk sop duren ukuran jumbo, dan 2 mangkuk sop duren ukuran reguler dengan size order curly fries dan somay ikan. Sop Duren Jumbo harga 17ribu, Sop Duren Reguler 11ribu, Somay 15ribu. Sop Duren ini rasanya ajiiiib bangett apalagi ditambah dengan parutan keju di atasnya. Saking enaknya Mone dan Yeni cepet banget ngabisinnya, sementara saya minum pelan-pelan banget karena harus menyingkirkan potongan-potongan batu es dari sendok yang kecil ini. hihihi... Berhubung Mone ada acara dengan teman-temannya, jadilah kami harus segera meninggalkan Kedai Sop Duren, saya jadi buru-buru makan somaynya dech. hehehe... Mone mengantarkan kami sampai lampu merah dekat carefour kota serang, lalu kami lanjut naik angkot ke pintu tol serang. Dari sana kami naik bus Primajasa jurusan kampung rambutan, ongkos 28ribu/orang. Sekitar jam 10 saya sudah sampai Jakarta. Demikian catatan one day trip kami ke kota Serang. Semoga bermanfaat untuk teman-teman yang ingin berwisata ke kota Serang.
  6. Kalau tidak salah ini kali ketiga saya mengunjungi Hatyai (pertama kali ke Hatyai tahun 2012 lalu yang kedua tahun 2013 hanya singgah sebentar sepulang dari Phuket). Di dua kali kunjungan sebelumnya saya belum sempat mengunjungi obyek wisatanya. Makanya kali ini sepulang dari Brunei Darussalam dan Kota Kinabalu, saya lanjut ke Hatyai selama dua hari. Hari pertama sampai sudah tengah hari jadi cuma istirahat di hotel dan keluar untuk makan siang dan malam saja. Hari kedua baru deh mau jalan-jalan half day tour Hatyai dan Songkhla. Untuk menuju obyek wisata di Hatyai dan Songkhla kita bisa menggunakan songthaew. Bagi yang pernah berkunjung ke Thailand pasti tidak asing dengan kendaran ini, sejenis pickup yang dimodifikasi dengan kursi panjang berhadapan. Untuk songthaew wisata terdapat gambar-gambar obyek wisata di bagian body mobilnya. Jadi ketika kita akan memesan kita tinggal tunjuk aja mau ke destinasi yang mana aja. Waktu itu saya naik songthaew dari depan Lee Garden Plaza, setelah nego dengan drivernya akhirnya dapat harga THB 600/orang. Destinasi pertama adalah Samila Beach di Songkhla. Menempuh perjalanan sekitar 53 menit kalau lihat di google sih jaraknya sekitar 33,6 km. Dalam perjalanan menuju Songkhla saya perhatikan sedang berlangsung pembangunan jalan raya dan flyover di tepi kota Hatyai. Rupanya sejak terakhir kali saya ke Hatyai beberapa tahun lalu sekarang Hatyai sudah berbenah. Bahkan untuk imigrasi di perbatasan Malaysia - Hatyai pun sudah berubah lebih bagus. Dulu hanya seperti melewati pagar besi saja. Sekitar jam setengah sembilan sampailah saya di destinasi pertama di Samila Beach. Pantai dengan hamparan pasir putih dan deretan pohon cemara di pinggirnya. Di pantai ini terdapat patung putri duyung yang sedang duduk di atas batu di tepi pantai. Pagi itu tidak terlalu ramai jadi saya langsung aja deh berfoto dengan icon Golden mermaid. Setelah itu saya berjalan ke arah taman yang berada di pinggir pantai. Disini terdapat patung kucing besar dan tikus. Cerita tentang patung tikus dan kucing ini bisa dibaca di batu prasasti di samping patung. Oh ya disini juga ada fasilitas kuda tunggang. Bagi yang ingin mencoba menunggang kuda, bisa menyewa kuda, harga kalau ga salah ingat THB 50/100 gitu dech. Di pantai ini juga terdapat kedai souvenier dan makanan/minuman. Bisa mampir sebentar untuk membeli minuman dingin dan cenderamata. Waktu itu sih saya beli air minum dan magnet kulkas. Selanjutkan kami menuju destinasi berikutnya yaitu patung naga. Jaraknya tidak begitu jauh dari pantai samila, sekitar 15 menitan kali ya. Dalam perjalanan menuju lokasi saya sempat melihat ada seperti patung badan naga gitu deh. Entah apa maksudnya...mungkin ini nyambung ke kepala naga gitu ya. Nah akhirnya sampailah saya di lokasi patung kepala naga. Kalau di batu prasasti sih ditulisnya The Great Serpent "Nag". Setting patungnya mirip seperti patung merlion di Singapura gitu. Dari dalam mulut naga keluar air mancur yang menyembur ke arah air laut. Berdasarkan tulisan di batu prasasti ternyata patung naga ini di desain dibagi menjadi tiga bagian, bagian kepala naga sebagai simbol kecerdasan dan kebijaksanaan warga terdapat di Laem Son Orn, Suan Song Tale. Bagian perut naga simbol kekayaan kota terletak di Lan Chom Doaw, Sabua Laem Samila. Sedangkan bagian ekornya simbol karisma dan kekuatan masyarakatnya terdapat di area Samila Beach, Chalatad Road. Dalam perjalanan pulang dari lokasi patung kepala naga saya mampir ke Songkhla aquarium. Lokasi berada di antara patung naga dan pantai Samila. Harga tiket untuk orang asing, THB 200 untuk anak dan THB 300 untuk dewasa. Memasuki ruangan aquarium masih sepi, ya mungkin karena masih pagi banget bahkan sebagian lampu pun belum dihidupkan. Di bagian depan terdapat keterangan ekosistem di Thailand selatan, lalu di dinding terdapat entah replika atau asli ikan yang diawetkan gitu, antara lain leopard shark, spotted guitarfish, udang berukuran besar dan ikan pari. Akuarium ini dibagi menjadi beberapa zona, antara lain zona A Freshwater fish, zona B Brackish fish, C marine fish dan terdapat satu tangki besar yang berisi aneka ikan (seperti di Sea World Ancol gitu dech). Kita bisa berjalan di bawah akuarium besar ini. Di jam-jam tertentu kita bisa nonton pertunjukan The Unseen Show. Dari Songkhla aquarium kami kembali ke Hatyai, nah dalam perjalanan kami singgah di beberapa spot wisata di kota Songkhla. Songkhla city wall Saat ini hanya tersisa tembok sepanjang 114 meter, tinggi 5.5 meter dengan ketebalan 4 meter. Sebagian besar bata dan batu dinding pun sudah digunakan untuk paving jalanan kota Songkhla. Di seberang Songkhla city wall ini terdapat Songkhla National Museum. Bangunan museum bergaya Chinese dengan dominasi warna putih dan merah. Sayangnya saat saya kesana museumnya sedang tutup. Jadi saya cuma berfoto-foto di depannya saja. Di bagian depan museum terdapat koleksi beberapa meriam tua, jangkar dan tiang kapal kali ya. Sebetulnya saya sempat googling kalau di Songkhla old town tedapat street art sejenis mural art gitu dech. Lalu sewaktu di pantai Samila saya sempat bilang ke driver songthaew (sambil nunjukin gambar dari google) untuk diantar ke lokasi street art di old town Songkhla. Drivernya bilang iya bisa nanti kita mampir dalam perjalanan menuju Hatyai. Tapi begitu pulang dari Songkhla city wall koq mobilnya jalan terus tau-tau sudah masuk jalan besar arah Hatyai. Gagal deh foto-foto di mural artnya Dalam cuaca panas terik songthaew menuju ke arah Hatyai Municipal Park. Hatyai municipal Park ini lokasinya sekitar 5 km di pinggiran kota Hatyai. Areanya luas banget berada di perbukitan gitu. Selain lokasi wisata juga merupakan tempat ibadah para pemeluk agama Budha. Saya tidak sempat main di lokasi taman-tamannya, jadi kami langsung menuju ke bagian paling atas bukit, ke kuil Four Faces Budha. Four Faces Budha Temple (San Phra Phrom) Begitu memasuki area ini dekat tempat parkir songthaew terdapat dua patung gajah berwarna emas di kiri dan kanan jalan. Naik sedikit ke bagian atas, terdapat patung gajah berkepala tiga disampingnya terdapat tangga dengan deretan lonceng besar di kiri kanannya. Memasuki area kuil, di bagian luar kuil four faces Budha terdapat banyak banget patung gajah berwarna emas. Di dalam kuil inilah terdapat patung four faces Budha, beberapa pemeluk agama Budha menyempatkan diri beribadah, bahkan disini terdapat para penari dan musik yang mengiringi selama ibadah. Di pelataran kuil terdapat patung dewa, tempat pembakaran kertas-kertas perlengkapan ibadah gitu dech (saya ga tau apa itu namanya), lalu ada juga penjual burung-burung kecil. Sepertinya burung-burung kecil ini dibeli untuk kemudian didoakan dan kemudian dilepaskan sebagai rangkaian ibadah. Oh ya disini terdapat stasiun cable car juga. Cable car ini menghubungkan antara kuil four faces Budha dengan kuil standing Budha. Bagi yang pengen nyoba bisa naik, tapi kalau saya sih kan sudah nyewa songthaew sih ga perlu lah, sayang duitnya. hahaha... Dari four faces Budha saya naik songthaew menuju ke kuil standing Budha. Nah sebelum sampai di Standing Budha Temple kami melewati bangunan Hatyai Planetarium. Standing Budha Temple (Phra Budha Mongkol Maharaj) Songthaew parkir di bagian depan kuil, lalu saya jalan kaki menuju ke bangunan kuil. Nah di samping kuil ini terdapat stasiun cable car yang terusan dari kuil Four Faces Budha tadi. Saya kemudian menuju ke halaman depan kuil, di area bagian tengah kuil terdapat patung Budha berdiri berwarna emas dengan ketinggian sekitar 20 meter. Berat patung ini sekitar 200 ton. Dari depan kuil ini kita bisa memandangi kota Hatyai, bahkan kita bisa melihat masjid besar Songkhla di sebelah kanan. Di depan kuil Standing Budha ini terdapat tangga turun menuju ke area Laughing Budha dan Patung Dewi Kuan Yin. Lumayan capek juga menuruni tangga lalu disambung jalan kaki di jalanan pavingblock gitu deh saya nggah ngeh, tapi karena menuruni bukit jadi jalan agak melingkar jadi saya pun ambil jalan pintas dengan menuruni tanah yang lumayan licin sambil pegangan pepohonan. Fat Laughing Budha Di sebelah kanan terdapat kuil pemujaan, lalu di bagian kiri terdapat patung Dewa dan diorama bergambar naga. Nah pas di ujung jalan terdapat patung Fat Laughing Budha. Berjalan agak ke depan akan tampak mulut naga raksasa yang sekaligus berfungsi sebagai jalan untuk menuju ke area Bodhisattva Kuan Yin. Di area ini terdapat beberapa patung disekitar bangungan utama. Sedangkan patung Dewi Kuan Yin berdiri di atas bangunan utama. Patung Dewi Kuan Yin berwarna putih menjulang setinggi 20 meter. Di sekeliling patung terdapat patung kecil-kecil berwarna putih juga. Setelah merasa cukup melihat-lihat saya kembali menuju kuil Standing Budha, dan kali ini harus menaiki anak tangga yang lumayan menguras tenaga. Entah berapa kali saya berhenti karena kelelahan. Ini efek karena penasaran dan ga baca review tentang lokasi tujuan. Tips: untuk lebih hemat tenaga tidak perlu menuruni/naik tangga yang di depan Standing Budha, kita bisa naik kendaraan sewaan kita untuk menuju ke area Patung Dewi Kuan Yin. Jadi setelah foto-foto di sekeliling Standing Budha, kita kembali ke kendaraan kemudian kendaraan akan menuruni bukit menuju area patung Dewi Kuan Yin. Hemat tenaga dech. Dari area Dewi Kuan Yin, kami menuju kota Hatyai. Siang itu udara lumayan panas membuat tenggorokan ikutan berasa kering dan haus. Sampai di kota Hatyai saya minta diturunkan di dekat Clock Tower. Ini dia Songthaew yang membawa kami half day tour Hatyai + Songkhla. Di dekat Clock Tower ini terdapat pasar dan saya pun sekalian mampir untuk makan siang. Tadaaa menu makan siangnya....yummyyyy Setelah selesai makan baru deh saya berkeliling di pasar sambil beli oleh-oleh kemudian naik tuktuk untuk pulang ke hotel. Sekitar jam 3 sore saya check out dari hotel kemudian menuju ke agen bus yang tak jauh dari hotel untuk menuju ke Kuala Lumpur.
  7. Sari Suwito

    Half Day Tour Hatyai +Songkhla

    Yes songthaewnya private, THB 600/orang. Berdua jadi THB1200. Iya sy jg nginep di lee garden hotel dan tau ada rental mobil dekat2 situ. Tp saya pengen nyobain jalan2nya pake songthaew.
  8. Liburan pasca lebaran tahun ini saya sempatkan jalan-jalan ke Pantai di Gunung Kidul yang sebelumnya baru saya tahu dari Internet. Walaupun saya orang Jogja..tapi seumur2 belum pernah pergi ke pantai selatan kecuali Pantai Glagah Indah (Pantai yg ada di Kab. Kulon Progo - Kampung halamanku ) Jadi sesuai planning tujuan pertama adalah ke Pantai Siung yang kemudian akan dilanjutkan ke beberapa pantai dibagian barat. Pantai Siung ini ternyata terletak di sebuah wilayah terpencil di Kabupaten Gunung Kidul, tepatnya sebelah selatan kecamatan Tepus. Jaraknya sekitar 70 km dari pusat kota Yogyakarta, atau sekitar 3 jam dari Kota Wates, Kabupaten Kulon Progo. Jalan menuju pantai ini sudah bagus dan mulus..tak banyak kendala untuk menemukan pantai ini...cukup ikuti aja papan penunjuk arahnya. Tapi jalanan lumayan mendaki/menurun bahkan menikung...sampe2 ponakanku dan tanteku mabok perjalanan lho. Jadi terpaksa kami singgah dulu di Puskesmas Wonosari. huuuuu.... Jam 11.30 akhirnya kami sampai di Pantai Siung...belum turun dari mobil aja sudah kelihatan pemandangannya baguuus bangettt. Pantai yang berpasir putih...dan masih bersih. Jadi nggak nyesel dech jauh2 datang kesini. Salah satu pesona yang menonjol dari Pantai Siung adalah batu karangnya. Karang-karang yang berukuran raksasa di sebelah barat dan timur pantai menambah keindahan dan pembatas dengan pantai lain. Sampe-sampe saya amati sebenernya batu yang mana sih yang disebut Siung?? hehehe...kurang kerjaan kali yeee... Batu-batu karang di sisi barat pantai Siung Batu karang dan tebing di sisi timur Pantai Siung Nah berikutnya saya browsing tentang dasar penamaan pantai Siung ini...berkat mbah google ketemu dech infonya kalo batu karang yang menjadi dasar penamaan pantai ini berlokasi agak menjorok ke lautan. Nama pantai diambil dari bentuk batu karang yang menurut Wastoyo, seorang sesepuh setempat, menyerupai gigi kera atau Siung Wanara. Memang pantai ini kereen pake bangettt. Apalagi ketika datang ombak besar yang kadang menerpa batu-batu karang, kemudian celah-celahnya disusuri oleh air laut yang mengalir perlahan, waaahhh...betul-betul menjadi sebuah pemandangan yang dramatis. Deburan ombak menghantam karang....heeemmmm.... Oh yaa...satu hal yg tak bisa terlupakan adalah ketika saya mencoba mendaki tebing sebelah kiri pantai Siung...ya ampuuunn...berat banget medannya...tanahnya miring entah berapa derajad..lalu ga ada undak-undakan...liciiin...tapi demi melihat pemandangan dari atas tebing ini ya dibela-belain merangkak mendaki tebing dech....jangan ketawa yaa :) #inde konyol ini...saking takut jatuh menggelinding dari atas tebing. Tebingnya lumayan tinggi...sampe berasa habis nafas lho...tapi begitu lihat pemandangan dari atas...wuiiiiiihhh...kereeen banget. Berhubung sudah parno dengan ketinggian yaa...cukup sampai tebing yang rendah aja dech...ga berani mendaki lebih tinggi apalagi deket2 yg dibibir tebing...ngeriiiiiii... Ini lho tebing yg didaki...miring banget kaan.. Salut sama bapak petani ini...mencangkul lahan di tebing curam di bawah terik matahari. Pemandangan sisi barat pantai Siung dari atas bukit Pemandangan sisi timur Pantai Siung dari atas bukit. Setelah beberapa menit melihat pemandangan pantai dari atas tebing...akhirnya saya turun untuk kembali ke pinggir pantai...kembaliiii dengan merangkak menuruni tebing...huahahaha....malu-maluin aja nich..tapi ya mau gimana lagiii daripada menggelinding kebawah batu karang kan ga lucu kalo lecet+bonyok... Habis turun bukit berasa banget laparnya....akhirnya saya makan siang dengan membeli pecel sayur campur rumput laut...waah enak bangett...guriiiih bumbunya. Harga 3ribu saja per porsinya...muraaaah bangettt kan. Oh yaa...kalo mau sewa tikar harga 10ribu aja lho.. Ngeriung di tepi pantai...menunggu pecel sayur pesenanku Tadaaaa....ini dia pecel sayur + rumput laut...enaaakk dan guriiih Di pinggir pantai ini saya lihat ada beberapa perahu nelayan...tapi sepertinya cuma dipakai untuk mencari ikan dech...sebab melihat ombak yang lumayan tinggi ini sepertinya ga memungkinkan kalo dipake untuk wisata. Ini dia perahu nelayannya.... Fasilitas di pantai Siung juga lumayan koq...ada beberapa warung makan, toilet, dan mushola. Cuma kalo penginapan kurang tau dech... Berhubung tante aku mabok + sakitnya masih berlanjut jadi sepertinya acara jalan2 ini jadi ikut terganggu dech...akhirnya kita memutuskan untuk pulang lebih awal. Tapiii...dasar nekat juga sih yaa...kami tetep aja mampir dulu ke Pantai Jogan yang letaknya tak terlalu jauh dari Pantai Siung. Jalan menuju pantai ini belum beraspal, tapi bisa dilewatin mobil koq. bahkan saya lihat ada mobil tanki air yang mengambil air minum dari sungai yang mengarah ke laut koq. Kalo dilihat dari batu karang sih...sepertinya pantai Jogan ini ada dibalik karang pantai Siung dech. Pantai Jogan ini lokasinya sempit dan pas di atas tebing...jadi agak2 susah juga sih kalo kita terlalu rame2...yang membuat penasaran datang ke pantai ini adalah air terjun yang langsung mengarah ke laut. Berhubung sedang musim kemarau jadi debit airnya cuma sedikit dech... Pantai Jogan.. Ini dia grojogan/air terjun yang langsung mengarah ke laut....debit airnya cuma dikit. Dalam perjalanan pulang...sempat juga lihat penjual keripik walang lho. Bahkan ada walang yang belum dimasak, ayo yang mau beli silahkan mampir....hehehe... Siapa yg mau beli belalang??? 1 renceng ini ditawarkan 60ribu...tawar aja sampe dapet... Kalo ini belalang yg sudah digoreng...mau coba??? hueeekkkk... Rasanya belum puas jalan-jalan kali ini...sebab banyak planning yg ga terlaksana...sepertinya harus berlanjut di next episode nich...entah di sesi mudik ato special jalan2 ke Jogja dech. Btw, satu hari setelah pulang dari pantai Siung...badan dan kaki rasanya pegeeeelll banget dech...sepertinya ini efek samping dari mendaki tebing di pantai siung dech...hahaha...
  9. Sari Suwito

    Half Day Tour Hatyai +Songkhla

    Iyaa.. Mgkn krn jaraknya jauh. Waktu di Krabi town mau ke Aonang beach bayar tuktuk jg skitar THB 500/orang. Iya ternyata banyak jg obyek wisata di Hatyai, itupun belum sempat ke wat/temple lainnya. Sy jg belum sempat ke floating marketnya, karena hanya buka di weekend.
  10. Kota Kinabalu atau biasa disebut KK dulunya dikenal dengan nama Jesselton. Maka tak heran jika pelabuhan tempat kami mendarat dari Labuan bernama Jesselton Point. Jesselton diambil dari nama gubernur dari Inggris yang pernah berkuasa disini yaitu Sir Charles Jessel. Oh ya, sewakatu kapal sudah mendekati pelabuhan dari dari atas kapal sudah tampak pemandangan yang menggugah selera, yaitu deretan tempat makan sea food di tepi laut. Hmmmm...jadi lapar. Meninggalkan pelabuhan Jesselton Point, bus berjalan melalui jalan yang berada di tepi pantai dimana sedang berlangsung pembangunan entah resort/mall. Tak lama kemudian kami memasuki wilayah Kota Kinabalu mulai tampak kemacetan di sepanjang jalan menuju ke hotel Winner, tempat kami menginap di daerah Jalan Pasar Baru – Kampung Air. Di bawah ini view dari hotel tempat saya menginap. Setelah check ini dan beberes, sekitar jam 7 malam kami keluar untuk makan malam di Pasar Malam Sinsuran. Pasar malam Sinsuran ini dekat dari penginapan kami jadi cukup berjalan kaki saja. Suasana pasar malam Sinsuran lumayan ramai pengunjung apalagi di jam makan malam seperti ini. Kedai makan lumayan berjubel. Aneka makanan bisa kita temukan disini, seperti: nasi campur, sea food, ayam panggang, ikan panggang, aneka camilan dan aneka minuman. Di Kota Kinabalu merasa sedikit lega karena makanan lumayan lebih murah dibandingkan di Brunei Darussalam. Beli cendol di Brunei Darussalam harganya $1, di Kota Kinabalu cendol harganya RM 1. Kalo di kurs rupiah harga cendol di Brunei 3x lipat harga cendol di Kota Kinabalu. Hahaha... Salah satu gerai tempat kami makan malam Sudah selesai makan, tapi masih lapar mata, jadi jajan chicken wing dulu deh. Bagi yang mau shopping di sepanjang perjalanan dari Pasar Malam Sinsuran menuju hotel tempat kami menginap juga ada pasar malam yang menjual pakaian, aksesories dll. Hari kedua Setelah sarapan pagi kami pun berangkat menuju obyek wisata di kawasan luar Kota Kinabalu. Sekitar 1,5 jam perjalanan melintasi jalan yang menanjak, sampailah kami di Pekan Nabalu, Kota Belud. Ini merupakan salah satu spot untuk melihat gunung Kinabalu. Tapi sayang sekali sewaktu kami sampai lokasi ternyata gunung Kinabalu tertutup kabut yang lumayan tebal. Belum rejeki dech… Seperti obyek wisata pada umumnya, disini terdapat banyak gerai yang menjual aneka camilan, buah-buahan dan cenderamata. Setelah menunggu beberapa saat ternyata kabutnya tak kunjung hilang. Jadi kami pun memilih untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Fish Spa di Sungai Moroli Tagal Sungai Moroli, Kampung Luanti Baru, Ranau ini merupakan pemenang Malaysia River Care Award 2006. Tagal dalam Bahasa Kadazan Dusun berarti “dilarang memancing” di aliran sungai Moroli. Sungai sepanjang 54 km ini dihuni oleh banyak ikan yang ukurannya lumayan besar. Untuk menjaga ekosistem sungai, maka penduduk dilarang memancing, menjala ataupun menangkap ikan sepanjang tahun. Hanya di bulan Mei penduduk diberi kesempatan untuk mengambil ikan dari sungai Moroli. Di lokasi ini kita bisa fish spa langsung masuk ke dalam aliran sungai. Tetapi sayangnya saat itu air sungai sedang keruh karena tadi malam hujan. Untuk keselamatan pengunjung, aliran sungai dikasih pita pembatas agar pengunjung tetap berada di tepian sungai. Sebelum masuk ke aliran sungai kita bisa membeli pakan ikan terlebih dahulu. Jadi nanti begitu masuk ke dalam air sungai kita bisa taburkan pakan ikan di dekat kaki kita, maka ikan akan bergerombol di sekitar kaki. Nah disaat itu ikan juga akan mematuk kaki…hiiii geliii…. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah kita dilarang memegang ikan ataupun mengangkat ikan keluar dari air. Sudah cukup ber-fish spa? Saatnya istirahat dengan menikmati camilan cempedak goreng,pisang goreng ataupun aneka durian yang di jual di kedai bagian depan fish spa. Harga durian mulai dari RM 6/kg. Dari Tagal, Kampung Luanti Baru kami melanjutkan perjalanan menuju Dataran Sayur Kundasang. Dataran Sayur Kundasang Kundasang adalah sebuah kota di distrik Ranau, Sabah. Kawasan ini dihuni oleh suku dusun asli yang merupakan salah satu kelompok penduduk asli Sabah. Daerah ini meliputi daerah pegunungan dan lembah dengan panorama yang indah. Selain itu Kundasang juga merupakan penghasil sayuran dan buah-buahan. Kita bisa membeli hasil pertanian warga Kundasang di Dataran Sayur Kundasang. Dataran sayur Kundasang ini kalau di Indonesia mirip lah seperti pasar buah dan sayur Brastagi. Dataran sayur Kundasang terletak di pertigaan jalan, menempati area yang lumayan luas. Disini terdapat ratusan gerai yang menjual aneka sayuran dan buah-buahan. Jadi jangan heran kalau kita bakalan lapar mata ketika melihat aneka buah-buahan disini. Saya pun membeli aneka buah potong dan durian mini yang dalamnya berwarna kuning agak orens gitu. Di pertigaan jalan dan jalan lingkar yang tak jauh dari dataran sayur Kundasang terdapat dua icon sawi putih dan kol bulat sebagai symbol daerah ini merupakan daerah penghasil sayuran. Mirip di Brastagi juga sih ini. Hehehe… Sebetulanya di daerah Mesilau, Kundasang juga terdapat Desa Dairy Farm (peternakan sapi perah), tapi kami saat itu tidak berkunjung kesana. Dari Dataran Sayur Kundasang kami langsung kembali menuju Kota Kinabalu dan ternyata sepanjang perjalanan menuruni pegunungan Kinabalu cuaca hujan lebat. Kami akhirnya sampai di Kota Kinabalu sudah menjelang malam. Hari ketiga Setelah sarapan pagi, merupakan waktunya free and easy. Saya berjalan-jalan di Sunday morning market lorong Pasar Baru yang berada di belakang hotel Winner, isinya ya para pelapak yang berjualan pakaian bekas / baru dan aneka aksesories. Dari sini saya berjalan menuju daerah Pasar Besar Kinabalu, saya masuk ke mall yang berlokasi di seberang Pasar Besar Kinabalu, karena masih pagi jadi belum banyak kedai yang buka, disini saya pun hanya melihat-lihat ke salah satu kedai yang menjual produk aksesories mutiara laut. Harganya lumayan mahal sih, jadi saya pun cuma melihat-lihat saja. Keluar dari mall ini saya berjalan menuju ke food court Pasar Besar Kota Kinabalu, food court terletak di lantai 2. Pasar ini merupakan pasar basah (seperti pasar inpres gitu kalau di Indonesia) menjual aneka sayuran dan kebutuhan sehari-hari. Dan di bagian belakang pasar ini juga pasar ikan jadi jangan heran kalau disini suasananya ya bau amis ikan. Hehehe… Walaupun begitu saya sempat memesan ABC (air buah campur) semacam es buah gitu deh. Ya ampun satu mangkuk isinya banyak banget, saya sampe ga habis. Dari Pasar Besar Kinabalu kita bisa berjalan ke arah kiri, disini terdapat Philipino Market. Di pasar ini dijual aneka ikan asin, garam dan produk hasil laut lainnya. Walaupun begitu ada yang jual pakaian dan cendera mata juga koq. Dari Philpino Market saya langsung kembali ke hotel untuk bersiap-siap check out. Setelah check out dari hotel kami makan siang di salah satu restaurant dalam perjalanan menuju ke Masjid Negeri Sabah untuk sholat Dzuhur. Masjid Negeri Sabah Masjid ini terletak di Jalan Tunku Abdul Rahman, Sembulan, Kota Kinabalu. Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1970 dan selesai sepenuhnya pada tahun 1975. Struktur bangunan masjid ini merupakan perpaduan konsep timur tengah dan modern. Kubahnya yang megah berdesain pola sarang lebah berwarna keemasan menandakan kecemerlangan Islam di negeri Sabah. Di bagian kiri dan kanan terdapat 16 tiang berkubah kecil berwarna emas. Di lilitan setiap tiang ini dihiasi dengan potongan ayat suci Al Quran dengan tinta warna emas. Masjid ini memiliki satu menara setingi 215 kaki yang konsepnya diilhami oleh masjid di Istanbul dan Isfahan, melambangkan ketinggian dan kemuliaan Islam. Masjid Negeri Sabah Masjid ini mempunyai serambi yang luas sehingga mampu memuat sekitar lima ribu jamaah. Tempat sholat perempuan terletak di lantai dua, bisa memuat hingga lima ratus jamaah. Masjid ini juga menyediakan ruangan untuk memandikan jenazah (masih jarang kita temui di Indonesia). Masjid Negeri Sabah ini memiliki halaman dan area parkir yang luas, dan ketika saya berkunjung kesana di bagian belakang masjid sedang ada pembangunan (mungkin) sarana pendukung masjid. Setelah selesai sholat Dzhuhur di Masjid Negeri Sabah untuk mengisi waktu sebelum menuju Bandara Kota Kinabalu, kami mampir ke Imago. IMAGO Shopping Mall Imago the mall terletak di KK Times Square, merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Kota Kinabalu. Disini terdapat outlet produk-produk fashion branded dan restaurant franchise. Makanya tak heran jika banyak warga Brunei Darussalam yang datang ke Kota Kinabalu untuk shopping, khususnya di musim liburan sekolah atau ketika mall-mall mengadakan great sale karena tentu saja harganya lebih murah dibandingkan di Brunei. Disini juga terdapat kedai yang menjual oleh-oleh dan cenderamata. Waktu itu saya membeli magnet kulkas harga RM 4/pcs. Di lantai lower ground juga terdapat foodcourt, harganya lumayan ramah di kantong. Ketika saya kesini, sedang ada pertunjukan Kulintangan. Para penari juga mengajak pengunjung untuk memainkan kulintangan. Saya menonton sampai pertunjukan selesai, kemudian di akhir pertunjukan ikut berfoto dengan salah satu penarinya. Sekitar jam empat sore kami meninggalkan imago untuk kemudian menuju ke Bandara Kota Kinabalu. Oh ya, kalau cuaca cerah Gunung Kinabalu bisa terlihat dari bagian depan Bandara lho. Flight saya sebetulnya jam 8 malam, tetapi akhirnya pesawat kena delay sampai jam setengah sebelas malam, sepertinya dikarekan terjadi masalah teknis dengan pesawatnya. Jadi kami tiba di Kuala Lumpur sekitar jam setengah satu pagi. PS: Sebetulnya masih banyak lagi obyek wisata di Kota Kinabalu, tapi sayang karena keterbatasan waktu jadi belum sempat expolore pulau-pulau cantiknya. Bahkan saya pun belum sempat explore kotanya. Semoga suatu saat nanti ada kesempatan untuk kembali ke Kota Kinabalu.
  11. Sari Suwito

    Kota Kinabalu - Malaysia

    Aq waktu itu rombongan skitar 40an orang, jd pake bus besar. Selama disana jarang lihat transportasi umum. Tp kalo dr bandara ke pusat kota sih ada bus semacam damri gitu. Mgkn utk ke obyek wisata bisa rental mobil, kalo yg dalam kota naik grab /taxi. Ga sampe dimakan sih, dipatokin doank. Tp kan sakit matoknya.
  12. Sari Suwito

    Kota Kinabalu - Malaysia

    Hehehe itu batu es, jd keliatan spt cendol. Kalo di kotanya sih lumayan panas jg krn ditepi pantai. Iya blm sempat nih, ini aja pengen foto sama icon ikan di pusat kota kinabalu dan masjid kota kinabalu jg belum kesampaian. Ntar kapan2 pengen lagi ke Kota Kinabalu. Kalo fish spa yg ikannya kecil2 aq pernah nyobain di Blok M plaza dan Phuket. Lah kalo ini ikannya gede2 banget, ada yg segede lele dumbo. Hahaha.
  13. Melanjutkan tulisan sebelumnya, pada hari kedua di Brunei kami mengunjungi berbagai obyek wisata di Kota Bandar Seri Begawan dan Brunei Muara. Setelah sarapan kami langsung menuju ke obyek wisata pertama yaitu Masjid Jame’ Asr Hassanil Bolkiah. 1.Masjid Jame’ Asr Hassanil Bolkiah Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah merupakan satu dari dua masjid besar di Bandar Seri Begawan. Masjid besar satunya yaitu Masjid Omar Ali Saifuddien yang sudah saya kunjungi pada hari pertama di Brunei. Masjid Jame’ Asr Hassanil Bolkiah merupakan wakaf dari Sultan Hassanal Bolkiah dan menurut guide kami tidak diketahui berapa total biaya yang digelontorkan untuk membangun masjid ini karena semua biaya ditanggung oleh Sultan Brunei. Masjid ini memiliki 29 kubah emas, 2 kubah emas besar dan 27 buah kecil. Dua puluh Sembilan kubah mengandung arti Sultan Hassanal Bolkiah yang membangun masjid ini merupakan Sultan Brunei yang ke-29. Masjid ini juga memiliki 4 menara dengan ketinggian 58 meter. Hari Kamis dan Jumat masjid tidak menerima kunjungan turis, jadi kami pun masuk ke masjid dengan tujuan untuk sholat dhuha. Kan setelah sholat juga bisa sambal melihat-lihat bagian dalam masjid. Oh ya di masjid ini terdapat larangan berfoto/memotret bagian dalam masjid. Jadi ya saya pun cukup menikmati keindahan bagian dalam masjid dengan lensa mata saja. Tempat wudhu wanita lumayan luas dan tersedia banyak kran untuk wudhu, jadi tak perlu lah sampe antri untuk ambil wudhu. Ruang sholat wanita terletak di lantai dua, ruangannya luas dan nyaman berAC. Bahkan karpetnya tebal dan nyaman, ternyata menurut guide karpet masjid ini terbuat dari kapas berkualitas tinggi dari New Zealand dan karpetnya diproduksi di Thailand. Di dinding masjid bagian atas terdapat kaligrafi berwarna emas. Juga terdapat lampu gantung Kristal yang dilapisi emas berasal dari Austria. Setelah selesai sholat saya melanjutkan melihat-lihat dan berfoto di bagian luar masjid. Di bagian depan masjid terdapat pilar-pilar yang terbuat dari Blue Marble dan lmapu gantung yang cantik. Di bagian kanan masjid terdapat tangga melingkar berwarna putih dan terdapat escalator di bagian tengah. Masjid ini mempunyai taman dan tempat parkir yang luas. Di bagian depan taman terdapat deretan pohon palem dan air mancur. 2.Darul ‘Ifta Building – Gedung Galeri Islam Brunei Kami hanya photo stop disini, jadi tidak masuk ke dalam gedungnya. Disini terdapat dua gedung, di gedung lama yang juga masih aktif terdapat perpustakaan Islam Brunei. Perpustakaan ini juga mengkoleksi mushaf Al Quran ukuran mini. Sedangkan gedung yang baru lebih megah dan besar masih dalam tahap penyelesaian. Rencana gedung ini akan menjadi Gedung Galeri Islam Brunei. 3. Masjid Hassanal Bolkiah Kampung Mentiri Masjid Hassanal Bolkiah Kampung Mentiri terletak di Kampung Mentiri, Brunei Muara. Masjid ini dibangun atas perintah langsung dari Sultan Hassanal Bolkiah pada 10 April 2017 untuk menggantikan Masjid Rancangan Perumahan Negara Kampung Mentiri yang habis terbakar pada 5 April 2017. Pelaksanaan pembangunan Masjid Hassanal Bolkiah Kampung Mentiri dimulai pada 2 Mei 2017 dan selesai sepenuhnya pada 19 Juni 2017, jadi masa pengerjaan masjid hanya 49 hari saja. Amazing yaaa… Masjid Hassanal Bolkiah diresmikan oleh Sultan Hassanal Bolkiah dan sekaligus dipakai untuk sholat jumat pada tanggal 23 Juni 2017. Masjid ini bisa menampung sekitar 3500 jamaah. Masjid ini juga merupakan pusat kegiatan keagamaan, jadi di masjid ini terdapat banyak ruangan sesuai untuk peruntukannya, seperti ruang meeting/menerima tamu, ruang makan/untuk menjamu tamu, pantry dan lain-lain. Disini kami diijinkan berfoto/memfoto bagian dalam masjid. 4. Malay Technology Museum / Museum Teknologi Melayu Museum Teknologi Melayu terletak di Simpang 482, Kampung Kota Btu, Brunei Darusalam. Bangunan museum ini merupakan sumbangan dari perusahaan Royal Dutch/Shell Group pada saat kemerdekaan Negara ini pada tahun1984. Museum ini dibuka secara resmi pada tanggal 29 Februari 1988. Untuk masuk ke museum ini tidak dipungut biaya alias gratis. Malay Technology Museum menampilkan teknologi dan diorama sejarah peradaban masyarakat melayu Brunei pada jaman dahulu. Display museum terbagi dalam galeri utama yaitu: 1 1. Ruangan yang berisi diorama miniature bentuk rumah di Kampong Ayer pada akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20. Selain itu juga terdapat beberapa jenis perahu seperti perahu layar yang digunakan untuk pengangkutan jarak jauh, dan menangkap ikan di pesisir laut, serta perahu gubang yang digunakan untuk transportasi antar rumah, serta perahu yang dipakai untuk menjual barang dagangan. 2. Ruangan yang berisi diorama teknologi tradisi masyarakat di Kampong Ayer pada jaman dahulu, seperti, menjala ikan, membuat perahu, pasar terapung, membuat perkakas rumah, menenun kain, pandai besi tembaga, emas dan perak. 3. Ruangan yang berada di lantai atas, berisi diorama miniatur rumah dan aktifitas masyarakat yang tinggal di daratan seperti suku Dayak dan Kadasan Dusun. Aktifitasnya antara lain: menganyam rotan, membuat gula dan mengolah sagu. Salah satu keunikan dari tangga spiral menuju ke lantai dua ini juga terdapat art work berbentuk seperti rencengan lampu. Setelah selesai berkeliling museum, kami pun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kota Bandar Seri Begawan. Oh ya tak jauh dari Museum Teknologi Melayu ini terdapat Museum Brunei, tapi saat itu sedang renovasi jadi kami hanya lewat saja. Setelah sampai di kota Bandar Seri Begawan sudah sore hari, kami menuju ke Pasar Pelbagai Barangan Gadong. 5. Pasar Pelbagai Barangan Gadong Pasar ini seperti night market, buka mulai jam 4 sore sampai jam 8 atau 10 malam gitu. Bangunan Pasar Gadong lumayan besar, terdiri dari 3 blok dengan . Di seberang pasar ini juga terdapat seperti open air market gitu tapi sepi kalau sore. Nah disini terdapat mushola jadi kalau tiba waktu sholat maghrib pengunjung Pasar Gadong bisa sholat disini. Di Pasar Gadong kita bisa menemukan aneka makanan dan minuman, buah-buahan dan ada beberapa stand yang menjual pakaian. Bangunan pasar lumayan luas, bersih dan nyaman. Selain itu juga tersedia meja dan kursi jika kita ingin duduk menikmati makanan/minuman yang sudah kita beli. Kebanyakan warga Brunei yang bekerja akan mampir ke pasar ini membeli makanan untuk makan malam di rumah. Disini saya membeli aneka buah-buahan dan durian kupas. Ketika saya sedang makan buah di meja dekat penjual durian, ada sepasang suami istri yang sedang membeli durian lalu mereka numpang di meja saya untuk membuka dan meletakkan durian ke dalam kotak makanan yang sudah dibawanya. Nah sambil meletakkan durian ke kotak si bapak dan ibunya mengajak kami ngobrol, bertanya kami datang dari mana? sudah berapa lama di Brunei? Eeh, tak lama kemudian si ibunya membagi kami separuh durian (sepertinya durian musang king), kami pun berterima kasih plus basa-basi kok banyak banget kasih duriannya. Kemudian sebelum mereka pulang mereka pun memberi kami 1 pack durian kuning. Ya Allah…rejeki nomplok nich. 6. Shopping time di Happy Star and The Mall Tujuan pertama saya yaitu mencari magnet kulkas, nah saya akhirnya menuju ke toko Happy Star, berada di deretan ruko yang tak jauh dari The Mall. Di toko ini saya membeli magnet kulkas harga $ 10 dapat 3 pcs dan kaos I Love Brunei seharga $ 12.90. Gileee mahal banget, padahal mah bahannya juga biasa aja. Setelah selesai membeli souvenier saya pun menuju The Mall, karena memang penduduk Brunei tidak banyak jadi mall pun tidak terlalu ramai pengunjung. Saya pun cuma melihat-lihat saja, tak membeli apapun, secara harga di Brunei lumayan mahal jadi sayang uangnya lah kalau mau belanja. Dari The Mall kami pun menuju ke restoaran untuk makan malam kemudian kembali ke hotel untuk beristirahat. Oh iya, kebetulan kami menginap di Hotel Jubilee, nah di dekat hotel terdapat Teng Yun Temple. Seperti pada umumnya kelenteng ini berwarna merah, kontras dengan bangunan di sekitarnya, bahkan di bagian belakang dan samping Teng Yun temple berdiri bangunan gedung yang megah dan tinggi.
  14. Melanjutkan tulisan sebelumnya setelah dua hari di Brunei, kami akan melanjutkan perjalanan ke Kota Kinabalu (Malaysia). Pagi-pagi kami sudah bersiap-siap untuk check out hotel kemudian kami menuju ke Terminal Feri Serasa di Muara. Jarak menuju ke Terminal Feri Serasa sekitar 25 km, ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit. Oh ya,selain terminal ferry penumpang disini juga terdapat terminal peti kemas, jadi selama perjalanan kita akan sering berpapasan dengan truck container sehingga perjalanan jadi agak lambat. Ketika kami sampai terminal feri Serasa karena bus yang kami sewa ukuran besar jadi tidak bisa masuk ke halaman terminal, terpaksa deh kami turun di depan pintu gerbang dan membawa koper masing-masing. Karena tidak sempat sarapan di hotel maka kami pun akhirnya sarapan di cafe yang berada di sebelah pintu kedatangan terminal feri Serasa. Note: Kalau mau naik transportasi umum /bus dari Bandar Seri Begawan bisa naik bus nomer 39 menuju ke Terminal Muara, lalu dari Terminal Muara lanjut naik bus nomer 33 menuju Terminal Feri Serasa. Ongkos bus $1 per trip. Sekitar jam 9 kami bersiap untuk masuk ke dalam ferry. Oh ya untuk masuk ke dalam ferry ini kita melewati imigrasi Brunei secara kami akan melakukan perjalanan menuju ke Labuan (Malaysia) yang kemudian dilanjutkan ke Kota Kinabalu. Saat itu imigrasi lengang karena hanya ada satu ferry yang akan berangkat. Setiap penumpang disuruh buka koper untuk dilihat isinya satu persatu, segala tempat kosmetik, underware organizer, handbag, semua diperiksa. Mungkin juga dikarenakan disini tidak ada mesin x-ray. Setelah selesai proses imigrasi kami pun menuju ke dermaga ferry. Kami menaiki Ferry Shuttle Hope untuk menuju Labuan. Awak kapal akan menyambut kita dan menanyakan barang bawaan akan dibawa naik atau ditinggal di bawah saja? Kalau di tinggal dibawah makan petugas akan menempatkan koper kita di bagian ujung kapal dekat pintu turun dari kapal ferry. Setelah menyerahkan koper, saya naik ke lantai dua ferry. Harga ket ferry Shuttle Hope adalah $15/orang dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 40 menit. Saya memilih duduk di dalam ruangan ber-AC di lantai 2 dan ternyata ACnya dinginnya minta ampun. Oh ya sebelum ferry berlayar, di TV ditayangkan doa naik kapal terlebih dahulu. Mungkin ini sudah menjadi SOP Brunei Ferry ya, biar perjalanannya aman dan lancar. Begitu ferry sudah berlayar dari atas ferry kita bisa menikmnati angin sepoi-sepoi di geladak atau bisa juga duduk manis di ruang utama sambil nonton film box office yang diputar di TV. Di dalam ferry juga terdapai kedai makanan, kalau lapar bisa beli snack dan minuman. Di kapal ini juga terdapat toilet yang lumayan bersih, di lantai dua bagian belakang kapal. Seteleh beberapa saat kapal berlayar kita akan menyaksikan pemandangan begitu banyak kilang minyak di lautan Brunei, gimana negara ini ga kaya ya, itu kilang minyak di laut banyak bangeett. Saya juga melihat beberapa kapal besar yang dilengkapi dengan alat berat atau crane serta helipad. Baru kali ini saya lihat kapal segede itu. Hahaha… Sekitar jam 11an, kapal ferry sudah mendekati dermaga Labuan. Dari atas ferry sudah kelihatan deh gedung terminal ferry wilayah persekutuan Labuan. Setelah turun dari kapal ferry kami langsung menuju ke gedung terminal ferry lalu menuju ke mesin x-ray untuk scan barang bawaan kita kemudian menuju counter imigrasi Malaysia untuk chop paspor. Setelah selesai chop paspor kami berjalan menuju ke rumah makan untuk makan siang. Kami makan di rumah makan yang berada di depan Terminal Feri Antarbangsa Labuan sekitar 300 meter kali kami berjalan di bawah rintik hujan. Setelah selesai makan kami segera menuju ke Terminal Feri Antarbangsa Labuan. Terminal ferry Labuan ini lumayan ramai, di bagian depan terdapat banyak stand yang menjual aneka barang dan souvenier. Karena sudah dekat dengan jadwal keberangkatan kapal, jadi kami tak perlu menunggu di boarding room, kami langsung menuju ke kapal yang sudah bersandar di dermaga. Kami naik kapal LBN Express Tiga untuk tujuan ke Kota Kinabalu, kapal ini mempunyai dua kelas, yaitu kelas ekonomi dan kelas eksekutif. Untuk kelas eksekutif harga tiket RM 44/orang. Perjalanan menuju Kota Kinabalu memakan waktu sekitar 3,5 jam. Jadi bisa tidur dulu deh di dalam kapal, karena ini kapalnya seperti speed boat jadi kita ga bisa berdiri di geladak kapal, cukup menikmati pemandangan dari balik jendela saja. Tapi kalau kita duduk di kelas ekonomi, ga bisa deh lihat pemandangan luar karena posisi berada di lantai bawah. Sekitar jam setengah lima, akhirnya sampailah kami di terminal ferry Jesselton Point. Setelah semua peserta sudah turun dari kapal ferry kami pun segera keluar terminal. Rupanya bus sudah menunggu kami di sebelah kanan pintu keluar Jesselton point, setelah semua peserta naik bus, kami pun berangkat untuk menuju hotel tempat kami menginap di kawasan Lorong Pasar Baru, Kampung Air. **Sebetulnya bisa juga naik bus dari Bandar Seri Begawan menuju Kota Kinabalu, tetapi jadwal keberangkatannya hanya satu kali setiap harinya yaitu sekitar jam 8 pagi. Lama perjalanan sekitar 8 jam (kalau ga salah ya). Kalau ada budget lebih ya paling cepat naik pesawat. Hehehe...
  15. mungkin para imigran yang kerja disana, kalau di Malaysia para imigran ini ada bikin rumah di tanah kosong yang tidak terus.
  16. Haram = illegal, alias rumah liar.
  17. Hai...haiii..haiiiiii Widiiiih lama banget saya ga nongol di forum... Ok, baiklah saya akan share FR saya beberapa bulan lalu ketika melawat Brunei Darussalam. Mungkin sudah agak basi kali ya, tapi semoga bermanfaat buat teman2 . Brunei Darusalam adalah sudah masuk dalam wishlist trip saya, tapi baru kesampaian di tahun 2018 ini. Brunei Darussalam merupakan negara ASEAN ke-5 yang saya kunjungi (Indonesia tidak termasuk hitungan ya). Berhubung saya tinggal di Yogyakarta jadi saya memilih untuk terbang dengan Air Asia ke Brunei melalui Bandara Soekarno Hatta kemudian transit di Kuala Lumpur. Saya tiba di Brunei sekitar jam 8 pagi waktu setempat. Dari airport kami langsung menuju obyek wisata di kota Bandar Seri Begawan. Obyek wisata apa saja yang saya kunjungi selama di Brunei Darussalam? Yuk, simak catatan perjalanan saya selama di Brunei Darussalam. Hari Pertama 1.The Royal Regalia Building The Royal Regalia Museum atau Museum Alat Kebesaran Diraja terletak di Jalan Sultan Omar Ali Saifuddien, Bandar Seri Begawan. Bangunan museum berbentuk kubah besar yang dilengkapi dengan mozaik yang cantik dan bagian dalamnya menggunakan marmer dan karpet yang mewah. Pengunjung diwajibkan menanggalkan sepatu di luar dan hanya diperbolehkan memakai sandal yang sudah disediakan ataupun tanpa alas kaki saja kalau tidak kebagian jatah sandal. Pengunjung diwajibkan meletakkan tas, handphone, kamera dan barang bawaan lainya di loker yang sudah disediakan di bagian depan museum. Setelah itu baru kita diperbolehkan masuk ke ruangan pamer museum. Museum ini memiliki beberapa galeri, antara lain; Royal Regalia Exhibition Royal Exhibition Hall Silver Jubilee Exhibition Hall Jubilee Theatre Constitutional Exhibition Hall Royal Lounge Souvenier / Refreshment Lounge Memasuki ruangan galeri museum kita bisa melihat foto silsilah keluarga Sultan Brunei, dan di dinding tercantum nama lengkap dan gelar untuk Sultan Hassanal Bolkiah, panjang banget lho. Lalu kita berjalan menuju ke bagian koleksi pribadi Sultan Brunei yang berupa pakaian kebesaran Sultan, perhiasan, cendera mata dari negara sahabat. Selanjutkan kita akan menuju ruang pamer peringatan perayaan 25 tahun pemerintahan Sultan Hassanal Bolkiah. Di ruangan ini terdapat replika kemegahan acara perayaan Silver Jubilee dengan patung manekin tanpa kepala yang menggambarkan pasukan yang mengiringi kereta yang dinaiki Sultan Hassanal Bolkiah dan di sekelilingnya terdapat poster bergambar rakyat yang menonton iringan perayaan 25 taun pemerintahan Sultan. 2. Masjid Omar Ali Saifuddien Masjid Omar Ali Saifuddien merupakan masjid kerajaan Kesultanan Brunei yang terletak di Bandar Seri Begawan, tak jauh dari The Royal Regalia Building. Arsitektur masjid ini memadukan arsitektur Mughal Islam dan Italia, membuat masjid ini menjadi salah satu masjid yang paling mengagumkan di Asia Pasifik. Masjid ini memiliki menara marmer dengan kubah emas, dilengkapi dengan taman yang indah dan air mancur. Di samping masjid terdapat replika perahu Mahligai Kerajaan milik Sultan yang memerintah pada abad ke-16. Bangunan ini juga digunakan sebagai panggung Musabaqah Tilawatil Quran pada akhir tahun 1960 hingga awal tahun 1970. Di bagian kiri masjid terdapat Perpuspaan main gate 1968, disini juga terdapat taman dan air mancur yang cocok juga untuk berfoto. Sayang sekali waktu itu kami hanya foto stop di luar masjid dan cuaca yang panas membuat kami tidak bisa berlama-lama karena kami akan melanjutkan untuk makan siang. Kami makan siang di restoran yang terletak di kawasan Tarindak D’Seni yang berseberangan dengan Kampong Ayer. Dari restoran tempat kami makan siang kami bisa melihat pemandangan Kampong Ayer dan Jembatan Raja Isteri Pengiran Anak Hajah Saleha. Jembatan ini disebut juga Jembatan Sungai Kebun. Jembatan ini menghubungkan Bandar Seri Begawan dan Kampung Sungai Kebun. Setelah selesai makan siang kami melanjutkan ke destinasi berikutnya yaitu Istana Nurul Iman. 3. Istana Nurul Iman Istana Nurul Iman terletak di tepi sungai dengan bukit yang hijau di tepi sungai Brunei, beberapa kilometer selatan Bandar Seri Begawan. Istana Nurul Iman merupakan kediaman resmi Sultan Brunei dan keluarganya serta merupakan pusat pemerintahan Brunei. Istana Nurul Iman merupakan istana terbesar di dunia, memiliki 1.788 ruangan, termasuk 257 kamar mandi. Dan di dalamnya terdapat ballroom yang mampu menampung hingga lima ribu tamu. Di dalam istana ini juga terdapat garasi yang berisi ratusan mobil koleksi Sultan Brunei. Istana hanya dibuka untuk umum pada hari Raya Idul Fitri, dimana Sultan akan mengadakan open house selama 3 hari. Jadi kami hanya bisa photo stop di depan Istana saja. 4. Mercu Dirgahayu 60 Mercu Dirgahayu 60 (dalam angka arab) berwarna emas ini merupakan monument untuk memperingati hari ulang Sultan Hassanal Bolkiah ke 60 tahun. Mercu Dirgahayu 60 terletak di waterfront Kampung Ayer. Tak jauh dari Mercu ini terdapat dermaga taxi air untuk menuju ke Kampong Ayer. Wisatawan pun bisa naik taxi air dari sini untuk berkeliling di Kampong Ayer. Kampong Ayer adalah perkampungan terapung yang merupakan cikal bakal Bandar Seri Begawan. Kampong Ayer merupakan perkampungan terapung yang terbesar di dunia, luasnya sekitar 10 km persegi, terdiri 42 kampung dan dihuni oleh 20ribu orang penduduk. Kampong Ayer juga memiliki fasilitas yang lengkap seperti: air bersih, listrik, sekolah, masjid, klinik, dan fasilitas lainnya. Bagi penduduk Kampong Ayer yang memiliki mobil, mereka akan memarkir mobil mereka di tepi jalanan seberang Kampong Ayer, kemudian mereka pulang ke rumah menggunakan taxi air. Sebetulnya di dekat kawasan Mercu Dirgahayu 60 juga terdapat beberapa perahu yang menawarkan wisata ke kampung ayer, tapi menurut guide harus hati-hati supaya tidak kena scam. Guide sempat menawarkan siapa yang mau keliling kampung ayer bisa dikoordinasikan. Tapi kami memutuskan untuk segera menuju hotel supaya bisa istirahat, secara kami sudah lelah setelah perjalanan panjang dan flight di awal pagi.
  18. Tapiii, di belakang hotel aq nginep, ada juga rumah dari papan kayu/seperti bedeng gitu, di antara semak2. Mungkinkah mereka para pendatang haram?
  19. Iya rata2 warganya punya mobil sendiri, trus jarang banget lihat motor di jalanan, pernah lihat motor 1x itupun model motor sport gitu.
  20. Iya itu masjid paling populer di Brunei selain masjid jamee asr hasanal bolkiah.
  21. Iya di Brunei serba mahal. Hotel jubilee harga publish skitar $95/night, tapi grupku dpt harga $75/night (kalo ga salah Ingat). Makan skitar $ 3-5 setiap kali makan. Kalo tarif bus umum disana skitar $1. tp kayaknya busnya dikit dan jarak antar busnya lama, ato malah cuma ada di jam2 tertentu.
  22. Ho oh, blm puas foto2 di masjid itu euy, blm sempat lihat dalam masjidnya jg.
  23. Yup, jalanan dan pasarnya bersih banget.
  24. widiiiwww...lama banget ga buka forum, sampe lupa passwordnya. untuung dulu belum sign out jadi bisa klik di history-nya. :kesengsem