Usman KualaSimpang

Members
  • Content count

    31
  • Joined

  • Last visited

  • Days Won

    1

Usman KualaSimpang last won the day on December 5 2016

Usman KualaSimpang had the most liked content!

1 Follower

About Usman KualaSimpang

  • Rank
    Baru Bergabung
  • Birthday January 21

Profile Information

  • Gender
    Male
  • Location
    Jakarta
  • Interests
    Motorcycle Adventure friends culture

Contact Methods

  • Website URL
    www.adiaghoy.wordpress.com

Recent Profile Visitors

2,381 profile views
  1. Usman KualaSimpang

    Jalan lain ke Pulau Sumba

    Essiaaappp.... Lapan anemm..
  2. Usman KualaSimpang

    Jalan lain ke Pulau Sumba

    Iyak masbro @deffa tripnya baru saja usai. Sekarang lagi menikmati rasanya di rumah lagi.
  3. Usman KualaSimpang

    Jalan lain ke Pulau Sumba

    @deffa iyakk masbroo.. ada rider cewek nya juga. Kebetulan di sponsori oleh salah satu pabrikan motor buat nge-tes ketangguhan dan kekuatan motornya. Kira kira seperti Jalan2 yang di traktir lah. Tapi motoran.. Matursuwun masbro @kyosash .. bisanya cuman motoran. Saya gak terlalu nyaman terbang soalnyah..
  4. Sudah lewat tengah malam. Kopi tubruk tanpa gula disamping komputer ini masih tersisa seperempat gelas. Sudah dingin tentunya, tapi tak mengurangi kenikmatan setiap sruputannya. Masih teringat obrolan tadi sore di kedai kopi sepulang nguli. Beberapa sobat yang di meja sebelah terdengar sedang berdebat kecil. 3 orang lawan 1, membahas satu hal yang cukup mengusik keinginan untuk meluruskan sesuatu hal yang cukup menggelitik. Sumba dan Sumbawa adalah pulau yang sama ... Secara geografis, Sumbawa adalah sebuah pulau besar yang berada di posisi paling ujung Timur provinsi Nusa Tenggara Barat, dan menjadi titik penyeberangan untuk memasuki provinsi Nusa Tenggara Timur. Pulau Sumba, adalah sebuah pulau besar di sisi Selatan pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Untuk menuju pulau Sumba, cukup banyak penerbangan dari Jakarta atau Bali yang menuju ke dua lokasi bandara di Pulau Sumba, yaitu Bandara Tambolaka di Waikelo / Sumba Barat dan Bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu, Sumba Timur. Tulisan ini sekedar berbagi pengalaman kami yang juga pernah menginjakkan kaki di Tanah Sumba, dengan menempuh jalan yang tak biasa. bukan fiksi, dan cerita yang sama juga disampaikan oleh salah satu personel team yang berasal dari media partner dalam bentuk laporan perjalanan. Sore itu cukup cerah. Kami baru saja berhenti untuk mengabadikan keindahan matahari terbenam di pesisir pantai kota Bima. Perjalanan menuju Sape, pelabuhan paling ujung di pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat masih sekitar 30 menit lagi. Informasi mengenai kapal ferry RORO yang tidak terlalu akurat, membuat kami harus berpacu dengan waktu untuk bisa mencapai Sape secepatnya. Hari itu kami berkendara cukup jauh untuk ukuran sebuah perjalanan petualang bersama Team. Jarak lebih kurang 390 km ditempuh dalam waktu 9 jam, itupun termasuk berhenti di banyak titik untuk mengabadikan pemandangan dan spot indah disepanjang perjalanan. Dan tepat pukul 18.45, team tiba di pelabuhan Sape. Sebuah pelabuhan paling ujung di pulau Sumbawa yang menjadi gerbang untuk menuju Indonesia Timur. Terlihat ada 2 kapal ferry RORO yang sedang sandar di dermaga. Informasi sementara, 1 buah kapal akan menuju Labuan Bajo, Flores yang tidak terlalu terpengaruh cuaca, dan satu lagi adalah kapal RORO yang akan menuju Waikelo, Sumba. Itu kapal yang akan kami pilih. Tapi, tidak semudah itu ternyata. Informasi kurang nyaman kami terima dari para penumpang yang juga menunggu untuk bisa naik kapal yang sama menuju Sumba hari itu. Terlihat cukup banyak kendaraan yang akan diseberangkan menuju Waikelo, Sumba, menanti kabar keberangkatan kapal yang akan membawa mereka. Kami coba menuju kantor ASDP untuk mencari informasi lanjutan. Di papan pengumuman terlihat bahwa Kapal hari itu akan berangkat setelah mendapat informasi akurat dari BMKG Kupang, bahwa Selat Sape aman untuk dilintasi. Dan sayangnya, saat ini angin bertiup cukup kencang. Artinya, ombak akan cukup tinggi di Selat Sape yang terkenal ganas Tak lama, kami didekati seseorang dan menanyakan identitas Team, dan bertanya tentang apa yang kami lakukan disini, Pak Zaenal. Ternyata beliau seorang anggota Kepolisian KP3, sebuah satuan yang bertugas di setiap pelabuhan. Beliau menyampaikan persis seperti dugaan kami, bahwa ombak di selat Sape sedang ganas. Tidak ada kapal yang berani menyeberang, terutama setelah peringatan itu dirilis secara resmi oleh BMKG Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kontras dengan apa yang kami dengar, ternyata ada beberapa kapal kayu kecil yang menuju Sumba, yang anak buah kapal-nya justru berusaha mencari penumpang yang sudah terbiasa menyeberang menggunakan jasa mereka. Pilihan jatuh ke sebuah kapal Phinisi berwarna putih, terlihat sandar di dermaga paling ujung. Beberapa kru, terlihat sedang mencari penumpang, dan tak butuh waktu lama untuk mereka menawarkan kepada kami untuk menyeberang menuju Waikelo dengan menggunakan kapal yang sama. Kami berpikir sejenak. Dari kami berempat, 3 orang personil dalam team belum terbiasa, bahkan belum pernah naik kapal Phinisi ini. Sebuah kapal dengan Tonase 40 Ton, dan kapasitas angkut penumpang hingga 60 orang. Komunikasi singkat dengan team kendali di Jakarta menyiratkan keraguan, dan mereka lebih suka kami menunda untuk menyeberang sampai kondisi cukup aman. Tapi keputusan ada di kami, Team lapangan. Tidak ada kata mundur, dan ini adalah pilihan. Pukul 21.00, 4 unit motor Team Indonesia Eastcapade Expedition mulai dinaikkan, dan kamipun ikut naik setelah semua barang selesai di muat ke lambung kapal. Isi lambung kapal adalah Beras, gula, sembako dan ikan. Entah berapa berat totalnya, yang jelas badan kapal yang ramping terlihat terendam hingga setengahnya. Kapal ini dinakhodai oleh Bapak Ibrahim, seorang pelaut asli suku Bajo. Sebuah nama yang telah ribuan tahun menjelajah laut nusantara, bahkan dunia. Pertanyaan singkat kepada beliau mengenai ganasnya ombak di selat Sape, hanya disambut oleh beliau dengan senyuman. Dan jawaban yang sangat menenangkan. “Kapal besi itu baru beberapa tahun ada. Kapal kayu phinisi ini telah ratusan tahun mengangkut penumpang dan barang di lautan. lalu lalang dalam berbagai kondisi cuaca. Namanya laut, pasti berombak, dan kita terus belajar untuk bagaimana caranya, bukan melawan ombak,tapi menaklukkannya tanpa membuat celaka. Insya allah, ombak saat ini bukan yang paling buruk dari yang pernah kami lintasi, dan besok pagi kita akan tiba di Waikelo” … Dan disinilah kami, Team Indonesia Eastcapade expedition. Duduk diatas atap kapal yang bergerak cepat dengan 2 mesin utama dan 1 mesin cadangan meninggalkan Dermaga pelabuhan Sape, menuju Pelabuhan Waikelo, pulau Sumba. Sebuah tiang layar yang berdiri kokoh di haluan, dengan lampu di ujungnya menjadi penanda satu-satunya, bahwa kapal sedang bergerak maju dengan kecepatan lebih kurang 23 Knot. Cukup cepat untuk sebuah kapal laut berukuran sedang. Bintang bertaburan di langit Selat Sape. Awan gelap terlihat menggelayut didepan sana, yang entah berapa kilometer kedepan. Hembusan angin laut terasa kencang, agak dingin menusuk tulang dan Kapal mulai bergoyang kekiri dan kanan karenanya. Tak lama, ombak mulai mengganas, dan kapal mulai mengayun kiri - kanan dengan cukup kuat. Berkali-kali Haluan kapal terasa mengangkat cukup tinggi, lalu kemudian terhempas kembali dan menyisakan deburan ombak yang membasahi seluruh bagian kapal. Diatas atap, kami hanya 7 orang. 4 orang personil team, 2 orang penumpang dan 1 orang kru kapal sebagai navigator. Semua yang diatas atap masing-masing mengikatkan diri ke tiang pagar atap kapal dengan tali. Kami menggunakan webbing yang telah kami persiapkan sembari berdoa, semoga Badai ini tidak berlangsung lama. Ketika gerimis mulai menerpa, tiba-tiba kapal berguncang keras dan mulai oleng ke sisi kiri. Navigator kapal terdengar berteriak dalam bahasa yang tak kami mengerti, dan tak lama, terdengar mesin kapal seperti menambah kekuatannya. Sepertinya mesin cadangan mulai dipergunakan. Kami tidak tau persis apa yang terjadi, kami hanya diam berpegangan erat ke webbing yang mengikatkan diri kami erat ke tiang pagar kapal. Berdoa semoga badai ini segera mereda. Nyaris 4 jam di ayun dan dihempaskan ombak, kami yang di atas atap ini tak ada yang bisa memejamkan mata. Ayunan kapal dan kuatnya hempasan ombak yang menggempur kapal membuat semua ketenangan hilang. Hingga akhirnya terlihat cahaya merekah di ufuk timur. Fajar menjelang meski angin masih bertiup cukup kencang, tapi ombak mulai mereda. Semakin cahaya mentari mulai menerangi permukaan laut, kami mulai melihat sebuah pulau di depan sana. Pulau Sumba. Dan itulah Waikelo, sebuah kota kecil di sisi barat daya pulau Sumba yang akan menjadi pintu masuk kami di Nusa Tenggara Timur. 'Melihat Indonesia sedikit lebih dekat ..."
  5. Usman KualaSimpang

    Sepenggal kisah di Kampung Sodan

    Thank you @kyosash
  6. Usman KualaSimpang

    Sepenggal kisah di Kampung Sodan

    Terima kasih @kyosash Tapi ada berita kurang baiknya juga. Kampung Sodan musnah dilalap api sebulan yang lalu. Habis tak tersisa apapun, karena semua rumah mereka terbuat dari kayu dan alang, bahkan sampai ke alat musik tradisional mereka berupa gendang yang konon terbuat dari kulit manusia juga musnah. Pemerintah dan masyarakat setempat saat ini sedang berusaha untuk membangun kembali peradaban kampung Sodan itu.
  7. Hari itu memasuki hari ke-2 kami berpetualang di pulau Sumba. Kegiatan rekan-rekan dari Perhimpungan Burung Indonesia di kantor Anakalang, Sumba Tengah hari itu cukup santai. Keberadaan kami disini berkaitan dengan kerjasama Team INDONESIA EASTCAPADE Expedition untuk konservasi alam / pelestarian lingkungan dan kepedulian terhadap dunia pendidikan di daerah yang sulit dijangkau dengan Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia atau lebih dikenal dengan Burung Indonesia (BirdLife Indonesia Association) yang merupakan organisasi konservasi nasional yang berupaya melestarikan seluruh jenis burung di Indonesia dan habitatnya, dengan dukungan masyarakat. Diskusi kecil tadi malam bersama Om Anis; Koordinator Burung Indonesia Sumba, Om Joni dan Mbak Lina mengenai rencana kegiatan Team selama di Pulau Sumba menjadi acuan untuk kegiatan hari ini. Om Anis dan Om Joni akan menemani Team mengeksplorasi sebuah Kampung Adat yang cukup dikenal di bagian Sumba Barat Daya. Hanya sekedar tahu, namun belum satupun dari mereka yang pernah kesana. Kampung Sodan, di Lamboya Dete, Sumba Barat. Menempuh jarak lebih kurang 45 Km dari Anakalang, melewati Kota Waikabubak lalu mengarah ke barat daya, kami mulai memasuki sebuah kawasan perbukitan dengan kontur jalan yang naik-turun lengkap dengan tikungan tajam, tak lupa bentang alam Indah dan semak belukar di kiri-kanan jalan membuat perjalanan Team hari ini cukup menantang. Bonus matahari bersinar terik menjadikan petualangan ini sempurna. Memasuki desa Lamboya, jalan mulai rusak cukup parah. Menyeberangi sebuah sungai yang berair jernih dengan kedalaman 40 cm, mengalir deras membentang selebar 12 meter, untungnya sepeda motor kami tidak mengalami kendala melintasi sungai ini. Setelah melanjutkan perjalanan, kami mulai mewaspadai kondisi jalan yang mulai rusak parah. Kombinasi tanjakan terjal dan batu lepasan membuat perjalanan menuju Kampung Sodan sedikit terkendala. Team harus berhati-hati melintasi jalan menanjak dengan batuan lepasan yang menutup permukaan jalan, hingga akhirnya team tiba disebuah kaki bukit dengan ketinggian lebih kurang 80 meter dari tempat kami berdiri, dan Kampung Sodan Ada diatasnya. Kampung Sodan, sebagaimana kampung adat di Sumba yang masih asli, dibangun diatas ketinggian. Biasanya, bukit dengan jalan masuk terjal dan sulit didaki menjadi pilihan utama. Tujuannya, mempertahankan Kampung dari serangan musuh akan lebih mudah jika bertahan pada posisi strategis, dan pintu akses masuk kampung dibuat menjadi satu pintu. Dan inilah kampung Sodan. Team harus mendaki jalan dengan kemiringan nyaris 45⁰ menuju pintu masuk satu-satunya ke kampung Sodan Angka itu kami dapat setelah melihat pada Clinometer yang kami miliki . Dari informasi yang kami dapatkan, belum ada Team ekspedisi lain yang pernah menyentuh desa ini, mengingat jalan menuju Kampung Sodan ini yang tidak mudah. Bahkan, sangat jarang wisatawan yang mau mengunjungi kawasan ini, padahal daerah dataran tinggi lamboya Dete ini kaya akan keindahan alam dan khasanah budaya khas pulau Sumba yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Masuk ke kampung Sodan, Om Joni yang asli suku Loli dan mampu berbahasa Sodan dengan baik, mengucapkan salam dalam bahasa setempat. Dan sebuah sahutan menggema dari arah kampung Sodan. Bapak Talo Goro, tetua Kampung Sodan sendiri yang menyahut seruan om Joni. Kami diterima di kampung ini. Alhamdulillah. Dan, sekali lagi jalan mendaki menuju rumah Bapak Talo Goro, harus kami lalui. Tiba di rumah Bapak Talo Goro, kami disuguhi sirih pinang sebagai salam dan tanda adat bahwa kami diterima dengan tangan terbuka. Tak lupa, kami juga menyerahkan sirih pinang yang kami bawakan untuk tanda niat baik kunjungan kami ke kampung ini. Dan selanjutnya, obrolan kami mengalir santai tapi tidak kehilangan arah. Sebatang rokok tembakau asli yang ditanam didepan rumah, dilinting dengan kulit jagung menjadi salam perkenalan dari Bapak Talo Goro dan menjadi simbol penerimaan dari beliau bahwa kami diterima dengan baik. Kampung Sodan, yang belum tersentuh akses listrik dari PLN berada di 737.983 meter dari permukaan laut. Hawanya cukup sejuk. Kampung ini terdiri dari 33 rumah, yang semuanya masih asli, dibuat dari kayu Meyella dan yang dihuni oleh total 230 jiwa. Setiap rumah di Kampung Sodan dibangun dengan gotong royong dan kerjasama oleh 9 suku yang ada di satu Kampung Sodan. Suku-suku yang ada didalam Kampung Sodan adalah Anamalanta, Ubuteda, Modu, Weeyelu, Marapati, Ubukawau, Weisola, Weemati dan Weesagora, dimana Setiap suku, memiliki peran dan fungsi masing-masing didalam kehidupan keseharian kampung Sodan. Masyarakat Kampung Sodan menjaga dengan baik adat istiadat, budaya asli dan kearifan lokal yang menjadi kebaggaan masyarakat kampung ini. Termasuk kehidupan spiritual mereka yang memiliki keyakinan Merapu yang sekali setahun menyelenggarakan acara adat yang mereka sebut Po’du. Sebuah acara sakral yang berlangsung sebulan penuh pada waktu yang telah ditentukan dengan menjalankan ritual, mentaati setiap perintah tetua adat dan menjauhi segala pantangan dan larangan. Berada di ketinggian, pastinya cukup menyulitkan masyarakat untuk mendapatkan air. Benar saja. Sebelum adanya bantuan air dari Desa Nihiwatu di pesisir yang membangun aliran air hingga ke pelosok Sumba, masyarakat Kampung Sodan harus turun dari kampung menuruni tebing terjal hingga ke ketinggian 200 meter untuk mengambil air dari sumbernya. Sungguh sebuah tantangan. Tak butuh waktu lama, kami diajak untuk berkeliling kampung melihat kehidupan keseharian masyarakat kampung Sodan. Sungguh sebuah kesempatan berharga. Kami bisa melihat langsung kehidupan masyarakat Kampung Sodan yang masih asli, yang masih terjaga dengan baik. Luar biasa
  8. waahh.... 

    selamat dini hari teman2 jalan2.com

    Lama juga gak numpang nimbrung disini. Masbro @deffa apa kabarnya ? 

    semoga semua teman disini sehat selalu dan sukses terus jalan2 nya..

    :melambaiBPRO0262.JPG

     

    1. Show previous comments  2 more
    2. deffa

      deffa

      @Usman KualaSimpang

      boleh mas di regional mana neh heheh :D

    3. Usman KualaSimpang

      Usman KualaSimpang

      Saya tinggalnya di region Cibinong, bogor. Tapi wara wirinya banyakan di Jekartah. Ngopinya di kisaran region itu, saya pengen ikutan yakk... :melambai

    4. deffa

      deffa

      @Usman KualaSimpang

      bentar lagi akan ada kopdar akbar regional jabodetabek tar update nya di umumin di forum kok :D

  9. Usman KualaSimpang

    Pulau Selayar

    kudu jajal merapat kesini masbroh...
  10. Usman KualaSimpang

    Pulau Selayar

    iyakk.. masbroh. Menuju ke Selayar, berhubung kami motoran, jadinya skalian menikmati tanjung Bira. Untuk motoran, sebenarnya waktu 3 atau 4 hari cukup kok. tinggal merencanakan kapan waktunya buat bisa meluncur menuju lokasi. kalo kesulitan, mungkin kami bisa bantu. Monggo intip www.equatorrad.com buat yang pengen jajal petualang dan traveling pake motor ke seluruh penjuru nusantara..
  11. Usman KualaSimpang

    Pulau Selayar

    Selayar, Sulawesi Selatan Mendapatkan kesempatan untuk menjelajah Indonesia dengan sepeda motor, adalah sebuah pengalaman terbaik dan tak terlupakan. Dengan berkendara sepeda motor, kami menjelajah seluruh kepulauan Sulawesi, dari sisi Selatan ke sisi Utara, dari sisi Timur, hingga ke sisi Barat. Kami menghabiskan Waktu selama 56 hari untuk menjelajah Pulau sulawesi, menempuh jarak lebih kurang 5231 Km, dan semua kami lakukan hanya bersama Team yang terdiri dari 3 orang personel. Hanya kami, tanpa kendaraan pendukung lainnya. Sebuah misi yang kami beri nama SULAWESI EXPLORADVENTURE, dengan tema ; Melihat Indonesia sedikit lebih dekat. Selayar adalah salah satu tempat yang kami eksplorasi. Sebuah pulau yang memiliki kekayaan alam dengan keindahan tidak terkira. Keramaahan penduduknya, hasil bumi, kasanah budaya, hingga keindahan alam bawah laut yang salah satunya adalah Taman Nasional Takabonerate yang telah menjadi salah satu yang terbaik di dunia, tak luput menjadi tujuan eksplorasi kami selama di Pulau Sulawesi. Pulau Selayar adalah sebuah pulau yang berada di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Kota Benteng adalah ibukota dari kabupaten Selayar, dan terdapat beberapa Kecamatan antara lain Kecamatan Benteng, Kecamatan Bontoharu, Kecamatan Bontomanai, Kecamatan Bontomatene, Kecamatan Bontosikuyu dan Kecamatan Buki. Akses termudah untuk mencapai pulau ini adalah dari Tanjung Bira, kemudian menumpang kapal ferry RORO menuju Pelabuhan penyeberangan Pamatata yang terletak di desa Pamatata, kecamatan Bontomatene, Kabupaten Kepulauan Selayar. Selain itu, terdapat juga Bandar udara terdekat dan satu-satunya yang ada di pulau Selayar yaitu Bandar Udara H. Aroeppala yang terletak di dusun Padang, desa Bontosunggu, kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar. Banyak keunikan yang dimiliki oleh Pulau Selayar. Mulai dari kuliner hingga ke adat istiadat yang merupakan peninggalan luhur budaya masyarakat selayar dimasa lampau, terus mereka pegang teguh hingga saat ini. Selain itu, akses utama untuk menuju pulau-pulau kecil yang tersebar disekitar Selayar adalah dengan menggunakan perahu bermotor dengan cadik penyeimbang. Buat yang gampang mabuk laut, mungkin ini bukan pilihan utama, tetapi percayalah. Semua itu akan ditebus tuntas, dengan keindahan yang bisa didapatkan dibanyak lokasi yang tersebar di seluruh kawasan pulau Selayar. Beberapa dokumentasi kami ini, semoga bisa menjadi gambaran, betapa Indahnya Indonesia akan selalu menjadi tujuan utama eksplorasi kami yang selalu menginspirasi untuk bisa mengeksplorasi lebih jauh lagi. Sulawesi ExplorAdventure. "Melihat Indonesia sedikit lebih dekat ..."
  12. Usman KualaSimpang

    Membuang Risau Di Tepian Ranau

    woohh... alhamdulillah baikk mas @deffa.. baru kembali sayah...
  13. Usman KualaSimpang

    Membuang Risau Di Tepian Ranau

    @deffa .. yaelahhh. @MotorMasse yakk... salam aspal keras. Dari Aghoy. Hahahahaha.....
  14. Wahh... lama gak bersua teman2 disini. Maaf, baru kembali lagi ke ibukota.. pengen ikutan kopdar lah. Kalo ada.. heheheee... pasti seruu....
  15. Usman KualaSimpang

    Membuang Risau Di Tepian Ranau

    Wahh.. apa kabar teman-teman semua, lama gak berbagi cerita. kangen juga euy... Nah. Kali ini perjalanan petualangan kami mengarahkan kuda besi yang kami kendarai menuju titik yang bukan menjadi destinasi utama wisata di kawasan pesisir barat Sumatera. Danau Ranau. Dari Bakauheni sebagai titik pendaratan sekaligus garis start perjalanan lintas Sumatera kali ini, jarak tempuh menuju Danau Ranau berdasarkan peta, lebih kurang 350 km. Dengan sepeda motor 200cc kami, akan memakan waktu lebih kurang 7 – 8 jam. Cukup jauh. Perjalanan dimulai pada pukul 4 sore, dan kami memutuskan untuk menempuh rute pesisir. Bakauheni – Tanggamus – Kotaagung – Bintuhan – Krui – Liwa – Lumbok Seminung/Danau Ranau. Jalan menuju pesisir (Bintuhan) cukup bagus. Hingga ke Kotaagung, kondisi jalan sangat direkomendasikan untuk teman-teman yang ingin mencoba lintas pesisir barat. Tantangan dalam perjalanan baru akan ditemukan ketika mulai memasuki kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Jika tidak terbiasa berpetualang, sebaiknya menempuh perjalanan pada siang hari, karena tantangan pada saat malam hari menjadi berlipat ganda. Hutan lebat dengan ranting kayu yang banyak menjorok ke badan jalan, dan topografi kawasan yang didominasi oleh tanjakan, turunan, tikungan tajam, dan cenderung licin ketika hujan. Tebing cadas dikiri dan jurang menganga di kanan, atau sebaliknya, terus menemani perjalanan melintasi kawasan ini. Ketika malam bertambah larut, seringkali turun kabut tebal, lembab, tipikal alam kawasan dataran tinggi. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan juga merupakan kawasan konservasi Harimau Sumatera. Cukup banyak cerita yang kami dengar tentang Harimau yang numpang ngaso ditengah jalan aspal untuk mendapatkan kehangatan sambil tiduran. Untungnya kami tidak mendapatkan kehormatan bertemu dalam perjalanan kali ini. Tambahan bumbu penyedap cerita kawasan ini, terkenal dengan satu ruas jalan yang berupa tanjakan agak curam berkesinambungan dengan panjang beberapa ratus meter, yang terkenal dengan nama Tanjakan Mayat, dan beberapa kali memakan korban. Fiuhh…. Lolos dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, semua lelah terbayar lunas oleh hamparan pantai sepanjang Jalan, deburan ombak dan hembusan angin pantai yang menerpa wajah, terus memberikan pesona khas pesisir Sumatera hingga ke Krui. Dari Krui, kembali menembus pekatnya rimba menuju Liwa, dan terus menuju Desa Lumbok Seminung, tepian Danau Ranau. Disini, kami menginap di salah satu resort, yang kalo tidak salah bernama Lumbok Seminung Resort. Hotel keren, kamar hotel berkelas, dan harga sangat bersahabat. Harus dicoba teman-teman.. Pemandangan indah, udara segar dan sejuk, sunrise yang keren, kawasan sekitar yang masih asri dan cenderung sepi, membuat semuanya terbayarkan. Visit Sumatera ! …