Nightrain

Members
  • Content Count

    2,192
  • Joined

  • Last visited

  • Days Won

    15

Everything posted by Nightrain

  1. How To Enjoy Tokyo In 6 Days Dear friends, saya akan coba share itinerary perjalanan kita ke Tokyo dalam 6 hari beserta berbagai tips berdasarkan pengalaman disana dan mudah-mudahan ini bisa membantu terutama buat mereka yang masih ragu-ragu karena takut soal bahasa, makanan, mahalnya biaya, ataupun kompleksitas jaringan subway yang memang kalau dilihat sepintas bikin puyeng. Untuk benar-benar menikmati Tokyo dan seluruh side-tripnya yang menarik, saya perkirakan butuh waktu sekitar 10 hari, dan kalau mau ditambah dengan Osaka dan sekitarnya, maka harus tambah ekstra 6-7 hari lagi. Jadi buat yang punya planning untuk explore Tokyo-Osaka dalam 7 hari, sebaiknya dipisah saja jadi Tokyo atau Osaka saja, kecuali kalau punya waktu 10 hari baru bisa maksimal, kalau ngga nanti malah abis waktu di jalan. Waktu terbaik untuk mengunjungi Jepang adalah musim semi sekitar April atau musim gugur sekitar November. Cuaca kita selama trip ini termasuk bagus dan hanya diguyur hujan gerimis sekali waktu ke Yokohama dan pas ke Hakone dan Disney, matahari bersinar cerah dan suhu juga sejuk sekitar 20 derajat. Sayangnya di kota Tokyo sendiri, pemandangan daun musim gugur baru akan optimal nanti di akhir November, tidak seperti Seoul yang lebih cepat 2-3 minggu. Day 1 - Thu 30 Oct 2014 Hakone dan Tokyo Metro Government Building Plan hari pertama kita adalah Hakone karena ini side-trip terjauh dan setelah mengecek perkiraan cuaca di internet, hari itu sunny dan cloud sedikit jadi memang perfect untuk ke Hakone. Kalau misalnya cloudy atau rainy, kita akan geser ke hari lain dan tukar dengan itinerary yang bisa spend banyak waktu indoor seperti Shibuya atau Odaiba. Untuk ke Hakone, kita harus naik Odakyu Romancecar yang ada di Shinjuku, jadi dari hotel kita menuju Suitengumae dan beli dulu PASMO card (seperti EZLink di Singapore atau T-Money di Seoul) di machine. Instruksi-nya simple, pilih bahasa Inggris, masukkan uang dan pilih new PASMO. Saya sarankan untuk langsung isi ¥5,000 karena sampe hari terakhir, kita malah kudu top-up lagi ¥2,000 haha, namun kalau nanti ngga banya kepake, PASMO tetap bisa dipake untuk naik bus juga dan belanja di beberapa mini-market, atau di refund dengan minimal saldo ¥500. Sebagai patokan simple, biaya untuk dari stasiun A ke stasiun B itu sekitar ¥170 kecuali untuk jarak yang jauh seperti ke Yokohama atau Odaiba dan kalau ganti tipe kereta seperti Metro (subway) ke JR (regular train) juga harus bayar dua kali. (kiri) di dekat stasiun Odakyu | (kanan) di dalam Romancecar Setelah PASMO beres, masukkan saja ke dalam dompet agar tidak gampang tercecer dan setiap masuk ke stasiun, dompet tinggal di-tap dan masukkan lagi ke kantong celana. Untuk ke Shinjuku, kita harus naik Hanzomon Line ke arah Chuorinkan, turun di Kudanshita dan ganti Toei-Shinjuku menuju Sasazuka dan turun di Shinjuku. Cara paling gampang untuk mengetahui rute ini, pake saja Google Maps, masukkan current location atau stasiun asal dan masukkan stasiun tujuan, nanti akan di kalkulasi best route-nya. Agar bisa menghemat lebih banyak waktu lagi, itinerary dan rute kereta sudah dicari dulu di Indonesia dan diprint di selembar kertas jadi ngga perlu browse lagi, tinggal lihat contekan kecil Tiba di Shinjuku, ambil West Exit dan cari Odakyu Department Store. Stasiun Odakyu ada di dekat situ dan untuk ke Hakone, kita butuh beli free-pass sekitar ¥5.000 yang mencakup free entrance dan discount ke berbagai attraction, Hakone-Tozan train line, cable car, dan pirate ship di Lake Ashi dan setelah punya free-pass, kita bisa membeli tiket kereta Limited Express Romancecar yang harga one-way sekitar ¥1.000. Tempat membeli tiket tersebut ada di Odakyu Sightseeing Service Centre yang lokasinya ngga jauh dari pintu masuk stasiun. Tiket kereta lebih baik beli one-way agar waktu lebih fleksibel dan tiket return ke Shinjuku bisa dibeli di sana. Perlu diperhatikan, kalau menggunakan fasilitas round-trip dari free pass, Anda akan menggunakan kereta biasa dan tiba di Odawara, dan dari Odawara harus naik kereta lagi menuju Hakone-Yumoto, sedangkan Romancecar lebih cepat dan langsung ke Hakone-Yumoto. (kiri) soba | (kanan) pintu masuk Gora Park Tiba di Hakone-Yumoto, kita coba mengikuti rute tipikal turis yaitu naik Hakone-Tozan ke Gora, lunch dan explore Gora park, lanjut naik train ke Sounzan kemudian ropeway ke Owakudani, sebelum turun dengan cablecar lagi menuju Togendai untuk naik pirate ship di Lake Ashi ke Hakone-Machi dan kembali ke Hakone-Yumoto dengan bus. Semuanya berjalan lancar namun dari pengalaman kita, justru pada saat naik kapal terakhir di Lake Ashi, waktu sudah menjelang malam dan awan cenderung tebal sehingga gunung Fuji sudah tidak terlihat sama sekali. Kelihatannya rute terbaik malah kebalikannya yaitu dari Hakone-Yumoto ke Hakone-Machi dulu untuk naik pirate ship ke Togendai dan berharap sekitar jam 11 siang, langit masih cerah dan view gunung Fuji masih jelas. Untuk yang memiliki rencana day-trip dan tidak menginap di Hakone, tidak disarankan mengunjungi Gotemba Fashion Outlet karena memakan waktu yang lama, jadi lebih baik fokus di Gora Park, Owakudani, dan Lake Ashi saja. Kalau ada waktu lebih, boleh coba mampir dulu di Hakone Open Air Museum yang ada di Chokoku No Mori station, satu stop sebelum Gora. Setelah lunch di sekitar stasiun Gora, kita jalan menuju Gora Park dan dengan free-pass kita bebas masuk ke dalam. Warna musim gugur mulai terlihat di taman ini dan foto paling cakep di area sekitar fountain karena ada latar belakang gunung dan pepohonan yang berwarna-warni. Setelah puas di park, kita kembali ke stasiun untuk menunggu train ke Sounzan dan jangan lupa untuk mencoba kudapan ringan berisi red bean seharga ¥100-an, rasanya enak! Tiba di Sounzan, kita langsung pindah ke cablecar dan menuju Owakudani. View dari Hakone Ropeway ini sungguh bagus dan memasuki area Owakudani sudah tercium bau belerang dan dari kejauhan sudah terlihat kepulan-kepulan asap. Maskot tempat ini adalah telur hitam dan memang salah satu 'souvenir' di sini adalah telur hitam tersebut yang direbus di air belerang dan konon satu butir telur tersebut bisa menambah umur 7 tahun tapi tidak boleh makan lebih dari 2.5 butir, ya mungkin bukan apa-apa tapi takut kolestrol dan bisulan kayanya hihi di Owakudani dan telur hitam Karena sudah pukul 3.30 sore dan sebentar lagi matahari terbenam, area parkiran yang biasanya merupakan view point gunung Fuji terbaik malah visibility-nya sudah drop karena awan yang tebal. Kalau saja kita ambil jalur Lake Ashi dulu baru ke Owakudani, mungkin masih keburu nonton Fuji hehe. Banyak turis yang menghabiskan waktu disini untuk berendam air panas atau hiking menuju lake Ashi, yang pasti Owakudani ini menurut saya merupakan highlight utama dari Hakone trip dan wajib untuk dikunjungi. Es krim bertabur coklat juga nikmat dan jangan lupa membeli sekantung telur hitam seharga ¥500 di counter depan toko souvenir. Sekitar pukul 4.30, kita naik cablecar menuju Lake Ashi dan view dari atas juga bagus. Sebagian pohon sudah terlihat berubah warna merah dan coklat namun masih banyak yang hijau. Di dalam car, ada 2 orang bule manula yang sedang ngobrol dan terlihat was-was pada waktu melihat kapal sudah berangkat karena di Togendai memang ngga ada transportasi lain selain kapal menuju pelabuhan berikut sedangkan cable car terakhir beroperasi sekitar jam 5 sore. Namun untungnya timing kita pas karena ada satu kapal terakhir yang akan berangkat one-way menuju Hakone-Machi persis jam 5 sore, jadi setelah berfoto sebentar di dermaga, kita naik kapal dan tiba di pelabuhan dalam waktu 30 menit. Dari situ, kita menuju parkiran untuk nunggu bus express menuju Hakone-Yumoto. Bus juga sudah termasuk dalam free-pass jadi tidak perlu bayar lagi. Lake Ashi dan pirate ship Tiba di Hakone-Yumoto, kita langsung menuju loket, menunjukkan Hakone free-pass agar bisa beli tiket Romancecar balik ke Shinjuku seharga ¥1.000 dan kereta berangkat jam 6.20 malam, tiba di Shinjuku sekitar jam 8 malam. Cukup banyak restoran di stasiun dan ada satu restoran yang menjual Onigiri jadi kita beli beberapa untuk dinner dan yang paling rekomen adalah tuna. Setelah kenyang, kita lanjut dengan berjalan santai menuju Tokyo Metro Government Building (TMGB) untuk menikmati skyline Tokyo yang terkenal cantik. Ikuti saja plang dari stasiun ke arah West Exit, kira-kira 20 menit sampe dan coba tanya ke petugas yang ada di dekat gedung untuk arah masuk lift-nya. Onigiri Kita sempat kesasar dan malah naik tangga tinggi menuju jalan protokol yang banyak gedung kantor padahal harusnya ke basement dan masuk lewat situ. Untuk naik, semua tas akan diperiksa dulu oleh sekuriti sebelum satu-persatu dipersilahkan masuk ke lift dan naik ke lantai 45. View dari atas bisa dibilang memang spektakuler namun sayang karena terlalu banyak stand-stand souvenir jadi pantulan lampu ke kaca-nya cukup mengganggu dan hasil foto juga jadi berbayang tapi karena gratis ya ngga boleh komplen haha view malam dari TMGB Setelah puas menikmati pemandangan malam Tokyo, kita turun dan kembali ke hotel melalui MRT Tochomae Station dengan jalur Oedo Line dan turun di Aoyama Itchome kemudian pindah ke Hanzomon Line dan turun di Suitengumae. Untuk yang stay di daerah Shinjuku / Shibuya, TMGB ini bisa jadi pilihan yang bagus, namun kalau tinggalnya di Asakusa/Chuo dan ngga masalah untuk bayar entrance fee sekitar ¥2.000, lebih baik ke Tokyo Skytree saja karena lebih dekat.
  2. Nightrain

    Tersesat Di Seoul

    one of National Folk Museum of Korea properties Kali ini saya mau share trip kita ke Seoul awal November 2013 kemarin, mudah2an bisa jadi panduan untuk yang mau ke Seoul dan waktu yang kita spend kira2 5 malam. Untuk explore Seoul dan sekitarnya sudah optimal, kecuali Anda minat untuk ke Seorak-san atau Jeju, rasanya minimal 7-8 hari baru ok. Bulan November memang salah satu waktu terbaik untuk mengunjungi Seoul, karena selain kita bisa menikmati indahnya variasi warna dedaunan yang berwarna kuning emas, hijau, dan merah, juga cuaca juga masih tidak terlalu dingin dan siang menjelang sore malah adem jadi tidak perlu sampai berlapis-lapis, juga syal dan sarung tangan pun ngga harus pake. Suhu pagi memang bisa antara 4-10 derajat, dingin apalagi kalau angin pas gede, tapi begitu jam 11 siang, pelan2 naik 12-14 dan jam 3 sore adalah yang terbaik karena suhu bisa sekitar 16-19 derajat. Sebetulnya pertengahan Oktober itu suhu yg terbaik namun jeleknya, 70% pohon masih hijau jadi view ngga sebagus pas awal November, dan takutnya curah hujan masih relatif tinggi, jadi kalau pas kita kemarin itu November, dalam 5 hari hanya kena sekali hujan, itupun hanya gerimis dan sebentar saja. Dan tenang saja, jangan sampai thread title membuat Anda takut, kalopun nyasar juga gampang nemu jalan yg bener, kita kemarin pas jalan memang sengaja tinggalin iPad di hotel jadi ngga ada GPS/online maps, dan bermodalkan peta konvensional di kantong dan niatnya mau tanya kiri kanan kalo nyasar, dan memang alhasil berkali2 nyasar karena susahnya sebagian orang lokal ngga bisa ngomong Inggris jadi pake bahasa Tarzan dikit, dan Tarzan ditaro di kota baru ya pasti nyasar Tapi salutnya ya orang2 lokal cenderung ramah dan helpful walopun ngga bisa komunikasi, masih tetep berusaha, dan kalo hoki, di beberapa sudut jalan ada orang lokal yang berkostum merah dengan bordir 'I' di punggung dan topi koboi, ini adalah English-speaking local yang siap membantu turis dan konon ngga dibayar, jadi semacam volunteer untuk bantu pariwisata disana. Day 1 - Namdaemun / Myeongdong / Seoul Station Tiba di Incheon sekitar pukul 9 pagi setelah 7 jam direct flight dengan Garuda. Waktu disana lebih cepat 2 jam, dan kebetulan kita dapat tiket promo sekitar $500 PP / orang dan setelah ngambil bagasi, langsung cari counter KAL Limousine dan beli tiket untuk ke City Hall. Kita nginep di Hotel Aropa dan lokasinya sangat dekat dgn Plaza Hotel, salah satu stop KAL Limousine, biaya per orang sekitar KRW 18000 jadi sekitar 400rb-an berdua. Hotel Aropa sendiri masih baru, belum setahun rasanya, dan harga Agoda waktu itu sekitar 1jt / malam, lokasi dan hotel saya bilang sih ok banget, jadi buat yang mau coba, sangat rekomen! Perjalanan ke kota kira2 sekitar 45 menit dari airport dan tiba di hotel masih kepagian sedangkan check-in biasanya jam 3 sore. Jadi kita titip saja koper disana dan langsung jalan. Tujuan pertama dari hotel ini yang paling dekat adalah Namdaemun Market. Kira2 15 menit jalan sudah sampe dan lokasi itu memang rame, baik turis2 China dan Jepang maupun orang lokal, disini macam2 dijual jadi memang setting-an mirip seperti Ni Ren Jie (Mongkok) atau Shang Xia Jiu Lu (Guangzhou). Kalau cewe, boleh belanja kosmetik2 kaya Face Shop, sebagian besar disini harga bisa 50% lebih murah ketimbang belanja di Myeongdong, tapi bedanya sangat susah untuk nawar, hampir semuanya claim harga pas, ya memang sudah murah sih karena di Seoul itu apa2 memang mahal, jadi memang bukan shopper's country kecuali Anda siap bayar harga premium. Ada juga yg jual snack enak, berbentuk ikan yang isi dalamnya kacang merah, agak mirip dengan es krim ikan yang biasa dijual di Sushi Tei atau di supermarket, tapi yang ini versi anget-nya. (kiri) Namdaemun Market | (kanan) kaca Han's Deli yang jadi 'korban' Di Seoul, banyak underground pass yang menuju ke subway yang juga digabung dengan shopping center, jadi sedikit mirip dgn Singapore juga cuma yang ini koneksinya sangat luas dan panjang. Dari Namdaemun, yang terdekat bisa ke Hoehyeon Underground Shopping Center, disini terkenal dengan koleksi piringan hitam, jadi kira2 mungkin ada 4-5 toko gede jadi buat yang suka PH, boleh belanja disini, tapi koleksi CD sangat minim. Dari sini bisa tembus ke Myeongdong, salah satu pusat shopping Seoul dan sangat rame baik ama turis maupun local. Karena harga sewa disini selangit, maka jangan heran kalau barang2 yang dijual rata2 juga mahal. Banyak brand terkenal juga walaupun bukan yang high-end seperti Italian / French brand (kalau itu adanya di Apgujeong, area Gang Nam), jadi di Myeongdong ini bagusnya cuci mata, nongkrong, coba2 snack, makanan, dan kalau tertarik untuk nonton Nanta Show juga ada disini, untuk shopping ada tempat lain yang lebih ok. (kiri) Tteokbokki, snack khas Korea | (kanan) di depan City Hall Kita mampir untuk lunch di Han's Deli, restorannya cukup unik, mostly European food, di kaca-nya banyak coret2an dan tempelan notes dari pengunjung, dan sepertinya memang resto pilihan ABG, karena kita random pick aja pas ngeliat yang deket, untuk rasa sih standar dan harga cukup reasonable. Dari sini juga dekat dengan Myeongdong Cathedral kalau mau sekedar berfoto, dan lokasinya cukup luas, jadi mungkin Anda bisa spend 2 jam disini, mungkin lebih kalau mau lunch atau bersantai. Sore-nya kita balik ke hotel dulu untuk refresh dan istirahat sebentar. Saya coba call shuttle bus ke Nami Island karena memang mesti book-in-advance tapi sialnya orangnya cuma bisa bahasa Korea, jadi saya minta tolong orang hotel untuk call dan ternyata udah full-booked semua, bahkan udah full sampai sebulan kedepan, jadi buat yg rencana mau pergi, mungkin perlu booking sebulan di depan dan coba di e-mail dulu. Terpaksa kita mesti ambil jalur manual, dari sisi harga sih hampir sama, tapi jauh lebih gampang kalo ada shuttle bus karena cukup ke Insadong dan naik dari situ saja. Jam 6 sore dari hotel kita jalan lagi ke subway station, beli T-Money (sekitar KRW 5000 untuk beli perdana dan load saja KRW 15000 untuk naik subway selama 5 hari) dan ke Seoul Station. Disana ada Lotte Mart dan banyak pilhan makanan dan snack, juga ada Lottle Dept Store. Sebetulnya hampir semua tempat ada Lotte, tapi Station ini paling dekat dgn City Hall. Dekat hotel Aropa juga ada 7-11 yang buka 24 jam jadi kalau butuh air, snack, susu, bir, gampang! Seoul Station
  3. Phuket, 10 - 14 December 2015 Awal sampai pertengahan Desember merupakan waktu yang tepat untuk mengunjungi Phuket karena musim hujan sudah berakhir di awal November dan kondisi laut cenderung tenang sehingga memungkinkan untuk menyeberang ke Phi Phi dan Phang Nga Bay dengan aman. Namun usahakan jangan pergi akhir Desember karena Phuket sudah memasuki high season, selain akomodasi yang mahal, kalau pantai, kafe, dan toko terlalu padat jadinya kurang nyaman juga. 2 minggu sebelum berangkat, kita sudah janjian dengan mas Warsono alias @Sononi Noni untuk menjadi tour guide kita sekaligus menyiapkan mobil agar kita keliling kota jadi gampang dan efisien, apalagi kita memang ngajak papa mertua untuk jalan dan kakinya sudah sakit untuk berjalan terlalu jauh. Overall, servis Sononi memuaskan dan kita rekomen untuk temen-temen yang mau ke Phuket karena selain dia memang asli orang Indo jadi ngobrolnya gampang dan asik, dia juga kenal dengan berbagai operator tur dan show jadi harga yang didapat bisa lebih murah jauh ketimbang langsung beli on the spot. Day 1 - Patong Kita tiba di bandara sudah jam 8 malam dan ruangan imigrasi sudah sangat padat dengan turis dari berbagai negara. Kerja para petugas agak lelet, bahkan mungkin lebih lama dari Indo, dan baru belakangan kita tau kalo ternyata di Thailand pun masih umum praktek sogok-menyogok, jadi kalau berani keluarin 100 baht, bisa disediakan pintu khusus biar lebih cepat haha. Setelah mengambil bagasi, kita segera keluar dan ketemu dengan Sononi di depan. Cuaca malam itu tidak bersahabat dan ternyata Phuket seharian diguyur hujan, tapi mending gitu daripada hujan pas kita ke Phi Phi haha malemnya kita menuju ke hotel dan lokasi airport ke kota cukup jauh sekitar 1 jam kurang dan karena perut agak keroncongan, kita minta untuk mampir makan dulu. Kita diajak ke restoran No 6 yang ada di Patong, rupanya resto ini memang rame dan terkenal, selain karena rasanya yang enak, harganya juga murah. Pad thai yang terkenal seperti kwetiau itu harganya sekitar 35rb-an, minuman rata-rata sekitar 25rb, dan ada beberapa makanan yang harganya 40rb-an. Hujan masih masih mengguyur Phuket namun bar, resto, dan sepanjang jalan Patong ini masih rame dipadati turis, sebagian mengenakan rain ponchos, semacam jas hujan, ada juga yang cuek dan santai saja berjalan di luar walaupun basah. Hotel yang kita pilih adalah Patong Mansion yang lokasinya cukup dekat dari restoran itu dan tiba disana sekitar jam 10 malam. Interior lobi hotel ini sederhana saja namun relatif bersih dan hotel ini masih tergolong baru, mulai beroperasi sejak 2 tahun lalu. Kamarnya termasuk besar dan extra bed yang kita pesan juga sudah diatur rapi di dalam. Setelah mandi, kita beristirahat karena besok jam 8 pagi kita akan mengawali tur Phuket ke Phi Phi Island.
  4. Gara-gara kemaren-kemaren iseng liat itinerary tur Greece-southern Italy yang ciamik dan bikin ngiler, ingatan langsung balik lagi ke tur Eropa 4 tahun silam. Saya mau share bagian pertama selama travelling 2 mingguan ke 5 negara tahun 2009 yang lalu yaitu 4 kota di Italy, dan nanti pelan-pelan dilanjut sampai berakhir di Denhaag awal Januari 2010, mudah2an berguna untuk yang ada rencana kesana. Enjoy! *** peta jalur yang kita lalui selama 4 hari di Italy ROMA Setelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta ke Roma dengan waktu tempuh total sekitar 18 jam termasuk dua kali transit, kita pun tiba di airport Fiumicino sekitar jam 2 siang waktu lokal dimana waktu di sana lebih lambat 6 jam dari Jakarta. Dengan kondisi badan masih belum fit, sore itu kita langsung dijejali dengan agenda ketat untuk mengunjungi berbagai destinasi yaitu Vatican, dilanjutkan dengan Colosseum dan kemudian berakhir di Trevi Fountain. Sambil menunggu bagasi, saya melihat di dekat situ ada outlet yang menjual berbagai roti isi, dan dengan semangat 45, langsung aja saya pilih beberapa potong yang tampilannya paling menarik, dan sayangnya, gigitan pertama sudah sangat mengecewakan, selain rotinya keras, kejunya super salty, dan dagingnya dingin seperti baru keluar dari kulkas. Suasana di airport siang itu sangat sibuk dan interior agak kusam, ngga kalah bersaing dengan Soekarno-Hatta Terminal lawas dan jelas bukan pemandangan bagus setelah asik bersantai di airport mewah Changi dan Dubai. Dari airport, kita langsung menuju Vatican yang merupakan pusat pemerintahan Katholik sekaligus juga negara independen dari Italy. Berbeda dengan Singapore atau negara lainnya dimana menjelang Christmas, suasana di jalan, tempat rekreasi, maupun shopping mall sudah ramai dengan nuansa natal, di Roma tidak ada dekorasi seperti itu, bahkan tidak terlihat satu pun pohon yang dihias sepanjang perjalanan dari airport. Untuk menghemat waktu, kita turun dari bus dan jalan kaki melewati tunnel agar tidak terjebak macet. Di sepanjang tunnel banyak orang Afrika yang berjualan barang-barang knock-off atau barang branded KW. Sepertinya banyak yang datang secara ilegal dari Maroko dan Algeria, dan Paus pun seringkali leluasa memberikan ijin untuk menampung mereka di sana, dan saran saya, sebaiknya jangan hiraukan atau coba-coba menyentuh barang yang mereka tawarkan,orang2 ini termasuk penjual preman yang suka main paksa beli. St.Peter's Square Hujan turun tepat saat kami tiba di St. Peter's Square yg merupakan 'halaman' dari St. Peter's Basilica yang terkenal itu. Di area ini Anda bisa mendapati sebuah obelisk menjulang tinggi, yang katanya sengaja dibawa Caligula dari Mesir. Sayangnya tanggal 24 Desember sore itu St. Peter's Basilica sudah ditutup untuk persiapan misa malam Natal. Gereja sudah ditutup sejak jam 3 sore dan kita tiba di sana pukul 4. Padahal jelas Basilica yg terkenal dengan keindahan interiornya ini adalah salah satu highlight destinasi yg sudah kita tunggu2. Ini alasan utama kenapa kita ingin kembali ke Roma satu hari nanti. ini dia interior Basilica Sesi jepret-jepret pun tidak optimal karena hujan namun kita cukup puas mengitari Vatican dan setelah itu, perjalanan pun dilanjutkan menuju Colosseum dengan melewati beberapa spot historis termasuk Roman Forum, ada yang masih terawat dengan bagus namun ada juga yang sebagian sudah hancur, maklum saja ini kota bisa dibilang sudah berumur 2500 tahun. Tiba di Colosseum, hujan sudah berhenti, namun karena sudah winter, matahari tenggelam lebih cepat, jadi sebelum gelap, kita sempat explore sebentar namun tidak sampai masuk ke dalam. Bangunan Colosseum ini sendiri juga separuh sudah rusak karena gempa dan ada juga yang suka nyolong batunya, tapi masih oke untuk ukuran bangunan berumur 2000 tahun. [kiri] Colosseum | [kanan] Arch of Constantine Di samping Colosseum juga berdiri Arch of Constantine yang dibangun oleh Roman Senate untuk memperingati kemenangan Constantine ketika melawan Maxentius pada tahun 312. Arch ini juga barangkali menginspirasi Arc de Triomphe yang dibangun di Paris untuk memperingati berbagai kemenangan Napoleon. Di dekat situ juga ada artis jalanan yang mencoba mengais rejeki dengan mengajak turis berfoto dengan kostum gladiator jaman dulu. para gladiator gadungan, tapi harus berhati2 karena banyak tukang tipu Matahari sudah terbenam ketika kita kembali ke bus untuk destinasi terakhir yaitu Trevi Fountain. Fontana di Trevi, demikian sebutan bahasa Italia untuk air mancur terbesar di kota itu dan juga salah satu yang paling terkenal di dunia, terletak tidak terlalu jauh dari Colosseum, hanya sekitar 15-20 menit dengan bus dan setelah turun, kita akan berjalan kaki menyusuri gang kecil yang dipenuhi dengan restoran, kafe, toko souvenir, dan hotel, dan disesaki oleh berbagai turis untuk sekedar berfoto, bersantai, dan ada juga yang melempar koin. Menurut info, setiap hari bisa terkumpul sekitar 3000 Euro dari koin-koin yang dilempar turis dan ada aja yang iseng suka nyolong, niat banget! [kiri] latar belakang Trevi Fountain | [kanan] street artist di Trevi Di salah satu toko souvenir juga menjual es krim Italia atau yang disebut gelato, harganya murah tapi rasanya betul-betul nikmat, wajib dicoba apabila lagi disana atau pas lagi ke Trevi. Walaupun cuaca tidak terlalu bersahabat karena hujan gerimis perlahan turun dan membuat suhu semakin dingin tetap tidak mengurungkan niat kita untuk menikmati gelato. Malam itu sangat ramai dan memang fountain yang dihiasi dengan lampu memberikan kesan mewah dan elegan, serta menjadi latar belakang yang cantik untuk berfoto. [kiri] gang menuju Trevi | [kanan] gelato yang nikmat! Kira-kira jam 7 malam, kita beranjak kembali ke bus untuk dinner di salah satu restoran Chinese, dan lucunya terjadi sedikit kesalahpahaman antara pihak restoran dan tour kita. Dia pikir kita book untuk besok, jadi begitu sampai di restoran malah tutup, mungkin karena malam natal, tapi setelah melalui pembicaraan yang alot di telepon, akhirnya restoran dibuka juga, dan para karyawannya langsung sigap mulai memasak dan akhirnya makanan siap dalam waktu 20 menit. Soal rasa memang kurang, nasi yang rasanya kurang mateng, sup yang agak hambar, dan entah ayam apa yang disajikan, tapi rupanya kita baru tau kalau orang Italia sendiri selera Chinese food-nya agak berbeda dengan kita orang Asia, dan nasi yang masih separuh keras itu katanya sih memang favorit orang sana, weleh Setelah selesai makan, kita lanjut ke hotel yang terletak agak sedikit diluar kota Roma dan agenda besok harinya kita akan menuju ke Pisa. Sepanjang perjalanan kita melihat cukup banyak fountain dan pahatan patung, dan baru tau juga ternyata Roma ini punya sekitar 2000 fountain jadi wajar aja kiri kanan nemunya air mancur.
  5. Part 1 - Italy Part 2 - Lucerne dan Mt.Titlis, Switzerland roadtrip dari Milan melewati Lugano dan masuk ke Gotthard dan menginap di Brunnen. Lokasi Lucerne dan Engelberg ada di sekitar situ Perjalanan 3 jam sore itu untuk menuju area Lucerne yang jauhnya 250km dari Italy, tidaklah terasa lama karena sepanjang perjalanan kita disuguhi pemandangan yang menakjubkan, terutama saat melewati jembatan danau Lugano. Suasana sunset yang mewarnai pemandangan rumah-rumah yang tertata rapi di lereng pegunungan yang tertutup salju putih menjawab pertanyaan kenapa banyak traveller sangat mengagungkan Switzerland. (kiri) pemandangan sunset dari bus | (kanan) pro shot danau Lugano yang cantik Bus pun meluncur tanpa halangan melewati terowongan Gotthard yang membentang hampir 17km melalui desa kecil Goschenen dan ketika malam tiba, kita sempat mampir dulu di Marche, restoran Swiss yang juga ada di beberapa mall besar Jakarta, sebelum lanjut ke City Hotel yang ada di Brunnen persis samping danau Lucerne. Malam itu kita dinner dengan main course berupa hidangan ikan yang sangat tasty dan so far the best food yang kita dapat selama beberapa hari di Eropa ini. Hotelnya terkesan sederhana namun cozy dan homey, kebetulan kita dapat kamar dengan jendela menghadap ke jalan. Sekitar jam 10 malam, salju turun perlahan dan mulai menumpuk di tanah dan menutupi atap2 mobil yang kebetulan diparkir dekat hotel. (kiri) depan Marche | (kanan) dekat hotel di Brunnen Paginya setelah breakfast, kita berangkat menuju desa Engelberg yang terletak di kaki gunung Titlis untuk naik cable car menuju puncak gunung dengan ketinggian kurang lebih 3000 meter. Suhu pagi itu sudah sekitar 0 derajat, tapi untungnya angin tidak terlalu kencang. Menurut info, suhu di puncak gunung sudah sekitar -13 derajat, jadi cukup ekstrim untuk kita yang terbiasa dengan suhu tropis. Pemandangan di sekitar Engelbert juga bagus, walaupun sebagian sudah tertutup salju, namun di sebagian wilayah masih terlihat padang rumput hijau. Sekitar 30 menit kita tiba di stasiun cable car Titlis dan sudah banyak sekali pengunjung yang antri, baik turis maupun orang lokal yang mau main ski. (kiri) desa Engelberg | (kanan) di kaki gunung Titlis Banyak anak kecil berjalan santai bersama orang tua mereka melewati kita tanpa terlihat kedinginan sama sekali, padahal kita sudah menggigil walaupun baju sudah 4 lapis. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah di ketinggian kadar oksigen semakin menipis sehingga tidak disarankan untuk mereka yang punya penyakit jantung atau tergolong obesitas untuk naik ke atas. Buat para pencinta alam atau yang sering naik turun gunung sih pasti sudah biasa dan tau tentang ini, tapi banyak turis yang ngga ngerti dan waktu itu, ada satu rekan di tur kita yang sangat gemuk sempat kehabisan napas di atas dan sejak saat itu, ketika kembali ke Indonesia, dia diet mati-matian. Pas kita ketemu beberapa tahun kemudian, berat badannya udah turun puluhan kilo, uda kayak kontestan The Biggest Loser aja. Mengutip kalimatnya: "pengalaman hampir mati di Swiss bener-bener bikin deg-degan! Di lift saja gue sampe minta maaf ama istri kalo ada salah, buat jaga2 kalau ngga selamat sampai di bawah" …hahaha Jadi untuk ke atas, kita akan naik satu lift dan dua cable car. Cable car pertama adalah Rotair yang berbentuk bundar dan bisa berotasi 360 derajat. Konon ini adalah rotating cable car yang pertama di dunia, setelah itu kita naik cable car yang menuju puncak Titlis. Menurut saya, view terbaik tidak Anda dapatkan pada saat menaiki Rotair tapi justru pada cable car terakhir, karena pada cable car yang ukurannya lebih kecil ini Anda bisa melihat pemandangan dari tempat yang lebih tinggi dimana kita bisa menikmati view seluruh area pegunungan, termasuk pemandangan pohon, rumah2 yang tertutup salju, dan orang2 yang sedang meluncur di ski dari atas gunung ke bawah, mereka meliuk-liuk membentuk satu animasi yang indah, inilah pemandangan pure winter wonderland seperti yang sering kita liat di film kartun Disney. (kiri) Rotair | (kanan) the real winter wonderland Siang hari kita lunch di buffet restaurant, rasanya lumayan enak, apalagi karena dibuka dengan hidangan soup hangat dan view white mountain di luar restaurant terlihat sangat bagus. Setelah makan, kita naik ke lantai paling atas dan keluar untuk 'menikmati' dinginnya puncak Titlis. Jujur, kita ngga kuat lama-lama di udara dingin begitu, paling 30 menit aja, itupun sambil keluar masuk ruangan biar hangat. Dan setelah puas di atas main lempar-lemparan salju, kita pun turun untuk menuju Lucerne sore harinya. Kita tiba tepat di pusat kota Lucerne sekitar pukul 3 sore dan lokasi berkumpul ada di depan Bucherer yang ada di samping danau tempat dimana Chapel Bridge yang menjadi icon kota berada. Sebelum ke sini, kita sempat mampir berfoto dulu di Dying Lion Monument yang merupakan tugu memorial untuk mengenang prajurit Swiss yang gugur di abad 17. Bagi para penyuka jam mewah, Bucherer adalah tempat yang tepat untuk mencari jam berlabel keren seperti Rolex, Chopard, Patek Philippe, namun buat yang suka non-pricey goods di sekitar lokasi juga banyak yang menjual berbagai macam baju, souvenir, dan makanan (terutama coklat) dengan harga yang terjangkau. Kita juga sempat coba es krim Movenpick, rasanya memang oke banget dan patut dicoba kalau ke sini. (kiri) Chapel Bridge waktu winter | (kanan) pada waktu spring Lucerne Indahnya Swiss memang sulit dilukiskan dengan kata-kata, harus dilihat langsung dengan mata kepala sendiri. Negara ini menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi buat yang suka travelling karena di sini apa aja bagus dan orangnya rata2 ramah. Makanannya enak, coklat dan roti jangan ditanya lagi, mau barang mewah juga komplit, mau wisata alam juga sangat bagus. Kita pengen sekali balik lagi ke Swiss karena masih banyak tempat yang belum sempat dieksplor seperti Zurich, Interlaken, Jungfrau, Matterhorn, dll. Malam itu kita kembali ke hotel di Brunnen dan besok paginya kita akan meninggalkan Swiss untuk melanjutkan perjalanan panjang selama 8 jam ke Paris. bersambung ke Part 3 - Paris
  6. Part 3 - Paris Part 4 - Brussels Kita mengawali tahun baru 2010 dengan cukup spesial karena hari ini kita akan makan 3 kali di 3 negara yang berbeda. Setelah breakfast di Paris, kita melanjutkan perjalanan menuju Brussels, ibukota Belgia. Jarak 300km kita tempuh dalam waktu 3 jam dan perhentian pertama kita di salah satu landmark kota, The Atomium. Bentuk bangunan ini sangat unik karena menyerupai molekul atom dan di ujung atas sphere Anda bisa melihat pemandangan kota Brussels. Sayangnya waktu yang terbatas membuat kita hanya bisa foto-foto di depan dan ngga sempat masuk ke dalam. Setelah lunch di salah satu restoran lokal yang rasanya masih tetap biasa aja, kita lanjut menuju Grand Place yang merupakan square utama kota Brussels. Ada tiga bangunan utama disini yaitu Guildhalls, Town Hall, dan Breadhouse. Hampir semua turis kalau datang ke Brussels pasti akan menjejakkan kaki disini dan memang juga merupakan salah satu landmark kota yang masuk UNESCO World Heritage Site. (kiri) tempat sampah unik, tapi tetep aja banyak yg nyampah sembarangan | (kanan) The Atomium New Year's Eve semalam banyak menyisakan sampah, botol minuman, kaleng bir, dan juga banyak muntahan orang di sebagian jalan kota, ya tidak banyak berbeda dengan Jakarta atau kota-kota di Indo setelah pesta malam tahun baru, tapi memang ada yang bilang bahwa Brussels termasuk salah satu kota terkotor di Eropa, dan ditambah juga dengan suasana subway yang tidak ramah dan kusam, belum lagi banyak gelandangan dan tingkat kriminal yang cukup tinggi. Ngga banyak tempat yang kita kunjungi di Brussels dalam waktu setengah hari itu tapi Atomium dan Grand Place memang dua icon utama kota dan kalau sudah kesini bisa dibilang Brussels sudah komplit, namun rasanya lebih oke kalo bisa spend 4 hari agar bisa keliling satu kota penuh sambil coba lebih banyak makanan dan juga sidetrip ke Antwerp, Bruges, dan Ghent. Di sekitar Grand Place, banyak kios souvenir dan juga snack khas Belgia seperti oyster goreng, onion ring, kentang goreng, dan Belgian waffle. Memang ini termasuk snack andalan dan wajib coba kalau ada disana, tapi lagi-lagi sayang kita ngga sempat jajal bir yang justru jadi komoditi utama Belgia. Menjelang sore, kita kembali ke bus untuk lanjut ke Amsterdam bersambung ke Part 5 - Netherlands
  7. suasana di Camp Nou (markas Barcelona) Bulan Mei umumnya merupakan waktu yang paling nyaman untuk mengunjungi sebagian besar negara Eropa karena mulai masuk puncak musim semi dengan suhu hangat yang sangat mirip dengan Indonesia. Kali ini kita memutuskan untuk mengunjungi Spanyol dengan tujuan 3 kota besar-nya yaitu Madrid, ibukota yang berada di tengah; Barcelona, kota pinggir laut yang terletak di timur Spanyol; dan Sevilla, yang merupakan ibukota wilayah Andalusia di selatan. Kita juga sempat mampir ke negara kecil Andorra yang terjepit antara Spanyol dan Perancis di area pegunungan Pyrenees karena mudah dijangkau dengan bus dari Barcelona. Lokasi Spanyol dan Maroko yang berdekatan juga membuat kita tidak melewatkan kesempatan untuk menginjakkan kaki pertama kali di benua Afrika dan menghabiskan waktu 3 hari melihat negara eksotis ini. Day 1 - Puerta del Sol, Madrid (Selasa, 5 Mei 2015) Kita tiba di airport Barajas Madrid sekitar pukul 2 siang waktu setempat atau kurang lebih jam 7 malam WIB. Suhu waktu itu masih sekitar 20 derajat dan setelah melalui proses cek imigrasi dan mengambil bagasi, kita menuju ke stand Lebara untuk mengganti SIM card lokal dengan unlimited internet. Biaya internet di Spanyol relatif murah, sebulan berkisar antara €10 - €15. Selain operator Lebara, disarankan untuk menggunakan Vodafone atau Movistar. Untuk menuju ke hotel, ada opsi bus dan subway, namun karena kita belum ada gambaran mengenai lokasi sekitar hotel, jadi daripada buang waktu nyasar, kita langsung menuju taxi stand dan di-charge flat rate €30 ke downtown. Tiba di hotel dan selesai check-in, kita langsung menuju stasiun subway untuk menuju lokasi pertama yaitu Puerta del Sol. Ini adalah titik 0 kota Madrid, alun-alun utama dan di sekeliling lokasi ini banyak sekali turis maupun orang lokal yang sering berkumpul. Artis jalanan juga memadati area sekitar patung kuda untuk mencari sesuap nasi, mulai dari penyanyi kwartet, badut dengan kostum lucu, 'patung statis', dan sebagainya. Puerta del Sol cocok menjadi starting point Anda untuk menjelajahi kota Madrid karena dari sini Anda bisa menjangkau beberapa landmark dengan berjalan kaki, dimulai dari Plaza Mayor, kemudian mampir sebentar ke Mercado de San Miguel dan sekitar 10 menit Anda akan tiba di Royal Palace of Madrid yang juga berhadapan dengan Catedral de la Almudena. Jangan lupa untuk memperhatikan jadwal buka istana apabila Anda ingin masuk ke dalam, tapi kalau hanya sekedar berfoto di luar saja, paling bagus ambil momen menjelang sunset. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam namun hari masih terang karena bulan Mei sudah mendekati musim panas dan di Eropa biasanya sunset baru dimulai sekitar jam 8 malam. Siang hari terasa lebih panjang lagi menjelang Juni karena matahari baru terbenam sekitar jam 9.30 malam. Di Spanyol, kebanyakan orang baru mulai makan malam sekitar jam 9 malam namun restoran rata-rata sudah buka dari jam 5 atau 6 sore, jadi untuk menghindari peak hour sebaiknya jam 8 sudah selesai makan. Setelah selesai mengisi perut di salah satu resto terdekat, kita pun kembali ke hotel untuk beristirahat. Day 2 - Santiago Bernabeu dan Retiro Park, Madrid (Rabu, 6 Mei 2015) Tidak lengkap rasanya kalau ke Madrid tanpa mengunjungi markas klub sepakbola Real Madrid. Terlepas Anda suka atau tidak dengan klub ini, atau bahkan bukan penggemar sepakbola, Real Madrid (dan juga rival mereka, Barcelona) sudah menjadi icon penting negara Spanyol dan tergolong mudah untuk menjangkau stadion klub yang sudah berdiri lebih dari 100 tahun lalu ini. Lokasinya terletak sekitar 6km arah utara Puerta del Sol dan opsi termurah untuk menuju kesana yaitu lewat subway. Buat yang pengen nonton pertandingan, disarankan untuk beli dulu tiket via ticketmaster H-10 untuk menghindari antrian panjang dan kadang untuk big match, belum tentu tiket masih ada pas hari H, namun buat yang pengen liat stadion aja, sebaiknya datang persis jam 10 pagi supaya belum terlalu banyak turis yang datang. Tiket masuk untuk tur stadion sekitar €19 dan durasi tur biasanya sekitar 1 jam. Dengan tiket ini, Anda bisa naik ke lantai atas untuk melihat stadion dari tempat tinggi, kemudian lanjut ke dalam museum Madrid untuk melihat koleksi piala, sejarah dan rekor klub, tim inti beserta jersey-nya, dan berbagai macam pernak-pernik Real Madrid, kemudian Anda juga bisa mendapatkan kesempatan untuk berfoto dan ada petugas yang akan memilih pemain mana yang akan di-crop ke dalam foto tersebut, dan tentu Anda juga bisa mengitari stadion, mencoba duduk di kursi VIP, di bangku cadangan pemain, dan akhirnya membeli berbagai souvenir klub. Selesai dari Santiago Bernabeu, kami mampir ke salah satu restoran di seberang stadion untuk makan siang dan kemudian lanjut menuju pusat kota Madrid yaitu Gran Via. Lokasi Gran Via ini mungkin bisa dikatakan adalah 'Orchard Street'-nya Madrid buat yang familiar dengan kota Singapore. Di jalanan panjang ini berjejer berbagai bangunan tinggi, ada mall, toko, kantor, bahkan kasino. Tentu dengan aristektur bangunan yang juga bervariasi mulai dari klasik hingga modern sehingga nuansa Eropa masih terasa banget. Lokasinya kurang lebih satu blok dari area Malasana tempat hotel kita berada. Area ini bagus juga untuk dijadikan starting point apabila Anda ingin mencari hotel dengan best value, dekat dengan subway, dan cukup banyak restoran di sekitarnya. Kita menghabiskan waktu sekitar 2 jam untuk berkeliling di sekitar Gran Via dan apabila Anda terus berjalan ke arah timur, Anda akan tiba di Plaza de Cibeles. Di dekat bundaran ini ada Palacio de Cibeles (Cybele Palace) yang sekarang sudah dijadikan City Hall. Lokasi Plaza Cibeles ini juga selalu dijadikan tempat berkumpul fans Real Madrid apabila tim mereka juara dan juga menjadi tempat perayaan tahun baru buat warga kota Madrid. Tidak jauh dari Cibeles, Anda akan tiba di bundaran berikutnya, Puerta de Alcala dan dari lokasi tersebut, Anda akan menemukan pintu masuk ke salah satu taman terbesar Madrid yaitu Retiro Park. Buat yang senang art, lokasi taman ini pun tidak jauh dari Prado Museum yang juga merupakan salah satu attraction kota Madrid. Apabila cuaca bersahabat, Anda bisa berjalan santai menuju ke arah danau kecil dan Monument Alfonso XII. Banyak bangku taman berjejer di sana untuk sekedar beristirahat sambil menikmati udara sore dan juga ada beberapa penjual makanan ringan di sekitar situ apabila Anda ingin mencari snack atau minuman ringan. Terlihat banyak warga memadati taman, ada yang bersepeda santai, ada juga yang jogging sore, dan ada juga yang mengitari danau dengan kano. Waktu kurang lebih pukul 5 sore ketika kita memutuskan untuk kembali ke hotel dulu untuk sekedar rileks dulu. Menjelang jam 7.30, kita berjalan santai menuju restoran Bodega de la Ardosa, salah satu tapas bar di sekitar hotel untuk makan malam. Tiba di sana, baru sekitar 3-4 meja yang terisi karena memang jam restoran terpadat adalah jam 9 malam, apalagi kalau pas weekend dan ada siaran bola. Buat yang belum tahu apa itu tapas, jadi itu adalah sebutan untuk appetizer atau snack khas Spanyol, tersedia baik yang panas (daging/seafood/kentang/dll) maupun dingin (cheese/mixed olives/berbagai macam sayuran/dll). Namun warga Spanyol sering juga menjadikan tapas sebagai main course, bukan sekedar makanan pembuka, karena di satu meja, mereka bisa saja mengorder 6-7 piring tapas untuk 3-4 orang. Mungkin analogi yang agak mirip yaitu seperti sushi di Jepang dimana satu piring bisa terdapat banyak jenis menu untuk di-share. Restoran yang kita tuju tersebut merupakan rekomendasi dari resepsionis hotel dan kebetulan mendapatkan skor 4 bintang di tripadvisor. Review restoran di tripadvisor biasanya merupakan opini objektif dari turis berbagai negara sehingga kalau total rating sudah 4 bintang ke-atas, umumnya lumayan atau enak karena pernah juga kita hanya mengandalkan usulan dari salah satu orang lokal dan ternyata hasilnya sangat mengecewakan. Day 3 - Casa Batllo dan Passeig de Gracia, Barcelona (Kamis, 7 Mei 2015) Setelah kelar packing dan check-out, kita bergegas ke stasiun kereta Madrid Atocha dengan menggunakan taxi. Lokasi stasiun tidak jauh dan kurang lebih 15 menit kemudian kita sudah tiba. Tiket kereta cepat AVE dari Madrid menuju Barcelona sudah dipesan dari Indonesia sehingga waktu dan jam sudah fixed. Cara pemesanan tiket tersebut tidak sulit namun untuk menghindari kesalahan, silahkan baca petunjuk 'Buying Renfe Tickets Online' di : http://www.tripadvisor.com/Travel-g187514-c80518/Madrid:Spain:Buying.Renfe.Tickets.Online.html. Untuk harga tiket kereta, ada diskon lumayan apabila Anda booking sekitar 2 bulan sebelum keberangkatan. Kereta pun berangkat sesuai jadwal dan kurang lebih 3 jam kemudian kita sudah tiba di Barcelona. Opsi yang lebih murah bisa menggunakan kereta biasa dengan waktu perjalanan sekitar 6-7 jam dan ada juga yang overnight train untuk menghemat biaya hotel semalam, sekitar 10 jam sampai Barcelona. Dari stasiun, kita naik taxi menuju hotel yang ada di Carrer de Mallorca. Sama seperti Madrid, lokasi Mallorca ini cukup dekat dengan jalan protokol, Passeig de Gracia, namun harga penginapan relatif wajar, bahkan tergolong murah. Setelah check-in, kita mampir ke salah satu restoran di dekat hotel untuk makan siang. Impresi pertama cukup baik dan rasanya overall lebih enak dari hampir semua resto di Madrid yang kita coba. Lokasi pertama yang kita tuju adalah Passeig de Gracia karena memang paling dekat dari hotel. Ini adalah 'Gran Via'-nya Barcelona dan buat yang senang shopping, di sinilah surga-nya, mulai dari LV, Prada, Valentino sampai Zara, Mango, dan Puma tersebar di sepanjang jalan. Buat yang tidak senang shopping, jangan khawatir karena banyak juga kafe dan restoran tempat kongkow dan beberapa landmark terkenal seperti Casa Batllo dan La Pedrera. Untuk masuk ke Casa Batllo, Anda perlu membeli tiket dan dianjurkan untuk membeli tiket secara online karena Anda tidak perlu antri sampai satu jam pada saat mau masuk ke dalam. Bangunan ini adalah hasil karya dari arsitek legendaris Spanyol yaitu Antoni Gaudi. Beliau adalah sosok populer di balik megah-nya bangunan 'Modernista' seperti Sagrada Familia, Casa Mila, dan Casa Batllo tadi. Apabila Anda tertarik untuk mengetahui sejarah penghuni dan ruangan Casa Batllo, di dalam Anda akan dibekali dengan seperangkat alat yaitu tablet dan headphone dan dari lantai atas juga Anda bisa menikmati Passeig de Gracia yang padat dengan turis, warga lokal, maupun kendaraan yang lalu lalang. View bangunan ini juga akan lebih bagus pada saat menjelang malam hari karena lampu-lampu yang dinyalakan akan mempertegas struktur bangunan tersebut yang unik dan indah. Tidak terasa kita berjalan hingga pukul 9 malam dan karena di Indo sudah jam 3 pagi, tiba-tiba badan baru berasa lemes dan ngantuk, karena baru hari ketiga dan masih belum adaptasi penuh dengan perubahan jam. Kita pun kembali ke hotel untuk beristirahat. Day 4 - Palau de la Musica Catalana dan Montserrat (Jumat, 8 Mei 2015) Kita mengawali hari ke-empat dengan mengunjungi Palau de la Musica Catalana. Ini adalah tempat konser dengan arsitektur khas Modernista dan merupakan hasil karya Lluís Domènech i Montaner. Tempat ini juga merupakan UNESCO World Heritage Site sejak 1997 dan buat yang senang dengan bangunan unik khas Spanyol, tempat ini layak dikunjungi. Harga tiket masuk kurang lebih sekitar €17 / orang dan kita akan ditemani oleh seorang guide yang dengan senang hati akan menjelaskan mulai dari sejarah tempat ini, konser apa aja, dan cerita-cerita menarik di balik ukiran dan tatanan di dalam gedung tersebut. Persis di seberang gedung ini ada restoran yang bernama Tosca dan makanannya termasuk enak serta harga relatif wajar. Pelayannya ramah dan cukup fasih berbahasa Inggris, mungkin karena setiap hari banyak turis yang mampir setelah mengunjungi Palau. Salah satu menu andalannya adalah Jamon Iberico atau Iberian Ham, dan sebagian besar berasal dari daging babi yang digarami dan dikeringkan beberapa bulan. Mungkin karena terbiasa makan daging asin ini, banyak variasi makanan Spanyol lainnya malah jadi berasa terlalu asin untuk lidah kita. Untuk yang tidak mengkonsumsi babi, ada baiknya memesan kentang, seafood, dan sayur-sayuran karena selain ham, makanan lain di resto ini juga enak termasuk kentang goreng khas Spanyol. Setelah makan, kita menuju Plaza Catalunya, alun-alun utama kota Barcelona yang menjadi meeting point dari daytrip sore itu menuju Montserrat. Tempat wisata ini berasal dari kata 'serrated' karena beberapa puncak gunung yang berdempetan memiliki tinggi yang berbeda sehingga terlihat seperti gergaji dari kejauhan. Di sini terdapat biara Benedictine yang bernama Santa Maria de Montserrat dan seringkali merupakan tempat retreat untuk warga lokal Spanyol. Selain itu, para pecinta alam juga senang mendaki gunung ini dan termasuk populer di kalangan turis. Area gunung ini bisa dicapai dengan driving sekitar 1 jam dari kota Barcelona. Untuk yang waktunya terbatas, sebaiknya menggunakan local tour untuk ke Montserrat karena perbedaan biaya tidak terlalu banyak dan bisa dilakukan setengah hari saja, namun kalau punya waktu panjang, ada bagusnya berangkat dari pagi hari dan bisa menikmati Montserrat sekitar 3-4 jam sebelum turun dengan menggunakan kombinasi cable car dan kereta. Yang menarik dari Montserrat adalah indahnya pemandangan dari puncak gunung, uniknya gunung yang berwarna merah muda, arsitektur biara yang menawan baik di eksterior maupun interior-nya, serta banyak cerita menarik mengenai Black Madonna dan terbentuknya pegunungan ini. Biaya tur per orang sekitar €45 dengan durasi waktu sekitar 4-5 jam dan tidak menyangka tour guide kita yang asli orang Barcelona ternyata baru balik dari liburan ke Indonesia selama 3 minggu sekitar beberapa bulan sebelumnya. Tur berakhir sekitar pukul 7 malam namun suasana di Barcelona masih terang benderang karena memang bulan Mei sudah menjelang musim panas. Turis masih memadati area Plaza Catalunya dan kita berjalan santai menuju La Rambla. Ini adalah salah satu jalan terpadat dan mayoritas dijejali oleh turis jadi selalu waspada karena banyak copet beraksi dan rata-rata makanan serta minuman dipatok dengan harga tinggi padahal rasanya di bawah standar. Barang-barang souvenir, mainan, bunga, pernak pernik juga dijual dengan harga tinggi karena La Rambla sudah terkenal sebagai destinasi turis jadi banyak juga grup tour dari berbagai negara yang hanya mampir 1-2 malam di Barcelona pasti dibawa ke sini untuk berbelanja atau makan malam. Di dekat La Ramblas, ada satu pasar makanan yang juga terkenal yaitu Mercat de Sant Josep de la Boqueria. Berbagai macam jenis makanan mulai dari permen, buah-buahan, sayuran segar, ikan, dan sebagainya dijual di sini, namun karena salah satu destinasi turis juga, dipastikan hari apa pun pasti akan sangat padat dan terus terang tidak terlalu nyaman untuk shopping, namun untuk sekedar menyaksikan keramaian pasar ini sih oke juga. Kita sendiri tidak sampai masuk ke dalam dan memilih untuk makan malam di sekitar situ dan kembali ke hotel untuk beristirahat. Day 5 - Barri Gotic (Old Town) dan Camp Nou (Sabtu, 9 Mei 2015) Kalau di utara Jakarta, ada sepetak lokasi yang dinamakan Kota Tua yang sebagian berdiri bangunan peninggalan Belanda, maka di timur Barcelona pun terdapat satu lokasi yang mirip dan dinamakan Barri Gotic atau juga dikenal dengan Old Town. Mayoritas bangunan ini adalah peninggalan abad pertengahan, dan sebagian kecil malah dari jaman orang Romawi ketika mereka datang menetap di Spanyol. Yang paling terkenal di sini adalah Basilica of La Merce, namun kalau Anda punya banyak waktu untuk menjelajah jalan-jalan sempit Barri Gotic, banyak landmark yang bisa dikunjungi seperti Santa Maria del Pi Basilica, Palau Reial Major, City Hall, Placa Sant Jaume, dan Placa del Rei. Karena disain tempat ini seperti labyrinth, maka siap-siap untuk 'tersesat' namun tidak perlu takut karena selain bisa menggunakan patokan GPS untuk kembali ke jalan utama, banyak juga papan penunjuk jalan untuk mengarahkan kita ke La Ramblas atau pun ke pantai Barceloneta yang terletak tidak jauh dari sini. Banyak artis jalanan mencoba mengais rejeki di hampir setiap lorong Barri Gotic, mulai dari pemain cello, penyanyi bersuara ala Pavarotti, pengrajin bekas kaleng minuman, sampai badut-badut yang berkeliaran di sekitar Cathedral. Yang terakhir ini kadang yang agak mengganggu karena begitu kita kepengen foto sendiri, mereka suka mendekat untuk ikut berfoto bareng, maksudnya mungkin biar fotonya lucu dan unik, tapi kadang malah ngerusak, belum lagi persisten untuk minta tip dan seringnya mau lebih dari €2. Saran saya, kalau liat yang beginian, mending jauhi dan cari lokasi yang lebih aman, atau kalau masih nekad mendekat, jutekin saja. Kita menghabiskan waktu sekitar 4 jam untuk berkeliling santai di area ini dan kembali ke La Ramblas untuk rileks di salah satu resto sambil menunggu jam 4.30 sore. Hari itu kita akan menonton pertandingan antara Barcelona melawan Real Sociedad di Camp Nou, markas dari klub sepakbola Barcelona. Lokasi stadion ini kurang lebih 30 menit dari pusat kota dan pertandingan akan dimulai sekitar jam 6 sore waktu setempat. Di stasiun subway, baru kali ini kita melihat antrian tiket kereta MRT yang sangat panjang karena banyak warga lokal dan turis yang sudah memegang tiket siap menuju stadion. Teriakan yel-yel 'Barca .. Barca .. Barca' mulai menggema dimana-mana dan tidak sedikit yang mengenakan kostum kebanggaan mereka dengan tulisan punggung Messi, Neymar, maupun Suarez. Kalau Anda ingin menyaksikan pertandingan ini secara langsung, maka sebaiknya jangan lupa untuk membeli tiket via website (seperti ticketmaster) sekitar 10 hari sebelum hari H, karena tiket biasanya baru dijual setelah jadwal pertandingan ditetapkan oleh komite sepakbola mereka. Di stadion biasanya tidak ada ticketbox, kecuali Anda hunting tiket batal dari pemegang tiket musiman. Setiap pertandingan ada rating yang menentukan harga tiket, jadi untuk kali itu, Real Sociedad dianggap tim papan tengah dan harga tiket tidak terlalu mencekik, kurang lebih €130 dari seat yang bisa dibilang cukup pantas. Untuk harga tiket di bawah €80, posisinya terlalu jauh sehingga Anda harus siap binocular, dan kalau seat yang lebih dekat umumnya sudah sold out atau harga bisa €200 lebih. Kalau pertandingan papan atas, seperti El Clasico atau melawan tim tangguh, Atletico Madrid, atau pertandingan Liga Champion, bisa dipastikan harga tiket 2-3x lipat dan itu pun belum tentu masih available. Setelah menyiapkan dua tiket masuk, kita berjalan bareng bersama para suporter Barcelona ke dalam stadion dan di dalam, banyak petugas yang hilir mudik untuk membantu penonton menuju ke bangku masing-masing. Rata-rata para petugas bisa bahasa Inggris sedikit dan ramah dalam menghadapi berbagai macam turis yang kebingungan mencari seat mereka, dan biasanya kalau Anda kepengen minta tolong foto, para petugas tidak diijinkan untuk membantu mengambil foto karena itu memang peraturannya. Dari seat kita, terlihat jelas para pemain sudah melakukan pemanasan dan tepat jam 6 sore, pertandingan pun dimulai. Setelah ditinggalkan beberapa pemain bintang, Real Sociedad terlihat berbeda dibanding 3-4 tahun silam dan sore itu mereka hanya mampu bermain defensif dan setidaknya di paruh pertama, mereka masih berhasil menahan imbang Barcelona tanpa gol. Namun memasuki babak kedua, trio MSN terus membombardir mereka dan akhirnya Neymar berhasil mencetak gol pertama. Sekitar 5 menit sebelum usai, Pedro yang kini memperkuat Chelsea, melakukan bicycle kick yang indah dan memperlebar keunggulan Barcelona dan sore itu mereka berhasil meraih 3 poin penuh setelah menang 2-0. Mungkin banyak yang bertanya-tanya, apakah pantas mengeluarkan uang €130 untuk menonton 2 jam pertandingan bola ? Kalau Anda fans bola, tentu jawabannya sangat pantas karena bisa menyaksikan langsung para pemain bintang idola, namun kalau Anda tidak suka bola atau olahraga, saya tetap beranggapan ini adalah pengalaman yang boleh dicoba setidaknya sekali seumur hidup karena setidaknya Anda bisa merasakan atmosfir pertandingan kelas dunia, melihat stadion dari dalam maupun luar, berada di antara puluhan ribu suporter yang dengan antusias tinggi terus mendukung klub mereka selama 90 menit penuh, dan bisa membagikan cerita ini ke teman ataupun saudara yang sangat menyukai sepakbola. Day 6 - Andorra (Minggu, 10 Mei 2015) Andorra, negara kecil yang tidak memiliki airport dan terjepit antara Spanyol dan Perancis ini, bisa diakses dengan mudah melalui Barcelona. Ada banyak pilihan bus untuk menuju ke sana namun kalau Anda tidak punya agenda untuk melakukan hiking, maka ada bagusnya memilih opsi daytour seperti yang kita ambil, karena selain kita diberikan waktu cukup untuk mengitari pusat kota Andorra de la Vella, kita juga punya kesempatan untuk mampir di salah satu desa kecil, Baga dan juga Mont Louis, Perancis. Pagi hari sekitar jam 7 kita sudah hadir di tempat berkumpul dan karena Andorra bukan merupakan destinasi impian yang umum, maka kebetulan yang jadi peserta tur hari itu mayoritas manula yang ikut cruise dari Amerika. Yang menarik dari mereka ini ada sepasang traveler yang sudah berumur 70 tahun lebih yang sudah berkeliling ke lebih dari 100 negara dan fisik mereka masih terlihat segar dan kuat. Lucunya mereka belum pernah menginjak Indonesia, mungkin sedikit terintimidasi dengan berita-berita terorisme, entahlah, namun setelah kita cerita sebagian keindahan Indonesia, mereka tertarik untuk datang apabila ada kesempatan nanti. Sekitar 1 jam lebih, kita jalan menuju utara dan mampir sebentar di salah satu kafe kecil untuk sarapan singkat, sebelum lanjut menuju Baga. Pemandangan yang indah terbentang di sepanjang perjalanan, terlihat bukit dan lembah yang hijau, ada danau kecil, berbagai macam variasi tanaman dan juga banyak bangunan rumah yang bagus. Desa Baga ini kecil dan sangat sepi, penduduk lokal-nya sedikit, dan kita hanya butuh waktu 15 menit untuk mengitari Baga. Ada satu gereja tua yang sudah lama berdiri dan rupanya ini adalah salah satu attraction kota Baga, selain alun-alun yang dikelilingi oleh beberapa kafe kecil. Seperti kebanyakan tempat di Eropa, bangunan gereja memang sering menjadi objek wisata oleh mayoritas turis karena biasanya masing-masing memiliki eksterior dan interior yang unik dan sering kali berbeda antara satu dan lainnya. Di samping itu, sebagian juga memiliki cerita-cerita sejarah yang menarik. Dari Baga, kita meninggalkan Spanyol dan melintasi perbatasan menuju Mont Louis, Perancis. Sekitar pukul 10 pagi waktu setempat kita tiba dan mampir lagi ke satu restoran kecil untuk menikmati croissant khas Perancis. Mont Louis ini bisa dikatakan area administratif kecil, atau dalam istilah pemerintahan Perancis, disebut juga 'commune'. Desa ini dikelilingi oleh dinding tinggi sehingga terlihat seperti benteng kecil dan view di luar gerbang sangat bagus. Kalau Anda sempat mampir kesini, Anda bisa menikmati view yang lebih bagus dari atas bukit yang bisa diakses dari dalam. Jumlah penduduk tidak banyak berbeda dengan Baga dan banyak turis seperti kita hanya mampir sebentar saja. Tujuan berikut dan terakhir adalah Andorra. Negara ini bukan bagian dari Schengen namun untuk masuk tidak diwajibkan Visa, tapi perlu diingat ketika Anda keluar dari Schengen dan akan kembali lagi, pastikan Anda punya akses 'multiple entry'. Walaupun hampir tidak pernah ada yang diperiksa ketika kembali ke Spanyol (atau Perancis), tidak ada salahnya untuk dipersiapkan dari Indonesia. Kebanyakan traveler datang ke Andorra untuk hiking dan main ski namun hal tersebut tidak memungkinkan kalau Anda hanya daytrip karena minimal harus nginap semalam agar bisa mulai dari subuh dan kembali pas sunset. Di tambah lagi pada waktu kita kesana, akses jalan menuju ke hiking area masih ditutup karena ada perbaikan jadi waktu hanya bisa dialokasikan untuk explore kota Andorra de la Vella. Bank, grocery store, restoran, kafe, berbagai macam toko berjejer di jalan utama kota ini. Buat para traveler yang demen shopping biasanya cocok karena negara ini tax-free sehingga harga-harga minuman alkohol, parfum, baju, dan sebagainya kadang kalau dihitung bisa berbeda sampai 15-20% dibanding Spanyol atau Perancis. Banyak warga Spanyol juga sering mampir kesini juga untuk menghabiskan weekend karena relatif sepi sehingga suasana-nya terasa santai dan relaxing untuk keluarga. Namun, seperti juga di Spanyol, kultur orang sini ngga banyak berbeda dengan Spanyol jadi kalau Anda tiba sekitar pukul 2 siang, sebagian toko malah tutup untuk 'siesta' atau istirahat siang dan mulai buka lagi sekitar jam 5 sore. Tapi tentunya mayoritas restoran dan kafe tetap buka, dan toko-toko yang besar yang paling sering didatangi turis pun buka. Icon kota ini bisa dibilang adalah jam pahatan Salvador Dali yang dinamakan 'The Nobility of Time'. Tidak sulit untuk menemukan jam ini karena ada di Piazza Rotonda. Dari tempat parkir utama bus, kita cukup jalan sekitar 10 menit. Karena tidak terlalu luas, Anda cukup menghabiskan waktu 3 jam untuk berkeliling Andorra de la Vella. Dari kota ini, kita akan jalan kembali ke Barcelona namun sebelumnya, kita naik dulu ke salah satu puncak bukit dimana ada satu gereja tua Sant Miquel Engolasters berdiri, dan yang paling menarik dari spot ini adalah view kota Andorra de la Vella yang jelas terhimpit antara dua gunung tinggi. Panorama dari sini sangat indah dan menjadi klimaks dari kunjungan kita ke negara kecil ini. Dari pengalaman kita mengunjungi Andorra, kalau Anda tidak ada rencana hiking, bisa disimpulkan akan lebih baik mengambil daytour ketimbang pergi sendiri dengan bus karena Anda akan dibawa mampir ke Baga dan Mont Louis namun kalau dari awal Anda ingin untuk mengunjungi ski resort atau naik gunung, tentunya lebih baik menginap semalam atau dua malam disana. Day 7 - Park Guell dan Sagrada Familia (Senin, 11 Mei 2015) Hari ini agenda kita agak santai karena tujuan kita hanya dua landmark saja yaitu Park Guell dan Sagrada Familia karena sore hari sekitar jam 5 kita sudah harus menuju airport untuk terbang ke Marakkesh, Maroko. Dua tempat ini berdekatan dan dapat dijangkau dengan taxi kurang lebih 15 menit saja dan termasuk dua lokasi favorit para turis karena selain dianggap sebagai bagian dari icon kota Barcelona, juga masuk ke dalam UNESCO World Heritage Site. Park Guell terletak di Carmel Hill sehingga untuk mencapai tempat ini akan lebih baik menggunakan bus karena halte-nya sangat dekat dengan pintu masuk ketimbang harus naik subway dan 'mendaki bukit' yang menghabiskan stamina. Yang menarik dari Park Guell ini adalah kita bisa menyaksikan keunikan karya Antoni Gaudi yang menggabungkan kreativitas seni dia dengan alam dan lokasi di perbukitan ini juga menyuguhkan pemandangan indah kota Barcelona dari ketinggian. Untuk masuk ke dalam taman ini, dikenakan biaya kurang lebih €7 dan tiket sebaiknya dibeli online untuk menghindari antrian panjang di pintu masuk. Umumnya, kita cukup menghabiskan waktu 1.5 jam untuk mengelilingi seluruh kompleks ini, termasuk melihat ke dalam dua bangunan utama yang terletak di pintu masuk utama namun ada juga warga lokal yang memanfaatkan taman ini sebagai lokasi piknik keluarga dan bersantai sambil menikmati view kota. Lokasi berikut yang kita tuju adalah Sagrada Familia dan kita menggunakan taxi agar lebih nyaman dan cepat. Biaya kurang lebih €10-€13 tergantung traffic dan kalau Anda pergi berdua atau lebih, ada baiknya menggunakan taxi untuk hemat waktu dan tenaga karena nanti akan banyak jalan sekitar Sagrada dan juga untuk turun tangga dari menara. Seperti layaknya kebanyakan landmark di Spanyol, tentu untuk masuk ke Sagrada Familia harus memiliki tiket dan sangat disarankan untuk beli online dari 2-3 minggu sebelumnya karena kalau mau antri hari H, terkadang Anda bisa menunggu sampai 2 atau 3 jam, bahkan lebih kalau lagi peak season. Sebelum masuk ke Sagrada, kita berjalan ke taman yang ada di seberang gereja untuk bersantai dan berfoto, kemudian mampir ke salah satu resto untuk lunch dulu. Sekitar jam 2 siang, kita bergegas menuju Sagrada dan antri sebentar (sekitar 15 menit) untuk pemegang tiket online, dan tiba di dalam, kita langsung takjub melihat megahnya disain Gaudi ini. Interior gereja ini dipenuhi dengan jendela tinggi sehingga dikelilingi oleh banyak sinar matahari yang membentuk warna pelangi. Lokasi cukup padat dengan turis, baik yang berdoa maupun sekedar berfoto. Di Sagrada, ada dua menara tinggi yang dinamakan Passion dan Nativity dan untuk pemegang tiket, Anda diperbolehkan untuk memilih salah satu menara. Di forum, banyak diskusi mengenai tower mana yang lebih baik, namun prinsipnya dua tower ini menawarkan view yang mirip dan dari kedua puncak menara, pengunjung bisa melihat interior dan exterior yang sama, tapi ada juga yang mengatakan lebih baik Passion saja karena sedikit lebih tinggi sehingga view lebih baik dari atas. Kita sendiri memilih Nativity karena kebetulan antrian lift juga tidak terlalu panjang dan kita puas, jadi saran saya, pilih saja antrian yang lebih sepi karena waktu cukup berharga. Sagrada Familia ini adalah landmark terakhir yang kita kunjungi di Barcelona dan sore itu kita segera kembali ke hotel untuk melakukan packing terakhir dan taxi sudah siap untuk membawa kita ke bandara untuk meninggalkan Spanyol menuju Maroko. Day 8 - Marrakech (Selasa, 12 Mei 2015) Kita mendarat di bandara Menara sekitar pukul 8 malam waktu setempat. Suasana di dalam bandara sudah agak lengang dan hampir semua turis mulai memadati money changer untuk menukarkan uang mereka ke dirham. Sangat disarankan untuk membawa EUR atau USD dan ditukar langsung di Maroko karena selisih akan cukup besar kalau Anda membeli dirham di negara lain. Kota Marrakech ini adalah salah satu pusat pariwisata Maroko, sempat tercantum sebagai destinasi terbaik TripAdvisor tahun 2015 dan mengundang banyak sekali turis Eropa dan Amerika untuk menikmati perbedaan kebudayaan dan kuliner yang ekstrim, namun untuk kita orang Indonesia yang merupakan negara mayoritas beragama Islam, pasti akan merasakan suasana yang sangat familiar dengan Marrakech. Perkembangan kota dan negara ini tergolong lambat, ini disebabkan karena ekonomi mereka tidak mampu bertumbuh pesat seperti Indonesia yang ditunjang dengan derasnya investasi asing dan berbagai macam komoditi perdagangan yang melimpah ruah. Terhimpit oleh luasnya gurun pasir membuat mereka juga tidak leluasa mengembangkan agrikultur sehingga turis merupakan sumber devisa utama. Secara umum, Marakkesh dikelilingi tembok yang membentengi kota tua (yang juga sering disebut Medina) dan berbatasan dengan lingkungan baru yang kebanyakan dipadati oleh imigran dan investor Perancis (biasa disebut Gueliz). Di dalam Medina, bertebaran hotel-hotel khas Maroko yang dinamakan 'riad' dan sangat disarankan untuk menginap di 'riad' untuk menikmati suguhan interior otentik dan juga mendapatkan berbagai macam informasi penting dari owner maupun helper-nya. Mayoritas turis yang tidak mempunyai informasi banyak mengenai kota ini biasanya akan kaget ketika pertama kali menginjakkan kaki disini karena selain kesan kumuh terhampar di berbagai sudut kota, mayoritas orang lokal berasa terlalu 'friendly' ketika menghampiri turis baik menawarkan dagangan ataupun layanan mereka. Traveler wanita sebaiknya tidak jalan sendiri untuk menghindari hal yang tidak diinginkan jadi paling baik berdua atau bertiga dan memilih jalan yang ramai, atau ditemani guide lokal yang terpercaya. Malam itu, kita langsung beristirahat di riad karena besoknya jam 9 pagi, kita sudah janji untuk bertemu dengan Youssef yang bisa dikontak melalui Tripadvisor (Marrakech Tour Guide - Private Tours). Day 9 - Marrakech (Selasa, 12 Mei 2015) Setelah sarapan pagi, kita memulai hari dengan bertemu dengan Youssef yang sudah menunggu di ruang tamu riad kita. Sangat disarankan untuk memanfaatkan jasa tour guide lokal ketika Anda pertama kali datang ke Medina karena ada tiga faktor penting yaitu kita bisa mengetahui dan mengenal lebih dalam sejarah dan budaya dari orang lokal serta lingkungan sekitar; kita tidak akan tersesat dalam labirin Medina dan menghemat waktu untuk tahu tempat-tempat penting maupun yang rawan; kita bisa bertanya mengenai tempat makanan favorit orang lokal, kudapan ringan, juga meminta dia untuk membantu menawar barang/souvenir. Youssef mengajak kita untuk mencari taksi dan menuju ke Jardin Majorelle. Lokasi taman ini ada di Gueliz sehingga agak jauh dari Medina. Taman yang dimiliki oleh mendiang designer Yves Saint Laurent ini menyimpan berbagai macam koleksi kaktus dan tanaman, tersebar mengelilingi kolam kecil dan bangunan museum suku Berber dengan warna biru cerah. Lokasi ini termasuk salah satu favorit turis dan banyak spot menarik untuk berfoto. Setelah puas di sana, kita kembali ke Medina dan mulai berjalan menuju Bahia Palace. Bulan Mei sebenarnya sudah terlalu panas untuk berjalan karena menjelang jam 12 siang, suhu bisa mencapai 42 derajat dan menurut Youssef, waktu terbaik adalah awal Maret ketika suhu berkisar antara 20-25 derajat. Tiba di Bahia, Youssef membawa kita mengunjungi ruangan demi ruangan sambil bercerita mengenai sejarah dari istana ini. Tujuan berikut adalah melewati Koutobia Mosque dan mampir di Saadian Tombs. Mausoleum ini merupakan tempat peristirahatan keluarga dinasti Saadi yang hidup di abad ke-16 dan kita diperbolehkan untuk mengambil foto di sini. Karena tempat ini tidak terlalu luas, maka biasanya 15-20 menit sudah cukup dan kita mampir ke salah satu restoran untuk makan siang. Setelah makan siang, Youssef membawa kita menelusuri labirin Medina dari satu gang ke gang yang lain, dari satu souk ke souk yang lain. Dia mengatakan bahwa semua turis tanpa GPS yang datang ke sini sudah pasti akan tersesat dan banyak yang menghabiskan waktu ber-jam jam untuk bisa balik ke hotel mereka namun untuk mereka yang cuek, pengalaman tersesat ini memang yang di cari. Kita mending cari aman karena berabe kalau tersesat dan kecopetan sementara masih ada rencana ke Sevilla 4 hari dan kembali lagi ke Madrid. Youssef tinggal tidak terlalu jauh dari Medina dan hampir semua pedagang kenal dia. Ini keuntungan jalan bareng dia karena selain tidak akan ditipu dan diganggu, biasanya buat yang senang belanja barang macam-macam mulai dari souvenir, baju, sepatu Maroko, lampu, dan sebagainya bisa dapat harga terbaik. Kita diajak berputar mengunjungi tempat-tempat esensial di Medina termasuk pengolahan besi dan dapur pembuatan kue sebelum akhirnya kita diantar lagi ke riad untuk beristirahat. Persis jam 19.30, kita ditunjukkan jalan terdekat menuju Djemma El-Fna. Ini adalah alun-alun utama Medina, tempat yang paling tersohor di Marrakech dimana berbagai macam pedagang berkumpul, tukang makanan dan jajanan, pawang ular, pertunjukan topeng monyet, dan sebagainya. Bukan menjadi hal yang asing buat kita warga Indo yang sering melihat pasar malam, namun buat para bule, melihat 'organized chaos' seperti ini tentu menjadi atraksi yang tidak lazim. Untuk mendapatkan view yang maksimal, ada baiknya naik ke salah satu restoran terdekat dan pesan saja satu atau dua minuman ringan yang penting bisa nongkrong di salah satu meja, karena biasanya makanan di tempat 'touristic' seperti ini tidak enak dan mahal. Setelah puas mengambil foto, coba makan di salah satu stall yang ada di bawah. Jangan mengharapkan makanan senikmat di Indo namun perlu dicoba untuk sekedar pengalaman. Karena masih belum terlalu familiar sama jalan dan lingkungan sekitar, kita memutuskan untuk kembali ke hotel sekitar jam 9 malam karena jalanan masih relatif ramai sehingga tidak terlalurawan kalau tersesat. Walaupun menurut Youssef, tingkat kriminalitas di Marrakech sangat rendah, tetap lebih baik untuk menjaga kemungkinan terburuk dan hindari hal-hal yang bisa mengundang bahaya. Day 10 - Marrakech - Ouarzazate (Rabu, 13 Mei 2015) Pagi itu sekitar jam 07.00 kita sudah siap untuk berangkat karena perjalanan menuju Ouarzazate cukup jauh, sekitar 4 jam dari Marakkesh. Kita sudah booking daytrip service ke Ait-Ben-Haddou dari Indonesia melalui Youssef juga dan memang landmark tersebut merupakan salah satu highlight Maroko, selain sand dunes yang tersohor itu di dekat Merzouga. Supir-nya yang bernama Ali sudah tiba di riad dan satu hal yang mengecewakan yaitu Ali tidak bisa berbahasa Inggris dan hanya fasih bahasa Perancis dan Arab saja. Jadwal memang sudah ada di tangan dia tapi sayangnya kita tidak bisa ngobrol banyak untuk tanya hal-hal menarik yang kita lihat sepanjang perjalanan, namun karena tidak ada opsi lain, ya sudah kita tetap nekad saja jalan. Ali sendiri orangnya ramah dan terlihat friendly, terbukti dari antusiasme-nya untuk terus mengajak ngobrol dengan bahasa Perancis di selingi dengan 1-2 kata Inggris, namun apa daya, kita cuma bisa ketawa karena ngga ngerti. Jalanan menuju luar kota relatif sepi, mungkin karena hari kerja, dan di kiri kanan terlihat agak lengang dengan beberapa rumah ber-cat merah khas bangunan Marrakesh. Dua jam pertama, kita berhenti di salah satu spot dengan view landscape padang rumput berlatar belakang gunung yang bagus. Setelah itu, ada satu spot dengan pemandangan deretan rumah tradisional suku Berber yang di bangun di area perbukitan. Tidak lama kemudian, kita sudah memasuki 'Tizi Tichka Pass' - salah satu jalanan berkelok yang di anggap berbahaya karena tidak ada pembatas jalan dan biasanya di sarankan hanya untuk driver yang sangat berpengalaman. Separuh jalan, kita berhenti di salah satu puncak bukit untuk menikmati view yang spektakuler. Memang tidak salah apa yang di katakan Patrick, pemilik Riad yang kita tempatin, bahwa landscape menuju Ait Ben Haddou memang salah satu yang terbaik di Maroko dan jangan sampai di lewatkan apabila berkunjung ke Marrakesh. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan hampir 4 jam, kita tiba di kota Ouarzazate. Ada dua lokasi menarik di kota ini, yang pertama yaitu Atlas Film Studio - lokasi syuting yang sering dipakai sutradara Hollywood untuk film-film seperti Kingdom of Heaven, Alexander The Great, Lawrence of Arabia, dan sebagainya. Yang kedua adalah Taourirt Kasbah, semacam istana tua dengan arsitektur klasik suku Berber. Di tempat ini, sering sekali Anda ditawari jasa guide oleh orang lokal, yang mengesalkan kadang mereka sangat persisten walaupun sudah ditolak, namun apabila kita ingin tahu detail mengenai apa yang terjadi di setiap sudut ruangan ini, guide tersebut sangat membantu. Selain interior yang bagus, view ke luar yang bisa terlihat dari jendela-jendela kecil juga menawan. Selesai makan siang di restoran yang ada di dekat kasbah, kita pun lanjut menuju Ait Ben Haddou. Landmark ini pun sering di jadikan lokasi syuting film karena bentuk-nya seperti benteng kuno dengan exterior unik dan juga termasuk dalam daftar UNESCO World Heritage Site. Untuk menuju ke situs ini, dari parkiran yang berada di atas bukit, kita harus turun menuju ke bawah melalui anak tangga dan menyeberang sungai dangkal untuk sampai di kasbah. Karena suasana yang sangat terik dan juga kita sudah melihat bagian dalam kasbah Taourirt, kita memutuskan untuk tidak mengeksplorasi Ait Ben Haddou namun hanya berfoto dan menghabiskan waktu di sekitar lokasi saja. Setelah puas berfoto, kita pun kembali ke parkiran untuk pulang ke Marrakesh. Biasanya, untuk yang punya waktu 2-3 hari ekstra, dari sini bisa lanjut menuju Merzouga dengan waktu tempuh sekitar 5-6 jam dan menginap di sana untuk menikmati pemandangan sand dunes, namun karena kita harus berangkat menuju Sevilla besok hari, maka kita harus melewatkan kesempatan ini. Perjalanan pulang melewati 'Tizi Tichka Pass' menyuguhkan kita pemandangan bagus dari sisi yang berbeda dan pastikan jangan terlelap karena banyak spot menarik untuk diabadikan dengan kamera. Kita tiba di Marrakesh sekitar jam 8 malam, walaupun langit masih terang namun kita terlalu lelah untuk berkeliling Medina lagi jadi kita putuskan untuk istirahat di riad saja sambil packing santai agar besok pagi masih sempat jalan sebentar sebelum ke airport. Day 11 - Marrakech / Sevilla (Kamis, 14 Mei 2015) Setelah istirahat cukup, pagi hari sekitar pukul 8 kita sarapan dan kemudian menyempatkan diri untuk berkeliling sebentar di Medina karena masih ada waktu sekitar 3 jam sebelum kita ke airport. Saking ngebet dan 'nafsu' terhadap turis, terkadang untuk sebagian orang, Marrakesh menjadi berasa 'tidak aman' karena di sepanjang jalan, para pedagang maupun yang menawarkan jasa sering kali sangat agresif. Kita sempat ditawarin oleh salah satu pemandu wisata untuk mengantarkan kita ke tannery (atau tempat pengolahan kulit binatang untuk menjadi kulit yang bisa digunakan untuk industri) yang memang menjadi salah satu spot turis namun karena orang lokal tersebut terlihat sangat antusias untuk mengantarkan kita, kita malah memutuskan untuk batal karena selain kita khawatir di bawa ke tempat yang terlalu asing sehingga kita sulit untuk balik ke riad, kita juga khawatir kalau nanti dikerubutin oleh mereka dan dimintain uang (atau lebih apes lagi, dirampok). Di forum Tripadvisor, banyak yang ternyata mengeluh karena jadi korban 'tannery scam', jadi usahakan selalu waspada dan jangan lengah. Setelah membeli beberapa souvenir, kita mampir ke restoran Fatima Berbere yang direkomendasi Patrick untuk makan siang. Ternyata restoran ini juga mendapatkan rating yang cukup tinggi di Tripadvisor. Soal rasa, termasuk enak apabila dibandingkan dengan beberapa restoran yang pernah kita coba di Marrakesh, namun tentunya kalah dengan makanan Indonesia. Yang jadi masalah, owner-nya kesulitan berbahasa Inggris jadi kita tidak bisa bertanya banyak ke dia soal makanan dan lainnya. Setelah makan dan balik ke riad, kita pamit ke Patrick yang sudah menjadi friendly host dan segera ke airport untuk terbang menuju Sevilla. Perjalanan menuju Sevilla hanya memakan waktu sekitar 1.5 jam saja dan kita tiba di ibukota area Andalusia tersebut sekitar pukul 2 siang. Taxi mengantarkan kita ke hotel Monte Carmelo dan setelah check-in dan istirahat sebentar, kita bersiap untuk jalan santai menuju tujuan pertama, Plaza de Espana. Lokasi hotel ini tergolong strategis karena cukup dekat dengan subway dan berada tidak jauh dari sungai Guadalquivir sehingga hanya butuh sekitar 15-20 menit untuk berjalan menuju Plaza Espana. Cuaca di pertengahan Mei sudah bisa dibilang panas jadi kalau Anda berjalan kaki sekitar pukul 4 sore, suhu bisa mencapai 30-32 derajat dan walaupun udara kering, sinar matahari yang terik bisa cepat menguras tenaga. Lokasi Plaza Espana ini bersebelahan dengan taman Maria Luisa sehingga cocok banget untuk berjalan santai maupun jogging ringan. Banyak spot foto yang bagus di Plaza Espana dan menurut kita, termasuk salah satu plaza yang sangat bagus dengan berbagai ukiran indah. Sore itu kita menghabiskan waktu di sekitar plaza dan taman dan kemudian berjalan santai balik menuju hotel menyusuri jalan di pinggir sungai. View menjelang sunset di sekitar jembatan sangat indah dan di sepanjang jalan kita ketemu banyak orang yang sekedar olahraga sore maupun menikmati pemandangan sambil mengobrol, street artist yang nongkrong sambil melukis foto wajah, maupun keluarga yang lagi asik menikmati coffee break di kafe. Kota Sevilla ini memang sangat friendly untuk pejalan kaki dan dengan tata kota yang rapi dan tergolong bersih, kota ini wajib dikunjungi kalau Anda mempunyai kesempatan untuk berwisata ke Spanyol selatan. Day 12 - Sevilla (Jumat, 15 Mei 2015) Kita mengawali hari kedua di Sevilla dengan mengunjungi salah satu landmark terbaik kota ini yaitu Royal Alcazar of Seville. Konon banyak yang mengakui bahwa istana ini adalah salah satu yang terbaik di Spanyol dan juga masuk ke dalam daftar UNESCO World Heritage Site. Awalnya dibangun oleh raja Moor (dari Maroko) ketika mereka melakukan invasi ke Spanyol dan berhasil, dan kemudian dipugar oleh bangsa Spanyol ketika mereka berhasil mengusir bangsa Moor. Istana ini sangat bernuansa Arabic namun juga kental dengan influence Eropa sehingga menjadikan Alcazar sebagai satu kompleks bangunan yang unik. Selain film 'Kingdom of Heaven' yang mengambil salah satu pelataran sebagai lokasi syuting, beberapa episode 'Game of Thrones' juga pernah menjadikan Alcazar sebagai setting film tersebut. Dari Alcazar, kita berjalan sekitar 15 menit menuju lokasi berikutnya yaitu Catedral de Sevilla (Sevilla Cathedral) yang juga merupakan landmark UNESCO. Bangunan gereja di Eropa termasuk bagus dan layak untuk didatangi karena eksterior maupun interior-nya sangat mengagumkan. Detail pengerjaannya patut diacungi jempol dan umumnya kita bisa naik ke salah satu menara untuk menikmati pemandangan kota dari ketinggian. Setelah puas memotret kota Sevilla dari puncak menara Giralda, kita turun dan mampir ke salah satu restoran di sekitar Barrio Santa Cruz untuk makan siang dan kemudian melanjutkan eksplorasi area kota tua Sevilla. Ada satu landmark unik yaitu Metropol Parasol yang juga dikenal dengan nama Las Setas de la Encarnacion. Bangunan ini berbentuk seperti jamur dan Anda bisa naik ke atas untuk menikmati pemandangan kota Sevilla. Di sekitar lokasi ini juga ada satu jalan panjang yang dipenuhi dengan kafe, restoran, maupun toko, jadi buat yang seneng nongkrong ataupun shopping, cocok juga untuk melepas penat dengan bersantai di sini, sekedar ngopi, ngebir, ataupun menikmati nyanyian artis jalanan. Setiap sudut lorong di sekitar area ini sangat menarik untuk dijelajahi karena banyak toko kecil yang menawarkan souvenir unik, makanan ringan yang membuat kita penasaran untuk mencoba, maupun bangunan-bangunan kuno khas Eropa yang bagus untuk dijadikan latar belakang foto. Karena waktu masih menunjukkan pukul 6 sore, kita memutuskan untuk berjalan santai sekitar 30 menit menuju hotel sambil mampir di salah satu restoran fast food untuk makan malam. Di peta terlihat tidak jauh, namun karena kita sudah kehabisan tenaga dari pagi hari, perjalanan balik terasa sangat melelahkan. Setelah tiba di hotel dan selesai mandi, tidak lama pun kita langsung terlelap. Day 13 - Jerez de la Frontera (Sabtu, 16 Mei 2015) Awalnya pada waktu kita menyusun itinerary di Spanyol, kita tidak tahu mengenai adanya 'Horse Fair' yang setiap tahun diadakan di kota Jerez sampai saya membaca di forum Tripadvisor kalau ada traveller yang setiap tahun pasti menyempatkan waktu untuk menghadiri acara ini. Kebetulan tanggal-nya cocok jadi kita memutuskan untuk tidak melewatkan acara ini dan sekalian penasaran juga ingin melihat seberapa meriah sampai ada yang setiap tahun selalu balik. Festival ini dikenal juga dengan nama 'Feria de Caballo' dan ternyata menjadi satu festival penting untuk rakyat Spanyol dan biasanya diadakan setiap pertengahan bulan Mei dan berpusat di kota Jerez yang terletak sekitar 90km dari Sevilla. Selama seminggu penuh, rakyat akan berpesta di festival ini dan umumnya hampir seluruh pusat perbelanjaan dan kantor akan tutup, kecuali untuk beberapa minimarket yang biasanya masih buka di siang hari. Umumnya, pengunjung lokal akan mengenakan pakaian tradisional Spanyol dan yang paling terkenal adalah pakaian wanita yang disebut Flamenco dress. Banyak kereta kuda yang dihias dan mereka akan berkeliling mengitari area festival. Nuansa-nya terasa seperti berada di awal abad ke-19 dan di setiap restoran yang juga penuh dengan dekorasi, masyarakat lokal akan bernyanyi dan menari sambil menenggak berbagai macam cocktail. Sangat mudah apabila Anda ingin mengunjungi Jerez, cukup membeli tiket kereta secara online (sangat disarankan untuk mencegah kehabisan tiket) dan datang saja ke stasiun terdekat di Sevilla sesuai dengan yang tertera di tiket dan perjalanan hanya memakan waktu sekitar 1 jam. Dari stasiun Jerez, Anda bisa berjalan santai menuju lokasi festival sekitar 20-30 menit, namun jangan heran kalau suasana jalan sangat lengang dan banyak toko tutup karena biasanya warga sudah memadati festival dari pagi, bahkan ada yang tidak pulang dari malamnya. Bagi yang membawa anak kecil, di seberang lokasi ada theme park dadakan buat anak-anak. Cocok apabila anak-anak sudah bosan dengan parade kuda dan kostum dan ada juga beberapa kafe untuk melepas penat dengan beristirahat dan menghilangkan rasa haus dengan minuman dingin dan segar. Kota Jerez sendiri relatif kecil dan mungkin dalam 1 hari sudah cukup untuk dijelajahi namun buat yang penasaran ingin melihat bagaimana 'Feria de Caballo' di malam hari yang rasanya akan lebih meriah dengan variasi lampu yang berwarna-warni, boleh dipertimbangkan untuk menginap satu malam di sini. Kita sendiri merasa sudah puas menghabiskan waktu sekitar 4 jam di sana dan sore hari kita balik lagi ke Sevilla dengan menggunakan kereta terakhir. Apabila Anda kebetulan datang ke Sevilla pada waktu tidak ada festival ini, akan lebih baik tidak ke Jerez namun memilih tujuan daytrip lain seperti Cordoba, Malaga, ataupun Granada karena tidak ada yang menarik dari kota Jerez sehingga magnet utama-nya memang 'Horse Fair' saja. Day 14 - Sevilla (Minggu, 17 Mei 2015) Jadwal kita di hari terakhir di Sevilla sebetulnya agak longgar makanya kemarin sempat terpikir untuk mengambil satu daytrip dadakan tapi kita khawatir kecapean jadi kita putuskan untuk melihat beberapa tempat yang belum sempat didatangi, terutama di bagian utara kota. Tujuan pertama kita menuju ke kawasan Triana. Lokasi ini tidak begitu jauh dari Alcazar dan merupakan tempat kelahiran tarian Flamenco khas Spanyol. Tadinya kita berpikir mau mencari satu kafe kecil untuk sekedar lunch sambil menonton Flamenco tapi ternyata hari Minggu adalah hari istirahat untuk Spanyol (dan juga Portugal) jadi banyak kafe yang meniadakan pertunjukan. Sayang juga tapi memang nonton Flamenco bukan prioritas kita, jadi kita cukup mengeksplorasi area sekitar sana dan mampir ke salah satu pasar bersih untuk sekedar melihat kegiatan orang lokal di hari Minggu. Pasar saja termasuk sepi dan ada beberapa restoran kecil yang masih buka namun lebih banyak counter yang tutup. Di dekat pasar tersebut, ada satu toko unik yang menjual pernak pernik dan souvenir berbau Flamenco. Harga cukup tinggi namun kualitas produk memang terlihat sangat bagus. Menjelang makan siang, kita memutuskan untuk menuju ke Nervion Plaza. Alasannya karena kita pikir karena mall, pasti banyak toko dan restoran yang buka, di samping itu, lokasinya juga persis di depan Ramon Sanchez-Pizjuan Stadium, kandang klub sepakbola kebanggan kota Sevilla. Tiba disana, kita cukup kaget, ternyata mall saja toko semuanya pada tutup dan restoran pun hanya sebagian yang buka. Jadi memang berbekal pengalaman ini, ada baiknya jadwal hari Minggu diatur untuk daytrip ke luar kota atau nonton bola. Setelah makan siang, kita pun bengong karena kebingungan mau kemana lagi soalnya landmark kota banyak yang sudah didatangi. Setelah mengecek tripadvisor dan Google, akhirnya pilihan jatuh ke Basilica de la Macarena. Ini adalah salah satu gereja kecil yang juga cukup tersohor di sana, dan kita juga penasaran untuk melihat area neighbourhood sekitar Macarena ini. Tiba di sana, ternyata gereja baru akan dibuka untuk umum pada pukul 5 sore, jadi kita nongkrong dulu di salah satu kafe kecil untuk menikmati teh dan dessert. Interior dari Basilica ini memang termasuk cantik namun area sekeliling gereja ini termasuk 'gersang' jadi kalau waktu Anda terbatas di Sevilla, ada baiknya fokus di Cathedral saja. Sekitar pukul 7 malam, kita kembali ke hotel dan makan di salah satu restoran sekitar situ. Day 15 - Madrid (Senin, 18 Mei 2015) Berbekal tiket PP Jakarta - Madrid, kita pun harus kembali ke Madrid karena besok di pagi hari, kita sudah harus berangkat ke airport. Kita naik kereta cepat menuju stasiun Madrid dan perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam dengan tiket yang sudah kita pesan dari Jakarta. Pemandangan selama perjalanan tidak begitu bagus karena banyak area yang gersang jadi untuk yang tertarik mengambil opsi lebih murah, boleh dipikirkan kereta malam dengan waktu tempuh sekitar 6-8 jam. Tiba di Madrid, kita pun kembali ke hotel Ibis yang merupakan hotel yang kita tempati di 3 hari pertama. Setelah check in, kita menuju ke area Salamanca. Ini adalah kawasan perbelanjaan elite di Madrid. Bertebaran banyak branded stores dan bisa dibilang merupakan surga yang hobi shopping. Selain brand-brand terkenal, di area ini juga banyak toko-toko lokal yang cukup menarik untuk di-browse. Area Salamanca ini berdampingan dengan Retiro Park dan di dekat sini juga ada Plaza de Colon, satu square yang cukup luas dengan fountain yang dibangun sebagai monumen penghormatan kepada Christopher Columbus. Menjelang sore, kita memutuskan untuk mengunjungi Principe Pio, salah satu pusat perbelanjaan di Madrid untuk sekedar menghabiskan waktu dan mencari souvenir. Tidak banyak barang unik yang bisa Anda temukan disini namun dengan lokasinya yang tidak jauh dari Palacio Real de Madrid dan Anda bisa menemukan banyak restoran disini, mall kecil ini bisa menjadi alternatif untuk melepas lelah dan menikmati dinner. Day 16 - Madrid / Jakarta (Selasa, 19 Mei 2015) Setelah check out dari hotel, kita pun menuju ke airport untuk kembali ke Jakarta. Perjalanan 2 minggu ini buat kita sangat berkesan namun kita merasa akan lebih optimal lagi kalau kita bisa menghabiskan 2 hari terakhir di Lisbon, Portugal karena lokasi kota tersebut sebetulnya tidak terlalu jauh dari Sevilla namun sayang tiket yang kita beli adalah PP sehingga kita harus kembali ke Madrid. Selain itu, kita memang kesulitan untuk mengatur jadwal ke Portugal karena penerbangan dari Marrakesh ke Sevilla tidak setiap hari ada. Di antara ketiga kota di Spanyol yang kita datangi, Barcelona adalah kota yang terbaik dengan pilihan daytrip yang menarik, juga memungkinkan untuk menjadi lokasi awal Cruise Tour. Sevilla juga wajib dikunjungi walaupun sebetulnya cukup 2 hari saja untuk menikmati kota tersebut dan selebihnya untuk daytrip. Madrid adalah kota bisnis jadi sangat cocok untuk yang doyan shopping, clubbing, nongkrong, layaknya Anda menikmati Jakarta, Hongkong, ataupun Sydney. Dari Barcelona, usahakan mampir ke Andorra, karena selain menambah satu negara yang dikunjungi, tempat ini tidak jauh dari Barcelona dan banyak pemandangan yang indah selama perjalanan kesana. Akan lebih baik juga kalau bisa nginap satu malam dan hiking di pagi hari karena salah satu highlight utama Andorra adalah gunung. Maroko relatif kuno dan terkesan agak kumuh terutama di kawasan Old City namun tentu menyimpan banyak cerita sejarah, budaya, dan lokasi yang cantik, terutama Sahara desert. Untuk pemegang paspor Indonesia bebas masuk tanpa visa. Jangan dilewatkan kalau Anda punya waktu 3-4 hari karena tidak jauh dari Spanyol dan biaya hidup serta penginapan di sana pun tidak mahal. Selain Marrakesh, Anda juga bisa mengunjungi Casablanca, Fes, Essaouira, dan tentunya Merzouga untuk mencoba pengalaman nginap di padang pasir. * * *
  8. Part 4 - Brussels Part 5 - Netherlands Kita tiba di Amsterdam sekitar jam 7 malam dan rombongan langsung menuju ke restoran Indonesia. Untuk rasa memang belum bisa menyaingi rasa lokal disini namun setelah hampir 2 minggu dan baru nemu sambal terasi, sayur asem, dan gado-gado, jelas jauh lebih nikmat dibanding nasi setengah mateng yang kita nemu di Roma. Setelah makan, kita langsung ke hotel untuk beristirahat dan besoknya tujuan pertama yang kita tuju adalah desa nelayan, Volendam. Volendam Jarak yang cuma sekitar 23km itu kita tempuh sekitar 30 menit saja dan karena masih awal Januari, sebagian besar Volendam masih tertutup salju. Yang disayangkan karena cuaca juga tidak bersahabat, ada beberapa spot untuk berfoto dengan latar belakang windmill terpaksa dilewatkan dan view di sekitar dermaga pada saat winter di Volendam tidak terlihat ceria dan colorful, yang ada malah laut menghampar luas yang sudah beku saking dinginnya. Sepertinya waktu terbaik untuk ke Amsterdam itu pas spring, sekitar mid-to-late April jadi bisa menikmati tulip di Keukenhoff dan duduk bersantai sambil ngopi di Volendam ini rasanya asik sekali. Salah satu attraction yang menarik di Volendam adalah berfoto dengan pakaian tradisional Belanda, jadi buat yang sudah sampe disini jangan lupa untuk iseng berfoto buat kenang-kenangan dan di salah satu studio foto digantung foto Gus Dur sekeluarga yang rupanya dulu pernah foto di studio tersebut. Untuk rombongan tur sih harga jarang diketok tapi kalo baca review di internet, suka ada yang nakal dan charge harga gila-gilaan jadi coba tanya sejelas-jelasnya biar ngga merasa ketipu. Dari Volendam, kita kembali ke Amsterdam. Sepanjang jalan terlihat banyak yang naik sepeda dan memang di Amsterdam ini sangat banyak yang memilih untuk naik sepeda ke kantor atau sekolah dan peraturan lalu lintas pun sangat ketat, hati-hati aja kalo nyetir mobil dan nyenggol mereka, bisa berabe urusannya. Pokoknya, bikers disana termasuk highest priority, bahkan kadang tram aja harus berhenti kalau banyak sepeda yang mau lewat! Karena budaya bersepeda ini, dimana-mana suka gampang nemu tempat sewa sepeda. Kita belum pernah jajal tapi rasanya simpel sistemnya cuma isi koin dan sepeda tinggal pake, nanti setelah beres, di-drop di 'stasiun' terdekat. Karena Amsterdam terkenal dengan kanalnya maka tentu sayang kalo tidak coba menyusuri sungainya. Siang itu kita naik salah satu cruise dan tidak lupa 'dipaksa mampir' ke tempat pengasahan berlian. Bangunan-bangunan dengan arsitektur yang modern berjejer cantik di pinggir sungai dan sebagian penduduk disini juga memilih untuk tinggal di boat, karena memang properti disana juga termasuk mahal. Di Belanda, gay marriage itu legal, jadi salah satu indikator untuk mengetahui rumah atau cafe / bar tempat berkumpul komunitas gay, itu ada di Rainbow Flag atau bendera pelangi yang suka berkibar diluar bangunan atau kapal. Untuk kaum gay disini, mereka sangat bangga untuk declare bahwa mereka gay, cuma yang kita belum tahu, kalau bendera pelanginya setengah tiang itu tandanya apa ya haha Sebagian penduduk juga dengan santai membiarkan gorden apartemennya terbuka dan dari luar semua orang bisa melihat aktivitas di rumah mereka, ada yang asik menonton TV, ada juga yang asik membaca koran sambil menikmati entah teh atau kopi. Kita juga sempet melewati Heineken Experience cuma sayang karena waktu mepet, ngga sempet jajal bir-nya. Setelah acara cruise selesai, waktu sudah sekitar jam 5 sore, dan dari situ kita lanjut menuju Red Light District. Buat yang masih dibawah umur, 'dipaksa' ke mall haha sisanya lanjut. Area RLD ini terlihat bersih dan memang dipadatin dengan turis. Banyak etalase berjejer dengan 'live mannequin' yang kebanyakan berasal dari Eropa Timur. Konon, mereka harus bayar sewa etalase untuk mejeng disitu dan buat turis, jangan iseng keluarin kamera karena kalo ketemu yang galak, doi bisa loncat dari etalase dan dikejer lho haha Red Light District (kiri) weed shop | (kanan) Casa Rosso Buat yang mau nyoba weed, disini juga legal, dan toko yang ngejual ini modelnya kaya apotik, jadi berbagai variasi daun bisa dipajang kaya perhiasan di etalase, dan ada juga coffee shop yang menawarkan brownies ganja. Lagi-lagi karena waktu yang mepet kita belum sempet coba, tapi yang lucu ini ketemu satu teater kecil yang menampilkan live sex show. Jadi kita total ada sekitar 8 orang, bisa ditawarin 'paket keluarga' ama orangnya haha ini karena penasaran dan iseng-iseng aja jadi kita masuk ke dalam. Sebetulnya ada satu teater yang lebih gede lagi namanya Casa Rosso, ini yang paling ngetop tapi karena show pertama mulai jam 7 malam dan kita sudah atur waktu untuk dinner, jadi ngga bisa. Setelah show beres, kita siap dinner, begitu sampe di restoran, eh ada satu bapak-bapak yang abis nonton tadi ngakunya sakit perut dan ke belakang, tapi tetap jadi misteri, ini yang ngebet keluar belakang apa depan ya haha. Setelah dinner, acara hari itu selesai dan kita kembali ke hotel untuk beristirahat. Hari berikutnya adalah hari terakhir dan kita diberi 2 opsi pada waktu itu. Mau ke Koln untuk liat katedral dan explore kotanya atau ke Denhaag (The Hague) untuk ke Madurodam, semacam miniatur kecil seluruh landmark di Belanda. Sebetulnya buat kita sih lebih menarik ke Koln karena sekalian mampir Jerman sebentar, namun mungkin karena yang lain udah keburu bosen liat katedral, jadi suara terbanyak membawa kita ke Madurodam siang itu. Suhu siang itu sekitar 3 derajat, namun dengan sinar matahari yang cukup terik membuat badan ngga terlalu menggigil. Taman ini sih oke juga, banyak spot untuk berfoto, dan detail setiap bangunannya juga sangat bagus. Setelah puas disini, kita akhirnya menuju ke Dusseldorf untuk kembali ke tanah air. * * *
  9. suasana Mongkok di waktu malam Dear all, saya mau share sedikit experience waktu keliling China selatan dengan rute standar tur yaitu Hongkong, Macau, Shenzhen, dan Guangzhou pada waktu September 2010 lalu. Rencana trip ini agak dadakan karena pada waktu itu istri lagi hamil 6 bulan dan waktu itu bokap ada rencana mau check-up ke Panyu (salah satu county di Guangzhou), jadi pas juga ada libur Lebaran, maka jadilah family trip kita berlima bersama bokap nyokap dan adik kesana. Kebetulan di Hongkong ada 3 orang tante saya yang sudah tinggal lama jadi sekalian ngumpul juga. Day 1 - Hongkong Bulan September sebetulnya waktu yang tidak tepat untuk ke Hongkong karena musim typhoon berlangsung dari bulan Mei dan puncaknya justru di bulan itu. Tapi karena waktu yang tidak fleksibel karena bokap harus kesana, jadi kita tetap berangkat dan menjelang landing di Hongkong, pesawat diterpa hujan angin yang sangat strong sehingga kita mengalami guncangan terus menerus tapi syukurnya bisa mendarat dengan sempurna. Namun karena cuaca yang buruk, penumpang pesawat mesti menunggu hampir satu jam baru bisa turun. Tiba di bandara waktu itu sudah jam 1 pagi, dan kebetulan ada sepupu saya yang jemput dan kita langsung menuju ke hotel di daerah Mongkok. Day 2 - Victoria Peak Alasan kenapa pilih Mongkok itu karena selain ada 1 tante saya yang tinggal di apartemen dekat situ, daerah ini juga rame banget sampe malam, banyak pilihan hotel dan cukup banyak juga yang murah, tapi kalau terlalu crowded begini sih saya dan istri kurang begitu enjoy, tapi buat yang seneng shopping barang2 murah dan coba2 makanan sih mungkin bisa suka. Besok paginya, kita ambil daytour dari salah satu operator lokal dan prinsipnya sih biar ga ribet naik MRT dan ada mobil semacam minibus gitu agar santai jalannya dan juga biar ada orang lokal yang cerita macem-macem. Tujuan pertama kita lunch dulu di Jumbo Floating Restaurant. Ini restoran terapung gede dan sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Dulu waktu kecil pertama kali dibawa ke Hongkong ama nyokap sekitar taon 88, restoran ini udah ada dan kita pernah makan di sini. Untuk rasa sih standar ya, mungkin karena sudah terlalu banyak turis yang datang, jadi mereka lebih concern soal experience makannya dan interior ketimbang kualitas masakan. di dalam Jumbo Floating Restaurant tram menuju Victoria Peak Setelah lunch, kita menuju Victoria Peak. Untuk menuju ke puncak, tersedia tram yang berjalan di atas rel dan salah satu attraction di sini adalah Madame Tussaud. Yang belum pernah kesini boleh juga masuk untuk foto-foto dengan boneka lilin yang sangat mirip dengan aslinya, mulai dari Bruce Lee, Albert Einstein, Adolf Hitler, dll. View dari atas sini lebih bagus pada saat malam hari karena skyline Hongkong ini memang terkenal dengan lampunya yang cantik. Sekitar jam 4 sore, kita turun dan keliling kota Hongkong sambil ngobrol-ngobrol dengan tour guide orang lokal. Kota Hongkong ini sebetulnya tidak jauh berbeda dengan kondisi kota Jakarta dimana potret kemiskinan terlihat jelas, jalanan padat dengan kendaraan dan jumlah penduduk yang sangat banyak. Banyak bangunan tinggi yang sudah berumur 25 tahun, bahkan masih terlihat banyak AC window tua dan kotor yang tergantung di jendela flat. Cukup mengagetkan memang pada waktu membaca berita bahwa 1/3 penduduk Hongkong ini ternyata hidup di bawah garis kemiskinan, ini mungkin karena biaya hidup yang tinggi dan lahan pekerjaan yang lebih sedikit, belum lagi harus bersaing dengan penduduk China yang juga banyak yang masuk ke Hongkong sejak 1997. (kiri) patung Bruce Lee di Madame Tussaud | (kanan) berpose di Victoria Peak somewhere in Tsim Sha Tsui Malam hari kita explore daerah Tsim Sha Tsui yang dipenuhi dengan outlet dan mall dan kembali ke hotel untuk beristirahat. Day 3 - Bruce Lee dan Disneyland Pagi ini kita kembali ke Tsim Sha Tsui dengan starting point di Clock Tower dan berjalan menuju Avenue of Stars. Ini merupakan tourist spot untuk berfoto dengan latar belakang skyscraper khas Hongkong dan memang waktu terbaik pas malam ketika lampu-lampu gedung sudah dinyalakan. Di Avenue of Stars ini juga ada patung Bruce Lee, yang memang merupakan aktor kebanggaan Hongkong, dan pada waktu kita jalan-jalan di daerah Kowloon, tour leader share satu cerita menarik mengenai Bruce Lee. Orang Hongkong dan Chinese pada umumnya percaya pada yang namanya feng shui (atau dalam bahasa Indonesia : angin dan air) namun dulu keluarga Bruce Lee tidak terlalu percaya soal begini apalagi Bruce sendiri sudah menikah dengan Linda yang notabene adalah bule dan malapetaka Bruce dan Brandon Lee menurut para suhu adalah karena fengshui yang buruk ini. Problem pertama adalah letak kubur ayah Bruce Lee itu persis disamping kubur anak kecil dan dari sisi fengshui ini berbahaya karena menurut kepercayaan, ini bisa membuat keturunannya berumur pendek. Seharusnya disamping itu dibangun tembok untuk menangkal namun tidak dilakukan. Orang Chinese percaya bahwa rumah yang ditempati dan kubur leluhur itu dua-duanya harus dalam posisi harmonis karena itu namanya yin yang fengshui, kalau ada satu yang jelek maka bisa berpengaruh terhadap keturunannya, makanya kita bisa lihat kenapa banyak keluarga Chinese punya kuburan dengan tata letak yang sudah diatur oleh ahli fengshui. Problem kedua ada pada waktu tahun 1970an ketika Bruce Lee ngetop, dia beli mansion besar di Kowloon Tong dan bisa dibilang termasuk rumah paling mewah di sana. Sayangnya pemilik rumah itu sebelumnya menderita kerugian finansial yang besar sehingga dikatakan fengshui rumah itu jelek karena posisi rumah ini dari awal memang tidak bagus. Dulu pernah diletakkan semacam penangkal bala namun rusak / hilang ketika diterpa typhoon dan tidak diperbaiki lagi. Biasanya untuk menghilangkan aura jelek ini, rumah harus dihancurkan dan dibangun yang baru namun ini tidak dilakukan oleh Bruce. Problem ketiga adalah lokasi rumah Bruce ada di Kowloon Tong dan ini kalau diterjemahkan adalah Danau Sembilan Naga. Bruce Lee sendiri lahir di tahun naga dan nama Chinese-nya adalah Lee Siau Lung atau Naga Kecil sehingga bagaimana bisa naga kecil hidup dengan sembilan naga, pasti dimakan. Percaya ngga percaya namun hal buruk pun menimpa putranya, Brandon Lee, dan saudara perempuannya yang lain juga bercerai. Sayang kita tidak sempat lewat di area rumah Bruce Lee namun yang saya baca terakhir, rumah tersebut sudah berpindah tangan beberapa kali dan owner terakhir berminat untuk menjual rumah tersebut senilai $23 juta, wow! Cuaca hari itu cerah jadi cocok untuk menghabiskan waktu di Disneyland, jadi setelah puas berfoto di tempat ini sekitar 1 jam, kita segera menuju Disneyland yang terletak di ujung timur Lantau Island dan dari Tsim Sha Tsui hanya sekitar 40 menit. Harga tiket masuk per orang sekitar 600-700 ribu jadi cukup standar untuk rata-rata theme park di seluruh dunia. Kita spend sekitar 6 jam di Disneyland dan pulang setelah fireworks yang dimulai pukul 8 malam selesai. Pastikan untuk tidak melewati suguhan spektakuler ini karena merupakan salah satu highlight Disneyland. Rata-rata turis yang datang ke theme park ini dari China dan ngga sedikit juga sih orang Indonesia, jadi harus bisa bersabar kalau ketemu turis China karena manner mereka ini rata-rata kacau balau, jadi siap2 saja antri diserobot dan kalau mau foto selalu disela hahaha
  10. Darling Harbour, Sydney at night Saya mau share trip sekitar bulan May tahun 2012 yang lalu. Agendanya selain jalan-jalan, juga mau ketemu temen kuliah yang udah sekitar setaon lebih pindah ke Melbourne (ibukota Victoria) dan Sydney (NSW), jadi jadwal kita sengaja bikin untuk bisa ke dua tempat ini dengan itinerary kurang lebih seminggu dan sudah include sidetrip ke Great Ocean Road (Vic) dan Blue Mountain (NSW), jadi barangkali ada yang niat mau kesana atau first-timer, mudah2an bisa membantu. Kita spend waktu sekitar 4 malam di Melbourne dan sekitarnya dan kira2 3 malam di Sydney. Saya bilang sih ini sudah cukup walaupun lebih optimal lagi kalau ada extra 3 malam supaya bisa ada more room untuk sidetrip namun waktu itu timing ngga memungkinkan dan tiket sudah optimal harganya, jadi ya maybe next time. Kita terbang ke Melbourne dgn Garuda, kebetulan waktu itu promo dapat sktr 3jt / orang direct flight one way jadi cukup ok, kalau beli PP harusnya lebih murah tapi karena kita kudu ke Sydney, kita cek Garuda one way dari Sydney ke Jakarta ngga ada promo jadi sktr 6jt, begitu cek AA juga ngga ada promo murah tapi harganya sktr 4jt, jadi not bad, ok lah kita ambil. Terus ambil juga flight dari Melbourne ke Sydney via JetStar yang ini murah, mungkin sekitar 600rb-an saja. Untuk urus Visa, karena kita orangnya ngga mau pusing, seringkali kita kasi aja dokumen ke orang tur, mereka yang beresin dalam 2 minggu, harga sekitar 1.5 atau 2jt/org kalo ngga salah, mungkin sekarang sudah naik, baiknya tinggal call ke tur untuk pastiin. Day 1 Setelah menempuh flight sekitar 7 jam dari Jakarta, kita tiba di Melbourne sekitar jam 8.30 pagi dan kebetulan temen kita, Melvin, langsung jemput di airport dan kita menuju hotel Bayview Eden deket Albert Park. Kalau ada yang complain soal parkir di bandara Indo mahal, coba saja di Melbourne, parkir sebentar paling 30 menit, di-kurs sekitar 250rb, ampun deh, kalau parkir nginep di Soekarno-Hatta kan udah 5 malem tuh hehe Room per night di hotel itu kalau promo dapat sekitar $120-$140, hotel udah agak tua, tapi bersih, dan deket ke CBD dan tram station, so far sih kita puas disitu jadi ngga masalah. Karena seperti biasa check in jam 3 sore baru bisa, jadi titip luggage dan kita langsung jalan saja ke CBD. Walaupun ada mobil di Melbourne, juga kadang parkir bisa jadi masalah karena biasanya kalau mau deket, mesti parkir di office building dan kemudian kita jalan, dan kalau parkir di luar juga mesti perhatikan note-nya, kalau disuruh parkir ngadep depan, jangan berani parkir ngadep belakang, bisa2 didenda 2-3juta. Disini rules agak strict, jadi sedikit mirip dgn Singapore, si Melvin pernah cerita, dia naik kereta saja, sudah kecapean dan angkat kaki di kursi depan kebetulan di sekitar dia kosong dan ketiduran, disamperin kondektur langsung dikasi tiket denda sekitar 2jt Suhu pertengahan Mei itu bisa dibilang sudah dingin apalagi pagi, dibawah 10 derajat. Masih musim autumn tapi sudah mendekati winter, dan angin dari Antarctica juga bertiup kencang jadi Melbourne relatif lebih dingin ketimbang Sydney. Australia agak berbeda dengan negara 4 musim lain, jadi winter dia itu di bulan Juni, kebalikan dengan yang ada di Northern hemisphere yang bulan Juni justru summer. Kita nyobain Vietnamese food, cocok banget makan pho pas udara dingin dan explore sekitar CBD sebentar kemudian menuju area sekitar Yarra River. Disini ada opsi untuk naik ferry tapi kita decide untuk explore saja. Banyak yang suka jogging dan bawa anak kecil untuk sekedar jalan2 saja, dan di river juga ada yang latihan rowing. Samping sungai ini juga good spot untuk foto, tapi akan lebih bagus lagi pas malam untuk skyline photoshoot. (arah jarum jam dari kiri atas) samping Yarra River | Flinders Street Station | Federation Square | street performer Dari situ ngga terlalu jauh untuk jalan ke Flinders Street Station dan dekat situ juga ada Federation Square, arsitektur bangunannya unik dan kadang di depan situ suka ada street performers dan deket situ suka ada yang jualan di gerobak. Sore hari sekitar jam 4-an, kita nyebrang Yarra dan kita menuju ke Crown Casino Complex, ya seru juga sekedar liat orang ngadu nasib disini dan berisik sekali, dan lagi2 kebanyakan isinya encim2 umur 50an asal China, ngga di Macau, Singapore, Aussie, mereka yang paling rajin judi Yang menarik dari kasino ini adalah Gas Brigades, atau semburan api dari tower di sekitar kasino dan durasinya juga ngga lama, paling sekitar 10-15 menit, jadi harus cek bulan apa Anda berangkat dan timingnya. Kita selagi nunggu disitu, makan di salah satu resto yg uniknya punya squid ink pasta, looks disgusting tapi sebetulnya taste nice. (kiri) the fire ! | (kanan) pasta tinta cumi Pas malam, view samping kasino juga top dan karena udah kelelahan belum istirahat sejak mendarat, kita decide untuk call it a day dan balik ke hotel. Sayang kita waktu itu cuma modal pocket cam tanpa tripod, jadi banyak blurry shot, cuma ini ada satu sample great pic di sekitar river waktu malam diambil random di google dgn gas brigades.
  11. cherry blossom di kuil Tien Yuen Dear friends, kali ini saya mau share trip ke Taiwan awal Maret kemaren. Awalnya, kita berniat mengambil 9 hari tur ke Taiwan yang berangkat tanggal 1 Maret karena itinerary-nya sudah komplit mengunjungi Taipei yang ada di utara sampai ke Alishan yang ada di selatan, juga termasuk Taroko Gorge di Hualien dan Sun Moon Lake di Nantou, dan tanggal tersebut pas dengan periode full bloom sakura. Namun karena low season, chance untuk berangkat hanya 50:50 karena minimal harus ada 15 peserta dan sampai seminggu sebelum keberangkatan, peserta baru 11 org sehingga tur harus dipending, padahal kita tetap pengen berangkat pas momen cherry blossom. Kebetulan iseng browsing Garuda, dapat satu tanggal yang pas berangkat Taipei 7 Maret dan balik tanggal 13 dengan harga $370 PP. Tanggal segitu sebetulnya agak tanggung untuk sakura karena resiko di bagian utara Taiwan sudah lewat seminggu lebih dari full bloom sedangkan di selatan masih belum mulai, tapi dengan pemikiran masih ada satu dua tempat yang bagus dan memang kita pengen jajal kuliner dan pemandangan alamnya juga, jadilah kita book. Untuk hotel, kita pilih Homeyhouse yang ada di Changchun Road. Karena keterbatasan bahasa Mandarin, apalagi Hokkien, kita rangkum semua informasi penting di internet, untungnya ternyata ke mana-mana relatif gampang, walaupun akan lebih membantu kalau bisa Mandarin. Kita juga book satu taxi driver yang bisa bahasa Inggris, Jack Wang, untuk 8 jam di hari terakhir menyusuri pantai utara. Harga sewa mobil ini termasuk mahal, sekitar NT 3500 (1.4jt), namun kalau mau explore sendiri dengan bus dan kereta akan lebih repot dan memakan banyak waktu. Kalau bisa berangkat ber-4, sharing cost akan lebih murah, tapi menurut kita sih harga segitu untuk service yg didapatkan sangat pantas. Jadi selama 5 hari di sana, kita explore Taipei selama 3 hari dengan sidetrip ke Yangmingshan, Tamsui, dan North East Coast, kemudian 1 hari menginap di Sun Moon Lake dan 1 hari di vila daerah Cingjing Farm. Day 1 - Jakarta To Taipei Garuda berangkat dari Jakarta sekitar jam 3 sore dan landing di Taoyuan Airport jam 9 malam waktu lokal dengan waktu tempuh sekitar 5 jam lebih. Khusus malam itu, kita book mobil Jack Wang untuk trip airport - hotel dan biaya sekitar NT 1100 (440rb). Begitu keluar dari airport, Mr. Jack sudah nunggu dengan papan nama di depan. Umurnya sekitar 60, sudah senior memang, namun masih kuat dan mata masih awas. Rupanya di Taiwan memang banyak para senior masih tetap mengais rejeki di pariwisata karena reward-nya masih cukup menarik, bayangkan saja kalau sehari dapat 3.500 NT tinggal dikali 20 hari kerja kan lumayan juga omsetnya. Sepanjang jalan tol dari Taoyuan ke downtown agak mirip tol dalam kota airport ke Jakarta malah jadi berasa dari Cengkareng ke Priok hehe Tiba di hotel sudah jam 10, dan kamar yang kita dapat dengan jendela malah ngga begitu comfortable karena langsung menghadap jalan raya jadi sampai malam pun agak berisik, dan dinding kamar hotel ini agak tipis jadi kalau ada tamu yg pulang malam suka kedengeran ngobrolnya. Tapi interior mewah dan colokan listrik pun ada yang 220V (di Taiwan standar seperti USA yaitu 110V dengan colokan pipih), jadi kalau next time mau nginap di sini, ambil saja yang non-window karena harga juga lebih murah. Kita malah merasa beruntung karena hari terakhir setelah balik dari Nantou, kita pilih tipe kamar yang non-window. Day 2 - Taipei / Yangmingshan Park Hari pertama kita berangkat dari hotel kurang lebih jam 10 pagi dan mulai berjalan dengan rencana menuju MRT Zhongshan (jalur merah) dan ternyata salah jalan malah kita ambil arah berlawanan dan nyampe di MRT Xingtian Temple (jalur kuning). Sepanjang jalan, terlihat banyak gedung-gedung lawas, termasuk apartemen tua yang masih menggunakan AC window, agak mirip dengan sebagian daerah di Hongkong yang terlihat sudah berumur 30 tahun. Sebetulnya komparasi ekonomi China Mainland dengan Taiwan bisa dibilang agak sejajar tapi kalau melihat pembangunan di China, sangat agresif dan di Taiwan sendiri jumlah skyscraper lebih sedikit dibanding China. Di loket MRT, kita beli 2 buah Easycard seharga NT 500 (termasuk NT 100 deposit), dan kartu ini wajib dibeli karena seperti kartu EZLink Singapore atau T Money Seoul, bisa dipake untuk MRT, bus, dan berbagai public transport kecuali taxi. Cuaca hari ini tidak terlalu ramah, hujan gerimis sudah mulai turun sejak subuh dan sepanjang hari mengguyur Taipei. Walaupun intensitas-nya kecil namun cukup untuk membuat badan menggigil, apalagi outfit yang kita siapkan ini untuk suhu 20-22 jadi tanpa longjohn, sedangkan di semua tempat termasuk MRT tidak ada heater jadi seharian kedinginan karena hujan. Dari Xingtian, kita menuju ke Minquan Road dan ganti jalur merah menuju Jiantan. Turun di Jiantan, kita ke depan untuk nunggu bus yang akan menuju Yangmingshan. Buat yang mau ke Shilin Night Market, di sini adalah stop stationnya (ingat, jangan turun di stasiun Shilin), dan market mulai buka jam 5 sore. Kita berencana ke Shilin nanti hari kedua. Setelah konfirmasi lagi ama petugas bus dengan kombinasi sedikit Mandarin dan English, ternyata betul ada beberapa bus yang bisa kita tumpangi, selain Red 5 (tiap 15-20 menit), ada juga bus festival 126 dan 127 (khusus festival bunga periode akhir Januari sampai minggu kedua Maret), dan Bus 260 dari Taipei Main Station juga barangkali lewat di sini. Perjalanan ngga memakan waktu terlalu lama, kira-kira 30 menit kita tiba di Bus Station, dan dari sini kita jalan sekitar 20 menit menuju Yangmingshan Park melewati satu hiking trail pendek. Untuk explore Yangmingshan National Park sendiri memang butuh waktu satu hari bahkan lebih namun kalau cuma mau lihat tamannya, 2 jam sudah cukup. Di lokasi taman, memang terdapat banyak sekali variasi bunga, dan salah satunya cherry, namun karena full bloom di Yangmingshan sendiri sudah lewat, sebagian pohon sudah botak dan sebagian sudah muncul daun hijau. Biasanya momen terbaik untuk sakura itu hanya seminggu dan waktu persisnya agak sulit diprediksi karena tergantung suhu, angin, dan hujan, tapi di Yangmingshan ini memang best bet antara tanggal 15-25 Februari (agak mirip dengan Okinawa yang secara lokasi memang dekat) sedangkan untuk Alishan yang ada di selatan mungkin sekitar 20-30 Maret. Setelah puas mengitari taman, kita putuskan untuk balik ke kota dan di bus station. Karena lokasi bus-nya berbeda, kita pikir di sini harus naik shuttle untuk kembali ke terminal bus utama Yangmingshan tapi ternyata bisa langsung ke kota. Untung ada dua traveler Malaysia yang bisa ngomong Inggris, karena setengah mati kita coba nanya ke petugas gimana cara balik ke Jiantan dan dia tetep nyerocos Mandarin haha Setelah turun di MRT Jiantan, kita lanjut ke MRT Dongmen dan dari sini langsung jalan menuju Yong Kang Street. Daerah ini banyak tempat makan dan sebetulnya kita pengen nyari Yong Kang Beef Noodle yang terkenal tapi karena ngga ketemu padahal udah kelaperan dan dingin, kita langsung masuk ke restoran ramen dan hasil dari order kita, yang satu ngga enak, yang satu lumayan. Abis dari ramen, baru berjalan sebentar, mata langsung tertuju ke dessert house dan salah satu menu andalan yang dipromosi abis-abisan sama si encik adalah es serut buah dengan kombinasi mangga, kiwi, dan strawberry ditambah topping es krim mango, kedengeran seperti menu biasa yang ada di pinggir jalan tapi ini rasanya bener-bener luar biasa!! Cuma akibatnya begitu keluar, badan menggigil abis2an haha Dengan perut penuh, kita balik ke MRT Dongmen dan lanjut menuju MRT Chiang Kai-Shek Memorial Hall. Dari exit stasiun ini, paling hanya jalan 5 menit menuju lokasi, dan di depan kita berdiri dengan megah monumen untuk mengenang Chiang Kai-Shek, jenderal perang China dari kubu Nasionalis yang juga menjabat sebagai Presiden Taiwan selama 30 tahun. Di sebelah kiri berdiri National Concert Hall dan di seberangnya adalah National Theater. Di dalam hall, terdapat patung CKS dan di lantai bawah ada souvenir shop dan juga museum kecil. Kita ngga lama di sini paling hanya sejam dan setelah balik ke MRT, tujuan terakhir kita ke Ximen untuk explore daerah Ximending yang agak menyerupai Myeongdong di Seoul atau juga ada yang bilang mirip Shibuya kecil. Tiba di Ximending menjelang malam, suasana sudah sangat ramai, dan screen besar dihiasi dengan berbagai iklan, lampu neon warna warni bertebaran di sepanjang jalan. Lokasi ini dipenuhi oleh mayoritas ABG karena memang merupakan tempat nongkrong anak muda. Berbagai macam restoran fastfood seperti McD, KFC, juga banyak toko kosmetik, baju, dan restoran lokal numpuk di sini. Salah satu tujuan kita juga ke sini kepengen nyoba restoran Modern Toilet, yg unik karena interiornya didesain seperti toilet dan menu makanan dan minumnya asli mirip excrement haha tapi sayangnya ngga ketemu. Kalau sempat mampir ke KFC, coba iseng beli egg tart-nya, rasanya sangat enak, dan malam itu kita coba makan di resto lokal yang rame, entah namanya apa, tapi salah satu menu yang kita coba itu crispy chicken dan roasted chicken kecap. Surprisingly, sambalnya pedes, dan rasa ayamnya juga mantap. Overall memuaskan, tapi porsinya gede jadi kalo udah kekenyangan ngga usah dipaksa abisin. Abis dari situ, karena udah kecapean, kita nyetop taxi aja, dan jarak dari Ximen ke Changchun juga ngga jauh, biaya paling sekitar NT 120 aja sampe hotel
  12. halo @deffa apa kabar ? gmn ada rencana jalan kemana lagi ? :)
  13. Nightrain

    Itinerary 12 Hari di Jepang

    halo bro @deffa, bbrp poin yg perlu dipertimbangkan utk itinerary-nya ya : 1. Day 1 untuk Yasaka Shrine kayanya dihilangkan karena itu lokasi ada di Kyoto jadi Yasaka dan Gion yang digabung 2. Day 2 juga perlu direvisi karena Ikebukuro ada di Tokyo bro, jadi kalau mau ke Shitennoji, bisa digabung dgn Osaka Castle dan malamnya bisa pilih antara spend time di Aquarium atau Dotonbori 3. Day 3 untuk Kobe, perlu dipertimbangkan sampe di Steak Land sebelum jam 11 siang, karena kemarin kita sampe jam 12, kudu antri sktr 1 jam, jadi barangkali lebih early lebih baik. Untuk Kobe bridge dan harbor land ada temen yg bilang not necessary, jadi kalau misal jadi skip, mungkin bisa consider Kobe ropeway ? Dan Kobe rasanya 1/2 hari udah cukup, jadi sisa-nya bisa main ke Osaka lagi 4. Day 4 untuk Kyoto, ada bagusnya Arashiyama digabung dgn Kinkakuji seperti itinerary tempo hari def, dan karena Kiyomizu ada di selatan, mungkin bisa di-combine Fushimi Inari baru lanjut Kiyomizu dan explore Ninnenzaka dll karena banyak toko udah tutup jam 5 sore, dan malem spend time di Yasaka dan Gion 5. Day 5 bisa di consider ke Nara 1/2 hari 6. Day 6,7,8 belum bisa bantu comment karena belum kesana dan sisanya should be fine dan rasanya Tsukiji Market bisa di-skip karena nonton lelang somehow underwhelming kalau harus consider datang sktr jam 5 pagi Semoga membantu bro dan krn Januari termasuk dingin, bisa di cek sekali lagi itinerary agar jgn terlalu padat jalan di outdoor karena takut istri belum biasa hawa dingin karena kena exposure hawa dingin ber-jam2 tiap hari bisa teler juga
  14. Nightrain

    Roma - Pisa - Venezia - Milan

    kabar baik bro @deffa tadi malam baru balik dari Osaka, nanti kalo sempet ditulis lagi FR kaya biasa iya mudah2an soon bisa explore western Europe bro, ga kerasa udah 8 thn lalu haha mudah2an pas 10 tahun bisa balik ke sana lagi bareng anak, sambil explore tempat2 sekitar yg blom kesampean :)
  15. Nightrain

    Diskusi pengalaman trip area Kansai

    Hello guys, rencana bulan Juni tgl 10 - 18 ini, saya dan istri bareng anak (6 thn) mau ke Osaka untuk pertama kali dan ngiter sekitar Kansai jadi butuh sharing pengalaman yang sudah pergi kesana supaya bisa ngatur itinerary yang optimal Universal Studios dan Kobe Beef sepertinya sudah wajib dan kita rencana mungkin mau stay di Kyoto (maybe 2-3 malam) dan pengen ke Shirakawa-Go, jadi mohon bantuan sharing masing2 3 best (yg bela2in kesana/nyobain dan puas) dan worst experiences (cape2 kesana/cobain tapi kecewa) selama disana, sekalian short tips do and don't kalau sempet juga ya @anna22 @Daniear @deffa @Dennis.Rio @Hendry_yoi @Ikamarizka @kyosash @Monfi @syahrulsiregar @twindry @Vara Deliasani dan mohon di-tag juga temen/user yg sudah pernah kesana Thanks a bunch
  16. gw baru ikutan main FPL musim ini, haha telat ya join liga Jalan2
  17. Nightrain

    Diskusi pengalaman trip area Kansai

    Thanks input-nya @Vara Deliasani tapi kita udah decide untuk simpen takayama-shinhotaka di next trip, skrg kita coba ke Toyama dan Tateyama, mudah2an nasib baik ngga hujan pas di atas Nanti kita coba mampir ke Nishiki market hunting jajanan
  18. Nightrain

    The Beautiful Paris

    Part 2 - Lucerne dan Mt.Titlis, Switzerland Part 3 - Paris Day 1 - Seine River Pagi itu kita memulai perjalanan darat via bus menuju Paris. Lumayan jauh, untungnya setiap 2 jam sekali kita berhenti di convenience store terdekat untuk beli snack sekalian ke restroom. Siang itu kita juga had lunch sekedarnya di food court kecil di salah satu convenience store yg kita lewati. Saya coba order steak sementar istri prefer makanan yg lebih light, so far menu saat itu adalah the worst meal yg kita coba selama tour kali ini, steaknya tidak sesuai dengan tingkat kematangan yang kita minta, belum lagi daging yang alot karena koki ngga pinter masak dan makanan yg dipesan istri juga rasanya hambar Bus sampai di Paris pukul 5 sore dan gerimis turun saat itu. Saya cukup terpukau melihat cakepnya arsitektur kota Paris, gedung2nya cantik, lampu-lampu, dan display toko2 di sepanjang jalan kelihatan sangat menarik, sayangnya jalanan macet. Menurut tour leader sih Paris emang langganan macet, mana jalannya kecil-kecil dan orang-orangnya ga tertib di jalan, apalagi banyak yang gaya nyetirnya kaya supir Metro Mini seradak-seruduk, sebelas dua belas lah sama Jakarta Sore itu juga kita buru2 menuju Seine River karena mau ikutan cruise. Sebetulnya outfit tidak terlalu mendukung karena perjalanan kita lama di bus jadi lapisan baju agak tipis dan alhasil tiupan angin malam di atas ferry berhasil membuat kita menggigil namun view malam itu luar biasa bagus, so far ini adalah pengalaman cruise terbaik setelah mencoba berbagai cruise di beberapa kota! Arsitektur kota memang sungguh indah, bridge penghubung sungai dibuat dalam bentuk ukiran berlainan dan diberi lapisan emas, jendela2 balkon rumah dihiasi bunga2 cantik, belum lagi pemandangan gereja Notredame, Louvre, dan Eiffel Tower yg saat itu dihiasi lampu2 putih untuk menyambut Natal. Biarpun hidung udah mulai meler kena angin dingin, kita tetap bertahan di atas haha Selapas cruise kita isi perut di restoran Thai setempat, makanannya surprisingly enak! Setelah itu kita langsung dibawa ke hotel untuk istirahat setelah seharian menempuh perjalanan panjang Day 2 - Paris City Tour Keesokan harinya, setelah sarapan kita buru-buru berangkat dari hotel menuju Champ Elysees. Hari itu kita ditemani sebentar oleh guide local yang meceritakan background bangunan-bangunan yang ada di jantung kota Paris ini, sayang bahasa Inggrisnya pake logat Perancis jadinya agak sulit dimengerti. Kita juga dikasi kesempatan untuk photostop di Arc de Triomphe, sampai waktunya lunch, lalu kita menuju chinese food yang letaknya ga jauh dari situ. Selesai lunch kita menuju Eiffel Tower yang padatnya minta ampun. Kita coba naek ke atas tower dan melihat Paris dari observation deck-nya, tapi karena hari masih terang, tentunya viewnya tidak istimewa. Sesudah puas foto2 dari atas dan bawah menara Eiffel, kita jalan sedikit ke park untuk bisa dapat shoot Eiffel dari depan. Kemudian masih berkeliling di area Champ Elysees, dan berhenti untuk berfoto sejenak di depan obelisk yg konon dibawa Napoleon atas permintaan Josephine, istrinya dari Mesir. Sejak tiba di Paris, saya lihat ibu-ibu sudah pada gelisah, dikit-dikit nanya tour leader kapan dibawa belanja, tipikal Asian traveller, terutama Indo. Nah siang itu agenda idaman mereka pun dilaksanakan, seabis diajak ngeborong parfum di toko kosmetik setempat, akhirnya rame-rame diboyong ke Gallery Lafayette. Udah sampe situ kalap deh, apalagi kita cuma dikasi waktu 2 jam, sementara hampir semua outlet di mall ini dipenuhi pengunjung mengingat saat itu adalah holiday season. Menurut istri, yang paling menarik untuk dibeli di Paris saat itu hanyalah LV dan Chanel, Longchamp sangat murah di sini, tapi antriannya terlalu panjang dan lebih baik bayar lebih mahal sedikit dan beli di negara Eropa lain, harganya paling mahal pun hanya beda 200 ribuan, so mendingan skip dan waktunya dipakai untuk ngantri minta cap form tax refund, kan jumlahnya lumayan tuh kalo ga salah sekitar 11%. Sedikit tips buat yg mo belanja LV diLafayette, jangan masuk dari ladies area, coba masuk ke Men area yang ada di lantai atasnya. Pengunjungnya jauh lebih sepi, dan mereka juga mau melayani pembelian untuk ladies item, so ga usah ngantri. Setelah puas belanja, beberapa teman ngaku kopernya sudah beranak haha, kita balik lagi ke acara cuci mata yang sebenarnya, kali ini tujuannya adalah museum Louvre. Di tengah perjalanan kita menjemput seorang local tour leader yg rupanya adalah tante Belanda yg fasih berbahasa Indonesia sekaligus sudah lama tinggal di Paris. Dialah yang akan jadi pemandu selama kita berkeliling di dalam Louvre. Kita sudah sangat excited, karena dari dulu sudah penasaran ingin melihat koleksi art dari museum paling terkenal di dunia ini. Antrian masuk ke Louvre amit-amit panjangnya, sangat beruntung kita peserta tour yg sudah reservasi tiket, jadi langsung masuk. Sebelum acara cuci mata di mulai, seperti biasa ibu-ibu sudah tereak minta pipis. Uniknya restroom di Louvre modelnya kayak mesin penjual otomatis. Jadi kita mesti isi 1 euro ke lubang celengan di pintu, baru pintunya kebuka. Begitu nengok ke dalam shock, WC-nya jorok, mau jalan aja susah, lantainya penuh dengan tissue kotor. Kemungkinan besar sih ini kelakuan jorok para turis China haha tapi apa boleh buat, kalo udah kebelet mah sikat saja. Berhubung udah merasa dicurangi, disuruh bayar untuk pake WC ancur, satu euro akhirnya digilir rame2. Setiap ada yg masuk, pintunya dijagain di depan, orang berikutnya masuk gratis deh, lumayan kalo ada selusin yang gantian haha Louvre sendiri sangat luas dan terdiri lebih dari 600 chambers. Kita sangat impressed sama fresco yang dipasang di beberapa ruangan dengan tema lukisan yg berbeda2. Kita juga dikasi kesempatan buat mengagumi beberapa vanity item yang dulunya dipakai di Versailles, cermin, sisir, dsb semuanya terbuat dari emas. 600 ruangan jelas tidak akan habis untuk dimasuki dalam waktu 2-3 jam, jadinya kita cuman konsen untuk explore ke beberapa item paling terkenal saja, termasuk beberapa lukisan Raphael dan tentu saja the infamous Monalisa milik Leonardo da Vinci. Pertama kali dilihat, lukisan ini terkesan spooky, terutama karena tatapan mata Monalisa seolah2 mengikuti Anda ke mana saja, apalagi setelah sebelumnya kita disuguhi lukisan karya Raphael yang cenderung lebih 'ceria'. Mana tau justru teknik perspektif ala mata Monalisa itulah yg bikin lukisan ini terkenal, karena Leonardo lah org yg pertama menemukan teknik ini. Menurut saya sendiri banyak yg ganjil dari lukisan Monalisa ini, matanya seperti org nangis tp bibirnya senyum, pokoknya creepy deh. Yang saya sayangkan, kita ngga punya kesempatan untuk berfoto di pyramid kaca yang ada di luar gallery, apa boleh buat bus tidak bisa berhenti sembarangan di area ini. Malam itu kita diberi pilihan untuk recharge energy di hotel atau keluar malam untuk menonton Lido show. Saya dan istri adalah 2 dari 4 orang yang agree untuk pergi menonton show cabaret dimana para penarinya sebagian half naked. Biaya yang ditarik per orang untuk show ini kira2 €125, plus additional €20/orang untuk sewa taxi. Jangan bayangkan show ini sebagai tarian ala pole dancing, ini lebih ke arah art, bukan kinky. Atraksinya konon mirip dengan Las Vegas, jadi kalau sudah nonton disana, rasanya udah ngga perlu nonton yang ini, itu kata yang sudah nonton dua2nya. Setelah mendapatkan meja, Anda ditawari dengan pilihan champagne ato wine free flow, dan kita decide untuk pilih champagne yang lite. Shownya menurut kita agak membosankan dan keputusan menonton pun lebih ke penasaran mau tau aja, tapi lagu2nya yg dibawain sih enjoyable dan memang lighting dan tata panggung sangat bagus. Malam itu kita kembali ke hotel lewat tengah malam. Day 3 - Disneyland / Champ Elysees Pagi itu istri terbangun dengan migrain ringan, gara2 kurang tidur dan kebanyakan minum champagne semalam, akibatnya dia jadi kurang menikmati acara main di Disneyland pagi itu. Kita melihat banyak sekali mobil caravan yang diparkir di kawasan sekitar Disneyland, rupanya daerah tersebut adalah area parkir RV. Suhu pagi itu berkisar -1 sampai 0 derajat, dan langit mendung, tapi banyak para penghuni RV yg pede jaya cuci muka di sungai ga pake baju, edan, mungkin turis Rusia kali pada kuat-kuat gitu Disney Euro hari itu terbilang sepi jika dibandingkan dengan theme park lain yang pernah kita kunjungi, padahal saat itu sedang holiday season, mungkin karena udara dingin. Di salah satu sudut ada stand camilan yang menjual macam2 lolipop, candies, coklat dan apple caramel yang dijual satuannya seharga €6. Bosen keliling di Disneyland, kita nego sama tour leader untuk keluar lebih awal dari Disneyland dan diantar untuk explore pertokoan di area Champ Elysees sekali lagi. Hari itu seharusnya perkantoran sudah diliburkan, tapi kita masih melihat banyak orang mengenakan work attire di jalan2. Hari itu udara dingin bukan main, suhu memang hanya 0 derajat, tapi sampai siang matahari masih tertutup awan dan angin bertiup sangat kencang, jadi rencana untuk jalan berkeliling pun urung, akhirnya kita 'ngumpet' di McD untuk isi perut dan numpang pipis Seharian kita explore area ini dan having dinner di sana juga. After dinner kita sempat melewati Hardrock Cafe, tapi tidak sempat mampir. Beberapa peserta tour muda atau yang membawa anak kecil keukeuh mau balik lagi ke Disneyland untuk menikmati firework show yang khusus today rencananya akan dipasang dengan spektakular pada tengah malam - instead of jam 8 malam, demi merayakan pergantian tahun. Kita sendiri terus terang udah ga kuat sama udara dingin di luar, apalagi kalo malam sih udah jaminan -10 kalau ditambah angin so we call it a day, balik ke hotel sekalian packing untuk lanjut ke Belgia besoknya So far dari puluhan kota yang sudah pernah kita kunjungi, Paris ini adalah kota tercantik dan selalu membuat kita kepengen balik lagi untuk explore kota dan outskirt-nya, mencoba lebih banyak makanan Perancis, dan juga kepengen menyusuri pantai selatan Perancis yang terkenal dengan kota-kota seperti Montpellier, Marseille, Cannes, Nice, dll. Semoga one day bisa terlaksana dan buat yang ada rencana ke Eropa, sudah pasti Paris harus minimal sekali dikunjungi, it's indeed a beautiful city! bersambung ke Part 4 - Belgium
  19. Nightrain

    Halo, salam kenal untuk semua :)

    welcome @romie36
  20. Nightrain

    Happy traveling

    welcome @Meriam Sudi Tandi Sugi
  21. Nightrain

    London - Iceland end of Nov to Dec

    halo @Yulie Tobink, kebetulan blom pernah ke UK dan Iceland, tapi just a suggestion, kalo diliat dari peta, ada bagusnya trip ke London di combine dgn Scotland/Ireland/Wales atau dgn Holland/Belgium, kalau Iceland paling cocok single trip 7-10 days, atau di combine mungkin dgn Scandinavian countries seperti Norway, Sweden, atau Finland. kecuali kalau punya waktu lebih dari 3 minggu, boleh explore dua tempat itu
  22. Nightrain

    kenalan

    welcome @Sulistya Rini
  23. Nightrain

    Romantisme di Danau Terindah Taiwan, Sun Moon Lake

    Sun Moon Lake memang menarik, waktu ke Taiwan 2014 lalu kita sempat nginap 1 malam di salah satu hotel samping danau ini. Biasa pas menjelang sore, beli jajanan dekat hotel sambil nongkrong dekat dermaga asik karena suasana-nya tenang dan damai, kalau ngga terlalu berkabut, view juga bagus, tapi kalo berkabut juga not bad, agak mistis gitu nuansa-nya Paling ok memang nginap 1 malam disini, dari siang bisa ke Formosan Aboriginal Culture Village naik cable car dan sore bisa jalan-jalan atau naik sepeda, besok pagi breakfast dulu baru jalan menuju ke Chingjing Farm untuk nginap 1 malam di atas
  24. ah sktr 10 hari ya kali ini @deffa ? mungkin Tokyo dan Osaka kmrn sudah pernah, barangkali bisa coba rute2 yg blom pernah di explore spt Hiroshima, Takayama, Tateyama, dll ? btw nanti berangkat solo atau ama istri ? buat jaga2 saja, kalau misal ada planning utk punya anak, biasanya yg aman terbang agak jauh itu kalo usia kehamilan 4 bulan ke atas, jadi bisa di-planning dulu
  25. draft itinerary udah jadi sih bro, paling tinggal di fine-tune lagi nanti, masih agak lama juga, sambil baca2 dan cari info lebih detail