Donnie

Members
  • Content Count

    105
  • Joined

  • Last visited

  • Days Won

    3

Everything posted by Donnie

  1. Durian, siapa diantara kita yang tidak mengenal buah ini? Kulit keras berduri, kadar alkohol, serta baunya yang kuat membuatnya dijuluki ‘king of fruit’ alias rajanya buah. Layaknya seorang raja dan rakyatnya, kharisma buah asli Asia Tenggara ini seakan tak habis dipuja para penggemarnya. Aneka varietas baik lokal maupun impor silih berganti menguasai pasar, sebut saja durian Petruk dari Jawa, durian Medan dan Sidikalang dari Sumatera serta durian Monthong dan Musang King dari Thailand dan Malaysia. Masing-masing memiliki penggemarnya sendiri-sendiri. Alhasil, seiring derasnya permintaan, harga buah ini pun kerap terkerek naik. Namun bagi para pecintanya, harga puluhan bahkan ratusan ribu untuk per kepala durian kualitas tinggi bukanlah masalah, ada kualitas ada harga, begitu kira2 dalam benak mereka. Penulis, sebagai seorang rakyat durian, memilih Sidikalang sebagai durian lokal favorit dan Musang King dari Malaysia sebagai side kicknya. Bicara durian Musang King, penulis punya oleh-oleh nih, waktu ke Singapur kemarin. Durian? Bukan, tapi info tempat makan durian enak banget dengan harga yang gak bikin kantong bolong. Nama tempatnya ‘Combat Durian,’ lokasinya dipinggir jalan raya Ballestier road 249, seberang-seberangan dengan Hotel 81. Kalo naik bis atau taxi, begitu masuk Ballestier road pasti langsung tertangkap pandangan mata karena posisi kedainya yang bersebelahan dengan halte bis dan tak jarang nampak kerumunan pecinta durian yang mengular, antre menunggu giliran untuk dilayani. Walau dari depan terlihat seperti lapak buah kecil, ternyata bagian dalam kedai ini sangat luas. Dibagian dalam terdapat beberapa meja dan kursi yang sanggup menampung kira-kira 50 orang. Tumpukan durian terus berdatangan, ditingkahi suara teriakan para pegawai lapak sebagai soundtrack ‘acara belah duren’ kami setiap kesana. ‘Very creamy,’ ‘smells like heaven,’ ‘perfect gold’, adalah kata-kata Yang sering diteriakkan para ‘jagal duren’ disana, sesaat setelah duren terbelah. Tentu saja hal itu dilakukan kalo lapak lagi rame, mungkin untuk menghibur konsumen yang mengantre. Soalnya waktu penulis kesana pas lagi sepi pegawainya pada diem aja. Trus kenapa namanya Combat Durian? Ini ada ceritanya, namun sebelum masuk ke bagian itu kita kilas balik dulu ke awal lapak duren ini berdiri. Alkisah seorang Ang Sek Chuan muda harus menerima nasib, tidak dapat melanjutkan studi dan harus membantu sang ayah di percetqkan tempatnya bekerja. ‘Saya yang tertua diantara 15 bersaudara.,’ ujarnya. ‘Gaji ayah yang tidak seberapa tak cukup untuk menghidupi seluruh keluarga, jadi kami harus menentukan prioritas.’ Selepas lulus SD-sekitar tahun 1955, usianya saat itu 13 tahun-mulailah saya bekerja membantu ayah di percetakan,’ kenang Ang. Dua tahun ikut ayahnya bekerja, Ang memberanikan diri membuka bisnis, kini ia dikenal sebagai seorang pedagang sayur dan buah-buahan. Seiring waktu berjalan, Ang menutuskan untuk fokus menjadi pedagang durian, sekaligus menjadi importir durian dari Malaysia ke Singapura. Posisi lapak nya pun berpindah dari pasar ke pinggir jalan raya Ballestier road 249 sejak tahun 1965. Wow, kalo dihitung-hitung sudah 54 tahun lapak Combat Durian berdiri, gak terhitung berapa pesohor Yang sudah pernah mampir si lapak Pak Ang. ‘Aktor Hongkong Chouw Yun Fat, Menteri Dalam Negeri Singapur K. Shanmugam adalah 2 pesohor yang pernah merasakan nikmatnya suguhan Combat Durian. Tak heran jika lapak duren milik Pak Ang yang kini sudah berusia 78 tahun berhasil menyabet gelar ‘Singapore best food’ tahun 2017. ‘Soal kualitas dagangan, saya tidak pernah kompromi. Jika supplier membawa barang dibawah standar. Saya pulangkan mereka. Lebih baik saya tidak jualan dibanding menjual barang seperti itu.’ Bahkan demi menjaga kualitas dan kuantitas suplai, kini Combat durian memiliki kebun durian mereka sendiri di Malaysia. Lalu kenapa Combat? Seperti yang sudah diutarakan diatas, demi agar adik-adiknya bisa makan, Pak Ang kecil rela meninggalkan bangku sekolah diusia dini. ‘Sekolah saya hanya sampai sekolah dasar, Bahasa Inggris saya sangat buruk. Saat mulai berjualan saya selalu berkata ‘Semoga datang kembali (comeback)’ kepada tiap pelanggan. Namun saya melafalkan ‘comeback’ dengan ‘combat’, para pelanggan yang mengerti menyukai hal itu. Dan semenjak lapak ini dibuka, saya menamakannya ‘combat durian.’ Jadi durian seperti apakah yang dijual di Combat Durian? Sekilas, dari papan namanya saya lihat ada sekitar 5-6 jenis durian yang dipajang disana. Namun karena saya hanya mencoba 2 diantaranya maka cuma yang 2 ini yang saya review. Sisanya? Tunggu kunjungan berikutnya. Jenis durian pertama Yang saya cicipi tentunya andalan mereka, durian rajah kunyit alias durian mentega, yang lebih dikenal dengan nama kota kelahiran mereka yaitu ‘Gua Musang’, Yang kemudian berubah menjadi Musang King alias Raja Musang. Lucunya lagi, di lapak Combat, durian dengan banyak nama itu diberi nama baru lagi oleh komunitas penggemarnya yaitu ‘Mao Shan wang’ alias Rajanya raja. Gak heran juga sih dikasih nama kaya gitu. Abis rasanya enaaakkk banget, daging buahnya custard banget, creamy. Rasanya seperti vla susu, manisnya pas, gurih, dengan sedikit semburat rasa pahit. Pendek kata, ini duren enak banget. Duren kedua yang saya coba adalah jenis ‘red prawn’ alias udang merah, awalnya saya tertarik untuk mencoba karena ukuran kepalanya yang relatif kecil. Pas sebagai ‘hidangan pelengkap’ setelah menyantap satu kepala Musang king berdua istri yang ukurannya menggantung (satu kepala kurang, dua kepala kebanyakan). Selain ukuran kepalanya yang relatif lebih kecil dibandingkan Musang king, daging buahnya berwarna oranye seperti tembaga, bijinya kecil, dagingnya creamy sedikit lebih kering dibanding Musang king dan baunya tak terlalu menyengat. Rasanya? Enak banget, mirip durian Sidikalang. Jadi, buat teman-teman rakyat durian, khususnya yang mau melancong ke Singapur, jangan lupa mampir menikmati sang raja diraja. Selamat menikmati!
  2. Anda seorang yang menyukai cerita-cerita perang, cukup tertarik dengan sejarah, dan berencana jalan-jalan ke Tokyo dalam waktu dekat? Baiklah, museum Samurai yang terletak di Kabukicho, Shinjuku adalah tempat yang tepat untuk anda kunjungi. Buat anda para sejarawan ‘serius’ atau bahkan kolektor pedang, sebenarnya untuk rujukan yang lebih komplet dan detail anda bisa mengunjungi National museum di Taito atau Sword Museum di Yoyogi. Namun bagi anda para traveller yang mencari penjelasan ringkas ditengah kota Tokyo yang cukup bernuansa ‘medsosable’, yup datanglah ke Samurai museum. Gak akan nyesel deh hehehe.. Baiklah, museum ini terdiri atas dua lantai yang masing-masing lantai terbagi dalam beberapa area. Lantai satu-tempat dimana semua bermula-berisi deretan yoroi (baju zirah), ada yang asli dan (kebanyakan) replika-yang dipakai oleh para samurai diwaktu yang berbeda-sejarah para samurai terbentang selama kurang lebih 800 tahun yang terbagi dalam beberapa jaman seperti jaman Kamakura, dan terutama era Muromachi (1336-1573), dan Edo (1600-1868)-dengan derajat yang berbeda sesuai jenjang kepangkatan mereka. Bagi para bangsawan, jenderal, dan kalangan atas lainnya tentu bahan-bahan yang digunakan untuk membuat zirah-zirah tersebut lebih kuat dengan warna-warni dan relief yang menunjukan tingginya derajat mereka. Untuk para prajurit, pastinya lebih sederhana dan minim relief. Oh ya, untuk menikmati dan memahami secara utuh koleksi-koleksi museum, pihak pengelola menyediakan tour guide yang ‘cukup fasih’bahasa Inggris (walau logat Jepangnya kental banget dan bikin kita susah paham apa yang dia ucapkan :D). Satu tour guide melayani sekitar 15 pengunjung untuk satu sesi tour selama kira2 dua jam. Waktu kami (saya, istri dan dua anak saya) tiba sudah ada sekitar 12 orang yang stand by menunggu kuota pengunjung terpenuhi. Pas. Setelah menyelesaikan ‘admission fee’ di reception kami memperoleh tiket dan siap diantar mengelilingi oleh Kyoko, tour guide kami hari itu. Sekedar info, harga tiket masuk atau admission fee disini memang relative mahal dibanding museum-museum pada umumnya. Untuk dewasa, dibanderol 1.900 Yen, usia 12 tahun kebawah 900 Yen, 3 tahun kebawah bebas biaya masuk. Tapi percayalah, gak rugi deh untuk mampir kesini. Lanjut kelantai dua, sebelum memasuki ruang-ruang pamer kita diwajibkan mencopot alas kaki sebelum memasuki area ruang display. Bicara ruang display saya cukup kagum dengan perancang museum ini. Nuansa tradisional yang dihadirkan lewat arsitektur jepang kuno yang bernuansa kayu, pernik-pernik seperti tatami, lampion, lukisan, dengan tata lampu yang redup diperkuat dengan lagu-lagu tradisional Jepang yang diputar lirih. Benar-benar membangun suasana yang oke banget. Ruang pertama yang kami datangi adalah ruang pedang yang berisi aneka pedang katana dan senjata-senjata bilah lainnya (tombak, pedang pendek, pisau, anak panah, tombak pendek, sampai golok besar yang khusus dipergunakan untuk menyerang kaki kuda dalam pertempuran). Kyoko, sang tour leader secara fasih menjelaskan kegunaan dan perkembangan teknologi pembuatan bilah pedang termasuk peralatan-peralatan pendukungnya seperti helm pelindung kepala saat perang berlangsung, yang semakin maju seiring berkembangnya jaman. Seraya juga fasih menceritakan beberapa pertempuran besar yang melibatkan dunia samurai, yaitu perang Sekigahara dan pertempuran melawan invasi bangsa Mongol, yang masing-masing diabadikan dalam lukisan kuno yang dipajang dalam kotak kaca. Sayangnya lukisan itu tidak boleh difoto entah kenapa-saya juga gak nanya, karena lebih tertarik memperhatikan kecantikan Kyoko dan koleksi senjata dalam museum hehehe. Dari penjelasan Kyoko pula saya baru tahu bahwa para samurai tidak selalu identic dengan pedang, ada beberapa samurai yang terkanal sebagai ‘si jago memanah’, bahkan dijaman yang lebih modern, saat senapan matchlock dipergunakan secara luas dalam berbagai pertempuran di Jepang, ada beberapa samurai yang terkenal sebagai ‘jago tembak’, salah satunya Sakatomo Ryoma, samurai terkenal dari daerah Sochi. Sesi keliling terus berlanjut dan diakhiri dengan penjelasan tebntang berakhirnya era samurai semenjak restorasi Meiji yang membawa Jepang kepada ‘abad perubahan’ dimana mereka mulai membuka diri pada pengaruh-pengaruh asing dan memulai era industrialisasi. Kyoko menjelaskan sejarah singkat tokoh-tokoh terkenal dalam dunia samurai, hingga tokoh-tokoh yang membawa Jepang menuju abad modern. Selesai sesi ini kita boleh loh mencoba yoroi, lengkap dengan helm dan pedangnya. Bahkan kalau mau merogoh kocek sedikit lebih dalam, anda dan keluarga bias dirias berdandan ala para shogun atau daimyo tempo dulu unbtuk kemudian diabadikan oleh juru potret professional. Ada pula kursus singkat kaligrafi, ilmu pedang, dan menggambar pada hari-hari dan jam tertentu. Berhubung masih banyak tempat yang harus saya datangi, terpaksa saya skip deh bonus-bonusnya. Cukup foto sekali bergaya komandan samurai dan belanja-belanja dikit di souvenir shopnya. Pedang asli katana dengan kualitas bilah premium juga dijual loh disitu. Tertarik juga sih Cuma bingiung bawa masuknya aja ke Indonesia. Sekian laporan singkat saya dari museum Samurai, Shinjuku, Tokyo. Untuk yang Tanya-tanya arah untuk sampai kesana, saya sertakan link dibawah berikut untuk
  3. Donnie

    Jalan-jalan ke museum samurai Tokyo

    Nginep gak @deffa di Kawaguchiko? Asik tuh dingin2 nyobain onsen outdoor
  4. Donnie

    Jalan-jalan ke museum samurai Tokyo

    Kayanya sama ya..Jalur turis non pendaki professional @deffa
  5. Donnie

    Jalan-jalan ke museum samurai Tokyo

    Gak mendaki..naik bus tour, ada pos nya jg..ini fotonya
  6. Donnie

    Jalan-jalan ke museum samurai Tokyo

    Kayanya kl bencana mah gak kenal season @deffa waktu winter taun kmrn saya kesana jg malah badai salju..ada longsor jg di gunung Fuji jd jadwal naik sampai pos 4 (sekitar diatas 3rb m dpl) dipangkas jd cuma sampe pos 1 (2rb sekian m dpl)..Summer bnyk festival malah asik jg buat hunting foto..Musim semi sy jg gak prefer krn selain org jepangnya ndiri pd liburan, orang dari seluruh penjuru dunia jg dateng buat liat Sakura..penuh sesak hehe
  7. Donnie

    Jalan-jalan ke museum samurai Tokyo

    Kalo ngalamin lgsg mah cuma gempa doang dikit ya..dikit versi sana loh alias lumayan kenceng (to ngeliat org sana cuek kita jg ‘belanja cuek’) kita jg dah deg2an jg krn saya kesana gak lama setelah gempa Osaka..pas disana jg kita denger berita ada banjir di Osaka n beberapa daerah lain.. @deffa
  8. Donnie

    Jalan-jalan ke museum samurai Tokyo

    Yup..summer kemarin..kalo Tokyo mah kaya di Jakarta aja lah ya, jadi masih familiar hahaha..kalo sore malah adem..Kalo mau aktivitas outdoor sore aja sampe malem mendingan..kalo summer sorenya panjang, jam 7 mmlm jg masih terang tapi udah gak panas
  9. Donnie

    Jalan-jalan ke museum samurai Tokyo

    @deffahalooo Iya lama jg y gak nulis disini hehehe lama gak jalan2 jg soale ..btw Iya @deffa kalo difoto style tawuran pake yoroi, kabuto, n katana itu gratis ..Yg bayar kalo kita mau difoto sama fotografer mereka didandanin ala daimyo gt (kaya di Volendam kalo k Belanda Yg pake baju belanda itu @kyosash Thank you Bro
  10. Saya berangkat ke London sekitar jam 2 siang..tidak seperti saat keberangkatan dari Jakarta menuju UK yang panting kerontang, perjalanan dari London ke Edinburgh bisa dibilang sangat santai. bahkan saya tidak membawa koper yang saya titipkan di loker stasiun dengan biaya 2 pound sehari. Saya hanya membawa backpack berisi peralatan mandi, pakaian dalam, dan baju ganti untuk dua hari. Masih ada waktu satu jam sebelum keberangkatan, saya makan siang dulu di KFC stasion Waverley. Lucu, KFC disana kentang gorengnya besar-besar, gak seperti di Indonesia yg fries KFCnya kurus-kurus. Kalo anda suka makan di resto TGI Friday, nah seukuran fries di TGI itulah fries KFC di Edinburgh. Waktunya tiba, kereta saya sudah datang. Tanpa kesulitan, saya langsung menemukan gerbong dan bangku saya sesuai tiket. London, Aku Datang! Kereta berjalan cepat, walau gak secepat Shinkansen at least jauh lebih cepat dibanding kereta Argo Parahyangan yang sering berhenti. Perbedaan lain adalah faktor kenyamanan. Hampir tidak ada suara berisik didalam gerbong, goncangan pun terasa minim. Nyaman sekali! Tak banyak penumpang yang berangkat bersama saya hari itu. Bahkan bangku sebelah saya kosong, membuat saya bebas bergerak Sementara, hmm..pemandangan diluar sungguh indah, padang rumput luas lengkap dengan biri-biri, lahan pertanian, rumah-rumah penduduk lokal yang khas, serta perbukitan hijau bergantian muncul dijendela. Saking asyik memandangi pemandangan sambil mendengarkan lagu via ipod, saya sampai gak sadar petugas pemeriksa karcis memcolek bahu saya..saya copot earphone dan dia berkata 'ticket please'..sambil saya serahkan tiket, saya ajak dia ngobrol. Dari obrolan itu saya tau perjalanan ini akan memakan waktu sekitar lima jam dan stasiun King's Cross yang menjadi tujuan saya adalah pemberhentian terakhir, jd saya gak perlu takut salah turun stasion. Tak lama setelah si kondektur berlalu, nongolah tukang jajanan dengan seragam khas mereka yg antik. Sebuah pretzel ukuran sedang dan 1 cup teh panas dengan irisan lemon menjadi pengganjal perut selama dikereta. 9 stasion saya lewati, setiap jelang merapat, petugas berjalan melintasi tiap gerbong memberi tahu penumpang untuk bersiap turun di stasion-stasion tujuan mereka. Kesembilan stasion itu adalah: Berwick, Newcastle, Grantham, Doncaster, Darlington, Durham, York, Newark, dan Peterborough. Di stasion King Cross, manusia dari penjuru Inggris berkumpul. Ada yang baru tiba, ada pula yang hendak berangkat. Berbeda dengan di Edinburgh dimana waktu terasa begitu lambat, di London suasana metropolis amat terasa. Semua orang tampak berjalan terburu-buru, hiruk pikuk, dan masing-masing terlihat sibuk sendiri. Saking padat dan sibuknya orang, saya yang sedang celingak celinguk mencari pintu keluar sampai beberapa kali ditabrak orang yang berjalan cepat. Tak ada kata maaf, mereka hanya melengos sambil terus berjalan cepat. Beda sekali dengan di Edinburgh, disana suasana kekeluargaan begitu terasa, bahkan bagi warga asing seperti saya. Tak berapa lama, Andre, kawan saya datang menjemput. Oya, Andre ini adalah seorang WNI, yang sudah lama menjadi permanent residence di Inggris. Kami adalah teman seangkatan waktu kuliah, satu fakultas tapi beda jurusan. Berhubung hari sudah menjelang malam, Andre mengajak saya makan malam disebuah resto chinese daerah chinatown, satu kali naik bis dari stasion King Cross. Sambil menunggu makanan datang, saya dan Andre ngobrol ngalor ngidul melepas kangen setelah 6 tahun lebih tidak berjumpa. Ternyata, setelah lulus dari kampus ia mengambil kursus IT ke Birmingham sampai kemudian mendapat pekerjaan sebagai sound engineer disebuah perusahaan produsen jingle iklan di London. Dari dia juga saya tahu saking mahalnya hidup di London (London termasuk salah satu kota paling mahal didunia) banyak pemilik rumah harus berbagi rumahnya dengan orang asing. Semacam indekost gitu, kita diberi satu ruangan atau kamar didalam rumah dan bebas menggunakan semua fasilitas yang ada dengan imbalan sejumlah uang yang disepakati sebelumnya. 'Lebih murah daripada patungan menyewa apartemen,' ujar Andre. rumah Andre Selesai makan, kami berjalan santai menuju kediamannya. Udara dingin sekitar 2 derajat celcius, area pedestrian yang sangat nyaman, serta obrolan tanpa putus dengan seorang kawan lama membuat waktu tempuh sekitar 40 menit terasa singkat. Tanpa terasa, kami sudah sampai dirumah tempat ia tinggal. Luas tanah tempat rumah itu berdiri terbilang kecil, kalau di Indonesia hampir menyerupai townhouse. Pemilik rumah belum pulang tampaknya, karena begitu kami masuk ruangan tampak gelap gulita. Setelah mandi, kami merencanakan perjalanan kami esok hari. Karena rencananya kami akan menggunakan subway sebagai sarana transportasi, sangat penting untuk membuat semacam itinerary tempat-tempat yang akan kami kunjungi sehingga bisa searah dan tidak berputar-putar dan membuang banyak waktu. Maklum, sebagai kota tua yang banyak memberi pengaruh pada dunia, London memiliki buanyak tempat yang menarik untuk dikunjungi turis. Kalau istilah si Andre, 'gak habis dijelajahin seminggu'. Jadi Beatles di Abbey Road Esoknya, setelah sarapan kami bersiap jalan. Tujuan pertama kami adalah studio legendaris Abbey Road, yang ternyata terletak hanya beberapa blok dari tempat tinggal Andre. Setengah jam jalan kaki sudah terlihat penunjuk jalan bertuliskan Abbey Road-kearah kanan. Dari jauh samar-samar saya lihat sosok-sosok yang sepertinya saya kenal keluar dari studio tersebut, bergegas memasuki mobil dan pergi. Sampai didepan studio saya lihat banyak sekali coretan tangan penggemar Beatles dari seluruh dunia, bahkan ada yang menggambar wajah John Lennon berpose ala Che Guevara lengkap dengan baretnya. Eh, tunggu dulu, setelah saya cermati diantara coret2an itu ada nama2 para personel band Padi! Oh, ternyata wajah-wajah yang sekilas akrab tadi adalah band Padi dari Indonesia. Wah sial, tahu begitu saya bela2in lari tadi sebelum mereka naik mobil. Lumayan kan kalo bisa nebeng masuk dan berfoto dalam studio. Sukur2 diajak tour London ikut mobil mereka dgn gratis. Yah, bukan rejeki saya tapi at least saya masih bisa foto2 didepan pagar dan zebra cross didepannya. Gila emang Beatles, gara2 mereka jadiin cover album 'Abbey Road EP' tuh zebra cross jadi terkenal keseluruh dunia. Bersama beberapa turis Jepang, kami menyeberangi jalan tersebut dan dengan sigap Andre mengambil foto saya. Agak sulit memang kalo mengambil angle yang persis sama dengan album Beatles karena posisi jalan yang sudah berubah, apalagi arus lalu lintas disana juga lumayan padat, walau ada peraturan tidak tertulis semua mobil 'wajib' memberi kesempatan bagi turis yang sedang berfoto menyeberangi Abbey Road. Puas berfoto-foto, waktunya saya belanja merchandise di Beatles coffee shop dekat situ. Buat pecandu Beatles pasti senang mampir kesitu. Semua merchandise Beatles komplet plet dijual, tapi memang harganya lumayan bikin nyengir. Kaos, album2 Beatles dalam format CD, piringan hitam, buku-buku tentang Beatles, poster, mug, DVD film, DVD dokumenter, postcard. D, semua tersedia. Mengingat budget saya yang agak terbatas, saya hanya membeli 5 tempelan kulkas bergambar 5 cover album Beatles favorit saya (Please Please Me, A Hard Day's Night, Help!, Revolver, dan Let It Be) serta sebuah kaos, tak lupa saya dan Andre meluangkan waktu untuk ngopi sambil menyaksikan film-film Beatles disitu. Wembley Stadium Puas nongkrong di Abbey Road, kami melanjutkan petualangan ke stadion nasional kerajaan Inggris, Wembley. Perjalanan ke Wembley memakan waktunsekitar 45 menit menggunakan subway, dari stasiun St. John's Wood di Abbey Road ke stasion Wembley Park yang salah satu pintu keluarnya mengarah langsung ke stadion Wembley. Sedikit mengulas sejarah Wembley, dulunya stafion berkapasitas 90rb orang itu berbama British Empire Exhibition Stadium. Berdiri sejak 1923, dan sempat mengalami renovasi besar-besaran tahun 2000 lalu hingga dibuka kembali 2006. Selain pertandingan-pertandingan sepakbola, stadion Wembley juga sering menggelar pertunjukan musik. Beberapa nama beken yang pernah menggelar konser di Wembley antara lain: U2, Michael Jackson, The Rolling Stones, Queen, Oasis, Metallica serta masih banyak lagi. Sampai didalam, saya agak dilema juga. Sejam lagi jadwal tour keliling stadion dibuka, bisa masuk sampai kelapangan dan kamar ganti pemain segala. Tapi harganya lumayan juga, GBP 150! Dengan kurs sekitar Rp 18rb/1 GBP, berarti sekitar Rp 2.7juta/kepala. Wah, belum buat beli merchandisenya. Mesti milih salah satu nih, akhirnya sudahlah foto-foto dibagian luar stadion saja. Yang penting masih bisa beli merchandise di official storenya. Piccadily Circus Puas berkeliling Wembley, target bergeser ke Piccadilly Circus. Wow, kali ini kami menaiki subway yg bener-bener fully loaded, sampai harus berdiri berdesak-desakan dengan penumpang lain. Hmm, weekend saja penuh, bagaimana hari kerja ya? Tak lama, kami sampai di stasion Piccadily Park. Tak seperti stasion-stasion underground sebelumnya, stasion Piccadily ini gede dan rame banget! Mirip sekali suasananya dengan di King Cross. Sepanjang lorongnya dipenuhi poster pertunjukan theater dan iklan aneka produk. Oya buat yang belum tahu, Piccadily Circus adalah tempat semacam alun-alun kecil yang terkenal dengan deretan toko, kafe, bar, dan gedung-gedung yang beberapa diantaranya sudah berusia ratusan tahun! Buat kamu semua yang berkesempatan jalan ke London harus menyempatkan diri kemari. Banyak pilihan aktivitas yang biaa dilakukan disana, berfoto dengan latar belakang bangunan tua sekaligus hunting barang antik di London Avenue, sekedar bersantai di kafe dan bar yang banyak bertebaran disana. Buat kamu yang doyan nonton teater, jangan lewatkan menonton pertunjukan di Criterion Theatre. Gedung berkapasitas 600 tempat duduk itu sudah menjadi pusat kegiatan seni teater sejak 1874 dan termasuk gedung yang masuk salam daftar English heritage karena nilai seharah dan arsitekturalnya. Hatchard's Book Store Saya dan Andre berjalan santai sambil memasuki toko-toko yang kami anggap menarik. Mulai toko souvenir sampai toko adult shop yang menjual film dan pernak-pernik XXX. Satu toko yang membuat saya begitu terkesan adalah toko buku Hatchard's. Saya tertarik masuk situ, selain karena saya pecinta buku juga penasaran karena ada logo English heritage diatas toko tersebut. Setelah saya googling baru tahu kalau toko tersebut sudah ada sejak 1797 dan menjadi salah satu penyuplai tetap buku untuk perpustakaan kerajaan di Istana Buckingham! Dari luar, toko itu terlihat kecil dan (tentu saja) kuno. Dalamnya sebenarnya cukup luas, tapi karena disesaki rak-rak buku ukuran besar (bahkan tingginya sekitar 3x tinggi saya) jadi terkesan sempit. Apalagi jumlah buku yang didisplay juga banyak banget, saking banyaknya jadi terkesan agak berantakan karena beberapa terlihat ditumpuk begitu saja. Beda deh dengan di Gramedia hehehe. Buku-buku yang dijual disana benar-benar bikin ngiler saya. Buku-buku tentang sejarah, sastra, fiksi, art, arsitektur, wah komplet deh poloknya. Saya membeli 5 buah buku, yang pertama buku kumpulan foto on stage band favorit saya: Iron Maiden, katalog aneka pesawat ruang angkasa dalam film-film sci-fi, dan trilogi best Playboy's girls: Redheads-Brunettes-Blondies. Waduh, terpaksa gesek kartu kredit ini. Gak apa-apalah, gak sering-sering dan bisa dicicil hehehehehe. Selepas makan siang yang nikmat di resto makanan Singapore, saya dan Andre menghabiskan waktu dengan ngopi di salah satu kafe sampai kemudian pindah ke sebuah bar, menonton pertandingan sepakbola premiere league live di televisi layar lebar. Tanpa terasa, hari telah gelap..waktunya pulang until beristirahat, menyiapkn fisik untuk petualangan hari kedua besok. bersambung ke part 3..mhn maaf kalo foto2 diatas aagak bernuansa narsis
  11. Apa sih yang melintas dibenak anda saat mendengar kata 'Inggris?' Jawabannya bisa berbeda-beda tentunya bagi tiap orang. Namun, saya yakin jawaban mereka nggak akan jauh dari Beatles, sepakbola, dan Buckingham. Nah, kecintaan saya akan sepakbola Inggris dan The Beatles pulalah yang menumbuhkan minat untuk berbackpack ria ke negeri Ratu Elizabeth itu. Alhasil setelah merasa tabungan saya cukup, dan sedikit berjanji muluk kepada boss dikantor-demi ijin cuti-saya segera apply visa dan approved! Saya sengaja mengatur keberangkatan saat musim gugur (berangkat bulan November), sebab kata orang-orang yang sering jalan ke Eropa, musim gugur dan musim semi adalah waktu tebaik untuk menikmati keindahan kota-kota disana. Pasalnya, saat musim panas (Juni-Juli) adalah peak season liburan disana, banyak warga lokal dan turis dari sesama negara Eropa menikmati liburan mereka, alhasil banyaknya manusia akan membuat perjalanan anda kurang nyaman. Sedangkan untuk mengadakan perjalanan saat musim dingin juga tidak direkomendasikan-kecuali anda memang berniat ketemu salju-karena suhu yang bisa mencapai minus 20 derajat celcius cukup potensial merubah perjalanan anda dari ceria menjadi nestapa. Lagian, kurang OK juga mengabadikan obyek-obyek wisata disana dalam keadaan tertutup salju kan? Setelah 22 jam perjalanan udara yg bikin pegal, saya mendarat dengan mulus di bandara Heathrow, London. Karena home base saya selama di UK adalah Edinburgh, saya masih harus melakukan connection flight ke ibukota Skotlandia itu. Sempat terjadi insiden kecil terkait keberangkatan saya ke Edinburgh, pasalnya waktu keberangkatan saya ke Edinburgh dan pendaratan di London hanya berselisih setengah jam lebih dikit, sebabnya waktu tempuh Singapura-London yang terjadwal 20 jam molor menjadi 22 jam karena cuaca buruk. Keringat dingin mulai menjalari tubuh, pasalnya saya belum melewati desk imigrasi, pindah terminal ke penerbangan domestik, mencari gate keberangkatan sesuai tiket, plus tiba-tiba kebelet buang air kecil (hadeeehhh). Tapi dasar hoki, semua steps sampai naik ke pesawat ke Edinburgh saya lewati dengan mulus kecuali di desk imigrasi. Pasalnya, staf imigrasi sana (yang semuanya orang India) dengan santai-sambil ngobrol dengan sesamanya dan ketawa-ketiwi-menanyai saya dengan hal-hal yang menurut saya nggak penting banget, macam sudah pernah divaksin meningitis atau belum dan penyakit tropis yang pernah diderita, di Inggris mau ngapain aja. Perjalanan ke Edinburgh lewat udara memakan waktu sekitar satu jam. Karena perjalanan dilakukan pagi hari, disediakan breakfast kontinental berupa bacon, scrambled egg, tumis jamur truffle, dan sosis plus teh hangat. Baru selesai makan, pilot sudah berhalo-halo memberikan perintah untuk mengencangkan ikat pinggang, pesawat siap mendarat di bandara Edinburgh. Sialnya, saat saya menanti koper di belt conveyor, yang ditunggu tak kunjung tiba. Sampai koper terakhir diangkut si empunya, saya tak dapat menemukan koper saya. Segera saya melakukan pengaduan ke bagian lost and found maskapai yang saya gunakan. Cukup lega juga melihat atensi dan keramahan yang mereka tunjukkan. Setelah mencatat nama, nomor paspor, flight number, serta alamat hotel tempat saya menginap, mereka berjanji untuk segera menghubungi saya dan mengantar seluruh bawaan saya ke hotel-tanpa biaya tentunya-disertai permintaan maaf yang diucapkan berkali-kali. Sebenarnya, hal ini menjadi blessing in disguise juga buat saya, pasalnya saya menuju downtown Edinburgh dengan menggunakan shuttle bus tanpa harus repot bawa-bawa koper, cukup bawa backpack di punggung hehehehehe. Setelah laporan dan menyelesaikan administrasi hotel-yang sebenarnya lebih cocok disebut losmen atau bahasa kerennya, bed and breakfast-saya langsung ngacir untuk segera menikmati keindahan pusat kota Edinburgh. Lagian, mau istirahat di hotel juga saya belum bisa, karena belum masuk waktu check in. Berbekal catatan yang sudah saya siapkan dari Jakarta, saya mulai berkelana menyusuri jalanan Edinburgh. Terus terang, saya sangat mengagumi kota ini, kontur geografisnya yang berbukit memberikan sentuhan alamiah yang khas. Orang-orangnya juga ramah dan helpful banget. Kalau anda menanyakan trayek bis, mereka akan dengan senang hati menjawab sampai detail sekali. Arsitektur bangunan berusia ratusan tahun yang meruncing dibagian atap khas British dengan berbagai ukiran model jaman Rennaisance (bener gak ya, renaissance..mohon koreksi kalau salah) juga terlihat sangat keren bagi saya-terutama Edinburgh castle yang angkuh bertengger dipuncak tertinggi kota itu. Belum lagi patung-patung tokoh-tokoh mahsyur Skotlandia era rikiplik yang bertebaran dipusat kota. Termasuk patung pengarang yang terkenal dengan Sherlock Holmesnya, Sir Arthur Conan Doyle. Sayangnya, patung Sir Arthur yang saya lihat dari dalam bis dalam perjalanan dari airport tidak berhasil saya ajak foto sampai saya meninggalkan UK. Pasalnya saya tidak dapat menemukan jalan menuju lokasi patung tersebut. Pemberhentian terdekat dari patung tersebut berjarak kiura-kira satu kilometer dari lokasi. Jalanan yang ribet membuat saya susah mencapai patung Sir Arthur. Yah, mudah-mudahan saya diberi kesempatan kedua buat bertemu beliau, hiks. Hebatnya, semua yang kuno-kuno itu terasimilasi dengan baik dengan infrastruktur serba hi-tech seperti halte bis dengan layar informasi yang menyajikan berbagai informasi mulai dari suhu udara, nomor bis beserta trayek yang dilewati, sampai berapa lama waktu tunggu bis yang akan kita naiki. Ruang pedestrian yang luas, standar negara-negara maju-juga menambah kenyamanan saya. Mungkin karena itu adalah perjalanan pertama saya ke Eropa, jadi saya begitu menikmati hal tersebut hehehehe. Oh ya, menurut literatur yang saya baca sebelum berangkat, kota tua Edinburgh pada 1995 mendapat anugerah sebagai world heritage dari UNESCO (badan PBB bidang kebudayaan)-seperti candi Borobudur dan pulau Komodo di Indonesia. Selain itu, karena kecantikannya, di Eropa Edinburgh terkenal dengan julukan 'Athens of the north'. Puas menikmati sekilas keindahan kota, perut saya mulai keroncongan. Astaga, jam sudah menunjukkan pukul 14.00 waktu setempat. Keasyikan jalan sampai lupa waktu, mungkin karena suhu udara yang dingin (berkisar 5 derajat) ditambah keindahan kota, saya jadi tidak terlalu merasakan capai dan lapar. Ngomong-ngomong, mau makan dimana ya? Sejauh mata memandang, ada dua tempat potensial buat backpacker cekak seperti saya. Pilihan pertama adalah Pizza Hut, bukan apa-apa, karena di etalasenya ada papan bertuliskan 'all you can eat and drink, for 2 pounds' hehehe. Satu lagi, buffet makanan Vietnam 'Happy Dragon' dengan budget 3 pounds. Timbang menimbang, pilihan saya jatuh pada Pizza Hut. Didalam, ternyata untuk pilihan menu 'all you can eat' cuma tersedia pizza vegetarian yang toppingnya cuma bawang bombay dan shallot (bawang merah bule yang besarnya sama dengan bawang bombay), rasanya..aduh, jauh dari enak, tapi berhubung lapar dan tekad untuk hanya berhemat demi aneka souvenir saya nikmati saja. Untuk pilihan minuman, tersedia orange dan apple juice, free flow. Momen makan siang itu juga saya manfaatkan untuk mengistirahatkan kaki dan menghangatkan diri, karena ruangan tersebut dilengkapi heater yang membuat nyaman. Selepas makan siang, saya segera balik ke hotel untuk beristirahat. Bukan apa-apa, jam biologis dalam tubuh saya masih 'disetel' dalam zona waktu asia alias jet lag. Saya tidur sepanjang sore dan terbangun oleh telepon kamar yang berbunyi. Rupanya koper saya yang nyasar sudah diantar ke lobby. Waktu menunjukkan sekitar pukul delapan malam. Mungkin karena terbangun tiba-tiba, saya nggak bisa tidur lagi. seng punya iseng, saya keluyuran lagi. Kali ini sedikit nekat karena saya sembarang menaiki bis yang berhenti di halte dekat hotel. Turun pula disembarang tempat yang ternyata daerah pelabuhan, yang belakangan saya tahu dari sopir taksi daerah tersebut bernama Granton street. Suhu udara yang berada beberapa derajat dibawah titik nol tidak menghalangi sekelompok remaja yang asyik bermain bola, sesekali mulut mereka mengumpat dengan logat yang 'sangat british'. Ada coffee shop dekat situ, saya memesan coklat hangat dan roti bagel isi tuna. Rasanya? Nikmat luar biasa. Malam makin pekat, jalanan juga sudah sepi, saya berjalan menuju halte bis terdekat. Sial, nomor bis yang tadi saya naiki tidak lewat daerah sini. Terpaksa saya pulang ke hotel naik taksi. Ongkosnya cukuplah untuk membuat saya menggerutu hehehehe. Esoknya, tempat pertama yang saya datangi adalah The Royal Mile. Sesuai namanya, The Royal Mile adalah jalan dipusat kota Edinburgh sepanjang satu mil (sekitar 1.65km) yang dipenuhi lapak-lapak dan toko penjual souvenir Scottish-yang sebagian besar dimiliki oleh orang-orang keturunan India-seperti kilt (rok Skotlandia), bagpipe (terompet khas mereka), boneka, miniatur bangunan, CD musik tradisional Skot, dan lain-lain. Uniknya, ada juga pengamen yang asyik memainkan bagpipe dengan menggunakan pakaian khas Skotlandia. Lagu-lagu yang dimainkan benar-benar menggugah semangat. Cocoklah dengan image orang-orang Skot sebagai bangsa pejuang, mengingatkan saya akan film 'Braveheart' yang dibintangi Mel Gibson. Seharian dipusat kota Edinburgh saya habiskan dengan foto-foto. Maklumlah, namanya juga turis backpack yang berprinsip 'belanja minimal, foto maksimal' hehehehe. Puas foto-foto, saya beranjak menuju Waverley station-stasiun kereta-yang terletak tak jauh dari Princess street, jalan utama ditengah kota Edinburgh. Sebelumnya, saya sudah kontak dengan seorang kawan lama yang kini menetap di London. Ia berjanji untuk menemani saya city tour keliling London, namun karena kesibukannya hal tersebut baru bisa dilakukan saat weekend. Hal tersebut juga yang membuat saya memutuskan untuk menjadikan Edinburgh sebagai home base, karena kalau saya stay di London yang megapolitan tanpa ada guidenya saya pasti nyasar. Beda dengan Edinburgh yang mungil dan sepi, dimana kesana kemari bisa dilakukan dengan bis kota dan berjalan kaki. Biaya penginapan juga jauh lebih murah di Edinburgh. Tiket kereta sudah ditangan, ratusan foto sudah saya jepret, waktunya balik ke hotel dan beristirahat. Siap-siap untuk keberangkatan ke London esok hari.. :)
  12. Sebelum Hollywood bergabung dengan kota Los Angeles (LA), jalanan yang kini disebut Hollywood Boulevard itu bernama Prospect Avenue. Baru pada 1910 setelah terkoneksi dengan LA namanya berganti. Pada 1958, sepanjang 3 blok dari area pedestrian Hollywood Boulevard 'diambil' untuk mengenang dedikasi para praktisi dunia hiburan khususnya yang berasal dari Amerika Serikat, dengan mengukir nama mereka dilantai. Area tersebut kini dikenal dengan nama Hollywood Hall of Fame. Seiring dengan perkembangan wilayah ini sebagai tujuan wisata turis-turis lokal dan mancanegara, dewan kota LA pada 1995 menyetujui rencana untuk merenovasi Hollywood Boulevard, memperlebar area pedestrian, serta mengijinkan pihak swasta membangun pusat perbelanjaan eksklusif Hollywood dan Highland shopping Center. Awal 2006, pemerintah setempat kembali merenovasi Hollywood Boulevard. Pohon-pohon palem juga dipasang untuk memperindah jalanan tersebut. Lampu-lampu jalan old style diganti menjadi bernuansa sign board berbentuk bintang dengan warna merah menyala Berbagai museum yang berhubungan dengan dunia perfilman Hollywood juga dibangun untuk memberi gambaran sejarah pada para turis tentang perkembangan dunia perfilman di Hollywood yang begitu melegenda. Diantaranya yang paling terkenal adalah Hollywood Wax museum yang menghadirkan bintang-bintang Hollywood dalam bentuk patung lilin. Secara otomatis wilayah yang berkembang itu mengundang seniman-seniman jalanan untuk ikut mengais rejeki dari para turis. Dari mereka yang cuma bermodal kostum untuk diajak berfoto bareng sampai musisi jalanan yang skillnya gak kalah dari artis beken banyak bertebaran disana. Kompleks perbelanjaan, apartemen, restoran mewah, hotel dan kafe-bar juga dibangun untuk memanjakan para turis yang mampir. Yang paling terkenal dari kompleks baru itu adalah 'Santa Claus Lane' bagian dari Hollywood Boulevard yang dibangun untuk tempat orang-orang bersantai dengan pemandangan air mancur, bangku-bangku berkanopi yang nyaman dan dekorasi pohon natal uang indah. Kenapa pohon natal? Jadi ceritanya pada 1946 ada penduduk Hollywood bernama Gene Autry dan Oakley Haldemann menciptakan lagu natal berjudul 'Here comes Santa Claus' yang terinspirasi anak-anak di Hollywood boulevard yang selalu berteriak 'here comes Santa Claus' saat natal tiba. Nah tanpa diduga, lagu tersebut cukup lama bertengger di chart lagi-lagu populer Amrik saat itu dan bahkan menjadi lagu tema natal populer disana hingga saat ini. Nah untuk mengenang hal itu, sekaligus menarik minat turis, pengelola toko-toko disana bersepakat patungan untuk membangun 'Santa Claus Lane' tersebut wwalau gak ada Santa Clausnya. Aneka landmark yang sudah ada sejak dulu macam: Kodak theatre (kini berganti nama menjadi Dolby theatre, setelah diakuisisi oleh perusahaan sound engineer langganan studio-studio besar Hollywood tersebut), El Capitan milik Disney, bioskop mewah tempat Disney menggelar gala premiere film2 besutan mereka, serta Chinese-Egyptian theatre hasil kreasi seniman ajaib Sid Graumann juga mengalami renovasi besar-besaran demi kenyamanan para turis, tentu tanpa merusak nilai-nilai historik dan arsitektur originalnya. Just info, proyek yang selesai pada 2007 itu konon menghabiskan dana sampai US$ 2 milyar! Selain landmark-landmark yang saya sebut diatas, masih ada beberapa tempat yang bisa anda kunjungi kalau berkesempatan mampir ke Hollywood Boulevard. Diantaranya: Papan nama Hollywood, American Cinemathique, Madam Tussaud's, Hollywood Masonic Temple, Capitol records tower. Buat yang doyan kuliner saya sarankan mencoba steak premium di Musso n Frank Grill atau anda ingin makan dilayani gadis-gadis sexy berpakaian minim? Coba mampir di Hooters Hollywood boulevard, dijamin anda yang cowok-cowok akan merem-melek hehehehe..semoga bermanfaat!
  13. Ada metalheads disini? Buat para metalheads nama supergrup asal Inggris JUDAS PRIEST pasti gak asing lagi. Walau sudah pada gaek, Mbah2 metal itu tetap dipandang sebagai salah satu legenda dunia musik metal. Menjual 50jt kopi album dan menggelar ratusan show keseluruh penjuru bumi, band yang berdiri sejak 1969 itu merupakan salah satu idola saya sejak SMP. Akhir 2011, dari milis sesama metalheads saya mendapat 2 kabar sekaligus, asik dan gak asik. Berita asiknya Judas Priest mau konser di Asia tenggara, tepatnya Singapore. Ada harapan nih mampir di Jakarta. Berita gak asik, kasak-kusuknya tour kali itu adalah rangkaian terakhir tour dunia mereka sebelum bubar. Judas Priest, bubar? OMG.. Singkat cerita, Judas Priest gak mampir ke Indonesia. Gak pa pa lah, deket juga konsernya di Singapore. Band pembukanya lumayan sangar, band metal-core asal Amrik yang namanya lagi kencang berkibar, Lamb Of God. Walau gak ngefans ama mereka, saya tetep beli tiket VIP yang dapet paket meet n greet dengan mereka, bukan apa-apa saya berharap ada personel Judas Priest yang nyasar ikut meet n greet walau sialnya hal itu gak jadi kenyataan, hahahaha. Oh ya, sebelumnya saya mai cerita sedikit tentang Singapore Airshow (SAS) 2012 nih. Kebetulan eventnya cuma beda sehari, Judas Priest tanggal 20 Februari, SAS mulai 14-19 Februari 2012. Ya sudah, sekalian deh karena saya termasuk penggila dunia penerbangan khususnya pesawat tempur. Sekilas tentang SAS, pameran kedirgantaraan yang termasuk terbesar di Asia itu dihelat 2 tahun sekali sejak 2008. Pagi-pagi, saya sudah siap meluncur ke Changi Exhibition Centre. Tak lupa sarapan dilu lamien pangsit baso dan segelas teh tarik anget biar gak masuk angin. Menumpang shuttle bus kearah Changi (yang khusus disediakan selama perhelatan SAS 2012), saya masuk kloter pertama. Sepi nih bisnya, iyalah wong jam 8 pagi saya udah dalem bis. bukan apa-apa, ini hari terakhir penyelenggaraan SAS, weekend pula. pasti rame neh pikir saya, daripada ngantre mending pagian berangkatnya. Betul apa betul? ya betul hahahaha.. Sesampainya di Changi Exhibition Centre saya segera menukarkan printingan e-ticket saya dengan pass masuk. Didalam sudah mulai ramai ternyata. Benar juga nih prediksi saya, untung berangkatnya pagi. Udara pagi yang segar dan sedikit hawa laut menambah sukacita saya pagi itu. Apalagi setelah melihat deretan pesawat tempur maupun sipil yang terhampar diatas lahan seluas 40ha tersebut. Wow, kereeennn!! Menurut katalog yang dibagikan panitia, SAS 2012 menghadirkan tak kurang dari 900 peserta pameran dari 50 negara. Indonesia diwakili oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI), LIPI, dan Garuda Indonesia. Peserta lain yang tampil antara lain dua raksasa produsen utama pesawat-pesawat sipil yaitu Boeing dengan andalanya A-380 serta Air us dengan Dreamlinernya. Aeroflot Rusia, SAAB Swedia, Aermacchi Italia, Xian China serta ratusan nama beken lain tak mau kalah menampilkan produk-produk andalan mereka. Dari penerbangan militer produk-produk Amerika hadir sebagai penguasa tunggal disana dengan bintangnya F-35 Lightning beserta 'kakak-kakaknya' F-16 blok D, F-15 Eagle, serta F-18 Super Hornet. Tak lupa armada helikopter tempur mereka kuga dibawa. AH-64 Apache dan pemburu kapal selam Sea Stallion berhasil membuat para pecinta mereka epek-klepek. Agak kecewa juga sih Russia gak ngirim amada pesawat dan heli tempurnya kesana. Jujur saya lebih kepingin lihat Su-35 dan MiG-33 dibanding pesawat-pesawat tempur blok barat. Berkat datang pagi, saat matahari meninggi dan udara panas menjelang, seluruh area sudah sukses saya jelajahi dan dokumentasikan. saatnya mencari tempat teduh dan strayegis untuk menyaksikan demo terbang doh fight dan akrobatik yang dibawakan bergantian oleh AU tuan rumah (RSAF), Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) dan US Air Force (USAF), tak lupa cemilan hotdog dan es lemonade serta kamera tele saya siapkan. Demo terbang dibuka dengan formasi heli tempur berlanjut dengan demo akrobatik dari RSAF dan TUDM. pihak USAF menutup pagelaran hari itu dengan demo tempur antara F-18 dan F-15, tak ada kata-kata lain hari itu yang bisa saya ucapkan selain KEREN BANGETS!! Esoknya, dua jam sebelum acara mulai, sopir taxi sudah menurunkan saya tepat di pintu masuk utama Fort Canning Park. Terus terang, ini kali pertama saya masuk tempat itu-yang sebelumnya saya kira sebuah concert hall macam di Sentul atau indoor stadium model tennis indoor Senayan. Sekedar info, ternyata Fort Canning adalah sebuah bangunan tua bergaya Victorian, bekas barak militer Inggris yang berdiri diatas sebuah bukit kecil, tidak jauh dari istana Presiden Singapore. Halamannya yang luas, hijau, dan asri ternyata sering dipakai untuk menggelar konser-konser musik baik lokalan atau level mancanegara. Tak heran, dengan jumlah penduduk yang cuma sekitar setengah penduduk DKI, jumlah penonton konser 5-7 ribu orang sudah dianggap kolosal. Makanya, cukuplah untuk digelar ditempat model begitu. Satu hal lain yang menurut saya agak-agak ajaib, panitia konser-LAMC Production-menyediakan makanan untuk penonton! Memang hanya penonton VIP yang dijamu, tapi di Indonesia sepertinya belum pernah ada yang kaya begini. Dalam benak saya-dengan suasana dan tempat seperti itu-rasanya kok kaya jadi konglomerat, punya mansion gede, manggil band favorit, suruh manggung, undang teman terus nonton bareng sambil ngebir dan ngemil burger. Suasana ‘konser metal’ baru terasa saat Lamb Of God (LoG)-band new metal asal Virginia, Amrik-mulai melakukan check sound dipanggung. Beberapa metalheads VIP yang menggilai mereka langsung merapat ke bibir panggung. Saya-jujur saja-kurang begitu mengenal LoG, hanya satu lagunya yang beberapa kali saya dengarkan lewat streaming di youtube, Black Label. Kalau ditanya, ngapain juga lu beli tiket VIP dengan embel-embel meet n greet dengan LoG? Pake bela-belain membobol-ludeskan tabungan pula (pls forgive me, my beautiful wife). Jawabnya simple, saya berharap bisa bertemu personel Judas Priest saat meet n greet, walau akhirnya gak ada satupun personel Priest yang nongol, bersyukur juga saya megang tiket VIP, kenapa? Hujan deras jawabnya. Mendung yang awalnya bersahabat berubah menjadi ngeselin ketika bulir-bulir air mulai turun. Segera saya berlari kearah barak yang lantai duanya disulap menjadi venue VIP. Gak apa-apalah gak nonton dari bibir panggung, toh LoG yang main pikir saya sambil komat-kamit berdoa semoga pada saat giliran Rob Halford cs menguasai panggung, hujan berhenti. Sambil menikmati suguhan panitia-khususnya free flow beer, yummy!-saya berbincang dengan para metalheads yang semakin banyak memenuhi venue-baik dibawah maupun di VIP. Ternyata saya gak sendiri, walaupun gak nemu sesama orang Indonesia, saya bertemu banyak metalheads mancanegara dari Filipina, Thailand, Brunei, Malaysia, Australia, Pakistan, Bangladesh, termasuk ekspat-ekspat yang mencari nafkah di Singapore, dari Inggris, Amerika, Jepang, Taiwan, yang walau berbeda warna kulit dan bahasa dipersatukan oleh selera musik, hell yeah!! Ada hal yang cukup unik saya perhatikan, ada seorang ayah, bule separuh baya dengan rambut yang sudah memutih asyik bercengkrama dengan anaknya. Saya dekati dan mengobrol dengan mereka, benar dugaan saya, sang ayah yang tampak mengenakan kaus tour Judas priest yang baru dibelinya dilapak merchandise adalah seorang metalhead senior, sedang anaknya yang fans berat Lamb Of God, adalah wakil metalhead generasi smartphone, but we are united yeah! Seorang metalhead asal Filipina sempat berujar batapa beruntungnya kita, orang Indonesia yang mulai dilirik artis-artis mancanegara sebagai pasar potensial. Oya, ternyata ia pernah ke Indonesia menonton Sepultura (1993 kalau gak salah? Saya juga nonton tapi lupa persisnya kapan), dan berniat balik ke Indonesia untuk nonton Anthrax. See u at our next gig here, dude! Satu setengah jam sudah, LoG mengakhiri aksinya dengan satu-satunya lagu mereka yang saya kenal, Black Label. Penonton dibawah bermoshing ria ditengah rintik hujan yang semakin berkurang, yes..doa saya terkabul! Tak berapa lama setelah LoG menghilang, panggung terselubung kain besar bertuliskan Epitaph dengan cross sign berscotlight. Speaker berdentum menyuarakan aneka lagu metal dan hard rock untuk mengusir kebosanan penonton yang jumlahnya makin membengkak memenuhi halaman Fort Canning Park. Segera saya turun mendekati bibir panggung, walau terhalang ribuan tubuh-tubuh penuh keringat, saya berhasil mendapatkan posisi asik gak jauh dari bibir panggung. Dan…seperti jamaknya konser, sesaat sebelum hidangan utama muncul panggung menjadi gelap. Intro lagu Rapid Fire terdengar..selubung kain terbuka dan astaga..Judas Priest, the british heavymetal masters ada diatas panggung. Eh, ada yang beda tapi..K.K Downing, duet sehidup semati Glenn Tipton tidak ada diatas panggung. Walau sedikit kecewa karena ketidakhadiran K.K Downing, adrenalin saya tetap terpacu naik pada level maksimal. Sejenak, segala beban hidup serasa terenggut dari benak. Malam ini, hanya untuk Judas Priest! Tanpa jeda, Metal Gods digeber selepas Rapid Fire oleh Tipton cs. Salut dengan mbah-mbah metal itu, terutama Rob Halford, walau tak banyak aksi seperti jaman mudanya, suara sang metal god tetap prima. Glenn yang setia dengan gitar Hammernya begitu rapi memainkan harmoni melodinya yang khas. Lagu ketiga lewat-saya kurang hafal, mohon maaf para senior di More! Hehehehe-Judas Rising hadir disusul Starbreaker, Rob Halford ditengah lagu menghilang sebentar dan balik dengan kostum berbeda. Layar dibelakang panggung berganti spot dengan aneka cover album-album Priest sesuai dengan lagu yang dibawakan. Rob Halford sejenak menyapa penonton, menunjuk kearah penonton, ia berkata ‘it’s good for me to be here seeing ur face, all metal maniacs!’ sejenak berbasa-basi, Halford menceritakan sejarah bandnya, terutama pada masa-masa awal mereka di Birmingham, Inggris tahun 70’an. Selepas itu, Victim of Changes bergulir. Gitaris pengganti K.K. Downing-belakangan saya mengetahui namanya Richie Faulkner-seperti meminta persetujuan Glenn untuk menggelar intronya, senyuman Glenn Tipton seolah menjadi tanda setuju. Setelah Never Satisfied, beberapa crew membawakan gitar akustik ketengah panggung. Sebuah lagu mellow, yang juga merupakan salah satu nomor klasik legendaris Judas Priest, Diamond and Rust mengalir tenang, menurunkan tensi penonton. Hampir seluruh penonton bernyanyi mengikuti Halford. Lanjut, 3 lagu ‘oktan tinggi’ Prophecy, Night Crawler (salah satu lagu yang paling saya tunggu), serta turbo Lover. Penampilan ciamik Priest terasa sangat istimewa karena mereka tak lupa memboyong segala atribut mulai dari kostum, permainan laser, dan visualisasi layar dibelakang mereka. Judas Priest tak hanya menyuguhkan karya musik yang berkualitas, mereka juga macan panggung yang tahu benar bagaimana menghibur penonton! Selepas ‘kuartet oktan tinggi yang cukup membuat keriting pita suara saya-karena asyik ikut bernyanyi-kembali kami disuguhi lagu agak mellow, Beyond The Realms Of Death-yang juga favorit saya, dan konon sewaktu saya SMP lagu ini pernah heboh karena dikabarkan mendorong beberapa remaja Inggris untuk bunuh diri dan sempat membawa Halford cs kepengadilan. Sebelumnya kembali Halford menarasikan sejarah perjalanan panjang bandnya, serta mengupas satu demi satu inspirasi dibalik album-album mereka. The Sentinel serta dua nomor yang sayangnya saya kurang familiar-ampun para sesepuh!-menjadi jembatan bagi ‘lagu wajib’ Breaking The Law. Uniknya, tak satupun lirik terucap dari mulut Rob Halford, dari awal sampai akhir koor suara penonton menggetarkan Fort Canning dengan Breaking The Law! Scott Travis-sementara rekan2nya beristirahat dibalik panggung-tampil dengan solo drumnya, beat-beatnya khas drummer-drummer era 80an yang gak terlalu ribet, sekilas mirip dengan permainan rekan seangkatannya, Alex Van Halen dalam solo drum di album live ‘Right Here right Now’. Perlahan tapi pasti, solo drum Scott menjelma menjadi intro (lagu yang ‘cukup wajib’) Painkiller! Lengkingan 5 oktaf yang menjadi cirri lagu sukses digeber Halford, luar biasa karena sebelumnya ia sudah menggelontorkan hamper 20 lagu dalam usianya yang sudah kepala 6! The Hellion-Electric Eye (thx God lagu ini nongol, lagu Priest paling saya sukai) dan Hell Bent For Leather menjadi nomor berikut dengan iringan sebuah motor Harley Davidson diatas panggung,-ciri khas pada setiap penampilan Priest. Kembali jeda, Halford melakukan aksi simpatik dengan menyelubungkan bendera Republik Singapura-nama resmi Singapore-ketubuhnya, dalam kesempatan itu ia mengungkapkan penghargaan setinggi-tingginya bagi semua yang hadir malam itu, betapa ia sangat menghargai semua penggemar yang telah menjadi bagian integral Judas Priest selama karier musik mereka yang akan berakhir seiring rencana pembubaran supergroup yang telah lebih 40 tahun berkibar dijagat musik metal dunia itu. Setelah puas curhat, You’ve Got Another Thing Comin’ digeber, setalahnya seluruh personel Judas Priest mengucap terimakasih dan menghilang dibalik panggung. Penonton yang masih terbakar cipratan octane lagu-lagu Judas Priest berteriak-teriak gak sabar’ we want more! Priest, Priest, Priest! Lampu kembali menyala, kain selubung dibelakang panggung menampilkan tulisan Judas Priest United ukuran besar, Living After Midnight menjadi lagu pamungkas tour dunia terakhir Judas Priest untuk wilayah Asia. Tepuk tangan riuh terus bergema, suasana terasa begitu emosionil, para personel Judas Priest melemparkan apa saja yang dapat mereka beri. Stick drum, picks, bahkan Glenn Tipton turun panggung untuk menyalami penonton dipinggir panggung. Luar biasa, sebuah orgasme konser yang terasa dari ujung kaki sampai ke kepala, kalau tidak bisa dibilang dahsyat.
  14. Donnie

    Lima Hari Di Dubai

    Pernah nonton Sex and The City-The Movie yang kedua? Berbeda dengan film serinya dan the movie pertama yang bersetting di New York, sekuel film yang dibintangi Sarah Jessica Parker itu justru bersetting di timur tengah, tepatnya di Uni Emirat Arab (UEA). Eksotisme kota tua, keunikan alam padang pasir, serta gedung-gedung megah ultra modern divisualisasikan dengan sangat baik oleh si sutradara. Nah, gara-gara nonton film itulah saya jadi tertarik cari-cari info liburan ke UEA. Terus terang, sebelumnya saya nggak pernah tahu ada destinasi liburan menarik di timur tengah sana. Yang saya tahu, orang ke Arab untuk menjalankan ibadah haji, umroh, dan bisnis minyak that's all. Nah, setelah baca aneka literatur dan testi-testi mereka yang pernah kesana, UEA (khususnya Dubai) ternyata identik dengan hal-hal yang super mewah dan glamour seperti mall, party club, restoran, dan hotel-hotel yang tarifnya bisa bikin bulu kuduk mengkirik. Walau begitu, sebagai negara yang sedang giat membangun industri pariwisata tentunya mereka juga punya fasilitas untuk mengakomodir turis-turis budget dari seluruh dunia. Timbang punya timbang, saya tetapkan UEA sebagai destinasi liburan tahunan saya (2013). Oh ya, sekedar info UEA adalah sebuah negara yang merupakan gabungan tujuh emirat (kerajaan) yaitu Abu Dhabi, Dubai, Sarjah, Umm Al Qiwain, Ras Al Khaimah, Ajman, dan Fujairah. Dua yang disebut pertama adalah emirat-emirat terbesar dan paling berpengaruh dalam pemerintahan UEA. Siapapun yang diangkat menjadi Emir Abu Dhabi, otomatis menjadi Presiden UEA, dan Emir Dubai menjadi wakilnya. Seperti kebanyakan negara-negara di teluk Persia, ekspor minyak dan gas menjadi tulang punggung perekonomian UEA. Menurut literatur, mereka adalah penghasil terbesar minyak bumi nomor tiga disana setelah Saudi dan Iran. Walau mendapatkan kekayaan luar biasa dari minyak, UEA justru berkembang menjadi negara dengan industri keuangan, property, dan pariwisata terbaik dikawasan teluk. Singkat cerita, bulan Juli visa dan tiket sudah ditangan. Awalnya saya berniat mengajak anak istri ke UEA, namun dengan aneka pertimbangan seperti suhu udara yang lagi panas-panasnya dan kurangnya wahana hiburan buat anak-anak di UEA, istri saya lebih memilih membawa anak-anak ikut dengan orang tua saya ke Jepang. Yah, ambil sisi positifnya aja deh, at least kalo ketemu cewe arab yang aduhai kan bisa bebas flirting tanpa ada yang melototin..hehehehe. Oh ya, untuk penerbangan kesana saya sarankan menggunakan maskapai Emirates-maskapai penerbangan Dubai-pasalnya, selain harganya bersahabat, kalau menggunakan maskapai itu kita akan dipermudah untuk mendapatkan visa UEA, dan penerbangannya straight langsung ke Dubai, nggak pakai transit. Namun apabila budget menjadi alasan utama, anda bisa memilih menggunakan maskapai Qatar Airways-transit dulu di Doha-kalau beruntung dapat tiket promonya, tidak sampai Rp 4,5jt bisa dapat tiket bolak-balik Jakarta-UEA. Tanpa terasa (karena entertainment system yang yahud di pesawat), setelah sembilan jam terbang sampailah saya di Dubai. Sesuai petunjuk, saya segera menuju perhentian shuttle bus milik hotel tempat saya menginap. Berhubung keberangkatan bisnya masih setengah jam lebih, saya memanfaatkan waktu yang singkat itu untuk mencicipi sengatan matahari timur tengah yang konon paling sadis di penjuru bumi. Setelah berjemur ria sebentar, saya boleh bilang pedapat tersebut benar adanya. Info suhu udara di ponsel saya menunjukkan angka 49 derajat celcius! Nggak mau berubah wujud jadi ikan asin, segera saya kembali masuk dalam bis dan menikmati pendingin udara sambil meraba jendela, menikmati secuil matahari arab yang terekam disitu. Setelah check in, saya langsung mandi dan berjalan-jalan ke Deira mall yang terkoneksi langsung dengan hotel. Seperti halnya negara-negara maju dengan pendapatan per kapita yang tinggi, serta mengandalkan industri minyak, keuangan, dan pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi nasional, UEA khususnya Dubai menjadi magnet yang sangat kuat menarik manusia-manusia dari berbagai penjuru bumi untuk berinvestasi, mencari peruntungan, atau sekedar melancong kesana. Orang-orang yang berkeliaran sangat multi etnik, ada arab, bule, hindustan, melayu, afro, komplit deh pokoknya. Satu lagi, berbeda dari kebanyakan negara teluk yang memberlakukan hukum islam, UEA menerapkan hukum sekuler. Club hiburan malam, konsumsi alkohol, berpakaian sexy bukan hal tabu di UEA. Setelah puas ber sight seeing, saya mencari agen travel untuk membeli aneka paket wisata. Pilih punya pilih, saya mengambil paket yang isinya sebagai berikut, hari pertama: city tour plus photo stop di Jumeira beach dan Burj Al Arab, hari kedua: Dubai mall lanjut desert safari, hari ketiga: menuju Abu Dhabi untuk melihat istana presiden, masjid terbesar dunia-An Nahyan Mosque, dan Ferrari world, hari keempat, setelah check out hotel saya dijadwalkan untuk mengunjungi Burj Khalifa, gedung teritnggi didunia, wisata belanja ke Emirates mall, dan langsung menuju airport untuk kembali ke Jakarta. Berhubung hari itu saya nggak ada kegiatan, saya tanya pada pegawai travel apa ada tour setengah hari yang bisa diikuti hari itu. Ia menawarkan river cruise kekota tua menggunakan perahu nelayan-yang disana disenbut Abrar yang langsung saya setujui. Alhasil, sore itu saya dijemput mobil travel menuju Zara port untuk menaiki Abrar, menyeberang kekota tua, melihat-lihat gold souq (pasar emas, souq=pasar tradisional). Sesampainya di Zara port, saya bersama beberapa wisatawan lain dipersilakan untuk mengambil foto didepan deretan kapal pesiar super mewah milik orang-orang kaya yang diparkir disana. Wah, melihat bentuknya saja saya mengira-ngira harganya mungkin setara-bahkan lebih-dengan rumah super mewah dipemukiman elit Jakarta. Puas berfoto dengan kapal pesiar, kami menaiki Abrar yang berjalan peran menyusuri sungai menuju gold souq. Sebelum memasuki gold souq, dibagian depan ada deretan kios yang menjual aneka makanan khas Arab dan souvenir-souvenir murah meriah. Ada magnet kulkas, gantungan kunci, kaos-kaos murah meriah, sampai jam tangan bermerek tiruan yang secara kasat mata susah dibedakan dengan aslinya. Lain diluar, lain didalam gold souq. Disana saya seeperti berasa ada digudang emas milik Paman Gober, lemanapun mata memandang hanya emas yang terlihat. Ada mannekin yang ditutupi aneka perhiasan emas sebagai bajunya. Bahkan ada cincin emas raksasa yang mendapat sertifikat dari Guiness book sebagai cincin emas terbesar didunia. Esoknya, setelah breakfast saya dijemput mobil travel untuk city tour keliling jalan-jalan protokol di Dubai. Sepanjang pengalaman saya avonturir ke berbagai negara, belum pernah saya melihat ada kota yang memiliki jalan semulus dan selebar di Dubai. Lebar badan jalan disana bisa mencapai sekitar 50 meter! Jalanannya bahkan jauh lebih mulus daripada jalan tol manapun yang ada di Indonesia. Hebatnya lagi jalanan ddisana dibuat sedemikian rupa sehingga hampir tidak ada perempatan, belokan, pertigaan. Pokoknya nyetir di Dubai tuh bakalan jauh dari stress akibat macet, angkot yang ngetem, berhenti sembarangan, dan pengendara motor yang tidak disiplin. Ada lagi yang lebih hebat, yaitu mobil-mobil yang berseliweran disana, mobil-mobil di Jakarta yang sudah termasuk kategori mewah di Jakarta seperti Cygnus, TLC, Defender, Range Rover disana terhitung 'mobil rata-rata', karena banyak sekali yang pakai. Sedangkan mobil-mobil supermewah seperti Bentley, Ferrari, Porsche, Lamborghini sudah menjadi pemandangan biasa, bahkan mobil patroli polisi disanapun Lamborghini! Puas menyusuri jalanan, mobil bergerak menuju Jumeira beach tempat hotel termewah dunia, Burj Al Arab berada. Beberapa bule perempuan berbikini tampak santai berjemur, berenang, dan bersurfing ria dipantai. Prat, pret, prot, puas mengambil foto (foto saya sendiri lho, bukan cewe2 berbikini itu), saya segera masuk kembali ke mobil. Bukan apa-apa, nggak nahan panasnyaaaa... Esoknya, setelah breakfast saya kembali dijemput mobil travel untuk mengunjungi Dubai mall, diberikan waktu tiga jam bagi seluruh peserta tour untuk memuaskan hasrat berbelanja disana. Saya yang pada dasarnya kurang suka belanja (karena nggak cukup budget hehehehe) lebih memilih mencari tempat nongkrong plus wifi untuk mengupload foto-foto narsis saya selama di Dubai. Pilihan jatuh pada sebuah kedai es krim yang juga menjual popcorn dan cookies. Saya sempat ngobrol dengan pegawai kedai tersebut, dia orang Spanyol yang terpaksa bermigrasi ke Dubai karena krisis ekonomi parah dinegaranya. Wah, sama dong dengan di Indonesia yang tiap tahun mengekspor jutaan warganya untuk berburu Dollar keluar negeri. Puas ngemil, saya jalan menuju lantai tiga mall tersebut. Sesuai dengan info yang saya dapatkan, disitu kita bisa memilih aneka tempat nongkrong yang menghadap laut, dimana terdapat air mancur terbesar didunia yang tarian airnya diaransemen sesuai lagu klasik karya siapa gitu. Sayangnya, siang itu air mancur tersebut lagi off dan baru dinyalakan menjelang maghrib. Ya sudah, kaki saya langkahkan saja ke Indoor zoo dimana terdapat aquarium ikan laut terbesar didunia, taman reptil, dan ikan air tawar. Karena sisa waktu masih cukup banyak, saya kembali kebawah, mencoba mengabadikan Burj Khalifa yang berada disamping mall. Sayang, saking tingginya itu bangunan, kamera saya tak cukup mampu untuk mengabadikan Burj Khalifa dari ujung hingga pangkalnya. Setelah tiga jam dan regrouping para peserta tour, acara dilanjutkan dengan desert safari. Wah, ini yang saya tunggu-tunggu, sebab dalam film Sex and The City, acara makan malam di gurun ala khalifah-khalifah padang pasir sambil diiringi tari perut itu yang membuat saya tertarik berlibur kesitu. Perjalanan ke gurun memakan waktu sekitar satu jam setengah. Sebelum meluncur diantara bukit-bukit pasir, para driver-yang semuanya menggunakan pakaian khas Arab-terlebih dulu mengempiskan ban mobil mereka. Mungkin supaya mobilnya tidak terbalik kali ya? Setelah itu, saya dibawa berjungkir balik ngebut diatas pasir, mendaki bukit-bukit pasir, menuruninya, ngepot, wah pokoknya berasa seperti naik roller coaster. Terus terang, saya agak takut dalam sesi ini, bukan apa-apa, kalau mobilnya terbalik, tamatlah riwayat saya. Mana saya sendirian, lah kalau saya kenapa-kenapa siapa yang mengurus saya? Setelah puas mengerjai saya, mobil berjalan beriringan dengan turis-turis lain menuju pangkalan mereka ditengah gurun. Disana kami dipersilakan turun dan sudah disediakan meja-meja lengkap dengan aneka cemilan, minuman dingin baik yang beralkohol maupun tidak. Sambil menikmati makan malam berupa aneka barbeque (daging, ayam, seafood) Juru foto sibuk mengambil foto-foto kami untuk kemudian ditayangkan dilayar lebar yang berada didepan panggung. Buat yang ingin mengendarai ATV atau naik onta bisa dilakukan tanpa penambahan biaya. Karena trauma dengan sesi roller coaster tadi, saya memilih naik onta dibanding berATV ria. Asyik juga rasanya naik onta, saya membayangkan diri menjadi Lawrence of Arabia-tentara Inggris yang menggalang suku-suku di Arab untuk memerdekakan diri dari jajahan Turki. Sepulang saya ke hotel, badan saya terasa remuk redam. Saya mengisi bath tub dengan air hangat sambil menaburkan garam laut mati yang disediakan pihak hotel, setelah penuh, saya segera nyemplung kedalam, tak lupa sekaleng bir dingin dari minibar saya siapkan disamping bath tub. Sungguh sebuah sesi relaksasi yang sangat nikmat. Saking capek dan enaknya berendam saya sampai ketiduran sebentar disitu. Puas mandi, saya langsung tidur. Menyiapkan fisik untuk besok karena harus menempuh perjalanan lumayan panjang ke Abu Dhabi. Esoknya, seperti biasa, setelah breakfast mobil travel sudah menanti untuk membawa saya ke Abu Dhabi. Perjalanan dari Dubai ke Abu Dhabi memakan waktu hampir tiga jam. Disana, acara kami selain city tour adalah mengunjungi masjid terbesar didunia yaitu Zaid An Nahyan Mosque. Nama tersebut diambil dari nama Presiden UEA yang juga merupakan ayahanda dari Presiden UEA yang sekarang. Sungguh suatu kemewahan yang luar biasa saya saksikan dalam masjid tersebut. Dihalamannya yang luas ada kolam dengan aneka lampu sorot berwarna-warni, kata guide kami kalau malam lampu-lampu yang diarahkan ke air kolam akan memantul dan menciptakan aneka sinar yang sangat indah. Didalam masjid yang sangat luas tersebut terdapat tempat wudhu yang dilengkapi ratusan tempat duduk, yang semuanya dibuat dari batu pualam khusus yang didatangkan dari Italia. Bahkan ada air mancur yang terbuat dari batu zamrud, untuk minum mereka yang haus, airnya adalah air mineral yang kalau diminum terasa dingin dan menyegarkan. Semua ruangan dari mulai pintu masuk, tempat wudhu, bagian dalam masjid semua full AC. Setiap pilar masjid dihiasi hiasan berbetuk daun yang terbuat dari emas 22 karat! Kini, kami menuju Ferrari world! Taman bermain indoor terluas didunia, selain desert safari tempat inilah yang paling bikin saya penasaran. Pasalnya disana ada roller coaster tercepat didunia, yang membuat saya sangat curious untuk segera menaikinya. Selain itu didalam ada museum Ferrari yang memuat aneka model Ferrari yang pernah ada mulai dari yang pertama, mobil khusus F1, sampai seri Ferrari terbaru. Namun tujuan utama saya tetap roller coaster. Sebenarnya agak ngeri juga, sebab saya melihat orang-orang yang baru turun mukanya terlihat pucat semua, Mbak-mbak yang berambut panjang juga terlihat sibuk merapikan tatanan rambut mereka. Waduh, gawat nih pikir saya. Tapi sudah terlanjur, begitu naik, dan tubuh kita terkunci di cockpit, roller coaster mulai berjalan pelan menuju mulut jurang untuk kemudian terjatuh tiba-tiba dengan kecepatan yang sanggup membuat bibir kita bergetar, aneka sumpah serapah jorok dalam bahasa Indonesia berhamburan dari mulut saya saking excitednya perasaan saya. Biar saja, pikir saya, nggak akan ada yang tahu juga artinya. Keluar dari cockpit roller coaster saya berusaha terlihat tetap gagah, tapi dengkul saya masih lemas dan terasa bergetar. Bule yang tadi duduk disamping saya menepuk pundak saya sambil berkata, next time we try the Lamborghini coaster? Saya hanya tertawa, dalam hati saya mengumpat, Lamborghini Mbahmu, masih untung tadi saya nggak muntah dimuka kamu saking diputar-putar dalam kecepatan tinggi. Keesokan hari, saya kembali ke Dubai mall untuk masuk kedalam Burj Khalifa, gedung tertinggi didunia, antara Dubai mall dengan Burj Khalifa memang terhubung langsung. Dengan membayar tiket-kalau dirupiahkan sekitar Rp 350 ribu-kita dibawa menuju puncak Burj Khalifa dengan lift yang-lagi-lagi-tercepat didunia. Bayangkan, 153 lantai gedung tersebut bisa ditempuh hanya dalam 7 menit! Sebelum memasuki lift tersebut kita diajak memasuki sebuah lorong yang dikiri kannnya terdapat gambar bergerak dengan sound yang sangat jernih, menceritakan perkembangan UEA mulai dari jaman baheula sampai era booming minyak, dan era modern sekarang. Setibanya dipuncak disediakan teropong elektrik untuk melihat seluruh penjuru Dubai dari ketinggian. Aneka souvenir seperti miniatur gedung, buku mengenai Burj Khalifa dan Dubai, kaos, coklat berbentuk Burj Khalifa juga tersedia di super storenya. Puas mendaki Burj Khalifa, kami menuju Emirates mall, mall terbesar didunia. Sesi ini saya manfaatkan untuk makan siang, oh ya didalam mall itu terdapat snow city, sebuah arena bermain yang dilengkapi salju buatan dimana anak-anak bisa bermain lempar-lemparan bola salju asli, membuat boneka salju, dan kegiatan-kegiatan lain yang lazim dilakukan saat musim dingin. Benar-benar ajaib Dubai ini sampai digurun mereka bisa menciptakan salju. Setelah berbelanja sedikit untuk oleh-oleh, saya bergerak menuju airport untuk segera menaiki pesawat untuk kembali ke Jakarta. Sungguh suatu liburan yang sangat menyenangkan di UEA..see you in my next adventure, guys!!
  15. Donnie

    Hoover Dam, Waduk Terbesar Didunia

    Bagi para pecinta wisata tentu sudah tidak asing dengan tempat-tempat yang dinobatkan sebagai 'keajaiban dunia' karena keindahan, kemegahan, dan keunikan bangunan peninggalan masa lalu. Candi Borobudur, tembok besar Cina, Machu Pichu, Colosseum Roma, adalah sebagian dari keajaiban-keajaiban dunia tersebut. Namun, keajaiban struktur bangunan era modern juga tidak kalah menarik lho untuk dikunjungi. Salah satu dari kategori ini, yang pernah saya kunjungi adalah Hoover Dam (bendungan/waduk Hoover), bendungan terbesar didunia yang berlokasi digurun Nevada, AS. Sebenarnya, perjalanan ke Hoover Dam tidak termasuk dalam itinerary saya selama perjalanan di Amrik (yang field reportnya akan saya tulis terpisah). Ide ke Hoover Dam tercetus dari seorang kawan saat kami merapat di Vegas. Ia, yang sebelumnya sempat akan kesana dlm kesempatan yang lalu, karena beberapa hal harus membatalkan keinginannya. Ajakan yang menarik, saya yang pada dasarnya senang keluyuran ke tempat-tempat unik seperti itu langsung menyambut baik ide tersebut. Perjalanan Vegas-Black Canyon, lokasi Hoover Dam memakan waktu sekitar dua jam berkendara dengan mobil. Melintas gurun Nevada yang dingin saat itu-karena sudah menjelang musim dingin-kami harus berjuang melawan silaunya sinar matahari Saking silaunya jarak pandang kami menjadi sangat terbatas sehingga cukup menyulitkan untuk berkendara. Alhamdulillah, walau waktu perjalanan jadi molor kami selamat sampai tujuan. Sungai Colorado 1 Sungai Colorado 2 Mungkin karena saya berkunjung saat weekend, suasana disana lumayan ramai. Setelah membayar tiket tour sebesar US$ 11, saya mengikuti guide yang menjelaskan latar belakang dan sejarah pembangunan Hoover Dam. Terletak di perbatasan antara negara bagian Nevada dan Arizona yang dipisahkan oleh sungai Colorado. Tepatnya di Black Canyon, ngarai dengan perbukitan batu menjulang dan jurang-jurang yang dalam. Menurut si guide, pada 1930, tim ahli pemerintah AS menyadari potensi besar aliran sungai Colorado sebagai penghasil listrik dan sumber irigasi bagi negara bagian California, Nevada, dan Arizona. Untuk itu, pemerintah AS pimpinan Presiden Herbert Hoover-yang namanya digunakan sebagai nama waduk- harus membangun sebuah waduk berukuran raksasa untuk membendung aliran sungai dan mengalirkannya sesuai kebutuhan. Halaman depan Pemandangan dari atas Selain sebagai pembangkit listrik dan irigasi, waduk tersebut juga berfungsi sebagai pengontrol banjir. Namun, bukan perkara mudah untuk membangun waduk-apalagi berukuran raksasa-dengan kondisi geografis Black Canyon yang berbukit batu lengkap dengan jurang-jurangnya yang dalam. Tak heran, pembangunan waduk yang dilaksanakan oleh Six group of companies. Inc. membutuhkan waktu sampai lima tahun (1931-1935). Ribuan pekerja yang dilibatkan dalam megaproyek tersebut mengakui kesulitan yang mereka hadapi sehingga membutuhkan skill yang tidak biasa untuk menyelesaikannya. Korban tewas dalam pembangunan konon mencapai ratusan orang. Belakangan, setelah jadi waduk terbesar dunia itu mempunyai fungsi lain sebagai obyek wisata karena struktur bangunannya yang unik dan pemandangan alamnya yang indah.
  16. Donnie

    Hoover Dam, Waduk Terbesar Didunia

    film transformers yang pertama mas @budhi sugeng
  17. Donnie

    Lima Hari Di Dubai

    ini juga fotonya gak keluar ya Mas @deffa..ini sy uploadin cuma ketemu dikit..nanti saya tambahin lagi kalo nemu tq
  18. Donnie

    Hoover Dam, Waduk Terbesar Didunia

    dapet juga tuh foto2nya Bro @deffa..buat Bro @HarrisWang monggo..semoga bermanfaat, thx seblmnya
  19. Donnie

    Hoover Dam, Waduk Terbesar Didunia

    Coba ya..
  20. Donnie

    Hoover Dam, Waduk Terbesar Didunia

    @deffa mas deffa..ini foto2nya ggak bs ditongolin ya?
  21. hai @chyntia07, ke inggris lumayan mahal emang costnya beberapa tips supaya bs jalan2 kesana dengan ngirit udah sy jabarin di tulisan jalan2 ke UK part 1..standar sh, pilih tiket promo, disana kalo punya temen (untungnya sy ada) dirayu aja biar bs ditebengin nginep..kalo gak, ada kok dsana hostel2 buat budget traveller tp sekamar bs beberapa orang pake tmpt tdr susun..nyaman dan bersih cuma privasi agak kurang. kl soal makanan, dsana bnyk kok pilihannya..susah sih kal mau nyari halal 100%, soalnya biar makan ayam kita kan gak tau disembelihnya gmn..wallahuallam deh, baca bismillah n niatin yg baik2 aja..hehehehe..at least buat saya jgn ada babinya aja, sandwich biasanya sy milih tuna, kl ada KFC ya makan KFC, atau beef-chicken burger, roti coklat, keju, selama gak ada babinya hajar bleh aja
  22. ayo...ayo rain nabung banyak untung
  23. hehehehehe..belom, mas @deffa..US$ lg mencekik nih..sementara tiarap dulu..mu k Monas aja dl tgl 20 wisata lokal pelantikan presiden :)
  24. Halo Mas @mone..utk viisa dulu (saya brgkt taun 2009) biayanya 1.2jt, kalo biaya total sekitar 5 hari akomodasi tiket, penginapan, makan, transport total sekitar 20jt-an..kalloksana saya sarankan homebasenya Scoland aja karenaperbandingan harga di Scotland dan England agak jomplang..di Scotland relatif lbh murah, Mas.. :)
  25. Hehehehehehe..yoi Bro..glam, thrash, heavy, n speed metal, hardrock..spirit of 90's..keep rockin bro @Nightrain (judul lagu GnR tuh Nightrain..')