Ahook_

Members
  • Content Count

    163
  • Joined

  • Last visited

  • Days Won

    12

Everything posted by Ahook_

  1. Tanggal 16 Mei 2018. Setelah trip Eropa berakhir di Italy, aku terbang dari Roma ke Kuala Lumpur dengan menumpang Emirates. Maksud hati istirahat 2 malam di Kuala Lumpur untuk menyesuaikan jam biologis yang terpaut 6 jam antara Malaysia dengan negara Eropa yang aku kunjungi. Sombong... Istirahat saja harus di Kuala Lumpur... Bukan begitu brosis, aku punya trip selanjutnya ke Cina tanggal 18 Mei 2018, yang akhirnya aku batalin di jam- jam terakhir. Untungnya, rencana trip 10 hari di China belum ada booking apapun. Walaupun sayang, mau bagaimana lagi, toh harus ada yang diutamakan... Nah, selama 2 malam, aku pilih menginap di daerah KL Sentral. Supaya tidak terlalu repot kalau mau bolak- balik KLIA. Dan kali ini, aku pilih POD - The Backpacker`s Home. Letaknya belokan pertama kalau kita turun dari Monorail. Kalau kamu naik bus dari KLIA ataupun naik kereta, ya dekat banget. Kalau yang cari penginapan, yang pertimbangkan masalah jarak dekat, hostel ini boleh-lah. Living Room. Eh, hostel ini sekaligus ada cafe-nya. Karena itu, ada live music kalau malam hari. Penyanyinya, ya, penghuni hostel kali, yang punya bakat. Kurang jelas juga sih. Karena, selama 3 malam di sini ( perpanjang 1 malam karena batal ke Cina ), yang nyanyi ya penghuni hostel. Seru sih, bisa request lagu. Per malam, aku bayar Rp 100.000,- ya, masih lebih mahal dibanding Flip Bunc, yang letaknya juga disekitaran KL Sentral, tapi masih agak jauh. Free wifi kencang baik di living room maupun di kamar sampai kamar mandi sekalipun. Kebetulan, aku nginap di lantai 4. Eitss, ada lift kok. Lift-nya lega, tidak seperti lift pada umumnya di Hongkong. Oh ya, harga segitu untuk 4 beds mixed dorm ya. Masing- masing dapat loker dan handuk mandi. Dan sudah termasuk sarapan. Aku sendiri tidak pernah bangun pagi, jadi tidak pernah sarapan. Lha, baru bisa tidur jam 5 pagi. Masih belum bisa move on dari Eropa. Jam 5 pagi Malaysia, di Eropa baru jam 11 malam shayyyy... Kamar 4 beds.. Lainnya, bersih. Soalnya nyaman, tergantung masing- masing orang. Kalau aku sih nyaman. Tenang. Kamar mandi juga lega, shower air panas ( airnya tidak terlalu panas ), wc pisah. Memang, untuk kamar isi 4 beds, agak sempit. Kamar sebelah, kamar isi 10 beds, aku lihat sih lega banget. Staff-nya ramah dan informatif sih. Ada deposit kunci 20 RM dan dikembalikan saat check out. Sepertinya hostel ini 24 jam. Staff-nya standby terus. Malam terakhir, aku sampai jam 3 pagi, duduk nyantai sambil nge-youtube di living room. Aku kasih nilai 7,5 ya untuk hostel ini. Mungkin, aku akan kembali lagi ke hostel ini kalau ada main ke KL. Ya, kalau ingin menginap sekitaran KL Sentral sini. Tambahan, Setelah kali pertama itu aku nginap disini, aku masih beberapa kali balik ke hostel ini jika ada transit di KL. Pasalnya ya itu, karena dekat banget dengan KL Sentral, akses paling cepat ke KLIA. Tapi, terakhir kali, sebelum terbang ke London Oktober 2018 dan Casablanca Desember 2018 lalu, ada kejadian yang kurang menyenangkan buat aku. Parah. Ceritanya, yang waktu transit ke London, aku memang booked kamar dorm isi 10 orang. Aku dapat ranjang dekat pintu di kamar lantai 3. Saat sedang tidur sih tidak ada kendala apapun. Setelah checked out pun begitu. Tapi setelah di airport, badanku mulai keluar bintik- bintik merah. Gatal. Dan makin lama, makin banyak dan semakin besar bentolannya. Jadinya, sepanjang penerbangan ke London garuk terus. Dan baru sembuh, setelah 1 minggu di London. Aku cuma kasih minyak oles saja. Dan aku tidak bisa memastikan, sumbernya itu dari hostel ini apa bukan? Karena kan, baru mulai gatal, setelah di airport. Setelah checked out, aku masih ada pergi ke pasar. Asumsiku ya mungkin digigit serangga dari pasar. Aku diam dan tidak komplain. Setelah dari London, aku masih nginap di sini, tapi ranjangnya bagian atas dan dekat jendela, kamar yang sama. Ini yang pertama.. Bentolan sekitar pundak sampai ke lengan. Ketika mau transit ke Casablanca Desember 2018 lalu, kali ini sudah confirmed dari ranjangnya yang penuh serangga. 1 jam-an gitu setelah rebahan, badanku terasa gatal- gatal. Aku masih berpikir positif, aku bersihin spreinya sendiri. Tapi, kok semakin gatal ya. Terkejut, ketika melihat bentolannya sudah gede- gede banget. Tidak tahan lagi, langsung protes ke staffnya tengah malam itu juga. Aku minta pindah ranjang. Aku kasih lihat dong bentolan- bentolannya. Ya staffnya, minta maaf ( doang ). Keesokan paginya, ya ampun, bentolannya semakin banyak. Merah kayak delima. Aku kasihkan lihat lagi ke mereka. Dan staffnya bilang, memang sih, sudah saatnya semprot anti serangga. Buset. Oh ya, itu ranjang yang sama dengan ranjang yang aku tempati saat mau ke London sebelumnya, kamar lantai 3, dekat pintu, ranjang bagian bawah. Dan terparah adalah ketika mau ke Casablanca. Kaki kiri bengkak, bentolan juga ada di pundak, lengan dan paha. Dan sekarang, nilai yang pernah aku kasih 7,5 sepertinya tinggal 5 sih. Seharusnya, aku tidak mau balik lagi ke hostel ini, jika memang ada transit lagi di KL. Harga dorm isi 10 orang lebih murah, sekitar Rp 80.000 dan sudah termasuk dapat sarapan juga. Artikel ini bukan untuk menjelekkan hostel ini. Hanya sekedar bagi pengalaman tidak menyenangkan saja. Karena tidak berlaku untuk semua, karena kebetulan ( juga bisa saja ). Karena itu, mau nginap di hostel manapun, lebih waspada saja. Baca dengan seksama reviews dari yang sudah pernah nginap sebelumnya. Baik dari sisi kebersihan maupun keamanannya. Ini adalah pengalaman aku. Ada baiknya, sebelum rebahan diranjang, bersihkan dulu sejenak. Atau bawa sprei cadangan, kalau perlu... Sebetulnya, aku cocok sama hostel ini. Oke- oke saja. Karena memang sesuai harganya lah. Asik, santai dan paling penting karena lokasinya strategis banget. Tapi, pengalaman digigit serangga di hostel ini bukan yang pertama kali dan bukan yang terparah. Next, aku akan bagi pengalaman, bagaimana digigit serangga sampai harus ke 4 dokter baru sembuh. Dan itu gigitannya, aku dapat dari Sydney, Australia. With Love, @ranselahok www.ranselahok.com ---Semua mahluk hidup berbahagia---
  2. Tanggal 20 April 2018. Kemaren itu aku hanya 4 hari di Belgium, terasa singkat banget ya. Dan kalau ditanya, selama 4 hari itu, ngapain saja di Belgium, aku malah bingung mau jawab apa. Karena ya itu, aku mah ngetripnya santai pakai banget. Bukan yang bangun pagi- pagi buat kesana -sini, terus pulangnya malam- malam. Eh, mungkin itu dulu kali ya.. Sekarang, sepertinya bergeser ala yang malas. Hahahaha... Tapi, kalau sesekali sih okey-lah, atau, memang harus, sudah tidak ada pilihan, seperti harus dailytrip atau local tour yang menarik hati, boleh sih. Toko- toko seputaran Cathedral. Setelah sadar kalau traveling itu kan semacam liburan. Traveling itu kan mau relax, mau menikmati hidup. Lha kalau diburu- buru, bagaimana mau menikmati waktu yang ada? Ini versi aku sih. Tujuan dari traveling kan beda - beda untuk masing- masing orang. Kalau aku sih, sebisa mungkin untuk santai, kalaupun harus grasak- grusuk, ya ayo juga.... Jadi, 4 hari itu di Belgium, 3 hari-nya aku Brussels (bisa baca disini ) dan 1 hari-nya lagi aku jalan- jalan ke Antwerp. Aku naik Flixbuss jam 7 pagi dari North Station bayar 10, 2 Euro untuk pulang pergi ya. Dan pulang dari Antwerp itu jam 8 malam. Lama perjalanan butuh 1 jam untuk sekali jalan. Aku hampir selalu beli online, tiket bus maupun penginapan selama trip aku di Eropa. Aku juga pisahin antara uang yang dibutuhkan keseharian. Jadi, berasa emak- emak setiap kali mau bayar, keluarin dompet kecil punya emak- emak gitu. Central Station. Sepanjang perjalanan sih, tidak banyak yang bisa dinikmati. Lagian cuma 1 jam perjalanan saja, belum merem saja sudah sampai. Begitu sampai di Antwerp, penunpang diturunkan di Central Station. Masih terasa paginya di Antwerp. Masih sepi. Cuaca dingin, sejuk tapi tidak buat mengigil, begitupun matahari terik. Seperti biasa, aku tidak punya itinerary buat daily trip di Antwerp. Aku bahkan tidak tahu harus ngapain. Yang aku tahu, aku jalan saja, ikutin kaki melangkah sembari bertanya pada om Google. Kemana kaki ini harus melangkah? Kemudian, ikutin rombongan demi rombongan saja, aku kok merasa, mereka pasti memberikan petunjuk kepada aku, mau ngapain saja. Lah, sudah pasti-lah, kemanapun rombongan itu pergi, sudah pasti, objek wisata yang dituju. Dari Central Station, aku berjalan menuju Meir, semacam Orchad rd gitu kalau di Singapore. Sepanjang jalan, kanan kiri butik ternama semua. Lha, ngapin ke sana ? Belanja? Kagak... Numpang lewat doang.. Kan itu akses jalannya, kalau mau ke beberapa objek wisatanya, lewati jalanan bermerk ini. Ya, boleh lah, pas lewat, cara berjalannya lebih sombong dikit, padahal mah, tidak berani ngelirik kanan- kiri. Seputaran Cathedral Kalau masih pagi, masih sepi. Toko juga belum banyak yang buka. Orang- orang yang ada juga masih sedikit. Masih tidur kali ya? Wong, pagi- pagi, enakan tidur...Ya nih, kalau bukan untuk daily trip, aku mah tidurnya sampai kadang, teman- teman sekamar sudah pada berhilangan. Maksud hati sih ingin masuk ke museum Rubenshuis, ehh.. pagi itu, masih tutup. Dia bukanya dari jam 10 pagi - jam 5 sore. Mau masuk, bayar ya. Karena aku tidak masuk, aku tidak tahu bagaimana bentukannya di dalam. Untuk sejarahnya, baca saja disini. Cathedral of Our Lady. Kaki berhenti tepat di depan Cathedral Of Our Lady. Kathedral Bunda Maria ini adalah Katedral Katolik Roma di Antwerp. Walaupun konstruksinya berakhir pada tahun 1521, tapi Kathedral ini tidak pernah selesai. Pada bulan Oktober 1533, gereja ini sempat dilahap oleh api dan sempat diselamatkan oleh Lancelot II of Ursel. Gereja Gothic ini, pada awalnya, akan dibangun 2 menara bagian depan yang sama tingginya. Tapi ketika berakhirnya pembangunan ini, kedua menara tersebut malah tidak sama tinggi. Kemudian, pindah ke Het Steen yang tidak berapa jauh dari area Kathedral. Benteng dari pertengahan abad ke-13 ini berada disamping sungai Scheldt dan merupakan bangunan pertama yang terbuat dari batu. Het Steen Aku sendiri tidak begitu lama di Het Steen. Aku kemudian jalan sekenanya saja, jalan kaki, ikutin langkah kaki dan seperti biasanya, tidak jelas. Keluar masuk lorong- lorong tidak jelas, hingga ketemu pasar loak yang sedang banting harga. Lalu sok- sok macam bule lokal, duduk dan jemuran di taman gitu. Eh, benaran loh.. Lebih hangat ketika badan kena matahari. Tidak sedingin hati ini. #ciaattt.... Pasar loak. Hingga waktu makan siang tiba. Saat itu, seingatku, hampir 3 jam, betah duduk santai di salah satu tempat makan dekat Groenplaats. Maklum, ada dinas yang harus diselesaikan. Oh ya, keramaian Antwerp itu disekitaran Groenplaats dan Grote Markt. Museum Aan De Stroom. Terus, kali ini jalan kaki lebih jauh, ke MAS, Museum aan de Stroom. Yups, jalan kaki sekitar 30 menit. Menurutku sih, museum ini biasa- biasa saja. Ya, karena aku memang tidak masuk ke dalam ruangan museumnya. Aku lihat, yang datang kesini pada umumnya juga begitu. Tidak ada yang beli tiket. Jadi, langsung naik eskalator sampai rooftop untuk menikmati sekeliling kota Antwerp. Kalau betah, yang nongkrong di atas. Kalau tidak, ya turun, terus pulang. Okey, overall, menurutku kalau mau jalan- jalan ke Antwerp seharian doang, itu bisa! Bahkan, aku bilang sih, sudah termasuk yang santai. Walaupun begitu, jika ingin bermalam di Antwerp, itu okey juga. Kotanya lebih santai. With Love, @ranselahok www.ranselahok.com ---Semoga semua mahluk hidup berbahagia---
  3. Tanggal 16 Mei 2018. Setelah trip Eropa berakhir di Italy, aku terbang dari Roma ke Kuala Lumpur dengan menumpang Emirates. Maksud hati istirahat 2 malam di Kuala Lumpur untuk menyesuaikan jam biologis yang terpaut 6 jam antara Malaysia dengan negara Eropa yang aku kunjungi. Sombong... Istirahat saja harus di Kuala Lumpur... Bukan begitu brosis, aku punya trip selanjutnya ke Cina tanggal 18 Mei 2018, yang akhirnya aku batalin di jam- jam terakhir. Untungnya, rencana trip 10 hari di China belum ada booking apapun. Walaupun sayang, mau bagaimana lagi, toh harus ada yang diutamakan... Nah, selama 2 malam, aku pilih menginap di daerah KL Sentral. Supaya tidak terlalu repot kalau mau bolak- balik KLIA. Dan kali ini, aku pilih POD - The Backpacker`s Home. Letaknya belokan pertama kalau kita turun dari Monorail. Kalau kamu naik bus dari KLIA ataupun naik kereta, ya dekat banget. Kalau yang cari penginapan, yang pertimbangkan masalah jarak dekat, hostel ini boleh-lah. Living Room. Eh, hostel ini sekaligus ada cafe-nya. Karena itu, ada live music kalau malam hari. Penyanyinya, ya, penghuni hostel kali, yang punya bakat. Kurang jelas juga sih. Karena, selama 3 malam di sini ( perpanjang 1 malam karena batal ke Cina ), yang nyanyi ya penghuni hostel. Seru sih, bisa request lagu. Per malam, aku bayar Rp 100.000,- ya, masih lebih mahal dibanding Flip Bunc, yang letaknya juga disekitaran KL Sentral, tapi masih agak jauh. Free wifi kencang baik di living room maupun di kamar sampai kamar mandi sekalipun. Kebetulan, aku nginap di lantai 4. Eitss, ada lift kok. Lift-nya lega, tidak seperti lift pada umumnya di Hongkong. Oh ya, harga segitu untuk 4 beds mixed dorm ya. Masing- masing dapat loker dan handuk mandi. Dan sudah termasuk sarapan. Aku sendiri tidak pernah bangun pagi, jadi tidak pernah sarapan. Lha, baru bisa tidur jam 5 pagi. Masih belum bisa move on dari Eropa. Jam 5 pagi Malaysia, di Eropa baru jam 11 malam shayyyy... Kamar 4 beds.. Lainnya, bersih. Soalnya nyaman, tergantung masing- masing orang. Kalau aku sih nyaman. Tenang. Kamar mandi juga lega, shower air panas ( airnya tidak terlalu panas ), wc pisah. Memang, untuk kamar isi 4 beds, agak sempit. Kamar sebelah, kamar isi 10 beds, aku lihat sih lega banget. Staff-nya ramah dan informatif sih. Ada deposit kunci 20 RM dan dikembalikan saat check out. Sepertinya hostel ini 24 jam. Staff-nya standby terus. Malam terakhir, aku sampai jam 3 pagi, duduk nyantai sambil nge-youtube di living room. Aku kasih nilai 7,5 ya untuk hostel ini. Mungkin, aku akan kembali lagi ke hostel ini kalau ada main ke KL. Ya, kalau ingin menginap sekitaran KL Sentral sini. Tambahan, Setelah kali pertama itu aku nginap disini, aku masih beberapa kali balik ke hostel ini jika ada transit di KL. Pasalnya ya itu, karena dekat banget dengan KL Sentral, akses paling cepat ke KLIA. Tapi, terakhir kali, sebelum terbang ke London Oktober 2018 dan Casablanca Desember 2018 lalu, ada kejadian yang kurang menyenangkan buat aku. Parah. Ceritanya, yang waktu transit ke London, aku memang booked kamar dorm isi 10 orang. Aku dapat ranjang dekat pintu di kamar lantai 3. Saat sedang tidur sih tidak ada kendala apapun. Setelah checked out pun begitu. Tapi setelah di airport, badanku mulai keluar bintik- bintik merah. Gatal. Dan makin lama, makin banyak dan semakin besar bentolannya. Jadinya, sepanjang penerbangan ke London garuk terus. Dan baru sembuh, setelah 1 minggu di London. Aku cuma kasih minyak oles saja. Dan aku tidak bisa memastikan, sumbernya itu dari hostel ini apa bukan? Karena kan, baru mulai gatal, setelah di airport. Setelah checked out, aku masih ada pergi ke pasar. Asumsiku ya mungkin digigit serangga dari pasar. Aku diam dan tidak komplain. Setelah dari London, aku masih nginap di sini, tapi ranjangnya bagian atas dan dekat jendela, kamar yang sama. Ini yang pertama.. Bentolan sekitar pundak sampai ke lengan. Ketika mau transit ke Casablanca Desember 2018 lalu, kali ini sudah confirmed dari ranjangnya yang penuh serangga. 1 jam-an gitu setelah rebahan, badanku terasa gatal- gatal. Aku masih berpikir positif, aku bersihin spreinya sendiri. Tapi, kok semakin gatal ya. Terkejut, ketika melihat bentolannya sudah gede- gede banget. Tidak tahan lagi, langsung protes ke staffnya tengah malam itu juga. Aku minta pindah ranjang. Aku kasih lihat dong bentolan- bentolannya. Ya staffnya, minta maaf ( doang ). Keesokan paginya, ya ampun, bentolannya semakin banyak. Merah kayak delima. Aku kasihkan lihat lagi ke mereka. Dan staffnya bilang, memang sih, sudah saatnya semprot anti serangga. Buset. Oh ya, itu ranjang yang sama dengan ranjang yang aku tempati saat mau ke London sebelumnya, kamar lantai 3, dekat pintu, ranjang bagian bawah. Dan terparah adalah ketika mau ke Casablanca. Kaki kiri bengkak, bentolan juga ada di pundak, lengan dan paha. Dan sekarang, nilai yang pernah aku kasih 7,5 sepertinya tinggal 5 sih. Seharusnya, aku tidak mau balik lagi ke hostel ini, jika memang ada transit lagi di KL. Harga dorm isi 10 orang lebih murah, sekitar Rp 80.000 dan sudah termasuk dapat sarapan juga. Artikel ini bukan untuk menjelekkan hostel ini. Hanya sekedar bagi pengalaman tidak menyenangkan saja. Karena tidak berlaku untuk semua, karena kebetulan ( juga bisa saja ). Karena itu, mau nginap di hostel manapun, lebih waspada saja. Baca dengan seksama reviews dari yang sudah pernah nginap sebelumnya. Baik dari sisi kebersihan maupun keamanannya. Ini adalah pengalaman aku. Ada baiknya, sebelum rebahan diranjang, bersihkan dulu sejenak. Atau bawa sprei cadangan, kalau perlu... Sebetulnya, aku cocok sama hostel ini. Oke- oke saja. Karena memang sesuai harganya lah. Asik, santai dan paling penting karena lokasinya strategis banget. Tapi, pengalaman digigit serangga di hostel ini bukan yang pertama kali dan bukan yang terparah. Next, aku akan bagi pengalaman, bagaimana digigit serangga sampai harus ke 4 dokter baru sembuh. Dan itu gigitannya, aku dapat dari Sydney, Australia. With Love, @ranselahok www.ranselahok.com ---Semua mahluk hidup berbahagia---
  4. Karena belum sanggup untuk nginap di resort selama di Maldives, alternatif lain adalah tinggal di hotel di pulau penduduk. Cukup sih buat aku walau hanya daily trip ke Adaaran Club Rinnalhi, bisa baca disini. Sekarang ini, sudah banyak sekali hotel yang memberikan penawaran harga yang cocok dikantong. Awalnya bingung, mau nginap dimana? Mau di pulau apa? Sempat ingin pindah- pindah pulau biar bisa datangi banyak tempat, dengan kata lain juga harus pindah- pindah hotel. Akhirnya, mantap dengan segala pertimbangan yang masuk akal, ke Maldives kan mau menikmati alamnya, kalau pindah- pindah kek gitu, bukannya bakalan habis waktu, tenaga, jadinya tidak maksimal. Sekitaran Maafushi Island Keputusan terakhir adalah pilih Maafushi Island, walau review dari travel blogger yang banyak kasih info kalau pulau ini ramai sama turis, terus kurang ini- kurang itulah. Tapi aku tetap berpegang teguh pada keinginanku. Toh, masing- masing orang punya gaya dan caranya tersendiri dalam menikmati hidupnya. Bebas, santai dan suka- suka. Dan setelah pulang dari sana, aku bilang, sama sekali tidak menyesal pilih Maafushi Island. Bahkan menjadi pilihan yang tepat. Kaani Beach Hotel View Maafushi Island menjadi pulau penduduk yang banyak sekali hotelnya. Luas pulau ini, bisa dijangkau habis dalam 30 menit kalau pakai sepeda. Nikmati pulau ini cukup dengan setengah hari saja, menurutku sudah cukup, dan selebihnya, bakalan bosan, seperti kebanyakan orang lain merasakan. So, kamu harus menikmatinya dengan caramu. Tidak harus beli daily trip sih ke resort ( baca disini ) atau beli paket Sandbank trip ( baca disini ), kalau kamu tahu cara menaklukkan medanmu. Receptionist Balik lagi tentang hotel, aku pilih Kaani Beach Hotel, yang punya review bagus dibeberapa situs penjualan kamar hotel secara online. Aku beli Rp 4 juta untuk 3 malam. Per malamnya Rp 1,3 juta, bagi 2 lagi sama teman, jadi per orang kena Rp 2 juta atau Rp 666.000 ,- lah. Belinya 3 minggu sebelum berangkat. Free sarapan pagi ( buffet ), free Wifi anywhere, kamar AC, hot shower included, kamar besar, punya meja tulis, lemari baju, kamar mandi oke pakai banget. ( Hahaha.. sebenarnya, ini tidak terlalu penting sih). Kemaren kesana tanggal 3 - 7 Mei 2016. Sempat inap 1 malam di Male. Bisa baca disini. Lobby hotel Kaani Beach Hotel berkesan banget buatku. Staff-nya ramah- ramah. Dari dermaga saja, service-nya bagus euy... Begitu turun dari ferry, eh, namaku tertera di papan penjemputan. Then, segala backpack dan lainnya, diangkut pakai dorongan ( terbuat dari kayu gitu ). Jalan kaki sekitar 10 menitan, ditemani staff lainnya yang jemput, diceritain ini itu, disambut dengan segala basa- basinya yang buat adem nih badan yang sudah mulai lelah. Kamar deluxe Paling seru, ketika welcome drink-nya disuguhkan. Kita diminta duduk di sofa lobi hotel, diperjelas oleh Manajer hotelnya, Mr Suja. He is so kind, smart, and fast responded of everythings. Fasilitas apa saja yang didapatkan sebagai tamu hotel dan lain sebagainya. Oh ya, termasuk, dikasih handuk hangat buat ngelap muka biar segar. Penyambutan yang menurutku memuaskan, kalau dipikir, belum pernah deh ketemu yang kayak begitu. Atau aku saja yang tidak pernah ya, karena selama ini nginap di hostel ya. #Katrok... Resturant hotel Malam pertama, benar- benar malam yang pertama ya, bukan "malam pertama", kami inap dilantai 2. View-nya ke kota, sesuai dengan yang aku pesan. Kondisi kamar bisa lihat di foto-foto deh. Swear, worth it banget tinggal disini , sesuai dengan dibayar. Menu breakfast Besoknya, ketika pulang dari Resort trip, eh, AC kamarnya bocor, komplain dong, janjinya mau diservis saat itu juga. Akupun keluyuran lagi disekitar hotel sembari menunggu AC diperbaiki, pas baliknya sudah 1 jam lebih, tuh AC belum diapa-apain. Emosi mulai naik nih, pakai protes dan langsung ditukar ke kamar lain dilantai 3 dengan fasilitas yang sama persis. Halaman hotel Depan Kaani Beach Hotel langsung menghadap ke pantai. Yang namanya di pulau penduduk, tidak boleh pakai bikini dijalanan. Ada private beach khusus orang bikini-an, namanya Bikini Beach. Dan tepat didepan hotel inilah Bikini Beach ada. Malas ke pantainya, mau duduk santai dihalaman hotel juga seru loh. Ada mainan buat anak- anak lokal, jadi, hiburan buat kamu yang suka sama anak kecil. Roof top-nya juga bisa buat santai. Nikmati pantai dari atas gedung juga punya sensasi tersendiri. Roof top hotel Sebelahnya hotel ada souvenir shop. Bahkan termasuk banyak shops yang ada disekitaran sana. Bosan di hotel, didekat hotel, ada sebuah cafe, ada live music-nya. Aizz... miss it. Really. Hotel juga menawarkan paket buffet untuk dinner. Per orang bayar USD 12. Bukan didalam restoran hotel, tapi dipekarangan hotel, alam terbuka, pasang lilin dan jadi romantis banget. Oh ya, bisa pesan khusus buat kamu yang berpasangan, candle dinner light. Terpisah dari rombongan makan malam, didekat pantai, berdua saja. Kaani Beach Hotel menyediakan sepeda buat kamu yang ingin keliling pulau, gratis. Termasuk ada payung deh kalau hujan. Kalau mau ke pantai, tinggal minta handuk pantai saja. Setahu aku, hotel ini termasuk yang terbagus disini, punya 3 cabang hotelnya. Walaupun berdekatan, cuma beda di view saja. Kalau yang aku inap, langsung view ke pantai kan, ada yang terletak agak dalam dan menghadap jalan. Kalau mau ke pantai harus jalan kaki lagi. Paling keren adalah tipe honeymoon-nya, terpisah dari kedua gedung ini. Buka jendela, sudah langsung pantai. Dan sekarang ini, mereka sedang membangun gedung keempatnya. Sunrise di Maafushi Island Untuk makananya, walau hanya breakfast saja, aku bilang enak. Sesuai dilidah. Menunya ada local food. Jumlah menunya tidak sebanyak dihotel berbintang 4 dikota-kota besar lainnya. Walau hotel ini dikategorikan hotel bintang 4. Oh ya, ada kolam renang juga, tapi dicabang lainnya. Boleh kok pakai kolam renangnya. Intinya, hotel ini sistemnya terkoneksi satu sama lainnya, hotel jaringanlah. Sehingga semua fasilitasnya bisa kita nikmati walau dicabang lain. Bikini Beach - masih pagi Overall, aku suka lingkungannya hotel ini. Suasananya, staffnya, fasilitasnya, terpenting sih, harga cocok dikantong dengan apa yang didapatkan. Ketika check out, aku dikasih souvenir. Untung saja, aku tidak beli pas keliling ke souvenir shop. Harganya kalau tidak salah sekitar USD 8 - 15 ( ada ukurannya ). With Hotel`s staffs Souvenir yang dikasih oleh Mr. Suja - Kaani Beach Hotel With Love, www.ranselahok.com IG / Twitter : @ransealahok ---semoga semua mahluk hidup berbahagia---
  5. Tanggal 6 Maret 2016 Kali ini, aku punya kesempatan mengunjungi rumah kedua Uncle Ho di Hochiminh City atau dikenal juga dengan Saigon. Tidak jauh berbeda antara Saigon dengan Hanoi ( baca disini). Sama- sama penuh dengan kendaraan motor. Hampir setiap detik, tuh motor lalu- lalang tidak ada henti- hentinya. Dan satu hal yang paling seru kalau main ke Vietnam, mau dimanapun itu, ramah dikantong alias murah. Mungkin karena Rupiah kita masih diatas Dong. ( 1 Dong = 0,6 Rp atau kalau kamu beli sesuatu seharga 10.000 Dong, artinya itu sekitar Rp 6.000,- ). Kesampingkan soal currency, segala sesuatunya mudah dan efisien. Walaupun, ekonominya boleh dibilang masih dibawah Indonesia, tapi fasilitas yang disediakan pemerintah untuk rakyatnya diatas kita loh. Ini serius. Baik di Hanoi maupun Saigon, terdapat banyak sekali taman umum yang asri yang dibuat demikian bagus untuk warganya, baik sekedar untuk olahraga, bertemu orang atau tempat kumpul keluarga. Bus no.152 Dan aku paling suka adalah ketika harus datang dan pergi ke airport. Kalau di Hanoi, oneway dari kota ke NoiBai airport butuh 1 jam perjalanan hanya bayar 9.000 Dong dengan bus ber - AC.( baca disini ). Kemudian, kali ini, saat landed di Tan Son Nhat International Airport, naik bus no 152 arah kota dengan tujuan area backpacker di Ben Thanh / Pham Ngu Lao bayar 10.000 Dong, dengan perinciaan penumpang bayar 5.000 Dong , tas 5.000 Dong. Sedangkan saat kembali ke airport dihari terakhir di Saigon, aku hanya diminta 5.000 Dong saja. Bus no.152 ini memang menjadi andalan backpackers. Ya sebenarnya kamu bisa turun dimana saja. Tapi hostel para backpacker ada di distrik 1. Sepanjang jalan, digang- gang penuh dengan hostel yang cocok dengan isi kantong. Jelas, butuh jalan kaki sekitar 15- 20 menit menuju Pham Ngu Lao jika kamu berhenti di Ben Thanh Station which is itu berada diseberang dari Ben Thanh Market yang terkenal itu. Ben Thanh Station Oh ya, bus no. 152 ada disebelah kanan dari pintu keluar airport. Jalan kaki paling lama 5 menit, itupun dengan cara jalannya ogah- ogahan. Hahahaa.. Pokoknya begitu kamu keluar, lihat deh kearah kanan dan busnya ada dijalur kedua. Gampang banget. Tinggal bayar , ntar dikasih karcis, naik deh kedalam bus, cari kursi kosong, duduk. Yuppss segitu saja. Kalau tujuan kamu ke Ben Thanh station, santai saja. Bus station ini cukup besar dan rapi, jadi gampang sekali untuk tahu kalau kamu sudah sampai atau belum. Dan kebanyakan orang akan turun disini. Sebelum sampai, akan kelihatan Ben Thanh market-nya juga. Taman- taman yang bakalan kamu lewati... Tapi, ini saran dari aku, ya karena aku mengalaminya sendiri dan baru tahu setelah mau pulang. Jika kamu mau cari hostel atau penginapan kamu didaerah Pham Ngu Lao, kamu jangan turun di Ben Thanh station, rada jauh sih. Butuh jalan kaki 15 - 20 menit, lumayan gempor sih, cuaca Saigon saat aku kesana rada panas, belum lagi ada backpack. Nah, setelah bus berhenti di Ben Thanh station, kamu jangan turun, ikut saja busnya jalan lagi. Begitu sudah lihat ada gedung Pullman, turun deh disalah satu bus stop disana. Kalau tidak salah, sekitar 2 kali bus stop saja. Dari sana , jalan ke Pham Ngu Lao jauh lebih dekat. Paling 10 menit saja. Tinggal tanya orang, jalan pintas menuju ke distrik 1, area backpacker mana ? Kalau mau kembali ke airport, tunggu disini... Sedangkan buat kamu yang turun di Ben Thanh Station, tepat sebelah kiri station ini ada pom bensin. Kamu mau ke Pham Ngu Lao ambil sebelah kiri jalan dari pom bensin, dengan kepala menghadap ke taman. Ikutin jalannya saja, lewati taman supaya lebih adem. Ben Thanh Market sendiri tepat berada diseberang jalan pom bensin itu. Tinggal nyebrang saja. Untuk kembali ke airport, ya naik bus no 152. Datang lebih awal ke station ini untuk tunggu bus datang. Aku tidak tahu pasti, berapa lama sekali bus no.152 bakal ada, tapi waktu itu, pas aku tiba di Ben Thanh Station, busnya baru saja lewat. Aku tunggu sekitar 30 menit kemudian, busnya baru ada lagi. ranselahok ngegembel.... Mau nginap dimana di Saigon yang murah meriah tapi tidak murahan? Mau yang harga terjangkau tapi fasilitas okey, terutama wifi super kencang dan tidak ngadat ? Tungguin saja artikelku selanjutnya... Wokehh... With Love, www.ranselahok.com Twitter / IG : @ranselahok ---semoga semua mahluk hidup berbahagia---
  6. Tanggal 10 November 2016. Setelah menempuh perjalanan dari Phuket menggunakan bus umum dan beberapa kali pindah angkutan, aku tiba di Krabi sudah sore. Aku diturunkan pas didepan hostel yang aku sudah booked sebelumnya saat masih di Phuket. Waktu aku checked in di Slumber Party Hostel, petugasnya yang orang bule itu bilang, kalau namaku tidak terdaftar di-list nama tamu mereka hari itu. Aku tunjukkin bukti konfirmasi dari Agoda. Ya, dia sih tidak ngotot. Dia berusaha cek dan tetap, memastikan bahwa aku bukan tamu mereka. Kemudian, pada solusinya, dia minta maaf, mungkin ada yang tidak beres dengan sistem mereka. Dia bilang kalau hari itu penuh, aku diminta untuk pindah ke hostel lain, yang menurutnya, juga bagian dari hostel mereka juga. Dia juga bilang, lagian, Slumber Party Hostel ini bakalan pesta sepanjang malam. Aku rasa, kamu tidak akan cocok disini. Disini berisik dan orang akan mabuk- mabukan. Okey, well...Akhirnya aku tahu alasannya, kenapa dia tolak aku ? Tidak masalah sih buatku. Toh dipindahkan ke K- Bunk Hostel, tidak perlu bayar lagi dan hanya beberapa pintu dari hostel sebelumnya. Disini, memang, terasa lebih santai dan tidak berisik. Ya tapi, aku tahu kok hostel seperti apa Slumber Party itu ketika aku memutuskan untuk menginap disana. Nyatanya, mungkin aku terlihat kecil, Asian, mata sipit, dibanding mereka semua, yang notabene, bule semua. Lobby hostel.. K- Bunk bagus. Sama sajalah, yang namanya hostel mau semewah apa sih? Yang buat beda dari setiap hostel, menurutku adalah kreatifitas dari owner-nya saja bagaimana dalam menghadirkan suasana senyaman mungkin dan sebeda mungkin dari hostel lainnya. Wifi, sudah pasti, free sepanjang hari. Tidak ada sarapan. Hostel ada cafe-nya, jadi kamu bisa beli makanan dari mereka. Harga? Aku rasa mahal ya. Baru kali ini, aku ketemu hostel yang petugasnya membacakan semua peraturan yang ada, walaupun sudah di-print out dan ditempel didekat meja. Bentukan kamarnya... Kamarku berdelapan orang dan campur. Tapi malam itu, hanya ada 4 orang saja termasuk aku. Kamarnya lega, bersih dan okey-lah. Aku bayar Slumber Party Hostel via Agoda Rp 88.524,- berarti seharga itu juga aku nginap di K-Bunk. Yups, itu untuk satu malam. Kamar mandi diluar, ada air panas dan ada lokernya. Repotnya sih, loker berada diluar kamar. Ya, kudu bolak- balik keluar kamar kalau kamu lupa ambil barang keperluan. Bunk bed-nya dilengkapi tirai. Kalau merasa terganggu, tarik saja tirainya. Lobby hostel, sekalian cafe-nya. K- Bunk lumayan jauh dari Aonang Beach. Kalau kamu jalan kaki mungkin sekitar 30 menit kali ya. Kemaren tidak sempat perhatikan, karena berhenti untuk cari makan. Tapi, berada dipinggir jalan raya. Gampang buat naik turun tuk- tuk mau kemana saja. Mau ke pantai atau ke pasar malam. Rasanya, hostel ini juga ada living room-nya. Bisa buat bersantai kalau kamu malas keluar jalan- jalan. Atau sekedar duduk manis didepan teras sambil celingak- celinguk melihat orang yang lalu - lalang, entah itu jalan kaki. naik tuk- tuk atau motor. Teras depan hostel Aku kasih nilai 7,5 deh untuk hostel ini. Petugasnya juga ramah. Oh ya, kamu dikasih key card sebagai access keluar masuk hostel. Jangan sampai hilang kawan, akibatnya, ya kudu bayar extra saja. With Love, @ranselahok www.ranselahok.com IG: ranselahok ---semoga semua mahluk hidup berbahagia---
  7. Ahook_

    Nginap Dimana Di Koh Phangan?

    Tanggal 23 Agustus 2016 1 Baht = Rp 400,- Di Koh Phangan, aku nginap di First&Frang Hotel. Harga per malamnya Rp 250.000,- untuk twin bed. Ya karena berdua sama seorang teman, rasanya tidak terlalu mahal. Per orang tinggal bayar Rp 125.000,-. Letaknya tidak terlalu jauh dari dermaga, jalan kaki masih bisa, sekitar 15 - 20 menitan lah jalan santai. Kemaren, kata om Google sih hanya sekitar 11 menit. Bagian depan hotel.. Koh Phangan ada hostel juga sih, ada dorm-nya juga. Sempat lihat spanduk pas lewat. Harganya 60 Baht. Tapi, untuk bentukannya, isinya, dan seperti apa, aku tidak tahu. Kalau mau coba, boleh sih, nah dari dermaga, kamu belok kanan, jalan terus, lewati persimpangan pertama, tidak berapa lama, kamu akan ketemu The Fat Cat, jalan terus lagi, ketemu persimpangan 3, kamu jalan terus, sampai didepan semacam pasar gitu, nah seberangnya pas, ada spanduk petunjuk arah hotel itu berada. Dibagian dalamnya, ada hostel gitu. Receptionist First & Frang menjadi hotel pertama yang aku tahu, tempat tidurnya yang twinbed itu dipisah menjadi bagian atas dan bawah. Bukan tempat tidur tingkat 2 ya. Tapi benar- benar ada lotengnya gitu. Idenya sih okelah. Mungkin, bagi sebagian orang, model seperti ini, sudah biasa dirumah teman- teman. Aku sendiri pernah tahu 2 rumah dari 2 temanku yang berbeda, ada lotengnya khusus untuk orang tidur. Maksudku, loteng disini, bukan loteng lantai 2 yang full, tapi sebatas ada bisa muat 1 tempat tidur sahaja. Bentukan dalam kamarnya. Sudah pasti ber- AC, hot shower, kamar mandi lumayanlah gede, ada tv yang tidak sempat dinyalain. Aku sih merasakan nyaman. Aku yang kebagian tidur diatas, asik- asik saja. tidurku pulas sampai pagi, Tidak sampai mentoklah, kepala tidak beradu sama langit- langit. Tempat aku tidur semalam di Koh Phangan... Bayarnya segitu, tidak dapat sarapan pagi, tapi boleh minum sepuasnya, free kalau kembung... hahaha... Kondisi hotel yang bersih dan lingkungannya okey. Ada taman buatan gitu, didalam hotelnya. Bisa nongkrong keren buat kongkow- kongkow. Aku sih tidak sempat. Sibuk... Bagian bawah.. Didepan hotel, ada minimart, so, kalau mau jajan tinggal ngesot doang. Tidak melihat dengan pasti, sekitarnya ada yang jualan makanan gak ya. Soalnya, kan, ngincar makan malam di night food marketnya, bisa baca disini. Kalau sarapan, aku sih ada lihat, jalan kaki ke arah dermaga, kamu akan ketemu encik- encik yang jualan mie balap gitu didepan rumahnya. Halal tidak halal, konfirmasi lagi saja. Taman tempat berkongkow ria... Pas check in, musti deposit 1.000 Baht. Dikembalikan setelah check out. Aturan umumlah ya. Kalau aku sendiri, jujur, aku tidak bakalan nginap disini, mahal buatku kawan. Pasti, hostel ukuran dorm menjadi pilihanku. Hahahaha... With Love, @ranselahok www.ranselahok.com ---semoga semua mahluk hidup berbahagia---
  8. Tanggal 21 Agustus 2016 1 Baht = Rp 400,- Sempat bingung, mau kemana dari Bangkok? Dari yang ingin lanjut ke Chiangmai, terus berubah, ke Huahin, eh.. ada bom, ngefek gak ngefek sih, terus akhirnya ya sudahlah ke Koh Phangan / Koh Samui sahaja. Kebetulan, trip ke Bangkok ini, ada teman Couchsurfing yang sedang berada disini juga. Kemudian, kami melanjutkan perjalanan bersama ke Koh Phangan. Loket umum Tetap, biar traveling terus, segala akses, akomodasi, makan dan penginapan serta penerbangan, harus yang paling murah, kalau bisa gratis. Kami ke Koh Phangan naik kereta api malam. Biar tidak habis waktu 12 jam perjalanan hanya didalam kereta saja, apalagi bisa hemat satu malam, tidak perlu nginap di hostel lagi. Baca disini, hostel murah tapi mewah di Bangkok. Loket khusus orang asing, maksudnya, officer-nya okey dalam komunikasi dengan orang asing. Jam 5 sore, kami ketemu di Bangkok Railway Station, kayak Gambir deh. Setelah ngobrol sama mbak- mbak yang jual tiket di loket khusus buat orang asing, kami putuskan jalur yang lebih murah. Dari Bangkok naik kereta malam jam 19.35, tiba di Surat Thani jam 7.10 pagi, Kita beli tiket terusan sampai pulaunya, so, begitu turun kereta, tinggal cari bus ( tunggu, semacam transit sekitar 1 jam –an ) yang bakal antar kami ke dermaga penyebarangan untuk sambung naik kapal ke Koh Phangan-nya. Perjuanngan banget. Katanya butuh waktu 3 jam lagi buat bisa benar- benar tiba di Koh Phangan. #wekzzz… Bisa jajan makanan ringan sampai makanan berat... Kalau aku, dari hostel, aku naik BTS Phrompong station, bayar 15 Baht turun di Asok station ( hanya berselang 1 station saja ), sambung naik MRT, tiketnya, 28 Baht untuk sampai di Hualamphong station. Keluar pintu 2, langsung ketemu dengan station kereta api. Ruang tunggu, full ac, bagian atas, bau tidak sedap, wakakaka... banyak backpacker yang pakai kereta ke berbagai jurusan. Tiket kereta sudah ditangan. Karena waktu boarding- nya masih lumayan lama, kami nyebrang, cari makan di kedai pinggir jalan. Masakan rumahan gitu, cici – cici Thailand yang jadi chef-nya. Ya, bukan tourist food sih. Ya, samalah, kayak masakan rumahan kita masing- masing. Buat boleh makan ini, bayar 50 Baht. Tempatnya, namanya juga sudah kedai, kayak kedai kopi. Jangan pikir ber- AC ya, terus ada nyamuknya. Hahaha.. pakai disebut lagi. Dalam station sih ada juga yang jual makanan, ada kantin juga. Ada juga semacam mart gitu jualan snack dan kawan- kawannya. Mau kencing, bayar 20 Baht. Tahan kencing sahaja teman, kencing di kereta, bayar 0 Baht... wakakakak... Sudah masuk kedalam bagian keretanya, tinggal cari nomor kereta dan nomor gerbong sesuai dengan tiket. Ada petugas yang siap membantu... 30 menit sebelum kereta berangkat, kita boleh masuk. Carilah gerbong kereta sesuai dengan tiket, dan duduklah tempatmu sesuai dengan nomor yang tertera. Aku sih bilang ini kereta sulap. Iya, sulap. Jadi awalnya masih seperti biasa, duduk hadap- hadapan kek di kereta pada umumnya, sekitar 30 menit setelah kereta jalan, eh, ada tetangga, notabene orang Thai, sibuk beresin kursi, kayak sulap gitu, tetiba berubah jadi tempat tidur. Sedangkan tempat tidur bagian atas, awalnya masih seperti kabin pesawat, disihir sebentar, berubah jadi tempat tidur juga. Kondisi tempat duduk dalam kereta, sleeper nd class sebelum disulap... Aku sih memang sudah baca review dari travelblogger sebelumnya yang sudah pernah punya pengalaman seperti ini, tapi mengalaminya sendiri jauh lebih seru dan mengesankan, jadi punya pengalaman lainnya lagi deh. Nah, setelah disulap, abang itu sedang menyulap tetangga... Suasana dalam gerbong kereta sih biasa saja, tempat duduknya juga standartlah, sudah pasti bukan kereta canggih nan baru, kalau reyok banget juga tidak. Tapi bersih dan ac-nya berfungsi, kami sih pilih sleeper seat yang second class. Masih ramai- ramai-an sama penumpang lainnya, lain lagi kalau kamu pakai ist class punya. Punya ruangan sendiri, atau kelas dibawah ini, hanya pakai kipas angin. Semua balik ke selera masing- masing dan budget yang tersedia. Wastafel... Punya toilet yang bersih, ada wastafel gitu buat cuci tangan, cuci muka dan sebagainya. Terus, pas abang- abang keretanya selesai menyulap tempat duduk menjadi tempat tidur, masih dialasi kasur biar tidak keras dan dikasih sprei bok, dapat bantal yang disarungi juga, ada selimut. Semuanya baru dan bersih. Pulang pergi dari Bangkok ke Surat Thani, keduanya dapat upper seat, pasti, harga lebih murah dibanding bagian bawah. Terasa banget, agak sempit, susah buat duduk kalau mau pakai laptop. Nyamannya hanya bisa buat tiduran saja. Begitu duduk langsung mentok sama langit- langit. Beda sama bagian bawah, lebih lega dan kamu bisa duduk sambal senderan. Bosan tidur ya, duduk. Terus, terasa banget, keretanya sedang berjalan buat aku yang tidur dibagian atas. Guncangannya itu loh, sampai terbawa kedalam mimpi, kayak sedang gempa… Halaah…. Transit sejenak di Surat Thani, baik saat mau ke Koh Phangan maupun saat mau balik ke Bangkok. Kalau saat dari Bangkok dan tibanya di Surat Thani pagi sekitar jam 7.30 an, langsung cari operator busnya. Masih punya waktu tunggu 1 jam-an lagi sih. So, bisa santai sejenak di sekitaran station. Kantor operator Lamproyah juga berfungsi sebagai kedai makanan. Para turis diminta duduk didalam kedainya, ya, sekalian sarapan lah maksudnya. Aku ngerti nih, kenapa begitu turun dari kereta, tidak langsung berangkat saja tuh bus. Marketing cuy, daganglah… makan- makanlah diwarungnya. Ngomong tentang Surat Thani, hemmm, kota kecil yang sepi sih. Kurang paham juga, jika memang ada yang netap disini sampai berhari- hari. Setahu aku sih, memang menjadi kota transit. Tidak sempat main ke pusat kotanya. Hanya disekitaran station saja buat cari makan. Buat yang butuh money changer ataupun atm / bank , tersedia di kota ini. Welcome To Surat Thani Yang paling aku tidak pahami dari kota ini, kalau wifi, dapat gratis saudara- saudara di kedai makannya. Tapi kalau mau kencing, kudu bayar 10 Baht, mau charge hape bayar 20 Baht, charge lappie bayar 30 baht. Huhhhhh…. tidak masuk diakal sehat aku… Paling tidak masuk akal... #menurutku... Kemaren beli tiket terusan, biar tidak hebohlah nyari tiket pas sudah sampai di Surat Thani dan harus nego- nego sama cici - cici Thai. Tiket kereta Bangkok – Surat Thani, tiket van Surat Thani – Donsak Pier, tiket kapal Donsak Pier – Kho Phangan, pulangnya dari Kho Samui – Surat Thani – Bangkok, bayar 2.331 Baht ( pp ), ada 1 tiket beli sendiri dari Koh Phangan ke Koh Samui naik kapal 300 Baht. Pakai operator Lomprayah. Pelayanannya sih okey-lah. Naik kapal ini Koh Phangan... Untuk kapalnya, termasuk kapal besar. Bisa ratusan orang juga. Ada 3 tingkat. Tidak mau panas- panasan ya dibawah saja, ada AC. Mau enjoy alam dan nikmati angin sepoi- sepoi, ya duduk diatas, terbuka. Didalam kapal, ada toilet, bersih- bersih kok. Seisi kapal pada bersih deh. Ada snack corner, bayar yeee… Tidak ada free wifi , mau colokan listrik sih ada, duduk barisan paling depan. Kondisi dalam kapal... Kalaupun duduk dibagian bawah, tetap bisa menikmati indahnya perjalanan kok. Pilih tempat duduk yang dekat jendela. Itu sahaja, atau bosan, pilihan lainnya, tonton video player yang isinya yaa itu- itu saja, ngulang mulu dari start kapal jalan sampai kapal berhenti. Banyak hal lain sih yang bisa kamu lakukan untuk mengusir waktu perjalanan yang memakan waktu sekitar 3 jam itu, bawalah senjata masing- masing, bawa buku, dengarin musik, main handphone, atau kayak aku, menulis deh. Kondisi di kapal , lantai 2 Karena sudah punya tiket return, so, dari Koh Samui, tinggal tunjukkin voucher yang dibeli dari Bangkok Railway Station, ditukar dengan tiket asli. Mulai dari Surat Thani ataupun mau balik dari Koh Phangan, dikasih stiker buat ditempel didada, sebagai penanda jurusan kamu ke mana. Bersiap pulang ke Surat Thani... Kalau dari Surat Thani ke Donsak Pier naik van, beda lagi saat pulangnya, naik bus double decker. Perjalanan pulang dirasakan lebih lama. Diantar sampai didepan kantor operator Lamproyahnya, artinya, tinggal ngesotlah ke Surat Thani station. Ruang tunggu di Surat Thani station.... Tidak ada ac... Langkah terakhir, menumpang kembali kereta sulap malam itu kembali ke Bangkok. Sama, upper seat yang bisa tiduran. Bedanya, perjalanan pulang, ac-nya kencang banget, dingin banget. Sudah pakai sweater, pakai kaos kaki, selimutan sampai kepala dibungkus rapat, masih saja dingin. Sebagai informasi tambahan, jika beli tiket satuan :  Tiket kereta Bangkok – Surat Thani = 698 Baht ( upper ) 728 Baht ( Lower )  Tiket bus / van Surat Thani – Donsak Pier = 500 Baht  Tiket kapal dari Donsak Pier – Koh Phangan Pier = 400 Baht. Total jadinya = 1.598 Baht one way. Dihitung sih, masih lebih murah beli paket terusan. Tungguin yaa, postingan selanjutnya serunya di Koh Phangan dan Koh Samui. With Love, @ranselahok www.ranselahok.com ---semoga semua mahluk hidup bebahagia---
  9. Tanggal 21 Agustus 2016 Rate 1 Baht = Rp 400,- Aku skip deh postingan tentang trip Jepang yang masih panjang, termasuk trip ke Lombok yang belum sempat aku mulai sama sekali. Oh ya, ada trip Saroong Goes To Jiran yang entah bagaimana menyelesaikannya. Huhh… banyak sekali hutangku pada blogku ini. Lobby hostel Aku tancap gas dan lompat deh ke trip ke Bangkok. Trip ini memang sudah direncanakan 9 bulan lalu, ketika Airasia menggelar promo big 0 point. Pilihan ke Bangkok hanya karena ingin kembali melengkapi sisa perjalanan yang pernah ada dan janji itu. Walaupun, akhirnya, perjalanan yang aku jalani sekarang ini, hanya bisa melengkapi apa yang kurang tanpa bisa menetapi janji itu sendiri. #Sedihpakaibanget. Receptionist Sekarang sih aku sedang diatas kapal, sedang menyebrang dari Surat Thani ke Koh Phangan. Setelah sebelumnya, semalam naik kereta api dari Bangkok ke Surat Thani sekitar 12 jam, nyambung lagi naik van sekitar 1 jam. Hem, postingan tentang trip ke Koh Phangan, aku buat terpisah deh. Living room, bagian dalamnya, dapur bersih. Lagi pengen share hostel yang aku tempati di Bangkok. Walau, trip ini sudah lama direncanakan, tapi untuk masalah penginapan, baru aku putuskan 10 jam sebelum terbang dari Jakarta. Ngubek – ngubek warung Si Mbah, main kesana- sini, akhirnya, aku ketemulah, Llamur Hostel yang terletak di daerah Phrompong. Hostelnya masih baru, 6 bulanan. Agak masuk kedalam sih, tapi mudah dijangkau. Kalau pakai BTS, turun saja di Phrompong, nah, turun tangga sebelah kiri. Jalan kaki sekitar 5 menit sih ( kalau aku ya… ). Patokannya, ada Top market, belok kiri lagi, terus ada gang pertama, nah disanalah hostelnya berada. Tangga naik ke lantai atas Daerahnya sepi, jangan berharap seramai di Khaosan. Rasanya sepanjang hari sepi. Terlebih kalau malam. Kalau mau main ke Terminal 21 sih dekat, jalan kaki sekitar 10 menit. Kalau malas, bisa naik BTS naik dari Phrompong dan turunnya di Asok, bayar 15 Baht. Mau sambung MRT juga dari Asok station sini. Hostelnya, hanya 1 pintu, 4 lantai. Bersih sangat. Heh… aku suka. Living room-nya keren. Free wifi, full ac, receptionist-nya ramah. Keknya ini usaha keluarga gitu. Pas aku tiba, kan panas ya nih Bangkok, rada capek juga karena habis keliling Chatuchak market, aku dikasih welcome drink sama si, tante, yakin deh, kalo tantenya, mama-nya dari Chai yang jadi receptionist saat itu. Makasih yee tante.. Interiornya dominan warna putih dikombinasi dengan warna kayu yang cocok banget buat aku. Kondisi mixed dorm Ada dapur alakadarnya saja, tidak bisa buat masak- masak. Llamur hostel sediakan minum kok. Terus, kalau sarapan, ya juga apa adanya seperti hostel pada umumnya. Dapat roti, butter, pisang, ada kopi dan teh, ada cornflakes dan susunya. Aku sih bilang , okeylah. Toh cuma Rp 135.000,- per malam. Malaman, setelah balik dari Koh Phangan, aku dapat harga Rp 125.000,- Salah satu hal yang aku suka dari hostel ini adalah kalimat sederhana yang ditempelin disudut- sudut hostel. Walaupun kalimat kutipan, kalimat itu mengingatkan kita kembali. Kalimat sederhana yang menenangkan jiwa. Aku pilih mixed dorm. Kedapatan upper. Kondisi kamar yang bersih dan nyaman. Pakai key card untuk akses keluar masuk hostel dan kamar. Ada loker dan kuncinya. Sebenarnya, fasilitasnya termasuk okey banget. Oh ya, disini, kalau aku lihat, mostly Asian. So, buat kamu yang tidak suka berisik, party- party, mabuk- mabuk, bau rokok, bau beer dan teman- temannya, hostel ini cocok buat kamu. Tenang, sunyi, senyap , santai, nyaman dan aman. Bulenya ada juga, mungkin bulenya yang tipikal anti berisik juga. Kamar mandi Cuma, minusnya, kamar mandi tiap lantai cuma ada 2, so, kamu kudu antri, kalau ada yang sedang mandi. Kamar mandinya kinclong, pakai shower, dan toiletnya duduk. Tidak menyediakan handuk ya, kalau mau sewa bayar 10 atau 20 Baht. Terima jasa laundry. Ya, rekomended sih buat kamu kalau mau inap disini. Tidak terlalu perhitungan juga. Aku 2 kali checked out, titip tas kemudian numpang mandi, terus minum- minum dan masih duduk- duduk santai juga, tidak masalah buat mereka. Tidak sah kalau tidak eksis.... With Love, www.ranselahok.com @ranselahok ---semoga semua mahluk hidup berbahagia---
  10. Ahook_

    Hostel Di Brussels, Belgium.

    Tanggal 18 April 2018 Setelah melewati imigrasi Belanda dengan hati yang sangat lega, bisa baca disini, kenapa? Selanjutnya adalah ambil ranselnya ahok, yang beratnya tidak ketulungan. Padahal yang dibawa cuma sedikit loh, tapi beratnya 18 kg. Bongkok deh yang ada. Untuk itu, kepada teman- teman yang baik hati dan sangat perhatian, terima kasih banget untuk tidak dimintain titipan beli ini- itu, karena untuk membopong ransel yang isinya cuma pakaian seharian saja, aku kewalahan, apalagi mau tambah titipan belanjaan kamu. Mending, begitu belanja langsung pulang, ini mau keliling, hadeh... KASIHANILAH AKU... AKU TIDAK OPEN PO... Sekitaran Grand Palace. Selanjutnya, harus tunggu datangnya pagi, tunggu Flix Bus jam 6.10 pagi tujuan Brussels, Belgium. Sesuai arahan yang di-email dari pihak bus, aku diminta untuk tunggu bus di line C, tapi tidak ada plang yang menunjukkan flix busnya berada. Plangak- plongok dipagi buta yang dingin, aku menunggu dengan tidak pasti, busnya mana? Khawatir akan ketinggalan bus, karena waktu itu, sudah 6.05, bus belum datang juga. Apakah aku menunggu di tempat yang salah? Kemudian ketemu 3 orang asal Russia, yang juga menunggu bus yang sama dan sama- sama bingung. Urban City Hostel. Busnya tidak tepat waktu. Busnya datang lewat dari jadwal. Yang pasti, pagi itu, Flixbus membawaku ke Brussels dengan menempuh 2 jam perjalanan. Harga bus dari Bandara Schiphol ke Brussels, aku bayar Rp 193.333,- atau 11,24 Euro. Bus berhenti di Brussels North Train Station, yang mana jauh banget dari hostel. Hahaha.. Salah perkiraan. Waktu pesan hostel, lihat jarak dari google maps, sih dekat. Hahaa, setelah dijalani, amsiong coy... Ya tergantung juga sih kamu tinggalnya dimana. Urban City Hostel Aku sih nginap di Urban City Hostel, yang mana sebenarnya lebih dekat ke South Train Station, lebih dekatnya juga beda 10 menit doang. Hikss.. Oh ya, Flix Bus dari Bandara Schiphol itu kalau ke Brussels memang berhenti di North Station. Jadi, intinya, pilih penginapan terdekat dengan station-lah. Tapi entah juga, buat kamu yang biasa naik taxi, jarak bukanlah kendala. Urban City Hostel. Aku 3 malam di Brussels. Artinya nginap di hostel ini 3 malam. Aku bayar 65 Euro untuk 3 malam, bayar ditempat, booking via Agoda. Tidak ada sarapan. Wifi gratis, tanpa buffering. Living room sih nyaman. Akses keluar masuk pakai key card. Bersih. Ada outdoor juga buat duduk- duduk santai. Urban City Hostel bagian dari Hotel BRXXL5. Receptionist-nya ada di Hotel. Kamu tidurnya di bagian hostel. Hahaha.. Untuk fasilitas, harusnya hotel lebih baguslah. Naik turun pakai lift. Walaupun begitu, yang nginap di hostel, boleh pakai living room-nya juga. Urban City Hostel Kamar sih okey. Lega. Ada loker. Bawa gembok sendiri ya. Kamar mandi bersih. Air panas tersedia dengan shower. Yang buat mampus adalah tangganya, terutama yang kebagian kamar lantai 4. Kalau kata mereka, itu sih tangga jahanam. Anjritt... menjulang naik ke atas, tanpa basa- basi, total 81 anak yang harus kamu injak jika kamu mau sampai di lantai 4. Bawa diri saja sih enteng. Bopong ransel depan belakang, ngap coy, rasanya nafas tinggal sehembus. Oh ya, yang kupingnya tahan sama berisiknya orang- orang Brussels lagi ngumpul, kamu sih bisa nginap disini. Kalau tidak, sebaiknya, cari tempat lain. Yups, tepat diseberang hostel ini, banyak restaurant gitu. Ada yang sudah mulai gelar kursi dari pagi ke pagi. Ada yang baru gelar kursi setelah jam 6 sore sampai ke pagi. Bayangkan, mereka ngobrol, ketawa terbahak- bahak dan sebagainya. Aku sendiri, tidak pernah ada masalah terkait ini. Tidur ya tidur saja, pulas sampai pagi. Dari hostel, mau kemana- mana sih gampang dan tidak terlalu jauh dari pusat keramaian. Situs wisata seperti Grand Palace bisa dicapai dengan jalan kaki. Lagian, menurutku sih, Brussels itu ya seputaran sana saja. Aku, seperti biasanya, bukan yang tipe, buat itinerary khusus untuk setiap traveling. Aku hanya jalan kaki, jalan sesampainya kaki dimana berhenti. Grand Palace. Keliling Brussels, pengalamanku sih okey - okey saja. Bersih. Tidak terlalu banyak mobil. Kebetulan, beberapa ruas jalan utam sedang diperbaiki. Begitupun, masih bersih dan tidak amburadul. Sebagaimana seperti kota- kota lainnya di Eropa, arsitektur bangunan Brussels ya seperti itu. Sudut kota Brussels. Aku didekatin 3 kali oleh 3 orang yang berbeda, dengan akting pura- pura mabuk, sok mau bantuin dan mau tanya jalan. Aku cuekin saja. Entah-lah, katanya itu yang harus kamu lakukan, cuekin saja jika ada orang aneh seperti mendekatimu. Alasannya, keselamatan jiwa dan raga. Lebay ya... Aku tidak banyak mendatangi situs- situs yang katanya wajib didatangi kalau sudah ke Brussels. Aku lebih banyak jalan menyusuri lorong- lorong yang tidak ada orangnya. Setelah sadar, baru putar balik. Aku sendiri tidak bisa membedakan, mana asli orang Belgia, mana yang bukan? Hahaha.. Bahasa yang sering aku dengar, kalau tidak Jerman, ya Perancis. Walau, aku sendiri tidak mengerti, mereka lagi ngomongin apa, termasuk tetamu hostel dan hotel. Snack Brussels. Tentu, mata uang yang bisa dipakai Euro. Aku keseringan makan crossant selama di Belgia. Memang sudah doyan crossant dari sananya. Jadi tidak terlalu ribet kalau mau makan. Udaranya, masih tergolong dingin, sejuk dan ber-angin. Masih dibawah 20 derajat. Panas matahari sih menyengat, tapi tidak buat badan kamu kepanasan, apalagi sampai bau matahari, kayak macam naik motor di Jakarta 1 jam saja. Hahahaha... Katanya, kudu cobain snack semacam waffle gitu. Oke-lah rasanya. Town Square Untuk urusan perut, ada McD, terus banyak yang jualan kebab dan sejenisnya. Gampang cari makanan kayak dari Turki gitu. Harusnya tuh halal kali ya. Buat yang wajib makan nasi, di restoran Turki, ada pilihan nasi. ( Tapi, aku gak tahu pasti deh, itu restoran Turki atau bukan ya, maksud aku sih makanan asal Timur Tengah atau semacamnya.. ). Entah turis apa orang lokal, yang pasti bule gitu perawakannya, mereka suka banget ya ngumpul- ngumpul di town square dekat McD. Duduk- duduk sambil jemuran begitu. Matahari sih memang terik, tapi ya itu, tidak buat kepanasan. Di Grand Palace juga sama, pada duduk- duduk sembari menikmati hidup. Oh ya, didekat Grand Palace, ada sebuah patung, yang nempel ke dinding, patung seorang wanita sedang tiduran. Nah, semua turis pasti ngantri, selain buat foto dengan patung tersebut, para turis juga mengeluskan tangannya dari ujung kepala sampai ke ujung kaki patung itu. Kalau sudah bosan foto- foto di Grand Palace, jalan- jalan santai-lah, keluar masuk toko souvenir. Untuk kamu yang suka nongkrong sambil ngebeer, atau sekedar ngopi, kayaknya, cocok deh. Tinggal pilih mau nongkrong di cafe yang mana. Duduk, kemudian nikmati hidupmu. Sederhana... With Love, @ranselahok www.ranselahok.com ---Semoga semua mahluk hidup berbahagia---
  11. Aku pilih Hanoi dibanding dengan Hochiminh City / Saigon. Walaupun kedua kota ini perawakannya hampir sama, motor dimana- mana, cara mengendarai motor seenaknya saja. Ruang tata kota yang tidak jauh berbeda juga. Banyak taman umum yang bisa dipakai masyarakat setempat dengan bebas. Transportasi umum berupa bus yang gampang dan ramah dikantong. Maoseluem Hochiminh, Hanoi Tidak ada alasan pasti kenapa aku lebih memilih Hanoi? Bisa jadi, karena jatuh cinta pada pandangan pertama. Hanoi menjadi tempat pertama yang aku kunjungi di Vietnam. Saat menginjakkan kaki begitu tiba di terminal bus setelah 27 jam naik bus dari Luang Prabang, Laos, baca disini, aku langsung jatuh cinta. Malam itu, udaranya menembus kedalam badanku yang masih sempoyongan. Kondisi terminal antar kota/negara masih sibuk dan ramai tatkala waktu sudah menunjukkan jam 9 malam lebih. Hoan Kiem Lake, Hanoi Dibanding dengan Hanoi, Saigon lebih maju dan lebih modern. Bangunan bertingkat dan gedung pencakar langit bisa dengan gampang ditemui. Di Hanoi, untuk ukuran mall saja, saat aku kesana, aku belum menemukannya. Udara di Saigon lebih panas. Karena itu, jalan kaki mengelilingi kota mengunjungi objek wisata terasa sangat lelah, capek dan malasin. Berbeda dengan di Hanoi, dari pagi sampai malam, keliling terus tanpa berhenti, tetap saja, masih semangat. Udara di Hanoi lebih sejuk, saat siang dan sore, terasa adem. Uncle Ho Statue in Saigon Biaya hidup di Hanoi lebih murah dibanding di Saigon. Ini versi aku ya. Nginap di Hanoi Central Backpacker per malamnya 5 USD, sedangkan nginap di Saigon Backpacker Hostel per malamnya 7 USD. Jika dilihat dari fasilitas, Hanoi Central Backpacker lebih unggul. Bisa dicek disini, kemudian bandingkan disini juga dengan Saigon Backpacker Hostel. Makan di Hanoi juga lebih murah loh. Contohnya makan Pho, noodle soup. Di Hanoi semangkok Pho dengan porsi dan treatment yang sama 45.000 Dong, di Saigon, harganya 65.000 Dong. Di Hanoi, kamu bisa melihat langsung jenazah Uncle Ho yang diawetkan di Maoseleum Hochiminh. Lebih dekat jika kamu ingin teruskan trip kamu ke Halong Bay dan Sapa. Baca pengalaman aku saat one day trip ke Halong Bay. Dari Hanoi, bisa langsung nyebrang ke China, kabarnya bisa naik kereta turun di Nanning, China. Satu hari, aku akan mencoba rute ini, amin... Halong Bay Sisanya sama sih, baik di Hanoi maupun di Saigon, banyak taman umum yang asri dan bersih disediakan pemerintah untuk warganya. Tempat - tempat sejarah, area backpacker, area pub dan night market. Bisa jalan kaki buat keliling isi kota jika kamu mau. Hahaha.. seperti aku, cukup jalan kaki. Bisa baca disini, tempat wajib yang harus dikunjungi saat ke Hanoi. Dari Saigon, kamu bisa ke Muine, terkenal dengan padang pasirnya. Atau bisa daytrip ke beberapa tempat lainnya. Datang saja ke travel agent disekitaran Pham Ngu Lou, banyak tawaran paket menarik yang bisa mengisi hari- hari kamu selama di Saigon. Sudut kota Saigon, kondisi yang hampir sama di Hanoi Baik di Hanoi dan Saigon, aku belum bertemu dengan jalanan yang jelek dan berlubang. Dan sama- sama mempunyai juntaian kabel yang luntang- lantung sana -sini. Ukuran kabelnya pun gede-gede. Aku sudah bilang diatas, walaupun Hanoi sebagai ibukota Vietnam, tapi Saigon lebih maju dilihat dari bangunan kotanya. Hampir setiap sudut kota Saigon ada coffee shop, sudah ada mall dengan gedung modern. Mall di Saigon Tapi, tiket pesawat ke Hanoi lebih mahal dibanding tiket ke Saigon. Tidak ada flight langsung menuju kedua kota itu dari Jakarta, saat aku kesana( Oktober -November 2015 ). Transit di Kuala Lumpur. Saat ke Hanoi, dari KL, aku terbang ke Viantiene dulu, baru naik bus ke Luang Prabang kemudian nyebrang ke Hanoi dan pulang dari Hanoi ke KL. Kalau ke Saigon Maret 2016, aku dari KL langsung ke Saigon ( pp ). Karena itu, ada baiknya, jika kamu punya banyak waktu dan rencana yang mantap, buatlah full trip ke Vietnam dari Selatan sampai ke Utara. Mulai dari Saigon, ke Muine, Da Nang, Hue, Hoi An, sampai ke Hanoi, Sapa dan Halong Bay. Aku tidak tahu, bagaimana rute terbaiknya. Masuk dari Hochiminh menjadi alternatif terbaik buat backpacker, tiket jauh lebih murah. White Sand Dunes, Muine Trip ke Vietnam, tidak akan menguras isi kantong. Trip ke Vietnam menjadi trip termurah tapi tidak murahan. Aku 4 hari di Saigon , hanya menghabiskan Rp 850.000,- , sudah termasuk makan di Saigon, transportasi, penginapan, bus pulang pergi ke Muine, oneday trip ke White Sand Dunes, Red Sand Dunes, Fairy Stream dan Fishing Village, makan malam enak di restoran Mexico di Muine, apalagi ya, ngemil, beli barang koleksian, oh ya, termasuk kirim kartu ke temanku di Paris. Begitu juga saat 3 hari trip ke Hanoi. hanya menghabiskan 50 USD, sekitar Rp 600.000,- ( rate saat aku pergi ). Termasuk trip ke Halong Bay dan semuanya deh. Sisanya, cuma punya satu PR, cari tiket promo murah meriah saja. With Love, www.ranselahok.com Twitter / IG : @ranselahok --semoga semua mahluk hidup berbahagia--
  12. Setelah dari Resort trip sehari sebelumnya ( baca disini), trip selanjutnya adalah fullday trip ke beberapa lokasi wisata. Beli paketnya tetap di Kaani Beach Hotel, nama paketnya " Special Offer " dengan harga 38 Usd ( rate 1 usd = Rp 13.200,- ) per orang, sudah termasuk biaya transport (pp) dan makan siang, termasuk supply air minum. Jumlah peserta sekitar 25 orang. Trip dimulai jam 9 pagi - jam 5 sore. Cuaca saat itu, rada tidak pasti. Sebentar terlihat mulai mendung, mulai gerimis, eh... sebentar lagi, matahari kembali menyinari dengan perlahan tapi pasti, terus terik. Bolak- balik begini terus, bikin galau... Worldtravelers on the boat Baca juga : Cuma 7 juta sudah bisa ke Maldives dan Cara Backpacker Nikmati Maldives. Aku sengaja duduk diujung kapal. Bisa bebas melihat pemandangan didepan tanpa harus kehalang. Udara segar dan panasnya matahari yang siap membakar kulit tanpa ampun. Tapi, aku suka... Ketika yang lainnya, sibuk menyembunyikan diri dibawah tenda maupun dibagian dalam speedboat, Dauz, traveler asal Malaysia dan aku malah asik berjemur. Seharian berjemur dan hasilnya gosong. Aku hepi.. sekian... Dolphins Melihat dolphin menjadi rute pertama dalam trip itu. Setelah hampir 1 jam, tiba- tiba muncul banyak sekali dolphin - dolphin yang berenang disekitaran speedboat. Wuuddiih, merinding.. karena sangking hebohnya, sangking serunya, lihat segrombolan dolphin-doplhin itu berenang. Mungkin ada manusia disekitarannya, mereka malah sengaja bermain- main. Kayak sedang nonton pertunjukan, semua pada teriak- teriak. " Jump.... jump... jump.... ". Seolah ngerti saja tuh dolphin, tapi benaran, dolphinnya loncat dan gulung- gulung gitu diatas udara kemudian pusshhhhhh.... jatuh kedalam air lagi. Ada yang berenang santai secara berkelompok, ada yang bermain- main didalam air, berenang sana- sini. Artis benar deh dolphin - dolphin itu, jeprat- jepret dari suara kamera tidak berhenti- henti. Ada sekitar 15 menit bersama para dolphin itu. Mereka pasti juga senang ketemu kita yang kece- kece ini. Coral Rute selanjutnya adalah snorkeling. Lokasinya dimana, tidak tahu. Pastinya ada ditengah- tengah samudera gitu-lah. Ada disalah titik terkecil didalam peta dunia. Dipinjami alat snorkeling kok, terus ada handuk pantai dan kalau kamu butuh fin, boleh pinjam juga. Spot pertama ini, aku ada masalah dengan lensa mata, sehingga gagal melihat coral yang ada didalam. Sempat panik dan minta tolong yang lain, karena mata tiba-tiba buram, sama sekali tidak terlihat. Sandbank Sexy Beach Rute selanjutnya adalah ke Sandbank Sexy Beach. Dengar namanya saja sudah langsung merasa sexy bukan? Hamparan pasir yang ada ditengah- tengah laut gitu. Kosong, tidak ada penghuni. Tidak ada rumah, tidak ada pohon, tidak ada kursi, tidak ada tenda permanen. Terus ya itu, siap-siap dibakar sinar matahari. Couple From India Sekeliling Sandbank ya air. Tidak ada yang lain lagi. Kegiatan disana, berenang, nyemplung, foto-foto, berjemur. Makan siang juga disini. Nikmati alamnya saja. Yang suka panas, ya berjemur, nyemplung, atau sekedar basah- basah kece. Yang tidak suka panas, pihak hotel ada siapin payung pantai sih. Jadi ketahuan deh, siapa sih sebenarnya yang memang doyan pantai atau hanya sekedar pengen main ke pantai doang? Penting, tidak juga. Kan masing- masing orang boleh dong punya cara dan gaya tersendiri dalam nikmati hidupnya. Dan aku? Sudah pasti, berjemur dong. Karena sedang belajar foto, aku jadinya hunting foto. Senang saja. Sembari panas- panasan gitu. Mau modelnya orang lain, pakai kamera orang lain, sampai foto-in diri sendiri. Suka saja. Mungkin sekitar 1,5 jam disini. Kesannya, aku bilang seru. Sebenarnya, apapun yang didepan mata, semuanya tergantung bagaimana cara kamu menikmatinya? Setuju??? Ebi and Uchan Setelah dari Sandbank, kembali snorkeling lagi di spot yang berbeda. Nah kali ini, aku berhasil melihat coral didalamnya, ikan-ikan yang cuantik- cuantik. Puas sih. Jika kamu tidak pede atau tidak bisa berenang, tapi ingin snorkeling, bisa dipandu sama crew-nya kok. Gratis. Puas snorkeling, ya berjemur lagi diatas speedboat. Oh jangan lupa bawa sunblock. Ini penting. Biasalah, ke pantai, sunblock menjadi barang yang wajib dibawa. Action... Okey, selanjutnya adalah island hopping ke Guraidho. Intinya, semua peserta dituruni ke 1 pulau penduduk lainnya untuk keliling pakai jalan kaki. Yang dilihat, yang rumah- rumah penduduk dan warga lokalnya. Tujuan dari island hopping ini tidak lain adalah minta kamu belanja souvenir. Hanya itu. Karena tidak ada hal special lainnya yang bisa dinikmati. Ya.. foto-foto-lah. Dalam 15 menit, aku sudah kelar keliling tuh 1 pulau. Hahaha.. Bablas.. cepat banget. Tidak keluar masuk toko souvenir yang ada, karena niatnya beli souvenir di Male. Kabarnya lebih murah. Masih banyak waktu, duduk santai didekat dermaga, ada hammock mini. Yihaa.. jadinya bersantai dan tiduran dibawah pohon, lihat ke pantai, lihat anak- anak kecil bermain. Aizz.... senangnya... anginnya sepoi-sepoi... kalau saja, gerimis tidak menghampiri, aku mungkin sudah tertidur lelap disana. Perjalanan pulang kembali ke Maafushi Island sekitar jam 4 sore. Terik matahari tinggal sisa-sisanya saja. Suasana dalam speedboat pun berubah total. Berangkatnya pada heboh, pada excited, pas sudah perjalanan pulang, sudah letoi, sudah pada capek. Banyak yang tiduran, diam tidak bersuara. Aku? Tetap.. tidak mau rugi... menikmati setiap menit perjalanan itu. Banyak melewati resort- resort mewah lainnya. Itu juga menjadi pemandangan selama perjalanan pergi dan pulang kami. Aku bilang, buat kamu yang sudah sampai di Maldives, dimanapun pulau kamu netap, ada baiknya ambil trip ini deh, termasuk buat kamu yang netap di resort mewah. Karena, aku yakin, pasti ada sesuatu yang beda yang bisa kamu dapatkan. Great moment, ever... Menghabiskan 9 jam bersama Worldtravelers yang entah asalnya dari mana saja, mampu meninggalkan kesan dalam buatku. Menyisakan momen indah yang kemudian hanya bisa dikenang saja. Menambah pengalaman baru yang menjadi bagian dari perjalanan hidupku. Sebelum ke Maldives, ada baiknya baca dulu ini : 7 hal yang harus diperhatikan sebelum ke Maldives. With Love, www.ranselahok.com IG/ Twitter : @ranselahok ---semoga semua mahluk hidup berbahagia---
  13. Tanggal 9 Juni 2018. Trip Canada dimulai dari penerbangan Jakarta - Singapore, kemudian lanjut ke Xiamen dan berakhir di Vancouver. Bisa baca juga, butuh visa transit Cina jika lewat Xiamen. Perjalanan yang melelahkan. Belum lagi, setelah landed di Vancouver, harus ngemper semalam dulu di bandara untuk melanjutkan penerbangan ke Calgary besok paginya. Karena tujuan utama dari awal perjalanan ini adalah Waterton, terus harus melakukan perjalanan darat sekitar 3 jam. Jika ditotal, 48 jam deh, aku baru benar- benar tiba di tujuan. Oh ya, jika mau tukar uang Canada Dollar, lebih baik tukar dari Indonesia. Atau bayar pakai kartu kredit saja. Jangan pernah tukar di airport, rate macam leher kerasa digorok. Sekitar 2 minggu pertama di Canada, kami sewa mobil untuk mengitari Alberta sampai British Columbia. Kami itu bertiga, salah satunya, skydworld, satunya lagi, Henny. Pakai jasa rental mobil Avis. Ada GPS dalam mobil, jadi gampang banget mau kemana- mana. Hasil dari GPS selama pemakaian, akurat kok. Overall sih okey. Setir di Canada itu gampang- gamapang susah sih. Setirnya ada disebelah kiri, dan aku pertama kalinya setir mobil dengan posisi setir sebelah kiri. Awalnya sih gugup dan gagok. Lama - kelamaan juga jadi biasa. Pastikan saja, mobil selalu berada dijalur sebelah kanan. Total harga sewa mobil sekitar 8 juta, sudah termasuk GPS dan asuransi. Sedangkan sepanjang perjalanan, bensin habis sekitar 3 juta. Setelah proses administrasi beres dan mobil sudah ditangan, kami langsung berangkat ke Waterton. Sepanjang perjalanan, menurutku agak menoton. Lansung saja, aku bandingkan dengan New Zealand, rasanya jauh lebih indah dan bagus, terutama dibagian Selatan New Zealand. Baru kerasa alamnya ketika sekitar 1 jam sebelum sampai Waterton. Waterton. Begitu checked in, hal pertama yang dilakukan adalah tidur dan tidur sepuasnya. Tidur sampai besok pagi. Belum lagi, harus adaptasi perbedaan waktu antara Canada dengan Indonesia. Lelah. Fisik sempat drop tidak karuan selama 3 hari. Kecapekan. Waterton itu termasuk National Park. Jadi berbayar. Kemaren itu kami bayar 31,2 CND untuk 2 orang dan 2 hari. Ada baiknya beli annual pass, karena bisa dipakai di seluruh National Park yang ada di Canada. Informasi ini kami peroleh dari Chris, seorang teman yang baik nan cantik, tapi setelah berada di Calgary. Kan, ketemunya sama Chris baru di Calgary. Waterton Lake view. Selama di Waterton, ya aku main- main disekitaran saja. Menikmati sungai di belakang hotel, menikmati air terjun mini, paling jauh, ya ke perbatasan US. Dan yang paling okey adalah main ke Prince of Wales Hotel. Viewnya langsung ke Lake Waterton, view-nya dapat banget. Sayangnya, tidak berkesempatan bermalam disana. Mahal, sudah pasti. Hahahahaha... Yang jadi highlight di Waterton, anginnya kencang banget. Terutama saat di Prince Of Wales Hotel, berdiri saja, macam bisa diseret angin. Ini serius. Dan otomatis, dingin. Prince Of Wales Hotel. Kami menginap 2 malam di Bayshore Inn. Tidak ada sarapan gratis. Free wifi. Hotelnya cukup okey. Kamarnya lega dengan ranjang gede. Punya tv yang tidak pernah di-nyalain. Kamar mandi ada bathtub dan shower, pasti, ada air panas. Bersih. Pemandangan menyenangkan dari pintu belakang kamar, langsung sungai gitu. Arusnya deras banget, harusnya sih airnya dingin. Ada pemanas ruangan. Tidak menyediakan air minum botol, tidak seperti kebanyakan hotel di Asia. Jadi, semua hotel yang di Canada, harusnya seperti begini aturan mainnya. Sepanjang perjalanan di Canada, ( sepertinya ) aku tidak pernah beli air minum, kecuali juice dalam kemasan kotak. Minum, dari air kran loh. Yang buat aneh adalah housekeeping-nya, masak ya, bersihkan kamar setengah hati. Ranjang satunya diberesin, hasilnya 95 persen kelar. Satunya lagi, sama sekali tidak diberesin. Ada beberapa gelas plastik bekas pakai di atas meja juga tidak dibuang. Oneng juga si mbak- mbaknya. Asumsinya, mungkin tidak tempel beberapa Canada Dollar diatas tempat tidur kali ya. Parah! Hotel ini ada tempat parkir ya dan bebas parkir. Belakang kamar hotel. Kalau bingung mau main ke mana selama di Waterton, tinggal ke receptionist saja. Hahaha.. Aku pikir sih, 3 hari full adalah paling banyak. Tapi entahlah, kalau kamu suka, bisa saja stay lebih lama. Eittss, sebagai negara yang identik dengan beruang. Jadi saat berkeliaran di Waterton, harus waspada, bisa saja kamu ketemu beruang. Baca petunjuknya di penginapan kamu, trik menghadapi beruang itu gimana, ini serius. Sekitaran hotel. Kalau kamu suka camping, menurut Chris, jika tidak salah dengar, Waterton juga tempat orang- orang camping sih. Cuma, ada temannya, yang pegangin tendanya semalaman karena anginnya super kencang. Lah iya lah, wong aku tidur didalam kamar saja, suara gemuruh angin diluaran sana sudah macam lagi perang. Air terjun. Border US- CANADA. Transit satu malam di Calgary. Sebelum langsung ke Banff, kami menginap satu malam dulu di Calgary. Kami nginap di Nuvo Suites. Okey, penginapan ini termasuk salah satu yang terbaik sepanjang trip Canada. Terletak di tengah kota, sebenarnya, kalau tanpa mobil-pun mau kemana- mana juga bisa. Ada transportasi umum. Soal Nuvo Suites, memang best. Lihat saja di foto. Bisa muat 4 orang. Ada dapur dalam kamar, jadinya kamu bisa masak- masak. Apalagi seberang, sudah ada grocery. Free wifi, free sarapan yang lumayan. Dapat slot parkir gratis, tapi di blok yang berbeda. Tidak terlalu jauh sih. Jalan kaki bisa sampai juga. Kamar mandi shower ada air panas. Calgary view. Di Calgary, diajak Chris jalan- jalan. Main ke Factory outlet untuk menghabiskan isi dompet, terus makan eskrim di Village Ice Cream. Kata Chris, eskrim ini wajib loh, karena lokal banget. Dan benar saja, pas ke sana, ramai. Kemudian ke spot keren untuk lebih kota Calgary dari atas, aduh lupa namanya, cari di google lagi, kok gak muncul nama tempatnya. Tempatnya sih asik, pemandangan, tempat foto- foto-lah. Dan malam itu berakhir dengan makan bersama di salah satu restoran rekomendasi dari Chris juga. Intinya ya, si Chris, soal kuliner memang juara. Memang, tidak banyak tempat yang didatangi selama di Calgary, sebagaimana sebuah kota. Keesokan harinya, setelah checked out, sudah bersiap menuju ke Banff. Nah tungguin postingan selanjutnya ya tentang Banff. With Love, @ranselahok www.ranselahok.com ---Semoga semua mahluk hidup berbahagia---
  14. Iya bro @deffa kalau untuk aku sih masih lebih suka New Zealand ya.. hahaha untuk border, ada dong, ada pos penjagaan kedua negara. Di foto itu, semacam tugu perdamaian gitu sih. Ya harus lewatin pihak imigrasi juga. tapi ya, badan gede aja bisa tersapu loh.. hahaha
  15. Tanggal 31 Oktober 2016. Setelah transit hampir 10 jam di KLIA2, saatnya melanjutkan penerbangan selanjutnya ke Colombo, Srilanka. Tiba di Bandaranaike International Airport sudah hampir tengah malam. Jadwalnya sih jam 10 malam waktu setempat mendarat disana, karena delayed tidak jelas dari Airasia, hampir jam 12 baru sampai. Sama seperti Maldives yang menjadi tetangga dekat Srilanka, mereka lebih lambat 1,5 jam dibanding waktu Indonesia bagian barat. Mata uang yang dipakai adalah Srilanka Rupee. Hitunganku kemaren sih 1 Srilanka Rupee itu sama dengan Rp 88,9. Okey, artinya, mata uang mereka masih lebih besar dibanding kita. Mau baca tentang trip ke Maldives. Pemandangan sepanjang perjalanan menuju Little Adam`s Peak... Kalau mau dibilang, memang kenyataannya seperti ini, kita jauh lebih maju dibanding mereka. Istilah kompeturisasi masih belum ada disana. Hampir sebagian besar pekerjaan masih manual. Saat menunggu kereta api dari Ella ke Colombo di station Ella yang kecil itu, aku sempat ngobrol dengan petugas, aku hanya tersenyum ketika melihatnya sedang menghitung jumlah tiket yang ada, kemudian dicatat satu per satu ke dalam sebuah buku besar. Petugas lainnya, sedang membuat laporan harian, sama, disebuah buku besar. Si petugas kemudian bilang, di negara kamu, harusnya tidak demikian lagi ya, pasti sudah canggih, semua sudah pakai komputer. Si bapak malah penasaran, tanya, susah tidak pakai komputer? Lah... Kecuali kamu beli tiket kereta secara online, kamu akan print tiket kamu sendiri, kalau beli di station, tiket yang kamu dapatkan, masih tiket tempo dulu, tiket kecil, kertas karton keras yang masih harus digunting pakai pemotong khusus. Itulah artinya, jangan pikir, dunia telah berubah, zaman sudah berubah, segalanya sudah canggih. Semuanya tinggal klik dan langsung bisa jalan. Nyatanya, masih ada saudara – saudara kita dibelahan bumi lainnya yang masih belum berkesempatan untuk menikmati hebatnya teknologi. Bersyukurlah… Cuaca di Srilanka saat aku kesana sedang musim hujan. Satu hal sih, walaupun traveling bukan di musim hujan, ada baiknya kita sediakan payung kecil. Apalagi, musim hujan, bawa payung besar… #lebay…. Srilankan... Srilankan, begitu sebutannya kali untuk orang lokal Srilanka, asli, baik banget. Sungguh luar biasa, diluar dari pemikiran aku, diluar dari apa yang aku bayangkan sebelum aku sampai disana. Mereka semua, mulai dari petugas bandara, orang- orang yang ketemu di bandara, sepanjang perjalanan, dari naik turun bus, warteg, rumah makan, terminal bus, pasar, tempat wisata, hostel, kereta api, semuanya begitu ramah, sangat peduli dan membuatku nyaman. Memang, ada, 1 – 2 yang modus, ketika di Colombo, hari terakhir, itupun, dia ingin dapat komisi dari pihak hostel jika bisa membawa turis ke hostel tersebut. 2 cowok dibelakangku, backpacker asal Cina, akan menghabiskan waktu 3 minggu di Srilanka. Cowok sebelah aku, akan menjelajah bumi ini 6 bulan, sedangkan paling belakang, 4 bulan. Apalagi aku, cina sipit, sendirian putih diantara mereka semua yang berkulit gelap. Dari awal perjalanan hingga trip aku selesai, aku satu- satunya kulit putih yang naik turun bus, yang pakai transportasi umum. Bersama travelmate asal Malaysia yang baru aku kenal di airport, hanya kami berdua, ketika itu, kami sama- sama tidur di Hotel Empire alias ngemper di bandara. Karena merasa cocok dan satu jadwal, kami- pun explore bareng Srilanka. Jee, begitu aku sapa biasanya, Malaysian keturunan India yang notabene berkulit gelap juga, bisa komunikasi dalam Bahasa Tamil, jadi keuntungan buatku. Sebagian Srilankan, bisa Bahasa Tamil. Aku sih bilang, tidak perlu bawa uang banyak ke Srilanka. Hahahah.. serius… Murah banget. Aku bilang, Vietnam murah, Srilanka jauh lebih murah lagi. Bedehhh… terutama transportasinya. Inilah yang sangat menekan budget perjalananku kali ini. Okey, transportasi yang aku maksud disini adalah transportasi umum ya, kayak bus AKAP ala Srilanka dan kereta api. Gambaran kasarnya ya, dari bandara ke Colombo naik bus bayar 50 Srilanka Rupee atau setara dengan sekitar Rp 5.000,- untuk perjalanan yang membutuhkan waktu 1,5 jam kalau tidak macet. Karena ini adalah transportasi umum dengan biaya yang sangat murah, jangan berpikir untuk bisa lega dan enak- enakan, untuk bernafas saja kamu harus rebutan sangking padatnya penumpang bus. Pengalamannku, turis sangat dihargai. Hahaha… Aku jadi malu banget, ketika sudah mau terbang pulang ke KL, naik bus dari Colombo ke bandara, kan padat banget. Beberapa bus aku lewatin, sampai terakhir, aku paksa masuk saja, ikutan deh, bodoh amat, mau desak- desakan, eh buset… aku malah dikasih tempat duduk sama orang lokal. Kalau ingat itu, entah mau taruh dimana muka ku ini…. Mau ke Srilanka jangan cuma sebentar deh. Aku sangat tidak puas untuk perjalananku yang super singkat ini ke sana. Srilanka itu luar biasa, benar- benar diluar prediksi aku. Srilanka itu indah banget. Paling sedikit 10 hari – 15 hari baru terasa. Karena, jarak antar kotanya sangat jauh. Kemudian, ke Srilanka, bukan berarti ke Colombo-nya. Ibukotanya sih tidak terlalu banyak hal yang bisa dilihat. Aku samapi sehari bego di Colombo, tungguin postingan selanjutnya ya. Hehehee… Kebanyakan, Srilankan itu bisa Bahasa Inggris, jadi komunikasi tidak terlalu susah. Ada tourist information yang siap membantu kamu. Ada kantor khusus gitu, kayak di Colombo, letaknya di Colombo Port, dan di Kandy, dekat Kandy Port juga. Balik lagi tentang murahnya Srilanka, bukan saja di transportasi umumnya, untuk hostel dan makannya juga murah. Dapatkan informasi ini selanjutnya dipostingan selanjutnya ya. #Maksa banget. Sekilas kota Kandy Jika Vietnam kerap dikenal sebagai negara yang penuh dengan motor. Nah, Srilanka, penuh dengan bajaj. Dimana – mana ada bajaj. Aku 2 kali naik bajaj, pertama saat dari bandara ke terminal bus, kedua di kota Kandy, ketika, aku dijemput teman Couchsurfing Srilanka. Okey, begitu mendarat di Bandaranaike, terkejut nih, setelah melewati imigrasi, ini Glodok apa bandara sih? Kalau bandara lain mah sudah biasa-lah ada duty free shop kayak parfum, souvenir, coklat, rokok, alkohol dsb. Mungkin mereka mau buat antimainstream, mereka jualan barang- barang elektronik. Mereka jualan kulkas, tv, kipas, ac gitu. Coba, apa aku tidak pikir, aku jauh- jauh naik pesawat, landed-nya di Glodok juga. #Fiuhhh…. Dan anehnya, ada saja yang beli-loh. Tidak mendapatkan jawabannya, apa mungkin di kota tidak jual ? Atau di bandara lebih murah? Glodoknya Srilanka di bandara. Murahnya Srilanka tidak berlaku untuk biaya masuk objek wisata ya teman- teman. Bisa tergolong mahal. Sekali masuk ke Lion Rock, Sigiriya harus bayar 30 Usd. Mendadak pingsan. Begitu juga, kalau kamu naik tuk –tuk atau rental mobil. Tidak sebanding dengan ongkos bus, jauh banget. Tapi, disini, menurutku, walaupun kamu sewa mobil atau tuk- tuk, hitungannya masih murah juga dibanding jika naik hal yang sama di negara lain. Lion`s Rock, Sigiriya. Biar tidak bingung, transportasi kayak tuk- tuk itu murah, tapi kalau mau lebih murah lagi naik bus saja. Taxi? Kok aku merasa tidak melihat ada taxi ya disana. Taxi itu ya tuk- tuk. Hahahaha... Untuk kamu yang berniat terbang ke sana dan ambil flight malam seperti aku, kamu bisa bermalam di bandara kok. Ada free wifi yang bisa menemani kamu semalam suntuk. Pengalaman kocak selanjutnya adalah setelah lewati pasar Glodoknya bandara, lewati bagasi, sampailah di ruangan serba guna. Hahaha.. aku sebut serba guna, disitu ada banyak money changer yang rate-nya sama semua, tukarlah dollar kamu, tidak perlu keliling cari yang paling murah, habis waktu dan capek. Pilih saja, yang sepi. Ada yang heboh jualan simcard, banyak baca, operator Dialog yang paling luas jangkauannya sampai ke pelosok, harganya mahal 10 Usd. Terus ada travel agent yang siap menggorok lehermu. Entahlah, bagiku sih, tidak perlu. Masing- masing orang punya cara dan gayanya. Ruang serba - serbi. Dan yang kocak, ditengah- tengah ruangan gitu, disediakan 2 tv, yang masing- masing hadap ke arah yang berbeda. Ada kursi- kursi, mereka- mereka itu, duduk disana, nonton tv itu. Kocaknya dimana? Bayangkan, mereka itu entah siapa? Sedang jemput kerabatkah? Atau siapa? Untuk apa, tengah malam gitu sampai pagi duduk disana nonton tv? Atau mereka juga sama kayak aku, baru mendarat dan sedang menunggu pagi datang? Rasanya, kok tidak demikian. Tidak habis pikir… Bandaranya tidak kecil, tidak besar juga. Cukup sibuk, dari aku tiba hingga pagi, tidak ada hentinya pesawat yang mendarat. Pesawat yang datang, sebagian besar adalah turis loh. Pesawat yang aku tunpangi, 80 % turis, banyak bule dan orang Cina. Kamu perlu visa untuk bisa menembus pertahanan imigrasi Srilanka. Visa kamu bisa apply online atau bisa VOA. Biar tidak repot, aku buat online seminggu sebelum berangkat. Kota- kota di Srilanka, bersih, tidak ada jalanan yang berlubang untuk ukuran kota ya. Kecuali ada beberapa jalanan rusak saat perjalanan dari Colombo ke Dambulla. Selebihnya sangat bagus, mulus bahkan untuk ukuran negara yang notabene “mungkin : disepelekan” ini, sekali lagi, diluar dari bayanganku. Melewati Nuwara Eliya. Saat perjalanan dari Kandy ke Nuwara Eliya, pemandangan alamnya indah banget. Aku tidak habis pikir, negara yang didominasi mayoritas Buddhis ini kok bisa sebagus ini ya. Hahahah… Inilah yang disebut, jangan menilai sesuatu dari kulitnya saja. Alam di Ella, kota kecil yang butuh 10 jam perjalanan pakai kereta api dari Colombo itu indah banget. Kotanya sejuk dan tenang, nyaman, tidak berisik dan suguhan atas ciptaan Sang Semesta, luar biasa. Pantainya Colombo. Untuk pengalaman lebih detail dan lengkap, aku akan buat postingannya satu per satu. Semoga segala informasi sesuai dengan pengalamanku bisa bermanfaat bagi siapa saja yang ingin ke Srilanka. Untuk kamu, masukanlah Srilanka ke dalam wishlist kamu, kalau Srilanka belum pernah kamu kunjungi. Aku kok yakin, kamu juga akan seperti aku, bakalan jatuh cinta sama Srilanka. Eh tapi, balik lagi, tergantung selera masing- masing juga ya. Saksikan sendiri, karena apa yang kamu lihat dengan matamu jauh lebih indah dibanding dengan apa yang kamu lihat hanya lewat sebuah foto. Sisi lain, Sigiriya. With Love, @ranselahok www.ranselahok.com ---semoga semua mahluk hidup berbahagia---
  16. Tanggal 4 Mei 2017. Pemandangan sepanjang perjalanan seperti ini... Iya, akhirnya aku berhasil taklukkan Tibet setelah sebelumnya dipenuhi kekhawatiran yang berlebih. Sejak memutuskan untuk ke Tibet, banyak baca, cari tahu tentang Tibet, yang paling mendominasi batin ini adalah serangan AMS ( Altitude Mountain Sickness ). Banyak yang cerita bagaimana sengsaranya ketika diserang AMS. Coba tanya om google tentang AMS dan bagaimana gelajanya. Kekhawatiran aku bukan tidak mendasar, manusia seperti aku yang jarang sekali olahraga, ditambah lagi, aku juga bukan tipe anak gunung, membuat diriku semakin berpikir tidak karuan. Berada diatas ketinggian 3.000 m sama sekali bukan ide yang tepat buat diriku, terlebih lagi, berani membeli paket tour sampai ke Everest Base Camp yang mencapai ketinggian 5.200 m diatas permukaan laut. Finally, di EBC.. Berbagai persiapan mulai dilakukan sebelum tanggal keberangkatan, tapi semuanya gagal. Hampir tidak pernah olahraga walaupun sudah beli paket olahraga, jadwal kerja yang padat, termasuk jadwal traveling yang menggila sejak 2 bulan sebelum terbang ke Nepal. Pasrah. Jalani saja. Nikmati saja. Jika membaca dan mendengar dari pengalaman orang lain, sudah terbayangkan, bagaimana susahnya untuk bisa traveling di Tibet. Aku sendiri mulai merancang beberapa kode sandi untuk dipakai di Tibet jika mau minta tolong, entah sakit, entah mau apa, entah mau bicara. Termasuk tidak boleh banyak bicara, jangan terlalu banyak bergerak, jalan juga harus pelan – pelan. Kenyataannya, Aku tidak mengalami satu hal apapun. Semua berjalan dengan lancar diluar dari prasangka yang telah tercipta diotakku sebelumnya. Begitu keluar dari airport, tanpa sadar, aku jalan seperti biasanya di Jakarta, malahan pakai lari. Saat di mobil, oleh Tan Jeng, tour guide yang menemaniku selama tripku di Tibet, ditanya, apakah aku baik- baik saja? Dari serius tanya sampai malas tanya hingga tidak pernah tanya lagi, bagaimana kondisiku? Apakah aku ada alami pengaruh altitude itu ? Potala Palace Pikirku, mungkin masih di Lhasa, ketinggian baru 3.000 m – an saja, belum terlalu tinggi, masih okey. Ketika mendaki naik jalan kaki ke puncak Potala Palace sekitar 3.600 m, kondisi badan masih baik. Kemudian masuk ke Jokhang Temple dan keliling Barkor Street sampai berkali- kali, kondisi badan tetap stabil. View dari depan Potala Palace. Koko Tour Guide ingatkan untuk banyak istirahat, cepat tidur, agar tubuh bisa fit dan tidak terganggu pengaruh AMS. Aku, malah keliyuran sampai jam 10 malam baru pulang ke hotel, belum lagi beberes, sekitar jam 11-an malam baru tidur. Dia hanya bisa geleng – geleng kepala. Saat mulai meninggalkan Lhasa dan mendaki naik ke atas menempuh perjalanan ke Shigatse, pemandangannya memang luar biasa. Beberapa kali kami berhenti sekedar untuk menikmati alam. Aku ingat betul, perbehentian pertama itu diatas ketinggian 4.200 m, begitu pintu mobil dibuka, yang terasa udara segar… Yupss, udaranya segar banget. Aku menghirup udara dalam- dalam dan perlahan melepaskannya. Sejenak kemudian aku baru sadar, aku tidak terganggu sama sekali dengan pengaruh AMS. Yihaa… senangnya… Jalan sana- sini, foto sana- sini, pakai pose ini- itu. Diatas ketinggian 4.200 m. Okey, baru 4.200 m, masih okey. Mobil kemudian melaju naik ke atas lagi. Tepat berada diatas ketinggian 4.998 m, kami berhenti lagi untuk melihat pemandangan kece dari atas gunung ke Yamdrok Lake. Masih sama, tetap stabil. Tidak ada terasa apapun. Bisa jalan dari ujung ke ujung. Ngobrol tidak jelas dan berada diluar mobil cukup lama. Jalan seperti biasa, tidak perlahan- lahan. Diatas ketinggian 4.998 m. Selanjutnya kami berhenti di Karola Glacier yang berada diatas ketinggian 5.020 m. Disini, aku senangnya luar biasa. Ada salju, ya… turun salju tipis. Sama sekali tidak ada pengaruh AMS. Aku berjalan normal. Malahan terkadang berjalan cepat. Kadang, diiringi lari kecil. Tertinggi yang aku datangi, 5.248 m Dan yang paling tinggi di 5.248 m, aku juga tidak ada masalah. Tidak mengalami sedikitpun halnya tentang AMS. Semuanya seperti biasanya. Ya, namanya diatas gunung, ya dingin. Anginnya kencang. Aku cuma terasa tangan sedikit beku saat terlalu lama diluar mobil. Selebihnya, tidak ada masalah. Sedangkan, jaket tebal yang aku bawa, aku malah tidak pakai. Si bapak supir malahan berkali- kali ingatkan untuk pakai jaket tebal hitamku. Ya, aku pakai, sebentar saja, terus aku buka lagi. Hahahaha… Di Karola Glacier. Puncaknya adalah ketika sudah berada di Rongbuk, yang terletak tepat dikaki gunung Everest. Kami tiba disana sekitar jam 5 sore. Dingin, iya dingin sekali. Sedikit mendung. Sambil menunggu cuaca cerah supaya bisa menikmati sunset sore itu, kami kumpul di restoran Rongbuk Hotel. Koko Tour Guide memastikan sekali lagi kondisiku, apakah baik- baik saja? Tentu, aku baik – baik saja. Nikmati Everest dari Rongbuk. Dan benar saja, cuaca sore itu kembali cerah. Aku bisa nikmati biasnya sunset yang menyinari puncak Everest yang begitu kokoh dan angkuh itu. Puas. Iya, aku puas. Tinggal selangkah lagi, aku berada dititik paling dekat dengannya. Dengan berbagai tingkah dan gaya pose, aku menjadikan Everest sore itu menjadi latarnya. Tertawa dan berjalan sana – sini. Mount Everest Rongbuk Hotel. Khusus hotel ini, aku ingin membahasnya disini. Selain hotel ini, tempat terdekat ke EBC adalah tinggal di tenda – tenda. Tapi hotel ini lebih tepatnya disebut Rongbuk guesthouse. Bentukkannya seperti rumah penduduk lokal. Kamar- kamarnya sampai toiletnya. Hahaha… Terutama adalah tentang toiletnya yang ajib banget. Tidak ada ruangan, hanya ruang sekat biasa sebatas paha dan terbuka. Kalau mau buang air besar, ya kamu harus pas- pas-kan pantat kamu sama lubangnya yang telah disediakan. Aromanya… sudah tidak perlu diragukan lagi… Jangan dibayangkan ya…Disinilah, mental kamu diuji.. Rongbuk guesthouse. Kamar tidurnya, standart saja, mungkin karena terbuat dari bebatuan, jadi dinginnya luar biasa. Satu- satu tempat yang hangat disana hanya restorannya yang seadanya itu. Ada tungku masak air, jadi pada kumpul disana. Memang, mereka ada lengkapi dengan pemanas tempat tidur, tapi udaranya dingin banget, jadi lumayan mengganggu. Malam itu, aku ingat betul, aku hampir tidak tidur semalaman. Aku pakai sleeping bag yang aku bawa sendiri, pakai seprei-nya, dingin sih sudah tidak terasa lagi. Entah kenapa, tetap saja tidak bisa tidur. Tidak sesak napas, tidak pusing, tidak mual, tidak sakit. Normal saja. Karena tidak ada kegiatan, bosan, ya makan, sempat makan pop mie yang aku bawa dari Jakarta, ketawa- ketawa, ngobrol tidak jelas, terus masih sempat makan buah. Menunggu datangnya pagi, lama sekali. Ketika sudah jam 6 pagi, bersyukur banget, akhirnya bisa keluar kamar. Yang lain pada belum bangun, aku sudah diluaran. Masih gelap. Dingin banget. Menunggu datangnya matahari pagi itu, aku ngobrol dengan supir dan tour guide. Aku cerita, aku tidak tidur semalaman loh. Dia malah bilang, oh , tidak masalah, itu wajar saja, kalau di Rongbuk, tidurnya tidak pulas. Kamu ini sudah sangat bagus. Mereka cerita, tidak sedikit yang minta pulang tengah malam itu juga, karena tidak tahan karena kekurangan oksigen, ada yang sakit dan sebagainya. Dan aku tersipu malu… Titik terdekat, aku ke Mount Everest. Tambahnya lagi, jangankan disini, ada yang lebih parah, baru di ketinggian 4.000 m saja sudah muntah- muntah, pusing, susah napas, akhirnya tidak jadi datang dan kembali ke Lhasa lagi. Bahkan, terparah, ada yang di Lhasa saja, sudah masuk rumah sakit, diinfus. Yang paling parah, ada yang sampai pembuluh darah matanya pecah. Seram juga sih kalau dengar ceritnya. Entahlah, aku merasa bersyukur banget, dikasih kesempatan untuk melihat dari dekat Mount Everest walaupun tidak mendakinya. Karena itu bukanlah aku, pendaki. Aku sangat puas, untuk bisa berada dari jarak yang sangat dekat, dengan kondisi badan yang tetap stabil dan fit, tanpa ada gangguan kesehatan apapun. Bersyukur dikaruniai kondisi badan sedemikian rupa, diluar dari prediksiku sendiri, bersyukur karena alam memberiku kesempatan, karena alam menerima kondisi badanku. Diatas ketinggian 5.190 m Ketika yang lainnya, hanya untuk berjalan saja perlu perjuangan, hanya untuk bernapas saja perlu oksigen yang dibeli dan dibawa kemana- mana, ketika yang lainnya, harus banyak diam dan menyimpan energy, aku malah bisa berjalan bebas, aku bisa lari, aku bisa menghirup udara segar dengan enteng, bahkan, aku bisa berfoto sambil loncat. Ya, gaya alay, gaya favorit kebanyakan orang kalau di pantai. Aku melakukannya 3 kali, sekali di ketinggian 5.198 m, sekali diketinggian 4,700 m dan sekali diatas ketinggian 4.200 m. Halah, bukan bermaksud sombong. Tapi ya sedikitlah bangga pada diri sendiri, karena awalnya memang tidak punya keyakinan penuh pada diri sendiri. Tidak disangka saja. Di Namtso Lake.. diatas ketinggian 4 700- an m. Beginilah pengalamanku, berbeda banget dengan pengalaman yang dari traveler yang sudah pernah kesana, dari yang aku baca. Setiap orang punya kondisi badan yang berbeda. Tidak bisa disamakan. Yang tahu tentang kondisi badanmu, ya kamu sendiri. Bukan orang lain. Jadi, jika memang kamu punya impian untuk menikmati panorama super keren yang ada didunia ini, Tibet yang menjadi payung dunia, yang terkenal dengan istilah Rooftop of The World, wujudkanlah. Jangan takut. Persiapkan dengan baik. Aku yakin, kamu pasti bisa. Sekedar informasi, selama di Tibet, aku konsumsi obat penangkal AMS yang aku beli di Kathmandu, 1 butir setiap pagi, makan apel dan pisang seadanya saat sarapan di hotel, makan suplemen Omega dan vitamin C, aku kurangi makanan pedas karena khawatir sakit perut, tahulah, toilet di Cina pada umumnya, aku banyak makan sayur hijau, tidak terlalu banyak minum juga sih, padahal kalau konsumsi penangkal AMS, disarankan banyak minum air putih, tidur diatas jam 10 malam, bangun paling pagi 6 jam, paling siang jam 8, tergantung jadwal keberangkatan besoknya. Dari pakaian super lengkap, jaket tebal sampai syal hingga hanya jaket tipis buat tahan angin saja. Tidak pakai sunblock, padahal aku bawa, hasilnya, kulit wajahku terbakar. Buddhis Tibetan, dalam menjalankan ibadahnya. Sumpah, Tibet itu luar biasa indahnya. Aku sih bilang, harga yang dibayar itu setimpal dengan yang didapatkan. Selain pemandangan alamnya yang TOP – BGT, sejarah Tibet, budayanya, agamanya, orang- orangnya, lingkungannya juga tidak kalah menarik. Bagaimana orang- orang Tibet begitu taat dalam menjalani ibadahnya. Semuanya, tidak didapatkan dibelahan dunia manapun juga. Bagaimana orang Tibet yang beragama Buddha melaksanakan ibadahnya? Aku yang penganut agama Buddha saja, aku yakin, aku tidak sanggup. Aku salut sama ketulusan hati mereka, salut dengan keyakinan dan kepercayaan mereka terhadap agama dan Tuhan mereka. Pemandangan sepanjang perjalanan. Kamu harus datang dan lebih sendiri, betapa Tibet itu apa adanya. Betapa Tibet tentang pengaruhnya dari pemerintah Cina pusat, berapa Tibet yang tidak tahu menahu tentang dunia luar, tentang Tibet yang ketat banget keamanannya, terutama turis, betapa Dalai Lama, Panchen Lama dan Tibetannya. Menarik, sangat menarik. Tibet itu berbeda. Tibet, harus kamu datangi, cukup sekali saja, seumur hidupmu!!! With Love, www.ranselahok.com @ranselahok ---Semoga semua mahluk hidup berbahagia---
  17. Tanggal 4 Mei 2017. Aku sengaja naik kereta api ke Chengdu dari Lhasa. Perjalanan yang ditempuh sekitar 46 jam – an itu menyuguhkan pemandangan alam yang luar biasa. Terlebih ketika kereta baru mulai melaju sampai ketika kereta masih berada diatas ketinggian 2.000 m. Aku sempat ragu untuk mengambil rute ini, bukan karena lamanya perjalanan, lebih kepada banyaknya review yang mengatakan, semacam neraka saat ingin ke toilet. Iyalah, sepanjang 46 jam itu, yang menghabiskan 2 malam 3 hari, sudah pasti harus bolak- balik ke toilet. Kita tahu sama tahu saja, bagaimana prilaku orang lokal terhadap kebersihan yang satu ini. Nilainya NOL BESAR. Pemandangan sepanjang perjalanan. Sungguh disayangkan, Cina begitu hebat dalam hal apapun, tapi kalah telak tentang kebersihan toilet. Sudah menjadi rahasia umum, jika kamu akan mendapatkan zonk besar ketika masuk ke toilet. Aroma yang super menyengat akan menyambutmu. Dimanapun itu, termasuk sepanjang trip aku di Tibet, beberapa kali mendapatkan zonk yang tidak bisa dihindari. Karena itu, lebih baik carilah toilet alam. Itu lebih manusiawi. Rasa keingintahuan aku lebih besar dibandingkan dengan keraguan dan kekhawatiran akan joroknya isi toilet didalam kereta. Masa bodoh-lah. Akhirnya seminggu sebelum berangkat dari Jakarta, aku menghubungi travel agent yang mengurus perjalananku selama di Tibet, untuk membantuku membeli tiket kereta. Kenapa tidak beli online sendiri saja? Ya, kamu bisa online kok. Kemaren itu, waktu sudah mepet, terus jika beli online, kamu tidak bisa pilih tempat tidur. Artinya, itu secara sistem akan menentukan. Nasib baik saja, jika kamu bisa menempati bagian bawah. Kenapa harus bawah? Jelas, bagian bawah itu lebih leluasa, lebih lega, punya jendela besar, colokan listrik juga dekat dan tidak perlu memanjat. Setahu aku, ada pilihan untuk 4 orang dan untuk 6 orang, baik soft sleeper maupun hard sleeper, kemudian ada pilihan tempat duduk juga. Bayangi saja sendiri, kalau harus duduk selama 46 jam. Aku sendiri pilih 1 kamar isi 4 orang. Dan berdoa sekuat tenaga supaya tidak sekamar dengan orang lokal, hahaha… takut saja, kalau dia tiba- tiba bisa kencing atau eek dalam kamar. Mati gak loe kalau sampai seperti itu? Berempat juga tidak terlalu berisik jika memang harus sekamar dengan mereka. Karena bantuan travel agent, aku pastikan mereka untuk membeli tiket tempat duduk bagian bawah. Bantuan itu bukan tanpa pamrih, harga tiket keretaku lebih mahal dibandingkan dengan jika beli secara online. Ya sudahlah. Ketika baru memasuki ruang tunggu, ya ampun, satu ruangan penuh isinya penduduk lokal, sebagian besar dari mereka adalah dari kampung gitu. Dari cara berpakaian kan bisa ditebak. Alamak, semoga saja selama 46 jam itu, aku tidak mendapatkan pengalaman seperti yang banyak orang alami. Kereta berangkat jam 18.20 waktu setempat, jam 17.45, penumpang baru dipersilahkan masuk ke kereta. Deg- deg- an menemaniku mencari gerbong dan nomor kamar yang tertera ditiket. Okey, interior-nya okey, bersih, tidak bau, ada wastafel, ada colokan listrik, TIDAK ADA WIFI. Disediakan air minum, aku sih bilang bersih, ada air panasnya juga. Tempat aku menghabiskan 44 jam selama perjalanan. Setelah taruh tas, hal pertama yang aku lakukan selanjutnya adalah periksa toilet. Halah… belum dibuka. Selama kereta tidak jalan, toilet tidak boleh digunakan. Kemudian, aku menanti datangnya teman sekamar lainnya, sisa 2 orang yang menempati bagian atas. Tidak muncul- muncul juga sampai kereta jalan. Yiha… artinya, malam pertama bebas. Tidur bisa nyenyak dan khawatir hal- hal aneh akan terjadi. Baru setelah hari kedua, entah dari stasiun mana dari kota apa, naiklah satu mama muda bawa anaknya yang berumur sekitar 3 tahun, ketok- ketok pintu. Yups, mereka menempati tempat tidur bagian atas. Pikiranku mulai kacau, mampus, bawa anak kecil lagi. Bisa- bisa, emaknya suruh anaknya pipis saja di kamar. Ya, gimana dong, sudah terlanjur baca review negatif, wajar dong kalau aku sampai parno sebegitunya. Dari mereka naik, menjadi teman sekamar, hingga mereka turun entah di stasiun apa keesokan harinya, tidak terjadi satu hal aneh apapun. Mereka lebih banyak berada diluar kamar, makan juga diluar, ngobrol dengan orang lokal lainnya. Mama muda ini lumayan bersih, ya, sopan juga, beretika baik. Entah mungkin dia malu karena sekamar dengan turis atau entah apa, atau mungkin dia pembawaannya seperti itu, bersih dan berbeda dengan teman- teman senegaranya. Koridor, bisa duduk santai menikmati pemandangan.. Dari Lhasa, kereta berangkat tepat jam 18.20, kemudian aku harus transit di stasiun Xi Ning, bagi yang ingin melanjutkan perjalanan, kalau aku jelas, ke Chengdu. Pindah kereta, gerbong dan nomor kamar juga tetap sama seperti tiket yang telah dibeli. Jadi tidak perlu rebutan. Aku pindah kereta tepat setelah 21 jam perjalanan dari Lhasa. Selama perjalanan, kereta berhenti dibeberapa stasiun untuk menurunkan penumpang dan ambil penumpang baru lagi. Setelah mama muda itu turun, tidak berapa lama, naiklah satu anak muda tanpa bawa apapun. Ya inilah... Karena khawatir toiletnya banyak zonk, aku hanya banyak minum, makan pop mie dan ngemil biskuit. Tidak berani beli nasi yang dijual di kereta, pedas semua. Kalau sampai sakit perut, bisa berabe. Kalau cuma kencing saja, ya sudahlah, paling tahan napas, jangan lihat ke bawah. Tentang zonk yang ada di toilet, bahkan ada yang bahas, dia menemukan banyaknya zonk bertebaran diluar toilet, kenapa? Mungkin karena tidak tahan lagi, didalam toilet masih ada orang, mau tidak mau, ya eek diluar toilet. Kebayang gak sih kamu? Ini cerita orang. Pintu kedua, toilet. Yang aku alami, Bersyukur banget, semuanya tidak separah itu. Mendapati teman sekamar yang bersih dan tidak berisik, anaknya juga tidak rewel, tidak kencing sembarangan, tidak buang sampah sembarangan. Toiletnya juga tidak seperti yang dialami traveler lainnya. Memang, ada toilet yang baunya minta ampun, tapi tidak ada zonk, ada toilet yang ada zonk-nya, tapi bukan dalam jumlah yang luar biasa, semacam muncratan atau sisa-an karena flush-nya tidak berfungsi dengan baik. Kayak seperti flush di toilet pesawat gitu. Ada juga toilet yang tidak bau dan tidak ada zonk-nya sama sekali. Jadi aku bilang, aku cukup beruntung selama 46 jam perjalanan dari Lhasa ke Chengdu dengan menumpang kereta api. Tidak ada pengalamanan seseram itu, tidak ada zonk diluar toilet. Bisa tidur nyenyak 2 malam berturut- turut, bisa kerjakan laporan dan bisa menulis artikel seperti sekarang ini. Cina itu hebat, Entah sudah berapa puluh kali kereta ini melewati terowongan, artinya, entah sudah berapa puluh kali kereta ini menembus gunung. Mereka sanggup membuat perjalanan ini menjadi perjalanan tidak terlupakan. Tidak heran, kenapa banyak traveler yang bilang, tidak salahnya untuk mencoba rute ini. Karena memang, semuanya telah diperhatikan dengan baik oleh pemerintah. Dari view yang akan disuguhkan, dari tata letak kamar tidurnya dengan desain jendelanya yang bisa mendapatkan pemandangan alam semesta yang indahnya sudah tidak bisa tertandingi lagi. Pemandangan sepanjang perjalanan. Aku, Puas banget dengan keputusanku mengambil rute ini. Pengalaman sekali dalam seumur hidup. Cukup sekali dalam seumur hidupku. Harga tiket kereta lebih mahal dari tiket pesawat Lhasa – Chengdu. Tapi pengalamannya, apa yang didapatkannya, jauh berbeda antara naik kereta dengan naik pesawat. Sama seperti, ketika dari Kathmandu, Nepal ke Lhasa, pengalaman itu juga cukup sekali dalam seumur hidupku. Pemandangan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata- kata ketika pilot menurunkan secara perlahan pesawat sampai berada sekitar 2000 m diatas pegunungnan Himalaya. Memang, ketika itu, tidak terlalu jelas, karena sebagian besar gugusan gunung Himalaya tertutup awan tebal. Tapi, kami semua, semua penumpang pesawat itu, bisa melihat dari dekat, puncak Everest. Darahku berdesir kencang, senang, seru dan tegang bercampur aduk menjadi satu. Kebayang, pesawat diturunkan secara perlahan, badan pesawat terasa sekali diguncang angin. Sambil jeprat- jepret, doa juga terus dipanjatkan. Hahahah… Begitu juga, saat pesawat mulai meninggalkan gugusan gunung tertinggi didunia itu dan mulai terbang naik ke ketinggian normal, apa yang didapatkan tidak kalah dengan pemandangan dari Himalaya. Terlebih lagi, ketika mulai memasuki wilayah Tibet, sungguh luar biasa Tuhan, sungguh tiada ada tandingan-Nya lagi. Tuhan sungguh maha besar. Tuhan, Sang Pencipta. Aku semakin tegang, saat pilot mengumumkan kalau pesawat akan segara mendarat di Lhasa. Serius, aku tegang. Biasanya kan kalau sudah diumumkan demikian, ya pesawat tinggal ambil posisi lurus dan semakin menurun. Ini tidak…. Pesawat harus manuver dulu, pesawat dimiringkan dulu ke kiri, terus ke kanan, ya kek gitu, untuk menghindari gunung – gunung yang mengelilingi Lhasa, ya baru kemudian perlahan turun sambil badan pesawat masih dimiringkan sesuai dengan lapangan yang ada. Hingga pada akhirnya, badan pesawat benar- benar dalam posisi lurus ( entahlah, kalau istilah penerbangannya apa ), baru kemudian pesawat mendarat dengan sempurna, dengan panjang runway yang tidak seberapa itu. Pemandangan sepanjang perjalanan. Dengan demikian, Jalur penerbangan dari Kathmandu ke Lhasa yang diyakini sebagai penerbangan tercantik didunia dan jalur darat kereta api dari Lhasa ke Chengdu yang diyakini menjadi jalur kereta api yang menyuguhkan pemandangan alam super indah dan sebagai jalur kereta api tertinggi didunia hingga saat ini, aku telah mengalaminya. Ya, sekali lagi, cukup sekali dalam seumur hidupku. Jika punya kesempatan kedua, berarti bonus. Pemandangan barisan Himalaya, dari atas pesawat dari Kathmandu ke Lhasa, Dan, Ternyata, aku sampai di Chengdu 2 jam lebih cepat dari jadwal. Artinya, hanya 44 jam saja dari Lhasa ke Chengdu. Setelah melewati beberapa gerbong kereta saat mau keluar, aku baru sadar, orang- orang yang aku temui ketika masih di ruang tunggu di Lhasa Railway Station itu ada digerbong yang pakai tempat duduk atau 4/6 hard sleeper. Itulah sebabnya, apa yang sering aku baca tentang zonk itu tidak aku alami separah itu. Karena tidak satu gerbong bareng mereka. With Love, @ranselahok www.ranselahok.com ---Semoga semua mahluk hidup berbahagia---
  18. Tanggal 27 Agustus 2016. Sebelum mengakhiri trip ke Bangkok kemaren, aku mengunjungi pasar terapung yang lebih keren disebut dengan floating market. Singkat cerita, aku ke Amphawa Floating Market yang butuh perjalanan darat sekitar 2 jam dari Bangkok. Aku sih naik van. Sama seperti ke Ayutthaya sebelumnya, naik van-nya juga dari Victory Monument. Tinggal tanya saja, ,mau ke Amphawa Floating Market, beli tiketnya dimana? Pasti, diarahin sama orang yang ada disana. Harga tiket van 100 Baht per orang. Sudah menjadi kebiasaan, mengkhayal juga aku lakukan selama perjalanan dari Bangkok sampai ke tujuan. Selain untuk mengusir bosan dan membangkitkan semangat, ya biar tidak terasa saja, eh.. tak tahunya sudah tiba.. gitu ceritanya. Oh ya kenapa ke Amphawa, bukan ke Damnoen Saduak Floating Market? #tanyakenapa? Oleh seorang teman Couchsurfing yang paham betul tentang Bangkok, dia menyarankan, Amphawa Floating Market lebih alami, dalam arti, masih terasa lokalnya. Kalau Damnoen Saduak sudah ramai banget dan penuh dengan turis. Intinya, turis asing banget-lah. Sedangkan Amphawa, yang kesana masih turis lokal. Karena belum pernah, ya aku ikutin saja. Dan.... benar saja, seisi pasar, 95% turis lokal. Aku tiba disana sekitar jam 12-an. Langsung saja jalan sesuka hati, ikutin langkah kaki yang menaati perintah dari mata. Yups, yang jualan Thai, yang beli mostly juga Thai. Mereka ya sahut-sahutan tidak jelas. Hahaha.. #akunyayangtidakngerti... Belanja? Tentu tidak.. Makan? Iya... Sebenarnya, yang buat menarik hati untuk bisa sampai di Amphawa adalah ada satu vihara Sang Buddha yang sudah tua dan bangunannya dililit oleh akar- akar pohon. Sebelum ikut tour yang memakan waktu 3 jam itu, aku keliling sejenak seisi pasarnya. Makan nasi goreng Thai yang dibungkus pakai daun teratai. Dan makananan ini yang paling aku suka selama di Thai pada trip kemaren itu. Model dan jenis makanan baru yang pernah aku temukan. Jadi tambah refrensi. Harganya 50 Baht. Isinya macam- macam. Ya nasi goreng gitu, nah tambahannya banyak banget, ada daging, telur, jatuhnya kayak nasi campur, tapi bukan nasi campur. Entahlah, lupa, apa saja isinya. Aku suka. Sambil jalan sambil makan. Tidak peduli... Paling terasa saat ikut tour keliling vihara - vihara yang ada disana. 1 kapal penuh dan aku satu- satunya turis asing. Satu kapal berbahasa Thai dan aku hanya diam dan bengong, tapi kangen situasi saat itu. Serius.... "Ketika berada disatu tempat asing dan tidak ada yang pedulikan kamu. Saat itulah, kamu akan mengerti, siapa kamu sebenarnya !!!" Tentang floating market, sebenarnya, ya sama saja. Tidak benar- benar jualan dari atas kapal sih. Ada beberapa kapal saja yang jualan dan itupun adalah seafood. Selebihnya, jualan dalam kios dan bahu jalan. Sekilas mata sih, lebih banyak jual makan dan minum. Cendramata hanya beberapa saja. Operator yang jual river tour, kabarnya operator yang bagus. Letaknya pas dekat tangga. Tentang Amphawa River Tour-nya, dibawa keliling dari satu vihara ke vihara lainnya. Wat- wat- an lagi deh. Aku tidak ingat seberapa banyak vihara yang aku lihat. Bayar 50 Baht untuk 3 jam-an. Satu - satunya yang aku ingat adalah Wat Bang Kung yang umurnya sudah ratusan tahun. Wat ini sangat ramai dan padat dengan turis lokal. Viharanya termasuk kecil dan viharanya dililit oleh akar pohon yang gede- gede. Amphawa River Tour bagiku adalah religius tour. Tour yang membawa tamunya berdoa dari satu vihara ke vihara lainnya. Dan hebatnya, turis lokal itu, semuanya, berdoa disetiap vihara yang dikunjungi. Kegiatan menarik setelah berdoa adalah menempelkan kertas warna emas ke badan patung Sang Buddha. Untuk apa? Hahaha.. kurang paham sih, asumsiku sih, mungkin biar doa-nya dikabulkan.. mungkin.. Amin... Selebihnya, ya menyusuri sungainya. Tidak ada yang special sih. Tapi tetap, menyisakan kesan dan momen tersendiri. Bukankah traveling itu bukan tentang seberapa bagus tempat yang kamu datangi, seberapa keren tempat itu, seberapa mahal dan seberapa jauh kamu pergi? Bukankah esensi traveling itu lebih ke proses dan bagaimana kamu merasakan, mengagumi, menikmati dan menyatu dengan apa yang kamu lihat ? Setelah kembali dari river tour, aku sih bilang semakin padat dan ramai. Ketika itu sudah jam 4 lewat. Dan, turis asing juga semakin banyak. Okey, karena tujuan utama sudah kelar. Artinya, saatnya pulang ke Bangkok. Tiketnya sama, 100 Baht per orang. With Love, @ranselahok www.ranselahok.com ---semoga semua mahluk hidup berbahagia---
  19. Tanggal 28 Oktober 2016 Akhirnya, sampai juga di Brunei Darussalam. Iya Brunei, tidak salah.. Memang, ada beberapa teman yang sempat bingung, ketika tahu aku mau ke Brunei. Ngapain? Hehh… ngapain ya? Aku sendiri tidak paham. Hahaha… Ya datang sajalah, aku yakin pasti ada yang dilihat, apapun itu. Sudah aku bilang, traveling itu bukanlah tentang tujuannya, tetapi lebih ke prosesnya. Tapi, hanya 1 sih, penasaran. Serius, karena penasaran. Brunei, negara kecil nan kaya raya itu, bagaimana sih isi dalamnya? Apakah sampai jalan raya juga terbuat dari emas? #inilebaybanget. Begitulah adanya, selain ingin memperjuangkan mimpi keliling ASEAN. Terwujud sudah… Jalan utama di Bandar Seri Begawan. Okey, trip Brunei termasuk trip yang minim persiapan. Baru mulai mencari informasi 2 hari sebelum berangkat dari Jakarta. Parahnya, tidak terlalu ada review yang mengulas Brunei dan isinya. Adapun, lebih banyak mengulas tempat yang wajib dikunjungi. Tentang transportasi umum, ya memang, seperti yang aku baca dari travelblogger yang sudah menapakkan jejak kakinya ke sini dulu. Hampir semua memaparkan, transportasi Brunei masih kurang. Lebih baik datang ber-group sehingga bisa sharing cost untuk urusan tranportasi buat sewa mobil biar lebih mudah mau kemana- mana. Transportasi umum di Brunei cuma ada bus, taxi sapu dan taxi. Selama trip di Brunei, aku mengandalkan bus. Sekali naik bayar 1 dollar, terserah, mau bayar pakai Dollar Brunei atau Dollar Singapore. ( Tidak tahu kenapa, mereka menerima Dollar Singapore, katanya sih, rate-nya sama). Kuantitas bus di Brunei, jumlahnya sedikit, mungkin disesuaikan dengan jumlah penduduk yang ada. Untuk mendapatkan bus, kamu butuh energi besar dan kesabaran penuh dalam menunggu bus lewat. Kalau dari review-an, mereka sih, bilang, bisa menunggu 1 jam –an, tuh bus baru nongol. Karena murah, ya mau tidak mau, harus menunggu. Tidak ada pilihan. Kecuali kamu punya kerabat, atau naik taxi yang harganya selangit. Dan aku, termasuk yang cukup beruntung. Tidak perlu mengunggu terlalu untuk sebuah bus. Dari airport, aku menghabiskan waktu 10 menit saja. Okey, kamu keluar dari pintu utama, kemudian jalan terus sampai diperbatasan trotoar, lalu belok kiri. Jalan sampai ke ujung, nah disana ada plang bertuliskan tempat tunggu bus. Bayar 1 Dollar, kamu akan diantarkan ke Bandar Seri Begawan, pusat kotanya. Lama perjalanan sekitar 30 menit-an. Entah karena jumlah penduduk yang sedikit atau apa, sepanjang perjalanan, sepi banget. Mobil yang lalu lalang juga tidak banyak. Motor, malah tidak kelihatan sama sekali. Bus berhenti di setiap halte. Hampir setiap halte, tidak ada penumpang. Bus 1 Dollar... Model bus-nya tidak mencerminkan kekayaan yang dimiliki Brunei. Hahaha… Parah sih tidak, ya cuma standart saja. Tempat duduknya yang alakadar. Informasi yang aku himpun, #jiaahhh… yang memakai bus di Brunei adalah pendatang, mereka yang datang merantau meninggalkan keluarga dikampung. Sedangkan, orang lokal Brunei, kesehariannya ya pakai mobil pribadi. Tidak heran. Bahkan setiap anggota keluarga, masing- masing punya mobilnya tersendiri. Begitupun, tidak macet. Selama di Brunei, aku naik bus kemana- mana. Sekali lagi, tidak seperti yang dialami traveler lainnya, aku tidak perlu menunggu bus sampai berjam. Paling lama ya itu, 10 menitan. Pokoknya setiap kali naik, bayar 1 Dollar, kecuali aku ke Hotel Empire, bayar 2 Dollar. Dalam bus... Setiap bus itu punya jalurnya. Tidak perlu khawatir, kalau lupa bus nomor berapa ke tujuan kamu, tinggal tanya saja sama petugas yang ada diterminal. Atau, biasanya, kan dari tempat penginapan ada informasinya juga. Dari sekian kali aku naik bus, hanya sekali saja, supir dan kondekturnya pendatang dari Malaysia. Sisanya, orang Indonesia. Jadi, pendatang jumlahnya lumayan. Dan kebanyakan kerjanya ya sebagai supir dan kondektur bus, kerja di restoran ataupun tempat jualan lainnya. Terminal Bus Bandar.. Aku tidak punya pengalaman naik taxi sapu. Tapi jangan sesekali naik taxi deh. Mahal banget. Dan itu terjadi sama aku. Nyesek banget. Ternyata ada Car Free Day di Brunei. Di kasih tahu, kalau Sulthan hari ini dijadwalkan ikut CFD disekitaran Bandar. Alhasil, semua jalan di blok. Aku tidak bisa ke airport pagi- pagi. Tidak ada bus yang operasional. Mati gak loe? Tidak ada pilihan lain, terpaksa pakai banget naik taxi. Ada argo sih, tapi supir taxinya menawarkan 20 Dollars untuk sekali jalan. Buset gak tu. Pakai bus hanya 1 Dollar loh. Tawarlah, kemudian sepakat 15 Dollars. Sakit banget ketika mau bayar. Ya ampun, itu sudah biaya makan dan naik bus kemana – mana buat seharian, dan itupun sudah bisa makan enak loh. Parah.. Bus stop di Gadong.. Oh ya, semua terminal bus ada di Bandar, sebutan untuk Bandar Seri Begawan. Semua bus akan bermuara ke situ, kalau kamu pergi dari objek wisata ke objek lainnya, ada kemungkinan, kamu harus kembali ke terminal Bandar kemudian pindah bus lainnya. Tungguin postingan tentang Brunei-nya ya....!!! With Love, @ranselahok www.ranselahok.com ---semoga semua mahluk hidup berbahagia---
  20. Salah satu tujuan dalam paket Sand Dunes adalah mengunjungi White Sand Dunes. Hamparan padang pasir putih ini bisa dikunjungi dengan menggunakan paket tour yang dibeli dari travel agent yang ada di Muine, baca disini. Atau kamu juga bisa sewa motor, harga sewanya sih tidak tahu. Bagi kamu yang seorang pemotor, boleh coba deh. Untuk aku, tidak, apalagi setelah melihat betapa jauhnya perjalanan dari Muine ke Sand Dunes-nya, belum lagi panas terik matahari. Gempor duluan... White Sand Dunes sebenarnya menjadi objek ketiga yang dikunjungi setelah dari Fairy Stream, Fisihing Village dan Red Sand Dunes. Karena aku lebih berkesan saat di White Sand Dunes, aku tulis dulu pengalaman disini deh. Teman seperjalananku pasti bisa memahami aku, kenapa bisa begitu berkesan? Hahahaa.. " Sepanjang jalan, aku sih bilang keren walau terkesan gersang. Seingatku, selain hamparan luas yang kadang terlihat tandus, ya rumah penduduk yang jarang- jarang, pepohonan yang seadanya dan jalanan aspal yang mulus. Bawaannya ngantok euy, pengen tidur, karena angin kencang dengan bebas masuk kedalam mobil jeep berisi sekumpulan manusia. Baca disini. Tapi, matamu akan terbelalak ketika sudah setengah perjalanan. Aku tidak tahu tahu sudah sampai dimana, tidak ada plang / informasi sama sekali. Yang jelas, saat itu, suara angin yang menampar setiap inci kulitmu tidak akan terdengar olehmu dibanding pemandangan luar biasa yang ada didepanmu. Iya, pesisir pantainya, deburan ombaknya, lautnya hingga birunya langit menyulap kamu menjadi kaku karena terpesona akan indahnya alam disana." Awalnya aku tidak begitu percaya kalau White Sand Dunes itu benar- benar bagus. Biasalah, foto - foto album yang ada sama Om Google, terkadang hanya tipuan muslihat semata doank. Ternyata, diluar dari ekpektasi aku, White Sand Dunes benar- benar indah dan cantik, jauh dari bayanganku. Si @semutliclious - Ambar yang super duper keren, eitts.. masa? Tidak tahu harus bagaimana menggambarkannya, yang pasti aku merasakan, Kuasa Tuhan itu tiada taranya, Tuhan itu Maha Besar. Bagaimana bisa ya, ada setumpuk pasir yang saling mendukung, saling bahu membahu membentuk hamparan yang luas. Anehnya, pasir- pasir itu hidup, pasir- pasir itu bergerak, pasir- pasir saling menyahut, berbicara satu dengan lainnya. Tapi, setiap langkahmu diatas pasir- pasir itu tidak membuat hancur pertahanan mereka, tidak membubarkan mereka. Artinya, kamu tidak akan masuk kedalamnya, terlebih lagi, akan terkubur didalamnya. Tidak sama sekali. @apriana92 - Yeyen, cewek cantik nan jelita Manusia itu sungguh tidak ada apa-apanya. Manusia itu kecil dan tidak berdaya. Dibandingkan sang alam, Sang Penguasa Semesta, manusia itu hanya sebatas hembusan nafas. Jangan pernah melawan alam, kamu akan hancur hanya karena batuknya saja. Karena trip aku ini adalah chasing sunset, mau tidak mau, harus berpanas- panasan dibawah teriknya matahari. Pilihannya ada 2 , kamu bisa sewa ATV, sejenis motor khusus untuk padang pasir. Harga sewanya 400.000 Dong bisa untuk berdua. Pilihan lainnya adalah jalan kaki menyusuri setiap senti hamparan padang pasir itu tanpa onta. Iya, tentu jalan kaki menjadi pilihanku. Alasannya, menyatu dengan alam, sehat lagi, padahal, ngirit... Hahahaha.... Apapun itu pilihan kamu, yang penting kamu menikmati sesuai dengan caramu, pasti seru. Aku melihat mereka yang teriak- teriak heboh saat ATV turun dengan cepatnya, atau ketika ATV terjebak dalam pasir sehingga tidak bisa jalan, tetap saja seru. Memang, tidak terlalu capek banget jika kamu pakai ATV, tinggal ngegas saja, dari ujung ke ujung sebentar saja. Aku yang pakai jalan kaki, tidak kalah loh. Menikmati setiap langkahku di tengah gurun pasir. Menapak dengan mantap dan menyatu dengan lautan pasir yang telah menyulap diriku menjadi orang asing bagi diriku sendiri. Mendengarkan bisikan pasir, memandang luas tanpa ada yang membatasiku, dengan bebas, aku masuk kedalam jiwaku, mencari dan bertanya, siapa aku ini sebenarnya, apa mauku sebenarnya? Akhirnya, tetap, keraguan , ketidakpastian, ketidaktahuan yang menjadi jawabannya. Hanya jejak langkahku yang pasti kutinggalkan disana, bersama jutaan jejak langkah manusia lainnya... Kamu bisa bermain dengan pasir- pasir itu juga. Seperti yang dilakukan mereka- mereka ini. Terjun bebas dari tumpukan yang lebih tinggi. Kemudian, naik lagi, terjun lagi, merangkak lagi dan seterusnya, sesuka hatimu sampai kamu puas. Pose dengan gaya paling keren, keluarkan segala jurus andalan kamu. Nikmati saja, apapun caramu, karena ini hidupmu... Aku sampai ke puncak paling tinggi juga. Terkesan jauh dan panas, tapi, ternyata tidak, semakin tinggi aku berada, semakin dekat ke matahari, aku semakin merasa sejuk, terpaan angin semakin kencang mengalahkan sinar matahari yang menembus kulitku. Tidak terasa, ya, sama sekali tidak terasa, panasnya sang mentari sedang menunjukkan aksinya. Pasir- pasir itu juga sama, lembut, dan tidak panas untuk kamu langkahi. Dingin dan sejuk. Siapkan minuman, karena tetap saja, badan kamu akan letih. Kelelahan tetap menghampiri. Aku tidak ingat berapa lama aku ada disana. Yang aku ingat, ketika aku ingin menyelesaikan khayalanku ditengah padang pasir, aku tiba- tiba blank, kosong dan tidak tahu jalan pulang. Serius, yang ada didepan pandanganku semua sama. Aku tidak bisa membedakan dari pintu mana aku datang. Sedikit panik dan kacau. Bolak balik antara pintu 1 dan pintu 2, tetap saja tidak menemukan pohon - pohon yang berbaris rapi ketika aku datang. Aku tersesat seketika itu juga, aku mulai stress disaat langkah terakhirku. Aku hanya berpikir, teman- teman seperjalananku pasti sudah menunggu sangat lama. Perasaan tidak enak hati muncul, merasa salah dan gagal. Merasa, tidak bertanggung jawab pada waktu, pada team dan diri sendiri. Ditinggal pergi sih tidak masalah, paling, bayar lagi untuk mobil jeep, tapi ini adalah tentang toleransi waktu dan respek kepada sesama. Jangan dibilang, aku ini sesuka hati, tidak tahu waktu, tidak menghargai orang lain, membiarkan orang lain menunggu. Drama itu berakhir indah. Singkat cerita, aku diberi petunjuk jalan sama seorang driver jeep. Dengan rasa malu dan tidak enak hati yang tinggi, tidak ada kata lain, selain minta maaf sebesar-besarnya kepada teman seperjalananku ke White Sand Dunes. Bukan kesengajaanku untuk berlama- lama dan membiarkan semua menunggu. Terima kasih sudah menunggu aku kembali dengan selamat dan membiarkan saya tetap bergabung dalam team itu. Ini menjadi pengalaman baru dan tidak terlupakan. Menjadi pelajaran dalam hidupku. With Love, www.ranselahok.com IG / Twitter : @ranselahok ---semoga semua mahluk hidup berbahagia---
  21. Tanggal 9 Juni 2018. Setelah jantung berdebar- debar menunggu kepastian persetujuan Visa Kanada dari proses permohonan secara online hingga proses Visa-nya tertempel di paspor, yang mana semuanya, serba last minute. Bagaimana tidak? Baru applied online 2 minggu sebelum berangkat, baru dapat konfirmasi visa disetujui 5 hari sebelum berangkat, kemudian langsung proses di VFS untuk mendapatkan stempel visa, paspor ditangan 2 hari sebelum berangkat, dan akhirnya, baru berani issued tiket 2 malam sebelum keberangkatan. Itupun, sudah minta tolong pakai banget ke pihak VFS untuk prioritaskan paspor aku, termasuk email- emailan dengan pihak kedutaan Kanada. Penerbangan leg-1 dari Jakarta ke Singapore mulus seperti biasa. Tidak ada kendala apapun, kecuali si @skydworld, sepertinya sudah langganan berhadapan dengan pihak imigrasi Singapore karena single name di paspornya. Tidak butuh waktu lama juga sih, sudah bisa melenggang bebas masuk. Oh ya ada sedikit hiburan sih, kita kan pakai Batik Air, lucu saja, kita landed sempurna di Changi Airport sebelum crew pesawat kelar beres- beres. #Tidakpentingjuga. Penerbangan leg-2 dari Singapore ke Xiamen, sebelum melanjutkan penerbangan ke negara tujuan, Kanada. Penerbangan Singapore - Vancouver sih memang connecting flight pakai Xiamen Airline, tapi transit di Xiamen, Cina. Nah, dramanya dimulai... Saat checked in, jantung malah dibuat berdebar, ditanya, kamu ada Visa Cina tidak ? OM2G.. Visa Cina? Kan transit doang. Terus, transitnya hanya 2 jam sahaja. Secara review, umumnya transit di Cina, tidak perlu visa, terlebih lagi, transit dengan jedah waktu sesingkat itu. Tapi ini beneran!!! Kita ditanyain soal Visa Cina. Aku sendiri sih aman, kebetulan masih ada Visa Cina multiple yang seharusnya aku pakai akhir Mei kemaren, tapi tidak jadi. Ya sih si @skydworld, tidak ada persiapan sama sekali perihal Visa Cina. Dia sih sudah sempat tanya- tanya, infonya ya itu, tidak perlu Visa transit sama sekali. Proses checked in hari itu termasuk lama. Cewek kece yang bertugas sampai menelepon atasannya, untuk memastikan soal ini. Dan intinya, @skydworld ikut terbang ke Xiamen dengan catatan harus tanda- tangan 1 form, semacam form, yang memberitahukan, kalau ada apa- apa saat proses lewat imigrasi di Xiamen, maskapai tersebut tidak bertanggung-jawab, ya mungkin seperti itu isinya. Singapore - Xiamen. Ternyata, Transit di Xiamen itu butuh visa. Kenapa ? Karena, saat transit, penumpang transit wajib keluar dari imigrasi. Di Xiamen airport, tidak ada ruang transit seperti bandara international pada umumnya. Dari Singapore, kita dikasih boardingpass Singapore ke Xiamen doang, terus kita wajib check in ulang untuk mendapatkan boardingpass dari Xiamen ke Vancouver. Walaupun, bagasi kita langsung diterbangkan dari Singapore ke Vancouver, tanpa harus ambil bagasi di Xiamen kemudian check in ulang bagasi lagi di Xiamen. Proses yang lumayan aneh, tapi nyata. Karena, tidak seperti proses pada umumnya di bandara international lainnya. Prosesnya buat ribet, rempong dan deg- deg-an juga. Setelah landed di Xiamen International Airport, drama lebay selanjutnya dimulai. Ketika sudah mendapat giliran menghadap petugas imigrasi, perihal Visa masuk Cina @skydworld dipertanyakan. Proses untuk mendapatkan izin masuk walaupun cuma transit doang itu terasa cukup lama. Bolak- balik dipertanyakan, bolak- balik petugasnya bertanya ke atasannya, bolak- balik cek dokumen, bolak - balik cek ini- itu, bolak - balik tanya ini-itu. Sampai pada akhirnya, @skydworld diperbolehkan masuk Cina. Hahahaha... Masuk Cina ? Padahalkan, tidak berniat masuk Cina, kan hanya mau transit doang. Kan tidak lucu, gara- gara tidak ada Visa Cina, terus dideportasi, nah, bagaimana, liburan Kanada yang sudah didepan mata? Aku sendiri, sempat dikasih pilihan, Visa Cina yang ada mau dipakai atau tidak ? Lah, dikasih pilihan, ya sudah, aku bilang saja, aku tidak mau pakai. Aku bilang, bulan depan, aku punya rencana jalan- jalan ke Cina lagi. Prosesnya lebih cepat dibanding @skydworld. Pada intinya, kami masuk Cina ketika transit di Xiamen, kami dikasih Visa, semacam Visa On Arrival gitu, tapi tidak perlu bayar. Oh ya, menurut @skydworld, pihak imigrasi saat itu juga ada cek daftar manifest nama- nama penumpang transit dari Xiamen Airline. On board, Xiamen Airline, Singapore - Xiamen. Kesimpulannya, kalau kamu transit di Xiamen, pastikan punya Visa Cina terlebih dahulu. Atau mau pakai gaya koboi, ya kayak kita, masa bodo saja. Pura- pura tidak paham soal diperlukannya Visa transit. Tapi kalau kamu transitnya cuma 2 jam ya, kalau lebih, aku kurang paham juga. Mungkin, memang wajib punya Visa dan tidak bisa mengandalkan Visa On Arrival seperti yang kami dapatkan. Ini sesuai dengan pengalaman dan bukan berarti berlaku disemua bandara di Cina. Untuk itu, kamu perlu cek sendiri informasinya. Karena ada teman yang pernah transit di Guang Zhou, katanya tidak perlu visa sama sekali, karena tidak keluar dari imigrasi. Walaupun begitu, walaupun deg- deg-an, prosesnya santai dan tidak mencekam kok. Soalnya, sudah pasti, nama kamu pasti muncul didaftar manisfest penumpang airline bersangkutan sebagai penumpang transit. Dan untuk alasan apapun, selalu cek informasi terbaru terkait proses transit di satu negara tertentu, terutama di bandara tertentu. Kebijakan setiap tempat bisa berbeda dan bisa diperbaharui senantiasa. With Love, @ranselahok www.ranselahok.com ---Semoga semua mahluk hidup berbahagia---
  22. gag kok bro @deffa aku ke NZ kemaren itu juga pakai Airasia dan connecting kok. Airasia pasti connecting. Dia cuma transit 75 menit saja, kalau tidak salah.
  23. Kalau tidak connecting flight sudah pasti, harus ada visa OZ. hahaa bro @deffa