Jump to content
Forum Jalan2.com - Silahkan Berbagi & Bertanya Tentang Tujuan Wisata Anda

sunawang

Members
  • Content Count

    75
  • Joined

  • Last visited

7 Followers

About sunawang

  • Rank
    Tidak Baru Lagi
  • Birthday 09/29/1989

Profile Information

  • Gender
    Male
  • Location
    Solo
  • Interests
    Traveling, ngeblog, baca

Contact Methods

  • Website URL
    http://www.yukpiknik.com

Recent Profile Visitors

1,642 profile views
  1. Ada sebuah lagu yang sangat saya suka dari Bondan Prakoso and Fade2Black. Judulnya Kau Puisi. Lagu ini adalah lagu cinta yang dibawakan dengan irama rap dan pop. Pada salah satu bagian lirik lagu ini ada sebuah kalimat seperti ini: “Saat nikmati indah sunset Pantai Kuta. Hadirmu jadi pelengkapku di tata surya”. Sunset dan Pantai Kuta memang seperti sepasang sendal yang saling melengkapi. Jika salah satunya hilang, maka sendal itu tak bisa dipakai. Kalaupun bisa, akan terlihat sangat aneh dan tak enak dilihat. Bondan Prakoso and Fade2Black bukanlah satu-satunya musisi yang terinspirasi oleh keindahan sunset di Pantai Kuta. Jauh sebelum lagu Kau Puisi dibuat, Iwan Fals sudah merilis sebuah lagu berjudul Mata Dewa. Lagu ini diawali dengan sebuah lirik berbunyi “Di atas pasir senja Pantai Kuta. Saat kau rebah di bahu kiriku”. Menikmati suasana sunset di Pantai Kuta menjadi tujuan utama saya ke Bali beberapa hari lalu. Saya pernah ke Bali, namun belum pernah merasakan bagiamana suasana sunset di Pantai Kuta. Saya sangat penasaran dan ingin membuktikan sendiri apakah suasana sunset di pantai ini memang sesuai dengan ekspektasi sebagaimana yang sering diceritakan orang-orang. Setelah merasakan teriknya udara tropis di Pantai Pandawa yang biru, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Kuta. Masih ditemani Mas Fery yang hari itu menjadi guide dadakan kami selama di Bali. Kata Mas Fery, jalanan di sekitar Kuta akan sangat macet menjelang senja sehingga kita harus segera berbegas supaya tidak ketinggalan momen sunset. Mas Fery benar, setibanya di kawasan Kuta kendaraan mulai padat. Mobil yang kami tumpangi susah sekali untuk maju, padahal waktu sudah menujukkan jam 5 sore. Kalau begini terus kami akan kehilangan momen sunset karna menurut Mas Fery butuh waktu lama untuk sampai ke parkiran Pantai Kuta jika suasana sudah macet seperti ini. Akhirnya, Mas Fery memutuskan untuk memarkir kendaraan di Discovery Mall dan kami akan berjalan ke Pantai Kuta dengan terlebih dulu singgah di sebuah pantai yang berada persis di belakang mall. Kata Mas Fery, orang-orang menyebut pantai ini dengan Pantai Discovery. Pantai Discovery sendiri masih berada satu garis dengan Pantai Kuta. Hanya dibutuhkan waktu beberapa menit saja untuk sampai ke Pantai Kuta. Matahari sudah mulai beranjak turun ketika kami tiba di Pantai Discovery. Pantai ini tak jauh beda dengan Kuta: sangat landai dan luas. Hanya saja, pasirnya berwarna sedikit kehitaman namun sangat lembut. Kami menikmati suasana di pantai ini sambil berjalan santai menuju Pantai Kuta. Sebenarnya, saya tak bisa membedakan mana yang termasuk Pantai Discovery mana yang termasuk Pantai Kuta. Kata Mas Fery, ada semacam umbul-umbul yang menjadi penanda bahwa ini adalah kawasan Pantai Kuta dan itu kawasan Pantai Discovery. But, who care. Toh suasananya sama saja. Sama-sama indah. Pantai Kuta sendiri memang sangat panjang. Beberapa pantai yang masih berada satu garis dengan pantai ini antara lain Pantai Legian, Seminyak serta Jimbaran. Beruntung sekali saya hari itu karna langit sedang sangat cerah. Ternyata memang benar, suasana dan pemandangan sunset di pantai ini begitu menggoda. Pantas saja kalau banyak seniman yang terinspirasi olehnya. Momen sunset di Pantai Kuta juga tak luput dari lensa fotografer. Berkali-kali saya melihat muka-muka asing membidik dengan kamera, mengabadikan setiap momen yang mereka lihat. Pemandangan sunset di Pantai Kuta terlihat semakin dramatis ketika matahari berada tepat di atas garis horison. Dengan alat seadanya, sayapun tak melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen langka yang indah ini. Sampai akhirnya penjaga pantai meniupkan “peluit panjang”. Pertanda pengunjung dianjurkan untuk mengakhiri kegiatan di air karna hari semakin gelap. Bersamaan dengan itu, kami juga meluai berjalan meninggalkan Pantai Kuta. Melewati toko-toko serta bar di kawasan Kuta. Sumber
  2. @deffa memang ga baru-baru banget sih mas. tapi karna saya baru ke sana ya saya bilang aja baru wkwk. btw pantai pandawa ini keknya akan semakin ramai setelah semua fasilitasnya selesai dibangun. pantainya udah bagus duluah sih
  3. Memang tak bisa dipungkiri bahwa kunjungan ke Bali akan terasa kurang lengkap jika tidak ke tempat-tempat mainstream seperti Kuta atau Tanah Lot. Namun, jika mengingingkan sesuatu yang lain, kamu bisa datang ke tempat-tempat yang belum terlalu terkenal, termasuk Pantai Pandawa. Pantai Pandawa termasuk pantai baru karna baru dibuka sebagai kawasan wisata pada tahun 2012. Saat ini, kawasan di sekitar pantai ini sedang dalam tahap pengembangan. Ketika berkunjung ke sana tanggal 19 Oktober lalu, saya melihat banyak bangunan-bangunan baru yang sedang dalam tahap pengembangan. Termasuk sebuah konstruksi bangunan yang sepertinya akan dijadikan sebagai pusat perbelanjaan atau penginapan. Yang jelas, dari struktur bangunannnya saya yakin gedung itu nantinya akan dijadikan sebagai pusat keramaian. Pantai Pandawa sendiri memiliki sejarah yang panjang. Dari penjelasan singkat yang berada di tiket masuk, saya mendapat informasi bahwa pantai ini dulunya bernama Pantai Penyekjekan. Nama Pantai Pandawa sendiri dipilih oleh warga setempat bukannya tanpa alasan. Dalam cerita pewayangan, kita mengenal sosok Pandawa Lima yang terdiri atas Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Suatu ketika, Pandawa Lima pernah diasingkan ke hutan dan goa gala-gala selama 12 tahun lamanya. Perjuangan inilah yang menjadi inspirasi warga setempat. Sejak tahun 1997 hingga tahun 2010, masyarakat adat Kutuh yang tinggal di sekitar Pantai Pandawa berjuang untuk melepaskan diri dari keterasingan dengan cara membelah tebing. Perjuangan membelah tebing ini menjadi semakin epic karna tebing yang dibelah merupakan tebing batu cadas. Saat melintasi jalan mulus menuju Pantai Pandawa dan melihat tebing-tebing batu di kiri dan kanan, saya tak bisa membayangkan bagaimana susahnya saat warga setempat membelah bukit kala itu. Mas Fery – seorang teman baru yang menemani perjalanan saya dan teman-teman selama di Bali – juga sempat menyinggung tentang sejarah pantai ini. Kata mas Fery, kawasan Pantai Pandawa ini dulu merupakan kawasan terpencil dan terisolasi. Setelah dibukanya akses jalan yang memudahkan para pengunjung, dinas terkait di Bali kemudian mengembangkan pantai ini sebagai kawasan wisata baru sebagai salah satu upaya untuk memeratakan ekonomi di sektor wisata. Sebelum dibukanya Pantai Pandawa sebagai destinasi wisata, penduduk setempat kebanyakan berprofesi sebagai petani rumput laut. Kunjungan saya ke Pantai Pandawa sebenarnya juga tidak terlalu terencana. Tujuan utama saya mampir ke Bali (sebelum ke Lombok) adalah untuk menikmati sunset di Pantai Kuta yang terkenal itu. Karna jam 10.30 WITA pesawat yang saya tumpangi sudah tiba di bandara, maka saya harus mencari destinasi lain untuk menghabiskan waktu. Sayapun meminta Mas Fery untuk mengantarkan saya dan teman-teman ke Pantai Pandawa. Kebetulan, waktu tempuh Bandara Ngurah Rai – Pantai Pandawa adalah sekitar 30 s/d 45 menit. Dipotong waktu makan siang serta asumsi bahwa di kawasan Kuta jalanan akan macet, maka kami akan tiba di Pantai Kuta tepat menjelang senja. Pantainya biru, sebiru langit sore yang tanpa mendung Pantai dengan air laut berwarna biru adalah hal yang lumrah di Bali. Begitu juga dengan Pandawa. Begitu sampai, saya langsung melepas alas kaki dan menikmati suasana pantai dengan berjalan kaki. Beberapa wisatawan sedang asik dengan aktivitas masing-masing. Ada yang berjemur, ada yang bermain kano, ada pula yang hanya berlari-larian mengejar ombak. Semua tampak ceria. Aneka rupa manusia saya jumpai di Pantai Pandawa. Bule – sesuai dengan style mereka – selalu mengenakan bikini dan kancut. Seakan mereka tak peduli dengan udara panas yang menyengat. Beberapa bule ada yang asik membaca buku di bayah payung, ada juga yang asik bermain air. Sementara itu, kebanyakan wisatawan lokal hanya berfoto-foto atau duduk-duduk di warung makan. Mungkin mereka tak tahan dengan udara panas yang menyengat. Deretan Patung Pandawa yang menjadi pembeda Selain menjadikan kisah Pandawa sebagai inspirasi untuk melepaskan diri dari keterasingan, warga setempat juga mengabadikan sosok Pandawa melalui media patung. Di tebing batu menuju Pantai Pandawa terdapat 6 cekungan mirip goa. Di cekungan-cekungan itulah patung Pandawa diletakkan. Ukuran masing-masing patung sendiri cukup besar. Tingginya kira-kira 2 s/d 3 meter. Pantai Pandawa sendiri masuk wilayah Kabupaten Badung. Satu-satunya hal yang saya sesalkan saat mengunjungi Pantai Pandawa adalah perihal waktu kunjungan. Anda saja saya datang ke sana saat sore atau pagi sekalian, mungkin saya akan lebih bisa menikmati suasana. Sumber
  4. Payung mungkin hanyalah benda sederhana. Ia tak pernah benar-benar ada dalam daftar kebutuhan primer manusia. Tapi payung selalu ada pada saat yang tepat. Menjadi pelindung dari hujan, juga sengatan matahari. Payung selalu punya ceritanya sendiri. Seperti ketika seorang lelaki tiba-tiba datang membawa payung untuk seorang perempuan di tengah hujan lebat pada drama Korea, supaya terlihat heroik. Lalu, momen itu berlanjut menjadi sebuah kisah cinta yang (katanya) romantis ala drama Korea. Payung selalu memberi keteduhan. Mungkin karna itu jugalah band indie asal Jakarta, Payung Teduh menamai diri mereka dengan sebutan Payung Teduh. Memberi keteduhan lewat lagu. Saya kurang paham apa ide awal Festival Payung yang diadakan Solo. Tapi, saya menerka kalau tujuan festival ini adalah untuk membangkitkan kembali segala sesuatu yang berkaitan dengan payung. Juga untuk menghargai peran payung sebagai pemberi keteduhan dan perlindungan. Oh iya, Festival Payung merupakan sebuah festival tahunan yang ada di Kota Solo. Event ini sudah ada sejak tahun 2014 dan tahun ini memasuki tahun yang ke-3. Pada dua edisi sebelumnya saya selalu melewatkan event tersebut. Tapi tidak untuk tahun ini. Festival Payung tahun ke-3 berlangsung selama tiga hari, 23 s/d 25 September 2016. Tempatnya masih sama dengan yang dulu-dulu yakni di Taman Balekambang. Saya datang pada hari kedua pada Sabtu siang. Cuaca sedikit mendung ketika saya berangkat menuju Taman Balekambang. Tak seperti hari-hari biasanya. Jalan menuju Taman Belekambang terlihat sangat ramai oleh lalu-lalu manusia. Spot parkir tersebar di beberapa tempat. Saya langsung bergegas menuju kerumuman, berjalan menuju Taman Balekambang. Suasana serba payung sudah tampak di pintu gerbang taman. Gapura taman didekor sedemikian rupa dengan instalasi payung yang indah. Instalasi payung ini rupanya banyak tersebar di beberapa titik, didukung dengan rangkainan bambu yang telah disusun sedemikian rupa. Usai berkeliling selama beberapa menit, saya lalu berjalan menuju panggung terbuka yang juga telah didekor sedemikian rupa dengan nuansa payung. Sore nanti, akan ada pertunjukan seni serta fashion show di sini. Menonton perjunjukan seni. Itulah sebenarnya tujuan utama saya datang ke Festival Payung. Hari masih siang ketika saya duduk di salah satu sudut tribun. Pertunjukan seni masih beberapa jam lagi. Sementara panitia mempersiapkan set panggung, saya melanjutkan keliling untuk mengambil beberapa foto. Tanpa sengaja, saya bertemu dua orang travel blogger asal Jogja, Kharis dan Sitam. Kami ngobrol cukup lama dan akhirnya sepakat untuk menonton pertunjukan seni sama-sama. Mendekati sore, kami berjalan menuju panggung terbuka. Set panggung sudah selesai ditata. MC sudah berkali-kali koar-koar bahwa acara akan segera dimulai. Nyatanya, hampir lebih dari setengah jam kami duduk di tribun namun acara belum juga mulai. Sementara mendung sudah semakin gelap, hujan sepertinya hanya tinggal menunggu waktu. Kami sempat putus asa menunggu pertunjukan yang tak kunjung dimulai sampai akhirnya benar-benar goyah dan meninggalkan panggung. Dan.. sementara kami berjalan meninggalkan panggung, acara benar-benar dimulai. Sial. Kamipun bergegas kembali supaya dapat tempat duduk. Sore itu, panggung terbuka di Taman Balekambang penuh sesak oleh pengunjung. Pertunjukan seni dibuka oleh Kemlaka, kelompok musik yang menyajikan musik etnik dari berbagai daerah Indonesia. Meskipun tak benar-benar paham dengan musik yang dibawakan, saya larut dalam melodi yang mereka mainkan. Sore itu, Kemlaka berkolaborasi dengan dua kelompok penari dari Sanggar Semarak Candra Kirana yang membawakan tarian Jawa serta Pesona Nusantara yang membawakan tarian Kalimantan. Alunan musik dari Kemlaka serta gerakan-gerakan indah dari penari membuat penonton cukup terhibur dan antusias. Buktinya, meski mendung gelap masih tetap menggelayut, mereka tak beranjak dari tempat duduk sampai pertunjukan benar-benar selesai. Sampai akhirnya, waktu sudah hampir jam 5 sore. Kharis dan Sitam pamit pulang. Beberapa menit kemudian, pertunjukan benar-benar telah selesai dan saya pun juga beranjak meninggalkan Taman Belakambang. Sementara saya berjalan keluar, para pengunjung justru semakin banyak yang berdatangan. Sumber
  5. asik bangeeet. airnya juga segerrrr saya belum nyoba kalo yg nyelem mas. biasanya saya cuma renang atau snorkeling hehe. kalo tiket masuknya 15rb (weekend)
  6. Ibarat sebuah lagu, Umbul Ponggok sedang ngehits-ngehits nya. Tempat ini begitu terkenal di kawasan regional Klaten, Solo, Jogja bahkan hingga Semarang. Tak ada kata sepi untuk tempat ini, bahkan saat weekdays sekalipun. Saking ramainya, kabar terbaru menyebutkan bahwa pengelola menambah jam operasional hingga malam. Memangnya, di sana bisa ngapain aja, sih?. Bagi yang belum tahu, Umbul Ponggok merupakan sebuah kolam renang yang airnya berasal dari sumber alami yang senantiasa mengalir. Kolam ini memiliki ukuran kira-kira seluas lapangan sepak bola. Air yang dingin dan segar serta pengelolaan yang cukup baik membuat Umbul Ponggok menjadi salah satu tempat wisata yang disukai banyak orang. Jika kamu belum pernah ke Ponggok dan penasaran kegiapan apa saja, sih yang bisa dilakukan di sana. Berikut ini adalah 5 kegiatan menarik yang bisa kita lakukan. 1. Meningkatkan skill renang Jika kamu serius ingin meningkatkan skill renang, maka Umbul Ponggok merupakan tempat yang sangat ideal. Sebaliknya, jika kamu belum bisa berenang sama sekali, Umbul Ponggok bukanlah tempat yang cocok untuk belajar berenang. Kalau dihitung, kedalaman rata-rata kolam ini mungkin sekitar 2 s/d 3 meter. Di beberapa titik bahkan ada yang lebih dalam lagi. Kalau skill renangmu masih pas-pasan, Ponggok adalah tempat yang tepat untuk meningkatkan skill renangmu karna di beberapa titik di tengah kolam terdapat pelampung yang bisa kita capai setahap demi setahap. Keberadaan batu-batu besar di dasar kolam juga bisa kita jadikan tempat berpijak untuk mengambil nafas sejenak 2. Latihan menyelam Seperti yang sudah disinggung di atas, kedalaman rata-rata Umbul Ponggok sekitar 2 s/d 3 meter. Di beberapa titik, khususnya di bagian sebelah timur, bahkan mungkin lebih dalam lagi. Kedalaman seperti itu ternyata sudah cukup ideal untuk belajar menyelam. Dalam banyak kesempatan, kolam ini sering dikunjungi oleh mereka yang ingin belajar menyelam. Kedalaman di kolam ini mungkin dianggap ideal untuk mempelajari teknik-teknik dasar menyelam. 3. Berpose di dalam air Jika kamu mencari foto-foto Umbul Ponggok di Instagram dengan hashtag #umbulponggok, maka kamu akan menemukan banyak sekali foto-foto narsis para pengunjung yang sedang berpose di dalam air. Umbul Ponggok memang memiliki pemandangan underwater yang tidak biasa. Pemandangan underwater di sana terlihat cukup natural dengan dasar kolam berupa pasir serta batu-batu besar yang sudah mulai berlumut. Keberadaan ikan-ikan hias dalam berbagai ukuran turut membuat suasana naturalnya semakin terasa. Bahkan, ada operator khusus yang menyewakan jasa foto underwater di Umbul Ponggok. Beberapa properti seperti sepeda ontel, motor, layar monitor hingga tenda sering digunakan para pengunjung untuk bergaya. 4. Snorkeling Jika kamu tidak bisa berenang sama sekali namun cukup penasaran dengan Umbul Ponggok yang sedang hype, datang saja. Ada beberapa kegiatan menarik selain berenang yang bisa kamu lakukan di sana. Salah satunya adalah snorkeling. Tak perlu repot-repot membawa peralatan snorkeling dari rumah karna di Ponggok sudah tersedia banyak jasa persewaan alat-alat snorkeling mulai dari jaket pelampung hingga kacamata. Snorkeling di Umbul Ponggok kita akan disambut oleh sekumpulan ikan yang sedang berenang manja kesana kemari. Ikan yang ada di kolam ini cukup beragam. Ada yang kecil banget, ada yang seukuran badan orang dewasa (serius). 5. Foto-foto Yes, kalau kamu orang cukup narsis, Umbul Ponggok juga merupakan tempat yang cocok untuk foto-foto. Mau foto dengan pose seperti apapun, tak ada yang melarang. Jika kamu ingin mengambil foto bawah air menggunakan kamera smartphone, di Umbul Ponggok juga tersedia banyak persewaan casing kamera underwater untuk melindungi kamera dari air. Sumber
  7. @TravellingAddict enggak amburadul kok. cuman letaknya emang misah-misah cukup jauh
  8. Pernah mendengar Candi Gedong Songo? Sebuah kompleks percandian yang berada di lereng Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Candi ini sedikit banyak cukup mirip dengan Candi Arjuna di Dieng. Sama-sama berada di dataran tinggi. Candi Gedong Songo berada di lereng Gunung Ungaran pada ketinggian sekitar 1.200 mdpl. Dari beberapa titik di kompleks candi ini kita bisa melihat puncak Gunung Ungaran dengan sangat jelas. Candi Gedong Songo lebih dari sekedar candi. Candi ini tidak hanya cocok untuk dijadikan objek wisata sejarah-kultural sebagaimana candi-candi lain. Lokasinya yang berada di lereng gunung akan membuat kita sekaligus mendapatkan suasana dan pemandangan alam pegunungan yang indah. Terlebih lagi, lokasi antar candi cukup jauh sehingga kita mau tak mau harus trekking melewati jalan setapak untuk menuju masing-masing lokasi candi. Dalam perjalanan kita juga akan melewati perkebunan penduduk. Ada 9 bangunan candi yang akan kita temukan di kompleks Candi Gedong Songo. Namun, yang benar-benar masih utuh hanya ada 5 (plus sebuah candi perwara). Sisanya hanya berupa reruntuhan yang tak berbentuk. Masing-masing candi diberi nama sesuai dengan lokasinya. Candi Gedong I berada di paling bawah dekat pintu masuk sedangkan Candi Gedong V berada paling jauh dari pintu masuk, di sebuah bukit. Berikut ini adalah 4 hal penting yang perlu kamu ketahui sebelum berkunjung ke Candi Gedong Songo. 1. Candi ini ditemukan oleh pendiri Singapura Candi Gedong Songo merupakan sebuah candi bercorak Hindu. Candi ini berada di Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Lokasinya berada sekitar 25 km dari Ungaran. Sedangkan jika ditempuh dari Kota Semarang, jaraknya sekitar 45 km. Menurut catatan sejarah, candi ini ditemukan oleh Stamford Raffles pada tahun 1804. Candi ini dibangun pada abad ke-9 pada wangsa Syailendra. Stamford Raffles sendiri merupakan salah satu gubernur besar Hindia Belanda yang cukup terkenal. Ia juga dikenal sebagai pendiri negara Singapura. 2. Miskin relief Candi-candi yang ada di kompleks Candi Gedong Songo sedikit berbeda dengan candi-candi pada umumnya. Jika kita perhatikan lebih detail dari dekat pada masing-masing candi, hampir tidak ada relief yang kita temukan. Di beberapa dinding candi Hindu lain (Prambanan, misalnya), terdapat relief-relief yang menceritakan tentang filosofi tertentu. Selain relief, arca adalah sesuatu yang juga tidak akan kita temukan di candi Gedong Songo. 3. Siapkan fisik yang prima sebelum berkunjung Seperti yang sudah disebutkan di atas, Candi Gedong Songo berada di lereng Gunung Ungaran pada ketinggian 1.200 mdpl. Ada 5 buah bangunan candi yang dapat kita kunjungi di sana yang masing-masing berjarak cukup jauh. Untuk berpindah dari satu candi ke candi yang lain kita harus berjalan melewati jalanan setapak dengan track yang naik turun. So, persipkan fisik yang prima jika kamu ingin mengunjungi semua candi. Kalau tidak mau capek, ada kuda yang siap mengantarkanmu. Ada beberapa pangkalan kuda yang ada di kompleks Candi Gedong Songo. Selain di dekat pintu masuk, ada juga pangkalan kuda di dekat Candi Gedong IV. 4. Ada kolam air hangat Dalam perjalanan dari Candi Gedong III ke Candi Gedong IV dan V kita akan menemukan sebuah sumber belerang yang senantiasa mengeluarkan asap. Bau belerang cukup tajam di titik ini. Tak jauh dari sumber belerang tersebut terdapat sebuah kolam pemandian air panas alami. Dengan membayar tiket masuk para pengunjung bisa merasakan segarnya berendam di air hangat alami sebelum melanjutkan perjalanan menuju Candi Gedong IV dan V Sumber
  9. kalau candi arjuno lebih mirip candi gedong songo di Bandungan, Semarang broh. Bentar lagi ane bikin artikelnya
  10. @deffa iya mas searah sama ratu boko. pas di perempatan nanti belok kanan, kalau ratu boko kiri @GuidoFM29 kabut broh bukan asap. kemaren pas aku kesana kebetulan habis hujan jadi ketutup kabut. soalnya lokasinya candi ijo itu di bukit yg lumayan tinggi
×
×
  • Create New...