Jump to content
Forum Jalan2.com - Silahkan Berbagi & Bertanya Tentang Tujuan Wisata Anda

A Luciana Setiawati

Members
  • Content Count

    21
  • Joined

  • Last visited

  • Days Won

    1

A Luciana Setiawati last won the day on August 15 2015

A Luciana Setiawati had the most liked content!

2 Followers

About A Luciana Setiawati

  • Rank
    Baru Bergabung

Recent Profile Visitors

The recent visitors block is disabled and is not being shown to other users.

  1. Destinasi pantai dengan bebatuan granit yang menjulang tinggi merupakan ciri khas Pulau Belitung. Nama-nama seperti Tanjung Kelayang, Pulau Lengkuas ataupun Pantai Tanjung Tinggi sudah sangat familiar bagi para wisatawan yang pernah berkunjung ke Belitung. Keindahan lokasi tersebut pun sudah ramai bersliweran di media sosial. Nah, kali ini saya ingin menuliskan tentang keindahan yang tersembunyi di kawasan Gunung Tajam. Gunung Tajam sendiri merupakan gunung tertinggi di Pulau Belitung dengan ketinggian sekitar 510 meter di atas permukaan laut. Lokasinya terletak 32 KM dari Tanjung Pandan tepatnya di Dusun Air Pegantungan, Desa Kacang Botor, Kecamatan Badau. Pintu masuk ke kawasan ini ada di sebelah kanan jalan utama. Dikenal dengan nama Gunung Tajam karena bentuk bukit ini yang terlihat tajam. Karena posisinya, Gunung Tajam pernah menjadi lokasi Stasiun Relay TVRI. Menaranya masih bisa terlihat dari kaki gunung. Di lokasi ini juga terdapat makam Syekh Abubakar Abdullah yang merupakan salah seorang penyebar agama Islam di Belitong. Di kawasan Gunung Tajam terdapat sebuah air terjun yang bernama Gurok Beraye. Air terjun ini berasal dari mata air Gunung Tajam. Dari lokasi masuk kawasan Gunung Tajam kami melalui jalanan beraspal namun hanya dapat dilewati oleh satu mobil. Kami melewati kawasan hutan dengan jurang di sepanjang tepi jalanan yang kami lewati. Udara sejuk dan pemandangan yang menyegarkan menjadi hiburan menuju air terjun. Setelah sampai di area parkir, kami hanya melihat sebuah motor yang diparkir dekat pintu masuk. Berbeda seperti destinasi pariwisata lain di Belitung yang kami kunjungi, area ini seperti private destination, maklum pengunjungnya hanya kami berlima. Dari area parkir, kami melewati jalanan berbatu dan jembatan kecil. Terdapat sebuah gazebo yang sudah tidak terlalu terurus dan juga kamar ganti. Suara gemericik air dan suguhan keindahan air terjun yang jatuh berkelok-kelok di atas bebatuan menyambut kedatangan kami. Gerimis hujan pun tidak menghalangi saya dan teman-teman untuk mengagumi keindahan lukisan Tuhan di tempat ini. Di bawah air terjun terdapat kolam yang airnya bening bagaikan cermin. Saya melihat beberapa ekor ikan yang berenang di kolam. Kolam ini boleh digunakan untuk mandi dan berenang, asalkan jangan menggunakan sabun. Guide kami bercerita bahwa saat ia masih lebih muda, ia dan kawan-kawannya sering bergelayutan di antara dahan pohon seperti Tarzan lalu terjun ke kolam tersebut. Kolam yang tepiannya terlihat dangkal ternyata cukup dalam di bagian tengah dan di bawah air terjun. Kami memutuskan untuk tidak turun ke kolam dikarenakan licin dan tidak ada yang membawa baju ganti. Cukuplah kami menghabiskan waktu menikmati keindahan Gurok Beraye yang mempesona, keheningan alam dan bersihnya udara yang kami hirup. Untuk masuk ke kawasan ini tidak ada biaya retribusi apapun. Sebetulnya, lokasi ini tidak termasuk dalam itinerary kami, walaupun saya sempat melihat keindahannya di Instagram dan saat itu berharap bisa kesini. Seperti yang dikatakan Arai di Laskar Pelangi: "Bermimpilah , karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu." maka hari itu saya tahu Tuhan memeluk mimpi saya dan menghadirkannya di hadapan mata saya. Be a responsible traveler and take only memory from every beautiful place you've visited. Salam Jalan2, Luci Saluna blog: https://purplegreensky.blogspot.co.id
  2. Sip.. Sip.. @deffa Nanti saya post di FR ya.
  3. Hola Mas Deffa, chat 2 thn lalu baru masuk notifnya Akhirnya saya dan suami jadi jalan2 ke Malang versi backpacker. Booking kamar di Air BnB cuma 180ribu per malam, dpt sarapan ala hotel krn host nya pintar masak. Kamarnya non AC tapi bagus, kamar mandi share sama host dan ada air hangat plus wify gratis. Ga jadi ke Bromo karena saya sakit pas hari pertama di Malang, akhirnya jalan2 sekitar Batu. Sewa motor 80 ribu per hari sama yg punya Kamar. Kami main ke BNS, Jatim Park, Coban Rondo dan Omah Kayu di Bukit Paralayang. Liburan hemat deh waktu itu. Pulang dari Malang lumayan dapat bahan untuk nulis artikel traveling di salah satu majalah remaja. Nah, gitu kira2 review nya, Mas Deffa. Maaf ya ketunda hampir 2 tahun.
  4. wah untung ganda ya liburannya. Dapat kenalan bule plus liburan gratis.
  5. Wah, Saya malah blm pernah nongkrong pas malam minggu, Mas @budhi sugeng. Beberapa kali saja lewat daerah sana pas malam dan memang rame ya.
  6. Wuihhh...keren banget. Dulu bolak balik Malang cuma buat meeting sama klien, ga sempat wisata. Terima kasih infonya mb @Hasdevi Agrippina Dradjat pas banget Desember mau main ke Malang.
  7. iya harganya lumayan banget, jadi kalau waktu itu kita nikmatin cafe dengan budget seadanya. Akhirnya kita pesan teh dan poffertjes Iya senimannya banyak di alun2 tapi belum pernah coba mb @samsamudro
  8. halo @areyuri salam kenal ya. Aku dua kali kemari ga langsung masuk museum tapi manfaatin waktu untuk benarsis ria di alun2 nya sebelum ramai sama pengunjung lain. Sepertinya sama ya dengan jam buka museum lain dari jam 8 pagi. Senin biasanya museum tutup. Saran saya, datang pas weekend sekitar jam 7 pagi. Foto2 dulu di alun2 sebelum ramai dan panas. Nanti jam 8-an kalau sudah mulai ramai dan panas baru masuk museum. ohh...seru juga kalau bikin lagi yah☺ Thanks infonya @deffa ayo mas @Tarmizi Arl sekali2 coba masuk. Awalnya aku juga ga suka wisata museum cuma karena suami penggemar sejarah, 'terpaksa' nemenin Kalau sekarang sdh biasa kemana2 pasti ada wisata sejarah, aku sih tetap wisata narsis
  9. Wah ada amazing race di Kota Toea ya @deffa?
  10. Terima kasih @panji vacation Iya itu dia kalau open trip waktunya terbatas tapi lumayan menghemat kantong ya.
  11. Dalam rangka memeringati ulang tahun Republik Indonesia yang 70 tahun, saya terinspirasi untuk menuliskan sebuah catatan perjalanan ke Museum Fatahillah. Museum ini terletak di kawasan Kota Tua. Tepatnya di Jln. Taman Fatahillah 1, Jakarta. Museum Fatahillah merupakan sebuah bangunan kuno yang pernah menjadi Balai Kota pada jaman kolonialisme Belanda. Bangunan tersebut juga berfungsi sebagai pusat administrasi dari VOC atau Kantor Urusan Dagang Hindia Belanda pada abad 18. Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini beralih fungsi menjadi kantor Gubernur Jawa Barat. Tahun 1970 barulah bangunan bersejarah ini digunakan menjadi pusat pemerintahan Kota Jakarta. Di dalam museum terdapat berbagai koleksi peninggalan kolonial Belanda dan ada juga beberapa prasasti dari kerajaan kuno di Indonesia yaitu Tarumanegara. Salah satu koleksi Museum Fatahillah Di tengah bangunan terdapat sebuah lapangan yang terdapat patung Hermes yang menurut mitos Yunani kuno merupakan dewa pengantar pesan (Messenger God). Replika dari patung tersebut dapat ditemukan di jembatan Jln. Djuanda. Pose di depan patung Hermes Di belakang lokasi patung tersebut terdapat juga penjara bawah tanah yang digunakan pada jaman penjajahan Belanda. Dulunya di lokasi lapangan terbuka ini diletakan sebuah meriam yang bernama meriam si Jagur, namun sejak beberapa tahun lalu meriam tersebut dipindahkan ke luar lokasi bangunan, tepatnya berada di sebelah Café Batavia. Meriam Si Jagur Di sekeliling luar Museum juga terdapat beberapa museum seperti Museum Wayang dan Museum Bank Mandiri. Di bagian luar Museum Fatahillah terdapat sebuah alun-alun atau dikenal dengan nama Taman Fatahillah. Di alun-alun ini seringkali menjadi lokasi para fotografer mulai dari keperluan narsis sampai untuk portofolio. Banyak yang menyewakan sepeda berwarna-warni untuk berkeliling areal Museum bahkan sampai ke Pelabuhan Sunda Kelapa yang tidak jauh dari Museum. Pengunjung dapat menyewa sepeda selama 1 jam dengan tarif kurang lebih Rp 60.000, jika memilih dibonceng menggunakan ojek sepeda maka tarifnya lebih mahal. Areal sekeliling Museum merupakan lokasi yang bagus untuk berfoto dengan nuansa vintage. Di Taman Fatahillah ini juga akan kita temui beberapa seniman jalanan yang menggunakan kostum dan body painting. Beberapa dari mereka berperan sebagai tentara Indonesia, noni Belanda sampai vampire China. Pengunjung bebas berfoto dengan para seniman tersebut tanpa dikenakan tarif wajib, mereka meletakan ember untuk para pengunjung dapat memberikan tips sukarela. Museum berseberangan langsung dengan sebuah Café bernuansa vintage yaitu Café Batavia. Menu yang disuguhkan beragam, mulai dari menu tradisional Indonesia, makanan peranakan dan juga menu dari negeri kincir angin. Suasana ruangan di café ini pun cukup tematik. Harga menu di café ini dimulai dari kisaran Rp 40.000, harga yang lumayan mahal untuk kantong backpacker. Namun suasana dan rasa yang disajikan sebanding dengan harga yang dibandrol di café ini. Mr. S di depan Hall of Fame Café Batavia Poffertjes Kembali ke Museum Fatahillah. Untuk masuk ke museum, pengunjung diwajibkan membayar tiket seharga Rp 2000 untuk turis domestik dan sekitar Rp 10000 untuk turis mancanegara. Jika membutuhkan jasa tour guide, museum juga menyediakan. Pengunjung diminta untuk melepaskan alas kaki dan menggantinya dengan sandal yang sudah disediakan pihak museum. Alas kaki dapat dimasukan ke dalam tas yang telah disediakan. Setelah puas berkeliling museum, sempatkan untuk bejalan-jalan di sekitar kota tua. Ada banyak lokasi bagus untuk berfoto. Ada sebuah gang dimana mobil antik menjadi obyek foto, atau berjalan sedikit ke lokasi Toko Merah, gedung yang berwarna merah sesuai dengan namanya. Jika ingin puas menelusuri jejak Batavia, usahakan berkunjung mulai pagi hari saat cuaca masih bersahabat dan pengunjung belum terlalu ramai. Enjoy Jakarta ☺
  12. Sekali lagi terima kasih mas @Sidik Teguh untuk masukannya. Sangat bermanfaat.
  13. Terima kasih mas @Sidik Teguh untuk sarannya. Ada saran hotel melati atau homestay yang bersih dan recommended, mas?
  14. Thanks @deffa untuk sarannya. Sepertinya memang lebih asik naik motor ya.
×
×
  • Create New...