Jump to content
Forum Jalan2.com - Silahkan Berbagi & Bertanya Tentang Tujuan Wisata Anda

fxmuchtar

Members
  • Content Count

    67
  • Joined

  • Last visited

  • Days Won

    2

Reputation Activity

  1. Like
    fxmuchtar got a reaction from kyosash in Tebing Keraton? Ah Sudah Lawas. Kunjungi D' Cafe Yang Tak Kalah Keren   
    Tebing Keraton memang magnet kuat yang menarik orang untuk mengunjunginya. Tempat keren di Kampung Ciburial itu menjadi tempat pavorit untuk berfoto sambil menikmati panorama hutan yang hijau menghampar. Namun tahukah bahwa di sekitar Tebing Keraton ada tempat hangout yang tak kalah keren? Namanya D' Cafe.
     
    Seperti namanya, tempat ini adalah sebuah cafe. Cafe ini menghidangkan pemandangan indah namun pemandangan cafe khas Desa Ciburial yang menggoda. Bentang bumi yang menggetarkan jiwa, hamparan hijau dari hutan Djuanda yang keren dan usapan udara gunung yang segar.
     
    Cafe ini belum lama beroperasi sehingga belum banyak yang tahu. Pengelola cafe juga belum melakukan promosi yang gencar. Promosinya baru mouth to mouth alias getok tular alias dari mulut ke mulut. Yang datang ke Cafe ini biasanya adalah orang yang sudah atau akan ke Tebing Keraton.
     
    Bagi yang belum tahu dan ingin tahu banget jalur ke D' Cafe dan Tebing keraton bisa mengikuti jalur sebagai berikut :
    1. Memakai ojek. dari terminal dago menuju D, Cafe atau tebing keraton. Tarif kurang lebih 20 ribu - 30 ribu (mungkin bisa lebih mahal).
     
    2. Memakai mobil atau motor. Dari teminal dago menuju Tahura Ir. H. Djuanda. Sebelum masuk gerbang II belok kanan dan ikuti jalur. 300 meter sebelum Warung Bandrek di sebelah kiri ada gerbang kayu dengan rumah joglo di dalamnya. itulah D'cafe.
     
    Nah ini penampakan fotonya. (Kunjungi juga blog saya ya yang ini Fxmuchtar.blogspot.com )
     

     
     
  2. Like
    fxmuchtar got a reaction from deffa in Aprak-Aprakan (Jalan-Jalan) Ka Bosscha   
    sip sip sip...
  3. Like
    fxmuchtar got a reaction from deffa in Tebing Keraton? Ah Sudah Lawas. Kunjungi D' Cafe Yang Tak Kalah Keren   
    Tebing Keraton memang magnet kuat yang menarik orang untuk mengunjunginya. Tempat keren di Kampung Ciburial itu menjadi tempat pavorit untuk berfoto sambil menikmati panorama hutan yang hijau menghampar. Namun tahukah bahwa di sekitar Tebing Keraton ada tempat hangout yang tak kalah keren? Namanya D' Cafe.
     
    Seperti namanya, tempat ini adalah sebuah cafe. Cafe ini menghidangkan pemandangan indah namun pemandangan cafe khas Desa Ciburial yang menggoda. Bentang bumi yang menggetarkan jiwa, hamparan hijau dari hutan Djuanda yang keren dan usapan udara gunung yang segar.
     
    Cafe ini belum lama beroperasi sehingga belum banyak yang tahu. Pengelola cafe juga belum melakukan promosi yang gencar. Promosinya baru mouth to mouth alias getok tular alias dari mulut ke mulut. Yang datang ke Cafe ini biasanya adalah orang yang sudah atau akan ke Tebing Keraton.
     
    Bagi yang belum tahu dan ingin tahu banget jalur ke D' Cafe dan Tebing keraton bisa mengikuti jalur sebagai berikut :
    1. Memakai ojek. dari terminal dago menuju D, Cafe atau tebing keraton. Tarif kurang lebih 20 ribu - 30 ribu (mungkin bisa lebih mahal).
     
    2. Memakai mobil atau motor. Dari teminal dago menuju Tahura Ir. H. Djuanda. Sebelum masuk gerbang II belok kanan dan ikuti jalur. 300 meter sebelum Warung Bandrek di sebelah kiri ada gerbang kayu dengan rumah joglo di dalamnya. itulah D'cafe.
     
    Nah ini penampakan fotonya. (Kunjungi juga blog saya ya yang ini Fxmuchtar.blogspot.com )
     

     
     
  4. Like
    fxmuchtar got a reaction from baihaki1985 in Tebing Keraton? Ah Sudah Lawas. Kunjungi D' Cafe Yang Tak Kalah Keren   
    Tebing Keraton memang magnet kuat yang menarik orang untuk mengunjunginya. Tempat keren di Kampung Ciburial itu menjadi tempat pavorit untuk berfoto sambil menikmati panorama hutan yang hijau menghampar. Namun tahukah bahwa di sekitar Tebing Keraton ada tempat hangout yang tak kalah keren? Namanya D' Cafe.
     
    Seperti namanya, tempat ini adalah sebuah cafe. Cafe ini menghidangkan pemandangan indah namun pemandangan cafe khas Desa Ciburial yang menggoda. Bentang bumi yang menggetarkan jiwa, hamparan hijau dari hutan Djuanda yang keren dan usapan udara gunung yang segar.
     
    Cafe ini belum lama beroperasi sehingga belum banyak yang tahu. Pengelola cafe juga belum melakukan promosi yang gencar. Promosinya baru mouth to mouth alias getok tular alias dari mulut ke mulut. Yang datang ke Cafe ini biasanya adalah orang yang sudah atau akan ke Tebing Keraton.
     
    Bagi yang belum tahu dan ingin tahu banget jalur ke D' Cafe dan Tebing keraton bisa mengikuti jalur sebagai berikut :
    1. Memakai ojek. dari terminal dago menuju D, Cafe atau tebing keraton. Tarif kurang lebih 20 ribu - 30 ribu (mungkin bisa lebih mahal).
     
    2. Memakai mobil atau motor. Dari teminal dago menuju Tahura Ir. H. Djuanda. Sebelum masuk gerbang II belok kanan dan ikuti jalur. 300 meter sebelum Warung Bandrek di sebelah kiri ada gerbang kayu dengan rumah joglo di dalamnya. itulah D'cafe.
     
    Nah ini penampakan fotonya. (Kunjungi juga blog saya ya yang ini Fxmuchtar.blogspot.com )
     

     
     
  5. Like
    fxmuchtar got a reaction from Jalan2 in Tebing Keraton? Ah Sudah Lawas. Kunjungi D' Cafe Yang Tak Kalah Keren   
    Tebing Keraton memang magnet kuat yang menarik orang untuk mengunjunginya. Tempat keren di Kampung Ciburial itu menjadi tempat pavorit untuk berfoto sambil menikmati panorama hutan yang hijau menghampar. Namun tahukah bahwa di sekitar Tebing Keraton ada tempat hangout yang tak kalah keren? Namanya D' Cafe.
     
    Seperti namanya, tempat ini adalah sebuah cafe. Cafe ini menghidangkan pemandangan indah namun pemandangan cafe khas Desa Ciburial yang menggoda. Bentang bumi yang menggetarkan jiwa, hamparan hijau dari hutan Djuanda yang keren dan usapan udara gunung yang segar.
     
    Cafe ini belum lama beroperasi sehingga belum banyak yang tahu. Pengelola cafe juga belum melakukan promosi yang gencar. Promosinya baru mouth to mouth alias getok tular alias dari mulut ke mulut. Yang datang ke Cafe ini biasanya adalah orang yang sudah atau akan ke Tebing Keraton.
     
    Bagi yang belum tahu dan ingin tahu banget jalur ke D' Cafe dan Tebing keraton bisa mengikuti jalur sebagai berikut :
    1. Memakai ojek. dari terminal dago menuju D, Cafe atau tebing keraton. Tarif kurang lebih 20 ribu - 30 ribu (mungkin bisa lebih mahal).
     
    2. Memakai mobil atau motor. Dari teminal dago menuju Tahura Ir. H. Djuanda. Sebelum masuk gerbang II belok kanan dan ikuti jalur. 300 meter sebelum Warung Bandrek di sebelah kiri ada gerbang kayu dengan rumah joglo di dalamnya. itulah D'cafe.
     
    Nah ini penampakan fotonya. (Kunjungi juga blog saya ya yang ini Fxmuchtar.blogspot.com )
     

     
     
  6. Like
    fxmuchtar got a reaction from kyosash in Aprak-Aprakan (Jalan-Jalan) Ka Bosscha   
    Disambut oleh semilirnya angis segar, yang menelisik sela-sela dedaunan teh di perkebunan Malabar. Walau sedikit jalan menuju makamnya tidak begitu bagus namun undangan untuk mengunjunginya telah lama saya pendam. Bersama dengan dua orang muridku, Taufik Mardani dan Fahmi, kami mengunjungi Bosscha.
     
    Perjalanan mengunjungi Bosscha adalah awal perjalanan saya mengelilingi Jawa Barat bagian selatan. Santolo adalah tujuan akhir dan Bosscha adalah ketidaksengajaan. Awalnya saya ingin mengunjungi stasiun radio Malabar, namun ternyata kebablasan. Daripada balik lagi saya pilih untuk mampir ke Bosscha.
     
    Menemukan makam Bosscha, sangatlah mudah. Tanya saja di Pasar Pangalengan, orang akan menunjuk sebuah area perkebunan teh. Sampai di gerbang, Tanya lagi kepada penjaga dan dia akan menunjukan satu tempat yang sangat rindang. Mengapa perlu bertanya? Karena sedikit sekali penunjuk arah menuju makam Bosscha.
     
    Makam Bosscha berada di tengah rindangnya pohon-pohon tua di hamparan hijau perkebunan teh Malabar. Makam berasitektur Eropa masihi dirawat dengan baik. Pusaranya merupakan kubah putih yang sudah berlumut. Makamnya dikelilingi pagar. Mungkin agar makam aman dan terjaga dari hal yang tak diinginkan.
     
    Bberapa meter dari pintu pertama, terdapat prasasti bertuliskan sedikit biografi Bosscha, tanda jasa dan penghargaan yang diterima. Cukup untuk bisa memberikan informasi tentang orang tua gendut dalam foto di makam. 
    Tidak perlu membayar untuk masuk ke sini karena tak ada penunggu tiket. Hanya kepada Bah Ohim, penjaga yang selalu membersihkan makam orang biasa memberi tips. Tak ada tariff khusus. Seikhlasnya saja. Berapapun yang diberikan akan diterima dengan senyum dan keramahan.
     
    Bosscha atau nama lengkapnya Karel Albert Rudolf Bosscha lahir pada tahun 1865 di Belanda, dan wafat pada tanggal 26 November 1928 di Malabar Bandung, Jawa Barat. Dia datang ke Indonesia sekitar tahun 1887, dalam usia 22 tahun.
    Sebelum mengembangkan perkebunan teh miliknya sendiri, Bosscha membantu perkebunan teh milik pamannya Edward Julius Kerkhoven, di Sukabumi. Pada bulan Agustus 1896, Bosscha mendirikan Perkebunan Teh Malabar dan pangalengan. Bosscha menjabat sebagai Administratur selama 32 tahun. Selama itu, ia mendirikan dua pabrik teh dan menjadikan perkebunannya sebagai perkebunan yang maju. Dengan kemajuan perkebundan dan pabrik tehnya, Bosscha menjelma menjadi “Raja Teh Prianganâ€.
     
    Jika orang lebih mengenal Bosscha sebagai pemerhati astronomi ketimbang raja teh, sangatlah wajar karena Bosscha juga merupakan seorang pemerhati astronomi. Pada tahun 1923, Bosscha menjadi perintis dan penyandang dana pembangunan Observatorium di Lembang. Observatorium yang terkenal. Beberapa peninggalan lainnya yang  hingga kini bermanfaat bagi masyarakat umum seperti Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, ITB dan Rumah Sakit Mata Cicendo.
     
    Berkunjung ke makam Bosscha mengantarkan saya pada banyak hal. Tentang teh dari priangan yang pernah merajai pasar teh dunia, pada kecintaan orang asing –seperti Bosscha- pada keindahan dan kekayaan Nusantara dan… dan… Ah… akhirnya saya hanya bisa menikmati keindahan perkebunan teh Malabar ditemani oleh semilir angin gunung.
     
    Setelah dari makam, seharusnya sama mampir ke Villa Bosscha yang juga jadi museumnya, namun awan hitam yang mendatangi saya memaksa untuk segera meninggalkan Bosscha dan menuju Santolo.


    @@fxmuchtar
  7. Like
    fxmuchtar got a reaction from deffa in Aprak-Aprakan (Jalan-Jalan) Ka Bosscha   
    Disambut oleh semilirnya angis segar, yang menelisik sela-sela dedaunan teh di perkebunan Malabar. Walau sedikit jalan menuju makamnya tidak begitu bagus namun undangan untuk mengunjunginya telah lama saya pendam. Bersama dengan dua orang muridku, Taufik Mardani dan Fahmi, kami mengunjungi Bosscha.
     
    Perjalanan mengunjungi Bosscha adalah awal perjalanan saya mengelilingi Jawa Barat bagian selatan. Santolo adalah tujuan akhir dan Bosscha adalah ketidaksengajaan. Awalnya saya ingin mengunjungi stasiun radio Malabar, namun ternyata kebablasan. Daripada balik lagi saya pilih untuk mampir ke Bosscha.
     
    Menemukan makam Bosscha, sangatlah mudah. Tanya saja di Pasar Pangalengan, orang akan menunjuk sebuah area perkebunan teh. Sampai di gerbang, Tanya lagi kepada penjaga dan dia akan menunjukan satu tempat yang sangat rindang. Mengapa perlu bertanya? Karena sedikit sekali penunjuk arah menuju makam Bosscha.
     
    Makam Bosscha berada di tengah rindangnya pohon-pohon tua di hamparan hijau perkebunan teh Malabar. Makam berasitektur Eropa masihi dirawat dengan baik. Pusaranya merupakan kubah putih yang sudah berlumut. Makamnya dikelilingi pagar. Mungkin agar makam aman dan terjaga dari hal yang tak diinginkan.
     
    Bberapa meter dari pintu pertama, terdapat prasasti bertuliskan sedikit biografi Bosscha, tanda jasa dan penghargaan yang diterima. Cukup untuk bisa memberikan informasi tentang orang tua gendut dalam foto di makam. 
    Tidak perlu membayar untuk masuk ke sini karena tak ada penunggu tiket. Hanya kepada Bah Ohim, penjaga yang selalu membersihkan makam orang biasa memberi tips. Tak ada tariff khusus. Seikhlasnya saja. Berapapun yang diberikan akan diterima dengan senyum dan keramahan.
     
    Bosscha atau nama lengkapnya Karel Albert Rudolf Bosscha lahir pada tahun 1865 di Belanda, dan wafat pada tanggal 26 November 1928 di Malabar Bandung, Jawa Barat. Dia datang ke Indonesia sekitar tahun 1887, dalam usia 22 tahun.
    Sebelum mengembangkan perkebunan teh miliknya sendiri, Bosscha membantu perkebunan teh milik pamannya Edward Julius Kerkhoven, di Sukabumi. Pada bulan Agustus 1896, Bosscha mendirikan Perkebunan Teh Malabar dan pangalengan. Bosscha menjabat sebagai Administratur selama 32 tahun. Selama itu, ia mendirikan dua pabrik teh dan menjadikan perkebunannya sebagai perkebunan yang maju. Dengan kemajuan perkebundan dan pabrik tehnya, Bosscha menjelma menjadi “Raja Teh Prianganâ€.
     
    Jika orang lebih mengenal Bosscha sebagai pemerhati astronomi ketimbang raja teh, sangatlah wajar karena Bosscha juga merupakan seorang pemerhati astronomi. Pada tahun 1923, Bosscha menjadi perintis dan penyandang dana pembangunan Observatorium di Lembang. Observatorium yang terkenal. Beberapa peninggalan lainnya yang  hingga kini bermanfaat bagi masyarakat umum seperti Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, ITB dan Rumah Sakit Mata Cicendo.
     
    Berkunjung ke makam Bosscha mengantarkan saya pada banyak hal. Tentang teh dari priangan yang pernah merajai pasar teh dunia, pada kecintaan orang asing –seperti Bosscha- pada keindahan dan kekayaan Nusantara dan… dan… Ah… akhirnya saya hanya bisa menikmati keindahan perkebunan teh Malabar ditemani oleh semilir angin gunung.
     
    Setelah dari makam, seharusnya sama mampir ke Villa Bosscha yang juga jadi museumnya, namun awan hitam yang mendatangi saya memaksa untuk segera meninggalkan Bosscha dan menuju Santolo.


    @@fxmuchtar
  8. Like
    fxmuchtar got a reaction from Iskandar Alam in Menikmati Pantai Pantai Selayar   
    Selayar, sebagai salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan memiliki 130 pulau. Pantas saja kalau Kabupaten ini menahbiskan dirinya sebagai kabupaten Kepulauan. Sudah pasti dong dengan jumlah pulau yang sangat banyak ini, Selayar memiliki pantai-pantai yang ciamik. Indahnya ndak ketulungan.
    Saat kami berkesempatan ke menghadiri ultah Selayar ke 409, kesempatan menikmati pantai-pantai indah itu tak kami sia-siakan. Hampir tidak ada hari selain kami harus ke Pantai. Minimal pantai di Benteng yang sayangnya sangat kotor. sisanya ke beberapa pantai yang agak jauh. Maksudnya mencapai pantai yang indah harus agak keluar kota Benteng.
    Banyak pantai indah di Selayar ini. Orang bisa menyebut pantai Baloiya, Je’neiya, Pabadilang dan pantai timur yang saya juga belum pernah kesana. namun yang menjadi idola kami adalah Pulau Gusung sebelah barat. Pulau ini dianugrahi pantai berpasir putih yang sangat panjang. Pantainya Terkadang terpotong oleh gugusan karang yang membentuk pantai sendiri. Karena itu namanya pun berbeda-beda. Walau untuk mencapai gugusan pantai itu harus mengeluarkan uang yang cukup besar namun akan terobati setelah puas bermain di pantai.
    Untuk mencapai Gusung mau tidak mau harus sewa joloro, sampan kecil yang mampu menampung hingga 15 penumpang tergantung besar kecilnya joloro. Harga sewanya sangat murah dibanding tempat lain, hanya 350 ribu. dengan harga sebegitu joloro bisa dipakai seharian. Biasanya sih saya pakai dari jam 1 hingga sore.
    umumnya orang naik dari Kampung Padang, namun untuk ke kampung padang harus naik mobil dulu sekitar 45 menit. Akhirnya saya minta berangkat dari pasar lama Benteng. Lebih praktis dan dekat dengan rumah. Perjalanan menuju pulau gusung rata-rata sekitar 1 jam kalau tidak mampir ke spot snorkeling. Manfaatkan saja untuk snorkeling di sekitar pantai kota Benteng. masih cukup banyak spor menarik untuk dilihat.
    Setelah selesai dengan spot snorkeling, barulah kita menjelajah pantainya. Seperti saya bilang bagian barat pulau Gusung (Biasa juga disebut pulau Pasi) memiliki garis pantai yang indah jadi kita bisa milih di pantai mana saja mau menghabiskan hari. Namanya juga baru saya dengar, ada pantai Malea, Timbula dan yang paling terkenal adalah liang kareta. Rata rata pantainya landai dan berpasih putih. Kalau bukan musim barat, ombaknya pun kecil.
     
    Baloiya
     
    Yang paling eksotik memang Liang Kareta. Pantai yang membentuk sebuah ceruk sepanjang sekitar 200 meter. Dikelilingi tebing-tebing karang, membuat pantai ini seperti milik kita sendiri. asyik pokoknya. Sekarang sudah ada tangga ke atas tebing dan terseida beberapa gazebo. menginap di sini juga asyik lho. cuma tidak ada fasilitas pendukung seperti untuk air dan wc. kalau mau bab harus ke balik batu atau agak jauh ke tengah pantai.K
    karena tidak ada rumah penduduknya, maka kalau ke sini harus membawa akomodasi sendiri. Makanan, minuman bahkan tikar. Bawa kelapa muda rasanya sangat asyik sambil bercengkrama di pasir putih. Kondisi badan juga harus dipersiapkan. perjalanan yang memakan waktu 1 hingga 2 jam akan menguras kondisi fisik kita.
    Oh ya, jangan buang sampah di pantai-pantai ini ya. Jangan kotori pantai yang indah dengan sampah sisa makanan dan sebagainya. Bawa tempat sampah untuk sampah plastik. Sisa makanan organik bisa dikubur di sekitar pantai.
     
    Kata Tlang, pengemudi perahu kami, nama Pantai ini Timbula
     
     
    masih di private bech Timbula
     
     
    nemo di Gusung
     
     
    malea lea
     

     
    Liang kAreta Horeeee
       
    Dimuat juga di fxmuchtar.Blogdetik
  9. Like
    fxmuchtar got a reaction from kembali in Menikmati Pantai Pantai Selayar   
    Selayar, sebagai salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan memiliki 130 pulau. Pantas saja kalau Kabupaten ini menahbiskan dirinya sebagai kabupaten Kepulauan. Sudah pasti dong dengan jumlah pulau yang sangat banyak ini, Selayar memiliki pantai-pantai yang ciamik. Indahnya ndak ketulungan.
    Saat kami berkesempatan ke menghadiri ultah Selayar ke 409, kesempatan menikmati pantai-pantai indah itu tak kami sia-siakan. Hampir tidak ada hari selain kami harus ke Pantai. Minimal pantai di Benteng yang sayangnya sangat kotor. sisanya ke beberapa pantai yang agak jauh. Maksudnya mencapai pantai yang indah harus agak keluar kota Benteng.
    Banyak pantai indah di Selayar ini. Orang bisa menyebut pantai Baloiya, Je’neiya, Pabadilang dan pantai timur yang saya juga belum pernah kesana. namun yang menjadi idola kami adalah Pulau Gusung sebelah barat. Pulau ini dianugrahi pantai berpasir putih yang sangat panjang. Pantainya Terkadang terpotong oleh gugusan karang yang membentuk pantai sendiri. Karena itu namanya pun berbeda-beda. Walau untuk mencapai gugusan pantai itu harus mengeluarkan uang yang cukup besar namun akan terobati setelah puas bermain di pantai.
    Untuk mencapai Gusung mau tidak mau harus sewa joloro, sampan kecil yang mampu menampung hingga 15 penumpang tergantung besar kecilnya joloro. Harga sewanya sangat murah dibanding tempat lain, hanya 350 ribu. dengan harga sebegitu joloro bisa dipakai seharian. Biasanya sih saya pakai dari jam 1 hingga sore.
    umumnya orang naik dari Kampung Padang, namun untuk ke kampung padang harus naik mobil dulu sekitar 45 menit. Akhirnya saya minta berangkat dari pasar lama Benteng. Lebih praktis dan dekat dengan rumah. Perjalanan menuju pulau gusung rata-rata sekitar 1 jam kalau tidak mampir ke spot snorkeling. Manfaatkan saja untuk snorkeling di sekitar pantai kota Benteng. masih cukup banyak spor menarik untuk dilihat.
    Setelah selesai dengan spot snorkeling, barulah kita menjelajah pantainya. Seperti saya bilang bagian barat pulau Gusung (Biasa juga disebut pulau Pasi) memiliki garis pantai yang indah jadi kita bisa milih di pantai mana saja mau menghabiskan hari. Namanya juga baru saya dengar, ada pantai Malea, Timbula dan yang paling terkenal adalah liang kareta. Rata rata pantainya landai dan berpasih putih. Kalau bukan musim barat, ombaknya pun kecil.
     
    Baloiya
     
    Yang paling eksotik memang Liang Kareta. Pantai yang membentuk sebuah ceruk sepanjang sekitar 200 meter. Dikelilingi tebing-tebing karang, membuat pantai ini seperti milik kita sendiri. asyik pokoknya. Sekarang sudah ada tangga ke atas tebing dan terseida beberapa gazebo. menginap di sini juga asyik lho. cuma tidak ada fasilitas pendukung seperti untuk air dan wc. kalau mau bab harus ke balik batu atau agak jauh ke tengah pantai.K
    karena tidak ada rumah penduduknya, maka kalau ke sini harus membawa akomodasi sendiri. Makanan, minuman bahkan tikar. Bawa kelapa muda rasanya sangat asyik sambil bercengkrama di pasir putih. Kondisi badan juga harus dipersiapkan. perjalanan yang memakan waktu 1 hingga 2 jam akan menguras kondisi fisik kita.
    Oh ya, jangan buang sampah di pantai-pantai ini ya. Jangan kotori pantai yang indah dengan sampah sisa makanan dan sebagainya. Bawa tempat sampah untuk sampah plastik. Sisa makanan organik bisa dikubur di sekitar pantai.
     
    Kata Tlang, pengemudi perahu kami, nama Pantai ini Timbula
     
     
    masih di private bech Timbula
     
     
    nemo di Gusung
     
     
    malea lea
     

     
    Liang kAreta Horeeee
       
    Dimuat juga di fxmuchtar.Blogdetik
  10. Like
    fxmuchtar got a reaction from deffa in Menikmati Pantai Pantai Selayar   
    Selayar, sebagai salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan memiliki 130 pulau. Pantas saja kalau Kabupaten ini menahbiskan dirinya sebagai kabupaten Kepulauan. Sudah pasti dong dengan jumlah pulau yang sangat banyak ini, Selayar memiliki pantai-pantai yang ciamik. Indahnya ndak ketulungan.
    Saat kami berkesempatan ke menghadiri ultah Selayar ke 409, kesempatan menikmati pantai-pantai indah itu tak kami sia-siakan. Hampir tidak ada hari selain kami harus ke Pantai. Minimal pantai di Benteng yang sayangnya sangat kotor. sisanya ke beberapa pantai yang agak jauh. Maksudnya mencapai pantai yang indah harus agak keluar kota Benteng.
    Banyak pantai indah di Selayar ini. Orang bisa menyebut pantai Baloiya, Je’neiya, Pabadilang dan pantai timur yang saya juga belum pernah kesana. namun yang menjadi idola kami adalah Pulau Gusung sebelah barat. Pulau ini dianugrahi pantai berpasir putih yang sangat panjang. Pantainya Terkadang terpotong oleh gugusan karang yang membentuk pantai sendiri. Karena itu namanya pun berbeda-beda. Walau untuk mencapai gugusan pantai itu harus mengeluarkan uang yang cukup besar namun akan terobati setelah puas bermain di pantai.
    Untuk mencapai Gusung mau tidak mau harus sewa joloro, sampan kecil yang mampu menampung hingga 15 penumpang tergantung besar kecilnya joloro. Harga sewanya sangat murah dibanding tempat lain, hanya 350 ribu. dengan harga sebegitu joloro bisa dipakai seharian. Biasanya sih saya pakai dari jam 1 hingga sore.
    umumnya orang naik dari Kampung Padang, namun untuk ke kampung padang harus naik mobil dulu sekitar 45 menit. Akhirnya saya minta berangkat dari pasar lama Benteng. Lebih praktis dan dekat dengan rumah. Perjalanan menuju pulau gusung rata-rata sekitar 1 jam kalau tidak mampir ke spot snorkeling. Manfaatkan saja untuk snorkeling di sekitar pantai kota Benteng. masih cukup banyak spor menarik untuk dilihat.
    Setelah selesai dengan spot snorkeling, barulah kita menjelajah pantainya. Seperti saya bilang bagian barat pulau Gusung (Biasa juga disebut pulau Pasi) memiliki garis pantai yang indah jadi kita bisa milih di pantai mana saja mau menghabiskan hari. Namanya juga baru saya dengar, ada pantai Malea, Timbula dan yang paling terkenal adalah liang kareta. Rata rata pantainya landai dan berpasih putih. Kalau bukan musim barat, ombaknya pun kecil.
     
    Baloiya
     
    Yang paling eksotik memang Liang Kareta. Pantai yang membentuk sebuah ceruk sepanjang sekitar 200 meter. Dikelilingi tebing-tebing karang, membuat pantai ini seperti milik kita sendiri. asyik pokoknya. Sekarang sudah ada tangga ke atas tebing dan terseida beberapa gazebo. menginap di sini juga asyik lho. cuma tidak ada fasilitas pendukung seperti untuk air dan wc. kalau mau bab harus ke balik batu atau agak jauh ke tengah pantai.K
    karena tidak ada rumah penduduknya, maka kalau ke sini harus membawa akomodasi sendiri. Makanan, minuman bahkan tikar. Bawa kelapa muda rasanya sangat asyik sambil bercengkrama di pasir putih. Kondisi badan juga harus dipersiapkan. perjalanan yang memakan waktu 1 hingga 2 jam akan menguras kondisi fisik kita.
    Oh ya, jangan buang sampah di pantai-pantai ini ya. Jangan kotori pantai yang indah dengan sampah sisa makanan dan sebagainya. Bawa tempat sampah untuk sampah plastik. Sisa makanan organik bisa dikubur di sekitar pantai.
     
    Kata Tlang, pengemudi perahu kami, nama Pantai ini Timbula
     
     
    masih di private bech Timbula
     
     
    nemo di Gusung
     
     
    malea lea
     

     
    Liang kAreta Horeeee
       
    Dimuat juga di fxmuchtar.Blogdetik
  11. Like
    fxmuchtar got a reaction from Jalan2 in Menikmati Pantai Pantai Selayar   
    Selayar, sebagai salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan memiliki 130 pulau. Pantas saja kalau Kabupaten ini menahbiskan dirinya sebagai kabupaten Kepulauan. Sudah pasti dong dengan jumlah pulau yang sangat banyak ini, Selayar memiliki pantai-pantai yang ciamik. Indahnya ndak ketulungan.
    Saat kami berkesempatan ke menghadiri ultah Selayar ke 409, kesempatan menikmati pantai-pantai indah itu tak kami sia-siakan. Hampir tidak ada hari selain kami harus ke Pantai. Minimal pantai di Benteng yang sayangnya sangat kotor. sisanya ke beberapa pantai yang agak jauh. Maksudnya mencapai pantai yang indah harus agak keluar kota Benteng.
    Banyak pantai indah di Selayar ini. Orang bisa menyebut pantai Baloiya, Je’neiya, Pabadilang dan pantai timur yang saya juga belum pernah kesana. namun yang menjadi idola kami adalah Pulau Gusung sebelah barat. Pulau ini dianugrahi pantai berpasir putih yang sangat panjang. Pantainya Terkadang terpotong oleh gugusan karang yang membentuk pantai sendiri. Karena itu namanya pun berbeda-beda. Walau untuk mencapai gugusan pantai itu harus mengeluarkan uang yang cukup besar namun akan terobati setelah puas bermain di pantai.
    Untuk mencapai Gusung mau tidak mau harus sewa joloro, sampan kecil yang mampu menampung hingga 15 penumpang tergantung besar kecilnya joloro. Harga sewanya sangat murah dibanding tempat lain, hanya 350 ribu. dengan harga sebegitu joloro bisa dipakai seharian. Biasanya sih saya pakai dari jam 1 hingga sore.
    umumnya orang naik dari Kampung Padang, namun untuk ke kampung padang harus naik mobil dulu sekitar 45 menit. Akhirnya saya minta berangkat dari pasar lama Benteng. Lebih praktis dan dekat dengan rumah. Perjalanan menuju pulau gusung rata-rata sekitar 1 jam kalau tidak mampir ke spot snorkeling. Manfaatkan saja untuk snorkeling di sekitar pantai kota Benteng. masih cukup banyak spor menarik untuk dilihat.
    Setelah selesai dengan spot snorkeling, barulah kita menjelajah pantainya. Seperti saya bilang bagian barat pulau Gusung (Biasa juga disebut pulau Pasi) memiliki garis pantai yang indah jadi kita bisa milih di pantai mana saja mau menghabiskan hari. Namanya juga baru saya dengar, ada pantai Malea, Timbula dan yang paling terkenal adalah liang kareta. Rata rata pantainya landai dan berpasih putih. Kalau bukan musim barat, ombaknya pun kecil.
     
    Baloiya
     
    Yang paling eksotik memang Liang Kareta. Pantai yang membentuk sebuah ceruk sepanjang sekitar 200 meter. Dikelilingi tebing-tebing karang, membuat pantai ini seperti milik kita sendiri. asyik pokoknya. Sekarang sudah ada tangga ke atas tebing dan terseida beberapa gazebo. menginap di sini juga asyik lho. cuma tidak ada fasilitas pendukung seperti untuk air dan wc. kalau mau bab harus ke balik batu atau agak jauh ke tengah pantai.K
    karena tidak ada rumah penduduknya, maka kalau ke sini harus membawa akomodasi sendiri. Makanan, minuman bahkan tikar. Bawa kelapa muda rasanya sangat asyik sambil bercengkrama di pasir putih. Kondisi badan juga harus dipersiapkan. perjalanan yang memakan waktu 1 hingga 2 jam akan menguras kondisi fisik kita.
    Oh ya, jangan buang sampah di pantai-pantai ini ya. Jangan kotori pantai yang indah dengan sampah sisa makanan dan sebagainya. Bawa tempat sampah untuk sampah plastik. Sisa makanan organik bisa dikubur di sekitar pantai.
     
    Kata Tlang, pengemudi perahu kami, nama Pantai ini Timbula
     
     
    masih di private bech Timbula
     
     
    nemo di Gusung
     
     
    malea lea
     

     
    Liang kAreta Horeeee
       
    Dimuat juga di fxmuchtar.Blogdetik
  12. Like
    fxmuchtar got a reaction from Dimaz in Menikmati Pantai Pantai Selayar   
    Selayar, sebagai salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan memiliki 130 pulau. Pantas saja kalau Kabupaten ini menahbiskan dirinya sebagai kabupaten Kepulauan. Sudah pasti dong dengan jumlah pulau yang sangat banyak ini, Selayar memiliki pantai-pantai yang ciamik. Indahnya ndak ketulungan.
    Saat kami berkesempatan ke menghadiri ultah Selayar ke 409, kesempatan menikmati pantai-pantai indah itu tak kami sia-siakan. Hampir tidak ada hari selain kami harus ke Pantai. Minimal pantai di Benteng yang sayangnya sangat kotor. sisanya ke beberapa pantai yang agak jauh. Maksudnya mencapai pantai yang indah harus agak keluar kota Benteng.
    Banyak pantai indah di Selayar ini. Orang bisa menyebut pantai Baloiya, Je’neiya, Pabadilang dan pantai timur yang saya juga belum pernah kesana. namun yang menjadi idola kami adalah Pulau Gusung sebelah barat. Pulau ini dianugrahi pantai berpasir putih yang sangat panjang. Pantainya Terkadang terpotong oleh gugusan karang yang membentuk pantai sendiri. Karena itu namanya pun berbeda-beda. Walau untuk mencapai gugusan pantai itu harus mengeluarkan uang yang cukup besar namun akan terobati setelah puas bermain di pantai.
    Untuk mencapai Gusung mau tidak mau harus sewa joloro, sampan kecil yang mampu menampung hingga 15 penumpang tergantung besar kecilnya joloro. Harga sewanya sangat murah dibanding tempat lain, hanya 350 ribu. dengan harga sebegitu joloro bisa dipakai seharian. Biasanya sih saya pakai dari jam 1 hingga sore.
    umumnya orang naik dari Kampung Padang, namun untuk ke kampung padang harus naik mobil dulu sekitar 45 menit. Akhirnya saya minta berangkat dari pasar lama Benteng. Lebih praktis dan dekat dengan rumah. Perjalanan menuju pulau gusung rata-rata sekitar 1 jam kalau tidak mampir ke spot snorkeling. Manfaatkan saja untuk snorkeling di sekitar pantai kota Benteng. masih cukup banyak spor menarik untuk dilihat.
    Setelah selesai dengan spot snorkeling, barulah kita menjelajah pantainya. Seperti saya bilang bagian barat pulau Gusung (Biasa juga disebut pulau Pasi) memiliki garis pantai yang indah jadi kita bisa milih di pantai mana saja mau menghabiskan hari. Namanya juga baru saya dengar, ada pantai Malea, Timbula dan yang paling terkenal adalah liang kareta. Rata rata pantainya landai dan berpasih putih. Kalau bukan musim barat, ombaknya pun kecil.
     
    Baloiya
     
    Yang paling eksotik memang Liang Kareta. Pantai yang membentuk sebuah ceruk sepanjang sekitar 200 meter. Dikelilingi tebing-tebing karang, membuat pantai ini seperti milik kita sendiri. asyik pokoknya. Sekarang sudah ada tangga ke atas tebing dan terseida beberapa gazebo. menginap di sini juga asyik lho. cuma tidak ada fasilitas pendukung seperti untuk air dan wc. kalau mau bab harus ke balik batu atau agak jauh ke tengah pantai.K
    karena tidak ada rumah penduduknya, maka kalau ke sini harus membawa akomodasi sendiri. Makanan, minuman bahkan tikar. Bawa kelapa muda rasanya sangat asyik sambil bercengkrama di pasir putih. Kondisi badan juga harus dipersiapkan. perjalanan yang memakan waktu 1 hingga 2 jam akan menguras kondisi fisik kita.
    Oh ya, jangan buang sampah di pantai-pantai ini ya. Jangan kotori pantai yang indah dengan sampah sisa makanan dan sebagainya. Bawa tempat sampah untuk sampah plastik. Sisa makanan organik bisa dikubur di sekitar pantai.
     
    Kata Tlang, pengemudi perahu kami, nama Pantai ini Timbula
     
     
    masih di private bech Timbula
     
     
    nemo di Gusung
     
     
    malea lea
     

     
    Liang kAreta Horeeee
       
    Dimuat juga di fxmuchtar.Blogdetik
  13. Like
    fxmuchtar got a reaction from deffa in Menikmati Pesona Tinabo : Bersama Hiu-Hiu   
    banget... hiunya awalnya cuma lima-enam ekor... setelah feeding jadi tambah banyak. dan kita aman berenang di sekitarnya
  14. Like
    fxmuchtar got a reaction from deffa in Menikmati Pesona Tinabo : Bersama Hiu-Hiu   
    pantai tinabo yang kerena
     
    Jam 4 pagi, dan Tinabo sudah sangat terang, saya bangun untuk shalat subuh. Kusiuk air dalam ember untuk membasuh muka. Fiuuh, rasanya asin banget seperti air laut. Saya tersadar bahwa saya berada di Tinabo dimana airnya adalah air payau yang asinnya hampir sama dengan air laut.
    Setelah selesai shalat subuh, saya rebahkan badan lagi. Capeknya masih terasa di sini (nunjuk pinggang). Hampir 10 jam berada di perjalanan darat dan laut membuat badan ingin direbahkan di kasur empuk milik penjaga TN Taka Bonerate.
    Walau badan ingin istirahat namun pikiran saya terusik oleh tulisan saya sendiri di lomba yang diadakan Indonesia Travel. Di situ saya menulis, Tunggu sampai matahari menyinari semua lansekap pulau Tinabo. Seketika matahari menyinarinya, pantai pasir putih yang elok, dibelai oleh perairan pantai yang jernih membiru. Pesonanya akan membius beberapa hari. Akhirnya saya putuskan untuk membuktikan khayalan saya tentang Tinabo
    Amazing mirip, bahkan lebih indah.
     
     
    Tinabo dan pantai putihnya
     
    Saya berjalan tanpa alas kaki. Menginjak pasir putih yang terkadang lembut dan terkadang keras menusuk. Sesekali sosok si hiu yang menjadi daya tarik menghampiri. Matahari masih belum muncul tapi Tinabo sudah sangat terang. Beberapa ekor ketam laut keluar masuk ke sarangnya. Saya dekati mereka sembunyi. Saya menjauh mereka keluar. Saya terus berjalan dan tak lebih dari 30 menit mengitari Tinabo yang berpasir putih bersih.
    Sampai di cottage, sarapan sudah tersedia. Nasi, mie dan tentunya ikan menjadi menu pagi. Tak konsentrasi saya sarapan karena melihat hiu-hiu kecil sudah berdatangan di depan. Akhirnya sarapan saya bawa ke pantai sambil menikmati lenggang-lenggok hiu-hiu itu.
    Cepat-cepat sarapan saya habiskan. Tak sabar bercengkrama dengan hiu-hiu nan mungil itu. Saya ambil masker dan snorkel di kamar. Awalnya takut-takut nyemplung mendekati hiu-hiu itu sampai seorang teman nyemplung dan berjalan dengan aman dan damai.
     
     
    snorkeling bersama hiu
     
    Saya snorkelingan dikelilingi oleh ikan-ikan hiu kecil nan anggun itu. Perasaan takjub bisa berdekatan dengan ikan itu mengelilingi saya. Sesekali takut juga kalau ada hiu mendekat. Siapa tahu lihat jenggot saya tiba-tiba ikan itu mau menggigit. Tapi ternyata aman saja.
    Awalnya hiu-hiu itu bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki. Lama kelamaan hiu-hiu itu datang semakin banyak. Saatnya memberi makan mereka dengan ikan-ikan kecil yang sudah dipotong potong. Mereka berebut seperti layaknya predator memburu mangsa. Saat itu terlihat keganasannya namun tetap saja menyenangkan bisa berenang bareng mereka. Sayang saya tidak membawa kamera air sehingga tidak bisa mengabadikan mereka di bawah air. Mungkin itu pertanda kalau harus ke Tinabo lagi.
    Explorasi berlanjut ke bagian depan dermaga. Pak Muhammad Senang Sembiring dari Yayasan Kehati mengajak saya untuk snorkeling di dermaga. Tak saya tolak. Bersamanya saya snorkeling di depan dermaga. Ikannya sangat banyak karena terumbu karang masih terjaga. Visibilitas juga bagus. Hanya saja saya masih belum mendapat spot yang seperti di foto-foto. Kembali saya tergoda untuk berenang bersama hiu-hiu kecil anggun itu.
     
     
    sotong dengan damai berenang ke sana kemari
     
    Sambil berjalan menyusuri dermaga kayu, terlihat banyak jenis ikan lainnya dan sotong berenang dengan damai. Di sini memang dilarang mengganggu dan mengambil ikan karena Tinabo merupakan salah satu zona inti.
    Sambil menunggu perintah naik kapal, kami memperhatikan Pak Iwan mengambil gambar tinabo dengan menggunakan drone. Di sini ada sedikit aksiden. Ternyata dronenya kehabisan batre sehingga out of control. Untung saja pak iwan cekatan. Sambil berlari pak iwan menangkap drone yang hampir tercebur berenang bersama sotong dan ikan hiu Tinabo. Saya sempat melihat hasil shoting Pak Iwan. Sangat indah. Kapan ya saya punya drone dan go pro seperti itu? Ah kembali saja pada rumus hidup, berharap, berusaha dan tunggu keajaiban.
     
     
    hiu-hiu tinabo
     
     
    Feeding baby black tip shark
       
  15. Like
    fxmuchtar got a reaction from Dimaz in Menikmati Pesona Tinabo : Bersama Hiu-Hiu   
    pantai tinabo yang kerena
     
    Jam 4 pagi, dan Tinabo sudah sangat terang, saya bangun untuk shalat subuh. Kusiuk air dalam ember untuk membasuh muka. Fiuuh, rasanya asin banget seperti air laut. Saya tersadar bahwa saya berada di Tinabo dimana airnya adalah air payau yang asinnya hampir sama dengan air laut.
    Setelah selesai shalat subuh, saya rebahkan badan lagi. Capeknya masih terasa di sini (nunjuk pinggang). Hampir 10 jam berada di perjalanan darat dan laut membuat badan ingin direbahkan di kasur empuk milik penjaga TN Taka Bonerate.
    Walau badan ingin istirahat namun pikiran saya terusik oleh tulisan saya sendiri di lomba yang diadakan Indonesia Travel. Di situ saya menulis, Tunggu sampai matahari menyinari semua lansekap pulau Tinabo. Seketika matahari menyinarinya, pantai pasir putih yang elok, dibelai oleh perairan pantai yang jernih membiru. Pesonanya akan membius beberapa hari. Akhirnya saya putuskan untuk membuktikan khayalan saya tentang Tinabo
    Amazing mirip, bahkan lebih indah.
     
     
    Tinabo dan pantai putihnya
     
    Saya berjalan tanpa alas kaki. Menginjak pasir putih yang terkadang lembut dan terkadang keras menusuk. Sesekali sosok si hiu yang menjadi daya tarik menghampiri. Matahari masih belum muncul tapi Tinabo sudah sangat terang. Beberapa ekor ketam laut keluar masuk ke sarangnya. Saya dekati mereka sembunyi. Saya menjauh mereka keluar. Saya terus berjalan dan tak lebih dari 30 menit mengitari Tinabo yang berpasir putih bersih.
    Sampai di cottage, sarapan sudah tersedia. Nasi, mie dan tentunya ikan menjadi menu pagi. Tak konsentrasi saya sarapan karena melihat hiu-hiu kecil sudah berdatangan di depan. Akhirnya sarapan saya bawa ke pantai sambil menikmati lenggang-lenggok hiu-hiu itu.
    Cepat-cepat sarapan saya habiskan. Tak sabar bercengkrama dengan hiu-hiu nan mungil itu. Saya ambil masker dan snorkel di kamar. Awalnya takut-takut nyemplung mendekati hiu-hiu itu sampai seorang teman nyemplung dan berjalan dengan aman dan damai.
     
     
    snorkeling bersama hiu
     
    Saya snorkelingan dikelilingi oleh ikan-ikan hiu kecil nan anggun itu. Perasaan takjub bisa berdekatan dengan ikan itu mengelilingi saya. Sesekali takut juga kalau ada hiu mendekat. Siapa tahu lihat jenggot saya tiba-tiba ikan itu mau menggigit. Tapi ternyata aman saja.
    Awalnya hiu-hiu itu bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki. Lama kelamaan hiu-hiu itu datang semakin banyak. Saatnya memberi makan mereka dengan ikan-ikan kecil yang sudah dipotong potong. Mereka berebut seperti layaknya predator memburu mangsa. Saat itu terlihat keganasannya namun tetap saja menyenangkan bisa berenang bareng mereka. Sayang saya tidak membawa kamera air sehingga tidak bisa mengabadikan mereka di bawah air. Mungkin itu pertanda kalau harus ke Tinabo lagi.
    Explorasi berlanjut ke bagian depan dermaga. Pak Muhammad Senang Sembiring dari Yayasan Kehati mengajak saya untuk snorkeling di dermaga. Tak saya tolak. Bersamanya saya snorkeling di depan dermaga. Ikannya sangat banyak karena terumbu karang masih terjaga. Visibilitas juga bagus. Hanya saja saya masih belum mendapat spot yang seperti di foto-foto. Kembali saya tergoda untuk berenang bersama hiu-hiu kecil anggun itu.
     
     
    sotong dengan damai berenang ke sana kemari
     
    Sambil berjalan menyusuri dermaga kayu, terlihat banyak jenis ikan lainnya dan sotong berenang dengan damai. Di sini memang dilarang mengganggu dan mengambil ikan karena Tinabo merupakan salah satu zona inti.
    Sambil menunggu perintah naik kapal, kami memperhatikan Pak Iwan mengambil gambar tinabo dengan menggunakan drone. Di sini ada sedikit aksiden. Ternyata dronenya kehabisan batre sehingga out of control. Untung saja pak iwan cekatan. Sambil berlari pak iwan menangkap drone yang hampir tercebur berenang bersama sotong dan ikan hiu Tinabo. Saya sempat melihat hasil shoting Pak Iwan. Sangat indah. Kapan ya saya punya drone dan go pro seperti itu? Ah kembali saja pada rumus hidup, berharap, berusaha dan tunggu keajaiban.
     
     
    hiu-hiu tinabo
     
     
    Feeding baby black tip shark
       
  16. Like
    fxmuchtar got a reaction from Jalan2 in Menikmati Pesona Tinabo : Bersama Hiu-Hiu   
    pantai tinabo yang kerena
     
    Jam 4 pagi, dan Tinabo sudah sangat terang, saya bangun untuk shalat subuh. Kusiuk air dalam ember untuk membasuh muka. Fiuuh, rasanya asin banget seperti air laut. Saya tersadar bahwa saya berada di Tinabo dimana airnya adalah air payau yang asinnya hampir sama dengan air laut.
    Setelah selesai shalat subuh, saya rebahkan badan lagi. Capeknya masih terasa di sini (nunjuk pinggang). Hampir 10 jam berada di perjalanan darat dan laut membuat badan ingin direbahkan di kasur empuk milik penjaga TN Taka Bonerate.
    Walau badan ingin istirahat namun pikiran saya terusik oleh tulisan saya sendiri di lomba yang diadakan Indonesia Travel. Di situ saya menulis, Tunggu sampai matahari menyinari semua lansekap pulau Tinabo. Seketika matahari menyinarinya, pantai pasir putih yang elok, dibelai oleh perairan pantai yang jernih membiru. Pesonanya akan membius beberapa hari. Akhirnya saya putuskan untuk membuktikan khayalan saya tentang Tinabo
    Amazing mirip, bahkan lebih indah.
     
     
    Tinabo dan pantai putihnya
     
    Saya berjalan tanpa alas kaki. Menginjak pasir putih yang terkadang lembut dan terkadang keras menusuk. Sesekali sosok si hiu yang menjadi daya tarik menghampiri. Matahari masih belum muncul tapi Tinabo sudah sangat terang. Beberapa ekor ketam laut keluar masuk ke sarangnya. Saya dekati mereka sembunyi. Saya menjauh mereka keluar. Saya terus berjalan dan tak lebih dari 30 menit mengitari Tinabo yang berpasir putih bersih.
    Sampai di cottage, sarapan sudah tersedia. Nasi, mie dan tentunya ikan menjadi menu pagi. Tak konsentrasi saya sarapan karena melihat hiu-hiu kecil sudah berdatangan di depan. Akhirnya sarapan saya bawa ke pantai sambil menikmati lenggang-lenggok hiu-hiu itu.
    Cepat-cepat sarapan saya habiskan. Tak sabar bercengkrama dengan hiu-hiu nan mungil itu. Saya ambil masker dan snorkel di kamar. Awalnya takut-takut nyemplung mendekati hiu-hiu itu sampai seorang teman nyemplung dan berjalan dengan aman dan damai.
     
     
    snorkeling bersama hiu
     
    Saya snorkelingan dikelilingi oleh ikan-ikan hiu kecil nan anggun itu. Perasaan takjub bisa berdekatan dengan ikan itu mengelilingi saya. Sesekali takut juga kalau ada hiu mendekat. Siapa tahu lihat jenggot saya tiba-tiba ikan itu mau menggigit. Tapi ternyata aman saja.
    Awalnya hiu-hiu itu bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki. Lama kelamaan hiu-hiu itu datang semakin banyak. Saatnya memberi makan mereka dengan ikan-ikan kecil yang sudah dipotong potong. Mereka berebut seperti layaknya predator memburu mangsa. Saat itu terlihat keganasannya namun tetap saja menyenangkan bisa berenang bareng mereka. Sayang saya tidak membawa kamera air sehingga tidak bisa mengabadikan mereka di bawah air. Mungkin itu pertanda kalau harus ke Tinabo lagi.
    Explorasi berlanjut ke bagian depan dermaga. Pak Muhammad Senang Sembiring dari Yayasan Kehati mengajak saya untuk snorkeling di dermaga. Tak saya tolak. Bersamanya saya snorkeling di depan dermaga. Ikannya sangat banyak karena terumbu karang masih terjaga. Visibilitas juga bagus. Hanya saja saya masih belum mendapat spot yang seperti di foto-foto. Kembali saya tergoda untuk berenang bersama hiu-hiu kecil anggun itu.
     
     
    sotong dengan damai berenang ke sana kemari
     
    Sambil berjalan menyusuri dermaga kayu, terlihat banyak jenis ikan lainnya dan sotong berenang dengan damai. Di sini memang dilarang mengganggu dan mengambil ikan karena Tinabo merupakan salah satu zona inti.
    Sambil menunggu perintah naik kapal, kami memperhatikan Pak Iwan mengambil gambar tinabo dengan menggunakan drone. Di sini ada sedikit aksiden. Ternyata dronenya kehabisan batre sehingga out of control. Untung saja pak iwan cekatan. Sambil berlari pak iwan menangkap drone yang hampir tercebur berenang bersama sotong dan ikan hiu Tinabo. Saya sempat melihat hasil shoting Pak Iwan. Sangat indah. Kapan ya saya punya drone dan go pro seperti itu? Ah kembali saja pada rumus hidup, berharap, berusaha dan tunggu keajaiban.
     
     
    hiu-hiu tinabo
     
     
    Feeding baby black tip shark
       
  17. Like
    fxmuchtar got a reaction from deffa in Bus Bandros Yang Cantik Dari Bandung   
    Rame juga nih...
    Btw... Karena belum ada penjualan tiket, maka tikenya langsung dijual di atas bis. Halteunya deket-deket dengan Rumah Nenek. Bandros memang makanan khas dari kota kembang ini. Rencananya nanti akan ada 5 bis dengan warna yang disesuaikan dengan perusaahan penyumbangnya
  18. Like
    fxmuchtar got a reaction from umi shahifah in Bus Bandros Yang Cantik Dari Bandung   
    Rame juga nih...
    Btw... Karena belum ada penjualan tiket, maka tikenya langsung dijual di atas bis. Halteunya deket-deket dengan Rumah Nenek. Bandros memang makanan khas dari kota kembang ini. Rencananya nanti akan ada 5 bis dengan warna yang disesuaikan dengan perusaahan penyumbangnya
  19. Like
    fxmuchtar got a reaction from umi shahifah in Bus Bandros Yang Cantik Dari Bandung   
    Tak mau kalah dengan Jakarta, kini Bandungn punya bus wisata yang asyik untuk dinaiki mengelilingi kota. Inilah Bandung Tour On Bus atau lebih populer disebut Bus Bandros, yang keren!

    "Awaas, ranting, awas kabel", teriak Apri pemandu Bus Bandros yang siang itu menemani kami. Harap maklum ya, karena di Bandung ranting pohon dan kabel listrik berseliweran cukup dekat dengan atap bus. Penutup atap yang tersedia juga tidak bisa dipakai karena akan bertabrakan dengan kabel dan ranting pohon. Jadi selain berwisata, bisa jadi berwisata dengan bus Bandros ini menguji keahlian halang rintang.

    Bus Bandros adalah bus wisata unik yang dibuat untuk berwisata keliling Bandung. Dengan tiket Rp 10.000, kita sudah bisa berkeliling Bandung dan mengenali beberapa spot-spot bersejarah. Bus ini melayani rute yang sangaat panjang dan jauh, karena akan melewati berbagai pulau dan propinsi. Tak percaya?

    Rute Bandros meliputi beberapa daerah bersejarah kota Bandung seperti Jalan Diponegoro, Sulanjana, Dago, Merdeka, Lembong, Asia Afrika, Braga, lembong (lagi, dan menuju), Sunda, Sumbawa, Flores, Riau. Benar-benar jauh bukan? hehehe...

    Ketika saya mencoba naik bus ini, ternyata sudah banyak yang menunggu. Kapasitas yang cuma 40 orang itu mengharuskan saya ikut di trip kedua, padahal sudah antri dalam panas dan terik matahari. Nah, ada masukan nih dari pengunjung supaya disediakan shelter dan tempat tiket agar naik bus ini jadi lebih nyaman dan tidak berebutan.

    Akhirnya saya menunggu giliran di Taman Kandaga Puspa sambil melihat-lihat keindahan Taman Kandaga Puspa yang saat ini terlihat sangat merana. Padahal ketika dibuka beberapa bulan lalu, saya menyebut Taman ini sebagai taman terindah di Kota Bandung.

    Banyak bunga yang mati kekeringan karena tidak terawat. Demikian juga anggrek-anggrek yang ditempel dipohon, padahal di antara anggrek-anggrek yang ditempel itu adalah anggrek yang langka. Kabarnya memang pengelolaan taman ini berdasarkan sukarela saja dan tidak ada pembiayaan dari Pemda. Setelah menanti sekitar satu jam, akhirnya Bus Bandros datang.

    Saya yang naik pertama kali, namun karena banyak yang ingin ke atas, saya pun mempersilahkan yang datang dari jauh untuk di atas. Pengguna bus memang bukan dari Bandung saja, ada yang dari Jakarta dan Makasar yang sengaja datang mencoba bus ini. Saya duduk di tangga padahal ada tulisan Dilarang duduk di tangga, Indonesia banget ya.

    Setelah mengambil beberapa foto di bagian atas sambil mendengar Apri berteriak-teriak mengingatkan penumpang agar terhindar dari ranting dan kabel, saya turun lagi dan mendekat ke arah supir.

    Di tiap jalan yang dilewati, bus merah menyala ini berhasil mencuri perhatian orang. Banyak orang yang mengambil foto, melambaikan tangan atau sekedar melongok takjub. Bus Bandros ini memang baru beberapa bulan diluncurkan.

    Rencananya nanti akan ada tiga bus Bandros dengan tiga warna yaitu merah, kuning dan biru. Warna itu disesuaikan dengan perusahaan yang memberikan mobil ini. FYI, mobil ini beroperasi tidak menggunakan APBD jadinya penumpang musti bayar agar operasional mobil ini lancar.

    "Kan mobil ini perlu bensin, oli dan pemeliharaan suku cadang", ujar Apri.

    Bus Bandros berjalan mengikuti aliran lalu lintas Bandung yang cukup padat hari itu. Apri juga dengan lancar menjelaskan beberapa hal sekitar Bandung, cukup untuk yang baru namun kurang mendalam. Mungkin karena Mobil Bandrosnya berjalan terus memaksa Apri untuk menjelaskan hal lainnya berkaitan dengan tempat, padahal penjelasan yang sebelumnya belum begitu lengkap.

    Misalnya saja ketika lewat jalur Asia-Afrika yang sarat dengan peninggalan bersejarah, Apri tak bisa menjelaskan semuanya karena mobil berjalan terus. Apri hanya menjelaskan Bandung KM 0 dan Gedung Asia Afrika saja, padahal di situ ada banyak yang bisa dijelaskan. Mulai dari Hotel Preanger, Human, Kantro PR, PLN, Mayestik dan termasuk Mesjid Raya Bandung.

    Menurut saya, sebaiknya di titik itu (dan beberapa titik) mobil berhenti dahulu sehingga pemandu bisa menjelaskan secara lebih detail tentang kota Bandung. Mengenai rute juga saya mengusulkan agar jangan berbelok langsung ke kanan dari gedung Asia Afrika, setidaknya belok dari kantor pos baru belok Banceuy dan menuju Braga. Cukup banyak spot bersejarah yang sayang kalau dilewatkan.

    Perjalanan dengan Bus Bandros trip kali ini memang lengkap dengan bajigurnya. Hujan sangat deras mengguyur Bandros yang tak beratap. Yang di atas segera turun menjejali bagian bawah, jadinya sangat padat. Di tengah kepadatan seperti itu muncul celetuk-celetuk ringan dan menyegarkan udara yang sudah dingin.

    "Wah selain halang rintang, kita juga dapat bonus ember tumpah nih," celetuk salah satu penumpang. "Kalau mau bajigur ambil saja di jalan," timpal wanita di sebelahnya sambil menunjuk air hujan yang coklat keruh.

    Memang hujan yang deras membuat aliran air dari atap seperti ember tumpah di waterboom. Beberapa anak SD dan ibu-ibu yang terpaksa mendapat bagian belakang mesti berbasah-basah seperti habis berenang.

    Setiba di Halte Taman Kandaga Puspa, hujan masih saja menyiram kota. Cukup untuk menyiram taman-taman kota yang memang memerlukan penyiraman. Walaupun agak lama turun menanti hujan agak reda, perjalanan menggunakan Bus Bandros ini pun berakhir. Seru!
     
    Dimuat juga di Detik Travel : 

  20. Like
    fxmuchtar got a reaction from imam17stat in Bus Bandros Yang Cantik Dari Bandung   
    Tak mau kalah dengan Jakarta, kini Bandungn punya bus wisata yang asyik untuk dinaiki mengelilingi kota. Inilah Bandung Tour On Bus atau lebih populer disebut Bus Bandros, yang keren!

    "Awaas, ranting, awas kabel", teriak Apri pemandu Bus Bandros yang siang itu menemani kami. Harap maklum ya, karena di Bandung ranting pohon dan kabel listrik berseliweran cukup dekat dengan atap bus. Penutup atap yang tersedia juga tidak bisa dipakai karena akan bertabrakan dengan kabel dan ranting pohon. Jadi selain berwisata, bisa jadi berwisata dengan bus Bandros ini menguji keahlian halang rintang.

    Bus Bandros adalah bus wisata unik yang dibuat untuk berwisata keliling Bandung. Dengan tiket Rp 10.000, kita sudah bisa berkeliling Bandung dan mengenali beberapa spot-spot bersejarah. Bus ini melayani rute yang sangaat panjang dan jauh, karena akan melewati berbagai pulau dan propinsi. Tak percaya?

    Rute Bandros meliputi beberapa daerah bersejarah kota Bandung seperti Jalan Diponegoro, Sulanjana, Dago, Merdeka, Lembong, Asia Afrika, Braga, lembong (lagi, dan menuju), Sunda, Sumbawa, Flores, Riau. Benar-benar jauh bukan? hehehe...

    Ketika saya mencoba naik bus ini, ternyata sudah banyak yang menunggu. Kapasitas yang cuma 40 orang itu mengharuskan saya ikut di trip kedua, padahal sudah antri dalam panas dan terik matahari. Nah, ada masukan nih dari pengunjung supaya disediakan shelter dan tempat tiket agar naik bus ini jadi lebih nyaman dan tidak berebutan.

    Akhirnya saya menunggu giliran di Taman Kandaga Puspa sambil melihat-lihat keindahan Taman Kandaga Puspa yang saat ini terlihat sangat merana. Padahal ketika dibuka beberapa bulan lalu, saya menyebut Taman ini sebagai taman terindah di Kota Bandung.

    Banyak bunga yang mati kekeringan karena tidak terawat. Demikian juga anggrek-anggrek yang ditempel dipohon, padahal di antara anggrek-anggrek yang ditempel itu adalah anggrek yang langka. Kabarnya memang pengelolaan taman ini berdasarkan sukarela saja dan tidak ada pembiayaan dari Pemda. Setelah menanti sekitar satu jam, akhirnya Bus Bandros datang.

    Saya yang naik pertama kali, namun karena banyak yang ingin ke atas, saya pun mempersilahkan yang datang dari jauh untuk di atas. Pengguna bus memang bukan dari Bandung saja, ada yang dari Jakarta dan Makasar yang sengaja datang mencoba bus ini. Saya duduk di tangga padahal ada tulisan Dilarang duduk di tangga, Indonesia banget ya.

    Setelah mengambil beberapa foto di bagian atas sambil mendengar Apri berteriak-teriak mengingatkan penumpang agar terhindar dari ranting dan kabel, saya turun lagi dan mendekat ke arah supir.

    Di tiap jalan yang dilewati, bus merah menyala ini berhasil mencuri perhatian orang. Banyak orang yang mengambil foto, melambaikan tangan atau sekedar melongok takjub. Bus Bandros ini memang baru beberapa bulan diluncurkan.

    Rencananya nanti akan ada tiga bus Bandros dengan tiga warna yaitu merah, kuning dan biru. Warna itu disesuaikan dengan perusahaan yang memberikan mobil ini. FYI, mobil ini beroperasi tidak menggunakan APBD jadinya penumpang musti bayar agar operasional mobil ini lancar.

    "Kan mobil ini perlu bensin, oli dan pemeliharaan suku cadang", ujar Apri.

    Bus Bandros berjalan mengikuti aliran lalu lintas Bandung yang cukup padat hari itu. Apri juga dengan lancar menjelaskan beberapa hal sekitar Bandung, cukup untuk yang baru namun kurang mendalam. Mungkin karena Mobil Bandrosnya berjalan terus memaksa Apri untuk menjelaskan hal lainnya berkaitan dengan tempat, padahal penjelasan yang sebelumnya belum begitu lengkap.

    Misalnya saja ketika lewat jalur Asia-Afrika yang sarat dengan peninggalan bersejarah, Apri tak bisa menjelaskan semuanya karena mobil berjalan terus. Apri hanya menjelaskan Bandung KM 0 dan Gedung Asia Afrika saja, padahal di situ ada banyak yang bisa dijelaskan. Mulai dari Hotel Preanger, Human, Kantro PR, PLN, Mayestik dan termasuk Mesjid Raya Bandung.

    Menurut saya, sebaiknya di titik itu (dan beberapa titik) mobil berhenti dahulu sehingga pemandu bisa menjelaskan secara lebih detail tentang kota Bandung. Mengenai rute juga saya mengusulkan agar jangan berbelok langsung ke kanan dari gedung Asia Afrika, setidaknya belok dari kantor pos baru belok Banceuy dan menuju Braga. Cukup banyak spot bersejarah yang sayang kalau dilewatkan.

    Perjalanan dengan Bus Bandros trip kali ini memang lengkap dengan bajigurnya. Hujan sangat deras mengguyur Bandros yang tak beratap. Yang di atas segera turun menjejali bagian bawah, jadinya sangat padat. Di tengah kepadatan seperti itu muncul celetuk-celetuk ringan dan menyegarkan udara yang sudah dingin.

    "Wah selain halang rintang, kita juga dapat bonus ember tumpah nih," celetuk salah satu penumpang. "Kalau mau bajigur ambil saja di jalan," timpal wanita di sebelahnya sambil menunjuk air hujan yang coklat keruh.

    Memang hujan yang deras membuat aliran air dari atap seperti ember tumpah di waterboom. Beberapa anak SD dan ibu-ibu yang terpaksa mendapat bagian belakang mesti berbasah-basah seperti habis berenang.

    Setiba di Halte Taman Kandaga Puspa, hujan masih saja menyiram kota. Cukup untuk menyiram taman-taman kota yang memang memerlukan penyiraman. Walaupun agak lama turun menanti hujan agak reda, perjalanan menggunakan Bus Bandros ini pun berakhir. Seru!
     
    Dimuat juga di Detik Travel : 

  21. Like
    fxmuchtar got a reaction from deffa in Bus Bandros Yang Cantik Dari Bandung   
    Tak mau kalah dengan Jakarta, kini Bandungn punya bus wisata yang asyik untuk dinaiki mengelilingi kota. Inilah Bandung Tour On Bus atau lebih populer disebut Bus Bandros, yang keren!

    "Awaas, ranting, awas kabel", teriak Apri pemandu Bus Bandros yang siang itu menemani kami. Harap maklum ya, karena di Bandung ranting pohon dan kabel listrik berseliweran cukup dekat dengan atap bus. Penutup atap yang tersedia juga tidak bisa dipakai karena akan bertabrakan dengan kabel dan ranting pohon. Jadi selain berwisata, bisa jadi berwisata dengan bus Bandros ini menguji keahlian halang rintang.

    Bus Bandros adalah bus wisata unik yang dibuat untuk berwisata keliling Bandung. Dengan tiket Rp 10.000, kita sudah bisa berkeliling Bandung dan mengenali beberapa spot-spot bersejarah. Bus ini melayani rute yang sangaat panjang dan jauh, karena akan melewati berbagai pulau dan propinsi. Tak percaya?

    Rute Bandros meliputi beberapa daerah bersejarah kota Bandung seperti Jalan Diponegoro, Sulanjana, Dago, Merdeka, Lembong, Asia Afrika, Braga, lembong (lagi, dan menuju), Sunda, Sumbawa, Flores, Riau. Benar-benar jauh bukan? hehehe...

    Ketika saya mencoba naik bus ini, ternyata sudah banyak yang menunggu. Kapasitas yang cuma 40 orang itu mengharuskan saya ikut di trip kedua, padahal sudah antri dalam panas dan terik matahari. Nah, ada masukan nih dari pengunjung supaya disediakan shelter dan tempat tiket agar naik bus ini jadi lebih nyaman dan tidak berebutan.

    Akhirnya saya menunggu giliran di Taman Kandaga Puspa sambil melihat-lihat keindahan Taman Kandaga Puspa yang saat ini terlihat sangat merana. Padahal ketika dibuka beberapa bulan lalu, saya menyebut Taman ini sebagai taman terindah di Kota Bandung.

    Banyak bunga yang mati kekeringan karena tidak terawat. Demikian juga anggrek-anggrek yang ditempel dipohon, padahal di antara anggrek-anggrek yang ditempel itu adalah anggrek yang langka. Kabarnya memang pengelolaan taman ini berdasarkan sukarela saja dan tidak ada pembiayaan dari Pemda. Setelah menanti sekitar satu jam, akhirnya Bus Bandros datang.

    Saya yang naik pertama kali, namun karena banyak yang ingin ke atas, saya pun mempersilahkan yang datang dari jauh untuk di atas. Pengguna bus memang bukan dari Bandung saja, ada yang dari Jakarta dan Makasar yang sengaja datang mencoba bus ini. Saya duduk di tangga padahal ada tulisan Dilarang duduk di tangga, Indonesia banget ya.

    Setelah mengambil beberapa foto di bagian atas sambil mendengar Apri berteriak-teriak mengingatkan penumpang agar terhindar dari ranting dan kabel, saya turun lagi dan mendekat ke arah supir.

    Di tiap jalan yang dilewati, bus merah menyala ini berhasil mencuri perhatian orang. Banyak orang yang mengambil foto, melambaikan tangan atau sekedar melongok takjub. Bus Bandros ini memang baru beberapa bulan diluncurkan.

    Rencananya nanti akan ada tiga bus Bandros dengan tiga warna yaitu merah, kuning dan biru. Warna itu disesuaikan dengan perusahaan yang memberikan mobil ini. FYI, mobil ini beroperasi tidak menggunakan APBD jadinya penumpang musti bayar agar operasional mobil ini lancar.

    "Kan mobil ini perlu bensin, oli dan pemeliharaan suku cadang", ujar Apri.

    Bus Bandros berjalan mengikuti aliran lalu lintas Bandung yang cukup padat hari itu. Apri juga dengan lancar menjelaskan beberapa hal sekitar Bandung, cukup untuk yang baru namun kurang mendalam. Mungkin karena Mobil Bandrosnya berjalan terus memaksa Apri untuk menjelaskan hal lainnya berkaitan dengan tempat, padahal penjelasan yang sebelumnya belum begitu lengkap.

    Misalnya saja ketika lewat jalur Asia-Afrika yang sarat dengan peninggalan bersejarah, Apri tak bisa menjelaskan semuanya karena mobil berjalan terus. Apri hanya menjelaskan Bandung KM 0 dan Gedung Asia Afrika saja, padahal di situ ada banyak yang bisa dijelaskan. Mulai dari Hotel Preanger, Human, Kantro PR, PLN, Mayestik dan termasuk Mesjid Raya Bandung.

    Menurut saya, sebaiknya di titik itu (dan beberapa titik) mobil berhenti dahulu sehingga pemandu bisa menjelaskan secara lebih detail tentang kota Bandung. Mengenai rute juga saya mengusulkan agar jangan berbelok langsung ke kanan dari gedung Asia Afrika, setidaknya belok dari kantor pos baru belok Banceuy dan menuju Braga. Cukup banyak spot bersejarah yang sayang kalau dilewatkan.

    Perjalanan dengan Bus Bandros trip kali ini memang lengkap dengan bajigurnya. Hujan sangat deras mengguyur Bandros yang tak beratap. Yang di atas segera turun menjejali bagian bawah, jadinya sangat padat. Di tengah kepadatan seperti itu muncul celetuk-celetuk ringan dan menyegarkan udara yang sudah dingin.

    "Wah selain halang rintang, kita juga dapat bonus ember tumpah nih," celetuk salah satu penumpang. "Kalau mau bajigur ambil saja di jalan," timpal wanita di sebelahnya sambil menunjuk air hujan yang coklat keruh.

    Memang hujan yang deras membuat aliran air dari atap seperti ember tumpah di waterboom. Beberapa anak SD dan ibu-ibu yang terpaksa mendapat bagian belakang mesti berbasah-basah seperti habis berenang.

    Setiba di Halte Taman Kandaga Puspa, hujan masih saja menyiram kota. Cukup untuk menyiram taman-taman kota yang memang memerlukan penyiraman. Walaupun agak lama turun menanti hujan agak reda, perjalanan menggunakan Bus Bandros ini pun berakhir. Seru!
     
    Dimuat juga di Detik Travel : 

  22. Like
    fxmuchtar got a reaction from robert is trebor in Hallo salam kenal saya Putri :D   
    salam kenal juga mbak putri... 
  23. Like
    fxmuchtar got a reaction from Jalan2 in Oase Bandung   
    Curug Dago dan Prasasti dua raja Thailand

    Di mana bisa mencari kesegaran Bandung? di mall-mall? di FO-FO? Bandung sekarang memang belum bisa diidentikan lagi dengan slogan lama yang menyebutkan Bandung Kota Kembang. Konsep pembangungan yang tak jelas semakin membawa Bandung pada ketidak jelasan identitas juga. Namun jangan khawatir. anda masih bisa menikmati kesegaran khas Parahyangan di sebelah utara kota Bandung. Jika anda suntuk dengan hiruk pikuk kehidupan kota, langkahkan kaki ke arah utara kota Bandung, tepatnya di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda.

    Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang dikenal di kalangan masyarakat Bandung dengan sebutan Pakar, merupakan kawasan konservasi yang terpadu antara alam sekunder dengan hutan tanaman dengan jenis Pinus (Pinus merkusil) terletak di aliran sungai Cikapundung, Membentang mulai dari Curug Dago, Dago Pakar sampai Maribaya yang merupakan bagian dari kelompok hutan Gunung Pulosari, menjadikan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda sangat baik sebagai lokasi wisata alam dan juga sebagai sarana tempat untuk pengembangan pendidikan lingkungan.

    Anggrek Akar dari Tahura
     
    Menurut website resmi TAHURA disebutkan bahwa Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda awalnya merupakan bagian areal dari kelompok Hutan Lindung Gunung Pulosari yang berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 575/kpts/Um/8/1980 dirubah fungsinya menjadi Taman Wisata Alam (TWA) Curug Dago. Pada Tanggal 14 Januari 1985 bertepatan dengan kelahiran Bapak Ir. H. Djuanda, TWA Curug Dago secara resmi berubah fungsi menjadi Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda yang merupakan Taman Hutan Raya (TAHURA) pertama di Indonesia, berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 3/M/1985 tertanggal 12 Januari 1985 tentang Penetapan Taman Wisata Alam Curug Dago menjadi Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda.

    Begitu kita memasuki kawasan Hutan Raya, maka akan terasa suasana berbeda dengan hiruk pikuk kota Bandung. Udara yang sejuk, kerimbunan pepohonan, dan terkadang ditingkahi oleh jeritan monyet ekor panjang yang mencari makanan hingga ke dekat kantor. Ketika memasuki areal parkir dan tiket box pertama, maka sudah terpampang di hadapan kita barisan pohon pinus yang seolah memanggil kita untuk menikmati kesegaran udaranya. Dan betul saja, ketika kita melewati tiket box, kita disergap oleh aroma hutan. Wangi pohon pinus dan pepohonan lain. Wajar saja, karena koleksi hutan ini cukup banyak.

    Aliran sungai Ci Kapundung
     
    Hutan dengan luas 590 ha ini memiliki kekayaan yang cukup beragam, masih menurut situs TAHURA, Komplek hutan ini merupakan hutan alam sekunder dan hutan tanaman dengan susunan vegetasi campuran yang terdiri dari pohon-pohonan (2.500 jenis) dan tumbuhan bawah. Tumbuhan bawah.Tumbuhan bawah yang dominan adalah : Teklan (Eupatorium odoratum), dan jenis pohon-pohonannya adalah Mahoni (Switenia macrophylla), Bungur (Lagerstroemia sp.), Ekaliptus (Eucalyptus deglupta), Saninten (Castanopsis argentea), Pasang (Quercus sp.), Damar (Agathis damara), Waru gunung (Hibiscus similis). Selain itu banyak pula jenis tumbuhan yang berasal dari luar daerah yang sengaja di tanam dan berfungsi sebagai laboratorium alam (Arboretum).

    Goweser di Tahura
     
    Beberapa tanaman termasuk tanaman yang unik dan langka. Adanya berbagai jenis tumbuhan yang berasal dari berbagai daerah yang tersusun dengan rapi. Akan kita temui juga pohon dengan batang seperti taburan pelangi (rainbow tree). ada juga anggrek akar yang menurut penjaga di sana termasuk anggrek terkecil. jika kita beruntung, maka kita akan menemui bunga bangkai yang sedang mekar.

    Curug Omas Maribaya
     
    selain menikmati kesegaran yang ditimbulkan dari banyaknya pepohonan di sana, kita juga bisa mengunjungi obyek wisata lainnya seperti :
    1. Goa-goa buatan, bekas peninggalan Belanda dan Jepang.
    2. Curug Dago. di sana terdapat prasasti dari dua raja Thailand.
    3. Monumen Ir. H..Djuanda
    4. Curug Omas di Maribaya
    5. Curug Lalay
    terakhir bahkan ditemukan susunan lava yang mirip dengan selendang.


    Lokasi TAHURA berada kira-kira 7 Km dari pusat kota Bandung. Dapat ditempuh oleh semua janis kendaraan bermotor. Bila memakai kendaraan umum dapat di tempuh dari Bandung sampai terminal Dago dan selanjutnya dengan berjalan kaki atau menggunakan jasa ojeg.

    Jadi jika anda ingin mencari kesegaran ala parahyangan, maka langkahkan kaki ke TAHURA Ir. H. Djuanda.

    dimuat di blog saya
  24. Like
    fxmuchtar reacted to papirubia in Curug Cimahi   
    nanti klo kebandungnya lg nyantai, mampir snih
  25. Like
    fxmuchtar got a reaction from Jalan2 in Kawah Putih yang Makin Jelita   
    "Harus segera ke Kawah Putih" kata tetangga penginapan. "soalnya di musim seperti ini, cuaca di puncak bisa berubah cepat" tambahnya. Peringatannya mengenai cuaca yang berubah harus kami sepakati sebab dia orang setempat yang tahu perangani puncak Gunung Patuha ini. Peringatan itupun terbukti. setelah hampir 30 menit berada di Kawah Putih, awan mendung segera merungkupi puncak. Air mulai merintik, pertanda hujan siap menyapa. Bagi yang tak mau kehujanan tentu harus bersiap menyingkir dari Kawah Putih dan menuju tempat parkir. bagi yang tetap ingin menikmati sensasi berhujan ria di puncak bisa menyewa payung atau ya berhujan ria.   Ada baiknya juga menyediakan masker ketika berada di Kawah Putih. Kawah yang sebetulnya masih aktif, masih sering mengeluarkan gas dan bau belerang yang bisa membuat pengunjung pusing dan batuk-batuk atau bahkan pingsan. Kawah putih, tempat wisata primadona di kawasan Bandung Selatan semakin bersolek dan semakin menarik untuk dikunjungi. Kawahnya yang berwarna putih kehijauan toska adalah tawaran keindahan yang tak akan terlupakan.
    Tempat wisata Kawah Putih yang saya saksikan memang semakin bersolek. semakin cantik, terorganisir dan bersih. Tahun 2010 ketika saya mengunjungi Kawah Putih untuk naik ontang anting (angkutan umum yang tersedia di sana) haruslah berebut dengan pengunjung lain, sekarang tidak lagi. tinggal bilang ke penjaganya dan akan dirapikan oleh petugas. kalau dari bawah menggunakan tiga ontang anting, tinggal bilang ke petugas sambil menunjukan tiketnya maka akan disediakan tiga mobil tanpa harus berebut dengan rombongan lain. Selain itu juga tempat menunggu sudah disediakan lebih tertata. tak perlu takut kehujanan kalau sedang menunggu teman atau giliran naik ontang anting.
      Di pelataran dekat tempat parkir juga terdapat tulisan besar KAWAH PUTIH, lengkap dengan pelataran untuk berfoto. Tempat itu tentu saja jadi pelengkap foto narsis yang manis.   Untuk kebersihan saya harus acungkan jempol. keberadaan petugas kebersihan yang sigap dan tempat sampah yang tersedia di tiap beberapa meter memudahkan untuk membuang sampah. walau tentu saja harusnya disarankan agar pengunjung membawa makanan yang meninggalkan sampah sesedikit mungkin. Untuk menikmati keindahan Kawah Putih saat ini memang harus sedikit merogoh kocek agak dalam. Bagi yang mau menggunakan mobil pribadi harus menyediakan uang untuk tiket sebesar Rp. 150rb itu masih harus membayar biaya perorang sebesar Rp. 15rb.  Untuk naik ontang anting per orang dihitung Rp 25rb. PP. Harga yang cukup mahal menurut kantong saya.      
     
×
×
  • Create New...