Ezot

Members
  • Content count

    123
  • Joined

  • Last visited

5 Followers

About Ezot

  • Rank
    Tidak Baru Lagi
  1. @papirubia iyah gan, ayuk menjelajah bareng jangan ke kota2 teruys hehe...
  2. @nesta ayuk gan kesini biar makin mantep pengalamannya...
  3. belum pernah kesini ya gan? memangnya sih agak menyingkir tempatnya mod, tapi disitulah perjuangannya... beuh banyak objek foto yang keren gan pokoknya dah!!
  4. ayo gan, ramaikan lagi ney curug...calon objek wisata yang ada di Ciamis setelah Pangandaran minggat memisahkan diri...
  5. Ezot

    Kok dari kemarin saya ga bisa posting?

    bisa sekarang mah mbak...saya dr kemarin juga gak bisa selalu back to homepage pi pagi ini dicoba ternyata udah bisa...hamdalah
  6. Oia, agan-agan udah ada lanjutannya ya. monggo: http://forum.jalan2.com/topic/5586-menjelajahi-objek-wisata-di-ciamis-jabar-bag-2/?p=40852
  7. Setelah pada tulisan bagian pertama saya mengeksplorasi kawasan wisata sejarah yang masih terbilang berada di daerah perkotaan yakni Karang Kamulyaan, kini mari kita bergeser ke Ciamis utara. Ialah Curug Tujuh Panjalu yang memiliki panorama alam yang tiada duanya. Curug atau air terjun ini, meskipun belum maksimal dikelola oleh Pemerintahan Daerah Ciamis namun namanya sudah terkenal sampai ke seantero kabupaten, bahkan ke beberapa kota yang berbatasan dengan Ciamis. Aneh bin ajaib memang mengapa Pemda belum juga memaksimalkan potensi objek wisata menjanjikan ini padahal Pangandaran yang selama ini menjadi andalan kini sudah memisahkan diri. Padahal seharusnya, karena Pantai Pangandaran yang selama ini menjadi “ATMâ€nya Ciamis sudah keluar dari daerah kekuasannya, maka Ciamis harus mencari alternatif tempat wisata lainnya untuk digarap menjadi lading uang yang baru. Salah satunya ya Curug Tujuh ini. Mudah-mudahan saja dengan adanya tulisan ini dapat membuka hati para pejabat teras di Ciamis supaya ke depannya menggarap potensi yang ada disini sehingga semakin banyak pengunjung yang datang kesini. Jika sudah begitu, maka otomatis pendapatan kas daerahpun akan menaik paska lepasnya Pangandaran. Nah sekarang daripada berpusing-pusing memikirkan Pemda Ciamis yang belum juga menggarap objek wisata yang satu ini, mendingan kita mencoba mengulik apa saja yang menjadi daya tarik objek wisata alam ini. Beberapa waktu lalu kebetulan saya berkesempatan mengunjungi Curug Tujuh ini bersama dengan beberapa kawan. Sudah lama sebetulnya ingin berkunjung kesini karena banyak orang yang telah menceritakan tentang keindahan dan keunikan Curug Tujuh ini. Namun karena letaknya yang agak menyingkir, sehingga diperlukan waktu yang leluasa untuk menjamahnya. Saya dan beberapa kawan menuju ke Curug Tujuh yang berjarak sekitar 5 km dari Panjalu dan 31 km dari Ciamis ini. Kami menggunakan kendaraan roda dua karena bisa lebih memudahkan dibandingkan dengan menggunakan kendaraan umum. Waktu yang ditempuh dengan motor akan lebih singkat dibandingkan dengan jika kita menggunakan angkot atau bus. Namun kalaupun Anda menggunakan kendaraan umum, dari Ciamis ada jurusan yang menuju ke Panjalu. Atau kalau agan dari Bandungpun biasanya ada jurusan Bandung – Panjalu, atau Bandung – Ciamis yang nantinya bisa dilanjutkan dengan angkutan Ciamis – Panjalu. Setibanya kami di Jalan Raya Cibolang, kamipun akan memasuki jalanan setapak. Jarak dari jalan raya sampai ke curug pertama sekitar 2 km. Objek wisata ini biasanya akan penuh oleh pengunjung pada hari-hari libur sekolah Sabtu dan Minggu atau kalender merah. Tak sedikit muda-mudi yang memadu kasih alias berpacaran disini. Seakan kawasan curug tersebut milik berdua. Oleh sebab itu, kalau Anda ingin ketika berkunjung kesini suasananya ramai maka datanglah pada hari-hari libur. Dijamin pengunjungpun akan membludak. Sebagai pengunjung yang baik, sesampainya di depan loket, kamipun membeli karcis dengan harga Rp 5.000/ orang. Tersedia lahan parkir yang cukup luas untuk menyimpan sepeda motor. Untuk keamanan, kami mengunci sepeda motor dengan kunci berganda. Untuk selanjutnya tentu saja perjalanan harus dilakukan dengan berjalan kaki karena kondisi jalanan yang terjal dan cukup sempit. Terhampar di sepanjang mata hutan perawan yang menghijau. Begitu indah dan sunyi. Matak pikabeutaheun, dalam istilah sundanya. Oia, sengaja kami berangkat pagi hari supaya matahari belum terlalu ganas menyerang ketika kami masih di perjalanan. Meskipun memang rimbunnya dedaunan didalam hutan membuat minimnya sinar matahari yang masuk menembus hutan. Semakin dekat kami melangkah, suara gemuruh curug semakin terdengar jelas. Selain itu, dalam beberapa kesempatan kami juga menemukan hewan-hewan khas hutan seperti monyet, rusa, bahkan ular yang bergerak dibalik rimbunnya ilalang membuat perjalanan kami sejenak terhenti. Setelah dipastikan tidak membahayakan jiwa, kamipun melanjutkan perjalanan. Hati kami semakin bergelora ketika suara curug sudah semakin terdengar jelas dan secara perlahan wujudnya pun semakin tampak. Saking senangnya, kamipun berlarian menuju ke curug pertama. Iya, yang kami temui pertama kali ialah curug pertama dari tujuh buah air terjun totalnya. Ketinggiannya sekitar 800-an meter diatas permukaan laut. Sesampainya di muka curug, rasa takjub dan gembira bukan kepalang menyesaki benak saya. Betapa indah dan ajaibnya ciptaan Tuhan yang kini tampa di depan mata. Sesuai dengan namanya, Curug Tujuh memang memiliki tujuh buah curuh yang tersusun semakin ke atas. Curug pertama yang letaknya dipaling bawah merupakan yang paling tinggi diantara keenam curug lainnya. Menarik untuk menelisik sejarah terbentuknya curug ini untuk menambah pengetahuan dan informasi seputar khazanah kebudayaan sunda. Tersebutlah pada zaman dulu kala, ada seorang raja yang bersedih bukan kepalang karena terjadinya kemarau panjang. Saking parahnya kemarau itu, menjadikan banyak ternak-ternak penduduk mati, tanah terlihat belah-belah sebagai pertanda minimnya air, dan dedaunan kering kerontang. Sang rajapun merasakan kesakitan yang diderita oleh rakyatnya. Kemudian ia memohon kepada Sang Pencipta untuk mengakhiri segala kekeringan yang tengah melanda wilayah kekuasannya tersebut sambil menitikkan air matanya. Dan aneh bin ajaib, karena air mata sang raja tersebut kemudian menimbulkan genangan air yang besar. Air yang berasal dari air mata raja itu sangat bersih mungkin sebagai symbol dari kesucian dan kejernihan jiwanya. Semakin besar air itu membentuk aliran yang terpecah dan jatuh di tujuh buah tebing. Dan air terjun tersebut masih ada hingga kini. Cerita rakyat yang boleh dipercaya, namun boleh juga tidak. Namun sepatutnya kita menghormatinya sebagai salah satu ranah kebudayaan dan keyakinan yang hingga kinipun masih dipercayai oleh masyarakat sekitar. Lanjut ke cerita pelesirannya, air yang jatuh tersebut ditampung disebuah kolam kecil yang airnya jernih dan sangat dingin. Banyak diantara pengunjung yang menyengajakan diri untuk mandi di kolam tersebut. Oia nama dari ketujuh curug tersebut yakni Curug Satu, Curug Dua, Curug Tiga, Curug Cibolang, Curug Simantaja, Curug Cileutik, dan Curug Cibuluh. Masih menurut keyakinan masyarakat sekitar bahwa diantara curug tersebut ada yang berkhasiat menyembuhkan pelbagai macam penyakit seperti reumatik, encok, penyakit kulit dan lainnya. Anehnya, konon juga air di curug ini tidak pernah habis sekalipun musim kemarau berkepanjangan. Entah dari mana? Mungkin ada lelembut yang berusaha menjaga aliran airnya sehingga tidak pernah kekeringan. Idealnya memang ketika berkunjung ke curug ini membawa perlengkapan untuk berkemah. Disekitar curug ada bumi perkemahan khusus yang disebut Bumi Perkemahan Cibolang. Bagi Para backpacker tentu cukup untuk merehatkan sejenak untuk menikmati malam sambil mendengarkan suara gemericiknya air jatuh dari curug. Terlebih kalau bulan purnama tiba, maka suasana sunyi dan mengesankan akan semakin terasa persis gambarannya seperti di Film 5 Cm. Namun karena kami waktu itu tidak membawa perlengkapan yang memadai karena memang tidak berniat untuk menginap disini maka opsi pulang menjadi pilihan prioritas. Setelah asyik bercanda di kolam air dengan kawan, foto sana-sini, berjuang naik ke atas tebing untuk melihat curug-curug berikutnya, menjelang ashar kami memutuskan untuk berpamitan kepada kawasan indah ini. bukan hanya kami yang pulang, beberapa pengunjung lainpun melakukan hal serupa. Bukan apa-apa, kawasan curug yang dominan dengan hutan belantara tentu akan berbeda nuansanya pada malam hari. Terasa lebih mencekan dan menyeramkan. Namun sebelum saya mengakhiri ceritanya, perlu disampaikan dulu beberapa fasilitas yang ada di kawasan ini mulai dari papan petunjuk yang sangat berguna bagi mereka yang pertama kali berkunjung kesini, MCK sebanyak 2 buah, tempat sampah, musholla, camping ground untuk Anda yang berniat berkemah disini, kolam ikan, kios makanan ringan dan nasi liwet dadakan dengan harga yang terjangkau. Woow bukan main nyummynya ketika Anda bisa makan nasi liwet ditempat yang sangat indah dan hijau ini. Dan setelah dirasa puas menikmati segala hal yang ada disini, kamipun balik badan untuk pulang sambil berkata good bye Curug Tujuh dan terima kasih untuk hari ini yang walaupun meleahkan namun sangat mengesankan!
  8. @Jalan2 iyah min kok sampe pagi ini belum bisa juga posting yach?? padahal udah nulis yang ajib ney hehe...
  9. lanjutin tulisan 2-nya mod (ini kan bagian satunya)...
  10. ntar malem tau besok pagi selesai mod?? iya mod soalnya capek juga nulis panjang2 ney eh nyatanya gak bisa di upload hehe...
  11. @deffa iya masih mod? barusan dicoba upload lg tetep gak bisa...