Jump to content
Forum Jalan2.com - Silahkan Berbagi & Bertanya Tentang Tujuan Wisata Anda

deftones12

Members
  • Content Count

    31
  • Joined

  • Last visited

About deftones12

  • Rank
    Baru Bergabung

Profile Information

  • Location
    Jakarta

Recent Profile Visitors

The recent visitors block is disabled and is not being shown to other users.

  1. paling gak sampai akhir taun ini deh, taun depan pasti udah rame kalo resort/lapangan golf nya udah jadi
  2. DAY 6 Karena menjadi hari terakhir liburan, agenda hari ini super santai. Biasanya jam 9 udah check out dari hotel, kali ini saya minta driver datang jam 12. Tapi jam 9 saya tetap keluar hotel, karena kita gak dapat sarapan gratis di hotel. Saya menyusuri Jalan Petitenget sambil mengagumi kafe-kafe dan butik lucu di kiri-kanan jalan. Oya, buat tambahan informasi, si Dash Hotel Seminyak ini dekat banget sama Deus Ex Machina dan Biku yang suka masuk daftar tempat makan wajib di Seminyak. Tapii….tujuan utama saya buat sarapan adalah….Revolver Espresso. Jatuh cinta banget sejak pertama kali nyobain kopi di sini waktu liburan tahun lalu. Revolver ini emang termasuk salah satu coffee shop terhits di Bali, simply because kopinya emang enak, IMO. Harga makanan dan minumannya juga masih standar, malah banyak kafe di Jakarta yang lebih mahal. Menu rekomendasi saya sih Silencer, yaitu granola dengan frozen yogurt blueberry atau acai berry dan potongan buah. Segaarrr dan kenyang! La Joya Biubiu Sebenarnya agenda utama kita di hari terakhir ini ya di La Joya Biubiu ini. Gak lain dan gak bukan adalah untuk SPA! Penasaran aja sih, udah beberapa kali ke Bali tapi belum pernah ngerasain spa cantik macam di majalah-majalah La Joya Biubiu sendiri merupakan resort dekat Pantai Balangan. Jadi perjalanan ke sini lumayan jauh dan macet ya, secara aksesnya emang cuma satu jalan doang. Apalagi waktu itu jatuhnya di hari Sabtu, makin banyak lah mobil dan bus wisata yang melewati jalan itu. Lokasi La Joya Biubiu lumayan ngajak blusukan sih….tapi view-nya emang keren banget! Hanya, yang bikin kita kaget adalah tempat spanya yang lumayan terbuka. Jadi area spa itu ada di dekat kolam renang. Walaupun berada di dalam gazebo tertutup, tapi orang-orang bebas berkeliaran di dekat situ sih, jadi bisa liat kita yang lagi pasrah di atas meja pijat. Tapi, overall, spanya oke. Gak sampai mind-blowing, tapi tetap lebih worth it dibandingkan spa di tempat-tempat spa biasa. Apalagi, ternyata rate Balinese message nya juga gak sampai Rp 200.000, sama dengan rate di beberapa hotel bintang 3 di Seminyak. Padahal pemandangan yang ditawarkan itu mahal banget Pantai Gunung Payung Setelah segar dipijat, kita pun beranjak ke tujuan berikutnya, yaitu Pantai Gunung Payung. Pantai ini letaknya tetanggaan sama Pantai Pandawa yang lebih dulu populer. Tapi, karena belum terlalu banyak yang tau soal pantai ini (yang jelas lebih sedikit daripada yang tau soal Pantai Pandawa), jadi suasananya masih sepi dan tenang. Tapi mungkin tahun depan bakal lain ceritanya. Karena waktu kita ke sana, udah mulai terlihat pembangunan yang sepertinya proyek hotel atau lapangan golf. Akses ke Pantai Gunung Payung juga terus diperbaiki supaya pengunjung bisa mencapai pantai dengan lebih mudah. Biaya retribusinya sendiri sekitar Rp 13 ribu per wisatawan lokal. Agak salah sih mengunjungi pantai ini setelah spa. Karena kita harus turun naik tangga yang jumlahnya lumayan lah bikin ngos-ngosan jadi pegel lagi deh…. Tapi, gak masalah, karena pemandangan pantainya cantik banget. Kebalikan dengan tempat-tempat wisata lain yang kami kunjungi sebelumnya, di Pantai Gunung Payung ini hampir semua pengunjungnya adalah wisatawan lokal, walaupun jumlahnya gak banyak. Mereka udah ambil posisi untuk santai sambil nunggu sunset. Karena tadinya kita sempat berencana rendezvous dengan teman yang lagi di Finn’s Beach Club, kita gak lama-lama di Pantai Gunung Payung. Ternyata rencana itu gagal. Jadi nyesel gak nungguin sunset di pantai Yah, demikian pengalaman liburan 6 hari saya ke Bali Utara dan Timur kemarin. Semoga bisa menambah rekomendasi tempat-tempat menarik buat yang lagi rencana liburan ke sana yaaa ^^
  3. Kemaren dapat harga promo sekitar 600rb per malam, jadi lumayan lah kalo patungan sama temen
  4. DAY 5 Agenda hari kelima ini gak terlalu banyak, karena udah diborong di hari keempat Overall, hari kelima sih sebenernya hanya perjalanan dari Amed balik ke Seminyak, sambil berhenti di beberapa tempat. Oya, pagi-pagi kita sempat liat sunrise dulu sih di Pantai Jemeluk, yang letaknya sekitar 10 menit jalan kaki dari hotel. Desa Tenganan Salah satu Desa Bali Aga alias desa tradisional tertua di Bali. Bayangan saya bakal melihat banyak warga desa yang berlalu-lalang dengan pakaian tradisional mereka. Tapi ternyata udah lebih modern ya hehehe Untuk masuk ke area Desa Tenganan, kita cuma diminta memberikan donasi seikhlasnya. Karena waktu itu saya tiba sekitar jam 9.30, suasananya masih sepi…. Paling ada 1-2 rombongan wisatawan asing yang ada di sana selain kita. Intermezzo sedikit. Saya sempat menggunakan fasilitas toilet umum yang ada di tempat parkir di depan desa. Cukup kaget dan kagum karena toiletnya sudah modern dan sangat, sangat bersih! Fasilitas toilet bersih ini saya temukan hampir di semua tempat-tempat wisata yang saya kunjungi di Bali lho. Bahkan di Indomaret juga! (duh ketauan deh anaknya beser hahahaha) Jadi, berasa ga rugi banget bayar Rp 2.000 untuk menggunakan toilet umum. Anyway, begitu memasuki perkampungannya, saya agak underwhelmed sih. Sempat berpikir “Oh, gini doang ya?” Mungkin karena, lagi-lagi, kita gak punya guide yang menjelaskan sejarah tempat ini, dan gimana budaya mereka. Jadi, kita cuma liat-liat sebentar, menyusuri jalanan desa dari ujung ke ujung. Sempat mau masuk ke salah satu rumah warga yang menawarkan demo pembuatan tenun ikat, tapi kok kayaknya sepi banget, gak ada orang, jadinya kita segan hihihihi Akhirnya setelah hanya sekitar 40 menit, kita memutuskan lanjut ke destinasi berikutnya. Pura Goa Lawah Destinasi ini sebenarnya diputuskan dadakan berkat tawaran driver kami. Karena searah, jadilah kita mampir. Beruntung karena waktu kita datang sedang ada upacara Nyegar Gunung, salah satu rangkaian dari upacara Ngaben. Jadi lumayan rame dan meriah suasananya. Tiket masuk ke Pura Goa Lawah adalah Rp 7.000, gak dibedakan wisatawan lokal dan asing. Tapi, kalau kita gak punya kain untuk memasuki wilayah pura, kita harus menyewa dengan harga Rp 3.000, jadi total harga tiket yang kami bayarkan adalah Rp 10.000 per orang. Setelah menyaksikan upacara, saya sempat tanya-tanya ke petugas administrasi pura soal upacara yang baru saja dilaksanakan (insting mantan wartawan belum hilang ternyata :p). Mereka sangat welcome dan senang banget meladeni pertanyaan-pertanyaan wisatawan seputar budaya Bali. Jadi, gak usah segan-segan bertanya, lumayan nambah wawasan baru. Sidemen Tujuan utama saya datang ke Sidemen adalah melihat demo pembuatan tenun ikat, sekalian beli salah satu produknya. Ngebayanginnya sih kayak Desa Sade di Lombok gitu. Tapi kayaknya driver kami kurang nangkap maunya saya, jadi kita cuma dibawa ke salah satu toko yang menjual kain-kain tenun. Tapi, karena kita juga udah lumayan capek dan mau cepet-cepet istirahat di hotel (maaf, mental nyonyah-nya keluar :p), kita gak banyak protes sih. Tenun yang dijual di toko ini (maaf saya lupa namanya, tapi tokonya lumayan gede dan ada tulisan Garuda Indonesia-nya….entah apa maksudnya) lumayan banyak variannya. Produk khasnya sih tenun songket dengan motif dari Sidemen ya, walaupun si ibu penjualnya gak bisa jelasin perbedaan motif Sidemen dengan daerah lain apa. Saya sempat beli satu kainnya, sayangnya bukan yang songket, karena budget terbatas kakaak Kalau baca dari beberapa blog, selain dikenal dengan produk tenunnya, Sidemen juga populer dengan pemandangan sawah-sawahnya yang cantik. Tapi karena dari kemaren kita udah beberapa kali mampir di sawah jadi kayaknya gak perlu lagi deh ke sana heheheh Dash Hotel Seminyak Inilah hotel terbagus yang kami tempati selama liburan di Bali. Sengaja emang, save the best for last heheheh Dash Hotel Seminyak ini posisinya di Jalan Petitenget, pas banget di seberangnya Potato Head. Sayangnya, karena letaknya yang strategis itu, akses masuk ke Petitenget jadi maceeettt banget. Ini kali pertama saya merasakan macet parah di Seminyak, walaupun kata drivernya sih ini emang selalu macet. Tapi, entah kenapa, pengalaman saya nginap di Seminyak 2x sebelumnya, gak pernah nemu macet sih. Dash Hotel ini konsep desainnya urban kontemporer, agak beda dengan selera saya yang biasanya suka vintage dan klasik. Tapi, saya suka banget sama hotel ini karena, selain lokasinya yang strategis, servisnya juga oke banget! Gak lama begitu kita sampai di kamar, resepsionis menelepon ke kamar sekedar untuk nanya “Gimana mbak kamarnya? Apa ada masalah?” *tepok tangan* Awalnya kita mau kongkow-kongkow liat sunset di W Retreat yang terletak gak jauh dari hotel. Tapi, saking udah mager, kita akhirnya memutuskan untuk liat sunset di rooftop lounge hotel aja. Gak kalah kece juga ternyata :)
  5. iya si Bali Chocolate Factory emang rada nyempil tempatnya, plangnya juga ga gede-gede banget XD Nasi Bali Men Weti di Pantai Segara Sanur @min0ru
  6. mungkin kah namanya Meeting Point? Kemaren sempet coba ngupi-ngupi di situ sih. Lumayan enak dan masih harga standar.....dan paling penting air mineralnya complimentary :)) *anak gratisan
  7. iya, agak aneh sih saya ke sana padahal gak niat diving hahahah tapi asik juga tempatnya buat santai
  8. Akhirnya update juga….setelah ‘sok sibuk’ beberapa hari Tapi sebelumnya mohon maaf nih, karena nulisnya colongan di tengah jam kerja, mungkin gak bisa detil-detil banget…. DAY 4 Hari ini agendanya padat merayap kakaak….tapi kita tetap berangkat santai sih, start jam setengah 9 pagi. Sebenernya tadinya jam 9, tapi dicepetin 30 menit soalnya kita mau nyicip Nasi Bali Men Weti yang termasuk legendaris di Bali Nasi Bali Men Weti ini letaknya pas banget di tepi Pantai Segara. Konon, saking larisnya, hanya dalam hitungan jam setelah beroperasi pukul 9 pagi (atau 9.30 ya, maaf saya lupa), nasinya langsung habis diserbu pengunjung. Beruntung, waktu itu kita tiba pukul 10 kurang dan gak terlalu antri, walaupun kursi-kursinya sudah penuh. Rasanya gimana? Yaa, saya tetap lebih suka sama soto betawi yang dimakan malam sebelumnya sih Kalau mau perbandingan apple to apple, saya kok lebih cocok sama Nasi Ayam Kedewatan Bu Mangku ya…. Mungkin karena Nasi Men Weti ini sambalnya ampun-ampunan pedesnya. Saya kan Padang palsu, gak bisa yang terlalu pedas Tapi buat referensi sarapan, okelah. Harganya juga masih lumayan terjangkau. Per porsi Rp 20 ribu sajah. Setelah kenyang, kita pun melanjutkan perjalanan ke arah timur Bali dan berhenti di perhentian pertama yaitu….. Pantai Candidasa Sebenarnya ini gak ada di itinerary kita. Tapi karena kebetulan lewat, ya mampirin ajalah. Kesannya? Hmm….gak terlalu banyak yang bisa dilakuin sih Jadi saya dan teman saya di sini cuma foto-foto sebentar sebelum melanjutkan perjalanan lagi. Virgin Beach Gak terlalu jauh dari Desa Candidasa, tepatnya di Desa Perasi, kita bisa menemukan Virgin Beach yang relatif masih sepi dari turis. Pantai ini lokasinya memang lumayan tersembunyi, sehingga belum banyak wisatawan yang datang kemari. Biarpun tersembunyi, sebenarnya petunjuk arah ke pantai ini udah lumayan banyak kok, hanya mungkin gak gede-gedean ya. Seperti biasa, sudah ada petugas yang memungut retribusi ketika memasuki area Virgin Beach. Biayanya sekitar Rp 10 ribu untuk wisatawan lokal. Buat yang bawa kendaraan, kendaraannya bisa diparkir di area yang tersedia sebelum jalan kaki sejauh 500 meter (kira-kira yaa) sampai ke pantai. Virgin Beach sendiri ternyata gak se-perawan yang saya kira. Sudah cukup banyak warung yang berjejer di pinggir pantai. Wisatawan yang datang pun lumayan banyak, walaupun gak sampai padat kayak di Pantai Kuta atau Pantai Pandawa. Sukaa banget sama air lautnya yang biruuu… Pasirnya juga halus banget, walaupun gak seputih yang saya kira. Tapi, overall, pantainya masih bersih. Hampir semua wisatawan yang datang pada berjemur sambil santai membaca atau bermain dengan keluarga tercinta. Saya dan teman saya? Seperti biasa, cuma jeprat-jepret sebentar, setelah itu cuusss lagi (maklum, jalan-jalannya kejar setoran). Bali Chocolate Factory Hanya sekitar 10 menit dari Virgin Beach, kita bisa menemukan Bali Chocolate Factory yang unik. Saya sendiri tau tempat ini dari web referensi tripcanvas. Sebenernya kalau liat di Instagram udah lumayan banyak ya wisatawan yang datang ke sana, tapi kebetulan waktu saya datang tempatnya sepi-sepi aja tuh. Walaupun namanya Bali Chocolate Factory, ternyata pembuatan cokelatnya gak dilakukan setiap hari. Kebetulan waktu saya datang memang lagi gak ada pembuatan cokelat. Jadi kita Cuma bisa liat-liat tempatnya yang unik dan Instagrammable itu. Kenapa Instagrammable? Karena bangunan-bangunannya mirip rumah Hobbit di cerita epic The Lord of The Rings. Jadi saya gak perlu ke Farmhouse Lembang yang padat itu buat foto di depan rumah hobbit kan Untuk masuk ke Bali Chocolate Factory, wisatawan diwajibkan membeli sabun seharga Rp 10 ribu. Gak akan rugi kok, sabunnya wangii….lumayan buat dibawa-bawa kalo lagi backpacking. Selain mencicipi minuman cokelatnya (kurang kental sih menurut saya), kita juga bisa beli produk cokelatnya. Ada yang dark chocolate 85%, pasta cokelat macam Nutella (dengan merk yang mirip juga) atau cokelat dengan campuran gojiberry yang bercitarasa asam manis. Saya sendiri suka yang dark chocolate dan memutuskan untuk membeli satu bungkus yang dihargai Rp 65 ribu. Karena sepi (palingan ada 1-2 wisatawan lain selain kami berdua), tempatnya jadi tenaaangg dan damaaii banget. Betah deh lama-lama di sini…. Taman Ujung Sukasada Sayangnya kita harus melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya: Taman Ujung Sukasada. Saya udah naksir sama tempat ini sejak pertama kali baca artikelnya beberapa tahun lalu. Biaya masuk ke Taman Ujung juga masih standar, Rp 10 ribu per orang. Waktu masih di tempat parkir, saya sempat melihat ada calo yang coba menjual tiket ke wisatawan asing. Gak tau sih dia jual berapa, tapi ngapain juga pake calo ya, kan harga tiketnya masih terjangkau. Yah, enivei, Taman Ujung ini memang cantik banget tempatnya. Hanya saja, saya gak bisa tau banyak informasi karena gak ada guide-nya. Paling bisa baca informasi di lukisan-lukisan keluarga Kerajaan Karangasem yang ada di dalam bangunan sih. Tapi, saya mendambakan adanya guide-guide profesional seperti yang ditawarkan di Kraton Jogja atau Museum Ullen Sentalu Tirta Gangga Hanya berjarak 20 menit-an, dari Taman Ujung kita bergeser ke Tirta Gangga. Sekilas pemandangan yang ditawarkan hampir mirip sih, tapi kalau di Tirta Gangga kita bisa berenang karena disediakan kolam khususnya. Saya dan teman saya sih gak minat berenang, jadi kita menikmati suasana tamannya aja (sambil foto-foto narsis tentunya). Di sini juga ada beberapa restoran dengan menu internasional. Karena udah lapar banget, kita coba salah satunya. Hmm….agak nyesel sih, karena harganya mahal dan porsinya dikit. Rasanya juga standar. Tapi namanya lapar, ya disyukuri aja karena bisa mengenyangkan perut. Pura Lempuyang Luhur Awalnya, kita mengagendakan lihat sunrise di Pura Lempuyang Luhur. Tapi, setelah berbagai pertimbangan, akhirnya kita borong aja di agenda hari ini. Kalau kata driver saya, untuk mengeksplorasi pura yang terletak di Kecamatan Abang ini dibutuhkan waktu minimal 5 jam. Karena pura ini ternyata terdiri dari 7 buah pura dan terletak di titik tertinggi di Bali. Beneran lho, Pura Lempuyang Luhur ini posisinya tinggi banget, untuk mencapai gerbangnnya aja kita harus melewati jalanan berkelok-kelok yang lumayan terjal. Jadi, kalau bawa mobil ke sini, pastikan punya driving skill yang kece ya, lumayan bikin deg-degan soalnya. Karena kita datang sudah pukul 5 sore, staf pura sama sekali gak menyarankan kita untuk eksplor sampai ke puncak. Cukup sampai pura pertama aja. Itu juga naiknya udah lumayan ngos-ngosan kok Untuk masuk ke pura kita cukup memberikan donasi seikhlasnya (tapi ya jangan pelit-pelit juga sih heheheh). Nanti kita akan dipinjami kain supaya bisa memasuki pura. Pura pertama itu kalau gak salah namanya Pura Khayangan, pura terbesar dari komplek Pura Lempuyang. Kalau yang paling puncak itu ya Pura Lempuyang Luhur yang konon salah satu pura paling penting bagi masyarakat Bali. Menurut driver saya, kalau ada yang niat sampai ke puncak, jangan pernah mengeluh, karena nantinya malah gak bakalan sampai. Walaupun cuma bisa sampai di pura pertama, pemandangannya juga indah banget kok. Saat itu baru ada upacara, jadi kita masih bisa melihat beberapa orang hilir mudik di area pura. Oya, untuk masuk ke pura ini ada 3 buah tangga. Kita diwanti-wanti jangan menggunakan tangga yang tengah karena tangga itu hanya digunakan untuk hari raya. Pokoknya, kalau ada agenda ke Bali lagi, cobain deh eksplor Pura Lempuyang Luhur sampai ke puncak. Kata teman saya yang pernah ke sana, pemandangannya waaarrbiasyaakk Amed Selepas dari Pura Lempuyang Luhur, kita langsung menuju Amed yang emang menjadi tempat kita nginap malam itu. Ternyata jarak Amed dan pura ini hanya sekitar 20 menit. Saya baru pertama kali menginjakkan kaki di Amed. Dan saya langsung sukaaa banget sama desa yang tenang ini. Walaupun namanya desa nelayan, di Amed udah banyak banget penginapan, mulai dari yang murah meriah sampai yang mewah (walaupun jangan berharap ada yang kayak resort di Nusa Dua ya :p). Mungkin suasananya mirip Kuta jaman dulu ya, ramai restoran dan toko, tapi belum sampai heboh dan lebay kayak sekarang. Saya dan teman saya nginap di Bali Sari Homestay. Karena lokasinya agak masuk ke gang, lumayan susah nyarinya, sampai harus bolak-balik. Tapi tempatnya recommended banget. Kamarnya luas, bisa buat bertiga kayaknya. Kamar mandi dalamnya juga luas, walaupun harus sedia perlengkapan mandi sendiri. Ada pilihan kamar dengan kipas angin dan AC yang bedanya hanya sekitar 20rb. Dengan rate sekitar Rp 250 ribu (kipas angin), saya dan teman saya juga bisa menikmati sarapan pagi yang enaaakkk banget! Banana pancake, buah dan pilihan kopi/teh.
  9. @Rawoniste harusnya cukup banget heheheh klo sebulan juga bisa nikmatin suasana tiap tempat, jadi gak buru2 kayak saya
  10. sebenernya ada @Rawoniste tapi ga ada yang jelas krn lensa kameranya kena cipratan air XD
  11. @deffa Kita nginep di 5 hotel berbeda hahhaha *cewek2 kurang kerjaan Di Singaraja nginep di Pop Hotel Hardys Singaraja Square Selasa nginep di Seminyak Lagoon (recommended), Rabu di Room and Vespa 3. Kamis nginep di Bali Sari Homestay Amed (recommended) Jumat di Dash Hotel Seminyak di Jl. Petitenget (recommended) Awalnya sama sekali ga mau nginep di Seminyak, tapi itung2an sewa mobilnya jadi gede banget kalo nginep di luar Kuta-Legian-Seminyak-Denpasar. Jadi diakalin gini deh.... iya asyik @kyosash tapi kalo dateng enakan di luar hari libur kayaknya biar gak penuh heheheh
  12. iya bener @deffa, banyak banget kebun bunga di pinggir jalan, tapi yang ini satu2nya waktu otw ke Sekumpul XD saya belom pernah liat lumba-lumbanya....next agenda entah kapan kalo gtu hahahah
×
×
  • Create New...