epinami

Members
  • Content count

    43
  • Joined

  • Last visited

  • Days Won

    1

epinami last won the day on February 6

epinami had the most liked content!

2 Followers

About epinami

  • Rank
    Baru Bergabung

Profile Information

  • Gender
    Female
  • Location
    Jakarta

Recent Profile Visitors

393 profile views
  1. hahahaha, hanimun-able banget lho iniii (ngintip obrolan sama om @deffa kayaknya ada yang mau kewong)
  2. Musim Semi di Turki

    Wuiihh, semangat yaa mba @Heen Yahya, semoga nemu temen. Aku sambil tanyain temen2 aku juga, sapa tau ada yg mau Nanti kalo ada yg mau ditanyain lagi, jangan sungkan2
  3. lieur abdi, hahaha kayaknya memang belom jodoh, soalnya kita baru mulai di tokyo tanggal 8 februari
  4. bagus kok, even di kota2 minor macam Selcuk tapi alangkah baiknya kalo bisa goolgle map dengan memanfaatkan elevasi juga...soalnya kadang rute yang di kasih nggak menginformasikan countour wilayah. Jadi, meskipun kayaknya deket cuma 200m tapi jalannya nanjak 45 derajat kan pegel juga gara-gara nggak ngecek countour tanahnya di map waktu booking tempat nginep yang di Istanbul, kita apes banget harus ngelewatin jalan nanjak tiap pagi dari apartmen ke stasiun terdekat, dan pas balik harus ngerasain turunan yg lebih horor lagi
  5. itu ngitungnya Day 1 tanggal 29 januari ya? Atau Day 13 di 11 februari? Kalau Day 13 di 11 januari, kayaknya bisa ikutan yang Day 10 (kalo nggak salah itung berarti di 8 februari) ke Shibuya, itinerary kita pas di sana juga
  6. Semogaa nanti ada rejeki dan kesempatan deh ke sana Hahaha, bukan takut om2 is is siiiiy, lebih takut sama om2 genit. Ok lah cowo sana ganteng2, tapi genit2 bangettt. Pokoknya jangan ditanggepin kalo ada cowo di jalan manggil2 sok akrab
  7. Baru bacaaa Om @deffa, om @betmen aku juga ke Jepang tanggal 7-16 Februari, berdua sama teman. Berangkat ke Haneda, pulang dari Chitose. Sampai tanggal 9 kayaknya di Tokyo... boleh kayaknya kalo itinerary-nya ngepas kita ketemu bareng Sekalian kalo ada yang mau bareng juga tanggal segitu, aku dapet tiket promo Cathay (promo sd 20 Agustus): Itinerary: 7-9 Tokyo 10 Nikko 11 Kawaguchiko 12-13 Shirakawago 14-16 Sapporo &sekitarnya Sebenernya lagi nyari 1 orang lagi buat nemenin temen aku pas setengah hari kami memisahkan diri dan aku menghilang di One Piece Tower (temen aku gamau ikut, bukan penggemar anime )
  8. Iya, cewek semua, hari gini mah yg penting tinggal ngandelin smartphone siii Tiket PP KUL-IST 6.1juta, PP CGK-KUL 1.1juta, total 7.2juta lah...
  9. hahaha, yoii, ini modal nekat bangetttt nggak rugi lah, pengalaman once in a lifetime, meskipun nanti pengennya lagiiii (duite sopoooooo) di atas pengen nangis, terhura bisa kesampean juga liat planet Mars-nya bumi hahaha, iya, itu gambling banget kita ga bawa lira selembar pun, untung bisaaa boleh nanti aku share itinerary-nya kurang paham juga si itu yunani ato romawi si? mungkin kalo di sini kayak reruntuhan candi gitu kali yaaa
  10. Hai, sebenernya trip ini udah sejak April kemarin, tapi karena tugas negara dan gw harus berpindah-pindah tempat beberapa bulan terakhir, jadi baru sempat bikin field report-nya. Langsung aja kali yaaa... Berikut adalah highlight itinerary kemarin (Part 1 - Selcuk, Pamukkale, Cappadocia, nanti yang Istanbul akan dibahas di Part 2): Day 0 21 April 2017 CGK-KUL Day 1 22 April 2017 KUL-IST IST-ADB (Izmir) Izmir-Selcuk (Urkmez Hotel) Day 2 23 April 2017 Ephesus Archeological Museum Celsus Library Sirince Isa Bey Mosque St. John's Basilica Selcuk Pidecisi (makan pide) Day 3 24 April 2017 Selcuk-Denizli Denizli-Pamukkale Pamukkale Traverten Denizli-Goreme Day 4 25 April 2017 Goreme Otobus terminal-Cozy Villa Cappadocia Uchisar Castle Huzur Pide Salonu (makan pide) Day 5 26 April 2017 Hot Air Ballon Red Tour Cappadocia Sunset 21 April 2017 Gw berangkat dari Bandara Soetta (bareng Mba Nesa) pakai AA ke KLIA2 (lagi-lagi dapat gate E4) pukul 18.55. Awalnya sempat takut delay, karena flight sebelumnya yang ke Singapore kena delay hampir 2 jam, kan berabe kalo kita yang ke KL ikutan delay. Bayangan ribetnya ambil bagasi yang biasanya lama, pindah dari KLIA2 ke Main Terminal (KLIA1), belum antrian imigrasinya. Tapi alhamdulillah semuanya lancar. Sampai di KLIA2 pukul 22.00 waktu setempat, imigrasi lancar, antriannya pendek kok (mungkin karena memang sudah malam), bagasi juga cepet. Setelah ambil bagasi kita langsung cari stasiun kereta untuk transfer ke KLIA1, letaknya setelah dari baggage claim ke arah luar ikutin jalan aja terus, kemudian belok kanan (perhatikan baik-baik papan petunjuk, nggak susah kok nemunya) nanti gate dan loket tiketnya ada di situ. Setelah bayar RM2, kita masuk dan turun pakai eskalator. Di bawah akan ada dua jalur (KLIA Transit dan KLIA Ekspres), karena kita cuma mau ke KLIA1 naik yang mana aja sama. Jarak tempuh antar dua terminal ini nggak sampai 5 menit. ================================================================================================================================== 22 April 2017 Dari Main Terminal, kami lanjut check-in di counter Etihad. Semua lancar, paling diledek bapak2 petugas counter karena kami pakai E-visa. Nggak kebanyakan ba-bi-bu, kami langsung masuk imigrasi dan nunggu pesawat di boarding room. Perjalanan ke Atarurk total flight-nya sekitar 12 jam (7 jam Kuala Lumpu-Abu Dhabi, dan 5 jam Abu Dhabi-Istanbul), ditambah 3 jam transit. Kita sampai di bandara Ataturk tengah hari dengan mata ngantuk. Sampai di imigrasi...amburadul Antrian ga jelas, tapi ada petugas yang ngatur kita masuk loket berapa. Tapi imigrasi di Ataturk ini relatif lancar kok. Dan tiba-tiba ada yang manggil kita sambil nanya "Orang Indonesia ya?" Ternyata itu Mba Ika yang janjian sama kita untuk ketemu di Istanbul. Katanya karena kita keliatan beda di antara yang lain makanya dia langsung ngenalin kita. Hahaha... Setelah ambil bagasi, kita cari ATM, karena sesungguhnya gw ga bawa uang cash Lira sepeser pun! Susah nyari money changer di Jakarta yang punya Lira. Ternyata bisa kok, dengan rate yang fair dari bank provider ATM kita dan biaya tarik tunai debit 25,000 IDR untuk sekali tarik. Gw sendiri pakai BNI, Mba Nesa dan Mba Ika pakai Mandiri. Lanjuuut kita keluar International Terminal, gw langsung ambil wi-fi pocket dari All Day Wifi (60USD untuk 10hari), bisa dipesan di mari: https://alldaywifi.com Kemudian kita lurus ke Domestic Terminal (keluar pintu belok kiri) untuk langsung melanjutkan perjalanan ke Izmir. Dipikir-pikir capek juga itu, hampir 24 jam sejak meninggalkan Jakarta. Dari Istanbul ke Izmir, kita pakai Pegasus Airlines (web-nya bisa di-cek di sini https://www.flypgs.com/en/). Sebenarnya banyak pilihan maskapai lain juga, tapi yang harganya terjangkau menurut gw bisa pilih antara Pegasus Airlines ini atau Onu Air. Dari Istanbul ke Izmir kita dapat harga 13GBP atau sekitar 190,000IDR (muraaah banget kaaan). Pesawat kita pun on time, take off pukul 16.40 dan landing 17.45 di bandara Adnan Menderes, Izmir. Dari bandara (atau dalam bahasa Turki: havalimani), kita lanjut naik kereta menuju Selcuk. Stasiun kereta letaknya ada di seberang bandara, kita beli tiket kereta ke Selcuk seharga 5TYR dengan lama perjalanan sekitar 45menit. Awalnya kita bingung harus naik kereta yang mana, sampai akhirnya ada kakek-kakek yang kayaknya kasihan liat kita kebingungan dan kebetulan tujuan kita sama, jadi beliau nemenin kita sampai kereta tujuan akhir Denizli (kereta ini yang lewat Selcuk Gari; Gari artinya stasiun) ini lewat. Di dalam kereta ternyata cukup penuh, jadi kita duduk misah-misah. Gw sendiri duduk di sebelah bapak-bapak sama anaknya. Terharu banget waktu di tengah jalan si anak cowok yang masih balita ini ngasi kuenya. Sampai di stasiun Selcuk, hari mulai gelap (sekitar pukul 20.00 waktu itu), si kakek bahkan nganterin kita ke pintu hostel yang untungnya gak sampai 5menit jalan kaki dari stasiun. Kita menginap di Urkmez Hostel, dan disambut abang-abang resepsionis yang gantengnya ga sopan (maap ga berani ambil fotonya, belakangan kita baru tahu kalau ternyata dia masih SMA dan lagi magang di situ). Kita dapat kamar di lantai 3, dan ternyata hostel kita persis di depan bangunan Selcuk Efes Kent Bellegi dan semacam alun-alun pusat kotanya. Kita udah ga kuat ngapa-ngapain, setelah mandi dan bongkar bawaan masing-masing, kita bertiga langsung ambruk di kasur. ================================================================================================================================== 23 April 2017 Paginya, selain disuguhi sarapan, kita juga disuguhi pemandangan luar biasa dari ruang makan hostel yang terletak di lantai 6. Dari segala macam makanan yang disediakan, gw cuma berani makan kentang, keju, telur, dan buah-buahannya. Perut kenyang, kita langsung ke resepsionis untuk menanyakan taksi ke Celsus Library, karena dari hasil riset untuk sampai di pintu masuk yang di atas (supaya nggak bolak balik), lebih baik berangkat pakai taksi, pulangnya baru naik dolmus (sejenis angkot di sana) saat keluar pintu yang di bawah. Ternyata di resepsionis ada tiga mahasiswa asal Taiwan yang kuliah di Turki, juga sedang menunggu taksi ke arah Celsus Library. Akhirnya, kita bertiga nebeng mereka deh, lumayan biaya taksi 20TYR jadi bisa dibagi 6. Perjalanan dari pusat kota ke Ephesus paling cuma 10 menit. Di pintu masuk kita disambut deretan toko souvernir dan... puluhan kucing. Banyak banget kucing mondar-mandir di sini. Gw pun ngantri tiket untuk kita bertiga, sementara Mba Ika dan Mba Nesa foto-foto di pintu masuk. Harga tiket masuk Ephesus Archeological Site ini (termasuk si Celsus Library adalah 40TYR). Satu lagi yang gw sendiri kesel dan bingung: pelayanan di loket pembelian tiket ini lamanyaaaaa minta ampun (loket di tempat wisata di mana pun di Turki lho, tadinya gw kira di Ephesus ini aja, tapi bahkan nantinya di Istanbul juga begitu). Tapi mau beli Museum Pass pun masih lebih mahal dari ngeteng (kalau untuk area Ephesus dan sekitarnya), jadi yasudahlah. Setelah masuk gate, kita langsung disambut reruntuhan (yang mana gw sendiri nggak bisa bedain, ini lebih ke Yunani atau Romawi), dan...amphitheater. Kita foto-foto di sini, bahkan ketemu rombongan keluarga dari Indonesia yang sedang mengunjungi saudaranya yang menetap di Turki. Dari amphitheater ini bisa kelihatan jalan ke bawah yang ujungnya adalah Celsus Library. Jadi, setengah jam di sekitar amphitheater, kita melanjutkan foto di sepanjang 100meter jalanan yang masih juga diisi reruntuhan, dan berakhir di Celsus Library. Kita benar-benar takjub dengan arsitekturnya dan pemandangan bukit-bukit hijau di sekelilingnya juga nggak kalah bikin melongo. Jadi, sebelum kita keluar lewat jalan yang dikeliling pohon-pohon rindang, ternyata di sana ada dua amphitheater (yang di dekat pintu keluar bawah, amphitheater-nya lebih besar). Sebelum tengah hari kita harus kembali ke pusat kota, karena ingin mengunjungi Sirince. Rencana naik dolmus kembali ke kota pun gagal karena kita bingung naik dolmus yang mana, akhirnya kita putuskan naik taksi lagi ke terminal Selcuk (Selcuk Otogari), tarifnya sama: 20TYR. Turun di depan terminal Selcuk, kita ditawari para supir untuk naik dolmus ke berbagai macam jurusan. Pas gw bilang "Selcuk" salah satu dari mereka langsung menggiring kita untuk naik ke dolmus dengan tulisan Sirince di kaca depannya. Tarif dolmus dari Selcuk ke Sirince: 3.5TYR/orang. Nantinya kita akan diturunkan di tengah-tengah pasar di Sirince ini. Gw sendiri kurang tahu sebenernya Sirince ini seluas apa, karena kita cuma jalan-jalan di pasarnya aja. Jualannya macam-macam, dari souvernir, buah-buahan, sayuran, bunga, baju, sabun, body lotion, dan berbagai macam kafe. Kita bertiga ngiler waktu lihat ada yang jual buah strawberry yang gedhe-gedhe, jadilah kita patungan beli sekilo dan harganya cuma 6TYR (24rebu rupiah!!! strawberry? sekilo? manis dan gedhe-gedhe banget pula?!). Buat oleh-oleh gw pun beli beberapa sabun handmade dan body lotion yang terbuat dari extract buah zaitun (zaitun ini ga pernah ketinggalan kalo kita makan di manapun di Turki). Harganya per buah cuma 2TYR, borooong dah! Puas foto-foto dan belanja, kita naik dolmus untuk kembali ke Selcuk. Kali ini isi dolmusnya cuma kita bertiga, jadi gw sama mba Nesa pede aja makan bekal nasi pake lauk gepuk daging sapi di dalam dolmus. Sampai saat itu, kita masih menyimpan uangnya buat makan malam aja, makan siang gausah keluar duit dulu. Tujuan kita selanjutnya adalah Ephesus Archeological Museum, dengan harga tiket masuk 10TYR. Isi museum ini sebagian besar adalah pindahan dari Ephesus Archeological Site (mungkin diamankan biar ga diambil atau dirusak orang). Di dekat museum ini ada deretan restoran yang menjual Pide (pizza ala Turki) dan sederet toko souvernir. Gw sempat beli gelang (harganya 3TYR) dan beberapa bookmar (1TYR/pcs). Kemudian kita lanjut jalan kaki ke Isa Bey Mosque. Di Isa Bey Mosque ini masih berfungsi sebagai masjid. Tadinya Mba Nesa mau nyoba sholat di situ, tapi karena gw sama Mba Ika gak mau ikutan (abis ribet tepat wudlu-nya, dan gw ngerasa awkward diliatin orang-orang), akhirnya dia gajadi. Setelah cuma numpang foto-foto sebentar di sini, kita lanjut ke St John's Basilica yang nggak terlalu jauh dari situ. Tiket masuk St John's Basilica: 10TYR. Suasananya masih mirip kayak di Celsus Library, tapi jauh lebih sepi. Sepiii bangetttt. Gw memutuskan buat naik sampai ke atas, ke dekat benteng-bentengnya, tapi Mba Nesa dan Mba Ika ngeluh capek jadi mereka milih nunggu di bawah. Ternyata memang bikin megap-megap buat nyampe ke atas, tapi dibayar lunas sama pemandangannya. Terus tiba-tiba Mba Ika nongol, ternyata dia pengen liat juga pemandangan kota Selcuk dari atas. Pas kita turun, ternyata Mba Nesa udah dapet kenalan cowok lokal (gw lupa namanya), mungkin dia kesepian ditinggal gw sama Mba Ika naik sampai ke atas. Kita berdua cuma sempat ngobrol sebentar sebelum kembali ke hostel berjalan kaki. Gw suka banget sama tata kota Selcuk ini, rapiii banget. Nyaman deh buat jalan kaki, apalagi dengan pemandangan di sekelilingnya. Kita memutuskan buat istirahat di hotel sebentar sebelum malamnya kita berencana makan pide di restoran dekat museum yang gw sebut tadi, namanya Selcuk Pidecisi (gw dapet info dari tripadvisor). Dan review-nya benar; harganya murah, pide-nya enak, pelayanannya ramah banget, bahkan kita dikasih bonus semacam kue kacang (kalau gw bilang, rasanya mirip ting-ting khas kita). Sejujurnya gw benci banget sama makanan yang namanya pizza, tapi buat pide ini pengecualian deh. Ini enak banget, karena adonannya lebih mirip tortilla, jadi bukan roti tebel kayak pizza gitu. Total 2 pide daging ukuran besar (harusnya cukup buat 4 orang), teh, kopi, air mineral: 28TYR Kita pun balik ke hostel setengah lari-lari karena kedinginan, kemudian re-packing untuk besoknya lanjut ke Pamukkale, Denizli. ================================================================================================================================== 24 April 2017 Pukul 08.00 kita udah mulai sarapan karena ngejar kereta jam 09.00. Catatan: kereta api di sini masih kayak di Indonesia, ngaret. Dari stasiun Selcuk harusnya kita berangkat jam 09.10, tapi kereta baru datang sekitan 09.30. Ditambah waktu tempuh ke Denizli 3 jam, kita sampai pukul 12.30. Harga tiket kereta Selcuk-Denizli: 16.5TYR/orang. Dari stasiun Denizli ke terminal Denizli, kita harus nyebrang dulu dan jalan kaki sekitar 300meter. Di terminal ini, pertama kita taruh koper di tempat penitipan barang dengan tarif 5TYR/bag. Tempat penitipan koper ini ada di lower ground, satu lantai dengan terminal dolmus (terminal bus besar ada di lantai ground). Enteng sudah bawaan kita, dan bersiap lanjut naik dolmus ke Pamukkale. Dari terminal Denizli ini kita naik dolmus ke North Entrance (bilang aja ke supirnya) dengan tarif 4TYR. Sampai di North Entrance, lanjut aja ke dalam terus nanti akan ketemu loket penjualan tiket masuk). Harga tiket masuk: 35TYR. Setelah beli tiket, kita masuk gate dan kemudian di situ ada dolmus lagi (ini shuttle buat yang males jalan jauh ke travertine-nya, itu lho si Cotton Castle yang tersohor itu). Sayangnya nggak gratis, tarifnya 3TYR. Shuttle ini akan berhenti di depan Ancient Pool. Kita bertiga memutuskan buat makan siang dulu di dalam Ancient Pool ini. Harganya lumayan, gw menghabiskan 19TYR untuk burger+french fries, yang gw makan sambil nontonin bule-bule berenang. Perut kenyang, semangat deh kita jalan ke Travertenleri. Gw langsung melongo waktu ngeliat pemandangan serba putih dari kejauhan. Kita harus copot sepatu kalau mau turun ke traverten ini. Awalnya ragu-ragu takut kepleset, tapi ternyata permukaannya keset (tips: dasar yang warna putih teksturnya keset, jadi nggak akan kepleset; justru hindari dasar yang warna cokelat, itu licin, kayaknya si itu lumut) Kayaknya ada satu jam kita di situ, bener-bener terpesona oleh si Cotton Castle. Tapi di sini mataharinya terik banget, jangan lupa pakai sunblock. Rasanya terik (matahari), tapi dingin (angin), tapi anget (waktu kaki kita berendam di kolamnya), campur-campur deh... Sudah puas, kita kembali ke terminal Denizli dengan rute yang sama dengan saat berangkat. Gw nggak berani bereksperimen nyari jalan lain, karena kita udah punya tiket bus ke terminal Goreme (Cappadocia), kan nggak lucu kalau sampai ketinggalan. Dan untung banget kita masih agak sore sampai di terminal Denizli lagi, jadi gw sama Mba Ika memutuskan buat jalan-jalan di sekitar terminal (Mba Nesa nggak mau ikut, capek katanya). Malamnya, kita menunggu bus ke Goreme di peron 14. Bus-nya sendiri kita pakai dari agen Suha, harga tiketnya 60TYR (bisa cek di mari: http://www.suhaturizm.com.tr/). Banyak kok pilihan bus menuju Goreme (ada Metro, Kamilkoc, Pamukkale, dll). Di perjalanan, kita diberi snack berupa kue bolu dan ditawari minum 2x (malam saat mulai berangkat, dan pagi saat hampir sampai). Waktu tempuh Denizli-Goreme ini hampir 10jam, lumayan bikin pantat tepos. ================================================================================================================================== 25 April 2017 Jadi, kita sampai di terminal Goreme pukul 08.00 dan langsung disambut oleh Yasar, si empunya guesthouse yang akan kita tempati selama 2 malam di Cappadocia. Kaget juga si Yasar ini lumayan lancar bahasa Indonesia, yang ternyata dia pernah kuliah setahun di Jakarta. Kita dijemput dari terminal pakai mobil pribadi dia, gratissss (ya ampuuuun, baik bangettttt). Sampai di rumahnya (yang awalnya gw heran, kok kayak rumah-rumah di drama korea, padahal ini kan di Turki), kamar belum siap (karena kita memang kepagian), jadi kita istirahat dulu di living room yang cozy banget. Dan muncul deh bininya Yasar, namanya Eva yang ternyata orang Korea. Ooookeeee, terjawab sudah kenapa ini rumah interior & eskteriornya kayak di drakor-drakor yang sering ditonton temen-temen kantor. Namanya guest house-nya: Cozy Villa Cappadocia. Di booking.com ada kok, atau mau hubungi langsung si Yasar bisa ke nomer WA berikut: +905437681309, dia akan meladeni dengan sangaaaaatttt ramah. Kita bertiga dapat dua kamar, Mba Ika+Mba Nesa satu kamar, gw sendirian dapat kamar loteng yang lucu banget macem di film-film (meskipun kamar mandinya di luar), tapi pengalaman tidur di kamar loteng gitu bener-bener unik. Setelah istirahat dan bongkar barang bawaan, kita bertiga berangkat ke Uchisar Castle yang masih seperjalanan kaki. Kawasan Uchisar ini nggak seramai Selcuk. Jalanannya lebih lebar tapi jarang ada mobil lewat . Kita foto-foto aja di sekitar Uchisar, dan cuma gw yang masuk ke dalam castle-nya dan naik sampai ke atas (yang lain ga mau, capek katanya). Emang megap-megap si pas sampai di puncak. Harga tiket masuknya 7TYR. Mba Ika & Mba Nesa menunggu gw dengan setia di bawah. Setelah gw turun, kita beli oleh-oleh tempelan kulkas di sekitar castle. Kemudian kita makan pide (lagi, ini jadi favorit gw banget selama di sana) di restoran yang namanya Huzur Pide Salonu. Kita diantar pake mobilnya si Yasar (di mobil ada anaknya, namanya Cinar, ngguanteng banget campuran Turki+Korea gitu), dia pun bilang ke yang punya resto kalo kita saudaranya, mungkin biar dilayani dengan baik atau dikasih diskon kali ya? Untuk 2 porsi besar pide dan 3 jenis minuman totalnya 38TYR. Sisa hari kita habiskan dengan tiduuuuurrr, siap-siap besok subuh naik balon. ================================================================================================================================== 26 April 2017 Gw udah bangun dari pukul 3 pagi. Mandi dan siap-siap segala macem, tinggal nunggu subuh dan dijemput. Dan gilaaak luar biasa itu dinginnya subuh-subuh gitu. Gw gabisa diem waktu di tanah terbuka nunggu naik balon, kalau diem bawaannya menggigil. Si Yasar sampai meminjamkan syal-nya ke Mba Nesa, karena dia yang paling kedinginan (bener2 full service deh ni tuan rumah) Di lokasi disediakan easy breakfast macam kopi, teh, dan berbagai macam roti. Kita juga bayar tiket naik hot air balloon-nya di situ sebesar 80EUR dan akan dikasih bon tanda terima gitu. Sekitar pukul 5 akhirnya kita naik balon. Gw sempet deg-degan karena sejujurnya gw orang yang takut ketinggian (banget, biasanya kaki gemeteran dan bawaannya kayak ada hasrat pengen loncat kalo pas lagi di ketinggian gitu, entah kenapa). Tapi gw juga nggak tau kenapa, rasanya biasa aja pas balon-nya mulai take off. Beneran deh, take off-nya smooth banget, pas udah di atas juga gw ngerasa biasa aja, terpesona sama pemandangannya kali ya... Oh iya, di dalem balon dibagi 4 sekat, satu sekat isi 4 orang, jadi total 16 orang dalam satu balon. Dalam satu balon ini kita ketemu dua orang Indonesia lain, namanya Rere dan Eka. Jadi pede dong minta-minta difotoin Total penerbangan 1-1.5jam, dan ketika mendarat (justru ternyata proses landing ini yg bikin deg-degan), kita dikasih celebration (sok-sokan buka botol wine gitu deeh) dan dikasih medali. Pulang dari naik balon, kita lanjut ikut tour. Karena di Cappadocia ini hampir nggak ada kendaraan umum, jadi pilihannya ya sewa mobil atau ikut tour. Kita bertiga memilih ikut Red Tour (selain itu ada Green, Blue, dan Yellow yang biasanya dimulai dari pukul 09.00-09.30 sampai sore). Red Tour ini sendiri itinerary-nya adalah sebagai berikut: Uchisar Panorama, Goreme Open Air Museum, Cavusin Village, Avanos, Pasabag Monks Valley, Devrent Valley, Urgup Fairy Chimney, dan Avanos Pottery Workshop. Jeleknya gw adalah kurang memperhatikan apa yg dikasih tahu sama tour guide kalo lagi ikut tour gini, jadiii gw sendiri lupa foto ini lagi di spot yang mana...gomeeen Mba Nesa dan Mba Ika pun tergeletak di kamar usai tour (iyalah, udah bangun dari jam 4). Tapi entah dapat energi dari mana, gw pengen ikut rombongan 14 orang dari Indonesia yang baru datang sore itu. Mereka mau liat sunset katanya. Hajarr bleeh!!! (modal SKSD, tapi yang namanya sama-sama jauh dari rumah, ketemu sodara setanah air biarpun baru kenal rasanya kok kayak udah kenal lama ya?) ================================================================================================================================== 27 April 2017 Hari ini kita akan balik ke Istanbul (kali ini ke Sabiha Gokcen) pake Pegasus lagi, penerbangan pukul 13.05. Jadi kita minta shuttle yang 10.00 untuk diantar ke bandara Nevsehir (karena letak bandara militer ini cukup jauh, jadinya nggak mungkin kita minta tolong Yasar untuk anterin lagi). Tarif shuttle ke bandara Nevsehir adal TYR25/orang. Tapi sebelumnya kita diantar Eva untuk beli oleh2 khas Cappadocia di toko langganan dia. Lumayan ngeborong juga kita di sana. Sediiih banget waktu mau pisah sama Yasar & Eva ini Pengen gituuu sebulan lagi numpang di rumah mereka #ngareppppp Yak, lanjutan Part 2 yang Istanbul nanti gw share di lain kesempatan ya Owari...
  11. Garuda Indonesia Travel Fair 2017 (Update)

    yang Jakarta bank partner-nya masih BNI??
  12. Hi, iya niiih mau kirim itinerary hape aku kan rusak, contact ilang semua Coba wasap akunya dulu dong
  13. lanjut di line yaaah nginep deket clarke quay
  14. pindah ke 14 aja mbaaa, hehehe kita 13 keliling marina bay dan sekitarnya, soalnya temen aku mau di clarke quay sampe malem kita ke sentosa island dan sekitarnya tanggal 14 (sama, mau foto depan USS, tapi ga masuk madame tussauds)
  15. Hi mba, saya sama temen saya tanggal 13-14 di singapore nii Tanggal segitu lagi di mananya?