sehatq

Members
  • Content Count

    3
  • Joined

  • Last visited

  1. Mimisan memang sering terjadi pada anak-anak. Tidak jarang, kondisi ini bisa membuat Bunda khawatir. Namun, dengan cara mengatasi mimisan yang tepat, kondisi ini sebanarnya bisa reda dengan cepat. Bunda tidak perlu panik, karena mimisan pada anak pun biasanya tidak menandakan suatu gangguan kesehatan yang serius. Meski begitu, Bunda juga tetap perlu berhati-hati jika mimisan yang dialami dirasa tidak kunjung berhenti dan disertai dengan gejala-gejala lain. Cara mengatasi mimisan pada anak yang perlu Bunda ketahui Mimisan paling sering terjadi pada anak berusia 3 hingga 10 tahun. Biasanya, kondisi ini bisa terjadi karena udara kering atau karena anak tidak sengaja melukai bagian dalam hidung dengan jari atau kuku. Meski mimisan terlihat cukup menyeramkan, namun Bunda bisa melakukan cara mengatasi mimisan yang tepat di bawah ini untuk membantu meredakannya: Tetap tenang dan beritahu anak untuk juga tetap tenang. Bawa anak untuk duduk tegak di kursi atau di pangkuan Bunda, lalu posisikan kepalanya sedikit menunduk. Jangan posisikan kepala anak pada posisi menengadah atau mendongak. Hal ini bisa membuat darah mengalir ke belakang tenggorokan dan bisa menyebabkan anak mual, muntah, dan batuk. Jepit cuping hidung perlahan, dengan tisu atau handuk yang halus. Lakukan hal ini selama kurang lebih 10 menit. Jika berhenti terlalu cepat, mimisan bisa kembali terjadi. • Biarkan anak beristirahat dengan santai setelah mimisan berhasil diatasi. Beritahu kepada si kecil untuk tidak mengorek-ngorek hidung atau mengusap-ngusap hidung setelah mimisan. Jika cara mengatasi mimisan tidak membuahkan hasil, segera hungi dokter Meski mimisan umumnya bukanlah kondisi yang membahayakan, terdapat kondisi-kondisi tertentu yang membuat mimisan perlu mendapatkan penanganan dari dokter. Hubungi dokter apabila: Si kecil sangat sering mimisan Mungkin baru saja memasukkan suatu benda ke hidungnya Anak terlihat mudah memar Punya kecenderungan berdarah banyak, meski luka yang dialami hanya kecil, atau gusinya mudah berdarah Baru-baru ini mengonsumsi obat yang sebelumnya belum pernah dikonsumsi Mimisan yang dialami disertai dengan gejala lain seperti pusing atau lemas Mimisan terjadi akibat benturan di kepala Tidak kunjung berhenti meski telah melakukan cara mengatasi mimisan dua kali berturut-turut Jadi, Bunda tidak perlu bingung lagi jika anak mimisan. Bunda tinggal mengikuti langkah-langkah di atas, dan mimisan pun diharapkan dapat segera berhenti. Jangan tunda untuk ke dokter jika anak sudah menunjukkan tanda-tanda seperti di atas.
  2. Menurut para peneliti di Mayo Clinic, penyakit batu ginjal pada wanita semakin mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Kejadian ini paling banyak dialami oleh pasien wanita berusia 18-39 tahun. Alat diagnostik berupa CT scan membuat deteksi batu ginjal pada pasien jadi lebih mudah terdiagnosis. Apa Itu Penyakit Batu Ginjal? Batu ginjal merupakan infeksi yang menyerang area saluran kandung kemih dengan tingkat yang sudah kronis. Akan tetapi, batu ginjal sama sekali bukan batu. Hanya saja, karena sangat sulit dan sakit saat buang air kecil, pasien seperti merasakan adanya sebongkah batu yang menghambat saluran kencing. Batu ginjal umumnya berukuran kecil. Besarnya seperti sebutir garam atau seukuran inti biji jagung. Jika tubuh mengandung terlalu banyak mineral tertentu dan pada saat yang sama kekurangan cairan, maka batu ginjal bisa terbentuk. Batu ginjal bisa berwarna cokelat atau kuning, dan teksturnya ada yang halus atau kasar. Batu ginjal pada wanita maupun pria sangat berisiko. Namun, peluang pria lebih besar dua kali lipat ketimbang pada wanita. Penderita batu ginjal umumnya harus membuat perubahan gaya hidup. Termasuk menerapkan pola makan seimbang untuk mencegah penyakitnya kambuh. Tak hanya itu, penderita batu ginjal juga harus minum lebih banyak air, mengurangi makan daging, dan mengurangi asupan garam (mengurangi makanan asin). Para peneliti mencatat temuan mereka mungkin tidak berlaku untuk semua orang. Karena mereka hanya melakukan penelitian dengan melibatkan para peserta yang berkulit putih. Sedangkan, dari ras keseluruhan di seluruh dunia, ras kulit putih (kaukasia) merupakan ras yang paling tinggi berisiko batu ginjal. Gejala Batu Ginjal Beberapa penderita batu ginjal tidak pernah menyadari mereka memiliki gejala sebelum mengeluh sakit saat buang air kecil. Berikut adalah gejala-gejala batu ginjal yang perlu diketahui. Nyeri di punggung Nyeri di bagian bawah perut Sering buang air kecil Merasa sakit saat buang air kecil Urin berwarna merah jambu, merah, atau coklat Mual karena sakit perut Demam dan kedinginan Tes Pemeriksaan Batu Ginjal Dikutip dari situs kesehatan SehatQ.com, ada beberapa pemeriksaan agar dokter bisa mendiagnosis batu ginjal, antara lain: Sinar X. Pada kasus orang dewasa, batu ginjal lebih mudah dilihat dan ditemukan. CT scan. Menggunakan alat CT (computed tomography) scan untuk mengambil gambar X-ray. Gambar ini nantinya akan digunakan dokter untuk membuat diagnosis yang cepat. USG. Tes ini menggunakan gelombang suara untuk membuat gambar dari organ di bagian dalam tubuh pasien. Jika pasien memiliki batu ginjal, tes ini dapat membantu dokter untuk mengetahui seberapa besar dan di mana lokasi tepatnya. Tes darah. Bertujuan untuk mengetahui apakah pasien memiliki terlalu banyak zat tertentu dalam darah, seperti asam urat atau kalsium, sebagai pembentuk batu ginjal. Tes urine. Fungsinya untuk mendeteksi mineral pembentuk batu ginjal di dalam urin. Pengambilan sampel urin membutuhkan waktu selama 1-2 hari. Setelah pemeriksaan batu ginjal, dokter akan memiliki informasi yang cukup dalam memutuskan perawatan terbaik. Dengan melakukan pemeriksaan tersebut, dapat membantu dokter menangani penyakit batu ginjal lebih efektif dan cepat.
  3. sehatq

    Bukan Dipasung, Ini Cara Benar Obati Skizofrenia

    Jika Anda mengalami skizofrenia, maka terdapat beberapa hal yang dapat Anda lakukan, yaitu: Tetap mengikuti penanganan yang diberikan dan fokus dengan tujuan untuk menjadi lebih baik. Berbicara dengan orang-orang terdekat Anda mengenai masalah yang dihadapi atau mengikuti komunitas-komunitas dengan orang-orang yang mengalami hal yang serupa agar dapat berdiskusi dan saling mendukung satu sama lainnya. Meminta bantuan kepada orang lain atau organisasi-organisasi tertentu yang dapat membantu Anda untuk memenuhi kehidupan sehari-hari Anda, seperti transportasi, tempat tinggal, dan sebagainya. Mempelajari tentang kondisi yang Anda alami. Mempelajari teknik-teknik untuk mengatur stres dan relaksasi, seperti meditasi, yoga, dan sebagainya. Menerapkan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan yang bergizi, istirahat yang cukup, dan berolahraga secara teratur. Menghindari alkohol, rokok, dan narkotika. Menyadari gejala-gejala kambuhnya gangguan agar dapat segera ditangani sebelum makin parah. Bisa Baca lengkap artikelnya di SehatQ.com