Sign in to follow this  
hattamika

SOLO, the city of festivals

8 posts in this topic

sembilan tahun tinggal di Solo memberikan pengalaman yang luarbiasa bagi saya. ditambah lagi dengan maraknya event international yang bertemakan seni budaya yang menjadi atraksi unik kota ini.

bergabung dengan beberapa kelompok musik, memberikan saya kesempatan untuk mencoba panggung festival ini.

sekedar info, dalam waktu dekat Solo akan mengadakan SIPA (Solo International Performing Art) festival. biasanya tamu peserta yang akan tiba bukan hanya dari Indonesian namun dari berbagai negara dan budaya di dunia.

luar biasa bagi masyarakat, karena selain memajukan sektor mikro dan makro ekonomi, masyarakat juga bisa "berkenalan" dan mendapat pengetahuan yang baru.

salut untuk pejabat pemerintah yang konon udah hijrah ke jakarta.

Share this post


Link to post
Share on other sites

waw keren Solo gak hanya Walikota nya yang sukses jadi Gubernur DKI tapi kota yg akan ditinggal nya jga makin sukses ya...terakhir saya ke Solo 6 bulan lalu walopun hanya lewat mw k Klaten karna ada manggung disana...tapi Solo keren :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

sis deffa manggungan juga.. sama dong..

aku udah hampir 3 tahun gak di solo lagi. sekarang juga ada bus tingkat lagi ya kayak jaman dulu?

pengen balik lagi ke sana, cuman kerjaan yang sekrang bikin gak sempat untuk itu.

Share this post


Link to post
Share on other sites

sis deffa manggungan juga.. sama dong..

aku udah hampir 3 tahun gak di solo lagi. sekarang juga ada bus tingkat lagi ya kayak jaman dulu?

pengen balik lagi ke sana, cuman kerjaan yang sekrang bikin gak sempat untuk itu.

well bisa dblang bgtu..waw bus double decker ya dlo di jakarta jga pnya tuh hehehe..apakah mobil esemka akan dibawa k jakarta jga :D btw saya laki2 kok mas jd jgn pgil sis ya :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

amiin ... semoga solo tetap Jaya meskipun ganti pemimpin. berharap sih pemimpin Solo yang selanjutnya bisa lebih baik dr yang skrg, minimal sama lah, kl gak bakal seru ni jadinya cuz masyarakat Solo sprtinya sudah sangat terbiasa dgn pimpinan yan merakyat itu. :-)

Share this post


Link to post
Share on other sites

setuju, yang sudah dijalankan sama pemimpin sebelumnya semoga bisa menjadi jejak yang yang bisa diikuti dengan leluasa oleh pemimpin setelahnya.

yang menjadi motor utama pergerakkan budaya yang sangat aktif di sini adalah adanya dukungan dan kerjasama yang bagus antara ISI surakarta beserta civitasnya, taman budaya, dan pemerintah. pendana besar tak ragu untuk memulai menginvestasikan dana yang besar untuk acara kesenian akbar di kota ini karena pasti akan langsung direspon oleh birokrasi yang sangat gampang.

walikotanya sendiri memiliki agenda-agenda yang bagus untuk memaksimalkan potensi kota. kita ketahui bahwa Solo bukanlah kota yang punya pantai dan gunung seperti kembarannya Jogja. yang mereka miliki adalah potensi wisata budaya yang dengan sangat cerdas dikejar dan dikembangkan.

sebagai seniman saya iri dengan akrabnya pemerintah solo dan pelaku seni budaya yang ada di Solo, semoga kota-kota lain ketularan ya?

Share this post


Link to post
Share on other sites

solo bisa jadi contoh bagi daerah2 lain dmna kebudayaan dan seni selalu di lestarikan...ada beberapa daerah yg notabene tidak menghiraukan kebudayaan sendiri...sehingga jadi suatu kebudayaan yg hilang :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

saya baru sekali ke Solo, Bro. saya pikir kotanya membosankan dan sangat formal dengan keraton dan adat budayanya, ternyata tidak seperti itu ya hehehe....

nanti tolong di infoin ya kalo SIPAnya mau di mulai :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By maipura
      Ada museum baru di Kota Solo, baru diresmikan oleh Bapak Presiden Jokowi pada tanggal 9 Agustus yang lalu. Namanya Museum Keris Nusantara. Kebetulan saya pas lagi ada di Solo minggu lalu, jadi deh kita sempatkan mampir mengunjungi Museum ini sebelum pulang kembali ke Sumatera.
      Lokasi Museum Keris ini ada di pusat kota, gak jauh dari taman Sriwedari, bersebelahan dengan stadion di Jalan Bhayangkara. Kalau lewat jln. Slamet Riyadi, pas pertigaan Sriwedari belok kiri, Museum nya ada di ujung jalan pas perempatan. Gak akan mungkin kelewatan lah. :)
      Harga tiket masuknya berapa? nah selama bulan Agustus ini, tiket masuk ke Museum Keris masih gratis, namun mulai september nanti katanya harga tiketnya Rp.6000 / orang.
      Museum ini merupakan gagasan pak Jokowi sewaktu beliau masih menjadi walikota Solo. Namun pembangunan gedung museum ini baru dimulai secara bertahap sejak tahun 2013. Gedung Museum Keris ini terdiri dari 1 basement yang dimanfaatkan sebagai tempat parkir, dan 4 lantai sebagai ruang pamer. Terdapat lift yang menyambungkan semua lantai-nya. Jadi kalau capek naek tangga, bisa naek lift.

      Lantai 1
      Di lantai ini fungsinya sebagai lobi, soale gak ada keris yang dipajang disini. Cuman ada ruang Audio Visual di sisi sebelah kanan dan kiri dari pintu masuk. Loket pengunjung juga ada disini, disebelah kanan dari pintu masuk kemudian bagian informasi ada di sebelah kiri dari pintu masuk.
      Lantai 2
      Di lantai 2 kita mulai bisa menikmati koleksi dari Museum Keris ini. Dan saya yang gak paham sema sekali soal keris. Di lantai 2 ini kita akan paham dan mengerti lebih dalam soal keris. Karena di lantai ini disuguhkan juga informasi tentang keris dan bagian-bagian keris, apa itu pamor, jejeran, luk dsb.
      Di lantai 2 ini juga ada tempat bermain untuk anak-anak dan perpustakaan. Koleksi buku-bukunya tidak jauh dari masalah keris dan budaya baik tentang kota Solo maupun kota-kota lain di Indonesia. Tapi sepertinya koleksi bukunya perlu diperbanyak, soale rak nya masih banyak yang kosong.



       
      Lantai 3
      Lantai ini selain memajang beberapa koleksi keris ada juga diorama-diorama. Antara lain diorama pembuatan keris dan  diorama ritual saat akan membuat keris. Selain itu di dinding  ada informasi proses pembuatan keris dan rangkaian sesaji ketika akan membuat keris.


       
      Lantai 4
      nah, lantai 4 ini merupakan ruang pamer utama, disini selain keris dari tanah jawa, ada juga keris dari bali, sulawesi dan sumatera. Selain keris ada juga beberapa koleksi tombang dan parang. Karna museum ini tidak mengkhusus kan keris dari Jawa saja, namanya kan Museum Keris Nusantara. walapun memang umumnya orang mengenal keris itu dari Jawa. Tapi ternyata ada juga keris dari Sulawesi dan Sumatera.

       

      Di lantai 4 ini saya ngobrol banyak dengan seorang bapak yang saya pikir petugas museum. Beliau berkata keris yang dipajang disini merupakan hibah dan pinjaman dari pribadi, tertulis di keterangan masing-masing keris yang dipamerkan. Dan katanya lagi masih ada sekitar 300-an lagi koleksi keris yang masih akan dipamerkan. Dan ada kabar bahwa pemerintah Belanda akan menyerahkan koleksi keris yang mereka miliki untuk kemudian disimpan dan dipamerkan di Museum Keris Nusantara ini.
      Ketika saya bertanya, koleksi yang paling tua dan mempunyai nilai sejarah paling tinggi yang mana, bapak petugas yang saya lupa tanya namanya itu menjawab.
      "semua koleksi kita disini berharga mas, baik usia maupun nilai sejarah-nya"
      "semua keris disini berusia lebih dari 100 tahun"
      "semuanya sudah di teliti terlebih dahulu oleh tim kurator kita sebelum kemudian bisa dipajang dimuseum ini"
       
      Lalu bapak itu membawa saya ke salah satu kotak tempat beberapa keris dipamerkan, lalu beliau mengatakan,
      "ini keris yang paling tua, ini diperkirakan dibuat pada jaman sebelum kerajaan Singosari"
      "pada waktu itu para pembuat keris belum mengenal cara mencampur besi untuk membentuk pamor (motif)"
      "ini bentuk awal daripada keris, masih sederhana, dan kemudian berkembang menjadi seperti sekarang ini"
       
       
      Ketika saya bertanya mana keris yang paling mahal, beliau pun mengajak saya kembali ke bagian tengah, dan mengatakan
      "ini semua keris yang mahal, semua keris-keris ini ditaksir harganya antara 3 - 15 milyar"

      Mendengar itu, gak ada komentar yang keluar dari mulut saya, cuman decak kagum yang ada.
      Obrolan santai pun terus berlanjut, kebetulan lantai 4 sudah agak sepi, sebelumnya rame dengan rombongan anak-anak SD. :). Sang bapak menjelaskan apapun yang saya tanyakan, baik itu soal keris maupun tentang Museum nya sendiri. Beliau pun sempat memperlihatkan foto nya ketika mendampingi pak Jokowi ketika pembukaan 9 Agustus yang lalu. Dan saya bener-bener bodoh gak nanya siapa namanya.
      Penasaran dengan koleksi-koleksi keris dari Museum Keris Nusantara? atau hobi dengan keris? Atau pengen dateng ke tempat Wisata yang sedikit berbeda waktu berkunjung ke Solo.
      Monggo, mampir ke Museum Keris Nusantara. :)

       
      foto-foto laen :)



       
    • By Alfa Dolfin
      "ntar ke Solo, gw kepingin cari Markobar", kata ku ke seorang rekan yang juga doyan jalan
      "jiaaaa...ngapain jauh-jauh ke Solo. Loe jalan ke Cikini juga ada. Ngga jauh khan dari rumah loe...", sahutnya. 
      "Ooo...beda dong kalau makan di tempat aslinya... Lagi pula gw penasaran aja..."

      Markobar, singkatan Martabak Kota Baru, menjadi target utama saat transit singkat di kota Solo sebelum melanjutkan ke kota lain. Harus kesana!! Penasaran berat…!! Fans berat martabak ya? Secara selera ngga terlalu fanatik untuk kudapan satu ini. Namun ada sesuatu yang lain yang membuat sengaja ngotot ingin ke sinil

      Keinginan yang tak tertahankan berawal secara tidak sengaja membaca salah satu tulisan di Kompasiana : “Surat Terbuka Untuk Gibran Rakabuming”, yang di tulis Ryo Kusimo. Setelah membaca secara tersirat hhhhmmm berarti saya harus siap kecewa jika mengharapkan sesuatu yang “wah”, untuk salah satu usaha bisnis milik Gibran Rakabuming, putra Presiden RI sekarang.

      Doeloe pernah berteman dengan anak-anak pejabat meski si pejabat bukan di level menteri apalagi sampai RI-1. Sudah biasa ngeliat gaya hidup yang "wah". Pertanyaannya, masa iya sich Gibran ngga “wah”, khan anak pejabat?bukan Cuma anak pejabat, tapi RI-1 lho. Jangan main-main. Ah semakin penasaran. Seperti apa sich bisnis kuliner mas Gibran. Seperti apa sich rasa dari Martabak yang di jual. Terakhir, apakah benar saya akan “kecewa” seperti kesan setelah membaca tulisan Ryo Kusimo.

      Tempat Aslinya

      Driver mobil rental membawa kami ke sebuah Mall. Kalau tidak salah Solo Grand Mall. Dari pinggir jalan sudah terpampang tulisan besar “MARKOBAR”. Ooo disini. Namun masih ada rasa kurang puas. Apakah di sini termasuk wilayah Kota Baru?tanya ku ke driver. Di jawab, kalau di Kota Baru masih di sana, tidak jauh dari hotel, sahutnya. Maksudnya hotel tempat saya menginap. Disana pertama kali ada, katanya lagi. Oke kalau begitu kita ke sana, balas ku menutup percakapan.

       Astaga....!!! tidak salah nich disini, spontan ku berucap kepada driver di sebelah saya saat mobil parkir di Jalan Moewardi. Sang Driver meyakinkan saya saat terkejut tadi, “Benar pak disini. Ini yang pertama kali ada. Ini di Kota Baru” Lah gimana ngga terkejut melihat warung makan dengan tenda besar bertuliskan “MARKOBAR”. Letaknya di pinggir jalan. Sepintas tidak ada bedanya dengan warung-warung kuliner di kiri-kanannya. Tidak ada yang spesial dari segi fisik. Tidak ada yang meng-ciri-khas bahwa pemiliknya anak penguasa.

      Saat terpana melihat tempatnya, lagi-lagi saya harus yakin ini tempat jualan anak RI-1. Spontan Terkejut, berucap : Astaga…, mungkin sesuatu yang lebay. Mungkin juga wajar.. Ya saya merasa wajar dengan keterkejutan ini. Masih terbayang seperti apa bayangan anak-anak pejabat pada umumnya. Mewah, elite, eksklusif…

      Menilik asal usul Markobar, pertama kali ada mulai tahun 1996. Pemilik awal seorang warga Solo. Warga biasa. Ngga terkenal. Bukan pengusaha besar di kota Solo. Kemudian usahanya diteruskan anaknya. Hadirlah mas Gibran yang tertarik bermitra sekaligus  untuk membesarkan usaha ini. Visi mas Gibran sederhana aja, ingin memajukan jajanan lokal agar dapat meningkatkan baik dari sisi bisnis maupun selera rasa. Maunya Martabak semakin di sukai dan menjangkau banyak kalangan. Lokasinya tidak Cuma di kota Solo aja tetap juga bisa membuka cabang di kota-kota lain di Indonesia.


      Oke, tadi terkejut dengan rupa fisik. Sekarang bicara seperti apa sich martabak yang di jual di Markobar. Yang menjadi ciri khas apa? Manis sudah pasti. Lalu ? Variasi dan cara penyajian yang berbeda.

      Umumnya martabak yang banyak di jual, racikan di letakan di loyang berbentuk lingkaran yang bawahnya ada kompor. Setelah matang dan panas, berturut-turut di olesi mentega, di taburi coklat meses, kacang, keju, wijen dan susu. Variasinya bisa pilih coklat atau keju, atau coklat-keju, yang lebih komplit coklat-keju-kacang-wijen. Setelah di taburi lalu di potong 2, dilipat. Setelah itu di potong kecil dan di masukan ke kotak dus kecil baru diserahkan ke konsumen.

      Saya termasuk suka meski tidak sering beli. Belinya pun kebanyakan di “gerai” sederhana pinggir jalan. Sangat nikmat di makan masih panas. Pinggirnya yang garing salah satu favorit. Biasanya selagi masih garing mengambil yang di pinggirnya dulu baru inti-nya. 

      Yang membedakan Markobar dengan yang lain, pertama penyajiannya tidak dilipat 2 melainkan utuh bundar lingkaran seperti pizza. Kedua, pilihan rasa lebih variasi. Bisa memilih 6 atau 8 rasa yang berbeda. Pilihannya : coklat meses ceres, kacang cokelat, keju polos, keju cokelat, keju kacang, cokelat, Delfi, Oreo, Silverqueen, Cadburry, Nutella, Kit Kat, Van Houten. Kondisinya tidak di campur seperti martabak pada umumnya. Khan tidak dilipat. Sudah di pisah-pisah menjadi 6 atau 8 sesuai pesanan. Terakhir di masukkan dalam kemasan dus seperti Pizza baru diserahkan ke konsumen. Kira-kira begitu. Harganya berkisar 60 – 80 rbu.



      Sederhana

      Tidak mengecewakan setelah menikmati di kamar hotel. Sebenarnya bisa saja santap di tempat. Sekalian menikmati menu lain seperti Martabak telur dan variasi minuman lain. Kebetulan termasuk suka nongkrong berkuliner di warung-warung pinggir jalan. Cuma saat tiba disana perut sudah kenyang terisi kuliner yang lain. Selain itu hujan deras mengguyur saat tiba di lokasi. Lebih baik bawa dan makan di hotel saja.

      Bagi saya sebenarnya yang lebih dari ke-terkejut-an dari Markobar adalah kesederhanaan. Tidak terbayangkan putra Presiden masih mengelola usaha yang boleh di bilang sederhana. Di bandingkan bisnis milik artis, keluarga pejabat-pejabat lain,rasanya tidak level. Padahal seperti salah satu yang di tulis mas Ryo Kusimo,

      “Anda kan anak Presiden, seharusnya anda lebih cocok ada di deretan pemegang saham BUMN, deretan pemegang saham Indofood, Astra, berkolaborasi dengan pengusaha Singapura, atau tentunya duduk bersama dengan para Emir Kerajaan Arab untuk membahas proyek Petrochemical di Indonesia, dengan saham terbesar adalah trah keluarga anda”.


      Saya pun terbawa suasana kutipan di atas. Saya tidak kecewa namun masih terbayang warung yang sangat sederhana, yang di kelola bukan warga sembarangan. Sungguh sangat kontras dengan bayangan saya perihal bisnis anak pejabat. Apalagi saat menunggu pesanan tadi hujan deras turun. Cipratan air hujan sempat masuk menerobos tenda yang terpasang.

      Teringat seorang netizen yang pernah menyindir usaha jualan Martabak sebagai sesuatu yang kampungan. “Apa susahnya sebagai anak Presiden mendapat soft loan milyaran untuk membangun dinasti kerajaan bisnis kuliner besar. Ngga sulit membangun sebuah resto kaliber internasional yang tamu-tamunya dari kalangan elite”. Ini sich bukan nyindir tapi cemohan kasar. Sempat heboh di dunia maya. Nekad bener ya nulis begitu.

      Bukannya tersinggung eee malah mendapat tanggapan santai dari adiknya, Kaesang.  “Gapapa, yang penting dari jualan martabak bisa untuk bayar sekolah di Singapore. Saya hepi, Markobar juga hepi,” tulis Kaesang.

      Gara-gara Markobar saya jadi tertampar manakala menilik salah satu kehidupan pribadi saya. Menyadari meski bukan dari keluarga pejabat, kepingin sekali menjadi orang elit seperti anak-anak pejabat. Meski sehari-hari sudah akrab dengan kesederhanaan, kepingin sekali keluar dari zona ini. Melepas kesederhanaan beranjak ke status yang lebih oke.

      Pelajaran berharga dari jalan-jalan singkat dan mampir di warung Markobar : Sederhana itu indah. Sederhana itu bukan aib yang harus di tinggalkan. Sederhana itu tidak menutup untuk menjadikan hidup berguna. Tuhan bisa memakai manusia yang sederhana menjadi manusia yang memberikan manfaat bagi orang lain minimal di sekitar kita.

    • By Alfa Dolfin

      Spontan memberikan nilai SEMPURNA di angka "10" saat di minta untuk memberikan penilaian di web online khusus pemesanan hotel.  Saat mengisi kekurangannya, saya isi : "hanya menginap semalam". Inilah penilaian Rumah Batu Villa & Spa di kota Solo.

      tampak dari pinggir jalan

      tampak depan
      Sebenarnya sich sudah masuk solo pinggiran. Tanpa bermaksud promosi lho. Hanya berbagi cerita betapa enjoy stay disini yang beralamat : jalan Ovensari Raya No 8, Baki Solo Baru, Jawa Tengah. Driver mobil yang kami sewa mengatakan letaknya sudah di luar kota Solo. Tapi meski letaknya cukup jauh waktu tempuh tempuh Cuma 15 menit saja ke pusat kota. Tega nian kondisi kalau bandingkan dengan Jakarta ya.
      Suasana di sekeliling hotel masih ada areal per-sawah-an. Untuk yang sudah kadung bosan suasana metropolis macam saya ini, pasti senang dengan melihat sawah. Norak ya….? Hahaha….
      Tempatnya sendiri, mungkin kebayang akan di dominan dengan bebatuan. Serasa kembali ke jaman batu dulu ya. Konsepnya Villa. Perihal nama ini sering saya kurang peduli. Mau villa, hotel, puri, homestay, atau…?ya apa pun, yang penting bisa booking 1 kamar, suasana kamar cocok, suasana di sekelilingnya juga oke, dan harga terjangkau.

      dari teras kamar. suasananya asyik

      lemari baju di kamar. Unik ya dengan model kayu begini
      Rumah Batu yang memiliki total 18 kamar dari berbagai tipe, pertama kali ketemu waktu browsing hotel sekitar 3 minggu sebelum ke Solo. Dari sekitar 5 pilihan, setelah diskusi dengan pasangan lalu melihat foto-fotonya, akhirnya sepakat untuk menginap disini.

      teras kamar. Suasananya asri n klasik. Suka banget
      Heritage
      Meskipun memakai nama “Batu”, tidak lantas semua yang serba batu akan mendominan. Faktanya ngga begitu. Di web bilangnya menawarkan kamar dengan perpaduan unsur tradisional dan kontemporer. Yang saya rasakan suasananya Javanesse Heritage. Suasana keseharian masyarakat Jawa tempo doeloe.



      Loby hotel bernuansa Java Heritage. 

      banyak patung bernuansa tempo doeloe seperti di loby ini

      salah satu kursi menunggu di lobby....jauh dari nuansa modern.....

      suasana resto-nya. Kental banget nuansa Javanesse Heritage
      Astaga….!!!dalam hati terperanjat,  justru disini aku berjumpa lagi yang lama tidak bertemu. Seakan saya di bawa kembali ke jaman- kecil dan remaja doeloe, saat masih tinggal di kampung. Tidak seperti sekarang tinggal di kota metropolis, masa kecil sampai remaja akrab dengan kesederhanaan di salah satu kampung di Cimahi, Jawa Barat. Tinggal di rumah nenek yang ber-dinding kayu, berlantai ubin. Lalu nenek dan kakek punya burung tekukur, yang di jam-jam tertentu bunyi.

      woooouuww....entah sudah berapa tahun ngga lihat burung tekukur begini
       

      yeaaa....suka nuansa begini. 

      ini jam tempo doeloe. sudah jarang melihat seperti ini
      Jika ada penilaian tamu lain yang mengatakan, meski berada di pinggir jalan raya namun tidaklah ramai dan bising, saya akui iya. Ini juga yang menurut saya menambah kenyamanan.
      Special Request
      Jika saya merasa langsung betah dan nyaman, tidak lepas dari kecocokan dan selera aja. Tetap suka hotel bernuansa modern seperti Swissbell, Aston, Favehotel, dan sejenisnya. Namun jika berada di daerah seperti Solo, Bali, Yogya, sebisa mungkin memilih hotel yang menyajikan nuansa setempat. Di Surabaya yang cenderung kota metropolis, lebih tepat berada di hotel ber-gaya modern itu.

      salah satu nuansa Villa...hhhmmm....like it....

      Rumah Batu Villa & Spa, rasanya lebih cocok untuk keluarga yang memiliki selera klasik, menyukai nuansa tempo doeloe, bernuansa heritage. Sayangnya sejauh saya perhatikan, kurang lengkap sarana bermain untuk anak-anak. Bukankah usia anak-anak belum familiar dengan nuansa tempo doloe. Cuma ada kolam renang.
      Mengusung nuansa tempo dulu yang bercorak Jawa, staff ramah, wuiii….harganya per malam Cuma 425 ribu, weekend, include sarapan…wuiii….sayang Cuma semalam.

      Yang berkesan karena datang bersama pasangan yang ber-ulang tahun, ada permintaan khusus untuk mendekor kamar dengan kembang, dan menyajikan buah kesukaannya. Maksudnya ingin memberikan kejutan kepadanya. Permintaan khusus ini diperhatikan. Saat check in dan masuk kamar, wooouuwww…..

    • By Sarwanti
      Yang ke Solo mampir ke TW yaw bnyk tempat wisata disana, icon TW  Grojokan Sewu 
      kalau difoto ini "Bukit Sekipan" 
      lokasinya dari Terminal Tawangmangu naik lagi di kanan jalan, ada papan namanya juga kok
      Jika mau suasana lebih dingin lagi bisa naik terus sampai di jalan tembus (perbatasan dengan magetan jawa timur)




    • By andiana
      Pertama kali ke Solo / Surakarta. Berbekal satu keuntungan : ada teman tinggal di Solo. Jadi, lumayan rada pede. Meski begitu, waswas takut nyasar tetap ada, ternyata! 
      Aku ke Solo tanggal 1 September, menginap semalam di Red Planet Hotel. Silakan mampir ke review hotel  yah!
      Berhubung saat pertama ke Solo karena ada acara di Taman Balekambang, jadi memang kurang banyak mengeksplorasi Kota Serabi Notosuman itu. Bahkan gak sempat ke Pasar Klewer. Oke, ini kode untuk kembali ke sana, yes?
      Ada yang pernah menginap di Red Planet Hotel? Boleh dong share pengalaman juga. Siapa tau ada tips trik khusus lainnya yang aku gak tau. 
       
      Thank you!
    • By feripwardoyo

      Akhir pekan kemaren ada teman yg kawinan.. lokasinya di Solo. Setelah sempet nanya-nanya ke teman Jalan-Jalan tentang kota ini, akhirnya saya berangkat juga. 
      Perjalanan ke Solo diawali dengan sebuah kejutan..

      Ya sudah lah, ya.. Secara apa sih yg bisa diharapkan dari Lion Group. Lanjut!!!
      Setelah bengong 90 menit + flight 60 menit, akhirnya nyampe di bandara Adi Soemarmo sekitar jam 8.30 pagi. Bandara kondisinya tegang banget.. Banyak aparat berkeliaran. 
      Oh, iya.. Saya dijemput Bagas, dari BAGASWORO Rent Car Solo. Nemu di Instagram dan sempet shock waktu tau price list nya. Jadi sewa mobil plus driver 12 jam itu cuman Rp 300 ribu. Bandingin sama rate sewa mobil + driver di Bali yg per 6 jamnya sekitar Rp 400 ribu itu. Bikin shock, kan?! Dan yg shock ternyata gak cuman saya.. Hahahaha.. 
      Atas rekomendasi Bagas, tempat pertama yg saya kunjungi begitu menjejakkan kaki di Solo adalah Umbul Temanten di desa Janti, daerah Klaten, sekitar 1 jam perjalanan dari kota Solo.

      Tempatnya asri banget! 
      Jadi ceritanya Umbul Temanten ini adalah 1 diantara entah berapa banyak mata air alami yg ada di Kabupaten Klaten. Bentuknya kayak sendang gitu, airnya jerniiiiiiiih banget. Konon perusahaan air mineral kemasan terbesar di Indonesia ngambil airnya dari sini.
      Selain air yg jernih, daya tarik utama tempat ini menurut saya adalah pemandangan Gunung Merapi dan Merbabu yg menjadi latar tempat pemandian ini, serta petak-petak kebun Seledri. Seumur-umur baru sekali itu saya lihat lokasi persemaian Seledri, secara selama ini lihatnya sudah terbujur kaku di rak supermarket. Hahahaha..




      Untung saya datangnya terhitung masih agak pagi, jadi tempatnya tetbilang sepi. Soalnya hari itu pas banget weekend, jelang Ramadhan. Gak kebayang gimana suasana tempat itu kalo pas udah siang nenjelang sore dan dipake buat padusan.. Pasti udah rame banget kayak Es Dawet.



      Teman Jalan-Jalan tau istilah bokeh, kan? Nah, kalo misalnya kita nyelem di Umbul Temanten dan gak pake googling, maka di dalam air kayak lagi liat bokeh banyak banget. Efek kece itu dihasilkan oleh pantulan cahaya matahari yg menimpa bebatuan di dasar umbul ini. Indah banget, dah!
      Di sekitar kolam ada banyak spot kece buat foto. Favorit saya kali kecil di sebelah kanan kolam yg berhias batu-batu besar dan paralon. Musti agak sabar kalo mau foto di sini karena sepertinya tempat ini adalah spot favorit buat pacaran. Saya nunggu 2 pasangan kelar pacaran baru bisa foto di sini. Hahahaha.. 



      Biaya masuk ke Umbul Temanten per orang Rp 5000. Gak usah takut laper dan haus karena di sekitar kolam banyak warung yg jual makanan. Indomie rebus telor super pedas plus kopi susu jadi pilihan pagi itu. 
      Kalo udah kenyang, nyemplung lagi.. Hahahaha.. 

      Cabut dari Umbul Temanten sekitar jam 12 siang, langsung menuju ke tempat makan siang: selat mbak Vien's di daerah Banjarsari, Solo. Saya gak gitu suka karakter kuahnya.. Terlalu asem, nyaris kayak kuah Tahu Kupat dicampur kuah Empek-Empek. 
      Setelah itu lanjut ke Pasar Triwindu, hunting foto buat ngisi feed Instagram. Hahahaha.. 





      Kelar mengunjungi Pasar Triwindu, saya melanjutkan perjalanan ke komplek Keraton Surakarta. 
      Dan ternyata tempatnya lagi direnovasi. Hahahaha.. 

      Well, at least ninggal jejak dulu lah, ya..

      Oh, iya.. Saya penasaran abis kenapa di pintu di area musium banyak patung beraroma Arab, ya? 





      Tentang musium, jujur saya prihatin lihat kondisinya. Kotor, gak terawat, banyak barang berharga yg rusak. Paling sedih pas foto di Panggung Songgo Buwono, bangunan menara ikonik yg ada di dalam komplek keraton.. Berasa kayak lagi di terminal karena diterpa aroma pesing. Sumpah, gak abis pikir. Sungguh sangat menyedihkan. 
      Setelah dikasih tau kalo area musium dan istana sudah mau tutup, akhirnya saya cabut, check in di hotel Alila Solo. 

      Sama seperti properti Alila pada umumnya, Alila Solo mengutamakan desain yg simple dan fungsional, dengan memasukkan sedikit sentuhan lokal. 

      Walaupun kamar yg saya dapat gak sesuai yg saya inginkan (king size bed, smoking room) tapi secara keseluruhan sangat memuaskan. Pelayanan yg prima, staf yg ramah, kolam yg indah, roof top bar dan tempat nongkrong kece, dan pastinya menu sarapan yg menggugah. 




      Kelar renang dan mandi, jam 7 malam saya pergi ke acara resepsi.

      Kesan saya soal catering milik anak pak Jokowi cuman 1: good looking, bad taste. Hahahaha.. 
       


      Berhubung merasa belum nampol, kelar kondangan mampir ke Omah Londo. Tempatnya unik dan menu Garang Asem nya luar biasa. Sangat recommended! 



      Esok paginya acara diisi dengan kegiatan standar: sarapan dan renang, abis itu check out. 


      Lalu lanjut makan siang di Omah Selat dan nonton X-men di The Park. 





      Lalu trip 36 jam saya di Solo ditutup dengan berburu oleh-oleh dan es dawet selasih di kawasan Pasar Gede. 





      Puas?
      Kagak! 
      Masih banyak tempat yg ingin saya kunjungi, tapi sayangnya waktu terbatas. Pengen ke Jumong, Tawang Mangu, Candi Cetho, Dam Colo, dan pastinya menyambangi umbul-umbul di daerah Klaten, Karang Anyar dan Boyolali. 
      Next time lah, ya.. 
      Well, see you again, Solo! 
       
       
       
    • By feripwardoyo
      halo, teman Jalan-Jalan.. 
      saya minggu depan ada acara kondangan ke Solo. karena cuman semalam, untuk memaksimalkan waktu maka saya ambil flight pagi di hari Sabtu dari Surabaya ke Solo biar sempet jalan-jalan sebelum acara kondangan, dan baliknya ikut flight malam di hari Minggu.
      kalo boleh, saya minta saran tentang tempat wisata yg menarik di Solo serta kulinernya, tapi ya itu tadi, karena keterbatasaan waktu kalo bisa yg di sekitar pusat kota. 
      oh, iya, satu lagi: kalo ada informasi / contact person rental mobil sekalian driver, boleh lah saya dibagi.
       
      terima kasih..