Sign in to follow this  
ikankering

Hotel Mandarin Oriental, Tokyo

3 posts in this topic

Taukah rekan-rekan sekalian... hotel apakah yang merupakan hotel dengan kualitas yang terbaik di Jepang? Ada sebuah hotel di Tokyo yang katanya bukan cuma bintang 5, tapi sudah bintang 6... hotel itu adalah hotel Mandarin Oriental di Tokyo.

Kenapa ya bisa disebut sebagai hotel bintang 6? ternyata ada beberapa alasan:

- Lokasinya sangat strategis

ada di wilayah nihonbashi.. pusat bisnis di Tokyo.. dimana terdapat Tokyo Station & Tokyo Stock exchange di wilayah ini.

- Ruangan yang tentu saja sangat mewah

- View of Tokyo

bisa melihat seluruh Tokyo dari kamar.. karena hotelnya tinggi dan di sekitarnya gedung-gedung jauh lebih pendek, jadi bisa melihat kemana-mana.

- Spa dengan pemandangan yang indah

Spa di hotel ini juga letaknya sangat tinggi. Jadi sambil menikmati spa, bisa menikmati pemandangan.

mandarin-oriental2_1379606c.jpg

Mandarin-Oriental-Tokyo-spa-room.jpg

Ada yang mau coba ke sini?

Share this post


Link to post
Share on other sites

wooowww.... mantap sekali yaaaa........

kalo di Indonesia yang setara dengan ini ada gak yaaa???

kalo boleh tau paling murah berapa ya semalam :D

Kalau di Indonesia sich yang saya tau lumayan elite banget itu yang hotel milik trans studio di Bandung. Nah kalau untuk hotel Mandarin Oriental yang di Tokyo ini barusan saya cek yg paling murah tuh Deluxe Room (http://www.mandarinoriental.com/tokyo/accommodation/deluxe-rooms/). Harganya mulai dari JPY 45000... atau sekitar 5.3juta rupiah.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By Aleyna Azzahra
      Hi, aku lagi cari teman travelling ke Jepang kira-kira tanggal 9-15 Desember 2018. Nanti nginep di hostfam, kita bisa cari bareng-bareng di Couchsurfing.
      Rencananya mau ke Disneyland, Lake Kawaguchiko (Fuji), Ueno Zoo, dll
      Kalau tertarik bisa contact ke ID LINE aleynazhr, don’t hestitate to contact me ya! Kalau bisa secepatnya, mumpung ada promo dari Airasia!
      FYI, aku mahasiswi, umur 19 tahun. Kalau bisa travelmatenya juga seumuran, tapi kalo engga, juga gapapa!
    • By enda28
      Hallo semuanya, 
      saya ada rencana untuk pergi ke Jepang bulan Juli 2018 ini, adakah rekomendasi tempat untuk dikunjungi pada musim panas?
      masih bikin2 itin
      thank you
       
    • By vie asano
      Sudah baca tulisan tentang kota Narita? Kalau belum, baca dulu disini ya. Secara singkat, kota Narita merupakan kota tempat Narita International Airport berdiri. Jadi kota ini ideal untuk dijelajahi jika Anda sudah check-out dari hotel di Tokyo namun masih ada jeda waktu cukup lama sebelum terbang kembali ke Indonesia (maupun menuju kota atau negara tujuan lainnya). Sebaliknya, Anda juga bisa menjelajah Narita sebelum mampir ke Tokyo.
      Saya ingin merekomendasikan beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi sebelum menuju ke Bandara Narita. Agar lebih mudah, saya menyertakan informasi akses dari Tokyo menuju obyek wisata tersebut, dan dari obyek wisata menuju ke Bandara Narita. Jika bermaksud untuk singgah sebelum menuju ke Tokyo, tinggal dibalik saja aksesnya. Mudah kan? Semoga bermanfaat ya!
       
      Naritasan
      (estimasi waktu wisata: 30-60 menit untuk wisata singkat, 1-2 jam untuk menjelajah seluruh area kuil)
      Alamat:
      1 Narita, Narita-shi, Chiba
      Jam operasional:
      Selalu buka (untuk area kuil)
      Harga tiket:
      free
      Akses:
      [Tokyo-Naritasan] Lihat disini untuk akses menuju ke Stasiun JR Narita maupun Stasiun Keisei-Narita. Dari kedua stasiun tersebut, jalan kaki 15-20 menit menuju Naritasan.
      [Naritasan-Narita Airport] via Stasiun Narita, naik JR Sobu/Narita Line, ¥230*, 11 menit, turun di Narita Airport terminal 1. Atau dari Stasiun Keisei-Narita, naik Keisei Main Line, ¥250*, 9 menit, turun di Narita Airport terminal 1.
      Naritasan, atau Narita Shinsho-ji Temple (alias kuil Narita) merupakan kuil terpopuler yang ada di kota Narita. Jaraknya tak begitu jauh dari Bandara Narita, sehingga ideal dikunjungi di sela waktu transit dari atau menuju Tokyo.
      Foto 01: Naritasan
      (a.) Niomon [foto: Self/wikimedia], (b.) Main hall [foto: 663highland/wikimedia], (c & d) Shakado [foto: Joel Bradshaw/wikimedia, Abasaa/wikimedia]
      Ada beberapa hal yang membuat kuil ini menarik selain masalah faktor kedekatan jarak dengan Bandara Narita. Dari segi sejarah, kuil ini telah berusia lebih dari 1000 tahun, dan telah menjadi saksi dari berbagai peristiwa bersejarah di Jepang. Naritasan juga memiliki beberapa benda bersejarah yang masih terjaga dengan baik, seperti patung buatan Kukai (salah satu pendeta Budha legendaris) yang sudah dibuat sejak periode Heian. Beberapa bangunan di Naritasan, yaitu Komyodo, pagoda 3 tingkat, Deva gate, Shakado, dan Gakudo; telah diakui sebagai important cultural properties karena sudah dibangun sejak tahun 1700-an. Di kuil ini juga terdapat taman yang luas dan Calligraphy Museum. Faktor menarik lainnya, di dekat Naritasan terdapat sebuah shopping street yang disebut Omotesando. Di sepanjang jalan ini terdapat beragam jenis toko dan restoran, sehingga Anda bisa sekaligus berburu oleh-oleh sebelum kembali ke Indonesia.
      Foto 02: Naritasan
      (a.) Komyodo [foto: Abasaa/wikimedia], (b.) Shokutaishido [foto: Joel Bradshaw/wikimedia], (c.) Pagoda [foto: 663highland/wikimedia], (d.) Great Pagoda of Peace [foto: Joel Bradshaw/wikimedia]
      ***
      Museum of Aeronautical Science
      (estimasi waktu wisata: 1-2 jam)
      Alamat:
      Iwayama 111-3, Shibayama-machi, Sanbu-gun, Chiba 289-1608
      Jam operasional:
      10.00-17.00 (penjualan tiket terakhir pukul 16.30). Tutup setiap hari Senin (atau hari berikutnya jika Senin adalah hari libur), 29-31 Desember. Buka setiap hari pada bulan Januari dan Agustus.
      Harga tiket:
      ¥500* (dewasa), ¥300* (pelajar SMP dan SMA), ¥200* (usia 4 tahun ke atas)
      Akses:
      [Tokyo-Museum of Aeronautical Science] via Stasiun Narita Airport (keisei line) atau dari Narita Airport Terminal 1 maupun 2, naik Airport Museum Shuttle Bus menuju museum (¥200*, 15-20 menit). Lihat disini untuk akses dari Tokyo menuju Stasiun Narita Airport maupun dari Terminal 1 dan 2. Alternatif lain, naik taksi (± ¥1600*).
      [Museum of Aeronautical Science-Narita Airport] bisa naik Airport Museum Shuttle Bus lagi, atau naik taksi ke Bandara Narita.
      Museum of Aeronautical Science ini merupakan museum aviasi pertama yang ada di Jepang. Disini pengunjung dapat melihat-lihat berbagai display yang berhubungan dengan perkembangan dunia penerbangan di Jepang. Terdapat berbagai replika pesawat, observation deck yang menawarkan pemandangan 360 derajat (termasuk melihat runway di Bandara Narita), restoran, dan simulator menarik yang membuat pengunjung dapat merasakan pengalaman virtual menjadi pilot.
      Foto 03: Museum of Aeronautical Science
      (a.) Jalan masuk ke museum [foto: Abasaa/wikimedia], (b.) Bangunan museum [foto: Hyougushi/flickr], (c & d) Interior museum [foto: Abasaa/wikimedia]
      Lokasi museum ini sebetulnya tepat di luar Bandara Narita, tepatnya di ujung selatan dari runway bandara ini. Namun sebetulnya museum ini agak sulit diakses menggunakan kendaraan umum. Untuk mengakses museum ini (dari maupun menuju Bandara Narita) wisatawan bisa menggunakan shuttle bus maupun taksi (detail bisa dilihat di bagian akses). Tambahan informasi, di sekitar museum juga terdapat spot menarik untuk melihat runway pesawat, yaitu Sakura no Oka Observation Area (di ujung selatan Bandara Narita, dekat dengan museum); dan Sakura no Yama Observation Area (di sebelah utara Bandara Narita). Jadi jika sekedar ingin melihat runway sambil menikmati suasana dan tak sempat untuk masuk ke dalam museum, bisa pergi ke dua tempat tersebut.
      Foto 04: Museum of Aeronautical Science
      (a.) Pesawat di luar museum [foto: Mamo/wikimedia], (b.) Cockpit [foto: Alec Wilson/wikimedia], (c.) Cesna 172 [foto: Alec Wilson/wikimedia], (d.) Hangar pesawat [foto: Alec Wilson/wikimedia]
      ***
      Jika punya waktu transit yang lebih senggang (lebih dari 4 jam), bisa juga mampir ke tempat-tempat berikut ini:
       
      Boso no Mura
      Alamat:
      1028 Ryukakuji, Sakae-machi, Imba-gun, Chiba 270-1506
      Jam operasional:
      09.00-16.30, tutup setiap hari Senin (atau Selasa jika Senin bertepatan dengan hari libur)
      Harga tiket:
      ¥300* (dewasa), ¥150* (pelajar SMA dan mahasiswa), gratis (anak-anak, pelajar SD dan SMP, usia 65 tahun ke atas)
      Akses:
      [Tokyo-Boso no Mura] lihat disini untuk akses ke Stasiun JR Narita. Dari Stasiun Narita, naik bus Chiba Kotsu yang menuju ke Ryukakuji-dai-shako, turun di Ryukakuji-dai-2-chome (¥390*, 12 menit). Lanjutkan dengan jalan kaki 8-10 menit.
      [boso no Mura-Narita Airport] naik bus ke Stasiun Narita, dilanjutkan dengan naik JR Sobu/Narita Line, ¥230*, 11 menit. Turun di Narita Airport Terminal 1.
      Tempat ini merupakan museum terbuka yang bertujuan untuk memberikan gambaran kehidupan lokal pada periode Edo. Terdapat berbagai display rumah dan bangunan berskala 1:1 dari periode Edo, serta replika rumah dari periode Jomon (13000-300 tahun sebelum masehi). Suasananya mengingatkan pada Edo-Tokyo Open Air Architectural Museum dan Nihon Minka-en, sehingga perlu waktu beberapa jam untuk betul-betul menjelajah museum ini.
      Foto 05 (a-d): Boso no Mura [foto: Tanaka Juuyoh/flickr]
      ***
      Sawara
      Akses:
      [Tokyo-Sawara] lihat sini untuk akses ke Stasiun Narita. Dari Stasiun Narita, naik JR Narita line, ¥480*, 30 menit. Turun di Stasiun Sawara.
      [sawara-Narita Airport] dari Stasiun Sawara, naik JR Narita Line, ¥650*, turun di Stasiun Narita. Transfer ke JR Sobu/Narita Line Rapid, 11 menit, turun di Narita Airport Terminal 1.
      Sawara sejatinya merupakan sebuah kota kecil yang berada sedikit di luar Narita. Lalu kenapa kota ini layak dikunjungi jika punya waktu luang saat berada di Narita? Itu karena Sawara memiliki spot menarik, yaitu kawasan dengan suasana ala kota tua, yang terletak di sekitar kanal (10-15 menit dari Stasiun Sawara). Beberapa rumah dan bangunan dari periode Edo dipertahankan, sehingga area tersebut dikenal dengan sebutan Little Edo. Sawara juga menjadi tuan rumah dari beberapa festival unik, salah satunya adalah Higenade Matsuri.
      Foto 06 (a-d): Sawara [foto: At by At/wikimedia, At by At/wikimedia, Aktorisi/wikimedia, アリオト /wikimedia]
      ***
      * Harga sewaktu-waktu dapat berubah.
      ** Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
      ***
      Baca juga:
       
      Side trip from Tokyo (1): Yokohama
      - Yokohama Chinatown, Kenapa Harus Kesana?
      - Serba-serbi Minato Mirai 21, Landmark Kebanggaan Yokohama
      Side Trip From Tokyo (2): Kawasaki
      - Yang Seru dari Kawasaki: Ikuta Ryoukuchi Park
      Side trip from Tokyo (3): Kamakura
      - Inspirasi Itinerary Kamakura: Obyek Wisata + Hiking Trail
      - Setengah hari di Kamakura, kemana saja?
      - Seru-seruan di Kamakura, mulai dari pantai hingga aneka event tahunan
      Side Trip from Tokyo (4): Enoshima
      - Yang Wajib Dikunjungi di Enoshima
      Side trip from Tokyo (5): Narita
      - Transit di Narita, Main Kesini Dulu Yuk!
    • By vie asano
      Semula saya ingin lanjut menulis tentang aneka kota tujuan yang bisa menjadi side trip saat melakukan wisata ke Tokyo. Namun sepertinya akan lebih menarik jika saya berbagi informasi terlebih dulu tentang beberapa spot wisata populer yang bisa ditemukan di Yokohama, sehingga Jalan2ers bisa lebih mengenal Yokohama sebelum mengenal kota tujuan wisata lainnya yang ada di sekitar Tokyo.
      Sesuai yang saya janjikan disini, saya akan mengulas tentang Yokohama Chinatown dan Minato Mirai dalam tulisan terpisah. Kedua tempat tersebut sudah sangat dikenal sebagai tempat wisata yang paling populer di Yokohama. Ibarat kata, jika Anda berencana untuk singgah hanya sejenak di Yokohama, paling salah satu dari kedua tempat tersebut wajib untuk dikunjungi. Sebetulnya di Yokohama masih banyak tempat menarik lainnya seperti Hakkeijima Sea Paradise, namun perlu waktu seharian untuk betul-betul bisa menikmati taman hiburan itu. Untuk saat ini saya ingin menulis tentang Yokohama Chinatown, mulai dari hal menarik yang bisa ditemukan disana, hingga cara termudah mengakses kawasan tersebut.
      Sejarah singkat
      Bagi yang suka dengan sejarah Jepang, mungkin sudah pernah mendengar jika Jepang menutup diri dari pengaruh luar pada periode Edo, yaitu antara tahun 1603-1867. Menjelang akhir periode Edo, tepatnya tahun 1859, Jepang mulai mengijinkan pelabuhannya untuk di akses oleh negara lain. Pelabuhan pertama yang dibuka adalah pelabuhan yang ada di Yokohama.
      Setelah dibukanya pelabuhan Yokohama untuk asing, perlahan bangsa asing mulai masuk ke Jepang. Salah satunya pendatang terbanyak berasal dari Cina. Para pendatang tersebut lalu membentuk pemukiman yang akhirnya berkembang menjadi Yokohama Chinatown (atau Yokohama Chukagai).
      Dalam perkembangannya, Yokohama Chinatown mengalami perjalanan sejarah yang berliku. Faktor utamanya, selain karena sempat hancur karena faktor bencana alam, juga karena pecahnya perang antara Cina dan Jepang pada tahun 1937 yang tentu saja berpengaruh terhadap perkembangan chinatown. Barulah setelah tercapai perdamaian antara Jepang dan Cina, Yokohama Chinatown semakin berkembang dan akhirnya menjadi salah satu daya tarik dari kota Yokohama.
      Kenapa harus berkunjung ke Yokohama Chinatown?
      Sebetulnya, chinatown bisa ditemukan di berbagai negara. Namun Yokohama Chinatown memiliki beberapa keistimewaan. Dari seluruh chinatown yang ada di Jepang (chinatown lainnya terdapat di Kobe dan Nagasaki), Yokohama Chinatown adalah yang terbesar. Bahkan dengan luas mencapai 500 meter persegi, Yokohama Chinatown ini sekaligus menjadi yang terbesar di Asia, dan salah satu yang terbesar di dunia.
      (1), (2), (3), (4) Suasana di Yokohama Chinatown [foto: Jorge Lascar, Kabacchi, Chacrebleu, Lucamascaro]
      Faktor suasana menjadi daya tarik utama dari Yokohama Chinatown. Walau saat ini penduduk asli Cina hanya tinggal segelintir saja yang masih menetap disana, masih banyak hal menarik yang bisa ditemukan di Yokohama Chinatown. Terdapat lebih dari 500 toko di area tersebut (konsentrasi terbesar membentuk area seluas 300 meter persegi), dengan 250 diantaranya mengusung nuansa Cina.
      (5), (6), (7), (8) Suasana di Yokohama Chinatown [foto: Yukop, Fesek, Kabacchi]
      Suasana khas Cina pun semakin dikuatkan dengan pernak-pernik yang terdapat di kawasan ini, dimulai dari pintu gerbangnya. Yokohama Chinatown memiliki 4 gerbang bernuansa megah yang menjadi pintu masuk kawasan chinatown, ditambah dengan 6 gerbang lain yang berada di dalam kawasan. Jalanan di chinatown pun kental dengan suasana ala Cina, mulai dari ornamen yang menghiasi fasade toko, hingga banyaknya lampion merah yang menghiasi jalan. Dijamin wisatawan akan lupa kalau masih berada di Jepang deh, hehe..
      (9), (10), (11), (12) Aneka gerbang di Yokohama Chinatown [foto: RinzeWind, owenfinn16, *_*, Chacrebleu]
      Alasan lain untuk berkunjung kemari tentu saja karena keragaman hal yang bisa ditemukan di Yokohama Chinatown. Seperti telah disebutkan sebelumnya, di kawasan ini terdapat lebih dari 500 toko/outlet yang terdiri dari beragam jenis: toko kelontong, toko souvenir, restoran, kafe, toko makanan ringan, museum, dan banyak lagi. Tak hanya memiliki beragam toko, di Yokohama Chinatown juga terdapat kuil-kuil seperti kuil Kanteibyo dan Mazu Miao. Kuil-kuil tersebut memiliki desain yang berbeda dengan kuil-kuil lain di Jepang, sehingga menjadi salah satu daya tarik dari Yokohama Chinatown. Dengan kata lain, Yokohama Chinatown merupakan salah satu tempat terbaik untuk melakukan wisata belanja, wisata kuliner, serta wisata kuil di Yokohama.
      (13), (14), (15) Kuil Kanteibyo [foto: Dick Thomas Johnson, Ajari, Kabacchi]
      (16), (17), (18) Kuil Mazu Miao [foto: Lucamascaro, Ajari]
      Rekomendasi
      Berkunjunglah ke Yokohama Daisekai. Tempat ini merupakan sebuah entertainment mall setingi 8 lantai yang berada di Yokohama Chinatown. Disini pengunjung bisa melakukan berbelanja souvenir, mencoba layanan pijat, hingga mengunjungi museum trick art. Terdapat food court yang menyajikan aneka kuliner dari Cina, serta layanan bagi para cosplayer. Sedangkan untuk rekomendasi waktu berkunjung, salah satu waktu terbaik adalah menjelang hingga saat perayaan tahun baru Cina. Akan ada berbagai event yang digelar mulai dari bulan November-Februari, dan di masa-masa tersebut chinatown akan dihiasi dengan berbagai dekorasi cantik yang membuat suasana semakin meriah.
      Akses menuju Yokohama Chinatown
      Yokohama Chinatown bisa di akses menggunakan kereta maupun bus. Jika menggunakan kereta, stasiun terdekat dari kawasan ini adalah Stasiun Motomachi-Chukagai dan Stasiun Ishikawacho.
      Stasiun Yokohama - Stasiun Motomachi-Chukagai: ¥200*, 8 menit, via Minato Mirai Line;
      Stasiun Yokohama - Stasiun Ishikawacho: ¥150*, 7 menit, via JR Negishi Line.
      Untuk akses menuju Stasiun Yokohama, bisa baca disini.
      Untuk akses langsung dari Tokyo:
      Dari Stasiun Tokyo: JR Keihin-Tohoku/Negishi Line Local, ¥540*, 44 menit. Turun di Stasiun Ishikawacho.
      Dari Stasiun Shibuya: Tokyu Toyoko/Minatomirai Line Local, ¥460*, 48 menit. Turun di Stasiun Motomachi-Chukagai. Untuk akses lebih cepat, pilih kereta express (waktu tempuh menjadi 38 menit, harga tiket sama dengan kereta local).
      Dari Stasiun Shinagawa: JR Keihin-Tohoku/Negishi Line Local, ¥450*, 33 menit. Turun di Stasiun Ishikawacho.
      Sedangkan jika ingin menggunakan bus, terdapat 6 rute bus yang berangkat dari Stasiun Yokohama. Dari Sakuragicho Bus Depot, ada 16 rute yang menuju Yokohama Chinatown.
      Trivia
      Yokohama Chinatown pernah menjadi latar cerita dalam manga Garasu no Kamen lho, atau versi Bahasa Indonesia-nya berjudul Topeng Kaca. Tokoh utama manga tersebut, yaitu Maya Kitajima, diceritakan tinggal bersama ibunya di sebuah toko sebelum kabur ke Tokyo demi mengejar kesempatan belajar akting pada Mayuko Tsukikage. Ada yang pernah baca manga itu?
      * * *
      * Harga dapat berubah sewaktu-waktu.
      ** Seluruh foto diambil dari flickr, via creative commons. Credit nama berdasarkan username flickr. Tidak ada perubahan dari foto aslinya.
      * * *
      Baca juga:
      Side trip from Tokyo (1): Yokohama
      - Yokohama Chinatown, Kenapa Harus Kesana?
      - Serba-serbi Minato Mirai 21, Landmark Kebanggaan Yokohama
      Side Trip From Tokyo (2): Kawasaki
      - Yang Seru dari Kawasaki: Ikuta Ryoukuchi Park
      Side trip from Tokyo (3): Kamakura
      - Inspirasi Itinerary Kamakura: Obyek Wisata + Hiking Trail
      - Setengah hari di Kamakura, kemana saja?
      - Seru-seruan di Kamakura, mulai dari pantai hingga aneka event tahunan
      Side Trip from Tokyo (4): Enoshima
      - Yang Wajib Dikunjungi di Enoshima
      Side trip from Tokyo (5): Narita
      - Transit di Narita, Main Kesini Dulu Yuk!
    • By vie asano
      Yokohama, sudah. Kawasaki, sudah. Kamakura dan Enoshima, juga sudah. Lalu masih ada lagi nggak kota lain yang bisa dijadikan tujuan side-trip dari Tokyo?
       
      Jawabannya, banyak. Kota-kota yang sudah disebut di atas baru sebagian kota yang termasuk dalam wilayah prefektur Kanagawa. Nah, Tokyo sendiri posisinya diapit oleh prefektur Kanagawa (di sebelah selatan), prefektur Chiba (di sebelah timur), prefektur Saitama (di sebelah utara), dan prefektur Yamanashi (di sebelah barat). Masing-masing prefektur tersebut memiliki banyak sekali kota dengan aspek pariwisata yang dikelola dengan baik, sehingga masih sangat banyak kota tujuan wisata lain yang bisa dikunjungi sebagai alternatif side-trip saat berada di Tokyo.
       
      Walau kota-kota tersebut jumlahnya banyak, dan bahkan ada juga yang termasuk obyek wisata paling populer di Jepang seperti Gunung Fuji, Nikko, dan Hakone, namun saya ingin fokus dulu pada kota-kota yang bisa dikunjungi pulang-pergi dari Tokyo (tanpa harus memindahkan akomodasi ke kota tersebut). Baru setelahnya giliran aneka kota tujuan wisata yang bisa dikunjungi pulang-pergi maupun (karena satu dan lain hal) harus menginap disana. Kali ini saya ingin bergeser ke sebelah timur Tokyo, yaitu prefektur Chiba. Disana banyak juga kota yang menarik untuk dikunjungi, salah satunya adalah Narita.
       
      Sejarah singkat
      Narita? Memangnya ada tempat wisata di Narita International Airport? Kalau bicara tentang Narita, pasti yang langsung terpikir adalah Narita International Airport alias Bandara Narita. Selain Bandara Haneda (atau Haneda International Airport), Bandara Narita memang bandara internasional terdekat dari Tokyo. Tapi sebetulnya, bandara tersebut dinamakan Narita karena memang berdiri di kota Narita, yang jaraknya kurang lebih 60 km dari Tokyo. Jadi Narita yang dimaksud disini bukanlah Bandara Narita, melainkan kota Narita.
      Sejarah Narita sudah dimulai sejak jaman Japanese Paleolithic, kira-kira 50000-30000 sebelum masehi. Karena di kota ini terdapat beberapa sungai kecil, Narita pun perlahan-lahan menjadi pusat kehidupan untuk daerah sekitarnya. Seiring berjalannya waktu, di Narita kemudian berdiri beberapa fasilitas penting seperti kuil Shinsho-ji (tahun 940) yang menjadi salah satu pusat ziarah. Setelah dibangunnya Bandara Narita, kota Narita pun memantapkan diri menjadi kota yang berfokus pada transportasi, logistik, dan juga wisata.
      Foto 01: Narita City
      (a.) Narita City Office [foto: Hoku-sou-san/wikimedia], (b.) Jyoso Bridge [foto: Katorisi/wikimedia], (c.) Sanrizuka Park [foto: Katorisi/wikimedia], (d.) Sakura no Yama [foto: Katorisi/wikimedia]
      Yang menarik di Narita
      Ada beberapa fasilitas menarik di kota ini yang bisa dikunjungi sebelum meninggalkan Jepang (via Narita) maupun sesaat setelah mendarat di Narita (sebelum menuju Tokyo). Daya tarik utama dari kota ini tentu saja Narita International Airport. Bandara yang dibangun untuk mengurangi kepadatan Bandara Haneda ini (dibangun pada tahun 1960-an) memang dikenal sebagai salah satu pintu masuk dan pintu keluar terpenting dari dan menuju Jepang. Namun jika bicara tentang obyek wisata, yang paling populer adalah Naritasan (atau Naritasan Shinshoji Temple), alias kuil Shinsho-ji. Kuil Budha yang usianya sudah ribuan tahun ini lokasinya tak begitu jauh dari Bandara Narita, dan sudah sangat dikenal sebagai salah satu tempat wisata populer di Narita. Jika punya waktu senggang sebelum flight dari Narita (atau jika kebetulan transit di Narita), bisa mengunjungi kuil ini.
      Foto 02 (a-d):
      Narita Airport [foto: Abasaa/wikimedia, Terence Ong/wikimedia, Hyougushi/flickr, Marufish/wikimedia]
      Obyek wisata lain yang lokasinya tak jauh dari Bandara Narita adalah Museum of Aeronautical Sciences. Museum ini lokasinya persis di luar Bandara Narita, dan memiliki beberapa fasilitas menarik seperti observation area untuk mengamati runway. Obyek wisata terdekat lainnya dari Bandara Narita adalah Boso no Mura, sebuah museum terbuka mengenai kehidupan tradisional daerah Boso; Yamato no Yu, pemandian air panas khas Jepang; dan National Museum of Japanese History, yaitu sebuah museum sejarah Jepang. Diluar obyek wisata yang sudah disebutkan, masih ada obyek wisata lainnya seperti Sawara (kota kecil yang dikenal dengan sebutan Little Edo), dan Katori Jingu (kuil Shinto yang menjadi pusat dari ratusan kuil Katori di seluruh Jepang). Mudah-mudahan untuk tulisan berikutnya ada beberapa obyek wisata yang bisa di review lebih lanjut, maupun disusun dalam bentuk itinerary.
      Foto 03:
      (a.) Naritasan [foto: 663highland/wikimedia], (b.) Museum of Aeronautical Science [foto: Mamo/wikimedia], (c.) Boso no mura [foto: Tanaka Juuyoh/flickr], (d.) Sawara city [foto: Katorisi/wikimedia]
      Rekomendasi
      Jika memang berniat untuk bepergian dari Tokyo-Bandara Narita dan sebaliknya, sebaiknya membeli kartu SUICA NEX. Detail mengenai SUICA NEX bisa dibaca disini. Dari Bandara Narita, tinggal mengakses stasiun kereta lain untuk mencapai berbagai obyek wisata di Narita.
      Akses dari Tokyo
      Ada beberapa stasiun yang terdapat di Narita. Namun saya hanya akan mengulas akses dari Tokyo menuju beberapa stasiun besar di Narita, yaitu Stasiun JR Narita, Stasiun Keisei-Narita, dan Narita Airport.
      Foto 04:
      (a.) Stasiun Narita [foto: Kouchiumi/wikimedia], (b.) Stasiun Keisei-Narita [foto: Mutimaro/wikimedia], (c.) Stasiun Narita Airport [foto: Filler/wikimedia], (d.) Stasiun Narita Airport Keisei Line [foto: Filler/wikimedia]
      Dari Stasiun Shinjuku:
      -JR Yamanote Line (outer loop), ¥190*, 21 menit. Turun di Stasiun Nippori, ganti naik Keisei Main Line, ¥750*, 71-84 menit. Turun di Stasiun Keisei-Narita.
      -Atau, di Stasiun Nippori naik Keisei Skyliner, ¥1200*, 45 menit, turun di Narita Airport Terminal 1.
      -JR Chuo/Sobu Line, ¥1280*, 69 menit. Turun di Stasiun Chiba, transfer ke JR Narita Line, ¥0*, 34 menit. Turun di Stasiun Narita.
       
      Dari Stasiun Shibuya:
      -LTD EXP Narita Express, ¥1450*, 72-76 menit. Turun di Narita Airport Terminal 1 atau Terminal 2.
      -JR Yamanote Line, ¥190*, 29 menit. Turun di Stasiun Nippori, lalu naik Keisei Main Line Ltd.Exp., ¥750*, 68 menit. Turun di Stasiun Keisei-Narita.
       
      Dari Stasiun Tokyo:
      -JR Keihin-Tohoku/Negishi Line, ¥150*, 11 menit. Turun di Stasiun Nippori, lalu naik Keisei Main Line, ¥750*, 64 menit. Turun di Stasiun Keisei-Narita.
      -LTD.EXP Narita Express, ¥1280*, 55 menit. Turun di Narita Airport. Jika ingin lanjut ke Stasiun Narita, dari Narita Airport tinggal naik LTD.EXP Narita Express, ¥190*, 9 menit.
       
      Dari Stasiun Shinagawa:
      -LTD.EXP Narita Express, ¥1450*, 69 menit. Turun di Narita Airport.
      -JR Keihin-Tohoku/Negishi Line, ¥190*, 22 menit. Turun di Stasiun Nippori, ganti naik Keisei Main Line, ¥750*, 65 menit. Turun di Stasiun Keisei-Narita.
      * * *
      * Harga sewaktu-waktu dapat berubah.
      ** Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya.
      * * *
      Baca juga:
      Side trip from Tokyo (1): Yokohama
      - Yokohama Chinatown, Kenapa Harus Kesana?
      - Serba-serbi Minato Mirai 21, Landmark Kebanggaan Yokohama
      Side Trip From Tokyo (2): Kawasaki
      - Yang Seru dari Kawasaki: Ikuta Ryoukuchi Park
      Side trip from Tokyo (3): Kamakura
      - Inspirasi Itinerary Kamakura: Obyek Wisata + Hiking Trail
      - Setengah hari di Kamakura, kemana saja?
      - Seru-seruan di Kamakura, mulai dari pantai hingga aneka event tahunan
      Side Trip from Tokyo (4): Enoshima
      - Yang Wajib Dikunjungi di Enoshima
      Side trip from Tokyo (5): Narita
      - Transit di Narita, Main Kesini Dulu Yuk!
    • By vie asano
      Sudah baca tulisan aneka side-trip from Tokyo lainnya? Beberapa yang sudah diulas antara lain Yokohama, Kawasaki, dan Kamakura. Nah, kali ini saya ingin membahas tentang Enoshima, sebuah pulau kecil yang dikenal sebagai pulau wisata.
       
      Secara administratif, Enoshima termasuk dalam wilayah kota Fujisawa. Posisinya sendiri lebih dekat dengan Kamakura, hanya berjarak 4 km dari pantai Kamakura, sehingga Enoshima seringkali dijadikan alternatif side-trip dari Kamakura. Semula saya ingin membahas Enoshima sebagai bagian dari Kamakura. Namun karena ada juga akses dari Tokyo yang menuju Enoshima tanpa harus melalui Kamakura, serta karena banyaknya obyek wisata yang sayang jika hanya disinggung sekilas lalu, maka Enoshima sengaja ditulis terpisah dari Kamakura. Mudah-mudahan bisa menginspirasi wisatawan yang akan berwisata ke Tokyo dan berminat untuk singgah ke Kamakura, untuk sekaligus mampir ke Enoshima.
       
      Sejarah singkat
      Menurut legenda, Enoshima diciptakan oleh Benzaiten (dikenal juga dengan nama Benten maupun Sarasvati), dewi musik dan hiburan yang mengangkat pulau ini ke permukaan laut pada abad ke-6. Karena itulah pulau ini lalu dipersembahkan untuk Benzaiten. Enoshima baru mulai berkembang saat pemerintah Meiji, kira-kira pada tahun 1880, memutuskan untuk mengembangkan pulau ini. Seorang pedagang dari Inggris bernama Samuel Cocking lalu membeli sebagian tanah di pulau Enoshima dan mengembangkan taman botani dengan rumah kaca berukuran luas. Enoshima pun semakin berkembang menjadi pulau wisata dengan bertambahnya berbagai fasilitas lain yang menarik perhatian turis.
      Foto 01 (a-d)
      Pulau Enoshima [foto: Wikimedia, Σ64/wikimedia, Yoppy/flickr, Ys*/flickr]
      Yang seru di Enoshima
      Saat ini, di Enoshima terdapat beberapa obyek wisata yang lokasinya tersebar di berbagai sudut pulau. Salah satu atraksi utama di pulau ini adalah Enoshima Shrine, atau kuil Enoshima. Kuil ini terdiri dari 3 kuil yang berdiri di lokasi terpisah, yaitu Hetsu-no-miya (yang paling dekat), Nakatsu-no-miya (kuil yang ada di bagian tengah), dan Okutsu-no-miya (kuil di bagian paling dalam). Atraksi utama lainnya adalah Samuel Cocking Garden. Walau sempat hancur paska Gempa Besar Kanto tahun 1923, rumah kaca dan taman botani tersebut masih ada hingga saat ini dan menjadi salah satu atraksi di Enoshima. Terdapat observation tower yang merangkap sebagai mercusuar setinggi 60 meter, dan dari sini pengunjung dapat melihat-lihat pulau Enoshima dan sekitarnya.
      Foto 02: Enoshima Jinja
      (a.) Zuishinmon [foto: Danirubioperez/flickr], (b.) Hetsu-no-miya [foto: Aimaimyi/wikimedia], (c.) Natsu-no-miya [foto: Aimaimyi/wikimedia], (d.) Okutsu-no-miya [foto: Dr. Koto/wikimedia]
      Masih banyak atraksi lain di Enoshima, seperti Iwaya Caves, Enoshima Aquarium (di pulau utama dekat Enoshima), Enoshima Island Spa, dan berbagai kuil lainnya. Wisatawan juga bisa mengunjungi Love Bell yang terletak di puncak Enoshima. Konon pasangan yang bersama-sama membunyikan lonceng dan meninggalkan gembok bertuliskan nama mereka di pagar, maka cinta mereka akan abadi. Di pulau Enoshima juga terdapat pantai dengan laut yang populer sebagai tempat berenang dan berselancar. Dan masih banyak lagi wisata seru lainnya yang bisa ditemukan di Enoshima.
      Foto 03: Berbagai fasilitas lain di pulau Enoshima
      (a.) Samuel Cocking Garden [foto: *_*], (b.) Iwaya Cave [foto: *_*], (c.) Enoshima Aquarium [foto: Abasaa/wikimedia], (d.) Enoshima Island Spa [foto: Abasaa/wikimedia]
      Rekomendasi
      Jika berminat untuk mengelilingi Enoshima selama sehari penuh, disarankan untuk membeli Enopass. Enopass adalah tiket terusan untuk mengakses berbagai atraksi dan fasilitas di Enoshima, dan juga berfungsi sebagai kartu diskon untuk beberapa fasilitas maupun toko. Enopass bisa dibeli di pusat informasi turis di dekat Stasiun Katase Enoshima.
      Foto 04 (a-d):
      Berbagai suasana di Enoshima [foto: Tomotaka/flickr, Yoppy/flickr, Aimaimyi/wikimedia, *_*/flickr]
      Foto 05 (a-d):
      Berbagai suasana di Enoshima [foto: Danirubioperez/flickr, Danirubioperez/flickr, Olis Olois/flickr, *_*/flickr]
      Akses termudah dari Tokyo dan Kamakura
      Ada beberapa cara untuk mengakses Enoshima (menggunakan transportasi publik), yaitu dengan menggunakan Enoden (atau Enoshima Electric Railway), kereta api, serta monorail. Ketiga moda transportasi tersebut akan berhenti di stasiun berbeda. Enoden berhenti di Stasiun Enoshima, kereta berhenti di Stasiun Katase Enoshima, dan monorail di Stasiun Shonan Enoshima. Ketiga stasiun tersebut hanya berhenti di pulau utama (yang termasuk dalam wilayah Katase), dan jika ingin mengakses pulau Enoshima wisatawan dapat berjalan kaki menyusuri jembatan sepanjang 600 m, atau naik Bentenmaru Ferry (¥400*, 10 menit perjalanan, hanya di akhir pekan saja) di ujung jembatan.
      Foto 06:
      (a.) Stasiun Enoshima [foto: SElefant/wikimedia], (b.) Stasiun Katase-Enoshima [foto: Lover of Romance/wikimedia], (c.) Stasiun Shonan-Enoshima [foto: SElefant/wikimedia], (d.) Jalan di jembatan penghubung Enoshima [foto: Danirubioperez/flickr]
      Dari Stasiun Shinjuku:
      -JR Shonan-Shinjuku Line (via Tokaido Line), ¥950*, 51 menit, turun di Stasiun Fujisawa. Dari Stasiun Fujisawa, naik Odakyu Enoshima Line, ¥150*, 7 menit, turun di Stasiun Katase-Enoshima. Total biaya ¥1100*.
      -Odakyu Odawara Line (pilih kereta express), ¥570*, 37 menit, turun di Stasiun Sagami-Ono. Transfer ke Odakyu Enoshima Line (pilih kereta express), ¥0*, 24 menit, turun di Stasiun Fujisawa. Dari Stasiun Fujisawa, naik Enoshima Electric Railway (Enoden), ¥210*, 11 menit, turun di Stasiun Enoshima. Total biaya ¥780*.
      Dari Stasiun Shinagawa:
      -JR Tokaido Line, ¥740*, 38 menit, turun di Stasiun Fujisawa. Dari Stasiun Fujisawa, naik Enoshima Electric Railway, ¥210*, 11 menit, turun di Stasiun Enoshima. Total biaya ¥950*.
      -JR Tokaido Line, ¥620*, 33 menit, turun di Stasiun Ofuna. Dari Stasiun Ofuna, naik Shonan Monorail, ¥300*, 16 menit, turun di Stasiun Shonan-Enoshima. Total biaya ¥920*.
      -JR Tokaido Line, ¥740*, 38 menit, turun di Stasiun Fujisawa. Dari Stasiun Fujisawa, naik Odakyu Enoshima Line, ¥150*, 7 menit, turun di Stasiun Katase-Enoshima. Total biaya ¥890*.
      -JR Yokosuka Line, ¥690*, 47 menit, turun di Stasiun Kamakura. Dari Stasiun Kamakura, naik Enoshima Electric Railway, ¥250*, 25 menit, turun di Stasiun Enoshima. Total biaya ¥940*.
      Dari Stasiun Tokyo:
      -JR Yokosuka Line, ¥890*, 56 menit, turun di Stasiun Kamakura. Dari Stasiun Kamakura, naik Enoshima Electric Railway, ¥250*, 24 menit, turun di Stasiun Enoshima. Total biaya ¥1140*.
      -JR Tokaido Line, ¥950*, 49 menit, turun di Stasiun Fujisawa. Dari Stasiun Fujisawa, naik Odakyu Enoshima Line, ¥150*, 7 menit, turun di Stasiun Katase-Enoshima. Total biaya ¥1100*.
      Sedangkan dari Kamakura, akses termudah adalah dari Stasiun Kamakura ke Stasiun Enoshima, via Enoshima Electric Railway (¥250*, 24 menit). Akses ke Stasiun Kamakura lihat disini.
      Tambahan informasi, jika tertarik untuk menjelajah Kamakura dan Enoshima dalam satu hari kalender, sebaiknya mempertimbangkan untuk membeli Enoshima Kamakura Free Pass maupun Kamakura Enoshima Pass. Detailnya bisa dibaca disini.
      Semoga bermanfaat!
      * * *
      * Harga dapat berubah sewaktu-waktu.
      ** Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya.
      * * *
      Baca juga:
       
      Side trip from Tokyo (1): Yokohama
      - Yokohama Chinatown, Kenapa Harus Kesana?
      - Serba-serbi Minato Mirai 21, Landmark Kebanggaan Yokohama
      Side Trip From Tokyo (2): Kawasaki
      - Yang Seru dari Kawasaki: Ikuta Ryoukuchi Park
      Side trip from Tokyo (3): Kamakura
      - Inspirasi Itinerary Kamakura: Obyek Wisata + Hiking Trail
      - Setengah hari di Kamakura, kemana saja?
      - Seru-seruan di Kamakura, mulai dari pantai hingga aneka event tahunan
      Side Trip from Tokyo (4): Enoshima
      - Yang Wajib Dikunjungi di Enoshima
      Side trip from Tokyo (5): Narita
      - Transit di Narita, Main Kesini Dulu Yuk!
      - Seru-seruan di Kamakura, mulai dari pantai hingga aneka event tahunan
    • By vie asano
      Tulisan ini merupakan lanjutan dari tema aneka kota yang bisa menjadi kota tujuan wisata sampingan saat berada di Tokyo. Pada tulisan sebelumnya, saya sudah menulis tentang Yokohama dan 2 obyek wisata paling populer yang bisa dikunjungi pulang-pergi dari Tokyo, yaitu Yokohama Chinatown dan Minato Mirai. Kali ini saya ingin berbagi informasi seputar Kawasaki.
       
      Pernah dengar nama Kawasaki? Saya pribadi, saat mendengar nama Kawasaki langsung teringat pada nama sebuah produsen motor. Namun Kawasaki yang saya maksud kali ini tidak ada sangkut pautnya dengan motor maupun balapan, karena Kawasaki yang dimaksud adalah nama sebuah kota. Selain Yokohama, Kawasaki termasuk salah satu kota yang bisa menjadi alternatif side-trip bagi wisatawan yang menjadikan Tokyo sebagai kota tujuan wisata utamanya. Kenapa bisa begitu?
       
      Sejarah singkat
      Sebelum mengenal sejarah singkat tentang Kawasaki, saya ingin memberikan gambaran mengenai posisi geografis dari kota ini. Tokyo dan Yokohama memiliki jarak yang cukup dekat, bisa di akses selama kurang lebih 30 menit menggunakan kereta api. Nah, kota Kawasaki ini berada tepat di antara Tokyo dan Yokohama. Bentuk kotanya memanjang barat-timur dengan total panjang 30 km, sehingga bisa dibilang kota ini terjepit di antara Tokyo dan Yokohama. Itulah mengapa Kawasaki ideal sebagai salah satu alternatif side-trip karena posisinya yang lebih dekat dan lebih mudah di akses dari Tokyo.
      Sebagai salah satu kota yang berbatasan langsung dengan Tokyo, pada masa Edo (saat itu Tokyo bernama Edo), kota Kawasaki populer sebagai tempat pemberhentian para pelancong yang akan memasuki Edo. Setelah jalur kereta api pertama dibangun di era Meiji, yaitu Tokaido Main Line, Kawasaki pun berkembang menjadi kawasan industri yang berpusat di sekitar area waterfront. Pada masa Perang Dunia II, kawasan industri tersebut banyak yang hancur. Setelah pulih dari masa peperangan, perlahan tapi pasti Kawasaki tak hanya menjadi kawasan industri, namun juga berkembang menjadi kawasan perumahan. Saat ini Kawasaki menjadi kota terbesar ke-9 di Jepang dan terdiri dari 7 distrik yang masing-masing memiliki keunikan tersendiri.
      Yang menarik dari Kawasaki
      Sebetulnya, Kawasaki bukanlah kota tujuan wisata utama di Jepang. Namun bukan berarti kota ini tidak memiliki atraksi maupun obyek wisata menarik lho. Ada beberapa obyek wisata populer yang membuat kota ini layak untuk dikunjungi. Yang pertama adalah Kawasaki Daishi Temple (nama resminya adalah Heiken-ji). Kuil Budha ini pertama berdiri tahun 1128. Walau telah mengalami beberapa renovasi karena pernah hancur saat perang, kuil ini tetap menjadi obyek wisata utama di Kawasaki karena posisinya sebagai kuil pusat dari Sekte Chizan, Shingon Buddhism. Di sekitar Kawasaki Daishi ini terdapat shopping arcade sepanjang 200 meter yang disebut Nakamise-dori.
      (1), (2), (3), (4) Kawasaki Daishi Temple [foto: Willhsmit/wikimedia, MGAt3bot2/wikimedia, Haya_BS/flickr, Truthiness/flickr]
      Tempat wisata favorit lainnya adalah Fujiko F.Fujio Museum, atau populer dengan nama Doraemon Museum. Tempat ini merupakan museum untuk mengenang Fujiko F.Fujio, mangaka yang telah mengeluarkan beberapa karya populer seperti Doraemon, P-Man, Ninja Hattori, dan sebagainya. Detail tentang museum tersebut bisa dibaca disini: part 1, part 2.
      (5), (6), (7), (8) Fujiko F.Fujio Museum [foto: Aimaimyi/wikimedia, Kentaro Ohno/flickr, Yoppy/flickr, Yoppy/flickr]
      Nihon Minkaen menjadi obyek wisata favorit lainnya. Tempat ini merupakan museum terbuka yang memiliki koleksi bangunan yang berasal dari periode Edo (1603-1867), dan merupakan salah satu fasilitas yang ada di Ikuta Ryokuchi Park. Jalan2.com memiliki artikel yang cukup detail seputar museum tersebut yang bisa dibaca disini: part 1, part 2, part 3. Ikuta Ryokuchi Park sendiri termasuk salah satu obyek wisata menarik di Kawasaki karena memiliki fasilitas yang beragam. Mudah-mudahan bisa saya tulis terpisah..
      (9), (10), (11), (12) Nihon Minka-en [foto: Fg2/wikimedia, Fg2/wikimedia, Tripfantastic/flickr, Tripfantastic/flickr]
      Masih banyak obyek wisata lainnya di Kawasaki. Pecinta Korea bisa mampir ke Korea Town, daerah yang menjadi pusatnya populasi warga Korea di Kawasaki. Ada lebih dari 80 restoran dan toko bahan makanan Korea terdapat disana. Kawasaki juga memiliki beberapa museum menarik seperti Kawasaki Isago no Sato Museum yang memiliki beragam koleksi seni budaya dari periode Edo; Taro Okamoto Museum of Art yang menyimpan beragam karya dari Taro Okamoto dan orang tuanya; Kawasaki City Museum, dan banyak lagi. Kota ini juga memiliki taman bermain yang memiliki wahana permainan seru dan fasilitas pelengkap lainnya, yaitu Yomiuriland (baca disini: part 1, part 2, part 3, part 4, part 5). Terdapat juga kuil-kuil lain, kebun binatang, taman, dan aneka pilihan wisata industri yang akan mengajak wisatawan untuk lebih mengenal berbagai industri yang ada di Kawasaki. Intinya, di setiap distrik di Kawasaki terdapat beragam obyek wisata menarik yang bisa dikunjungi.
      (13), (14), (15), (16) Yomiuriland [foto: Thecrypt/flickr, atk1983/flickr, atk1983/flickr, rsa/wikimedia]
      Rekomendasi
      Bingung menentukan obyek wisata pilihan di Kawasaki? Mampir saja dulu ke Kawasaki Travel Information Center (buka setiap hari mulai pukul 10.00-17.00). Pusat informasi tersebut hanya berjarak 30 detik jalan kaki dari Stasiun JR Kawasaki. Terdapat layanan penerjemah dalam bahasa Inggris, Cina, dan Korea. Di sana wisatawan juga bisa mendapatkan free Wi-Fi card (khusus untuk wisatawan asing) yang bisa digunakan dalam jangka waktu 14 hari.
      Beberapa obyek wisata lain di Kawasaki
      (17) La Cittadella [foto: Chiether/wikimedia], (18) Kawasai Peace Museum [foto: Tokyo Watcher/wikimedia], (19) Kawasaki Art Center [foto: Lover of romance/wikimedia], (20) Lazona Kawasaki [foto: OiMax/flickr]
      Akses menuju Kawasaki
      Kawasaki sangat mudah di akses dari Tokyo dan Bandara Haneda (note: dari Haneda harus transit dulu di Shinagawa). Sebagian besar kereta yang menghubungkan Tokyo dan Yokohama akan berhenti di Kawasaki, sehingga Kawasaki ideal dikunjungi oleh wisatawan yang akan pergi ke Yokohama. Namun mengingat kota ini memiliki bentuk yang memanjang, stasiun yang menjadi tempat pemberhentian tersebut bisa berbeda-beda tergantung jalur yang dilaluinya. Berikut akses termudah menuju beberapa stasiun besar di Kawasaki.
      Dari Stasiun Tokyo:
      -JR Keihin-Tohoku/Negishi Line, ¥290*, 25 menit. Turun di Stasiun Kawasaki.
      -JR Tokaido Line, ¥290*, 19 menit. Turun di Stasiun Kawasaki.
      -JR Yokosuka Line, ¥290*, 18 menit. Turun di Stasiun Musashi-Kosugi.
      Dari Stasiun Shinjuku:
      -JR Shonan-Shinjuku Line (via Tokaido Line), ¥380*, 19 menit. Turun di Stasiun Musashi-Kosugi.
      -Odakyu Odawara Line, ¥240*, 17-34 menit (tergantung apakah naik kereta express atau local). Turun di Stasiun Noborito.
      Dari Stasiun Shibuya:
      -Tokyu Denentoshi Line, ¥190*, 18 menit. Turun di Stasiun Mizonokuchi.
      -Tokyu Toyoko/Minatomirai Line, ¥190*, 19 menit. Turun di Stasiun Musashi-Kosugi. Untuk akses lebih cepat, pilih kereta express.
      Dari Stasiun Shinagawa:
      -JR Tokaido Line, ¥210*, 9 menit. Turun di Stasiun Kawasaki.
      -JR Keihin-Tohoku/Negishi Line, ¥210*, 15 menit. Turun di Stasiun Kawasaki.
      -JR Yokosuka Line, ¥160*, 10 menit. Turun di Stasiun Musashi-Kosugi.
      * * *
      * Harga sewaktu-waktu dapat berubah.
      ** Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya.
      * * *
      Baca juga:
      Side trip from Tokyo (1): Yokohama
      - Yokohama Chinatown, Kenapa Harus Kesana?
      - Serba-serbi Minato Mirai 21, Landmark Kebanggaan Yokohama
      Side Trip From Tokyo (2): Kawasaki
      - Yang Seru dari Kawasaki: Ikuta Ryoukuchi Park
      Side trip from Tokyo (3): Kamakura
      - Inspirasi Itinerary Kamakura: Obyek Wisata + Hiking Trail
      - Setengah hari di Kamakura, kemana saja?
      - Seru-seruan di Kamakura, mulai dari pantai hingga aneka event tahunan
      Side Trip from Tokyo (4): Enoshima
      - Yang Wajib Dikunjungi di Enoshima
      Side trip from Tokyo (5): Narita
      - Transit di Narita, Main Kesini Dulu Yuk!