• agoda-hemat.png

  1. kyosash

    kyosash

  2. Jalan2

    Jalan2

  • Similar Content

    • By paksisung
      Wilayah Ini ialah pulau di Indonesia yang masih jarang banyak dijelajahi oleh Traveller namun memiliki banyak keunikan dan daya tarik termasuktermasuk juga kaya dengan warisan budayabudaya. Wilayah pulau Kalimantan terkenal dengan hutan tropis serta memiliki sumber daya alam yang terbanyak di Indonesia, dapat ditemukan Flora dan fauna eksotis di bumi Khatulistiwa. Pada zaman dahulu, pulau ini dihuni oleh orang Dayak sebagai penduduk asli Kalimantan. Kehidupan mereka tinggal di dalam hutan dan hidup secara berpindah-pindah. Akan tetapi saat ini perubahan dan arus modernisasi telah membuat beberapa masyarakat asli suku Dayak untuk bersosialisai dengan berbaur menjadi satu dengan masyarakat dari berbagai suku di perkotaan.
      Pada daerah asalnya, masyarakat Dayak hidup di rumah panjang yang disebut Lamin atau Radankng. Adapun biasanya sebuah rumah dihuni oleh 50 orang atau lebih. Tercatat Ada banyak suku Dayak serta sub suku yang tercatat tercatat di pulau KalimantanKalimantan ini. Sungai memainkan peran peranan yang sangat penting dalam komunikasi dan kehidupan penduduknya. Mayoritas masyarakat hidup dan berpusat di sekitar aliran sungai termasuk juga kegiatan mereka dan rumah. Kalimantan terbagi menjadi 5 provinsi yaitu Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah. Masing masing provinsi memiliki ciri khas, bahasa, potensi alam, budaya, dan keunikannya sendiri-sendiri. 

      Cagar Alam Dan Cagar Alam
      Wilayah Kalimantan memiliki beberapa cagar alam yang digunakan untuk membudidayakan flora serta fauna unik dan langkah di tempat ini. Beberapa diantaranya adalah :
      Kersik luway berlokasi di Sungai Mahakam,
      Taman Nasional Kutai yang berlokasi di Bontang,
      Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah, dan lain lain.
      Trekking Dan Petualangan
      Berpetualang di sepanjang sungai dengan melakukan tracking ke banyak tempat termasuk juga ke pedalaman merupakan salah satu kegiatan mengagumkanmenarik yang sering di lakukan oleh para traveller yang liburan ke Kalimantan. Terdapat banyak desa tradisional yang masih mencegah serta melestarikan adat istiadat mereka di Kalimantan.
      Kota Kota Utama Di Kalimantan
      Kalimantan terkenal sebagai salah satu pulau terbesarterluas di Indonesia. pulau ini memiliki beberapa kota terkenal yang menjadi kota kota utama diantaranya: Kota Balikpapan, Samarinda, Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin dan Tarakan. 
      Akomodasi
      Tersedia banyak kota menarik yang memiliki banyak tempat menginap yang bisa kalian gunakan. terdapathotel hingga losmen serta restoran tersedia di Kalimantan. Selain itu, Kalimantan juga memilikimemiliki kehidupan malam yang menarik dengan berbagai fasilitasnya.
      Transportasi
      Transportasi diPulau Kalimantan yang sangat luas memang tidak sebaik pulau Jawa. Konsidi jalanJalan-jalan terlihat baikhanya di pusat kota dan rute yang merupakan arteri antar provinsi dan kota. Sedangkan, kondisi jalan yang berada di desa atau berada di luar kota seringkali terlihat rusak dan dipenuhi lubang. Namun, Transportasi di Kalimantan tergolong lengkap mulai dari bus antar provinsi, angkot untuk di kota, dan Angkutan umum lainnya. 
      Objek Wisata
      Kalimantan memiliki banyak spot wisata menarik diantaranya yakni Sungai Kuin yang merupakan pusat pasar terapung di Sungai Barito. Selain itu, terdapat juga tugu khatulistiwa di ibukota provinsi Kalimantan barat, Pontianak. Adapun beberapa tempat yang sering dikunjungioleh wisatawan adalah Bukit kelam, Labuan Cermin, Berau, Parakan, Balikpapan, Samarinda, Pontianak, dll. nikmati juga berbagai macam makanan khas kalimantan Barat dan kuliner khas kalimantan selatan 
      Budaya
      Tersedia 5 budaya dasar penduduk asli rumpun Austronesia di Kalimantan atau suku Kalimantan yaitu Banjar, Kutai, Banjar, Dayak dan Paser . Sedagkan, sensus BPS tahun 2010, suku bangsa yang Tersedia di Kalimantan Indonesia dikelompokan menjadi tiga kelompok yaitu suku Banjar, suku Dayak Indonesia terdiri dari 268 suku bangsa dan etnis asal Kalimantan yang lain. Etnis Melayu menempati wilayah pulau Karimata dan pesisir Kalimantan Barat, Sarawak, Brunei sampai pesisir Sabah. Sedangkan, suku Banjar menempati wilayah Kalsel serta sebagian Kalteng dan Kaltim. Adapun, etnis Kutai dan Paser menempati wilayah Kaltim. Adapun, suku Dayak menempati wilayah pedalaman Kalimantan. 
      Bahasa
      Sedangkan Bahasa yang digunakan di Kalimantan lazimnya adalah bahasa Indonesia. Akan tetapi, pada beberapa daerah seperti di Banjarmasin atau Kalimantan Selatan masyarakat di sana menggunakan bahasa banjar sebagai bahasa sehari - hari. Adapun jikakamu anda berkunjung ke Kalimantan Barat, masyarakat di sana lebih banyak memakaimenggunakan bahasa melayu. Begitu juga dengan Kalimantan Tengah. Mereka mempunyai bahasa sendiri yang berbeda dengan Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Banyak penduduk yang datang dari luar daerah juga membawa bahasa mereka seperti bahasa bugis, bahasa jawa, dan banyak yang lain. 
       

    • By Tarmizi Arl
      Pulau Seribu Sungai, Kalimantan terkenal sebagai paru-parunya Indonesia. Pulau yang ditempati oleh 3 negara ini memang memiliki ekosistem hutan tropis yang luas yang menjadikannya cukup kaya pula akan habitat satwa.
      Keelokan Pulau terbesar ke 3 dunia ini juga dapat kalian nikmati dikala senja tiba. Beberapa spot atau lokasi memiliki pemandangan terbaik untuk melihat sunset. Pengalaman wisata kalianpun tentu akan semakin kaya karena dapat menyaksikan langsung sang cahaya surya menghilang perlahan dari pulau yang terkenal juga dengan sebutan Borneo tersebut. Lantas apa dan dimana sajakah lokasi-lokasi pilihan untuk menikmati senja tersebut?
       
      1. Jangan Ketinggalan Tren untuk Merasakan Senja di Pantai Melawai Balikpapan

      Balikpapan, kota di Provinsi Kalimantan Timur ini tidak hanya terkenal sebagai kota industri minyak. Beberapa tahun belakang, Kota berpenduduk lebih dari 700 ribu jiwa tersebut juga mulai mengembangkan promosi kepariwisataan. Pengembangan tersebut mencakup pula perbaikan fasilitas dan tata kota termasuk pembangunan bandara yang kini masuk dalam jajaran Bandara megah di Indonesia.
      Salah satu objek wisata paling terkenal dari Balikpapan ialah Pamtai Melawai. Pantai yang berada di Sepanjang Jalan Sudirman tersebut sudah sangat populer oleh warga kota sebagai lokasi bersantai saat sore hingga malam. Hal tersebut karena pantai ini secara geografis menghadap barat yang berarti menghadap langsung ke arah matahari ketika menuju peraduannya. Ya, meskipun Balikpapan sendiri sejatinya berada di pesisir Timur Kalimantan, tetapi terdapat teluk kecil yang membelahnya sehingga terdapatlah sisi pantai menghadap Barat.
      Pantai Melawai sendiri bukan pantai berpasir, namun begitu pemerintah setempat sudah mengelola dan membangunnya sehingga tertata menjadi pelataran dan beberapa spot lainnya. Di sepanjang tepi pantai pula terdapat cafe-cafe dan toko-toko makanan sehingga membuatnya sangat nyaman untuk didatangi. Tak heran jika kawasan ini menjadi favorit berkumpul warga Balikpapan.
      Tidak hanya menarik untuk melihat lautan lepas, tetapi Pantai Melawai juga dihiasi oleh kapal-kapal segala ukuran yang tengah berlayar. Di salah satu bagian terdapat juga pulau kecil yang nampak timbul dari tengah lautan sehingga memberikan kesan berbeda. Semuanya akan terbingkai penuh pesona ketika senja tiba dimana semburat jingga akan memeberikan warna bagi Pantai Merawai.
       
      2. Bertabur Nyiur, Sunset dari Pantai Takisung Kalimantan Selatan akan Membuatmu Tak Ingin Cepat Beranjak

      Masih tak beranjak dari pantai, kali ini Kalimantan Selatan memiliki sebuah pantai di Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut. Pantai yang berada sekitar 87 km dari ibukota provinsi di Kota Banjarmasin ini menjadi salah satu tempat favorit warga untuk berkumpul terutama saat sore hari. Apalagi lokasinya yang tidak begitu jauh dari Kota Banjarmasin dan karakter Kota Banjarmasin yang tidak akrab dengan nuansa pantai membuat Pantai Takisung menjadi lokasi paling masuk akal untuk warga kota yang ingin liburan.
      Keindahan pantai yang menghadap Laut Jawa ini ialah pasirnya yang membentang luas serta pepohonan kelapa yang menambah nuansa tropis yang khas. Di kawasan pantai ini juga ramai dengan jasa olahraga dan hiburan seperti banana boat, motor racing, serta kapal-kapal yang siap mengantarkan berkeliling pantai. Pedangan kaki lima juga banyak memenuhi pinggir pantai yang membuatnya semakin semarak. Kondisi ini memang terbilang terlalu ramai apalagi saat liburan, namun tetap saja menarik kunjungan wisatawan.
      Ketika senja tiba, maka panorama sunsetlah yang akan membuat siapa saja terpaku sejenak. Hamparan laut yang membentang luas menjadikan sunset nampak begitu jelas didepan mata. Bagi kalian pecinta fotografi, jangan sia-siakan keberadaan deretan nyiur yang akan menjadi siluet indah kala senja. Jika ingin lebih beragam lagi, kalian bisa menuju perkampungan nelayan yang berada tidak jauh dari pantai. Dari perkampungan nelayan ini suasana senja juga tak kalah menariknya, apalagi tergolong lebih sepi dari kawasan pantai.
       
      3. Kemilau Sunset Dari Sungai Kapuas, Mentadbirkan Kalimantan Sebagai Pesona Pulau Seribu Sungai

      Tak lengkap memang jika membahas kalimantan jika tidak membahas sungainya. Pulau berjuluk ‘seribu sungai’ tersebut memang memiliki kedekatan pada sungai. Sungai memiliki pengaruh besar bagi kehidupan masyarakat Kalimantan, bahkan sungai jugalah yang membentuk pola kemasyarakatan disana.
      Banyak nya aliran sungai di Kalimantan sudah tentu menjadi potensi menarik pula bagi sektor kepariwisataan, seperti Sungai Kapuas yang berada di Kalimantan Barat. Sungai ini merupakan sungai terpanjang, tidak hanya di Kalimantan tetapi juga di Indonesia. Panjangnya mencapai lebih dari 1.100 km.
      Ada banyak pesona yang bisa dinikmati dari sungai Kapuas, termasuk ketika senja tiba. Jika kalian berada di Kota Pontianak sebagai salah satu wilayah yang dilalui Sungai Kapuas ini, maka sempatkan untuk menikmati keindahan Sungai Kapuas ketika sore hari. Kalian bisa mencoba naik perahu atau sekedar bersantai di tepian sungai. Memandangi sungai dengan beragam aktivitas didalamnya saat sunset tentu akan memberikan pengalaman yang berbeda. Apalagi jingganya langit yang memantul dari riak tenang arus sungai akan memberikan kemilaunya sendiri.
       
      4. Bukit Batas di Banjar Siap Menghadirkan Cantiknya Senja Tanpa Batas

      Kabupaten Banjar di Kalimantan Selatan ternyata memiliki pesona alam yang sangat istimewa. Di kabupaten yang beribukota di Martapura ini terdapat sebuah bukit yang dikenal dengan nama Bukit Batas. Lokasi persisnya ialah di Desa Tiwingan Baru, Kecamatan Aranio, atau lebih dikenal juga sebagai Wilayah Waduk Riam Kanan. Ya, lokasi bukit ini dikeliling oleh perairan berupa waduk yang berfungsi sebagai sumber air penggerak turbin PLTA.
      Keunikan dari Bukit Batas dan pemandangan waduk dibawahnya ialah adanya pulau-pulau kecil yang nampak bertebaran. Panorama ini membuat viewnya mirip dengan kepulauan Raja Ampat di Papua. Tak jarang, orang-orang yang kesana mebyebutnya sebagai miniatur Raja Ampat dari Kalimantan Selatan.
      Banyak wisatawan yang datang bahkan untuk camping, hal ini karena dari atas bukit tersebut, kalian bisa melihat sunrise dari sisi Timur. Dan ketika petang, Bukit Batas tak kehabisan pesonanya karena juga siap menyapa dengan cantiknya senja.
      Ketika senja, cahaya yang meredup seolah bersiap untuk berpaling ke balik perbukitan yang ada jauh didepan mata. Perbukitan juga nampak berlapis sehingga nampak sangat mempesona siapa saja yang melihatnya. Jingganya cahaya juga memantul dari perairan waduk yang tenang membuat nuansa semakin syahdu.
      Jika kalian tertarik untuk datang, perjalanan untuk menuju puncak Bukit Batas terbilang menantang. Perjalanan akan dilalui dengan 2 tipe yaitu darat dan perairan. Dari Bandara Syamsudin Noor, kalian bisa langsung menuju simpang 4 Banjarbaru dan menuju Sungai ulin lalu ke arah Desa Tiwingan Lama, Kecamatan Aranio. Barulah dari sana, tepatnya Pelabuhan Riam Kanan, perjalanan dilanjutkan dengan naik kapal  sekitar 30 menit menuju Pinus 2. Perjalanan belum berakhir justru dari sanalah pendakian dimulai. Pendakian sendiri tidak begitu lama yaitu sekitar 1,5 – 2 jam. Selama perjalanan, dijamin tidak akan merasa bosan karena akan ditemani pemandangan indah.
       
      5. Bukit Batu Daya di Ketapang, Sensasi Sunset yang Memperdaya Mata

      Jika kalian ingin melihat Bukit Batu Uluru atau Ayers Rock di Australia tapi belum memiliki kesempatan, maka kalian ada baiknya mengunjungi juga sebuah bukit batu yang tak kalah mempesona di Kalimantan Barat.  Tersebutlah Bukit Batu Daya, sebuah bukit batu dengan bentukan unik yang berada di Taman Nasional Gunung Palung, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
      Banyak sebutan untuk Bukit Batu Daya ini, beberapa menyebutnya Bukit Gantang dan beberapa lain menyebutnya Bukit Onta. Ya, kesemua sebutan tersebut menjadi bukti bahwa memang bukit ini berhasil memperdaya, sesuai namanya, Bukit Daya. Bukit ini memang akan terlihat berbeda-beda bentuknya jika dilihat dari sisi-sisi yang berbeda, seolah bukan satu bukit yang sama.
      Bukit ini memang sangat mempesona, bentukannya yang unik menjadikannya sangat bagus sebagai objek foto. Selain itu, bagi pecinta olahraga rock climbing, bukit ini sangat cocok dijadikan spot berlatih, hanya saja bentuknya yang sangat terjal membuatnya cukup berbahaya jika bukan atlit profesional.
      Namun begitu, bagi kalian yang hanya ingin menikmati keindahan Bukit Batu Daya ini, cukup memandanginya dari sisi-sisi yang diinginkan. Dan seperti yang sudah diungkap bahwa setiap sisi akan menghadirkan view yang berbeda. Jika ingin melihat nuansa yang lebih mempesona maka datanglah saat petang dari sisi timur atau memandang ke ufuk barat. Dari sana, panorama mentari dengan semburat cahaya jingganya akan membuat suasana Bukit Batu Daya semakin dramatis dan mempesona.
      Jika kalian tertarik untuk datang ke Bukit Batu Daya ini, kalian bisa langsung naik speedboat dari kota Pontianak menuju Teluk Melano, Kecamatan Simpang Hilir. Jadwal regulernya ialah jam 9 pagi dengan biaya Rp 110 ribu. Perjalanan sungai akan ditempuh selama 3 jam. Setelahnya perjalanan dilanjutkan menuju Desa Perawas dimana dari sanalah kenggunan bukit ini sudah dapat terlihat. Namun jika ingin mengambil spot lebih dekat lagi, kalian bisa menggunakan jasa ojek.
       
      6. Pantai Pasir Panjang Singkawang Berselimut Senja Terakhir yang Menyapa Kalimantan

      Kalimantan Barat menjadi provinsi terakhir yang menerima cahaya mentari tiap sore harinya. Provinsi yang beribukota di Pontianak ini juga memiliki sejuta kisah tentang senja, salah satunya yang dimiliki oleh Singkawang, kota yang berjuluk Kota Seribu Klenteng.
      Kota Singkawang berjarak sekitar 145 km sebelah utara dari Kota Pontianak. Kota ini berjuluk Seribu Klenteng karena memang di sana terdapat banyak klenteng yang tersebar diseluruh penjuru kota. Hal tersebut tentu tak terlepas dari masyarakatnya yang memang kebanyakan keturunan Tionghoa, sehingga dikenal juga sebagai pecinannya Kalimantan Barat.
      Singkawang juga terkenal sebagai kota wisata. Selain karena multikulturnya, berbagai pesona alam juga bisa dinikmati di sana, salah satu yang populer ialah Pantai Pasir Panjang.
      Pantai yang berada di Kecamatan Tujuh Belas atau sekitar 30 menit dari Pusat Kota Singkawang tersebut merupakan pantai berpasir dengan karakter ombak yang cukup tenang. Kawasan sekitarnya juga masih alami sehingga cukup menyegarkan pandangan.
      Menikmati panorama Pantai Pasir Panjang akan semakin komplit jika datang kala senja. Sunset yang disuguhkan oleh pantai ini terkenal sangat difavoritkan oleh pengunjung dan wisatawan. Birunya air laut seolah berubah menjadi berkilau dengan sentuhan warna jingga khas cahaya sore. Bersantai sembari menikmati sunset menjadi pilihan paling tepat karena akan membuat kalian merasa tenang.
    • By Titi Setianingsih
      Awalnya tertarik untuk hunting batu permata yang lagi booming itu, kemana lagi kalau bukan ke Martapura. Namun jalan2 akan menjadi hambar jika tidak sekaligus mengunjungi tempat2 yang apik dan unik di sana. Akhirnya, dengan berbekal Tanya kepada teman yang sudah pernah ke Banjarmasin plus browsing2 field report teman, akhirnya saya dapatkan itinerary selama 3 (tiga) hari di Banjarmasin.
       Hari Pertama, 25 September 2015
      Dikarenakan ada perbedaan waktu 1 jam antara Jakarta dan Banjarmasin, plus karena ada delay 1 (satu) jam akibat kabut asap yang masih tebal di pagi hari, maka jalan2nya baru dimulai sesudah makan siang.
      Dan memang pesawat kami tiba di Bandara Syamsoedin Noor tepat pukul 12.00, sehingga kami langsung menuju warung makan di depan hotel untuk santap siang. Begitu masuk hotel kami istirahat sebentar, kemudian mandi, maklum udara Banjarmasin sangat panas sehingga mandi adalah salah satu solusi cerdas untuk memunculkan kesegaran jiwa. Sesudah mandi, kami menunggu mobil jemputan yang sebentar lagi datang, yaaaa,,,sahabat kami yang siap membawa kami keliling2 kota Banjarmasin hingga malam hari nanti.   
      Tujuan pertama seperti yang sudah diimpikan sebelumnya, kami langsung menuju Martapura, sebagai pusatnya perhiasan, batu dan permata khas Kalimantan. Kurang lebih 30 menit kami sampai di Martapura, namun saying sekali, pusat pertokoan ini sudah tutup, mungkin karena hari Jum’at jadi tutup lebih cepat dari biasanya. Akhirnya kami hanya bisa foto2 saja di icon Martapura, yaitu prasasti Intan.

      Petulangan kami lanjutkan ke pendulangan intan di Kecamatan Cempaka Kabupaten Banjarbaru, kurang lebih 47 km dari kota Banjarmasin. Karena menurut teman saya, di kiri kanan jalan menuju tempat pendulangan intan juga banyak terdapat rumah2 yang menjual batu2an yang diperkirakan harganya lebih murah.

      Apa yang terjadi setelah kami sampai di lokasi pendulangan intan ? Sungguh diluar dugaan, karena alatnya masih sangat sederhana. Para pendulang menyebut alat tersebut dengan nama linggangan, bentuknya seperti caping terbalik dan terbuat dari kayu. Untuk mengambil air dan mencuci hasil temuan digunakan pompa air listrik.

      Tidak ada kata hebat yang keluar dari mulut saya kecuali takjub, ternyata intan berlian dan permata lainnya yang mahal harganya itu masih diproses secara tradisional begini ? Subhanallah,,,,,saya yakin, kekayaan di Bumi Kalimantan masih banyak yang tersembunyi di dasar bumi, dan itu akan terkuak jika sudah ada modernisasi alat pendulangan intan ini.
      Di depan pendulangan intan terdapat lapak2 penjual batu2an, begitu kami singgah kesini langsung diserbu para penjual batu, memang setelah kami mendekat, harganya luar biasa murah, dibandingkan dengan Jakarta. Ada bapak2 yang sempat menawarkan batu bongkahan dari jenis Green Borneo dengan harga Rp. 15.000,-, tanpa tawar menawar langsung saya bayar itu batu. Murah sekali untuk ukuran Jakarta ya,,,,hitung2 buat menolong si bapak juga,,,,yaaahhhh biasanya setiap penjual pakai bahasa itu dalam menawarkan dagangannya.

      Sesudah puas beli batu2 permata, kami lanjutkan perjalanan menuju Taman Siring di pusat kota Banjarmasin. Namun di tengah perjalanan kami sempatkan untuk makan “Bakso Batuah” terlebih dahulu, dengan cirri khas plus ceker ayam, menu yang tidak dijumpai di Jakarta. Ini merupakan bakso yang sangat terkenal di Martapura.

      Kurang lebih pukul 16,30 kami sampaia parkiran Taman Siring, di dekat Gardu Pandang.  Taman Siring sungai Martapura merupakan objek wisata baru yang dikembangkan oleh pemerintah daerah setempat. Siring Sungai Martapura terdiri dari 2 (dua) lokasi yang saling berseberangan yaitu siring Jl. Jenderal Sudirman yang dibangun pada tahun 2004 dan siring Jl. P. Tandean yang masih terus dibangun hingga sekarang, terlihat adanya patung Bekantan yang masih dalam taraf penyelesaian.

      Ikon lain dari Banjarmasin adalah Menara Pandang Sungai Martapura. Menara pandang ini terlihat jelas dari samping Sungai Martapura. Kita bisa masuk ke dalam menara dan menikmati pemandangan sungai serta Kota Banjarmasin. Bangunan Menara Pandang Sungai Martapura mempunyai tinggi 21 meter dan berlantai empat. Di sekitar menara banyak terdapat jajanan dan penjual mainan anak2, sehingga di sore hari begini Nampak banyak anak2 berlarian kesana kemari. Di ujung jembatan sana, banyak terdapat jukung/perahu yang bersandar, yang biasanya disewakan untuk wisata sungai. Jika malam hari, taman ini Nampak indah karena lampu2 sudah menyala.  

      Selepas shalat maghrib di Masjid Sabilal Muhtadin, masjid raya di Kota Banjarmasin, kami pulang menuju hotel, namun mata kami melihat ada pasar malam batu akik yang cukup menggoda, jadi kampun singgah terlebih dahulu.

      Lokasinya ada di sekitar Bandara Syamsudin Noor Banjarbari, di Jl Akhmad Yani. Yaaaa,,,kocek kami berhamburan lagi disini. Ternyata harganya lebih murah disbanding di Pendulangan Intan tadi, karena kita bisa dapat bonus batu lebih dari satu. OMG,,,,,!!

      Hari Kedua, 26 September 2015.
      Pagi2 selepas shalat Subuh, kami menuju Taman Siring untuk menyewa perahu klotok, menuju pasar apung Muara Kuin. Sewa perahu PP Rp. 300.000,-. Ini kali pertama saya naik perahu klotok, tidak ada rasa takut meski tidak bisa berenang, karena saya pikir karena yang dilalui sungai sehingga tidak ada ombak, tetapi hati2 sangat penting di manapun berada.
      Perahu melesat kencang mengarungi Sungai Martapura, atap perahu sangat pendek sehingga kami harus merangkat untuk menuju ke dalam. Di kiri kanan Sungai Nampak rumah2 panggung milik warga di perkampungan itu, sayangnya mereka buang sampah ke Sungai, sehingga air sungai Nampak kotor, sesekali berpapasan dengan perahu pembersih sampah, sesekali juga berpapasan dengan perahu kelotok lainnya, sehingga baju kami sempat basah kecipratan air sungai.
      Pasar Apung Muara Kuin terletak di anak sungai Barito, begitu perahu kami mendekat, para pedagang langsung mendekati perahu kami, menawarkan dagangannya, ada buah2an, sayur2an, makanan kecil juga ada soto, sop dan sate Banjar, jadi yang belum sarapan bisa sarapan di atas perahu. Jika ingin membeli kue2, maka kita bisa ambil sendiri kuenya dengan capit yang terbuat dari kayu dan diujungnya terdapat besi runcing untuk menusuk makanannya. Jika kurang pandai, maka makanan akan jatuh ke sungai, dan kita tetap membayar makanan itu. Disini sensasinya, juga ketika kita sarapan, maka sesekali perahu bergoyang-goyang jika ada perahu lain yang lewat.

      Kami tidak banyak berbelanja di pasar apung ini, karena harganya relative mahal, jeruk yang hanya satu bakul kecil harganya Rp.50.000,-. Pisang 1 sisir Rp. 15.000,-. Namun pasar apung ini harus kita lestarikan, mengingat para pedagangnya kok katanya tinggal sedikit ?
      Selesai sarapan dan belanja buah2an, kami lanjutkan perjalanan ke Pulau Kembang atau Pulau Monyet, karena pulau ini dihuni oleh monyet yang sangat banyak. Kabarnya dahulu pulau ini terbentuk dari kapal Inggris yang terdapar di sungai Barito, lama2 terbentuk pulau yang ditumbuhi mangrove, jadi seperti hutan mangrove. Kami tadi sengaja beli pisang untuk makan para monyet yang ada di pulau ini. Tiket masuk ke Pulau Kembang Rp. 7.500,-, jika mau keliling pulau kita bisa menyewa guide (biasanya ibu2) dan kita kasih tips suka rela.
      Monyet disini tergolong ramah, dan bersahabat. Dengan senangnya mereka bermain di pundak kami, mungkin karena mereka tahu kalau kami bawa pisang dan kacang tanah juga.
      Luas pulau kembang hamper 6ha, tak cukup setengah hari jika kita kepingin mengitarinya hingga ujung, kamipun balik lagi ke perahu untuk melanjutkan perjalanan ke tempat lain.

      Di tengah perjalanan, kami berhenti di masjid tertua di Banjarmasin, yaitu masjid Sultan Suriansyah. Bangunan masjidnya persis seperti Masjid Demak, dengan bahan dasarnya kayu ulin berukir, saat ini masjid ini jadi Nampak unik, begitu juga arsitektur dalamnya, khas ukiran2 Kalimantan. Kami sempatkan untuk shalat dhuha 2 raka’at di masjid ini.

      Selesai shalat kami lanjutkan perjalanan menuju Pulau Pinus, mengarah ke Martapura. Pulau ini terletak di Kecamatan Aranio Kabupaten Banjarbaru, kurang lebih 2 jam dari kota Banjarmasin. Perjalanan 2 jam bisa bikin ngantuk loh, kami sempatkan untuk minum2 kopi dulu sambil nyari masjid untuk shalat dzuhur dan ashar sekalian, karena diperkirakan di waktu ashar nanti masih di atas perahu.
      Dermaga untuk menuju Pulau Pinus ada di Danau Riam Kanan, ternyata ini danau buatan manusia. Sewa perahu menuju Pulau Pinus Rp. 300.000,- jika lanjut ke Pulau Sirang menjadi Rp 350.000,-. Kami pilih sampai ke Pulau Sirang saja, kapan lagi kalau bukan sekarang to ? Biaya ini kalau kita share cist kan juga akan menjadi ringan.

      Subhanallah,,,,pemandangan sekitar danau indah sekali, hutan2 hijau Nampak di kejauhan, rumah2 nelayan dan perahu kelotok berseliweran membawa para wisatawan dan juga warga seberang pulau. Tidak menyesal hingga jauh kesini, karena alam menyuguhkan pemandangan yang luar biasa indahnya. Barangkali ada 1 jam kami berada di atas danau, veru very amazing,,,,,dan ketika sudah Nampak pohon2 pinus maka sudah hampir mendaratlah kita.


      Yaaaaa,,,,,,karena banyak pohon pinus inilah makanya pulau ini dinamai Pulau Pinus. Pulaunya hanya kecil saja, di sana sini masih Nampak air danaunya, hingga ke ujung kami dapati jembatan kayu yang menghubungkan daratan di seberangnya. Ketika kami tengah berada di atas jembatan, Nampak rombongan anak muda yang habis ngecamp di seberang. Rupanya yang di seberang sana adalah Bukit Batas, wisata yang mirip Raja 4, sehingga dijuluki Raja 4 nya Banjarmasin. Sayangnya baru diketahui saat itu, sehingga kami tidak ada persiapan untuk menuju kesana.

      Dan petualangan dilanjutkan menuju Pulau Sirang yang kurang lebih 30 menit lagi dari Pulau Pinus. Pulaunya Nampak kecil dari kejauhan, dengan cirri khas gundukan tanah yang berumput hijau dan hanya ditumbuhi beberapa pohon saja, Nampak indah seperti bukit Teletubbies, namun saying kami tidak bisa turun ke pulau itu, dikarenakan dermaganya belum dibuat, kecuali kalau siap basah2an menuju pulau, karena saya lihat ada wisatawan yang sedang menyeberangi pulau dengan air danau setinggi pusat orang dewasa. Mungkin next trip bisa kesini lagi dengan persiapan yang lebih matang.

      Kamipun berbalik arah untuk pulang menuju dermaga Danau Riam Kanan, dan mentari sudah mulai condong ke barat, jika bersabar maka bisa menikmati sunset dari atas perahu kelotok.

      Capai tapi nikmat petualangan hari kedua kami, meski hari belum malam, kami putuskan untuk kembali ke hotel, sebelumnya singgah makan malam di bakmi Jawa. Yaaaaa,,,di-mana2 ada orang Jawa ya ????
      Hari Ketiga, 27 September 2015.
      Hari ini sebenarnya jadwal kami untuk kembali ke Jakarta dengan flight pukul 15.30 WITA, sebelum ke bandara kami sempatkan untuk hunting oleh2 terlebih dahulu. Sekaligus wisata kuliner yang rasanya belum ada puas2nya. Oh yaaa, setiap Minggu pagi, di Taman Siring dibuka pasar Apung special yang diadakan oleh Pemda setempat dengan mendatangkan para pedagang dari Pasar Apung Lok Baintan dan Muara Kuin, juga disertai hiburan band maupun music tradisional, kami tidak mau melewatkan hiburan gratis ini.

      Pagi2 sembari sarapan Soto dan Sate Banjar di pinggir Sungai Martapura, kami menikmati wisata kuliner yang sangat beraneka ragam. Kue2 basah dan jajanan pasar lainnya kami cicipi, walau tidak tahu namanya tapi rasanya enak di lidah kami.

      Kemudian kalau kita jalan kaki sedikit menjauh dari Sungai Martapura kea rah jembatan, di sebelah kiri jalan akan kita dapati Klenteng Suci Nurani, tempat ibadah orang Tionghoa. Klenteng ini sudah berusia 100 tahun lebih, namun masih terawat rapih dan sudah dijadikan sebagai cagar budaya Pemda Banjarmasin.
      Jika hari Minggu begini, jalanan sekitar Taman Siring sangat padat, sehingga akan efektif di tembus dengan jalan kaki.

      Apa kira2 oleh2 khas Banjarmasin selain batu permata ? Tentulah Batik Sasirangan pilihan kami. Kampung Batik Sasirangan, yaitu sebuah tempat atau kampung dimana pusat pengrajin pembuatan batik khas Banjarmasin / kain sasirangan berada. Kampung Batik Sasirangan terletak di Jalan Seberang Masjid Kelurahan Kampung Melayu Kota Banjarmasin. Tepatnya kampung tersebut terletak dipingiran sungai Martapura. Karena menurut sejarah, Kota Banjarmasin dulu masyarakatnya hidup banyak di pinggiran sungai. Sehingga wajar saja Kampung Batik Sasirangan berada di daerah pinggiran sungai sebagai pertanda bahwa pengrajin Batik Sasirangan tersebut adalah masyarakat asli Suku Banjar yang sudah turun temurun selama ratusan tahun sebagai pengrajin Batik Sasirangan. Sama halnya dengan Batik Jawa, Batik Sasirangan ini juga adalah murni hasil kerajinan masyarakat Banjar dengan motif dan corak yang khas. Harganya ada yang Rp. 80.000,- Rp. 125.000,- dan makin mahal lagi jika bahannya terbuat dari sutera.

      Masih ada yang ketinggalan, oleh2 khas Kalimantan yaitu manik2 yang dibuat untuk berbagai macam kerajinan seperti tas, dompet, tempat pencil dll. Harganya juga luar biasa murah / terjangkau, misalnya harga dompet kecil saja ada yang Rp. 8.000,- dan Rp. 12.000,- kalau yang agak besar Rp. 30.000,- (kadang berpikir, berada upah yang diberikan kepada para pengrajin jika harga jualnya begini murah ?).

      Di sebelah toko souvenir ini ada warung Soto Bang Amat, kabarnya malah ini merupakan warung yang sangat terkenal, rugi kalau kami tidak singgah kesini. Menunya seputar soto, sop, dan soto, harganya juga terjangkau. Yang lain daripada lainnya, di warung Bang Amat ini ada pertunjukan music tradisionalnya, juga view warungnya menghadap Sungai Martapura, jadi sambil makan kita bisa menikmati pemandangan alam yang indah, apalagi jika ada perahu yang melintas, sungguh eksotik.

      Jam masih menunjukkan pukul 10.00 WITA, ingat kalau di Banjarmasin ada Pahlawan Pangeran Antasari, kamipun menuju makamnya. Kenapa sampai Pangeran Antasari di beri gelar Pahlawan nasional, tentu karena jasanya yang luar biasa bagi Bangsa Indonesia, terkait dengan kegigihannya mempertahankan wilayah NKRI dari tangan penjajah.

      Masih ada waktu lagi sebelum menuju bandara ? Mari kita shalat Dzuhur di Masjid Agung Al Karomah, sambil hunting permata lagi di Martapura, karena lokasi masjid ada di belakang komplek pasar Martapura. Masjid ini mempunyai keunikan tersendiri, arsitektur dalamnya masih asli, terdapat tiang soko gurunya dari kayu ulin berukir. Awalnya masjid ini bernama Masjid Jami Martapura, persis seperti Masjid Agung Demak buatan Sunan Kalijaga, karena memang dulunya utusan Kerajaan Banjar dikirim ke Demak untuk meminta gambar dan skala dari masjid Demak itu.

      Saat ini bangunannya sudah megah, namun didalam masjid masih diabadikan tiang2 kayu ulinnya serta tempat shalat imam masjid pertama juga diabadikan, dengan ditandai oleh adanya lantai kaca di sebelah mimbar / disebelah tiang kayu ulin tersebut. Kedua tempat ini dikeramatkan oleh jamaah, sering ada kiriman bunga dari jamaah sehingga ruangan keramat ini menjadi sangat harum.

      Selesai shalat kami singgah lagi ke pusat permata Martapura, karena memang mobil kami diparkir disana, dan teman2 yang tidak shalat sudah sedari tadi hunting lagi batu2 permata yang belum mereka dapatkan.

      Hhhmmmmmm,,,,,bagaikan gasing kami ber-putar2 sepagi ini di sekitar Banjarmasin dan Martapura, ingat jam penerbangannya kawan, jangan sampai terlambat. Tapi memang karena di sana tidak semacet Jakarta, sehingga kami tidak khawatir ketinggalan pesawat, waktu yang masih tersisa kami gunakan untuk wisata kuliner selanjutknya, yaitu ikan bakar H Fauzan. Ada yang special disini, ikan baung bakar, lobster goring, dan sayur mandai yang terbuat dari kulit cempedak. Baru dengar kan ? Tapi rasanya persis daging suwir, enak, apalagi sambal dadaknya, bisa dibuat sesuai selera pembeli. Te o pe be get e dah pokoknyaaah,,,,!!

      Gaeessss,,,,sudah kenyang kan ????? Ingat pulang kawan,,,,,,akhirnya,,,,ke Jakarta aku kan kembali,,,,,,!! Di Banjarmasin 3D2N menuai kenangan yang indah, bikin kangen suasananya, bikin kangen makanannya dll nya semua membuat jatuh cinta.
      Terima kasih sahabat2 saya baik,,,,yang sudah mengantar kami menikmati Indonesia,,,,kalian yang belum ke Banjarmasin buruan ya,,,,!!! Salam jalan2,,,,,,,!!!!
       
       
       
       
    • By Usman KualaSimpang
      Danau Sentarum. Pesona danau unik dan langka di Jantung Kalimantan


      Danau Sentarum adalah sebuah danau yang berada di kawasan ekosistem lahan basah, hutan rawa dengan kandungan air tawar, dengan curah hujan musiman yang cukup tinggi. Dengan perbukitan dan dataran tinggi di sekelilingnya, Danau Sentarum terlihat seperti sebuah mangkuk yang berisi air dengan tepian yang tidak rata.
      Dengan waktu tempuh sekitar 5 hari plus eksplorasi perjalanan darat yang tentunya dengan kondisi jalan cukup hancur lebur menuju jantung kalimantan, kami berhasil mencapai titik aman di Kota Putussibau, yang disebut sebagai Bhumi Unchak Kapuas.

      Danau Sentarum adalah sisi paling hulu dari Sungai Kapuas, salah satu sungai besar di Kalimantan. Dalam bahasa setempat, masyarakat menyebutnya sebagai Unchak Kapuas, atau sisi paling ujung dari Sungai Kapuas.
      Dengan luas lebih kurang 132.000 hektar, Danau Sentarum memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh Danau-danau besar lain di dunia. Danau ini adalah satu-satunya yang ketika musim penghujan, air melimpah dan titik terdalam dasar danau dari permukaan air bisa mencapai 8 – 10 meter. Ketika musim kemarau, air di danau sentarum perlahan mengalir menuju sungai kapuas dan hingga akhirnya mengering, menyisakan hamparan tanah luas yang pada banyak lokasi dapat dilintasi kendaraan hingga ke tengah Danau.
      Hal itulah yang kami lakukan ketika kami melakukan ekspedisi lintas Borneo. kami masuk hingga ke titik terdalam di Danau Sentarum yang mengering. Sempat berkendara sepeda motor hingga ke tengah danau, dan bertemu dengan penduduk setempat yang menjaga keramba mereka, yang tadinya mengapung di permukaan air, pada musim kemarau semua keramba tergeletak diatas tanah.


      Banyak ikan air tawar yang menggelepar kekurangan air. Penduduk setempat mengumpulkan ikan-ikan tersebut dan membawanya pulang. Sebagian mereka jual kepada yang membutuhkan, sisanya mereka konsumsi sendiri. Kami juga ikut memungut ikan-ikan tersebut. Salah satu ikan endemik asli yang sering dikonsumsi penduduk setempat adalah ikan Pathik. Ikan Pathik adalah sejenis ikan Baung dalam bahasa Indonesia. Ada juga ikan buntal air tawar khas danau Sentarum. Jika di Jepang membutuhkan keahlian khusus untuk mengolahnya, tidak dengan disini. Ikan Buntal danau sentarum sama sekali tidak beracun, Bahkan rasanya sangat lezat. kapan-kapan, datanglah ke Danau Sentarum untuk mencobanya, Selama nge-Camp di danau sentarum yang mengering, Ikan asli danau sentarum menjadi lauk kami setiap hari. Sedapp …..


      Oya, satu lagi. Danau sentarum terkenal akan penghasil Ikan Arwana kelas wahid, Banyak pendatang yang datang kesini hanya untuk mencari bibit ikan Arwana yang sangat terkenal itu. Untungnya kami bukan penggemar ikan arwana. Jadinya tidak merasa perlu bersusah payah membawa anak ikan arwana di bagasi motor … hahahaa..
      Salam Petualang …
       
    • By kyosash
      Hello Jalan2ners  
      Kali ini saya mau mencoba membuat Index dari beberapa thread2 yang ada diforum ini mengenai Kalimantan.
      semoga dapat mempermudah dalam pencarian informasi mengenai Kalimantan.
       
      Contoh Field report (catatan perjalanan yang dilakukan oleh Jalan2ners)
       
      Pulau Beras Basah (Kaltim)
      Wisata Pulau Derawan Kal-Tim
      Merah Putih di Pedalaman Borneo
      Pengalaman Jalan2 Waktu Sma Di Samarinda
      bukit bangkirai - nyebrang jembatan 40 meter diatas tanah
      Field Report Jalan - Jalan Ga Jelas ke Balikpapan
      Sharing kesan2 pertama kali ke Balikpapan.
      Martapura Dan Cempaka
      Field Report - Wisata Kerbau Rawa Di Danau Panggang
      Cap Go Meh Singkawang 2014
      Pesona Bumi Unchak Kapuas
      Perjalanan Ke Perbatasan Indonesia - Malaysia 1
      Pulau Simping, Smallest Island In The World!
      MIMILAND - BATU PAYUNG VILLAGE - SINGKAWANG - BENGKAYANG
      LEMUKUTAN
      SInka Island Park - Singkawang
      Pontianak Airshow 2014
      Wonderful Sunset|Pasir Panjang Beach, Singkawang Borneo
      Sekilas Cerita Dari Pontianak
      Foto foto kota Pontianak
      [Fr] 6 Jam Keliling Tarakan, Bisa!!!
      Ketemuan Sama Si Monyet Dufan A.k.a Bekantan
      Jembatan Barito
      Penangkaran Buaya Balikpapan
      Makan Malam Di Pantai Melawai
      Review Cafe: Chocotier Ballikpapan Center
       
       
      Hal-hal yang ingin diketahui mengenai Kalimantan, apa saja sih yang menarik?
       
      Tempat Wisata di Kalimantan
      Berwisata ke Hutan Lindung Sungai Wain di Kalimantan
      Ber-Agro Wisata di Kal-Tim? Mana Saja?
      Eksotisme Pulau Kakaban di Kepulauan Derawan
      Derawan Tak Kalah dengan Raja Ampat
      Pengalaman Jalan2 Waktu Sma Di Samarinda
      Ngulik Bontang, Kota Jarang Terekspose
      Pesona Kutai Timur ( Sangatta )
      keindahan Pulau BERAS BASAH ??
      Pulau Sewangi, Pulau Tempat Para Pembuat Jukung
      Pantai Angsana
      Museum Dara Juanti
      Istana Muliakarta, Peninggalan Sejarah Berharga di Kalimantan Barat
      Pulau Simping, Pulau Paling Kecil di Dunia dari Indonesia
      PULAU-PANTAI SELIMPAI, ANTARA PENYU DAN PESONA PINUS
      BUKIT KELAM, AYERS ROCK-NYA INDONESIA DI KALIMANTAN BARAT
      Pantai Pasir Panjang
      [Review] Tugu Khatulistiwa Pontianak (BWK)
      Pantai Pasir Panjang Singkawang
      Wisata Air Terjun Gunung Rian
       
      Lain2-nya
      Festival Mahakam Samarinda Event Tahunan
      Wisata Eksotis ke Kutai Timur
      Berbagai Wisata Bahari Di Sekitar Derawan (Berau/tanjung Redeb)
      Wiskul di Samarinda
      Jalan jalan ke Samarinda, Kota Tepian
      BERWISATA SAMBIL MENGENAL SUKU DAYAK DI SAMARINDA
      Tahun Baru Cina di Balikpapan
      Tempat Wisata yang Terluput di Balikpapan
      Antara Balikpapan - Samarinda
      Melongok wisata agro di Kalimantan Selatan
      wisata pertambangan emas
      Wisata Alam Baning, Sintang, Kalimantan Barat
      Sinka Island Park Singkawang
      Megahnya Tugu Khatulistiwa
      Pesona Pulau Randayan
      asoy, ada taman bukit bunga bougenvile di kalimantan
      Menjelajah Kota Pontianak
      Nyaru Menteng
       
      NOTE: untuk informasi tempat/obyek wisata lain-nya bisa lihat disini
      Balikpapan
      Barito Kuala
      Berau
      Bontang
      Kutai Kartanegara
      Martapura
      Palangkaraya
      Pontianak
      Samarinda
      Singkawang
      Tanahlaut
      Tarakan
       
       
      Tips dan Hal - hal yang mungkin perlu diketahui mengenai Kalimantan
       
      ada yang sudah pernah ke derawan
      Tips Perjalanan Kalimantan Timur, inilah kota yang bisa anda singgahi.
      Kenalan Sama Taman Nasionl Tanjung Puting di Kalimantan Tengah
      Tips wisata di Pulau derawan
      Tanya: Wisata Kalimantan Timur
      Mancing Mania di Balikpapan
      Tips Wisata Kuliner di Balikpapan
      Tips Menikmati Wisata Belanja di Pasar Inpres Kebun Sayur
      Transportasi Praktis mengeksplorasi kota Balikpapan
      Yang Baru, Yang Seru di Balikpapan
      Recommended Spots in Balikpapan
      Mencari Pesawat dan Penginapan Murah di Balikpapan
      Balikpapan - Enakan kemana? naik apa?
      [share+Ask+Answer] Transportasi di Balikpapan
      TIPS BACKPAKERAN KE BANJARMASIN
      Eksplorasi Lengkap Kota Banjarmasin
      Sedikit Tentang Kalbar
      Panduan Wisata Kalimantan Utara
      All About Wisata ke Kalimantan Tengah
       
       
      Semoga informasi2 diatas dapat membantu anda dalam mencari informasi.
       
      Mohon Maaf Sebelumnya Jikalau Ada Kesalahan/Kekurangan, mohon panduan-nya   Kalau ada yang mau menambahkan pun di-persilahkan  
    • By MotorMasse
      Nafas kota Martapura memang mengalir dari hasil bumi berupa intan dan permata. Didulang secara tradisional, dijual melalui pedagang eceran dan toko-toko …

      Perdagangan intan dan permatanya terpusat di Pasar Intan Cahaya Bumi Selamat. Sentra oleh-oleh khas Martapura ini berjarak sekitar 40 km dari Kota Banjarmasin. Jika datang dari Bandara Syamsudin Noor jaraknya akan lebih dekat melalui rute Banjarbaru - Martapura. Rute dengan jalanan mulus dan ramai memperlihatkan kesibukan kota kecil itu yang ternyata menyimpan ‘harta’ melimpah. Pasar Intan Cahaya Bumi Selamat (CBS) bisa membuat  surprise pengunjung yang sebelumnya tidak pernah mampir ke tempat ini. Beberapa pedagang intan asongan akan banyak dijumpai, mereka tidak tampak sedang membawa barang berharga. Namun siapa sangka di dalam kantong bajunya terdapat batu intan dan permata yang bernilai besar.

      TOKO INTAN DAN PERMATA “KALIMANTANâ€
      Parkir kendaraan di bawah terik matahari Kota Martapura tak menyurutkan semangat kami untuk menyisir pertokoan yang memiliki nuansa warnawarni itu. Ketika membawa oleh-oleh menjadi suatu kewajiban, terkadang kita akan direpotkan dengan toko yang dituju maupun harga eceran dari produk yang ingin dibeli. Untuk mengantisipasinya saya memilih satu tempat rujukan yaitu toko oleh-oleh “KALIMANTANâ€. Toko ini cukup mudah dicari karena didominasi oleh warna kuning. Nuansa kental warna kuning membedakan secara kontras dengan toko-toko lain di sebelahnya. Sudut-sudut tokonya  tampak padat. Pelayan-pelayan toko berbaju kuning tampak ramah melayani setiap pertanyaan pembeli. Jadi atau tidaknya membawa pulang belanjaan menjadi urusan belakangan bagi para pelayan toko tersebut.

      Oleh-oleh permata di sini memiliki banyak variasi harga mulai dari Rp. 25,000 yaitu berupa perhiasan batu intan berbentuk kalung dan gelang hingga untaian  berlian seharga jutaan rupiah. Dengan gaya perjalanan ‘low budget’ dan keinginan memuaskan permintaan oleh-oleh, praktis saya harus memilih ragam barang dengan harga miring. Cukup bingung juga memilih oleh-oleh yang tersedia di toko tersebut mulai dari gantungan kunci, tas, dompet, penutup pena, batu cincin hingga untaian gelang dan kalung. Setelah sekian lama melihat-melihat, akhirnya pilihan jatuh pada untaian gelang dan kalung serta paket gantungan kunci, murah meriah dan mudah dibawa. Pilihan lainnya adalah kain sarung dengan lipatan kecil yang sangat berguna sebagai ‘teman’ traveling. Soal harga tidak perlu khawatir, belanja di toko ini dijamin lebih murah. Di samping itu untuk potongan pembelian dengan jumlah banyak bias langsung ‘merayu’ kasir saat membayar.

      PENDULANGAN INTAN CEMPAKA
      Jika di atas adalah sentra penjualannya, yang satu ini adalah sumber dari segala sumber kekuatan pariwisata Kota Martapura. Semua berawal di pendulangan intan Cempaka, lokasinya berada di tenggara kota Banjarbaru yaitu Jl. HM Cokrokusumo, Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru. Untuk mencapai lokasi ini kita bisa menggunakan moda transportasi baik roda dua maupun empat. Kondisi daerahnya sendiri harus keluar dari jalur utama dan kemudian sedikit melintasi badan jalan non-aspal. Tahun 60-an merupakan awal kemahsyuran kota Martapura. Intan seberat kurang lebih 165 karat ditemukan di Cempaka yang kemudian menjadi konsumsi berita di mana-mana. Tak ayal secara massal intan yang kemudian dikenal sebagai intan Trisakti ini menjadi incaran banyak pihak. Selanjutnya bias ditebak, pendulangan intan dibangun di segala penjuru dengan menggunakan metode tradisional. Tahap pertama menembak tanah galian dengan air.

      Selanjutnya material yang tertembak seperti pasir, tanah campur bebatuan masuk ke mesin penyedot bertenaga pompa. Menara kayu tradisional, dikenal dengan nama Sambuk, berfungsi sebagai penyaring. Hasilnya akan jatuh ke sebuah kolam buatan. Terakhir adalah bagian yang paling menuntut kesabaran yaitu mendulang intan secara manual. Pendulang turun ke kolam untuk kemudian menyaring menggunakan alat yang disebut Linggangan. Di sinilah kesabaran mulai diuji karena si pendulang tidak akan tahu pasti kapan ‘harta’ intan itu muncul. Gayung demi gayung Linggangan menyaring intan dari pasir dan air yang melekat.
       


      Lamanya waktu untuk bisa mendapatkan intan tidak bisa diukur. Tidak heran hasil apapun yang mereka dapat harus bisa disyukuri agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebut saja pak Fuad, kerja kerasnya kadang tak berbuah dari pagi hingga sore. Tubuhnya tampak makin legam akibat sinar matahari yang langsung menerpa punggungnya. Atap kain yang biasa terpasang di atas kolam pendulangan sudah tampak lusuh dan banyak lubang. Sinar matahari tanpa ampun kadang langsung ‘menggigit’ tubuhnya yang jauh dari kesan kekar. Lipatan kertas rokok berisi butiran intan kadang menjadi sulit terjual karena harga dari calo memiliki nilai keuntungan yang tidak banyak. Padahal jika dicermati harga intan atau apapun yang dihasilkan dari desa Cempaka ini akan berlipat-lipat ketika masuk ke pasar kota. Hilang sudah ‘harga’ sebuah usaha pendulang yang selalu berjibaku dengan terik panas matahari. Itu belum dihitung resiko jika terjadi longsor dari galian yang sudah ada.

      Selain pendulang, penjual asongan intan dan permata ternyata juga banyak bermunculan di sekitar area tambang. Hasil pendulangan yang sudah dibuat cantik melalui proses pemolesan dijual dengan harga yang lebih murah dari harga pasar di kota besar. Perbedaan itulah yang dicari wisatawan untuk bias menangguk untung dari pembelian intan dan permata dengan harga miring.
      Buat traveler yang hendak masuk area pertambangan kiranya memperhitungkan ‘dress code’-nya. Baju yang tidak panas, topi hingga sun block plus alas kaki yang lebih bersahabat. Hal ini tentunya dapat menambah kenyamanan saat menelusuri tambang demi tambang. Tidak mengganggu kerja pendulang sangat diharapkan  meski di beberapa kesempatan wisatawan bisa merasakan langsung turun ke kolam untuk mendulang ‘harta karun’. Wisata ini bisa dijadikan sebagai kategori wisata edukasi karena banyak hal yang bisa kita ketahui dari pendulangan tradisional ini.

      WISATA BANJARBARU
      Lalu di mana alternatif lokasi wisata di sekitaran Banjarbaru jika sudah selesai mengunjungi kota intan Martapura dan pendulangannya di Cempaka? Banyak pilihan jenis wisata termasuk wisata alam, budaya hingga sejarah. Bicara sejarah, wisatawan bisa mendatangi museum Lambung Mangkurat yang banyak menjelaskan sejarah Banjar. Kekuatan museum ini terletak pada koleksi barang-barang peninggalan yang terpelihara dengan sangat baik, termasuk beberapa diorama yang menggambarkan Banjar pada masa lampau. Tak hanya itu, Museum Lambung Mangkurat juga menyajikan silsilah kesultanan Banjar hingga pakaian dan adat istiadat yang penjelasannya dilakukan dengan baik oleh kurator museum.

      Untuk wisata alam, Banjarbaru dan Martapura yang saling bertetangga memiliki destinasi wisata danau dan PLTA Riam Kanan yang apik. Teriknya matahari tentunya tak bisa dihindari saat ‘plesiran’ di Kota Martapura, Banjarbaru dan sekitarnya. Kemudahan transportasi memang masih menjadi hambatan untuk bisa mencapai banyak destinasi wisata di Kalimantan Selatan. Pekerjaan rumah bagi pemerintah setempat untuk memaksimalkan ‘harta’ Kalimantan Selatan agar semua kalangan masyarakat bisa menikmatinya.
       
      NB :
      Terimakasih kepada Tuhan YME yang sudah memberikan saya kesempatan ke tempat-tempat ini, 10,000 kilometer perjalanan bermotor di bumi Borneo.
      Artikel sudah diterbitkan di majalah TravelXpose dan di republish di tautan web TravelXpose ini.