Sign in to follow this  
ikankering

Gua Pak Ou (Buddha Cave), Laos

3 posts in this topic

Rekan-rekan sekalian... ada yang sudah pernah jalan-jalan ke Laos? Terutama untuk rekan-rekan yang beragama Buddha, tempat ini pasti keliatan sangat menarik.. Gua Pak Ou di Laos. Di dalam gua ini terdapat banyakkkk sekali patung Buddha, sampai-sampai disebut Buddha cave. Bahkan katanya sampai ada 5000 buah patung Buddha di dalam gua ini.

Selain tempat ini tentunya menarik untuk dikunjungi, tempat ini juga digunakan oleh masyarakat setempat untuk beribadah lho. Jadi pastinya menarik untuk dikunjungi. Supaya lebih jelasnya, silakan liat gambar-gambar di bawah ini:

image018.jpg

800px-Pak_ou_caves.JPG

Share this post


Link to post
Share on other sites

banyak banget ya patung buddhanya. saya tertarik nih ke lokasi seperti ini. laos juga termasuk murah ya negaranya.

iya emang banyak banget, makanya tempat ini jadi unik dan banyak pengunjungnya. Kalau jalan-jalan ke Laos emang harganya rasanya cukup murah sich, makanya enak kalau berkunjung mau irit. Tapi jangan terlalu mengharap tempatnya kaya kota-kota modern kaya Singapore atau Jakarta, karena di negara ini masih belum terlalu berkembang.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By freaksthriller
      Sorry Urgent ini lg bikin itinerary buat keliling asia tenggara utk tgl 9 feb - 11 maret (30harian), sisa waktu kurang dari sebulan lg euy...
      Nyari info 6 Negara & 20 kota ternyata bikin puyeng dahh klo dbikin sendirian, hehe...mohon bantuannya ya..
      Tiket pesawat sya baru dapet
      Bandung - Singapore (400rb)
      Kuala Lumpur - Ho Chi Minh (220rb)
      belum ada tiket baliknya (KL - Bandung) soal ampe skrg blom ada yg murah hadeuh... kali aja dsni ada referensi tiket murah utk bln maret, hehehehe
      Vietnam :
      1. Transportasi darat Mui Ne / Da Lat ke Phnom Penh emang beneran FIX ga ada ya? harus dari ho chi minh ?
      2. klo Bus dari Mui Ne - Hoi An - Da Nang - Hanoi cuman bisa pake travel agent aja ya? misal (TheSinhTourist) (biar murah ga bisa ngeteng bus umum antar kota ya?
      *utk kereta di skip, soalnya mahal
      sya cek tiket bus dari web TheSinhTourist https://www.thesinhtourist.vn/tourlist/bt
      Sai Gon(Ho Chi Minh City) - Mui Ne     5-6jaman    119.000 VND
      Mui Ne - Nha Trang       8jaman          119.000 VND
      Nha Trang - Hoi An             11jaman    219.000 VND
      Hoi An        bus local       2jaman       50.000 VND
      Da Nang - Hue       2jaman              169.000 VND
      Hue - Ha Noi      8jaman               249.000 VND
          -+TOTAL  Rp. 545.981.25 (kali aja ada yg tau caranya lebih murah dari ini) hhe
      3. Untuk Paket tour Ha Long Bay paling murah skrg 28USD benerkah? klo ngeteng ada yg tau ga caranya?
      4. Ada yg tau dari "Hanoi - Vinh" pake kereta dilanjut dari "Vinh - Vientiane" pake bus?
      5. utk transportasi dari Vientiane - Nongkhai pake bus lokal apa ya? sama perkiraan harganya
      6. ada yg pernah pake Mini Van Siem Reap - Bangkok yg 17 USD? ato bus direct yg 10 USD ?
      Phuket - Phi Phi Island - Krabi
      7. berapa ya Tiket Ferry "Phuket - Phi phi island" dan "Phi Phi island - krabi" dari info yg simpang siur sih -=300-450THB
      7. utk paket Tour Day hopping Phi Phi island pake speedboat skrg harga rata2nya 1100 - 1450 THB ? itu klo dari patong beach - dermaga Rassada Pier (Phuket) – (Tonsai Pier) Phi Phi Island - tour phi phi Leh island - kembali lg ke patong beach, nah klo kita mau nginep di phi phi don island gmn ya?
      8. Dari Krabi ke Penang ato langsung kuala lumpur pake transportasi apa aja ya?
      sorry ni ternyata agak Over budget pdhal baru 70-80% itinerary, jdinya agak diminimalisir hehe
    • By j.Leo
      Halo, saya Leo.
      Saya akan melakukan trip Indochina 16 - 30 Dec, dengan itinerary kasar sebagai berikut:
      17 Dec Vientiane (Laos)
      18 Dec: Luang Prabang (Laos)
      21 Dec: Bangkok (Thailand)
      24 Dec: Siem Reap (Cambodia)
      26 Dec: Mui Ne (Vietnam)
      28 Dec: Ho Chi Minh (Vietnam)
      30 Dec: Flight HCMC - Jkt
      Seandainya ada teman-teman yang berminat untuk ikutan sehingga bisa sharing cost tempat tinggal dan transport darat, monggo contact saya melalui BBM pin 57455CB5 ya =)
      Airasia lagi ada promo tiket nih, saya sertakan linknya utk mempersuasi mempermudah pengecekan harga (bukan promosi ya min) 
       
    • By nashir
      Hay hay ada yang tau info dari Hanoi (Vietnam) ke Vientiane (Laos) ?
      Terus Bus dari Vientiane (Laos) ke Siem Reap (Cambodia) ?
      Bus apa, Naiknya darimana, Harganya berapa?
    • By nashir
      [info & ASK]
      AirAsia Big lagi ada promo nih untuk pembelian 13-17 Mei 2015
      Periode Perjalanan 15 Mei - 30 Jun 2015

      http://www.airasiabig.com/finalcall/fc-idid/

      Salah satunya Chiang Mai - Surat Thani cuma Rp 50rb-an + 500 Poin

      BTW: aku punya rute JB - KL- Phnom Penh - Siem Reap - Vientiane - Chiang Mai - Surat Thani - Phuket

      Minta infonya dong dari Siem Reap (Cambodia) ke Vientiane (Laos) sampe Chiang Mai (Thailand) bisa guna bus apa aja & berapa harganya?

      Atau ada "rute alternative" lain pokonya dari Siem Reap kita mau ke Laos / Vietnam lalu Chiang Mai

      Trims (:

    • By vie asano
      Saat berwisata ke Jepang, kalian mungkin akan tertarik untuk mengunjungi aneka kuilnya. Ya, wisata kuil memang menjadi salah satu daya tarik pariwisata Jepang, dan untuk kota-kota kuno seperti Kyoto, Nara, Kanazawa, maupun Kamakura; kuil justru menjadi daya tarik utama dari pariwisata di kota-kota tersebut.

      Faktanya, di Jepang memang banyak terdapat kuil dengan beragam ukuran, mulai dari kuil kecil berskala lokal, hingga kuil super besar yang mengundang wisatawan dari berbagai negara. Namun, tahukah kalian jika kuil di Jepang setidaknya terdiri dari 2 jenis, yaitu kuil Shinto dan kuil Buddha. Walau sama-sama terletak di Kyoto, kuil Kinkaku-ji (baca disini: Kinkaku-ji Temple part 1, Kinkaku-ji Temple part 2) berbeda dengan kuil Fushimi Inari Taisha, karena yang satu adalah kuil Buddha sementara yang lainnya merupakan kuil Shinto, dan itu bisa sangat membingungkan wisatawan yang ingin melakukan wisata kuil. Yang mana kuil Buddha? Yang mana kuil Shinto? Dan apa sih perbedaan di antara kedua jenis kuil tersebut?






      Kinkakuji, via
      forums.hardwarezone

      Memahami definisi kuil Shinto dan kuil Buddha

      Saat ini, diperkirakan ada sekitar 95,000 kuil Shinto dan kira-kira 86,000 kuil Buddha yang ada di seluruh Jepang. Untuk memahami perbedaan di antara kedua jenis kuil tersebut, yang pertama harus dilakukan adalah memahami apa itu kuil Shinto dan apa itu kuil Buddha. Perbedaan yang paling mendasar adalah fungsi utama dari kuil Shinto dan kuil Buddha. Kuil Shinto (dalam bahasa Inggris disebut “shrineâ€), merupakan sebuah kuil yang dibangun untuk memuja dewa (dalam bahasa Jepang disebut “kamiâ€) yang disembah dalam ajaran Shinto yang merupakan kepercayaan asli bangsa Jepang. Inti dari ajaran Shinto adalah mempercayai jika ada dewa di setiap tempat maupun di setiap elemen kehidupan, dan setiap manusia akan menjadi dewa setelah meninggal. Jadi jangan heran jika ada dewa besar yang disembah oleh banyak orang seperti dewi matahari, namun ada juga dewa-dewa lokal yang hanya dikenal oleh masyarakat di sebuah daerah.






      Sebagian dewa dalam ajaran Shinto, via
      dotmsr

      Sementara kuil Buddha (dalam bahasa Inggris disebut “templeâ€) merupakan kuil yang dibangun untuk tempat beribadah para penganut agama Buddha. Ajaran Buddha sendiri bukanlah ajaran asli di Jepang, melainkan dibawa dari Cina serta Korea dan baru masuk ke Jepang kira-kira pada abad ke-6. Ajaran Buddha cukup diterima oleh masyarakat Jepang yang memang terbuka dengan semua ajaran agama, walau sempat ada konflik diantara kedua kepercayaan tersebut pada permulaannya. Namun ajaran Shinto dan Buddha kemudian hidup berdampingan, dan untuk beberapa hal, terjadi akulturasi yang menyebabkan batas antara ajaran Shinto dan Buddha menjadi kabur. Hal ini akan saya jelaskan di bagian lain dari tulisan ini.






      Great Buddha di Kamakura, via
      onmarkproductions

      Penting nggak sih membedakan antara kuil Shinto dan kuil Buddha?

      Sebagai wisatawan, mungkin ada yang merasa nggak penting-penting amat mengetahui perbedaan antara kuil Shinto dan kuil Buddha. Toh kedua kuil tersebut sama-sama menarik untuk dikunjungi, dan akan terlihat keren saat diabadikan oleh kamera.

      Pandangan tersebut nggak salah, tapi juga nggak sepenuhnya benar. Memang benar, entah itu kuil Shinto maupun kuil Buddha, keduanya sama-sama menarik untuk dikunjungi. Tapi, kuil Shinto punya etika dan juga hal-hal penting yang harus diketahui oleh para pengunjung, termasuk wisatawan. Begitu juga dengan kuil Buddha, yang juga memiliki etika dan aturan tersendiri. Dengan mengetahui apakah kuil yang dikunjungi merupakan kuil Shinto atau kuil Buddha, setidaknya wisatawan sudah berusaha untuk menghormati tempat suci agama lain dan tahu apa yang boleh dan nggak boleh dilakukan disana. Dan, wisatawan juga akan mengetahui apa sih yang menarik dari kuil Shinto maupun kuil Buddha, dan itulah yang harus dicari saat berwisata kesana.

      Bagaimana cara membedakan kuil Shinto dan kuil Buddha?

      Berikut beberapa cara mudah untuk membedakan antara kedua jenis kuil.

      1. Masalah nama

      Membedakan kuil Shinto dan kuil Buddha bisa dilakukan dari segi nama. Kuil Shinto biasanya disebut dengan tambahan embel-embel “jingu†(神宮) –yang berarti kuil Shinto- di belakang namanya. Selain “jinguâ€, nama lain yang biasa dilekatkan di belakang nama kuil Shinto adalah “jinja†dan “taishaâ€.

      Contoh: Meiji-Jingu (baca disini: Meiji-Jingu Shrine part 1, Meiji-jingu Shrine part 2, Meiji-jingu Shrine part 3), Yasukuni Jinja (baca disini: Yasukuni Shrine part 1, Yasukuni Shrine part 2), dan Fushimi Inari Taisha.






      Meiji Jingu, via
      bluebalu.wordpress

      Sementara kuil Buddha, biasanya dibelakang nama kuil ditambahkan kata “ji†(寺) –yang berarti kuil Buddhaâ€. Alternatif lainnya, ditambahkan kata “tera†atau “deraâ€, dan kadang-kadang “inâ€.

      Contoh: Ryoan-ji (baca disini: Ryoan-ji Temple part 1, Ryoan-ji Temple part 2), Kiyomizu-dera (baca disini: Kiyomizu-dera Temple part 1, Kiyomizu-dera Temple part 2, Kiyomizu-dera Temple part 3), Byodo-in.






      Byodo-in temple, via
      shaneharderphotography

      2. Gaya Arsitektur

      Arsitektur di kuil Shinto sangat khas ala Jepang, karena kuil ini memang dibangun berdasarkan kepercayaan Shinto yang notabene merupakan kepercayaan asli masyarakat Jepang. Berikut beberapa fitur khas dalam arsitektur kuil Shinto:

      A. Gerbang kuil (torii), mayoritas dibuat berwarna merah-oranye dan hitam, kecuali jika torii dibuat dari bahan lain seperti kayu.






      Torii atau gerbang kuil, via
      digital-images

      B. Temizuya, tempat untuk menyucikan diri sebelum berdoa di kuil.






      Temizuya, via
      necessaryindulgences

      C. Bangunan utama kuil, terdiri dari honden (hall utama) dan haiden (hall permohonan). Honden dan haiden bisa disatukan dalam satu bangunan maupun dipisah, tergantung besar kecilnya kuil. Fungsi honden adalah untuk menyimpan benda yang disucikan dan tempat tersebut nggak bisa dimasuki oleh sembarang orang, sementara haiden adalah tempat untuk mengajukan permohonan pada dewa.






      Haiden di Omiya Atsuta Shrine, via
      Qurren/wikimedia commons

      D. Panggung, untuk menampilkan pertunjukan tari.






      Panggung di Yasaka Shrine, via
      japanryan.blogspot

      E. Ema, atau papan untuk menulis permohonan pada dewa.






      Ema, via
      injapan.gaijinpot

      F. Dekorasi khas seperti shimenawa, yaitu tali jerami yang dihiasi dengan kertas zigzag. Fungsi dari shimenawa ini untuk menandai sesuatu yang suci, seperti batu, pohon, gerbang kuil, dan lain-lain.






      Shimenawa, via
      traveljapanblog

      G. Dewa penjaga, ditempatkan di area pintu masuk kuil. Wujudnya bisa macam-macam, mulai dari anjing, singa, maupun rubah.






      Patung penjaga di kuil Nishinomiya, via
      greenshinto

      Mengenal ciri arsitektur pada kuil Shinto lumayan seru kan? Untuk kuil Buddha, akan saya lanjutkan di tulisan selanjutnya ya, dan teman-teman bisa melihat sendiri perbedaan antara kuil Shinto dan kuil Buddha.




      ***


      Selengkapnya:


    • By vie asano
      Melanjutkan tulisan , pada tulisan ini saya akan langsung menulis tentang ciri khas pada arsitektur khas yang ada di kuil Buddha di Jepang. Semoga dapat membantu wisatawan yang tertarik untuk melakukan wisata kuil saat berada di Jepang agar dapat membedakan antara kuil Shinto dan kuil Buddha.

      Untuk kuil Buddha, berikut fitur khas dalam bangunan kuilnya.

      A. Pintu gerbang, biasanya memiliki gaya arsitektur yang dipengaruhi dengan arsitektur Cina. Jumlah pintu gerbang dalam sebuah kuil Buddha bisa lebih dari satu, dan bisa terdiri berlapis-lapis tergantung banyaknya zona yang harus dilalui sebelum mencapai area kuil utama. Kadang gerbang kuil bisa berwarna monokrom, namun bisa juga didominasi dengan warna merah.






      Sanmon (salah satu gerbang penting) di kuil Tofukuji, via
      Fg2/wikimedia commons

      B. Osenko, atau tempat untuk membakar dupa. Banyak kuil Buddha menyediakan tempat khusus untuk membakar dupa sehingga ini menjadi sebuah fitur khas dalam arsitektur kuil Buddha di Jepang.






      Tempat membakar dupa di kuil Sensoji, via
      panoramio

      C. Hall utama, biasa disebut kondo, hondo, hatto, amidado, butsuden, dan lainnya. Merupakan tempat untuk menyimpan benda suci maupun benda pemujaan.






      Daibutsuden, hall utama di Todai-ji di kota Nara, via
      663highland/wikimedia commons

      D. Pagoda. Tingginya bisa 3 tingkat (disebut sanju no to) atau 5 tingkat (atau goju no to).






      Pintu gerbang kuil Sensoji dan pagoda, via
      daderot/wikimedia commons

      E. Lecture hall atau kodo, merupakan tempat pertemuan dan pembelajaran. Kadang disediakan juga area display untuk memajang obyek tertentuk.






      Kodo di Toji, via
      gracetheglobe.wordpress

      F. Lonceng kuil, dibunyikan bukan untuk menandakan waktu, melainkan untuk tujuan tertentu seperti pembersihan dosa.






      Lonceng kuil, via
      johnharveyphoto

      G. Patung penjaga atau nio, berbentuk sepasang patung yang biasa ditempatkan di pintu gerbang.






      Nio di Futagoji, via
      japantimes

      H. Kuburan. Banyak kuburan di Jepang yang ditempatkan menjadi satu dengan kuil Buddha, dan akhirnya menjadi salah satu ciri khas dari kuil Buddha di Jepang.






      Makam 47 ronin di Sengakuji, via
      muza-chan

      3. Pendeta Shinto vs Pendeta Buddha

      Membedakan kuil Shinto dan kuil Buddha juga bisa dilakukan dengan melihat pendetanya. Pendeta Shinto biasanya berdandan dengan gaya yang khas dengan topi yang khas pula. Para gadis kuil-nya, disebut miko, umumnya mengenakan seragam khas dengan perpaduan warna putih dan merah. Untuk momen tertentu, para gadis kuil ini kerap mengenakan kostum yang juga cukup mencolok.






      Pendeta Shinto, via
      bobkrist

      Sementara pendeta Buddha, biasanya tampil dalam gaya yang lebih sederhana, walau nggak selalu seperti itu. Yang pasti, seragam pendeta Buddha memiliki perbedaan dengan seragam pendeta Shinto seperti bisa dilihat dalam foto di atas dan di bawah ini.






      Pendeta Buddha di Jepang, via
      robovet

      Walau sudah ada perbedaan sebanyak itu, mengapa kuil Shinto dan kuil Buddha kadang masih sulit untuk dibedakan?

      Jika dilihat sekilas dari panduan yang sudah saya bagikan dalam tulisan bagian pertama dan kedua, harusnya nggak susah membedakan antara kuil Shinto dan kuil Buddha. Namun pada kenyataannya, nggak semudah itu membedakan antara kuil Shinto dan kuil Buddha.

      Mari mundur dulu ke masa beberapa ratus tahun silam. Shinto merupakan kepercayaan asli masyarakat Jepang yang usianya sudah sepanjang usia bangsa Jepang. Sementara Buddha merupakan agama pendatang. Saat ajaran Buddha mulai masuk ke Jepang, sempat terjadi pergesekan dan juga pergolakan di antara kedua agama tersebut. Namun lama kelamaan terjadi akulturasi yang menyebabkan ajaran Shinto dan Buddha seolah saling mendukung. Beberapa dewa Buddha dipuja juga oleh penganut Shinto, dan kuil Buddha di Jepang pun banyak mengadopsi elemen-elemen dalam kuil Shinto. Akibatnya, sudah sangat lazim jika ada kuil Shinto yang juga menjadi kuil Buddha, begitu juga dengan kuil Buddha yang memiliki kuil Shinto di dalam kompleks kuilnya; dan itulah yang menyebabkan beberapa kuil Shinto terlihat seperti kuil Buddha dan sebaliknya. Praktek penggabungan agama tersebut baru dihentikan sejak Restorasi Meiji dimulai pada tahun 1868.

      Berikut beberapa contoh kuil yang menjadi saksi sejarah akulturasi antara ajaran Shinto dan Buddha.

      1. Torii (pintu gerbang khas kuil Shinto) ini menjadi pintu gerbang kuil Shitenno-ji (kuil Buddha) di Osaka.






      via
      KENPEI/wikimedia commons

      2. Pagoda Seigantoji (kuil Buddha) yang berada satu kompleks dengan Nachi Taisha (kuil Shinto) di Kumano kodo.






      via
      cnn

      3. Jishu Jinja (kuil Shinto) berada dalam kompleks Kiyomizudera (kuil Buddha).






      Via
      panoramio

      4. Benzaiten shrine di taman Inokashira. Kuil Shinto ini dipersembahkan untuk memuja Benzaiten (dewi dalam agama Buddha yang juga adalah dewi Saraswati dalam agama Hindu).






      Via
      thomasgittel.wordpress

      Etika berkunjung ke kuil Shinto dan kuil Buddha

      Salah satu alasan mengapa wisatawan perlu mengetahui perbedaan antara kuil Shinto dan kuil Buddha, adalah untuk mengetahui etika yang berlaku saat mengetahui kedua jenis kuil tersebut. Terlepas dari apakah kalian tertarik untuk melakukan ritual di kuil atau tidak, nggak ada salahnya mengetahui detail etika/ritual untuk menghormati masing-masing tempat suci. Detailnya adalah sebagai berikut.

      Etika ritual di kuil Shinto
      1. Masuk ke area kuil melalui torii.
      2. Sebelum masuk lebih lanjut ke area kuil, bersihkan diri dulu di temizuya. Caranya:
      - Ambil gayung dengan tangan dan tuangkan ke tangan kiri.
      - Lalu pindahkan gayung ke tangan kiri, dan bersihkan tangan kanan.
      - Pindahkan lagi gayung ke tangan kanan, dan tuang air ke tangan satunya lagi untuk dimasukkan ke dalam mulut dan berkumurlah.
      - Bersihkan tangan kiri sekali lagi, dan letakkan gayung kembali ke tempatnya dengan posisi menghadap ke bawah.
      3. Jika ingin ikut berdoa di kuil, masukkan koin ke kotak sumbangan yang telah disediakan di depan altar.
      4. Goyangkan lonceng (jika nggak ada lonceng langkah ini bisa dilewat), bungkukkan badan dua kali, tepukkan tangan 2 kali, dan kemudian berdoa dengan posisi tangan tetap terkatup. Akhiri dengan membungkukkan badan sekali lagi untuk penutupan. Prosesi menggoyangkan lonceng bertujuan untuk menarik perhatian dewa.

      Catatan: aturan berdoa bisa berbeda untuk setiap kuil. Langkah di atas hanya untuk gambaran umum saja.






      Menggoyangkan lonceng untuk memanggil dewa di kuil Shinto, via
      wholeheartedmen

      Etika ritual di kuil Buddha
      Biasanya, kuil Buddha di Jepang nggak punya aturan berdoa yang baku layaknya kuil Shinto. Kira-kira gambaran ritualnya seperti ini.
      1. Masuk ke area kuil melalui pintu gerbang.
      2. Perhatikan sekitar kalian. Jika kuil tersebut memiliki temizuya, sucikan diri terlebih dulu dengan mengikuti langkah-langkah seperti saat mengunjungi kuil Shinto. Namun jika kuil hanya menyediakan tempat untuk membakar dupa, bakarlah dupa di tempat yang telah disediakan dan biarkan asapnya menyelimuti kalian.
      3. Acara berdoa di kuil Buddha di Jepang jauh lebih tenang dibanding kuil Shinto, jadi kalian nggak perlu menepukkan tangan saat akan berdoa. Dan jangan coba-coba membunyikan lonceng di kuil ya, karena lonceng di kuil Buddha hanya dibunyikan pada saat tertentu saja.







      Berdoa di kuil Zojoji, via
      artery.wbur

      Semoga informasinya bermanfaat!



      ***


      Selengkapnya:


    • By Riky Ramadani
      Luang Prabang adalah kota tujuan para pelancong yang menjadi andalan pariwisata Laos. Terletak 9-10 jam dari Ibukota Vientiane.
      Luang Prabang adalah kota yang dapat memenuhi hasrat para traveller, karena memiliki kedua situs alam dan sejarah. Di antara situs wisata alam adalah Kuang Si Falls dan Pak Ou Caves. Cuacanya juga cenderung sejuk, tetapi memiliki sungai yang seperti pantai. Karena Laos tidak memiliki laut. Sedangkan sejarah ada The Haw Kham Royal Palace Museum dan Wat Xieng Thong, salah satu kuil paling terkenal dalam sejarah. Selain itu daya tarik dari kota ini adalah banyaknya rumah tua bergaya Eropa, yang sepertinya pengaruh Perancis. Hal ini yang membuat Luang Prabang mendapatkan predikat sebagai UNESCO world heritage site .

      Salah satu kota kecil dengan kepribadian atmosfer dan menawan,Luang Prabang adalah salah satu tujuan top di ASEAN dan sekarang ini sudah menjadi tujuan sebagian besar wisatawan seperti Venesia , Ubud, Hoi An, Cuzco, Napier, Santorini,Chiang Mai, Siem Reap atau Barcelona. Hal ini dibuktikan dengan jumlah kunjungan turis yang melonjak hingga 22% dalam satu tahun.

      Nah, biasanya orang-orang akan bosan ketika puas menjelajah berbagai objek wisata dan menjelajah Luang Prabang. Sekarang gw akan berbagi mengenai hal-hal yang dapat dilakukan untuk menikmati waktu senggang tersebut.

      Apa yang bisa kita untuk menghabiskan waktu di Luang Prabang?

      Lao Sandwich dan Juice
      Laos terkenal dengan sandwichnya. Dengan ukuran rotinya yang besar dan isinya yang bermacam-macam membuat sandwich ini menjadi makanan yang praktis dan bisa dimakan sambil santai ataupun berjalan kaki. Sandwich ini dapat ditemukan di jalan-jalan seperti perempatan yang menjadi lokasi pasat malam misalnya.






















      Bersantai di Bar/ Cafe
      Luang Prabang memiliki banyak bar diantaranya Lao Lao Garden, JoMa Bake cafe, LaLa Cafe, ataupun Irish Bar. Bar ini merupakan tempat-tempat yang santai untuk sharing, rileks dan menikmati minuman, misalnya lao beer yang terkenal itu. Tempat ini juga merupakan tempat yang cocok untuk berkenalan dengan sesama traveller. Alternatif lain adalah bersantai di cafe-cafe sepanjang Sisavangvong Road yang menjadi jalan utama di kota ini.











      Lunch di Mekong River
      Nah, ini adalah hal yang harus dicoba. Makan di pinggir sungai Mekong adalah hal yang menyenangkan dan romantis. Selain harganya murah, berbagai macam makanan pun mudah ditemukan.














      Berkeliling dengan sepeda
      Luang Prabang tidak hanya memiliki cuaca yang sejuk, ukuran kota yang kecil, gedung-gedung bersejarah dengan arsitek gabungan Lao dan Prancis, dam kehidupan orang lokal yang menarik, tapi juga memiliki banyak penyewaan sepeda dengan harga yang sangat murah (Sekitar 10-20 ribu kip per 24 jam) yang membuatnya merupakan kombinasi daya tarik tersendiri. Ditambah dengan menggunakan sistem setir kanan akan membuat pengalaman berkendara kalian semakin berkesan. Hal ini membuat Luang Prabang sangat layak dijelajah hanya menggunakan sepeda.













      Menyumbang ataupun hunting buku
      Di Luang Prabang terdapat perpustakaan untuk para wisatawan untuk menyumbangkan bukunya. Selain itu terdapat pula toko-toko buku bekas yang berbahasa Inggris. Wisatawan dapat pula membeli buku yang ditulis dengan bahasa Lao atau Inggtis dan menaruhnya di tas besar untuk disumbangkan ke orang-orang lokal.


      Nyobain Lao Wine
      Lao Wine/ Whisky adalah minuman traditional yang berasal dari fermentasi hewan-hewan yang menurut orang menjijikan seperti ular, serangga dan tikus. Rasanya sendiri tergolong kuat. Dibeberapa tempat seperti dipinggir jalan minuman tersebut dijual bebas dalam bentuk gelas kecil. Bahkan kalian bisa menulis testimoni setelah mencobanya!


















      Window Shopping di pasar malam Luang Prabang
      Luang Prabang memiliki pasar malam yang menjadi daya tarik turis, dimana selain bisa interaksi dengan orang lokal. Para pelancong tersebut dapat melakukan tawar menawar. Di ujung jalan utama Luang Prabang adalah pasar malam di mana kios-kios menjual kaos, gelang, tas, kerajinan tangan, kopi, minuman traditional hingga souvenir lainnya . Disini anda dapat makan sampai keyang hanya dengan uang 1-2 dollar sembari melihat aktivitas orang-orang di pasar malam. Sungguh menarik!











      Itulah hal-hal yang sempat gw lakukan untuk mengisi waktu ketika di Luang Prabang.Meski beberapa objek wisata telah dikunjungi bukan berarti kota tersebut menjadi tidak menarik. Perpaduan kehidupan orang lokal, turis dan tempat membuat Luang Prabang menjadi tempat yang membuat para pengunjungnya betah.

      cerita ini juga bisa dilihat di : http://www.kakisamson.com/2013/05/leha-leha-sejenak-di-luang-prabang-laos.html