Sign in to follow this  
Nightrain

Victoria Dan New South Wales Dalam Seminggu

63 posts in this topic

post-22151-0-08900900-1386214699_thumb.j

Darling Harbour, Sydney at night

 

Saya mau share trip sekitar bulan May tahun 2012 yang lalu. Agendanya selain jalan-jalan, juga mau ketemu temen kuliah yang udah sekitar setaon lebih pindah ke Melbourne (ibukota Victoria) dan Sydney (NSW), jadi jadwal kita sengaja bikin untuk bisa ke dua tempat ini dengan itinerary kurang lebih seminggu dan sudah include sidetrip ke Great Ocean Road (Vic) dan Blue Mountain (NSW), jadi barangkali ada yang niat mau kesana atau first-timer, mudah2an bisa membantu.

 

Kita spend waktu sekitar 4 malam di Melbourne dan sekitarnya dan kira2 3 malam di Sydney. Saya bilang sih ini sudah cukup walaupun lebih optimal lagi kalau ada extra 3 malam supaya bisa ada more room untuk sidetrip namun waktu itu timing ngga memungkinkan dan tiket sudah optimal harganya, jadi ya maybe next time.

 

Kita terbang ke Melbourne dgn Garuda, kebetulan waktu itu promo dapat sktr 3jt / orang direct flight one way jadi cukup ok, kalau beli PP harusnya lebih murah tapi karena kita kudu ke Sydney, kita cek Garuda one way dari Sydney ke Jakarta ngga ada promo jadi sktr 6jt, begitu cek AA juga ngga ada promo murah tapi harganya sktr 4jt, jadi not bad, ok lah kita ambil. Terus ambil juga flight dari Melbourne ke Sydney via JetStar yang ini murah, mungkin sekitar 600rb-an saja.

 

Untuk urus Visa, karena kita orangnya ngga mau pusing, seringkali kita kasi aja dokumen ke orang tur, mereka yang beresin dalam 2 minggu, harga sekitar 1.5 atau 2jt/org kalo ngga salah, mungkin sekarang sudah naik, baiknya tinggal call ke tur untuk pastiin.

 

Day 1

Setelah menempuh flight sekitar 7 jam dari Jakarta, kita tiba di Melbourne sekitar jam 8.30 pagi dan kebetulan temen kita, Melvin, langsung jemput di airport dan kita menuju hotel Bayview Eden deket Albert Park. Kalau ada yang complain soal parkir di bandara Indo mahal, coba saja di Melbourne, parkir sebentar paling 30 menit, di-kurs sekitar 250rb, ampun deh, kalau parkir nginep di Soekarno-Hatta kan udah 5 malem tuh hehe

 

Room per night di hotel itu kalau promo dapat sekitar $120-$140, hotel udah agak tua, tapi bersih, dan deket ke CBD dan tram station, so far sih kita puas disitu jadi ngga masalah. Karena seperti biasa check in jam 3 sore baru bisa, jadi titip luggage dan kita langsung jalan saja ke CBD. Walaupun ada mobil di Melbourne, juga kadang parkir bisa jadi masalah karena biasanya kalau mau deket, mesti parkir di office building dan kemudian kita jalan, dan kalau parkir di luar juga mesti perhatikan note-nya, kalau disuruh parkir ngadep depan, jangan berani parkir ngadep belakang, bisa2 didenda 2-3juta. Disini rules agak strict, jadi sedikit mirip dgn Singapore, si Melvin pernah cerita, dia naik kereta saja, sudah kecapean dan angkat kaki di kursi depan kebetulan di sekitar dia kosong dan ketiduran, disamperin kondektur langsung dikasi tiket denda sekitar 2jt :D

 

Suhu pertengahan Mei itu bisa dibilang sudah dingin apalagi pagi, dibawah 10 derajat. Masih musim autumn tapi sudah mendekati winter, dan angin dari Antarctica juga bertiup kencang jadi Melbourne relatif lebih dingin ketimbang Sydney. Australia agak berbeda dengan negara 4 musim lain, jadi winter dia itu di bulan Juni, kebalikan dengan yang ada di Northern hemisphere yang bulan Juni justru summer.

 

Kita nyobain Vietnamese food, cocok banget makan pho pas udara dingin dan explore sekitar CBD sebentar kemudian menuju area sekitar Yarra River. Disini ada opsi untuk naik ferry tapi kita decide untuk explore saja. Banyak yang suka jogging dan bawa anak kecil untuk sekedar jalan2 saja, dan di river juga ada yang latihan rowing. Samping sungai ini juga good spot untuk foto, tapi akan lebih bagus lagi pas malam untuk skyline photoshoot.

 

post-22151-0-42207400-1386215980_thumb.j post-22151-0-73102200-1386216732_thumb.j

post-22151-0-19842000-1386562256_thumb.j post-22151-0-81823900-1386562270_thumb.j

(arah jarum jam dari kiri atas) samping Yarra RiverFlinders Street Station | Federation Square | street performer

 

Dari situ ngga terlalu jauh untuk jalan ke Flinders Street Station dan dekat situ juga ada Federation Square, arsitektur bangunannya unik dan kadang di depan situ suka ada street performers dan deket situ suka ada yang jualan di gerobak. Sore hari sekitar jam 4-an, kita nyebrang Yarra dan kita menuju ke Crown Casino Complex, ya seru juga sekedar liat orang ngadu nasib disini dan berisik sekali, dan lagi2 kebanyakan isinya encim2 umur 50an asal China, ngga di Macau, Singapore, Aussie, mereka yang paling rajin judi :D

 

Yang menarik dari kasino ini adalah Gas Brigades, atau semburan api dari tower di sekitar kasino dan durasinya juga ngga lama, paling sekitar 10-15 menit, jadi harus cek bulan apa Anda berangkat dan timingnya. Kita selagi nunggu disitu, makan di salah satu resto yg uniknya punya

squid ink pasta, looks disgusting tapi sebetulnya taste nice.

 

post-22151-0-32964100-1386217567_thumb.j post-22151-0-19169100-1386217806_thumb.j

(kiri) the fire ! | (kanan) pasta tinta cumi

 

Pas malam, view samping kasino juga top dan karena udah kelelahan belum istirahat sejak mendarat, kita decide untuk call it a day dan balik ke hotel. Sayang kita waktu itu cuma modal pocket cam tanpa tripod, jadi banyak blurry shot, cuma ini ada satu sample great pic di sekitar river waktu malam diambil random di google dgn gas brigades.

 

post-22151-0-94180600-1386218231_thumb.j

 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 2
Pagi itu kita berangkat agak siangan, sekitar jam 9.30 karena kemarin kelelahan dan kebetulan hari ini, Melvin masih ada waktu libur di sela kesibukan kerjanya, mengajak kita ke Mount Dandenong. Suburb ini bisa dicapai kira2 30-40 menit driving dari city dan di area sana ada satu resto/cafe yang terkenal namanya SkyHigh, selain ada taman juga ada maze.

 

post-22151-0-37561200-1386558428_thumb.j

salah satu sudut di Victoria Market

 

Sebelum kesana, kita cari breakfast dan shopping dikit di Queen Victoria Market. Disini salah satu tempat belanja orang lokal juga mulai dari daging, buah2an, sayur2an, dan untuk turis, banyak tersedia juga souvenir (termasuk bumerang) dan macam2 barang mulai dari pakaian, aksesoris, jam, dll, dan sebagian besar yang jualan adalah orang China, dan disini bisa tawar menawar walaupun harga ngga bisa turun jauh seperti kalau di Shenzhen.  Cuma perlu diperhatikan, market ini ngga buka setiap hari, kalau ngga salah Senin tutup, jadi mesti dicek dulu sebelum kesana. Di salah satu bagiannya, banyak yang dagang makanan, dan kita coba bratwurst-nya juga taste very good, dan mau nyoba daging kangguru juga ada :D

 

post-22151-0-31502600-1386558436_thumb.j post-22151-0-78557700-1386558445_thumb.j

(kiri) kelinci, kangguru, buaya, dll | (kanan) must try bratwurst!

 

Menjelang siang, kita langsung drive menuju Dandenong tapi sambil ngiter2 Melbourne juga, jadi kira2 2 jam baru tiba disana, dan kita langsung menuju Skyhigh karena dari sini view bagus, jadi inget mirip The Peak di Bandung. Suhu diatas gunung ini super dingin, apalagi kalau sudah winter, kadang malah ada salju dikit. Rencana mau lunch diatas tapi waktu itu ternyata resto sudah dibook untuk private event jadi setelah explore area ini kira2 1 jam, kita pelan2 turun sambil coba cari random restaurant untuk lunch, dan ketemu yang namanya Flippin' Pancakes, ternyata enak dan rekomen untuk dicoba kalau pas lagi kesana. Range harga antara $10 - $30 dan cukup crowded jadi suka ada waiting list sebentar sih, waktu itu kita harusnya nunggu 1.5 jam, tapi karena masih waktu 40 menit sebelum tamu datang, ya sudah kita bilang kita makan ngebut aja gpp :D

 

post-22151-0-88850200-1386558921_thumb.j post-22151-0-80511200-1386558909_thumb.j

post-22151-0-48568400-1386559138_thumb.j post-22151-0-84802000-1386559148_thumb.j

(arah jarum jam dari kiri atas) Skyhigh Mount Dandenong | The Giant Chair | salah satu menu lezat di Flippin' Pancakes | autumn leaves

 

Sore sekitar jam 4an, kita turun kembali ke city dan sempet mampir dulu ke Greensborough Plaza yang ada di area suburb. Mall ini sendiri termasuk gede dan salah satu fave orang lokal namun perlu diperhatikan kalau setiap hari mall sekitar jam 5.30 sore sudah tutup kecuali hari Kamis, semacam shopping night, jadi bisa sampe jam 9 malam. Agak berbeda dengan mall2 yang di Jakarta yang biasanya sampai jam 9 malam setiap malam, bahkan weekend bisa sampe jam 10.30an, kalau di Melbourne, seringkali jam 6 sore rata2 sudah sepi karena semua sudah pulang dan istirahat, kecuali mungkin sebagian tempat di CBD, tapi yang pasti, buat yg terbiasa dgn hectic-nya kehidupan kota sampai malam malah merasa sunyi disini.

 

Agenda kuliner malam itu, kita jajal resto Korean/Chinese, Han Guuk Guan, yang juga layak dicoba kalau pas ketemu, dan malamnya jalan-jalan di Lygon Street atau yang juga dikenal dengan Little Italy. Di sepanjang jalan ini hampir semuanya memang restoran Italy, mulai dari pizza, gelato, pasta, dll, dan kadang2 suka ada festival Italy yang diselenggarakan disini. Malamnya kita coba hot chocolate di Koko Black di sekitar situ dan ini salah satu yang terbaik, dan Koko Black ini juga ada di area City, tepatnya di Block Arcade.

 

Malamnya kita balik ke hotel dan istirahat. Overall, Dandenong sendiri menurut kita biasa saja, view atas gunung begini pun Bandung ngga kalah tapi di sepanjang jalan itu banyak sekali resto  yang sepertinya juga enak2, dan mungkin sidetrip yang lebih baik itu ke Mount Buller, semacam ski resort, cuma lokasinya jauh, kira2 200km jadi bisa 3-4 jam driving, dan kalau mau paksa PP, mungkin bisa kecapean, apalagi waktu itu kita ngga prepare winter coat yang tebel jadi next time saja.

 

Day 3

Agenda hari ini, kita mau explore CBD Melbourne atau dikenal dgn 'City'. Ini adalah jantung kota Melbourne dan seluruh kesibukan kebanyakan berpusat disini, jadi area shopping, perkantoran, sekolah, taman, dan sebagainya numpuk disini semua. Akses kesini juga sangat gampang, dari hotel kita naik tram langsung turun di depan Flinders Station dan dari sini tinggal jalan kaki saja untuk explore. Disini ada juga shuttle bus yang mengitari hampir semua area, seinget saya ini gratis, dan ada juga City Sightseeing / Hop on Hop off Bus, yang ini bayar.

 

Yang paling berkesan dari Melbourne ini adalah kulinernya. Bisa dibilang hampir semua makanan yang kita coba semuanya enak, mulai dari Korean, Malaysian, Japanese, Vietnamese, Australian, dll, bahkan kalau kangen dengan makanan Indo, disana pun Anda bisa ketemu Es Teler 77 dan Nelayan resto. Porsinya super besar, jadi sebetulnya satu porsi bisa buat berdua, tapi untuk kebanyakan orang yang sudah tinggal di Melbourne, lama kelamaan sih satu porsi gede itu muat untuk sendiri. Untuk sekali makan, bisa dibilang yang termurah dan standar itu sekitar $10 atau kira2 100rb.

 

post-22151-0-54754600-1386560706_thumb.j post-22151-0-93025500-1386560775_thumb.j

post-22151-0-16318700-1386560736_thumb.j post-22151-0-83053400-1386560794_thumb.j

(arah jarum jam dari kiri atas) Eureka Tower | Hopetoun Tea Room | grafiti di salah satu sudut kota Melbourne | Koko Black di Block Arcade

 

Pagi itu, kita breakfast di Hopetoun Tea Room, Block Arcade. Ini tempat yang dapat rating tinggi di tripadvisor dan memang kue, teh, dan breakfastnya lumayan enak namun harga agak pricey dan kalau lagi rame, waiting listnya juga cukup panjang, tapi untung pagi itu kita langsung dapat meja. Setelah breakfast, kita explore area city dengan jalan kaki, lunch break di salah satu random restaurant juga, explore ke area Chinatown, dan sore-nya kita naik shuttle bus dan turun di sekitar St. Patrick Cathedral. Dari situ, kita jalan saja tanpa tujuan sambil sightseeing, banyak taman baik yang gede maupun kecil bagus untuk lokasi foto ataupun duduk2 santai, sebelum akhirnya sekitar jam 6, kita balik lagi ke city, makan malam, dan kemudian balik ke hotel karena besok pagi2 banget sekitar jam 6-an kita akan menyusuri Great Ocean Road dengan tujuan Twelve Apostles

 

post-22151-0-00308200-1386561761_thumb.j post-22151-0-40168400-1386561777_thumb.j

post-22151-0-12977600-1386561827_thumb.j post-22151-0-29562100-1386561841_thumb.j

(arah jarum jam dari kiri atas) St.Patrick Cathedral | salah satu sudut Chinatown | Old Treasury Building | salah satu resto yang kita coba dengan Es Teler 77 signboard di belakang

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 4

Beberapa minggu sebelum kita berangkat, kita sudah mempersiapkan trip menuju Great Ocean Road dan pilihan kita jatuh ke Escape Discovery Adventures karena banyak positive reviews di tripadvisor dan itinerary-nya untuk one day trip juga menarik. Setelah beberapa kali email dengan Paul (owner sekaligus operatornya), jadwal kita sesuaikan karena memang ada minimal jumlah person agar bisa berangkat, tapi biasanya sih ya kalau sudah terkumpul sekitar 4-5 sih jalan, tapi waktu itu kita ada 8 orang yang ikut. 3 orang Amrik, 1 orang New Zealand, kita berdua dari Indo, dan dua lagi dari Singapore.

 

post-22151-0-78102300-1386738107_thumb.p

 

Gambar diatas itu kira2 jalur yang kita lalui selama satu hari penuh itu dengan total jarak tempuh sekitar 500 km bolak balik dan jadwal yang padat ini kita awali dari jam 7 pagi dan berakhir sekitar jam 8 malam. Jadi buat yang tertarik untuk ambil trip ini memang harus menyiapkan satu hari penuh dan tur sendiri bervariasi, tapi untuk Escape ini sekitar $140 / orang sudah include 3x makan, dan so far kita sangat impressed dgn service dari Paul, juga orangnya demen ngobrol dan ngerti banyak topik, seluruh tempat yang kita kunjungi juga dia tahu tentang latar belakang dan history-nya, dan juga big fan-nya AC/DC (yang juga adalah band rock legendaris andalan Australia) :D Tidak heran tur beliau ini mayoritas dapat 5-stars di tripadvisor dan juga menang award bbrp tahun berturut2.

 

Pagi itu, Paul datang on-time sekitar jam 7 untuk menjemput kita di hotel dan kemudian kita keliling kota dulu untuk menjemput partisipan yang lain dan setelah semuanya on board, kita langsung berangkat dengan destinasi pertama kita, ngga jauh dari Melbourne, menuju salah satu padang rumput yang kanggurunya dibiarin bebas berkeliaran jadi kita bisa foto2 sebentar, sebelum lanjut menuju desa Anglesea dan mampir sebentar untuk breakfast di samping danau. Disini memang tempat piknik untuk orang lokal juga tapi waktu kita tiba disana masih pagi dan cuaca dingin, jadi belum ada orang kecuali kita. Sambil ngobrol2 sebentar dan Paul menyuguhkan pilihan teh/kopi dan berbagai macam kue dan biskuit lokal, kita santai sejenak dan kemudian lanjut lagi menyusuri Great Ocean Road, sambil mampir sebentar di Memorial Arch, tugu untuk mengenang para pejuang WW1 dan juga melewati Lorne, kota samping laut yang juga memiliki panorama ke arah laut yang sangat bagus.

 

post-22151-0-24052000-1386743133_thumb.j post-22151-0-68716800-1386743150_thumb.j

(kiri) danau di Anglesea | (kanan) Memorial Arch

 

Berikutnya kita tiba di Cape Patton lookout, dari sini view memang spektakuler dan lokasinya juga berada sekitar 50 m diatas permukaan laut, jadi kita seperti berada diatas tebing melihat deburan ombak. Dari sini, tidak terlalu jauh menuju Apollo Bay, mungkin sekitar 15km saja. Sering diadakan festival disini, juga mulai banyak resort untuk turis, dan antara winter dan spring, Anda bisa melihat ikan paus, sayang waktu kita kesana masih masuk autumn. Kita lunch di salah satu cafe disini, dan makanannya lumayan enak, apalagi ditambah dengan Ginger Beer, makin top! Menurut Paul, banyak juga local family yang spend weekend disini, mungkin satu atau dua hari, tempatnya juga ngga terlalu ramai, jadi untuk bersantai memang cocok.

 

post-22151-0-22996900-1386744854_thumb.j post-22151-0-39546600-1386744868_thumb.j

(kiri) bir jahe yang top, bisa dibeli di supermarket lokal | (kanan) Cape Patton lookout

 

After lunch, kita lanjut menuju salah satu lokasi tempat banyak aneka burung yang 'kelaparan', jadi kalau Anda membuka telapak tangan dengan sedikit makanan, bisa sekitar 10-20 burung langsung menyerbu dan bertengger di kepala, pundak, dan tangan. Seru juga tapi agak sedikit ngeri apalagi kalau ngeliat jumlahnya yang banyak. Disini juga Anda bisa ketemu beberapa koala yang suka bersembunyi diantara pohon.

 

Dari sini, kita lanjut menuju Port Campbell, namun sebelum itu sempet mampir dulu di salah satu rainforest. Sebetulnya untuk kita orang Indo, tempat ini jelas tidak terlalu menarik karena variasi pepohonan, bunga, dll ini sangat sering kita jumpai di negeri sendiri, apalagi orang yang keluar masuk hutan Kalimantan, mungkin udah tiap hari liat, namun tentunya banyak orang2 bule senang lihat yang seperti ini apalagi orang Eropa, jadi kita ikut saja explore, untung tidak terlalu lama, paling 30 menitan, kita sudah di mobil lagi dan lanjut menuju The Twelve Apostles.

 

post-22151-0-82487800-1386744951_thumb.j post-22151-0-76224100-1386745040_thumb.j

(kiri) sunlight and the cliffs | (kanan) Loch and Gorge

 

Tiba disana sekitar pukul 3.30 sore dan pastikan baju tebal karena tiupan angin Antarctica ini bisa membuat suhu menjadi sangat dingin dan bisa dibilang ini adalah highlight dari perjalanan Great Ocean Road. Karena hantaman ombak yang kencang dari dulu, tebing2 ini kemudian pelan2 terkikis dan sebagian membentuk gua dan sebagian juga ada yang membentuk semacam 'arch' dan akhirnya runtuh sehingga banyak tersisa pilar-pilar batu. Pemandangannya cantik dan terkadang agak sedikit mengingatkan dengan Tanah Lot di Bali. Area disini luas, kita bisa foto dari atas, juga turun tangga ke bawah ke pantainya, dan kira2 spend waktu 1 - 2 jam disini sudah cukup. Ada beberapa area yang diberi nama seperti London Arch (mirip seperti jembatan dan akhirnya collapse jadi seperti London Bridge), Loch and Gorge, The Gibson Steps, dll, namun basically semuanya adalah formasi tebing hasil erosi laut.

 

post-22151-0-09772400-1386745328_thumb.j

 

Malamnya kita dinner di salah satu resto deket Port Campbell dan makanannya sih standar burger with fries gitu, mungkin varian lainnya fish and chips, tapi tetap saja enak. Setelah dinner, kita kemudian drive back ke kota dan karena perjalanan panjang, banyak yang sudah tertidur dan akhirnya tiba sekitar jam 8 malam dan long day itu pun berakhir dan tentunya sangat berkesan. Besoknya kita akan segera ke Sydney selama 3 hari via Jetstar jadi pagi2 sekitar jam 7an sudah harus ke airport dan kebetulan pagi itu Melvin berbaik hati untuk mengantar kita kesana.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 5

Flight dari Melbourne ke Sydney relatif pendek, hanya memakan waktu sekitar 1.5 jam saja, namun karena jarak ke airport Melbourne yang jauh, plus nunggu boarding, bagasi dan sebagainya, basically kita tetap kehilangan setengah hari. Kali ini untung airport Sydney ada di dalam kota, jadi paling hanya 20 menit saja atau sekitar 10-15 km jaraknya ke area downtown. Kebetulan waktu itu kita nginep di Mercure Hotel yang ada di George Street, hotel ini ok karena bersih, lokasi yg sangat bagus, dan akses ke public transport juga ok, ke subway station juga sangat dekat, dan dapat reasonable price mungkin sekitar $140/night.

 

Siang itu setelah check-in, kita langsung explore area dengan jalan kaki sekitar hotel, dari George Street menuju ke area Chinatown, dan di salah satu jalan ada restoran Thailand yang saking ramenya, kita ngga mikir panjang langsung coba aja dan memang lagi2 enak, sayang lupa nama restorannya apa. Ngga jauh dari sini, kita ketemu Paddy's Market, ini semacam Victoria Market-nya Sydney atau Pasar Pagi-nya Jakarta, hampir segala jenis barang juga dijual termasuk souvenir dan juga memang bisa tawar-menawar, cuma jangan lupa untuk cek jadwal bukanya, karena hari Selasa barangkali tutup, dan sisanya buka seperti biasa dari jam 9 sampe 5 sore, agak berbeda dengan toko2 di Mangga Dua yang sebagian tutup hari Senin. Di dekat sini juga ada area Chinatown, dimana setiap hari Jumat malam, selalu ada semacam bazaar yang buka sampai kira2 jam 11-12 malam jadi rame sekali yang jualan, lalu lalang, juga termasuk beberapa restoran yang masih buka sampai malam. Sydney sendiri terlihat jauh lebih dinamis ketimbang Melbourne, jadi buat yang menginginkan kehidupan yang lebih santai, relax, dan slow, lebih cocok di Melbourne ketimbang Sydney.

 

post-22151-0-43006200-1387184764_thumb.j post-22151-0-58199600-1387184803_thumb.j

(kiri) Paddy's Market | (kanan) di depan Chinese Garden

 

Dari Paddy's Market, kita segera menuju ke area Chinese Garden of Friendship, dan disini sudah masuk kompleks Darling Harbour. Untuk masuk ke dalam garden harus beli tiket namun kita decide untuk tidak ke dalam karena ingin explore area harbour yang memang sangat luas. Dekat situ juga ada playground untuk anak2 dan open space untuk orang2 piknik dan bersantai, beberapa mahasiswa terlihat rame2 ngerjain tugas, belajar, atau sekedar ngobrol2 disana. Cuaca hari itu memang sangat bersahabat walaupun angin yang bertiup cukup dingin, tapi tidak menggigil seperti di Melbourne yang letaknya memang lebih selatan.

 

Kira-kira kita berada tepat di Darling Harbour-nya sekitar jam 4 sore, jadi ngga akan lama lagi matahari akan terbenam. Duduk di dekat dermaga dengan menikmati pemandangan sore sambil menanti sunset serta melihat banyak burung beterbangan sambil menikmati coklat panas juga sangat enjoyable. Biasanya area ini akan sangat ramai pas malam dimana di pinggiran memang selain ada mal kecil, juga ada banyak kafe / restoran serta ada beberapa tourist attraction seperti Sydney Aquarium atau Madame Tussauds.

 

Pyrmont Bridge yang menghubungkan dua sisi Darling Harbour juga sibuk dengan banyak orang lalu lalang dan di salah satu sudut ujung jembatan, ada counter Movenpick, es krim terkenal asal Swiss, dan rasanya juga kurang lebih mirip jadi kalau sempat, boleh dicoba.

 

post-22151-0-13541500-1387184897_thumb.j post-22151-0-28877700-1387184885_thumb.j

(kiri) menikmati Movenpick | (kanan) Hard Rock Cafe Sydney

 

Malam itu kita dinner di Hurricane's Grill bareng Ricky, salah satu temen kuliah juga yang sudah tinggal di Sydney, dan ini salah satu tempat yang direkomen beberapa temen karena pork ribs-nya super mantabb, namun overall steak dan ribs lainnya juga sangat rekomen, dan untuk yang demen Beef dan Lamb ribs juga konon mantap. Harga untuk half rack kira2 $30-$35 dan sangat worth untuk dicoba.

 

Darling Harbour sendiri merupakan satu tempat yang sering diadakan berbagai macam festival, jadi kalau bertepatan dengan acara tertentu, banyak fireworks dan dipadukan dengan beautiful skyline, tidak heran banyak yang demen pacaran disitu. After dinner dan spend sedikit waktu foto2 di harbour, kita lanjut untuk night dessert dan pilihan jatuh pada Lindt Cafe. Mungkin banyak yang familiar dengan brand coklat asal Swiss ini, nah di Melbourne juga ada, namun kita ngga sempet coba disana, jadi baru bisa mencicipi waffle dan iced milk choco-nya. Superb taste dan great ambience! Sekitar jam 9-10 malam kita kembali ke hotel dan istirahat

 

post-22151-0-62109200-1387184823_thumb.j

Darling Harbour at night

 

 

Day 6

Acara hari ini masih padat, pagi kita rencana ke Bondi Beach dan explore area sana, kemudian setelah lunch, kita menuju Circular Quay tempat Harbour Bridge dan Opera House berada, dari situ kita bertolak menuju Manly Beach dan kemudian berlabuh di Darling Harbour. Dari situ, kita akan ketemu Ricky lagi dan dinner malam di city.

 

Overall, plan hari itu semuanya berjalan tanpa halangan dan cuaca juga mendukung, jadi untuk yang mau one-day trip explore 2 famous beach-nya dan iconic place Sydney, bisa coba itinerary ini.

Bondi Beach jelas sangat ramai pas summer, jadi pada waktu kita pergi menjelang winter, as expected, suasana pantai lengang, walaupun masih aja selusin orang yang nekad surfing walaupun angin yang bertiup udah dingin. Untuk kesana dari hotel kita juga gampang, tinggal naik subway dan pilih destinasi Bondi Junction, mungkin kira2 30-40 menit dari downtown. Tiba disana, tinggal cari shuttle bus-nya dan paling sekitar 10-15 menit sampai di Bondi Beach. Lokasi pantai yang berbentuk seperti bulan sabit dengan dihiasi rumah diatas pinggir pantai juga cukup cantik untuk jadi objek background foto, namun kalau Anda tidak surfing atau berjemur, ngga perlu spend waktu terlalu lama disini, saya rasa 1 - 1.5 jam saja sudah max. Naik sedikit ke arah tebing atas untuk dapat view bagus ke pantai dengan deburan ombak yang ciamik.

 

post-22151-0-18836700-1387252955_thumb.j post-22151-0-44621300-1387253007_thumb.j

Bondi Beach

 

Dari Bondi Beach kembali ke Bondi Junction, dari situ bisa mampir dulu ke Westfield mall, untuk sekedar nyari snack, lunch, atau shopping sedikit dengan variasi barang untuk mid-to-upper class. Buat yang demen beli pakaian lucu buat anak di rumah, Pumpkin Patch punya banyak koleksi menarik. Juga disini ada pie yang enak, namanya Pie Face, tapi karena store-nya banyak tersebar jadi ngga susah nyarinya. Yang suka nyari CD/DVD/games, ada toko juga namanya JB Hi-Fi, di Aussie manapun ada, tapi menurut saya, koleksinya biasa aja dan lebih enak belanja online.

 

post-22151-0-69819100-1387253508_thumb.j

 

Dari sini mungkin sekitar jam 2 siang, kita langsung menuju ke Circular Quay dan ambil ferry menuju Manly Beach yang memakan waktu sekitar 30 menit. Sebetulnya di Manly sendiri pantai yg relatif kecil dan ngga terlalu beda jauh dgn Kuta, namun ferry trip dari CQ kesini juga bagus karena Anda bisa dapat view Opera House dan Harbour Bridge dari tengah laut. Di Manly sendiri masih banyak orang surfing juga dan karena kita masih terkesima dengan Hurricane's Grill, kita coba lagi satu tempat ribs yang namanya Ribs and Rumps, namun soal rasa masih kalah dgn HG padahal harga ngga jauh beda.

 

post-22151-0-49075700-1387253156_thumb.j post-22151-0-52873800-1387253446_thumb.j

(kiri) Opera House shot pada saat menuju Manly | (kanan) menjelang sunset di dermaga Manly

 

Paling ok bersantai di Manly dan tunggu sampai menjelang sunset, dari situ ambil trip balik ke CQ jadi bisa dapat sunset view pantai sekaligus Opera House / Harbour Bridge. Jadwal ferry sendiri hampir setiap 30 menit ada jadi ngga masalah. Setelah kita tiba di CQ, kita muter2 saja disana, lokasi ini rame sekali karena memang ngga murni tempat turis, juga sebagai hub untuk orang2 lokal jadi benar2 tumpek blek semua disini, walaupun ngga sampai overcrowded.

 

Malamnya, kita dijemput Ricky dan menuju downtown untuk dinner di Chat Thai, salah satu restoran Thai terbaik di Sydney, setidaknya menurut sebagian orang lokal, dan memang untuk makan disana pas malam setidaknya mesti nunggu paling cepat 20-30 menit dan menurut saya memang rekomen walaupun tidak wah banget ya. Area CBD Sydney umumnya buka sampai jam 7 malam, tapi khusus hari Kamis masuk kategori shopping night, kadang ada yang sampe jam 9-10 malam, mungkin special occassion juga bisa sampai jam 12 malam.

 

post-22151-0-24582300-1387253527_thumb.j post-22151-0-45375800-1387253536_thumb.j

(kiri) Sydney Harbour Bridge | (kanan) Nurses Walk, The Rock

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 7

Hari terakhir di Sydney kita putuskan untuk berangkat menuju Blue Mountains, area pegunungan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Sydney, sekitar 50-60km saja, namun kita putuskan hari itu untuk ambil day-trip tour AAT Kings yang sudah kerjasama belasan tahun dengan hotel karena kita pengen mampir sebentar di Featherdale Wildlife Park dan karena tur-nya juga digabung dengan ferry-ride pas balik ke Sydney dari area Olympic Park, rasanya not bad dan kita ambil saja, per orang mungkin sekitar $120+, banyak variasi tur mulai dari harga $80 - $300, tergantung itinerary dsb, tapi untuk itinerary yang kita ambil rasanya udah ok.

 

Ternyata untuk service dari AAT Kings itu sendiri menurut kita sih mengecewakan karena staff/supir-nya agak kasar, waktunya terlalu mepet dan terburu2 jadi ngga ada waktu fleksibel untuk sedikit hiking dan explore Blue Mountains-nya, dan juga kurang informatif. So mending pilih tur yg lain saja kalo bisa. Berikut kira2 area yang kita lewatin sepanjang 200+ km :

 

post-22151-0-27338900-1387337746_thumb.j

[A] Sydney - Featherdale - [C] area Blue Mountains - [D] Leura - [E] Olympic Park

 

Destinasi pertama di Featherdale, ini semacam small wildlife park, dimana hampir semua hewan2 unik khas Aussie ada disini dan tentunya yang paling menarik adalah kangguru dan koala. Kita bisa berfoto dan memegang koala, atau memberi makan kangguru, dan disini juga ada restoran kecil untuk sekedar ngopi dan bersantai. Waktu juga ngga perlu lama2, saya rasa 1 jam sudah cukup. Dari Featherdale, kita langsung lanjut menuju Scenic World Blue Mountains dan sebelumnya mampir ke salah satu lookout untuk melihat Jamison Valley, dan memang pemandangannya sangat bagus.

 

post-22151-0-63389600-1387340314_thumb.j post-22151-0-29426300-1387340328_thumb.j

Koala dan Kangguru di Featherdale

 

Paket tur itu sendiri sudah include dengan lunch dan kalau ngga salah, termasuk dengan tiket untuk naik Scenic World Cableway dan Scenic World Railway, jadi kita tinggal tukar saja kupon saja pas disana. Cableway ini semacam cable car horizontal dan pas naik ini juga agak ngeri2 sedap karena dibawah kita kaca bening dimana kita bisa ngeliat lembah dibawah dan juga Three Sisters serta Katoomba Falls. Railway ini sendiri semacam roller coaster tapi pelan dan masuk Guinness Book sebagai railway tercuram di dunia dgn kemiringan sekitar 52 derajat.

 

post-22151-0-22325500-1387340071_thumb.j post-22151-0-22591700-1387340104_thumb.j

post-22151-0-33392000-1387340123_thumb.j post-22151-0-23706400-1387340132_thumb.j

(arah jarum jam dari kiri atas) depan Scenic World | siap-siap naik Railway | di dalam Cableway | Blue Mountains signboard

 

Kalau ada waktu banyak, disini kita bisa jalan ke bawah dan masuk ke dalam rainforest juga, namun karena tidak memungkinkan, kita hanya naik cablecar (yang lain) dan explore sebentar saja dibawah. Menurut saya ngga banyak yg menarik juga di bawah dan Blue Mountains sendiri sebetulnya tidak menawarkan sesuatu yang extra special kecuali pengalaman naik Railway dan Cableway itu, karena view lembah yang bagus pun di Indo banyak, namun karena tempat ini termasuk salah satu tourist place dan UNESCO World Heritage Site, ngga ada salahnya untuk menginjakkan kaki disini minimal sekali pas udah di Sydney karena lokasi juga ngga terlalu jauh.

 

post-22151-0-09501400-1387340199_thumb.j post-22151-0-64244100-1387340146_thumb.j

(kiri) Three Sisters | (kanan) great view of the valley

 

Kira2 sekitar jam 3 sore, kita bertolak menuju Leura, kota kecil di pinggiran area Blue Mountains. Mampir disini pun hanya karena searah dan selain toilet break, untuk yang mau sekedar ngopi juga ok, pas autumn, deretan pohon dengan warna merah juga cantik, dan ada beberapa toko kecil untuk sekedar beli souvenir. Dari Leura kita akan menuju area Olympic Park dan di dekat sini ada dermaga ferry untuk kita kembali ke Sydney, dan kita bisa pilih untuk turun di Circular Quay atau di Darling Harbour. Karena hotel kita lebih dekat ke DH, jadi kita turun disana, jalan kaki menuju Chinatown dan kebetulan pas hari Jumat malam, disana sangat rame dan seperti bazaar, banyak sekali yang jual makanan dan pernak pernik macam2, dekat situ kita nemu satu restoran Jepang yang namanya Kura, agak nyempil dikit di pojokan dan restorannya di lantai 2, tapi ini rekomen banget, makanannya top dan harganya juga reasonable.

 

post-22151-0-44526400-1387340238_thumb.j post-22151-0-10892600-1387340186_thumb.j

(kiri) another view of the valley | (kanan) di Leura

post-22151-0-00316700-1387340275_thumb.j

suasana malam di Chinatown

 

Overall, Melbourne dan Sydney sangat rekomen untuk kulinernya, dari sisi kota juga termasuk nyaman untuk ditinggalin dan Melbourne cenderung lebih sepi dari Sydney, peraturan agak strict jadi berhati2 jangan sampai kena fine disana karena mahal, mungkin untuk umur 50+ rasanya cocok banget di Melbourne, dan anak muda lebih asik di Sydney. Alternatif sidetrip lainnya kalau pas di Melbourne juga bisa ke Tasmania dan kalau di Sydney bisa juga ke Hunter Valley untuk wine-tasting atau ke Kiama untuk menyaksikan blowhole, semacam semburan air ke atas.

 

* * *

Share this post


Link to post
Share on other sites

@kyosash

iya, dan kalo malem banyak yg pacaran di dermaga :D

 

@deffa

mantap sembur apinya sob, Brisbane itu ada di tengah, udah masuk Queensland. Kalo road distance mungkin sekitar 1700km atau kalau nekad ya kira2 18-20 jam nyetir hahaha flight paling 1jt-an kesana dari Melb. Melb / Sydney satu itinerary doable, kalau Brisbane itu cocoknya digabung dgn Gold Coast. Waktu itu kita lagi mikir mau naik train dari Melb ke Sydney sekalian liat pemandangan, atau kalo ngga mampir sebentar di Canberra, tapi sayang waktu cuma seminggu, kalau ada 10 hari boleh, soalnya bisa sktr 9 jam, dan banyak yg bilang Canberra kurang,  ya sudah lah

Share this post


Link to post
Share on other sites

Canbee cm ada pohon!

ozzyyyyyyyyyyyyy!!!! denorra rinduuuuuuuuuuuuu!!!

@deffa, beraninya komen doank, pdhl sodara banyak! hah!

yarra river itu romantis banget kl aps sore, kongkow ato pacaran ato sekedar jogging duuuuuuuuh:p

Sydney gue jg suka, secara gue d adeled, kan kampung, hahaha

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa

iya, aussie ini kalo soal makanan memang top, mungkin juga karena resto2 mereka jarang yang 'palsu', artinya resto vietnam ya memang koki-nya orang vietnam juga, resto indo ya orang indo, dll, dan selama kita disana, bisa dibilang makanan mediocre itu paling hanya 2-3x aja, sisanya sih top, tapi bisa juga karena direkomen ama temen yg udah tinggal disana hehe

Share this post


Link to post
Share on other sites

saya ga sempet ke three sisters T_T

laennya mah asoooooooooooooy.....darling harbor ngecengin bule2! bondi liat yg hot2 topless n naked, buahahaha

yarra kongkow2 menikmati senja...great ocean road sayang abgnet saya g smepet naek helikopter:(

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By ko Acong
      Bagi yang bosan di Kuala Lumpur boleh melipir ke Melaka cuma 2 jam perjalanan loh.
      Berapa uang yang saya habiskan selama main ke Malaka? Normalnya tiket pesawat PP 1 jutaan. Yang pasti tiket PP Indonesia-Kuala Lumpur kemarin saya dapat Rp 169.000 saja Malaysia Airlines Business Class (Promo).
      Mari kita hitung pengeluaran saya selama 2 malam 3 hari di Melaka:
      Tiket Bus, via Terminal BTS (Bandar Tasik Selatan) cukup 24 x 2 = 48 RM
      Jika langsung bus PP harganya 70 Rm, perbedaan waktu hanya 1 jam. Kelebihan transit di  BTS setiap 30 menit ada Bus. Kekurangannya, jika ketingalan jadwal bus harus buang waktu selama 3 jam.
      Hotel Saya Pake Hotel Hong https://goo.gl/maps/fhwLNd6fmzp
      yang terkenal buat Backpackers, karena serasa Hotel Keluarga ada di antar jemput di terminal bus dan ketika diantar mereka melepas kita satu persatu, sampai aman di terminal bus dan mengarahkan ke platform yang seharusnya. Terima kasih Ci Amey dan karyawan hotelnya yang bersih. Harga selama 2 malam kisaran Rp 550.000. 
      Tranportasi di Melaka semua ditempuh dengan berjalan kaki. Estimasi makan minum, cukup Rp. 100000 perhari, di tiap menu makanan perhari ada daging nya lumayan wah juga sih.
      Tinggal kita hitung oleh2 jajan yang aneh-aneh dan lainnya, jadi estimasi main di Melaka selama 2 hari:
      Bus 48 Rm = Rp 175.000 Hotel 2 malam = Rp 550.000 Biaya makan minum = Rp. 300000 Jumlah Rp 1.025.000.- sesuai Hitungan awal budget cukup 1 jutaan.
      Hehehe namun belum termasuk Cendol Musang King dan oleh-oleh Durian Jam San Shu Gong yang legenda, Wueeenak lembut banget. Nah bila mau lanjut main di Kuala Lumpur, cuma tinggal nambah hotelnya sekitar Rp 500.000 per malam.
      ____________________________________________________________________________________________________________











    • By Daniyah Isa
      Assalamualaikum 
      Salam kenal,
      Panggil saya, Nia
      Ini adalah pertama kalinya saya pergi ke LN dg mengurus semua keperluan sendiri. Biasanya, sdh terima beres dari kantor, karena memang ada urusan. Nah, destinasi yg saya pilih tdk jauh tp harus berkesan ! Melaka. Kota yg ditempuh dlm waktu 2 jam dari KLIA2. 
      Gimana caranya saya bisa sampai ke sana ? Inih dia, detailnya ;
      1. JKT-KLIA2
      Pesan tiket pesawat yg everyone can fly dari situs resmi. Lama waktu sekitar 2 jam, berangkat 10:10am sampai KLIA2 13:15pm.
      Di KLIA2, ikuti saja petunjuk arah yang ada, sambil ikuti arus kemana orang-orang pergi. Nanti, ada eskalator naik, lalu ada eskalator turun langsung ke tmpt imigrasi. Setelah keluar dari imigrasi, saya temukan mall dg counter-counter barang branded. Semacam Grand Indonesia, kalau di Jakarta.
      Buat yg terburu-buru sampai ke KL dg cepat, mgkn ada urusan meeting or apa, bisa lurus terus ke pintu keluar. Di samping pintu keluar ada loket pembelian tiket KL Ekspres, seharga 55RM dg waktu tempuh 33menit ke stasiun KL SENTRAL. Dari KL Sentral, bisa pilih kemana saja tujuan teman-teman yg mau dicapai. Ibarat di Jakarta nih, KL Sentral tuh Manggarai. 
      Tujuan wisata saya, dan teman saya adalah Melaka. Belajar dari blog dan bbrp artikel, butuh kendaraan bus utk sampai ke sana. Hanya bus saja, tdk ada kereta atau MRT yg menuju ke sana. Saya pun, turun lagi ke lantai G dg eskalator. Jangan takut kesasar ! Banyak petugas keamanan yg berjaga.
      Sampai di lantai paling dasar, ada sederet loket yang menjual tiket bus, taxi, sewa kereta (mobil). Langsung saja, membeli tiket bus Transnasional tujuan Melaka Sentral, seharga 24.10RM. Di tiket sudah tertera nomor tempat duduk, gate tempat menunggu. Wah, pokoknya tertib dan teratur! Meskipun busnya lebih bagusan DAMRI sih bagi saya, hehehe.
      2. Melaka dan Wisatanya 
      Selama 2 jam perjalanan dari KLIA2, sambil bengong-bengong liat pemandangan (apa bener gue di Malaysia? Ini mirip ke Ciawi yah ? Heheheh) yang membedakan tuh, sepanjang jalan lancar jaya. Mgkn supir bus kapalan nginjek gas, hehehe. Duh bahagia deh kalau Jakarta jalanannya kaya gini terus. Sampai tibalah saya di Melaka Sentral, ibaratnya Terminal Kp. Rambutan gituh. 
      Waduh, sepi banget ! Macam ga ada kehidupan. Bingung juga kan, mau ke hotel gimana ? Boro-boro kuota buat pesan taksi online, sinyal ajah ga dapat.
      Yaa, saya tanya ke petugas kebersihan, dan memang bus Panorama 17 tujuan Bangunan Merah, agak lama. Bukan karena macet yaa, ini karena jalanan di Melaka tuh Sehala (satu arah) jadi dia berputar dulu.
      Sejam menunggu, datanglah bus Panorama 17. Disinilah pengalaman dimulai, banyak yg Negor dan tanya "Indonesia ya ? Indonesianya mana ?" Agak bingung sih, ditanya begitu. Biasanya ditanya "Jawanya mana ?" Padahal sih, sama saja hehehe. 
      Saya menginap di hotel Hallmark Crown, 3H2M, seharga 147RM include Breakfest, free wifi. Wilayahnya dekat dengan mall Dataran Pahlawan, jalan kaki 10 menit lah. Jadi turun saja di Dataran Pahlawan, ongkos busnya 2RM saja. Hotelnya comfie banget ! Disetiap sudut ada galon. Jadi bisa refil sepuasnya, ditambah kulkasnya menyala dg sempurna. Wah, recomend deh!
      Saran utk teman-teman yg mau pesan hotel di Melaka, pesan di daerah sekitar Dataran Pahlawan (rate murah), Bangunan Merah, dan Jonker Street. Tiga tempat itu, sudah dekat banget kemana-mana. Jadi bisa jalan-jalan santai, foto-foto, interaksi sama penduduk lokal. Yg penting, rajin jalan kaki yaa, hehehe.
      Hari pertama saya mengunjungi Bangunan Merah, jalan kaki dari Hotel 15 menit. Melewati mall-mall Besar, dan rupanya ada carnaval becak hias, mobil hias dan barongsai. Jadi nggak berasa jauh dan capeknya.
      Di Melaka, ada yang saya lihat di maps Google itu jauh, ternyata dekatan. Menara Taming Sari, Bangunan Merah, Jonker Street dan River Cruise. Yang jauh, cuma Masjid Selat Melaka. Masjid Selat Melaka memang harus menggunakan taksi online, karena jaraknya terpisah dengan daratan Melaka kota dan masuk ke kompleks perumahan. 
      3.Kuliner dan Oleh-oleh Melaka
      Sempat bingung mau makan apa di Melaka. Hari pertama saya sampai di Melaka, sudah malam dan banyak yg tutup. Masa iyah sih, jauh-jauh ke Melaka, makanya McD? Nggak ada nasi lagi. Akhirnya mampir ke 7Eleven (horeee, Nemu 'sevel !) Beli nasi lemak instant dan mie instan. Lupa berapa harganya, tapi cukup menahan lapar. Serius deh, sebenarnya nggak lapar-lapar banget ! Cuma karena nggak mau masuk angin ajah.
      Terakhir perut diisi sama sandwich Subway yg beli di KLIA2. Hufh, gara-gara ngincer destinasi wisata jadinya lupa makan. 
      Hari kedua, masih hunting foto disekitar Bangunan Merah, Taming Sari, River Cruise. Cerah banget langit di Melaka, dan udaranya juga segar nggak ada polusi (kapan Jakarta begini ? Mungkin ga yah ?). Di samping Bangunan Merah, ada tangga menuju bukit. Diatasnya bangunan reruntuhan yang menghadap lautan lepas. Keren banget !!! Duduk-duduk saja sambil lihat pemandangan. 
      Oh Iyah, untuk beli oleh-oleh seperti gantungan kunci, kaos tulisan Melaka, tas Melaka, tempatnya di Medan Samudera. Tenang, ga jauh kok ! Ga perlu nyebrang. Dari Bangunan Merah, ambil sisi kanan dan lurus terus sampai lihat bangunan kapal pesiar. Nah di sana, yang paling murah ! Kaos dapat 10RM, gantungan kunci dapat 8RM, 6 gantungan kunci. Meski di Bangunan Merah juga ada lapak yang menjual, lebih baik beli di Medan Samudera, karena harganya lebih terjangkau. 
      Selain beli oleh-oleh, di tempat ini ada warteg Melayu loh ! Syukurlah, ada warteg juga. Awalnya sempat underestimate gitu. Makanannya mirip makanan warteg, dan ga lebih menarik dari warteg Jakarta. Karena Nggak enak sama Ibu penjualnya, yg tiba-tiba udah nyendokin nasi, mau ga mau dibeli. 
      Yaa sayur tumis kacang panjang dan ayam goreng jadi menu makan siang. Pas dimakan, enak ! Ini karena efek capek mungkin yaa. Minum air mineral, biar nggak makin haus. Tadinya sih mau makan nasi Briyani dan teh tarik, tapi dia hanya jual di hari Minggu. Seporsi makanan warteg Melayu cuma 6RM. Waah, amazing ! akhirnya bisa menghemat, heheheh.
      Lepas makan, lanjut belanja-belanja di sekitar Medan Samudera. Biasa, buat yang dirumah, mau dibeliin kaos dan gantungan kunci utk disebar, hehehe. Jalan lagi ke Bangunan Merah, baru ketemu kedai es cendol. Katanya sih, es cendol di Melaka itu khas banget. Yaudah, saya beli yang es cendol kacang merah. Rasanya ??? Waah, enak banget !!! Pass buat saya yang ga terlalu suka manis. Kuah santannya gurih, cendolnya segar dan kacang merahnya manis. 
      Wah, okeh banget lah ! Rencana kalau ngidam, maunya ngidam es cendol Melaka. Hahahah
      Menjelang sore, saya bersiap menuju Mesjid Selat Melaka. Menikmati sunset sambil menunggu waktu magrib. Magrib di Malaysia, setengah tujuh. Tapi langitnya seperti setengah enam, Jakarta. Waktu di Malaysia tuh cepat banget ! Mungkin ini planet Merkurius, satu menit tiga puluh detik. Semua terasa cepat.
      Saya dan teman-teman menuju Masjid Selat Melaka menggunakan taksi online. Sampai di sana, waah indah banget ! Lebih indah dari foto-foto Google. Garis cakrawala sudah menyapa di langit. Air laut biru bersih tanpa sampah. Saya berdiri di halaman belakang Masjid menatap langit sore. Diterpa angin laut, dan ada beberapa wisatawan lain berlalu-lalang. Sayang, lagi nggak sholat Magrib di sini. 
      Akhirnya cuma nunggu teman yang sholat Maghrib, sambil jaga sendal hahaha.
      Malam terakhir di Melaka, saya menuju rumah makan Eeji Ban Chicken, penjual makanan khas Melaka. Ada Rice Balls, Asam Pedas, Nasi Lemak, harganya pun terjangkau. Berkesan makan ditempat ini, karena rumah makan Eeji Ban recomend dari supir taksi online. 
      4. Check Out Melaka
      Hari terakhir di Melaka, saya merasa sedih banget ninggalin tempat ini. Padahal rumah ini kampung orang, negeri orang, huhuhu. Nggak mau repot karena tas udah beranak, jadinya saya dan teman-teman naik taksi online ke Melaka Sentral.
      Di Malaysia pada umumnya, jarang ada sirik-sirikan or persaingan. Contohnya di terminal Sentral Melaka. Tadinya mau naik bus Delima,  bus terkenal dikalangan blogger yg pernah kesana. Tapi sama kenek Delima, disuruh ke bus satunya lagi yg kurang eksis. But its OK ! Yg ptg sampai, heheheh.
      Dua jam perjalanan menuju terminal bus TBS (Terminal Bersepadu Selatan), amazing !!! Terminal Bus rasa Bandara Terminal 3. Bersih, tertib, rapi. Dibawahnya, ada stasiun menuju KL Sentral. 
      5. Sehari di Kuala Lumpur 
      Berhubung pesawat tengah malam, jadi siang masih bisa jalan-jalan sebentar di Kuala Lumpur. Hunting foto di KLCC, Dataran Merdeka dan jalan-jalan ke Mall *lagi. 
      Dari Terminal TBS, naik KL transit ke stasiun KL SENTRAL seharga 6.5RM. Dari KL SENTRAL, bisa ke Batu Caves, KLCC, Mesjid Jamek, KLIA2. Ada peta seperti peta yang ada di halte Transjakarta, di sana juga ada petugas yang membantu dan menanyakan "Can i help you ?" So, tak perlu takut tersesat. 
      Stamina udah low, meski cuma naik turun kendaraan umum tp cukup bikin lemas. Selain makan, kita juga butuh vitamin, kalau capek lebih baik istirahat.
      Di KL SENTRAL, ada loker penitipan dg kunci sensor wajah. Jadi kita ga perlu deh tengteng tas beranak kesana kemari. Harganya 20RM utk loker kecil dan 30RM utk loker besar. Sangat disarankan berpergian sama teman, biar segala biaya bisa ditanggung bersama. Tapi milih juga yaa, teman yang gimana buat diajak jalan jauh. Apalagi, ke LN yg jalan kakinya jauh-jauh.
      Baiklah, itu pengalaman pertama saya traveling ke Melaka, Malaysia. Saya sangat suka tempat itu, lebih indah dari yg saya bayangkan. Terutama yg hobi fotografi, ini banyak spot-spot bagus di Melaka. 
      Oh Iyah, makasih banyak buat Mba Vira. Mgkn dia jarang aktif di forum ini. Saya pun juga newbie. Ketemu jalan2.com karena random ajah, hehehe. Lagi bosen, drpd stalking sang EX atau baca berita hoaks, iseng-iseng cari soal Melaka. Tiba-tiba muncul situs ini, dan saya kenalan sama Mba Vira. Nggak ada sedikitpun curiga bakal gimana nnt disana, tinggal jalan ajah. Hehehe
      Nah buat teman-teman, semoga tulisan saya membantu dan jadi referensi kalau kalian mau ke sana. Ingat, No need bilang, barang ini murah atau mahal. Soalnya beda "Peradaban".
       








       
    • By seyakasamira
      Lalala-yeyeye..Setelah menunggu selama 7 Bulan lamanya, akhirnya nemu juga 5 orang korban lain (*eh?!) yang bersedia nge-trip bareng ke sini..uwowww jd terharu sayaa..  so, langsung saja..
      Day 1.
      Kita berangkat hari Jumat tgl 26 Sept'14, naik pesawat TriganaAir dari Jakarta menuju PangkalanBun. Sesampainya disana langsung dijemput oleh Tour Guide kami (Pak Andreas dari Yobel Tour), dan kita dicarterin taxi untuk menuju pelabuhan Kumai dengan jarak tempuh yg lumayan singkat yaitu 30 menit saja..Da..engingjrennggg... langsung terkesima dengan kapal yang akan kita kendarai selama 3 hari 2 malam mendatang..huhuhu..ga nyangka kapalnya oke banget,bersih dan ga se-prihatin yg saya bayangkan (mulai norak).
       
      Jadi awak kapal terdiri dari 1 orang kapten kapal, 1 orang crew kapal, 1 orang juru masak, dan Pak Andreas sbg Tour Leadernya. Kapal yg populer dinamakan kapal kelotok (karena bunyinya klotok..klotok..klotok) ini cukup luas buat kami ber 6 plus 4 orang awak kapal. Ada 2 dek, dek bawah itu untuk aktivitas awak kapal (buat nahkodanya, tempat menyimpan kasur2 tamu, tempat masak, dll). Dek atas disediakan untuk tamu. Fasilitasnya juga Ok bgt, kamar mandi pakai shower dan ada closet duduk, disediakan meja makan, ada balkon dengan 2 kursi leyeh2 untuk berjemur (what?berjemur??udah ky areng ginih -____- ! ) Oiya, jangan sedih..kita dapat 3x makan dan 2x snack dalam 1 hari. dan masakannya sungguhlah berlimpah dan super yummy..





       
      Di hari pertama ini kita langsung menuju Tanjung Harapan untuk lihat feeding time nya orangutan. Trekking masuk hutan sekitar 1 km dan sesampai di tempat feeding cuaca mulai mendung dan turunlah hujan. Eh, ternyata disana sudah menunggu beberapa rombongan tourist yg mau lihat proses feeding time ini. Dan dikarenakan wisata tanjung puting ini lebih populer atau diminati tourist luar, maka pemandangan disini adalah bule bule semua   . Disini kita menunggu ?-/+ 30 menit hingga orangutan yg masih ngumpet pada mau turun dari atas pohon menghampiri "panggung" yg berisi pisang2. Beruntung kita bisa melihat orangutan yg muncul dikarenakan kalau hujan biasanya mereka prefer leyeh2 di atas pohon (macam manusia yg kalo hujan lebih senang nedekem di rumah). Uwoww, beda lho rasanya ngelihat orangutan di ragunan/taman safari dengan orangutan disini. Kalo disini ada perasaan degdegan kalo mereka melintas dengan tubuh besarnya itu. Dikarenakan orangutan liar belum terbiasa disentuh oleh manusia (tdk sperti kbon binatang di jakarta), maka juga ada anjuran jangan sembarangan memberi makan orangutan, jangan berdiri diantara orangutan jantan dan betina, jangan bersuara terlalu keras/ribut yg akan mengganggu ketenangan orangutan dan beberapa rambu2 lainnya.







       
      Diperjalanan pulang, ketika melintasi sungai sekonyer kita bisa melihat sekawanan bekantan di kiri dan kanan pepohonan, kalau beruntung bisa melihat buaya pula. Dan saya beruntung melihat buaya dengan mata merahnya sedang mengincar mangsa.
      Malam harinya kita ber candle light dinner dengan lauk ikan nila bakar, tumis kangkung, tempe goreng, uhmm apa lagi ya lupa hehehe dan ditutup dengan dessert potongan buah mangga. Bener2 beruntung dapet chef yg jago masak.  Setelah kenyang, kapal menuju tempat dimana kita bisa melihat kunang2 dimana-mana..woww ga bisa dilukiskan dengan kata2 kita lihat pemandangan sejuta bintang dan kunang2 yg seprti pohon natal di kiri kanan kita..(sayang ga bisa ke photo). suasana malam hari disana sangat sunyi dan syahdu. Hanya ada suara jangkrik dan serangga2 lain yg bersahut2an dan Anyway kita tidur disediakan kasur beserta kelambu..Thanks God we had a marvellous momment and unforgettable experiences.
       
      Day2.
      Yang biasanya pagi2 di jakarta dibangunin sama kokok ayam, eh jangan sedihh disini kita subuh2 dibangunin sama suara bekantan jejeritan yg sedang bersendagurau..woww so sweet bgt ga sih dibangunin suara monyet.. hehehe..Setelah sarapan nasi goreng ikan asin yang banyaknya naujubilah (tapi abis dan kenyang) dan ngeteh2 cantik, maka berangkatlah kita menuju Pondok Tanggui dan dilanjutkan ke Camp Leakey. Di Pondok Tanggui trekkingnya seru, byk spot2 lucu buat foto2, nemu tumbuhan kantong semar, rayap, akar liana, dll tapi sayang setelah menunggu selama 1 jam, orangutannya ga ada yang mau turun di tempat feeding. Mungkin karena masih pagi dan byk bgt wisatawan yg berkunjung kesana jadi mereka malu-malu mau gitu kali ye..







       
      Perjalanan dilanjutkan ke Camp Leakey, pusat rehabilitasinya orangutan. Perjalanan lumayan jauh sekitar 8 km, namun pemandangannya mulai berubah, pohon2 lebih rindang, kiri kanan bisa lihat burung kingfisher, lihat buaya dan biawak berenang, pokoknya settingannya mirip film annaconda deh ngeri-ngeri sedap gitu heheheh.. dan air sungai berubah menjadi lebih jernih dan berwarna hitam. Warna hitam dikarenakan dasar tanahnya gambut namun bening sekali. Sampai bisa ngaca dan hasil fotonya mengagumkan bgt,krn pohon2 yg terpantul di air seperti ada reflection effectnya.  Begitu menginjakkan kaki disini, kita disambut oleh kedatangan Siswi, orangutan betina dewasa yang dari kecil sudah diasuh disini. Dikarenakan hujan, dia mulai ngumpet2 nyari tempat berlindung dan menutupi kepalanya dengan mencabut2 dahan2 yg ditumbuhi banyak daun. Uwoww lutunaaa.. Perjalanan ternyata masih panjang. Pak Andreas mengarahkan untuk ambil jalur masuk hutan sambil lihat2 tumbuhan endemik yang ada di hutan sini,jadi sekitar 1,5 km untuk sampai ke tempat feedingnya orang utan. Beruntung bisa lihat beberapa orangutan,uwa-uwak,squirel yg ke "atas panggung" buat ambil makanan. Yang menyenangkan lihat proses feeding ini adalah, kita jadi tahu gimana cara manggil orangutan supaya turun, gimana liat proses mereka bergelayutan dari pohon ke pohon, gimana cara mereka mengupas pisang dan memasukkan ke mulut, gimana cara ibu orangutan memberi makan anaknya, gimana mimik muka/ekspresi mereka mengendap2 atau mencuri makan lalu kabur, dan banyak lagi tingkah laku kocak lainnya. Adapula kedatangan babihutan yang ikut meramaikan suasana. Setelah sekitar 2 jam muncullah orangutan yg kita tunggu2 yaitu Tom, the king of Camp Leakey. Ya, si Tom ini penguasanya. Selayaknya raja, binatang lain akan mundur atau menyingkir ketika rajanya datang dan membiarkan si raja menghabiskan makanan yg disediakan. Jika ada orangutan dewasa disekitar sana yang dirasa mengancam kedudukannya, serta merta akan terjadi baku hantam disana. Hampir saja kami melihat proses baku hantam itu, yaitu ketika Ponorogo (salah satu orangutan dewasa ) terbirit2 dikejar oleh Tom karena lebih dahulu mengambil jatah makanannya. Namun sayang tidak terkejar dan Tom kembali duduk di singgasanannya sambil minum susu. Ya, makanan yg disediakan oleh Ranger hutan (petugas yg memberi makan orangutan) itu biasanya adalah pisang, tebu, dan susu dancow. wow. hehehe..Perjalanan trekking pulang, kita dihampiri juga oleh orangutan remaja bernama Gajah Mada. Serem ya namanya, tapi ternyata unyu2 gitu penampilannya hihihi..

      siswi

      the team
      Tom
      Gajah Mada
       
      Day 3.
      The Last Day, pagi2 seperti biasa kita dibangunkan oleh sekawanan bekantan, namun kali ini pemandangannya bekantan lagi pada lompat-lompat main air, ceritanya mau nyebrang pohon melintasi sungai, cuman ada aja jatoh2nya di sungai.. LUCU BGT, tapi ga sempet kefoto saking terseponanya. Oia, karena kita malam itu kapal berlabuh di pinggir rawa2 masih dekat Camp Leakey, maka paginya pun kita juga dibangunkan oleh kikikan burung kingfisher, iya kikikkan bukan kicauan karena ternyata suaranya macam kuntilanak yg lagi ngikik. hiiiii...
      Sepanjang perjalanan pulang ke pelabuhan kumai, puas2in berjemur (literally berjemur, panas sih untung byk angin dan hewan kece) demiii menikmati pemandangan yang sebentar lagi akan kami tinggalkan huhuhu..
      Jam 12 siang kami sampai di bandara pangkalan bun dan belum siap move on untuk menghadapi hiruk pikukknya jakarta
       
    • By silvia_win
      Penang, Hatyai family trip Jun 2018
      Liburan sekolah kali ini sebenarnya agak malas jalan2 berhubung dollar lagi mahal...
      Iseng browsing tiket, ketemu tiket air asia jakarta penang pp 500 rb (promo big poin) ada 3 seats (3 tiket jakarta penang pp seharga 1.5 jt), hmm lumayan lah,  lalu beli 2 tiket lagi sekitar 3 juta (sudah termasuk 1 bagasi 20 kg pp) . Kami sekeluarga berangkat ber5 dari jakarta + papa mama yang berangkat dari medan.
       
       
       
       
      Day 1 Jakarta-Penang
      Sampai di Penang booking airport taxi dari airport ke Hong Ping Hotel. (400 rb quad room)
      Setelah check in naik taxi ke mall di sekat hotel untuk lunch, di daerah komtar ada berapa mall, tapi umumnya mallnya tidak besar.
      Setelah makan siang pulang ke hotel untuk istirahat, lalu dengan petunjuk peta dari hotel saya berkeliling di objek wisata street art yang letaknya tidak jauh dari hotel. Street art berada pada jalanan kecil/ gang berupa gambar mural di dinding rumah warga yang kebanyakan adalah bangunan tua. Sepanjang jalan banyak toko2 souvenir, makanan, sewa sepeda, rumah makan, juga banyak rombongan turis. Selain gambar mural juga terdapat gambar art dari besi yang dijadikan nama jalan dengan gambar menarik. Saya menelusuri jalanan dengan mural art yang berujung ke dermaga kuno di chew jetty, dermaga yg sudah ada sejak pertengahan abad ke 19, ada beberapa jetty di sana yg masing2 mewakili marga warga yg tinggal di sana yang datang dari China. Jetty di sana dari kayu dan rumahnya adalah rumah panggung dari kayu.
      Malamnya kami makan di street food di depan hotel. Di depan hotel ada banyak street food yg buka dari sore hingga larut malam.
       
       
       
       
      Day 2 Penang tour.
      Hari ini sewa mobil untuk jalan2 di penang (rm 45/jam untuk yg 7 seats, sewa di travel dekat hotel, sebelumnya tanya di hotel katanya adanya yg 10 seats rm 60/jam), kami berangkat siang, karena paginya mama mau mcu ke rumah sakit.
      Siang saat berangkat turun hujan, supir rent car mulai promo toko souvenir, berhubung hujan saya iyain saja, mampir ke toko coklat, kopi, teh dll, yang harganya mahal... tentu saja tidak beli apa2, hanya cicip cicip saja, emang enak sih sebanding dengan harganya.
      Stop 1 : Sleeping Buddha temple, vihara ini letaknya di tengah kota.
      Stop2 : Kek Lok Si temple, vihara yang terletak di daerah perbukitan, kami di drop di bagian atas, di sini  ada tempat pemujaan dan terdapat patung besar dewi Kuan Yin, dari sini juga bisa dilihat pemandangan kota penang. Setelah menikmati pemandangan, kami naik sky lift (@rm2) untuk turun ke pertengahan kompleks bangunan vihara yang terdapat objek wisata pagoda sepuluh ribu Buddha. Dari sini naik sky lift lagi turun ke parkir bawah.
      Stop 3 : Batu Ferringhi, supir mengusulkan kita ke bukit bendera yang tidak jauh dari kek lok si, tapi saya tidak berminat, sebelumnya di kek lok si sudah cukup lama  melihat pemandangan kota dari atas bukit, memang objek wisata di bukit bendera mungkin akan berbeda dengan kek lok si, tapi berhubung tidak banyak waktu saya lebih memilih pergi melihat pantai. Batu Ferringhi letaknya cukup jauh dari Kek Lok Si, perjalanan satu jam lebih, kami sampai di sana menjelang sun set, main bentar di pantai dan menikmati sun set, saya merasa pantainya biasa2 saja, pasirnya terasa agak kasar.
       
      Day 3 Penang-Hatyai
      Hari ini kami berangkat ke hatyai,  kami memesan tiket van penang hatyai pp di hotel @rm70 (dijemput di hotel penang dan didrop di hotel di hatyai). Berangkat jam 9 pagi, berhubung kami pertama dijemput, tentunya kami memilih tempat yang nyaman sesuai selera masing2. Seatnya cukup lapang dan nyaman, tidak lama kemudian perjalanan kami melewati jembatan pulau penang, jembatan yang panjangnya 13.5 km merupakan land mark penang yang pemandangannya sangat indah. Jalan dari penang ke hatyai cukup mulus, sebelum sampai di imigrasi perbatasan malaysia, supir berhenti di satu pos untuk mengisi formulir, kami perlu membayar formulir @rm2, lalu perjalanan dilanjutkan ke imigrasi malaysia keluar lalu masuk ke imigrasi thailand, dari perbatasan thailand ke kota hatyai, kami singgah di kantor travel, untuk di data mau di drop di hotel apa, di sini saya menganti jadwal kepulangan kami, di mana 2 di antara kami ingin pulang besok sore. (staff travelnya tidak masalah ganti waktu dia mencatat perubahan jadwal di catatannya). Kami lalu di drop di hotel (Siam Hotel harga 300 ribu untuk kamar ber2). Hotel ini cukup besar dan punya banyak kamar. Kami mendapat kamar di tingkat 13, pemandangan dari kamar cukup indah dengan pemandangan gunung dan kota hatyai).
      Setelah check up keluar cari makan siang, jalan kaki ke lee garden plaza hotel di mana di sini byk toko, mall, pasar dll, mall di sini tidaklah besar, kami masuk ke mall ke food court cari makan dan ke supermarket lihat2. Makanan di mall harganya sekitar 50-60 bath, makanan thailand sangat sesuai dengan selera. Setelah makan ke supermarket belanja bumbu tom yam dll, saat bayar saya menanyakan kasir di mana ada money changer, seorang pengunjung berbaik hati mengantarkan kami ke money changer yang ada di dekat sana, money changernya cukup ramai dan di sampingnya ada travel, kebetulan lagi mau cari car rental, lalu saya rent car 10 seats seharga 2000 bath (+wajib asuransi 30 bath/orang), sebenarnya kami ber7, ada yang 7 seats seharga 1700 bath, tapi saya request yg chinese speaking driver, katanya supir yang 10 seats bisa, yg 7 seats ngga bisa.
      Setelahnya saya kembali ke hotel untuk isitirahat, sorenya kami keluar untuk dinner ke lee garden plaza hotel lantai 33 buffet resto. Harga makan buffet di sini tidak mahal, dewasa @169 bath, lansia@119bath, anak kecil @69 bath. Makanannya cukup banyak dan enak + aneka kue, buah, minum, es krim. Juga pemandangan yang indah dari lantai 33 membuat kami betah lama di sini. Dari pemandangan langit terang, sun set ke langit gelap dengan lampu di bangunan kota hatyai, sungguh merupakan dinner yang berkesan bagi saya.
      Selesai dinner kami mengitari sekeliling lee garden hotel plaza yang banyak terdapat toko2, kuliner, dll. Kulinernya cukup mengiurkan tapi perut sudah kenyang cuma lihat2 dan berpikir besok baru coba.
       
       
       
       
      Day 4 Hatyai Tour
      Berhubung tidak ada sarapan di hotel, pagi saya keluar mencari sarapan, ternyata di dekat hotel ada pasar pagi, pasarnya cukup besar dan ada aneka sarapan, pemandangan menarik di pasar ada bhikkhu2 melakukan pindapata (mengumpulkan sumbangan makanan dll). Rombongan bhikkhunya cukup banyak ada juga yang usia muda juga rombongan bhikkhuni, umat yang memberikan makanan juga cukup banyak, baik penjual maupun pengunjung pasar. Saya sangat tertarik untuk mengitar lama di pasar, banyak kue2 dan barang jualan lain yang memikat, tapi berhubung waktu tidak banyak, saya membeli aneka sarapan dan buah leci, lalu pulang ke hotel membagikan sarapan dan makan sarapan. Kue2 dan sarapan yang dibeli sangat enak, makanan thailand emang cocok di lidah dan harganya pun cukup murah. Lalu bersiap2 turun ke lobi menunggu car rental yang dipesan kemarin.
      Ternyata yang datang mobil 7 seats dengan driver yang hanya bisa berbahasa thailand, saya tel tanya ke travelnya katanya yg 10 seats lagi tidak available, ya sudahlah...
      Saatnya saya memakai keahlian bahasa isyarat... : ) , pertama saya minta supirnya berhenti di 7-11, mau beli air minum, saya malas beli di pasar tadi bawanya berat, lalu dia tanya kami mau ke mana, saya jawab wat (temple).
      Stop 1 : Sleeping Buddha temple : wat ini mempunyai satu patung buddha tidur di dalamnya. Setelah melihat2 saya duduk2 di kedai minum kelapa, supir mengeluarkan selembar brosur dengan foto2 tempat wisata dan menanyakan mau pergi ke mana, saya pun memilih beberapa tempat wisata yang kelihatannya besar. Berhubung mau kembali ke hotel sekitar jam 2 sebenarnya kami juga tidak berencana pergi ke banyak tempat.
      Stop 2 : Pantai samila (mermaid statue) : pantai ini terdapat patung putri duyung yang merupakan ikonnya, walau cuaca panas di sini terdapat kursi2 dan tempat teduh di bawah perpohonan di sepanjang pantai, pantainya bersih dan pasirnya halus.  Saya betah duduk agak lama dan berjalan di pasir di pantai.
      Stop 3 : 4 face Buddha (kalau tidak salah) : berhubung jalan ke sananya naik tangga, kami malas pergi, hanya singgah bentar.
      Stop 4 : Standing Buddha temple (Phraj Buddha Mongkol Maharaj) : vihara di atas bukit dengan patung besar Buddha berdiri. Di sini bisa melihat pemandangan dari atas bukit, di samping vihara ada halte cable car dan coffee shop, kami duduk2 ngopi dan melihat pemandangan kota.
      Stop 5 : Kuan Yin temple : vihara dewi kuan yin ini letaknya tidak jauh di bawah standing buddha temple, terdapat patung dewi kuan yin warna putih
      Berhubung waktu sudah siang, kami bersiap pulang ke hatyai.
      Diperjalanan ada melewati yang jual durian, saya tanya ke supir berapa harga durian di sana, katanya harganya 400 bath, cukup mahal juga harganya.
      (saya tertarik belajar bahasa thailand, sebelum pergi saya sempat belajar sedikit bahasa thai di youtube, tapi cuma bisa mencerna sedikit tentang angka dan greeting, lumayan juga bisa di pakai di pasar) 
      Ternyata perjalanan pulang ke hatyai cuma sekitar setengah jam, kami meminta supir mengantar kami makan siang, minta di antar makan tom yam kung, dia mengantarkan kami ke sebuah resto untuk makan siang, yang mana makanannya enak dan tidak mahal, yang paling berkesan tentu saja tong yam nya, juga ada lauk dari daging kelapa yang ditumis, yummy... (kalau teringat makanan thailand sering ingin balik ke thailand)
      Setelah makan siang kami kembali ke hotel, papa mama bersiap2 mau pulang ke penang duluan, berhubung mau wisata rumah sakit di penang katanya.
      Saya berjalan kaki ke travel tempat saya pesan sewa mobil, minta refund selisih harga mobil, lalu kembali ke hotel duduk2 di lobby temani ortu tunggu jemputan travel untuk kembali ke penang. Di Siam Hotel tempat kami tinggal, internetnya hanya ada di lobby, tidak ada di kamar.
       
       
       
      Saya ingat saat ini saya membaca sebuah berita ttg tim sepak bola remaja thailand yang hilang yang mana sampai saya pulangpun belum ditemukan, dan akhirnya mereka berhasil keluar dengan selamat. Sekalian saya post di sini sebuah dokumentasi ttg thai cave rescue sebagai note saya.
        https://www.youtube.com/watch?v=x_kiX0uUDNI
       
      Ada beberapa tuk-tuk (songthaew) yang stand by di hotel dan menawarin untuk mengantar jalan2, lagi malas jalan jauh, sore shopping ke mall dan toko sekitar hotel (lee garden plaza hotel) .
      Day 5 Hatyai-Penang
       Pagi mampir ke pasar pagi lagi, membeli sarapan, juga membeli pete kupas buat di bawa pulang.
      Lalu perjalanan hatyai kembali ke penang.
      Sampai di penang istirahat di hotel, sorenya jalan2 di sekitar hotel ke mural art street, chew jetty melihat sunset di sini lalu makan di food court di seberang chew jetty, food courtnya besar dan banyak makanannya.
      Day 6 Penang-Jakarta
      Pagi berangkat dari hotel ke airport, booking airport transfer dari hotel seharga rm 70 untuk mobil 10 seats. Supirnya membagikan kartu nama dan menawarkan car rental bisa dibooking untuk ke hatyai katanya, saya tanya harganya katanya tergantung hotelnya. Saya tanya harga kalau keliling penang, katanya rm30/jam... lumayanlah buat next time...
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       




    • By Hanzo Urang Ciwidey
      Izin Admin buat FR lagi meskipun ya ini perjalanan ane 3 bulan yang lalu 
       
      Berawal dari salah satu ajakan dari Hima kampus untuk menjadi petunjuk arah jalan-jalan one day trip menyelusuri cianjur selatan selama 1 hari full maka pada awal tahun 2015 ane sepakat berangkat bareng hima kampus untuk menelusuri cianjur selatan memakai motor dengan jarak yang di tempuh sekitar 200km pulang pergi.
       
      Berangkat : ciwidey-parigi-pantai jayanti-rancabuaya

       
      pulang : rancabuaya - cisewu - pangalengan - ciwidey

       
      07:00
       
      pagi2 ane langsung siap2 nyiapin motor untuk menunggu teman-teman Hima dari Bandung yang berangkat jam 5 shubuh dari sana "untuk menanggulangi macet di karenakan liburan tahun baru area ciwidey dan sekitarnya pasti macet parah".
       
      Ciwidey di pagi hari

       

       
      teman2 dari kampus sudah pada dateng

       
      Setengah jam kemudian setelah dari Hima kampus sampai di meet point dan mengecek persiapan kita dari bensin dan perlengkapan lainya kita pun berangkat, jarak yang dilalui memang termasuk unik awal-awal kita memasuki dataran tinggi melewati Perkebunan teh rancabali sampai ke perbatasan Kabupaten Bandung dan Cianjur lalu di lanjut melalui hutan-hutan kecil dan lembah2 yang di kelilingi oleh banyak air terjun sehingga kerap jalan yang kita lalui ini suka disebut jalan seribu air terjun.
       
      Armada + peralatan tempur   

       
      Kebun Teh Rancabali

       

       

       
      Pondok Datar  "pemandanganya lebih keren dari tebing keraton"   

       

       

       

       
      tugu perbatasan Kab Bandung dan Kab Cianjur "selamat datang ke jalur 1000 air terjun

       
      Air terjun dimana-mana     
       

       

       

       
      Curug Ceret "air terjun yang persis di pinggir jalan"   

       

       
       
       
      mungkin karena teman2 ane yang dari Hima kampus belum terbiasa perjalanan jauh maka kita pun beristirahat dahulu di salah satu warung baso di pinggir jalan sambil mengisi energi karena setelah jalur 1000 air terjun abis perjalanan berlanjut ke turunan hingga sampai pantai jayanti.
      Istirahat dlu bray 



       
      Perjalanan di lanjut banyak turunan bray

       
       
       
      Jam 11 pas akhirnya kita sampai juga di Cidaun kampung pesisir di cianjur selatan yang lebih terkenal dengan pantai Jayanti cuman sayang peran dari pemerintah sepertinya belum optimal sehingga fasilitas di pantai ini bisa disebut kurang memadai.
       
      Pantai Jayanti

       

       

       

       
       
       
      hanya 1 jam setengah kita di pantai jayanti ini karena tujuan utama ke rancabuaya maka perjalanan pun dilanjutan dengan menyulusuri pantai kita menuju rancabuaya , jalan yang lurus dengan disisi kanan jalan adalah pantai di sepanjang jalan menemani kita dengan jarak tempuh dari pantai jayanti ke rancabuaya selama 30 menit dan kita juga harus melintasi kabupaten cianjur karena rancabuaya masuk ke Kabupaten Garut
       

       

       

       
      Sampai juga di rancabuaya

       

       

       

       
      tidak terasa waktu sudah menunjukan sore hari.... supaya tidak kemalaman di jalan maka dengan berat hari kita pun harus berangkat pulang kali ini untuk pulang kita tidak mengambil jalan yang sama tapi jalan ke arah cisewu jam 4 kita sudah packing sudah siap2 sudah pulang.
       
      Perjalanan pulang

       

       
      Perbatasan Kab Garut - Kab Bandung "pangalengan"

       
      Kabut bray

       
      dan akhirnya setelah kurang lebih 9 jam berkendara (tidak termasuk berhenti dan main di lokasi) ane pun sampai kembali ke rumah pada jam 8 malam pengalaman yang tidak terlupakan karena dengan motor ane yang kapasitas tangki cuman 2 liter dan harus beberapa kali isi bensin tapi liburan di awal tahun 2015 sangat puas.
       
      kapan2 kalau ada yang mau one day trip lagi ane siap nemenin 
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       
       








    • By Mulyati Asih
      Sayup-sayup terdengar teriakan dari bangku depan mini bus yang kami tumpangi.
       
      “Sudah sampai jangan lupa ongkosnya sepuluh ribu ya,” suara mas Budi membangunkan tidur saya.
       
      Perjalanan satu jam dari Gombong ke desa Candirenggo sengaja saya manfaatkan untuk tidur, maklumlah di perjalanan sebelumnya dari Jakarta tidur saya sangat terbatas. Hujan rintik menyambut kedatangan kami ketika kaki kiri melangkah turun dari bus. Sejenak saya melihat ke sekeliling dan melirik jam tangan waktu menunjukkan pukul 06.45 pagi, kemudian berlari kecil menyusul rombongan menuju home stay.
       
      Caving atau susur goa akan dimulai pukul sepuluh, tidak hanya rombongan kami dalam kegiatan ini ada juga rombongan Patrapala (Pertamina Pecinta Alam) Cilacap. Sambil menunggu rombongan Patrapala kami duduk di teras home stay, masih cukup waktu untuk kami beristirahat dan santai. Hujan belum juga berhenti, pandangan saya tertuju pada sebuah bukit ditutupi rimbunan pohon yang kemudian baru saya ketahui di sanalah lokasi Goa Petruk. Goa Petruk dan Goa Liyah sendiri masuk dalam Kawasan Karst Gombong Selatan (KKGS) kabupaten Kebumen Jawa Tengah.
       
      Persiapan
       
      Ini adalah kali pertama saya, Elvi, Patricia, Louis, Mas Indar dan Apri mengikuti caving Goa Petruk dan Goa Liyah, sedangkan mas Budi justru sudah berkali-kali dan mas Budi lah yang mengajak kami sampai ke tempat ini. Masing-masing dari kami mengambil perlengkapan caving dan kini wearpack, boots sudah kami kenakan,helmet dan headlamp pun sudah menempel di kepala kami. Tidak ketinggalan kamera anti air siap mengabadikan perjalanan kami, caving diperkirakan akan berakhir pukul lima sore jadi makanan ringan dan minuman wajib dibawa dan siap memenuhi dry bag kami. Sebelum caving dimulai  mas Yos pemandu kami yang pernah bekerja sebagai crew Jejak Petualang salah satu program televisi swasta mengajak kami untuk berdoa dan menyampaikan beberapa etika yang harus dipegang teguh oleh para penelusur goa.
       
      “Baiklah sebelum caving dimulai ada etika-etika yang tidak boleh dilanggar yaitu jangan mengambil apapun kecuali foto, jangan membunuh apapun kecuali waktu dan jangan meninggalkan apapun kecuali jejak,” etika-etika yang disampaikan mas Yos sudah tidak asing lagi di telinga saya, karena etika-etika tersebut sudah menjadi motto bersama para pecinta alam.
       
      Dalam memandu kami mas Yos dibantu oleh seorang dari Mapala Trabas yang bertugas membawa perlengkapan keselamatan caving antara lain tali, tali webbing,seat harness, carabiner dan lain-lain. Semuanya sudah siap dan berjalanlah kami menuju pintu masuk Objek Wisata Goa Petruk, 21 orang dari rombongan Patrapala berjalan di depan kami.
       
      Caving Goa Petruk
       
      Di depan pintu masuk Objek Wisata Goa Petruk berdiri terbentang peta wisata Goa Petruk lengkap dengan keterangan aliran sendang (mata air), aliran sungai dan objek batu-batuan. Dari pintu masuk kami harus berjalan mengikuti tangga buatan, rindangnya pepohonan di kiri dan di kanan jalan menjadikan perjalanan terasa sejuk. Di kiri jalan terlihat air terjun kecil mengalir ke dasar jurang, di sepanjang jalan juga terdapat tempat-tempat istirahat. Lima belas menit yang melelahkan akhirnya sampai juga kami di mulut Goa Petruk.
       

      Mulut Gua Petruk
      Cahaya surya di mulut goa perlahan pudar sejauh langkah kaki kami menyusuri lorong-lorong goa. Goa  horizontal sedalam 644 meter yang secara administratif terletak di Dukuh Mandayana, Desa Candirenggo, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen Jawa Tengah ini masih sangat alami, tak ada penerangan sama sekali di dalamnya. Goa yang menyimpan banyak ornamen-ornamen berupa stalagtit,
       
      stalagmit dan flowstone yang akan terus dijaga kealamiannya. Penamaan Goa Petruk itu sendiri diambil dari nama tokoh pewayangan Petruk, konon di goa ini terdapat batu yang menyerupai hidung mancung tokoh wayang Petruk tapi karena ulah Belanda yang melakukan penambangan phosfat sehingga batu yang menyerupai hidung mancung Petruk itu patah dan sekarang sudah tidak terlihat lagi.
       
        Masuk sedikit ke dalam menelisik kegelapan kami disambut stalagtit Tirai Pintu, seolah menjadi pembatas antara dunia gelap dan dunia luar yang bercahaya. Di sini mas Yos mengajak kami untuk meresapi kegelapan, mematikan semua sumber cahaya yang kami bawa. Dalam gelap kami mensyukuri atas nikmat penglihatan dan panca indera mata yang Allah SWT berikan. Berjalan terus ke dalam melewati aliran sungai setinggi kurang lebih sepuluh sentimeter, di kanannya terdapat jalan yang sengaja ditutup oleh pagar besi. Awalnya saya mengira pagar besi itu sengaja dipasang untuk pegangan kita saat melewati aliran sungai tapi ternyata pagar besi itu sengaja untuk menutup jalan menuju lorong aliran sungai. Dalam sorotan headlamp saya terus mencari keindahan disetiap sudut goa, tak jauh dari saya berdiri ada papan bertuliskan cat merah dengan tulisan Sendang Katak. Diantara cekungan batu yang bertingkat-tingkat terdapat genangan mata air, konon dulu di tempat itu banyak kataknya sehingga dinamakan Sendang Katak.
       
      Semakin jauh berjalan, tak hanya suara gemericik aliran sungai ataupun tetesan air yang terdengar tapi bau pesing kotoran kelelawarpun mulai tercium. Di dinding goa anak-anak kelelawar bergelantungan dan beterbangan, saya berjalan cepat melewatinya. Di depan terlihat dua batu putih tinggi mencolok dalam sorotan lampu petromaks namanya batu Lukar Busono , di tengah-tengahnya dari atas mengalir air yang konon bagi yang mempercayainya air tersebut dapat membuat awet muda ataupun dapat menyembuhkan penyakit. Saat kami melewatinya ada empat orang duduk di depan batu Lukar Busono ditemani pemandu yang membawa petromaks, entahlah apa yang mereka lakukan.
       
      Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri lorong lebih dalam lebih masuk ke dalam perut bumi, aneka stalagtit, stalagmit dan flowstone mengisi setiap ruang goa. Mereka sambung menyambung tak berjedah menghiasi setiap sudut goa. Ada Flowstone Otak bentuknya bulat putih mirip sekali dengan otak, Flowstone Usus bentuknyapun eksotis sangat mirip dengan usus. Bergerak ke depan dan kami menemukan Flowstone Air Mancur. 

      Flowston otak
       
      Flowstone pada awalnya terbentuk melalui lapisan yang encer secara perlahan-lahan di dasar atau lantai gua, kemudian lapisan yang tipis tadi menebal melalui tetesan air yang membawah mineral penyusun (kalsit serta mineral karbonat lainnya) hingga menebal dan membentuk ornamen-ornamen seperti Flowstone Otak, Flowstone Usus dan Flowstone Air Mancur tadi. Sayapun harus berjalan hati-hati karena banyak stalagmit yang tumbuh di lantai goa, pertumbuhannyapun masih pendek sehingga saya tidak ingin sampai menginjaknya.
       
      Perjalanan tidak sampai di sini berikutnya kami harus berjalan melewati genangan air dari aliran sungai bawah tanah dengan ketinggian kurang dari lima puluh sentimeter. Berpegangan pada dinding goa kami harus menyeberanginya dengan hati-hati, berjalan sedikit merunduk karena atap goa yang dipenuhi stalagtit bisa mengenai kepala kita.

      Menyeberangi aliran sungai bawah laut
       
      Berjalan terus dan saya melewati papan bertuliskan Jangan Menyentuh Batu Payudara, stalagtit-stalagtit yang kami lewati maaf bentuknya mirip payudara. Sebenarnya tidak hanya Batu Payudara yang tidak boleh disentuh, semua stalagtit, stalagmit dan flowstone yang ada di dalam goa memang tidak boleh kita sentuh karena tangan kita yang didominasi oleh zat asam akan menghambat pertumbuhan stalagtit, stalagmit ataupun flowstone.  Butuh waktu bertahun-tahun lamanya untuk stalagtit, stalagmit dan flowstone tersebut tumbuh, menyentuhnya sama artinya kita menghancurkan karya indah Tuhan. Selanjutnya kami harus melewati dan menaiki celah lubang kecil untuk menuju ke tingkatan goa berikutnya, rasanya lega karena sudah tidak melewati genangan air lagi sudah bisa menghirup udara yang tidak pengap lagi. Ternyata saya keliru di depan jalan yang harus kami lewati adalah berjalan miring dan merunduk diapit antara dinding-dinding goa, celah diantara dinding-dindingnya pun sangat sempit sehingga kami harus antri untuk melewatinya.
       

      Batu Lonceng
      Tak terlihat lagi adanya stalagtit, stalagmit ataupun flowstone yang cantik, hanya ada dinding-dinding goa dengan batuan besar seolah-olah menghalangi langkah kami. Terus berjalan beriringan langkah kaki kami berikutnya menyusuri dinding goa di bawahnya ada aliran sungai mengalir.
       
      Sampai akhirnya kami menemukan genangan air atau aliran sungai yang cukup besar, di atasnya stalagtit-stalagtit menghiasi atap goa dan di sini kami harus berjalan jongkok  dengan ketinggian air kurang lebih lima puluh sentimeter. Stalagtit- stalagtit yang menggantung di atap goa bentuknya cantik-cantik dengan tetesan air menghiasi pada ujung-ujungnya dan berkilau bila tersorot lampu. Berjalan terus di ujung aliran air ini terdapat stalagtit berbentuk lonceng dengan kucuran air mengalir di pinggir-pinggirnya mirip seperti shower  dan kami cukup lama di sini untuk antri berfoto.
         
      Aliran sungai sudah kami lewati, di depan berikutnya kami harus berjalan merangkak melewati celah dinding dengan ketinggian kurang dari satu meter dan panjang kurang dari dua meter, beruntunglah medan yang ditempuh tak terlalu panjang. Pemandangan stalagtit dan stalagmit putih besar laksana pilar-pilar penyangga gedung bertingkat terbentang menyambut kami, dengan hati-hati kami melewati diantara celah-celahnya.

      Masuk dari mulut Gua Petruk dan keluar di mulut Gua Jemblongan
       
      Sorotan cahaya kini dapat kami tangkap dari kejauhan itu artinya mulut goa sudah ada di depan kami, puas berfoto-foto dalam sorotan cahaya surya berikutnya kami harus melewati atau menaiki batu-batuan besar menuju mulut Goa Jemblongan. Tak sabar rasanya ingin menghirup udara luar dan hembusan angin dari pepohonan di sekeliling mulut goa. Akhirnya bisa bernapas lega setelah satu setengah jam lamanya menyusuri lorong-lorong Goa Petruk dengan suguhan keindahan aneka stalagtit, stalagmit dan flowstone.
       
      Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Goa Liyah kami istirahat dulu di atas mulut Goa Jemblongan, meluruskan kaki sambil menikmati bekal makanan dan minuman yang kami bawa. Ramai terdengar obrolan dan candaan dari rombongan Patrapala, semuanya masih bersemangat melanjutkan perjalanan menuju Goa Liyah.
       
      Caving Goa Liyah
       
      Jarak tempuh kurang lebih satu jam dari mulut Goa Jemblongan ke Goa Liyah harus kami tempuh melewati semak belukar. Sampailah kami pada rumah penduduk dan ternyata jumlahnya hanya kurang lebih lima rumah. Beristirahat sejenak di teras salah satu rumah penduduk, di rumah yang lain pintu rumah mereka terbuka dan mereka menyediakan air minum untuk kami. Bahkan salah satu dari penduduk mempersilahkan kami memetik buah salak yang tumbuh di pekarangan rumah mereka. Dari rumah penduduk saya berjalan mengikuti sebagian rombongan belok ke kiri, rombongan yang lainnya berteriak karena kami salah jalan.
       
      “Heeey mau ke mana?” rombongan lain menegur kami yang salah jalan.
       
      Sadar bahwa kami salah jalan kemudian balik arah mengikuti langkah rombongan lainnya. Saat mencari jalan diantara rumah penduduk lagi-lagi rombongan di depan kami juga salah jalan, teriakan seorang ibu menyadarkan kami dan diikuti gelak tawa bahwa mereka pun salah jalan. Berikutnya jalanan lurus diantara semak-semak, sambil terus berjalan saya masih memikirkan rumah penduduk tadi sempat heran juga di tengah-tengah perkebunan bahkan seperti hutan jauh dari desa ada juga rumah penduduk, Patricia pun sempat kahwatir kalau anak-anak mereka sakit mereka harus jauh pergi ke desa untuk berobat.
       
      “Itu kalau malam ada anak mereka sakit gimana ya?” ujar Patricia penuh kahwatir dan tanda tanya.
       
      “Anak-anak mereka sekolahnya di mana ya?” tambah saya penasaran.
       
      Pertanyaan yang sama-sama tidak bisa kami jawab dan hanya menerka-nerka jawabannya. Di kiri jalan  terlihat bukit kars dengan batuan putih terlihat jelas, mungkin di sana ada goa tebak saya dalam hati. Terus berjalan di depan terlihat jalan setapak yang bisa dilalui motor dan mobil.

      Istirahat sebelum treking menuju mulut Gua Liyah
       
      Sambil menunggu rombongan yang tertinggal kami istirahat duduk di bawah pohon jati, kemudian melanjutkan perjalanan melewati jalan setapak sejauh kurang lebih lima puluh meter. Di kanan jalan di antara semak-semak di sanalah mulut Goa Liyah. Dari jalan memang tak terlihat sama sekali mulut goa karena terhalang oleh semak-semak, lagi-lagi pertanyaan yang dilontarkan Patricia tidak bisa saya jawab.
       
      “Siapa sih yang pertama kali menemukan ada goa di tempat ini?” tanya Patricia kagum.
       
      Tak seperti Goa Petruk dengan mulut goanya yang terbuka lebar, mulut  Goa Liyah justru sangat kecil dan kami harus antri  untuk masuk. Berjalan terus masuk lebih ke dalam kami harus melewati celah kecil berjalan miring dalam himpitan diantara dinding-dinding goa dan batu-batuan besar.

      Mulut Gua Liyah 1
       
      Terus berjalan tak ada stalagtit, stalagmit ataupun flowstone berbentuk menyerupai simbol-simbol dalam kehidupan yang kami temui, hanya ada batu-batu besar seakan menghalangi langkah kami. Batu pualam berkilau indah menempel di dinding-dinding goa, ruang goanya pun besar tak terkesan pengap. Kami harus berjalan hati-hati karena masih banyak lubang-lubang sisa penambangan phosfat yang dibiarkan terbuka begitu saja. 
       
      Jalanan yang becek dan berlumpur semakin memperlambat langkah kami, jika tak hati-hati bisa terjerembab dan jatuh ke lumpur. Itulah yang saya alami, kaki kanan saya sulit untuk melangkah karena lengket dan pekatnya lumpur yang menempel di boots dan ketika saya berusaha mengangkat kaki kiri justru badan saya tak seimbang, untunglah dengan sigap kedua tangan saya tempelkan ke lantai goa untuk menahan badan supaya tak jatuh ke lumpur. Penuh hati-hati saya berusaha menyusul rombongan.
       
      Biasanya rombongan Patrapala berjalan sangat cepat tapi di depan terlihat semuanya berhenti, penasaran juga kenapa jadi macet di jalan. Sambil mencondongkan badan saya berusaha mencari tahu ada apa di depan dan ternyata semua harus antri untuk melewati lubang kecil dan berjalan tiarap seperti cicak, hanya cara itu yang bisa dilakukan untuk bisa melewatinya.

      Melewati celah kecil
       
      Tiba giliran saya untuk melewatinya, sambil merebahkan badan dengan posisi telungkup penuh hati-hati saya menggerakkan tangan dan badan. Tak lama kemudian kepala sudah dapat saya tengadahkan, ternyata panjangnya tak mencapai dua meter. Struktur Goa Liyah memang sangat berbeda dengan Goa Petruk, stalagtit-stalagtit menggantung bentuknya besar-besar, batu-batuan besar menjadikan dinding goa seperti lorong antara gedung-gedung bertingkat di perkotaan. Rasa takjub begitu kami melewatinya dan sayang kalau tak berfoto di sana dan mengabadikannya dalam jepretan lensa, ternyata kami sudah tertinggal jauh dari rombongan Patrapala  Pertamina Cilacap dan mas Yos menghampiri kami takut kalau kami tertinggal jauh dan tak tau jalan.
       
      “Ayo kalian sudah tertinggal jauh dari rombongan Pertamina, Budi mana?” ucap mas Yos melihat kami yang hanya diam berdiri dan tak melihat mas Budi diantara kami.
       
      “Sebentar mas masih ada dua orang tertinggal dibelakang, mas Budi lagi menyusul yang di belakang,” jawab salah satu dari kami.
       
      Setelah dipastikan jumlah rombongan kami lengkap tujuh orang bergegas kami menyusul rombongan Patrapala Pertamina Cilacap yang sudah berjalan jauh. Saat kami menemukannya, mereka sedang duduk-duduk dan ternyata antri untuk menuruni tebing. Caving Goa Liyah memang lebih menantang dibandingkan Goa Petruk, di sini diperlukan peralatan keselamatan caving serta pemandu yang berpengalaman. Sebagian dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap sudah ada di bawah dan kini giliran perempuan yang didahulukan untuk menuruninya. Saya pun beranjak dari duduk saya dan antri di barisan perempuan.
       
      “Perempuan-perempuan duluan yang turun,” teriak salah satu dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap.
       
      Sambil antri saya memperhatikan cara menuruni tebing itu, dan kini giliran saya yang harus turun. Ada tiga tingkatan tebing yang harus saya lalui, dengan serius saya mendengarkan arahan dari Instruktur supaya saya tak celaka dan bisa melaluinya dengan baik.

      Rapelling di dalam Gua Liyah
      ''Pegang tali webbingnya Mba trus turun sambil ulur talinya,” jelas salah satu instruktur dari Patrapala Pertamina Cilacap.
       
       
       
      Dengan kencang saya menggenggam tali webbing kemudian mengulurnya sambil turun, di sini saya sempat panik ketika melewati bagian tali webbing yang licin sedangkan saya tidak memakai sarung tangan, tapi tali webbing tetap saya genggam kencang. Suara-suara Instruktur terus mengarahkan gerak saya.
       
      “Liat terus ke bawah dan kaki cari injakan, ya terus turun jangan lepas talinya,” teriak Instruktur mengarahkan gerak saya.
       
      Kaki saya akhirnya bisa menyentuh lantai, satu tingkatan sudah saya lalui dengan ketingginan kurang lebih tiga meter dan sudah ada satu Instruktur yang berjaga di sini siap membantu dan mengarahkan untuk langkah berikutnya.
       
      “Turun terus jangan lepas talinya, pandangan terus ke bawah liat injakan,” jelas Instruktur.
       
      Dengan hati-hati saya menuruni tebing dengan tali webbing tetap saya genggam dan kaki terus mencari injakan, sampai akhirnya kaki ini bisa menyentuh lantai dan tali webbing sudah bisa saya lepaskan. Kemudian petugas yang lain menyuruh saya berjalan ke arah tebing berikutnya yang harus saya turuni tapi kali ini tanpa tali webbing karena tingginya hanya kurang lebih satu setengah meter. Di bawahnya sudah ada petugas yang siap membantu saya.
       
      “Duduk dulu Mba, kaki kanan injak yang ini dan pegang tangan saya,” jelas petugas siap membantu saya.
       

      Menuruni bebatuan
       
        Ikuti apa yang diarahkan petugas tersebut kemudian saya duduk, kaki kanan  berusaha menyentuh cekungan dinding dan menginjaknya untuk kemudian sambil dibantu petugas saya melompat untuk menyentuh lantai. Sebagian dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap yang telah berhasil menuruni tebing siap melanjutkan perjalanan, saya memilih duduk sambil menunggu rombongan yang masih di atas.
       
      Tak sampai di sini, medan yang harus kami lalui berikutnya juga tak kalah menantang dan memacu adrenalin. Berjalan menyusuri dinding-dinding goa di bawahnya ada jurang terbentang, untuk bisa sampai ke bawah kami harus melewati batu-batuan yang ada di pinggir dinding goa.

      Rapelling
       
      Turun dan harus menuruni tebing lagi, saya tak bisa melihat kedalamannya dan kini kami telah berada di dalam perut bumi. Mas Yos dan beberapa Instruktur dari Patrapala Pertamina Cilacap sedang mempersiapkan peralatan keselamatan caving, beberapa orang terlihat sedang memakai seat harness dan siap untuk turun. Seperti sebelumnya perempuan-perempuan didahulukan untuk turun dan kami harus memakai seat harness dan kaos tangan terlebih dahulu. Dua orang dari Patrapala Pertamina Cilacap membantu saya memakai  seat harness,  saya  sempat gugup ini lebih sulit dari menuruni tebing sebelumnya. Bismillah memberanikan diri maju ke depan dan siap turun dan kini seat harness sudah dikaitkan ke tali. Saya simak baik-baik setiap arahan dari para Instruktur sambil berusaha tenang.
       
      “Tangan kiri pegang tali ini Mba,  posisinya selalu di depan badan dan tangan kanan pegang tali tapi posisinya di samping badan. Sekarang badannya direbahkan ke belakang posisinya seperti tidur,” beberapa Instruktur mengajari saya cara turun.
       
      Saya ikuti apa yang dikatakan para Instruktur, dan tetap ikuti arahan berikutnya.
       
      “Ya sekarang turun pelan-pelan pandangan lihat ke bawah, ulur talinya posisi tangan kanan tetap di samping dan posisi badan tetap rebah,” ucap Instruktur berkutnya.
       
      Pelan-pelan kaki kanan saya turunkan, kedua tangan berusaha mengulur tali dengan posisi badan tetap rebah. Selanjutnya kaki saya mencari pijakan ke kanan, ternyata cara ini salah dan Instruktur yang di bawah teriak memberikan arahan.
       
      “Mba, kakinya tetap lurus dan tangan kanannya ke belakang,” teriakan suara dari Instruktur di bawah.
       
      Sadar apa yang saya lakukan adalah salah cepat-cepat saya perbaiki dengan mengikuti arahan dari Instruktur tadi. 
       

      Rapelling
      Ternyata sangat mudah dan saya berhasil menuruni tebing yang tingginya kurang lebih enam meter tadi sampai ke lantai dasar. Satu persatu dari kami terutama para perempuan  telah melewatinya. Salah satu dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap meminta kami melanjutkan perjalanan, di depan mulut goa sudah dekat. Tak perlu menunggu rombongan yang masih ada di atas, lagi pula hari sudah sore.
       
      “Ada yang tahu jalan? kalau ada ajak yang lainnya pulang duluan,” ucap salah satu dari rombongan Patrapala Pertamina Cilacap.
       
      Saya pun bangkit dari duduk  kemudian mengikuti langkah rombongan menuju mulut goa. Jalan yang  kami lewati sangat licin, becek dan berlumpur. Dari kejauhan dalam kegelapan ada batu putih mencolok berkilau, Particia menunjuknya penuh kagum.
       
      “Lihat itu batunya putih berkilau,” tunjuk Patricia.
       
      Sepanjang jalan menuju mulut goa kami menemukan batu-batuan putih menempel di dinding berkilau bila terkena sorotan lampu, namanya batu kristal. 

      Batu kristal
       
      Sebenarnya di akhir caving masih ada satu tempat lagi yang akan kami kunjungi yaitu air terjun dalam goa. Berhubung kami harus segera pulang maka jalan menuju air terjun tersebut kami lewati begitu saja dan belok ke kiri menuju mulut goa. Suasana masih terang ketika kami sampai di mulut goa, mulut goanya sangat sempit dengan pintu teralis besi terbuka. Kurang lebih empat jam lamanya kami menyusuri Goa Liyah, mulai dari  berjalan di lumpur, berjalan tiarap melewati lubang kecil, berjalan miring diantara himpitan dinding-dinding goa sampai harus menuruni tebing yang curam. 
       
      Anda tertarik untuk mencobanya? temukan keindahan aneka stalagtit, stalagmit dan flowstone serta rasakan sensasi petualangannya. (Mulyati Asih)
       
      Terima kasih
    • By ko Acong
      Terima Kasih Thien Qung telah menjaga kami semua sehingga dalam kedaan Sehat Semua. Yuk kita lanjut napak tilas Jalur Sutra sesi 2. Setelah kami menikmati keindahan Crescent Lake terutama adanya oase alami di Gurun Gobi, waktunya kami diantar ke stasiun Dun Huang untuk pindah kabupaten yang jaraknya kurang lebih 800 km, memakai kereta sleeper train.
      Kami sepakat pakai tidur lunak, sekamar 4 tidur susun. Untuk antisipasi kebiasaan yang kurang bersahabat bagi kita, bila tidur keras 1 row isi 6 tempat tidur dan tidak berpintu. Nah, kami pakai tidur lunak, diperjalanan kami pun jadi tidur dengan nyaman,  tak terasa alarm alam membangunkan kami. Lalu kami siap2 ke restroom. 1 jam kemudian sampailah kami di stasiun Turpan.

      Ternyata kami sudah mulai memasuki daerah istimewa Tiongkok. Lalu hal pertama yang kami hadapi adalah petugas imigrasi, dengan wajah yang khas dan penuh curiga kepada kami. Oh ya, penduduk Turpan sudah berbeda jauh wajahnya,  yang mana tidak oriental lagi. Beres urusan imigrasi, kami pun mencari sarapan, dengan berbagai menu yang lumayan bersahabat dengan lidah kita dan halal.
      Setelah keluar imigrasi, nah disini lah kami mulai dikerubuti oleh para driver dengan memegang gambar-gambar destinasi wisata, sementara kami abaikan dulu, ngudud dulu, cari sasaran driver yang sreg dengan kita. Setelah terpilih, kami panggil driver tersebut ke pinggiran, dan terjadilah tawar menawar. Sambil saya tunjuk saya mau ke destinasi wisata yang ada di brochure tersebut, satu paket 5 destinasi dengan harga 300 RMB (kalau tidak salah). Kami sewa 3 mobil, jadi per kepala kena charge 90 RMB, durasi tour 8 jam dengan jarak kurang lebih 180 km sampai kami diantar ke hotel. Oh ya, jarak stasiun ke downtown kurang lebih 40 km, dan bila memakai antaran taksi 120 RMB, jadi kami mending pilih langsung sekalian tour. Semua komunikasi kami mempergunakan google translate yang ada suaranya, jadi lebih mudah berkomunikasi dengan driver.
      Pertama, kami diantar ke hotel dulu untuk check in dan bersih-bersih karena cuaca Turpan sangat panas, namun dingin sekali anginnya.
      Kedua, kami tadinya mau ke benteng gurun center kota, Bazeli Ten Thousand Buddha Monastery, namun hanya ditunjukan dan lewat karena waktu tidak mencukupi.
      Ketiga, kami diantar ke gunung api (Flaming Mountain) dan itupun hanya dilewati karena kami masih belum move on.
      Keempat, kami diantar ke gurun pasir Turkistan Shansan Countri, nah disinilah kami baru move on, karena tantangan pemandangan di depan seperti layaknya paris dakar rally. Kami ber-10 memakai kendaraan gurun pasir langsung menuju puncak gurun pasir, ternyata kami hanya diantar sampai tengah dengan harga 250 RMB per mobil.
      Setelah sampai kami main di tengah puncak, mulailah modus mereka keluar, maukah kalian kami antar ke puncak teratas gurun pasir dengan harga 400 RMB/mobil. Tentu kami semua menolak. Tapi, khusus kendaraan yang dipake saya, saya nego sampai dapat harga 200 RMB.
      Kami diantar ke basecamp, nah disini lah tantangan adrenalin kami diuji ternyata kita turun dari puncak itu langsung melompat lurus ke bawah
      bagai mobil meluncur lurus jatuh ke dasar jurang, mungkin lebih menantang dibanding naik jet coster. Setelah sampai khusus kendaraan yang dipake saya langsung naik ke puncak teratas gurun pasir. Disinilah pemandangan yang paling aduhai. Kami semua dalam keadaan bersuka ria, mulai tuh keluar semangat kita.

      Kelima, kami diantar ke musem Gaochang, begitu buka pintu mobil kami semua terkejut karena sinar matahari sangat menyengat, tapi tetap kami berfoto dulu sebentar dan tidak sanggup melanjutkan menuju gedungnya.

      Setelah sampai mobil saya tanya destinasi apa ini sebenarnya, para driver menjelaskan bahwa disinilah tempatnya suhu Gaocheng. Dalam misi menuju barat hampir menyerah dalam melaksanakan misinya dan terlihat table temperature menunjukan 41 derajat celcius berarti kalau di air setengah mateng. Wah kata driver coba tadi kalau berhenti di gunung api lebih lengkap ini ceritanya, semangat kita jadi on fire lagi.
      Lalu kita minta datang ke gunung api yang tadi sudah kita lewati, ternyata setelah turun bener-bener ini daerah panasnya bagaikan kita dengan dapur pemanggangan. Banyak relief yang menggambarkan Sun Go Kong yang menuju langit untuk meminjam kipas sakti para dewa dan Flaming Mountain yang sedang membara sekali kipas langsung hilang apinya.
      Keenam, kota Turpan sepanjang kami lihat dari kereta api tadi mungkin juga ratusan kilometer hanya terlihat gurun pasir tak terbatas. Ternyata kota Turpan adalah salah satu yang penghasil anggur dan buah-buahan serta perternakan terbesar untuk Tiongkok mainland.
      Kami semua heran, dimana datangnya kehidupan kalau tanpa air dan semua terjawab di museum Turpan Karez Underground Water System, harga tiket masuk 40 RMB. Yang dengan hanya melihat teorinya pun sudah menjawab keheranan saya, si Bocah Tua Nakal kan pinter.

      Dan jawaban keheranan saya makin terjelaskan pada esok harinya di Heavenly Lake. Tur akan dilanjut ke Grand Bazarnya Turpan, namun teman 2 orang terserang Dehidrasi. Ibarat kataa kalau mau manggang roti dikota turpan tak perlu pake oven cukup ditempel didinding disinari matahari bisa mateng tuh.

      Kami semua ingin buru-buru masuk Hotel dan Mandi. Namun setelah segar, sebagian teman-teman kabur juga tuh menikmati barbeque dan sop kambing nan lezat. Pastinya gak lupa cuci mata lah, secara disini orang-orangnya cantik dan garanteng Uhuuuiiii Prikitiwww.
      Malam terus berlalu walau jam 22.00 masih terang benderang, tapi kami harus segera tidur, mengingat esok hari harus pindah kota lagi dengan jarak tempuh 180 km menuju Heavently Lake.
      Heavently lake adalah danau raksasa dipuncak gunung diketinggian 2200 Mpdl, yang mana sejauh perjalanan kami hanya disuguhi gurun pasir nan gersang sejak dari Turpan. Namun ketika sudah sampai puncaknya dan kami tembus tunnel Kaki Gunung Himalaya, baru pemandangan berubah drastis. Sepanjang mata dimanjakan oleh pohon-pohon nan indah dan udara yang tiba-tiba bisa berubah drastis menjadi dingin menusuk tulang. Danau Thian Shan benar-benar danau yang sangat indah.

      Setelah puas didanau kami turun gunung sejauh 602 km lagi menuju Hotel. Namun ada trouble, kita berganti Hotel dan malam sudah tiba kami semua tidur.
      Nah keesokan harinya teman-teman sudah tidak tahan untuk kabur menuju Grand Bazarnya Urumgi, secara Urumgi adalah kota modern dan wisata budaya dan juga surga kuliner, sangat perlu diekplor dengan agak santai.
      Sore telah tiba kami semua akan mengakhiri napak tilah Silk Road “Middle” ini dan akan dilanjut bonus trip petualangan ektra cepat menuju Asalamuaikum Beijing. Di tunggu yah Field Reportnya
      Mohon Maaf, pasti bacanya capek kepanjangan cerita namun itu lah ceritanya apa adanya.