Sign in to follow this  
Nightrain

Victoria Dan New South Wales Dalam Seminggu

63 posts in this topic

post-22151-0-08900900-1386214699_thumb.j

Darling Harbour, Sydney at night

 

Saya mau share trip sekitar bulan May tahun 2012 yang lalu. Agendanya selain jalan-jalan, juga mau ketemu temen kuliah yang udah sekitar setaon lebih pindah ke Melbourne (ibukota Victoria) dan Sydney (NSW), jadi jadwal kita sengaja bikin untuk bisa ke dua tempat ini dengan itinerary kurang lebih seminggu dan sudah include sidetrip ke Great Ocean Road (Vic) dan Blue Mountain (NSW), jadi barangkali ada yang niat mau kesana atau first-timer, mudah2an bisa membantu.

 

Kita spend waktu sekitar 4 malam di Melbourne dan sekitarnya dan kira2 3 malam di Sydney. Saya bilang sih ini sudah cukup walaupun lebih optimal lagi kalau ada extra 3 malam supaya bisa ada more room untuk sidetrip namun waktu itu timing ngga memungkinkan dan tiket sudah optimal harganya, jadi ya maybe next time.

 

Kita terbang ke Melbourne dgn Garuda, kebetulan waktu itu promo dapat sktr 3jt / orang direct flight one way jadi cukup ok, kalau beli PP harusnya lebih murah tapi karena kita kudu ke Sydney, kita cek Garuda one way dari Sydney ke Jakarta ngga ada promo jadi sktr 6jt, begitu cek AA juga ngga ada promo murah tapi harganya sktr 4jt, jadi not bad, ok lah kita ambil. Terus ambil juga flight dari Melbourne ke Sydney via JetStar yang ini murah, mungkin sekitar 600rb-an saja.

 

Untuk urus Visa, karena kita orangnya ngga mau pusing, seringkali kita kasi aja dokumen ke orang tur, mereka yang beresin dalam 2 minggu, harga sekitar 1.5 atau 2jt/org kalo ngga salah, mungkin sekarang sudah naik, baiknya tinggal call ke tur untuk pastiin.

 

Day 1

Setelah menempuh flight sekitar 7 jam dari Jakarta, kita tiba di Melbourne sekitar jam 8.30 pagi dan kebetulan temen kita, Melvin, langsung jemput di airport dan kita menuju hotel Bayview Eden deket Albert Park. Kalau ada yang complain soal parkir di bandara Indo mahal, coba saja di Melbourne, parkir sebentar paling 30 menit, di-kurs sekitar 250rb, ampun deh, kalau parkir nginep di Soekarno-Hatta kan udah 5 malem tuh hehe

 

Room per night di hotel itu kalau promo dapat sekitar $120-$140, hotel udah agak tua, tapi bersih, dan deket ke CBD dan tram station, so far sih kita puas disitu jadi ngga masalah. Karena seperti biasa check in jam 3 sore baru bisa, jadi titip luggage dan kita langsung jalan saja ke CBD. Walaupun ada mobil di Melbourne, juga kadang parkir bisa jadi masalah karena biasanya kalau mau deket, mesti parkir di office building dan kemudian kita jalan, dan kalau parkir di luar juga mesti perhatikan note-nya, kalau disuruh parkir ngadep depan, jangan berani parkir ngadep belakang, bisa2 didenda 2-3juta. Disini rules agak strict, jadi sedikit mirip dgn Singapore, si Melvin pernah cerita, dia naik kereta saja, sudah kecapean dan angkat kaki di kursi depan kebetulan di sekitar dia kosong dan ketiduran, disamperin kondektur langsung dikasi tiket denda sekitar 2jt :D

 

Suhu pertengahan Mei itu bisa dibilang sudah dingin apalagi pagi, dibawah 10 derajat. Masih musim autumn tapi sudah mendekati winter, dan angin dari Antarctica juga bertiup kencang jadi Melbourne relatif lebih dingin ketimbang Sydney. Australia agak berbeda dengan negara 4 musim lain, jadi winter dia itu di bulan Juni, kebalikan dengan yang ada di Northern hemisphere yang bulan Juni justru summer.

 

Kita nyobain Vietnamese food, cocok banget makan pho pas udara dingin dan explore sekitar CBD sebentar kemudian menuju area sekitar Yarra River. Disini ada opsi untuk naik ferry tapi kita decide untuk explore saja. Banyak yang suka jogging dan bawa anak kecil untuk sekedar jalan2 saja, dan di river juga ada yang latihan rowing. Samping sungai ini juga good spot untuk foto, tapi akan lebih bagus lagi pas malam untuk skyline photoshoot.

 

post-22151-0-42207400-1386215980_thumb.j post-22151-0-73102200-1386216732_thumb.j

post-22151-0-19842000-1386562256_thumb.j post-22151-0-81823900-1386562270_thumb.j

(arah jarum jam dari kiri atas) samping Yarra RiverFlinders Street Station | Federation Square | street performer

 

Dari situ ngga terlalu jauh untuk jalan ke Flinders Street Station dan dekat situ juga ada Federation Square, arsitektur bangunannya unik dan kadang di depan situ suka ada street performers dan deket situ suka ada yang jualan di gerobak. Sore hari sekitar jam 4-an, kita nyebrang Yarra dan kita menuju ke Crown Casino Complex, ya seru juga sekedar liat orang ngadu nasib disini dan berisik sekali, dan lagi2 kebanyakan isinya encim2 umur 50an asal China, ngga di Macau, Singapore, Aussie, mereka yang paling rajin judi :D

 

Yang menarik dari kasino ini adalah Gas Brigades, atau semburan api dari tower di sekitar kasino dan durasinya juga ngga lama, paling sekitar 10-15 menit, jadi harus cek bulan apa Anda berangkat dan timingnya. Kita selagi nunggu disitu, makan di salah satu resto yg uniknya punya

squid ink pasta, looks disgusting tapi sebetulnya taste nice.

 

post-22151-0-32964100-1386217567_thumb.j post-22151-0-19169100-1386217806_thumb.j

(kiri) the fire ! | (kanan) pasta tinta cumi

 

Pas malam, view samping kasino juga top dan karena udah kelelahan belum istirahat sejak mendarat, kita decide untuk call it a day dan balik ke hotel. Sayang kita waktu itu cuma modal pocket cam tanpa tripod, jadi banyak blurry shot, cuma ini ada satu sample great pic di sekitar river waktu malam diambil random di google dgn gas brigades.

 

post-22151-0-94180600-1386218231_thumb.j

 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 2
Pagi itu kita berangkat agak siangan, sekitar jam 9.30 karena kemarin kelelahan dan kebetulan hari ini, Melvin masih ada waktu libur di sela kesibukan kerjanya, mengajak kita ke Mount Dandenong. Suburb ini bisa dicapai kira2 30-40 menit driving dari city dan di area sana ada satu resto/cafe yang terkenal namanya SkyHigh, selain ada taman juga ada maze.

 

post-22151-0-37561200-1386558428_thumb.j

salah satu sudut di Victoria Market

 

Sebelum kesana, kita cari breakfast dan shopping dikit di Queen Victoria Market. Disini salah satu tempat belanja orang lokal juga mulai dari daging, buah2an, sayur2an, dan untuk turis, banyak tersedia juga souvenir (termasuk bumerang) dan macam2 barang mulai dari pakaian, aksesoris, jam, dll, dan sebagian besar yang jualan adalah orang China, dan disini bisa tawar menawar walaupun harga ngga bisa turun jauh seperti kalau di Shenzhen.  Cuma perlu diperhatikan, market ini ngga buka setiap hari, kalau ngga salah Senin tutup, jadi mesti dicek dulu sebelum kesana. Di salah satu bagiannya, banyak yang dagang makanan, dan kita coba bratwurst-nya juga taste very good, dan mau nyoba daging kangguru juga ada :D

 

post-22151-0-31502600-1386558436_thumb.j post-22151-0-78557700-1386558445_thumb.j

(kiri) kelinci, kangguru, buaya, dll | (kanan) must try bratwurst!

 

Menjelang siang, kita langsung drive menuju Dandenong tapi sambil ngiter2 Melbourne juga, jadi kira2 2 jam baru tiba disana, dan kita langsung menuju Skyhigh karena dari sini view bagus, jadi inget mirip The Peak di Bandung. Suhu diatas gunung ini super dingin, apalagi kalau sudah winter, kadang malah ada salju dikit. Rencana mau lunch diatas tapi waktu itu ternyata resto sudah dibook untuk private event jadi setelah explore area ini kira2 1 jam, kita pelan2 turun sambil coba cari random restaurant untuk lunch, dan ketemu yang namanya Flippin' Pancakes, ternyata enak dan rekomen untuk dicoba kalau pas lagi kesana. Range harga antara $10 - $30 dan cukup crowded jadi suka ada waiting list sebentar sih, waktu itu kita harusnya nunggu 1.5 jam, tapi karena masih waktu 40 menit sebelum tamu datang, ya sudah kita bilang kita makan ngebut aja gpp :D

 

post-22151-0-88850200-1386558921_thumb.j post-22151-0-80511200-1386558909_thumb.j

post-22151-0-48568400-1386559138_thumb.j post-22151-0-84802000-1386559148_thumb.j

(arah jarum jam dari kiri atas) Skyhigh Mount Dandenong | The Giant Chair | salah satu menu lezat di Flippin' Pancakes | autumn leaves

 

Sore sekitar jam 4an, kita turun kembali ke city dan sempet mampir dulu ke Greensborough Plaza yang ada di area suburb. Mall ini sendiri termasuk gede dan salah satu fave orang lokal namun perlu diperhatikan kalau setiap hari mall sekitar jam 5.30 sore sudah tutup kecuali hari Kamis, semacam shopping night, jadi bisa sampe jam 9 malam. Agak berbeda dengan mall2 yang di Jakarta yang biasanya sampai jam 9 malam setiap malam, bahkan weekend bisa sampe jam 10.30an, kalau di Melbourne, seringkali jam 6 sore rata2 sudah sepi karena semua sudah pulang dan istirahat, kecuali mungkin sebagian tempat di CBD, tapi yang pasti, buat yg terbiasa dgn hectic-nya kehidupan kota sampai malam malah merasa sunyi disini.

 

Agenda kuliner malam itu, kita jajal resto Korean/Chinese, Han Guuk Guan, yang juga layak dicoba kalau pas ketemu, dan malamnya jalan-jalan di Lygon Street atau yang juga dikenal dengan Little Italy. Di sepanjang jalan ini hampir semuanya memang restoran Italy, mulai dari pizza, gelato, pasta, dll, dan kadang2 suka ada festival Italy yang diselenggarakan disini. Malamnya kita coba hot chocolate di Koko Black di sekitar situ dan ini salah satu yang terbaik, dan Koko Black ini juga ada di area City, tepatnya di Block Arcade.

 

Malamnya kita balik ke hotel dan istirahat. Overall, Dandenong sendiri menurut kita biasa saja, view atas gunung begini pun Bandung ngga kalah tapi di sepanjang jalan itu banyak sekali resto  yang sepertinya juga enak2, dan mungkin sidetrip yang lebih baik itu ke Mount Buller, semacam ski resort, cuma lokasinya jauh, kira2 200km jadi bisa 3-4 jam driving, dan kalau mau paksa PP, mungkin bisa kecapean, apalagi waktu itu kita ngga prepare winter coat yang tebel jadi next time saja.

 

Day 3

Agenda hari ini, kita mau explore CBD Melbourne atau dikenal dgn 'City'. Ini adalah jantung kota Melbourne dan seluruh kesibukan kebanyakan berpusat disini, jadi area shopping, perkantoran, sekolah, taman, dan sebagainya numpuk disini semua. Akses kesini juga sangat gampang, dari hotel kita naik tram langsung turun di depan Flinders Station dan dari sini tinggal jalan kaki saja untuk explore. Disini ada juga shuttle bus yang mengitari hampir semua area, seinget saya ini gratis, dan ada juga City Sightseeing / Hop on Hop off Bus, yang ini bayar.

 

Yang paling berkesan dari Melbourne ini adalah kulinernya. Bisa dibilang hampir semua makanan yang kita coba semuanya enak, mulai dari Korean, Malaysian, Japanese, Vietnamese, Australian, dll, bahkan kalau kangen dengan makanan Indo, disana pun Anda bisa ketemu Es Teler 77 dan Nelayan resto. Porsinya super besar, jadi sebetulnya satu porsi bisa buat berdua, tapi untuk kebanyakan orang yang sudah tinggal di Melbourne, lama kelamaan sih satu porsi gede itu muat untuk sendiri. Untuk sekali makan, bisa dibilang yang termurah dan standar itu sekitar $10 atau kira2 100rb.

 

post-22151-0-54754600-1386560706_thumb.j post-22151-0-93025500-1386560775_thumb.j

post-22151-0-16318700-1386560736_thumb.j post-22151-0-83053400-1386560794_thumb.j

(arah jarum jam dari kiri atas) Eureka Tower | Hopetoun Tea Room | grafiti di salah satu sudut kota Melbourne | Koko Black di Block Arcade

 

Pagi itu, kita breakfast di Hopetoun Tea Room, Block Arcade. Ini tempat yang dapat rating tinggi di tripadvisor dan memang kue, teh, dan breakfastnya lumayan enak namun harga agak pricey dan kalau lagi rame, waiting listnya juga cukup panjang, tapi untung pagi itu kita langsung dapat meja. Setelah breakfast, kita explore area city dengan jalan kaki, lunch break di salah satu random restaurant juga, explore ke area Chinatown, dan sore-nya kita naik shuttle bus dan turun di sekitar St. Patrick Cathedral. Dari situ, kita jalan saja tanpa tujuan sambil sightseeing, banyak taman baik yang gede maupun kecil bagus untuk lokasi foto ataupun duduk2 santai, sebelum akhirnya sekitar jam 6, kita balik lagi ke city, makan malam, dan kemudian balik ke hotel karena besok pagi2 banget sekitar jam 6-an kita akan menyusuri Great Ocean Road dengan tujuan Twelve Apostles

 

post-22151-0-00308200-1386561761_thumb.j post-22151-0-40168400-1386561777_thumb.j

post-22151-0-12977600-1386561827_thumb.j post-22151-0-29562100-1386561841_thumb.j

(arah jarum jam dari kiri atas) St.Patrick Cathedral | salah satu sudut Chinatown | Old Treasury Building | salah satu resto yang kita coba dengan Es Teler 77 signboard di belakang

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 4

Beberapa minggu sebelum kita berangkat, kita sudah mempersiapkan trip menuju Great Ocean Road dan pilihan kita jatuh ke Escape Discovery Adventures karena banyak positive reviews di tripadvisor dan itinerary-nya untuk one day trip juga menarik. Setelah beberapa kali email dengan Paul (owner sekaligus operatornya), jadwal kita sesuaikan karena memang ada minimal jumlah person agar bisa berangkat, tapi biasanya sih ya kalau sudah terkumpul sekitar 4-5 sih jalan, tapi waktu itu kita ada 8 orang yang ikut. 3 orang Amrik, 1 orang New Zealand, kita berdua dari Indo, dan dua lagi dari Singapore.

 

post-22151-0-78102300-1386738107_thumb.p

 

Gambar diatas itu kira2 jalur yang kita lalui selama satu hari penuh itu dengan total jarak tempuh sekitar 500 km bolak balik dan jadwal yang padat ini kita awali dari jam 7 pagi dan berakhir sekitar jam 8 malam. Jadi buat yang tertarik untuk ambil trip ini memang harus menyiapkan satu hari penuh dan tur sendiri bervariasi, tapi untuk Escape ini sekitar $140 / orang sudah include 3x makan, dan so far kita sangat impressed dgn service dari Paul, juga orangnya demen ngobrol dan ngerti banyak topik, seluruh tempat yang kita kunjungi juga dia tahu tentang latar belakang dan history-nya, dan juga big fan-nya AC/DC (yang juga adalah band rock legendaris andalan Australia) :D Tidak heran tur beliau ini mayoritas dapat 5-stars di tripadvisor dan juga menang award bbrp tahun berturut2.

 

Pagi itu, Paul datang on-time sekitar jam 7 untuk menjemput kita di hotel dan kemudian kita keliling kota dulu untuk menjemput partisipan yang lain dan setelah semuanya on board, kita langsung berangkat dengan destinasi pertama kita, ngga jauh dari Melbourne, menuju salah satu padang rumput yang kanggurunya dibiarin bebas berkeliaran jadi kita bisa foto2 sebentar, sebelum lanjut menuju desa Anglesea dan mampir sebentar untuk breakfast di samping danau. Disini memang tempat piknik untuk orang lokal juga tapi waktu kita tiba disana masih pagi dan cuaca dingin, jadi belum ada orang kecuali kita. Sambil ngobrol2 sebentar dan Paul menyuguhkan pilihan teh/kopi dan berbagai macam kue dan biskuit lokal, kita santai sejenak dan kemudian lanjut lagi menyusuri Great Ocean Road, sambil mampir sebentar di Memorial Arch, tugu untuk mengenang para pejuang WW1 dan juga melewati Lorne, kota samping laut yang juga memiliki panorama ke arah laut yang sangat bagus.

 

post-22151-0-24052000-1386743133_thumb.j post-22151-0-68716800-1386743150_thumb.j

(kiri) danau di Anglesea | (kanan) Memorial Arch

 

Berikutnya kita tiba di Cape Patton lookout, dari sini view memang spektakuler dan lokasinya juga berada sekitar 50 m diatas permukaan laut, jadi kita seperti berada diatas tebing melihat deburan ombak. Dari sini, tidak terlalu jauh menuju Apollo Bay, mungkin sekitar 15km saja. Sering diadakan festival disini, juga mulai banyak resort untuk turis, dan antara winter dan spring, Anda bisa melihat ikan paus, sayang waktu kita kesana masih masuk autumn. Kita lunch di salah satu cafe disini, dan makanannya lumayan enak, apalagi ditambah dengan Ginger Beer, makin top! Menurut Paul, banyak juga local family yang spend weekend disini, mungkin satu atau dua hari, tempatnya juga ngga terlalu ramai, jadi untuk bersantai memang cocok.

 

post-22151-0-22996900-1386744854_thumb.j post-22151-0-39546600-1386744868_thumb.j

(kiri) bir jahe yang top, bisa dibeli di supermarket lokal | (kanan) Cape Patton lookout

 

After lunch, kita lanjut menuju salah satu lokasi tempat banyak aneka burung yang 'kelaparan', jadi kalau Anda membuka telapak tangan dengan sedikit makanan, bisa sekitar 10-20 burung langsung menyerbu dan bertengger di kepala, pundak, dan tangan. Seru juga tapi agak sedikit ngeri apalagi kalau ngeliat jumlahnya yang banyak. Disini juga Anda bisa ketemu beberapa koala yang suka bersembunyi diantara pohon.

 

Dari sini, kita lanjut menuju Port Campbell, namun sebelum itu sempet mampir dulu di salah satu rainforest. Sebetulnya untuk kita orang Indo, tempat ini jelas tidak terlalu menarik karena variasi pepohonan, bunga, dll ini sangat sering kita jumpai di negeri sendiri, apalagi orang yang keluar masuk hutan Kalimantan, mungkin udah tiap hari liat, namun tentunya banyak orang2 bule senang lihat yang seperti ini apalagi orang Eropa, jadi kita ikut saja explore, untung tidak terlalu lama, paling 30 menitan, kita sudah di mobil lagi dan lanjut menuju The Twelve Apostles.

 

post-22151-0-82487800-1386744951_thumb.j post-22151-0-76224100-1386745040_thumb.j

(kiri) sunlight and the cliffs | (kanan) Loch and Gorge

 

Tiba disana sekitar pukul 3.30 sore dan pastikan baju tebal karena tiupan angin Antarctica ini bisa membuat suhu menjadi sangat dingin dan bisa dibilang ini adalah highlight dari perjalanan Great Ocean Road. Karena hantaman ombak yang kencang dari dulu, tebing2 ini kemudian pelan2 terkikis dan sebagian membentuk gua dan sebagian juga ada yang membentuk semacam 'arch' dan akhirnya runtuh sehingga banyak tersisa pilar-pilar batu. Pemandangannya cantik dan terkadang agak sedikit mengingatkan dengan Tanah Lot di Bali. Area disini luas, kita bisa foto dari atas, juga turun tangga ke bawah ke pantainya, dan kira2 spend waktu 1 - 2 jam disini sudah cukup. Ada beberapa area yang diberi nama seperti London Arch (mirip seperti jembatan dan akhirnya collapse jadi seperti London Bridge), Loch and Gorge, The Gibson Steps, dll, namun basically semuanya adalah formasi tebing hasil erosi laut.

 

post-22151-0-09772400-1386745328_thumb.j

 

Malamnya kita dinner di salah satu resto deket Port Campbell dan makanannya sih standar burger with fries gitu, mungkin varian lainnya fish and chips, tapi tetap saja enak. Setelah dinner, kita kemudian drive back ke kota dan karena perjalanan panjang, banyak yang sudah tertidur dan akhirnya tiba sekitar jam 8 malam dan long day itu pun berakhir dan tentunya sangat berkesan. Besoknya kita akan segera ke Sydney selama 3 hari via Jetstar jadi pagi2 sekitar jam 7an sudah harus ke airport dan kebetulan pagi itu Melvin berbaik hati untuk mengantar kita kesana.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 5

Flight dari Melbourne ke Sydney relatif pendek, hanya memakan waktu sekitar 1.5 jam saja, namun karena jarak ke airport Melbourne yang jauh, plus nunggu boarding, bagasi dan sebagainya, basically kita tetap kehilangan setengah hari. Kali ini untung airport Sydney ada di dalam kota, jadi paling hanya 20 menit saja atau sekitar 10-15 km jaraknya ke area downtown. Kebetulan waktu itu kita nginep di Mercure Hotel yang ada di George Street, hotel ini ok karena bersih, lokasi yg sangat bagus, dan akses ke public transport juga ok, ke subway station juga sangat dekat, dan dapat reasonable price mungkin sekitar $140/night.

 

Siang itu setelah check-in, kita langsung explore area dengan jalan kaki sekitar hotel, dari George Street menuju ke area Chinatown, dan di salah satu jalan ada restoran Thailand yang saking ramenya, kita ngga mikir panjang langsung coba aja dan memang lagi2 enak, sayang lupa nama restorannya apa. Ngga jauh dari sini, kita ketemu Paddy's Market, ini semacam Victoria Market-nya Sydney atau Pasar Pagi-nya Jakarta, hampir segala jenis barang juga dijual termasuk souvenir dan juga memang bisa tawar-menawar, cuma jangan lupa untuk cek jadwal bukanya, karena hari Selasa barangkali tutup, dan sisanya buka seperti biasa dari jam 9 sampe 5 sore, agak berbeda dengan toko2 di Mangga Dua yang sebagian tutup hari Senin. Di dekat sini juga ada area Chinatown, dimana setiap hari Jumat malam, selalu ada semacam bazaar yang buka sampai kira2 jam 11-12 malam jadi rame sekali yang jualan, lalu lalang, juga termasuk beberapa restoran yang masih buka sampai malam. Sydney sendiri terlihat jauh lebih dinamis ketimbang Melbourne, jadi buat yang menginginkan kehidupan yang lebih santai, relax, dan slow, lebih cocok di Melbourne ketimbang Sydney.

 

post-22151-0-43006200-1387184764_thumb.j post-22151-0-58199600-1387184803_thumb.j

(kiri) Paddy's Market | (kanan) di depan Chinese Garden

 

Dari Paddy's Market, kita segera menuju ke area Chinese Garden of Friendship, dan disini sudah masuk kompleks Darling Harbour. Untuk masuk ke dalam garden harus beli tiket namun kita decide untuk tidak ke dalam karena ingin explore area harbour yang memang sangat luas. Dekat situ juga ada playground untuk anak2 dan open space untuk orang2 piknik dan bersantai, beberapa mahasiswa terlihat rame2 ngerjain tugas, belajar, atau sekedar ngobrol2 disana. Cuaca hari itu memang sangat bersahabat walaupun angin yang bertiup cukup dingin, tapi tidak menggigil seperti di Melbourne yang letaknya memang lebih selatan.

 

Kira-kira kita berada tepat di Darling Harbour-nya sekitar jam 4 sore, jadi ngga akan lama lagi matahari akan terbenam. Duduk di dekat dermaga dengan menikmati pemandangan sore sambil menanti sunset serta melihat banyak burung beterbangan sambil menikmati coklat panas juga sangat enjoyable. Biasanya area ini akan sangat ramai pas malam dimana di pinggiran memang selain ada mal kecil, juga ada banyak kafe / restoran serta ada beberapa tourist attraction seperti Sydney Aquarium atau Madame Tussauds.

 

Pyrmont Bridge yang menghubungkan dua sisi Darling Harbour juga sibuk dengan banyak orang lalu lalang dan di salah satu sudut ujung jembatan, ada counter Movenpick, es krim terkenal asal Swiss, dan rasanya juga kurang lebih mirip jadi kalau sempat, boleh dicoba.

 

post-22151-0-13541500-1387184897_thumb.j post-22151-0-28877700-1387184885_thumb.j

(kiri) menikmati Movenpick | (kanan) Hard Rock Cafe Sydney

 

Malam itu kita dinner di Hurricane's Grill bareng Ricky, salah satu temen kuliah juga yang sudah tinggal di Sydney, dan ini salah satu tempat yang direkomen beberapa temen karena pork ribs-nya super mantabb, namun overall steak dan ribs lainnya juga sangat rekomen, dan untuk yang demen Beef dan Lamb ribs juga konon mantap. Harga untuk half rack kira2 $30-$35 dan sangat worth untuk dicoba.

 

Darling Harbour sendiri merupakan satu tempat yang sering diadakan berbagai macam festival, jadi kalau bertepatan dengan acara tertentu, banyak fireworks dan dipadukan dengan beautiful skyline, tidak heran banyak yang demen pacaran disitu. After dinner dan spend sedikit waktu foto2 di harbour, kita lanjut untuk night dessert dan pilihan jatuh pada Lindt Cafe. Mungkin banyak yang familiar dengan brand coklat asal Swiss ini, nah di Melbourne juga ada, namun kita ngga sempet coba disana, jadi baru bisa mencicipi waffle dan iced milk choco-nya. Superb taste dan great ambience! Sekitar jam 9-10 malam kita kembali ke hotel dan istirahat

 

post-22151-0-62109200-1387184823_thumb.j

Darling Harbour at night

 

 

Day 6

Acara hari ini masih padat, pagi kita rencana ke Bondi Beach dan explore area sana, kemudian setelah lunch, kita menuju Circular Quay tempat Harbour Bridge dan Opera House berada, dari situ kita bertolak menuju Manly Beach dan kemudian berlabuh di Darling Harbour. Dari situ, kita akan ketemu Ricky lagi dan dinner malam di city.

 

Overall, plan hari itu semuanya berjalan tanpa halangan dan cuaca juga mendukung, jadi untuk yang mau one-day trip explore 2 famous beach-nya dan iconic place Sydney, bisa coba itinerary ini.

Bondi Beach jelas sangat ramai pas summer, jadi pada waktu kita pergi menjelang winter, as expected, suasana pantai lengang, walaupun masih aja selusin orang yang nekad surfing walaupun angin yang bertiup udah dingin. Untuk kesana dari hotel kita juga gampang, tinggal naik subway dan pilih destinasi Bondi Junction, mungkin kira2 30-40 menit dari downtown. Tiba disana, tinggal cari shuttle bus-nya dan paling sekitar 10-15 menit sampai di Bondi Beach. Lokasi pantai yang berbentuk seperti bulan sabit dengan dihiasi rumah diatas pinggir pantai juga cukup cantik untuk jadi objek background foto, namun kalau Anda tidak surfing atau berjemur, ngga perlu spend waktu terlalu lama disini, saya rasa 1 - 1.5 jam saja sudah max. Naik sedikit ke arah tebing atas untuk dapat view bagus ke pantai dengan deburan ombak yang ciamik.

 

post-22151-0-18836700-1387252955_thumb.j post-22151-0-44621300-1387253007_thumb.j

Bondi Beach

 

Dari Bondi Beach kembali ke Bondi Junction, dari situ bisa mampir dulu ke Westfield mall, untuk sekedar nyari snack, lunch, atau shopping sedikit dengan variasi barang untuk mid-to-upper class. Buat yang demen beli pakaian lucu buat anak di rumah, Pumpkin Patch punya banyak koleksi menarik. Juga disini ada pie yang enak, namanya Pie Face, tapi karena store-nya banyak tersebar jadi ngga susah nyarinya. Yang suka nyari CD/DVD/games, ada toko juga namanya JB Hi-Fi, di Aussie manapun ada, tapi menurut saya, koleksinya biasa aja dan lebih enak belanja online.

 

post-22151-0-69819100-1387253508_thumb.j

 

Dari sini mungkin sekitar jam 2 siang, kita langsung menuju ke Circular Quay dan ambil ferry menuju Manly Beach yang memakan waktu sekitar 30 menit. Sebetulnya di Manly sendiri pantai yg relatif kecil dan ngga terlalu beda jauh dgn Kuta, namun ferry trip dari CQ kesini juga bagus karena Anda bisa dapat view Opera House dan Harbour Bridge dari tengah laut. Di Manly sendiri masih banyak orang surfing juga dan karena kita masih terkesima dengan Hurricane's Grill, kita coba lagi satu tempat ribs yang namanya Ribs and Rumps, namun soal rasa masih kalah dgn HG padahal harga ngga jauh beda.

 

post-22151-0-49075700-1387253156_thumb.j post-22151-0-52873800-1387253446_thumb.j

(kiri) Opera House shot pada saat menuju Manly | (kanan) menjelang sunset di dermaga Manly

 

Paling ok bersantai di Manly dan tunggu sampai menjelang sunset, dari situ ambil trip balik ke CQ jadi bisa dapat sunset view pantai sekaligus Opera House / Harbour Bridge. Jadwal ferry sendiri hampir setiap 30 menit ada jadi ngga masalah. Setelah kita tiba di CQ, kita muter2 saja disana, lokasi ini rame sekali karena memang ngga murni tempat turis, juga sebagai hub untuk orang2 lokal jadi benar2 tumpek blek semua disini, walaupun ngga sampai overcrowded.

 

Malamnya, kita dijemput Ricky dan menuju downtown untuk dinner di Chat Thai, salah satu restoran Thai terbaik di Sydney, setidaknya menurut sebagian orang lokal, dan memang untuk makan disana pas malam setidaknya mesti nunggu paling cepat 20-30 menit dan menurut saya memang rekomen walaupun tidak wah banget ya. Area CBD Sydney umumnya buka sampai jam 7 malam, tapi khusus hari Kamis masuk kategori shopping night, kadang ada yang sampe jam 9-10 malam, mungkin special occassion juga bisa sampai jam 12 malam.

 

post-22151-0-24582300-1387253527_thumb.j post-22151-0-45375800-1387253536_thumb.j

(kiri) Sydney Harbour Bridge | (kanan) Nurses Walk, The Rock

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 7

Hari terakhir di Sydney kita putuskan untuk berangkat menuju Blue Mountains, area pegunungan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Sydney, sekitar 50-60km saja, namun kita putuskan hari itu untuk ambil day-trip tour AAT Kings yang sudah kerjasama belasan tahun dengan hotel karena kita pengen mampir sebentar di Featherdale Wildlife Park dan karena tur-nya juga digabung dengan ferry-ride pas balik ke Sydney dari area Olympic Park, rasanya not bad dan kita ambil saja, per orang mungkin sekitar $120+, banyak variasi tur mulai dari harga $80 - $300, tergantung itinerary dsb, tapi untuk itinerary yang kita ambil rasanya udah ok.

 

Ternyata untuk service dari AAT Kings itu sendiri menurut kita sih mengecewakan karena staff/supir-nya agak kasar, waktunya terlalu mepet dan terburu2 jadi ngga ada waktu fleksibel untuk sedikit hiking dan explore Blue Mountains-nya, dan juga kurang informatif. So mending pilih tur yg lain saja kalo bisa. Berikut kira2 area yang kita lewatin sepanjang 200+ km :

 

post-22151-0-27338900-1387337746_thumb.j

[A] Sydney - Featherdale - [C] area Blue Mountains - [D] Leura - [E] Olympic Park

 

Destinasi pertama di Featherdale, ini semacam small wildlife park, dimana hampir semua hewan2 unik khas Aussie ada disini dan tentunya yang paling menarik adalah kangguru dan koala. Kita bisa berfoto dan memegang koala, atau memberi makan kangguru, dan disini juga ada restoran kecil untuk sekedar ngopi dan bersantai. Waktu juga ngga perlu lama2, saya rasa 1 jam sudah cukup. Dari Featherdale, kita langsung lanjut menuju Scenic World Blue Mountains dan sebelumnya mampir ke salah satu lookout untuk melihat Jamison Valley, dan memang pemandangannya sangat bagus.

 

post-22151-0-63389600-1387340314_thumb.j post-22151-0-29426300-1387340328_thumb.j

Koala dan Kangguru di Featherdale

 

Paket tur itu sendiri sudah include dengan lunch dan kalau ngga salah, termasuk dengan tiket untuk naik Scenic World Cableway dan Scenic World Railway, jadi kita tinggal tukar saja kupon saja pas disana. Cableway ini semacam cable car horizontal dan pas naik ini juga agak ngeri2 sedap karena dibawah kita kaca bening dimana kita bisa ngeliat lembah dibawah dan juga Three Sisters serta Katoomba Falls. Railway ini sendiri semacam roller coaster tapi pelan dan masuk Guinness Book sebagai railway tercuram di dunia dgn kemiringan sekitar 52 derajat.

 

post-22151-0-22325500-1387340071_thumb.j post-22151-0-22591700-1387340104_thumb.j

post-22151-0-33392000-1387340123_thumb.j post-22151-0-23706400-1387340132_thumb.j

(arah jarum jam dari kiri atas) depan Scenic World | siap-siap naik Railway | di dalam Cableway | Blue Mountains signboard

 

Kalau ada waktu banyak, disini kita bisa jalan ke bawah dan masuk ke dalam rainforest juga, namun karena tidak memungkinkan, kita hanya naik cablecar (yang lain) dan explore sebentar saja dibawah. Menurut saya ngga banyak yg menarik juga di bawah dan Blue Mountains sendiri sebetulnya tidak menawarkan sesuatu yang extra special kecuali pengalaman naik Railway dan Cableway itu, karena view lembah yang bagus pun di Indo banyak, namun karena tempat ini termasuk salah satu tourist place dan UNESCO World Heritage Site, ngga ada salahnya untuk menginjakkan kaki disini minimal sekali pas udah di Sydney karena lokasi juga ngga terlalu jauh.

 

post-22151-0-09501400-1387340199_thumb.j post-22151-0-64244100-1387340146_thumb.j

(kiri) Three Sisters | (kanan) great view of the valley

 

Kira2 sekitar jam 3 sore, kita bertolak menuju Leura, kota kecil di pinggiran area Blue Mountains. Mampir disini pun hanya karena searah dan selain toilet break, untuk yang mau sekedar ngopi juga ok, pas autumn, deretan pohon dengan warna merah juga cantik, dan ada beberapa toko kecil untuk sekedar beli souvenir. Dari Leura kita akan menuju area Olympic Park dan di dekat sini ada dermaga ferry untuk kita kembali ke Sydney, dan kita bisa pilih untuk turun di Circular Quay atau di Darling Harbour. Karena hotel kita lebih dekat ke DH, jadi kita turun disana, jalan kaki menuju Chinatown dan kebetulan pas hari Jumat malam, disana sangat rame dan seperti bazaar, banyak sekali yang jual makanan dan pernak pernik macam2, dekat situ kita nemu satu restoran Jepang yang namanya Kura, agak nyempil dikit di pojokan dan restorannya di lantai 2, tapi ini rekomen banget, makanannya top dan harganya juga reasonable.

 

post-22151-0-44526400-1387340238_thumb.j post-22151-0-10892600-1387340186_thumb.j

(kiri) another view of the valley | (kanan) di Leura

post-22151-0-00316700-1387340275_thumb.j

suasana malam di Chinatown

 

Overall, Melbourne dan Sydney sangat rekomen untuk kulinernya, dari sisi kota juga termasuk nyaman untuk ditinggalin dan Melbourne cenderung lebih sepi dari Sydney, peraturan agak strict jadi berhati2 jangan sampai kena fine disana karena mahal, mungkin untuk umur 50+ rasanya cocok banget di Melbourne, dan anak muda lebih asik di Sydney. Alternatif sidetrip lainnya kalau pas di Melbourne juga bisa ke Tasmania dan kalau di Sydney bisa juga ke Hunter Valley untuk wine-tasting atau ke Kiama untuk menyaksikan blowhole, semacam semburan air ke atas.

 

* * *

Share this post


Link to post
Share on other sites

@kyosash

iya, dan kalo malem banyak yg pacaran di dermaga :D

 

@deffa

mantap sembur apinya sob, Brisbane itu ada di tengah, udah masuk Queensland. Kalo road distance mungkin sekitar 1700km atau kalau nekad ya kira2 18-20 jam nyetir hahaha flight paling 1jt-an kesana dari Melb. Melb / Sydney satu itinerary doable, kalau Brisbane itu cocoknya digabung dgn Gold Coast. Waktu itu kita lagi mikir mau naik train dari Melb ke Sydney sekalian liat pemandangan, atau kalo ngga mampir sebentar di Canberra, tapi sayang waktu cuma seminggu, kalau ada 10 hari boleh, soalnya bisa sktr 9 jam, dan banyak yg bilang Canberra kurang,  ya sudah lah

Share this post


Link to post
Share on other sites

Canbee cm ada pohon!

ozzyyyyyyyyyyyyy!!!! denorra rinduuuuuuuuuuuuu!!!

@deffa, beraninya komen doank, pdhl sodara banyak! hah!

yarra river itu romantis banget kl aps sore, kongkow ato pacaran ato sekedar jogging duuuuuuuuh:p

Sydney gue jg suka, secara gue d adeled, kan kampung, hahaha

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa

iya, aussie ini kalo soal makanan memang top, mungkin juga karena resto2 mereka jarang yang 'palsu', artinya resto vietnam ya memang koki-nya orang vietnam juga, resto indo ya orang indo, dll, dan selama kita disana, bisa dibilang makanan mediocre itu paling hanya 2-3x aja, sisanya sih top, tapi bisa juga karena direkomen ama temen yg udah tinggal disana hehe

Share this post


Link to post
Share on other sites

saya ga sempet ke three sisters T_T

laennya mah asoooooooooooooy.....darling harbor ngecengin bule2! bondi liat yg hot2 topless n naked, buahahaha

yarra kongkow2 menikmati senja...great ocean road sayang abgnet saya g smepet naek helikopter:(

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By ko Acong
      Terima Kasih Thien Qung telah menjaga kami semua sehingga dalam kedaan Sehat Semua. Yuk kita lanjut napak tilas Jalur Sutra sesi 2. Setelah kami menikmati keindahan Crescent Lake terutama adanya oase alami di Gurun Gobi, waktunya kami diantar ke stasiun Dun Huang untuk pindah kabupaten yang jaraknya kurang lebih 800 km, memakai kereta sleeper train.
      Kami sepakat pakai tidur lunak, sekamar 4 tidur susun. Untuk antisipasi kebiasaan yang kurang bersahabat bagi kita, bila tidur keras 1 row isi 6 tempat tidur dan tidak berpintu. Nah, kami pakai tidur lunak, diperjalanan kami pun jadi tidur dengan nyaman,  tak terasa alarm alam membangunkan kami. Lalu kami siap2 ke restroom. 1 jam kemudian sampailah kami di stasiun Turpan.

      Ternyata kami sudah mulai memasuki daerah istimewa Tiongkok. Lalu hal pertama yang kami hadapi adalah petugas imigrasi, dengan wajah yang khas dan penuh curiga kepada kami. Oh ya, penduduk Turpan sudah berbeda jauh wajahnya,  yang mana tidak oriental lagi. Beres urusan imigrasi, kami pun mencari sarapan, dengan berbagai menu yang lumayan bersahabat dengan lidah kita dan halal.
      Setelah keluar imigrasi, nah disini lah kami mulai dikerubuti oleh para driver dengan memegang gambar-gambar destinasi wisata, sementara kami abaikan dulu, ngudud dulu, cari sasaran driver yang sreg dengan kita. Setelah terpilih, kami panggil driver tersebut ke pinggiran, dan terjadilah tawar menawar. Sambil saya tunjuk saya mau ke destinasi wisata yang ada di brochure tersebut, satu paket 5 destinasi dengan harga 300 RMB (kalau tidak salah). Kami sewa 3 mobil, jadi per kepala kena charge 90 RMB, durasi tour 8 jam dengan jarak kurang lebih 180 km sampai kami diantar ke hotel. Oh ya, jarak stasiun ke downtown kurang lebih 40 km, dan bila memakai antaran taksi 120 RMB, jadi kami mending pilih langsung sekalian tour. Semua komunikasi kami mempergunakan google translate yang ada suaranya, jadi lebih mudah berkomunikasi dengan driver.
      Pertama, kami diantar ke hotel dulu untuk check in dan bersih-bersih karena cuaca Turpan sangat panas, namun dingin sekali anginnya.
      Kedua, kami tadinya mau ke benteng gurun center kota, Bazeli Ten Thousand Buddha Monastery, namun hanya ditunjukan dan lewat karena waktu tidak mencukupi.
      Ketiga, kami diantar ke gunung api (Flaming Mountain) dan itupun hanya dilewati karena kami masih belum move on.
      Keempat, kami diantar ke gurun pasir Turkistan Shansan Countri, nah disinilah kami baru move on, karena tantangan pemandangan di depan seperti layaknya paris dakar rally. Kami ber-10 memakai kendaraan gurun pasir langsung menuju puncak gurun pasir, ternyata kami hanya diantar sampai tengah dengan harga 250 RMB per mobil.
      Setelah sampai kami main di tengah puncak, mulailah modus mereka keluar, maukah kalian kami antar ke puncak teratas gurun pasir dengan harga 400 RMB/mobil. Tentu kami semua menolak. Tapi, khusus kendaraan yang dipake saya, saya nego sampai dapat harga 200 RMB.
      Kami diantar ke basecamp, nah disini lah tantangan adrenalin kami diuji ternyata kita turun dari puncak itu langsung melompat lurus ke bawah
      bagai mobil meluncur lurus jatuh ke dasar jurang, mungkin lebih menantang dibanding naik jet coster. Setelah sampai khusus kendaraan yang dipake saya langsung naik ke puncak teratas gurun pasir. Disinilah pemandangan yang paling aduhai. Kami semua dalam keadaan bersuka ria, mulai tuh keluar semangat kita.

      Kelima, kami diantar ke musem Gaochang, begitu buka pintu mobil kami semua terkejut karena sinar matahari sangat menyengat, tapi tetap kami berfoto dulu sebentar dan tidak sanggup melanjutkan menuju gedungnya.

      Setelah sampai mobil saya tanya destinasi apa ini sebenarnya, para driver menjelaskan bahwa disinilah tempatnya suhu Gaocheng. Dalam misi menuju barat hampir menyerah dalam melaksanakan misinya dan terlihat table temperature menunjukan 41 derajat celcius berarti kalau di air setengah mateng. Wah kata driver coba tadi kalau berhenti di gunung api lebih lengkap ini ceritanya, semangat kita jadi on fire lagi.
      Lalu kita minta datang ke gunung api yang tadi sudah kita lewati, ternyata setelah turun bener-bener ini daerah panasnya bagaikan kita dengan dapur pemanggangan. Banyak relief yang menggambarkan Sun Go Kong yang menuju langit untuk meminjam kipas sakti para dewa dan Flaming Mountain yang sedang membara sekali kipas langsung hilang apinya.
      Keenam, kota Turpan sepanjang kami lihat dari kereta api tadi mungkin juga ratusan kilometer hanya terlihat gurun pasir tak terbatas. Ternyata kota Turpan adalah salah satu yang penghasil anggur dan buah-buahan serta perternakan terbesar untuk Tiongkok mainland.
      Kami semua heran, dimana datangnya kehidupan kalau tanpa air dan semua terjawab di museum Turpan Karez Underground Water System, harga tiket masuk 40 RMB. Yang dengan hanya melihat teorinya pun sudah menjawab keheranan saya, si Bocah Tua Nakal kan pinter.

      Dan jawaban keheranan saya makin terjelaskan pada esok harinya di Heavenly Lake. Tur akan dilanjut ke Grand Bazarnya Turpan, namun teman 2 orang terserang Dehidrasi. Ibarat kataa kalau mau manggang roti dikota turpan tak perlu pake oven cukup ditempel didinding disinari matahari bisa mateng tuh.

      Kami semua ingin buru-buru masuk Hotel dan Mandi. Namun setelah segar, sebagian teman-teman kabur juga tuh menikmati barbeque dan sop kambing nan lezat. Pastinya gak lupa cuci mata lah, secara disini orang-orangnya cantik dan garanteng Uhuuuiiii Prikitiwww.
      Malam terus berlalu walau jam 22.00 masih terang benderang, tapi kami harus segera tidur, mengingat esok hari harus pindah kota lagi dengan jarak tempuh 180 km menuju Heavently Lake.
      Heavently lake adalah danau raksasa dipuncak gunung diketinggian 2200 Mpdl, yang mana sejauh perjalanan kami hanya disuguhi gurun pasir nan gersang sejak dari Turpan. Namun ketika sudah sampai puncaknya dan kami tembus tunnel Kaki Gunung Himalaya, baru pemandangan berubah drastis. Sepanjang mata dimanjakan oleh pohon-pohon nan indah dan udara yang tiba-tiba bisa berubah drastis menjadi dingin menusuk tulang. Danau Thian Shan benar-benar danau yang sangat indah.

      Setelah puas didanau kami turun gunung sejauh 602 km lagi menuju Hotel. Namun ada trouble, kita berganti Hotel dan malam sudah tiba kami semua tidur.
      Nah keesokan harinya teman-teman sudah tidak tahan untuk kabur menuju Grand Bazarnya Urumgi, secara Urumgi adalah kota modern dan wisata budaya dan juga surga kuliner, sangat perlu diekplor dengan agak santai.
      Sore telah tiba kami semua akan mengakhiri napak tilah Silk Road “Middle” ini dan akan dilanjut bonus trip petualangan ektra cepat menuju Asalamuaikum Beijing. Di tunggu yah Field Reportnya
      Mohon Maaf, pasti bacanya capek kepanjangan cerita namun itu lah ceritanya apa adanya.
       






































    • By siti uko
      Hallo…
      Siti Uko disini, mau sharing keseruan kita kemarin, bersama temen2 KJJI di rafting Cisadane "Al- Nassr Rafting", dua hari sebelum puasa tepatnya tgl 04 juni 2016. HTM 200rb/0rg sudah termasuk wellcome drink, makan siang lengkap dgn minuman dingin dan kelapa muda, asuransi perjalanan dan dokumentasi 2 buah memori card, satu buat HP satu lagi buat laptop. Cukup ramah dikantong kaaan.. hehe..
      Letaknya ada di jln.raya sukabumi KM 16, sebelum pasar caringin sebelah kiri.
      Dr jakarta, keluar tol jagorawi kira2 ditempuh 10 menit perjalanan klo ga macet. Klo naik angkot nomor 02 jurusan Cicurug, ongkosnya 4000 rupiah.
      Semoga bermanfaat buat info liburan habis lebaran yak.. selamat menunaikan ibadah puasa besok.
      Salam KJJI..

      pasukan KJJI sudah siiiiiiaaaaaap...lengkap dengan baju pelampung, helm, dan dayung. sebenernya ada tiga orang diantara kami yg takut arung jeram termasuk saya sendiri, hehe.. tapi setelah dibujuk2 akhirnya mereka mau juga turun ke sungai cisadane, dengan hati yg deg2an tentunya.
       

      Ketinggiannya mencapai 3 meter sodaraaaah, dan itu yg bikin sahabat saya meni, bu rina teriak2 kaya orang kesurupanan... ahahaha.. ampun dah!
       

      Ven ven....spt nya cuma dia doang yang exited dengan arung jeram, lihat aja gaya tangannya udah bak sang juara memenangkan pertandingan dengan wajahnya yg sumringah, sementara yang lain masih dengan muka mengkerut merengut masih takuuuuuuut.. LOL

      hahaa.. spt nya mba meni sudah mulai jatuh cinta dgn arung jeram.....lihat expresinya, girang banget dah ahh..
       

      huuaaaaaaaa..,,, jantung serasa mau copot,, tapi seeerruuuuuuu!!
       

      dan akhirnya saya dan bu rina tertawa bahagia, pdhal sebelumnya sangatttt takut arung jeram... takut air...wkwkwk
       

      pemandangan disekitar camp rafting, indah sejuk dan adeeeeem... nyeeesss
       

      tempat makan siang setelah berafting ria, ada gazebo unik yang terbuat dr bambu, didepannya terdapat kolam ikan yang sangat luas, menambah asri pemandangan disekitar camp rafting
       

      terakhir.... inilah sajian makan siang dengan menu yang sangat menarik dan komplit, terdiri dari nasi putih, irisan ketimun dan tomat segar, tempe goreng, ayam goreng kampung yang ditaburi sambel peedas yg super maknyus, es teh manis, dan yang special adalah buah kelapa muda....,,, segeeeeeeerrrrr
      see you on the next trip....,,, Hollaaaaa!
    • By Titi Setianingsih
      Saya tidak bisa berenang, dan paling takut jika melakukan wisata air. Baik itu berupa naik perahu keliling pinggiran laut, diatas danau ataupun sungai, rasanya ngeri membayangkan jika perahunya mengalami kecelakaan, maka saya yang tidak bisa berenang akan klelep dan,,,,,,,,tidak berani membayangkan kejadian pahit itu.
       
      Namun tidak diduga sama sekali, mengapa tiba2 saya berani melakukan rafting ? Yang pertama karena selalu disemangati oleh sahabat saya yang sama2 punya hobby travelling. Kedua, kebetulan mendapat guide yang bisa meyakinkan saya untuk bisa melakukan rafting, bahkan dengan bahasa sederhananya “Ibu nanti di perahu diam saja, pegangan, dan menurut apa kata pemandu, In Sya Allah bisaâ€. Dan ternyata, pemadunya juga mudah dalam menyampaikan petunjuk rafting, hanya dengan 3 macam aba2 yang mudah diingat dan dilaksanakan. Bismillah,,,,,saya siap ber-rafting,,,!!!
       
      Dan,,,,,Songa rafting menjadi pilhan kami, karena lokasinya dekat dengan tempat tinggal sahabat saya. Okeeyyy,,,,sesudah memakai peralatan berrafting berupa helm, baju pelampung dan dayung, kami naik ke mobil pick up untuk menuju Sungai Pekalen, kami mengambil tracking untuk pemula. Kurang lebih 30 menit kami sampai ke lokasi, debu jalanan menuju sungai Pekalen beterbangan seiring dengan hembusan angin yang kencang, karena saat itu musim kemarau. Air sungaipun tidak terlalu deras, maklum kami pemula, jadi belum berani mengambil kelas advance dimana di kelas tersebut banyak sekali jeram2nya bahkan ada air terjun yang siap diarungi.
       
      Kami satu perahu ber 6 termasuk pemandunya, hanya berdua yang tidak bisa berenang, yaaaaa harus dicoba karena itu sudah menjadi chalenge kami. Sebentar2 kami berteriak histeris jika mendapati jeram yang cukup deras. Masing2 jeram ada namanya tergantung deras / tidaknya air sungai dan macam bebatuan yang ada di sungai itu. Jika kami temui air sungai yang tenang dan tidak berbatu, peserta dipersilahkan turun untuk bermain-main air sungai dan berenang disitu. Sesudah puas berbasah2an perjalanan dilanjutkan lagi hingga sampai ke tempat persinggahan. Di sini para pserta dipersilahkan turun dari perahu, dan istirahat di rumah bambu untuk menikmati ubi rebus dan air kepala muda. Nikmatnya luar biasa.......sesudah itu melanjutkan perjalanan yang masih separohnya.
       
      Petualangan terakhir mengambil tracking yang agak berat, sungainya banyak bebatuan dan jeramnya lumayan kencang, agak panik ketika itu, karena kulihat pemandu agak kesulitan mengendalikan jalannya perahu. Oh ya, kami diiringi oleh satu perahu lagi yang memuat tim penolong /rescue team kurang lebih ada  4 (empat) orang.
      Dan, kami menjadi paham mengapa dalam rafting ini diperlukan adanya rescue team, karena kita tidak menyangka bakal terjadi kendala dalam tracking ini. Seperti ketika kami melewati jeram terakhir itu, batu besar menghadang perahu kami, dan perahu tersangkut di bebatuan, kami pada berjatuhan ke sungai, masing-masing menyelamatkan diri. Tentu saja, saya yang tidak bisa berenang paling lama dalam berjuang menyelamatkan diri. Dan karena tubuh saya yang terlampau besar, maka pemandu agak kesulitan mengangkat tubuh saya, begitupun saya tidak bisa berusaha mengangkat tubuh saya sendiri ke atas perahu,,,,,,,,,
       
      Di tengah perjuangan saya ini, terlihat teman2 saya yang sudah berhasil naik ke perahu tidak menyia-nyiakan waktu untuk berselfie ria, berpose heboh seperti layaknya tidak terjadi musibah kecil barusan,,,,,inilah salah satu kegembiraan berrafting hahahaha (kata mereka).
      Daaaan,,,dengan susah payah akhirnya saya bisa naik perahu, alhamdulillah...dan teman2 sayapun bersorak gembira melihat saya sudah bisa didalam perahu bersama mereka kembali,,,,,foto2 selfie pun dilanjutkan kembali,,,,,,amaziiing,,,terima kasih teman2ku, terima kasih pemanduku,,,berkat kalian saya bisa menikmati rekreasi yang menantang ini,,,,,,,,SUBHANALLAH,,,!!!!
       
      So, jangan takut wahai para pemula perafting, walau tidak bisa berenang buktinya saya bisa menikmati nya. Ayoooo jangan tunda lagi,,,cobalah, tidak terlalu mahal kok bayarnya, ketika itu Agustus 2014 tarifnya masih Rp. 210.000 untuk pemula.  Fasilitas yang didapat berupa minuman selamat datang (welcome drink), peralatan standar (helm, dayung, pelampung, perahu karet), air mineral bekal pengarungan, transportasi lokal (shuttle service), guide, rescue team, snack dan kelapa muda, makan siang, asuransi, rafting trip 10 km
       
      Dari manapun keberangkatan kalian, tujulah Surabaya terlebih dahulu, dari Surabaya bisa menggunakan bus jurusan Probolinggo, tiket bus tidak mencapai  Rp. 50.000,-
      Selamat mencoba berrafting yaaaaa,,,,,!!! Salam Jalan2,,,,,,

    • By hildaveronica
      hallo semua, salam kenaaaaal. masih nyubi disini tp mau share cerita tentang trip ke Lampung kmaren. muehhehee
       
      Hari Minggu kmaren baru banget pulang dari Lampung. Tujuan utamanya sih sebenernya liat sunrise di atas Gunung Anak Krakatau tp iten lainnya nemu pantaaaaaaaaaaaiiiiii.
      Berangkat dr Bandung jam 3 sore nyampe Merak jam 11 malem dan langsung naik kapal Ferry sekitar 3jam-an lamanya.Rasanya rontok badan bangeet! Tp perjuangan belum selesai masih harus naik angkot lg menuju Dermaga Canti sekitar 1 jam dengan posisi duduk yg disenderin bule besar . begitu sampai Dermaga Canti hilang sudah penderitaan 14 jam perjalanan panjang tersebut. Disini deh bangganya punya Indonesia #iyainajaa   dari Dermaga Canti langsung naik kapal menuju pulau Sebuku Kecil.    sesi pertama dimulai. Gk banyak penghuni laut yg bisa diliat disini tp viewnya ituloooh emmm bangeet. Abis dr situ berangkat menuju penginapan 2jam naik kapal ke Pulau Sebesi, beres" terus berangkat lagi   sesi 2 ke Cemara Satu. Karena sore hari disini ombaknya mulai besar saya punya cerita memalukan disini, pas nyemplung sih aman" aja tiduran diatas air dan gk sadar kalo udah jauh dr kapal. mau balik gk bisa, tenaganya gk cukup buat lawan ombak hahhaa dan minta tolong sama mas" gatau siapa buat di tarik ke kapal ahhhhahhaa abis dari situ menuju Pulau Umang-Umang buat ngejar sunset. pulaunya kreeeeeen bangeeeeeeeeeeeeeet!!! pasir putih dan ahh pokonya bagus bangeet pokonya. dr situ pulang ke penginapan 2jam kapal"an again.*hari esoknya*  Iten selanjutnya mari ke Gunung Anak Krakatau demi sang sunrise, subuh" jam 3 udah naik kapal aja, sampe dan trekingnya sih gk sepanjang si kunir di Dieng, tp disini pasir semua jd agak susah naiknya dan begitu sampai puncak, Tuhaaan bagus bangeet hahhaa foto" dan turun lalu   sesi 3 menuju Lagoon Cabe.nah disini nih penghuni laut numpuk. banyaak banget dan ombaknya gk terlalu besar soalnya masih siang muehehhe. selesai snorkling sesi 3 kaki kena cium karang tercinta huhu. kaki kaya abis kdrt abis itu menuju penginapan *2jam lg* packing dan pulaaaang kembali menikmati perjalanan super panjaaaang menuju Bandung. *foto narsisnya nyelip bolehlahyaa* muehhe
       

    • By Dantik
      Hari 1, 05 Mei 2018 : Athena
      Hari 2, 06 Mei 2018 : Roma Day 1
      Hari 3, 07 Mei 2018 : Venice
      Hari 4, 08 Mei 2018 : Roma Day 2
      Hari 5, 09 Mei 2018 : Roma Day 3
      Hari 6, 10 Mei 2018 : Santorini Day 1
      Hari 7, 11 Mei 2018
      Hari kedua yaitu hari terakhir di Santorini kami mengambil paket Day Tour yang telah disediakan oleh penginapan. Dengan harga 35 euro/pax, kami berkeliling dari barat ke timur, dari selatan ke utara.
      Sebelum mengikuti Day Tour yang dimulai pukul 10.30 kami pergi dulu ke Oia menggunakan Local Bus. Memang, sunset di Oia juga termasuk dalam paket Day Tour tetapi tentu berbeda antara suasana pagi dengan sore hari.
       
      1. Oia

      Dari Terminal Bus Fira kami menggunakan Local Bus ke Oia. Kemudian dari Main Bus Stop & Parking Lot kami berjalan menuju Oia Castle melewati large church at Nikolaou Nomikou square.

      Dari Halte Bus Utama & Tempat Parkir, berjalan kaki ke selatan 120 meter ke gereja besar di Nikolaou Nomikou square. Pergi ke barat di “jalan utama” sebagai ditunjukkan dalam peta ini. Oia Castle / Fortress memiliki pemandangan yang spektakuler.

      Kemudian kami kembali ke penginapan menggunakan Local Bus ke Terminal Bus Fira.
      2. Profitis Ilias Monastery

      Ini adalah tujuan pertama Day Tour kami yaitu Profitis Ilias Monastery yang merupakan puncak tertinggi di Santorini.

      3. Santo Wines

      Ini adalah tujuan kami yang kedua yaitu Santo Wines. Santo Wines adalah tempat dimana kita bisa mencoba semua Santorini wine, baik red wine maupun white wine. Harga yang ditawarkan pun bervariasi. Jika kita tidak ingin menikmati wine, kita bisa menikmati pemandangan dan hanya sekedar berfoto-foto disana.

      4. Light House

      Ini adalah tujuan kami yang ketiga yaitu Light House. Light House berada di ujung paling selatan Santorini.

      5. Red Beach

      Ini adalah tujuan kami yang keempat yaitu Red Beach. Dinamakan Red Beach karena memiliki tebing yang berwarna merah yang merupakan hasil dari lava vulkanik.
      Pantai merah ini bisa dibilang salah satu pantai paling terkenal dan indah dari Santorini. Terletak hanya beberapa langkah dari situs kuno Akrotiri. Ukuran pantai yang kecil menciptakan suasana yang ramai dan kami memilih untuk tidak sampai ke pantai dan mengagumi pemandangan unik dari batuan vulkanik merah dan hitam dari tanjung.

      6. Perissa

      Ini adalah tujuan kami yang kelima yaitu Perissa. Perissa adalah pantai dengan pasir hitam yang ada di Santorini. Banyak orang yang berenang, berjemur atau hanya sekedar makan siang di restaurant pingggir pantai sambil menikmati suasana laut.

      7. Firostefani

      Ini adalah tujuan kami yang keenam yaitu Firostefani. Firostefani adalah salah satu gereja yang paling banyak difoto dari Santorini. Dan ini adalah kali kedua kami mengunjungi Firostefani.

      8. Oia

      Ini adalah ending dari perjalanan Day Tour kami yaitu menikmati Sunset di Oia. Kali ini kami memulai perjalanan kami dari Bus Stop pertama.

      Tentu berbeda dengan suasana pagi hari, karena lebih banyak orang yang ingin menikmati Sunset di sini. Jika kita membawa pasangan tentu akan terasa lebih romantis, bukan.

       
      Santorini adalah tempat yang indah dengan pemandangan Kaldera dan Laut biru Aegea. Siapapun yang kesana pasti akan dibuatnya takjub dengan segala keindahan pemandangan dan budayanya yang khas. Sungguh pengalaman yang tidak akan terlupakan bagi kami.
      Ciao, Santorini!
       
    • By PrinceJuju
      Secuil Surga tersembunyi itu bernama Air Terjun Sumber Pitu

      Berawal dari batalnya Trip ke Air terjun Madakaripura, maka terpilihlah Air terjun Sumber Pitu, Pujon Kidul Kab. Malang sebagai destinasi trip tgl 13 September 2015.
      Air terjun Sumber Pitu yang terletak di Dusun Tulungrejo, Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.
      Ajakan pergi beramai-ramai dengan teman-teman kadang sulit di realisasikan karena masing-masing punya kepentingan, sehingga trip kali cukup menghubungi teman ane yg mau berangkat saja. Akhirnya fix 6 orang berangkat termasuk ane. Personel kali ini 5 cewek dan 1 cowok yakni ane sendiri. Hihihihihi….
      Untuk trip touring kali ini kami menggunakan 3 sepeda motor.
      Ditentukan meeting point jam 6.00 pagi di depan Apotek Pleret daerah Pleret, Pasuruan.
      13 September 2015
      Jam 05.45 pagi ane meluncur menuju Meeting point dan ternyata teman-teman ane sudah menunggu disana, dan 2 teman ane yg lain menunggu di Alun-alun kota Batu. Its Ok lah…
      Jam 06.00 kami berempat meluncur menuju alun-alun kota Batu menemui 2 teman ane di sana. Perjalanan pagi ini cukup dingin karena beberapa hari terakhir angin cukup kencang jadi kami tidak terlalu cepat memacu laju motor kami cukup 60-70 km/j. hehehee..
      Berkendara kurleb 45 menit kami tiba di pertigaan karanglo, kami arahkan motor menuju arah Batu. Tidak jauh dari pertigaan kami mampir warung makan untuk mengisi perut dulu. Warung ini cukup murah untuk seporsi rawon dan teh hangat hanya membayar 13rb rupiah saja. Ada bermacam-macam lauk tambahan seperti tempe tepung, dadar jagung dll pokoknya mantappphhh. Ane lupa nama warungnya, lokasi depan pertigaan mau ke kampus 2 ITN, maju dikit kanan jalan persis pojok gang.
      Setelah puas makan dan kenyang, lanjutttttttt go to Alun alun Batu….
      Jam 08.00 tepat ane udah ketemu 2 teman ane yg sudah menunggu sedari tadi, oke maaf temansss membuat kalian menunggu.. hiks.. hiks… hiks…
      Perjalanan kami lanjutkan menuju dusun Tulungrejo, Pujon kidul. Kami arahkan motor melewati Wisata Payung Batu dengan di suguhi pemandangan khas perbukitan dan café-café kecil yg biasa berjualan jagung bakar, kopi dan makanan minuman lainnya.
      Akhirnya ketemu patung sapi, kalau ke kiri menuju Wana Wisata Coban Rondo, kami terus mengikuti jalan besar kira-kira 50 meter ada pertigaan dan pangkalan ojek di kiri jalan kami belok kiri dan mengikuti jalan aspal tersebut kira-kira 3 km setelah tanjakan ada pertigaan kecil dan petunjuk arah Sumber Pitu belok kiri mengikuti jalan cor-coran.
      Dari pertigaan tersebut kurleb 500 meter ketemu loket/pos registrasi tiket masuk yg di kelola komunitas Capung Alas. Dengan membayar 10rb tiap orang, kami lanjutkan perjalanan menuju pos parkir terakhir melewati jalanan makadam dan tanah yg berdebu ** maklum musim kemarau ** perjalanan kurleb 3 km kami lalui dengan susah payah karena seharusnya menggunakan sepeda trail namun kami menggunakan sepeda motor biasa. Mobil pun bisa masuk hingga parkiran atas, dengan catatan bukan musim hujan ya...  Saran dari ane mobil dgn bemper rendah seperti sedan sebaiknya jgn di bawah ke parkiran atas, mobil seperti avanza, xenia its okelah... Bagi rombongan yg menggunakan elf long bisa jg parkir di pos registrasi / loket... Hihihihi…
      ** Sekedar info jika musim penghujan maka batas parkir terakhir adalah loket registrasi dan selanjutnya di tempuh jalan kaki. Karena jalanan licin dan lumpur berbahaya jika di paksakan naik motor / mobil ke parkiran atas. ada jasa ojek trail menuju parkiran atas kog.
      Tiba di parkiran atas, kami tempatkan motor parkir rapi tentu sebelumnya bayar parkir 5rb tiap motor. Perjalanan masih di lanjutkan dengan berjalan kaki yg menurut info 1-2 jam. Wowwww…. Cukup lama juga ya.
      Awal perjalanan melalui trek cukup datar namun setelah 100 meter, trek mulai menanjak miring 30-45 derajat di tambah kondisi jalan tanah yg berdebu, apabila kita melangkah debu mulai berterbangan. Apalagi berpapasan dengan rombongan lain dapat di pastikan debu bertambah parah ditambah orang lain yg kadang menginjak tanah dengan keras entah sengaja atau tidak semakin menambah polusi debu. Hiks.. hikss.. saran ane musti bawa masker jika kesana saat musim kemarau.
      Melewati ladang penduduk sampailah di kondisi jalan agak datar terus melangkah hingga menemukan jalanan turun lumayan ekstrim karena untuk turun tidak bisa jalan seperti biasanya musti pelan dan berpegangan akar pohon agar tidak terpeleset jatuh. Sudah mulai terdengar gemericik suara air terjun, dan setelah turunan tersebut ada air terjun tunggal yg di namai Coban Tunggal. Kami istirahat sejenak di tempat ini sembari bernarsis ria. Hehehehee…
      Setelah energi terkumpul kembali kami ambil arah kiri dari Coban Tunggal menuju tujuan kami yg sebenarnya yakni Sumber Pitu. Akses kali ini benar-benar ektrims karena jalan sempit menanjak di bantu oleh tali tambang agar tidak terjatuh. Di sarankan tidak buru-buru saat melewati medan tanjakan ini, cukup di nikmati pelan-pelan. Kurleb 15 menitan sampai di Air terjun Sumberpitu. Total lama perjalanan dari parkiran atas +- 1,5 jam jalan santai.
      Sungguh indah sekali karya Tuhan semesta alam, ane cuma bisa terdiam tidak mampu berkata-kata menikmati anugrah pemandangan sangat indah ini. Benar-benar amazingggggg…
      Pemandangan indah yg harus kita jaga dan lestarikan salah satu caranya adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan.
      Mengapa dinamakan air terjun Sumber pitu karena adanya aliran air sumber dari dinding tebing sejumlah 7, sebenarnya ada 9 namun entah mengapa di namakan Sumber Pitu seharusnya Sumber Songo.. hahahahaa
      Dari Air terjun Sumberpitu masih ada 1 air terjun lagi yakni Sumber Papat. Akses dari sumber pitu ke arah kanan menanjak kurleb 100 meter, medan kali ini tanpa tali dengan kemiringan lebih dari 45 derajat jadi harus sangat berhati-hati karena salah langkah bisa terpeleset dan jatuh ke bawah.
      Dari atas pemandangan air terjun Sumber pitu sangat indah sekali cocok buat narsis / selfie /wefie dll, namun tetap berhati-hati jika berfoto ria yg penting tetap jaga keselamatan.
      Tidak lama dari spot foto-foto tadi ketemu air terjun Sumber Papat / Coban Papat, sama seperti Sumber pitu aliran air berasal dari tebing tinggi namun jumlahnya hanya 4, dan aliran air ini mengarah ke Coban Tunggal yg tadi.
       
      Setelah puas menikmati karya Tuhan yg luar biasa ini kami memutuskan turun dan balik, jalanan turun lebih susah di banding naik, karena harus pelan dan sedikit ngerem agar tidak kebablasan, di tambah jika berpapasan dengan orang lain yg hendak naik ke Sumber pitu harus ada yg mengalah minggir agar tidak terjatuh.
      Selepas dari Coban Tunggal ke arah parkiran jalan sedikit tidak berat karena turunan, namun tetap saja debu mengganggu perjalanan ke parkiran. Hehehhee…
      Perjalanan kembali ke parkiran lebih cepat dari pada berangkatnya tadi. Sampai di parkiran jam 13.30 kami putuskan istirahat di warung sekitar dan mengisi perut yg mulai keroncongan dengan Indomie seleraku.. hihihihi…. Kami diskusi untuk rute selanjutnya, mestinya kami akan menuju Omah Kayu di kawasan Paralayang namun karena fisik dan kaki sudah gempor alias capek kami putuskan menuju alun alun Batu saja. Mungkin di lain waktu kami akan mengunjungi Omah Kayu.
       
      Akhirnya jam 15.30, kami sampai di alun alun kota Batu, setelah berunding sejenak maka di putuskan kami berpisah di sini karena teman ane ada keperluan dan ane juga ada keperluan ke rumah kakak ane di Batu.
      Jam 17.30 ane meluncur balik menuju Pasuruan. Seperti biasa setiap weekend arah Surabaya selalu padat cenderung macet mulai Karanglo – Singosari – Lawang, selepas itu lancar.
      Tepat jam 20.00 ane tiba di Pasuruan dengan selamatttt…
      Oke kawansssss… terima kasih buat touringnya… lanjuttt touring lain waktu yaaaaaa…..
      Ane banyak menemukan pelajaran baru dari trip kali ini, selain berkenalan dengan teman baru asal Tulungagung. Sharing-sharing sedikit pengalaman rupanya mereka bener-bener seorang traveler Sejati dan hanya berdua saja dalam mengunjungi lokasi lokasi wisata di berbagai tempat.
      Memang benar pergi beramai-ramai itu asyik dan seru namun identik dengan ruwet karena ada yg tiba-tiba batal hingga akhirnya batal semua, saling tunggu siapa pesertanya dan lain sebagainya. Namun jika benar ingin mengunjungi suatu tempat entah solo travelling atau berdua saja tetap akan di jalani, dan banyak sekali solo travelling di luar sana yg menginspirasi karena kita di tuntut benar benar mandiri, berinteraksi dengan alam budaya yg berbeda dan masih banyak lagi.
      So.. sederhana sekali, intinya ingin pergi kemana ya pergi saja… karena pengalaman dan pelajaran yg di dapat selama travelling tidak dapat di nilai dengan mata uang.
      Enjoy Yours Travelling
      Rincian pengeluaran :
      Bensin : 20.000,- ( jika berboncengan bisa di bagi berdua )
      Parkir Sumberpitu : 5.000,-
      Tiket Masuk  : 10.000,-
      Makan Pagi : 13.000,-
      Makan mie instan dan jajan di parkiran : 8.000,-
      Makan Malam : 18.000,-
      Total : 74.000,-
      ** total pengeluaran bisa lebih hemat jika bawa bekal makanan atau makan nasi bungkus
      Akses menuju Sumberpitu, Pujon Kidul:
      - Dari Surabaya : Surabaya – Pandaan – Karanglo – Batu – Pujonkidul
         Kendaraan umum ( ada 2 alternatif ) :
      Naik bus jurusan Malang, turun terminal arjosari, naik Angkutan ADL menuju terminal Landungsari, ganti naik bus kecil Puspa Indah jurusan Jombang. Turun di patung sapi Pujon ( kondektur pasti ngerti ). Jalan kaki dikit ketemu pangkalan ojek dan pertigaan, lalu sewa ojek menuju pos registrasi Capung alas / sumber pitu kurleb 15rb coba tawar menawar saja selanjutnya jalan kaki menuju lokasi air terjun. Naik bus jurusan Jombang, turun terminal jombang, ganti naik bus kecil Puspa Indah jurusan Malang. Turun di patung sapi Pujon ( kondektur pasti ngerti ). Jalan kaki dikit ketemu pangkalan ojek dan pertigaan, lalu sewa ojek menuju pos registrasi Capung alas / sumber pitu kurleb 15rb coba tawar menawar saja selanjutnya jalan kaki menuju lokasi air terjun - Dari Pasuruan : Pasuruan – Karanglo – Batu – Pujonkidul
      Kendaraan umum : Naik bus jurusan Malang, turun terminal arjosari, naik Angkutan ADL menuju terminal Landungsari, ganti naik bus kecil Puspa Indah jurusan Jombang. Turun di patung sapi Pujon ( kondektur pasti ngerti ). Jalan kaki dikit ketemu pangkalan ojek dan pertigaan, lalu sewa ojek menuju pos registrasi Capung alas / sumber pitu kurleb 15rb coba tawar menawar saja selanjutnya jalan kaki menuju lokasi air terjun.
      - Dari Malang : Malang – Batu – Pujonkidul
      Kendaraan umum : naik angkutan menuju terminal landungsari ganti naik bus kecil Puspa Indah jurusan Jombang. Turun di patung sapi Pujon ( kondektur pasti ngerti ). Jalan kaki dikit ketemu pangkalan ojek dan pertigaan, lalu sewa ojek menuju pos registrasi Capung alas / sumber pitu kurleb 15rb coba tawar menawar saja selanjutnya jalan kaki menuju lokasi air terjun.
      Tips berkunjung ke Air terjun Sumber Pitu :
      1. Kondisi Fisik Prima ( wajib )
      2. Bawa Baju Ganti + Celana Pendek atau Celana ¾
      3. Pakai sandal gunung / sandal khusus / sepatu khusus yg tidak licin. ( jangan pake sandal yg licin seperti crocs / sandal jepit)
      4. Bawa Minum Air mineral karena jalan menanjak dan ekstrim
      5. Bawa Masker dan Sunblock. ( jalan berdebu saat musim kemarau )
      6. Bawa Tongsis / tripod agar maksimal untuk hunting foto.
      7. Bawa kembali sampah kita dan jangan buang sampah sembarangan.
      8. Jika naik kendaraan sendiri pastikan kendaraan anda dalam kondisi fit, Mesin, Oli, tekanan Ban, Rantai motor dll.
      9. Bawa duit tunai secukupnya.
       
    • By ko Acong
      Selamat Pagi Indonesia
      Kali ini Sibocah tua nakal akan berbagi informasi untuk siapapun tentang rute Trip Silk Road. Kali ini saya mengajak rekan2 traveller lainnya nya Di berbagai komunitas Backpacker dengan Cara Share Cost murni tanpa ada embel tersembunyi, beneran terang benderang kita saling kerja sama saling berbagi suka maupun susahnya. Alhasil semuanya happy dengan Budget seperempat dari harga tur umum nya, bahkan bisa pulang Via Beijing dengan jarak Urumqi ke Beijing 4000an km. Yup kita mulai rute nya.

      Hari 01
      Kita semua menuju bandara masing masing dan berkumpul di KLIA2. Sorenya kita Terbang menuju Xian dan tiba pukul 00.05, namun di imigrasinya wow 2 jam. Keluar imigrasi biasa ngudud mencari lokasi strategis dan mengincar seseorang supaya mengantar ke Hotel kami. Tertuju lah inceran saya ke satu orang dan mulai nego harga disepakati 150 RMB 1 mobil dengan jarak 40 km menuju kota Kalo nggak salah, kami perorang bayar 45 RMB. Sekalian dalam perjalanan kami nego untuk sewa mobil seharian anter makan piknik pulang ke hotel lagi 1200 RMB pake super Van.
      Hari 02.
      Kami piknik penuh Suka ria (namun tetap ada kekecewaan sedikit namun kami berterima kasih terhadap driver), karena telah dibantu informasi yang tidak kami sadari sampali last time, yang mana bakal merugikan waktu kami yaitu tentang STASIUN KERETA API!! Ya, kami nginap di hostel Xian lupa namanya namun ini tempat sangat ok buat Backpackers, per kepala Kurang lebih 140 RMB untuk 2 malam.
      TOTAL UANG KELUAR Di Xian: 40 RMB + 140 Hostel +120 van +150 Teracota 54 RMB = 504 RMB
      Hari 03.
      Pagi 05.00 kami bergegas ke Stasiun Fast train!! Ya, pastikan nama stasiunnya, by taxi kurang lebih argo 40 RMB /mobil, perkepala 13 RMB, tiket kereta 320 RMB, fast train Xian - Zhangye paling pagi. 7 jam kemudian diatas 2000 km kami telah berpindah propinsi dari Xianyang ke Chanye.
      Setelah tiba di stasiun Fast Zhangye Xi, strategi ngudud diulang sampai ketemu orang yang Sreg dan disepakati harga anter kami ke Danxia Rainbow Mount 80 RMB, lanjut anter makan dan pulang ke hotel, cekin seharga 260 RMB, permobil 3 mobil 720 RMB jadi per kepala 72 RMB dengan di antar 3 driver Cewek tangguh.
      Nego untuk ekplor Pinshan Hu / Phinshan Canyon seharga 1500 RMB 3 mobil, perorang kena 150 RMB. Tiket Masuk Pinshan Hu 328 RMB dan ke Hanging Temple Matisi.
      Total Uang keluar: Tiket Fastrain 320 RMB + Taxi 72 RMB + 80 RMB Tiket masuk + Hotel 196 RMB 2 malam = 356 RMB
      Hari 04.
      Pagi Dijemput untuk menuju Phinshan Canyon. Catatan: Danxia platform bisa pake Bus umum namun perlu waktu ekstra dan kejar waktu, harga tidak jauh dengan sewa taxi bila isi 4 orang. Begitupun bila mau ke Phinsanhu, harus sewa taxi umum, belum ada jarak. Tur kurang lebih 270 KM, 2 tempat dengan Hanging Temple Matisi. Jadi kami sewa taxi perorang kena 150 RMB (pelayanan dan harga sebanding bintang 5). Tempat destinasi yang ditawarkan sesuai gambar “kami buta hurup dan gagu terpaksa tiket masuk pinshan canyon 328 rmb.
      Total uang keluar:  150 RMB +328 Rmb + 30 Rmb = 218 RMB
      Hari 05.
      Disilah kami sebut Mereka pejuang rumah tangga tangguh. Membawa kita ke Destinasi Cresent Lake, mobil per orang Dari Zhangye anter Ke Jiayuguan Pass dan Dunhuang City ditunggu wisata Ke Cresent Lake dan dianter ke Stasiun untuk menuju Turpan.
      Total uang keluar: 200 RMB tiket masuk cresent lake + 120 yuan naik onta 100 yuan + 200 mobil = 420 RMB
       
      Nah saya cukupkan dulu Trip Silk Road sampai dengan propinsi Gansu, perbatasan Gurun Goby ini ya dan nantikan Silk Road edisi selanjutnya
      Jumlah uang keluar: 504 + 218 + 356 +420 = 1598 RMB
      Estimasi untuk makan minum sehari 65 yuan/hari
      Rate terkini 1 RMB Rp. 2160
      Jadi Kalo Menuju Danxia Rainbow Mauntain bisa di perkirakan biayanya bila jalur Silk roadnya middle. Semoga berguna buat teman-teman traveler, dengan rute saya ini ada gambaran spot-spot yang pentingnya.
      Mohon maaf ya saya tidak ngerti cara menulis yang baik namun niat saya hanya Untuk berbagi.