• agoda-hemat.png

Sign in to follow this  
Nightrain

Victoria Dan New South Wales Dalam Seminggu

63 posts in this topic

post-22151-0-08900900-1386214699_thumb.j

Darling Harbour, Sydney at night

 

Saya mau share trip sekitar bulan May tahun 2012 yang lalu. Agendanya selain jalan-jalan, juga mau ketemu temen kuliah yang udah sekitar setaon lebih pindah ke Melbourne (ibukota Victoria) dan Sydney (NSW), jadi jadwal kita sengaja bikin untuk bisa ke dua tempat ini dengan itinerary kurang lebih seminggu dan sudah include sidetrip ke Great Ocean Road (Vic) dan Blue Mountain (NSW), jadi barangkali ada yang niat mau kesana atau first-timer, mudah2an bisa membantu.

 

Kita spend waktu sekitar 4 malam di Melbourne dan sekitarnya dan kira2 3 malam di Sydney. Saya bilang sih ini sudah cukup walaupun lebih optimal lagi kalau ada extra 3 malam supaya bisa ada more room untuk sidetrip namun waktu itu timing ngga memungkinkan dan tiket sudah optimal harganya, jadi ya maybe next time.

 

Kita terbang ke Melbourne dgn Garuda, kebetulan waktu itu promo dapat sktr 3jt / orang direct flight one way jadi cukup ok, kalau beli PP harusnya lebih murah tapi karena kita kudu ke Sydney, kita cek Garuda one way dari Sydney ke Jakarta ngga ada promo jadi sktr 6jt, begitu cek AA juga ngga ada promo murah tapi harganya sktr 4jt, jadi not bad, ok lah kita ambil. Terus ambil juga flight dari Melbourne ke Sydney via JetStar yang ini murah, mungkin sekitar 600rb-an saja.

 

Untuk urus Visa, karena kita orangnya ngga mau pusing, seringkali kita kasi aja dokumen ke orang tur, mereka yang beresin dalam 2 minggu, harga sekitar 1.5 atau 2jt/org kalo ngga salah, mungkin sekarang sudah naik, baiknya tinggal call ke tur untuk pastiin.

 

Day 1

Setelah menempuh flight sekitar 7 jam dari Jakarta, kita tiba di Melbourne sekitar jam 8.30 pagi dan kebetulan temen kita, Melvin, langsung jemput di airport dan kita menuju hotel Bayview Eden deket Albert Park. Kalau ada yang complain soal parkir di bandara Indo mahal, coba saja di Melbourne, parkir sebentar paling 30 menit, di-kurs sekitar 250rb, ampun deh, kalau parkir nginep di Soekarno-Hatta kan udah 5 malem tuh hehe

 

Room per night di hotel itu kalau promo dapat sekitar $120-$140, hotel udah agak tua, tapi bersih, dan deket ke CBD dan tram station, so far sih kita puas disitu jadi ngga masalah. Karena seperti biasa check in jam 3 sore baru bisa, jadi titip luggage dan kita langsung jalan saja ke CBD. Walaupun ada mobil di Melbourne, juga kadang parkir bisa jadi masalah karena biasanya kalau mau deket, mesti parkir di office building dan kemudian kita jalan, dan kalau parkir di luar juga mesti perhatikan note-nya, kalau disuruh parkir ngadep depan, jangan berani parkir ngadep belakang, bisa2 didenda 2-3juta. Disini rules agak strict, jadi sedikit mirip dgn Singapore, si Melvin pernah cerita, dia naik kereta saja, sudah kecapean dan angkat kaki di kursi depan kebetulan di sekitar dia kosong dan ketiduran, disamperin kondektur langsung dikasi tiket denda sekitar 2jt :D

 

Suhu pertengahan Mei itu bisa dibilang sudah dingin apalagi pagi, dibawah 10 derajat. Masih musim autumn tapi sudah mendekati winter, dan angin dari Antarctica juga bertiup kencang jadi Melbourne relatif lebih dingin ketimbang Sydney. Australia agak berbeda dengan negara 4 musim lain, jadi winter dia itu di bulan Juni, kebalikan dengan yang ada di Northern hemisphere yang bulan Juni justru summer.

 

Kita nyobain Vietnamese food, cocok banget makan pho pas udara dingin dan explore sekitar CBD sebentar kemudian menuju area sekitar Yarra River. Disini ada opsi untuk naik ferry tapi kita decide untuk explore saja. Banyak yang suka jogging dan bawa anak kecil untuk sekedar jalan2 saja, dan di river juga ada yang latihan rowing. Samping sungai ini juga good spot untuk foto, tapi akan lebih bagus lagi pas malam untuk skyline photoshoot.

 

post-22151-0-42207400-1386215980_thumb.j post-22151-0-73102200-1386216732_thumb.j

post-22151-0-19842000-1386562256_thumb.j post-22151-0-81823900-1386562270_thumb.j

(arah jarum jam dari kiri atas) samping Yarra RiverFlinders Street Station | Federation Square | street performer

 

Dari situ ngga terlalu jauh untuk jalan ke Flinders Street Station dan dekat situ juga ada Federation Square, arsitektur bangunannya unik dan kadang di depan situ suka ada street performers dan deket situ suka ada yang jualan di gerobak. Sore hari sekitar jam 4-an, kita nyebrang Yarra dan kita menuju ke Crown Casino Complex, ya seru juga sekedar liat orang ngadu nasib disini dan berisik sekali, dan lagi2 kebanyakan isinya encim2 umur 50an asal China, ngga di Macau, Singapore, Aussie, mereka yang paling rajin judi :D

 

Yang menarik dari kasino ini adalah Gas Brigades, atau semburan api dari tower di sekitar kasino dan durasinya juga ngga lama, paling sekitar 10-15 menit, jadi harus cek bulan apa Anda berangkat dan timingnya. Kita selagi nunggu disitu, makan di salah satu resto yg uniknya punya

squid ink pasta, looks disgusting tapi sebetulnya taste nice.

 

post-22151-0-32964100-1386217567_thumb.j post-22151-0-19169100-1386217806_thumb.j

(kiri) the fire ! | (kanan) pasta tinta cumi

 

Pas malam, view samping kasino juga top dan karena udah kelelahan belum istirahat sejak mendarat, kita decide untuk call it a day dan balik ke hotel. Sayang kita waktu itu cuma modal pocket cam tanpa tripod, jadi banyak blurry shot, cuma ini ada satu sample great pic di sekitar river waktu malam diambil random di google dgn gas brigades.

 

post-22151-0-94180600-1386218231_thumb.j

 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 2
Pagi itu kita berangkat agak siangan, sekitar jam 9.30 karena kemarin kelelahan dan kebetulan hari ini, Melvin masih ada waktu libur di sela kesibukan kerjanya, mengajak kita ke Mount Dandenong. Suburb ini bisa dicapai kira2 30-40 menit driving dari city dan di area sana ada satu resto/cafe yang terkenal namanya SkyHigh, selain ada taman juga ada maze.

 

post-22151-0-37561200-1386558428_thumb.j

salah satu sudut di Victoria Market

 

Sebelum kesana, kita cari breakfast dan shopping dikit di Queen Victoria Market. Disini salah satu tempat belanja orang lokal juga mulai dari daging, buah2an, sayur2an, dan untuk turis, banyak tersedia juga souvenir (termasuk bumerang) dan macam2 barang mulai dari pakaian, aksesoris, jam, dll, dan sebagian besar yang jualan adalah orang China, dan disini bisa tawar menawar walaupun harga ngga bisa turun jauh seperti kalau di Shenzhen.  Cuma perlu diperhatikan, market ini ngga buka setiap hari, kalau ngga salah Senin tutup, jadi mesti dicek dulu sebelum kesana. Di salah satu bagiannya, banyak yang dagang makanan, dan kita coba bratwurst-nya juga taste very good, dan mau nyoba daging kangguru juga ada :D

 

post-22151-0-31502600-1386558436_thumb.j post-22151-0-78557700-1386558445_thumb.j

(kiri) kelinci, kangguru, buaya, dll | (kanan) must try bratwurst!

 

Menjelang siang, kita langsung drive menuju Dandenong tapi sambil ngiter2 Melbourne juga, jadi kira2 2 jam baru tiba disana, dan kita langsung menuju Skyhigh karena dari sini view bagus, jadi inget mirip The Peak di Bandung. Suhu diatas gunung ini super dingin, apalagi kalau sudah winter, kadang malah ada salju dikit. Rencana mau lunch diatas tapi waktu itu ternyata resto sudah dibook untuk private event jadi setelah explore area ini kira2 1 jam, kita pelan2 turun sambil coba cari random restaurant untuk lunch, dan ketemu yang namanya Flippin' Pancakes, ternyata enak dan rekomen untuk dicoba kalau pas lagi kesana. Range harga antara $10 - $30 dan cukup crowded jadi suka ada waiting list sebentar sih, waktu itu kita harusnya nunggu 1.5 jam, tapi karena masih waktu 40 menit sebelum tamu datang, ya sudah kita bilang kita makan ngebut aja gpp :D

 

post-22151-0-88850200-1386558921_thumb.j post-22151-0-80511200-1386558909_thumb.j

post-22151-0-48568400-1386559138_thumb.j post-22151-0-84802000-1386559148_thumb.j

(arah jarum jam dari kiri atas) Skyhigh Mount Dandenong | The Giant Chair | salah satu menu lezat di Flippin' Pancakes | autumn leaves

 

Sore sekitar jam 4an, kita turun kembali ke city dan sempet mampir dulu ke Greensborough Plaza yang ada di area suburb. Mall ini sendiri termasuk gede dan salah satu fave orang lokal namun perlu diperhatikan kalau setiap hari mall sekitar jam 5.30 sore sudah tutup kecuali hari Kamis, semacam shopping night, jadi bisa sampe jam 9 malam. Agak berbeda dengan mall2 yang di Jakarta yang biasanya sampai jam 9 malam setiap malam, bahkan weekend bisa sampe jam 10.30an, kalau di Melbourne, seringkali jam 6 sore rata2 sudah sepi karena semua sudah pulang dan istirahat, kecuali mungkin sebagian tempat di CBD, tapi yang pasti, buat yg terbiasa dgn hectic-nya kehidupan kota sampai malam malah merasa sunyi disini.

 

Agenda kuliner malam itu, kita jajal resto Korean/Chinese, Han Guuk Guan, yang juga layak dicoba kalau pas ketemu, dan malamnya jalan-jalan di Lygon Street atau yang juga dikenal dengan Little Italy. Di sepanjang jalan ini hampir semuanya memang restoran Italy, mulai dari pizza, gelato, pasta, dll, dan kadang2 suka ada festival Italy yang diselenggarakan disini. Malamnya kita coba hot chocolate di Koko Black di sekitar situ dan ini salah satu yang terbaik, dan Koko Black ini juga ada di area City, tepatnya di Block Arcade.

 

Malamnya kita balik ke hotel dan istirahat. Overall, Dandenong sendiri menurut kita biasa saja, view atas gunung begini pun Bandung ngga kalah tapi di sepanjang jalan itu banyak sekali resto  yang sepertinya juga enak2, dan mungkin sidetrip yang lebih baik itu ke Mount Buller, semacam ski resort, cuma lokasinya jauh, kira2 200km jadi bisa 3-4 jam driving, dan kalau mau paksa PP, mungkin bisa kecapean, apalagi waktu itu kita ngga prepare winter coat yang tebel jadi next time saja.

 

Day 3

Agenda hari ini, kita mau explore CBD Melbourne atau dikenal dgn 'City'. Ini adalah jantung kota Melbourne dan seluruh kesibukan kebanyakan berpusat disini, jadi area shopping, perkantoran, sekolah, taman, dan sebagainya numpuk disini semua. Akses kesini juga sangat gampang, dari hotel kita naik tram langsung turun di depan Flinders Station dan dari sini tinggal jalan kaki saja untuk explore. Disini ada juga shuttle bus yang mengitari hampir semua area, seinget saya ini gratis, dan ada juga City Sightseeing / Hop on Hop off Bus, yang ini bayar.

 

Yang paling berkesan dari Melbourne ini adalah kulinernya. Bisa dibilang hampir semua makanan yang kita coba semuanya enak, mulai dari Korean, Malaysian, Japanese, Vietnamese, Australian, dll, bahkan kalau kangen dengan makanan Indo, disana pun Anda bisa ketemu Es Teler 77 dan Nelayan resto. Porsinya super besar, jadi sebetulnya satu porsi bisa buat berdua, tapi untuk kebanyakan orang yang sudah tinggal di Melbourne, lama kelamaan sih satu porsi gede itu muat untuk sendiri. Untuk sekali makan, bisa dibilang yang termurah dan standar itu sekitar $10 atau kira2 100rb.

 

post-22151-0-54754600-1386560706_thumb.j post-22151-0-93025500-1386560775_thumb.j

post-22151-0-16318700-1386560736_thumb.j post-22151-0-83053400-1386560794_thumb.j

(arah jarum jam dari kiri atas) Eureka Tower | Hopetoun Tea Room | grafiti di salah satu sudut kota Melbourne | Koko Black di Block Arcade

 

Pagi itu, kita breakfast di Hopetoun Tea Room, Block Arcade. Ini tempat yang dapat rating tinggi di tripadvisor dan memang kue, teh, dan breakfastnya lumayan enak namun harga agak pricey dan kalau lagi rame, waiting listnya juga cukup panjang, tapi untung pagi itu kita langsung dapat meja. Setelah breakfast, kita explore area city dengan jalan kaki, lunch break di salah satu random restaurant juga, explore ke area Chinatown, dan sore-nya kita naik shuttle bus dan turun di sekitar St. Patrick Cathedral. Dari situ, kita jalan saja tanpa tujuan sambil sightseeing, banyak taman baik yang gede maupun kecil bagus untuk lokasi foto ataupun duduk2 santai, sebelum akhirnya sekitar jam 6, kita balik lagi ke city, makan malam, dan kemudian balik ke hotel karena besok pagi2 banget sekitar jam 6-an kita akan menyusuri Great Ocean Road dengan tujuan Twelve Apostles

 

post-22151-0-00308200-1386561761_thumb.j post-22151-0-40168400-1386561777_thumb.j

post-22151-0-12977600-1386561827_thumb.j post-22151-0-29562100-1386561841_thumb.j

(arah jarum jam dari kiri atas) St.Patrick Cathedral | salah satu sudut Chinatown | Old Treasury Building | salah satu resto yang kita coba dengan Es Teler 77 signboard di belakang

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 4

Beberapa minggu sebelum kita berangkat, kita sudah mempersiapkan trip menuju Great Ocean Road dan pilihan kita jatuh ke Escape Discovery Adventures karena banyak positive reviews di tripadvisor dan itinerary-nya untuk one day trip juga menarik. Setelah beberapa kali email dengan Paul (owner sekaligus operatornya), jadwal kita sesuaikan karena memang ada minimal jumlah person agar bisa berangkat, tapi biasanya sih ya kalau sudah terkumpul sekitar 4-5 sih jalan, tapi waktu itu kita ada 8 orang yang ikut. 3 orang Amrik, 1 orang New Zealand, kita berdua dari Indo, dan dua lagi dari Singapore.

 

post-22151-0-78102300-1386738107_thumb.p

 

Gambar diatas itu kira2 jalur yang kita lalui selama satu hari penuh itu dengan total jarak tempuh sekitar 500 km bolak balik dan jadwal yang padat ini kita awali dari jam 7 pagi dan berakhir sekitar jam 8 malam. Jadi buat yang tertarik untuk ambil trip ini memang harus menyiapkan satu hari penuh dan tur sendiri bervariasi, tapi untuk Escape ini sekitar $140 / orang sudah include 3x makan, dan so far kita sangat impressed dgn service dari Paul, juga orangnya demen ngobrol dan ngerti banyak topik, seluruh tempat yang kita kunjungi juga dia tahu tentang latar belakang dan history-nya, dan juga big fan-nya AC/DC (yang juga adalah band rock legendaris andalan Australia) :D Tidak heran tur beliau ini mayoritas dapat 5-stars di tripadvisor dan juga menang award bbrp tahun berturut2.

 

Pagi itu, Paul datang on-time sekitar jam 7 untuk menjemput kita di hotel dan kemudian kita keliling kota dulu untuk menjemput partisipan yang lain dan setelah semuanya on board, kita langsung berangkat dengan destinasi pertama kita, ngga jauh dari Melbourne, menuju salah satu padang rumput yang kanggurunya dibiarin bebas berkeliaran jadi kita bisa foto2 sebentar, sebelum lanjut menuju desa Anglesea dan mampir sebentar untuk breakfast di samping danau. Disini memang tempat piknik untuk orang lokal juga tapi waktu kita tiba disana masih pagi dan cuaca dingin, jadi belum ada orang kecuali kita. Sambil ngobrol2 sebentar dan Paul menyuguhkan pilihan teh/kopi dan berbagai macam kue dan biskuit lokal, kita santai sejenak dan kemudian lanjut lagi menyusuri Great Ocean Road, sambil mampir sebentar di Memorial Arch, tugu untuk mengenang para pejuang WW1 dan juga melewati Lorne, kota samping laut yang juga memiliki panorama ke arah laut yang sangat bagus.

 

post-22151-0-24052000-1386743133_thumb.j post-22151-0-68716800-1386743150_thumb.j

(kiri) danau di Anglesea | (kanan) Memorial Arch

 

Berikutnya kita tiba di Cape Patton lookout, dari sini view memang spektakuler dan lokasinya juga berada sekitar 50 m diatas permukaan laut, jadi kita seperti berada diatas tebing melihat deburan ombak. Dari sini, tidak terlalu jauh menuju Apollo Bay, mungkin sekitar 15km saja. Sering diadakan festival disini, juga mulai banyak resort untuk turis, dan antara winter dan spring, Anda bisa melihat ikan paus, sayang waktu kita kesana masih masuk autumn. Kita lunch di salah satu cafe disini, dan makanannya lumayan enak, apalagi ditambah dengan Ginger Beer, makin top! Menurut Paul, banyak juga local family yang spend weekend disini, mungkin satu atau dua hari, tempatnya juga ngga terlalu ramai, jadi untuk bersantai memang cocok.

 

post-22151-0-22996900-1386744854_thumb.j post-22151-0-39546600-1386744868_thumb.j

(kiri) bir jahe yang top, bisa dibeli di supermarket lokal | (kanan) Cape Patton lookout

 

After lunch, kita lanjut menuju salah satu lokasi tempat banyak aneka burung yang 'kelaparan', jadi kalau Anda membuka telapak tangan dengan sedikit makanan, bisa sekitar 10-20 burung langsung menyerbu dan bertengger di kepala, pundak, dan tangan. Seru juga tapi agak sedikit ngeri apalagi kalau ngeliat jumlahnya yang banyak. Disini juga Anda bisa ketemu beberapa koala yang suka bersembunyi diantara pohon.

 

Dari sini, kita lanjut menuju Port Campbell, namun sebelum itu sempet mampir dulu di salah satu rainforest. Sebetulnya untuk kita orang Indo, tempat ini jelas tidak terlalu menarik karena variasi pepohonan, bunga, dll ini sangat sering kita jumpai di negeri sendiri, apalagi orang yang keluar masuk hutan Kalimantan, mungkin udah tiap hari liat, namun tentunya banyak orang2 bule senang lihat yang seperti ini apalagi orang Eropa, jadi kita ikut saja explore, untung tidak terlalu lama, paling 30 menitan, kita sudah di mobil lagi dan lanjut menuju The Twelve Apostles.

 

post-22151-0-82487800-1386744951_thumb.j post-22151-0-76224100-1386745040_thumb.j

(kiri) sunlight and the cliffs | (kanan) Loch and Gorge

 

Tiba disana sekitar pukul 3.30 sore dan pastikan baju tebal karena tiupan angin Antarctica ini bisa membuat suhu menjadi sangat dingin dan bisa dibilang ini adalah highlight dari perjalanan Great Ocean Road. Karena hantaman ombak yang kencang dari dulu, tebing2 ini kemudian pelan2 terkikis dan sebagian membentuk gua dan sebagian juga ada yang membentuk semacam 'arch' dan akhirnya runtuh sehingga banyak tersisa pilar-pilar batu. Pemandangannya cantik dan terkadang agak sedikit mengingatkan dengan Tanah Lot di Bali. Area disini luas, kita bisa foto dari atas, juga turun tangga ke bawah ke pantainya, dan kira2 spend waktu 1 - 2 jam disini sudah cukup. Ada beberapa area yang diberi nama seperti London Arch (mirip seperti jembatan dan akhirnya collapse jadi seperti London Bridge), Loch and Gorge, The Gibson Steps, dll, namun basically semuanya adalah formasi tebing hasil erosi laut.

 

post-22151-0-09772400-1386745328_thumb.j

 

Malamnya kita dinner di salah satu resto deket Port Campbell dan makanannya sih standar burger with fries gitu, mungkin varian lainnya fish and chips, tapi tetap saja enak. Setelah dinner, kita kemudian drive back ke kota dan karena perjalanan panjang, banyak yang sudah tertidur dan akhirnya tiba sekitar jam 8 malam dan long day itu pun berakhir dan tentunya sangat berkesan. Besoknya kita akan segera ke Sydney selama 3 hari via Jetstar jadi pagi2 sekitar jam 7an sudah harus ke airport dan kebetulan pagi itu Melvin berbaik hati untuk mengantar kita kesana.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 5

Flight dari Melbourne ke Sydney relatif pendek, hanya memakan waktu sekitar 1.5 jam saja, namun karena jarak ke airport Melbourne yang jauh, plus nunggu boarding, bagasi dan sebagainya, basically kita tetap kehilangan setengah hari. Kali ini untung airport Sydney ada di dalam kota, jadi paling hanya 20 menit saja atau sekitar 10-15 km jaraknya ke area downtown. Kebetulan waktu itu kita nginep di Mercure Hotel yang ada di George Street, hotel ini ok karena bersih, lokasi yg sangat bagus, dan akses ke public transport juga ok, ke subway station juga sangat dekat, dan dapat reasonable price mungkin sekitar $140/night.

 

Siang itu setelah check-in, kita langsung explore area dengan jalan kaki sekitar hotel, dari George Street menuju ke area Chinatown, dan di salah satu jalan ada restoran Thailand yang saking ramenya, kita ngga mikir panjang langsung coba aja dan memang lagi2 enak, sayang lupa nama restorannya apa. Ngga jauh dari sini, kita ketemu Paddy's Market, ini semacam Victoria Market-nya Sydney atau Pasar Pagi-nya Jakarta, hampir segala jenis barang juga dijual termasuk souvenir dan juga memang bisa tawar-menawar, cuma jangan lupa untuk cek jadwal bukanya, karena hari Selasa barangkali tutup, dan sisanya buka seperti biasa dari jam 9 sampe 5 sore, agak berbeda dengan toko2 di Mangga Dua yang sebagian tutup hari Senin. Di dekat sini juga ada area Chinatown, dimana setiap hari Jumat malam, selalu ada semacam bazaar yang buka sampai kira2 jam 11-12 malam jadi rame sekali yang jualan, lalu lalang, juga termasuk beberapa restoran yang masih buka sampai malam. Sydney sendiri terlihat jauh lebih dinamis ketimbang Melbourne, jadi buat yang menginginkan kehidupan yang lebih santai, relax, dan slow, lebih cocok di Melbourne ketimbang Sydney.

 

post-22151-0-43006200-1387184764_thumb.j post-22151-0-58199600-1387184803_thumb.j

(kiri) Paddy's Market | (kanan) di depan Chinese Garden

 

Dari Paddy's Market, kita segera menuju ke area Chinese Garden of Friendship, dan disini sudah masuk kompleks Darling Harbour. Untuk masuk ke dalam garden harus beli tiket namun kita decide untuk tidak ke dalam karena ingin explore area harbour yang memang sangat luas. Dekat situ juga ada playground untuk anak2 dan open space untuk orang2 piknik dan bersantai, beberapa mahasiswa terlihat rame2 ngerjain tugas, belajar, atau sekedar ngobrol2 disana. Cuaca hari itu memang sangat bersahabat walaupun angin yang bertiup cukup dingin, tapi tidak menggigil seperti di Melbourne yang letaknya memang lebih selatan.

 

Kira-kira kita berada tepat di Darling Harbour-nya sekitar jam 4 sore, jadi ngga akan lama lagi matahari akan terbenam. Duduk di dekat dermaga dengan menikmati pemandangan sore sambil menanti sunset serta melihat banyak burung beterbangan sambil menikmati coklat panas juga sangat enjoyable. Biasanya area ini akan sangat ramai pas malam dimana di pinggiran memang selain ada mal kecil, juga ada banyak kafe / restoran serta ada beberapa tourist attraction seperti Sydney Aquarium atau Madame Tussauds.

 

Pyrmont Bridge yang menghubungkan dua sisi Darling Harbour juga sibuk dengan banyak orang lalu lalang dan di salah satu sudut ujung jembatan, ada counter Movenpick, es krim terkenal asal Swiss, dan rasanya juga kurang lebih mirip jadi kalau sempat, boleh dicoba.

 

post-22151-0-13541500-1387184897_thumb.j post-22151-0-28877700-1387184885_thumb.j

(kiri) menikmati Movenpick | (kanan) Hard Rock Cafe Sydney

 

Malam itu kita dinner di Hurricane's Grill bareng Ricky, salah satu temen kuliah juga yang sudah tinggal di Sydney, dan ini salah satu tempat yang direkomen beberapa temen karena pork ribs-nya super mantabb, namun overall steak dan ribs lainnya juga sangat rekomen, dan untuk yang demen Beef dan Lamb ribs juga konon mantap. Harga untuk half rack kira2 $30-$35 dan sangat worth untuk dicoba.

 

Darling Harbour sendiri merupakan satu tempat yang sering diadakan berbagai macam festival, jadi kalau bertepatan dengan acara tertentu, banyak fireworks dan dipadukan dengan beautiful skyline, tidak heran banyak yang demen pacaran disitu. After dinner dan spend sedikit waktu foto2 di harbour, kita lanjut untuk night dessert dan pilihan jatuh pada Lindt Cafe. Mungkin banyak yang familiar dengan brand coklat asal Swiss ini, nah di Melbourne juga ada, namun kita ngga sempet coba disana, jadi baru bisa mencicipi waffle dan iced milk choco-nya. Superb taste dan great ambience! Sekitar jam 9-10 malam kita kembali ke hotel dan istirahat

 

post-22151-0-62109200-1387184823_thumb.j

Darling Harbour at night

 

 

Day 6

Acara hari ini masih padat, pagi kita rencana ke Bondi Beach dan explore area sana, kemudian setelah lunch, kita menuju Circular Quay tempat Harbour Bridge dan Opera House berada, dari situ kita bertolak menuju Manly Beach dan kemudian berlabuh di Darling Harbour. Dari situ, kita akan ketemu Ricky lagi dan dinner malam di city.

 

Overall, plan hari itu semuanya berjalan tanpa halangan dan cuaca juga mendukung, jadi untuk yang mau one-day trip explore 2 famous beach-nya dan iconic place Sydney, bisa coba itinerary ini.

Bondi Beach jelas sangat ramai pas summer, jadi pada waktu kita pergi menjelang winter, as expected, suasana pantai lengang, walaupun masih aja selusin orang yang nekad surfing walaupun angin yang bertiup udah dingin. Untuk kesana dari hotel kita juga gampang, tinggal naik subway dan pilih destinasi Bondi Junction, mungkin kira2 30-40 menit dari downtown. Tiba disana, tinggal cari shuttle bus-nya dan paling sekitar 10-15 menit sampai di Bondi Beach. Lokasi pantai yang berbentuk seperti bulan sabit dengan dihiasi rumah diatas pinggir pantai juga cukup cantik untuk jadi objek background foto, namun kalau Anda tidak surfing atau berjemur, ngga perlu spend waktu terlalu lama disini, saya rasa 1 - 1.5 jam saja sudah max. Naik sedikit ke arah tebing atas untuk dapat view bagus ke pantai dengan deburan ombak yang ciamik.

 

post-22151-0-18836700-1387252955_thumb.j post-22151-0-44621300-1387253007_thumb.j

Bondi Beach

 

Dari Bondi Beach kembali ke Bondi Junction, dari situ bisa mampir dulu ke Westfield mall, untuk sekedar nyari snack, lunch, atau shopping sedikit dengan variasi barang untuk mid-to-upper class. Buat yang demen beli pakaian lucu buat anak di rumah, Pumpkin Patch punya banyak koleksi menarik. Juga disini ada pie yang enak, namanya Pie Face, tapi karena store-nya banyak tersebar jadi ngga susah nyarinya. Yang suka nyari CD/DVD/games, ada toko juga namanya JB Hi-Fi, di Aussie manapun ada, tapi menurut saya, koleksinya biasa aja dan lebih enak belanja online.

 

post-22151-0-69819100-1387253508_thumb.j

 

Dari sini mungkin sekitar jam 2 siang, kita langsung menuju ke Circular Quay dan ambil ferry menuju Manly Beach yang memakan waktu sekitar 30 menit. Sebetulnya di Manly sendiri pantai yg relatif kecil dan ngga terlalu beda jauh dgn Kuta, namun ferry trip dari CQ kesini juga bagus karena Anda bisa dapat view Opera House dan Harbour Bridge dari tengah laut. Di Manly sendiri masih banyak orang surfing juga dan karena kita masih terkesima dengan Hurricane's Grill, kita coba lagi satu tempat ribs yang namanya Ribs and Rumps, namun soal rasa masih kalah dgn HG padahal harga ngga jauh beda.

 

post-22151-0-49075700-1387253156_thumb.j post-22151-0-52873800-1387253446_thumb.j

(kiri) Opera House shot pada saat menuju Manly | (kanan) menjelang sunset di dermaga Manly

 

Paling ok bersantai di Manly dan tunggu sampai menjelang sunset, dari situ ambil trip balik ke CQ jadi bisa dapat sunset view pantai sekaligus Opera House / Harbour Bridge. Jadwal ferry sendiri hampir setiap 30 menit ada jadi ngga masalah. Setelah kita tiba di CQ, kita muter2 saja disana, lokasi ini rame sekali karena memang ngga murni tempat turis, juga sebagai hub untuk orang2 lokal jadi benar2 tumpek blek semua disini, walaupun ngga sampai overcrowded.

 

Malamnya, kita dijemput Ricky dan menuju downtown untuk dinner di Chat Thai, salah satu restoran Thai terbaik di Sydney, setidaknya menurut sebagian orang lokal, dan memang untuk makan disana pas malam setidaknya mesti nunggu paling cepat 20-30 menit dan menurut saya memang rekomen walaupun tidak wah banget ya. Area CBD Sydney umumnya buka sampai jam 7 malam, tapi khusus hari Kamis masuk kategori shopping night, kadang ada yang sampe jam 9-10 malam, mungkin special occassion juga bisa sampai jam 12 malam.

 

post-22151-0-24582300-1387253527_thumb.j post-22151-0-45375800-1387253536_thumb.j

(kiri) Sydney Harbour Bridge | (kanan) Nurses Walk, The Rock

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 7

Hari terakhir di Sydney kita putuskan untuk berangkat menuju Blue Mountains, area pegunungan yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Sydney, sekitar 50-60km saja, namun kita putuskan hari itu untuk ambil day-trip tour AAT Kings yang sudah kerjasama belasan tahun dengan hotel karena kita pengen mampir sebentar di Featherdale Wildlife Park dan karena tur-nya juga digabung dengan ferry-ride pas balik ke Sydney dari area Olympic Park, rasanya not bad dan kita ambil saja, per orang mungkin sekitar $120+, banyak variasi tur mulai dari harga $80 - $300, tergantung itinerary dsb, tapi untuk itinerary yang kita ambil rasanya udah ok.

 

Ternyata untuk service dari AAT Kings itu sendiri menurut kita sih mengecewakan karena staff/supir-nya agak kasar, waktunya terlalu mepet dan terburu2 jadi ngga ada waktu fleksibel untuk sedikit hiking dan explore Blue Mountains-nya, dan juga kurang informatif. So mending pilih tur yg lain saja kalo bisa. Berikut kira2 area yang kita lewatin sepanjang 200+ km :

 

post-22151-0-27338900-1387337746_thumb.j

[A] Sydney - Featherdale - [C] area Blue Mountains - [D] Leura - [E] Olympic Park

 

Destinasi pertama di Featherdale, ini semacam small wildlife park, dimana hampir semua hewan2 unik khas Aussie ada disini dan tentunya yang paling menarik adalah kangguru dan koala. Kita bisa berfoto dan memegang koala, atau memberi makan kangguru, dan disini juga ada restoran kecil untuk sekedar ngopi dan bersantai. Waktu juga ngga perlu lama2, saya rasa 1 jam sudah cukup. Dari Featherdale, kita langsung lanjut menuju Scenic World Blue Mountains dan sebelumnya mampir ke salah satu lookout untuk melihat Jamison Valley, dan memang pemandangannya sangat bagus.

 

post-22151-0-63389600-1387340314_thumb.j post-22151-0-29426300-1387340328_thumb.j

Koala dan Kangguru di Featherdale

 

Paket tur itu sendiri sudah include dengan lunch dan kalau ngga salah, termasuk dengan tiket untuk naik Scenic World Cableway dan Scenic World Railway, jadi kita tinggal tukar saja kupon saja pas disana. Cableway ini semacam cable car horizontal dan pas naik ini juga agak ngeri2 sedap karena dibawah kita kaca bening dimana kita bisa ngeliat lembah dibawah dan juga Three Sisters serta Katoomba Falls. Railway ini sendiri semacam roller coaster tapi pelan dan masuk Guinness Book sebagai railway tercuram di dunia dgn kemiringan sekitar 52 derajat.

 

post-22151-0-22325500-1387340071_thumb.j post-22151-0-22591700-1387340104_thumb.j

post-22151-0-33392000-1387340123_thumb.j post-22151-0-23706400-1387340132_thumb.j

(arah jarum jam dari kiri atas) depan Scenic World | siap-siap naik Railway | di dalam Cableway | Blue Mountains signboard

 

Kalau ada waktu banyak, disini kita bisa jalan ke bawah dan masuk ke dalam rainforest juga, namun karena tidak memungkinkan, kita hanya naik cablecar (yang lain) dan explore sebentar saja dibawah. Menurut saya ngga banyak yg menarik juga di bawah dan Blue Mountains sendiri sebetulnya tidak menawarkan sesuatu yang extra special kecuali pengalaman naik Railway dan Cableway itu, karena view lembah yang bagus pun di Indo banyak, namun karena tempat ini termasuk salah satu tourist place dan UNESCO World Heritage Site, ngga ada salahnya untuk menginjakkan kaki disini minimal sekali pas udah di Sydney karena lokasi juga ngga terlalu jauh.

 

post-22151-0-09501400-1387340199_thumb.j post-22151-0-64244100-1387340146_thumb.j

(kiri) Three Sisters | (kanan) great view of the valley

 

Kira2 sekitar jam 3 sore, kita bertolak menuju Leura, kota kecil di pinggiran area Blue Mountains. Mampir disini pun hanya karena searah dan selain toilet break, untuk yang mau sekedar ngopi juga ok, pas autumn, deretan pohon dengan warna merah juga cantik, dan ada beberapa toko kecil untuk sekedar beli souvenir. Dari Leura kita akan menuju area Olympic Park dan di dekat sini ada dermaga ferry untuk kita kembali ke Sydney, dan kita bisa pilih untuk turun di Circular Quay atau di Darling Harbour. Karena hotel kita lebih dekat ke DH, jadi kita turun disana, jalan kaki menuju Chinatown dan kebetulan pas hari Jumat malam, disana sangat rame dan seperti bazaar, banyak sekali yang jual makanan dan pernak pernik macam2, dekat situ kita nemu satu restoran Jepang yang namanya Kura, agak nyempil dikit di pojokan dan restorannya di lantai 2, tapi ini rekomen banget, makanannya top dan harganya juga reasonable.

 

post-22151-0-44526400-1387340238_thumb.j post-22151-0-10892600-1387340186_thumb.j

(kiri) another view of the valley | (kanan) di Leura

post-22151-0-00316700-1387340275_thumb.j

suasana malam di Chinatown

 

Overall, Melbourne dan Sydney sangat rekomen untuk kulinernya, dari sisi kota juga termasuk nyaman untuk ditinggalin dan Melbourne cenderung lebih sepi dari Sydney, peraturan agak strict jadi berhati2 jangan sampai kena fine disana karena mahal, mungkin untuk umur 50+ rasanya cocok banget di Melbourne, dan anak muda lebih asik di Sydney. Alternatif sidetrip lainnya kalau pas di Melbourne juga bisa ke Tasmania dan kalau di Sydney bisa juga ke Hunter Valley untuk wine-tasting atau ke Kiama untuk menyaksikan blowhole, semacam semburan air ke atas.

 

* * *

Share this post


Link to post
Share on other sites

@kyosash

iya, dan kalo malem banyak yg pacaran di dermaga :D

 

@deffa

mantap sembur apinya sob, Brisbane itu ada di tengah, udah masuk Queensland. Kalo road distance mungkin sekitar 1700km atau kalau nekad ya kira2 18-20 jam nyetir hahaha flight paling 1jt-an kesana dari Melb. Melb / Sydney satu itinerary doable, kalau Brisbane itu cocoknya digabung dgn Gold Coast. Waktu itu kita lagi mikir mau naik train dari Melb ke Sydney sekalian liat pemandangan, atau kalo ngga mampir sebentar di Canberra, tapi sayang waktu cuma seminggu, kalau ada 10 hari boleh, soalnya bisa sktr 9 jam, dan banyak yg bilang Canberra kurang,  ya sudah lah

Share this post


Link to post
Share on other sites

Canbee cm ada pohon!

ozzyyyyyyyyyyyyy!!!! denorra rinduuuuuuuuuuuuu!!!

@deffa, beraninya komen doank, pdhl sodara banyak! hah!

yarra river itu romantis banget kl aps sore, kongkow ato pacaran ato sekedar jogging duuuuuuuuh:p

Sydney gue jg suka, secara gue d adeled, kan kampung, hahaha

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa

iya, aussie ini kalo soal makanan memang top, mungkin juga karena resto2 mereka jarang yang 'palsu', artinya resto vietnam ya memang koki-nya orang vietnam juga, resto indo ya orang indo, dll, dan selama kita disana, bisa dibilang makanan mediocre itu paling hanya 2-3x aja, sisanya sih top, tapi bisa juga karena direkomen ama temen yg udah tinggal disana hehe

Share this post


Link to post
Share on other sites

saya ga sempet ke three sisters T_T

laennya mah asoooooooooooooy.....darling harbor ngecengin bule2! bondi liat yg hot2 topless n naked, buahahaha

yarra kongkow2 menikmati senja...great ocean road sayang abgnet saya g smepet naek helikopter:(

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By braska
      Foto diambil dari Tokyo Tower - (k)
      Hallo semua,
      Tahun ini saya berkesempatan mengunjungi Tokyo beberapa kali. Kebanyakan bersama teman2 (thx untuk teman2 II dan IV) dan beberapa kali dengan partner. Banyak yang bertanya ke saya tentang itinerary selama di Tokyo, jadi saya pikir lebih baik saya buatkan dalam satu Thread yang nantinya tinggal di share URL nya.
      Thread ini akan saya buat dalam beberapa tahap, dan diharapkan sudah bisa selesai sebelum bulan Desember 2018 berakhir.
      Beberapa pokok bahasan yang akan diulas dalam Thread ini antara lain
      I Persiapan
      II Itinerary
      III Kereta di Tokyo
      IV Shopping
      V Tempat Wisata Gratis
      VI Tempat Wisata Berbayar
      VII FAQ
      PERNYATAAN :
      FOTO
      Semua Foto yang tidak ada tanda dalam Thread ini berarti di ambil dari Google dan Screenshot, sedangkan foto yang bertanda merupakan hasil jepretan dari 
      (i) I Edy S
      (a) Adhitya A W
      (k) R CJatmiko
      WEBSITE
      Saya tidak memiliki kepentingan apapun dengan website yang ada dalam thread ini. Moderator dapat menghapus link jika di perlukan
      MUSIM
      Yang di bahas dalam Thread ini hanya untuk keberangkatan pada Musim Dingin di Tokyo dan sekitarnya, anda dapat tetap membaca thread ini dengan melakukan beberapa penyesuaian jika ingin bepergian di Musim lain.
      STYLE
      Khusus Perjalanan ke Tokyo, perjalanan saya bukan perjalanan Backpacker, saya selalu membawa Koper, naik penerbangan Full Service, Tinggal di Hotel, tetapi mencari harga paling murah yang bisa di dapatkan  
       
      I Persiapan
      Saya selalu menikmati Tokyo (sama halnya dengan saya menyukai Bangkok) Kota ini sangat hidup, penuh dengan budaya Jepang yang kental di satu sisi dan teknologi modern di sisi lain. Khusus untuk Musim dingin, saya menyukainya karena
      1. Musim dingin tidak ada di Indonesia, 2. Tidak terlalu berkeringat, 3. Ada banyak foto indah yang bisa di peroleh di musim dingin, 4. Salju, 5. Harga Tiket dan Hotel lebih murah...(ya, bandingkan jika anda pergi ke Jepang untuk melihat Sakura mekar) Jika kalian ingin mencoba musim dingin di Tokyo ayo kita mulai persiapannya.
      1. Passport dan Visa
      Untuk keluar negeri tentu saja kita harus mempunyai Passport dan untuk bisa ke Jepang kita juga harus mempunyai Visa. Ada banyak cara membuat passport yang bisa di temui di Google karena itu saya tidak akan mengulas lebih lanjut. Silakan masuk ke www.google.co.id lalu ketikkan "cara membuat e paspor" dan kalian akan menemukan lebih dari 100.000 tautan.
      Yang ingin saya sampaikan disini adalah BUATLAH E-PASSPORT, jangan membuat Passport biasa. Membuat passport biasa untuk bepergian ke Jepang sangatlah menyusahkan, karena artinya kita harus mengurus Visa. Sedangkan jika menggunakan E Passport kita tinggal mengurus Visa Waiver.
      Berikut saya tunjukkan perbandingannya :

      Dari perbandingan di atas terlihat kan, mempunyai E Passport berarti anda mengurangi keribetan mengurus Visa, jika visa di tolak anda terpaksa harus merelakan tiket pesawat PP dan (mungkin) hotel yang hangus. Sebaliknya jika anda mempunyai E Passport anda tinggal mengurus Visa Waiver terlebih dahulu baru melakukan pemesanan tiket pesawat, hotel, dll sesudah Visa Waiver di kabulkan. Anda juga bisa melewatkan ketakutan yang paling banyak di bicarakan orang saat membuat Visa "HARUS PUNYA DUIT MINIMAL SEKIAN PULUH JUTA", karena penguruan Visa Waiver hanya memerlukan E Passport anda. 
      Peluang untuk mendapatkan Visa Waiver juga sangat besar, jika anda orang baik2 tidak punya catatan kriminal, tidak pernah ditangkap di Jepang, maka saya bisa bilang Anda pasti dapat Visa Waiver.
      Cara mengurus visa waiver Jepang bisa di dapatkan dengan mengetikkan "cara membuat visa waiver jepang" di Google.
       
      2. Tiket
      Saya bukan orang yang anti dengan penerbangan Low Cost, pada dasarnya saya malah lebih sering menggunakan Maskapai Low Cost ketimbang Full Service, tapi mari saya tunjukkan kenapa saya lebih memilih penerbangan Full Service untuk pergi ke Tokyo
      Maskapai Low Cost hampir selalu menggunakan transit flight dari Jakarta ke Tokyo. Efeknya sangat berbahaya, saya sudah 2x mengalami kejadian tidak mengenakkan. Waktu transit biasanya hanya 1,5 - 2 jam. Akibatnya jika penerbangan dari Jakarta delay maka (hampir) dapat dipastikan (walaupun kita tidak ketinggalan pesawat menuju Tokyo) tidak cukup waktu untuk memindahkan bagasi kita. Kejadian paling parah yang saya alami adalah berada di musim dingin tanpa jaket tebal (yang tertinggal di Kuala Lumpur). Saat itu perlu 2 hari untuk bagasi saya sampai di hotel. Alhasil liburan sudah tidak lagi menyenangkan, dan saya harus rela kehilangan suara selama 2 minggu karena terkena radang tenggorokan (kupluk, syal dan semua baju ganti ada dalam koper di bagasi). Sekarang  bagaimana jika waktu transitnya lama, misal 16 jam. Anda mau tidak mau harus mengeluarkan uang lagi untuk membayar hotel di lokasi transit. Tentu saja ada pilihan untuk tidur di bandara. Tapi sebagaimana telah saya tuliskan di atas style perjalanan saya bukan backpacker. Jam kedatangan dan keberangkatan Maskapai Low Cost sering mengakibatkan anda kehilangan 1 hari di Hotel. Begini contohnya : Jika anda Tiba di Tokyo Pukul 23.00 maka sesudah proses imigrasi, pengambilan bagasi, transportasi dll maka kemungkinan anda akan tiba di hotel Pukul 01.00. Waktu Check in hotel biasanya adalah pukul 14.00 sehingga mau tidak mau anda telah kehilangan 1 hari di hotel yang telah anda bayar. Selain itu waktu keberangkatan juga seringkali jadi masalah. Maskapai Low Cost sering berangkat di jam-jam malam seperti 23.50, padahal waktu Check Out hotel Tokyo adalah 11.00 akibatnya ada waktu lebih dari 12 jam luntang lantung tanpa tempat istirahat. Ada biaya tambahan untuk bagasi di penerbangan Low Cost. Biasanya berkisar 400 - 700 ribu tergantung beratnya. Berarti kalau PP bawa bagasi maka ada tambahan biaya sekitar 1 juta dari harga tiket. Penerbangan ke Tokyo memakan waktu lama, direct flight saja bisa lebih dari 7 jam. Lalu di pesawat kita mau ngapain? duduk, diem, merenung dan tidur? jika anda memilih untuk mengisi perut maka ada biaya lagi yang harus di keluarkan untuk pemesanan makanan.  Ok, jadi kita akan memilih penerbangan full service yang menyediakan makanan dan minuman, entertainment flight, jarak antar kursi yang lapang, jam penerbangan yang tepat dengan kebutuhan, free bagasi, dan semua fasilitas lain yang tidak di dapatkan di penerbangan low cost. Mahal dong? Jawabnya TERGANTUNG. 
      Ini contoh penawaran maskapai low cost

      Dan ini tiket yang saya beli 

       
      Saya terbang menggunakan JAL yang masuk dalam daftar 5 Star Airlines. Bagasi 46 kg FREE, Full Service, dengan Jam kedatangan 15.45 dan Jam keberangkatan 17.45. Harga yang saya dapatkan lebih murah daripada maskapai Low Cost.
      Jadi bagaimana caranya? Saya menggunakan SkyScanner (silakan Googling). Dengan SkyScanner kita dapat melihat kapan, maskapai mana, dan website mana yang memberikan tiket paling murah. Tentu saja jika kita membeli dari jauh2 hari kita memiliki lebih banyak pilihan harga yang mungkin dapat berubah. Oh ya, sekali kita melakukan pencarian lewat SkyScanner maka saat membuka email, googling dan menggunakan media sosial iklan yang ditampilkan biasanya adalah iklan harga tiket yang paling murah. Rajin2lah mengecek harga tiket lewat SkyScanner karena FYI, harga tiket JAL biasanya 16juta sekali jalan. Harga 7,3juta PP saya dapatkan menggunakan Fasilitas "Dapatkan Info Harga" yang ada di situs SkyScanner. Fasilitas ini memungkinkan kita mendapatkan harga terbaru dari rute yang kita tuju.
      Sekedar tambahan, Tiket penerbangan dari Jakarta - Paris PP untuk Maret 2019 saya dapatkan dengan harga lebih murah daripada tiket ke Jepang. Lagi2 dengan SkyScanner.
       
      3. Hotel
      Rata-rata hotel di Jepang memiliki kamar yang kecil tapi harga yang "besar". Tokyo pun termasuk. Harga properti di Tokyo yang sangat mahal membuat Tarif Hotel juga tinggi untuk ukuran Indonesia. Walaupun demikian tetap saja jika bersedia susah sedikit masih ada kamar2 kapsul dan dormitory yang berharga di bawah 500ribu permalam. 
      Menyesuaikan style jalan-jalan, saya memberikan beberapa kriteria untuk memilih Hotel di Tokyo.
      Carilah hotel yang dekat dengan stasiun kereta. Kereta adalah transportasi nomor 1 di Tokyo. Dalam kondisi cuaca yang dingin akan lebih baik jika Hotel dekat dengan stasiun kereta sehingga kita tidak perlu berlama2 diluar. Hotel yang dekat dengan stasiun kereta juga memudahkan anda untuk menepati jadwal itinerary. Bawaan anda cenderung banyak, karena musim dingin membuat pakaian yang harus disiapkan berlapis2. Jika mendapatkan kamar hotel yang terlalu kecil maka anda akan kesulitan sendiri dalam meletakkan koper dan barang belanjaan Pastikan hotel anda memiliki sistem penghangat ruangan yang baik dan air panas yang mengalir 24 jam non stop. Saya tidak bisa membayangkan jika di tengah suhu 0 derajat lalu harus mandi pagi dengan air yang tidak terlalu panas karena sistem air panas dipakai beramai-ramai. Akan lebih baik jika Hotel menyediakan sarapan pagi. Buat anda yang terbiasa mengisi perut di pagi hari, tentu akan runyam jika harus jalan dulu mencari sarapan di tengah udara dingin. Hotel di sekitaran Tokyo memang lebih mahal daripada yang mengarah ke luar kota. Tetapi anda akan lebih mudah menentukan jalur tujuan jika berada di dalam kota. Dalam beberapa kesempatan, saya selalu memilih hotel yang sama untuk tempat menginap. Hotel Villa Fontaine Hatchobori. Hotel ini merupakan salah satu hotel dari jaringan Villa Fontaine yang tersebar di seantero Jepang. Saya memilih hotel ini karena semua kriteria yang saya sebutkan di atas dapat diakomodir. Harganya pun menurut saya termasuk murah. Sekitar 1,2 juta permalam, yang kalau di share bersama teman sekitar 600 ribuan permalam (sudah include sarapan), ukuran kamarnya juga sedikit lebih besar dari ukuran kamar di daerah Shinjuku dengan harga yang lebih mahal.
      Hotel ini hanya sekitar 1 menit jalan kaki dari Stasiun Kayabacho (uniknya Hotel Villa Fontaine Kayabacho justru sedikit lebih jauh dari stasiun Kayabacho, jadi jangan sampai salah hotel). Stasiun Kayabacho hanya berjarak 3 stasiun dari Ginza, 2 stasiun dari Otemachi, 3 stasiun dari Akihabara, bahkan hanya 5 stasiun dari Ueno dimana kita bisa melanjutkan perjalanan dengan Shinkansen. Posisinya sangat strategis.

      Suasana luar hotel - (a)

      Lobby - (a)

      Lift - (a)

       
      4. Pakaian
      Tidak bisa dielakkan Pakaian Musim Dingin pasti lebih tebal dan berlapis dibandingkan jika kita ke Jepang di musim panas. Suhu udara di Tokyo sepanjang musim dingin berkisar di angka -2 sampai 7 derajat celcius. Demi kenyamanan anda saya menyarankan untuk menggunakan 3-5 lapis baju. Tentu saja hal ini bergantung dari ketahanan tubuh anda terhadap udara dingin. Berikut list pakaian yang perlu dibawa :
      Kupluk Syal Long John Jaket / Sweater / Vest Mantel / Jaket Salju Celana Panjang (bahan cordoray lebih bagus) / Celana Insulated Sarung tangan Jika ada rencana untuk bermain salju saya sarankan dari awal bawalah celana insulated, celana ini memiliki beberapa lapisan, bagian paling luar memiliki jenis parasut sehingga tidak mudah kemasukan air, dan bagian paling dalam merupakan lapisan yang menghangatkan kaki. Hindari bermain salju dengan celana jeans, karena dapat merembes dan membasahi kaki. Oh ya, harga barang2 di atas sangat bervariasi tetapi ada beberapa lapak di tokopedia yang menjual Perlengkapan musim dingin dengan harga sangat murah tetapi kualitasnya bagus. Sebagai contoh saya mendapatkan mantel dengan harga 400 ribuan dan celana insulated dengan harga 100 ribuan. Nyaman saat di gunakan. Coba saja di searching.

       
      5. Komunikasi
      Sebenarnya Tokyo adalah kota yang ramah Wifi, kira-kira kalau diterjemahkan banyak Free Wifi bertebaran dimana-mana, di dalam bus, di tempat2 wisata, di stasiun kereta, dan pastinya di hotel. Hal ini memudahkan anda untuk berkomunikasi baik via media sosial maupun aplikasi chatting. Fasilitas free wifi ini dapat di peroleh dengan melakukan sign in ke salah satu jaringan wifi yang akan meminta anda untuk mengklik tautan yang di kirimkan ke email anda. Biasanya anda akan mendapat kesempatan 5 menit free yang dapat digunakan untuk membuka email dan mengklik tautan untuk mengkonfirmasi penggunaan free wifi.
      Walaupun demikian saya tidak menyarankan anda untuk bergantung pada fasilitas Free Wifi. Saya tetap menyarankan untuk mempergunakan jaringan komunikasi sendiri. Ada beberapa alternatif yang bisa anda lakukan :
      Beli SIM Card di Jepang  Beli SIM Card dari Indonesia Sewa Paket Wifi Bagi yang berangkat dalam rombongan, saya lebih menganjurkan untuk menyewa paket Wifi. Dalam 1 router biasanya bisa dikoneksikan untuk 6-8 alat. Sehingga jika di share biaya sewanya jadi lebih murah. Contoh untuk router unlimited 4G yang saya sewa dari QL Liner (via Klook.com) saya hanya perlu membayar Rp 115.000 per hari. Alat ini dapat dipergunakan untuk 14 alat sekaligus. Sehingga jika di share biaya ke 7 orang (masing2 mempergunakan 2 alat), 1 orang hanya perlu membayar Rp 16.500 per hari. Harga ini jauh lebih murah daripada membeli SIM Card dari Indonesia atau membeli di Jepang. Tetapi wajib diingat, kelemahan Wifi adalah jika pembawa router terpisah lebih dari 10 meter maka teman2nya yang lain tidak lagi mendapat sinyal. Kemudian jika alat hilang atau rusak ada denda yang lumayan besar sekitar 42.000 yen. Selain itu jangan lupa untuk membawa Power Bank sebab jika router kehabisan batrei maka komunikasi anda juga akan terputus.
       
      Jika anda memilih menggunakan SIM Card maka anda akan terhindar dari keribetan menenteng router kemana2. Selain itu anda tidak perlu harus selalu berada di dekat router untuk melakukan komunikasi. Kapan saja anda ingin menghubungi teman, atau upload instagram dapat dilakukan langsung.
      Untuk SIM card tidak ada salahnya anda melihat2 di website GlobalKomunika, mereka memberikan banyak pilihan paket SIM Card (Paket Data SAJA). Dengan membeli SIM Card langsung dari Indonesia anda bisa langsung mengaktifkan HP Anda saat berada di Bandara Narita / Haneda. Sayangnya ada batasan Quota 4G yang harus anda perhatikan saat memilih menggunakan SIM Card. Untuk SIM Card seharga Rp 195.000 anda bisa mendapatkan Quota 4G sebanyak 3GB untuk waktu 8 hari. Setelah itu jika Quota habis maka kecepatan akan turun menjadi 2G. Jadi jangan terlalu sering melakukan Video Call atau berselancar di Youtube jika anda menggunakan SIM Card. Jika anda memutuskan menggunakan SIM Card harap di baca baik2 petunjuk penggunaannya (sudah disertakan bersama SIM Card), karena tidak semua HP secara otomatis melakukan pengaturan APN.

       
      6. Tiket Wisata
      Kepada siapapun yang ingin ke Jepang saya selalu menyarankan untuk mempersiapkan Itinerary dengan sebaik-baiknya. Sejak awal pastikan tempat-tempat yang ingin anda tuju. Lalu lakukan survey untuk melihat apakah tempat2 tersebut membutuhkan tiket masuk. Kenapa hal ini penting : karena banyak tempat wisata di Tokyo yang memberikan Harga Tiket lebih murah saat pemesanan di lakukan di awal ketimbang saat anda datang dan membeli langsung di loket. Selain itu anda dapat menghemat waktu untuk melewatkan antrian orang2 yang ingin membeli tiket pada waktu bersamaan.
      Beberapa tempat wisata bahkan TIDAK MENJUAL TIKET DI TEMPAT. Jika anda ingin mengunjungi Fujiko F Fujio Museum, atau Ghibli Museum maka anda harus melakukan pemesanan dari sebulan sebelumnya. Karena jika anda langsung datang ke tempat tersebut tanpa memiliki tiket maka bersiaplah untuk kecewa. Anda tidak akan bisa masuk.
      Ada banyak situs yang menjual tiket wisata secara online, saya secara pribadi lebih sering memesan lewat Klook. Silakan lakukan pengecekan apakah Tiket tempat wisata yang ingin anda tuju tersedia di website mereka. Tapi sekali lagi lebih baik anda membeli tiket lewat online karena harga yang di dapat sering lebih murah daripada membeli langsung, sekaligus memastikan rencana liburan anda tidak berantakan karena gagal mendapat tiket.
       
       
    • By min0ru
      Pagi itu, saya dan keluarga mendarat di Kansai International Airport (Osaka) pukul 08.30 waktu setempat. Ini kali kedua saya mengunjungi negara yang kawaii ini dan kota pertama yang akan saya kunjungi adalah Takayama. Seusai mengambil bagasi, saya bergegas menuju ke JR Office untuk menukarkan JR Pass (Japan Railway Pass). Antrian ternyata cukup panjang mengular dan menghabiskan waktu lebih dari 30 menit sampai akhirnya saya mendapatkan JR Pass.
      Cara Menuju ke Takayama
      Karena saya menggunakan JR Pass, jadinya kami bisa langsung naik ke Shinkansen (kereta cepat). Dari Kansai International Airport (KIX) kami mengarah ke Shin-Osaka Station dahulu baru nyambung kereta lagi ke Nagoya Station sebelum akhirnya menggunakan Hida Train (JR) dan turun di Takayama Station.
      Jalan Sore di Takayama

      Sesampainya di Takayama, saya langsung bergegas menuju hotel karena memang sudah waktunya check-in, lagipula repot rasanya jika harus berjalan-jalan menggeret koper. Kami menginap di J-Hoppers Takayama yang jaraknya hanya 10 menit berjalan kaki dari Takayama Station.
      Saya bertanya kepada resepsionis hostel mengenai apa saja yang bisa dilihat di Takayama ini dan dijawab dengan sangat ramah olehnya. Jadi di Takayama ini ada bagian kota tuanya yang cukup ramai tapi hanya di akhir pekan dan banyak street food. Karena kami datang di hari biasa, jadi kami cukup manyun dan memutuskan untuk eksplorasi saja jalan-jalan di Takayama.
      Sebelumnya kami makan dulu di restoran ramen yang dipilih secara random karena cukup ramai. Rasanya pun cukup enak dan menghangatkan. Saat itu cuaca cukup dingin kalau tidak salah sekitar 5-10°C. Sayang banget karena kalap saya ngga sempet mengabadikan foto makanan maupun restorannya. 
      Berseberangan dengan restoran rame, ada sebuah jembatan kecil  untuk menyeberang sungai dan ada jalanan kecil di sisi sungai tersebut yang cukup cantik untuk berfoto. Jadilah ambil beberapa frame dulu ☺️. Ngga kerasa hari cepet banget gelap, suasana lampu bangunan tua satu persatu mulai menyalah membuat suasana malam itu makin cantik. Kebayang ngga sih bangunan tua yang kebanyakan berbahan kayu dihiasin lampu berwarna kuning atau lampion berwarna merah? 
      Malam itu kami kembali lebih cepat ke hostel, karena ngga banyak lagi tempat yang bisa dilihat dan memang tujuan ke Takayama ini hanya persinggahan untuk menuju ke Shirakawa-Go.
      Keindahan Desa Sejarah Shirakawa-Go (UNESCO's World Heritage Sites).

      Cara yang saya gunakan untuk menuju ke Shirakawa-Go dari Takayama adalah menggunakan tur yang di arrange oleh J-Hoppers Hostel. Kenapa saya memilih tur dari J-Hoppers? Karena harganya lebih murah ¥500 untuk orang yang menginap di J-Hoppers, kan lumayan 4 orang sudah jadi semangkok ramen. 

      Bus melaju dengan santai ke Shirakawa-Go, dalam waktu kurang dari 1 jam kami sudah tiba di situs bersejarah ini. Kami diberikan waktu bebas selama 2 jam di desa ini. Ngga pake lama, saya langsung ngacir turun dari bus dan cari spot buat pepotoan.


      Rumah-rumah di desa ini disebut Gasshō-style atau bebentuk seperti tangan sedang berdoa. Atapnya terbuat dari susunan jerami yang sangat kuat dari berbagai cuaca. Walaupun hanya terbuat dari jerami tetapi pada musim dingin tetap dapat menghangatkan dan sejuk saat musim panas.


      Senangnya saya liat sisaan salju yang masih terhampar luas dan tebal, pengen rasanya tambahin duren sama cendol trus sirup tjampolay~ *eh. 
    • By Dennis.Rio
      TOKYO 東京.....
      day 3
       
       
       
       
       
       
       
    • By Dennis.Rio
      POCKET WIFI di Jepang......
       
       
       
    • By ko Acong
      Bagi yang bosan di Kuala Lumpur boleh melipir ke Melaka cuma 2 jam perjalanan loh.
      Berapa uang yang saya habiskan selama main ke Malaka? Normalnya tiket pesawat PP 1 jutaan. Yang pasti tiket PP Indonesia-Kuala Lumpur kemarin saya dapat Rp 169.000 saja Malaysia Airlines Business Class (Promo).
      Mari kita hitung pengeluaran saya selama 2 malam 3 hari di Melaka:
      Tiket Bus, via Terminal BTS (Bandar Tasik Selatan) cukup 24 x 2 = 48 RM
      Jika langsung bus PP harganya 70 Rm, perbedaan waktu hanya 1 jam. Kelebihan transit di  BTS setiap 30 menit ada Bus. Kekurangannya, jika ketingalan jadwal bus harus buang waktu selama 3 jam.
      Hotel Saya Pake Hotel Hong https://goo.gl/maps/fhwLNd6fmzp
      yang terkenal buat Backpackers, karena serasa Hotel Keluarga ada di antar jemput di terminal bus dan ketika diantar mereka melepas kita satu persatu, sampai aman di terminal bus dan mengarahkan ke platform yang seharusnya. Terima kasih Ci Amey dan karyawan hotelnya yang bersih. Harga selama 2 malam kisaran Rp 550.000. 
      Tranportasi di Melaka semua ditempuh dengan berjalan kaki. Estimasi makan minum, cukup Rp. 100000 perhari, di tiap menu makanan perhari ada daging nya lumayan wah juga sih.
      Tinggal kita hitung oleh2 jajan yang aneh-aneh dan lainnya, jadi estimasi main di Melaka selama 2 hari:
      Bus 48 Rm = Rp 175.000 Hotel 2 malam = Rp 550.000 Biaya makan minum = Rp. 300000 Jumlah Rp 1.025.000.- sesuai Hitungan awal budget cukup 1 jutaan.
      Hehehe namun belum termasuk Cendol Musang King dan oleh-oleh Durian Jam San Shu Gong yang legenda, Wueeenak lembut banget. Nah bila mau lanjut main di Kuala Lumpur, cuma tinggal nambah hotelnya sekitar Rp 500.000 per malam.
      ____________________________________________________________________________________________________________











    • By Daniyah Isa
      Assalamualaikum 
      Salam kenal,
      Panggil saya, Nia
      Ini adalah pertama kalinya saya pergi ke LN dg mengurus semua keperluan sendiri. Biasanya, sdh terima beres dari kantor, karena memang ada urusan. Nah, destinasi yg saya pilih tdk jauh tp harus berkesan ! Melaka. Kota yg ditempuh dlm waktu 2 jam dari KLIA2. 
      Gimana caranya saya bisa sampai ke sana ? Inih dia, detailnya ;
      1. JKT-KLIA2
      Pesan tiket pesawat yg everyone can fly dari situs resmi. Lama waktu sekitar 2 jam, berangkat 10:10am sampai KLIA2 13:15pm.
      Di KLIA2, ikuti saja petunjuk arah yang ada, sambil ikuti arus kemana orang-orang pergi. Nanti, ada eskalator naik, lalu ada eskalator turun langsung ke tmpt imigrasi. Setelah keluar dari imigrasi, saya temukan mall dg counter-counter barang branded. Semacam Grand Indonesia, kalau di Jakarta.
      Buat yg terburu-buru sampai ke KL dg cepat, mgkn ada urusan meeting or apa, bisa lurus terus ke pintu keluar. Di samping pintu keluar ada loket pembelian tiket KL Ekspres, seharga 55RM dg waktu tempuh 33menit ke stasiun KL SENTRAL. Dari KL Sentral, bisa pilih kemana saja tujuan teman-teman yg mau dicapai. Ibarat di Jakarta nih, KL Sentral tuh Manggarai. 
      Tujuan wisata saya, dan teman saya adalah Melaka. Belajar dari blog dan bbrp artikel, butuh kendaraan bus utk sampai ke sana. Hanya bus saja, tdk ada kereta atau MRT yg menuju ke sana. Saya pun, turun lagi ke lantai G dg eskalator. Jangan takut kesasar ! Banyak petugas keamanan yg berjaga.
      Sampai di lantai paling dasar, ada sederet loket yang menjual tiket bus, taxi, sewa kereta (mobil). Langsung saja, membeli tiket bus Transnasional tujuan Melaka Sentral, seharga 24.10RM. Di tiket sudah tertera nomor tempat duduk, gate tempat menunggu. Wah, pokoknya tertib dan teratur! Meskipun busnya lebih bagusan DAMRI sih bagi saya, hehehe.
      2. Melaka dan Wisatanya 
      Selama 2 jam perjalanan dari KLIA2, sambil bengong-bengong liat pemandangan (apa bener gue di Malaysia? Ini mirip ke Ciawi yah ? Heheheh) yang membedakan tuh, sepanjang jalan lancar jaya. Mgkn supir bus kapalan nginjek gas, hehehe. Duh bahagia deh kalau Jakarta jalanannya kaya gini terus. Sampai tibalah saya di Melaka Sentral, ibaratnya Terminal Kp. Rambutan gituh. 
      Waduh, sepi banget ! Macam ga ada kehidupan. Bingung juga kan, mau ke hotel gimana ? Boro-boro kuota buat pesan taksi online, sinyal ajah ga dapat.
      Yaa, saya tanya ke petugas kebersihan, dan memang bus Panorama 17 tujuan Bangunan Merah, agak lama. Bukan karena macet yaa, ini karena jalanan di Melaka tuh Sehala (satu arah) jadi dia berputar dulu.
      Sejam menunggu, datanglah bus Panorama 17. Disinilah pengalaman dimulai, banyak yg Negor dan tanya "Indonesia ya ? Indonesianya mana ?" Agak bingung sih, ditanya begitu. Biasanya ditanya "Jawanya mana ?" Padahal sih, sama saja hehehe. 
      Saya menginap di hotel Hallmark Crown, 3H2M, seharga 147RM include Breakfest, free wifi. Wilayahnya dekat dengan mall Dataran Pahlawan, jalan kaki 10 menit lah. Jadi turun saja di Dataran Pahlawan, ongkos busnya 2RM saja. Hotelnya comfie banget ! Disetiap sudut ada galon. Jadi bisa refil sepuasnya, ditambah kulkasnya menyala dg sempurna. Wah, recomend deh!
      Saran utk teman-teman yg mau pesan hotel di Melaka, pesan di daerah sekitar Dataran Pahlawan (rate murah), Bangunan Merah, dan Jonker Street. Tiga tempat itu, sudah dekat banget kemana-mana. Jadi bisa jalan-jalan santai, foto-foto, interaksi sama penduduk lokal. Yg penting, rajin jalan kaki yaa, hehehe.
      Hari pertama saya mengunjungi Bangunan Merah, jalan kaki dari Hotel 15 menit. Melewati mall-mall Besar, dan rupanya ada carnaval becak hias, mobil hias dan barongsai. Jadi nggak berasa jauh dan capeknya.
      Di Melaka, ada yang saya lihat di maps Google itu jauh, ternyata dekatan. Menara Taming Sari, Bangunan Merah, Jonker Street dan River Cruise. Yang jauh, cuma Masjid Selat Melaka. Masjid Selat Melaka memang harus menggunakan taksi online, karena jaraknya terpisah dengan daratan Melaka kota dan masuk ke kompleks perumahan. 
      3.Kuliner dan Oleh-oleh Melaka
      Sempat bingung mau makan apa di Melaka. Hari pertama saya sampai di Melaka, sudah malam dan banyak yg tutup. Masa iyah sih, jauh-jauh ke Melaka, makanya McD? Nggak ada nasi lagi. Akhirnya mampir ke 7Eleven (horeee, Nemu 'sevel !) Beli nasi lemak instant dan mie instan. Lupa berapa harganya, tapi cukup menahan lapar. Serius deh, sebenarnya nggak lapar-lapar banget ! Cuma karena nggak mau masuk angin ajah.
      Terakhir perut diisi sama sandwich Subway yg beli di KLIA2. Hufh, gara-gara ngincer destinasi wisata jadinya lupa makan. 
      Hari kedua, masih hunting foto disekitar Bangunan Merah, Taming Sari, River Cruise. Cerah banget langit di Melaka, dan udaranya juga segar nggak ada polusi (kapan Jakarta begini ? Mungkin ga yah ?). Di samping Bangunan Merah, ada tangga menuju bukit. Diatasnya bangunan reruntuhan yang menghadap lautan lepas. Keren banget !!! Duduk-duduk saja sambil lihat pemandangan. 
      Oh Iyah, untuk beli oleh-oleh seperti gantungan kunci, kaos tulisan Melaka, tas Melaka, tempatnya di Medan Samudera. Tenang, ga jauh kok ! Ga perlu nyebrang. Dari Bangunan Merah, ambil sisi kanan dan lurus terus sampai lihat bangunan kapal pesiar. Nah di sana, yang paling murah ! Kaos dapat 10RM, gantungan kunci dapat 8RM, 6 gantungan kunci. Meski di Bangunan Merah juga ada lapak yang menjual, lebih baik beli di Medan Samudera, karena harganya lebih terjangkau. 
      Selain beli oleh-oleh, di tempat ini ada warteg Melayu loh ! Syukurlah, ada warteg juga. Awalnya sempat underestimate gitu. Makanannya mirip makanan warteg, dan ga lebih menarik dari warteg Jakarta. Karena Nggak enak sama Ibu penjualnya, yg tiba-tiba udah nyendokin nasi, mau ga mau dibeli. 
      Yaa sayur tumis kacang panjang dan ayam goreng jadi menu makan siang. Pas dimakan, enak ! Ini karena efek capek mungkin yaa. Minum air mineral, biar nggak makin haus. Tadinya sih mau makan nasi Briyani dan teh tarik, tapi dia hanya jual di hari Minggu. Seporsi makanan warteg Melayu cuma 6RM. Waah, amazing ! akhirnya bisa menghemat, heheheh.
      Lepas makan, lanjut belanja-belanja di sekitar Medan Samudera. Biasa, buat yang dirumah, mau dibeliin kaos dan gantungan kunci utk disebar, hehehe. Jalan lagi ke Bangunan Merah, baru ketemu kedai es cendol. Katanya sih, es cendol di Melaka itu khas banget. Yaudah, saya beli yang es cendol kacang merah. Rasanya ??? Waah, enak banget !!! Pass buat saya yang ga terlalu suka manis. Kuah santannya gurih, cendolnya segar dan kacang merahnya manis. 
      Wah, okeh banget lah ! Rencana kalau ngidam, maunya ngidam es cendol Melaka. Hahahah
      Menjelang sore, saya bersiap menuju Mesjid Selat Melaka. Menikmati sunset sambil menunggu waktu magrib. Magrib di Malaysia, setengah tujuh. Tapi langitnya seperti setengah enam, Jakarta. Waktu di Malaysia tuh cepat banget ! Mungkin ini planet Merkurius, satu menit tiga puluh detik. Semua terasa cepat.
      Saya dan teman-teman menuju Masjid Selat Melaka menggunakan taksi online. Sampai di sana, waah indah banget ! Lebih indah dari foto-foto Google. Garis cakrawala sudah menyapa di langit. Air laut biru bersih tanpa sampah. Saya berdiri di halaman belakang Masjid menatap langit sore. Diterpa angin laut, dan ada beberapa wisatawan lain berlalu-lalang. Sayang, lagi nggak sholat Magrib di sini. 
      Akhirnya cuma nunggu teman yang sholat Maghrib, sambil jaga sendal hahaha.
      Malam terakhir di Melaka, saya menuju rumah makan Eeji Ban Chicken, penjual makanan khas Melaka. Ada Rice Balls, Asam Pedas, Nasi Lemak, harganya pun terjangkau. Berkesan makan ditempat ini, karena rumah makan Eeji Ban recomend dari supir taksi online. 
      4. Check Out Melaka
      Hari terakhir di Melaka, saya merasa sedih banget ninggalin tempat ini. Padahal rumah ini kampung orang, negeri orang, huhuhu. Nggak mau repot karena tas udah beranak, jadinya saya dan teman-teman naik taksi online ke Melaka Sentral.
      Di Malaysia pada umumnya, jarang ada sirik-sirikan or persaingan. Contohnya di terminal Sentral Melaka. Tadinya mau naik bus Delima,  bus terkenal dikalangan blogger yg pernah kesana. Tapi sama kenek Delima, disuruh ke bus satunya lagi yg kurang eksis. But its OK ! Yg ptg sampai, heheheh.
      Dua jam perjalanan menuju terminal bus TBS (Terminal Bersepadu Selatan), amazing !!! Terminal Bus rasa Bandara Terminal 3. Bersih, tertib, rapi. Dibawahnya, ada stasiun menuju KL Sentral. 
      5. Sehari di Kuala Lumpur 
      Berhubung pesawat tengah malam, jadi siang masih bisa jalan-jalan sebentar di Kuala Lumpur. Hunting foto di KLCC, Dataran Merdeka dan jalan-jalan ke Mall *lagi. 
      Dari Terminal TBS, naik KL transit ke stasiun KL SENTRAL seharga 6.5RM. Dari KL SENTRAL, bisa ke Batu Caves, KLCC, Mesjid Jamek, KLIA2. Ada peta seperti peta yang ada di halte Transjakarta, di sana juga ada petugas yang membantu dan menanyakan "Can i help you ?" So, tak perlu takut tersesat. 
      Stamina udah low, meski cuma naik turun kendaraan umum tp cukup bikin lemas. Selain makan, kita juga butuh vitamin, kalau capek lebih baik istirahat.
      Di KL SENTRAL, ada loker penitipan dg kunci sensor wajah. Jadi kita ga perlu deh tengteng tas beranak kesana kemari. Harganya 20RM utk loker kecil dan 30RM utk loker besar. Sangat disarankan berpergian sama teman, biar segala biaya bisa ditanggung bersama. Tapi milih juga yaa, teman yang gimana buat diajak jalan jauh. Apalagi, ke LN yg jalan kakinya jauh-jauh.
      Baiklah, itu pengalaman pertama saya traveling ke Melaka, Malaysia. Saya sangat suka tempat itu, lebih indah dari yg saya bayangkan. Terutama yg hobi fotografi, ini banyak spot-spot bagus di Melaka. 
      Oh Iyah, makasih banyak buat Mba Vira. Mgkn dia jarang aktif di forum ini. Saya pun juga newbie. Ketemu jalan2.com karena random ajah, hehehe. Lagi bosen, drpd stalking sang EX atau baca berita hoaks, iseng-iseng cari soal Melaka. Tiba-tiba muncul situs ini, dan saya kenalan sama Mba Vira. Nggak ada sedikitpun curiga bakal gimana nnt disana, tinggal jalan ajah. Hehehe
      Nah buat teman-teman, semoga tulisan saya membantu dan jadi referensi kalau kalian mau ke sana. Ingat, No need bilang, barang ini murah atau mahal. Soalnya beda "Peradaban".
       








       
    • By seyakasamira
      Lalala-yeyeye..Setelah menunggu selama 7 Bulan lamanya, akhirnya nemu juga 5 orang korban lain (*eh?!) yang bersedia nge-trip bareng ke sini..uwowww jd terharu sayaa..  so, langsung saja..
      Day 1.
      Kita berangkat hari Jumat tgl 26 Sept'14, naik pesawat TriganaAir dari Jakarta menuju PangkalanBun. Sesampainya disana langsung dijemput oleh Tour Guide kami (Pak Andreas dari Yobel Tour), dan kita dicarterin taxi untuk menuju pelabuhan Kumai dengan jarak tempuh yg lumayan singkat yaitu 30 menit saja..Da..engingjrennggg... langsung terkesima dengan kapal yang akan kita kendarai selama 3 hari 2 malam mendatang..huhuhu..ga nyangka kapalnya oke banget,bersih dan ga se-prihatin yg saya bayangkan (mulai norak).
       
      Jadi awak kapal terdiri dari 1 orang kapten kapal, 1 orang crew kapal, 1 orang juru masak, dan Pak Andreas sbg Tour Leadernya. Kapal yg populer dinamakan kapal kelotok (karena bunyinya klotok..klotok..klotok) ini cukup luas buat kami ber 6 plus 4 orang awak kapal. Ada 2 dek, dek bawah itu untuk aktivitas awak kapal (buat nahkodanya, tempat menyimpan kasur2 tamu, tempat masak, dll). Dek atas disediakan untuk tamu. Fasilitasnya juga Ok bgt, kamar mandi pakai shower dan ada closet duduk, disediakan meja makan, ada balkon dengan 2 kursi leyeh2 untuk berjemur (what?berjemur??udah ky areng ginih -____- ! ) Oiya, jangan sedih..kita dapat 3x makan dan 2x snack dalam 1 hari. dan masakannya sungguhlah berlimpah dan super yummy..





       
      Di hari pertama ini kita langsung menuju Tanjung Harapan untuk lihat feeding time nya orangutan. Trekking masuk hutan sekitar 1 km dan sesampai di tempat feeding cuaca mulai mendung dan turunlah hujan. Eh, ternyata disana sudah menunggu beberapa rombongan tourist yg mau lihat proses feeding time ini. Dan dikarenakan wisata tanjung puting ini lebih populer atau diminati tourist luar, maka pemandangan disini adalah bule bule semua   . Disini kita menunggu ?-/+ 30 menit hingga orangutan yg masih ngumpet pada mau turun dari atas pohon menghampiri "panggung" yg berisi pisang2. Beruntung kita bisa melihat orangutan yg muncul dikarenakan kalau hujan biasanya mereka prefer leyeh2 di atas pohon (macam manusia yg kalo hujan lebih senang nedekem di rumah). Uwoww, beda lho rasanya ngelihat orangutan di ragunan/taman safari dengan orangutan disini. Kalo disini ada perasaan degdegan kalo mereka melintas dengan tubuh besarnya itu. Dikarenakan orangutan liar belum terbiasa disentuh oleh manusia (tdk sperti kbon binatang di jakarta), maka juga ada anjuran jangan sembarangan memberi makan orangutan, jangan berdiri diantara orangutan jantan dan betina, jangan bersuara terlalu keras/ribut yg akan mengganggu ketenangan orangutan dan beberapa rambu2 lainnya.







       
      Diperjalanan pulang, ketika melintasi sungai sekonyer kita bisa melihat sekawanan bekantan di kiri dan kanan pepohonan, kalau beruntung bisa melihat buaya pula. Dan saya beruntung melihat buaya dengan mata merahnya sedang mengincar mangsa.
      Malam harinya kita ber candle light dinner dengan lauk ikan nila bakar, tumis kangkung, tempe goreng, uhmm apa lagi ya lupa hehehe dan ditutup dengan dessert potongan buah mangga. Bener2 beruntung dapet chef yg jago masak.  Setelah kenyang, kapal menuju tempat dimana kita bisa melihat kunang2 dimana-mana..woww ga bisa dilukiskan dengan kata2 kita lihat pemandangan sejuta bintang dan kunang2 yg seprti pohon natal di kiri kanan kita..(sayang ga bisa ke photo). suasana malam hari disana sangat sunyi dan syahdu. Hanya ada suara jangkrik dan serangga2 lain yg bersahut2an dan Anyway kita tidur disediakan kasur beserta kelambu..Thanks God we had a marvellous momment and unforgettable experiences.
       
      Day2.
      Yang biasanya pagi2 di jakarta dibangunin sama kokok ayam, eh jangan sedihh disini kita subuh2 dibangunin sama suara bekantan jejeritan yg sedang bersendagurau..woww so sweet bgt ga sih dibangunin suara monyet.. hehehe..Setelah sarapan nasi goreng ikan asin yang banyaknya naujubilah (tapi abis dan kenyang) dan ngeteh2 cantik, maka berangkatlah kita menuju Pondok Tanggui dan dilanjutkan ke Camp Leakey. Di Pondok Tanggui trekkingnya seru, byk spot2 lucu buat foto2, nemu tumbuhan kantong semar, rayap, akar liana, dll tapi sayang setelah menunggu selama 1 jam, orangutannya ga ada yang mau turun di tempat feeding. Mungkin karena masih pagi dan byk bgt wisatawan yg berkunjung kesana jadi mereka malu-malu mau gitu kali ye..







       
      Perjalanan dilanjutkan ke Camp Leakey, pusat rehabilitasinya orangutan. Perjalanan lumayan jauh sekitar 8 km, namun pemandangannya mulai berubah, pohon2 lebih rindang, kiri kanan bisa lihat burung kingfisher, lihat buaya dan biawak berenang, pokoknya settingannya mirip film annaconda deh ngeri-ngeri sedap gitu heheheh.. dan air sungai berubah menjadi lebih jernih dan berwarna hitam. Warna hitam dikarenakan dasar tanahnya gambut namun bening sekali. Sampai bisa ngaca dan hasil fotonya mengagumkan bgt,krn pohon2 yg terpantul di air seperti ada reflection effectnya.  Begitu menginjakkan kaki disini, kita disambut oleh kedatangan Siswi, orangutan betina dewasa yang dari kecil sudah diasuh disini. Dikarenakan hujan, dia mulai ngumpet2 nyari tempat berlindung dan menutupi kepalanya dengan mencabut2 dahan2 yg ditumbuhi banyak daun. Uwoww lutunaaa.. Perjalanan ternyata masih panjang. Pak Andreas mengarahkan untuk ambil jalur masuk hutan sambil lihat2 tumbuhan endemik yang ada di hutan sini,jadi sekitar 1,5 km untuk sampai ke tempat feedingnya orang utan. Beruntung bisa lihat beberapa orangutan,uwa-uwak,squirel yg ke "atas panggung" buat ambil makanan. Yang menyenangkan lihat proses feeding ini adalah, kita jadi tahu gimana cara manggil orangutan supaya turun, gimana liat proses mereka bergelayutan dari pohon ke pohon, gimana cara mereka mengupas pisang dan memasukkan ke mulut, gimana cara ibu orangutan memberi makan anaknya, gimana mimik muka/ekspresi mereka mengendap2 atau mencuri makan lalu kabur, dan banyak lagi tingkah laku kocak lainnya. Adapula kedatangan babihutan yang ikut meramaikan suasana. Setelah sekitar 2 jam muncullah orangutan yg kita tunggu2 yaitu Tom, the king of Camp Leakey. Ya, si Tom ini penguasanya. Selayaknya raja, binatang lain akan mundur atau menyingkir ketika rajanya datang dan membiarkan si raja menghabiskan makanan yg disediakan. Jika ada orangutan dewasa disekitar sana yang dirasa mengancam kedudukannya, serta merta akan terjadi baku hantam disana. Hampir saja kami melihat proses baku hantam itu, yaitu ketika Ponorogo (salah satu orangutan dewasa ) terbirit2 dikejar oleh Tom karena lebih dahulu mengambil jatah makanannya. Namun sayang tidak terkejar dan Tom kembali duduk di singgasanannya sambil minum susu. Ya, makanan yg disediakan oleh Ranger hutan (petugas yg memberi makan orangutan) itu biasanya adalah pisang, tebu, dan susu dancow. wow. hehehe..Perjalanan trekking pulang, kita dihampiri juga oleh orangutan remaja bernama Gajah Mada. Serem ya namanya, tapi ternyata unyu2 gitu penampilannya hihihi..

      siswi

      the team
      Tom
      Gajah Mada
       
      Day 3.
      The Last Day, pagi2 seperti biasa kita dibangunkan oleh sekawanan bekantan, namun kali ini pemandangannya bekantan lagi pada lompat-lompat main air, ceritanya mau nyebrang pohon melintasi sungai, cuman ada aja jatoh2nya di sungai.. LUCU BGT, tapi ga sempet kefoto saking terseponanya. Oia, karena kita malam itu kapal berlabuh di pinggir rawa2 masih dekat Camp Leakey, maka paginya pun kita juga dibangunkan oleh kikikan burung kingfisher, iya kikikkan bukan kicauan karena ternyata suaranya macam kuntilanak yg lagi ngikik. hiiiii...
      Sepanjang perjalanan pulang ke pelabuhan kumai, puas2in berjemur (literally berjemur, panas sih untung byk angin dan hewan kece) demiii menikmati pemandangan yang sebentar lagi akan kami tinggalkan huhuhu..
      Jam 12 siang kami sampai di bandara pangkalan bun dan belum siap move on untuk menghadapi hiruk pikukknya jakarta