cheezlover

Orang Asli, Penduduk Asli Malaysia Dengan Budaya Yang Sangat Unik

8 posts in this topic

Negeri Jiran, yang juga negara tetangga Indonesia, memang terkenal dengan keragaman budaya dan suku yang tinggal di kawasannya. Beberapa ras dari beberapa bagian Asia ikut hidup berdampingan di negara yang kental dengan nuansa Islam ini. Suku Melayu memang paling mendominasi dengan jumlah lebih dari separuh jumlah penduduk Malaysia. Suku lain yang juga banyak tinggal di Malaysia adalah keturunan Tionghoa dan India. Tapi tahukah bahwa Malaysia pun memiliki satu suku yang disebut – sebut merupakan penduduk asli Semenanjung Malaysia?

 

 

OrangAsliMalaysia_zps88752009.jpg

 

Suku yang kerap disebut sebagai suku pertama di Malaysia ini dikenal dengan nama Orang Asli. Fakta yang lumayan mengejutkan memang. Kebanyakan wisatawan ketika ditanya siapakah penduduk asli Malaysia, tidak sedikit yang akan menjawab Suku Melayu. Padahal, jauh sebelum Suku Melayu tiba di Semenanjung Malaysia, ada suku yang sudah hidup di pedalaman Semenanjung Malaysia sejak ribuan tahun sebelumnya.

 

Siapakah Orang Asli? Orang Asli mudah dikenali dari fisiknya yang sedikit berbeda dengan Suku Melayu, India, ataupun Tionghoa. Mereka memiliki kulit yang sedikit lebih gelap dari kulit Suku India dengan rambut keriting. Mereka biasanya memilih hidup di kawasan hutan serta bibir pantai dan mengandalkan sumber daya yang diperoleh dari alam pula sebagai mata pencaharian. Orang Asli sendiri tidak banyak dikenal oleh penduduk luar Malaysia karena populasinya sendiri hanya mencapai kurang lebih 0.6% dari sekitar 28 juta penduduk Malaysia.

 

Yang unik, meskipun dikenal dengan hanya satu nama, Orang Asli, ternyata Orang Asli sendiri masih terbagi lagi dalam beberapa kelompok. Masing – masing kelompoknya memiliki bahasa dan budayanya sendiri. Tercatat setidaknya ada 18 kelompok bagian dari Orang Asli. Beberapa kelompok yang cukup dikenal antara lain Proto- Malay, Senoi, dan Negrito. Lebih unik lagi karena ternyata bahasa yang digunakan oleh Orang Asli ini memiliki tata penggunaan yang mirip dengan bahasa ibu dari Myanmar, Thailand, serta Indo-China.

 

Kelompok dari Orang Asli yang cukup dekat dengan Indonesia adalah Proto-Malay. Kelompok Proto-Malay ini dipercaya bermigrasi dari Indonesia pada kisaran tahun 2500 SM ke Semenanjung Malaysia. Tapi argumen sejarah ini masih berupa spekulasi dan didasarkan pada kemiripan dialek bahasa. Tiap kelompok memiliki dialek dan budaya yang berbeda meskipun masih memiliki benang merah yang sama.

Di dunia modern ini, keberadaan Orang Asli sedikit terlupakan. Bahkan sempat ada istilah forgotten Malaysian yang merujuk pada Orang Asli. Sedikit berbeda dengan suku – suku lainnya di Malaysia, Orang Asli masih menganut sistem hidup yang sangat sederhana.Baik dari segi kepercayaan, pendidikan, dan cara bertahan hidup.

 

OrangAsliMalaysia2_zpse0ddfa3c.jpg

 

Untuk senjata misalnya, mereka tidak menggunakan senjata api, melainkan, potongan bambu dan kayu yang dilubangi tengahnya. Penggunaannya tinggal ditiup. Perlengkapan berburu yang lain adalah tombak dan jebakan sederhana yang digunakan untuk menangkap mamalia kecil, burung, serta ikan. Peralatan ini masih digunakan hingga sekarang oleh Orang Asli yang hidup di pedalaman. Hewan yang ditangkap kemudian dikonsumsi atau dijual dengan sistem barter. Beberapa juga dijual ke masyarakat modern dengan harga yang sangat murah.

 

Demikian juga untuk pakaian. Untuk Orang Asli yang tinggal dekat pemukiman masyarakat modern, mereka memilih untuk mengenakan pakaian berbahan katun. Sedangkan untuk yang tinggal di pedalaman, masih menggunakan pakaian yang dari lapisan batang pohon. Dan silahkan takjub karena pakaian mereka sungguh cantik.

 

OrangAsliMalaysia1_zpsdc4af00a.jpg

 

Untuk kepercayaan pun sama. Beberapa Orang Asli memang beralih memeluk ajaran Islam ataupun Buddha. Namun masih banyak pula yang masih menganut animisme serta dinamisme. Kekuatan yang ada di benda – benda tertentu dan membantu kehidupan sehari – hari mereka. Hampir sama dengan animisme di Indonesia, pemimpin spiritual mereka dipercaya mampu berkomunikasi dengan spirit tersebut. Dengan ritual khusus yang terkadang membutuhkan medium. Ritual ini melibatkan musik dan beberapa sesajen.

 

Satu yang pasti, Orang Asli bangga dengan budaya mereka. Mereka merasa bahagia meskipun bagi orang yang hidup di budaya modern, kehidupan mereka terlihat begitu menyiksa. Orang Asli selalu mengedepankan pentingnya keseimbangan antara gaya hidup dengan alam. Karena itu pula, tidak jarang mereka memilih untuk nomaden dibandingkan menguras habis sumber daya alam hingga titik nol. Ketika sumber daya yang bisa manfaatkan di tempat mereka tinggal sudah mulai menipis, mereka akan mencari lokasi baru yang lebih subur dan membiarkan lokasi lama ter-recovery dengan sendirinya.

 

Sayangnya, hutan yang terus dibabat dan lautan yang kian tercemari membuat kehidupan Orang Asli sedikit terganggu. Mereka seakin kesulitan mencari bambu, rotan, dan ranting yang mereka gunakan untuk perlengkapan sehari – hari sekaligus beragam kerajinan yang nantinya akan mereka jual ke masyarakat kota. Ya, Orang Asli hanya memang hanya memanfaatkan sumber daya alam yang bisa diperbarui. Kayu, akar, ikan, serta hewan – hewan buruan yang ada di hutan.

 

 

OrangAsliMalaysia4_zpsbe149503.jpg

 

Selain itu, Orang Asli juga ramah. Mereka kenal baik dengan sesama anggota kelompok. Padahal, satu kepala keluarga saja bisa memiliki keturunan hingga 12 anak. Tapi nyatanya mereka tidak hidup dengan individualis layaknya penduduk kota. Mereka gotong royong, tertawa dan menanggung kesulitan bersama. Saat malam tiba, waktu berharga bersama keluarga tidak terganggu oleh televisi dan internet. Mereka bisa bercanda bersama si kecil ditemani cahaya bulan dan penerangan lilin. Di kota kita akan sulit melihat bintang, di kampung Orang Asli, bintang bisa dengan mudah kita lihat setiap malamnya.

 

Orang Asli memang unik dan memiliki budaya yang kaya. Tapi akan sangat disayangkan bila berkunjung ke kampung – kampung Orang Asli untuk tujuan wisata tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Banyak keluhan yang disampaikan oleh Orang Asli tentang perlakuan wisatawan asing yang menganggap mereka seperti museum hidup. Datang tanpa permisi dan kemudian mengarahkan kamera untuk mengambil gambar. Sangat disayangkan.

 

Bila memang ingin mengenal lebih lanjut mengenai budaya Orang Asli, bisa mengunjungi Orang Asli Museum yang berada di Gombak, kilometer 25 dari Kuala Lumpur. bisa datang dengan menggunakan RapidKL bis U12 dari Chow Kit dan turun di pemberhentian terakhir. Memang, museum ini hanya menghadirkan sekelumit kisah dari budaya Orang Asli yang memukau.

 

Atau, bila memang benar – benar ingin mengetahui kehidupan Orang Asli dengan lebih baik, bisa menghubungi beberapa komunitas dan organisasi yang fokus pada kesejahteraan Orang Asli. Beberapa dari mereka menawarkan untuk tinggal beberapa hari di tengah – tengah Orang Asli, alias langsung terjun menjadi bagian dari Orang Asli. Tidur di rumah mereka, makan, mandi, dan beraktivitas layaknya Orang Asli. Tapi meskipun mengambil program ini, sekali lagi, tunjukkan keramahan. Jangan mengambil foto tanpa ijin ataupun tindakan – tindakan lain yang sekiranya akan menyinggung perasaan Orang Asli.

 

Share this post


Link to post
Share on other sites

@cheezlover

hhmm kalo dilihat dari penampakan tubuh nya mirip dengan ernis Timur Indonesia ya

 

Iya Mod. Mirip banget secara fisik :)

 

@cheezlover

dlm perjalanan menuju Cameron Highland juga pernah sich lihat kawasan spt hutan tempat2 orang asli bermukim.

 

Sempet ketemu? Damai banget ya mereka. Jauh dari hiruk pikuk kota :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now