• 0
halimun

Kebaikan Hati Dan Ketulusan

Question

Saat kaki saya patah, ada berbagai hal yang saya alami. Mulai dari tahu betapa sakitnya kalau patah tulang, betapa susahnya jalan menggunakan kruk terutama di awal pemakaian, sulitnya mandi dan membersihkan kaki, ngerinya berjalan di tempat yang lantainya licin, dan seterusnya.

 

Di waktu mulai sembuh dan bisa berjalan, saya melihat lebih banyak hal lagi... terutama mengenai kebaikan hati dan ketulusan hati seseorang.

 

Saat ini, saya bisa berjalan untuk jarak dekat tanpa alat bantu dan untuk waktu yang tidak terlalu lama. Kalau dipakai jalan terlalu banyak, biasanya kaki saya nyeri. Saya ini orangnya ga bisa diam. Kalau jalan pun biasanya saya cepat sekali. Jadi begitu bisa lancar jalan, saya lupa kalau kaki saya belum pulih sempurna. Seringnya "ngebut". Alhasil kaki saya suka terasa nyeri atau ngilu. Hehehehe.

Untuk mengurangi nyeri/ngilu, saya menggunakan 1 kruk sehingga jalan saya bisa lebih cepat dan beban kaki tidak terlalu berat.

 

Surat sakti dari dokter mengharuskan saya kembali bekerja sekitar 2 minggu yang lalu dan saya menemui lebih banyak kesulitan lagi, selain juga pengalaman lainnya dan yang saya share disini terkait dengan kebaikan hati serta ketulusan orang yang saya temui:

 

1. Building Assistant

Saya tidak tahu persis mereka disebutnya apa... tetapi di gedung tempat kantor saya ini, ada banyak sekali staff yang berpakaian seragam dan bertindak seperti bell boy layaknya di sebuah hotel. Mereka standby.

Kala pertama kali datang ke kantor kembali, saya kaget karena salah satu dari mereka langsung membuka lajur khusus yang biasanya dihalangi dengan pembatas sehingga saya tidak perlu memutar untuk melewati mesin security. Selain itu, tiba-tiba ada seorang mas yang berlari ke arah saya untuk membantu meng-hold "pintu palang" yang terbuka tutup otomatis setelah kita tap id card kita.

 

Tidak semua orang berbuat begitu ke saya, saat saya perhatikan... yang membantu saya ya orangnya itu-itu lagi. Berkisar 3-4 orang saja. Kalau yang lain yang bertugas maka saya dibiarkan saja berlalu tanpa mereka mau bersusah payah membantu saya.

 

 

2.Hunting taxi

Musim hujan sudah tiba... tidak heran kalau Jakarta rajin diguyur hujan, mulai dari gerimis sampai dengan hujan deras. Minggu lalu saat mulai kembali bekerja, saya pikir bisa pulang pergi naik taxi karena ga mungkin saya ngejar-ngejar bus dan untuk transjakarta, agak susah untuk saya menuju kesana kalau posisinya landai karena riskan terpleset.

 

Waktu menunjukkan pukul 20.15 tetapi ternyata hujan belum berhenti sepenuhnya. Gerimis menanti saat kami keluar lobby gedung. Akhirnya teman saya minta untuk saya langsung pulang dan dia yang akan membelikan ankle support untuk saya. Jadi, saya langsung menunggu taxi di lobby. Tetapi sudah hampir tidak ada orang dan petugas juga seperti menghilang sehingga saya agak sulit untuk mendapatkan taxi. Karena saya lihat di jalanan lewat beberapa taxi kosong, maka saya memutuskan bahwa saya bisa turun ke trotoar depan kantor untuk menstop taxi tersebut. Alhasil, saya berjalan ke arah jalan tanpa jas hujan ataupun payung, karena ribet banget pake payung sementara saya harus bisa menjaga tubuh supaya tetap stabil.

 

Saat tiba di pinggir jalan, beberapa taxi yang lewat sudah keburu distop orang lain. Jadi saya berteduh di bawah pohon. Trotoar menjadi sangat licin karena terkena air hujan. Ini memang saya sadari sejak lama. Soalnya, developer menggunakan ubin dan bukan semen biasa. Saat saya melihat ada taxi tetapi posisinya agak di tengah, saya mulai bergerak menuju jalan raya kembali yang terhalang oleh tanaman hias setinggi lutut. Eh, ada bapak-bapak tinggi besar dan sehat yang baru datang dan melihat saya yang berusaha menyetop taxi tapi dia cuma ngeliatin saya aja dan malah ngambil taxi tersebut. Astaga.... pasti ngakunya dia terpelajar dan dilihat dari jas serta tingkah lakunya, dia bukan orang yang rendah pendidikan maupun pangkatnya di perusahaan. Tapi kelakuannya....

 

Dan saya terlantar berpuluh-puluh menit kemudian karena tidak ada taxi lain yang kosong yang melewati jalan tersebut. Akhirnya, saya menggunakan opsi phone a friend. Saya beruntung, teman saya yang memang baik hati dan tidak sombong tapi super sibuk tersebut mau meluangkan waktu untuk menjemput dan mengantarkan saya pulang.

 

 

3. Ojeg

Pagi hari saat saya berjalan keluar dari gang, tiba-tiba saya dikagetkan oleh seseorang yang berhenti mendadak memotong jalan saya. Dia tiba-tiba menawari untuk naik motornya dan mau antar. Karena saya kaget, saya kira tukang ojeg. Saya spontan bilang: engga usah, makasih ya mas. Lalu dia bilang: tidak apa-apa. Naik aja, beta antar. Itu kasihan kakinya. Tapi saya tolak karena dia pasti juga mau berangkat ke kantor dan jam kerja saya yang flexible serta bos saya yang super baik hati menyebabkan saya bekerja tanpa terikat jam kantor.

 

 

4. Taxi (lagi)

Hari ini... saya sudah mau cuti karena perusahaan tutup dan sudah hampir tidak ada pekerjaan lagi selain merapikan laporan keuangan. Atas request bos yang super baik hati, saya akhirnya berangkat juga ke kantor. Taxi banyakkkkk yang lewat, tapi selalu terisi. Matahari mulai garang dan menyengat sinarnya, saya kepanasan. Kaki saya mogok ga mau jalan ke depan dan mau nunggu disitu aja. Saya udah mikir, aduh... Ini kapan sampe kantornya ya... Eh tiba-tiba, ada taxi yang melaju ke arah saya dari arah berlawanan! Saya kaget.

 

Saya sudah perhatikan taxi itu tidak ada orangnya karena supirnya biasanya sedang makan atau beristirahat. Lalu supirnya berhenti disamping saya. Karena dia diam aja, saya buka pintunya dan dia membantu mendorong pintu dari dalam. Bapak supirnya sudah cukup tua. Ternyata saya tidak lihat saat dia sudah selesai makan dan masuk ke taxi kembali. Kami ngobrol tentang patah kaki dan karena keasikan ngobrol saya lupa memberi tahu untuk mengambil jalur memutar sehingga bisa langsung turun depan kantor. Alhasil saya harus berhenti di lampu merah dan menyebrang sedikit.

 

Saat saya mau membayar, bapak tersebut menolak. Katanya: sudah, tidak usah bayar. Kasihan itu kakinya dan butuh biaya berobat. Waduh, selama ini saya cuma baca aja di buku perusahaan sebuah perusahaan taxi terkenal yang berwarna biru kalau kadang ada supir yang menolong orang tanpa pamrih. Sekarang saya mengalami sendiri, dibantu oleh seorang supir taxi yang tidak saya kenal (tentu saja!) dari perusahaan taxi pesaingnya yang berwarna putih dan berlogo huruf dengan latar lampu kuning. Saya terenyuh mendengarnya, karena saya tahu persis betapa susahnya mencapai target harian karena saya sering banget ngobrol dengan para supir taxi.

 

Saya tolak dengan halus dan menjawab, bapak juga kan lagi cari rejeki. Akhirnya uang saya diterima dan si bapak masih penuh dengan wanti-wanti bilang nyebrangnya hati-hati. Pelan-pelan aja.

 

 

Duh... di balik ganasnya kota Jakarta, saya bersyukur untuk bisa kembali bertemu dengan orang-orang yang baik hati dan tulus walau amat sangat jarang. Kalau biasanya saya menemui orang-orang yang tidak peduli pada orang lain maka saya berterima kasih bahwa saya bisa menikmati dan mengalami kebaikan hati dan ketulusan dari orang-orang tak dikenal yang saya temui. Hal mana menyebabkan saya untuk bertekad bahwa kalau kondisi saya sudah normal dan pulih seperti sedia kala maka saya akan lebih banyak menolong orang lain walau untuk hal-hal kecil sekalipun seperti membukakan pintu atau meng-hold lift saat ada orang lain yang tertinggal apalagi yang sudah berumur.

 

Itu segelintir pengalaman saya. Apakah kalian pernah mengalami juga?

Share this post


Link to post
Share on other sites

10 answers to this question

  • 0

bingung mau komen apa... :)

sebetulnya ga juah berbeda,,cuma yang aku alami..aku hidup merantau dari satu daerah ke daerah lain bersama "pasukan" yang aku bawa..susah senang kita lalui bersama..sampe akhirnya aku mikir,,cuma mereka lah yang saat ini tau & ngerti segala keadaan&kondisi ku.. 

padahal kita sama skali ga ada kaitan sodara atau apapun sebelumnya..pekerjaan inilah yang bikin kita jadi "sodara"..

mereka baik,,mereka tulus,, mereka pendukung kehidupanku :) :)

Share this post


Link to post
Share on other sites
  • 0

@halimun memang begitu, hati org siapa yg tau :) . Ada yg kelihatan baik dari luar tapi pas perlu bantuan belom tentu mau menolong, demikian jg sebaliknya. Orang yg gak kita sangka2 bakal nolong malah mau nolong :)

 

Sodara, sepupu,temen semua jg berbeda2. Ada yg mau menolong, ada yg tidak

 

Intinya ya kalo merasa hal itu baik, ya lakukan lah. Pass the kindness to the next person :)

 

Jelasnya dapat di lihat di film ini :)

 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now