• agoda-hemat.png

Sign in to follow this  
rebegg

Overland Dari Selatan Malaysia Ke Thailand Utara (16 – 25 Januari 2014)

39 posts in this topic

Beragam pengalaman menarik dan berbeda, bisa saya dapatkan di Thailand Utara yakni Provinsi Chiang Mai dan Chiang Rai yang merupakan provinsi paling utara Thailand. Tepatnya tanggal 16 Januari 2014, hampir seluruh rombongan NGS dari Unsri, Palembang pulang ke tanah air karena sudah menyelesaikan studi satu semester di UTM, Johor, Malaysia. Beberapa orang diantaranya, pulang di tanggal berbeda dan salah satunya saya yang akan menuju bagian utara Thailand hingga Golden Triangle, perbatasan 3 negara yakni Thailand, Myanmar dan Laos.

  • 16 Januari

Pukul 08:00 pagi, semua diantar menuju LCCT dan sebagian yang pulang esok hari diantar menuju UTM Kuala Lumpur untuk menginap semalam. Saya ikut ke UTM KL untuk repacking. Malamnya, diantar menuju KL Sentral dan berkat rekomendasi dari bro @dzerox saya langsung bergerak menuju PODs The Backpacker Home yang berada tepat di belakang KL Sentral untuk menitipkan koper karena hanya akan membawa satu ransel menuju Thailand. Kali ini saya hanya pergi sendiri, mencoba untuk solo travelling walaupun awalnya agak ragu karena sedang gencarnya demo di Bangkok serta belum tau bagaimana keadaan Thailand jika pergi sendiri. Namun, akhirnya setelah membulatkan tekad, perjalanan di mulai. Dari KL Sentral, saya naik Keretaapi Tanah Melayu (KTM) pukul 21:30 waktu Malaysia (GMT +8) menuju Hat Yai, Thailand Selatan.

 

  • 17 Januari

Perjalanan memakan waktu cukup lama dan cukup beruntung saya bisa menyaksikan sunrise dari atas kereta. Sekitar pukul 9 pagi, tiba di Padang Besar untuk keperluan imigrasi keluar Malaysia dan masuk Thailand. Di sini juga ada food court jika ingin sarapan terlebih dahulu karena kereta baru akan bergerak lagi sekitar 1 jam kemudian. Tiba di Hat Yai sekitar pukul 10:30 waktu Thailand (GMT +7), tepat waktu dengan yang tertera di tiket.

 

post-2084-0-89871500-1390915484_thumb.jp

Hatyai Junction

 

Setibanya di stasiun Hatyai, tiba-tiba blank saat di datangi calo-calo. Langsung ikut dan lupa tujuan awal untuk membeli tiket kereta dulu. Alhasil malah minta refill top-up tetapi malah di paksa beli kartu seharga 315 baht. Saya kira sudah dipasang paket internet, ternyata belum. Naas, baru dateng langsung ketipu. Tapi kali ini harus jadi pelajaran di kemudian hari. Akhirnya saya langsung membeli tiket kereta menuju Bangkok dan mencoba sleeper train dengan tiket seharga 845 baht untuk keberangkatan pukul 15:39. Lanjut ke informasi dan bertanya tempat refil top-up dan di arahkan menuju Robinson didepan stasiun. Di sana saya menemukan outlet DTAC dan segera minta dipasangkan paket internet satu minggu dengan biaya 199 baht.

 

Untuk mengisi waktu sebelum kereta berangkat, saya hanya keliling-keliling dekat stasiun menuju tempat makan di depan stasiun yang rata-rata halal serta perkampungan di belakangnya. Berhubung takut nyasar, saya kembali lagi ke robinson untuk sekedar cuci mata. Pukul 15:00 kembali ke stasiun dan ternyata kereta terlambat. Bingung kereta mana yang akan saya ambil, bertanya ke sana kemari tidak dapat juga info yang jelas. Bahkan sekuriti pun tidak dapat menjelaskan dengan bahasa inggris. Sangat mengejutkan, justru seorang bapak-bapak yang cukup berumur yang bisa membantu saya menjelaskan dengan bahasa Inggris, bahkan menemani hingga kereta datang sekitar pukul 16:40.

 

Sleeper train ternyata sangat nyaman. Sekitar pukul 6 sore, kursi di ubah menjadi tempat tidur dan kebetulan saya mengambil lower berth sehingga bisa sambil melihat pemandangan. Kawasan bagian selatan Thailand ini memiliki banyak sekali tebing†tinggi dan sangat cantik untuk dipandang selama perjalanan. Di kereta ini, setiap tempat tidur, di tutup dengan tirai untuk menjaga privasi. Pokoknya top banget!

 

post-2084-0-59354300-1390915488_thumb.jp

Sleeper Train

 

  • 18 Januari

Saya kira bakalan dibangunkan pagi hari untuk mengembalikan posisi kursi, tapi ternyata tidak. Tempat duduk justru baru dibereskan saat hampir tiba di Bangkok dan kereta ini tiba sangat terlambat sekitar 4 jam karena baru tiba di Bangkok sekitar pukul 15:30. Sayangnya, pagi ini saya tidak menyaksikan sunrise karena bagian tempat tidur saya, jendelanya menghadap barat.

 

Tiba di Stasiun Hua Lamphong, Bangkok, tidak di sangka-sangka saya justru mendapatkan teman seorang mahasiswa dari Jogja yang juga travelling sendiri. Berhubung belum izin pada orangnya untuk mencantumkan identitas diri, maka nama akan saya samarkan menjadi “Budiâ€. Kebetulan Budi sudah bingung ingin kemana karena menuju phuket atau pataya harus menggunakan bis dan untuk menuju terminal, banyak jalan yang di tutup karena #BangkokShutdown. Akhirnya, dia memutuskan untuk bareng menuju Chiang Mai. Segera memesan tiket kereta kelas 3 menuju Chiang Mai dengan harga 271 baht/orang. Kereta berangkat pukul 22:00 dan untuk menunggu keberangkatan, kami mengisi daya baterai yang ternyata colokannya bisa kami temukan di Musholla stasiun. Di food court Stasiun Hua Lamphong, juga teresdia satu tempat yang menjual makanan halal dengan beragam menu dan salah satunya nasi goreng dengan rasa yang cukup lezat.

 

post-2084-0-80024500-1390915496_thumb.jp

Stasiun Hua Lamphong, Bangkok

 

Pukul 21:30 selepas membeli perbekalan makanan untuk di jalan, kami segera masuk ke kereta dan ternyata keadaan keretanya lebih mengerikan dibanding kereta ekonomi di Indonesia. Ya, nikmati sajalah. Semakin malam dan subuh, suhu terasa sangat dingin, belum lagi sudah memasuki kawasan utara Thailand di bagian pegunungan. Bahkan, di dekat kami bule-bule pun pada pake sleeping bag untuk tidur.

 

post-2084-0-95506100-1390915501_thumb.jp

3rd Class Train

 

  • 19 Januari

Menjelang siang pun masih terasa dingin, hingga sekitar pukul 13:30 kami tiba di Stasiun Kereta Chiang Mai. Hanya terlambat sekitar setengah jam dari waktu yang tertera di tiket. Dengan menggunakan Songtaew, kami menuju old town dan mencari guest house di kawasan tersebut. Rata-rata semua full, khususnya single room. Karena tak kunjung menemukannya, akhirnya kami hanya mendapatkan dormitory di Same same guest house, dengan 100 baht per orang dan 4 orang dalam satu kamar. Untungnya salah seorang penghuni kamar yang berasal dari China sangat ramah dan yang satunya lagi hanya muncul saat waktunya tidur, sehingga kami tidak begitu mengenalnya.

 

Selepas beristirahat sebentar dan mandi, kami langsung berjalan menuju wat-wat di sekitar Old Town. Ternyata oh ternyata, hari ini minggu dan waktunya “Sunday Walking Market†di Old Town Chiang Mai. Rata-rata produk yang di jual adalah handcraft dengan kesan etnik yang kental. Benar-benar menggoda mata. Parade budaya di jalanan juga dihadirkan di sini seperti drama boneka, parade dengan baju adat sambil memainkan alat musik sambil menari dan berjalan, serta pentas seni tari oleh anak-anak. Pasar mingguan ini, ternyata sangat luas dan membuat kami bingung untuk menahan rasa ingin membelinya, karena harganya yang sangat murah. Akhirnya, sebelum banyak berbelanja, kami mencari makan dulu di Anusarn Market dan menemukan makanan yang rasanya kurang selidah dan harganya mahal. Namun, tetap di santap juga karena lapar.

 

Setelah makan, kami kembali menuju Sunday Walking Market untuk membeli beberapa barang. Menjelang malam, saya pulang duluan ke guest house untuk beristirahat, sedangkan Budi masih berkeliling sendiri.

 

post-2084-0-21100300-1390915511_thumb.jp

Kota Tua Chiang Mai

 

  • 20 Januari

Pukul 08:00 pagi, kami segera keluar untuk menyewa motor menuju Doi Inthanon National Park. Suhu pagi yang dingin, membuat kami tidak sanggup untuk mandi pagi di provinsi ini. Sewa motor 200 baht per hari dan setelah membeli beberapa roti kami langsung bergerak ke Doi Inthanon dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Suhu yang dingin menjadi tantangan yang berat, bahkan terasa sampai ke kepala. Pagi itu, suhu sekitar 13ËšC saat masih di kawasan yang tak jauh dari Old Town. Memasuki national park, harga tiket dewasa 200 baht dan anak-anak 100 baht. Untuk motor 20 baht dan mobil 40 baht. Kagetnya, kami seperti dikira anak-anak dan hanya dikenakan tarif 100 baht/orang dan motor 20 baht.

 

Perjalanan menuju puncak, di suguhi beberapa spot keren yang membuat kami berhenti sesekali sebelum akhirnya benar-benar mencapai puncak. Banyak lokasi untuk camping serta tak disangka-sangka, kami melihat banyak sekali bunga sakura yang tumbuh di sini. Doi Inthanon merupakan Puncak pegunungan tertinggi yang di miliki Thailand dengan ketinggian sekitar 2565 meter di atas permukaan laut (mdpl). Suhu di kawasan pegunungan ini benar-benar dingin, dengan suhu terendah 2ËšC. Saat kami berada di sini, termometer menunjukkan suhu 8ËšC, sangat dingin bahkan saat berbicara mulut mengeluarkan asap.

 

Di atas sini juga terdapat sejenis souvenir shop dan kedai kopi untuk menghangatkan diri. Ada juga visitor center berupa ruangan kecil dengan beragam penjeleasan tentang flora dan fauna di taman nasional ini. Pusat pelaporan juga berada di puncak, namun dilarang di foto dan mungkin juga di larang masuk. Setelah puas mengambil beberapa foto serta menghangatkan diri dengan segelas kopi, kami segera turun karena kabut semakin turun dan suhu semakin dingin.

 

post-2084-0-45183300-1390915517_thumb.jp

post-2084-0-93429300-1390915520_thumb.jp

post-2084-0-39371500-1390915523_thumb.jp

Doi Inthanon National Park, Chiang Mai

 

Sembari turun ke bawah, kami menyempatkan diri mengunjungi the great holy relics pagoda of Naphamethanidon dan Naphapholphumisiri yang berada tak begitu jauh dari puncak. Biaya masuk 40 baht untuk dewasa. Kali ini, kami dikenakan tarif yang tepat walaupun berharap dikira anak-anak lagi. Hahaha. Komplek pagoda ini sangat luas dan menyuguhkan pemandangan indah dari ketinggian. Kawasan taman juga ditata sangat rapi dengan beragam bunga warna warni serta sayur-sayuran seperti kol dan kubis yang terlihat sangat cantik. Sangat indah, namun tetap saja, suhu dingin sangat terasa, apalagi saat naik ke kawasan dekat pintu masuk pagoda.

 

post-2084-0-08266600-1390915530_thumb.jp

The Great Holy Relics Pagoda

 

Lanjut turun ke bawah untuk menuju air terjun. Berhubung terlalu banyak, dan waktu sudah siang dengan perut yang lapar, kami memutuskan untuk masuk ke satu air terjun saja yakni Mae Klang. Tapi sangat disayangkan, ternyata masuk air terjun harus bayar lagi 100 baht per orang, akhirnya kami membatalkan menuju air terjun, karena rencananya hanya sebentar saja menikmati nuansa air terjun. Jadi, kami hanya duduk di dekat aliran sungai di luar gerbang masuk air terjun, sembari mengganjal perut dengan roti, karena jarak menuju tempat makan halal masih jauh.

 

Sekitar pukul 15:00, kami tiba di guest house untuk mandi dan istirahat sejenak sebelum mencari tempat makan. Sayangnya, tubuh terasa lelah dan rasa ingin makan masih kalah dibanding lelah. Alhasil keluar makan, hanya untuk makan malam.

 

Malam ini, kami mencari makan di sekitar jalan Chang Klan. Kami menemukan masjid dan bertanya pada orang didepannya yang tampaknya berbusana muslim. Beliau memberikan informasi makanan halal, walaupun hanya dengan bahasa isyarat. Akhirnya, kami menemukan rumah makan Bismilla di Chang Klan Rd dengan banyak sekali menu dan kami memesan nasi goreng daging yang rasanya sangaat enak. Hanya 40 baht saja, perut sudah terisi dengan lezatnya nasi goreng, bahkan Budi sampai memesan 2 piring nasi goreng.

  • 21 Januari

Pagi hari, rencana awal kami ingin ke Chiang Rai. Namun, penasaran dengan Doi Suthep khususnya hilltribe villagenya. Akhirnya kami tambah satu hari di Chiang Mai dan sekitar pukul 08:2 kami bergerak menuju Doi Suthep melawan dinginnya suhu pegunungan utara Thailand lagi di pagi hari. Beberapa view point, sempat menarik perhatian dan membuat kami berhenti untuk melihat keindahan alam dari ketinggian terlebih dahulu sembari istirahat. 

Kami juga menyempatkan diri untuk mengunjungi Wat Phrathat Doi Suthep dan melihat-lihat aktivitas di sini. Biaya masuk 30 baht untuk foreigner, tapi berhubung tampang Indonesia dan Thailand tak jauh berbeda, kami langsung masuk tanpa bayar. Sebelum masuk, kami harus menaiki 309 anak tangga, tapi saat saya menaiki tangga ini hingga tiba di Wat Phrathat, sepertinya tidak sampai 309, tapi entahlah. Untuk yang tidak ingin naik tangga, sudah disediakan elevator dengan membayar sekitar 50 baht kalau tidak salah.

 

post-2084-0-19989400-1390915537_thumb.jp

Wat Phratat Doi Suthep, Chiang Mai

 

Selepas dari Wat Phrathat, rencana ingin menuju puncak Doi Pui, yang ternyata tidak bisa kami temukan jalannya. Justru kami tiba di lokasi camping di ketinggian 1500 mdpl. Dari sini, hanya ada satu jalan yang juga mengarah ke Kun Chang Kian Mong Village. Jalan mulai semakin sempit dan banyak jalan rusak. Di tambah lagi jalan menanjak dan menurun yang cukup terjal. Debu-debu cukup banyak karena jalan sebagian sudah berupa tanah dan ngerinya lagi, banyak mobil yang naik hingga ke atas, sehingga harus bergantian untuk bergerak. Ternyata, di sini kami juga bisa menemukan bunga sakura, bahkan lebih banyak lagi serta tertata lebih rapi.

 

Setelah terus mengikuti jalan, kami dihadapkan simpangan jalan di mana ke kanan masuk ke kawasan yang menurut petunjuknya sebuah sekolah yang entah sekolah apa dan sebelah kiri merupakan jalan tanah, dengan petunjuk jalan tidak jelas karena menggunakan bahasa dan aksara Thailand. Akhirnya kami mengambil jalur kanan. Ternyata tidak mirip seperti sekolah, tetapi perkampungan kecil dengan beberapa toko souvenir, warung kopi dan pakaian adat. Semua handmade, bahkan kopi pun di olah sendiri di kampung ini. Mungkin inilah yang di sebut dengan Kun Chang Kian Mong Village. Kami menyewa pakaian adat dengan harga 50 baht, serta mengambil beberapa foto di perkampungan ini, serta berfoto dengan seorang penduduk juga. Terakhir, sebelum turun, kami mencoba segelas kopi di sini sekaligus menghangatkan diri. Ya, nyeruput kopi panas di tempat seperti ini memang kenikmatan tersendiri.

 

post-2084-0-80055200-1390915578_thumb.jp

Doi Suthep - Doi Pui, Chiang Mai

 

post-2084-0-24751500-1390915582_thumb.jp

Doi Suthep - Doi Pui National Park, Chiang Mai

 

Perjalanan turun ke bawah, di isi dengan bernarsis di kebun sakura dan menghangatkan diri di view point. Barulah sekitar pukul 15:00 kami tiba di Rumah Makan Bismilla lagi untuk mengisi perut. Kali ini kami mencoba Tom Yum Seafood yang ternyata porsinya sangat banyak. Ternyata juga, harganya cukup mahal yakni 165 baht. Ya, untuk perjalanan khas mahasiswa, mungkin segitu masih agak terasa memilukan. Hahaha

 

Pukul 4 sore, kami tiba di guest house untuk mandi dan Istirahat. Malamnya kembali ke Bismila untuk makan malam namun sebelumnya mampir di toko kaos handmade yang menjual beragam kaos dengan harga 100 baht saja per kaos. Kembali menyantap nasi goreng untuk efisiensi dan juga memang rasanya enak. Sekitar pukul 9 malam, kami kembali ke guest house untuk istirahat karena tubuh sudah terasa cukup lelah.

  • 22 Januari

Pagi ini, kami akan berangkat ke Chiang Rai menuju The Golden Triangle dan White Temple (Wat Rong Khun). Pukul 8 kami mengembalikan motor yang kami sewa dan menuju Chiang Mai bus terminal menggunakan songtaew. Tiba di terminal, kami segera memesan tiket menuju Chiang Rai dengan harga 185 baht dengan jam keberangkatan pukul 9 pagi. Ternyata, teman satu kamar, Xiu Yang ingin bergabung bersama kami, tapi dia baru saja bangun saat kami akan check out, sehingga dia mempersilahkan kami untuk pergi duluan dan dia menyusul. Namun, saat saya tanya lagi ketika di jalan, dia mengubah rencana untuk mengunjungi Lopburi menggunakan kereta, karena sebelumnya dia tampak tertarik ingin mencoba kereta ketika kami sedang berbincang sebelumnya.

 

Bis tiba di Chiang Rai sekitar pukul 12. Lebih cepat daripada yang tertera di tiket dan langsung menuju informasi untuk mendapatkan angkutan menuju The Golden Triangle, yakni perbatasan antara tiga negara, Thailand, Myanmar dan Laos serta pertemuan antara Sungai Mekong yang merupakan sungai terpanjang di dunia dan Sungai Ruak. Untuk menuju kesana, kami naik van dengan ongkos 50 baht per orang. Van ini sepertinya punya jadwal sendiri kapan berangkat, namun saat kami naik, justru van ini menunggu sampai penuh dan hampir satu jam menunggu penumpang.

 

Sayangnya, ketika tiba di The Golden Triangle, tidak begitu banyak attraction yang bisa dilakukan di sini. Sedangkan untuk menyewa boat cukup mahal karena kami hanya berdua. Akhirnya kami hanya mengambil beberapa foto dan menikmati makan siang yang dibeli di sevel di daerah sini, karena tidak menjumpai lokasi makanan halal.

 

post-2084-0-30225200-1390915586_thumb.jp

The Golden Triangle, Chiang Rai

 

Selepas makan, kami langsung naik van lagi untuk kembali ke stasiun dan menuju White Temple. Kami tiba di terminal lagi sudah hampir pukul 6 sore dan ternyata White Temple punya jam operasional dan sudah tutup saat itu. Karena kami akan segera ke Bangkok malam ini, terpaksa dibatalkan menuju White Temple dengan rasa yang cukup mengecewakan. Bis ke Bangkok baru akan berangkat pukul 19:30 dari terminal bis 2. Seharusnya ada bis yang menghubungkan kedua terminal ini, berhubung sudah sore, bisnya sudah tidak ada sehingga mau tidak mau kami naik songtaew. Tiba di terminal bis 2, menunggu bis datang sembari menahan udara dingin 15ËšC malam hari, cukup membuat rasa kurang nyaman. Ternyata bisnya terlambat datang dan baru berangkat pukul 9 lewat. Sadis..

 

post-2084-0-96051800-1390915596_thumb.jp

Terminal Bis 2, Chiang Rai

  • 23 Januari

Dini hari, bis berhenti di salah satu rest area. Kalau mau makan, cukup tukarkan kupon. Sayangnya, semua tulisannya keriting dan entah halal atau tidak. Berhubung belum begitu lapar, kami tahan saja dan tidur kembali di bis. Pukul 7 pagi, bis tiba di stasiun Mochit dan saya baru sadar bahwa uang 1000 baht saya, hilang entah kemana atau mungkin tertukar dengan 100 baht saat membeli sesuatu karena warnanya hampir serupa. Alhasil dengan uang yang minim, berusaha untuk bertahan dan menunggu kiriman uang dari adik. Mempertimbangkan ketibaan di Hat Yai, saya memutuskan naik kereta lagi agar tiba pagi hari, karena jika naik bis, maka akan tiba malam hari. Kami berjalan menuju stasiun MRT dan berhenti di Hua Lamphong. Saya membeli tiket menuju Hat Yai kelas 2 fan dan seat bukan sleeper lagi karena uang sudah tipis dan untuk naik yang kelas 3, rasanya tubuh sudah benar-benar pegal. Harga tiket 455 baht dan berangkat pukul 1 siang.

 

Budi masih stay di Bangkok karena pesawat pulangnya berangkat tanggal 26. Pukul setengah 1, saya segera menuju kereta dan Budi menuju daerah Khaosan untuk mencari penginapan. Beruntungnya, penumpang kereta yang duduk di sebelah saya bisa berbahasa Inggris dan sangat ramah bahkan sangat baik. Dia membelikan makanan serta mencarikan makanan yang halal karena sebelumnya dia bertanya apakah saya muslim. Untung banget bagi yang sedang kekurangan uang seperti saat itu. Hahah.

  • 24 Januari

Kereta tiba sekitar pukul setengah 10 pagi, tiba-tiba calo yang sama saat saya tiba di Hatyai hari pertama menghampiri dan menawarkan bis. Saya coba saja tanya harga bis ke KL dan ternyata harganya 850 baht. Parah banget harganya, padahal teman sebelumnya dapat tiket bis seharga 450 baht dengan kelas yang sudah bagus. Saya pun menolak dan dia tetap memaksa dan menawarkan harga 650. Tetap saja “power of abis duit†menolak, dan saat itu uang di dompet tinggal 500 baht dan 29 baht untuk masang paket internet 5 jam. Akhirnya saya mandi dulu di stasiun karena terasa sangat gerah dan dilanjutkan ke outlet DTAC untuk refill top-up serta minta dipasangkan paket internet.

 

Langsung buka google maps untuk cari terminal resmi, namun tidak juga mendapatkan info. Alhasil, ikut rekomendasi paling atas dengan tulisan bahasa Thailand dan menemukan sebuah ruko dengan bis didepannya. Sepertinya ini juga tour agency, tapi untungnya bisa dapat tiket dengan harga 450 baht. Bisnya bertingkat 2 dan sangat nyaman. Penumpang hanya beberapa orang saja, sehingga saya bebas menyandarkan kursi agar bisa nyaman untuk tidur sebelum tiba di KL.

 

Bis kemudian berhenti di Sadao untuk imigrasi keluar Thailand dan tak jauh bergerak kembali berhenti di Bukit Kayu Hitam di Kedah untuk imigrasi masuk Malaysia. Cuma bergeser beberapa meter, bis kembali berhenti di tempat makan dan untungnya ada money changer. Lumayan buat tambahan uang di jalan untuk makan. Tapi berhubung perut belum lapar, saya pun kembali ke bis dan tidur. Sekitar pukul 5 sore, bis kembali berhenti dan harus tukar bis karena ada kerusakan. Perjalanan jadi semakin lama dan tiba di Pudu Raya sekitar pukul 10 malam. Langsung mencari ATM karena uang sudah di transfer untuk menyambung hidup di KL satu malam ini.

 

Jarak pudu raya dan PODs The Backpacker Home hanya sekitar 2,5 kilometer tapi berhubung ingin cepat sampai saya coba tanya taksi, namun semuanya menawarkan 20 RM, parah mahalnya. Akhirnya saya memutuskan jalan kaki dahulu dan cari taksi di Jalan dan beruntungnya akhirnya ada yang menawarkan 5 RM. Berhubung saya tidak begitu hapal lokasi PODs, saya mengikuti GPS namun saat tiba di kawasan tersebut saya tidak menemukannya. Alhasil muter-muter dengan taksi. Ternyata oh ternyata, tulisan PODs berada di bagian atas dan setengah lampunya sudah mati, sehingga tidak terlihat, padahal lokasinya benar di tempat yang di tunjukkan GPS.

 

Segera naik ke atas, dapat 1 bed di dormitory karena single room juga full. Satu kamar ada 14 tempat tidur dan ngerinya di bawah ranjang saya orangnya agak mencurigakan dan beberapa kali menyapa dengan sorot mata yang mengerikan. Rasanya, ngeri untuk tidur nyenyak.
  • 25 Januari

Selepas mandi, sekitar pukul setengah 1 saya membeli makan malam di depan PODs karena perut sudah berasa tak nyaman, seharian belum di isi makanan padat. Pagi hari sengaja menunggu semua orang di kamar bangun karena harus repacking barang. Karena sudah lapar, saya sarapan dulu dan jalan-jalan pagi. Mandi pagi kemudian saat kembali ke kamar, sudah hampir semuanya bangun. Repacking dilakukan dan pukul 11 saya check out menuju KL sentral dengan menarik koper yang terasa sangat berat. Jalanan yang cukup ekstrim untuk koper akhirnya justru merusak bagian bawah dan rodanya sehingga sangat berat untuk ditarik dan tidak bisa di dorong. Akhirnya sekuat tenaga tiba di juga di depan kounter Aero bis menuju LCCT dengan ongkos 10 RM one way. Tiba di LCCT, makan siang terlebih dahulu sebelum check in bagasi serta masuk ke ruang tunggu.

 

Pukul 05:00, pesawat depart ke Palembang dan kebetulan di samping saya adalah orang Malaysia yang juga berasal dari Johor. Sedikit berbincang tentang beberapa kota di Indonesia karena dia cukup sering bepergian ke beberapa kota di Indonesia serta sharing tentang beberapa kota di beberapa negara. Cukup panjang obrolan kami hingga akhirnya pesawat mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin dan akhirnya, tiba lagi di kampung halaman.

 

Cerita juga bisa di lihat di sini dan di sini. Sekalian promo blog :P

 

post-2084-0-59557000-1390915602_thumb.jp

Share this post


Link to post
Share on other sites

@rebegg

asek keren neh wong plembang

udah beres toh trip ntya kemaren ya

asek juga tuh bisa ketemu orang indo yang woles bisa jalan bareng kebetulan banget 

belom pernah ke chiang mai jadi pengen neh,

 

oiya copas aja tulisan dri blog nya kesini biar banyak yg liat

tampilin link blog nya juga gakpapa kok :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Nightrain makasih :D

trip yang lainnya ya? sip, ntar di post lagi :D

 

 

@deffa hahah, iya mod, dia taunya aku orang Indonesia gara" merek ransel yg dipake :cintaindo 

aku aja rasanya masih pengen balik lagi ke Chiang Mai suatu saat :D

 

copas utk edit FR yg Thailand ini atau trip lainnya mod?

 

 

@kyosash iya mas. makasih juga ya buat infonya kemarin. ternyata emng ada angkutannya ke Doi Inthanon, cuma berhubung dpt temen barengan bisa lebih praktis sewa motor :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

@kyosash asik sih, cuma kudu tahan dingin. kalo ga pake sarung tangan, jaket sama kupluk berasa banget angin dinginnya sampe kepala :D

200 baht per hari utk 24 jam mas

 

iya, tp pake motor aja 2 jam kesana, gimana pake sepeda. ga kuat wkwkkww

Share this post


Link to post
Share on other sites

@rebegg

hahah yoi yoi tapi aku lebih sering liat orang indonesia yang pake merk top seh kalo diluar

ketauan banget kalo itu orang indo kayak merk Prada Gucci dll kalo lagi di mall :D

 

btw kamu ini berangkat sendiri ? terus ketemu orang indo di stasiun jadi jalan berdua ?

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa hahaha, kemaren selama di thai ga maen" ke mallnya, cuma nyicip robinson doang di hatyai nungguin kereta dtg

kayaknya yang paling gaya orang Indo ya wkkwkw

 

iya, sendiri. pas sampe stasiun bangkok dpt temen, kebetulan dia bingung mau kemana lagi. jadi selama di Chiang Mai dan Chiang Rai pegi bedua hahaha

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By braska
      Foto diambil dari Tokyo Tower - (k)
      Hallo semua,
      Tahun ini saya berkesempatan mengunjungi Tokyo beberapa kali. Kebanyakan bersama teman2 (thx untuk teman2 II dan IV) dan beberapa kali dengan partner. Banyak yang bertanya ke saya tentang itinerary selama di Tokyo, jadi saya pikir lebih baik saya buatkan dalam satu Thread yang nantinya tinggal di share URL nya.
      Thread ini akan saya buat dalam beberapa tahap, dan diharapkan sudah bisa selesai sebelum bulan Desember 2018 berakhir.
      Beberapa pokok bahasan yang akan diulas dalam Thread ini antara lain
      I Persiapan
      II Itinerary
      III Kereta di Tokyo
      IV Shopping
      V Tempat Wisata Gratis
      VI Tempat Wisata Berbayar
      VII FAQ
      PERNYATAAN :
      FOTO
      Semua Foto yang tidak ada tanda dalam Thread ini berarti di ambil dari Google dan Screenshot, sedangkan foto yang bertanda merupakan hasil jepretan dari 
      (i) I Edy S
      (a) Adhitya A W
      (k) R CJatmiko
      WEBSITE
      Saya tidak memiliki kepentingan apapun dengan website yang ada dalam thread ini. Moderator dapat menghapus link jika di perlukan
      MUSIM
      Yang di bahas dalam Thread ini hanya untuk keberangkatan pada Musim Dingin di Tokyo dan sekitarnya, anda dapat tetap membaca thread ini dengan melakukan beberapa penyesuaian jika ingin bepergian di Musim lain.
      STYLE
      Khusus Perjalanan ke Tokyo, perjalanan saya bukan perjalanan Backpacker, saya selalu membawa Koper, naik penerbangan Full Service, Tinggal di Hotel, tetapi mencari harga paling murah yang bisa di dapatkan  
       
      I Persiapan
      Saya selalu menikmati Tokyo (sama halnya dengan saya menyukai Bangkok) Kota ini sangat hidup, penuh dengan budaya Jepang yang kental di satu sisi dan teknologi modern di sisi lain. Khusus untuk Musim dingin, saya menyukainya karena
      1. Musim dingin tidak ada di Indonesia, 2. Tidak terlalu berkeringat, 3. Ada banyak foto indah yang bisa di peroleh di musim dingin, 4. Salju, 5. Harga Tiket dan Hotel lebih murah...(ya, bandingkan jika anda pergi ke Jepang untuk melihat Sakura mekar) Jika kalian ingin mencoba musim dingin di Tokyo ayo kita mulai persiapannya.
      1. Passport dan Visa
      Untuk keluar negeri tentu saja kita harus mempunyai Passport dan untuk bisa ke Jepang kita juga harus mempunyai Visa. Ada banyak cara membuat passport yang bisa di temui di Google karena itu saya tidak akan mengulas lebih lanjut. Silakan masuk ke www.google.co.id lalu ketikkan "cara membuat e paspor" dan kalian akan menemukan lebih dari 100.000 tautan.
      Yang ingin saya sampaikan disini adalah BUATLAH E-PASSPORT, jangan membuat Passport biasa. Membuat passport biasa untuk bepergian ke Jepang sangatlah menyusahkan, karena artinya kita harus mengurus Visa. Sedangkan jika menggunakan E Passport kita tinggal mengurus Visa Waiver.
      Berikut saya tunjukkan perbandingannya :

      Dari perbandingan di atas terlihat kan, mempunyai E Passport berarti anda mengurangi keribetan mengurus Visa, jika visa di tolak anda terpaksa harus merelakan tiket pesawat PP dan (mungkin) hotel yang hangus. Sebaliknya jika anda mempunyai E Passport anda tinggal mengurus Visa Waiver terlebih dahulu baru melakukan pemesanan tiket pesawat, hotel, dll sesudah Visa Waiver di kabulkan. Anda juga bisa melewatkan ketakutan yang paling banyak di bicarakan orang saat membuat Visa "HARUS PUNYA DUIT MINIMAL SEKIAN PULUH JUTA", karena penguruan Visa Waiver hanya memerlukan E Passport anda. 
      Peluang untuk mendapatkan Visa Waiver juga sangat besar, jika anda orang baik2 tidak punya catatan kriminal, tidak pernah ditangkap di Jepang, maka saya bisa bilang Anda pasti dapat Visa Waiver.
      Cara mengurus visa waiver Jepang bisa di dapatkan dengan mengetikkan "cara membuat visa waiver jepang" di Google.
       
      2. Tiket
      Saya bukan orang yang anti dengan penerbangan Low Cost, pada dasarnya saya malah lebih sering menggunakan Maskapai Low Cost ketimbang Full Service, tapi mari saya tunjukkan kenapa saya lebih memilih penerbangan Full Service untuk pergi ke Tokyo
      Maskapai Low Cost hampir selalu menggunakan transit flight dari Jakarta ke Tokyo. Efeknya sangat berbahaya, saya sudah 2x mengalami kejadian tidak mengenakkan. Waktu transit biasanya hanya 1,5 - 2 jam. Akibatnya jika penerbangan dari Jakarta delay maka (hampir) dapat dipastikan (walaupun kita tidak ketinggalan pesawat menuju Tokyo) tidak cukup waktu untuk memindahkan bagasi kita. Kejadian paling parah yang saya alami adalah berada di musim dingin tanpa jaket tebal (yang tertinggal di Kuala Lumpur). Saat itu perlu 2 hari untuk bagasi saya sampai di hotel. Alhasil liburan sudah tidak lagi menyenangkan, dan saya harus rela kehilangan suara selama 2 minggu karena terkena radang tenggorokan (kupluk, syal dan semua baju ganti ada dalam koper di bagasi). Sekarang  bagaimana jika waktu transitnya lama, misal 16 jam. Anda mau tidak mau harus mengeluarkan uang lagi untuk membayar hotel di lokasi transit. Tentu saja ada pilihan untuk tidur di bandara. Tapi sebagaimana telah saya tuliskan di atas style perjalanan saya bukan backpacker. Jam kedatangan dan keberangkatan Maskapai Low Cost sering mengakibatkan anda kehilangan 1 hari di Hotel. Begini contohnya : Jika anda Tiba di Tokyo Pukul 23.00 maka sesudah proses imigrasi, pengambilan bagasi, transportasi dll maka kemungkinan anda akan tiba di hotel Pukul 01.00. Waktu Check in hotel biasanya adalah pukul 14.00 sehingga mau tidak mau anda telah kehilangan 1 hari di hotel yang telah anda bayar. Selain itu waktu keberangkatan juga seringkali jadi masalah. Maskapai Low Cost sering berangkat di jam-jam malam seperti 23.50, padahal waktu Check Out hotel Tokyo adalah 11.00 akibatnya ada waktu lebih dari 12 jam luntang lantung tanpa tempat istirahat. Ada biaya tambahan untuk bagasi di penerbangan Low Cost. Biasanya berkisar 400 - 700 ribu tergantung beratnya. Berarti kalau PP bawa bagasi maka ada tambahan biaya sekitar 1 juta dari harga tiket. Penerbangan ke Tokyo memakan waktu lama, direct flight saja bisa lebih dari 7 jam. Lalu di pesawat kita mau ngapain? duduk, diem, merenung dan tidur? jika anda memilih untuk mengisi perut maka ada biaya lagi yang harus di keluarkan untuk pemesanan makanan.  Ok, jadi kita akan memilih penerbangan full service yang menyediakan makanan dan minuman, entertainment flight, jarak antar kursi yang lapang, jam penerbangan yang tepat dengan kebutuhan, free bagasi, dan semua fasilitas lain yang tidak di dapatkan di penerbangan low cost. Mahal dong? Jawabnya TERGANTUNG. 
      Ini contoh penawaran maskapai low cost

      Dan ini tiket yang saya beli 

       
      Saya terbang menggunakan JAL yang masuk dalam daftar 5 Star Airlines. Bagasi 46 kg FREE, Full Service, dengan Jam kedatangan 15.45 dan Jam keberangkatan 17.45. Harga yang saya dapatkan lebih murah daripada maskapai Low Cost.
      Jadi bagaimana caranya? Saya menggunakan SkyScanner (silakan Googling). Dengan SkyScanner kita dapat melihat kapan, maskapai mana, dan website mana yang memberikan tiket paling murah. Tentu saja jika kita membeli dari jauh2 hari kita memiliki lebih banyak pilihan harga yang mungkin dapat berubah. Oh ya, sekali kita melakukan pencarian lewat SkyScanner maka saat membuka email, googling dan menggunakan media sosial iklan yang ditampilkan biasanya adalah iklan harga tiket yang paling murah. Rajin2lah mengecek harga tiket lewat SkyScanner karena FYI, harga tiket JAL biasanya 16juta sekali jalan. Harga 7,3juta PP saya dapatkan menggunakan Fasilitas "Dapatkan Info Harga" yang ada di situs SkyScanner. Fasilitas ini memungkinkan kita mendapatkan harga terbaru dari rute yang kita tuju.
      Sekedar tambahan, Tiket penerbangan dari Jakarta - Paris PP untuk Maret 2019 saya dapatkan dengan harga lebih murah daripada tiket ke Jepang. Lagi2 dengan SkyScanner.
       
      3. Hotel
      Rata-rata hotel di Jepang memiliki kamar yang kecil tapi harga yang "besar". Tokyo pun termasuk. Harga properti di Tokyo yang sangat mahal membuat Tarif Hotel juga tinggi untuk ukuran Indonesia. Walaupun demikian tetap saja jika bersedia susah sedikit masih ada kamar2 kapsul dan dormitory yang berharga di bawah 500ribu permalam. 
      Menyesuaikan style jalan-jalan, saya memberikan beberapa kriteria untuk memilih Hotel di Tokyo.
      Carilah hotel yang dekat dengan stasiun kereta. Kereta adalah transportasi nomor 1 di Tokyo. Dalam kondisi cuaca yang dingin akan lebih baik jika Hotel dekat dengan stasiun kereta sehingga kita tidak perlu berlama2 diluar. Hotel yang dekat dengan stasiun kereta juga memudahkan anda untuk menepati jadwal itinerary. Bawaan anda cenderung banyak, karena musim dingin membuat pakaian yang harus disiapkan berlapis2. Jika mendapatkan kamar hotel yang terlalu kecil maka anda akan kesulitan sendiri dalam meletakkan koper dan barang belanjaan Pastikan hotel anda memiliki sistem penghangat ruangan yang baik dan air panas yang mengalir 24 jam non stop. Saya tidak bisa membayangkan jika di tengah suhu 0 derajat lalu harus mandi pagi dengan air yang tidak terlalu panas karena sistem air panas dipakai beramai-ramai. Akan lebih baik jika Hotel menyediakan sarapan pagi. Buat anda yang terbiasa mengisi perut di pagi hari, tentu akan runyam jika harus jalan dulu mencari sarapan di tengah udara dingin. Hotel di sekitaran Tokyo memang lebih mahal daripada yang mengarah ke luar kota. Tetapi anda akan lebih mudah menentukan jalur tujuan jika berada di dalam kota. Dalam beberapa kesempatan, saya selalu memilih hotel yang sama untuk tempat menginap. Hotel Villa Fontaine Hatchobori. Hotel ini merupakan salah satu hotel dari jaringan Villa Fontaine yang tersebar di seantero Jepang. Saya memilih hotel ini karena semua kriteria yang saya sebutkan di atas dapat diakomodir. Harganya pun menurut saya termasuk murah. Sekitar 1,2 juta permalam, yang kalau di share bersama teman sekitar 600 ribuan permalam (sudah include sarapan), ukuran kamarnya juga sedikit lebih besar dari ukuran kamar di daerah Shinjuku dengan harga yang lebih mahal.
      Hotel ini hanya sekitar 1 menit jalan kaki dari Stasiun Kayabacho (uniknya Hotel Villa Fontaine Kayabacho justru sedikit lebih jauh dari stasiun Kayabacho, jadi jangan sampai salah hotel). Stasiun Kayabacho hanya berjarak 3 stasiun dari Ginza, 2 stasiun dari Otemachi, 3 stasiun dari Akihabara, bahkan hanya 5 stasiun dari Ueno dimana kita bisa melanjutkan perjalanan dengan Shinkansen. Posisinya sangat strategis.

      Suasana luar hotel - (a)

      Lobby - (a)

      Lift - (a)

       
      4. Pakaian
      Tidak bisa dielakkan Pakaian Musim Dingin pasti lebih tebal dan berlapis dibandingkan jika kita ke Jepang di musim panas. Suhu udara di Tokyo sepanjang musim dingin berkisar di angka -2 sampai 7 derajat celcius. Demi kenyamanan anda saya menyarankan untuk menggunakan 3-5 lapis baju. Tentu saja hal ini bergantung dari ketahanan tubuh anda terhadap udara dingin. Berikut list pakaian yang perlu dibawa :
      Kupluk Syal Long John Jaket / Sweater / Vest Mantel / Jaket Salju Celana Panjang (bahan cordoray lebih bagus) / Celana Insulated Sarung tangan Jika ada rencana untuk bermain salju saya sarankan dari awal bawalah celana insulated, celana ini memiliki beberapa lapisan, bagian paling luar memiliki jenis parasut sehingga tidak mudah kemasukan air, dan bagian paling dalam merupakan lapisan yang menghangatkan kaki. Hindari bermain salju dengan celana jeans, karena dapat merembes dan membasahi kaki. Oh ya, harga barang2 di atas sangat bervariasi tetapi ada beberapa lapak di tokopedia yang menjual Perlengkapan musim dingin dengan harga sangat murah tetapi kualitasnya bagus. Sebagai contoh saya mendapatkan mantel dengan harga 400 ribuan dan celana insulated dengan harga 100 ribuan. Nyaman saat di gunakan. Coba saja di searching.

       
      5. Komunikasi
      Sebenarnya Tokyo adalah kota yang ramah Wifi, kira-kira kalau diterjemahkan banyak Free Wifi bertebaran dimana-mana, di dalam bus, di tempat2 wisata, di stasiun kereta, dan pastinya di hotel. Hal ini memudahkan anda untuk berkomunikasi baik via media sosial maupun aplikasi chatting. Fasilitas free wifi ini dapat di peroleh dengan melakukan sign in ke salah satu jaringan wifi yang akan meminta anda untuk mengklik tautan yang di kirimkan ke email anda. Biasanya anda akan mendapat kesempatan 5 menit free yang dapat digunakan untuk membuka email dan mengklik tautan untuk mengkonfirmasi penggunaan free wifi.
      Walaupun demikian saya tidak menyarankan anda untuk bergantung pada fasilitas Free Wifi. Saya tetap menyarankan untuk mempergunakan jaringan komunikasi sendiri. Ada beberapa alternatif yang bisa anda lakukan :
      Beli SIM Card di Jepang  Beli SIM Card dari Indonesia Sewa Paket Wifi Bagi yang berangkat dalam rombongan, saya lebih menganjurkan untuk menyewa paket Wifi. Dalam 1 router biasanya bisa dikoneksikan untuk 6-8 alat. Sehingga jika di share biaya sewanya jadi lebih murah. Contoh untuk router unlimited 4G yang saya sewa dari QL Liner (via Klook.com) saya hanya perlu membayar Rp 115.000 per hari. Alat ini dapat dipergunakan untuk 14 alat sekaligus. Sehingga jika di share biaya ke 7 orang (masing2 mempergunakan 2 alat), 1 orang hanya perlu membayar Rp 16.500 per hari. Harga ini jauh lebih murah daripada membeli SIM Card dari Indonesia atau membeli di Jepang. Tetapi wajib diingat, kelemahan Wifi adalah jika pembawa router terpisah lebih dari 10 meter maka teman2nya yang lain tidak lagi mendapat sinyal. Kemudian jika alat hilang atau rusak ada denda yang lumayan besar sekitar 42.000 yen. Selain itu jangan lupa untuk membawa Power Bank sebab jika router kehabisan batrei maka komunikasi anda juga akan terputus.
       
      Jika anda memilih menggunakan SIM Card maka anda akan terhindar dari keribetan menenteng router kemana2. Selain itu anda tidak perlu harus selalu berada di dekat router untuk melakukan komunikasi. Kapan saja anda ingin menghubungi teman, atau upload instagram dapat dilakukan langsung.
      Untuk SIM card tidak ada salahnya anda melihat2 di website GlobalKomunika, mereka memberikan banyak pilihan paket SIM Card (Paket Data SAJA). Dengan membeli SIM Card langsung dari Indonesia anda bisa langsung mengaktifkan HP Anda saat berada di Bandara Narita / Haneda. Sayangnya ada batasan Quota 4G yang harus anda perhatikan saat memilih menggunakan SIM Card. Untuk SIM Card seharga Rp 195.000 anda bisa mendapatkan Quota 4G sebanyak 3GB untuk waktu 8 hari. Setelah itu jika Quota habis maka kecepatan akan turun menjadi 2G. Jadi jangan terlalu sering melakukan Video Call atau berselancar di Youtube jika anda menggunakan SIM Card. Jika anda memutuskan menggunakan SIM Card harap di baca baik2 petunjuk penggunaannya (sudah disertakan bersama SIM Card), karena tidak semua HP secara otomatis melakukan pengaturan APN.

       
      6. Tiket Wisata
      Kepada siapapun yang ingin ke Jepang saya selalu menyarankan untuk mempersiapkan Itinerary dengan sebaik-baiknya. Sejak awal pastikan tempat-tempat yang ingin anda tuju. Lalu lakukan survey untuk melihat apakah tempat2 tersebut membutuhkan tiket masuk. Kenapa hal ini penting : karena banyak tempat wisata di Tokyo yang memberikan Harga Tiket lebih murah saat pemesanan di lakukan di awal ketimbang saat anda datang dan membeli langsung di loket. Selain itu anda dapat menghemat waktu untuk melewatkan antrian orang2 yang ingin membeli tiket pada waktu bersamaan.
      Beberapa tempat wisata bahkan TIDAK MENJUAL TIKET DI TEMPAT. Jika anda ingin mengunjungi Fujiko F Fujio Museum, atau Ghibli Museum maka anda harus melakukan pemesanan dari sebulan sebelumnya. Karena jika anda langsung datang ke tempat tersebut tanpa memiliki tiket maka bersiaplah untuk kecewa. Anda tidak akan bisa masuk.
      Ada banyak situs yang menjual tiket wisata secara online, saya secara pribadi lebih sering memesan lewat Klook. Silakan lakukan pengecekan apakah Tiket tempat wisata yang ingin anda tuju tersedia di website mereka. Tapi sekali lagi lebih baik anda membeli tiket lewat online karena harga yang di dapat sering lebih murah daripada membeli langsung, sekaligus memastikan rencana liburan anda tidak berantakan karena gagal mendapat tiket.
       
       
    • By min0ru
      Pagi itu, saya dan keluarga mendarat di Kansai International Airport (Osaka) pukul 08.30 waktu setempat. Ini kali kedua saya mengunjungi negara yang kawaii ini dan kota pertama yang akan saya kunjungi adalah Takayama. Seusai mengambil bagasi, saya bergegas menuju ke JR Office untuk menukarkan JR Pass (Japan Railway Pass). Antrian ternyata cukup panjang mengular dan menghabiskan waktu lebih dari 30 menit sampai akhirnya saya mendapatkan JR Pass.
      Cara Menuju ke Takayama
      Karena saya menggunakan JR Pass, jadinya kami bisa langsung naik ke Shinkansen (kereta cepat). Dari Kansai International Airport (KIX) kami mengarah ke Shin-Osaka Station dahulu baru nyambung kereta lagi ke Nagoya Station sebelum akhirnya menggunakan Hida Train (JR) dan turun di Takayama Station.
      Jalan Sore di Takayama

      Sesampainya di Takayama, saya langsung bergegas menuju hotel karena memang sudah waktunya check-in, lagipula repot rasanya jika harus berjalan-jalan menggeret koper. Kami menginap di J-Hoppers Takayama yang jaraknya hanya 10 menit berjalan kaki dari Takayama Station.
      Saya bertanya kepada resepsionis hostel mengenai apa saja yang bisa dilihat di Takayama ini dan dijawab dengan sangat ramah olehnya. Jadi di Takayama ini ada bagian kota tuanya yang cukup ramai tapi hanya di akhir pekan dan banyak street food. Karena kami datang di hari biasa, jadi kami cukup manyun dan memutuskan untuk eksplorasi saja jalan-jalan di Takayama.
      Sebelumnya kami makan dulu di restoran ramen yang dipilih secara random karena cukup ramai. Rasanya pun cukup enak dan menghangatkan. Saat itu cuaca cukup dingin kalau tidak salah sekitar 5-10°C. Sayang banget karena kalap saya ngga sempet mengabadikan foto makanan maupun restorannya. 
      Berseberangan dengan restoran rame, ada sebuah jembatan kecil  untuk menyeberang sungai dan ada jalanan kecil di sisi sungai tersebut yang cukup cantik untuk berfoto. Jadilah ambil beberapa frame dulu ☺️. Ngga kerasa hari cepet banget gelap, suasana lampu bangunan tua satu persatu mulai menyalah membuat suasana malam itu makin cantik. Kebayang ngga sih bangunan tua yang kebanyakan berbahan kayu dihiasin lampu berwarna kuning atau lampion berwarna merah? 
      Malam itu kami kembali lebih cepat ke hostel, karena ngga banyak lagi tempat yang bisa dilihat dan memang tujuan ke Takayama ini hanya persinggahan untuk menuju ke Shirakawa-Go.
      Keindahan Desa Sejarah Shirakawa-Go (UNESCO's World Heritage Sites).

      Cara yang saya gunakan untuk menuju ke Shirakawa-Go dari Takayama adalah menggunakan tur yang di arrange oleh J-Hoppers Hostel. Kenapa saya memilih tur dari J-Hoppers? Karena harganya lebih murah ¥500 untuk orang yang menginap di J-Hoppers, kan lumayan 4 orang sudah jadi semangkok ramen. 

      Bus melaju dengan santai ke Shirakawa-Go, dalam waktu kurang dari 1 jam kami sudah tiba di situs bersejarah ini. Kami diberikan waktu bebas selama 2 jam di desa ini. Ngga pake lama, saya langsung ngacir turun dari bus dan cari spot buat pepotoan.


      Rumah-rumah di desa ini disebut Gasshō-style atau bebentuk seperti tangan sedang berdoa. Atapnya terbuat dari susunan jerami yang sangat kuat dari berbagai cuaca. Walaupun hanya terbuat dari jerami tetapi pada musim dingin tetap dapat menghangatkan dan sejuk saat musim panas.


      Senangnya saya liat sisaan salju yang masih terhampar luas dan tebal, pengen rasanya tambahin duren sama cendol trus sirup tjampolay~ *eh. 
    • By Dennis.Rio
      TOKYO 東京.....
      day 3
       
       
       
       
       
       
       
    • By Dennis.Rio
      POCKET WIFI di Jepang......
       
       
       
    • By ko Acong
      Bagi yang bosan di Kuala Lumpur boleh melipir ke Melaka cuma 2 jam perjalanan loh.
      Berapa uang yang saya habiskan selama main ke Malaka? Normalnya tiket pesawat PP 1 jutaan. Yang pasti tiket PP Indonesia-Kuala Lumpur kemarin saya dapat Rp 169.000 saja Malaysia Airlines Business Class (Promo).
      Mari kita hitung pengeluaran saya selama 2 malam 3 hari di Melaka:
      Tiket Bus, via Terminal BTS (Bandar Tasik Selatan) cukup 24 x 2 = 48 RM
      Jika langsung bus PP harganya 70 Rm, perbedaan waktu hanya 1 jam. Kelebihan transit di  BTS setiap 30 menit ada Bus. Kekurangannya, jika ketingalan jadwal bus harus buang waktu selama 3 jam.
      Hotel Saya Pake Hotel Hong https://goo.gl/maps/fhwLNd6fmzp
      yang terkenal buat Backpackers, karena serasa Hotel Keluarga ada di antar jemput di terminal bus dan ketika diantar mereka melepas kita satu persatu, sampai aman di terminal bus dan mengarahkan ke platform yang seharusnya. Terima kasih Ci Amey dan karyawan hotelnya yang bersih. Harga selama 2 malam kisaran Rp 550.000. 
      Tranportasi di Melaka semua ditempuh dengan berjalan kaki. Estimasi makan minum, cukup Rp. 100000 perhari, di tiap menu makanan perhari ada daging nya lumayan wah juga sih.
      Tinggal kita hitung oleh2 jajan yang aneh-aneh dan lainnya, jadi estimasi main di Melaka selama 2 hari:
      Bus 48 Rm = Rp 175.000 Hotel 2 malam = Rp 550.000 Biaya makan minum = Rp. 300000 Jumlah Rp 1.025.000.- sesuai Hitungan awal budget cukup 1 jutaan.
      Hehehe namun belum termasuk Cendol Musang King dan oleh-oleh Durian Jam San Shu Gong yang legenda, Wueeenak lembut banget. Nah bila mau lanjut main di Kuala Lumpur, cuma tinggal nambah hotelnya sekitar Rp 500.000 per malam.
      ____________________________________________________________________________________________________________











    • By Daniyah Isa
      Assalamualaikum 
      Salam kenal,
      Panggil saya, Nia
      Ini adalah pertama kalinya saya pergi ke LN dg mengurus semua keperluan sendiri. Biasanya, sdh terima beres dari kantor, karena memang ada urusan. Nah, destinasi yg saya pilih tdk jauh tp harus berkesan ! Melaka. Kota yg ditempuh dlm waktu 2 jam dari KLIA2. 
      Gimana caranya saya bisa sampai ke sana ? Inih dia, detailnya ;
      1. JKT-KLIA2
      Pesan tiket pesawat yg everyone can fly dari situs resmi. Lama waktu sekitar 2 jam, berangkat 10:10am sampai KLIA2 13:15pm.
      Di KLIA2, ikuti saja petunjuk arah yang ada, sambil ikuti arus kemana orang-orang pergi. Nanti, ada eskalator naik, lalu ada eskalator turun langsung ke tmpt imigrasi. Setelah keluar dari imigrasi, saya temukan mall dg counter-counter barang branded. Semacam Grand Indonesia, kalau di Jakarta.
      Buat yg terburu-buru sampai ke KL dg cepat, mgkn ada urusan meeting or apa, bisa lurus terus ke pintu keluar. Di samping pintu keluar ada loket pembelian tiket KL Ekspres, seharga 55RM dg waktu tempuh 33menit ke stasiun KL SENTRAL. Dari KL Sentral, bisa pilih kemana saja tujuan teman-teman yg mau dicapai. Ibarat di Jakarta nih, KL Sentral tuh Manggarai. 
      Tujuan wisata saya, dan teman saya adalah Melaka. Belajar dari blog dan bbrp artikel, butuh kendaraan bus utk sampai ke sana. Hanya bus saja, tdk ada kereta atau MRT yg menuju ke sana. Saya pun, turun lagi ke lantai G dg eskalator. Jangan takut kesasar ! Banyak petugas keamanan yg berjaga.
      Sampai di lantai paling dasar, ada sederet loket yang menjual tiket bus, taxi, sewa kereta (mobil). Langsung saja, membeli tiket bus Transnasional tujuan Melaka Sentral, seharga 24.10RM. Di tiket sudah tertera nomor tempat duduk, gate tempat menunggu. Wah, pokoknya tertib dan teratur! Meskipun busnya lebih bagusan DAMRI sih bagi saya, hehehe.
      2. Melaka dan Wisatanya 
      Selama 2 jam perjalanan dari KLIA2, sambil bengong-bengong liat pemandangan (apa bener gue di Malaysia? Ini mirip ke Ciawi yah ? Heheheh) yang membedakan tuh, sepanjang jalan lancar jaya. Mgkn supir bus kapalan nginjek gas, hehehe. Duh bahagia deh kalau Jakarta jalanannya kaya gini terus. Sampai tibalah saya di Melaka Sentral, ibaratnya Terminal Kp. Rambutan gituh. 
      Waduh, sepi banget ! Macam ga ada kehidupan. Bingung juga kan, mau ke hotel gimana ? Boro-boro kuota buat pesan taksi online, sinyal ajah ga dapat.
      Yaa, saya tanya ke petugas kebersihan, dan memang bus Panorama 17 tujuan Bangunan Merah, agak lama. Bukan karena macet yaa, ini karena jalanan di Melaka tuh Sehala (satu arah) jadi dia berputar dulu.
      Sejam menunggu, datanglah bus Panorama 17. Disinilah pengalaman dimulai, banyak yg Negor dan tanya "Indonesia ya ? Indonesianya mana ?" Agak bingung sih, ditanya begitu. Biasanya ditanya "Jawanya mana ?" Padahal sih, sama saja hehehe. 
      Saya menginap di hotel Hallmark Crown, 3H2M, seharga 147RM include Breakfest, free wifi. Wilayahnya dekat dengan mall Dataran Pahlawan, jalan kaki 10 menit lah. Jadi turun saja di Dataran Pahlawan, ongkos busnya 2RM saja. Hotelnya comfie banget ! Disetiap sudut ada galon. Jadi bisa refil sepuasnya, ditambah kulkasnya menyala dg sempurna. Wah, recomend deh!
      Saran utk teman-teman yg mau pesan hotel di Melaka, pesan di daerah sekitar Dataran Pahlawan (rate murah), Bangunan Merah, dan Jonker Street. Tiga tempat itu, sudah dekat banget kemana-mana. Jadi bisa jalan-jalan santai, foto-foto, interaksi sama penduduk lokal. Yg penting, rajin jalan kaki yaa, hehehe.
      Hari pertama saya mengunjungi Bangunan Merah, jalan kaki dari Hotel 15 menit. Melewati mall-mall Besar, dan rupanya ada carnaval becak hias, mobil hias dan barongsai. Jadi nggak berasa jauh dan capeknya.
      Di Melaka, ada yang saya lihat di maps Google itu jauh, ternyata dekatan. Menara Taming Sari, Bangunan Merah, Jonker Street dan River Cruise. Yang jauh, cuma Masjid Selat Melaka. Masjid Selat Melaka memang harus menggunakan taksi online, karena jaraknya terpisah dengan daratan Melaka kota dan masuk ke kompleks perumahan. 
      3.Kuliner dan Oleh-oleh Melaka
      Sempat bingung mau makan apa di Melaka. Hari pertama saya sampai di Melaka, sudah malam dan banyak yg tutup. Masa iyah sih, jauh-jauh ke Melaka, makanya McD? Nggak ada nasi lagi. Akhirnya mampir ke 7Eleven (horeee, Nemu 'sevel !) Beli nasi lemak instant dan mie instan. Lupa berapa harganya, tapi cukup menahan lapar. Serius deh, sebenarnya nggak lapar-lapar banget ! Cuma karena nggak mau masuk angin ajah.
      Terakhir perut diisi sama sandwich Subway yg beli di KLIA2. Hufh, gara-gara ngincer destinasi wisata jadinya lupa makan. 
      Hari kedua, masih hunting foto disekitar Bangunan Merah, Taming Sari, River Cruise. Cerah banget langit di Melaka, dan udaranya juga segar nggak ada polusi (kapan Jakarta begini ? Mungkin ga yah ?). Di samping Bangunan Merah, ada tangga menuju bukit. Diatasnya bangunan reruntuhan yang menghadap lautan lepas. Keren banget !!! Duduk-duduk saja sambil lihat pemandangan. 
      Oh Iyah, untuk beli oleh-oleh seperti gantungan kunci, kaos tulisan Melaka, tas Melaka, tempatnya di Medan Samudera. Tenang, ga jauh kok ! Ga perlu nyebrang. Dari Bangunan Merah, ambil sisi kanan dan lurus terus sampai lihat bangunan kapal pesiar. Nah di sana, yang paling murah ! Kaos dapat 10RM, gantungan kunci dapat 8RM, 6 gantungan kunci. Meski di Bangunan Merah juga ada lapak yang menjual, lebih baik beli di Medan Samudera, karena harganya lebih terjangkau. 
      Selain beli oleh-oleh, di tempat ini ada warteg Melayu loh ! Syukurlah, ada warteg juga. Awalnya sempat underestimate gitu. Makanannya mirip makanan warteg, dan ga lebih menarik dari warteg Jakarta. Karena Nggak enak sama Ibu penjualnya, yg tiba-tiba udah nyendokin nasi, mau ga mau dibeli. 
      Yaa sayur tumis kacang panjang dan ayam goreng jadi menu makan siang. Pas dimakan, enak ! Ini karena efek capek mungkin yaa. Minum air mineral, biar nggak makin haus. Tadinya sih mau makan nasi Briyani dan teh tarik, tapi dia hanya jual di hari Minggu. Seporsi makanan warteg Melayu cuma 6RM. Waah, amazing ! akhirnya bisa menghemat, heheheh.
      Lepas makan, lanjut belanja-belanja di sekitar Medan Samudera. Biasa, buat yang dirumah, mau dibeliin kaos dan gantungan kunci utk disebar, hehehe. Jalan lagi ke Bangunan Merah, baru ketemu kedai es cendol. Katanya sih, es cendol di Melaka itu khas banget. Yaudah, saya beli yang es cendol kacang merah. Rasanya ??? Waah, enak banget !!! Pass buat saya yang ga terlalu suka manis. Kuah santannya gurih, cendolnya segar dan kacang merahnya manis. 
      Wah, okeh banget lah ! Rencana kalau ngidam, maunya ngidam es cendol Melaka. Hahahah
      Menjelang sore, saya bersiap menuju Mesjid Selat Melaka. Menikmati sunset sambil menunggu waktu magrib. Magrib di Malaysia, setengah tujuh. Tapi langitnya seperti setengah enam, Jakarta. Waktu di Malaysia tuh cepat banget ! Mungkin ini planet Merkurius, satu menit tiga puluh detik. Semua terasa cepat.
      Saya dan teman-teman menuju Masjid Selat Melaka menggunakan taksi online. Sampai di sana, waah indah banget ! Lebih indah dari foto-foto Google. Garis cakrawala sudah menyapa di langit. Air laut biru bersih tanpa sampah. Saya berdiri di halaman belakang Masjid menatap langit sore. Diterpa angin laut, dan ada beberapa wisatawan lain berlalu-lalang. Sayang, lagi nggak sholat Magrib di sini. 
      Akhirnya cuma nunggu teman yang sholat Maghrib, sambil jaga sendal hahaha.
      Malam terakhir di Melaka, saya menuju rumah makan Eeji Ban Chicken, penjual makanan khas Melaka. Ada Rice Balls, Asam Pedas, Nasi Lemak, harganya pun terjangkau. Berkesan makan ditempat ini, karena rumah makan Eeji Ban recomend dari supir taksi online. 
      4. Check Out Melaka
      Hari terakhir di Melaka, saya merasa sedih banget ninggalin tempat ini. Padahal rumah ini kampung orang, negeri orang, huhuhu. Nggak mau repot karena tas udah beranak, jadinya saya dan teman-teman naik taksi online ke Melaka Sentral.
      Di Malaysia pada umumnya, jarang ada sirik-sirikan or persaingan. Contohnya di terminal Sentral Melaka. Tadinya mau naik bus Delima,  bus terkenal dikalangan blogger yg pernah kesana. Tapi sama kenek Delima, disuruh ke bus satunya lagi yg kurang eksis. But its OK ! Yg ptg sampai, heheheh.
      Dua jam perjalanan menuju terminal bus TBS (Terminal Bersepadu Selatan), amazing !!! Terminal Bus rasa Bandara Terminal 3. Bersih, tertib, rapi. Dibawahnya, ada stasiun menuju KL Sentral. 
      5. Sehari di Kuala Lumpur 
      Berhubung pesawat tengah malam, jadi siang masih bisa jalan-jalan sebentar di Kuala Lumpur. Hunting foto di KLCC, Dataran Merdeka dan jalan-jalan ke Mall *lagi. 
      Dari Terminal TBS, naik KL transit ke stasiun KL SENTRAL seharga 6.5RM. Dari KL SENTRAL, bisa ke Batu Caves, KLCC, Mesjid Jamek, KLIA2. Ada peta seperti peta yang ada di halte Transjakarta, di sana juga ada petugas yang membantu dan menanyakan "Can i help you ?" So, tak perlu takut tersesat. 
      Stamina udah low, meski cuma naik turun kendaraan umum tp cukup bikin lemas. Selain makan, kita juga butuh vitamin, kalau capek lebih baik istirahat.
      Di KL SENTRAL, ada loker penitipan dg kunci sensor wajah. Jadi kita ga perlu deh tengteng tas beranak kesana kemari. Harganya 20RM utk loker kecil dan 30RM utk loker besar. Sangat disarankan berpergian sama teman, biar segala biaya bisa ditanggung bersama. Tapi milih juga yaa, teman yang gimana buat diajak jalan jauh. Apalagi, ke LN yg jalan kakinya jauh-jauh.
      Baiklah, itu pengalaman pertama saya traveling ke Melaka, Malaysia. Saya sangat suka tempat itu, lebih indah dari yg saya bayangkan. Terutama yg hobi fotografi, ini banyak spot-spot bagus di Melaka. 
      Oh Iyah, makasih banyak buat Mba Vira. Mgkn dia jarang aktif di forum ini. Saya pun juga newbie. Ketemu jalan2.com karena random ajah, hehehe. Lagi bosen, drpd stalking sang EX atau baca berita hoaks, iseng-iseng cari soal Melaka. Tiba-tiba muncul situs ini, dan saya kenalan sama Mba Vira. Nggak ada sedikitpun curiga bakal gimana nnt disana, tinggal jalan ajah. Hehehe
      Nah buat teman-teman, semoga tulisan saya membantu dan jadi referensi kalau kalian mau ke sana. Ingat, No need bilang, barang ini murah atau mahal. Soalnya beda "Peradaban".
       








       
    • By seyakasamira
      Lalala-yeyeye..Setelah menunggu selama 7 Bulan lamanya, akhirnya nemu juga 5 orang korban lain (*eh?!) yang bersedia nge-trip bareng ke sini..uwowww jd terharu sayaa..  so, langsung saja..
      Day 1.
      Kita berangkat hari Jumat tgl 26 Sept'14, naik pesawat TriganaAir dari Jakarta menuju PangkalanBun. Sesampainya disana langsung dijemput oleh Tour Guide kami (Pak Andreas dari Yobel Tour), dan kita dicarterin taxi untuk menuju pelabuhan Kumai dengan jarak tempuh yg lumayan singkat yaitu 30 menit saja..Da..engingjrennggg... langsung terkesima dengan kapal yang akan kita kendarai selama 3 hari 2 malam mendatang..huhuhu..ga nyangka kapalnya oke banget,bersih dan ga se-prihatin yg saya bayangkan (mulai norak).
       
      Jadi awak kapal terdiri dari 1 orang kapten kapal, 1 orang crew kapal, 1 orang juru masak, dan Pak Andreas sbg Tour Leadernya. Kapal yg populer dinamakan kapal kelotok (karena bunyinya klotok..klotok..klotok) ini cukup luas buat kami ber 6 plus 4 orang awak kapal. Ada 2 dek, dek bawah itu untuk aktivitas awak kapal (buat nahkodanya, tempat menyimpan kasur2 tamu, tempat masak, dll). Dek atas disediakan untuk tamu. Fasilitasnya juga Ok bgt, kamar mandi pakai shower dan ada closet duduk, disediakan meja makan, ada balkon dengan 2 kursi leyeh2 untuk berjemur (what?berjemur??udah ky areng ginih -____- ! ) Oiya, jangan sedih..kita dapat 3x makan dan 2x snack dalam 1 hari. dan masakannya sungguhlah berlimpah dan super yummy..





       
      Di hari pertama ini kita langsung menuju Tanjung Harapan untuk lihat feeding time nya orangutan. Trekking masuk hutan sekitar 1 km dan sesampai di tempat feeding cuaca mulai mendung dan turunlah hujan. Eh, ternyata disana sudah menunggu beberapa rombongan tourist yg mau lihat proses feeding time ini. Dan dikarenakan wisata tanjung puting ini lebih populer atau diminati tourist luar, maka pemandangan disini adalah bule bule semua   . Disini kita menunggu ?-/+ 30 menit hingga orangutan yg masih ngumpet pada mau turun dari atas pohon menghampiri "panggung" yg berisi pisang2. Beruntung kita bisa melihat orangutan yg muncul dikarenakan kalau hujan biasanya mereka prefer leyeh2 di atas pohon (macam manusia yg kalo hujan lebih senang nedekem di rumah). Uwoww, beda lho rasanya ngelihat orangutan di ragunan/taman safari dengan orangutan disini. Kalo disini ada perasaan degdegan kalo mereka melintas dengan tubuh besarnya itu. Dikarenakan orangutan liar belum terbiasa disentuh oleh manusia (tdk sperti kbon binatang di jakarta), maka juga ada anjuran jangan sembarangan memberi makan orangutan, jangan berdiri diantara orangutan jantan dan betina, jangan bersuara terlalu keras/ribut yg akan mengganggu ketenangan orangutan dan beberapa rambu2 lainnya.







       
      Diperjalanan pulang, ketika melintasi sungai sekonyer kita bisa melihat sekawanan bekantan di kiri dan kanan pepohonan, kalau beruntung bisa melihat buaya pula. Dan saya beruntung melihat buaya dengan mata merahnya sedang mengincar mangsa.
      Malam harinya kita ber candle light dinner dengan lauk ikan nila bakar, tumis kangkung, tempe goreng, uhmm apa lagi ya lupa hehehe dan ditutup dengan dessert potongan buah mangga. Bener2 beruntung dapet chef yg jago masak.  Setelah kenyang, kapal menuju tempat dimana kita bisa melihat kunang2 dimana-mana..woww ga bisa dilukiskan dengan kata2 kita lihat pemandangan sejuta bintang dan kunang2 yg seprti pohon natal di kiri kanan kita..(sayang ga bisa ke photo). suasana malam hari disana sangat sunyi dan syahdu. Hanya ada suara jangkrik dan serangga2 lain yg bersahut2an dan Anyway kita tidur disediakan kasur beserta kelambu..Thanks God we had a marvellous momment and unforgettable experiences.
       
      Day2.
      Yang biasanya pagi2 di jakarta dibangunin sama kokok ayam, eh jangan sedihh disini kita subuh2 dibangunin sama suara bekantan jejeritan yg sedang bersendagurau..woww so sweet bgt ga sih dibangunin suara monyet.. hehehe..Setelah sarapan nasi goreng ikan asin yang banyaknya naujubilah (tapi abis dan kenyang) dan ngeteh2 cantik, maka berangkatlah kita menuju Pondok Tanggui dan dilanjutkan ke Camp Leakey. Di Pondok Tanggui trekkingnya seru, byk spot2 lucu buat foto2, nemu tumbuhan kantong semar, rayap, akar liana, dll tapi sayang setelah menunggu selama 1 jam, orangutannya ga ada yang mau turun di tempat feeding. Mungkin karena masih pagi dan byk bgt wisatawan yg berkunjung kesana jadi mereka malu-malu mau gitu kali ye..







       
      Perjalanan dilanjutkan ke Camp Leakey, pusat rehabilitasinya orangutan. Perjalanan lumayan jauh sekitar 8 km, namun pemandangannya mulai berubah, pohon2 lebih rindang, kiri kanan bisa lihat burung kingfisher, lihat buaya dan biawak berenang, pokoknya settingannya mirip film annaconda deh ngeri-ngeri sedap gitu heheheh.. dan air sungai berubah menjadi lebih jernih dan berwarna hitam. Warna hitam dikarenakan dasar tanahnya gambut namun bening sekali. Sampai bisa ngaca dan hasil fotonya mengagumkan bgt,krn pohon2 yg terpantul di air seperti ada reflection effectnya.  Begitu menginjakkan kaki disini, kita disambut oleh kedatangan Siswi, orangutan betina dewasa yang dari kecil sudah diasuh disini. Dikarenakan hujan, dia mulai ngumpet2 nyari tempat berlindung dan menutupi kepalanya dengan mencabut2 dahan2 yg ditumbuhi banyak daun. Uwoww lutunaaa.. Perjalanan ternyata masih panjang. Pak Andreas mengarahkan untuk ambil jalur masuk hutan sambil lihat2 tumbuhan endemik yang ada di hutan sini,jadi sekitar 1,5 km untuk sampai ke tempat feedingnya orang utan. Beruntung bisa lihat beberapa orangutan,uwa-uwak,squirel yg ke "atas panggung" buat ambil makanan. Yang menyenangkan lihat proses feeding ini adalah, kita jadi tahu gimana cara manggil orangutan supaya turun, gimana liat proses mereka bergelayutan dari pohon ke pohon, gimana cara mereka mengupas pisang dan memasukkan ke mulut, gimana cara ibu orangutan memberi makan anaknya, gimana mimik muka/ekspresi mereka mengendap2 atau mencuri makan lalu kabur, dan banyak lagi tingkah laku kocak lainnya. Adapula kedatangan babihutan yang ikut meramaikan suasana. Setelah sekitar 2 jam muncullah orangutan yg kita tunggu2 yaitu Tom, the king of Camp Leakey. Ya, si Tom ini penguasanya. Selayaknya raja, binatang lain akan mundur atau menyingkir ketika rajanya datang dan membiarkan si raja menghabiskan makanan yg disediakan. Jika ada orangutan dewasa disekitar sana yang dirasa mengancam kedudukannya, serta merta akan terjadi baku hantam disana. Hampir saja kami melihat proses baku hantam itu, yaitu ketika Ponorogo (salah satu orangutan dewasa ) terbirit2 dikejar oleh Tom karena lebih dahulu mengambil jatah makanannya. Namun sayang tidak terkejar dan Tom kembali duduk di singgasanannya sambil minum susu. Ya, makanan yg disediakan oleh Ranger hutan (petugas yg memberi makan orangutan) itu biasanya adalah pisang, tebu, dan susu dancow. wow. hehehe..Perjalanan trekking pulang, kita dihampiri juga oleh orangutan remaja bernama Gajah Mada. Serem ya namanya, tapi ternyata unyu2 gitu penampilannya hihihi..

      siswi

      the team
      Tom
      Gajah Mada
       
      Day 3.
      The Last Day, pagi2 seperti biasa kita dibangunkan oleh sekawanan bekantan, namun kali ini pemandangannya bekantan lagi pada lompat-lompat main air, ceritanya mau nyebrang pohon melintasi sungai, cuman ada aja jatoh2nya di sungai.. LUCU BGT, tapi ga sempet kefoto saking terseponanya. Oia, karena kita malam itu kapal berlabuh di pinggir rawa2 masih dekat Camp Leakey, maka paginya pun kita juga dibangunkan oleh kikikan burung kingfisher, iya kikikkan bukan kicauan karena ternyata suaranya macam kuntilanak yg lagi ngikik. hiiiii...
      Sepanjang perjalanan pulang ke pelabuhan kumai, puas2in berjemur (literally berjemur, panas sih untung byk angin dan hewan kece) demiii menikmati pemandangan yang sebentar lagi akan kami tinggalkan huhuhu..
      Jam 12 siang kami sampai di bandara pangkalan bun dan belum siap move on untuk menghadapi hiruk pikukknya jakarta