Sign in to follow this  
rebegg

Overland Dari Selatan Malaysia Ke Thailand Utara (16 – 25 Januari 2014)

39 posts in this topic

Beragam pengalaman menarik dan berbeda, bisa saya dapatkan di Thailand Utara yakni Provinsi Chiang Mai dan Chiang Rai yang merupakan provinsi paling utara Thailand. Tepatnya tanggal 16 Januari 2014, hampir seluruh rombongan NGS dari Unsri, Palembang pulang ke tanah air karena sudah menyelesaikan studi satu semester di UTM, Johor, Malaysia. Beberapa orang diantaranya, pulang di tanggal berbeda dan salah satunya saya yang akan menuju bagian utara Thailand hingga Golden Triangle, perbatasan 3 negara yakni Thailand, Myanmar dan Laos.

  • 16 Januari

Pukul 08:00 pagi, semua diantar menuju LCCT dan sebagian yang pulang esok hari diantar menuju UTM Kuala Lumpur untuk menginap semalam. Saya ikut ke UTM KL untuk repacking. Malamnya, diantar menuju KL Sentral dan berkat rekomendasi dari bro @dzerox saya langsung bergerak menuju PODs The Backpacker Home yang berada tepat di belakang KL Sentral untuk menitipkan koper karena hanya akan membawa satu ransel menuju Thailand. Kali ini saya hanya pergi sendiri, mencoba untuk solo travelling walaupun awalnya agak ragu karena sedang gencarnya demo di Bangkok serta belum tau bagaimana keadaan Thailand jika pergi sendiri. Namun, akhirnya setelah membulatkan tekad, perjalanan di mulai. Dari KL Sentral, saya naik Keretaapi Tanah Melayu (KTM) pukul 21:30 waktu Malaysia (GMT +8) menuju Hat Yai, Thailand Selatan.

 

  • 17 Januari

Perjalanan memakan waktu cukup lama dan cukup beruntung saya bisa menyaksikan sunrise dari atas kereta. Sekitar pukul 9 pagi, tiba di Padang Besar untuk keperluan imigrasi keluar Malaysia dan masuk Thailand. Di sini juga ada food court jika ingin sarapan terlebih dahulu karena kereta baru akan bergerak lagi sekitar 1 jam kemudian. Tiba di Hat Yai sekitar pukul 10:30 waktu Thailand (GMT +7), tepat waktu dengan yang tertera di tiket.

 

post-2084-0-89871500-1390915484_thumb.jp

Hatyai Junction

 

Setibanya di stasiun Hatyai, tiba-tiba blank saat di datangi calo-calo. Langsung ikut dan lupa tujuan awal untuk membeli tiket kereta dulu. Alhasil malah minta refill top-up tetapi malah di paksa beli kartu seharga 315 baht. Saya kira sudah dipasang paket internet, ternyata belum. Naas, baru dateng langsung ketipu. Tapi kali ini harus jadi pelajaran di kemudian hari. Akhirnya saya langsung membeli tiket kereta menuju Bangkok dan mencoba sleeper train dengan tiket seharga 845 baht untuk keberangkatan pukul 15:39. Lanjut ke informasi dan bertanya tempat refil top-up dan di arahkan menuju Robinson didepan stasiun. Di sana saya menemukan outlet DTAC dan segera minta dipasangkan paket internet satu minggu dengan biaya 199 baht.

 

Untuk mengisi waktu sebelum kereta berangkat, saya hanya keliling-keliling dekat stasiun menuju tempat makan di depan stasiun yang rata-rata halal serta perkampungan di belakangnya. Berhubung takut nyasar, saya kembali lagi ke robinson untuk sekedar cuci mata. Pukul 15:00 kembali ke stasiun dan ternyata kereta terlambat. Bingung kereta mana yang akan saya ambil, bertanya ke sana kemari tidak dapat juga info yang jelas. Bahkan sekuriti pun tidak dapat menjelaskan dengan bahasa inggris. Sangat mengejutkan, justru seorang bapak-bapak yang cukup berumur yang bisa membantu saya menjelaskan dengan bahasa Inggris, bahkan menemani hingga kereta datang sekitar pukul 16:40.

 

Sleeper train ternyata sangat nyaman. Sekitar pukul 6 sore, kursi di ubah menjadi tempat tidur dan kebetulan saya mengambil lower berth sehingga bisa sambil melihat pemandangan. Kawasan bagian selatan Thailand ini memiliki banyak sekali tebing†tinggi dan sangat cantik untuk dipandang selama perjalanan. Di kereta ini, setiap tempat tidur, di tutup dengan tirai untuk menjaga privasi. Pokoknya top banget!

 

post-2084-0-59354300-1390915488_thumb.jp

Sleeper Train

 

  • 18 Januari

Saya kira bakalan dibangunkan pagi hari untuk mengembalikan posisi kursi, tapi ternyata tidak. Tempat duduk justru baru dibereskan saat hampir tiba di Bangkok dan kereta ini tiba sangat terlambat sekitar 4 jam karena baru tiba di Bangkok sekitar pukul 15:30. Sayangnya, pagi ini saya tidak menyaksikan sunrise karena bagian tempat tidur saya, jendelanya menghadap barat.

 

Tiba di Stasiun Hua Lamphong, Bangkok, tidak di sangka-sangka saya justru mendapatkan teman seorang mahasiswa dari Jogja yang juga travelling sendiri. Berhubung belum izin pada orangnya untuk mencantumkan identitas diri, maka nama akan saya samarkan menjadi “Budiâ€. Kebetulan Budi sudah bingung ingin kemana karena menuju phuket atau pataya harus menggunakan bis dan untuk menuju terminal, banyak jalan yang di tutup karena #BangkokShutdown. Akhirnya, dia memutuskan untuk bareng menuju Chiang Mai. Segera memesan tiket kereta kelas 3 menuju Chiang Mai dengan harga 271 baht/orang. Kereta berangkat pukul 22:00 dan untuk menunggu keberangkatan, kami mengisi daya baterai yang ternyata colokannya bisa kami temukan di Musholla stasiun. Di food court Stasiun Hua Lamphong, juga teresdia satu tempat yang menjual makanan halal dengan beragam menu dan salah satunya nasi goreng dengan rasa yang cukup lezat.

 

post-2084-0-80024500-1390915496_thumb.jp

Stasiun Hua Lamphong, Bangkok

 

Pukul 21:30 selepas membeli perbekalan makanan untuk di jalan, kami segera masuk ke kereta dan ternyata keadaan keretanya lebih mengerikan dibanding kereta ekonomi di Indonesia. Ya, nikmati sajalah. Semakin malam dan subuh, suhu terasa sangat dingin, belum lagi sudah memasuki kawasan utara Thailand di bagian pegunungan. Bahkan, di dekat kami bule-bule pun pada pake sleeping bag untuk tidur.

 

post-2084-0-95506100-1390915501_thumb.jp

3rd Class Train

 

  • 19 Januari

Menjelang siang pun masih terasa dingin, hingga sekitar pukul 13:30 kami tiba di Stasiun Kereta Chiang Mai. Hanya terlambat sekitar setengah jam dari waktu yang tertera di tiket. Dengan menggunakan Songtaew, kami menuju old town dan mencari guest house di kawasan tersebut. Rata-rata semua full, khususnya single room. Karena tak kunjung menemukannya, akhirnya kami hanya mendapatkan dormitory di Same same guest house, dengan 100 baht per orang dan 4 orang dalam satu kamar. Untungnya salah seorang penghuni kamar yang berasal dari China sangat ramah dan yang satunya lagi hanya muncul saat waktunya tidur, sehingga kami tidak begitu mengenalnya.

 

Selepas beristirahat sebentar dan mandi, kami langsung berjalan menuju wat-wat di sekitar Old Town. Ternyata oh ternyata, hari ini minggu dan waktunya “Sunday Walking Market†di Old Town Chiang Mai. Rata-rata produk yang di jual adalah handcraft dengan kesan etnik yang kental. Benar-benar menggoda mata. Parade budaya di jalanan juga dihadirkan di sini seperti drama boneka, parade dengan baju adat sambil memainkan alat musik sambil menari dan berjalan, serta pentas seni tari oleh anak-anak. Pasar mingguan ini, ternyata sangat luas dan membuat kami bingung untuk menahan rasa ingin membelinya, karena harganya yang sangat murah. Akhirnya, sebelum banyak berbelanja, kami mencari makan dulu di Anusarn Market dan menemukan makanan yang rasanya kurang selidah dan harganya mahal. Namun, tetap di santap juga karena lapar.

 

Setelah makan, kami kembali menuju Sunday Walking Market untuk membeli beberapa barang. Menjelang malam, saya pulang duluan ke guest house untuk beristirahat, sedangkan Budi masih berkeliling sendiri.

 

post-2084-0-21100300-1390915511_thumb.jp

Kota Tua Chiang Mai

 

  • 20 Januari

Pukul 08:00 pagi, kami segera keluar untuk menyewa motor menuju Doi Inthanon National Park. Suhu pagi yang dingin, membuat kami tidak sanggup untuk mandi pagi di provinsi ini. Sewa motor 200 baht per hari dan setelah membeli beberapa roti kami langsung bergerak ke Doi Inthanon dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Suhu yang dingin menjadi tantangan yang berat, bahkan terasa sampai ke kepala. Pagi itu, suhu sekitar 13ËšC saat masih di kawasan yang tak jauh dari Old Town. Memasuki national park, harga tiket dewasa 200 baht dan anak-anak 100 baht. Untuk motor 20 baht dan mobil 40 baht. Kagetnya, kami seperti dikira anak-anak dan hanya dikenakan tarif 100 baht/orang dan motor 20 baht.

 

Perjalanan menuju puncak, di suguhi beberapa spot keren yang membuat kami berhenti sesekali sebelum akhirnya benar-benar mencapai puncak. Banyak lokasi untuk camping serta tak disangka-sangka, kami melihat banyak sekali bunga sakura yang tumbuh di sini. Doi Inthanon merupakan Puncak pegunungan tertinggi yang di miliki Thailand dengan ketinggian sekitar 2565 meter di atas permukaan laut (mdpl). Suhu di kawasan pegunungan ini benar-benar dingin, dengan suhu terendah 2ËšC. Saat kami berada di sini, termometer menunjukkan suhu 8ËšC, sangat dingin bahkan saat berbicara mulut mengeluarkan asap.

 

Di atas sini juga terdapat sejenis souvenir shop dan kedai kopi untuk menghangatkan diri. Ada juga visitor center berupa ruangan kecil dengan beragam penjeleasan tentang flora dan fauna di taman nasional ini. Pusat pelaporan juga berada di puncak, namun dilarang di foto dan mungkin juga di larang masuk. Setelah puas mengambil beberapa foto serta menghangatkan diri dengan segelas kopi, kami segera turun karena kabut semakin turun dan suhu semakin dingin.

 

post-2084-0-45183300-1390915517_thumb.jp

post-2084-0-93429300-1390915520_thumb.jp

post-2084-0-39371500-1390915523_thumb.jp

Doi Inthanon National Park, Chiang Mai

 

Sembari turun ke bawah, kami menyempatkan diri mengunjungi the great holy relics pagoda of Naphamethanidon dan Naphapholphumisiri yang berada tak begitu jauh dari puncak. Biaya masuk 40 baht untuk dewasa. Kali ini, kami dikenakan tarif yang tepat walaupun berharap dikira anak-anak lagi. Hahaha. Komplek pagoda ini sangat luas dan menyuguhkan pemandangan indah dari ketinggian. Kawasan taman juga ditata sangat rapi dengan beragam bunga warna warni serta sayur-sayuran seperti kol dan kubis yang terlihat sangat cantik. Sangat indah, namun tetap saja, suhu dingin sangat terasa, apalagi saat naik ke kawasan dekat pintu masuk pagoda.

 

post-2084-0-08266600-1390915530_thumb.jp

The Great Holy Relics Pagoda

 

Lanjut turun ke bawah untuk menuju air terjun. Berhubung terlalu banyak, dan waktu sudah siang dengan perut yang lapar, kami memutuskan untuk masuk ke satu air terjun saja yakni Mae Klang. Tapi sangat disayangkan, ternyata masuk air terjun harus bayar lagi 100 baht per orang, akhirnya kami membatalkan menuju air terjun, karena rencananya hanya sebentar saja menikmati nuansa air terjun. Jadi, kami hanya duduk di dekat aliran sungai di luar gerbang masuk air terjun, sembari mengganjal perut dengan roti, karena jarak menuju tempat makan halal masih jauh.

 

Sekitar pukul 15:00, kami tiba di guest house untuk mandi dan istirahat sejenak sebelum mencari tempat makan. Sayangnya, tubuh terasa lelah dan rasa ingin makan masih kalah dibanding lelah. Alhasil keluar makan, hanya untuk makan malam.

 

Malam ini, kami mencari makan di sekitar jalan Chang Klan. Kami menemukan masjid dan bertanya pada orang didepannya yang tampaknya berbusana muslim. Beliau memberikan informasi makanan halal, walaupun hanya dengan bahasa isyarat. Akhirnya, kami menemukan rumah makan Bismilla di Chang Klan Rd dengan banyak sekali menu dan kami memesan nasi goreng daging yang rasanya sangaat enak. Hanya 40 baht saja, perut sudah terisi dengan lezatnya nasi goreng, bahkan Budi sampai memesan 2 piring nasi goreng.

  • 21 Januari

Pagi hari, rencana awal kami ingin ke Chiang Rai. Namun, penasaran dengan Doi Suthep khususnya hilltribe villagenya. Akhirnya kami tambah satu hari di Chiang Mai dan sekitar pukul 08:2 kami bergerak menuju Doi Suthep melawan dinginnya suhu pegunungan utara Thailand lagi di pagi hari. Beberapa view point, sempat menarik perhatian dan membuat kami berhenti untuk melihat keindahan alam dari ketinggian terlebih dahulu sembari istirahat. 

Kami juga menyempatkan diri untuk mengunjungi Wat Phrathat Doi Suthep dan melihat-lihat aktivitas di sini. Biaya masuk 30 baht untuk foreigner, tapi berhubung tampang Indonesia dan Thailand tak jauh berbeda, kami langsung masuk tanpa bayar. Sebelum masuk, kami harus menaiki 309 anak tangga, tapi saat saya menaiki tangga ini hingga tiba di Wat Phrathat, sepertinya tidak sampai 309, tapi entahlah. Untuk yang tidak ingin naik tangga, sudah disediakan elevator dengan membayar sekitar 50 baht kalau tidak salah.

 

post-2084-0-19989400-1390915537_thumb.jp

Wat Phratat Doi Suthep, Chiang Mai

 

Selepas dari Wat Phrathat, rencana ingin menuju puncak Doi Pui, yang ternyata tidak bisa kami temukan jalannya. Justru kami tiba di lokasi camping di ketinggian 1500 mdpl. Dari sini, hanya ada satu jalan yang juga mengarah ke Kun Chang Kian Mong Village. Jalan mulai semakin sempit dan banyak jalan rusak. Di tambah lagi jalan menanjak dan menurun yang cukup terjal. Debu-debu cukup banyak karena jalan sebagian sudah berupa tanah dan ngerinya lagi, banyak mobil yang naik hingga ke atas, sehingga harus bergantian untuk bergerak. Ternyata, di sini kami juga bisa menemukan bunga sakura, bahkan lebih banyak lagi serta tertata lebih rapi.

 

Setelah terus mengikuti jalan, kami dihadapkan simpangan jalan di mana ke kanan masuk ke kawasan yang menurut petunjuknya sebuah sekolah yang entah sekolah apa dan sebelah kiri merupakan jalan tanah, dengan petunjuk jalan tidak jelas karena menggunakan bahasa dan aksara Thailand. Akhirnya kami mengambil jalur kanan. Ternyata tidak mirip seperti sekolah, tetapi perkampungan kecil dengan beberapa toko souvenir, warung kopi dan pakaian adat. Semua handmade, bahkan kopi pun di olah sendiri di kampung ini. Mungkin inilah yang di sebut dengan Kun Chang Kian Mong Village. Kami menyewa pakaian adat dengan harga 50 baht, serta mengambil beberapa foto di perkampungan ini, serta berfoto dengan seorang penduduk juga. Terakhir, sebelum turun, kami mencoba segelas kopi di sini sekaligus menghangatkan diri. Ya, nyeruput kopi panas di tempat seperti ini memang kenikmatan tersendiri.

 

post-2084-0-80055200-1390915578_thumb.jp

Doi Suthep - Doi Pui, Chiang Mai

 

post-2084-0-24751500-1390915582_thumb.jp

Doi Suthep - Doi Pui National Park, Chiang Mai

 

Perjalanan turun ke bawah, di isi dengan bernarsis di kebun sakura dan menghangatkan diri di view point. Barulah sekitar pukul 15:00 kami tiba di Rumah Makan Bismilla lagi untuk mengisi perut. Kali ini kami mencoba Tom Yum Seafood yang ternyata porsinya sangat banyak. Ternyata juga, harganya cukup mahal yakni 165 baht. Ya, untuk perjalanan khas mahasiswa, mungkin segitu masih agak terasa memilukan. Hahaha

 

Pukul 4 sore, kami tiba di guest house untuk mandi dan Istirahat. Malamnya kembali ke Bismila untuk makan malam namun sebelumnya mampir di toko kaos handmade yang menjual beragam kaos dengan harga 100 baht saja per kaos. Kembali menyantap nasi goreng untuk efisiensi dan juga memang rasanya enak. Sekitar pukul 9 malam, kami kembali ke guest house untuk istirahat karena tubuh sudah terasa cukup lelah.

  • 22 Januari

Pagi ini, kami akan berangkat ke Chiang Rai menuju The Golden Triangle dan White Temple (Wat Rong Khun). Pukul 8 kami mengembalikan motor yang kami sewa dan menuju Chiang Mai bus terminal menggunakan songtaew. Tiba di terminal, kami segera memesan tiket menuju Chiang Rai dengan harga 185 baht dengan jam keberangkatan pukul 9 pagi. Ternyata, teman satu kamar, Xiu Yang ingin bergabung bersama kami, tapi dia baru saja bangun saat kami akan check out, sehingga dia mempersilahkan kami untuk pergi duluan dan dia menyusul. Namun, saat saya tanya lagi ketika di jalan, dia mengubah rencana untuk mengunjungi Lopburi menggunakan kereta, karena sebelumnya dia tampak tertarik ingin mencoba kereta ketika kami sedang berbincang sebelumnya.

 

Bis tiba di Chiang Rai sekitar pukul 12. Lebih cepat daripada yang tertera di tiket dan langsung menuju informasi untuk mendapatkan angkutan menuju The Golden Triangle, yakni perbatasan antara tiga negara, Thailand, Myanmar dan Laos serta pertemuan antara Sungai Mekong yang merupakan sungai terpanjang di dunia dan Sungai Ruak. Untuk menuju kesana, kami naik van dengan ongkos 50 baht per orang. Van ini sepertinya punya jadwal sendiri kapan berangkat, namun saat kami naik, justru van ini menunggu sampai penuh dan hampir satu jam menunggu penumpang.

 

Sayangnya, ketika tiba di The Golden Triangle, tidak begitu banyak attraction yang bisa dilakukan di sini. Sedangkan untuk menyewa boat cukup mahal karena kami hanya berdua. Akhirnya kami hanya mengambil beberapa foto dan menikmati makan siang yang dibeli di sevel di daerah sini, karena tidak menjumpai lokasi makanan halal.

 

post-2084-0-30225200-1390915586_thumb.jp

The Golden Triangle, Chiang Rai

 

Selepas makan, kami langsung naik van lagi untuk kembali ke stasiun dan menuju White Temple. Kami tiba di terminal lagi sudah hampir pukul 6 sore dan ternyata White Temple punya jam operasional dan sudah tutup saat itu. Karena kami akan segera ke Bangkok malam ini, terpaksa dibatalkan menuju White Temple dengan rasa yang cukup mengecewakan. Bis ke Bangkok baru akan berangkat pukul 19:30 dari terminal bis 2. Seharusnya ada bis yang menghubungkan kedua terminal ini, berhubung sudah sore, bisnya sudah tidak ada sehingga mau tidak mau kami naik songtaew. Tiba di terminal bis 2, menunggu bis datang sembari menahan udara dingin 15ËšC malam hari, cukup membuat rasa kurang nyaman. Ternyata bisnya terlambat datang dan baru berangkat pukul 9 lewat. Sadis..

 

post-2084-0-96051800-1390915596_thumb.jp

Terminal Bis 2, Chiang Rai

  • 23 Januari

Dini hari, bis berhenti di salah satu rest area. Kalau mau makan, cukup tukarkan kupon. Sayangnya, semua tulisannya keriting dan entah halal atau tidak. Berhubung belum begitu lapar, kami tahan saja dan tidur kembali di bis. Pukul 7 pagi, bis tiba di stasiun Mochit dan saya baru sadar bahwa uang 1000 baht saya, hilang entah kemana atau mungkin tertukar dengan 100 baht saat membeli sesuatu karena warnanya hampir serupa. Alhasil dengan uang yang minim, berusaha untuk bertahan dan menunggu kiriman uang dari adik. Mempertimbangkan ketibaan di Hat Yai, saya memutuskan naik kereta lagi agar tiba pagi hari, karena jika naik bis, maka akan tiba malam hari. Kami berjalan menuju stasiun MRT dan berhenti di Hua Lamphong. Saya membeli tiket menuju Hat Yai kelas 2 fan dan seat bukan sleeper lagi karena uang sudah tipis dan untuk naik yang kelas 3, rasanya tubuh sudah benar-benar pegal. Harga tiket 455 baht dan berangkat pukul 1 siang.

 

Budi masih stay di Bangkok karena pesawat pulangnya berangkat tanggal 26. Pukul setengah 1, saya segera menuju kereta dan Budi menuju daerah Khaosan untuk mencari penginapan. Beruntungnya, penumpang kereta yang duduk di sebelah saya bisa berbahasa Inggris dan sangat ramah bahkan sangat baik. Dia membelikan makanan serta mencarikan makanan yang halal karena sebelumnya dia bertanya apakah saya muslim. Untung banget bagi yang sedang kekurangan uang seperti saat itu. Hahah.

  • 24 Januari

Kereta tiba sekitar pukul setengah 10 pagi, tiba-tiba calo yang sama saat saya tiba di Hatyai hari pertama menghampiri dan menawarkan bis. Saya coba saja tanya harga bis ke KL dan ternyata harganya 850 baht. Parah banget harganya, padahal teman sebelumnya dapat tiket bis seharga 450 baht dengan kelas yang sudah bagus. Saya pun menolak dan dia tetap memaksa dan menawarkan harga 650. Tetap saja “power of abis duit†menolak, dan saat itu uang di dompet tinggal 500 baht dan 29 baht untuk masang paket internet 5 jam. Akhirnya saya mandi dulu di stasiun karena terasa sangat gerah dan dilanjutkan ke outlet DTAC untuk refill top-up serta minta dipasangkan paket internet.

 

Langsung buka google maps untuk cari terminal resmi, namun tidak juga mendapatkan info. Alhasil, ikut rekomendasi paling atas dengan tulisan bahasa Thailand dan menemukan sebuah ruko dengan bis didepannya. Sepertinya ini juga tour agency, tapi untungnya bisa dapat tiket dengan harga 450 baht. Bisnya bertingkat 2 dan sangat nyaman. Penumpang hanya beberapa orang saja, sehingga saya bebas menyandarkan kursi agar bisa nyaman untuk tidur sebelum tiba di KL.

 

Bis kemudian berhenti di Sadao untuk imigrasi keluar Thailand dan tak jauh bergerak kembali berhenti di Bukit Kayu Hitam di Kedah untuk imigrasi masuk Malaysia. Cuma bergeser beberapa meter, bis kembali berhenti di tempat makan dan untungnya ada money changer. Lumayan buat tambahan uang di jalan untuk makan. Tapi berhubung perut belum lapar, saya pun kembali ke bis dan tidur. Sekitar pukul 5 sore, bis kembali berhenti dan harus tukar bis karena ada kerusakan. Perjalanan jadi semakin lama dan tiba di Pudu Raya sekitar pukul 10 malam. Langsung mencari ATM karena uang sudah di transfer untuk menyambung hidup di KL satu malam ini.

 

Jarak pudu raya dan PODs The Backpacker Home hanya sekitar 2,5 kilometer tapi berhubung ingin cepat sampai saya coba tanya taksi, namun semuanya menawarkan 20 RM, parah mahalnya. Akhirnya saya memutuskan jalan kaki dahulu dan cari taksi di Jalan dan beruntungnya akhirnya ada yang menawarkan 5 RM. Berhubung saya tidak begitu hapal lokasi PODs, saya mengikuti GPS namun saat tiba di kawasan tersebut saya tidak menemukannya. Alhasil muter-muter dengan taksi. Ternyata oh ternyata, tulisan PODs berada di bagian atas dan setengah lampunya sudah mati, sehingga tidak terlihat, padahal lokasinya benar di tempat yang di tunjukkan GPS.

 

Segera naik ke atas, dapat 1 bed di dormitory karena single room juga full. Satu kamar ada 14 tempat tidur dan ngerinya di bawah ranjang saya orangnya agak mencurigakan dan beberapa kali menyapa dengan sorot mata yang mengerikan. Rasanya, ngeri untuk tidur nyenyak.
  • 25 Januari

Selepas mandi, sekitar pukul setengah 1 saya membeli makan malam di depan PODs karena perut sudah berasa tak nyaman, seharian belum di isi makanan padat. Pagi hari sengaja menunggu semua orang di kamar bangun karena harus repacking barang. Karena sudah lapar, saya sarapan dulu dan jalan-jalan pagi. Mandi pagi kemudian saat kembali ke kamar, sudah hampir semuanya bangun. Repacking dilakukan dan pukul 11 saya check out menuju KL sentral dengan menarik koper yang terasa sangat berat. Jalanan yang cukup ekstrim untuk koper akhirnya justru merusak bagian bawah dan rodanya sehingga sangat berat untuk ditarik dan tidak bisa di dorong. Akhirnya sekuat tenaga tiba di juga di depan kounter Aero bis menuju LCCT dengan ongkos 10 RM one way. Tiba di LCCT, makan siang terlebih dahulu sebelum check in bagasi serta masuk ke ruang tunggu.

 

Pukul 05:00, pesawat depart ke Palembang dan kebetulan di samping saya adalah orang Malaysia yang juga berasal dari Johor. Sedikit berbincang tentang beberapa kota di Indonesia karena dia cukup sering bepergian ke beberapa kota di Indonesia serta sharing tentang beberapa kota di beberapa negara. Cukup panjang obrolan kami hingga akhirnya pesawat mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin dan akhirnya, tiba lagi di kampung halaman.

 

Cerita juga bisa di lihat di sini dan di sini. Sekalian promo blog :P

 

post-2084-0-59557000-1390915602_thumb.jp

Share this post


Link to post
Share on other sites

@rebegg

asek keren neh wong plembang

udah beres toh trip ntya kemaren ya

asek juga tuh bisa ketemu orang indo yang woles bisa jalan bareng kebetulan banget 

belom pernah ke chiang mai jadi pengen neh,

 

oiya copas aja tulisan dri blog nya kesini biar banyak yg liat

tampilin link blog nya juga gakpapa kok :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Nightrain makasih :D

trip yang lainnya ya? sip, ntar di post lagi :D

 

 

@deffa hahah, iya mod, dia taunya aku orang Indonesia gara" merek ransel yg dipake :cintaindo 

aku aja rasanya masih pengen balik lagi ke Chiang Mai suatu saat :D

 

copas utk edit FR yg Thailand ini atau trip lainnya mod?

 

 

@kyosash iya mas. makasih juga ya buat infonya kemarin. ternyata emng ada angkutannya ke Doi Inthanon, cuma berhubung dpt temen barengan bisa lebih praktis sewa motor :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

@kyosash asik sih, cuma kudu tahan dingin. kalo ga pake sarung tangan, jaket sama kupluk berasa banget angin dinginnya sampe kepala :D

200 baht per hari utk 24 jam mas

 

iya, tp pake motor aja 2 jam kesana, gimana pake sepeda. ga kuat wkwkkww

Share this post


Link to post
Share on other sites

@rebegg

hahah yoi yoi tapi aku lebih sering liat orang indonesia yang pake merk top seh kalo diluar

ketauan banget kalo itu orang indo kayak merk Prada Gucci dll kalo lagi di mall :D

 

btw kamu ini berangkat sendiri ? terus ketemu orang indo di stasiun jadi jalan berdua ?

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa hahaha, kemaren selama di thai ga maen" ke mallnya, cuma nyicip robinson doang di hatyai nungguin kereta dtg

kayaknya yang paling gaya orang Indo ya wkkwkw

 

iya, sendiri. pas sampe stasiun bangkok dpt temen, kebetulan dia bingung mau kemana lagi. jadi selama di Chiang Mai dan Chiang Rai pegi bedua hahaha

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By ko Acong
      Terima Kasih Thien Qung telah menjaga kami semua sehingga dalam kedaan Sehat Semua. Yuk kita lanjut napak tilas Jalur Sutra sesi 2. Setelah kami menikmati keindahan Crescent Lake terutama adanya oase alami di Gurun Gobi, waktunya kami diantar ke stasiun Dun Huang untuk pindah kabupaten yang jaraknya kurang lebih 800 km, memakai kereta sleeper train.
      Kami sepakat pakai tidur lunak, sekamar 4 tidur susun. Untuk antisipasi kebiasaan yang kurang bersahabat bagi kita, bila tidur keras 1 row isi 6 tempat tidur dan tidak berpintu. Nah, kami pakai tidur lunak, diperjalanan kami pun jadi tidur dengan nyaman,  tak terasa alarm alam membangunkan kami. Lalu kami siap2 ke restroom. 1 jam kemudian sampailah kami di stasiun Turpan.

      Ternyata kami sudah mulai memasuki daerah istimewa Tiongkok. Lalu hal pertama yang kami hadapi adalah petugas imigrasi, dengan wajah yang khas dan penuh curiga kepada kami. Oh ya, penduduk Turpan sudah berbeda jauh wajahnya,  yang mana tidak oriental lagi. Beres urusan imigrasi, kami pun mencari sarapan, dengan berbagai menu yang lumayan bersahabat dengan lidah kita dan halal.
      Setelah keluar imigrasi, nah disini lah kami mulai dikerubuti oleh para driver dengan memegang gambar-gambar destinasi wisata, sementara kami abaikan dulu, ngudud dulu, cari sasaran driver yang sreg dengan kita. Setelah terpilih, kami panggil driver tersebut ke pinggiran, dan terjadilah tawar menawar. Sambil saya tunjuk saya mau ke destinasi wisata yang ada di brochure tersebut, satu paket 5 destinasi dengan harga 300 RMB (kalau tidak salah). Kami sewa 3 mobil, jadi per kepala kena charge 90 RMB, durasi tour 8 jam dengan jarak kurang lebih 180 km sampai kami diantar ke hotel. Oh ya, jarak stasiun ke downtown kurang lebih 40 km, dan bila memakai antaran taksi 120 RMB, jadi kami mending pilih langsung sekalian tour. Semua komunikasi kami mempergunakan google translate yang ada suaranya, jadi lebih mudah berkomunikasi dengan driver.
      Pertama, kami diantar ke hotel dulu untuk check in dan bersih-bersih karena cuaca Turpan sangat panas, namun dingin sekali anginnya.
      Kedua, kami tadinya mau ke benteng gurun center kota, Bazeli Ten Thousand Buddha Monastery, namun hanya ditunjukan dan lewat karena waktu tidak mencukupi.
      Ketiga, kami diantar ke gunung api (Flaming Mountain) dan itupun hanya dilewati karena kami masih belum move on.
      Keempat, kami diantar ke gurun pasir Turkistan Shansan Countri, nah disinilah kami baru move on, karena tantangan pemandangan di depan seperti layaknya paris dakar rally. Kami ber-10 memakai kendaraan gurun pasir langsung menuju puncak gurun pasir, ternyata kami hanya diantar sampai tengah dengan harga 250 RMB per mobil.
      Setelah sampai kami main di tengah puncak, mulailah modus mereka keluar, maukah kalian kami antar ke puncak teratas gurun pasir dengan harga 400 RMB/mobil. Tentu kami semua menolak. Tapi, khusus kendaraan yang dipake saya, saya nego sampai dapat harga 200 RMB.
      Kami diantar ke basecamp, nah disini lah tantangan adrenalin kami diuji ternyata kita turun dari puncak itu langsung melompat lurus ke bawah
      bagai mobil meluncur lurus jatuh ke dasar jurang, mungkin lebih menantang dibanding naik jet coster. Setelah sampai khusus kendaraan yang dipake saya langsung naik ke puncak teratas gurun pasir. Disinilah pemandangan yang paling aduhai. Kami semua dalam keadaan bersuka ria, mulai tuh keluar semangat kita.

      Kelima, kami diantar ke musem Gaochang, begitu buka pintu mobil kami semua terkejut karena sinar matahari sangat menyengat, tapi tetap kami berfoto dulu sebentar dan tidak sanggup melanjutkan menuju gedungnya.

      Setelah sampai mobil saya tanya destinasi apa ini sebenarnya, para driver menjelaskan bahwa disinilah tempatnya suhu Gaocheng. Dalam misi menuju barat hampir menyerah dalam melaksanakan misinya dan terlihat table temperature menunjukan 41 derajat celcius berarti kalau di air setengah mateng. Wah kata driver coba tadi kalau berhenti di gunung api lebih lengkap ini ceritanya, semangat kita jadi on fire lagi.
      Lalu kita minta datang ke gunung api yang tadi sudah kita lewati, ternyata setelah turun bener-bener ini daerah panasnya bagaikan kita dengan dapur pemanggangan. Banyak relief yang menggambarkan Sun Go Kong yang menuju langit untuk meminjam kipas sakti para dewa dan Flaming Mountain yang sedang membara sekali kipas langsung hilang apinya.
      Keenam, kota Turpan sepanjang kami lihat dari kereta api tadi mungkin juga ratusan kilometer hanya terlihat gurun pasir tak terbatas. Ternyata kota Turpan adalah salah satu yang penghasil anggur dan buah-buahan serta perternakan terbesar untuk Tiongkok mainland.
      Kami semua heran, dimana datangnya kehidupan kalau tanpa air dan semua terjawab di museum Turpan Karez Underground Water System, harga tiket masuk 40 RMB. Yang dengan hanya melihat teorinya pun sudah menjawab keheranan saya, si Bocah Tua Nakal kan pinter.

      Dan jawaban keheranan saya makin terjelaskan pada esok harinya di Heavenly Lake. Tur akan dilanjut ke Grand Bazarnya Turpan, namun teman 2 orang terserang Dehidrasi. Ibarat kataa kalau mau manggang roti dikota turpan tak perlu pake oven cukup ditempel didinding disinari matahari bisa mateng tuh.

      Kami semua ingin buru-buru masuk Hotel dan Mandi. Namun setelah segar, sebagian teman-teman kabur juga tuh menikmati barbeque dan sop kambing nan lezat. Pastinya gak lupa cuci mata lah, secara disini orang-orangnya cantik dan garanteng Uhuuuiiii Prikitiwww.
      Malam terus berlalu walau jam 22.00 masih terang benderang, tapi kami harus segera tidur, mengingat esok hari harus pindah kota lagi dengan jarak tempuh 180 km menuju Heavently Lake.
      Heavently lake adalah danau raksasa dipuncak gunung diketinggian 2200 Mpdl, yang mana sejauh perjalanan kami hanya disuguhi gurun pasir nan gersang sejak dari Turpan. Namun ketika sudah sampai puncaknya dan kami tembus tunnel Kaki Gunung Himalaya, baru pemandangan berubah drastis. Sepanjang mata dimanjakan oleh pohon-pohon nan indah dan udara yang tiba-tiba bisa berubah drastis menjadi dingin menusuk tulang. Danau Thian Shan benar-benar danau yang sangat indah.

      Setelah puas didanau kami turun gunung sejauh 602 km lagi menuju Hotel. Namun ada trouble, kita berganti Hotel dan malam sudah tiba kami semua tidur.
      Nah keesokan harinya teman-teman sudah tidak tahan untuk kabur menuju Grand Bazarnya Urumgi, secara Urumgi adalah kota modern dan wisata budaya dan juga surga kuliner, sangat perlu diekplor dengan agak santai.
      Sore telah tiba kami semua akan mengakhiri napak tilah Silk Road “Middle” ini dan akan dilanjut bonus trip petualangan ektra cepat menuju Asalamuaikum Beijing. Di tunggu yah Field Reportnya
      Mohon Maaf, pasti bacanya capek kepanjangan cerita namun itu lah ceritanya apa adanya.
       






































    • By siti uko
      Hallo…
      Siti Uko disini, mau sharing keseruan kita kemarin, bersama temen2 KJJI di rafting Cisadane "Al- Nassr Rafting", dua hari sebelum puasa tepatnya tgl 04 juni 2016. HTM 200rb/0rg sudah termasuk wellcome drink, makan siang lengkap dgn minuman dingin dan kelapa muda, asuransi perjalanan dan dokumentasi 2 buah memori card, satu buat HP satu lagi buat laptop. Cukup ramah dikantong kaaan.. hehe..
      Letaknya ada di jln.raya sukabumi KM 16, sebelum pasar caringin sebelah kiri.
      Dr jakarta, keluar tol jagorawi kira2 ditempuh 10 menit perjalanan klo ga macet. Klo naik angkot nomor 02 jurusan Cicurug, ongkosnya 4000 rupiah.
      Semoga bermanfaat buat info liburan habis lebaran yak.. selamat menunaikan ibadah puasa besok.
      Salam KJJI..

      pasukan KJJI sudah siiiiiiaaaaaap...lengkap dengan baju pelampung, helm, dan dayung. sebenernya ada tiga orang diantara kami yg takut arung jeram termasuk saya sendiri, hehe.. tapi setelah dibujuk2 akhirnya mereka mau juga turun ke sungai cisadane, dengan hati yg deg2an tentunya.
       

      Ketinggiannya mencapai 3 meter sodaraaaah, dan itu yg bikin sahabat saya meni, bu rina teriak2 kaya orang kesurupanan... ahahaha.. ampun dah!
       

      Ven ven....spt nya cuma dia doang yang exited dengan arung jeram, lihat aja gaya tangannya udah bak sang juara memenangkan pertandingan dengan wajahnya yg sumringah, sementara yang lain masih dengan muka mengkerut merengut masih takuuuuuuut.. LOL

      hahaa.. spt nya mba meni sudah mulai jatuh cinta dgn arung jeram.....lihat expresinya, girang banget dah ahh..
       

      huuaaaaaaaa..,,, jantung serasa mau copot,, tapi seeerruuuuuuu!!
       

      dan akhirnya saya dan bu rina tertawa bahagia, pdhal sebelumnya sangatttt takut arung jeram... takut air...wkwkwk
       

      pemandangan disekitar camp rafting, indah sejuk dan adeeeeem... nyeeesss
       

      tempat makan siang setelah berafting ria, ada gazebo unik yang terbuat dr bambu, didepannya terdapat kolam ikan yang sangat luas, menambah asri pemandangan disekitar camp rafting
       

      terakhir.... inilah sajian makan siang dengan menu yang sangat menarik dan komplit, terdiri dari nasi putih, irisan ketimun dan tomat segar, tempe goreng, ayam goreng kampung yang ditaburi sambel peedas yg super maknyus, es teh manis, dan yang special adalah buah kelapa muda....,,, segeeeeeeerrrrr
      see you on the next trip....,,, Hollaaaaa!
    • By Titi Setianingsih
      Saya tidak bisa berenang, dan paling takut jika melakukan wisata air. Baik itu berupa naik perahu keliling pinggiran laut, diatas danau ataupun sungai, rasanya ngeri membayangkan jika perahunya mengalami kecelakaan, maka saya yang tidak bisa berenang akan klelep dan,,,,,,,,tidak berani membayangkan kejadian pahit itu.
       
      Namun tidak diduga sama sekali, mengapa tiba2 saya berani melakukan rafting ? Yang pertama karena selalu disemangati oleh sahabat saya yang sama2 punya hobby travelling. Kedua, kebetulan mendapat guide yang bisa meyakinkan saya untuk bisa melakukan rafting, bahkan dengan bahasa sederhananya “Ibu nanti di perahu diam saja, pegangan, dan menurut apa kata pemandu, In Sya Allah bisaâ€. Dan ternyata, pemadunya juga mudah dalam menyampaikan petunjuk rafting, hanya dengan 3 macam aba2 yang mudah diingat dan dilaksanakan. Bismillah,,,,,saya siap ber-rafting,,,!!!
       
      Dan,,,,,Songa rafting menjadi pilhan kami, karena lokasinya dekat dengan tempat tinggal sahabat saya. Okeeyyy,,,,sesudah memakai peralatan berrafting berupa helm, baju pelampung dan dayung, kami naik ke mobil pick up untuk menuju Sungai Pekalen, kami mengambil tracking untuk pemula. Kurang lebih 30 menit kami sampai ke lokasi, debu jalanan menuju sungai Pekalen beterbangan seiring dengan hembusan angin yang kencang, karena saat itu musim kemarau. Air sungaipun tidak terlalu deras, maklum kami pemula, jadi belum berani mengambil kelas advance dimana di kelas tersebut banyak sekali jeram2nya bahkan ada air terjun yang siap diarungi.
       
      Kami satu perahu ber 6 termasuk pemandunya, hanya berdua yang tidak bisa berenang, yaaaaa harus dicoba karena itu sudah menjadi chalenge kami. Sebentar2 kami berteriak histeris jika mendapati jeram yang cukup deras. Masing2 jeram ada namanya tergantung deras / tidaknya air sungai dan macam bebatuan yang ada di sungai itu. Jika kami temui air sungai yang tenang dan tidak berbatu, peserta dipersilahkan turun untuk bermain-main air sungai dan berenang disitu. Sesudah puas berbasah2an perjalanan dilanjutkan lagi hingga sampai ke tempat persinggahan. Di sini para pserta dipersilahkan turun dari perahu, dan istirahat di rumah bambu untuk menikmati ubi rebus dan air kepala muda. Nikmatnya luar biasa.......sesudah itu melanjutkan perjalanan yang masih separohnya.
       
      Petualangan terakhir mengambil tracking yang agak berat, sungainya banyak bebatuan dan jeramnya lumayan kencang, agak panik ketika itu, karena kulihat pemandu agak kesulitan mengendalikan jalannya perahu. Oh ya, kami diiringi oleh satu perahu lagi yang memuat tim penolong /rescue team kurang lebih ada  4 (empat) orang.
      Dan, kami menjadi paham mengapa dalam rafting ini diperlukan adanya rescue team, karena kita tidak menyangka bakal terjadi kendala dalam tracking ini. Seperti ketika kami melewati jeram terakhir itu, batu besar menghadang perahu kami, dan perahu tersangkut di bebatuan, kami pada berjatuhan ke sungai, masing-masing menyelamatkan diri. Tentu saja, saya yang tidak bisa berenang paling lama dalam berjuang menyelamatkan diri. Dan karena tubuh saya yang terlampau besar, maka pemandu agak kesulitan mengangkat tubuh saya, begitupun saya tidak bisa berusaha mengangkat tubuh saya sendiri ke atas perahu,,,,,,,,,
       
      Di tengah perjuangan saya ini, terlihat teman2 saya yang sudah berhasil naik ke perahu tidak menyia-nyiakan waktu untuk berselfie ria, berpose heboh seperti layaknya tidak terjadi musibah kecil barusan,,,,,inilah salah satu kegembiraan berrafting hahahaha (kata mereka).
      Daaaan,,,dengan susah payah akhirnya saya bisa naik perahu, alhamdulillah...dan teman2 sayapun bersorak gembira melihat saya sudah bisa didalam perahu bersama mereka kembali,,,,,foto2 selfie pun dilanjutkan kembali,,,,,,amaziiing,,,terima kasih teman2ku, terima kasih pemanduku,,,berkat kalian saya bisa menikmati rekreasi yang menantang ini,,,,,,,,SUBHANALLAH,,,!!!!
       
      So, jangan takut wahai para pemula perafting, walau tidak bisa berenang buktinya saya bisa menikmati nya. Ayoooo jangan tunda lagi,,,cobalah, tidak terlalu mahal kok bayarnya, ketika itu Agustus 2014 tarifnya masih Rp. 210.000 untuk pemula.  Fasilitas yang didapat berupa minuman selamat datang (welcome drink), peralatan standar (helm, dayung, pelampung, perahu karet), air mineral bekal pengarungan, transportasi lokal (shuttle service), guide, rescue team, snack dan kelapa muda, makan siang, asuransi, rafting trip 10 km
       
      Dari manapun keberangkatan kalian, tujulah Surabaya terlebih dahulu, dari Surabaya bisa menggunakan bus jurusan Probolinggo, tiket bus tidak mencapai  Rp. 50.000,-
      Selamat mencoba berrafting yaaaaa,,,,,!!! Salam Jalan2,,,,,,

    • By hildaveronica
      hallo semua, salam kenaaaaal. masih nyubi disini tp mau share cerita tentang trip ke Lampung kmaren. muehhehee
       
      Hari Minggu kmaren baru banget pulang dari Lampung. Tujuan utamanya sih sebenernya liat sunrise di atas Gunung Anak Krakatau tp iten lainnya nemu pantaaaaaaaaaaaiiiiii.
      Berangkat dr Bandung jam 3 sore nyampe Merak jam 11 malem dan langsung naik kapal Ferry sekitar 3jam-an lamanya.Rasanya rontok badan bangeet! Tp perjuangan belum selesai masih harus naik angkot lg menuju Dermaga Canti sekitar 1 jam dengan posisi duduk yg disenderin bule besar . begitu sampai Dermaga Canti hilang sudah penderitaan 14 jam perjalanan panjang tersebut. Disini deh bangganya punya Indonesia #iyainajaa   dari Dermaga Canti langsung naik kapal menuju pulau Sebuku Kecil.    sesi pertama dimulai. Gk banyak penghuni laut yg bisa diliat disini tp viewnya ituloooh emmm bangeet. Abis dr situ berangkat menuju penginapan 2jam naik kapal ke Pulau Sebesi, beres" terus berangkat lagi   sesi 2 ke Cemara Satu. Karena sore hari disini ombaknya mulai besar saya punya cerita memalukan disini, pas nyemplung sih aman" aja tiduran diatas air dan gk sadar kalo udah jauh dr kapal. mau balik gk bisa, tenaganya gk cukup buat lawan ombak hahhaa dan minta tolong sama mas" gatau siapa buat di tarik ke kapal ahhhhahhaa abis dari situ menuju Pulau Umang-Umang buat ngejar sunset. pulaunya kreeeeeen bangeeeeeeeeeeeeeet!!! pasir putih dan ahh pokonya bagus bangeet pokonya. dr situ pulang ke penginapan 2jam kapal"an again.*hari esoknya*  Iten selanjutnya mari ke Gunung Anak Krakatau demi sang sunrise, subuh" jam 3 udah naik kapal aja, sampe dan trekingnya sih gk sepanjang si kunir di Dieng, tp disini pasir semua jd agak susah naiknya dan begitu sampai puncak, Tuhaaan bagus bangeet hahhaa foto" dan turun lalu   sesi 3 menuju Lagoon Cabe.nah disini nih penghuni laut numpuk. banyaak banget dan ombaknya gk terlalu besar soalnya masih siang muehehhe. selesai snorkling sesi 3 kaki kena cium karang tercinta huhu. kaki kaya abis kdrt abis itu menuju penginapan *2jam lg* packing dan pulaaaang kembali menikmati perjalanan super panjaaaang menuju Bandung. *foto narsisnya nyelip bolehlahyaa* muehhe
       

    • By Dantik
      Hari 1, 05 Mei 2018 : Athena
      Hari 2, 06 Mei 2018 : Roma Day 1
      Hari 3, 07 Mei 2018 : Venice
      Hari 4, 08 Mei 2018 : Roma Day 2
      Hari 5, 09 Mei 2018 : Roma Day 3
      Hari 6, 10 Mei 2018 : Santorini Day 1
      Hari 7, 11 Mei 2018
      Hari kedua yaitu hari terakhir di Santorini kami mengambil paket Day Tour yang telah disediakan oleh penginapan. Dengan harga 35 euro/pax, kami berkeliling dari barat ke timur, dari selatan ke utara.
      Sebelum mengikuti Day Tour yang dimulai pukul 10.30 kami pergi dulu ke Oia menggunakan Local Bus. Memang, sunset di Oia juga termasuk dalam paket Day Tour tetapi tentu berbeda antara suasana pagi dengan sore hari.
       
      1. Oia

      Dari Terminal Bus Fira kami menggunakan Local Bus ke Oia. Kemudian dari Main Bus Stop & Parking Lot kami berjalan menuju Oia Castle melewati large church at Nikolaou Nomikou square.

      Dari Halte Bus Utama & Tempat Parkir, berjalan kaki ke selatan 120 meter ke gereja besar di Nikolaou Nomikou square. Pergi ke barat di “jalan utama” sebagai ditunjukkan dalam peta ini. Oia Castle / Fortress memiliki pemandangan yang spektakuler.

      Kemudian kami kembali ke penginapan menggunakan Local Bus ke Terminal Bus Fira.
      2. Profitis Ilias Monastery

      Ini adalah tujuan pertama Day Tour kami yaitu Profitis Ilias Monastery yang merupakan puncak tertinggi di Santorini.

      3. Santo Wines

      Ini adalah tujuan kami yang kedua yaitu Santo Wines. Santo Wines adalah tempat dimana kita bisa mencoba semua Santorini wine, baik red wine maupun white wine. Harga yang ditawarkan pun bervariasi. Jika kita tidak ingin menikmati wine, kita bisa menikmati pemandangan dan hanya sekedar berfoto-foto disana.

      4. Light House

      Ini adalah tujuan kami yang ketiga yaitu Light House. Light House berada di ujung paling selatan Santorini.

      5. Red Beach

      Ini adalah tujuan kami yang keempat yaitu Red Beach. Dinamakan Red Beach karena memiliki tebing yang berwarna merah yang merupakan hasil dari lava vulkanik.
      Pantai merah ini bisa dibilang salah satu pantai paling terkenal dan indah dari Santorini. Terletak hanya beberapa langkah dari situs kuno Akrotiri. Ukuran pantai yang kecil menciptakan suasana yang ramai dan kami memilih untuk tidak sampai ke pantai dan mengagumi pemandangan unik dari batuan vulkanik merah dan hitam dari tanjung.

      6. Perissa

      Ini adalah tujuan kami yang kelima yaitu Perissa. Perissa adalah pantai dengan pasir hitam yang ada di Santorini. Banyak orang yang berenang, berjemur atau hanya sekedar makan siang di restaurant pingggir pantai sambil menikmati suasana laut.

      7. Firostefani

      Ini adalah tujuan kami yang keenam yaitu Firostefani. Firostefani adalah salah satu gereja yang paling banyak difoto dari Santorini. Dan ini adalah kali kedua kami mengunjungi Firostefani.

      8. Oia

      Ini adalah ending dari perjalanan Day Tour kami yaitu menikmati Sunset di Oia. Kali ini kami memulai perjalanan kami dari Bus Stop pertama.

      Tentu berbeda dengan suasana pagi hari, karena lebih banyak orang yang ingin menikmati Sunset di sini. Jika kita membawa pasangan tentu akan terasa lebih romantis, bukan.

       
      Santorini adalah tempat yang indah dengan pemandangan Kaldera dan Laut biru Aegea. Siapapun yang kesana pasti akan dibuatnya takjub dengan segala keindahan pemandangan dan budayanya yang khas. Sungguh pengalaman yang tidak akan terlupakan bagi kami.
      Ciao, Santorini!
       
    • By PrinceJuju
      Secuil Surga tersembunyi itu bernama Air Terjun Sumber Pitu

      Berawal dari batalnya Trip ke Air terjun Madakaripura, maka terpilihlah Air terjun Sumber Pitu, Pujon Kidul Kab. Malang sebagai destinasi trip tgl 13 September 2015.
      Air terjun Sumber Pitu yang terletak di Dusun Tulungrejo, Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.
      Ajakan pergi beramai-ramai dengan teman-teman kadang sulit di realisasikan karena masing-masing punya kepentingan, sehingga trip kali cukup menghubungi teman ane yg mau berangkat saja. Akhirnya fix 6 orang berangkat termasuk ane. Personel kali ini 5 cewek dan 1 cowok yakni ane sendiri. Hihihihihi….
      Untuk trip touring kali ini kami menggunakan 3 sepeda motor.
      Ditentukan meeting point jam 6.00 pagi di depan Apotek Pleret daerah Pleret, Pasuruan.
      13 September 2015
      Jam 05.45 pagi ane meluncur menuju Meeting point dan ternyata teman-teman ane sudah menunggu disana, dan 2 teman ane yg lain menunggu di Alun-alun kota Batu. Its Ok lah…
      Jam 06.00 kami berempat meluncur menuju alun-alun kota Batu menemui 2 teman ane di sana. Perjalanan pagi ini cukup dingin karena beberapa hari terakhir angin cukup kencang jadi kami tidak terlalu cepat memacu laju motor kami cukup 60-70 km/j. hehehee..
      Berkendara kurleb 45 menit kami tiba di pertigaan karanglo, kami arahkan motor menuju arah Batu. Tidak jauh dari pertigaan kami mampir warung makan untuk mengisi perut dulu. Warung ini cukup murah untuk seporsi rawon dan teh hangat hanya membayar 13rb rupiah saja. Ada bermacam-macam lauk tambahan seperti tempe tepung, dadar jagung dll pokoknya mantappphhh. Ane lupa nama warungnya, lokasi depan pertigaan mau ke kampus 2 ITN, maju dikit kanan jalan persis pojok gang.
      Setelah puas makan dan kenyang, lanjutttttttt go to Alun alun Batu….
      Jam 08.00 tepat ane udah ketemu 2 teman ane yg sudah menunggu sedari tadi, oke maaf temansss membuat kalian menunggu.. hiks.. hiks… hiks…
      Perjalanan kami lanjutkan menuju dusun Tulungrejo, Pujon kidul. Kami arahkan motor melewati Wisata Payung Batu dengan di suguhi pemandangan khas perbukitan dan café-café kecil yg biasa berjualan jagung bakar, kopi dan makanan minuman lainnya.
      Akhirnya ketemu patung sapi, kalau ke kiri menuju Wana Wisata Coban Rondo, kami terus mengikuti jalan besar kira-kira 50 meter ada pertigaan dan pangkalan ojek di kiri jalan kami belok kiri dan mengikuti jalan aspal tersebut kira-kira 3 km setelah tanjakan ada pertigaan kecil dan petunjuk arah Sumber Pitu belok kiri mengikuti jalan cor-coran.
      Dari pertigaan tersebut kurleb 500 meter ketemu loket/pos registrasi tiket masuk yg di kelola komunitas Capung Alas. Dengan membayar 10rb tiap orang, kami lanjutkan perjalanan menuju pos parkir terakhir melewati jalanan makadam dan tanah yg berdebu ** maklum musim kemarau ** perjalanan kurleb 3 km kami lalui dengan susah payah karena seharusnya menggunakan sepeda trail namun kami menggunakan sepeda motor biasa. Mobil pun bisa masuk hingga parkiran atas, dengan catatan bukan musim hujan ya...  Saran dari ane mobil dgn bemper rendah seperti sedan sebaiknya jgn di bawah ke parkiran atas, mobil seperti avanza, xenia its okelah... Bagi rombongan yg menggunakan elf long bisa jg parkir di pos registrasi / loket... Hihihihi…
      ** Sekedar info jika musim penghujan maka batas parkir terakhir adalah loket registrasi dan selanjutnya di tempuh jalan kaki. Karena jalanan licin dan lumpur berbahaya jika di paksakan naik motor / mobil ke parkiran atas. ada jasa ojek trail menuju parkiran atas kog.
      Tiba di parkiran atas, kami tempatkan motor parkir rapi tentu sebelumnya bayar parkir 5rb tiap motor. Perjalanan masih di lanjutkan dengan berjalan kaki yg menurut info 1-2 jam. Wowwww…. Cukup lama juga ya.
      Awal perjalanan melalui trek cukup datar namun setelah 100 meter, trek mulai menanjak miring 30-45 derajat di tambah kondisi jalan tanah yg berdebu, apabila kita melangkah debu mulai berterbangan. Apalagi berpapasan dengan rombongan lain dapat di pastikan debu bertambah parah ditambah orang lain yg kadang menginjak tanah dengan keras entah sengaja atau tidak semakin menambah polusi debu. Hiks.. hikss.. saran ane musti bawa masker jika kesana saat musim kemarau.
      Melewati ladang penduduk sampailah di kondisi jalan agak datar terus melangkah hingga menemukan jalanan turun lumayan ekstrim karena untuk turun tidak bisa jalan seperti biasanya musti pelan dan berpegangan akar pohon agar tidak terpeleset jatuh. Sudah mulai terdengar gemericik suara air terjun, dan setelah turunan tersebut ada air terjun tunggal yg di namai Coban Tunggal. Kami istirahat sejenak di tempat ini sembari bernarsis ria. Hehehehee…
      Setelah energi terkumpul kembali kami ambil arah kiri dari Coban Tunggal menuju tujuan kami yg sebenarnya yakni Sumber Pitu. Akses kali ini benar-benar ektrims karena jalan sempit menanjak di bantu oleh tali tambang agar tidak terjatuh. Di sarankan tidak buru-buru saat melewati medan tanjakan ini, cukup di nikmati pelan-pelan. Kurleb 15 menitan sampai di Air terjun Sumberpitu. Total lama perjalanan dari parkiran atas +- 1,5 jam jalan santai.
      Sungguh indah sekali karya Tuhan semesta alam, ane cuma bisa terdiam tidak mampu berkata-kata menikmati anugrah pemandangan sangat indah ini. Benar-benar amazingggggg…
      Pemandangan indah yg harus kita jaga dan lestarikan salah satu caranya adalah dengan tidak membuang sampah sembarangan.
      Mengapa dinamakan air terjun Sumber pitu karena adanya aliran air sumber dari dinding tebing sejumlah 7, sebenarnya ada 9 namun entah mengapa di namakan Sumber Pitu seharusnya Sumber Songo.. hahahahaa
      Dari Air terjun Sumberpitu masih ada 1 air terjun lagi yakni Sumber Papat. Akses dari sumber pitu ke arah kanan menanjak kurleb 100 meter, medan kali ini tanpa tali dengan kemiringan lebih dari 45 derajat jadi harus sangat berhati-hati karena salah langkah bisa terpeleset dan jatuh ke bawah.
      Dari atas pemandangan air terjun Sumber pitu sangat indah sekali cocok buat narsis / selfie /wefie dll, namun tetap berhati-hati jika berfoto ria yg penting tetap jaga keselamatan.
      Tidak lama dari spot foto-foto tadi ketemu air terjun Sumber Papat / Coban Papat, sama seperti Sumber pitu aliran air berasal dari tebing tinggi namun jumlahnya hanya 4, dan aliran air ini mengarah ke Coban Tunggal yg tadi.
       
      Setelah puas menikmati karya Tuhan yg luar biasa ini kami memutuskan turun dan balik, jalanan turun lebih susah di banding naik, karena harus pelan dan sedikit ngerem agar tidak kebablasan, di tambah jika berpapasan dengan orang lain yg hendak naik ke Sumber pitu harus ada yg mengalah minggir agar tidak terjatuh.
      Selepas dari Coban Tunggal ke arah parkiran jalan sedikit tidak berat karena turunan, namun tetap saja debu mengganggu perjalanan ke parkiran. Hehehhee…
      Perjalanan kembali ke parkiran lebih cepat dari pada berangkatnya tadi. Sampai di parkiran jam 13.30 kami putuskan istirahat di warung sekitar dan mengisi perut yg mulai keroncongan dengan Indomie seleraku.. hihihihi…. Kami diskusi untuk rute selanjutnya, mestinya kami akan menuju Omah Kayu di kawasan Paralayang namun karena fisik dan kaki sudah gempor alias capek kami putuskan menuju alun alun Batu saja. Mungkin di lain waktu kami akan mengunjungi Omah Kayu.
       
      Akhirnya jam 15.30, kami sampai di alun alun kota Batu, setelah berunding sejenak maka di putuskan kami berpisah di sini karena teman ane ada keperluan dan ane juga ada keperluan ke rumah kakak ane di Batu.
      Jam 17.30 ane meluncur balik menuju Pasuruan. Seperti biasa setiap weekend arah Surabaya selalu padat cenderung macet mulai Karanglo – Singosari – Lawang, selepas itu lancar.
      Tepat jam 20.00 ane tiba di Pasuruan dengan selamatttt…
      Oke kawansssss… terima kasih buat touringnya… lanjuttt touring lain waktu yaaaaaa…..
      Ane banyak menemukan pelajaran baru dari trip kali ini, selain berkenalan dengan teman baru asal Tulungagung. Sharing-sharing sedikit pengalaman rupanya mereka bener-bener seorang traveler Sejati dan hanya berdua saja dalam mengunjungi lokasi lokasi wisata di berbagai tempat.
      Memang benar pergi beramai-ramai itu asyik dan seru namun identik dengan ruwet karena ada yg tiba-tiba batal hingga akhirnya batal semua, saling tunggu siapa pesertanya dan lain sebagainya. Namun jika benar ingin mengunjungi suatu tempat entah solo travelling atau berdua saja tetap akan di jalani, dan banyak sekali solo travelling di luar sana yg menginspirasi karena kita di tuntut benar benar mandiri, berinteraksi dengan alam budaya yg berbeda dan masih banyak lagi.
      So.. sederhana sekali, intinya ingin pergi kemana ya pergi saja… karena pengalaman dan pelajaran yg di dapat selama travelling tidak dapat di nilai dengan mata uang.
      Enjoy Yours Travelling
      Rincian pengeluaran :
      Bensin : 20.000,- ( jika berboncengan bisa di bagi berdua )
      Parkir Sumberpitu : 5.000,-
      Tiket Masuk  : 10.000,-
      Makan Pagi : 13.000,-
      Makan mie instan dan jajan di parkiran : 8.000,-
      Makan Malam : 18.000,-
      Total : 74.000,-
      ** total pengeluaran bisa lebih hemat jika bawa bekal makanan atau makan nasi bungkus
      Akses menuju Sumberpitu, Pujon Kidul:
      - Dari Surabaya : Surabaya – Pandaan – Karanglo – Batu – Pujonkidul
         Kendaraan umum ( ada 2 alternatif ) :
      Naik bus jurusan Malang, turun terminal arjosari, naik Angkutan ADL menuju terminal Landungsari, ganti naik bus kecil Puspa Indah jurusan Jombang. Turun di patung sapi Pujon ( kondektur pasti ngerti ). Jalan kaki dikit ketemu pangkalan ojek dan pertigaan, lalu sewa ojek menuju pos registrasi Capung alas / sumber pitu kurleb 15rb coba tawar menawar saja selanjutnya jalan kaki menuju lokasi air terjun. Naik bus jurusan Jombang, turun terminal jombang, ganti naik bus kecil Puspa Indah jurusan Malang. Turun di patung sapi Pujon ( kondektur pasti ngerti ). Jalan kaki dikit ketemu pangkalan ojek dan pertigaan, lalu sewa ojek menuju pos registrasi Capung alas / sumber pitu kurleb 15rb coba tawar menawar saja selanjutnya jalan kaki menuju lokasi air terjun - Dari Pasuruan : Pasuruan – Karanglo – Batu – Pujonkidul
      Kendaraan umum : Naik bus jurusan Malang, turun terminal arjosari, naik Angkutan ADL menuju terminal Landungsari, ganti naik bus kecil Puspa Indah jurusan Jombang. Turun di patung sapi Pujon ( kondektur pasti ngerti ). Jalan kaki dikit ketemu pangkalan ojek dan pertigaan, lalu sewa ojek menuju pos registrasi Capung alas / sumber pitu kurleb 15rb coba tawar menawar saja selanjutnya jalan kaki menuju lokasi air terjun.
      - Dari Malang : Malang – Batu – Pujonkidul
      Kendaraan umum : naik angkutan menuju terminal landungsari ganti naik bus kecil Puspa Indah jurusan Jombang. Turun di patung sapi Pujon ( kondektur pasti ngerti ). Jalan kaki dikit ketemu pangkalan ojek dan pertigaan, lalu sewa ojek menuju pos registrasi Capung alas / sumber pitu kurleb 15rb coba tawar menawar saja selanjutnya jalan kaki menuju lokasi air terjun.
      Tips berkunjung ke Air terjun Sumber Pitu :
      1. Kondisi Fisik Prima ( wajib )
      2. Bawa Baju Ganti + Celana Pendek atau Celana ¾
      3. Pakai sandal gunung / sandal khusus / sepatu khusus yg tidak licin. ( jangan pake sandal yg licin seperti crocs / sandal jepit)
      4. Bawa Minum Air mineral karena jalan menanjak dan ekstrim
      5. Bawa Masker dan Sunblock. ( jalan berdebu saat musim kemarau )
      6. Bawa Tongsis / tripod agar maksimal untuk hunting foto.
      7. Bawa kembali sampah kita dan jangan buang sampah sembarangan.
      8. Jika naik kendaraan sendiri pastikan kendaraan anda dalam kondisi fit, Mesin, Oli, tekanan Ban, Rantai motor dll.
      9. Bawa duit tunai secukupnya.
       
    • By ko Acong
      Selamat Pagi Indonesia
      Kali ini Sibocah tua nakal akan berbagi informasi untuk siapapun tentang rute Trip Silk Road. Kali ini saya mengajak rekan2 traveller lainnya nya Di berbagai komunitas Backpacker dengan Cara Share Cost murni tanpa ada embel tersembunyi, beneran terang benderang kita saling kerja sama saling berbagi suka maupun susahnya. Alhasil semuanya happy dengan Budget seperempat dari harga tur umum nya, bahkan bisa pulang Via Beijing dengan jarak Urumqi ke Beijing 4000an km. Yup kita mulai rute nya.

      Hari 01
      Kita semua menuju bandara masing masing dan berkumpul di KLIA2. Sorenya kita Terbang menuju Xian dan tiba pukul 00.05, namun di imigrasinya wow 2 jam. Keluar imigrasi biasa ngudud mencari lokasi strategis dan mengincar seseorang supaya mengantar ke Hotel kami. Tertuju lah inceran saya ke satu orang dan mulai nego harga disepakati 150 RMB 1 mobil dengan jarak 40 km menuju kota Kalo nggak salah, kami perorang bayar 45 RMB. Sekalian dalam perjalanan kami nego untuk sewa mobil seharian anter makan piknik pulang ke hotel lagi 1200 RMB pake super Van.
      Hari 02.
      Kami piknik penuh Suka ria (namun tetap ada kekecewaan sedikit namun kami berterima kasih terhadap driver), karena telah dibantu informasi yang tidak kami sadari sampali last time, yang mana bakal merugikan waktu kami yaitu tentang STASIUN KERETA API!! Ya, kami nginap di hostel Xian lupa namanya namun ini tempat sangat ok buat Backpackers, per kepala Kurang lebih 140 RMB untuk 2 malam.
      TOTAL UANG KELUAR Di Xian: 40 RMB + 140 Hostel +120 van +150 Teracota 54 RMB = 504 RMB
      Hari 03.
      Pagi 05.00 kami bergegas ke Stasiun Fast train!! Ya, pastikan nama stasiunnya, by taxi kurang lebih argo 40 RMB /mobil, perkepala 13 RMB, tiket kereta 320 RMB, fast train Xian - Zhangye paling pagi. 7 jam kemudian diatas 2000 km kami telah berpindah propinsi dari Xianyang ke Chanye.
      Setelah tiba di stasiun Fast Zhangye Xi, strategi ngudud diulang sampai ketemu orang yang Sreg dan disepakati harga anter kami ke Danxia Rainbow Mount 80 RMB, lanjut anter makan dan pulang ke hotel, cekin seharga 260 RMB, permobil 3 mobil 720 RMB jadi per kepala 72 RMB dengan di antar 3 driver Cewek tangguh.
      Nego untuk ekplor Pinshan Hu / Phinshan Canyon seharga 1500 RMB 3 mobil, perorang kena 150 RMB. Tiket Masuk Pinshan Hu 328 RMB dan ke Hanging Temple Matisi.
      Total Uang keluar: Tiket Fastrain 320 RMB + Taxi 72 RMB + 80 RMB Tiket masuk + Hotel 196 RMB 2 malam = 356 RMB
      Hari 04.
      Pagi Dijemput untuk menuju Phinshan Canyon. Catatan: Danxia platform bisa pake Bus umum namun perlu waktu ekstra dan kejar waktu, harga tidak jauh dengan sewa taxi bila isi 4 orang. Begitupun bila mau ke Phinsanhu, harus sewa taxi umum, belum ada jarak. Tur kurang lebih 270 KM, 2 tempat dengan Hanging Temple Matisi. Jadi kami sewa taxi perorang kena 150 RMB (pelayanan dan harga sebanding bintang 5). Tempat destinasi yang ditawarkan sesuai gambar “kami buta hurup dan gagu terpaksa tiket masuk pinshan canyon 328 rmb.
      Total uang keluar:  150 RMB +328 Rmb + 30 Rmb = 218 RMB
      Hari 05.
      Disilah kami sebut Mereka pejuang rumah tangga tangguh. Membawa kita ke Destinasi Cresent Lake, mobil per orang Dari Zhangye anter Ke Jiayuguan Pass dan Dunhuang City ditunggu wisata Ke Cresent Lake dan dianter ke Stasiun untuk menuju Turpan.
      Total uang keluar: 200 RMB tiket masuk cresent lake + 120 yuan naik onta 100 yuan + 200 mobil = 420 RMB
       
      Nah saya cukupkan dulu Trip Silk Road sampai dengan propinsi Gansu, perbatasan Gurun Goby ini ya dan nantikan Silk Road edisi selanjutnya
      Jumlah uang keluar: 504 + 218 + 356 +420 = 1598 RMB
      Estimasi untuk makan minum sehari 65 yuan/hari
      Rate terkini 1 RMB Rp. 2160
      Jadi Kalo Menuju Danxia Rainbow Mauntain bisa di perkirakan biayanya bila jalur Silk roadnya middle. Semoga berguna buat teman-teman traveler, dengan rute saya ini ada gambaran spot-spot yang pentingnya.
      Mohon maaf ya saya tidak ngerti cara menulis yang baik namun niat saya hanya Untuk berbagi.