Sign in to follow this  
surya_sradha

Kelenteng Eng An Kiong, Peninggalan Turunan Ketujuh Jendral Dinasti Ming

3 posts in this topic

Kelenteng Eng An Kiong, Peninggalan Turunan Ketujuh Jendral Dinasti Ming

Kurang lengkap, kalao rasanya tidak mengunjungi Kelenteng yang dengan arsitektur yang menarik yang terletak di Jalan Martadinata di Kota Malang ini. Kelenteng ini mempunyai arsitektur yang bagus yang patut dikunjungi. Selain sebagai tempat beribadah juga terdapat ornamen-ornamen yang bagus sekali yang dapat memanjakan mata. Banyak turis asing yang berkunjung ke Malang pasti mengunjung Kelenteng ini.

Kelenteng Eng An Kiong mempunyai sejarah yang luar biasa yang bagus, merupakan peninggalan sejarah turunan ketujuh jendral Dinasti Ming. Berjarak sekitar 400 ratus tahun setelah Laksamana Cheng Ho menapak di tanah Jawa, pada tahun 1825 dibangunlah Klenteng Eng An Kiong atas inisiatif Lt. Kwee Sam Hway. Letnan ini adalah keturunan ketujuh dari seorang Jendral zaman Dinasti Ming berkuasa di Tiongkok. Ketika itu keturunan sang Jendral ditekan oleh Dinasti Jing sehingga terpaksa melarikan diri ke Indonesia.

Sang Kapiten (keturunan kelima Jendral masa Dinasti Ming) mendarat di Jepara kemudian menikah dengan putri yang leluhurnya mendarat di Sumenep Madura. Nah, Lt. Kwee Sam Hway adalah turunan ketujuh alias cucu dari sang Kapiten yang kemudian membangun Klenteng Eng An Kiong. Dia berangkat dari Sumenep dan akhirnya menemukan sebuah daerah di Kota Malang.

Lantaran saat itu penduduknya berbasis agraris, akhirnya Dewa Bumi (Hok Ting Cing Sien) menempati altar induk Eng An Kiong. Patung itu dibawa dari Tiongkok dengan tandu kayu jati berlapis kertas emas yang masih ada hingga kini.

Dijelaskan oleh Bonsu Hanom Pramana bahwa Eng An Kiong berarti istana keselamatan dalam keabadian Tuhan. â€Dulu pada zaman penjajahan Belanda, Lt. Kwee Sam Hway menjabat tahun 1842-1863,†katanya.

Sepeninggal Lt. Kwee Sam Hway, klenteng kemudian dipegang oleh kedua putranya secara berturut-turut, yaitu Lt. Kwee Sioe Ing (1864-1880) kemudian Lt. Kwee Sioe Go (1880-1889). Pada tahun 1895-1905, dilakukan penambahan ruang pada masa Lt. Han Shi Tai atau Han Sioe An (Ketua pada 1897-1903), Lt. The Boen Kik tahun 1904-1914 dan Lt. Tan Kik Djoen (1914-1920).

Berikut hasil foto-foto saya waktu Juli lalu saya berpergian kesana, dan pada bulan Juli 2013 akan diadakan perayaan besar dengan kirab keliling kota Malang, nanti tanggal nya saya akan infokan kembali.

post-146-0-80926700-1351753992_thumb.jpg

post-146-0-71001000-1351754014_thumb.jpg

Pagelaran Budaya tahun 2007 silam yang nanti Juli 2013 akan dilakukan kembali

post-146-0-85581500-1351754119_thumb.jpg

post-146-0-41680900-1351754147_thumb.jpg

post-146-0-20205800-1351754170_thumb.jpg

post-146-0-31352200-1351754201_thumb.jpg

post-146-0-57071600-1351754277_thumb.jpg

Share this post


Link to post
Share on other sites

sayang, meskipun bagian dalam kelenteng sangat bersih dan terawat, kelenteng ini terkesan kumuh di bagian luarnya. Hal ini karena kelenteng ini terletak di daerah pasar besar Malang sehingga bagian luar pagar di trotoarnya digunakan untuk berjualan sayur kalo pagi, juga beberapa senti dari trotoar digunakan sebagai parkiran kendaraan orang yang mau berbelanja. Di sisi lain, itulah berkah kelenteng

Share this post


Link to post
Share on other sites

Kelenteng Eng An Kiong Malang???

 

Nah, nah, nah.. ini dia tempat di MAlang yang paling sering q kunjungi, setidaknya 2-3 kali dalam sebulan!!

Bukannya sok religi apa gimana, tapi q enjoy banget berada di dalamnya.. Tempatnya acapkali sepi pengunjung (pas hari-hari biasa siihh, maksunya ^^) jadi bisa duduk dengan santai menikmati semilir angin sepoi-sepoi sambil menikmati kicauan burung prenjak (kecil mungil bentuknya, hampir seperti burung pipit cuman paruhnya gaak panjang dan kayaknya nii burung lebih cerewet alias banyak cicit-cuit-nya) dan gemericik air yang mengalir di kolam ikan...AAhhhh...writing this one bikin pikiran melayang lagi deh ke itu tempat!!  :terpesona  :terpesona  :terpesona

 

 

Sayangnya di kelenteng tua ini para pengunjung secara resmi dilarang jepret kamera sana-sini..maklummm, mungkin agar tidak ada ornamen atau peralatan sembhayang yang disalahgunakan yaahh.. meski dari kuningan atau sekilas ga ada harganya, tuh barang2 perlengkapan dan peralatan sembhayang beserta patung2nya kalau dijual harganya juga masih lumayan aduhai kok!  Hehehehe...

 

 

Recommened banget bagi para wisatawan/pelancong yang lagi jalan2 di kota wisata Malang!!!

 

 

:rate

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this