• 0
astinsoekanto

Eksplor Sumba Ntt

Question

saya baca link ini  aduuuhh maaakk jaaannn... ngilerrrr berat! 

 

ada yg pernah jelajah ke sumba, NTT? 

lebih enak via kupang atau denpasar?

trus kalau nginep di rumah2 penduduk itu kira2 gimana dan syaratnya apa aja? trus kira2 bakal nemu hal2 yg serem gak? saya penasaran banget pengin ngerasain feel nya nginep di rumah penduduk. 

 

ada yg tertarik pengen barengan pergi ke sumba? yuukk.. maree.. 

Share this post


Link to post
Share on other sites

29 answers to this question

  • 0

Halo....

 

Pulau Sumba sudah lama membuat saya penasaran. Jika tidak ada aral melintang akan menuju sana sekitar Februari dan Maret 2015 sekaligus menyamakan waktu dengan festival Bau Nyale di Lombok. Kebetulan ada keinginan menulis tentang Waingapu hingga pantai Mandorak dan desa Kodi-nya yang dikelola oleh warga asing.

 

Bisa pantau persiapannya di kanal www.facebook.com/motormasse milik saya.

 

Sekian :cintaindo

Share this post


Link to post
Share on other sites
  • 0

#nanya

Btw penyeberangan feri ke pulau Sumba keluar-masuknya dari mana saja dan berapa banyak frekuensi penyeberangannya ya?

Benar seminggu sekali?

 

Mau saya compile infonya karena beberapa info menghasilkan hasil berbeda.

 

Rencana akan seminggu di pulau Sumba.

Aamiin...

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

  • Similar Content

    • By vie asano
      Masih seputar akomodasi unik yang bisa ditemukan di Jepang. Jika sebelumnya saya sudah membahas hotel kapsul yang menawarkan kamar tidur super imut, love hotel ala Jepang yang memiliki berbagai tema unik, hingga ryokan alias penginapan khas tradisional Jepang, maka kali ini giliran minshuku dan pensions.
       
      Pada tulisan seputar akomodasi hemat, sudah disinggung sedikit tentang minshuku dan pensions. Kedua jenis akomodasi tersebut bisa dikategorikan dalam jenis akomodasi dengan harga menengah dan dapat menjadi alternatif akomodasi bagi wisatawan yang ingin menginap dalam suasana lain. Namun seperti apakah minshuku dan pensions itu? Mari kita lihat persamaan dan perbedaan antara kedua jenis akomodasi tersebut.
       
      Apa itu minshuku dan pensions?
      Pernah dengar istilah Bed & Breakfast atau B&B? Istilah itu merujuk pada penginapan berskala kecil yang menawarkan akomodasi dan sarapan. B&B biasanya menjadi satu dengan rumah tinggal, dikelola oleh keluarga, dan jumlah kamarnya sangat terbatas (biasanya dibawah 10 kamar).
      Nah, minshuku dan pensions adalah akomodasi bertipe B&B. Mereka sama-sama dikelola oleh keluarga, dan memiliki jumlah kamar yang terbatas. Bedanya, minshuku adalah B&B bernuansa tradisional Jepang. Jadi interior kamarnya menggunakan tatami dan memiliki suasana layaknya ryokan. Hanya saja karena skalanya kecil dan fasilitasnya terbatas, ditambah dengan pengelolaannya yang juga tradisional, maka minshuku bisa dikategorikan sebagai budget ryokan.
      Lalu bagaimana dengan pensions? Penginapan ini juga bertipe B&B, sama seperti minshuku. Hanya saja jika minshuku memiliki suasana tradisional Jepang, pensions bergaya ala Barat. Jadi pernak pernik dalam pensions, seperti tipe kamar dan fasilitas lainnya tak jauh beda dengan yang bisa ditemukan dalam rumah sehari-hari.
      (1) Oyado Iseya Minshuku [foto: Macknz.smith], (2) Pensions Tengallonhat [foto: Tristanf]
      Apa keistimewaan dari minshuku dan pensions?
      Minshuku dan pensions memiliki keistimewaan yang tidak bisa ditemukan dalam hotel, atau mungkin ryokan. Karena minshuku dan pensions dikelola oleh keluarga, serta karena segala fasilitasnya (rata-rata) harus berbagi dengan anggota keluarga pengelola, maka minshuku dan pensions menawarkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan keluarga Jepang. Para tamu dapat merasakan kehangatan dan keramahan khas keluarga Jepang, serta dapat melihat langsung sekaligus menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari. Keistimewaan lainnya, karena dikelola oleh keluarga, tamu di minshuku maupun pension berkesempatan untuk bertemu dengan wisatawan lain dalam suasana yang lebih santai dan hangat. Kurang lebih seperti program WWOOF (dalam hal menawarkan kesempatan untuk berinteraksi dan merasakan kehidupan dalam keluarga Jepang), bedanya disini tamu harus membayar untuk mendapat fasilitas penginapan dan makanan serta tak perlu bekerja.
      Walau sama-sama menawarkan suasana ala rumah, minshuku dan pensions tentu memiliki keistimewaan masing-masing. Minshuku menawarkan suasana kekeluargaan khas Jepang, yang didukung dengan interior ala Jepang pula. Sementara pensions lebih fleksibel dalam masalah tema. Maksudnya, beberapa pensions memiliki tema tertentu untuk menarik wisatawan, salah satu contohnya adalah tema musik. Tak sedikit pula pensions yang memiliki ruangan bergaya Jepang untuk memikat wisatawan asing.
      (3) Minshuku Sosuke [foto: Naixn], (4) Pensions Birao [foto: Alberth2]
      Dimanakah lokasi minshuku dan pensions?
      Minshuku maupun pensions sama-sama mudah ditemukan di berbagai tempat di kota, termasuk di pinggiran kota, di kota kecil, maupun di sekitar tempat wisata (seperti onsen, pantai, gunung, maupun tempat ski).
      Apa saja fasilitas standar yang terdapat di minshuku dan pensions?
      Minshuku menawarkan penginapan ala Jepang, jadi fasilitas yang biasa ditemukan di kamar minshuku tentu saja tak jauh-jauh dari nuansa tradisional Jepang. Rata-rata kamar di minshuku memiliki lantai ber-tatami, dan tamu tidur menggunakan futon (kasur khas Jepang). Fasilitas lainnya biasanya tak jauh-jauh dari televisi, dan dilengkapi dengan pendingin maupun pemanas ruangan. Bagian dindingnya ada yang menggunakan shoji (dinding kertas) dengan pintu geser, ada juga yang menggunakan dinding bata (jadi hanya interiornya saja yang ala Jepang. Kurang lebih suasana di minshuku hampir mirip dengan ryokan, hanya ukurannya saja yang jauh lebih kecil dan (karena terbatasnya ruang) biasanya tidak dilengkapi dengan ruang duduk ala Barat. Oya, beberapa minshuku juga menyediakan yukata sebagai pakaian ganti untuk tamu.
      (5) & (6) Ruangan di Minshuku Sosuke [foto: lesteph, naixn]
      Pensions menawarkan suasana menginap yang mudah ditemukan di rumah-rumah di Indonesia sekalipun. Kamarnya dirancang ala Barat, dan tamu tidur menggunakan kasur maupun springbed. Namun ada juga pensions yang memiliki 1-2 ruangan ber-tatami. Ada ruangan yang dilengkapi dengan televisi, ada juga yang tidak.
      (7) Ruangan ber-tatami di Pensions Birao [foto: Alberth2], (8) Western style bedroom di Lee's Pensions Osaka [foto: Yolanda Arango]
      Baik minshuku maupun pensions rata-rata menawarkan kamar mandi dan toilet bersama. Jarang ada yang menempatkan toilet maupun kamar mandi privat dalam kamar di minshuku maupun pensions (kalaupun ada biasanya dengan harga khusus). Fasilitas pelengkap lainnya, seperti shampo, sabun, maupun handuk kadang disertakan juga secara cuma-cuma. Untuk tipe kamar mandi bersamanya rata-rata dibuat ala sento, yaitu pemandian umum khas Jepang. Untuk informasi seputar sento baca disini dan disini.
       
      Seputar makanan dan minuman
      Minshuku maupun pensions menawarkan makanan ala rumahan. Bedanya, menu di minshuku umumnya makanan khas Jepang. Menunya tak jauh dari yang biasa ditawarkan oleh ryokan (yaitu menu kaiseki ryori), hanya saja biasanya dibuat dalam versi yang lebih sederhana. Namun ada juga minshuku yang dapat menyajikan menu ala Barat. Sementara pensions umumnya menawarkan menu rumahan ala Barat maupun kombinasi dengan menu khas Jepang. Namun ada juga pensions yang menyajikan menu khas Cina maupun negara lainnya.
      (9) Contoh menu di minshuku Ishiyama [foto: Jetalone], (10) Menu di Pensions Birao [foto: Alberth2]
      Bagaimana dari segi harga?
      Untuk minshuku, rata-rata harganya berkisar ¥6000 hingga ¥8500 per-orang per-malam. Harga tersebut sudah termasuk dengan sarapan dan makan malam, namun belum termasuk pajak. Sedangkan pensions menawarkan harga antara ¥6000 hingga ¥12000 per-orang per-malam (belum termasuk pajak). Harga rata-rata tersebut bisa berbeda di setiap kota, dan pada musim liburan (biasanya) akan dikenakan biaya tambahan. Catatan lain, disarankan membayar menggunakan uang tunai (Yen) karena di Jepang hanya hotel/penginapan ber-skala besar saja yang menerima pembayaran dengan kartu kredit.
      (11) Ruang makan di minshuku Souke [foto: Naixn], (12) Ruang makan di Pensions Birao [foto: Alberth2]
      Prosedur reservasi, check-in, hingga check-out
      Waktu check-in di minshuku biasanya dilakukan antara pukul 15.00 hingga pukul 17.00. Lebih dari pukul 17.00 maka reservasi akan dibatalkan dan (jika sudah membayar) uang muka akan hangus. Disarankan tamu datang jauh sebelum pukul 17.00 karena makan malam akan dimulai antara pukul 18.00-19.00. Waktu check-outnya sendiri kira-kira pukul 10.00. Untuk pensions, waktu check-in dan check-out nya bervariasi. Prosedur reservasinya bisa dilakukan melalui situs booking hotel, maupun melalui website pribadi masing-masing minshuku/pensions.
      Catatan lainnya
      - Tidak semua minshuku dan pensions memiliki pegawai untuk membantu keperluan Anda. Jadi jangan heran jika di beberapa minshuku dan pensions Anda harus membereskan kamar masing-masing.
      - Tidak semua minshuku dan pensions memiliki staff yang dapat berbahasa Inggris. Untuk menyiasatinya, bicaralah lebih pelan dan jangan ragu menggunakan bahasa tubuh.
      - Beberapa minshuku dan pensions telah menyediakan wifi secara gratis. Namun ada juga yang hanya menyediakan komputer yang dapat di akses di ruang bersama, seperti ruang duduk maupun ruang keluarga.
      Setelah membandingkan antara minshuku dan pensions, menurut Anda, mana yang lebih menarik untuk dicoba saat berwisata ke Jepang?
      Baca juga:
      Siapa Bilang Akomodasi di Jepang Mahal?
      Capsule Hotel, Salah Satu Akomodasi Unik di Jepang
      Uniknya Love Hotel ala Jepang
      From A to Z Seputar Ryokan, Penginapan Tradisional Khas Jepang (bagian 1, bagian 2)
      * Semua foto diambil dari flickr via creative commons. Credit nama berdasarkan username flickr. Tidak ada perubahan dari foto aslinya.
    • By vie asano
      Sesuai dengan janji yang saya sebut dalam tulisan sebelumnya, saya ingin lanjut membahas aneka akomodasi unik yang ada di Jepang. Kali ini yang akan saya bahas adalah sebuah akomodasi yang disebut Love Hotel. Hotel jenis ini juga menarik untuk dicoba lho, apalagi jika Anda mengaku sebagai traveller yang selalu tertarik mencari pengalaman baru..
      (1) Love Hotel Hill di Shibuya [foto: TenSafeFrogs], (2) Bagian dari distrik Love Hotel di Lake Biwa [foto: ken_mayer]
      Ada yang tahu apa itu Love Hotel? Love Hotel, atau dalam istilah Jepangnya adalah Rabu Hoteru (atau rabuho untuk versi gaulnya), sejatinya tak jauh berbeda dengan hotel pada umumnya. Bedanya, hotel jenis ini termasuk kategori boutique hotel yang menerapkan sistem short time (walau ada juga yang menerapkan sistem short time dan overnight time), sehingga populer di kalangan mereka yang perlu check in selama beberapa jam saja untuk berbagai alasan, mulai dari istirahat hingga istirahat.
       
      Saya nggak akan terlalu detail membahas sejarah Love Hotel, karena tradisi check in short time ini konon sudah ada sejak Tokyo masih bernama Edo dan pastinya tak jauh-jauh dari bisnis prostitusi. Biasanya, penginapan maupun rumah minum teh (ochaya) yang memiliki sistem tersebut. Jadi Love Hotel yang berkembang di Jepang saat ini merupakan versi modern dari konsep yang sudah ada sejak dulu. Adapun Love Hotel modern pertama di Jepang dibangun di Osaka pada tahun 1968, dan konsep tersebut langsung menyebar ke berbagai kota yang ada di Jepang. Kabarnya saat ini telah terdapat 25000 Love Hotel di seluruh Jepang. Fantastis, bukan?
      (3) & (4) Salah satu Love Hotel di Shibuya [foto: Kojach, Emmanuel P.]
      Tak sulit untuk membedakan antara Love Hotel dengan hotel biasa. Cara paling mudah adalah membedakan dari segi nama, karena tak sedikit Love Hotel yang terang-terangan menyebut kata love hotel atau love sebagai bagian dari namanya. Love Hotel pun biasanya memiliki desain yang eksentrik. Biasanya elemen hati maupun bunga menjadi pilihan favorit ditampilkan di bagian luar. Namun banyak juga Love Hotel yang menampilkan desain beragam seperti desain kastil, dan tak sedikit juga yang hampir mirip seperti hotel biasa. Ciri untuk mengenali Love Hotel, selain dari segi nama, adalah dari segi tarifnya. Love Hotel biasanya menampilkan 2 versi tarif: rest/short time dan stay/overnight time.
      (5) Castle Hotel [foto: Randomidea], (6) Hotel Myroom [foto: Jmettraux], (7) Rose Lips Hotel [foto: Furibond]
      Jadi Love Hotel sama dengan hotel esek-esek dong?
      Jika ditanya apakah Love Hotel sama dengan hotel esek-esek, jawabannya tergantung persepsi masing-masing. Ya, karena check in short time memang populer di antara mereka yang perlu waktu privat selama beberapa jam saja dan erat dengan konotasi seksual. Dan sesuai dengan namanya yang berarti hotel cinta, rata-rata konsumen utamanya adalah pasangan kekasih maupun mereka yang datang untuk kencan sesaat. Tapi jangan membayangkan Love Hotel sebagai hotel yang menyediakan teman kencan, karena pada dasarnya hotel ini hanya menyediakan fasilitas saja. Siapapun bisa menginap disini sekalipun datang sendirian.
      Kenapa harus mencoba menginap di Love Hotel saat berwisata ke Jepang?
      Konsep hotel cinta bukan ekslusif milik Jepang karena hotel-hotel sejenis banyak ditemukan di berbagai negara. Namun bukan Jepang namanya jika tidak menawarkan hal-hal unik di balik konsep yang sebetulnya standar saja. Love Hotel di Jepang tak melulu bicara tentang short time saja lho, yang berarti datang-istirahat-pergi. Banyak hal yang membuat hotel cinta ini akhirnya menawarkan pengalaman lebih untuk wisatawan asing. Berikut beberapa fakta menarik seputar Love Hotel, yang bisa menjadi pertimbangan para wisatawan sebelum mencoba akomodasi ini.
      1. Dari segi harga, Love Hotel biasanya lebih murah dari bussiness hotel biasa. Memang ada Love Hotel yang harganya sama dengan bussiness hotel, namun jika dibandingkan dari segi fasilitas, Love Hotel bisa dianggap lebih murah. Dalam kisaran harga yang sama, bussiness hotel biasanya hanya menawarkan ranjang single serta ruang dengan dekorasi dan fasilitas seadanya (kadang-kadang tidak dilengkapi dengan kamar mandi), sedangkan Love Hotel biasanya memiliki ranjang double bed dan sudah dilengkapi dengan kamar mandi. Malah kamar di Love Hotel biasanya memiliki fasilitas hiburan tambahan, seperti TV layar besar lengkap dengan aneka pilihan film, karaoke dalam kamar, musik, jacuzzi tub, sistem pencahayaan tematik, dan banyak lagi.
      (8) Kamar standar di Love Hotel [foto: Fletchy182], (9) Jacuzzi di Love Hotel [foto: nicwn]
      2. Waktu sewa di Love Hotel lebih fleksibel. Ada yang menawarkan tarif per-jam, per-beberapa jam (short time), atau per-malam. Tarif siang hari dan malam hari bisa berbeda jauh, begitu juga jika datang di hari biasa dengan akhir pekan. Jadi traveller bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dan juga budget.
      (10), (11), (12) Beberapa contoh tarif Love Hotel [foto: matt murf, jdbc42, ffg]
      3. Love Hotel biasanya memiliki sistem pelayanan yang unik lho. Kadang resepsionisnya tak kelihatan dan pengunjung memilih kamar melalui katalog elektronik yang ada di dekat area resepsionis. Beberapa Love Hotel menerapkan metode pembayaran yang tak kalah unik lho, misalnya saja ada yang menggunakan metode vacuum tube payment method. Intinya, selalu ada pengalaman unik yang bisa di dapat jika pergi ke Love Hotel.
      (13) & (14) Katalog ruang yang bisa dipilih [foto: Kalleboo], (15) & (16) Vacuum tube payment method [foto: Kalleboo]
      4. Mayoritas Love Hotel memiliki kamar dengan tema beragam, dan asyiknya pengunjung boleh memilih sendiri tema kamar yang diinginkan. Ingin mencoba tidur dalam kamar bernuansa ruang kelas (lengkap dengan papan tulis), atau mencoba kamar bernuansa Hello Kitty? Bisa banget.. Atau mungkin ingin mencoba kamar dengan pencahayaan yang aneh-aneh, kamar dengan ranjang yang bisa berputar, atau kamar yang dirancang ala kereta? Hotel biasa jelas takkan memiliki fasilitas seperti itu. Hanya saja perlu diketahui, tak semua Love Hotel memiliki kamar tematik. Ada juga yang menawarkan kamar biasa seperti hotel pada umumnya.
      (17), (18), (19) Contoh kamar dengan pencahayaan tematik [foto: Gruntzooki]
      (20) Kamar bertema Totoro [foto: Sweet_redbird], (21) Kasur putar dengan desain ala UFO [foto: Bernard McManus]
      5. Kadang-kadang ada juga Love Hotel yang menyediakan fasilitas tambahan yang unik, seperti rental kostum serta vending machine yang menjual berbagai keperluan dewasa. Namun ada juga yang melengkapi kamarnya dengan fasilitas-fasilitas lucu, seperti merry go round!
       
      6. Perlu diperhatikan, tak semua Love Hotel menerima tamu yang datang bersama teman sejenis (perempuan dan perempuan atau laki-laki dan laki-laki), sekalipun tujuan Anda hanya untuk singgah sejenak. Itu karena di Jepang konsep same-sex couple belum diterima secara luas. Jadi perhatikan aturan main yang berlaku di setiap Love Hotel sebelum memutuskan untuk booking kamar.
       
      7. Bagaimana dengan kebersihan di Love Hotel? Sebagai informasi, warga Jepang terkenal memiliki tuntutan tinggi terhadap kebersihan dan higienitas sehingga pengelola Love Hotel harus selalu menjaga masalah kebersihan jika tak ingin ditinggalkan pelanggannya. Memang, seperti hotel pada umumnya, ada juga Love Hotel yang kurang bersih (biasanya yang harganya terlalu murah), jadi semua kembali pada pandai-pandainya wisatawan memilih hotel yang akan disinggahi.
       
      Love Hotel cukup seru, bukan? Jadi jangan ragu untuk mencoba menginap di Love Hotel saat berwisata ke Jepang. Namun perlu diingat, walau memiliki kamar yang lucu seperti Hello Kitty, jangan membawa keluarga Anda menginap di Love Hotel. Bagaimanapun hotel jenis ini menyasar kalangan dewasa, sehingga terkadang ada saja beberapa fasilitas tambahan (seperti alat kontrasepsi) yang kurang sesuai untuk anak-anak. Tenang, di Jepang masih banyak akomodasi unik lainnya yang cocok dinikmati bersama keluarga. Semoga infonya bermanfaat!
      Note: Baca juga tulisan terkait lainnya: Siapa Bilang Akomodasi di Jepang itu Mahal, dan Serba-serbi Capsule Hotel.
      * Semua foto diambil dari flickr, melalui creative commons. Credit nama berdasarkan userrname flickr. Tidak ada materi foto yang dirubah dari aslinya.
    • By andiana
      Dear JJers, 
      Tanya dunks. Kalau di Kota Kediri, penginapan yang ramah backpackers dengan harga di bawah Rp200.000 dekat Stasiun Kediri sebaiknya ke mana? Ada rekomendasi kah?
      Untuk transportasi dari Bandung ke Kediri dan sebaliknya, jika memilih bus, adakah rekomendasi PO yang aman dan nyaman?
      Terima kasiiiihhhh
    • By vie asano
      Sudah tahu apa itu shukubo? Sudah tahu apa yang membuat shukubo menarik untuk dicoba oleh wisatawan? Kalau belum, baca disini dulu ya, karena tulisan ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya. Disini saya ingin berbagi aneka info dimana bisa melakukan shukubo, perkiraan harga, dan juga info lainnya yang masih berkaitan dengan kegiatan menginap di kuil tersebut.
      Sebelumnya, sudah dijelaskan jika tidak semua kuil menyediakan fasilitas untuk shukubo. Namun jumlah kuil yang menerima shukubo pun jumlahnya tak sedikit dan tersebar di berbagai penjuru Jepang. Biasanya, kuil-kuil yang menyediakan shukubo adalah kuil-kuil yang populer sebagai tempat tujuan wisata, terutama wisata religi. Bisa karena kuil tersebut menjadi pusat aliran tertentu, memiliki sejarah yang unik, dan sebagainya.
      Jika ditanya dimana tempat yang paling populer untuk melakukan shukubo, jawabannya tentu saja adalah Gunung Koya, atau Koyasan, yang terletak di prefektur Wakayama, Kansai. Koyasan sudah lama dikenal sebagai salah satu tempat wisata religi terbaik di Jepang, dan telah diakui oleh UNESCO sebagai World Heritage Sites "Sacred Sites and Pilgrimage Routes in the Kii Mountain Range" (bersama dengan 2 lokasi lain di Kii Peninsula). Kenapa? Karena gunung ini merupakan pusatnya dari aliran Shingon Buddhism, salah satu aliran Budha yang telah masuk ke Jepang sejak Periode Heian. Kobo Daishi (atau Kukai), tokoh penting yang membawa Shingon Buddhism ke Jepang, membangun kuil Garan di Gunung Koya pada tahun 826. Seiring dengan perkembangan aliran Shingon Buddhism, di sekitar kuil pusat itu kini terdapat lebih dari 100 kuil yang berada di sepanjang jalan di Gunung Koya. Menariknya, lebih dari 50 kuil menyediakan fasilitas shukubo yang dapat digunakan oleh para peziarah maupun wisatawan yang sekedar ingin merasakan shukubo.
      (1), (2), (3) Berbagai suasana di Koyasan [foto: Danirubioperez, crystalline radical, akuppa]
      Ada beberapa hal yang membuat shukubo di Gunung Koya ini menarik selain dari pengalaman ber-shukubo itu sendiri. Yang paling utama, tentu saja karena banyaknya kuil yang terdapat di gunung ini sehingga suasana religius sekaligus mistis sangat terasa disini. Suasana Gunung Koya yang dipenuhi oleh hutan yang masih asri menjadi daya tarik lain yang membuat wisatawan terus datang kesini. Selain itu, rata-rata kuil di Gunung Koya ini telah melengkapi shukubo-nya dengan fasilitas yang ramah untuk wisatawan asing. Bahkan mayoritas shukubo di Koyasan ini sudah dapat di booking melalui berbagai situs booking hotel.
      Selain Koyasan, masih banyak kuil di kota lain yang juga menerima shukubo. Berikut beberapa nama kuil yang menerima shukubo di beberapa kota besar di Jepang:
      1. Tokyo: kuil Komadori-sanso dan kuil Seizanso di Gunung Mitake (atau Mitake-san).
      2. Kyoto: kuil Ninna-ji memiliki fasilitas shukubo (di Omuro Kaikan Hall) yang menyediakan makanan non-vegetarian. Kuil lainnya di Kyoto yang menyediakan fasilitas shukubo antara lain Myoren-ji, Hiden-in, Roku-in, Myoshin-ji, Kosho-ji, Hokyo-in, Chion-in, Chishaku-in, Jyorengin, Hongan-ji , dan Cyoraku-ji.
      3. Osaka: kuil Jyokoenman-ji, Shippotaki-ji, dan Katsuou-ji.
      4. Nara: kuil Senko-ji, Shigisan (Senjyu-in, Gyokuzo-in, Jyohuku-in), Yoshinosan (Kizo-in, Tonan-in, Chikurin-in, Sakuramoto-bo)
      (4), (5), (6) Kuil Ninna-ji di Kyoto [foto: Carles Tomas Marti]
      Lalu, berapa biaya untuk melakukan shukubo?
      Biayanya bisa bervariasi, tergantung dari masing-masing kuil dan fasilitas apa saja yang ditawarkan oleh kuil tersebut. Biasanya tarifnya dimulai dari ¥3000, seperti yang terdapat di kuil Jyokoenman-ji di Osaka. Tarif tersebut berlaku jika menginap saja (tanpa makan), dan harganya akan menjadi ¥4500 jika ingin mendapat makan pagi dan makan malam. Harga shukubo di kuil Ninna-ji berbeda lagi, mulai dari ¥5200 (tanpa makan), ¥6000 (termasuk makan pagi), dan ¥9500 (termasuk makan pagi dan makan malam, ¥7500 untuk anak-anak). Kuil Shigisan (Gyokuzo-in) di Nara memiliki rate ¥8000-¥12000, dan jika ingin mengikuti Nun Experience Plan, tarifnya antara ¥8000-¥14000. Sedangkan untuk kuil-kuil di Koyasan, rate-nya kira-kira ¥9500-¥15000 per-orang per-malam, sudah termasuk makan pagi dan makan malam. Shukubo itu mahal? Tergantung dari persepsi dan deskripsi tentang kata mahal. Harganya memang lebih tinggi dari hostel maupun hotel kapsul. Tapi jika dilihat dari segi pengalaman, shukubo jelas menawarkan pengalaman lebih dari akomodasi lainnya.
      Tertarik melakukan shukubo? Walau saat ini sudah banyak fasilitas shukubo yang ramah terhadap wisatawan asing, ada beberapa hal yang perlu diketahui agar tidak terkena culture shock.
      1. Bagaimana pun, ingatlah selalu jika fasilitas shukubo merupakan bagian dari fasilitas kuil. Jadi jangan berharap ada pelayanan sekelas hotel saat melakukan shukubo.
      2. Kuil yang menerima shukubo mungkin saja memiliki website dalam bahasa Inggris yang dikelola dengan profesional. Namun perlu diketahui, staff yang dapat berbahasa Inggris tidak selalu ada di setiap kuil (terutama untuk kuil-kuil kecil). Solusinya, bicaralah lebih pelan dan gunakan bahasa tubuh setiap kali membutuhkan sesuatu.
      3. Menginap di ruangan bergaya Jepang juga memiliki konsekuensi tersendiri lho. Dinding pembatas antar kamar biasanya sangat tipis karena betul-betul terbuat dari dinding kertas, sehingga Anda bisa saja mendengar hela nafas dari kamar sebelah. Bagi Anda yang sangat mementingkan privasi, dinding tipis bisa jadi akan mengurangi kenyamanan tidur. Namun jangan khawatir soal kenyamanan kamar. Di luar masalah dinding yang ekstra tipis, kamar untuk shukubo rata-rata cukup nyaman untuk wisatawan.
      4. Program religi yang diadakan oleh kuil juga bisa menjadi salah satu faktor yang memicu culture shock. Terlebih karena aktifitas tersebut rata-rata dimulai sejak dini hari. Jadi jika memang hanya ingin menikmati suasana menginap di kuil, bisa memilih kuil yang hanya menyediakan akomodasi saja.
      5. Sebetulnya, siapa saja boleh melakukan shukubo. Namun jika Anda termasuk tipikal partygoers, suasana kuil yang tenang dan sepi (terutama di malam hari) bisa jadi akan terasa mengejutkan. Di kuil jelas tidak ada fasilitas hiburan, dan bahkan Anda diharapkan untuk ikut menjaga ketenangan dengan bersikap tenang. Belum lagi jika kuil yang Anda pilih hanya menyediakan menu vegetarian ala pendeta Budha. Jadi pertimbangkan juga kesiapan mental Anda sebelum memutuskan untuk melakukan shukubo.
      6. Terakhir dan yang paling penting, ada satu tips agar terhindar dari culture shock sewaktu melakukan shukubo. Nikmati saja suasana shukubo, dan bersikaplah open minded. Mungkin masih ada 1-2 hal yang membuat Anda kaget, tapi selama Anda bisa menikmati setiap kejutan tersebut, maka shukubo pasti tetap akan terasa menyenangkan. Ingat selalu bahwa inti dari shukubo bukanlah sekedar untuk berwisata, namun sekaligus menjadi momen untuk mengenal lebih dekat budaya setempat, serta mencari ketenangan setelah sehari-hari sibuk dengan suasana perkotaan.
      Selamat mencoba!
      * Seluruh foto diambil dari flickr via creative commons. Credit nama berdasarkan username flickr. Tidak ada perubahan dari foto aslinya.
      Baca juga:
      Siapa Bilang Akomodasi di Jepang Mahal?
      Capsule Hotel, Salah Satu Akomodasi Unik di Jepang
      Uniknya Love Hotel ala Jepang
      From A to Z Seputar Ryokan, Penginapan Tradisional Khas Jepang (bagian 1, bagian 2)
      Minshuku VS Pensions, Pilih Mana?
      Tertarik Melakukan Shukubo? Baca Dulu Ini.
    • By Riana Setiawan
      Halo ingin bertanya apakah ada yg menyewakan akomodasi untuk tgl 11-13 juni di new york untuk 3 orang. Terima kasih.
    • By andiana
      Nginep di hotel di kota sendiri berasa aneh buat saya. Karena diminta menemani teman yang datang dari Jakarta, jadilah sekalian bikin blog post untuk salah satu hotel murah meriah berbintang tiga di Jalan Riau ini.
      Tebu Hotel (JANGAN TERTUKAR DENGAN GRAND TEBU HOTEL YA! ) nyempil banget lokasinya. Persis di sebelah de Pavilion dan Serela. Jadi, kalau dari arah Laswi, kamu bakalan ketemu dulu sama GRAND TEBU HOTEL sebelum akhirnya ke TEBU HOTEL. 
      Persis di seberang Jalan Cimanuk, setelah Jalan Lombok (yang ada KFC di pojokan jalan itu lho) kalau naik mobil, jangan ngebut yak. Pas lihat de Pavilion, pelan-pelan deh, karena setelah itu kamu bakalan nemu TEBU HOTEL yang nyempil itu.
      Udah ya, gak akan nyasar kan?  
      Baca ulasan santai saya di sini dan boleh komentar buat kamu yang pernah nginep di sana.
      Ke Hummingbird tinggal jalan kaki ke Jalan Progo (kagok lho kalo pake mobil atau motor. sekalian olahraga lah). Ke Giggle Box juga jalan kaki. Ke Masjid IStiqomah juga jalan kaki. 
      Gak jauh dari Pasar Cisangkuy. Kuy!
      Nyari Markobar Martabak? Jalan kaki aja, sekalian nongki di Bober Cafe yang suka jadi tempat gaul 24 jam. Asik deh kalo ke sana. 
       
    • By Hildree Takizawa
      Kalo kita pergi ke suatu tempat pasti yang di cari adalah penginapan,apalagi kalo tempat yang kita tuju itu gak ada yang kita kenal atau pun sodara yang tinggal di sana.
       
      saya akan memberi kan info penginapan khususnya kalo kalian jalan-jalan di kuningan dan sekitar nya;
       
      Terkadang kita sebagai pelancong pun ragu untuk datang ke tempat wisata yg di tuju apakah mempunyai akses dan akomodasi yang memadai di kawasan terebut. maka nya kadang kita berpikir panjang untuk memilih penginapan mana yang cocok dan biasanya dilihat dari lokasi nya yang mudah di jangkau dan tentu nya jarak dengan lokasi wisata yang akan di kunjungi.
       
      Tapi, hal tersebut tak perlu menjadi pertimbangan Anda bila datang ke Kuningan, Jawa Barat. Sebab, di sini penginapan bagai terpusat di sebuah kawasan, Cilimus.
      Dinas pariwisata kuningan sengaja membuat penginapan terpusat di cilimus, karena Cilimus ini memang dekat dengan banyak objek wisata di Kuningan ini.
      Dan tentu saja akan memudahkan wisatawan yang datang ke Kuningan. Dengan memilih penginapan di sekitar cilimus itu tidak akan membuat kita berpindah-pindah lokasi untuk melihat-lihat penginapan mana yang cocok.
      Kalian Cukup dengan berjalan di sepanjang kawasan Cilimus  pasti akan menemukan penginapan mana yang cocok,untuk di pilih ..hehehe sesuai budget juga .
      Kawasan Pusat penginapan di Cilimus ditandai dengan gerbang masuk kawasan Sangkanhurip, dari depan saja sudah terlihat dua sampai tiga hotel. Semakin masuk ke dalam, pilihan penginapan menjadi semakin banyak. Kalau dijumlahkan mungkin mencapai 20 penginapan.
      “Biasanya disesuaikan saja dengan budget, tetapi kalau mau penginapan dengan kelas berbintang saat ini baru ada tiga hotel saja,. yaitu : Tirta Sanita, Hotel Ayong dan Hotel Prima.


      Dari penginapan tersebut, Gunung Ciremai akan akan menjadi pemandangan menyenangkan setiap harinya.
      Saat ini kawasan Cilimus memang dikenal dengan pusatnya penginapan di Kuningan. Dari kawasan tersebut, banyak obyek wisata yang mudah dijangkau, diantaranya Taman Nasional Gunung Ciremai, Desa Wisata Cibulan, dan juga Objek Wisata Sejarah Gedung Linggarjati.