Sign in to follow this  
jassutra

candi Buddha Muara takus di Kampar RIau

5 posts in this topic

kalau mendengar kata kata candi, baragkali teman teman langsung keinget candi borobudur atau prambanan. nah, di indonesia, candi bukan hanya ada di pulau jawa lo. salah satu candi peninggalan kerajaan sriwijaya terdapat di desa muara takus, tepatnya di kabupaten kampar provinsi riau.

candi ini berdiri dengan megah dengan arsitektur buddha yang khas dengan bentuk stupanya. sayang masih belum banyak dilakukan eksplorasi karena konon katanya, di sekitar sana masih banyak renruntuhan candi yang masih tertimbun dengan tanah.

candi muara takus merupakan petunjuk penting kebesaran kerajaan sriwijaya pada jamannya. bahwa adanya bangunan candi sebagai pusat ibadah umat buddha membuktikan bahwa daerah ini dahulunya adalah kawasan yang sangat ramai.

banyak bukti sejarah yang mengatakan bahwa, di kerajaan sriwijaya, terbasgi bagi beberapa daerah yang dijadikan kawasan tertentu, misalnya musi sebagai pusat kerajaan, dan daerah koto kampar ini menjadi kawasan pusat pendidikan para pendeta yang bukan hanya berasal dari indonesia, namun juga sampai china dan india.

kebesaran nama sriwijaya dan muara takus tampaknya gak seimbang dengan keinginan pemegang birokrasi untuk membesarkan lagi kawasan ini. isu melayunisasi sangat mengganggu karena gak nyambung.

kampar merupakan kabupaten yang berada di daerah riau daratan yang memang berbangsa melayu namun mempunyai identitas kebudayaan sendiri. but i dont go politic lah hehehe

dari pekanbaru, kita bisa ke muara takus menempuh waktu3 jam perjalanan. dpekanbaru menuju arah bari bangkinang hingga ke bendungan PLTA koto panjang. di sana ada jalan (ada palang nama jalannya) ikuti aja jalannya..

semoga dengan banyaknya pengunjung dan pembaca, candi muara takus juga bisa jadi "sebesar" candi borobudur. amin ^___^

Share this post


Link to post
Share on other sites

semoga dengan banyaknya pengunjung dan pembaca, candi muara takus juga bisa jadi "sebesar" candi borobudur. amin ^___^

Sekali2nya ke sini pas jaman SD, salah satu study tour diantara banyak tour2 yang SD saya lakukan. Kesan pertama, jalannya jeleek. Kesan kedua, buset panas banget. Kesan ketiga, "eh cuma segini doang? kecil amat yak". Hihi.

Gimana caranya candi muara takus jadi sebesar candi borobudur mbak? Emang masih ada bagian dari situs candi tersebut yang belum selesai di gali ya? ;)

Share this post


Link to post
Share on other sites

omong-omong soal candi muara takus, saya juga pernah dengar kalau sebenarnya yang nongol alias baru digali itu baru puncaknya doang.

Jadi emang ada kemungkinan kalau yang masih dalam tanahnya bisa segede atau bahkan lebih gede dari candi borobudur.

barangkali buat nge-buktiinnya perlu didatangkan ahli arkeolog atau ahli geologi atau ahli-ahli yang terkait buat menyelidiki dan menggali lebih dalam. tul gak?

Share this post


Link to post
Share on other sites

Suasana bangunannya hampir mirip dengan Candi Muaro Jambi ya mbak (saya bahas disini). Dari batu bata orens gimanaa gitu..

apa karna tanah liat di sumatra beda dengan yang di pulau jawa ya? coba bandingkan warna candinya dengan candi borobudur ato candi prambanan. :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By jazzmania86c
      Kali ini, saya berkesempatan mengunjungi Chiang Mai (23-26 Mei 2016). Tapi bukan dalam rangka jalan2, tapi krn ada meeting regional disana (kerja juga urusannya). Tapi tetap, jalan2 tak boleh dilewatkan :D.
      Berangkat menggunakan Thai Airways. Untuk mencapai Chiang Mai, harus transit dulu di Bangkok. Berhubung penerbangan full board, manfaatkanlah sebaik-baiknya.
      Sewaktu transit di Bangkok, kami bertemu rekan2 yang berasal dari Filipina. ternyata kita satu pesawat menuju Chiang Mai.
      Setiba di Chiang Mai Airport, kami segera keluar dan mencari Taxi menuju hotel tempat kami tinggal, di Le Meridien. Ada dua counter taxi, Taxi Meter dan Chiang Mai Airport Taxi. Kami memilih Chiang Mai Airport Taxi krn counternya kosong, dan kena biaya fix dengan menyebut tempat tujuan, yaitu 160 Baht. Esoknya, kami tahu dari rekan kami yang lain yang menggunakan Taxi Meter, ternyata kena fix juga dengan biaya 150 Baht. Jadi silakan pilih yang mana. Taxinya sendiri cukup mengejutkan kami, Pajero lho...hehe.
      Di sekitar Hotel Le Meridien, ternyata adalah lokasi Night Bazaar. Dan Night Bazaar ini ada beberapa macam. Kami masuk ke salah satu Bazaar utk mencari Food Court. Akhirnya setelah dapat, kami memilih Pad Thai, Papaya Salad, Tom Yum. Harga berkisar antara 50-80 Baht.

      Setelah itu kami balik ke hotel dan beristirahat.
      Kami mencoba memanfaatkan waktu yang ada utk explore kota Chiang Mai. Waktu yang tersedia hanyalah pagi hari. Karena meeting dilaksanakan mulai pukul 9AM-17PM. Setelah itu ada acara dinner. Oleh karenanya, pagi hari kami berangkat dari hotel sekitar pukul 5.30. Tujuan kami yang pertama adalah Wat Chedi Luang. Tujuan ini saya pilih karena sesuai petunjuk yg sy gunakan (aplikasi Triposo), terdapat pada daftar nomer 2. Nomer 1 adalah Wat Phra That Doi Suthep, tetapi jaraknya lebih jauh.

      Di Wat ini, utk masuk tidak dikenakan biaya. tapi mulai Juli, akan dikanakan biaya yang akan digunakan utk merawat/merenovasi Wat tersebut.
      Sebenarnya, selain ke Wat, sy juga bertujuan mencari momen Almsgiving (memberi makan ke Biksu) yang dilakukan oleh penduduk setempat di pagi hari (rata2 dimulai pada pukul 6AM). Tapi kami rupanya menempuh jalan yang kurang tepat, sehingga tidak menemukan momen tersebut. Kami hanya menemukan para biksu yang jalan saja. 
      Dalam perjalanan pulang, kami menjumpai Wat2 lainnya, salah satunya Wat Phan On.

      Sore harinya, kami dinner di Windmill Restaurant. Makanannya ok, dengan suasana yang mendukung. Kebetulan cuaca cerah, jadi kami memilih tempat yang outdoor, dengan diiringi musik live.

      Pada tanggal 25, kami memulai pagi dengan mencoba mencari lagi momen Almsgiving dan ke Wat Chiang Man. Wat ini merupakan Wat tertua di Chiang Mai. Akhirnya momen Almsgiving kami dapatkan juga.

      Sewaktu balik ke hotel, kami mencoba snack orang lokal. Dan jelas, makanannya non halah. Isinya liver, daging bakar dan usus. Harganya per pcs antara 5-10 baht.

      Yang enak menurut kami adalah daging bakarnya. Kami sebenarnya ditawari ketan utk menemani makanan tersebut. Tapi kami menolaknya.
      Pada malam harinya, kami dinner di Old Chiang Mai Cultural Center. Disana makannya buffet dan juga non halal. Banyak sekali yang hadir disini, terutama turis bule.
      Tadinya kami gak menyangka kalau buffet. Jadi makannya pelan2 mengingat porsinya yang kecil. Ternyata salah sangka kawan! Makanannya juga recommended lho. Setelah makan, kami disuguhi kesenian tradisional Thailand. Tari2an yang menarik, penari yang mempesona, membawa kita pada suasana yang romantis :D.

      Tari-tarian ini dibawakan di panggung ditengah2 restauran. Setelah selesai, masih ada pertunjukan seni tari di luar. Kali ini yang membawakan adalah penduduk lokal. Kebanyakan dari mereka sudah tua usianya. 
      Setelah puas, kami balik ke hotel. Dan utk menutup hari, sy berdua dengan rekan sekamar mencari Thai Massage. Berhubung sudah cukup malam (10.30 PM), pilihan agak terbatas. Kami memilih tempat yang agak besar dan masih buka, yaitu Le Best Massage yang tak jauh dari hotel. Kami tadinya memilih 1 jam dengan harga 300 baht. Tapi akhirnya memilih utk sekalian 2 jam karena dat diskon menjadi total 500 baht. Sy dan rekan saya sampai tidur ngorok-ngorok sambil di pijet. Lumayan utk menghilangkan lelah setelah 2 hari jalan kaki kira2 5km.
      Tgl 26 pagi, kami menyempatkan utk pergi ke Warorot Market utk mencari oleh-oleh. kami mendapatkan info ini dari rekan2 Malaysia yang hari sebelumnya belanja kesana. Harganya lebih murah bahkan dibanding dengan di Night Bazaar. Apalagi dibanding di bandara. Kami membeli manisan mangga (1/4kg harga 100 baht, 1/2kg harga 180 baht), bumbu tom yum, kacang mede. Masih banyak yang lainnya, tapi namanya cowok, males bawa barang berat2..hehe. Kami juga bertanya ke penjual, dimana kami bisa mendapatkan durian. Karena disana ternyata lagi musim, jadi cukup banyak durian dijual. Kami mencoba membeli satu seharga 250 baht dan dimakan bareng.

      Lalu kami mencari warung makan di pasar. Hal ini perlu dilakukan, karena utk mencari makanan khas yang memang disantap orang lokal, kita bisa menemukannya dengan mudah di pasar. Dalam hal ini kami mendapatkannya sesuai harapan kami. Sy memilih Pork Fried Rice dan teman sy Noodle Soup. Harganya masing-masing hanya 30 baht. Sebagai perbandingan makan di Night Bazaar saja lebih mahal. Apalagi di bandara, harga mie goreng saja 240 baht. Dari segi rasa, makanan di pasar ini justru lebih enak.

      Jadi jangan segan dan sungkan utk masuk ke pasar lokal, anda akan menenemukan kejutan di sana :D.
      Akhirnya, perjalanan kami sampai pada akhirnya, harus balik ke tanah air. Kembali kami menggunakan Thai Airways dan harus transit lagi di Bangkok.
      Sampai jumpa di lain perjalanan.
       
    • By Hasdevi Agrippina Dradjat
      Sekitar lebih dari seperempat penduduk di dunia memeluk agama-agama yang berasal dari Timur. Agama-agama tersebut adalah Hindu, Buddha, Sikh serta Tao.
      Keberadaan agama-agama ini membuat tersebarnya banyak candi yang seringkali digunakan sebagai tempat peribadatan. Nah, tentu saja menarik untuk mengetahui candi-candi apa saja yang indah di dunia dan sangat menarik untuk kamu sambangi.
      Candi-candi cantik tersebar di seluruh dunia dari yang masih dipreservasi seperti Angkor Wat hingga candi yang sangat modern seperti Wat Rong Khun. Pada kesempatan kali ini, kita akan membahasnya dalam candi-candi terindah di dunia yang menarik untuk kamu sambangi. Adapun candi-candi ini disusun secara acak.
       
      1. Wat Rong Khun, Chiang Rai, Thailand
       

       

      White Temple atau Wat Rong Khun via http://images.neverendingvoyage.com/wp-content/uploads/2012/01/white_temple_main.jpg
       
      Nah, ini dia salah satu candi terbaik di dunia. Candi ini terdapat di Kota Chiang Rai, Thailand. White Temple atau Wat Rong Khun namanya. White Temple ini juga merupakan salah satu destinasi wisata favorit bagi para wisatawan serta merupakan tempat favorit penduduk Chiang Rai sendiri.
      White Temple adalah salah satu candi Buddha yang tergolong tidak konvensional dan memiliki nilai seni yang tinggi. White Temple dimiliki oleh seseorang yang bernama Chalermchai Kositpipat. Beliau ini juga merupakan orang yang mendesain serta mengonstruksi candi ini.
      White Temple dibuka dan diresmikan untuk kunjungan umum pada tahun 1997. Wat Rong Khun buka setiap hari selama sepanjang tahun dan tidak ada biaya yang dikenakan jika kamu ingin memasuki tempat ini alias gratis.
      Pada akhir abad ke 20, Wat Rong Khun yang asli berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Untuk itu, Chalermchai Kositpipat, seorang seniman asli Chiang Rai berniat untuk memperbaiki dan merekonstruksi bangunan White Temple.
      Beliau berencana untuk membuka White Temple sebagai pusat untuk mempelajari agama Buddha serta sebagai area meditasi. Meskipun biaya masuk ke tempat ini tergolong gratis, namun kamu juga diperbolehkan jika ingin menyumbangkan dana sukarela.
       
      2. Candi Prambanan, Indonesia
       

       

      Candi Prambanan, Indonesia via https://justkardoman.files.wordpress.com/2012/03/candi-prambanan.jpg
       
      Inilah dia salah satu candi terbaik yang terdapat di Indonesia. Candi ini terletak di dekat pusat kota Jogjakarta, Indonesia. Untuk mencapai Candi Prambanan, jika kamu datang dari Bandara Adisutjipto, kamu dapat menaiki TransJogja dengan biaya sekitar Rp 3.000,00.      
      Candi Prambanan memiliki nama lain Candi Loro Jonggrang. Candi ini merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi.
      Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah. Candi ini dibangun pada masa dua raja yaitu Rakai Pikatan dan Rakai Balitung.
      Candi ini memiliki tinggi yang mencapai hingga 47 meter, sekitar 5 meter lebih tinggi daripada Candi Borobudur. Candi ini terletak sekitar 17 meter dari pusat kota Jogjakarta dan saat ini dibangun taman pula yang bertujuan untuk menambah keindahan kawasan kompleks candi.
      Candi ini dibuka setiap hari dari pukul 07.30 hingga pukul 15.00 WIB. Nah, biaya masuk yang harus kamu keluarkan jika kamu ingin memasuki kawasan candi yang cantik ini adalah sekitar Rp 30.000,00.
       
      3. Pagoda Shwesandaw, Myanmar
       

       

      Pagoda Schwesandaw, Myanmar via https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/a/a9/Shwesandaw_Pagoda,_Bagan.jpg
       
      Inilah dia salah satu candi cantik yang terdapat di Myanmar. Candi ini sangat cantik terutama jika kamu ingin menjadikannya sebagai destinasi wisata untuk melihat sunrise. Pagoda Shwesandaw adalah sebuah pagoda yang didirikan oleh Raja Anawrahta pada tahun 1057.
      Pada beberapa bagian di pagoda ini terdapat gambar patung Buddha yang sedang berada dalam pose Jhana mudra (dalam konsentrasi pikiran yang tinggi). Selain itu juga terdapat beberapa bunga Lotus di pagoda ini.
      Pagoda Shwesandaw terdiri dari lima tingkat. Pada bagian puncaknya, terdapat stupa berbentuk lonceng. Sementara keempat bagian lainnya merupakan tangga yang akan menuntunmu untuk mencapai puncak pagoda ini.
      Mengejar pagoda Shwesandaw pada waktu sunrise adalah salah satu kegiatan yang wajib kamu coba ketika kamu mengunjungi Kota Bagan. Banyak wisatawan merasa tertarik dan ingin sekali mencoba pengalaman yang menyenangkan ini.
      Kenapa pagoda Shwesandaw begitu terkenal? Karena pagoda ini merupakan pagoda tertinggi di Kota Bagan. Perjalanan menuju Shwesandaw dari pusat kota Bagan dapat ditempuh selama sekitar 30 menit.
      Kamu dapat menaiki kereta kuda dengan tariff sekitar 5.000 MMK. Selanjutnya, kamu tinggal menunggu sunrise yang cantik di Pagoda Shwesandaw. Pastikan kamu telah sampai di destinasi ini sebelum pukul 05.30 untuk mendapatkan view yang mengagumkan.
       
      4. Candi Borobudur, Indonesia
       

       

      Candi Borobudur via http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/poi/bor1.jpg
       
      Candi Borobudur adalah sebuah candi Buddha yang menawan. Candi ini dibangun pada tahun 800an masehi oleh bangsa Buddha Mahayana. Borobudur adalah sebuah candi terbesar di dunia dan juga merupakan salah satu monument Buddha terbesar di dunia.
      Pada aslinya, terdapat sekitar 504 arca Buddha di sekitar kawasan Candi Borobudur ini. Stupa utama terbesar teletak di tengah sekaligus memahkotai bangunan ini, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca buddha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan mudra (sikap tangan) Dharmachakra mudra (memutar roda dharma).
      Candi Borobudur sendiri telah masuk menjadi salah satu situs warisan dunia menurut UNESCO sejak tahun 1982. Borobudur sendiri telah dijadikan sebagai tempat ziarah keagamaan, terutama pada waktu hari Waisak.
      Biaya tiket masuk yang harus kamu keluarkan jika kamu ingin memasuki Candi Borobudur adalah sekitar Rp 30.000,00. Candi Borobudur ini dibuka pada tahun 06.00 hingga 17.00.
       
      5. Temple of Heaven, Cina
       

       

      Temple of Heaven via http://www.chinaspringtour.com/guide/res_base/jeecms_com_www/upload/article/image/2013_1/3_21/611dhejih0y5.jpg
       
      Inilah dia candi cantik lainnya yang menarik untuk kamu kunjungi. Candi ini merupakan salah satu candi terbaik di dunia yang terletak di Beijing, Cina. Ya, destinasi wisata ini adalah Temple of Heaven.
      Ketika kamu berada di tempat ini, kamu akan merasa seolah-olah kembali lagi ke abad 15. Ya, arsitektur bangunan ini memang dipreservasi sehingga dapat membuat kita yang melihatnya mampu merasa kembali lagi ke abad 15.
      Tempat ini berdiri di atas lahan yang memiliki luas mencapai 2.700.000 meter persegi. Bahkan kompleks tempat ini pun lebih luas daripada Forbidden City.
      Filosofi yang coba ingin dikembangkan dari bangunan ini adalah bahwa surga itu berada di tempat yang sangat tinggi sementara bumi itu rendah.
      Pagoda ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu dinding pada bagian dalam dan dinding pada bagian luar. Bangunan utama pagoda ini bermula dari bagian selatan dan berakhir di bagian utara. Ya, untuk melengkapi perjalananmu selama kamu berada di Beijing, jangan lupa untuk mengunjungi destinasi wisata yang satu ini.
       
      6. Angkor Wat, Kamboja
       

       

      Angkor Wat via http://traveldeals.com.my/marketplace/wp-content/uploads/2015/01/angkor-wat.jpg
       
      Angkor Wat adalah salah satu objek wisata yang wajib kamu kunjungi ketika mengunjungi Siem Reap. Untuk itu, tidak berlebihan jika menjadikan Angkor Wat sebagai tempat pertama yang harus kamu kunjungi.
      Angkor Wat dulunya adalah sebuah candi Hindu, namun sekarang berubah menjadi candi Buddha. Angkor Wat pernah masuk dalam UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia yang harus dilindungi.
      Candi Angkor Wat dibangun sekitar abad ke-12 oleh Raja Khmer Suryawarman II dan merupakan candi yang dipersembahkan untuk Dewa Wisnu. Masyarakat Kamboja sangat menghormati candi ini hingga memasukan simbolnya ke dalam bendera nasional Kamboja.
      Untuk mencapai Candi Angkor Wat dari Old Market, kamu dapat menaiki taksi selama sekitar 7 menit. Biaya yang kamu keluarkan untuk perjalanan ini adalah sekitar 7.000 KHR hingga 8.500 KHR.
      Untuk merasakan pengalaman baru yang mengasyikkan, kamu dapat mencoba untuk melihat sunrise di Angkor Wat. Kamu dapat menggunakan taksi sebelum subuh tiba dan berada di sana tepat pada waktu matahari terbit. Kamu akan menyaksikan pemandangan sunrise yang keren di Angkor Wat.
      Biaya yang kamu keluarkan untuk mengelilingi Angkor Wat dalam satu hari (daily pass) adalah 82.000 KHR. Namun, jika kamu ingin menjelajahi Angkor Wat selama sekitar 2 hingga 3 hari, kamu dapat menggunakan 2-3 day pass dengan biaya sekitar 164.000 KHR.
       
      7. Dhammayangyi Temple, Myanmar
       

       

      Mengunjungi Dhammayangyi Temple via http://photos.wikimapia.org/p/00/03/10/12/30_full.jpg
       
      Inilah dia candi menarik dan menakjubkan selanjutnya yang dapat kamu kunjungi. Candi ini adalah candi terbesar yang terdapat di Kota Bagan. Kamu akan dapat menemukan pemandangan yang menakjubkan di sini.
      Candi ini dibangun pada zaman Raja Narathu (1167-1170). Candi ini juga merupakan candi terluas yang terdapat di Bagan. Candi ini selesai dibangun dalam jangka waktu selama tiga tahun. Jika kamu perhatikan, bentuk candi ini terlihat seperti pyramid di Mesir.
      Pada bagian dasar dari candi ini mirip seperti Candi Ananda yang dibangun oleh kakek Raja Narathu. Sementara pada bagian timurnya terdapat gambar Buddha yang cukup besar.
       
      8. Wat Chai Wattanaram, Thailand
       

       

      Wat Chai Wattanaram via http://www.dsphotographic.com/g2/16935-3/Wat+Chai+Wattanaram+-+010.jpg
       
      Candi selanjutnya yang dapat kamu masukkan dalam daftar perjalanan mengelilingi candi-candi terbaik di dunia adalah Wat Chai Wattanaram. Wat Chai Wattanaram ini masih berlokasi di Ayutthaya Historical Park juga sehingga kamu tidak perlu kesulitan untuk mencapai tempat ini.
      Ayutthaya Historical Park adalah sebuah kompleks yang menampilkan sisa-sisa reruntuhan Ayutthaya di zaman yang lalu.
      Saat ini, Ayutthaya Historical Park telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia. Pada tahun 1969, Departemen Seni Thailand sudah mulai berencana untuk memperbaiki dan merenovasi kompleks Ayutthaya Historical Park ini.
      Renovasi dan rekonstruksi terhadap Ayutthaya Historical Park ini menjadi semakin serius pada tahun 1976, yaitu semenjak tempat ini resmi dijadikan sebagai taman bersejarah. Sementara itu, UNESCO mendeklarasikan tempat ini sebagai salah satu situs warisan dunia pada tahun 1991.
      Ayutthaya Historical Park dibuka pada hari Selasa hingga Jumat pada pukul 09.00 hingga 16.30. Sementara pada akhir pekan dan hari libur nasional, tempat ini dibuka dari pukul 09.00 hingga 17.00. Biaya masuk yang harus kamu keluarkan jika kamu ingin memasuki Ayutthaya Historical Park adalah sekitar 50 hingga 60 baht.
      Wat Chai Wattanaram merupakan salah satu candi Buddha yang terletak di Ayutthaya Historical Park. Wat Chai Wattanaram merupakan salah satu candi penting yang terdapat di Ayutthaya dan juga merupakan salah satu candi yang populer di Ayutthaya.
      What Chai Wattanaram dibangun oleh Raja Prasat Thong. Candi ini dibangun sebagai tanda penghormatan untuk ibu beliau. Selain itu, candi ini juga dibangun untuk memperingati kemenangannya atas bangsa Khmer sehingga beberapa bagian di candi ini masih terinspirasi dari arsitektur khas Khmer.
      Bagian utama dari candi ini merupakan simbol dari Gunung Meru atau Semeru dan dikelilingi oleh empat simbol dari benua tempat manusia tinggal (menurut sudut pandang Buddha). Untuk melengkapi perjalananmu di Ayutthaya, jangan lupa untuk mengunjungi candi yang satu ini.
       
      9. Haedong Yonggungsa Temple, Korea Selatan
       

       

      Haedong Yonggungsa Temple via http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/2a/Haedong_Yonggungsa_Temple,_Busan,_South_Korea.jpg
       
      Inilah dia tempat cantik selanjutnya yang dapat kamu kunjungi. Ya, tempat ini merupakan Haedong Yonggungsa Temple. Dari dekat kuil ini, kamu dapat menyaksikan pula ombak dan lautan yang menambah keindahan pemandangannya.
      Ketika banyak kuil di Korea Selatan berada di sekitar gunung, maka Haedong Yonggungsa Temple ini justru terletak di daerah pantai. Haedong Yonggungsa Temple dibangun oleh seorang biksu besar di Korea Selatan pada sekitar tahun 1376. Pada saat itu bertepatan dengan Dinasti Goryeo. Kuil ini beralamat di 416-3, Sirang-ri, Gijang-eup, Gijang-gun.
      Pada sekitar tahun 1970, terjadi rekonstruksi ulang guna memperbaiki banyak struktur di sekitar kuil ini. Namun demikian, rekonstruksi itu tetap disesuaikan dengan kondisi sebenarnya dari kuil tersebut. Bagi para pecinta fotografi, jangan lupa untuk menyempatkan waktumu untuk berkunjung ke kuil indah ini.
      Haedong Yonggungsa Temple ini memang terlihat berbeda daripada banyak kuil lainnya. Sebab, sambil menikmati keindahan kuil ini, kamu juga dapat mendengarkan indahnya suara deburan ombak dari lautan yang terletak persis di depan Haedong Yonggungsa Temple ini.
       
      10. Schwezigon Pagoda, Myanmar
       

       

      Shwezigon Pagoda via http://www.asiaexplorers.com/coverphoto/shwezigon.jpg
       
      Inilah dia candi menarik dan mengagumkan selanjutnya yag dapat kamu kunjungi. Ya, tempat ini merupakan Shwezigon Pagoda. Pagoda ini dibangun oleh Raja Anawrahta pada tahun 1090.
      Beberapa sumber menyatakan bahwa Raja Anawrahta tidak menyelesaikan pembangunan pagoda ini. Pembangunan pagoda ini kemudian diselesaikan oleh Raja Kyanzittha.
      Pagoda ini terletak di antara Desa Wetkyi-in dan Nyaung U. Pagoda ini dibangun untuk melengkapi replika empat gigi Buddha yang terdapat di Kandy (Srilanka), Pagoda Lawkananda dan Tan Kyi Taung Pagoda.
       
      11. Gakwonsa Temple, Korea Selatan
       

       

      Gakwonsa Temple via http://media-cdn.tripadvisor.com/media/photo-s/03/b2/b8/8f/gakwonsa-temple.jpg
       
      Inilah dia candi cantik selanjutnya yang terdapat di Korea Selatan. Candi Gakwonsa adalah sebuah candi Buddha yang terletak di Gunung Taejosan.
      Pada bagian pekarangan kuil, terdapat sebuah patung Buddha perunggu yang sedang duduk. Patung Buddha ini berukuran sangat besar dengan dimensi tinggi 15 meter, diameter 30 meter serta berat lebih dari 60 ton.
      Di belakang patung Buddha, kamu dapat langsung menyaksikan pemandangan puncak Gunung Taejosan. Para turis dapat menaiki tangga yang cukup curam jika ingin mencapai puncak Gunung Taejosan. Namun tenang saja, karena tentu kamu tetap dapat mendapatkan view yang indah walaupun kamu berada di dasarnya.
      Candi Gakwonsa dibangun pada tahun 1977 untuk mendoakan persatuan antara Korea Utara dan Korea Selatan. Candi ini masih menjadi salah satu candi tercantik di Korea Selatan hingga saat ini.
      Untuk mencapai Candi Gakwonsa kamu dapat menaiki bus bernomor 24 dan turun di pemberhentian terakhir. Kamu dapat menaiki bus bernomor 24 tersebut dari mulai terminal bus di pusat kota atau stasiun subway di pusat kota.
       
      Nah, itulah dia pembahasan mengenai candi terbaik di dunia yang menanti untuk kamu simbangi. Semoga artikel ini dapat membantumu untuk melihat banyak candi terbaik di dunia.
      Happy traveling!
    • By mznasrul
      Haloo......  selamat pagi.... 
      Sehat kan..?? alahamdulillah saya sehat 
      Udah lama tak share jalan2 di sini, karena bulan Agustus itu padat dengan agenda kampung jadi sepi sepi aja. 
      Saya mau share lagi, mumpung ada, ini nih ceritanya, copas aja dari blog saya www.lensanasrul.com
       
      VIDEO NYA NIH...!!!
      https://www.youtube.com/watch?v=6q_lhMME54A 
    • By marioboros
      Taman Nasional Tesso Nilo ,merupakan sebuah taman nasional yang berada di Provinsi Riau. Taman nasional dengan luas 38.576 hektar ini sudah diresmikan sejak 19 Juli 2004. Terdapat sekitar 360 jenis flora yang masuk dalam golongan 165 marga serta 57 suku, 23 jenis mamalia, 107 jenis burung, 50 jenis ikan, 3 jenis primata, 18 jenis amfibia, dan juga 15 jenis reptilia. Tesso Nio sendiri juga merupakan salah satu hutan dataran rendah yang dijadikan sebagai tempat tinggal 60 hingga 80 ekor gajah.







      Wisata pengamatan satwa dan flora



      Pemantauan kehidupan liar satwa dan flora menjadi sebuah hal yang menarik dari Tesso Nilo. Terdapat beberapa trek ekowisata yang difokuskan ke dalam pemantauan kehidupan liar ini, termasuk pada penggunaan pompong (perahu kecil) untuk melewati sungai. Pengamatan burung atau birding sendiri dilakukan di trek Lubuk Nalai, Kuala Napu serta Trek Sawan. Primata seperti halnya siamang, kera ekor panjang, serta wau wau juga banyak dijumpai di kawasan Sungai Nilo serta Lubuk Balai. Berada di lokasi trek ini Anda dapat menjumpai jejak-jejak dari gajah, beruang, tapir, hingga harimau Sumatera.



      Wisata paling menarik






      Salah satu kegiatan ekowisata dari Taman Nasional Tesso Nilo yang paling menarik serta cukup menantang bagi para wisatawan, yaitu observasi Harimau menggunakan Camera Trap atau jebakan kamera. Tujuan dari observasi ini antara lain untuk mendapatkan gambar dari Harimau Sumatera serta berbagai satwa lainnya yang akan tertangkap oleh kamera setelah kamera terpasang.
    • By enrymazni
      nah mau share info, bagi teman teman yang lagi berkunjung ke pekanbaru riau, bisa coba ne treking hutan dengan gajah di pusat latih gajah riau, seru banget loh... PLG berada lebih kurang 1 jam an dari kota pekanbaru yaitu daerah minas, untuk biaya treking nya 150.000/orang dengan lama treking sekitar 1 jam... jangan lupa mampir ya menikmati salah satu wisata riau.
    • By vie asano
      Saat berwisata ke Jepang, kalian mungkin akan tertarik untuk mengunjungi aneka kuilnya. Ya, wisata kuil memang menjadi salah satu daya tarik pariwisata Jepang, dan untuk kota-kota kuno seperti Kyoto, Nara, Kanazawa, maupun Kamakura; kuil justru menjadi daya tarik utama dari pariwisata di kota-kota tersebut.

      Faktanya, di Jepang memang banyak terdapat kuil dengan beragam ukuran, mulai dari kuil kecil berskala lokal, hingga kuil super besar yang mengundang wisatawan dari berbagai negara. Namun, tahukah kalian jika kuil di Jepang setidaknya terdiri dari 2 jenis, yaitu kuil Shinto dan kuil Buddha. Walau sama-sama terletak di Kyoto, kuil Kinkaku-ji (baca disini: Kinkaku-ji Temple part 1, Kinkaku-ji Temple part 2) berbeda dengan kuil Fushimi Inari Taisha, karena yang satu adalah kuil Buddha sementara yang lainnya merupakan kuil Shinto, dan itu bisa sangat membingungkan wisatawan yang ingin melakukan wisata kuil. Yang mana kuil Buddha? Yang mana kuil Shinto? Dan apa sih perbedaan di antara kedua jenis kuil tersebut?






      Kinkakuji, via
      forums.hardwarezone

      Memahami definisi kuil Shinto dan kuil Buddha

      Saat ini, diperkirakan ada sekitar 95,000 kuil Shinto dan kira-kira 86,000 kuil Buddha yang ada di seluruh Jepang. Untuk memahami perbedaan di antara kedua jenis kuil tersebut, yang pertama harus dilakukan adalah memahami apa itu kuil Shinto dan apa itu kuil Buddha. Perbedaan yang paling mendasar adalah fungsi utama dari kuil Shinto dan kuil Buddha. Kuil Shinto (dalam bahasa Inggris disebut “shrineâ€), merupakan sebuah kuil yang dibangun untuk memuja dewa (dalam bahasa Jepang disebut “kamiâ€) yang disembah dalam ajaran Shinto yang merupakan kepercayaan asli bangsa Jepang. Inti dari ajaran Shinto adalah mempercayai jika ada dewa di setiap tempat maupun di setiap elemen kehidupan, dan setiap manusia akan menjadi dewa setelah meninggal. Jadi jangan heran jika ada dewa besar yang disembah oleh banyak orang seperti dewi matahari, namun ada juga dewa-dewa lokal yang hanya dikenal oleh masyarakat di sebuah daerah.






      Sebagian dewa dalam ajaran Shinto, via
      dotmsr

      Sementara kuil Buddha (dalam bahasa Inggris disebut “templeâ€) merupakan kuil yang dibangun untuk tempat beribadah para penganut agama Buddha. Ajaran Buddha sendiri bukanlah ajaran asli di Jepang, melainkan dibawa dari Cina serta Korea dan baru masuk ke Jepang kira-kira pada abad ke-6. Ajaran Buddha cukup diterima oleh masyarakat Jepang yang memang terbuka dengan semua ajaran agama, walau sempat ada konflik diantara kedua kepercayaan tersebut pada permulaannya. Namun ajaran Shinto dan Buddha kemudian hidup berdampingan, dan untuk beberapa hal, terjadi akulturasi yang menyebabkan batas antara ajaran Shinto dan Buddha menjadi kabur. Hal ini akan saya jelaskan di bagian lain dari tulisan ini.






      Great Buddha di Kamakura, via
      onmarkproductions

      Penting nggak sih membedakan antara kuil Shinto dan kuil Buddha?

      Sebagai wisatawan, mungkin ada yang merasa nggak penting-penting amat mengetahui perbedaan antara kuil Shinto dan kuil Buddha. Toh kedua kuil tersebut sama-sama menarik untuk dikunjungi, dan akan terlihat keren saat diabadikan oleh kamera.

      Pandangan tersebut nggak salah, tapi juga nggak sepenuhnya benar. Memang benar, entah itu kuil Shinto maupun kuil Buddha, keduanya sama-sama menarik untuk dikunjungi. Tapi, kuil Shinto punya etika dan juga hal-hal penting yang harus diketahui oleh para pengunjung, termasuk wisatawan. Begitu juga dengan kuil Buddha, yang juga memiliki etika dan aturan tersendiri. Dengan mengetahui apakah kuil yang dikunjungi merupakan kuil Shinto atau kuil Buddha, setidaknya wisatawan sudah berusaha untuk menghormati tempat suci agama lain dan tahu apa yang boleh dan nggak boleh dilakukan disana. Dan, wisatawan juga akan mengetahui apa sih yang menarik dari kuil Shinto maupun kuil Buddha, dan itulah yang harus dicari saat berwisata kesana.

      Bagaimana cara membedakan kuil Shinto dan kuil Buddha?

      Berikut beberapa cara mudah untuk membedakan antara kedua jenis kuil.

      1. Masalah nama

      Membedakan kuil Shinto dan kuil Buddha bisa dilakukan dari segi nama. Kuil Shinto biasanya disebut dengan tambahan embel-embel “jingu†(神宮) –yang berarti kuil Shinto- di belakang namanya. Selain “jinguâ€, nama lain yang biasa dilekatkan di belakang nama kuil Shinto adalah “jinja†dan “taishaâ€.

      Contoh: Meiji-Jingu (baca disini: Meiji-Jingu Shrine part 1, Meiji-jingu Shrine part 2, Meiji-jingu Shrine part 3), Yasukuni Jinja (baca disini: Yasukuni Shrine part 1, Yasukuni Shrine part 2), dan Fushimi Inari Taisha.






      Meiji Jingu, via
      bluebalu.wordpress

      Sementara kuil Buddha, biasanya dibelakang nama kuil ditambahkan kata “ji†(寺) –yang berarti kuil Buddhaâ€. Alternatif lainnya, ditambahkan kata “tera†atau “deraâ€, dan kadang-kadang “inâ€.

      Contoh: Ryoan-ji (baca disini: Ryoan-ji Temple part 1, Ryoan-ji Temple part 2), Kiyomizu-dera (baca disini: Kiyomizu-dera Temple part 1, Kiyomizu-dera Temple part 2, Kiyomizu-dera Temple part 3), Byodo-in.






      Byodo-in temple, via
      shaneharderphotography

      2. Gaya Arsitektur

      Arsitektur di kuil Shinto sangat khas ala Jepang, karena kuil ini memang dibangun berdasarkan kepercayaan Shinto yang notabene merupakan kepercayaan asli masyarakat Jepang. Berikut beberapa fitur khas dalam arsitektur kuil Shinto:

      A. Gerbang kuil (torii), mayoritas dibuat berwarna merah-oranye dan hitam, kecuali jika torii dibuat dari bahan lain seperti kayu.






      Torii atau gerbang kuil, via
      digital-images

      B. Temizuya, tempat untuk menyucikan diri sebelum berdoa di kuil.






      Temizuya, via
      necessaryindulgences

      C. Bangunan utama kuil, terdiri dari honden (hall utama) dan haiden (hall permohonan). Honden dan haiden bisa disatukan dalam satu bangunan maupun dipisah, tergantung besar kecilnya kuil. Fungsi honden adalah untuk menyimpan benda yang disucikan dan tempat tersebut nggak bisa dimasuki oleh sembarang orang, sementara haiden adalah tempat untuk mengajukan permohonan pada dewa.






      Haiden di Omiya Atsuta Shrine, via
      Qurren/wikimedia commons

      D. Panggung, untuk menampilkan pertunjukan tari.






      Panggung di Yasaka Shrine, via
      japanryan.blogspot

      E. Ema, atau papan untuk menulis permohonan pada dewa.






      Ema, via
      injapan.gaijinpot

      F. Dekorasi khas seperti shimenawa, yaitu tali jerami yang dihiasi dengan kertas zigzag. Fungsi dari shimenawa ini untuk menandai sesuatu yang suci, seperti batu, pohon, gerbang kuil, dan lain-lain.






      Shimenawa, via
      traveljapanblog

      G. Dewa penjaga, ditempatkan di area pintu masuk kuil. Wujudnya bisa macam-macam, mulai dari anjing, singa, maupun rubah.






      Patung penjaga di kuil Nishinomiya, via
      greenshinto

      Mengenal ciri arsitektur pada kuil Shinto lumayan seru kan? Untuk kuil Buddha, akan saya lanjutkan di tulisan selanjutnya ya, dan teman-teman bisa melihat sendiri perbedaan antara kuil Shinto dan kuil Buddha.




      ***


      Selengkapnya:


    • By vie asano
      Melanjutkan tulisan , pada tulisan ini saya akan langsung menulis tentang ciri khas pada arsitektur khas yang ada di kuil Buddha di Jepang. Semoga dapat membantu wisatawan yang tertarik untuk melakukan wisata kuil saat berada di Jepang agar dapat membedakan antara kuil Shinto dan kuil Buddha.

      Untuk kuil Buddha, berikut fitur khas dalam bangunan kuilnya.

      A. Pintu gerbang, biasanya memiliki gaya arsitektur yang dipengaruhi dengan arsitektur Cina. Jumlah pintu gerbang dalam sebuah kuil Buddha bisa lebih dari satu, dan bisa terdiri berlapis-lapis tergantung banyaknya zona yang harus dilalui sebelum mencapai area kuil utama. Kadang gerbang kuil bisa berwarna monokrom, namun bisa juga didominasi dengan warna merah.






      Sanmon (salah satu gerbang penting) di kuil Tofukuji, via
      Fg2/wikimedia commons

      B. Osenko, atau tempat untuk membakar dupa. Banyak kuil Buddha menyediakan tempat khusus untuk membakar dupa sehingga ini menjadi sebuah fitur khas dalam arsitektur kuil Buddha di Jepang.






      Tempat membakar dupa di kuil Sensoji, via
      panoramio

      C. Hall utama, biasa disebut kondo, hondo, hatto, amidado, butsuden, dan lainnya. Merupakan tempat untuk menyimpan benda suci maupun benda pemujaan.






      Daibutsuden, hall utama di Todai-ji di kota Nara, via
      663highland/wikimedia commons

      D. Pagoda. Tingginya bisa 3 tingkat (disebut sanju no to) atau 5 tingkat (atau goju no to).






      Pintu gerbang kuil Sensoji dan pagoda, via
      daderot/wikimedia commons

      E. Lecture hall atau kodo, merupakan tempat pertemuan dan pembelajaran. Kadang disediakan juga area display untuk memajang obyek tertentuk.






      Kodo di Toji, via
      gracetheglobe.wordpress

      F. Lonceng kuil, dibunyikan bukan untuk menandakan waktu, melainkan untuk tujuan tertentu seperti pembersihan dosa.






      Lonceng kuil, via
      johnharveyphoto

      G. Patung penjaga atau nio, berbentuk sepasang patung yang biasa ditempatkan di pintu gerbang.






      Nio di Futagoji, via
      japantimes

      H. Kuburan. Banyak kuburan di Jepang yang ditempatkan menjadi satu dengan kuil Buddha, dan akhirnya menjadi salah satu ciri khas dari kuil Buddha di Jepang.






      Makam 47 ronin di Sengakuji, via
      muza-chan

      3. Pendeta Shinto vs Pendeta Buddha

      Membedakan kuil Shinto dan kuil Buddha juga bisa dilakukan dengan melihat pendetanya. Pendeta Shinto biasanya berdandan dengan gaya yang khas dengan topi yang khas pula. Para gadis kuil-nya, disebut miko, umumnya mengenakan seragam khas dengan perpaduan warna putih dan merah. Untuk momen tertentu, para gadis kuil ini kerap mengenakan kostum yang juga cukup mencolok.






      Pendeta Shinto, via
      bobkrist

      Sementara pendeta Buddha, biasanya tampil dalam gaya yang lebih sederhana, walau nggak selalu seperti itu. Yang pasti, seragam pendeta Buddha memiliki perbedaan dengan seragam pendeta Shinto seperti bisa dilihat dalam foto di atas dan di bawah ini.






      Pendeta Buddha di Jepang, via
      robovet

      Walau sudah ada perbedaan sebanyak itu, mengapa kuil Shinto dan kuil Buddha kadang masih sulit untuk dibedakan?

      Jika dilihat sekilas dari panduan yang sudah saya bagikan dalam tulisan bagian pertama dan kedua, harusnya nggak susah membedakan antara kuil Shinto dan kuil Buddha. Namun pada kenyataannya, nggak semudah itu membedakan antara kuil Shinto dan kuil Buddha.

      Mari mundur dulu ke masa beberapa ratus tahun silam. Shinto merupakan kepercayaan asli masyarakat Jepang yang usianya sudah sepanjang usia bangsa Jepang. Sementara Buddha merupakan agama pendatang. Saat ajaran Buddha mulai masuk ke Jepang, sempat terjadi pergesekan dan juga pergolakan di antara kedua agama tersebut. Namun lama kelamaan terjadi akulturasi yang menyebabkan ajaran Shinto dan Buddha seolah saling mendukung. Beberapa dewa Buddha dipuja juga oleh penganut Shinto, dan kuil Buddha di Jepang pun banyak mengadopsi elemen-elemen dalam kuil Shinto. Akibatnya, sudah sangat lazim jika ada kuil Shinto yang juga menjadi kuil Buddha, begitu juga dengan kuil Buddha yang memiliki kuil Shinto di dalam kompleks kuilnya; dan itulah yang menyebabkan beberapa kuil Shinto terlihat seperti kuil Buddha dan sebaliknya. Praktek penggabungan agama tersebut baru dihentikan sejak Restorasi Meiji dimulai pada tahun 1868.

      Berikut beberapa contoh kuil yang menjadi saksi sejarah akulturasi antara ajaran Shinto dan Buddha.

      1. Torii (pintu gerbang khas kuil Shinto) ini menjadi pintu gerbang kuil Shitenno-ji (kuil Buddha) di Osaka.






      via
      KENPEI/wikimedia commons

      2. Pagoda Seigantoji (kuil Buddha) yang berada satu kompleks dengan Nachi Taisha (kuil Shinto) di Kumano kodo.






      via
      cnn

      3. Jishu Jinja (kuil Shinto) berada dalam kompleks Kiyomizudera (kuil Buddha).






      Via
      panoramio

      4. Benzaiten shrine di taman Inokashira. Kuil Shinto ini dipersembahkan untuk memuja Benzaiten (dewi dalam agama Buddha yang juga adalah dewi Saraswati dalam agama Hindu).






      Via
      thomasgittel.wordpress

      Etika berkunjung ke kuil Shinto dan kuil Buddha

      Salah satu alasan mengapa wisatawan perlu mengetahui perbedaan antara kuil Shinto dan kuil Buddha, adalah untuk mengetahui etika yang berlaku saat mengetahui kedua jenis kuil tersebut. Terlepas dari apakah kalian tertarik untuk melakukan ritual di kuil atau tidak, nggak ada salahnya mengetahui detail etika/ritual untuk menghormati masing-masing tempat suci. Detailnya adalah sebagai berikut.

      Etika ritual di kuil Shinto
      1. Masuk ke area kuil melalui torii.
      2. Sebelum masuk lebih lanjut ke area kuil, bersihkan diri dulu di temizuya. Caranya:
      - Ambil gayung dengan tangan dan tuangkan ke tangan kiri.
      - Lalu pindahkan gayung ke tangan kiri, dan bersihkan tangan kanan.
      - Pindahkan lagi gayung ke tangan kanan, dan tuang air ke tangan satunya lagi untuk dimasukkan ke dalam mulut dan berkumurlah.
      - Bersihkan tangan kiri sekali lagi, dan letakkan gayung kembali ke tempatnya dengan posisi menghadap ke bawah.
      3. Jika ingin ikut berdoa di kuil, masukkan koin ke kotak sumbangan yang telah disediakan di depan altar.
      4. Goyangkan lonceng (jika nggak ada lonceng langkah ini bisa dilewat), bungkukkan badan dua kali, tepukkan tangan 2 kali, dan kemudian berdoa dengan posisi tangan tetap terkatup. Akhiri dengan membungkukkan badan sekali lagi untuk penutupan. Prosesi menggoyangkan lonceng bertujuan untuk menarik perhatian dewa.

      Catatan: aturan berdoa bisa berbeda untuk setiap kuil. Langkah di atas hanya untuk gambaran umum saja.






      Menggoyangkan lonceng untuk memanggil dewa di kuil Shinto, via
      wholeheartedmen

      Etika ritual di kuil Buddha
      Biasanya, kuil Buddha di Jepang nggak punya aturan berdoa yang baku layaknya kuil Shinto. Kira-kira gambaran ritualnya seperti ini.
      1. Masuk ke area kuil melalui pintu gerbang.
      2. Perhatikan sekitar kalian. Jika kuil tersebut memiliki temizuya, sucikan diri terlebih dulu dengan mengikuti langkah-langkah seperti saat mengunjungi kuil Shinto. Namun jika kuil hanya menyediakan tempat untuk membakar dupa, bakarlah dupa di tempat yang telah disediakan dan biarkan asapnya menyelimuti kalian.
      3. Acara berdoa di kuil Buddha di Jepang jauh lebih tenang dibanding kuil Shinto, jadi kalian nggak perlu menepukkan tangan saat akan berdoa. Dan jangan coba-coba membunyikan lonceng di kuil ya, karena lonceng di kuil Buddha hanya dibunyikan pada saat tertentu saja.







      Berdoa di kuil Zojoji, via
      artery.wbur

      Semoga informasinya bermanfaat!



      ***


      Selengkapnya: