alex13200

Osaka Station City Fountain

4 posts in this topic

clock.JPG

Gambar di atas itu sebenarnya di buat oleh air mancur. Air mancur ini berada di Osaka Station City. Osaka station ini adalah stasiun kereta api tapi bergabung juga dengan pusat perbelanjaan. Air mancur ini dibuat oleh Koei Industry. yang bikin air mancur ini unik adalah komputer program di air mancur ini yang dapat memunculkan gambar2 dari komputer. Jadi setiap menit air mancur ini akan memunculkan gambar yang beda2 sperti karya seni dan waktu. Jadi air mancur ini seperti printer dengan tinta air. Kayaknya sih baru ada di sini tapi kemungkinan nanti akan dibuat untuk negara2 lain. Lebih unik daripada ngeliat monitor lcd yang besar, karena ini termasuk teknologi yang baru. Katanya sih nanti akan ada di Las Vegas juga. Ini ada videonya dari youtube..

Share this post


Link to post
Share on other sites

Wah gokil sich ini.. emang mantab nich Jepang, bisa aja dia bikin yang unik-unik begini. Emang enaknya itu jaman sekarang orang-orang lebih memanfaatkan teknologi dan menggabungkan dengan keindahan dan lain-lain biar bisa muncul makin banyak yang seperti ini.

Share this post


Link to post
Share on other sites

wah...kereeeen, menikmati hujan turun aja sungguh menyenangkan apalagi air mancur dengan berbagai macam gambar dan display waktu...ahhh Jepang bikin ngiri aja, meski masih bernuansa hitam-putih namun tidak mengurangi keindahannya, guyuran air mancurnya sangat menghibur pengunjung yg berada di kawasan Osaka Station City. two tombs deh :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

  • Similar Content

    • By vie asano
      Jepang selalu dikenal sebagai salah satu negara teraman di dunia. Biasanya, pembandingnya adalah tingkat kejahatan di Jepang yang jauh lebih kecil dibanding Amerika, serta image bahwa orang Jepang jauh lebih saling peduli dan cukup aktif membantu wisatawan asing dibanding orang Amerika. Sehingga predikat Jepang adalah negara yang aman begitu melekat dan seolah menjadi merk dagang bagi negara tersebut, dan sukses menarik banyak wisatawan asing untuk berkunjung ke negara ini.
      Pertanyaannya: Benarkah Jepang adalah negara yang betul-betul aman?
      Mari kita mulai dari mitos tentang keamanan di Jepang yang mudah didengar di berbagai forum:
      1. Jepang itu aman banget. Buktinya, kita bisa meninggalkan handphone maupun tas untuk menandai meja dan kursi di restoran tanpa takut akan hilang.
      2. Polisi di Jepang cepat tanggap kalau ada laporan, dan mereka rutin berkeliling menggunakan sepeda sehingga lingkungan di Jepang relatif aman.
      3. Sangat aman berjalan di malam hari, untuk wanita sekalipun, karena Jepang memang negara yang aman.
      4. Kalau kita kehilangan barang, tinggal lapor polisi saja. Biasanya yang menemukan barang tersebut akan mengantarkannya ke pos polisi terdekat.
      5. Konon, banyak orang mabuk sampe tidur di pinggir jalan, tapi mereka nggak kehilangan dompet, barang bawaan, maupun baju. Beda banget sama di Amrik sana!
      Dan banyak lagi mitos lainnya tentang keamanan di Jepang, khususnya yang biasa didengar oleh wisatawan asing.
        Itu baru mitos. Sekarang kita bicara tentang fakta-fakta tentang tingkat kejahatan di Jepang untuk membuktikan “benarkah Jepang adalah negara yang aman?
      1.Tingkat kejahatan di Jepang memang terbilang kecil. Kabarnya, jika dirata-ratakan, kurang dari 1 orang terbunuh dari setiap 100,000 populasi. Tepatnya, 0,83/100,000 per-tahun. Sangat kecil jika dibandingkan dengan angka rata-rata di Amerika (4,8) yang berarti 5,7 kali lebih tinggi dibanding Jepang.
      2.Jika dirata-ratakan dari 10 tingkat kejahatan yang biasa terjadi (diantaranya adalah perampokan, pencurian, dan pemerasan), tingkat kejahatan di Jepang berada di urutan kedua terendah dibawah Spanyol. Untuk kejahatan berat pun (seperti pemerkosaan dan pembunuhan) rata-rata tingkat kejahatan di Jepang termasuk salah satu yang terendah di dunia.
      3.Senjata api termasuk ilegal di Jepang, jadi tak sembarang orang bisa memilikinya.
      Dari uraian di atas, bisa disimpulkan jika tingkat kejahatan di Jepang memang relatif rendah, sehingga mungkin ada benarnya jika Jepang dikategorikan sebagai negara yang aman untuk dikunjungi.
      Diagram Crime Victim Rates yang disusun berdasarkan data tahun 2006 dan 2009. Foto:
      sumber Lalu, bagaimana realita tentang tingkat kejahatan di Jepang?
      Sebetulnya, kejahatan ada dimana saja. Walau Jepang di klaim sebagai negara yang aman, kejahatan tetap saja ada dan bisa menghampiri siapa saja. Kejahatan ringan seperti pencurian dan penjambretan, hingga kejahatan berat seperti pemerkosaan dan pembunuhan, masih saja ada di negara ini (walau jumlahnya kecil). Dan jangan lupakan juga beberapa kasus yang terbilang besar pernah terjadi di JEpang, contohnya seperti kasus Tokyo Sarin Gas Attack (1995). Serangan gas di berbagai kereta Tokyo Metro menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 1000 orang. Lalu ada peristiwa Akihabara Massacre (2008), dimana seorang pria berlari ke kerumunan dan menikam orang-orang. 6 pria dan 1 wanita tewas, dan 11 lainnya terluka. Dan masih ada beberapa contoh kejahatan lainnya yang membuktikan jika Jepang tak sepenuhnya aman. Oya, tambahan lainnya, ingat juga jika di Jepang masih ada beberapa kelompok yakuza yang identik dengan dunia hitam. Kesimpulannya: tak ada negara yang benar-benar aman, bahkan Jepang sekalipun.
      Diagram berbagai tingkat kejahatan pencurian di Jepang. Foto:
      sumber Saya ingin coba mengangkat masalah tingkat kejahatan di Jepang dan menghubungkannya dengan berbagai tindak kriminal yang kerap menyasar wisatawan asing. Dalam konteks travelling, berikut ini beberapa kasus kriminal yang beberapa kali terjadi di Jepang dan sayangnya, menimpa wisatawan asing.
      1. Scamming
      Kasus ini terbilang paling sering menimpa wisatawan asing, khususnya yang mencari hiburan malam maupun berniat menjelajah daerah-daerah yang terbilang rawan di Jepang (ya, bahkan di Jepang pun ada daerah yang tergolong rawan). Bahkan pemerintah Amerika pernah mengeluarkan travel warning ke Jepang berkaitan dengan hal tersebut. Biasanya beberapa modus yang digunakan adalah sebagai berikut:
      -Membujuk wisatawan untuk masuk ke sebuah bar (biasanya menggunakan gadis cantik, pria tampan, maupun penyebar selebaran), dan ternyata total tagihan di bar tersebut melebihi dugaan.
      -Meminta wisatawan untuk membayar menggunakan kartu kredit, namun ternyata yang ditagihkan melebihi seharusnya.
      -Memanfaatkan kelengahan wisatawan untuk menyelipkan sejumlah charge ekstra.
      -Membuat wisatawan mabuk di bar maupun di club, dan berbagai hal buruk lainnya akan menyusul (mulai dari dompet hilang, tagihan diluar kewajaran, pencurian kartu kredit, terbangun di pinggir jalan, dan banyak lagi).
      Bagaimana jika wisatawan tak bisa membayar apa yang ditagihkan pada mereka? Untuk bar dan pusat hiburan malam maupun dewasa, perlu diketahui jika tempat tersebut rata-rata dilindungi oleh kelompok yakuza tertentu. Setiap kali ada yang membuat masalah, maka akan berurusan dengan kelompok yakuza tersebut.
      Suasana di sebuah host club di Tokyo. Foto:
      sumber 2. Pelecehan seksual
      Walau terbilang aman, bukan berarti Jepang 100% aman, dan kasus wanita yang dilecehkan di depan umum bukan termasuk hal baru. Salah satu tempat yang paling rawan akan pelecehan adalah di kereta api, khususnya pada jam sibuk (dan dinamakan chikan). Biasanya yang menjadi sasarannya adalah para wanita, dan wanita asing pun tak luput dari resiko chikan.
      Kedua jenis kejahatan tadi termasuk yang paling sering menimpa wisatawan. Namun, bukan berarti itu tak bisa dihindari. Kunci utamanya adalah jangan lengah, tetap waspada, dan percaya pada common sense kalian. Dan yang paling penting, sebisa mungkin hindari daerah-daerah yang dianggap rawan, yang detailnya akan saya bagikan dalam tulisan lainnya. Semoga informasinya bermanfaat!
    • By vie asano
      Lagi-lagi blogwalking di blog forum kita tercinta ini memberikan ide untuk menulis. Setelah sebelumnya saya dapat ide dari blog mimin Jalan2 untuk menulis tentang Seoul Shopping Guide, belanja dimana? (terinspirasi dari tulisan Uniknya Oleh-oleh khas Singapura), kali ini tulisan di blog mimin yang berjudul Sebelum Datang ke Malaysia, yuk Mengenal Ringgit membuat saya tergelitik untuk melihat-lihat lagi isi blog ini. Ternyata, setelah sekian ratus postingan, ternyata saya sama sekali belum pernah mengulas tentang mata uang Jepang. Ding dong. Padahal mengena mata uang sebuah negara yang akan menjadi tempat tujuan wisata termasuk salah satu hal yang paling essensial. Paling penting. Sama pentingnya dengan mencari tahu model colokan listrik yang berlaku di negara tersebut agar kita bisa men-charge gadget (eh?). Jadi intinya, kali ini saya ingin berbagi serba-serbi mata uang yang berlaku di Jepang, yaitu yen.
      Sebelumnya ada yang bertanya-tanya nggak, kenapa sih harus mengenal mata uang Jepang? Bukankah berbekal kartu sakti berlogo jaringan kartu internasional saja sudah menjadi jaminan kemudahan dalam sistem pembayaran? Jangan salah. Walaupun Jepang merupakan negara yang super canggih dan sangat maju, dalam hal pembayaran mereka masih tergolong tradisional. Masyarakat Jepang sudah sangat dikenal sebagai cash society. Hampir semua hal yang membutuhkan pembayaran menerima uang cash. Mengeluarkan kartu kredit saat akan membeli minuman di konbini (convenience store) hanya akan membuat kasir menolak Anda. Dan vending machine pun dengan angkuhnya menolak kartu kredit dan lebih menerima pinangan uang receh. Jadi jangan dulu bangga jika Anda berbekal kartu kredit saat berwisata ke Jepang, karena bisa jadi kartu tersebut hanya tidur manis di dalam dompet tanpa sempat dikeluarkan.
      Sekilas info
      Sudah pada tahu kan kalau Yen merupakan mata uang khas Jepang? Namun apakah teman-teman tahu cerita dibalik Yen? Yen ini baru resmi digunakan oleh bangsa Jepang pada tanggal 10 Mei 1871. Inspirasi utamanya berasal dari koin silver dollar yang awalnya digunakan di Hong Kong. Nama “yen†sendiri memiliki makna benda bulat (yang diambil dari bentuk koin).
      Cara menyebut yen
      Sekalipun namanya adalah yen, namun jangan menyebut nominal tertentu dengan embel-embel yen dibelakangnya ya. Yen dibunyikan sebagai en (dibunyikan eng), jadi jika ingin menyebut nominal tertentu dalam bahasa Jepang, sebutlah sejumlah angka+en. Yang biasa menggunakan kata yen di belakang angka adalah orang asing yang berada di luar Jepang, namun tetap saja jika ingin menyebutnya dalam bahasa Jepang, ganti menjadi akhiran en.
      Pecahan Yen
      Mata uang Yen terdiri dari uang kertas dan uang logam. Untuk uang logam, pecahannya mulai dari 1 yen, 5, 10, 50, 100, dan 500 yen. Sebetulnya masih ada pecahan lainnya yang disebut sen, dimana 1 yen = 100 sen. Namun sen jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan baru digunakan untuk kasus tertentu seperti menghitung stock barang. Uang receh (koin) termasuk penting untuk diketahui oleh wisatawan karena berbagai transaksi umum banyak yang melibatkan uang receh, mulai dari membeli di vending machine, menyewa locker, hingga membeli tiket. Memang sih ada mesin penukaran uang yang dapat menukar uang kertas ke uang logam agar Anda bisa melanjutkan transaksi menggunakan koin, namun tetap saja wisatawan yang akan pergi ke Jepang wajib mengenal koin-koin di sana. Penampakan koin yen kurang lebih sebagai berikut:
      Foto 01:
      Uang logam Jepang. Deretan atas terdiri dari 1, 5, 10 yen. Deretan bawah terdiri dari 50, 100, dan 500 yen [foto: Tokyoship/wikimedia]
      Sedangkan untuk uang kertas, pecahannya dimulai dari 1000 yen, 2000 (sangat jarang digunakan maupun ditemukan), 5000, dan 10000. Penampakannya sebagai berikut:
      Foto 02:
      Uang kertas di Jepang [foto: Tokyoship/wikimedia]
      Kamus singkat
      Berikut contekan cara menyebutkan angka dalam bahasa Jepang.
      Angka-angka dasar
      1 = ichi
      2 = ni
      3 = san
      4 = yon/shi
      5 = go
      6 = roku
      7 = nana/shichi
      8 = hachi
      9 = kyu
      10 = ju
      11 = ju-ichi
      15 = ju-go
      50 = go-ju
      100 = hyaku
      1000 = sen (seng)
      10000 = man (mang)
      Jika diaplikasikan dalam mata uang
      10 yen = ju-en (ju-eng)
      50 yen = go-ju-en (go-ju-eng)
      100 yen = hyaku-en (hyaku-eng)
      200 yen = ni hyaku-en
      300 yen = san-byaku-en (sang-byaku-eng). Khusus untuk 300, 600, dan 800 penyebutannya agak berbeda.
      500 yen = go hyaku-en
      600 yen = rop-pyaku-en (rop-pyaku-eng)
      800 yen = hap-pyaku-en (hap-pyaku-eng)
      1000 yen = sen-en (seng-eng)
      5000 yen = go-sen-en (go seng-eng)
      10000 yen = ichi-man-en (ichi-mang-eng).
      20000 yen = ni-man-en (ni mang-eng)
      50000 yen = go-man (go mang-eng)
      Dan seterusnya
      Contoh yang agak rumit = 10350 yen, dibaca ichi-man san-byaku go ju-en
      Menukar mata uang
      Banyak blog wisata yang menyarankan wisatawan tak perlu repot-repot menukarkan uang ke dalam yen sebelum pergi ke Jepang. Saya berpendapat sebaliknya. Sebelum pergi ke Jepang, tukarkan dulu yen di Indonesia. Kenapa? Hal yang paling mendasar adalah tidak semua money changer menerima rupiah. That's it. Jadi lebih baik berbekal segepok uang yen dibanding harus menggelandang karena sulitnya mencari money changer yang menerima rupiah (untunglah Jepang termasuk salah satu negara teraman di dunia!).
      Namun jika terpaksa harus menukar uang di Jepang, rate terbaik ada di sekitar airport. Jadi jangan menunggu sampai kehabisan yen. Begitu tiba di Jepang, sebaiknya carilah money changer di sekitar airport. Bisa juga menarik uang di ATM, namun perlu diperhatikan tidak semua ATM di Jepang menerima kartu yang berasal dari luar. Pengalaman saya sih kartu BC* bisa digunakan untuk menarik uang di ATM Jepang.
      Tips: Mengingat di Jepang uang receh sangat diperlukan, sebisa mungkin tariklah uang dalam nominal yang kecil atau nominal tanggung. Misalnya saja, menarik uang 9000 yen dibanding 10000. Tujuannya agar Anda mendapat uang 9x1000 yen, karena lebih mudah merecehkan uang 1000 yen dibanding 10000 yen.
      Tips tambahan lainnya
      Sekalipun kartu kredit belum diterima secara luas, namun bukan berarti kartu kredit tak bisa digunakan sama sekali lho. Jadi jangan langsung meninggalkan koleksi kartu kredit Anda di Indonesia dan berbekal sekoper uang yen. Kartu kredit cukup diterima di toko-toko besar, hotel besar, dan transaksi di sekitar bandara. Diluar itu, untuk membeli minuman ringan maupun masuk ke sebuah obyek wisata, uang receh masih berkuasa disana.
      Alternatif lainnya, belilah kartu IC seperti SUICA. Akhir-akhir ini kartu IC mulai banyak diterima sebagai alat pembayaran terutama di konbini, vending machine, dan pada moda transportasi pubik.
      Demikian sekilas info tentang uang di Jepang. Memang sih masih basic banget, namun mudah-mudahan cukup memberikan gambaran tentang mata uang yen. Semoga informasinya bermanfaat!
      ***
      *Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
    • By Bluebell
      Osaka 18 - 20 Agustus 2018
      Ramenkiou
      Saya diajak teman saya untuk mencoba ramenkiou di daerah tanimachi 9.. dan kita memesan gyoza
      Ramen nya menurut saya kuah nya enak... dan gyoza nya kurang banget (alias ga enak)




      Shirasagido
      Lalu kita mencoba dessert jepang yaitu mochi dan ice cream matcha.. beda banget mochi nyaaaaa... lembut dan enak...
      Shirasagido ini berada tepat di seberang hajime kastil
       
       






      Cremia
      Setelah mencoba dessert coba.. kami jalan lagi dan mata saya melihat ice cream "cremia".. saya langsung membeli.. cone nya beda karena cone nya dari biskuit tp sangat disayangkan es krimnya mencair.. huhhh...



    • By Bluebell
      Akhirnya saya bersama orang tua bisa ke Jepang juga.. setelah dibantu oleh ko Erick (member sini tp saya lupa namanya)
      Saya travelling dari tgl 17 agustus - 27 agustus 2018.
       
      Hari pertama, 17 agustus 2018
      Sesampainya di bandara osaka, berhubung saya sampai di osakanya malam jam 11 malam lalu paginya saya harus ambil osaka amazing pass makanya melalui diskusi sama ko Erick, saya memutuskan menginap di ruang tunggu bandara osaka. Sewaktu mendarat, saya senang banget campur capek.. lalu ambil bagasi.. dan mencari dimana aeroplaza...
      Karena masih blank.. akhirnya tanya petugas informasi arah ke aeroplaza.
      Sesampainya disana cuma baru melihat lawson tetapi tdk melihat ruang tunggunya..
      Lalu akhirnya saya beli onigiri berikut minuman di lawson.. begitu keluar lawson baru melihat kalo seberang lawson ada tulisan ruang tunggu. Ternyata ruang tunggu nya terpencil banget..
      Lalu kita tidur lah di ruang tunggu...
       
       
      Bersambung... lagi di sewa kimono...

    • By Aleyna Azzahra
      Hi, aku lagi cari teman travelling ke Jepang kira-kira tanggal 9-15 Desember 2018. Nanti nginep di hostfam, kita bisa cari bareng-bareng di Couchsurfing.
      Rencananya mau ke Disneyland, Lake Kawaguchiko (Fuji), Ueno Zoo, dll
      Kalau tertarik bisa contact ke ID LINE aleynazhr, don’t hestitate to contact me ya! Kalau bisa secepatnya, mumpung ada promo dari Airasia!
      FYI, aku mahasiswi, umur 19 tahun. Kalau bisa travelmatenya juga seumuran, tapi kalo engga, juga gapapa!
    • By vie asano
      Udah lama nggak jalan-jalan ke Jepang secara virtual, ada rasa kangen juga terhadap negara gudangnya monster tersebut (menurut versi Kamen Rider, Ultraman, dan Power Ranger yah). Dan secara nggak sengaja saya menemukan sebuah topik yang menurut saya menarik banget untuk dibagi dalam blog ini, yaitu tentang sebuah kota yang tidak tercantum dalam peta Jepang.
      Sewaktu saya menemukan topik tersebut, imajinasi liar langsung melayang pada manga Eden no Ori (dalam versi Indonesia berjudul Cage of Eden), yang menceritakan tentang sebuah pulau yang dipenuhi oleh berbagai hewan prasejarah. Pulau tersebut sangatlah misterius sampai-sampai tidak tercantum dalam peta dunia, dan belakangan diketahui pulau itu sengaja dirahasiakan karena satu dan lain hal (kalau saya sebut disini nanti jadi spoiler dong). Masalahnya, pulau dalam Eden no Ori adalah pulau terpencil. Mengingat selama ini Jepang dikenal sebagai negara yang sangat maju, apakah betul di Jepang ada sebuah kota yang tidak tercantum dalam peta?
      Dan voila, ya, memang ada sebuah kota di Jepang yang sengaja tidak dicantumkan dalam peta Jepang. Adalah Kamagasaki, nama sebuah kota dalam kota yang keberadaannya tidak diakui oleh pemerintah Jepang, bahkan karena satu dan lain hal cenderung ditutup-tutupi. Penasaran seperti apa Kamagasaki itu?
      Sekilas tentang Kamagasaki
      Kenapa saya tulis Kamagasaki sebagai kota dalam kota? Karena Kamagasaki memang bukan kota yang sesungguhnya. Tempat ini merupakan sebuah kawasan yang menjadi bagian dari Distrik Nishininari di Osaka, tepatnya terdiri dari area Nishinari-ku Taishi, Haginochaya, Sanno, North Hanazono, dan Tengachaya. Nama Kamagasaki sudah ada sejak tahun 1922, namun nama resmi tempat ini adalah Airin-chiku (digunakan sejak tahun 1966). Luasnya kurang lebih mencapai 1-2 kilometer persegi.
      Seperti apa Kamagasaki itu?
      Berbanding terbalik dengan image Jepang sebagai negara modern, dan khususnya image Osaka sebagai salah satu kota terbesar di Jepang, Kamagasaki merupakan area kumuh terbesar di Jepang. Karena dianggap tidak sesuai dengan standar hidup penduduk Jepang pada umumnya, area Kamagasaki kemudian dianggap tidak ada oleh pemerintah Jepang. Bahkan pemerintah Osaka tidak mengijinkan nama Kamagasaki muncul dalam peta resmi, dan tercatat beberapa kali ada usaha dari pemerintah untuk membatasi penyebutan nama Kamagasaki dalam berbagai media (termasuk menarik sebuah film berjudul Fragile dari Osaka Asian Film Festival karena film tersebut menyorot kawasan Kamagasaki). Akibatnya, nama Kamagasaki hanya muncul dari mulut ke mulut saja dan tidak diketahui dengan pasti berapa jumlah penduduk disini walau ada yang memperkirakan sekitar 30000 populasi yang ada di Kamagasaki.
      Foto 01 (a-d.):
      Kamagasaki [foto: Kounosu/wikimedia, Kamagasaki450/wikimedia, Kounosu/wikimedia, Kamagasaki450/wikimedia]
      Apa saja yang ada di Kamagasaki?
      Saat ini, populasi di Kamagasaki didominasi oleh para pengangguran, pekerja paruh waktu, maupun pekerja kasar. Tak sedikit dari mereka yang datang ke tempat ini setelah di PHK oleh perusahaan tempat mereka bekerja, sekedar melarikan diri dari kenyataan hidup, bahkan ada juga yang sengaja lari untuk menghindari jeratan hukum. Jadi tak heran jika pemandangan tuna wisma (mayoritas sudah berusia lanjut) tidur di pinggir jalan menjadi pemandangan yang wajar ditemukan di Kamagasaki, termasuk pemandangan antrian para tuna wisma yang ingin mendapat makanan cuma-cuma dari lembaga/yayasan non-profit. Pemandangan lain yang biasa ditemukan di Kamagasaki adalah banyaknya hotel murah yang dikenal dengan istilah doya. Begitu juga dengan bar murah, dan orang-orang yang berkumpul di taman untuk menyaksikan TV bersama-sama.
      Foto 02:
      (a.) Airin Hello Work [foto: Ogiyoshisan/wikimedia], (b.) Liberation Hall di Kamagasaki [foto: Kamagasaki450/wikimedia], (c-d.) Contoh penginapan murah di Kamagasaki [foto: Kamagasaki450/wikimedia]
      Walau begitu, di Kamagasaki juga tetap bisa ditemukan adanya sekolah seperti SMP dan sekolah Teologi. Ada juga beberapa bangunan lain seperti Nishinari Labor Hello Work, Airin Labor and Welfare Center, dan Nishinari Citizen Center. Kamagasaki juga memiliki beberapa hari besar seperti Kamagasaki May Day (1 Mei), Kamagasaki Summer Festival (13-15 Agustus), Come Here Festival, aneka konser, dan lain-lain. Intinya, walau Kamagasaki bukanlah tempat yang biasa dibayangkan dari negara Jepang, dan juga bukanlah tempat tujuan wisata favorit untuk warga setempat sekalipun, tempat ini cukup menarik untuk diketahui oleh mereka yang ingin mengenal Jepang yang sesungguhnya.
      Foto 03:
      (a.) Summer Festival [foto: Kamagasaki450/wikimedia], (b.) Come Here Festival [foto: Kamagasaki450/wikimedia], (c.) Twilight Concert [foto: Kamagasaki450/wikimedia], (d.) Yotteki Festival [foto: Kamagasaki450/wikimedia]
      Apakah Kamagasaki berbahaya?
      Sebetulnya, tergantung dari definisi berbahaya bagi masing-masin orangg. Memang di tempat ini tercatat pernah terjadi beberapa kali kerusuhan, termasuk bentrokan dengan pejabat kepolisian setempat. Di Kamagasaki juga menjadi tempat berkumpulnya para anggota yakuza, dan nggak sedikit juga yakuza yang bermarkas di area ini (konon jumlahnya mencapai 90 kantor yakuza). Belum lagi di area ini tingkat konsumsi alkoholnya sangat tinggi, dan mayoritas penduduknya pun berjenis kelamin laki-laki sehingga nyaris tak ada ruang untuk perempuan (kecuali yang punya kepentingan bisnis di Kamagasaki). Tak heran jika kaum perempuan bisa jadi akan merasa kurang nyaman berada di area ini.
      Foto 04 (a-d.):
      Suasana demo di Kamagasaki [foto: Kamagasaki450/wikimedia]
      Walau begitu, penduduk Kamagasaki sebetulnya cukup ramah, punya ikatan persahabatan yang kuat, dan juga berpendidikan. Minimal bisa baca dan tulis. Rata-rata rutinitas harian mereka diawali dengan membaca koran, dan karena mereka umumnya merupakan korban dari krisis ekonomi, tak sedikit penduduk Kamagasaki yang punya pandangan luas dalam bidang politik maupun ekonomi. Jauh lebih luas dari rata-rata pekerja kantoran sehingga menarik dijadikan teman bertukar pikiran. Jadi tak sedikit juga orang yang akhirnya lebih suka menggunakan kata “unik†untuk menjelaskan tentang Kamagasaki setelah bersentuhan langsung dengan penduduk setempat.
      Kenapa saya berbagi tentang Kamagasaki?
      Ada satu alasan mengapa saya tertarik menulis tentang Kamagasaki. Saya ingin memberikan informasi saja bahwa negara semodern Jepang pun bukanlah sebuah negara yang sempurna. Jadi jangan terlalu berkiblat pada luar negeri dan menjelekkan negeri sendiri, karena belum tentu negara lain sebagus kelihatannya. Lebih baik fokus membangun negeri sendiri, betul nggak?
      Oya, bagi yang tertarik melihat langsung Kamagasaki, tempat ini bisa dicapai diantaranya melalui Stasiun Shin-Imamiya (Nankai Main Line, Koya Line, Osaka Loop Line), Stasiun Imaike (Hankai Line), Stasiun Dobutsuen-mae (Midosuji Line, Sakaisuji Line). Semoga informasinya bermanfaat yah.
      ***
      * Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.