Sign in to follow this  
Followers 0
Skyfall

Jalan2 ke Pasar Apung di Bangkok

9 posts in this topic

Bukan hanya Banjarmasin di Indonesia yang punya pasar apung (ada yang pernah bahas di thread ini). Kota Bangkok di Thailand juga punya pasar apung. Tapi jalan2ers jangan tanya, siapa yang duluan punya pasar apung ini, karna saya pun tak tau jawabannya. Ada jalan2ers yang tau?

Pasar apung ini bernama Amphawa, berlokasi di downtown Provinsi Bangkok, distrik Thonburi. Dapat ditempuh dari pusat kota Bangkok selama 2jam perjalanan darat. Pasar ini mengapung di atas kanal (dalam bahasa local: Khlong) yang merupakan anak sungai Chao Praya.

201210-w-canal-cities-bangkok.jpg?1349453139

Sumber Gambar

Pasar apung Amphawa hanya buka pada sabtu sore dan minggu sore saja. Pedagang di sana biasanya mulai beraktifitas jam 3sore, dengan menggelar mulai dari seafood, jajanan pasar, pernak-pernik, hingga souvenir dengan harga yang miring. Walaupun begitu, kanal dan pasarnya terawat cukup bersih, karena warga Thailand lebih banyak mengunjungi pasar apung ini dibanding wisatawan mancanegara.

Menurut informasi, tidak mudah untuk menuju pasar ini, mengingat lokasinya yang berada di luar pusat Kota Bangkok. Silahkan pilih antara beberapa kali pindah bus atau sewa taksi dengan harga THB1200 (harga tahun 2011). Harap diingat, THB1=IDR315.

Jalan2ers sudah pernah ke pasar apung ini ataupun pasar apung yang lain di Thailand?

Sumber: mytravelnotes

Share this post


Link to post
Share on other sites

Wah, kirain cuma kita aja yang punya pasar apung.

hahahaha....

ternyata thailand juga punya.

bearti, thailand juga seperti kalimantan yah, menggunakan sarana sungai sebagai transportasi utama.

Share this post


Link to post
Share on other sites

pernah liat neh di drama korea Princess Hours pas si pangeran koreanya lagi berkunjung ke thailand ada adegan di pasar apung ini :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Wah, kirain cuma kita aja yang punya pasar apung.

hahahaha....

ternyata thailand juga punya.

bearti, thailand juga seperti kalimantan yah, menggunakan sarana sungai sebagai transportasi utama.

Kesannya boleh tradisional banget, tapi ternyata Thailand sama tradisionalnya dengan Indonesia kok mas, walopun Thailand itu adanya di luar negeri haha.

Yak bener, ada beberapa daerah di Thailand yang di dalam kotanya dilewati sungai besar ataupun kanal. Bahkan ada banyak canal tourism loh mas di Thailand, jadi semacam jalan2 di Thailand menyusuri sungai2 yang ada disana. Sayang sekali di Indonesia belum ada wisata kayak gini.

Share this post


Link to post
Share on other sites

pernah liat neh di drama korea Princess Hours pas si pangeran koreanya lagi berkunjung ke thailand ada adegan di pasar apung ini :D

Buahahaha, mas nya nonton drama korea, hati2 mas kecantol cewek korea, rada susah tuh nemuin yang begituan di Indonesia. :D

Oh ya ada? Di season 1 apa season 2 nya mas? Ntar saya mau tanya adik saya yang juga demen nonton drama korea deh.

Share this post


Link to post
Share on other sites
On 11/14/2012, 10:16:56, Skyfall said:

Bukan hanya Banjarmasin di Indonesia yang punya pasar apung (ada yang pernah bahas di thread ini). Kota Bangkok di Thailand juga punya pasar apung. Tapi jalan2ers jangan tanya, siapa yang duluan punya pasar apung ini, karna saya pun tak tau jawabannya. Ada jalan2ers yang tau?

 

Pasar apung ini bernama Amphawa, berlokasi di downtown Provinsi Bangkok, distrik Thonburi. Dapat ditempuh dari pusat kota Bangkok selama 2jam perjalanan darat. Pasar ini mengapung di atas kanal (dalam bahasa local: Khlong) yang merupakan anak sungai Chao Praya.

 

201210-w-canal-cities-bangkok.jpg?1349453139

Sumber Gambar

 

 

spertinya foto terlampir itu bukan pasar apung amphawa, tapi Damnoen Saduak Floating market CMIIW

Share this post


Link to post
Share on other sites
On 12/8/2015, 10:24:50, deffa said:

@brocoli

ayo mas di share cerita2 nya tulis aja ke forum Field Report jalan2 nya hehe :D 

tulisan ane ttg pasar apung belum selesai2 hehehe, keburu jalan jalan lagi terus... :senyum

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!


Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.


Sign In Now
Sign in to follow this  
Followers 0

  • Similar Content

    • By cherly frisca
      haloo,
      perkenalkan nama saya cherly, dari Batam.
      bulan januari saya merencanakan liburan ke bangkok, ini akan menjadi liburan pertama saya ke bangkok,
      rencana saya akan menggunakan pesawat dari Singapore (Changi) ke Bangkok (DMK), rencana saya akan pergi berdua dengan suami tanpa travel agen, dan sudah membuat rute perjalanan, dari kumpulan beberapa blog yang telah saya baca,
      karna ini perjalanan perdana saya ke bangkok, jd saya agak ragu kalau belum menguasai info2 penting, ada beberapa hal yg ingin saya tanyakan :
      1. apabila saya kurang fasih bahasa inggis apakah aman untuk perdana pergi ke bangkok ?
      2. kartu internet apa yg dapat di gunakan di bangkok, beli dimana dan berapa hrganya ?
      3. apabila saya hanya membawa uang 10.000bath apakah cukup untuk 5D4N (di luar ongkos pesawat dan hotel)  dengan destinasi yang sudah saya rencanakan ?
       
      mohon bantuannya ya suhu ..
      Khob Khun Kap
       
      RUTE PERJALANAN.pdf
    • By Ahook_
      Tanggal 27 Agustus 2016.
       
      Sebelum mengakhiri trip ke Bangkok kemaren, aku mengunjungi pasar terapung yang lebih keren disebut dengan floating market. Singkat cerita, aku ke Amphawa Floating Market yang butuh perjalanan darat sekitar 2 jam dari Bangkok. Aku sih naik van. Sama seperti ke Ayutthaya sebelumnya, naik van-nya juga dari Victory Monument. Tinggal tanya saja, ,mau ke Amphawa Floating Market, beli tiketnya dimana? Pasti, diarahin sama orang yang ada disana.

       
      Harga tiket van 100 Baht per orang. Sudah menjadi kebiasaan, mengkhayal juga aku lakukan selama perjalanan dari Bangkok sampai ke tujuan. Selain untuk mengusir bosan dan membangkitkan semangat, ya biar tidak terasa saja, eh.. tak tahunya sudah tiba.. gitu ceritanya. 

       
      Oh ya kenapa ke Amphawa, bukan ke Damnoen Saduak Floating Market? #tanyakenapa?
       
      Oleh seorang teman Couchsurfing yang paham betul tentang Bangkok, dia menyarankan, Amphawa Floating Market lebih alami, dalam arti, masih terasa lokalnya. Kalau Damnoen Saduak sudah ramai banget dan penuh dengan turis. Intinya, turis asing banget-lah. Sedangkan Amphawa, yang kesana masih turis lokal. 

       
      Karena belum pernah, ya aku ikutin saja. Dan.... benar saja, seisi pasar, 95% turis lokal. Aku tiba disana sekitar jam 12-an. Langsung saja jalan sesuka hati, ikutin langkah kaki yang menaati perintah dari mata. Yups, yang jualan Thai, yang beli mostly juga Thai. Mereka ya sahut-sahutan tidak jelas. Hahaha.. #akunyayangtidakngerti...

       
      Belanja? Tentu tidak.. Makan? Iya... 
       
      Sebenarnya, yang buat menarik hati untuk bisa sampai di Amphawa adalah ada satu vihara Sang Buddha yang sudah tua dan bangunannya dililit oleh akar- akar pohon. Sebelum ikut tour yang memakan waktu 3 jam itu, aku keliling sejenak seisi pasarnya. Makan nasi goreng Thai yang dibungkus pakai daun teratai. Dan makananan ini yang paling aku suka selama di Thai pada trip kemaren itu. Model dan jenis makanan baru yang pernah aku temukan. Jadi tambah refrensi. Harganya 50 Baht. Isinya macam- macam. Ya nasi goreng gitu, nah tambahannya banyak banget, ada daging, telur, jatuhnya kayak nasi campur, tapi bukan nasi campur. Entahlah, lupa, apa saja isinya. Aku suka. Sambil jalan sambil makan. Tidak peduli... 

       
      Paling terasa saat ikut tour keliling vihara - vihara yang ada disana. 1 kapal penuh dan aku satu- satunya turis asing. Satu kapal berbahasa Thai dan aku hanya diam dan bengong, tapi kangen situasi saat itu. Serius....

       
      "Ketika berada disatu tempat asing dan tidak ada yang pedulikan kamu. Saat itulah, kamu akan mengerti, siapa kamu sebenarnya !!!"
       
      Tentang floating market, sebenarnya, ya sama saja. Tidak benar- benar jualan dari atas kapal sih. Ada beberapa kapal saja yang jualan dan itupun adalah seafood. Selebihnya, jualan dalam kios dan bahu jalan. Sekilas mata sih, lebih banyak jual makan dan minum. Cendramata hanya beberapa saja. 

      Operator yang jual river tour, kabarnya operator yang bagus. Letaknya pas dekat tangga.
      Tentang Amphawa River Tour-nya, dibawa keliling dari satu vihara ke vihara lainnya. Wat- wat- an lagi deh. Aku tidak ingat seberapa banyak vihara yang aku lihat. Bayar 50 Baht untuk 3 jam-an. Satu - satunya yang aku ingat adalah Wat Bang Kung yang umurnya sudah ratusan tahun. Wat ini sangat ramai dan padat dengan turis lokal. Viharanya termasuk kecil dan viharanya dililit oleh akar pohon yang gede- gede. 

       
      Amphawa River Tour bagiku adalah religius tour. Tour yang membawa tamunya berdoa dari satu vihara ke vihara lainnya. Dan hebatnya, turis lokal itu, semuanya, berdoa disetiap vihara yang dikunjungi. Kegiatan menarik setelah berdoa adalah menempelkan kertas warna emas ke badan patung Sang Buddha. Untuk apa? Hahaha.. kurang paham sih, asumsiku sih, mungkin biar doa-nya dikabulkan.. mungkin.. Amin...

       
      Selebihnya, ya menyusuri sungainya. Tidak ada yang special sih. Tapi tetap, menyisakan kesan dan momen tersendiri. Bukankah traveling itu bukan tentang seberapa bagus tempat yang kamu datangi, seberapa keren tempat itu, seberapa mahal dan seberapa jauh kamu pergi? Bukankah esensi traveling itu lebih ke proses dan bagaimana kamu merasakan, mengagumi, menikmati dan menyatu dengan apa yang kamu lihat ? 

       
      Setelah kembali dari river tour, aku sih bilang semakin padat dan ramai. Ketika itu sudah jam 4 lewat. Dan, turis asing juga semakin banyak. Okey, karena tujuan utama sudah kelar. Artinya, saatnya pulang ke Bangkok. Tiketnya sama, 100 Baht per orang. 

       
      With Love,
       
      @ranselahok
      www.ranselahok.com
      ---semoga semua mahluk hidup berbahagia---
    • By Ahook_
      Tanggal 26 Agustus 2016.
       
      Sehari setelah kembali dari Koh Phangan, aku mengunjungi Ayutthaya yang masuk kedalam situs warisan dunia yang harus dilindungi, UNESCO World Heritage. Berjarak 85 km dari utara Bangkok, Ayutthaya bisa ditempuh dengan menggunakan van. Naik van-nya dari Victory Monument, jadi kalau naik BTS, tinggal turun di BTS Victory Monument station saja. Bisa menggunakan kereta api juga dari Bangkok, harganya juga lebih murah. 

      Kota Ayutthaya
      Aku sendiri memilih menggunakan van, bayar 60 Baht ( 1 Baht = Rp 400,- ) untuk sekali jalan dan butuh waktu sekitar 1 jam-an lebih.  Gampang sekali, dibawah BTS Victory Monument sudah berjejer loket yang menawarkan tiket perjalanan. Tinggal cari, kemana tujuan kamu saja. 
       
      Tiba di Ayutthaya, matahari sudah hampir berada tepat diatas kepala. Terik banget. Panas. Sekilas, kota yang penuh sejarah ini, sepi dan tidak tampak hiruk- pikuk seperti di Bangkok. Lalu lintas jalan raya juga tidak padat. Kamu akan diturunkan dipersimpangan jalan. Tidak jelas dimana sih itu. Tapi jalan sekitar 5 menit, ketemu pasar. Lapar sudah tidak terbendung lagi, keliling seisi pasar, akhirnya aku makan disalah satu kedai makan disudut pasar itu. Murah euy, bayar 50 Baht untuk semangkok kari bihun, sudah ada bakso ikan dan bakso babinya. Kenyang dah. 

      Di pasar..
      Niatnya, aku memang mau rental sepeda saja untuk explore taman bersejarah dari reruntuhan Kerajaan Ayutthaya yang didirikan oleh Raja U-Tong pada tahun 1350 yang dihancurkan oleh pasukan Burma pada tahun 1767. Begitu turun dari van, semua turis langsung disergap sama abang tuk-tuk. Yang aku lihat, semuanya pakai jasa tuk- tuk kecuali aku. Pelit, iya... Kenapa? Mahal cuy... sampai ratusan Baht. Oh tentu tidak...

      Tempat sewa sepeda...
      Sempat tanya ke encik- encik yang nawarin jasa tuk-tuk, ada rental sepeda tidak? Katanya mana ada. Naik tuk- tuk saja. Tidak patah semangat. Singkat cerita, aku menemukan tempat rental sepeda dan motor. Kalau memang van-nya selalu berhenti disana, berarti, setelah turun dari van, kamu belok kiri aja pakai jalan kaki sudah bisa, sekitar 5 menit saja sudah ketemu. 
       
      Kesimpulannya, kalau tidak mau berpanas- panasan, tuk- tuk menjadi pilihan yang tepat buat kamu, apalagi kalau berkelompok. Rental motor tentu lebih mahal dibanding rental sepeda, belum lagi untuk bensin. Tapi, pakai motor bukan menjadi pilihan yang tepat buat kamu yang takut gosong apalagi pakai sepeda. Oh ya, mungkin ada baiknya bawa payung atau topi deh.
       
      Kamu yang suka situs sejarah dan berbau peninggalan kerajaan kuno, paling tidak, kamu harus menghabiskan 2 hari di kota ini. Kota ini walau kecil tapi penuh dengan situs bersejarah yang bisa kamu explore satu per satu. Sedangkan aku, hanya terhitung beberapa jam saja disini. Tiba jam 11 siang dan kembali ke Bangkok pakai van jam 6 sore. 

      Komplek Wat Phra Maha That
      Setelah bayar 40 Baht untuk pemakaian sepeda, kamu akan dikasih peta dan sedikit penjelasan tempat- tempat yang wajib dikunjungi. Kamu juga akan dipinjamin gembok untuk keamanan sepeda kamu. Butuh beberapa hari jika kamu mau kunjungi semuanya. Dan hampir semuanya, menawarkan wisata yang sama, yaitu sejarah peninggalan kuno, reruntuhan, ya itu, berkeliling dari satu temple ke temple lainnya. 

      Komplek Wat Phra Maha That..
      Aku mulai dari Wat Phra Maha That. Tiket masuk ke komplek Wat ini 50 Baht. Temple ini mejadi yang wajib dikunjungi, terletak didekat inti kota, sehingga tidak ada alasan untuk melewati kuil yang terkenal dengan patung kepala Buddha yang terlilit akar pohon. Kompleks ini luas sekali, satu round itu, kemaren itu sekitar 1 jam lebih, itupun, tidak semua dilihat. 

       
      Selain patung kepala Buddha, kamu bisa melihat berjejer patung Buddha tanpa kepala dan reruntuhan candi serta diyakini ada istana kerajaan, Dari komplek Wat Phra Maha That ini, patung kepala Buddha terlilit akar pohon inilah yang paling ramai dikunjungi turis. 

      Komplek Wat Phra Maha That
      Lanjut gowes sepeda, nyebrang ke Wat Ratcha Burana. Tiket masuk juga sama, 50 Baht. Temple ini sedang pemugaran, tapi tetap bisa naik dan masuk kedalam candinya. Okey, turis wajib antri untuk bisa turun ke bawah candinya. Ruangnya yang sempit, tangganya hanya bisa dilalui satu orang saja, sehingga naik turun harus bergantian, lagian, dibagian bawah benar- benar tertutup rapat tidak ada sirkulasi udara yang cukup, panas dan ngab, minim udara dan tidak bisa berlama- lama. 

      Komplek Wat Racha Burana

       
      Yang dilihat adalah lukisan dindingnya. Aku sih tidak terlalu menikmatinya, pencahayaan yang kurang ditambah sudah terasa sesak ketika mencapai spotnya. Tidak sampai 3 menit, aku putuskan untuk kembali naik ke atas saja untuk mendapatkan limpahan udara segar. 

      Lukisan dinding, foto dibantu flash...

      Satu level dengan tangga turun ke bawah, ada ruangan yang menyimpan peninggalan kuno yang terbuat dari emas. Tidak terlalu yakin sih, kalau itu masih benar- benar asli peninggalannya, bisa saja replika.

      Ini reruntuhan ya, bukan bangunan belum jadi...
      Kemudian pindah ke Wat Lokayasutharam. Untuk mencapai tempat ini,  butuh perjalanan cukup jauh dan melewati beberapa temple yang sengaja aku tidak mampirin. Disinilah Sleeping Buddha di Ayutthaya berada. Hanya berdoa sejenak disini. Oh ya, patung Buddha yang sedang berbaring ini tidak berwarna kuning emas seperti patung Buddha lainnya. Hanya ditutupi pakai kain warna kuning emas saja. Tidak perlu beli tiket masuk.

      Wat Lokayasutharam
      Pindah ke Wat Chai Watthanaram. Lebih jauh lagi. Buset, harus gowes melewati jembatan yang sedikit butuh pendakian. Capek banget, sudah jauh, panasnya minta ampun. Aku tidak masuk kedalamnya lagi. Tiket masuk sih 50 Baht. Berhubung waktu yang sudah semakin terbatas, aku pikir sama saja yang dilihat, temple- temple gitu, selain itu, dari luar pagar juga terlihat jelas bentuk dan model bangunannya. 

      Wat ChaiWatthanaram
      Karena cuaca yang super panas dan letih yang tidak bisa dibiarkan begitu saja, makan es krim kelapa deh untuk menenangkan hati sejenak. Harganya 40 Baht. Foto- foto sejenak, pulang deh ke kota untuk naik van kembali ke Bangkok. Daripada nyasar cari jalan baru, aku ikutin jalan yang aku lalui saja pas datang tadi. Pulangnya terasa lebih cepat, walaupun sampai dipusat kota butuh 30 menitan juga tanpa berhenti.

      Ada wisata naik gajah juga sebelum Sleeping Buddha, masih dekat ke kota.
      Okey, menurutku, jika kamu bosan dengan Bangkok atau sudah beberapa kali ke Bangkok, melarikan diri sejenak ke Ayutthaya menjadi pilihan yang tepat. Itupun kalau kamu memang anak yang suka sejarah. Hahaha... kalau tidak, tetap di Bangkok saja atau pilih daerah lain yang lebih sesuai dengan identitas kamu. 
       
      Buat kamu yang mau ke Ayutthaya, siapkan sunblok, payung buat keliling temple dan topi. Sediakan air minum yang banyak. Tinggal pilih, beli paket tuk- tuk, sewa motor atau sepeda. Aku tidak sampai malam, jadi tidak ada gambaran sama sekali tentang kehidupan malam disana. Aku lebih memilih one day trip ke Ayutthaya. Naik van pulang ke Bangkok, tempatnya sama seperti saat diturunkan. Harganya juga sama.

       
      Hasil seharian di Ayutthaya, aku jadi cemong- secemong- cemongnya. Serius... gosong parah.
       
      With Love,
       
      @ranselahok
      www.ranselahok.com
      ---semoga semua mahluk hidup berbahagia---
       
       
       
       
       
       
    • By Ahook_
      Tanggal 22 Agustus 2016.
       
      Sebelum berangkat ke Koh Phangan, paginya, aku ke Wat Arun dulu. Kenapa Wat Arun? Sederhana, trip terdahulu, aku tidak sempat main ke sini. Karena sudah di Bangkok, ya sekalian saja. Dari BTS Phrompong turun di BTS Siam, kemudian pindah ke jalur Bangwa, turun saja di BTS Saphan Taksin. Gampang kok. Bayarnya hanya sekali saja saat naik dari BTS Phrompong bayar 42 Baht. ( 1 Baht = RP 400,- )

      Salah satu sudut Wat Arun.
      Jalan kaki susurin tangga, ikutin petunjuk, sampai deh di dermaga buat nyambung kapal ke tujuan kamu. Dari dermaga sini, kamu bisa langsung ke Grand Palace ( bisa baca disini), ke Wat Pho dan beberapa tempat lainnya. Aku naik kapal Chao Phraya Express Boat turun di Wat Pho ( bayar 40 Baht one way )  untuk nyebrang ke Wat Arun. Informasi yang pernah aku baca sekilas, ada kapal yang lebih murah, tandanya kalau tidak salah bendera kuning atau warna apa gitu...  
       
      Kapalnya sih okey-lah, lagian cuma sekitar 10 - 15 menit saja. Ada pengumumannya kalau sudah sampai di dermaga no berapa dan tujuannya apa. Yupss, jadi setelah beli tiket kapal, langsung dikasih secarik kertas, kayak petunjuk tempat wisatanya, nomor sekian untuk wisata apa. Sangat informatif kok. 

      Loket tiket...
      Aku nyebrang ke Wat Arun dari dermaga dekat Wat Pho. Bayar 3 Baht ( one way ). Tidak sampai 5 menit sudah berada di Wat Arun. Hanya saja, kapalnya kudu tunggu penumpang dulu. 
       
      Wat Arun, ya wisata religius, wisata temple juga. Yang pasti, semacam wisata sejarah juga. Kalau mau ke sini, ada baiknya mungkin tunggu sore ya, kalau tidak ya pagi- pagi. Tengah hari kek gini, panasnya luar biasa. 
       
      Sayangnya, Wat Arun sedang pemugaran. Turis tetap boleh masuk, tiketnya 50 Baht. Ada batasannya, tidak bisa naik sampai ke atas. Suasana saat itu tidak terlalu ramai. Mungkin juga, karena sedang ada renovasi, atau mungkin karena matahari sedang berada diatas kepala saat itu. Panasnya benar- benar menusuk. 

      Didalam kapal...
      Ada pasar juga kok didekat viharanya. Ya jualan baju- baju, souvenir-lah. Kebutuhan para turis. Hahaha... kerennya, sebagian penjual menawarkan pakai bahasa Indonesia loh. Artinya, sangking mainstream-nya Bangkok dimata orang Indonesia. Walaupun, cuma sepatah dua kata sih. 

      Wat Arun sedang pemugaran.
      Sekitar 1 jam disini, lalu ke Wat Pho. Naik kapal yang sama dan tetap bayar 3 Baht. Dari dermaga, tinggal jalan kaki saja. Rasanya tidak perlu tanya sana sini, tinggal ikutin saja langkah manusia lain saja, pasti, sampai didepan Wat Pho. Serius.. karena memang itulah tujuan utamanya kesana. Kalau kamu ke sini lewat dermaga ini, kamu akan melewati kios- kios penjual souvenir. Harga, tidak tahu, mungkin bisa lebih mahal. 
       
      Kamu harus rela menukarkan 100 Baht kamu dengan secarik tiket biar bisa masuk ke Wat Pho. Tiket itu bisa ditukar dengan segelas air mineral. Lumayanlah, pelepas dahaga. Wat Poh, Temple Of Reclining Buddha, selalu ramai dan dipadati turis. Kali ini, aku tidak terlalu explore temple ini. Aku melewati semua spot kerennya, karena sebelumnya sudah pernah ke sini. 

      Wat Poh...
      Tujuan utama aku kembali ke Wat Pho adalah untuk massage. Yups, untuk pijat. Jauh- jauh kesana untuk pijat. Ho oh.. Trip terdahulu, sudah tahu ada massage terkenal yang ada didalam temple ini, tapi entah kenapa, waktu itu aku tidak mencobanya. Untuk melengkapi, ya, aku kali ini harus mencobanya. 
       
      Sebelum massage, aku tetap masuk dan ikut desak- desakan dengan turis lainnya untuk melihat Patung Buddha. Narsis juga dong. Tidak mau kalah, ikutan antri untuk foto. Ada sedikit beda sih, kalau dulu, bisa mengelilingi patung Sang Buddha, kali ini, langsung diarahkan keluar pintu belakang, baru putar ke depan. Oh ya, sebelum masuk, kamu akan dikasih kantongan untuk menyimpan alas kaki kamu. Untuk wanita, kalau berpakaian terlalu minim, dipinjamin kain. 

      Didalam temple Patung Sang Buddha..
      Aku akui sih, berada didalam temple Sang Buddha, hawanya beda, walaupun penuh, padat dan sesak dengan manusia, tidak panas loh, adem gitu. 

       
      Sempat keliling tidak jelas juga sih sebelum benar- benar pijat. Tidak tahu kenapa? Ya kedua kakiku melangkah saja mengikuti kata hati. Tidak terasa, ya habis juga waktu 30 menit. Dan benar pada puncaknya, pegal. 

       
      Tidak serta dapat giliran buat bisa dapat menikmati pijatan encik- encik Bangkok. Antri bro... Aku sendiri antri 30 menit untuk massage fullbody 1 jam. Lapor ke receptionist, kamu mau refleksi kaki sahaja atau mau pijat fullboy. Entar, nomor antrian dibedain pakai warna kertas. 
       
      Tibalah giliranku. Aku dibawa pergi seorang encik berambut keriting, berumur paroh baya, dan ramah. Jangan berpikiran negatif. Hayo... Ini pijat benaran punya. Ini pijatnya di dalam temple-loh. Terus, pijatnya diruangan terbuka.
       
      Rupanya, aku dapat ditempat prakteknya yang kedua. Dekat banget, jalan kaki mungkin 2 -3 menit saja. Dapat ranjang paling ujung. Tapi satu deret bisa untuk 3 orang. Setelah ganti baju, mulailah, pergulatan itu dimulai... hahaha.. pergulatan ... 

      Sedang dipijat sama Encik Thai...
      Serius, kenapa aku pakai kata pergulatan, karena tulang- tulang aku rasanya mau remuk. Rasanya mau menjerit. Padahal, enciknya tidak mengeluarkan tenaga yang super, cukup pakai tenaga dalam saja. Sebelum mulai, aku sempat ngintip, dia sedang berdoa gitu, kayak sedang mengumpulkan tenaga dalam. 
       
      Selama pengalaman aku massage, selalu meminta tenaga yang lebih besar lagi, tenaga ekstra lagi. Kali ini, rasanya ingin minta kurangi, minta ampun. Setelah 5 menit kemudian, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Rasa sakit itu tidak terasa lagi. Berubah menjadi satu sensasi pijatan yang luar biasa dan berbeda dari pengalaman aku pijat selama ini. Hahahah... lebay... Ini bukan yang negatif ya... Tapi gimana ya menjelaskannya, mungkin mereka tahu, titik- titik yang ada didalam tubuh, sehingga pijatannya benar- benar kena banget. 
       
      Karena ini juga, mereka tidak perlu tenaga besar, hanya butuh, keahlian dan ketepatan letak titik- titik yang ada dalam tubuh. Sehingga setelah dipijat, benar- benar terasa lega, bukan menjadi tambah sakit karena asal tekan. 
       
      Aku bayar 400 Baht untuk pijatan itu. Dapat segelas air minum, kayak teh poci gitu. Aku pikir worthed sih. Kalau kamu suka massage dan sedang ada di Bangkok, jangan lewatkan tempat ini untuk nikmati sensasi yang berbeda dari pijatan encik- encik disana. Konon kabarnya, justru tempat ini juga, tempat belajar massage. Jadi ilmu massage-nya berasal dari sini. 
       
      Sudah lega, buru- buru pulang lewat dermaga tadi. Sepiring nasi goreng ala Thai mengisi perutku. Kemudian antri kapal sekitar 30 menit untuk pulang ke Saphan Taksin. Tiba di hostel , numpang mandi, lanjut ke Bangkok Railway Station , untuk berangkat ke Koh Phangan/ Koh Samui. 
       
      With Love,
       
      @ranselahok
      www.ranselahok.com
      ---Semoga semua mahluk hidup berbahagia--- 
    • By Ahook_
      Tanggal 25 Agustus 2016
       
      Setelah perjalanan panjang yang dimulai dari Bangkok Railway Station malam itu ( bisa baca disini : Naik Kereta Sulap Ke Koh Phangan ), akhirnya sampai di Bangkok Railway Station lagi. Melelahkan ? Iya... Menyenangkan? Sudah pasti. Apapun, bagaimanapun bentuk dan cara perjalananmu, tempat apapun dan dimanapun tujuan perjalananmu, yang paling penting, harus enjoy dan buat itu menjadi momen indah yang tidak terlupakan.
       
      Setibanya di Bangkok hari ini, rencanaku adalah langsung capcus ke Amphawa Floating Market. Numpang mandi di Lamurr Hostel, bisa baca disini. Sudah wangi, naik BTS turun di Victoria Monument. Kalau tidak salah, sudah sekitar jam 2 siang gitu, sedangkan perjalanan ke floating market-nya sekitar 2 jam-an, belum kalau terjebak macet parah. Encik- encik yang jual tiket bus bilang, lebih baik sih tidak kesana, ganti besok saja. Entar tidak maksimal. Ya sudahlah, benar juga kata enciknya, daripada dipaksakan, kesannya buru- buru banget. Lagian aku masih punya waktu 2 hari lagi di Bangkok. 
       
      Karena tidak jadi berangkat ke floating market, hari itu, ya jalan- jalan tidak jelas di Bangkok. Sempat main ke Platinum Mall buat makan manggo sticky rice-nya, aku paling suka yang dijual disini. Yang di foodcourt-nya. Harganya sedikit lebih mahal sih, 110 Baht. Terus makan nasi campur ala Thai, waduh...pedasnya luar biasa bro... buset dah... tapi enak. Ya, tidak ada acara buat belanja. Tidak diniatin sama sekali. Keluar dari Platinum, tinggal nyebrang ke Pratunam. Belanja, tidak!!! Hanya pengen jajan makan ayam gorengnya sahaja. Bedeh... maknyuss... Dari sana aku lanjut ke Siam Square. Ya jalan- jalan sampai bosan disana, niatnya ingin lanjut ke Khaosan Road buat makan Pad Thai, eh .. malah hujan, ya ngetem deh sampai hujannya agak reda, pulang ke hostel. 
       
      Intinya bukan apa yang aku lakukan hari itu. Kali ini, aku ingin share tentang wisata pasar di Bangkok. Yupss.. kerennya sih, keliling market yang ada di Bangkok. Memang iya kan? Bangkok tuh identik dengan pasar - pasar. Kalau tidak, mana mungkin, orang Indonesia banyak belanja disini terus dijual lagi. Bisnis cuy.... 

       
      Ke Bangkok, selain melihat Wat- wat- an ya keluar masuk pasar entah itu pagi, siang atau malam, hahaha.. jadi ngakak sendiri pakai kata- kata ini. Jadi teringat teman Couchsurfing yang jadi travelmate-ku ke Koh Phangan/ Koh Samui. ( Ses, aku pakai ya istilah Wat- Wat- an lu, hahahah...). Hemm... Wat itu kan maksudnya temple loh, kalau ke Thailand, ya pasti berkunjung ke sana kan. Sangking banyaknya Wat yang ada, jadi lupa nama Wat yang sudah pernah didatangi. Hahahah...Begitu katanya. 
       
      Tidak ada yang menjadi prioritas sih dan bukan menjadi kewajiban sih, tapi... pasar- pasar yang aku mampir trip waktu itu: 
       
      1. Chatuchak Market.
      Aku tidak sempat ke pasar ini trip terdahulu. Karena untuk melengkapi yang ada, trip kali ini, aku set harus ke sini. Tujuannya? Tidak ada. Ingin tahu saja, katanya market yang hanya dibuka di weekend saja sangat ramai. Konon katanya, kios yang ada disana bahkan mencapai ribuan. Penasaran saja sih lebih tepatnya. Buat belanja, tidak juga. Aku hanya beli patches saja, bendera negara- negara. Susah banget beli di pasar- pasar Jakarta, tidak ada. Sudah keluar masuk pasar di Jakarta, tetap tidak ketemu.

       
      Okey, aku sih no comment buat pasar ini. Ramai iya. Padat iya. Panas iya juga. Sudah pasti penuh dengan turis asing. Dan menurutku sih, harganya sedikit lebih mahal deh. Selain ada jual eceran, ada juga yang jual grosiran. Berisik, iya, ada toko yang punya karyawannya teriak- teriak didepan. Berasa kayak di Mangga Dua Jakarta, kaka- mampir kaka, lihat kaka.. tapi lebih keras teriaknya.. dan aku tidak paham dia teriak apa.. pakai bahasa lokal sih. 

      Petugas : " Hati-hati dengan barang bawaan Anda, waspadalah dengan pencopet" 
      Benar saja, lengkap, variatif dan sepertinya semua ada deh disini. Kalau fashion, dari atasan sampai bawahan, dari yang dipakai kelihatan sampai yang dipakai didalam, tidak kelihatan, sepatu, kaos kaki, eh sudah pasti ada. Kosmetik, elektronik, peralatan rumah tangga, apalagi ya... semuanya ada. Soal KW apa tidak? Kagak tahu. Iya, pasar ini gede banget. Di bagi per blok, ampe toiletnya juga ada section-nya. Hey bro.. lu ditoilet section berapa yang dekat apa? Gitu... Pusing gak lu...

       
      Yang buat aku senang disini bukan karena fashion-nya. Tapi kulinernya. Buset... sampai mampus deh. Dari makan es krim kelapa ( 45 Baht ), es kelapa murni ( gag tahu berapa harganya, dibayarin ), makan Padthai ( 70 Baht ) sama beberapa cemilan yang lewat begitu saja. Dan yang tidak aku coba makan adalah babi gorengnya, ya ampun... meleleh neh air liur... 

       
      Disini, aku ketemu teman, satu rumpun, pas sama - sama ke Maldives. Satu rumpun, dalam artian, punya bahasa daerah yang sama. Hahahah.. Senanglah, inilah namanya traveling, kemanapun dan dimanapun, berteman dengan siapa saja. 
       
      Pasar ini buka dari pagi sampai sore saja. Gampang sekali sih kalau mau kesini, naik BTS, turun di Mo Chit saja, yang buat gampang lagi, Mo Chit Station menjadi yang perbehentian terakhir BTS untuk jalur ini. Kalau kamu dari aiport, tinggal naik bus A1 saja, turun di Mo Chit. Ya sudah, nyampe. Kalau naik MRT, ya turun di Chatuchak station.
       
      Terus kalau malam, berubah menjadi JJ Night Market. Sebenarnya aku tidak bisa membedakan JJ Night Market dan JJ Green Night Market dari namanya. Hahaha.. Kalau lokasinya sih beda. 
       
      2. Train Night Market.
      Otomatis, pasar ini hanya buka malam hari saja. Lebih fokus ke kuliner sih kalau disini. Terbuka, hanya jualan dibawah tenda- tenda gitu. Padat dan ramai. Eh, jualan baju dan aksesoris juga ada. Ada bar juga yang berbaris rapi disana dengan dentuman musik masa kini-nya. Keren. Banyak juga turis lokal yang berkeliaran disini. Pada cari makan disini. 

       
      Aku rasakan, harga disini lebih murah. Mungkin karena ada orang lokalnya kali ya. Aku makan manggo sticky rice ( 100 Baht ) dan carrot cake ala Thai ( harganya lupa ). 

      Manggo Sticky Rice
      Kemaren itu, sempat gabung sama beberapa teman ngebilyar di Rod Bar. Pecah deh, ada live music-nya. Lagu- lagunya kekinian banget, terus ada lagu lokalnya juga. Kesini, naik MRT turun di Thailand Cultural Center station. Dekat banget dengan Seacon Square Shopping Mall.
       
      3. JJ Green Night Market.
      Malam terakhir di Bangkok sebelum ke Dong Mueang Airport, aku main ke JJ Green Night Market. Busett.. Jangankan untuk jalan, untuk bernafas saja harus rebutan dengan yang lain. Padat banget. Benar- benar ampun dije. Seriusan. Isinya anak muda semua. Gaya- gayaan lah disini.

       
      Kalau sekilas sih, mostly turis lokal. Kamu belanja sepuasnya deh disini, bawa duit yang banyak saja. Untuk makan, juga gampang. Tapi ukurannya kayak cafe dan bar gitu. Kemaren itu kesana, untuk meet up dengan teman Couchsurfing yang kebetulan juga sedang ada di Bangkok. Malas desak-desakan, menepi di taman sembari menunggu teman. Malam itu, hanya kongkow- kongkow saja disalah satu cafe.

       
      Karena sudah night market, berarti bisa dikunjungi pada malam hari saja. Bukanya dari Kamis sampai Minggu. Lokasinya di belakang pasar Chatuchak market. Naik MRT turun di Chatuchak station, kalau naik BTS ya turun di Mochit.
       
      4. Night Market disekitaran Siam Square.
       

      Aku tidak tahu nama pastinya. Tapi kalau siang kesana, trotoar disini masih  biasa saja. Tapi mulai dari sore, berubah menjadi pasar malam yang sesak. Nah kalau disini, fokusnya memang jualan fashion gitu. Dekat dengan Siam Center. Terus Hardrock juga ada disini.

       
      5.Night Market disekitaran Victory Monument.
      Ya, kalau disini, begitu turun dari station BTS-nya, sudah langsung dipenuhi kios- kios yang jualan. Disini juga ramainya jualan fashion sih. Aku sempat keliling sana - sini tidak jelas, tetap saja, setiap sudutnya ada yang jualan. Jalan ke sisi jalan bagian lainnya, eh... juga ramai dengan kuliner.

       

      Aku hanya makan saja disini. Kalau di Jakarta, kayak mie kari ayam. Harganya cuma 35 Baht. Serunya adalah dimeja disediakan pilihan sayuran mentah. Bebas ambil sesukanya. Sempat juga makan nasi sama telur. Masakan rumahan dipinggir jalan.

       

       

       
      Masih banyak pilihan night market lainnya yang bisa kamu kunjungi kalau sedang ada di Bangkok. Kayak Khaosan Road yang didominasi sama bule- bule, lebih banyak pub, bar dan cafe-nya. Aku kesini cuma buat makan Padthai- nya sih.

       

       
      Kalau mau belanja, bisa juga ke Pratunam , Platinum Mall atau di MBK. Terus sekarang ada Terminal 21. Satu kesimpulan : Bawa uang yang banyak kalau memang niatnya mau belanja.
       
      With Love,
       
      @ranselahok
      www.ranselahok.com
      ---semoga semua mahluk hidup berbahagia---
    • By Ahook_
      Biar tidak rugi, sudah sampai di Koh Phangan, ya sekalian lah mampir ke Koh Samui. Niatnya memang cuma semalam saja di Koh Phangan, bisa baca disini. Sebelum benar- benar pulang ke Surat Thani dan nyambung kereta ke Bangkok, pagi- pagi sudah bangun dan bersiap menuju ke dermaga. Tiket kapal sudah dibeli saat kami tiba di Koh Phangan sehari sebelumnya. 
       
      Dipersingkat deh alur ceritanya, sekarang, sudah tiba di Koh Samui. Hal pertama yang kami lakukan adalah sewa motor. Per motor adalah Bath 150, diluar dari bensin. Tidak banyak waktu buat kami untuk keliling Koh Samui. Karena kami sudah harus kembali ke dermaga Koh Samui jam 3.30 sore untuk naik kapal selanjutnya.

       
      Titip bagasi di tante yang sewain motor, isi bensin kemudian ngegas. Kami susuri pesisir pantainya. Kali ini lebih paten saudara- saudara dibanding dengan di Koh Phangan sebelumnya. Karena, saat itu, benar- benar terang, masih pagi ke siang. Jadi birunya langit yang menyatu dengan pantulan sinar matahari melalui air pantainya membuatku melupakan segalanya. 
       
      Koh Samui lebih besar dibanding dengan Koh Phangan dan lebih banyak objek wisata yang bisa di eksplor. Mungkin inilah sebabnya, disini lebih variatif turisnya. Tidak seperti di Koh Phangan, yang kebanyakan adalah bule yang hobi pesta. Saranku sih, rencanakan minimal 2 malam deh disini. Akan lebih maksimal buatmu melihat keindahan yang ada disini. 
       

      Foto by Diana
      Sedangkan, aku, hanya hitungan jam saja. Yang bisa dinikmati, ya seadanya saja. Sadar akan kondisi seperti ini, tidak menghamburkan waktu yang ada. Sembari keliling pakai motor, sembari mata melihat apa yang bagus dan bisa dinikmati. Pemandangan sepanjang perjalanan hanya direkam oleh kedua bola mataku saja. Tidak ada foto. 
       
      Niatnya mampir sebentar di Fisherman`s Village Walking Street. Berhenti disini gara- gara penasaran saja. Di ujung, kok terasa agak ramai dan ingin tahu, apa sih yang dilihat orang- orang disana, Awalnya sih aku pikir, mungkin mirip di Muine, Vietnam , kan ada kampung nelayannya, yang model perahunya bulat- bulat. ( Bisa baca disini ). 
       

      Foto by Diana
      Ternyata salah. Bahkan kapal nelayan juga tidak ada sepertinya waktu itu. Kanan kiri jalan ya penuh dengan toko souvenir, Yang paling menarik adalah restoran yang belakangnya ada pantai. Wuidih, kebayang dong, santai sambil minum es kelapa muda, mandangi pantai dengan warna biru mendominasi, ditemani dentuman musik yang akrab ditelinga. Asoi geboi broo.... 

       
      Tidak mau melewati kesempatan itu, kami juga bersantai sejenak di Cafe De Pier, elit kan? Mewah gak? Hahaha... Sesekali lah, Itupun setelah keliling survei yang menawarkan harga terbaik buat kantong. Yups, es kelapa tok. Tidak ada yang lain. Tapi, sumpah.... best moment ever-lah... 
       
      Akhirnya siuman juga setelah pingsan didunia khayalan, waktu.. iya berkejaran dengan waktu. Selanjutnya, mampir di Big Buddha. Objek wisata ini menjadi salah satu andalan tempat yang wajib kamu kunjungi kalau sudah ada di Koh Samui. Tidak ada biaya untuk masuk ke dalam vihara ini. Bebas masuk, cuma harus perhatikan pakaian saja. Ada batasannya, harus pakai yang tertutup untuk naik ke bagian atas. 

      Foto by Diana
      Okey, jika hanya dibawah saja, sebenarnya tidak ada yang spesial. Kamu harus naik keatas, melewati patung Sang Buddha, karena pemandangan alamnya super keren. Pandangannya ke pantai. Berada diatas ketinggian, memandangi kebawah pantai, diterpa angin pantai yang buat kamu betah untuk berlama- lama disana. 

       
      Disekitaran Big Buddha, banyak toko souvenir juga kok. Kalau kamu mau belanja, tinggal cari sesuai dengan keinginan saja. Karena sudah siang, waktunya makan dong. Masuk ke Restoran Khun Aeh ( gaya dikit makan di restoran... ). Agak santai sih makan siangnya, tidak ada rencana lain lagi untuk keliling, waktu yang ada juga sudah mepet. Setelah makan, yah langsung pulang ke dermaga. Satu hal yang pasti adalah udaranya cerah dan panas pakai banget. 
       
      Kembalikan motor sewaan, kami bersantai sejenak di Coffee Island, sembari menunggu kapal datang, nge-charge segala kekuatan yang diperlukan. Hanya 2 hari saja di pulau Thailand, mampu buat aku cemong tidak karuan. Jam 3.30 sore kami menumpang kapal Lomprayah dari dermaga Koh Samui kembali ke Surat Thani. 
       
      Bisa baca : Cara Dari Bangkok ke Koh Phangan/ Koh Samui. 
       
      With Love,
       
      @ranselahok
      www.ranselahok.com
      ---semoga semua mahluk hidup berbahagia---
    • By Ivan chen
      KRABI TOWN
       
      Akhirnya setelah berlayar sekitar 2 1/2 jam dari Phiphi Island, sampai lah kita di Krabi sekitar jam 17.20 dan keliatan masih terang benderang dan sedikit gerimis disini.

      Lumayan jauh juga nih jalan ke pintu keluarnya.....
      Dari harbour ke hotel kita naek taxi seharga 200 bath. Konter taxi ada dipintu keluar pelabuhan. Jarak pelabuhan ke kota Krabi paling 15 menit. Nama hotelnya agak unik yaitu Hotel Apo. Hotelnya berbentuk ruko di pinggir jalan gitu...( yang ada awning warna biru di depan pintu masuknya ). Urusan cek in jadi sedikit parno gara2 kemaren di Phiphi kena charge, maka pake strategi berpencar lagi. Yang masuk hotel istri  dan Alvin ( bersama 4 buah ransel tentunya ), saya dan Miko begitu turun taxi langsung kabur ke seberang jalan yang ada patung kepiting, icon dari Krabi Town ini.
      Untunglah urusan cek in lancar-lancar aja, seperti biasa pertanyaan standard recepcionistnya : berapa orang bu? Cukup senyum dan jawab dengan pede : berdua aja ( sambil nunjuk si Alvin ). Terserah lah mungkin recepcionistnya berpikir kok aneh berdua sama brondong....hahahhaa. Setelah itu, mereka di bawa ke ruko di seberang gedung ini ( jadi beda gedung ). Di pintu masuknya ada mesin kayak mesin absensi yang pake password gitu. Wahh gawat juga nih, saya dan Miko gimanaa masuknya? Tapi lebih mending lah, paling tidak kan kita bisa masuk tanpa harus lewatin recepcionist....walaupun teuteup sih ada kamera CCTV nya....*mulai parno lagi....hahahhaa
      Nahh begini deh kamarnya....luas juga kamarnya dan karena bangunan baru, yah masih kinclong lah..
      Langsung deh kasih nilai 8 di Agoda....hahaahaha...puas banget nginep di hotel ini karena harganya murah banget cuma Rp. 350.000.
      Setelah itu mereka langsung mandi, karena udah ga tahan tadi siang kan maen di air laut belom mandi yang bersih. Abis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku..., barulah mereka menyusul saya dan Miko di seberang hotel. Nah di jejeran hotel Apo itu, ada satu restaurant seafood yang rame banget. Namanya Poo Dam...ya udah langsung kesitu dan kita pesennya lumpia udang, cumi asam manis, ikan kerapu saus thailand, kangkung. Rasanya enak juga.... Total kerusakan 1055 bath.
      Saat kita makan malam ini, hujan turun dengan derasnya, ditambah angin kencang pula. Jadilah kita terjebak di resto ini sekitar 1 1/2 jam...Waduhhh, kejadian di Phiphi terulang lagi ...kita gak bisa kemana-mana deh. Tunggu in hujan gak reda-reda, bikin frustasi aja.  Padahal tadi menurut recepcionistnya, hari ini kan hari Sabtu ( malam Minggu ), dan seperti biasa di Krabi ini ada yang namanya weekend market yang letaknya dekat dari hotel. Karena penasaran seperti apa...dan memang dari kemaren kita juga belom sempat shopping ( kebanyakan maen melulu ), nahh langsung deh kita meluncur ke sana sambil berhujan-hujan ria.
      Yang pertama kita ketemukan adalah pasar tradisional dimana yang paling depan itu adalah tukang buah-buahan.
      Liat tumpukan duren langsung napsu , ga pake nawar langsung ambil aja karena udah ada harganya disitu. Harganya  murah benerrrr...sekitar Rp.70.000 untuk 2 bungkus....*kalap kepengen borong
      Padahal abis makan malam, tapi untuk sepotong dua potong duren mah masih masuk lahh. Langsung makan di tempat...padahal di belakangnya kita itu tukang ikan asin ( jadi makan duren dengan aroma ikan asin dehh...wkwkwkwk! ). Rasa durennya so pasti maknyusss ! Ini kepala dan baju kita udah basah semua tapi ketemu duren mah lupaa rasa dinginnya....hahaha
      Nah beginilah suasana weekend marketnya....sayang nih hujannya awet kayak pake formalin, gak reda-reda malah semakin deras, jadi sedikit mengganggu acara shopping kita. Kan jadi susah mau liat-liat dan jalan ke sana ke sininya....
      Yang berjualan makanan bertaburan di lapangan ini....sepertinya apapun ada

      Kita  harus icipin nih segala jenis kue yang dijual disini..wkwkkwk...akhirnya beli beberapa rasa : strawbery, blueberry dan almond seharga 100 bath untuk 3 potong. Rasanya enak juga. 
      Pokoknya yang dijual disini rata-rata bisa bikin ileran karena eye catching....tapi kagak tau rasanya gimana, tidak semua dicoba sih.
      Ketemu lagi sama tempat jual roti seperti di Hatyai itu, kita beli lagi deh untuk sarapan besok. Terus tidak lupa juga beli mango sticky rice yang rasanya memang enak dan recommended. Untuk duku, rasanya kok asem ya? Perasaan buah-buahan di Thailand kualitasnya biasanya bagus-bagus tapi duku yang ini gak enak rasanya. Sambil berhujan-hujanan mah teteup aja semangat shopping tidak luntur. Kaosnya satu harga semua 100 bath, boleh di coba juga. Yaa dipilihhh...dipilihhh...dipilihhhh!
      Besok paginya, sehabis cek out dari hotel kita tunggu jemputan taxi yang kemaren anter kita dari harbour.  Kita nunggu sambil foto-foto di seberang hotel yang viewnya ke arah bukit-bukit batu kapur dan sungai.
      Nah disini ada patung burung elang atau rajawali gitu deh ( seperti di Langkawi yaa ?).
      Dan inilah icon kota Krabi. Mungkin dinamakan Krabi karena kota ini banyak kepitingnya kali yaa...( males baca asal nebak aja ).
      Sebenarnya bagus juga viewnya, sayang air sungainya berwarna coklat gitu, jadi kesannya kotor dan kurang menarik.
      Oh iya, kita tuh sewa taxi dengan tarif borongan 600 bath, dan tempat pertama yang kita minta anter adalah Wat Kaew Porawaram di Krabi Town dan selanjutnya ke wat tham suea dan bandara. Ternyata letaknya tidak jauh dari hotel kita itu, tidak sampai 5  menit udah sampe. Wahh dari luar terlihat kuilnya megah dan tampak berbeda dengan kuil-kuil umumnya di Thailand. Yang ini dominan warna putih....

      Yang kinclong patung naga di tangganya ini 
      Sawassdee kaa.....
      Kita kesini jam 8 an pagi, jadi tampak sepi  tidak ada seorang
      Bagus yah kuilnya seperti istana
      Setelah itu kita pergi ke Tiger Cave Temple ( Wat Tam Suea ) yang jaraknya sekitar 15 menit dari Krabi Town. Sopir menunggu di parkiran.
      Kita langsung menuju ke kuil di atas bukit ini dan harus menaiki 1237 anak tangga....Astagaaaa, bakalan disiksa lagi deh ini sih... Hmm...heran juga nih ketemunya tangga melulu dari kemaren. Emangnya kagak ada tempat wisata lain lagi yang kagak pake tangga? Ada sih, tapi waktu kita terbatas banget, soalnya abis ini udah mau ke airport....hiksss.    Huh hah...huh hah....yang kemaren ke phiphi view point aja pegelnya belom ilang, sekarang udah disiksa naekin tangga lagi...lebih banyak pula! Weleee...si supir taxi juga bisa nunggu kita sampe keringg dahh...hahahaha. Kita sih dikasih waktu 1 1/2 jam disini.....kita liat aja sanggup gak naek ke atas sana dengan waktu segitu lama.... Tiap berapa anak tangga ngaso....berenti dulu. Hadeuhh makkk! Kapan sampe ke atasnya ini tehh? Sengaja kita pagi hari udah sampe sini, supaya kagak panas dan belum banyak orang. Kebayang kan kalo naek tangga sempit gini terus harus papasan dengan banyak

      Dari ketinggian beberapa anak tangga, terlihat bangunan kuil di pelataran komplek kuil ini sedang dalam taraf pembangunan dan belum jadi seluruhnya. Sepertinya bakalan bagus nih kuilnya.

      Anak-anak udah pada nyerah, emaknya masih semangat 45 naek duluan....
      Tuhh si Alvin dan Miko ( baju kuning dan biru ), ketinggalan di bawah sana, mereka bilang mau ngaso dulu...dan akhirnya mereka gua tinggalin aja karena kalo berenti-berenti kelamaan keburu males naeknya. Lagipula seberangnya, sepanjang mata memandang tampak view ke arah bukit-bukit batu karang yang menjulang dengan pepohonan hijau dimana-mana.

      Walaupun berleleran keringet, narsis mah perlu dong..tuh udah mulai keliatan view ke arah jalan raya di belakang sana
      Astaga, kadang disini ketemu tangga yang kemiringannya bisa 45 derajat atau lebih nih....terjal banget dan banyak air tergenang pula bekas hujan semalam....tapi untung udaranya masih adem-adem disini.... Makin ke atas view nya makin bagus.....
      Nah di setiap level tertentu, dikasih petunjuk kita sudah berada di anak tangga ke berapa....dan pada akhirnya sampe jugaaa di anak tangga ke 1220 dan yang terakhir tulisannya kok 1260 yaa? Padahal tadi di bawah petunjuknya 1237? Ahh kagak sempet hitung dahh, yang penting sampe ke garis finish!....horeeee *langsung ngedeprok lemes
      Nahhh sampelah kita di top of  mountain.....dan terhamparlah pemandangan ke arah bawah....sayang pas nyampe sini cuacanya langsung mendung-mendung...jadi langitnya gak biru dehhh...hiks sayang banget! Di seberangnya, sepanjang mata memandang tampak view ke arah bukit-bukit batu karang yang menjulang dengan pepohonan hijau dimana-mana
      Sungguh menyejukkan mata dan segala kepenatan tadi saat menaiki ratusan anak tangga langsung hilang...
      Disini kita bisa lihat beberapa ornamen-ornamen agama Budha , salah satunya yang menarik adalah seperti ini :
      Dan tentunya ada patung-patung Budha dengan ukuran dari kecil , sedang, sampai besar...
      Yang ukuran giant juga ada..... Dan ternyata, anak-anak gua memang hebat. Mereka kuat juga nyusul naek sampe kesini....ck ck ck, walaupun sampai diatas sini minta cepet-cepet turun lagi karena haus...hahahhaa
      Terus ada bangunan tempat sembahyang yang adanya diujung gunung ini.....bagusss kan?
      Tidak lupa foto berempat dulu disini....ninggalin jejak kalo kita udah pernah kesini...
      Gak nyesel juga lah bercape-cape ria naek ke atas sini kalo ketemu pemandangannya kayak gini....eh tapi ati-ati di lantainya ini banyak banget bertebaran cacing, kaki gua aja sempet dirambatin cacing ( yang tadinya gua pikir semut merayap di kaki....iiiihhhhh jijay juga! )

      Lagi asik-asiknya foto, tau-tau turun hujan. Jiahhh, langsung bubar jalan dehh. Nahh, sekarang urusan turunnya nihh...memang sih kalo turun tangga itu lebih enteng, lebih cepet....tapi teuteup aja sihh kalo anak tangganya ratusan mah yahhh megap-megap dan berenti-berenti duluu juga...huhh hahhh...huhhh ...hahhh! Duhhh lemessss jugaa nih kaki sampe gemeteran.....Saat kita turun ini, mulailah berpapasan dengan banyak orang yang mau naek ke atas dan kita semangatin :"udah deket kok"....( padahal mah masih jauhhh bingittt! hahahahaa *tertawa iblis ! ). Total waktu naek ke atas adalah 45 menit, sementara turunnya sekitar 15 menit...weleee...jauh banget bedanya yaa   Setelah selamat turun sampe dibawah, barulah kita berkeliling di komplek temple ini....Ada bangunan pagoda yang didalamnya terdapat patung dewi Kwan Im Nah tadi kan kita dateng itu langsung naik ke kuil  yang di atas gunung, sekarang kita berada di halaman depan dekat pintu masuk...tentunya ada patung harimau sebagai icon dari Tiger Cave Temple...   Nah untung ada terjemahan bahasa Inggrisnya yaa, kalo gak repot juga nih baca bahasa Thai....( kalo hanacaraka sih gua pernah belajar tuh...tapi ini beda banget ...yah eyahh lahhh! ).
      Dan ini bangunan yang ada kuil tinggi sedang dibangun itu, jadi bawahnya sudah jadi dengan patung-patung naga berwarna hijau ini.... Dan di pintu masuknya, terdapat 2 buah patung harimau besar dengan warna kuning terang.... Nah tampak depannya seperti ini : Secara keseluruhan, tempat ini bagus juga untuk dikunjungi.....tapi harus siapin kaki untuk naek ke atas gunungnya yaa.... Setelah puas berfoto ria di Tiger Cave Temple, sekitar jam 11 an kita langsung di antar ke airport Krabi yang jaraknya sekitar 15 menit juga dari temple. Begitu sampe di airport kita langsung cari toilet untuk bersih-bersih dan ganti baju yang sudah basah dengan keringat. Udah bersih, baru dehh foto lagiii...hahahaha Dan karena udah waktunya makan siang, kita makan siang di kantin yang ada di airport Krabi ini. Makanannya lumayan enak-enak semua...Harganya rata-rata 140 bath, gak terlalu mahal juga Airport Krabi termasuk bagus lah....bangunannya sudah modern Penerbangan kita ke Bangkok sekitar jam 15.00, jadilah waktu menunggunya agak lama. Yang kecapean abis naek gunung sih langsung tidur pules gak pandang tempat lagi....hahahaha. Untung aja kita dapet tempat pojokan yang sepi ... Nah begitu mau boarding, kita pindah ke tempat tunggu dekat pintu masuk ke pesawat....rame banget ternyata disini, karena berbarengan ada beberapa penerbangan juga. Nahh dari ruang tunggu ini, kita bisa langsung bisa liat runway pesawat dan bisa tau kapan pesawatnya dateng....untunglah hari ini udaranya cerah, padahal tadi udah khawatir pesawat delay kalo hujan angin seperti tadi malam...