Sign in to follow this  
desmaster

Ghibli Museum, Tokyo

7 posts in this topic

Teman-teman jalan2ers sekalian, ada yang pernah dengar tentang studio Ghibli? Kalau untuk yang pecinta anime Jepang dengan cerita yang menarik, biasanya pada tau nich. Studio Ghibli adalah satu studio animasi di Jepang yang uda menghasilkan karya-karya yang mendunia... sebut aja.. My neighbour Totoro, Princess Mononoke, dan juga Spirited Away.

totoro1.jpg

Totoro yang jadi satu karakter terkenal di Ghibli Studio

Di Tokyo, ternyata ada lho museum yang menampilkan segala sesuatu tentang Ghibli Studio.. namanya Ghibli Museum.. Di sini, selain bisa menikmati karya-karya dari Studio Ghibli, tempatnya juga bisa sebagai arena bermain untuk anak-anak lho..

press_poto01.jpgpress_poto06.gifpress_poto03.jpg

pict0454.jpg?w=500&h=332

Ada penggemar-penggemar karya Studio Ghibli di sini? ayo sharing2...

Share this post


Link to post
Share on other sites

wow, bahkan ampe ada museum yang bikin-bikin anime.

saya sudah ntn loh the spirited away. ceritanya bagus sekali.

kalo di kita gimana yah?

kayak karakter kartun-kartun jaman dulu. ada gatot kaca, trus Garong, Kapten Aqua, dll.

apa ada museunya juga kah..?

Share this post


Link to post
Share on other sites


wow, bahkan ampe ada museum yang bikin-bikin anime.
saya sudah ntn loh the spirited away. ceritanya bagus sekali.

kalo di kita gimana yah?
kayak karakter kartun-kartun jaman dulu. ada gatot kaca, trus Garong, Kapten Aqua, dll.
apa ada museunya juga kah..?


wah klo "spirited away" mah say udah nonton 8 kali :P


studio ghibli menurut saya filem2 lebih bagus daripada pixar. dari segi cerita jauh lebih bagus. beberapa filem favorit saya buatan studio gibhli.


yup saya setuju, dan juga dari segi kualitas gambar, jauh lebih kompleks dan detail



btw, ingin tau lebih detail ? :P
Ghibli Museum Part1

Ghibli Museum Part2

Share this post


Link to post
Share on other sites

wow, bahkan ampe ada museum yang bikin-bikin anime.

saya sudah ntn loh the spirited away. ceritanya bagus sekali.

kalo di kita gimana yah?

kayak karakter kartun-kartun jaman dulu. ada gatot kaca, trus Garong, Kapten Aqua, dll.

apa ada museunya juga kah..?

Kalau kita mah sejauh ini tempat yang membawa acara dari tv itu ya trans studio Bandung, tapi agak maksa sich itu nama-nama acaranya dibikin jadi atraksi di sana wkwk..

studio ghibli menurut saya filem2 lebih bagus daripada pixar. dari segi cerita jauh lebih bagus. beberapa filem favorit saya buatan studio gibhli.

Studio Ghibli kayanya emang terkenal dengan ceritanya yang benar-benar bagus.. sampai-sampai kalau ga salah waktu itu spirited away jadi nominasi oscar ya?

wah klo "spirited away" mah say udah nonton 8 kali :P

yup saya setuju, dan juga dari segi kualitas gambar, jauh lebih kompleks dan detail

btw, ingin tau lebih detail ? :P

http://jalan2.com/ci...-museum-part-1/

http://jalan2.com/ci...-museum-part-2/

buset nonton sampe 8x wkwk.. saya sampe skrg blm ntn. Pengen sich.. nanti cari-cari ah.

Wah ada artikelnya ya ternyata di web ini.. waduh saya baru tau. nice info nich.

Share this post


Link to post
Share on other sites

walaupun tidak terlalu lebar tapi tempatnya asyik untuk dieksplore terutama bagi fans-nya Studio Ghibli ini, karena disini anda bisa melihat animasi durasi pendek yang tidak release untuk umum, dan juga bisa melihat sketsa2 hasil karya-nya

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By Aleyna Azzahra
      Hi, aku lagi cari teman travelling ke Jepang kira-kira tanggal 9-15 Desember 2018. Nanti nginep di hostfam, kita bisa cari bareng-bareng di Couchsurfing.
      Rencananya mau ke Disneyland, Lake Kawaguchiko (Fuji), Ueno Zoo, dll
      Kalau tertarik bisa contact ke ID LINE aleynazhr, don’t hestitate to contact me ya! Kalau bisa secepatnya, mumpung ada promo dari Airasia!
      FYI, aku mahasiswi, umur 19 tahun. Kalau bisa travelmatenya juga seumuran, tapi kalo engga, juga gapapa!
    • By enda28
      Hallo semuanya, 
      saya ada rencana untuk pergi ke Jepang bulan Juli 2018 ini, adakah rekomendasi tempat untuk dikunjungi pada musim panas?
      masih bikin2 itin
      thank you
       
    • By Sari Suwito
      Sedang transit di kota Jogja dan ingin jalan-jalan murah? Tentu bisa....bisa bangeet malah. Jadi gini, beberapa waktu lalu kami ada acara keluarga di Kulon Progo, berhubung ada anggota keluarga yang mempunyai jadwal terbang beda satu hari dengan keberangkatan saya, maka jadilah kami berangkat bareng dari Kulon Progo naik taksi tetangga saya. Itung-itung hemat tenaga dan uang daripada saya harus bolak-balik Jogja-Wates-Jogja, maka saya memilih untuk menginap saja di hotel dekat bandara Adisucipto. Setelah browsing nemulah saya alamat dan nomer telepon Hotel Bandara Asri (nanti saya tulis reviewnya dech). 
       
      Sebelum ke Bandara Adisucipto saya minta taksi untuk mengantar ke hotel dan taruh barang bawaan saya di hotel.  Karena setelah selesai urusan di bandara saya berniat untuk jalan-jalan sore di kawasan Malioboro sekalian wisata museum gitu. Begitu urusan di bandara selesai, saya langsung menuju Shelter Trans Jogja dari Bandara Adisucipto, naik bus Jalur 1A lalu turun di shelter Malioboro 3 (Pasar Beringharjo/Benteng Vrederburg), lalu saya jalan kaki menuju ke Museum Sonobudoyo, tapiii sayang sekali, ternyata museum sudah tutup jam setengah empat. Jadilah saya..lanjutkan jalan kaki ke arah Jalan Rotowijayan ke museum Kereta Karaton, dan ternyata sudah tutup juga. hihihihi... 
       
      Akhirnya saya jalan kaki ke kawasang cenderamata di jalan Rotowijayan, di kawasan ini berjejer toko yang menjual souvenier, batik dan kaos dagadu. Keluar masuk toko tapi ga nemu juga yang cocok, jadi yaa sekedar cuci mata aja dech. Tak lama kemudian saya memutuskan untuk balik aja ke hotel, takut kesorean dan bus Trans Jogja penuh. Dalam perjalanan menuju shelter Trans Jogja, ketika melewati alun-alun utara ternyata ada kuda yang sedang dilatih oleh pawangnya.  Skalian numpang selfie aah... hehehe...



      Sampai juga akhirnya ke shelter Trans Jogja, dan rupanya ga penumpang ga terlalu ramai, dan masih kebagian tempat duduk. Saya turun di Shelter Jl. Solo (Maguwo) lalu jalan kaki menuju hotel. Sampai hotel setelah mandi sambil nonton tv ternyata berasa dech laparnya, jadilah saya pesan di restaurant hotel mie rebus jawa seharga tujuh belas ribu lima ratus rupiah. hihihi...lumayan...daripada harus keluar hotel lagi. Akhirnya makanan dataang.....
       
      Selesai makan, sambil nonton TV langsung tidur sampe pagi... hihihi...
       
      Pagi hari setelah selesai sarapan saya langsung berangkat ke Shelter Trans Jogja di Bandara Adisucipto untuk menuju Malioboro yang akan dilanjutkan jalan kaki ke Museum Sonobudoyo dan Museum Kereta Karaton Yogyakarta.  
       
      Museum Sonobudoyo
       
      Sekitar jam 8.20 akhirnya sampailah saya di Museum Sonobudoyo, harga tiket masuk tiga ribu rupiah saja, setelah membayar tiket dan mengisi buku tamu, saya dihampiri mbak-mbak yang menawarkan menjadi guide untuk melihat-lihat koleksi museum tapi saya tolak dengan halus. Sepertinya enakan jalan sendiri aja dech, jadi lebih leluasa untuk melihat-lihat koleksi museumnya. 

      Museum Sonobudoyo adalah museum sejarah dan kebudayaan Jawa, termasuk bangunan arsitektur klasik Jawa. Museum ini menyimpan koleksi mengenai budaya dan sejarah Jawa yang dianggap paling lengkap setelah Museum Nasional Republik Indonesia di Jakarta (Museum Gajah).  Museum Sonobudoyo terdiri dari dua unit, unit 1 terletak di Jalan Trikora No. 6 (sebelah utara alun-alun keraton Yogyakarta), sedangkan unit 2 terletak di nDalem Condrokiranan, Wijilan, di sebelah timur alun-alun Keraton Yogyakarta.
       

       
      Museum Sonobudoyo didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda oleh Yayasan yang bernama Java Instituut. Yayasan ini bergerak di bidang kebudayaan Jawa, Madura, Bali dan Lombok. Panitia pendirian museum yaitu IR. TH. Karsten, P.H.W. Sitsen dan S. Koperberg. Bangunan museum menggunakan tanah bekas "Schauten" atau tanah hadiah dari Sri Sultan HB VIII. Peresmian dilakukan oleh Sri Sultan HB VIII pada tanggal 6 November 1935.
       
      Koleksi Museum Sonobudoyo (unit 1 dan unit 2) terbagi menjadi 10 jenis, yaitu:
      Koleksi Numismatik dan Heraldika, obyek penelitiannya adalah mata uang/alat tukar yang sah, yang terdiri dari mata uang logam dan kertas. Heraldika adalah setiap tanda jasa, lambang dan pangkat resmi (termasuk cap dan stempel). Koleksi Filologi, benda koleksi yang menjadi obyek penelitian filologi, misalnya risalah kuno, tulisan tangan yang menguraikan sesuatu hal atau peristiwa.  Koleksi Keramologi adalah koleksi yang terbuat dari bahan tanah liat bakar berupa pecah belah, misalnya guci.  Koleksi seni rupa, koleksi seni yang mengekspresikan pengalaman artistik melalui obyek dua dimensi atau tiga dimensi.  Koleksi Teknologi. Benda atau kumpulan benda yang menggambarkan perkembangan teknologi. Koleksi Geologi, adalah benda yang menjadi obyek ilmu geologi, antara lain batuan, mineral, fosil dan benda-benda bentukan alam lainnya (permata, granit, andesit). Contoh: Batu Barit. Koleksi Biologi adalah benda yang menjadi objek penelitian ilmu biologi, antara lain tengkorak atau rangka manusia, tumbuh-tumbuhan dan hewan. Misalnya burung (obset) / dikeringkan. Koleksi Arkeologi adalah benda yang menjadi objek penelitian arkeologi. Benda tersebut merupakan hasil peninggalan manusia dari zaman prasejarah sampai dengan masuknya pengaruh kebudayaan barat misalnya : Cermin. Koleksi Etnografi adalah benda yang menjadi objek peneiitian ilmu etnografi, benda-benda tersebut merupakan hasil budaya atau menggambarkan identitas suatu etnis misalnya Kacip. Koleksi Historika adalah benda yang bernilai sejarah dan menjadi objek penelitian sejarah. Benda tersebut dari sejarah masuknya budaya barat sampai dengan sekarang, misalnya Senapan laras panjang, meriam.  Saya hanya mengunjungi Museum Sonobudoyo Unit 1, jadi unit 2 mungkin di lain kesempatan akan saya datangi lagi, sekalian makan gudeg di wijilan kali ya. hehehe...
       
      Oh ya, di depan bangunan Museum Sonobudoyo Unit 1 ini terdapat 2 buah meriam lho. Kedua koleksi meriam tersebut di atas berasal dari masa Sri Sultan Hamengku Buwana III. Sayangnya saya lupa untuk fotoin. hehehe...
       
      Selain meriam terdapat pula arca dan relief. Berikut beberapa koleksi yang berada di halaman pendapa : Arca Dewi Laksmi, arca Mahakala, dan Makara.



       
      Sedangkan di bagian dalam pendopo terdapat seperangkat gamelan.

      Museum ini memiliki beberapa ruang, diantaranya:
      Ruang Pengenalan
      Di atas pintu masuk menuju ke ruang pengenalan terdapat relief candrasengkala "Buta Ngrasa Esthining Lata". Ruang pengenalan berukuran 62,5 m2. Salah satu koleksi yang ada di ruang pengenalan yaitu pasren atau krobongan yang terdiri dari tempat tidur, bantal, guling, kasur, kelambu, sepasang patung loro blonyo, sepasang lampu robyong, dan sepasang lampu jlupak.

      Ruang Prasejarah
      Ruang ini menyajikan benda-benda peninggalan masa prasejarah yang menggambarkan cara hidup manusia pada masa itu meliputi berburu, mengumpulkan dan rneramu makanan. Pada tingkat selanjutnya manusia mulai bercocok tanam secara sederhana serta melakukan upacara- upacara yang berhubungan dengan religi (kepercayaan kepada roh nenek moyang, penguburan dan kesuburan).

       
      Ruang Klasik dan Peninggalan Islam
      Dalam penyajian koleksi dikelompokkan menjadi tujuh unsur kebudayaan universal yaitu:
      1. Sistem Kemasyarakatan
      2. Sistem Bahasa
      3. Sistem Religi
      4. Sistem Kesenian
      5. Sistem Ilmu Pengetahuan
      6. Sistem Peralatan Hidup
      7. Sistem Mata Pencaharian Hidup 

      Patung Kepala Dewa,  dibuat dari perunggu berlapis emas. Ditemukan di Pathuk, Gunung Kidul pada tahun 1956. sebagai lambang Dewa Budha,
      Ruang Batik 
      Di ruang ini memamerkan beberapa koleksi batik. Selain itu juga terdapat proses membatik yang dimulai dari pengerjaan pola sampai proses jadi sebuah batik. Di ruang ini saya suka sekali melihat aneka motif batiknya...bagus bagus banget...



       

       
      Ruang Wayang
      Sesuai namanya, di ruangan ini memamerkan aneka jenis koleksi wayang, diantaranya ada wayang kulit dan wayang golek serta gambar tata letak pementasan wayang kulit purwa klasik.



       
      Ruang Topeng
      Disini juga terdapat beberapa jenis topeng dari berbagai daerah. Topeng sudah mengalami sejarah perkembangan, bersamaan dengan nilai-nilai budaya dan nilai seni rupa. Topeng yang tampil dalam bentuk tradisional mempunyai fungsi sebagai sarana upacara dan pertunjukan.

       
      Ruang Jawa Tengah 
      Di ruang ini memamerkan ukiran kayu yang terkenal dari Jawa Tengah yaitu Jepara seperti gebyog patang aring. Selain itu terdapat keris dan senjata tajam lainnya dengan berbagai jenis.


      Ruang Emas
      Museum Sonobudoyo merupakan museum yang memiliki koleksi artefak emas tapi dengan beberapa alasan belum dapat dilihat oleh umum.
      Pada dasarnya artefak emas memiliki fungsi berbeda-beda, yaitu sebagai:
      1. Mata uang
      2. Perhiasan
      3. Wadah
      4. Senjata
      5. Simbol religius, dll.
      Di ruangan ini dipamerkan aneka koleksi perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari kuningan dan perak. Seperti: aneka bentuk ceret dan kendi, sendok makan, dll.




       
      Ruang Bali
      Diantara ruangan lain, ruangan ini paling istimewa, karena terdapat lampu warna biru yang byar pet gitu. hehehe...
      Koleksi ruang Bali berkaitan dengan kebudayaan Bali baik mengenai yadnya (upacara) maupun berbentuk seni lukis dan seni pahat. Di bagian terpisah terdapat Candi Bentar.
       


      Patung Penari Keris, posenya ini lho...agak-agak merinding...seperti orang mau bunuh diri yaa..

      Di bagian luar Ruang Bali terdapat Candi Bentar, di dalam komplek candi Bentar biasanya terdapat Bale Gede, yang berfungsi sebagai tempat upacara daur hidup dan untuk bermusyawarah.

       
      Ruang mainan
      Di sini dipamerkan koleksi aneka mainan tradisional dan foto-foto anak-anak yang sedang memaikan permainan tradisional.



      Setelah merasa cukup puas berkeliling museum Sonobudoyo, saya melanjutkan perjalanan berikutnya ke Museum Kereta Keraton Yogyakarta dengan berjalan kaki. Yuk, ikuti cerita selanjutnya.
       
      Museum Kereta Karaton Ngayogyakarta 
      Museum ini terletak di Jalan Rotowijayan, bisa ditempung dengan berjalan kaki dari Museum Sonobudoyo unit 1. Harga tiket masuk lima ribu rupiah, ditambah tiket ijin foto seharga seribu rupiah.

      Museum ini khusus menampung kereta-kereta kuda keraton pada masa Kerajaan Yogyakarta era Sri Sultan Hamengku Buwono ke-8. VIII.
       
        Museum kereta keraton ini memiliki 18 kereta, setiap kereta memiliki nama masing-masing, diantaranya:
      1. Kereta Nyai Jimat, 
      2. Kereta Kyai Garudayaksa, 
      3. Kereta Jaladara, 
      4. Kereta Kyai Ratapralaya, 
      5. Kereta Kyai Jetayu, 
      6. Kereta Kyai Wimanaputra, 
      7. Kereta Kyai Jongwiyat, 
      8. Kereta Kyai Harsunaba, 
      9. Kereta Bedaya Permili, 
      10. Kereta Kyai Manik Retno, 
      11. Kereta Kyai Kuthakaharjo, 
      12. Kereta Kyai Kapolitin, 
      13. Kereta Kyai Kus Gading, 
      14. Landower Kereta, 
      15. Kereta Surabaya Landower, 
      16. Wisman Landower Kereta, 
      17. Kereta Kyai Puspoko Manik 
      18. Kereta Kyai Mondrojuwolo. 
      Kereta-kereta tersebut mempunyai fungsi masing-masing, dan penggunaannya selalu dipilih berdasarkan acara yang akan diselenggarakan. Beberapa foto terpasang di dekat lokasi kereta Keraton. Jadi kita juga bisa lihat kereta ini dipakai di acara apa gitu.


      Oh ya, kereta-kereta ini buatan Eropa lho, diantaranya Jerman dan Belanda. Bahkan sebagian besar kereta-kereta ini masih asli, belum tersentuh modifikasi meski sebagian sudah mengalami modifikasi baik dalam warna cat maupun interiornya.
       
      Terdapat beberapa kereta yang dikeramatkan, karena keistimewaan bahannya yang terbuat dari emas dan merupakan kereta Raja yang disebut sebagai kereta Kencana, bahkan sebagian kereta mungkin memiliki cerita mistis, makanya jangan sembarangan ya saat berada di tempat ini. 
       
      Saya paling suka kereta ini nich...keren dan elegan banget... *abaikan penampakan yang separo ini. hehehe...

       
      Jenis-jenis kereta di Museum Kereta Keraton:
      1. Kereta atap terbuka dan beroda dua, contohnya:  Kereta Nyai Kapolitan

      2. Kereta atap terbuka dan beroda empat, contohnya: Kerata Kyai Jongwiyat dan Landower. Oh ya saya sempat dengar kalau Landower ini berasal dari istilah dalam bahasa Inggris Land Owner (Tuan Tanah/Raja).

      3. Kereta atap tertutup dan beroda empat. Kereta ini termasuk kereta yang mewah dan sakral, contohnya: Kereta Kanjeng Nyai Jimad, Kyai Garudayaksa dan Kyai Wimanaputra.

      Kereta Kanjeng Nyai Jimad ini merupakan kereta tertua, telah berada di sini sejak tahun 1750. Kereta ini merupakan buatan Belanda. Bentuknya unik dan sangat indah seperti layaknya kereta Cinderella. Di bagian depan bawah kereta ini terdapat patung wanita menyangga kereta ini dan terdapat untaian bunga yang mengalunginya.
       
      Ada juga kereta Premili, di dalam kereta ini terdapat 4 baris kursi yang saling berhadapan, kereta ini berfungsi untuk membawa para penari keraton yang berjumlah sekitar 16 orang.

      Di dalam museum ini juga terdapat beberapa patung kuda, koleksi pakaian dan perlengkapan kusir kereta.




      Di bagian luar museum di halaman sebelah utara juga terdapat kandang kuda yang dihuni beberapa ekor kuda. Berikut beberapa suasana di halaman museum..


      Sekitar jam setengah sebelas saya keluar dari Museum Kereta Keraton lalu jalan kaki ke shuttle Trans Jogja di jalan Malioboro. Seperti sebelumnya, saya turun di shelter Jl. Solo - Maguwo lalu mampir makan siang di warung padang dulu, baru lanjut jalan kaki ke toko oleh-oleh Bakpia 25. Nah, disini saya coba beli varian baru bakpia 25 yaitu bakpia isi ubi ungu, enak juga lho rasanya. Sampai di hotel sekitar jam 12an, saya beres-beres barang bawaan dan sekitar jam 12.30 saya ke front office untuk nyerahin kunci kamar, dan request pengantaran ke bandara diundur jadi jam 2 saja. Males kelamaan di bandara ga bingung mau ngapain secara flight saya masih jam 16.10. Akhirnya jam 2 tepat saya minta diantar ke bandara, rupanya counter Air Asia sudah buka, jadi langsung aja check in dan masuk ke boarding roam. Selamat tinggal Jogjakarta....ke Jakarta aku kan kembaliiii......
      Demikianlah...field report jalan-jalan saya saat transit di kota Jogja...mungkin bisa menjadi referensi buat teman-teman yang akan transit di kota Jogja.
       
       
       
       
    • By vie asano
      Sudah baca tulisan tentang kota Narita? Kalau belum, baca dulu disini ya. Secara singkat, kota Narita merupakan kota tempat Narita International Airport berdiri. Jadi kota ini ideal untuk dijelajahi jika Anda sudah check-out dari hotel di Tokyo namun masih ada jeda waktu cukup lama sebelum terbang kembali ke Indonesia (maupun menuju kota atau negara tujuan lainnya). Sebaliknya, Anda juga bisa menjelajah Narita sebelum mampir ke Tokyo.
      Saya ingin merekomendasikan beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi sebelum menuju ke Bandara Narita. Agar lebih mudah, saya menyertakan informasi akses dari Tokyo menuju obyek wisata tersebut, dan dari obyek wisata menuju ke Bandara Narita. Jika bermaksud untuk singgah sebelum menuju ke Tokyo, tinggal dibalik saja aksesnya. Mudah kan? Semoga bermanfaat ya!
       
      Naritasan
      (estimasi waktu wisata: 30-60 menit untuk wisata singkat, 1-2 jam untuk menjelajah seluruh area kuil)
      Alamat:
      1 Narita, Narita-shi, Chiba
      Jam operasional:
      Selalu buka (untuk area kuil)
      Harga tiket:
      free
      Akses:
      [Tokyo-Naritasan] Lihat disini untuk akses menuju ke Stasiun JR Narita maupun Stasiun Keisei-Narita. Dari kedua stasiun tersebut, jalan kaki 15-20 menit menuju Naritasan.
      [Naritasan-Narita Airport] via Stasiun Narita, naik JR Sobu/Narita Line, ¥230*, 11 menit, turun di Narita Airport terminal 1. Atau dari Stasiun Keisei-Narita, naik Keisei Main Line, ¥250*, 9 menit, turun di Narita Airport terminal 1.
      Naritasan, atau Narita Shinsho-ji Temple (alias kuil Narita) merupakan kuil terpopuler yang ada di kota Narita. Jaraknya tak begitu jauh dari Bandara Narita, sehingga ideal dikunjungi di sela waktu transit dari atau menuju Tokyo.
      Foto 01: Naritasan
      (a.) Niomon [foto: Self/wikimedia], (b.) Main hall [foto: 663highland/wikimedia], (c & d) Shakado [foto: Joel Bradshaw/wikimedia, Abasaa/wikimedia]
      Ada beberapa hal yang membuat kuil ini menarik selain masalah faktor kedekatan jarak dengan Bandara Narita. Dari segi sejarah, kuil ini telah berusia lebih dari 1000 tahun, dan telah menjadi saksi dari berbagai peristiwa bersejarah di Jepang. Naritasan juga memiliki beberapa benda bersejarah yang masih terjaga dengan baik, seperti patung buatan Kukai (salah satu pendeta Budha legendaris) yang sudah dibuat sejak periode Heian. Beberapa bangunan di Naritasan, yaitu Komyodo, pagoda 3 tingkat, Deva gate, Shakado, dan Gakudo; telah diakui sebagai important cultural properties karena sudah dibangun sejak tahun 1700-an. Di kuil ini juga terdapat taman yang luas dan Calligraphy Museum. Faktor menarik lainnya, di dekat Naritasan terdapat sebuah shopping street yang disebut Omotesando. Di sepanjang jalan ini terdapat beragam jenis toko dan restoran, sehingga Anda bisa sekaligus berburu oleh-oleh sebelum kembali ke Indonesia.
      Foto 02: Naritasan
      (a.) Komyodo [foto: Abasaa/wikimedia], (b.) Shokutaishido [foto: Joel Bradshaw/wikimedia], (c.) Pagoda [foto: 663highland/wikimedia], (d.) Great Pagoda of Peace [foto: Joel Bradshaw/wikimedia]
      ***
      Museum of Aeronautical Science
      (estimasi waktu wisata: 1-2 jam)
      Alamat:
      Iwayama 111-3, Shibayama-machi, Sanbu-gun, Chiba 289-1608
      Jam operasional:
      10.00-17.00 (penjualan tiket terakhir pukul 16.30). Tutup setiap hari Senin (atau hari berikutnya jika Senin adalah hari libur), 29-31 Desember. Buka setiap hari pada bulan Januari dan Agustus.
      Harga tiket:
      ¥500* (dewasa), ¥300* (pelajar SMP dan SMA), ¥200* (usia 4 tahun ke atas)
      Akses:
      [Tokyo-Museum of Aeronautical Science] via Stasiun Narita Airport (keisei line) atau dari Narita Airport Terminal 1 maupun 2, naik Airport Museum Shuttle Bus menuju museum (¥200*, 15-20 menit). Lihat disini untuk akses dari Tokyo menuju Stasiun Narita Airport maupun dari Terminal 1 dan 2. Alternatif lain, naik taksi (± ¥1600*).
      [Museum of Aeronautical Science-Narita Airport] bisa naik Airport Museum Shuttle Bus lagi, atau naik taksi ke Bandara Narita.
      Museum of Aeronautical Science ini merupakan museum aviasi pertama yang ada di Jepang. Disini pengunjung dapat melihat-lihat berbagai display yang berhubungan dengan perkembangan dunia penerbangan di Jepang. Terdapat berbagai replika pesawat, observation deck yang menawarkan pemandangan 360 derajat (termasuk melihat runway di Bandara Narita), restoran, dan simulator menarik yang membuat pengunjung dapat merasakan pengalaman virtual menjadi pilot.
      Foto 03: Museum of Aeronautical Science
      (a.) Jalan masuk ke museum [foto: Abasaa/wikimedia], (b.) Bangunan museum [foto: Hyougushi/flickr], (c & d) Interior museum [foto: Abasaa/wikimedia]
      Lokasi museum ini sebetulnya tepat di luar Bandara Narita, tepatnya di ujung selatan dari runway bandara ini. Namun sebetulnya museum ini agak sulit diakses menggunakan kendaraan umum. Untuk mengakses museum ini (dari maupun menuju Bandara Narita) wisatawan bisa menggunakan shuttle bus maupun taksi (detail bisa dilihat di bagian akses). Tambahan informasi, di sekitar museum juga terdapat spot menarik untuk melihat runway pesawat, yaitu Sakura no Oka Observation Area (di ujung selatan Bandara Narita, dekat dengan museum); dan Sakura no Yama Observation Area (di sebelah utara Bandara Narita). Jadi jika sekedar ingin melihat runway sambil menikmati suasana dan tak sempat untuk masuk ke dalam museum, bisa pergi ke dua tempat tersebut.
      Foto 04: Museum of Aeronautical Science
      (a.) Pesawat di luar museum [foto: Mamo/wikimedia], (b.) Cockpit [foto: Alec Wilson/wikimedia], (c.) Cesna 172 [foto: Alec Wilson/wikimedia], (d.) Hangar pesawat [foto: Alec Wilson/wikimedia]
      ***
      Jika punya waktu transit yang lebih senggang (lebih dari 4 jam), bisa juga mampir ke tempat-tempat berikut ini:
       
      Boso no Mura
      Alamat:
      1028 Ryukakuji, Sakae-machi, Imba-gun, Chiba 270-1506
      Jam operasional:
      09.00-16.30, tutup setiap hari Senin (atau Selasa jika Senin bertepatan dengan hari libur)
      Harga tiket:
      ¥300* (dewasa), ¥150* (pelajar SMA dan mahasiswa), gratis (anak-anak, pelajar SD dan SMP, usia 65 tahun ke atas)
      Akses:
      [Tokyo-Boso no Mura] lihat disini untuk akses ke Stasiun JR Narita. Dari Stasiun Narita, naik bus Chiba Kotsu yang menuju ke Ryukakuji-dai-shako, turun di Ryukakuji-dai-2-chome (¥390*, 12 menit). Lanjutkan dengan jalan kaki 8-10 menit.
      [boso no Mura-Narita Airport] naik bus ke Stasiun Narita, dilanjutkan dengan naik JR Sobu/Narita Line, ¥230*, 11 menit. Turun di Narita Airport Terminal 1.
      Tempat ini merupakan museum terbuka yang bertujuan untuk memberikan gambaran kehidupan lokal pada periode Edo. Terdapat berbagai display rumah dan bangunan berskala 1:1 dari periode Edo, serta replika rumah dari periode Jomon (13000-300 tahun sebelum masehi). Suasananya mengingatkan pada Edo-Tokyo Open Air Architectural Museum dan Nihon Minka-en, sehingga perlu waktu beberapa jam untuk betul-betul menjelajah museum ini.
      Foto 05 (a-d): Boso no Mura [foto: Tanaka Juuyoh/flickr]
      ***
      Sawara
      Akses:
      [Tokyo-Sawara] lihat sini untuk akses ke Stasiun Narita. Dari Stasiun Narita, naik JR Narita line, ¥480*, 30 menit. Turun di Stasiun Sawara.
      [sawara-Narita Airport] dari Stasiun Sawara, naik JR Narita Line, ¥650*, turun di Stasiun Narita. Transfer ke JR Sobu/Narita Line Rapid, 11 menit, turun di Narita Airport Terminal 1.
      Sawara sejatinya merupakan sebuah kota kecil yang berada sedikit di luar Narita. Lalu kenapa kota ini layak dikunjungi jika punya waktu luang saat berada di Narita? Itu karena Sawara memiliki spot menarik, yaitu kawasan dengan suasana ala kota tua, yang terletak di sekitar kanal (10-15 menit dari Stasiun Sawara). Beberapa rumah dan bangunan dari periode Edo dipertahankan, sehingga area tersebut dikenal dengan sebutan Little Edo. Sawara juga menjadi tuan rumah dari beberapa festival unik, salah satunya adalah Higenade Matsuri.
      Foto 06 (a-d): Sawara [foto: At by At/wikimedia, At by At/wikimedia, Aktorisi/wikimedia, アリオト /wikimedia]
      ***
      * Harga sewaktu-waktu dapat berubah.
      ** Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
      ***
      Baca juga:
       
      Side trip from Tokyo (1): Yokohama
      - Yokohama Chinatown, Kenapa Harus Kesana?
      - Serba-serbi Minato Mirai 21, Landmark Kebanggaan Yokohama
      Side Trip From Tokyo (2): Kawasaki
      - Yang Seru dari Kawasaki: Ikuta Ryoukuchi Park
      Side trip from Tokyo (3): Kamakura
      - Inspirasi Itinerary Kamakura: Obyek Wisata + Hiking Trail
      - Setengah hari di Kamakura, kemana saja?
      - Seru-seruan di Kamakura, mulai dari pantai hingga aneka event tahunan
      Side Trip from Tokyo (4): Enoshima
      - Yang Wajib Dikunjungi di Enoshima
      Side trip from Tokyo (5): Narita
      - Transit di Narita, Main Kesini Dulu Yuk!
    • By vie asano
      Semula saya ingin lanjut menulis tentang aneka kota tujuan yang bisa menjadi side trip saat melakukan wisata ke Tokyo. Namun sepertinya akan lebih menarik jika saya berbagi informasi terlebih dulu tentang beberapa spot wisata populer yang bisa ditemukan di Yokohama, sehingga Jalan2ers bisa lebih mengenal Yokohama sebelum mengenal kota tujuan wisata lainnya yang ada di sekitar Tokyo.
      Sesuai yang saya janjikan disini, saya akan mengulas tentang Yokohama Chinatown dan Minato Mirai dalam tulisan terpisah. Kedua tempat tersebut sudah sangat dikenal sebagai tempat wisata yang paling populer di Yokohama. Ibarat kata, jika Anda berencana untuk singgah hanya sejenak di Yokohama, paling salah satu dari kedua tempat tersebut wajib untuk dikunjungi. Sebetulnya di Yokohama masih banyak tempat menarik lainnya seperti Hakkeijima Sea Paradise, namun perlu waktu seharian untuk betul-betul bisa menikmati taman hiburan itu. Untuk saat ini saya ingin menulis tentang Yokohama Chinatown, mulai dari hal menarik yang bisa ditemukan disana, hingga cara termudah mengakses kawasan tersebut.
      Sejarah singkat
      Bagi yang suka dengan sejarah Jepang, mungkin sudah pernah mendengar jika Jepang menutup diri dari pengaruh luar pada periode Edo, yaitu antara tahun 1603-1867. Menjelang akhir periode Edo, tepatnya tahun 1859, Jepang mulai mengijinkan pelabuhannya untuk di akses oleh negara lain. Pelabuhan pertama yang dibuka adalah pelabuhan yang ada di Yokohama.
      Setelah dibukanya pelabuhan Yokohama untuk asing, perlahan bangsa asing mulai masuk ke Jepang. Salah satunya pendatang terbanyak berasal dari Cina. Para pendatang tersebut lalu membentuk pemukiman yang akhirnya berkembang menjadi Yokohama Chinatown (atau Yokohama Chukagai).
      Dalam perkembangannya, Yokohama Chinatown mengalami perjalanan sejarah yang berliku. Faktor utamanya, selain karena sempat hancur karena faktor bencana alam, juga karena pecahnya perang antara Cina dan Jepang pada tahun 1937 yang tentu saja berpengaruh terhadap perkembangan chinatown. Barulah setelah tercapai perdamaian antara Jepang dan Cina, Yokohama Chinatown semakin berkembang dan akhirnya menjadi salah satu daya tarik dari kota Yokohama.
      Kenapa harus berkunjung ke Yokohama Chinatown?
      Sebetulnya, chinatown bisa ditemukan di berbagai negara. Namun Yokohama Chinatown memiliki beberapa keistimewaan. Dari seluruh chinatown yang ada di Jepang (chinatown lainnya terdapat di Kobe dan Nagasaki), Yokohama Chinatown adalah yang terbesar. Bahkan dengan luas mencapai 500 meter persegi, Yokohama Chinatown ini sekaligus menjadi yang terbesar di Asia, dan salah satu yang terbesar di dunia.
      (1), (2), (3), (4) Suasana di Yokohama Chinatown [foto: Jorge Lascar, Kabacchi, Chacrebleu, Lucamascaro]
      Faktor suasana menjadi daya tarik utama dari Yokohama Chinatown. Walau saat ini penduduk asli Cina hanya tinggal segelintir saja yang masih menetap disana, masih banyak hal menarik yang bisa ditemukan di Yokohama Chinatown. Terdapat lebih dari 500 toko di area tersebut (konsentrasi terbesar membentuk area seluas 300 meter persegi), dengan 250 diantaranya mengusung nuansa Cina.
      (5), (6), (7), (8) Suasana di Yokohama Chinatown [foto: Yukop, Fesek, Kabacchi]
      Suasana khas Cina pun semakin dikuatkan dengan pernak-pernik yang terdapat di kawasan ini, dimulai dari pintu gerbangnya. Yokohama Chinatown memiliki 4 gerbang bernuansa megah yang menjadi pintu masuk kawasan chinatown, ditambah dengan 6 gerbang lain yang berada di dalam kawasan. Jalanan di chinatown pun kental dengan suasana ala Cina, mulai dari ornamen yang menghiasi fasade toko, hingga banyaknya lampion merah yang menghiasi jalan. Dijamin wisatawan akan lupa kalau masih berada di Jepang deh, hehe..
      (9), (10), (11), (12) Aneka gerbang di Yokohama Chinatown [foto: RinzeWind, owenfinn16, *_*, Chacrebleu]
      Alasan lain untuk berkunjung kemari tentu saja karena keragaman hal yang bisa ditemukan di Yokohama Chinatown. Seperti telah disebutkan sebelumnya, di kawasan ini terdapat lebih dari 500 toko/outlet yang terdiri dari beragam jenis: toko kelontong, toko souvenir, restoran, kafe, toko makanan ringan, museum, dan banyak lagi. Tak hanya memiliki beragam toko, di Yokohama Chinatown juga terdapat kuil-kuil seperti kuil Kanteibyo dan Mazu Miao. Kuil-kuil tersebut memiliki desain yang berbeda dengan kuil-kuil lain di Jepang, sehingga menjadi salah satu daya tarik dari Yokohama Chinatown. Dengan kata lain, Yokohama Chinatown merupakan salah satu tempat terbaik untuk melakukan wisata belanja, wisata kuliner, serta wisata kuil di Yokohama.
      (13), (14), (15) Kuil Kanteibyo [foto: Dick Thomas Johnson, Ajari, Kabacchi]
      (16), (17), (18) Kuil Mazu Miao [foto: Lucamascaro, Ajari]
      Rekomendasi
      Berkunjunglah ke Yokohama Daisekai. Tempat ini merupakan sebuah entertainment mall setingi 8 lantai yang berada di Yokohama Chinatown. Disini pengunjung bisa melakukan berbelanja souvenir, mencoba layanan pijat, hingga mengunjungi museum trick art. Terdapat food court yang menyajikan aneka kuliner dari Cina, serta layanan bagi para cosplayer. Sedangkan untuk rekomendasi waktu berkunjung, salah satu waktu terbaik adalah menjelang hingga saat perayaan tahun baru Cina. Akan ada berbagai event yang digelar mulai dari bulan November-Februari, dan di masa-masa tersebut chinatown akan dihiasi dengan berbagai dekorasi cantik yang membuat suasana semakin meriah.
      Akses menuju Yokohama Chinatown
      Yokohama Chinatown bisa di akses menggunakan kereta maupun bus. Jika menggunakan kereta, stasiun terdekat dari kawasan ini adalah Stasiun Motomachi-Chukagai dan Stasiun Ishikawacho.
      Stasiun Yokohama - Stasiun Motomachi-Chukagai: ¥200*, 8 menit, via Minato Mirai Line;
      Stasiun Yokohama - Stasiun Ishikawacho: ¥150*, 7 menit, via JR Negishi Line.
      Untuk akses menuju Stasiun Yokohama, bisa baca disini.
      Untuk akses langsung dari Tokyo:
      Dari Stasiun Tokyo: JR Keihin-Tohoku/Negishi Line Local, ¥540*, 44 menit. Turun di Stasiun Ishikawacho.
      Dari Stasiun Shibuya: Tokyu Toyoko/Minatomirai Line Local, ¥460*, 48 menit. Turun di Stasiun Motomachi-Chukagai. Untuk akses lebih cepat, pilih kereta express (waktu tempuh menjadi 38 menit, harga tiket sama dengan kereta local).
      Dari Stasiun Shinagawa: JR Keihin-Tohoku/Negishi Line Local, ¥450*, 33 menit. Turun di Stasiun Ishikawacho.
      Sedangkan jika ingin menggunakan bus, terdapat 6 rute bus yang berangkat dari Stasiun Yokohama. Dari Sakuragicho Bus Depot, ada 16 rute yang menuju Yokohama Chinatown.
      Trivia
      Yokohama Chinatown pernah menjadi latar cerita dalam manga Garasu no Kamen lho, atau versi Bahasa Indonesia-nya berjudul Topeng Kaca. Tokoh utama manga tersebut, yaitu Maya Kitajima, diceritakan tinggal bersama ibunya di sebuah toko sebelum kabur ke Tokyo demi mengejar kesempatan belajar akting pada Mayuko Tsukikage. Ada yang pernah baca manga itu?
      * * *
      * Harga dapat berubah sewaktu-waktu.
      ** Seluruh foto diambil dari flickr, via creative commons. Credit nama berdasarkan username flickr. Tidak ada perubahan dari foto aslinya.
      * * *
      Baca juga:
      Side trip from Tokyo (1): Yokohama
      - Yokohama Chinatown, Kenapa Harus Kesana?
      - Serba-serbi Minato Mirai 21, Landmark Kebanggaan Yokohama
      Side Trip From Tokyo (2): Kawasaki
      - Yang Seru dari Kawasaki: Ikuta Ryoukuchi Park
      Side trip from Tokyo (3): Kamakura
      - Inspirasi Itinerary Kamakura: Obyek Wisata + Hiking Trail
      - Setengah hari di Kamakura, kemana saja?
      - Seru-seruan di Kamakura, mulai dari pantai hingga aneka event tahunan
      Side Trip from Tokyo (4): Enoshima
      - Yang Wajib Dikunjungi di Enoshima
      Side trip from Tokyo (5): Narita
      - Transit di Narita, Main Kesini Dulu Yuk!
    • By vie asano
      Yokohama, sudah. Kawasaki, sudah. Kamakura dan Enoshima, juga sudah. Lalu masih ada lagi nggak kota lain yang bisa dijadikan tujuan side-trip dari Tokyo?
       
      Jawabannya, banyak. Kota-kota yang sudah disebut di atas baru sebagian kota yang termasuk dalam wilayah prefektur Kanagawa. Nah, Tokyo sendiri posisinya diapit oleh prefektur Kanagawa (di sebelah selatan), prefektur Chiba (di sebelah timur), prefektur Saitama (di sebelah utara), dan prefektur Yamanashi (di sebelah barat). Masing-masing prefektur tersebut memiliki banyak sekali kota dengan aspek pariwisata yang dikelola dengan baik, sehingga masih sangat banyak kota tujuan wisata lain yang bisa dikunjungi sebagai alternatif side-trip saat berada di Tokyo.
       
      Walau kota-kota tersebut jumlahnya banyak, dan bahkan ada juga yang termasuk obyek wisata paling populer di Jepang seperti Gunung Fuji, Nikko, dan Hakone, namun saya ingin fokus dulu pada kota-kota yang bisa dikunjungi pulang-pergi dari Tokyo (tanpa harus memindahkan akomodasi ke kota tersebut). Baru setelahnya giliran aneka kota tujuan wisata yang bisa dikunjungi pulang-pergi maupun (karena satu dan lain hal) harus menginap disana. Kali ini saya ingin bergeser ke sebelah timur Tokyo, yaitu prefektur Chiba. Disana banyak juga kota yang menarik untuk dikunjungi, salah satunya adalah Narita.
       
      Sejarah singkat
      Narita? Memangnya ada tempat wisata di Narita International Airport? Kalau bicara tentang Narita, pasti yang langsung terpikir adalah Narita International Airport alias Bandara Narita. Selain Bandara Haneda (atau Haneda International Airport), Bandara Narita memang bandara internasional terdekat dari Tokyo. Tapi sebetulnya, bandara tersebut dinamakan Narita karena memang berdiri di kota Narita, yang jaraknya kurang lebih 60 km dari Tokyo. Jadi Narita yang dimaksud disini bukanlah Bandara Narita, melainkan kota Narita.
      Sejarah Narita sudah dimulai sejak jaman Japanese Paleolithic, kira-kira 50000-30000 sebelum masehi. Karena di kota ini terdapat beberapa sungai kecil, Narita pun perlahan-lahan menjadi pusat kehidupan untuk daerah sekitarnya. Seiring berjalannya waktu, di Narita kemudian berdiri beberapa fasilitas penting seperti kuil Shinsho-ji (tahun 940) yang menjadi salah satu pusat ziarah. Setelah dibangunnya Bandara Narita, kota Narita pun memantapkan diri menjadi kota yang berfokus pada transportasi, logistik, dan juga wisata.
      Foto 01: Narita City
      (a.) Narita City Office [foto: Hoku-sou-san/wikimedia], (b.) Jyoso Bridge [foto: Katorisi/wikimedia], (c.) Sanrizuka Park [foto: Katorisi/wikimedia], (d.) Sakura no Yama [foto: Katorisi/wikimedia]
      Yang menarik di Narita
      Ada beberapa fasilitas menarik di kota ini yang bisa dikunjungi sebelum meninggalkan Jepang (via Narita) maupun sesaat setelah mendarat di Narita (sebelum menuju Tokyo). Daya tarik utama dari kota ini tentu saja Narita International Airport. Bandara yang dibangun untuk mengurangi kepadatan Bandara Haneda ini (dibangun pada tahun 1960-an) memang dikenal sebagai salah satu pintu masuk dan pintu keluar terpenting dari dan menuju Jepang. Namun jika bicara tentang obyek wisata, yang paling populer adalah Naritasan (atau Naritasan Shinshoji Temple), alias kuil Shinsho-ji. Kuil Budha yang usianya sudah ribuan tahun ini lokasinya tak begitu jauh dari Bandara Narita, dan sudah sangat dikenal sebagai salah satu tempat wisata populer di Narita. Jika punya waktu senggang sebelum flight dari Narita (atau jika kebetulan transit di Narita), bisa mengunjungi kuil ini.
      Foto 02 (a-d):
      Narita Airport [foto: Abasaa/wikimedia, Terence Ong/wikimedia, Hyougushi/flickr, Marufish/wikimedia]
      Obyek wisata lain yang lokasinya tak jauh dari Bandara Narita adalah Museum of Aeronautical Sciences. Museum ini lokasinya persis di luar Bandara Narita, dan memiliki beberapa fasilitas menarik seperti observation area untuk mengamati runway. Obyek wisata terdekat lainnya dari Bandara Narita adalah Boso no Mura, sebuah museum terbuka mengenai kehidupan tradisional daerah Boso; Yamato no Yu, pemandian air panas khas Jepang; dan National Museum of Japanese History, yaitu sebuah museum sejarah Jepang. Diluar obyek wisata yang sudah disebutkan, masih ada obyek wisata lainnya seperti Sawara (kota kecil yang dikenal dengan sebutan Little Edo), dan Katori Jingu (kuil Shinto yang menjadi pusat dari ratusan kuil Katori di seluruh Jepang). Mudah-mudahan untuk tulisan berikutnya ada beberapa obyek wisata yang bisa di review lebih lanjut, maupun disusun dalam bentuk itinerary.
      Foto 03:
      (a.) Naritasan [foto: 663highland/wikimedia], (b.) Museum of Aeronautical Science [foto: Mamo/wikimedia], (c.) Boso no mura [foto: Tanaka Juuyoh/flickr], (d.) Sawara city [foto: Katorisi/wikimedia]
      Rekomendasi
      Jika memang berniat untuk bepergian dari Tokyo-Bandara Narita dan sebaliknya, sebaiknya membeli kartu SUICA NEX. Detail mengenai SUICA NEX bisa dibaca disini. Dari Bandara Narita, tinggal mengakses stasiun kereta lain untuk mencapai berbagai obyek wisata di Narita.
      Akses dari Tokyo
      Ada beberapa stasiun yang terdapat di Narita. Namun saya hanya akan mengulas akses dari Tokyo menuju beberapa stasiun besar di Narita, yaitu Stasiun JR Narita, Stasiun Keisei-Narita, dan Narita Airport.
      Foto 04:
      (a.) Stasiun Narita [foto: Kouchiumi/wikimedia], (b.) Stasiun Keisei-Narita [foto: Mutimaro/wikimedia], (c.) Stasiun Narita Airport [foto: Filler/wikimedia], (d.) Stasiun Narita Airport Keisei Line [foto: Filler/wikimedia]
      Dari Stasiun Shinjuku:
      -JR Yamanote Line (outer loop), ¥190*, 21 menit. Turun di Stasiun Nippori, ganti naik Keisei Main Line, ¥750*, 71-84 menit. Turun di Stasiun Keisei-Narita.
      -Atau, di Stasiun Nippori naik Keisei Skyliner, ¥1200*, 45 menit, turun di Narita Airport Terminal 1.
      -JR Chuo/Sobu Line, ¥1280*, 69 menit. Turun di Stasiun Chiba, transfer ke JR Narita Line, ¥0*, 34 menit. Turun di Stasiun Narita.
       
      Dari Stasiun Shibuya:
      -LTD EXP Narita Express, ¥1450*, 72-76 menit. Turun di Narita Airport Terminal 1 atau Terminal 2.
      -JR Yamanote Line, ¥190*, 29 menit. Turun di Stasiun Nippori, lalu naik Keisei Main Line Ltd.Exp., ¥750*, 68 menit. Turun di Stasiun Keisei-Narita.
       
      Dari Stasiun Tokyo:
      -JR Keihin-Tohoku/Negishi Line, ¥150*, 11 menit. Turun di Stasiun Nippori, lalu naik Keisei Main Line, ¥750*, 64 menit. Turun di Stasiun Keisei-Narita.
      -LTD.EXP Narita Express, ¥1280*, 55 menit. Turun di Narita Airport. Jika ingin lanjut ke Stasiun Narita, dari Narita Airport tinggal naik LTD.EXP Narita Express, ¥190*, 9 menit.
       
      Dari Stasiun Shinagawa:
      -LTD.EXP Narita Express, ¥1450*, 69 menit. Turun di Narita Airport.
      -JR Keihin-Tohoku/Negishi Line, ¥190*, 22 menit. Turun di Stasiun Nippori, ganti naik Keisei Main Line, ¥750*, 65 menit. Turun di Stasiun Keisei-Narita.
      * * *
      * Harga sewaktu-waktu dapat berubah.
      ** Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya.
      * * *
      Baca juga:
      Side trip from Tokyo (1): Yokohama
      - Yokohama Chinatown, Kenapa Harus Kesana?
      - Serba-serbi Minato Mirai 21, Landmark Kebanggaan Yokohama
      Side Trip From Tokyo (2): Kawasaki
      - Yang Seru dari Kawasaki: Ikuta Ryoukuchi Park
      Side trip from Tokyo (3): Kamakura
      - Inspirasi Itinerary Kamakura: Obyek Wisata + Hiking Trail
      - Setengah hari di Kamakura, kemana saja?
      - Seru-seruan di Kamakura, mulai dari pantai hingga aneka event tahunan
      Side Trip from Tokyo (4): Enoshima
      - Yang Wajib Dikunjungi di Enoshima
      Side trip from Tokyo (5): Narita
      - Transit di Narita, Main Kesini Dulu Yuk!
    • By vie asano
      Sudah baca tulisan aneka side-trip from Tokyo lainnya? Beberapa yang sudah diulas antara lain Yokohama, Kawasaki, dan Kamakura. Nah, kali ini saya ingin membahas tentang Enoshima, sebuah pulau kecil yang dikenal sebagai pulau wisata.
       
      Secara administratif, Enoshima termasuk dalam wilayah kota Fujisawa. Posisinya sendiri lebih dekat dengan Kamakura, hanya berjarak 4 km dari pantai Kamakura, sehingga Enoshima seringkali dijadikan alternatif side-trip dari Kamakura. Semula saya ingin membahas Enoshima sebagai bagian dari Kamakura. Namun karena ada juga akses dari Tokyo yang menuju Enoshima tanpa harus melalui Kamakura, serta karena banyaknya obyek wisata yang sayang jika hanya disinggung sekilas lalu, maka Enoshima sengaja ditulis terpisah dari Kamakura. Mudah-mudahan bisa menginspirasi wisatawan yang akan berwisata ke Tokyo dan berminat untuk singgah ke Kamakura, untuk sekaligus mampir ke Enoshima.
       
      Sejarah singkat
      Menurut legenda, Enoshima diciptakan oleh Benzaiten (dikenal juga dengan nama Benten maupun Sarasvati), dewi musik dan hiburan yang mengangkat pulau ini ke permukaan laut pada abad ke-6. Karena itulah pulau ini lalu dipersembahkan untuk Benzaiten. Enoshima baru mulai berkembang saat pemerintah Meiji, kira-kira pada tahun 1880, memutuskan untuk mengembangkan pulau ini. Seorang pedagang dari Inggris bernama Samuel Cocking lalu membeli sebagian tanah di pulau Enoshima dan mengembangkan taman botani dengan rumah kaca berukuran luas. Enoshima pun semakin berkembang menjadi pulau wisata dengan bertambahnya berbagai fasilitas lain yang menarik perhatian turis.
      Foto 01 (a-d)
      Pulau Enoshima [foto: Wikimedia, Σ64/wikimedia, Yoppy/flickr, Ys*/flickr]
      Yang seru di Enoshima
      Saat ini, di Enoshima terdapat beberapa obyek wisata yang lokasinya tersebar di berbagai sudut pulau. Salah satu atraksi utama di pulau ini adalah Enoshima Shrine, atau kuil Enoshima. Kuil ini terdiri dari 3 kuil yang berdiri di lokasi terpisah, yaitu Hetsu-no-miya (yang paling dekat), Nakatsu-no-miya (kuil yang ada di bagian tengah), dan Okutsu-no-miya (kuil di bagian paling dalam). Atraksi utama lainnya adalah Samuel Cocking Garden. Walau sempat hancur paska Gempa Besar Kanto tahun 1923, rumah kaca dan taman botani tersebut masih ada hingga saat ini dan menjadi salah satu atraksi di Enoshima. Terdapat observation tower yang merangkap sebagai mercusuar setinggi 60 meter, dan dari sini pengunjung dapat melihat-lihat pulau Enoshima dan sekitarnya.
      Foto 02: Enoshima Jinja
      (a.) Zuishinmon [foto: Danirubioperez/flickr], (b.) Hetsu-no-miya [foto: Aimaimyi/wikimedia], (c.) Natsu-no-miya [foto: Aimaimyi/wikimedia], (d.) Okutsu-no-miya [foto: Dr. Koto/wikimedia]
      Masih banyak atraksi lain di Enoshima, seperti Iwaya Caves, Enoshima Aquarium (di pulau utama dekat Enoshima), Enoshima Island Spa, dan berbagai kuil lainnya. Wisatawan juga bisa mengunjungi Love Bell yang terletak di puncak Enoshima. Konon pasangan yang bersama-sama membunyikan lonceng dan meninggalkan gembok bertuliskan nama mereka di pagar, maka cinta mereka akan abadi. Di pulau Enoshima juga terdapat pantai dengan laut yang populer sebagai tempat berenang dan berselancar. Dan masih banyak lagi wisata seru lainnya yang bisa ditemukan di Enoshima.
      Foto 03: Berbagai fasilitas lain di pulau Enoshima
      (a.) Samuel Cocking Garden [foto: *_*], (b.) Iwaya Cave [foto: *_*], (c.) Enoshima Aquarium [foto: Abasaa/wikimedia], (d.) Enoshima Island Spa [foto: Abasaa/wikimedia]
      Rekomendasi
      Jika berminat untuk mengelilingi Enoshima selama sehari penuh, disarankan untuk membeli Enopass. Enopass adalah tiket terusan untuk mengakses berbagai atraksi dan fasilitas di Enoshima, dan juga berfungsi sebagai kartu diskon untuk beberapa fasilitas maupun toko. Enopass bisa dibeli di pusat informasi turis di dekat Stasiun Katase Enoshima.
      Foto 04 (a-d):
      Berbagai suasana di Enoshima [foto: Tomotaka/flickr, Yoppy/flickr, Aimaimyi/wikimedia, *_*/flickr]
      Foto 05 (a-d):
      Berbagai suasana di Enoshima [foto: Danirubioperez/flickr, Danirubioperez/flickr, Olis Olois/flickr, *_*/flickr]
      Akses termudah dari Tokyo dan Kamakura
      Ada beberapa cara untuk mengakses Enoshima (menggunakan transportasi publik), yaitu dengan menggunakan Enoden (atau Enoshima Electric Railway), kereta api, serta monorail. Ketiga moda transportasi tersebut akan berhenti di stasiun berbeda. Enoden berhenti di Stasiun Enoshima, kereta berhenti di Stasiun Katase Enoshima, dan monorail di Stasiun Shonan Enoshima. Ketiga stasiun tersebut hanya berhenti di pulau utama (yang termasuk dalam wilayah Katase), dan jika ingin mengakses pulau Enoshima wisatawan dapat berjalan kaki menyusuri jembatan sepanjang 600 m, atau naik Bentenmaru Ferry (¥400*, 10 menit perjalanan, hanya di akhir pekan saja) di ujung jembatan.
      Foto 06:
      (a.) Stasiun Enoshima [foto: SElefant/wikimedia], (b.) Stasiun Katase-Enoshima [foto: Lover of Romance/wikimedia], (c.) Stasiun Shonan-Enoshima [foto: SElefant/wikimedia], (d.) Jalan di jembatan penghubung Enoshima [foto: Danirubioperez/flickr]
      Dari Stasiun Shinjuku:
      -JR Shonan-Shinjuku Line (via Tokaido Line), ¥950*, 51 menit, turun di Stasiun Fujisawa. Dari Stasiun Fujisawa, naik Odakyu Enoshima Line, ¥150*, 7 menit, turun di Stasiun Katase-Enoshima. Total biaya ¥1100*.
      -Odakyu Odawara Line (pilih kereta express), ¥570*, 37 menit, turun di Stasiun Sagami-Ono. Transfer ke Odakyu Enoshima Line (pilih kereta express), ¥0*, 24 menit, turun di Stasiun Fujisawa. Dari Stasiun Fujisawa, naik Enoshima Electric Railway (Enoden), ¥210*, 11 menit, turun di Stasiun Enoshima. Total biaya ¥780*.
      Dari Stasiun Shinagawa:
      -JR Tokaido Line, ¥740*, 38 menit, turun di Stasiun Fujisawa. Dari Stasiun Fujisawa, naik Enoshima Electric Railway, ¥210*, 11 menit, turun di Stasiun Enoshima. Total biaya ¥950*.
      -JR Tokaido Line, ¥620*, 33 menit, turun di Stasiun Ofuna. Dari Stasiun Ofuna, naik Shonan Monorail, ¥300*, 16 menit, turun di Stasiun Shonan-Enoshima. Total biaya ¥920*.
      -JR Tokaido Line, ¥740*, 38 menit, turun di Stasiun Fujisawa. Dari Stasiun Fujisawa, naik Odakyu Enoshima Line, ¥150*, 7 menit, turun di Stasiun Katase-Enoshima. Total biaya ¥890*.
      -JR Yokosuka Line, ¥690*, 47 menit, turun di Stasiun Kamakura. Dari Stasiun Kamakura, naik Enoshima Electric Railway, ¥250*, 25 menit, turun di Stasiun Enoshima. Total biaya ¥940*.
      Dari Stasiun Tokyo:
      -JR Yokosuka Line, ¥890*, 56 menit, turun di Stasiun Kamakura. Dari Stasiun Kamakura, naik Enoshima Electric Railway, ¥250*, 24 menit, turun di Stasiun Enoshima. Total biaya ¥1140*.
      -JR Tokaido Line, ¥950*, 49 menit, turun di Stasiun Fujisawa. Dari Stasiun Fujisawa, naik Odakyu Enoshima Line, ¥150*, 7 menit, turun di Stasiun Katase-Enoshima. Total biaya ¥1100*.
      Sedangkan dari Kamakura, akses termudah adalah dari Stasiun Kamakura ke Stasiun Enoshima, via Enoshima Electric Railway (¥250*, 24 menit). Akses ke Stasiun Kamakura lihat disini.
      Tambahan informasi, jika tertarik untuk menjelajah Kamakura dan Enoshima dalam satu hari kalender, sebaiknya mempertimbangkan untuk membeli Enoshima Kamakura Free Pass maupun Kamakura Enoshima Pass. Detailnya bisa dibaca disini.
      Semoga bermanfaat!
      * * *
      * Harga dapat berubah sewaktu-waktu.
      ** Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya.
      * * *
      Baca juga:
       
      Side trip from Tokyo (1): Yokohama
      - Yokohama Chinatown, Kenapa Harus Kesana?
      - Serba-serbi Minato Mirai 21, Landmark Kebanggaan Yokohama
      Side Trip From Tokyo (2): Kawasaki
      - Yang Seru dari Kawasaki: Ikuta Ryoukuchi Park
      Side trip from Tokyo (3): Kamakura
      - Inspirasi Itinerary Kamakura: Obyek Wisata + Hiking Trail
      - Setengah hari di Kamakura, kemana saja?
      - Seru-seruan di Kamakura, mulai dari pantai hingga aneka event tahunan
      Side Trip from Tokyo (4): Enoshima
      - Yang Wajib Dikunjungi di Enoshima
      Side trip from Tokyo (5): Narita
      - Transit di Narita, Main Kesini Dulu Yuk!
      - Seru-seruan di Kamakura, mulai dari pantai hingga aneka event tahunan