albertorazzi

panorama indah di waduk SEMPOR - Kebumen

5 posts in this topic

woww... baru tau aku ada waduk seindah ini di kebumen

waduk-sempor.jpg

kalo diliat dari fotonya kayak bukan di Indonesia ya?

hehehe

aku baru tau lokasi ini, tapi ternyata waduk ini sebenernya udah terkenal di sekitaran kebumen. kalo dari jogja ke waduk sempor waktu tempuhnya sekitar 4 jam 30 menit... jadi dari jogja ke arah barat.. lebih tepatnya ke barat daya, lewat kota sedayu dulu, baru sampe kota kebumen.. dari kota kebumen gak langsung sampe,naik sedikit ke barat daya lewat ke karanganyar baru sampe ke waduk sempor.

ke waduk ini belum ada HTM secara resmi sih sejauh ini. jadi masih gratis...

namun karena makin ramai sekarang ada wahana2 permainan disana, ada speed boat, perahu,bebek2an air dan beberapa permainan lain, nah ini yg harus bayar. cuman gak mahal kok, per permainan yg disewa biasanya cuma ditarik uang sekitar 10rb..

SERU KAN?

so perlu di coba nih..

Share this post


Link to post
Share on other sites

iya gan. bener kebumen itu jawa tengah. iya lumayan terkenal kok gan. tp ane sndri blm prnh k waduk sempor itu. hehehe

tp klo ud d tngni pmrth kdng bkn jd lbih bgus mlh semrawud gan. mnrt ane lho ya

Share this post


Link to post
Share on other sites

woow uedan emang waduk sempor...saya belum pernah kesana, hanya tahu namanya saja dari cerita seorang teman yang dulu pernah kesini ketika dia sekolah dasar. ayo siapa diantara agan-agan yang pernah berkunjung kesini???

share donk kisah menariknya!!! :D :D :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now


  • Similar Content

    • By Viviiy

      Pernah ke Embung Nglanggeran Jogja? tempatnya bagus, sangat cocok untuk selfie karena terletak di Puncak Gunung Kidul Jogja, jadi view point lah! semuanya terlihat jelas. Melihat keindahan sunset dan sunrise di Embung Nglanggeran dan yang pasti, tidak membutuhkan budget banyak saat hendak kesini.
      Saat saya googling, disitu saya sedikit bingung karena dari referensi yang saya dapat, banyak situs yang menyebut Embung Nglanggeran sebagai Danau yang terletak diatas gunung Api purba yogyakarta, ada juga yang menyebutnya sebagai Waduk. Nah! setelah saya lihat, sepertinya tempat ini memang Waduk, karena ukurannya gak seluas Danau pada umumnya. Meskipun berbeda-beda nama, mau itu Waduk, Danau, Telaga maupun Bendungan, so... Keindahan ditempat ini sangat menakjubkan guys.
      Pada postingan kali ini, saya nggak akan menulis banyak, hanya mengambil gambarnya saja, selengkapnya bisa Anda baca disini "Embung Nglanggeran"
      Embung Nglanggeran – Keindahan Waduk di Puncak Gunung Kidul Jogja

      Embung Nglanggeran salah satu Waduk yang berada di atas bukit dengan pemandangan cantik, seolah menggoda siapapun untuk berkunjung menikmati suasana alam yang ditawarkan. Tempat ini salah satu wisata alam yang menyuguhkan waduk buatan di atas perbukitan dengan pemandangan alam yang menenangkan.
      Embung buatan ini berlokasi tak jauh dari Gunung Api Purba Nglanggeran yang terkenal dengan ekowisata geoparknya. Pembangunan waduk buatan ini memang bertujuan untuk menampung air, baik yang berasal dari air hujan maupun sumber mata air dari Gunung Nglanggeran. Tampungan air di dalam embung tersebut akan digunakan untuk mengairi lahan di sekitar waduk yang rencananya akan digunakan sebagai kebun buah. Hingga sekarang pun pembangunan kebun buah Nglanggeran ini masih terus digarap.
      Semoga saja beberapa tahun ke depan, pemandangan perbukitan yang sedikit gersang akan segera menghijau dengan adanya pepohonan yang tumbuh rimbun, ditambah dengan atraksi wisata petik buah yang akan semakin menarik minat wisatawan berkunjung kemari.Embung Nglanggeran memang memiliki luas yang tidak seberapa, pun demikian pengunjung juga tidak diperkenankan bermain-main air di sekitar waduk.
      Bagaimana mau main air, kalau di bagian pinggir waduk saja diberi pagar pembatas demi keamanan pengunjung. Namun, jangan khawatir, karena suguhan utama dari Embung Nglanggeran ini adalah pemandangan alamnya yang memanjakan mata. Anda bisa melihat hamparan perbukitan di sisi selatan, pemandangan Gunung Api Purba Nglanggeran di sebelah utara, serta pemandangan hamparan persawahan dengan kontur terasiring dari atas perbukitan.
      Disekitar waduk juga dibangun beberapa gazebo untuk tempat beristirahat sambil menikmati pemandangan alam yang terhampar.Perjalanan menuju Embung Nglanggeran sendiri tak kalah menarik. Aspal halus akan kita lalui sampai area Gunung Api Purba Nglanggeran. Selebihnya, medan jalan yang aduhai akan menantang nyali kita untuk mengendarai kendaraan menuju lokasi Embung Nglanggeran ini. Saya masuk melewati pintu gerbang Kebun Buah Nglanggeran yang lokasinya tidak jauh dari posko Gunung Api Purba. Setelah membayar retribusi, jalanan berbatu yang cukup sempit dengan medan menanjak pun seolah menyambut kedatangan kami.
      Di beberapa tanjakan pun kami harus memaksa motor untuk terus melaju, walau dia sudah mengerang menahan beban. Agak kaget juga setelah sampai di parkiran, usai melewati jalanan yang jahanam , karena ternyata ada alternatif jalan lain dengan medan yang tidak terlalu menanjak serta jalan yang lebih halus daripada jalur yang kami lalui.Embung Nglanggeran memiliki potensi wisata yang cukup menarik.
      Selain keunikan waduk yang berlokasi di atas bukit, Embung Nglanggeran juga dikelilingi dengan pemandangan alam yang cantik. Suasana senja di Embung Nglanggeran pun uga tak kalah ciamik. Sayang, saya belum sempat menikmati senja di sana. Mungkin suatu saat nanti saya akan kembali lagi ke Embung Nglanggeran untuk berburu senja ! Semoga saja bisa kesana lagi ya!
      Informasi
      Alamat - Nglanggeran, Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55862, Indonesia Website - www.gunungapipurba.com Tiket Masuk - Rp 7.000,00/ orang (sudah termasuk parkir) Google Maps - https://goo.gl/jFGq7w Lokasi Embung Nglanggeran
      Dari arah Jogja silahkan arahkan kendaraan menuju Jalan Wonosari hingga Bukit Patuk. Setelah melewati Bukit Patuk silahkan belok ke kiri mengikuti jalan aspal di samping stasiun Radio GCD FM. Ikuti saja jalan aspal tersebut hingga ke arah Gunung Api Purba Nglanggeran. Lokasi embung ini tidak jauh dari posko Gunung Api Purba Nglanggeran. Jika bingung, silahkan bertanya kepada penduduk sekitar.
      Masyarakat Jogja dan sekitarnya, wajib kesini!
    • By Titi Setianingsih
      Hallow,,,,,apa kabar JJ’er ?? Lagi2, ketika saya dapat undangan married dari teman yang mantu, langsung terpikir untuk sekalian jalan2 kemana ya,,?? Kali ini undangannya di Purwokerto tanggal 6 Nopember 2016, langsung otak berputar, kira2 bisa jalan2 kemana saja dan mau ajak berapa orang ? Karena untuk urusan nginap rencananya akan nginap dirumah saya di Banyumas, jadi teman2 yang diajak itu prioritas teman yang mau diajak susah. Maklum, kamar Cuma ada 3, tentu tidak bisa untuk menampung 15 orang, jadi ada sebagian yang tidur lesehan di karpet atau sofa didepan TV. Dan untuk mencari 15 tentu mudah bagi saya, tinggal buka kontak whattsap dan broadcast ajakan mudik bareng,,,,blast,,,jawaban mereka singkat, cukup 3 huruf OKE.
      Well, kami ber11 berangkat bareng dari Jakarta menggunakan kereta api ekonomi Senja Utama Jogya menuju Purwokerto, tiket 185.000, ada juga yang berangkat dari Malang, dan meeting point di Stasiun Purwokerto.  Peserta dari Purwokerto juga ada yang mau gabung, jadi sesudah ngumpul di Stasiun Purwokerto kami lanjutkan menuju Rumah teman saya, Lina, di Karangklesem Purwokerto. Sewa mobil avanza dari Stasiun sampai Karang Klesem seharga 60.000. Dirumah Lina kami numpang mandi dan sarapan, karena kebetulan dirumahnya ada warung makannya juga. Sehabis sarapan barulah cuss menuju Rumah saya di Banyumas untuk jemput 3 orang lagi yang dari Malang dan Jakarta.  Kami rental mobil elf dari Purwokerto.

      Sehabis menurunkan barang2 / tas masing2, kami langsung melakukan perjalanan menuju Kebumen, hari pertama full untuk explore pantai dan bukit2 di sekitar Kebumen, selengkapnya sebagai berikut :
      Hari Pertama (5 Nopember 2016) : explore Kebumen
      1.      Pantai Menganti
      Pantai Menganti beralamatkan di desa Karangduwur, Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Berhubung kami menggunakan rental mobil, jadi kurang tahu dari mana kemananya, tapi kalau kita menuju arah Kebumen petunjuknya sudah lengkap, dan masyarakat di sekitarnya juga ramah2 jadi tidak mungkin tersesat, yang penting kita tidak salah menyebut nama pantainya, karena di Kebumen sangat banyak pantai2 yang dikelola oleh masing2 desa.
      Yang saya ingat jalanan menuju ke Pantai Menganti berkelok-kelok dan nanjak, jadi pastikan kendaraannya fit dan sopirnya handal. Lumayan juga dari Banyumas kurang lebih 2 jam baru sampai ke Kebumen, dan cuaca disana sangat terik jadi sangat bagus buat foto2 tapi bagi yang tidak tahan panas harus sedia topi lebar atau payung.

      Mobil tidak bisa sampai ke pinggir pantai persis, ada perkiran khusus di tempat dimana kendaraan wisatawan berada. Ya,,untuk menuju Mercusuar atau Tanjung Karangbata kami menggunakan mobil khusus yang disediakan secara gratis oleh pengelola, tapi kami kasih tips utk sopir 20.000 laah, karena jaraknya lumayan jauh dan nanjak. Kalau sudah sampai di lokasi ini, barulah Nampak ikon Pantai Menganti, deretan perahu nelayan yang berjajar di pinggir pantai, pasirnya yang putih, gubuk2 yang banyak bertebaran di pinggir pantai, karang2 dan laut selatan yang berombak, dan sangaaaat indah,,,,dan sudah dilengkapi dengan jembatan yang dihiasi bunga2 menambah cantiknya pemandangan di pantai ini. Jadi malas beranjak dari tempat ini deh,,,,,







      Tapi ketika lapar sudah memanggil, kamipun meninggalkan tempat ini dan menuju parkiran untuk makan siang di pinggir pantai, kami lesehan di atas tikar yang sudah disiapkan dari Rumah, juga menu makan siang special dari Ceff Lina,,,sedaap sekali,,,Alhamdulillah hanya dengan 200.000 kami bisa makan sepuasnya ber 15.


      HTM 15.000 per orang yaaaa….
      2.      Pantai Watu Bale / Tebing Tampomas
      Masih di kecamatan Ayah lokasi Pantai Watu Bale ini, tepatnya di desa Pasir, beruntung dapat sopir yang sabar, kami sempat berputar sekali karena sudah kejauhan jalannya, dan seperti yang saya bilang tadi, penduduk di sekitar sini ramah2 jadi dengan modal Tanya akhirnya kamipun sampai ke lokasi yang di cari.
      Dari lapangan parkir mobil, sudah terdengar deburan ombak Pantai Selatan, menderu-deru persis seperti yang diceritakan orang2. Batu2 di pantai ini sangat banyak, pasirnya hitam dan panas luar biasa. Kami hanya bisa menikmati keindahannya dari jauh, dan se-kali2 berfoto ketika ombak sedang ber-gulung2 serta main ayunan ditemani angin yang semilir. Diujung timur sana Nampak Tebing Titanic,,,,,pasti bagus, tapi kami sudah kecapean sesudah dari Pantai Menganti, kami gak ada yng berani nanjak menuju Tebing Titanic,,,,aahhh terlewatkan foto2 cantek di Tebing Titanicnya, kami hanya bisa foto dengan latar Tebing Titanic di kejauhan,,,may be next time akan kesini lagi deh…




      HTM 5.000 per orang, dan parkir mobil 5.000 juga.
      3.      Pantai Sawangan
      Pernah lihat postingan foto pantai dengan tulisan I  L  U ? Saya lihat di facebook KJJI, dan ketika baca hastagnya ternyata di Pantai Sawangan Kebumen, akhirnya kami cari juga hari itu. Dan dengan menunjukkan foto tadi, dapat jugalah Pantai I L U nya, ternyata kawasan itu bernama Pantai Sawangan. Jalan masuk masih tanah dan sempit, tapi ketika warga bilang mobil bisa masuk maka kamipun nekat masuk. Beruntung juga ketika hari itu tidak hujan sehingga jalanan tidak becek, dan gak berapa lama sampai juga di Pantai Sawangan.
      Ternyata juga banyak spot disini, lembah, bukit, lapangan luas buat camping, goa, laut, air terjun dan  hammock. Bisa dibayangkan, ke tempat ini butuh waktu yang lama supaya semua spot bisa dilihat semuanya. 





      Dari sekian banyak spot yang ada, kami hanya bisa menikmatinya beberapa saja, yaitu Pantai I L U dan Bukit Sumber Angin. Keduanya masih masuk wilayah Kecamatan Ayah.
      Kedua lokasi ini berdekatan, bahkan bersebelahan, tapi untuk menuju kesini kita harus tracking kurang lebih 30 menit dan sedikit nanjak, tapi capainya tidak terasa kok, karena kita bisa melihat pemandangan yang sangat cantik,,,
      HTM 5.000 rupiah saja dan kita sudah diberi pendamping satu orang, dia yang akan menceritakan tempat2 yang kita lewati dan bisa juga dimintai tolong untuk foto2 serta bawakan tas kita. Anehnya begitu kami turun kembali, si Bapak tidak mau di kasih tips. Katanya cukup promosikan saja tempat ini ke temen2nya supaya makin banyak yang mengenal Bukit Sawangan. Saya jawab : tentu saja pak,,,setelah kami sampai di Jakarta akan saya promosikan tempat ini ya,,,nanti tambah ngetop pak…









      Begitulah akhirnya di sela2 kesibukan kantor sayapun paksa untuk menyelesaikan FR ini…
      Hari Kedua (6 Nopember 2016) : Explore Purwokerto
      1.      Telaga Sunyi
      Telaga Sunyi masih masuk kawasan wisata Baturaden, salah satu wisata yang sangat terkenal di Kota Purwokerto, arahnya menuju Gunung Slamet karena lokasinya memang di kaki Gunung Slamet.
      Karena daerah pegunungan, maka  banyak sekali terdapat curug2 di sekitar Baturaden. Berhubung tgl 6 Nopember 2016 adalah hari penting saya (kondangan) maka destinasi yang diambil dengan pertimbangan mudah dijangkau supaya keduanya dapat, kondangan dan jalan2.  Dan teman2 juga tidak keberatan, senang sekali kalau punya teman yang mudah kompromi.
      Untuk menuju Telaga Sunyi kita arahkan kendaraan kita menuju Baturaden yang lewat jalur utama, kemudian begitu sampai Baturaden kita arahkan lagi ke kanan kearah wana wisatanya, dan kalau sudah sampai gerbang wanawisata kitapun masih belok ke kanan kearah Telaga Sunyi (petunjuknya jelas kok). Ikuti jalannya dan lokasi ada di kiri jalan. HTM 10.000 dan parker mobil 5.000.







      Hawa dingin sangat terasa, anginnyapun basah, siap2 saja menggigil, walau begitu teman kami ada yang penasaran dengan kejernihan airnya, merekapun lompat ke telaga,,,,bbbeeerrrrrrrr
      Memang bisa untuk berenang bahkan snorkeling sebenernya telaga ini, Cuma pengelola belum menyediakan alat snorkeling, jadi yang bisa berenang hanya bisa menikmati renang2 saja, tapi hati2 ya, kata mereka arusnya sangat deras, teman saya hamper kebawa arus, jadi yang gak bisa berenang jangan coba2 untuk nyebur,,,
      Yang gak bisa berenang bisa menikmati indahnya hutan pinus di sekitar telaga Sunyi,,,,cukup bahagia dengan bercanda dan berwefie.  
      2.      Curug Bayan
      Curug Bayan juga masih di kawasan Baturaden, posisinya jika dari Purwokerto, sebelum masuk Baturaden ada jalan kekiri, ikuti terus jalannya menuju Kalipagu. Kalipagu adalah jalur pendakian Gunung Slamet. Sebenernya kami mau menuju Curug Jenggala yg lagi ngehits, tapi krn hari Minggu jalanan menuju kesana full sehingga mbl elf tdk bisa masuk, bisanya hanya menggunakan ojek atau jalan kaki 45 menit. Teman2 tidak bersedia jalan akhirnya kami singgah di Curug Bayan ini karena lokasinya pas di jalan menuju Curug Jenggala. Hmmm masih ada PR ke Curug Jenggala niih…



      Curug Bayan sangat imut, tidak terlalu tinggi tapi airnya cukup deras sehingga terbentuk kolam yang cukup luas, bisa untuk berendam atau berenang. Hati2 karena batunya sangat licin. Di sekitar Curug Bayan terdapat cottage yang bisa dipakai untuk menginap jika akhir pekan. Sangat cocok untuk wisata keluarga karena tempatnya tidak nanjak, begitu parker langsung sudah sampai curug. Bagi saya kurang menantang,,,biar sudah lansia lebih senang destinasi yang ada treckingnya….
      HTM 4.000 dan parker mobil 5.000 yaaaa,,,
      3.      Small Word
      Dari arti katanya, mempunyai arti Miniatur Dunia, jadi berbagai keajaiban dunia ada disini dalam bentuk miniaturnya. Lokasinya ada di desa Ketenger, dari Curug Bayan tadi kita ambil lurus saja kemudian ketemu pertigaan kekiri sampailah ke desa Ketenger, posisi ada di kanan jalan. Jadi yang belum bisa menikmati tempat2 terkenal di dunia bisa menikmatinya di Kota Purwokerto.
      Small Word merupakan wahana rekreasi sekaligus edukasi, miniatur bangunan terkenal dari seluruh dunia ada disini beserta keterangannya, seperti  Kincir Angin khas Belanda dengan bunga tulip yang khas, Patung Merlion, Twin Tower, Big Ben, Colosseum, Angkorwatt, Menara Eiffel, Kinkakuji, Taman Bunga Sakura, Opera House Sidney dan banyak lainnya.









       


      Bangunan khas Indonesia juga ada seperti Rumah Tradisional dari daerah Sumatera dan Papua dengan rumah Honai, Tugu Monas, Patung Soedirman dan ada Miniatur Bundaran HI juga.
      HTM 15.000 dengan parker mobil 5.000 bisa dinikmati hingga jam 22.00 jika wiken. Wisata ini termasuk baru jadi belum rindang, kalau kita datang di siang hari bisa2 kepanasan, semoga kalau pas kesini lagi suasana akan lebih adem sehingga bisa ber-lama2 menikmati miniature dunia sambil berafirmasi agar suatu saat bisa kesana beneran…aamiin
      JJ’er…selesai sudah wisata kami selama 2 hari di Kebumen dan Purwokerto, dalam 2 hari kami hanya menghabiskan biaya 315.000 untuk keperluan sewa mobil elf, tiket masuk wisata, tips sopir, makan. Penginapan free karena nginap di Rumah saya to ? Jika ada yang kepengin tidur nyaman di hotel, di Banyumas juga sudah ada hotel di sebelah selatan alun2 Banyumas dengan rate per kamar sekitar 300.000-an.



      Sampai sini dulu yaaaa cerita jalan2nya,,,sampai jumpa di cerita lainnya.
      Salam Jalan2 Indonesia,,,!!
       
    • By Mei Zahro
      Siang sobat traveler.. 
      Saya punya tempat eksotis yang masih jarang dijamahi para traveler lhoo.. Tempat eksotis yang keberadaanya jarang diketahui oleh tangan perusak itu adalah "Pantai Menganti Kebumen".
      Pantai menganti? pertama melihat foto teman saya yang berlokasi di pantai menganti, saya pun langsung jatuh cinta! mata saya dibuat mendelik olehnya.. karena usut punya usut banyak orang juga yang bilang kalau pantai ini kereen, bagus banget, indah, gak kalah sama pantai kuta bali, cuma bedanya di pantai ini gak ada purenya.  Kebetulan tempatnya juga tak begitu jauh dari kediamanku, mungkin hanya membutuhkan waktu 1,5 jam untuk bisa mencapai pantai itu.. saat saya mencoba untuk mendatangi menganti eh ternyata benar.. sensasinya wooww! *eksotis,,



      Namanya juga Si Eksotis Yang Tersembunyi, tentu saja kita harus melewati medan yang ekstreem juga untuk mencapai daerah pantainya. Maka dari itu kita harus berhati-hati dalam berkendara sepanjang perjalanan menuju pantai menganti ini. Tikungan tajam, jalan menanjak juga turunan curam akan kita temui sepanjang perjalanan. So, siapkan bahan bakar kendaraanmu se-full mungkin untuk mengantisipasi kehabisan bensin di tengah-tengah perjalanan. Parahnya lagi jika sampai berhenti di tanjakan atau turunan, waahh bisa berabe tuh urusan..

       
      Beberapa obyek wisata pantai Kebumen yang sudah terkenal, seperti Pantai Logending, Karangbolong, Petanahan dan Suwuk. Namun, tidak seperti pantai lain yang pasirnya hitam. Pantai Menganti Kebumen memiliki hamparan pasir putih yang memikat. Seperti pasir pantai di kepulauan Belitung. Lokasi Pantai Menganti Kebumen arah ke timur tidak jauh dari Pantai Logending (pantai yang sudah lebih lama dikenal sebagai wisata pantai Kebumen ), pantai yang sebelumnya hanyalah tempat berkumpulnya para nelayan lokal. Rasanya untuk mendiskripsikan keindahan Pantai Menganti Kebumen tidak cukup memuaskan hanya dalam bentuk tulisan, tanpa harus mendatangi dan melihat keindahannya sendiri.

      Pemandangan lebih indah bisa dilihat jika kita mendaki bukit di sisi timur pantai. Di puncak bukit terdapat Mercusuar buatan Belanda tahun (1912-1915) setinggi 20 meter yang bisa dinaiki hingga puncaknya. Dari lokasi ini, mata kita otomatis akan di arah untuk melihat seluruh kawasan pantai, lekuk-lekuk bukit karang membentang, hingga birunya samudera dan sesekali burung lawet beterbangan. Romantisme keindahan dan keagungan Tuhan.
      Indahnya pemandangan dari atas (source pribadi) Paduan Ombak Dengan Karang besar (source pribadi) sunset yang menakjubkan (source pribadi) bukit sebelum bibir pantai (source pribadi) keseluruhan pemandangan terlihat dari atas.. (source pribadi)
      jika sobat semua tertarik ingin mengunjungi bisa contact saya kok! Dengan senang hati saya antarkan..
      Karena ketagihan dengan cara alam menganti memanjakan mata saya, sesibuk-sibuknya waktu liburan pasti saya sempatkan untuk mampir ke Si Eksotis Yang Tersembunyi ini. Kayak pas kemarin sehari sebelum liburan berakhir, saya bela-belain berangkat demi keindahan Pantai Menganti.. :)
      *ngono yo ngono tapi ojo ngono lho!
    • By Mulyati Asih

      Ini kali ketiga saya main ke Gombong-Kebumen, Jawa Tengah dan untuk ketiga kalinya pula tujuannya tak lain adalah untuk caving. Tiga kali caving gua di gombong peserta perempuannya selalu tiga, padahal berharap kali ini akan banyak perempuannya. Perjalanan kali ini berbeda dengan perjalanan sebelumnya, libur tiga hari di bulan Agustus membuat kami santai mengatur perjalanan, nggak perlu lagi bergadang cari tiket kreta Progo yang aduhaaai susahnya karena harus rebutan dengan Asosiasi Pekerja Pelaju jalur kereta selatan yang selalu pulang di hari Jumat malam.
      Sabtu 15 Agustus 2015 pukul 05.30 kami berangkat dari stasiun Senen Jakarta menggunakan kereta Kutojaya Utara tarif Rp. 80.000, sampai di stasiun Gombong pukul 12.20. Dari stasiun Gombong kami di jemput mas Yos (guide caving gua) dengan mobil operasional pantai Menganti, setelah makan siang kami melanjutkan perjalanan menuju menuju Gombong Selatan tepatnya menuju Desa Karang Duwur Kecamatan Ayah Kebumen.
      Kurang lebih pukul empat sore kami tiba di Pantai Sawangan, malam ini kami akan camping di sini. Pantai Sawangan sendiri baru dibuka untuk umum tanggal 18 Mei 2015. Objek wisata yang dikelola oleh pemuda-pemuda desa Karang Duwur, dana untuk pengelolaannya yang mencari kepala desa. Jalan menuju pantai Sawangan yang tadinya masih tanah kini sudah disemen, ada tempat penitipan kendaraan dan dibangun juga 2 buah toilet umum. Objek wisata yang mereka kelola diberi nama “Sawangan Adventure” yang meliputi wisata pantai, air terjun, flying fox dan gua.
      Dari tempat parkir kendaraan kami berjalan ke arah bukit, mas Yos mengajak kami ke arah tebing menunjukkan mulut Gua Sawangan dan Air Terjun Sawangan.
      “Besok kita keluarnya di mulut gua itu,” tunjuk mas Yos kepada kami.
      “Kita campingnya di mana Mas?” tanya saya mengingat tempat ini luas.
      “Di sana dekat Gua Siwowo,” jawab mas Yos.
      Andis, Elvi, Rizwan dan louis sudah jalan duluan ke arah tebing dekat pantai, saya ikuti mereka melewati jalan setapak disusul Surya dan mas Indar. Dari atas tebing saya perhatikan mereka mondar-mandir dari ujung tebing ke tebing yang lainnya. Matahari mulai turun mendekati garis pantai dan warna jingganya pun mulai merona, sayang meskipun cuaca cerah tapi laut seperti diselimuti kabut.
      Saya turun menyusul mereka melihat lebih dekat sisi lain setiap sudut pantai, dan di ujung kanan tebing tanpa kami sadari Andis sudah mendirikan tenda dan hammock. Lokasinya lumayan keren sih view langsung menghadap ke laut dan sunset, tapi terlalu sempit buat mendirikan 2 tenda dan memasang hammock lagi pula anginnya kenceng benget. Mas Yos menghampirinya dan terpaksalah tenda dan hammock Andis dibongkar.

      Di kolasi yang baru kami mendirikan 2 tenda dan 4 hammock, cuaca cerah jadi kami bisa melihat dengan jelas milky way sambil masak mie instan dan minum-minuman hangat. Ngobrolin destinasi-destinasi yang pernah kita jalani bareng sambil menahan dingin sampai kantuk menghampiri dan waktunya mengistirahatkan badan tiba.
       
      Caving Gua Surupan
      Berhubung Gua Surupan bukanlah gua dengan jalurnya yang panjang dan memakan waktu yang berjam-jam, maka tidak ada target khusus jam berapa kami akan mulai caving. Pagi itu kami bisa santai menikmati pagi yang sepi jauh dari keramaian, nun jauh di sana tentunya gunung-gunung padat dengan puluhan tenda para pendaki yang akan merayakan upacara 17 Agustus. Santai menikmati pagi udara pantai Sawangan sampai mobil menjemput kami dan menghantarkan kami untuk sarapan di rumah Kepala Desa.
      Pantai Sawangan lokasinya dekat dengan pantai Menganti, pagi itu kami menyempatkan menyambangi pantai Menganti yang pengelolaan fasilitasnya berkembang pesat. Menjelang siang pukul sebelas kami kembali ke pantai Sawangan untuk persiapan caving Gua Surupan. Dari area perkir pantai Sawangan menuju pintu Gua Surupan desa Argopeni kami konvoi menggunakan motor, sampai di jalan raya kemudian melanjutkan perjalanan dengan trekking melewati semak ilalang dan sampailah kami di mulut Gua Surupan yang besar. 


      Sebelum masuk lebih ke dalam mas Yos memberikan panduan kepada kami terutama etika-etika dalam caving diantaranya, jangan mengambil apapun selain foto, jangan membunuh apapun selain waktu dan jangan meninggalkan apapun selain jejak. Tetap berjalan dengan hati-hati dan jangan sampai membuat stalaktik ataupun stalakmit yang masih tumbuh menjadi patah.
      Air sungai bawah tanah yang sedang surut membuat saya lega melewatinya, kami terus berjalan melewati genangan dan rombongan kami cukup banyak karena mas Yos mengajak calon guide caving dari Sawangan Adventure. Di dalam gua mas Yos mengenalkan ornamen batu-batuan yang ada, seperti stalaktik, stalakmit dan flowston kepada tim Sawangan Adventure. Karakter dan ornamen-ornamen Gua Surupan tak jauh beda dengan yang ada di gua Petruk. “Ruang besar di dalam goa namanya cember,” jelas mas Yos ketika kami berada di dalam ruang yang besar.
       

       
      Di dalam Gua Surupan juga masih bisa kita jumpai hewan seperti kelelawar, katak, jangkrik bahkan udang. Saat melewati batu Andis sempat menemukan udang, sayang saat mau ditangkap keburu udangnya hanyut kebawa air. Caving dengan karakter gua yang ada sungai bawah tanahnya sebenarnya menguntungkan kita, air membawa oksigen yang cukup untuk kita selain itu udara segar selalu bisa kita rasakan. Nah kekurangannya kita harus bisa bertahan di dalam air dengan menahan dingin.
      Sungai bawah tanah ini akan mengalir ke mulut Gua Sawangan yang menghadap langsung ke laut dan membentuk Air Terjun Sawangan, kami berjalan menuju pintu gua mengikuti aliran air yang jatuh melalui batu. Untuk menuruni batu tersebut mas Yos meminta dua orang turun terlebih dahulu untuk membantu kami karena ketinggiannya mencapai kurang lebih dua meter. Satu persatu kami mulai turun dengan bantuan tali webbing dan dibantu oleh dua orang yang sudah ada di bawah. Setelah selesai semuanya turun berjalanlah kami ke arah mulut Gua Sawangan. Satu jam berada di dalam gua akhirnya kami bisa menemukan jalan keluar. Andis berjalan cepat sambil melambai-lambaikan bendera merah putih diikuti kami yang tak sabar segera melihat pemandangan di luar gua.
       

       
      Subhanallah ternyata view dari mulut Gua Sawangan memang kereen, bergantian kami berfoto sambil mengkibar-kibarkan merah putih. Ada air terjun Sawangan yang tingginya mencapai kurang lebih 70 meter, sayang musim kemarau yang menyebabkan air mengalir sedikit. Dari mulut Gua Sawangan kita bisa melihat langsung Samudera Hindia dan tebing-tebing yang menjorok ke lautan.
       


      Kami berjalan menuruni tebing mendekati pantai, istirahat sebentar sambil menunggu rombongan yang nggak puas-puas berfoto dengan latar air terjun, mulut gua dan laut. Dari pantai kami harus trekking ke atas menuju mulut Gua Siwowo. Di Gua Siwowo kami mencoba menuruni gua vertikal ini dengan cara rappeliing, mas Yos dibantu 2 orang dari Sawangan Adventure memasang peralatan. Saya dan Andis mencoba yang pertama untuk menuruninya, mas Yos mengajarkan ke kami cari pengopersikan alat outostop yang saya pegang di tangan kanan sambil tangan kiri mengulur webbing. Cukup mudah dan kami mulai turun dan berayun di ketinggian kurang lebih 30 meter.

      Selesai rappelling kami bersantai melepas lelah di luar mulut Gua Siwowo, sambil menghabiskan waktu menunggu jemputan yang mengantarkan kami ke lokasi camping malam ke dua di lokasi yang berbeda.

      Indahnya kalau pagi bisa dibangunkan oleh suara ombak. Pagi itu 17 Agustus 2015 kami harus kembali ke Jakarta. Pukul Delapan pagi kami sudah meninggalkan area camping menuju Stasiun Gombong. Semoga suatu hari kami bisa kembali ke daerah ini untuk mengeksplore tempat-tempat yang indah lainnya.

       
    • By Titi Setianingsih
      Tiba-tiba kangen kampung halaman di Banyumas Jawa Tengah, kebetulan harpitnas apa salahnya kalau dimanfaatkan untuk ziarah ke makam orang tua. Kebetulan ada teman2 yang mau ikut mudik, akhirnya kami nyari tiket kereta api ekonomi AC, kebagian berangkat tanggal 14 Mei 2015 dan balik ke Jakarta tgl 17 Mei 2015. KA Serayu adalah kereta yang paling murah jurusan Jakarta - Purwokerto, tiket seharga IDR 70.000. KA ini via Bandung, jadi waktu tempuh ke Purwokerto mencapai 10 jam, beda KA yang lewat Cirebon, waktu tempuh lebih cepat, bisa ditempuh dalam 5 jam. Kalau perginya untuk tujuan yang urgent, tentu akan pilih KA yang lewat Cirebon, berhubung kami santai maka biarlah bertahan 10 jam didalam kereta. Dari Jakarta kami ber5, saya, mbak Eka, mbak Linda, mbak Woro dan mbak Melani. Tapi karena beli tiketnya tidak barengan maka dapat tempat duduknya ter-pisah2. 
      Bagi saya yang sudah sering mudik pakai kereta api akan terasa biasa2 saja, namun bagi mbak Linda dan mbak Melani merupakan pengalaman yang sangat berkesan, pemandangan alam di jalur selatan menuju Bandung sangat menakjubkan. Sawah2 yang terbentang sepanjang tepian rel kereta, luas hingga sejauh mata memandang, pohon kelapa, pohon albasia, pohon jati dan pohon2 lainnya tak ada yang lepas dari pandangan. Syukurlah kalau kalian senang dengan perjalanan ini,,,,,dan tak terasa, 10 jam benar2 telah terlewati dengan sukses, jam 19 lewat sedikit kami sampai di stasiun kota Purwokerto tercinta. Kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan mobil sewaan menuju kampung saya di Banyumas kurang lebih 30 menit. Jika mau menggunakan taksi juga sudah ada, tapi kalau ke luar kota biasanya pakai sistem borongan, bukan berdasarkan argo, tarif sekitar IDR 80.000 - 100.000. 

      Sampai rumah di Banyumas sudah dalam keadaan loyo, sesudah pada mandi bergegas menuju kamar masing2. Yaa kami tidak nginap di hotel melainkan dirumah alm Ibu saya, biar berdesak-desakan tapi sangat menyenangkan dan lebih efisien tentunya karena Free charge. Oh yaaaa,,,,ketika kami sampai di alun2 Banyumas, ada teman kami dari Pekalongan yang sudah menghadang kami dan mau ikut dalam petualangan kami esoknya, dialah Mas Arip, jauh2 dari Pekalongan menuju Banyumas dengan menggunakan sepeda motor,,,,,ambooyyyyy kayak apa tuh pinggang rasanya,,,??
      Okeeyyy,,,sebelum tidur, saya pastikan ke Temen saya yang ada di Purwokerto, Juliana Firdausi, tentang rencana trip esok ke Kebumen dan sekitarnya. Diinformasikan tentang meeting poinnya  di alun2 Banyumas jam 09.00.  Siiippppp kalau begitu, sehingga saya bisa ziarah ke makam Ibu Bapak pagi harinya. 
      Pagi harinya kami sudah siap2 untuk melakukan perjalanan ke Kebumen, tujuan utama adalah Goa Petruk di Kecamatan Ayah. Jujur, walau saya terlahir di Banyumas tp belum pernah sekalipun jalan2 ke Goa Petruk, sehingga jalan menuju kesana juga tidak tahu. Kami dibantu mas Ajib untuk memandu kesana, kebetulan beliau juga asli Ayah, sehingga mas Ajib bukan hanya memandu ke tempat wisata tp sekalian menyediakan sajian makan siang dan makan malamnya serta cemilan khas Kebumen, dan dikemas dalam paket wisata senilai IDR 75.000.
      "Mbaaak Titiiiiii,,,,kami sudah di alun2 Banyumas" teriak Lina di HP saya
      "Okeeeyyyyy Linaaaaaa,,,,kami siap meluncur". Jarak rumah dengan alun2 Banyumas barangkali hanya 500 meter sehingga tidak sampai 5 menit bisa sampai. 
       
      Bismillah, kami mulai trip Kebumen jam 9 lewat sedikit. Kami melewati kebun karet di daerah Krumput Banyumas, jalanan nya Amboy, menanjak dan berlika liku. Sampai di daerah Buntu ambil belok kiri ke arah Jogyakarta jalur Selatan, melewati Tambak yang terkenal dengan durian Bawor nya. Daerah berikutnya saya tidak hafal, mobil kami ngekor saja di belakang mobil Lina. Kurang lebih jam 11 liwat sedikit, kami sudah sampai di kediaman Mas Ajib, karena hari Jum'at maka diputuskan explore Goa Petruk dilakukan sehabis shalat Jum'at. Kulihat Ibunya Mas Ajib sudah menyiapkan cemilan dan makan siang dengan menu pecel dan ikan goreng. Hhhmmmmmmm,,,,lapar langsung melanda perut kami yang sudah keroncongan,,,maklum paginya kami hanya sarapan lontong dan Mendoan saja,,,,,
      Rupanya dari kediaman mas Ajib ke Goa Petruk tidak terlalu jauh, jam 13an sudah sampai di TKP dan langsung menuju Goa setelah menghubungi Guide orang kampung di sekitar Goa tsb. Guide 2 orang siap mengantar kami, mereka membawa lampu petromaks untuk penerangan di dalam Goa. 

      Tahu gak siiyyyy,,,,,jalanan menuju Goa Petruk sudah rapih, namun menanjak, kami menaiki anak tangga yang lumayan banyak, saya lupa tidak menghitungnya. Saya, Lina dan mbak Linda ada di paling belakang, karena kami sering berhenti, mungkin karena kami jarang olah raga,sehingga mudah capai. Tapi kami sudah menyiapkan air mineral untuk antisipasi jika kami kehausan, dengan 2 teguk air mineral sudah bisa mengobati dahaga dan menormalkan kembali nafas kami yang ngos2an,,,,,,,

      Wow,,,yang ngantar namanya mas Ajib,,,Goa nya pun nampak ajiiiibbbbbb,,,,subhanallah ! Stalaktit dan stalakmitnya berpadu begitu manis, apik, dan membentuk bermacam-macam rupa yang mirip2 anatomi manusia, ada Goa Susu karena mirip payudara wanita, bentuk batuannya juga bermacam-macam, ada batu buaya karena bentuknya mirip buaya, bahkan ada batu akiknya, tapi yang ini di tutup kain terpal dan diamankan dengan police line, tahu kan maksudnya ? Biar gak diserbu para pengunjung yang rata2 sudah pada gila batu,,,,,,,xixixixixi
      Begitu kami naik ke atas batu2an itu, ternyata airnya begitu jernih dan dingin, menetes dari stalakmit membasahi pakaian kami, ora popo,,,,,ini konsekuensi main ke dalam Goa tentu akan basah. Sayang susur Goa nya sudah siang, sehingga kami hanya bisa menyusuri 1/3 wilayah Goa, seandainya dimulai dari pagi tentu akan bisa mencapai ujung, melewati Goa yang tingginya hanya selutut sehingga yang akan melewatinya harus merangkak, dan kalau ini berhasil maka kita akan dapat menyaksikan pemandangan yang luar biasa indahnya,,,,,,,,Curug di mulut Goa dan bibir pantai,,,,,@kata mas Guide 
      Yaaahhhhhhh,,,,mungkin lain waktu kami bisa lagi ke tempat yang lebih dalam, lebih baik kita menikmati sunset dulu yuk di Pantai Menganti, yang kata orang ajiiiiibbbb juga. Tapi ada teman kami belum shalat ashar, jadi Musti nyari mushola dulu niiihhhh,,,,,,dan kami singgah di Pantai Logending untuk numpang shalat. Bagi yang sudah shalat giliran lapar mata, begitu lihat pantai dan ada perahu, langsung deh, menyempatkan keliling menikmati wisata hutan mangrove sepanjang pantai Logending. Putar balik naik perahu tarifnya IDR 15.000 per orang.

      Ini wisata yang tidak direncanakan tetapi malah menyita waktu lumayan banyak, dan ada lagi yang bikin lama2 niiihhhh,,,,,,mbak Melani dan mbak Woro menghilang,,,,kita cari2 mereka kesana kemari rupanya sedang hunting foto,,,,,,,huuuuuuuuu,,,,
       
      "Ayuuukkkk kita lanjut perjalanannya menuju pantai Menganti,,,,," begitu ajak Mas Ajib berulang-ulang, mungkin karena dia yang tahu waktu tempuh dan Medan nya yang berat, makanya disuruh cepat2 melanjutkan perjalanan. 

      Mariiiiii kita jalan,,,,,
      Weewww,,,,tak disangka, ternyata jalanan menuju Pantai Menganti ber-liku2 dan nanjak, ini yang bikin waktu tempuh jadi lebih lama. Terlihat di ufuk barat warna jingga, pertanda sudah memasuki waktu sunset. Kamipun berhenti di tengah hutan karet, Bukit Bintang namanya, sedikit menuruni lembah agar bisa melihat pemandangan yang indah, laut yang terbentang luas dan mentari yang hendak istirahat ke peraduan malam. Meski sedikit mendung, namun cantikmu tetap nampak,,,,,,Subhanallah,,,,,!!!
       
       
      Jadi kami gagal melihat sunset dari Pantai Menganti, namun supaya tidak penasaran, perjalanan tetap kami lanjutkan menuju pantai Menganti. Tanjakan makin tajam, luar biasa, mesti hati2 bawa kendaraan ditengah malam gelap. 
      Deburan ombak sayup2 terdengar, itulah ombak besar di Pantai Menganti. Ini pantai selatan, pinggiran Samudra Hindia, jadi sudah dipastikan jika ombaknya besar dan lautnya pun dalam. Tidak diperbolehkan untuk mandi2 di laut, karena sudah sering terjadi orang yang tengah bermain-main di pantai terseret ombak. Orang sekitar bilang kalau pantai ini angker karena sering makan korban, mungkin karena mereka kurang hati2 dan tidak mengindahkan larangan yang ada.
      Meski hari gelap, kami sempatkan turun, di tepian pantai banyak orang jualan makanan dan minuman hangat. Angin sangat kencang malam itu, deburan ombak juga semakin kencang. Kami duduk di antara perahu2 nelayan yang tertambat di pinggir pantai, perahu berwarna warni, dengan bendera yang melambai-lambai tertiup angin. Suasana makin mencekam,karena udara semakin dingin,,,,,akhirnya kami putuskan untuk pulang. Bulan sabit terlihat mengintip dibalik awan,,,,,,,,,
       
      Karena hari sudah malam, kendaraan tidak bisa melaju dengan kencang, jalanan gelap dan ber-kelok2 serta menanjak. Mobil kami sempat mogok, jujur saya takut dengan suasana seperti ini, takut kendaraan mundur tanpa kendali, untungnya sopir sudah berpengalaman, sehingga sangat tenang menghadapi situasi yang membahayakan menurut saya. Tapi hati saya dag dig dug terus, berdoa sepanjang jalan hingga sampai ke jalan datar,,,,,,,dan alhamdullilah sampai juga ke kediaman Mas Ajib. Ibu Mas Ajib sudah menyiapkan makan malam, nasi gudeg plus Mendoan menu makan malam kami. Endaaaaaggg,,,,,,,ketemu Mendoan lagiiiii,,,,,,
      SMP,,,,Sudah Makan Pulang,,,,,,,,yaaaah jam 20.00 kami berpamitan dengan keluarga Mas Ajib, badan baru terasa capai dan mata sudah mulai mengantuk. Tapi karena besok paginya harus ke stasiun kereta api jam 06.00, maka harus packing terlebih dahulu. 
      Itulah teman perjalanan kami ke kota Kebumen,,,,,terbayang semua kan ? Keasyikannya bersama teman2, keindahan alamnya dan kelezatan makanan khas daerahnya. Kalau kalian kepengin explore Goa Petruk, usahakan sampai ke dalam yaa supaya puas. Pastikan bawa baju ganti karena akan berbasah-basahan dan ketemu lumpur kalau sampai ke dalam. 
      Satu kata untuk Kebumen,,,,,,AJIB,,,,!!
      Sampai ketemu di petualangan berikutnya kawan,,,,,,,Indonesia indah bangeeetttttt kok,,,,!!! 
       

       
       
       
       
       
       
       
    • By Mulyati Asih
      Adakah yang pernah ke pantai Menganti di Kebumen? mungkin sepakat dengan saya bilang pantai ini cantik.  Kabupaten Kebumen Jawa Tengah selalu menjadi tujuan saya dan teman-teman, tak lain adalah untuk caving (susur gua). Secuil ceritanya ada di sini Ternyata Kabupaten ini selain memiliki banyak goa, ada banyak pantai cantik yang dapat kita kunjungi jika tak sengaja kita berada di Kebumen dan salah satunya adalah pantai Menganti.
       

       
       
      Lokasi Pantai Menganti
      Secara administratif pantai Menganti terletak di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Lebih tepatnya lagi, pantai ini berada di barat daya Kecamatan Gombong atau sekitar 60 menit perjalanan menggunakan mobil dari Gombong. 
       
      Cara Menuju Ke Menganti
      Dari Jakarta bisa menggunakan kereta api turun di stasiun Gombong, dilanjutkan dengan bus 3/4 tujuan Ayah atau bilang saja Goa Petruk. Dari objek wisata Goa Petruk sebenarnya ada angkot (angkutan umum) tapi ngak sampai ke pantai hanya sampai pasar (lupa nama pasarnya). Paling enak bawa kendaraan sendiri atau sewa mobil. Dari objek wisata Goa Petruk awalnya kami mau sewa angkot, satu jam menunggu di jalan tak satupun angkot yang lewat akhirnya kami hanya mendapat mobil pickup. 
       
      Mobil pickup yang membawa kami mulai berjalan menanjak dan tak terpikirkan oleh saya sebelumnya, mau ke pantai tapi jalannya harus menanjak. Tak hanya menanjak tapi melewati jalan yang berliku-liku. Sampailah kami di pintu masuk pantai Menganti, HTM nya Rp. 5.000. Tapi karena kami menyewa mobil pickup milik penduduk setempat, jadilah kami masuk dengan gratis karena supirnya bilang ke petugas loket  "hanya sebentar". Rejeki anak backpacker emang gak kemana.
       
      Pantai menganti tidak tergolong pantai yang luas, karena pantai ini dihimpit dari kiri, kanan dan belakang berupa perbukitan sebagai benteng alam. Tapi di sinilah letak keunikannya, dari atas bukit kita bisa memandang luasnya Samudera Hindia. Saya sendiri lebih senang menyebut ini tanjung karena bukit-bukit di sini lebih menjorok ke lautan.
       
      Sesampainya di parkiran mobil, yang kami jumpai adalah pantai dengan kapal-kapal nelayan berjejer sedang bersandar. Di sini saya bisa melihat aktifitas para nelayan, tak hanya dari sini untuk bisa menikmati pantai Menganti. 
       
       

       

       
       
       
      Berjalanlah saya lebih ke atas, cukup menguras tenaga sih karena saya harus berjalan menanjak. Belok ke kanan saya bisa menikmati sisi lain dari pantai Menganti. Untuk berlindung dari teriknya matahari saya bisa berlindung di bawah pohon sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Puas berada di sini dan saya pun beranjak menuju pantai di sisi kiri.
       

       
      Pantai di sisi kiri viewnya lebih cantik, ada mercusuar juga di sini meskipun bangunannya tak terlalu tinggi. Hijaunya rerumputan dan pohon-pohon di bukit semakin mempercantik pantai Menganti.  Menganti menjadi pilihan yang tepat buat kami untuk melepas lelah setelah seharian caving Gua Barat. Berdiri di sini di atas hijaunya rerumputan sambil memandang laut lepas samudera hindia. Memandang ombak yang bekejaran dan menghantam batu karang.
       
       

       

       

       

       
      Di atas bukit ada gubuk-gubuk yang bisa kita sewa untuk bersantai, nah kalau mau merasakan suasana malam kitapun bisa bermalam di pantai dengan menyewa pondokan (tarifnya saya lupa tanya). Di pantai ini mungkin kita akan sering mendengarkan suara petugas keamanan melalui pengeras suara yang memberikan peringatan kepada pengunjung supaya tidak terlalu dekat dengan air laut. Karena ombak di Menganti cukup besar dan ganas, pengunjung dilarang untuk berenang. Katanya sih sudah banyak pengunjung yang terseret ombak dan tidak tertolong.
       

       
      Pengelolaan pantai menganti sudah lengkap, di sini kita tak akan kelaparan karena warung-warung makan menyajikan masakan yang siap menggoyang lidah. Kami duduk di salah satu warung sambil menikmati segarnya kelapa muda. Rasanya cukup sudah kami melepas lelah di Menganti dan siap melanjutkan perjalanan menuju stasiun Gombong untuk kembali ke Jakarta.
    • By WISATA PANTAI NONGSA BATAM
      255 pebalap dari 26 negara berpacu ke garis finish di wisata jembatan 1 barelang pada event Tour De Barelang, Batam 16 Mei 2015