Asa Citra

Jangan Ngaku Backpacker Sejati Kalau Belum Mahir Dalam Hal Ini

26 posts in this topic

Backpacker adalah istilah yang digunakan untuk menyebut para traveler yang berpelancong dengan biaya rendah (low budget) dan barang bawaan seminimal mungkin (travel light). Mereka biasanya identik dengan ransel di punggungnya, pakaian yang santai dan sederhana, serta sepatu yang nyaman. Istilah backpacker itu sendiri diambil dari bahasa Inggris yang berarti orang dengan tas punggung (ransel). Kebanyakan backpacker adalah orang-orang muda (di bawah 30 tahun). Namun, banyak juga backpacker yang meneruskan hobinya hingga mereka terlalu tua untuk berpelancong.

02a.png

Backpacking; Solusi Traveling dengan Biaya Minim

(Sumber: Flickr. Credit: Tais)

 

Menjadi seorang backpacker adalah solusi yang sering diambil bagi orang-orang yang ingin travelling namun tidak punya banyak uang. Memang awalnya tidak mudah ketika merencanakan liburan sebagai backpacker karena membutuhkan usaha dan kesabaran ekstra. Namun, semuanya akan terasa menyenangkan ketika mereka sudah berangkat berlibur nanti.

Sukses berwisata dengan biaya minim tentu akan menimbulkan perasaan puas dan bangga. Ini akan membuat para backpacker bahagia dan ingin melakukannya lagi. Lama kelamaan, backpacking menjadi suatu kebiasaan. Selain terasa menyenangkan, menjadi backpacking tanpa disadari telah melatih kita untuk menguasai beberapa keahlian unik yang belum tentu orang lain bisa melakukannya. Apa sajakah itu?

 

1. Berpikir Out of the Box

Hal yang paling penting dilakukan bagi seorang backpacker adalah menghemat anggaran dan atau mendapatkan uang tambahan untuk biaya travelling. Tanpa hal tersebut, akan gugur segala impian mereka untuk travelling. Untuk itu, segala macam upaya dan strategi harus mereka lakukan. Orang bijak mengatakan, kreativitas seseorang biasanya berkembang ketika orang tersebut berada dalam keadaan terdesak. Konsep ini juga berlaku bagi para backpacker. Kekhawatiran mereka akan gagalnya rencana liburan akan memacu otak mereka untuk bisa berpikir out of the box.

02b.png

Seorang Backpacker Harus Mampu Berpikir Out of the Box

(Sumber: Flickr. Credit: magneticart)

 

Para backpacker biasanya banyak menguasai trik-trik unik untuk menghemat anggaran travelling atau mendapatkan tambahan uang. Beberapa trik yang umum antara lain; pintar berburu tiket pesawat promo, pintar mencari informasi tentang penginapan murah, dan kreatif dalam mencari pekerjaan sampingan untuk mendapatkan tambahan uang. Selain trik-trik umum di atas, para backpacker pun juga kreatif dalam memikirkan trik yang unik dan terdengar agak nyeleneh, misalnya mencuci baju di wastafel hotel demi menghemat biaya laundry, numpang tidur di mushola untuk menghindari biaya penginapan yang mahal, atau mengganti handuk dengan kanebo demi meringankan bawaan di ransel.

Ide-ide yang dimiliki para backpacker seringkali mungkin terdengar aneh. Namun, justru banyak hal-hal tersebut terbukti manjur. Cara berpikir yang kreatif seperti ini adalah suatu keahlian yang unik dan sangat bermanfaat. Bukan hanya untuk travelling saja, namun kemampuan berpikir out of the box juga bisa membantu Anda dalam menghadapi berbagai masalah dalam hidup.

 

2. Berani Malu

Menemukan solusi yang unik untuk menghemat anggaran dan mendapatkan biaya tambahan untuk travelling masih belum cukup. Tidak jarang juga, beberapa solusi tersebut menuntut mereka untuk menghapuskan rasa gengsi yang ada. Dalam mendapatkan tambahan uang misalnya, para backpacker tidak keberatan jika harus mengamen, menjadi waitress sementara di restaurant, atau menjadi sales dadakan di tempat umum. Sementara demi menghemat uang, mereka rela tidur di mushola untuk menghindari biaya penginapan, menumpang truk terbuka untuk mencapai lokasi tujuan, atau meminta diskon khusus pada pedagang.

02c.png

Mengamen di Tempat Umum yang Asing Bukanlah Masalah bagi Backpacker

(Sumber: Flickr. Credit: Electric Eye Photography)

 

Orang-orang yang pemalu atau orang dengan gengsi yang tinggi mungkin akan memilih untuk mengeluarkan lebih banyak uang daripada harus melakukan hal-hal semacam itu. Namun bagi backpacker, uang tersebut lebih baik dimanfaatkan untuk pembiayaan travelling lainnya. Bagi mereka, mengeluarkan uang demi menjaga gengsi adalah sesuatu yang sia-sia.

Namun, jangan disalah artikan. Berani malu bukan berarti tidak tahu malu. Mereka masih menjaga sopan santun dan etika. Berani malu juga bukanlah melakukan hal yang merendahkan harga diri mereka, namun hanya sekedar meninggalkan rasa gengsi yang tidak perlu. Pada dasarnya, prinsip mereka adalah selama hal yang mereka lakukan bukanlah suatu dosa atau melanggar hukum, maka hal tersebut boleh-boleh saja untuk dilakukan.

 

3. Sosialisasi dengan Orang Baru

Menjadi backpacker akan menuntut seseorang untuk sering bersosialisasi dengan banyak orang. Mereka perlu bergabung dalam forum komunitas agar bisa saling berbagi informasi dan tips untuk travelling. Mereka juga harus sering berkomunikasi dengan warga lokal di daerah tujuan wisata mereka untuk mendapatkan informasi tentang transportasi umum, tempat makan yang murah, dan lain sebagainya. Komunikasi dengan warga lokal juga seru untuk mempelajari gaya hidup mereka yang unik dan berbeda dari kita.

02d.png

Bersosialisasi dengan Warga Lokal Merupakan Pengalaman yang Menarik

(Sumber: Flickr. Credit: Kiara Rose)

 

Berbagai macam keperluan akan menuntut mereka untuk mampu mengambil hati orang yang diajaknya berbicara, supaya mereka bersedia membantu mereka. Seringnya melakukan komunikasi semacam ini akan melatih para backpacker untuk bisa cepat akrab dengan orang baru. Bukan hanya itu, mereka juga lihai mencairkan percakapan yang kaku dan mengambil hati orang yang diajak berbicara. Dalam menjalin komunikasi, penting bagi para backpacker untuk selalu bersikap ramah dan sopan. Kalau tidak, tentu tujuan mereka tidak akan bisa terpenuhi.

Tidak perlu diperdebatkan lagi, kemampuan sosialisasi yang tinggi tentunya juga akan sangat bermanfaat jika bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Lagipula, sudah kodratnya manusia sebagai makhluk sosial bahwa kita tidak mungkin bisa hidup tanpa orang lain, bukan?

 

4. Penguasaan Berbagai Bahasa Asing Walau Hanya Beberapa Kalimat Dasar

Kemampuan komunikasi dan sosialisasi yang baik penting dimiliki oleh seorang backpacker. Salah satu cara yang paling ampuh untuk melakukan hal tersebut adalah dengan menggunakan bahasa lokal di daerah yang dikunjungi. Semakin banyak tempat yang dikunjungi oleh seorang backpacker, akan semakin banyak bahasa yang mereka kuasai.

02e.png

Berusaha Berkomunikasi dengan Bahasa Lokal

(Sumber: Flickr. Credit: Mick de Jong)

 

Dengan berbicara menggunakan bahasa lokal, akan membuat orang berpikir Anda berusaha menyesuaikan diri dengan mereka. Ini akan membuat mereka lebih menghargai Anda. Jangan khawatir dengan cara pengucapan Anda. Memang, mungkin Anda akan salah dalam pengucapan atau aksen Anda terlalu aneh bagi mereka. Namun, justru inilah yang akan membuat Anda terkesan unik dan bagi mereka.

Menguasai bahasa asing tentu tidak mudah dan akan banyak memakan waktu. Tidak mungkin kita melakukan kursus bahasa asing terlebih dahulu setiap kali akan melakukan perjalanan wisata. Bagi para traveler, terutama backpacker, yang penting adalah menguasai beberapa kalimat dasar yang akan sering digunakan. Beberapa kalimat tersebut antara lain: “Haloâ€, “Tolongâ€, “Selamat pagi/siang/sore/malamâ€, dan “Terima kasihâ€. Membuka atau mengakhiri percapakan dengan kalimat sederhana dalam bahasa lokal adalah cara yang cukup efektif untuk menimbulkan kesan yang baik di mata warga setempat.

 

5. Menawar Harga

Salah satu prinsip dari seorang backpacker adalah membeli barang dan jasa dengan semurah-murahnya supaya uang dapat lebih dihemat. Salah satu trik yang paling umum namun efektif untuk mendapatkan harga murah tentu saja adalah dengan menawar. Semakin seseorang lihai dalam menawar, semakin murah harga yang didapatkannya.

02f.png

Pasar Tradisional; Tempat yang Sempurna bagi Backpacker untuk Belajar Menawar Harga

(Sumber: Flickr. Credit: Roger Wollstadt)

 

Sayangnya, menawar harga bukanlah bakat yang dimiliki setiap orang. Beberapa orang cenderung pasrah ketika para pedagang sudah menyebutkan harga. Ketika menjadi backpacker, seseorang akan merasa tidak puas jika pasrah begitu saja dengan harga yang diajukan. Mereka akan berusaha meyakinkan para pedagang untuk menurunkan harga.

Bahkan jika pada dasarnya seseorang tidak memiliki bakat menawar, tanpa disadari keahlian mereka akan terasah dengan sendirinya ketika mereka menjadi seorang backpacker. Sedikit demi sedikit, pengalaman akan mengajari mereka berbagai macam trik dan strategi yang harus dilakukan dalam hal menawar. Lama kelamaan, mereka akan jago membaca karakter pedagang, tahu kapan harus bersikap jual mahal, dan tahu kapan harus merayu dengan sopan. Keahlian unik semacam ini semua bermula dari keinginan sederhana untuk menghemat anggaran.

 

6. Tidak Mudah Lelah ketika Berjalan Kaki

Sering melakukan perjalanan ke sana kemari dengan memikul tas di punggung akan melatih otot dan tulang para backpacker agar menjadi lebih kuat dan tangguh. Jika kita bayangkan, pastilah melelahkan jika kita harus berjalan kaki dengan memikul ransel, apalagi jika jaraknya cukup jauh. Tetapi, para backpacker umumnya tidak memikirkan hal tersebut. Biasanya mereka terlalu asyik menikmati keindahan dan suasana kota dan obyek wisata yang mereka kunjungi. Dengan menikmatinya, rasa lelah pun tidak akan begitu mengganggu.

02g.png

Berjalan Kaki adalah Hal yang Biasa bagi Backpackers

(Sumber: Flickr. Credit: Image Agency)

 

Selain itu, berjalan kaki adalah olahraga yang paling ampuh untuk memelihara kesehatan jantung dan paru-paru. Jantung yang sehat berarti peredaran darah akan lancar. Sementara, paru-paru yang sehat berarti sistem pernafasan yang baik. Dua hal ini juga lah yang memegang peran penting atas stamina dan vitalitas seseorang.

Keahlian para backpacker untuk tidak mudah lelah ini biasanya tidak begitu disadari oleh mereka. Namun, jika pada suatu kesempatan mereka harus berjalan berdampingan dengan orang biasa, semuanya akan terbukti. Umumnya, orang biasa akan lebih cepat merasa kelelahan sementara sang backpacker masih berjalan dengan segar dan penuh semangat. Bahkan dari langkah-langkahnya pun, para backpacker cenderung memiliki langkah yang mantap dan cepat, seolah mereka punya energy yang tidak terbatas untuk dihabiskan.

 

7. Tidur dimana saja

Masalah penginapan adalah hal yang sangat membedakan para backpacker dari traveler biasa. Para traveler pada umumnya berpikir bahwa penginapan yang nyaman dan fasilitas yang lengkap sangatlah diperlukan untuk bisa menikmati suatu perjalanan wisata. Tanpa hal tersebut, mereka akan merasa sangat terganggu dan tidak betah. Untuk itu, banyak orang yang rela mengeluarkan uang jutaan rupiah hanya untuk menginap di resort yang mewah dan berfasilitas lengkap.

02h.png

Backpacker Bisa dengan Nyaman Tidur Dimana Saja

(Sumber: Flickr. Credit: inxstnt)

 

Sebaliknya, bagi para backpacker, penginapan hanyalah sebuah tempat sementara untuk tidur. Tidaklah penting dimana mereka tidur. Yang penting adalah kemana saja mereka dapat pergi selama mereka tidak sedang tidur. Untuk itu, menyewa kamar di penginapan mewah adalah suatu kesia-siaan yang cukup besar. Para backpacker lebih suka melakukan reservasi di hotel melati atau hostel untuk menghemat anggaran. Jika bisa menumpang di rumah orang, mereka justru lebih senang walaupun nantinya mereka hanya tidur di sofa, karpet, atau bahkan di lantai dengan kantung tidur. Pada keadaan ekstrim, beberapa backpacker bahkan rela tidur di tempat umum seperti bandara atau mushola.

Pada awalnya, gaya tidur yang semacam ini memang terasa tidak menyenangkan dan bahkan cenderung menyiksa. Apalagi jika kita baru saja menghabiskan waktu seharian untuk berjalan-jalan keliling kota. Para backpacker pemula mungkin juga merasa tidak nyaman dengan ini. Namun, semakin sering seseorang melakukan travelling dengan cara ini, mereka akan semakin terbiasa. Lama kelamaan, mereka bisa dengan mudah tidur di mana saja dengan nyaman.

 

8. Packing

Orang yang tidak biasa bepergian biasanya akan berpendapat bahwa packing tidaklah memerlukan keahlian khusus karena hanya memasukkan barang-barang saja ke dalam koper. Namun bagi traveler, packing merupakan ritual yang perlu diperhitungkan dan disiasati.

02i.png

Backpacker Tahu Apa Saja yang Perlu Dibawa Saat Travelling

(Sumber: Flickr. Credit: Justin Klubnik)

 

Orang yang tidak ahli dalam packing cenderung akan membawa barang yang terlalu banyak. Ini akan mengakibatkan mereka menjadi repot sendiri ketika dalam perjalanan. Selain repot waktu membawanya, mereka juga akan kerepotan dalam mengawasinya supaya tidak dicuri orang. Alhasil, terkadang mereka harus menyewa seorang porter untuk membantu mereka mengurus koper-kopernya. Belum lagi, banyaknya bawaan akan menambah berat bagasi mereka dan akhirnya mereka harus membayar biaya tambahan.

Bagi seorang backpacker, penting sekali untuk bepergian dengan bawaan seminimal mungkin. Dengan begitu, mereka bisa menghemat biaya bagasi dalam penerbangan mereka. Selain itu, bawaan yang minim juga akan meringankan beban ransel yang mereka pikul di punggung mereka. Sehingga, mereka akan lebih nyaman dan tidak mudah lelah ketika harus bepergian kesana kemari.

Para backpacker biasanya tahu barang-barang apa saja yang sebaiknya dibawa dan barang-barang apa saja yang sebaiknya ditinggal di rumah. Mereka juga tahu jenis pakaian apa saja yang sebaiknya mereka bawa. Bahkan, dalam menata bawaan dalam tas pun, mereka biasanya punya trik-trik tersendiri untuk membuatnya seringkas mungkin. Dan yang paling penting, mereka bisa melakukan packing dengan cepat.

 

9. Pengaturan Keuangan

Satu lagi keahlian yang pasti akan otomatis terasah jika menjadi seorang backpacker sejati adalah pengaturan keuangan. Seperti yang kita tahu, pengaturan keuangan adalah hal yang paling menentukan bagi seorang backpacker. Sukses dan tidak suksesnya suatu liburan yang mereka impikan akan sangat bergantung pada bagaimana mereka mengatur anggaran yang ada.

02j.png

Telaten dalam Setiap Pengeluaran dan Pemasukan

(Sumber: Flickr. Credit: Morgan)

 

Mengatur keuangan bukan saja penting dilakukan pada saat mereka berlibur. Bahkan dalam menjalani kehidupan sehari-hari pun, seseorang yang berjiwa backpacker akan cenderung telaten dalam mengatur setiap pemasukan dan pengeluaran uang yang ada. Harapan mereka, uang tersebut bisa dihemat dan kemudian bisa dimanfaatkan untuk kegiatan traveling mereka yang berikutnya.

Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, seorang backpacker akan mempertimbangkan setiap pengeluaran yang akan dikeluarkan. Mereka umumnya lebih suka membeli pakaian yang sederhana ketimbang pakaian bermerk mahal di mall. Mereka juga jarang menghabiskan uang di tempat hiburan yang mahal seperti café atau billiard. Ketika akan membeli barang, mereka umumnya akan membandingkan harga di beberapa toko terlebih dahulu sebelum melakukan transaksi. Bahkan sebelum berangkat ke toko pun, mereka sudah terlebih dahulu mempertimbangkan apakah mereka benar-benar perlu membeli barang tersebut.

 

 

Sebagai seorang backpacker, apakah Anda sudah merasa menguasai berbagai keahlian unik tersebut di atas? Jika sudah, maka Anda boleh berbangga diri dan menyebut diri Anda sebagai seorang master backpacker. Namun jika belum, jangan menyerah. Semakin besar niat Anda untuk travelling, akan semakin terlatihlah kemampuan Anda.

 

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Asa Citra

ya yang point 6. Tidak Mudah Lelah ketika Berjalan Kaki

saya sering banget nemuin gini "info donk tempat wisata dan penginapan murah saya mau backpacker neh"

 

tapi setelah di info in kalo track nya susah dan bakal nguras tenaga 

"bisa gak yang deket2 aja dari penginapan dan ada sewa motor gak ya"

 

Jadi bingung makna Backpacker or backpacking sekarang kayak gimana ya

atau kah hanya harfiah saya aja berupa Jalan2 Menggunakan Tas Backpack :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Asa Citra

ya yang point 6. Tidak Mudah Lelah ketika Berjalan Kaki

saya sering banget nemuin gini "info donk tempat wisata dan penginapan murah saya mau backpacker neh"

 

tapi setelah di info in kalo track nya susah dan bakal nguras tenaga 

"bisa gak yang deket2 aja dari penginapan dan ada sewa motor gak ya"

 

Jadi bingung makna Backpacker or backpacking sekarang kayak gimana ya

atau kah hanya harfiah saya aja berupa Jalan2 Menggunakan Tas Backpack :)

 

iya juga ya.. sekarang kadang ada yang ngakunya backpacker tapi malas jalan..

yang begituan menurutku sih bukan backpacker.. cuma traveler biasa..

 

bagiku, sebenarnya backpacker itu identik dengan turis yang rela jalan jauh dan tidur di tempat ala kadarnya, yang penting sukses travelling..

kalo di forum internasional sih, makna backpacker masih tetep seperti itu, belum berubah...

Share this post


Link to post
Share on other sites

bagus nih topic nya, dan seorang backpacker sejati itu harus selalu siap menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi saat bertraveling.hehehe :salut

 

sipp... karena backpacking emang "penuh kejutan"..

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Asa Citra

ya itu bebas aja seh tiap orang memaknai apa itu backpacking or backpacker

balik ke diri sendiri aja

maka nya saya kadang gak mau dibilang seorang backpacker karena takut beda makna

cukup Traveler saja makna nya luas heheh

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Asa Citra

ya yang point 6. Tidak Mudah Lelah ketika Berjalan Kaki

saya sering banget nemuin gini "info donk tempat wisata dan penginapan murah saya mau backpacker neh"

 

tapi setelah di info in kalo track nya susah dan bakal nguras tenaga 

"bisa gak yang deket2 aja dari penginapan dan ada sewa motor gak ya"

 

Jadi bingung makna Backpacker or backpacking sekarang kayak gimana ya

atau kah hanya harfiah saya aja berupa Jalan2 Menggunakan Tas Backpack :)

 

 

kayaknya gue banget ya om, mau jalan2 tp gamau susah :ngeledek

Share this post


Link to post
Share on other sites

 "6. Tidak Mudah Lelah ketika Berjalan Kaki"

 

Setuju bingits...

 

Saya byk menghabiskan berjalan kaki kalo Travelling bahkan urusan dokumentasi-pun seringkali saya abaikan, karena kalo kebanyakan megang gadget (kamera, henpon, handycam dll) kesan tiap daerah yg saya kunjungi akan terasa kurang mendalam...

Share this post


Link to post
Share on other sites

libas abis mah semua kecuali masalah packing... suka ga rapi dan asal aja,. yg penting muat :D

 

hahahaa... aku juga mayan jago meringkas koper, tapi kerapian nomor tralala lah..

 

 "6. Tidak Mudah Lelah ketika Berjalan Kaki"

 

Setuju bingits...

 

Saya byk menghabiskan berjalan kaki kalo Travelling bahkan urusan dokumentasi-pun seringkali saya abaikan, karena kalo kebanyakan megang gadget (kamera, henpon, handycam dll) kesan tiap daerah yg saya kunjungi akan terasa kurang mendalam...

 

setuju broo... yang paling penting kan menikmati momennya.. aku juga suka lupa ngambil foto kalo lagi travelling. pas udah pulang deh baru sadarnya..

kalo udah asyik jalan di lokasi emang bakal jalan terus aja, apalagi kalo pemandangannya oke bingits.. tahu2 udah jauh aja..

Share this post


Link to post
Share on other sites

libas abis mah semua kecuali masalah packing... suka ga rapi dan asal aja,. yg penting muat :D

 

hahahaa... aku juga mayan jago meringkas koper, tapi kerapian nomor tralala lah..

 

 "6. Tidak Mudah Lelah ketika Berjalan Kaki"

 

Setuju bingits...

 

Saya byk menghabiskan berjalan kaki kalo Travelling bahkan urusan dokumentasi-pun seringkali saya abaikan, karena kalo kebanyakan megang gadget (kamera, henpon, handycam dll) kesan tiap daerah yg saya kunjungi akan terasa kurang mendalam...

 

setuju broo... yang paling penting kan menikmati momennya.. aku juga suka lupa ngambil foto kalo lagi travelling. pas udah pulang deh baru sadarnya..

kalo udah asyik jalan di lokasi emang bakal jalan terus aja, apalagi kalo pemandangannya oke bingits.. tahu2 udah jauh aja..

Share this post


Link to post
Share on other sites

ibarat kata ya, berangkat rapi, pulang acak adul.. haha

tdur dmna aja ok.

cuma suka was2 sama brg bawaan.. dulu malah sewa loker buat tas, tidurnya di depan kursi dket WC. lebih syg barang ketimbang badan. wkwk :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

no1.Siap      no.2 ngapain malu orang lain tidak kenal kita  No.3 penting  no.4 penting  no. 5 sangat penting  no.6 harus  no. 7 sudah ngak bisa

no. 8 siap selalu tabel  no.9 harus dilakukan demi mencapai yang di cita2 kan

 

Soal Kanebo Dikira hanya saya saja karena mantan sopir ternyata udah Universal @Asa Citra keren ni topik

Share this post


Link to post
Share on other sites

ibarat kata ya, berangkat rapi, pulang acak adul.. haha

tdur dmna aja ok.

cuma suka was2 sama brg bawaan.. dulu malah sewa loker buat tas, tidurnya di depan kursi dket WC. lebih syg barang ketimbang badan. wkwk :D

hahahaaa... yang penting pulangnya selamet aja laaaaah... tak peduli bentuk kopernya. toh mau dibongkar juga..

waah keren dah bisa tidur di kursi.. :salut  kalo aku masih perlu kasur..

 

 

no1.Siap      no.2 ngapain malu orang lain tidak kenal kita  No.3 penting  no.4 penting  no. 5 sangat penting  no.6 harus  no. 7 sudah ngak bisa

no. 8 siap selalu tabel  no.9 harus dilakukan demi mencapai yang di cita2 kan

 

Soal Kanebo Dikira hanya saya saja karena mantan sopir ternyata udah Universal @Asa Citra keren ni topik

 

setuju sama alasan nomor 2... nggak kenal = nggak ada alasan untuk malu.. hahahahaa..

iya itu udah lumayan banyak yg pake triknya soalnya ringkes.. thanks ko acong.. :senyum

Share this post


Link to post
Share on other sites

 

setuju broo... yang paling penting kan menikmati momennya.. aku juga suka lupa ngambil foto kalo lagi travelling. pas udah pulang deh baru sadarnya..

kalo udah asyik jalan di lokasi emang bakal jalan terus aja, apalagi kalo pemandangannya oke bingits.. tahu2 udah jauh aja..

 

Yup, menikmati momen itu yg terpenting....  :terpesona 

byk Traveller lebih fokus ke urusan Gadget ketika Travelling, demi buat dokumentasi atau bikin2 laporan perjalanan, sehingga tidak menikmati momen2 travelling itu sendiri...

Share this post


Link to post
Share on other sites

@andregm

iya.. banyak temenku yang rajin motret dari awal mpe akhir..

jadi aku muter2 sendiri aja menikmati hidup.

akhirnya aku sering nggak nongol di dokumentasi gara2 asyik berpetualang sendiri..

ehehehe

Sama tuh @Asa Citra

Aku juga ada teman yg suka bgd selfie n foto2, sampai2 saat nyebrang jln pun dia sempat2'a selfie 😧

Share this post


Link to post
Share on other sites

untung ane bukan backpacker sejati.. hanya penikmat jalan2 saja... kadang backpack, kadang nggak. sesuai kondisi... hehehe :backpacking

nice thread btw :salut

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now