Sign in to follow this  
vie asano

Jalan-Jalan Ke Kyoto: Daftar Obyek Wisata Yang Masih Direnovasi Tahun 2015

7 posts in this topic

Jika nggak ada aral melintang, insya Allah akhir April nanti saya dan keluarga akan pergi ke Jepang, tepatnya ke kota Kyoto, Osaka, dan mungkin ke kota lain di sekitarnya. Dan sepertinya ada beberapa Jalan2ers yang juga akan bepergian ke Jepang di bulan Maret-April ini ya? Jika ya, pastinya sekarang-sekarang ini ada beberapa orang yang tengah pusing mendata obyek wisata mana saja yang akan dikunjungi selama berada di Jepang dan menyusun itinerary wisata, termasuk saya.

 

Bicara soal itinerary, ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh wisatawan yang akan pergi ke Jepang tahun ini karena di tahun 2015 masih ada beberapa obyek wisata populer di Jepang yang berada dalam proses renovasi. Maklum, seperti layaknya bangunan lainnya, berbagai obyek wisata populer (seperti kuil dan taman) pun nggak luput dari berbagai kerusakan dan harus diperbaiki melalui serangkaian proses renovasi dan rekonstruksi ulang.

 

Lantas, bagaimana jika sudah terlanjur menyusun itinerary dan ternyata obyek wisata yang diinginkan masih ada dalam tahap rekonstruksi maupun renovasi? Jangan dulu panik. Sebagian besar obyek wisata tersebut rata-rata masih dibuka untuk umum saat proses renovasi/rekonstruksi berlangsung, sehingga mungkin nggak akan sampai mengganggu itinerary yang sudah terlanjur disusun. Namun jika kalian keberatan mendengar suara palu yang bertalu dan mesin yang menderu di sela momen menikmati keindahan sebuah obyek wisata (plus bonus debu yang berterbangan saat proyek renovasi), sebaiknya hindari mengunjungi obyek wisata yang masih berstatus under reconstruction.

 

Berikut beberapa daftar obyek wisata populer di Jepang yang masih dalam proses konstruksi yang saya kumpulkan dari berbagai sumber. Untuk catatan tambahan, hanya proyek renovasi besar saja yang saya cantumkan disini. Saya akan mulai dulu dari kota Kyoto yang paling banyak mengalami proses renovasi di tahun ini.

 

Kiyomizudera Temple (baca disini: Kiyomizudera part 1, Kiyomizudera part 2, Kiyomizudera part 3)

Akses: dari Stasiun Kyoto, naik bus nomor 100 atau 206 dan turun di halte bus Kiyomizu-michi atau Gojo-zaka. Dari sana, jalan kaki 10 menit menuju kuil.

Status: under reconstruction

Masa pelaksanaan: mulai tahun 2008 s/d 2019

 

Kiyomizu.jpg

Panggung di hall utama kuil Kiyomizudera, via Jordy Meow/wikipedia 

 

Kuil Kiyomizudera ini termasuk salah satu obyek wisata mayor di Kyoto. Daya tarik utamanya terletak pada panggung kayu setinggi 13 meter dengan pemandangan ke arah lembah dan kota Kyoto di kejauhan. Dulu sempat muncul mitos jika berhasil melompat dari panggung kuil ini dan mendarat dengan selamat, maka harapannya akan terkabul. Namun praktek lompat melompat yang populer pada Periode Edo (1603-1868) tersebut kini telah dilarang karena tingkat keselamatannya hanya sekitar 85,4 persen saja.

 

Saat ini, beberapa bangunan di kompleks kuil Kiyomizudera masih diperbaiki setahap demi setahap. Panggung utama yang menjadi daya tarik kuil ini memang masih dapat di akses oleh wisatawan, namun proyek renovasi ini bisa mengganggu bagi wisatawan karena beberapa bangunan populer seperti Okunoin Hall yang memiliki panggung tinggi kedua di kuil ini dan pagoda 3 lantai masih dalam tahap perbaikan. Amida Hall dan Shaka Hall juga masih ditutup untuk umum dan proses renovasi ini diperkirakan baru berakhir tahun 2019, dengan total ada 9 bangunan yang sedang diperbaiki. Jadi, pertimbangkan baik-baik sebelum memasukkan kuil Kiyomizudera dalam daftar kunjungan selama berada di Kyoto, atau datanglah setelah tahun 2019. Sayang, kabarnya setelah tahun 2019 hall utama-lah yang akan direnovasi, sehingga tampaknya perlu waktu bertahun-tahun lagi sebelum bisa menyaksikan keindahan kuil ini seutuhnya.

 

Beberapa foto proses renovasi yang bisa dikumpulkan dari berbagai sumber sebagai bahan pertimbangan:

 

P1040909.JPG

Salah satu sudut kuil yang masih direnovasi saat ini, via nipponandon.blogspot 

 

kiyomizu-dera-temple.jpg

Proyek renovasi di tahun 2014, via GAN L/tripadvisor 

 

kiyomizu-dera-main-hall-veranda-kyoto-bi

Renovasi di Okunoin Hall, via muza-chan 

 

***

 

Chionin Temple (baca disini: Chion-in Temple part 1, Chion-in Temple part 2)

Akses: 10 menit jalan kaki dari Stasiun Higashiyama (Tozai Line) atau 5 menit jalan kaki dari halte bus Chionin-mae (bus no 206 dari Stasiun Kyoto)

Stasus: under reconstruction

Masa pelaksanaan: mulai tahun 2012 s/d 2019

 

Kuil Chionin ini juga termasuk kuil populer di Kyoto karena letaknya nggak begitu jauh dari kuil Yasaka, Maruyama Park, dan juga kawasan Gion. Dan, kuil ini pun tengah berada dalam masa renovasi yang baru akan berakhir di tahun 2019. Proyek renovasi ini cukup besar karena hall utama-lah yang sedang diperbaiki dan selama proses tersebut, seluruh hall ditutupi oleh struktur khusus. Bagi yang tetap ingin pergi ke kuil ini, jangan berharap akan melihat banyak pemandangan selama proses renovasi. Tapi karena kuil ini bebas tiket masuk alias gratis, lumayan juga untuk dikunjungi sebagai pengisi waktu wisata, khususnya jika kalian tertarik berwisata juga ke kuil Yasaka.

 

Berikut foto-foto renovasi di Chionin Temple yang masih berlansung hingga kini:

 

chion-in_mainhall.jpg

Hall utama yang ditutupi oleh penutup khusus, via 28daysjapan 

 

JF4_041740.jpg

Antrian orang-orang yang ingin melihat lebih dekat proses renovasi hall utama, via regex 

 

JF4_041791.jpg

Melihat bagian atap yang tengah direnovasi, via regex 

 

***

 

Kamigamo Shrine (baca disini: Kamo Jinja 1, Kamo Jinja 2)

Akses: 15 menit jalan kaki dari Stasiun Kitayama (via Karasuma Subway Line)

Status: under reconstruction

Masa pelaksanaan: hingga tahun 2015

 

Kamigamo-jinja-Tower-Gate-romon-front.jp

Gerbang di Kamigamo Shrine, via japantravelmate 

 

Kuil Kamigamo, bersama dengan kuil Shimogamo, merupakan salah satu kuil penting dan juga kuil tertua di Kyoto yang telah dimasukkan dalam daftar UNESCO World Heritage Site. Tahun ini kuil Kamigamo pun masih berada dalam proses renovasi yang rutin diadakan setiap 21 tahun sekali dan yang direnovasi adalah hall utama. Kabarnya, proses renovasi direncanakan berlangsung hingga tahun 2015 (tidak ada keterangan lebih lanjut tentang bulannya). Jika tetap ingin berkunjung ke kuil ini, nggak ada salahnya untuk sekaligus mengunjungi kuil Shimogamo yang jaraknya terpisah 3,5 kilometer untuk melengkapi pengalaman wisata kalian.

 

Berikut foto Kamigamo Shrine yang sedang direnovasi:

 

Kamigamo-jinja-Chu-mon-and-Honden.jpg?re

Renovasi di bangunan utama, via japantravelmate 

 

***

 

Higashi Honganji Temple (baca disini: Higashi Honganji Temple part 1, Higashi Honganji Temple part 2)

Akses: 10-15 menit jalan kaki dari Stasiun Kyoto

Status: under reconstruction

Masa pelaksanaan: mulai tahun 2003 s/d Desember 2015

 

Higashi_Honganji_Honden.JPG

Main hall di Higashi Honganji, via wikipedi

 

Kuil Higashi Honganji cukup populer dikunjungi oleh mereka yang sedang melakukan wisata singkat di Kyoto, karena jaraknya hanya kira-kira 10-15 menit jalan kaki dari Stasiun Kyoto. Saat ini hall Amida di kuil Higashi Honganji tengah berada dalam proses renovasi dan seluruh bangunannya ditutupi oleh penutup khusus dan tertutup untuk wisatawan. Namun kuil ini masih cukup menarik untuk dikunjungi karena proyek renovasi ini nggak mengganggu bangunan utama dari kuil Higashi Honganji.

 

Catatan tambahan:

Jika benar-benar nggak ingin terganggu dengan proses renovasi, alihkan saja itinerary ke kuil Nishi Honganji yang hanya berjarak 1 blok dari kuil Higashi Honganji (baca disini: Nishi Honganji part 1, Nishi Honganji part 2).

 

Berikut foto kuil Higashi Honganji saat direnovasi:

 

6183258-Another_masterpiece_in_a_city_wi

Proyek renovasi di Higashi Honganji, via jlanza29/virtualtourist 

 

6241241-Higashi_Honganji-Kyoto.jpg

Proyek renovasi tahun 2012, via Jim_Eliason/virtualtourist 

 

Untuk obyek wisata besar lainnya yang tengah di renovasi, saya ulas kapan-kapan ya. Semoga bermanfaat!

 

 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By vie asano
      Gunkanjima bisa jadi merupakan salah satu pulau tak berpenghuni yang paling populer di dunia ini. Diluar fakta bahwa pulau ini hanya berisi reruntuhan, Gunkanjima memang menarik jika dilihat dari berbagai sisi, baik dari sisi sejarah hingga cerita-cerita unik yang menghiasi tempat ini. Saya nggak akan mengupas segi sejarah karena sudah saya singgung dalam tulisan sebelumnya (baca: Gunkanjima, Pulau Kapal Perang Berhantu di Nagasaki 1). Saat ini saya ingin fokus mengulik dari segi tour ke Gunkanjima.
      Foto 01:
      Maket Gunkanjima [foto: Yoppy/flickr]
      Foto 02:
      Gunkanjima [foto: Kntrty/wikimedia]
      Tour ke Gunkanjima
      Hingga tahun 2005, Gunkanjima masih ditutup untuk umum dengan alasan keamanan. Hanya wartawan saja yang diijinkan untuk meliput tempat ini. Baru pada tahun 2009 Gunkanjima mulai dibuka untuk publik, dan mulai bermunculanlah tour menuju Gunkanjima.
      Foto 03:
      Wisatawan berkunjung ke Gunkanjima [foto: At by At/wikimedia]
      Tak sulit untuk mengikuti tour ke Gunkanjima. Wisatawan bisa datang langsung ke titik-titik pemberangkatan kapal menuju Gunkanjima yang ada di Nagasaki Port, seperti di Nagasaki Port Ferry Terminal dan Tokiwa Terminal. Namun lebih disarankan bagi wisatawan untuk melakukan reservasi terlebih dulu, baik via online maupun offline. Kenapa? Ada 2 alasan utama. Pertama, karena tour ke Gunkanjima bisa sangat ramai oleh wisatawan, khususnya saat akhir pekan maupun pada musim liburan. Kedua, karena tour sewaktu-waktu bisa dibatalkan jika kondisi cuaca tidak memungkinkan. Dengan melakukan reservasi, setidaknya wisatawan bisa mengamati jadwal perkiraan tour yang ditawarkan oleh masing-masing operator.
      Foto 04:
      Wisatawan dan jalur khusus yang sengaja dibuat untuk memudahkan aktifitas wisata di Gunkanjima [foto: Yoppy/flickr]
      Ada banyak perusahaan yang mengelola tour menuju Gunkanjima, namun secara garis besar ada 2 tipe tour yang ditawarkan. Pertama, tour mengelilingi pulau menggunakan perahu. Disini wisatawan hanya bisa mengamati Gunkanjima dari laut saja (tidak turun ke pulau). Lamanya tour tipe ini kira-kira 2 jam, dengan biaya bervariasi antara ¥3000*-4000*. Kedua, tour yang singgah ke pulau. Tour tipe ini mengajak wisatawan untuk mengelilingi sebagian kecil wilayah Gunkanjima, biasanya disisi barat-selatan pulau. Jangan berharap akan mampir ke reruntuhan bangunan yah, karena secara resmi wisatawan tidak boleh mendekati puing-puing di Gunkanjima dengan alasan keamanan. Lamanya tour ini kurang lebih 3-4 jam (lengkap dengan staff berbahasa Inggris/Jepang tergantung masing-masing operator), dan biayanya antara ¥3000*-5000*.
      Foto 05:
      Reruntuhan Gunkanjima dilihat dari jalur khusus untuk wisatawan [foto: Kwmr/flickr]
      Foto 06:
      Wisatawan dan reruntuhan Gunkanjima [foto: Yoppy/flickr]
      Bagi yang memerlukan informasi lebih lanjut seputar tour ke Gunkanjima, bisa intip info yang disediakan oleh 3 operator berikut ini: lihat disini, disini, dan disini.
      Apa saja yang bisa dilihat di Gunkanjima?
      Jawaban yang paling utama tentu saja reruntuhan bangunan. Tapi reruntuhan apa? Bangunan apa saja yang pernah ada di Gunkanjima? Berikut peta fasilitas yang ada di Gunkanjima.
      Foto 07:
      Peta fasilitas di Gunkanjima [foto:
      SUMBER] Dan inilah beberapa bangunan/struktur ikonik yang masih bisa ditemukan di Gunkanjima.
      Blok 65
      Struktur ini bisa dibilang yang paling ikonik di Gunkanjima. Bagi yang pernah nonton Skyfall-nya James Bond (tahun 2012), di blok inilah tempatnya Raoul Silva, musuh Bond, bersembunyi. Bangunan ini memiliki bentuk U, terdiri dari 9 lantai, dan dulunya berfungsi sebagai apartemen. Terdapat kira-kira 317 apartemen di bangunan ini, dan uniknya (sekaligus yang cukup membuat merinding), di beberapa apartemen masih bisa ditemukan barang-barang sisa penghuni terdahulu seperti kulkas, jam dinding, televisi, dan lain-lain. Lho, kenapa kok ngeri? Ah, mungkin itu karena imajinasi saya yang super canggih jika menyangkut hal-hal yang berpotensi mengarah ke cerita horor maupun thriller (mau bilang penakut aja susah amat ya? Haha). Inilah blok 65 tersebut dan contoh barang yang bisa ditemukan disana.
      Foto 08:
      Blok 65 [foto: Jordy Meow/wikimedia]
      Foto 09:
      Televisi model lama di reruntuhan Gunkanjima [foto: Snotch/flickr]
      Stairway to Hell
      Tangga ini berfungsi untuk menghubungkan beberapa bangunan di Gunkanjima. Karena cukup tinggi dan curam, agak sulit untuk mendaki tangga ini dan akhirnya dijuluki Stairway to Hell.
      Foto 10:
      Stairway to Hell [foto: Jordy Meow/wikimedia]
      Sekolah
      Di Gunkanjima ini juga terdapat sekolah lho. Bangunan sekolah dibangun pada tahun 1958 dan termasuk salah satu bangunan termuda di Gunkanjima. Bangunan sekolah terdiri dari 7 lantai yang dibagi untuk SD dan SMP. Sekolah ini juga dilengkapi dengan beberapa fasilitas lain seperti ruang musik, olah raga, dan ruang multi fungsi. Ngomong-ngomong, berdasarkan pengakuan para penjelajah yang sudah pernah menghabiskan malam di Gunkanjima, konon sekolah ini termasuk salah satu bangunan paling berhantu di Gunkanjima.
      Foto 11:
      Bangunan sekolah [foto: Snotch/flickr]
      Foto 12:
      Salah satu ruang kelas [foto: Snotch/flickr]
      Kuil
      Nggak sulit untuk menemukan kuil di berbagai penjuru Jepang. Jadi tak heran di Gunkanjima juga terdapat kuil, yang sebagian strukturnya masih tersisa hingga saat ini. Inilah penampakan kuil di Gunkanjima.
      Foto 13:
      Kuil [foto: Hisagi/wikimedia]
      Dan berikut random picture suasana di Gunkanjima:
      Foto 14:
      Pemandangan dari salah satu atap bangunan [foto: Snotch/flickr]
      Foto 15:
      Suasana di antara struktur bangunan yang masih relatif tegak [foto: Snotch/flickr]
      Foto 16:
      Deretan reruntuhan (kemungkinan apartemen pekerja dan Blok 65) dilihat dari laut [foto: Kwmr/flickr]
      Trivia
      -Walau Skyfall mengambil latar belakang Gunkanjima, namun shootingnya dilakukan di sebuah studio di Inggris. Shooting memang nggak dilakukan di Gunkanjima takut bangunan di sana sewaktu-waktu bisa hancur.
      -Ada beberapa alasan kenapa Gunkanjima juga dijuluki pulau berhantu. Selain karena pulau tersebut kini kosong tak berpenghuni, juga karena banyaknya kisah suram yang pernah terjadi di pulau itu. Sejak batu bara di Gunkanjima mulai di eksplorasi, banyak warga Cina dan Korea yang sengaja dikirim ke pulau tersebut untuk dijadikan pekerja kasar dan tak sedikit yang menjadi korban dalam periode pertambangan tersebut.
      -Takjub melihat bentuk Gunkanjima yang menyerupai kapal perang? Jangan takjub terlalu lama karena bentuk tersebut bukan bentuk asli pulau Hashima. Ya, saat dibeli oleh Mitsubishi pulau ini hanya berupa bongkahan karang dengan bentuk tak beraturan. Setelah melalui proses reklamasi berkali-kali, barulah Gunkanjima memperoleh bentuknya seperti saat ini.
      -Ada yang bingung nggak? Katanya nggak boleh mendekati bangunan di Gunkanjima, tapi kok bisa ada foto-foto close up reruntuhan Gunkanjima? Itu karena aktifitas yang dilakukan oleh jurnalis maupun peneliti diijinkan di pulau ini. 
      * Harga sewaktu-waktu dapat berubah.
      ** Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
      ***
      Baca juga:
      Nagasaki: Dulu dan Sekarang
      Napak Tilas Bom Atom Nagasaki (1): Nagasaki Peace Park
      Napak Tilas Bom Atom Nagasaki (2): Zone of Prayers
      Napak Tilas Bom Atom Nagasaki (3-end): Nagasaki Atomic Bomb Museum
      Nagasaki’s Short Guide for Travellers (1)
      Nagasaki’s Short Guide for Travellers (2-end)
      Gunkanjima, Pulau Kapal Perang Berhantu di Nagasaki (1)
      Gunkanjima, Pulau Kapal Perang Berhantu di Nagasaki (2-end)
    • By vie asano
      Lanjut lagi tentang Fuji-Q Highland, taman bermain yang lokasinya nggak begitu jauh dari kaki Gunung Fuji. Kemarin saya sudah mengulas tentang 4 roller coaster kelas dunia yang ada di taman bermain tersebut, plus sedikit menyinggung tentang ragam wahana lain di kategori thrill ride yang sanggup bikin jantung dag-dig-dug karena menegangkan. Itu baru wahana bertema thrill ride saja. Kira-kira wahana non thrill ride sama asyiknya nggak ya?
      Foto 01:
      (a.) Fuji-Q Highland [foto: Scion_cho/flickr], (b.) Pintu utama [foto: Nayvik/wikimedia], (c & d.) Suasana di Fuji-Q Highland [foto:
      Jika kemarin saya mengundang para pecinta roller coaster dan juga para adrenalin junkies untuk mencoba aneka wahana thrill ride di Fuji-Q Highland, maka kali ini saya ingin mengundang para pecinta horor. Di Fuji-Q Highland ini ada atraksi khusus bagi para horor mania, yaitu Haunted Hospital (atau Super Scary Labyrinth of Fear) dan Mizuki Shigeru's Ge-ge-ge Haunted Mansion. Untuk nama terakhir jelas merupakan rumah hantu yang mengambil tema anime Ge-ge-ge no Kitaro. Tapi bagaimana dengan Haunted Hospital?
      Foto 02: Aneka wahana thrill ride lainnya
      (a.) Mad Mouse [foto: Thecrypt/flickr], (b.) Nagashimasuka [foto: LuxTonnerre/flickr], (c.) Tekkotsu Bancho [foto: Nikm/wikimedia], (d.) Red Tower [foto: LuxTonnerre/flickr]
      Nah, Haunted Hospital ini termasuk salah satu wahana horor kelas dunia yang ada di Fuji-Q Highland. Wahana ini di klaim sebagai wahana horor terbesar kedua di dunia (dengan luas total 3000 meter persegi yang dibagi dalam 2 lantai), sehingga menjadi daya tarik utama lainnya dari Fuji-Q Highland. Konsep wahana ini adalah labirin dengan total panjang rute mencapai 900 meter yang akan melewati ruang-ruang tematik seperti the CT Scan Room, the Third Operating Room, the Bacteria Lab, dan sejenisnya. Disarankan hanya yang betul-betul pemberani dan sehat saja yang mencoba wahana ini, karena untuk menyelesaikan seluruh permainan dibutuhkan waktu ±60 menit. Oya, sebagai tambahan info, saat masuk ke wahana ini siapkan mental untuk ditakut-takuti oleh para zombie ya!
      Selain dikenal memiliki roller coaster menarik plus wahana horor yang super seram, Fuji-Q Highland juga dikenal sebagai sebuah theme park yang memiliki banyak wahana yang terinspirasi dari anime populer. Dalam tulisan sebelumnya, saya sudah menyinggung sekilas tentang Evangelion:World yang memiliki tiruan robot EVA-01 berskala 1:1. Pecinta anime pasti sudah bisa menebak kan, jika Evangelion:World pastinya berhubungan dengan seri anime Neon Genesis Evangelion yang pernah booming beberapa tahun silam. Lalu ada rumah hantu yang mengadaptasi serial Ge-ge-ge no Kitaro. Selain kedua wahana tersebut, Gundam termasuk salah satu serial yang mendapat kehormatan memiliki area permainannya sendiri. Adalah Gundam Crisis, nama area permainan bertema Gundam yang memiliki konsep real treasure hunt. Prosedurnya, pengunjung harus menjelajah sambil membawa peta dan petunjuk untuk menemukan berbagai item yang diminta. Tapi penjelajahannya nggak bisa dilakukan sambil santai, karena harus berpacu dengan waktu untuk mendapatkan skor tertinggi.
      Foto 03:
      (a.) Haunted Hospital [foto: Autopilot/wikimedia], (b.) Gundam Crisis [foto: LuxTonnerre/flickr], (c.) Gundam Mania [foto: F59t8y/flickr], (d.) Thomas Land [foto: Tokuriki/flickr]
      Atraksi lain yang diangkat dari serial ternama adalah Thomas Land. Thomas disini adalah Thomas si kereta api ya, bukan serial anime. Jika berwisata sambil membawa si kecil, Thomas Land jelas menjadi salah satu area favorit. Selain terdapat aneka figur Thomas dan kawan-kawannya, di area ini juga terdapat 10 jenis wahana lain yang juga bertema Thomas. Wahana tematik lainnya yang pastinya akan disukai oleh anak-anak adalah Hamtaro Rides yang diangkat dari seri anime Hamtaro (di dalamnya juga terdapat roller coaster untuk anak-anak) dan Loony Toons Cartoon Lagoon.
      Nggak tertarik dengan aneka permainan thrill ride, horor, maupun permainan anak-anak? Tenang, di Fuji-Q Highland ini juga terdapat permainan klasik seperti feris wheel a.k.a bianglala, carousel, go kart, berbagai permainan ala karnaval, dan juga atraksi musiman seperti ice skating rink. Dan tentunya di taman bermain ini juga terdapat fasilitas lain seperti restoran, toko souvenir, rest area, dan banyak lagi.
      Foto 04:
      (a.) Feris wheel [foto: LuxTonnerre/flickr], (b.) Sepeda udara [foto: LuxTonnerre/flickr], (c.) Typhoon [foto: Specialoperations/flickr], (d.) Ice skating rink [foto: Nikm/wikimedia]
      Bagi yang tertarik untuk main ke taman bermain ini, Fuji-Q Highland beralamat di 5-6-1 Shin-Nishihara, Fujiyoshida, Yamanashi Prefecture 403-0017. Sedangkan untuk akses termudah menuju Fuji-Q Highland (dari Tokyo) adalah sebagai berikut:
      Dari Stasiun Shinjuku, naik JR Line ke Stasiun Otsuki. Dari sana, transfer ke Fujikyu Railway dan turun di Stasiun Fujikyu Highland. Total biaya yang dikeluarkan kira-kira ¥3850* dengan rincian ¥2400* untuk tiket kereta dan ¥1450* untuk biaya tempat duduk, dan total waktu tempuh kurang lebih 129 menit.
      Foto 05 (a-d):
      Stasiun Fujikyu Highland [foto: DAJF/wikimedia, NY066/wikimedia, LERK/wikimedia, LERK/wikimedia]
      Lalu berapa harga tiketnya? Di Fuji-Q Highland ini terdapat 3 macam harga tiket, yaitu tiket masuk saja, tiket terusan (1 day free pass ticket dan 2 day free pass ticket), dan tiket terusan khusus untuk anak-anak dan lanjut usia. Berikut detailnya:
      Tiket masuk saja: ¥800* (anak-anak usia 3-11 tahun), ¥1400* (usia 12-18 tahun), ¥1400* (18 tahun ke atas)
      Tiket 1 day free pass: ¥3800* (usia 3-11 tahun), ¥4700* (usia 12-18 tahun), ¥5200* (18 tahun ke atas)
      Tiket 2 day free pass: ¥6200* (usia 3-11 tahun), ¥7400* (12-18 tahun), ¥8300* (18 tahun ke atas)
      Tiket terusan khusus untuk lansia dan anak di bawah usia sekolah: ¥2600*. Perhatian, khusus tipe tiket ini jenis wahana yang dapat di akses sangat terbatas.
      Fuji-Q Highland terlalu jauh dari Tokyo? Sekalian saja menginap di Highland Resort Hotel and Spa. Dari hotel tersebut, pengunjung dapat dengan mudah mengakses area taman bermain. Serunya sih karena dari kamar hotel ini pengunjung dapat menikmati pemandangan ke arah Gunung Fuji. Keuntungan lain dari menginap di hotel ini, pengunjung akan lebih leluasa mengeksplorasi aneka fasilitas lain yang terdapat di kompleks Fuji-Q Highland seperti Fujiyama Museum, sebuah museum yang menampilkan aneka seni bertema Gunung Fuji; dan Fujiyama Onsen, sebuah pemandian air panas modern yang memiliki area pemandian indoor dan outdoor.
      Semoga infonya bermanfaat.
      ***
      * Harga dapat berubah sewaktu-waktu.
      ** Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
    • By vie asano
      Ada yang sudah baca tulisan saya tentang robot-robot dari dunia anime yang mulai menginvasi manusia? Salah satu robot yang saya singgung disana adalah EVA-01 dari seri anime Neon Genesis Evangelion. EVA-01 itu merupakan bagian dari atraksi Evangelion:World yang berada di sebuah taman bermain seru bernama Fuji-Q Highland. Sesuai janji yang saya tulis dalam tulisan sebelumnya, saya ingin mengulas lebih lanjut tentang Fuji-Q Highland dan apa saja sih yang bisa ditemukan didalamnya.
      Fuji-Q Highland, a.k.a Fujikyu Highland. Dari namanya saja mungkin sudah ada yang bisa menebak jika taman bermain ini ada hubungannya dengan Fuji, entah Gunung Fuji, atau mungkin orang maupun merek yang bernama Fuji. Ya, Fuji-Q Highland ini memang ada hubungannya dengan Gunung Fuji. Tepatnya, lokasinya berada di wilayah Fuji Five Lake alias Fujigoko yang nggak jauh-jauh amat dari kaki Gunung Fuji, gunung paling populer dalam mitologi Jepang yang dikelilingi oleh hutan angker bernama Aokigahara, a.k.a hutan bunuh diri.
      Jika biasanya saya suka membahas aspek sejarah dari sebuah tempat, untuk Fuji-Q Highland ini akan sedikit berbeda. Bicara tentang taman bermain pastinya harus ngobrolin tentang fasilitasnya, dong! Sebagai awal, ketahui dulu jika Fuji-Q Highland ini termasuk salah satu taman bermain yang memiliki area cukup luas. Memang sih tidak seluas Tokyo Disneyland maupun Tokyo Disneysea, tapi didalam Fuji-Q Highland ini terdapat beragam zona menarik, mulai dari zona permainan, hiburan, hingga resort dan spa.
      Mari mulai dari zona permainan dulu. Fuji-Q Highland ini memiliki bermacam atraksi yang dapat digolongkan dalam 4 kategori besar, yaitu thrill ride, horror, chalenge and happy, dan kids zone. Atraksi thrill ride menjadi atraksi andalan di taman bermain ini. Jumlah wahananya jauh lebih banyak dibanding wahana dari zona lainnya, yaitu mencapai 11 wahana. Sebagai awal, saya ingin meng-highlight dulu daya tarik utama dari zona thrill ride dan Fuji-Q Highland yaitu roller coaster.
      Pecinta roller coaster wajib main ke Fuji-Q Highland! Kenapa? Karena di taman bermain ini terdapat 4 roller coaster dahsyat yang sampai saat ini masih rutin nangkring di berbagai rekor dunia untuk kategori roller coaster. Roller coaster pertama, Fujiyama, saat pertama dibuka pada tahun 1996 langsung diakui sebagai roller coaster tertinggi dan tercepat di dunia (79 meter, 130 km/jam). Kedudukannya sekarang memang sudah bergeser di posisi 8 (tahun 2007), namun sampai saat ini Fujiyama tetap diakui sebagai salah satu roller coaster terbaik di dunia. Betapa tidak, selain menjadi pernah menyabet predikat roller coaster tertinggi di dunia, Fujiyama ini juga mampir dalam daftar roller coaster terpanjang (peringkat 5 tahun 2007) dan tercepat (peringkat 10 tahun 2007). Tak heran jika Fuji-Q Highland dengan bangga melabeli Fujiyama sebagai King of Coasters.
      Foto 01 (a-d):
      Fujiyama, King of Coasters [foto: Scion_cho/flickr, Geomr/wikimedia, Sunxez/flickr, LuxTonnerre/flickr]
      Roller coaster berikutnya, Dodonpa (tinggi 52 meter kecepatan 172 km/jam), dibuka pada tahun 2001. Sama seperti Fujiyama, roller coaster ini juga sempat menjadi yang tercepat di dunia. Saat ini Dodonpa memang sudah nggak lagi jadi yang tercepat di dunia, namun masih tetap memegang rekor akselerasi tercepat di dunia. Oya, Dodonpa ini kini menjadi roller coaster tercepat di Fuji-Q Highland.
      Foto 02 (a-d):
      Dodonpa [foto: Geomr/wikimedia, Scion_cho/flickr, Sunxez/flickr, Nikm/wikimedia]
      Eejanaika, roller coaster ketiga, memiliki ketinggian 76 meter dan kecepatan 126 km/jam. Roller coaster ini dibuka pada tahun 2006 dan menjadi roller coaster 4 dimensi kedua di dunia (yang pertama adalah X2 di California). Nah loh, bingung apa itu roller coaster 4 dimensi? Itu sebutan untuk roller coaster yang memiliki tipe kursi individual, dan masing-masing kursinya bisa berputar 360 derajat ke depan dan belakang saat roller coaster melaju. Kebayang nggak sih pusingnya seperti apa? Bagi yang penasaran wujudnya Eejanaika, lihat saja foto-foto berikut ini. Tambahan info, saat ini Eejanaika sudah melampaui X2 dari segi ketinggian maupun kecepatannya, jadi nggak perlu penasaran seperti apa X2 di California itu.
      Foto 03 (a-d):
      Eejanaika [foto: Derek F. DiMatteo/wikimedia, Sunxez/flickr, LuxTonnerre/flickr, LuxTonnerre/flickr]
      Roller coaster terakhir sekaligus yang terbaru adalah Takabisha, yang baru beroperasi pada tahun 2011. Walau masih muda, Takabisha ini pemegang rekor dunia untuk roller coaster tercuram lho. Selain memiliki jalur jatuh setinggi 43 meter, roller coaster ini memiliki jalur freefall 121 derajat dan 7 twist besar.
      Foto 04 (a-d):
      Takabisha [foto: Alex Brogan/wikimedia, Jeremy Thompson/wikimedia, Jeremy Thompson/wikimedia, Jeremy Thompson/wikimedia]
      Itu baru roller coaster besarnya saja. Wahana lain dalam kategori thrill ride ini juga nggak kalah menantang adrenalin. Saya tadi baru menyebut 4 roller coaster utama di taman bermain ini, namun bukan berarti Fuji-Q Highland hanya memiliki 4 roller coaster saja. Masih ada beberapa roller coaster lainnya, yang walaupun tidak memiliki rekor dunia, tapi tetap saja terasa ngeri-ngeri sedap saat di coba. Misalnya saja, wahana bernama Mad Mouse yang merupakan sebuah wild mouse roller coaster. Roller coaster lainnya, Great Zaboon, mengajak penumpangnya untuk âberbasah ria karena jalurnya melewati percikan air setinggi 18 meter. Wahana lainnya, Panic Clock, membuat penumpangnya berputar 360 derajat seperti putaran jarum jam. Yang suka dengan wahana tipe free fall, di Fuji-Q Highland ini ada Red Tower yang akan membuat penumpang merasakan kondisi nol gravitasi. Dan tentu saja jangan lewatkan Nagashimasuka, yang merupakan sebuah wahana arung jeram. Intinya, pecinta wahana thrill ride pasti puas deh kalau main ke taman bermain ini!
      Foto 05:
      (a.) Mad Mouse [foto: Specialoperations/flickr], (b.) Great Zaboon [foto: LuxTonnerre/wikimedia], (c & d.) Panic Clock [foto: LuxTonnrre/flickr, Specialoperations/flickr]
      Saya masih ingin berbagi cerita lainnya mengenai atraksi dan fasilitas lain di Fuji-Q Highland terutama untuk wahana dari kategori horor dan chalenge and happy. Begitu juga dengan akses menuju tempat ini (terutama dari Tokyo) dan juga biaya masuknya. Tapi ditunda dulu ya. Yang penasaran, tunggu saja tulisan selanjutnya.
      ***
      * Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
    • By vie asano
      Sesuai dengan janji yang saya sebut dalam tulisan sebelumnya, saya ingin lanjut membahas aneka akomodasi unik yang ada di Jepang. Kali ini yang akan saya bahas adalah sebuah akomodasi yang disebut Love Hotel. Hotel jenis ini juga menarik untuk dicoba lho, apalagi jika Anda mengaku sebagai traveller yang selalu tertarik mencari pengalaman baru..
      (1) Love Hotel Hill di Shibuya [foto: TenSafeFrogs], (2) Bagian dari distrik Love Hotel di Lake Biwa [foto: ken_mayer]
      Ada yang tahu apa itu Love Hotel? Love Hotel, atau dalam istilah Jepangnya adalah Rabu Hoteru (atau rabuho untuk versi gaulnya), sejatinya tak jauh berbeda dengan hotel pada umumnya. Bedanya, hotel jenis ini termasuk kategori boutique hotel yang menerapkan sistem short time (walau ada juga yang menerapkan sistem short time dan overnight time), sehingga populer di kalangan mereka yang perlu check in selama beberapa jam saja untuk berbagai alasan, mulai dari istirahat hingga istirahat.
       
      Saya nggak akan terlalu detail membahas sejarah Love Hotel, karena tradisi check in short time ini konon sudah ada sejak Tokyo masih bernama Edo dan pastinya tak jauh-jauh dari bisnis prostitusi. Biasanya, penginapan maupun rumah minum teh (ochaya) yang memiliki sistem tersebut. Jadi Love Hotel yang berkembang di Jepang saat ini merupakan versi modern dari konsep yang sudah ada sejak dulu. Adapun Love Hotel modern pertama di Jepang dibangun di Osaka pada tahun 1968, dan konsep tersebut langsung menyebar ke berbagai kota yang ada di Jepang. Kabarnya saat ini telah terdapat 25000 Love Hotel di seluruh Jepang. Fantastis, bukan?
      (3) & (4) Salah satu Love Hotel di Shibuya [foto: Kojach, Emmanuel P.]
      Tak sulit untuk membedakan antara Love Hotel dengan hotel biasa. Cara paling mudah adalah membedakan dari segi nama, karena tak sedikit Love Hotel yang terang-terangan menyebut kata love hotel atau love sebagai bagian dari namanya. Love Hotel pun biasanya memiliki desain yang eksentrik. Biasanya elemen hati maupun bunga menjadi pilihan favorit ditampilkan di bagian luar. Namun banyak juga Love Hotel yang menampilkan desain beragam seperti desain kastil, dan tak sedikit juga yang hampir mirip seperti hotel biasa. Ciri untuk mengenali Love Hotel, selain dari segi nama, adalah dari segi tarifnya. Love Hotel biasanya menampilkan 2 versi tarif: rest/short time dan stay/overnight time.
      (5) Castle Hotel [foto: Randomidea], (6) Hotel Myroom [foto: Jmettraux], (7) Rose Lips Hotel [foto: Furibond]
      Jadi Love Hotel sama dengan hotel esek-esek dong?
      Jika ditanya apakah Love Hotel sama dengan hotel esek-esek, jawabannya tergantung persepsi masing-masing. Ya, karena check in short time memang populer di antara mereka yang perlu waktu privat selama beberapa jam saja dan erat dengan konotasi seksual. Dan sesuai dengan namanya yang berarti hotel cinta, rata-rata konsumen utamanya adalah pasangan kekasih maupun mereka yang datang untuk kencan sesaat. Tapi jangan membayangkan Love Hotel sebagai hotel yang menyediakan teman kencan, karena pada dasarnya hotel ini hanya menyediakan fasilitas saja. Siapapun bisa menginap disini sekalipun datang sendirian.
      Kenapa harus mencoba menginap di Love Hotel saat berwisata ke Jepang?
      Konsep hotel cinta bukan ekslusif milik Jepang karena hotel-hotel sejenis banyak ditemukan di berbagai negara. Namun bukan Jepang namanya jika tidak menawarkan hal-hal unik di balik konsep yang sebetulnya standar saja. Love Hotel di Jepang tak melulu bicara tentang short time saja lho, yang berarti datang-istirahat-pergi. Banyak hal yang membuat hotel cinta ini akhirnya menawarkan pengalaman lebih untuk wisatawan asing. Berikut beberapa fakta menarik seputar Love Hotel, yang bisa menjadi pertimbangan para wisatawan sebelum mencoba akomodasi ini.
      1. Dari segi harga, Love Hotel biasanya lebih murah dari bussiness hotel biasa. Memang ada Love Hotel yang harganya sama dengan bussiness hotel, namun jika dibandingkan dari segi fasilitas, Love Hotel bisa dianggap lebih murah. Dalam kisaran harga yang sama, bussiness hotel biasanya hanya menawarkan ranjang single serta ruang dengan dekorasi dan fasilitas seadanya (kadang-kadang tidak dilengkapi dengan kamar mandi), sedangkan Love Hotel biasanya memiliki ranjang double bed dan sudah dilengkapi dengan kamar mandi. Malah kamar di Love Hotel biasanya memiliki fasilitas hiburan tambahan, seperti TV layar besar lengkap dengan aneka pilihan film, karaoke dalam kamar, musik, jacuzzi tub, sistem pencahayaan tematik, dan banyak lagi.
      (8) Kamar standar di Love Hotel [foto: Fletchy182], (9) Jacuzzi di Love Hotel [foto: nicwn]
      2. Waktu sewa di Love Hotel lebih fleksibel. Ada yang menawarkan tarif per-jam, per-beberapa jam (short time), atau per-malam. Tarif siang hari dan malam hari bisa berbeda jauh, begitu juga jika datang di hari biasa dengan akhir pekan. Jadi traveller bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dan juga budget.
      (10), (11), (12) Beberapa contoh tarif Love Hotel [foto: matt murf, jdbc42, ffg]
      3. Love Hotel biasanya memiliki sistem pelayanan yang unik lho. Kadang resepsionisnya tak kelihatan dan pengunjung memilih kamar melalui katalog elektronik yang ada di dekat area resepsionis. Beberapa Love Hotel menerapkan metode pembayaran yang tak kalah unik lho, misalnya saja ada yang menggunakan metode vacuum tube payment method. Intinya, selalu ada pengalaman unik yang bisa di dapat jika pergi ke Love Hotel.
      (13) & (14) Katalog ruang yang bisa dipilih [foto: Kalleboo], (15) & (16) Vacuum tube payment method [foto: Kalleboo]
      4. Mayoritas Love Hotel memiliki kamar dengan tema beragam, dan asyiknya pengunjung boleh memilih sendiri tema kamar yang diinginkan. Ingin mencoba tidur dalam kamar bernuansa ruang kelas (lengkap dengan papan tulis), atau mencoba kamar bernuansa Hello Kitty? Bisa banget.. Atau mungkin ingin mencoba kamar dengan pencahayaan yang aneh-aneh, kamar dengan ranjang yang bisa berputar, atau kamar yang dirancang ala kereta? Hotel biasa jelas takkan memiliki fasilitas seperti itu. Hanya saja perlu diketahui, tak semua Love Hotel memiliki kamar tematik. Ada juga yang menawarkan kamar biasa seperti hotel pada umumnya.
      (17), (18), (19) Contoh kamar dengan pencahayaan tematik [foto: Gruntzooki]
      (20) Kamar bertema Totoro [foto: Sweet_redbird], (21) Kasur putar dengan desain ala UFO [foto: Bernard McManus]
      5. Kadang-kadang ada juga Love Hotel yang menyediakan fasilitas tambahan yang unik, seperti rental kostum serta vending machine yang menjual berbagai keperluan dewasa. Namun ada juga yang melengkapi kamarnya dengan fasilitas-fasilitas lucu, seperti merry go round!
       
      6. Perlu diperhatikan, tak semua Love Hotel menerima tamu yang datang bersama teman sejenis (perempuan dan perempuan atau laki-laki dan laki-laki), sekalipun tujuan Anda hanya untuk singgah sejenak. Itu karena di Jepang konsep same-sex couple belum diterima secara luas. Jadi perhatikan aturan main yang berlaku di setiap Love Hotel sebelum memutuskan untuk booking kamar.
       
      7. Bagaimana dengan kebersihan di Love Hotel? Sebagai informasi, warga Jepang terkenal memiliki tuntutan tinggi terhadap kebersihan dan higienitas sehingga pengelola Love Hotel harus selalu menjaga masalah kebersihan jika tak ingin ditinggalkan pelanggannya. Memang, seperti hotel pada umumnya, ada juga Love Hotel yang kurang bersih (biasanya yang harganya terlalu murah), jadi semua kembali pada pandai-pandainya wisatawan memilih hotel yang akan disinggahi.
       
      Love Hotel cukup seru, bukan? Jadi jangan ragu untuk mencoba menginap di Love Hotel saat berwisata ke Jepang. Namun perlu diingat, walau memiliki kamar yang lucu seperti Hello Kitty, jangan membawa keluarga Anda menginap di Love Hotel. Bagaimanapun hotel jenis ini menyasar kalangan dewasa, sehingga terkadang ada saja beberapa fasilitas tambahan (seperti alat kontrasepsi) yang kurang sesuai untuk anak-anak. Tenang, di Jepang masih banyak akomodasi unik lainnya yang cocok dinikmati bersama keluarga. Semoga infonya bermanfaat!
      Note: Baca juga tulisan terkait lainnya: Siapa Bilang Akomodasi di Jepang itu Mahal, dan Serba-serbi Capsule Hotel.
      * Semua foto diambil dari flickr, melalui creative commons. Credit nama berdasarkan userrname flickr. Tidak ada materi foto yang dirubah dari aslinya.
    • By vie asano
      Udah lama nggak jalan-jalan ke Jepang secara virtual, ada rasa kangen juga terhadap negara gudangnya monster tersebut (menurut versi Kamen Rider, Ultraman, dan Power Ranger yah). Dan secara nggak sengaja saya menemukan sebuah topik yang menurut saya menarik banget untuk dibagi dalam blog ini, yaitu tentang sebuah kota yang tidak tercantum dalam peta Jepang.
      Sewaktu saya menemukan topik tersebut, imajinasi liar langsung melayang pada manga Eden no Ori (dalam versi Indonesia berjudul Cage of Eden), yang menceritakan tentang sebuah pulau yang dipenuhi oleh berbagai hewan prasejarah. Pulau tersebut sangatlah misterius sampai-sampai tidak tercantum dalam peta dunia, dan belakangan diketahui pulau itu sengaja dirahasiakan karena satu dan lain hal (kalau saya sebut disini nanti jadi spoiler dong). Masalahnya, pulau dalam Eden no Ori adalah pulau terpencil. Mengingat selama ini Jepang dikenal sebagai negara yang sangat maju, apakah betul di Jepang ada sebuah kota yang tidak tercantum dalam peta?
      Dan voila, ya, memang ada sebuah kota di Jepang yang sengaja tidak dicantumkan dalam peta Jepang. Adalah Kamagasaki, nama sebuah kota dalam kota yang keberadaannya tidak diakui oleh pemerintah Jepang, bahkan karena satu dan lain hal cenderung ditutup-tutupi. Penasaran seperti apa Kamagasaki itu?
      Sekilas tentang Kamagasaki
      Kenapa saya tulis Kamagasaki sebagai kota dalam kota? Karena Kamagasaki memang bukan kota yang sesungguhnya. Tempat ini merupakan sebuah kawasan yang menjadi bagian dari Distrik Nishininari di Osaka, tepatnya terdiri dari area Nishinari-ku Taishi, Haginochaya, Sanno, North Hanazono, dan Tengachaya. Nama Kamagasaki sudah ada sejak tahun 1922, namun nama resmi tempat ini adalah Airin-chiku (digunakan sejak tahun 1966). Luasnya kurang lebih mencapai 1-2 kilometer persegi.
      Seperti apa Kamagasaki itu?
      Berbanding terbalik dengan image Jepang sebagai negara modern, dan khususnya image Osaka sebagai salah satu kota terbesar di Jepang, Kamagasaki merupakan area kumuh terbesar di Jepang. Karena dianggap tidak sesuai dengan standar hidup penduduk Jepang pada umumnya, area Kamagasaki kemudian dianggap tidak ada oleh pemerintah Jepang. Bahkan pemerintah Osaka tidak mengijinkan nama Kamagasaki muncul dalam peta resmi, dan tercatat beberapa kali ada usaha dari pemerintah untuk membatasi penyebutan nama Kamagasaki dalam berbagai media (termasuk menarik sebuah film berjudul Fragile dari Osaka Asian Film Festival karena film tersebut menyorot kawasan Kamagasaki). Akibatnya, nama Kamagasaki hanya muncul dari mulut ke mulut saja dan tidak diketahui dengan pasti berapa jumlah penduduk disini walau ada yang memperkirakan sekitar 30000 populasi yang ada di Kamagasaki.
      Foto 01 (a-d.):
      Kamagasaki [foto: Kounosu/wikimedia, Kamagasaki450/wikimedia, Kounosu/wikimedia, Kamagasaki450/wikimedia]
      Apa saja yang ada di Kamagasaki?
      Saat ini, populasi di Kamagasaki didominasi oleh para pengangguran, pekerja paruh waktu, maupun pekerja kasar. Tak sedikit dari mereka yang datang ke tempat ini setelah di PHK oleh perusahaan tempat mereka bekerja, sekedar melarikan diri dari kenyataan hidup, bahkan ada juga yang sengaja lari untuk menghindari jeratan hukum. Jadi tak heran jika pemandangan tuna wisma (mayoritas sudah berusia lanjut) tidur di pinggir jalan menjadi pemandangan yang wajar ditemukan di Kamagasaki, termasuk pemandangan antrian para tuna wisma yang ingin mendapat makanan cuma-cuma dari lembaga/yayasan non-profit. Pemandangan lain yang biasa ditemukan di Kamagasaki adalah banyaknya hotel murah yang dikenal dengan istilah doya. Begitu juga dengan bar murah, dan orang-orang yang berkumpul di taman untuk menyaksikan TV bersama-sama.
      Foto 02:
      (a.) Airin Hello Work [foto: Ogiyoshisan/wikimedia], (b.) Liberation Hall di Kamagasaki [foto: Kamagasaki450/wikimedia], (c-d.) Contoh penginapan murah di Kamagasaki [foto: Kamagasaki450/wikimedia]
      Walau begitu, di Kamagasaki juga tetap bisa ditemukan adanya sekolah seperti SMP dan sekolah Teologi. Ada juga beberapa bangunan lain seperti Nishinari Labor Hello Work, Airin Labor and Welfare Center, dan Nishinari Citizen Center. Kamagasaki juga memiliki beberapa hari besar seperti Kamagasaki May Day (1 Mei), Kamagasaki Summer Festival (13-15 Agustus), Come Here Festival, aneka konser, dan lain-lain. Intinya, walau Kamagasaki bukanlah tempat yang biasa dibayangkan dari negara Jepang, dan juga bukanlah tempat tujuan wisata favorit untuk warga setempat sekalipun, tempat ini cukup menarik untuk diketahui oleh mereka yang ingin mengenal Jepang yang sesungguhnya.
      Foto 03:
      (a.) Summer Festival [foto: Kamagasaki450/wikimedia], (b.) Come Here Festival [foto: Kamagasaki450/wikimedia], (c.) Twilight Concert [foto: Kamagasaki450/wikimedia], (d.) Yotteki Festival [foto: Kamagasaki450/wikimedia]
      Apakah Kamagasaki berbahaya?
      Sebetulnya, tergantung dari definisi berbahaya bagi masing-masin orangg. Memang di tempat ini tercatat pernah terjadi beberapa kali kerusuhan, termasuk bentrokan dengan pejabat kepolisian setempat. Di Kamagasaki juga menjadi tempat berkumpulnya para anggota yakuza, dan nggak sedikit juga yakuza yang bermarkas di area ini (konon jumlahnya mencapai 90 kantor yakuza). Belum lagi di area ini tingkat konsumsi alkoholnya sangat tinggi, dan mayoritas penduduknya pun berjenis kelamin laki-laki sehingga nyaris tak ada ruang untuk perempuan (kecuali yang punya kepentingan bisnis di Kamagasaki). Tak heran jika kaum perempuan bisa jadi akan merasa kurang nyaman berada di area ini.
      Foto 04 (a-d.):
      Suasana demo di Kamagasaki [foto: Kamagasaki450/wikimedia]
      Walau begitu, penduduk Kamagasaki sebetulnya cukup ramah, punya ikatan persahabatan yang kuat, dan juga berpendidikan. Minimal bisa baca dan tulis. Rata-rata rutinitas harian mereka diawali dengan membaca koran, dan karena mereka umumnya merupakan korban dari krisis ekonomi, tak sedikit penduduk Kamagasaki yang punya pandangan luas dalam bidang politik maupun ekonomi. Jauh lebih luas dari rata-rata pekerja kantoran sehingga menarik dijadikan teman bertukar pikiran. Jadi tak sedikit juga orang yang akhirnya lebih suka menggunakan kata “unik†untuk menjelaskan tentang Kamagasaki setelah bersentuhan langsung dengan penduduk setempat.
      Kenapa saya berbagi tentang Kamagasaki?
      Ada satu alasan mengapa saya tertarik menulis tentang Kamagasaki. Saya ingin memberikan informasi saja bahwa negara semodern Jepang pun bukanlah sebuah negara yang sempurna. Jadi jangan terlalu berkiblat pada luar negeri dan menjelekkan negeri sendiri, karena belum tentu negara lain sebagus kelihatannya. Lebih baik fokus membangun negeri sendiri, betul nggak?
      Oya, bagi yang tertarik melihat langsung Kamagasaki, tempat ini bisa dicapai diantaranya melalui Stasiun Shin-Imamiya (Nankai Main Line, Koya Line, Osaka Loop Line), Stasiun Imaike (Hankai Line), Stasiun Dobutsuen-mae (Midosuji Line, Sakaisuji Line). Semoga informasinya bermanfaat yah.
      ***
      * Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
    • By vie asano
      Pertama-tama (eaaa, sambutan dimulai), saya ingin mengucapkan terima kasih pada momod Deffa. Berkat komentarnya disini, saya jadi terinspirasi untuk menulis sebuah kastil yang paling populer di seluruh dunia, yaitu Takeshi's Castle! Mumpung momennya pas lagi bahas kastil-kastilan, boleh deh sekalian bahas kastil yang bukan kastil itu.
      Pada tahu Takeshi's Castle kan? Saya rasa generasi 80-an ke bawah pasti tahu acara TV yang satu ini. Mungkin ada juga sebagian generasi 90-an yang pernah beruntung menyaksikan Takeshi Castle pada waktu masih kecil. Konon sih Takeshi's Castle masih suka diputar di Indonesia sampai saat ini, dengan nama lokalnya adalah Benteng Takeshi.
      Foto 01: Takeshi's Castle
      [sumber foto:
      01a, 01b, 01c, 01d, via google] Takeshi's Castle, yang dalam bahasa aslinya berjudul Fuun! Takeshi-jo, adalah nama sebuah game show produksi Tokyo Broadcasting System (TBS). Acara ini tayang perdana di Jepang pada tahun 1986 hingga tahun 1990, alias sudah lama banget. Saya lupa persisnya kapan acara ini mulai tayang di Indonesia. Yang pasti, seingat saya, saat baru tayang (di Indonesia) acara Benteng Takeshi langsung booming dimana-mana. Nama-nama pengisi acara tersebut mendadak populer, seperti Tuan Takeshi, penasihatnya yang berhidung merah (lupa namanya siapa), reporter yang selalu heboh, hingga pengawalnya yang caem Jo Michiru (yang ternyata kini sudah berumur 57 tahun). Bahkan ada beberapa TV lokal yang meluncurkan program adaptasi dari acara tersebut, yang sayangnya umurnya kurang dari umur jagung.
      Kembali ke Takeshi's Castle. Yang sudah pernah lihat mungkin masih ingat konsep utama dari acara ini. Lebih dari 100 peserta dikumpulkan oleh Jendral Hayato Tani (yang juga nggak kalah caem dari Jo Michiru) untuk menyerbu kediaman Tuan Takeshi (diperankan oleh Takeshi Kitano, aktor ternama Jepang). Peserta diharuskan melewati serangkaian tes fisik seperti memanjat dinding yang tinggi dan licin, tembak-tembakan dengan pengawal Takeshi, hingga menyeberang jembatan Gibraltar (atau selat Gibraltar ya?). Kadang-kadang ada juga rangkaian tes fisik yang diganti dengan tes non-fisik seperti bernyanyi karaoke sambil menari. Di akhir setiap episode, penantang yang tersisa akan langsung berhadapan dengan Tuan Takeshi dan pengawal-pengawalnya. Sukur-sukur jika yang tersisa lebih dari selusin dan bisa melakukan kerja team. Kadang-kadang yang lolos hanya 1-2 orang, itupun langsung KO sebelum Tuan Takeshi (dan kendaraan kebesarannya) sempat bergerak.

      Foto 02: permainan dalam Takeshi's Castle
      [sumber foto:
      02a, 02b, via google] Intinya, Takeshi's Castle itu luar biasa serunya. Epic! Dan bukan hanya saya saja yang kecanduan nonton Takeshi's Castle. Buktinya, selain Indonesia, game show ini telah tayang juga di berbagai negara lain mulai dari wilayah Asia (seperti Thailand, Taiwan, Malaysia, India, dan Filipina), Amerika, hingga wilayah Eropa (seperti Inggris, Jerman, Prancis, dan lain-lain). Negara Arab dan Brazil pun tak mau kalah menayangkan kegagahan Tuan Takeshi dalam mempertahankan kastilnya. Jadi nggak salah kan jika saya bilang Takeshi's Castle adalah benteng paling terkenal di seluruh dunia?
      Dari sekian banyak hal menarik yang bisa saya tulis tentang Takeshi's Castle, satu yang membuat saya penasaran adalah dimana sih lokasi Benteng Takeshi itu? Lokasi shooting acara Takeshi's Castle selalu dilakukan di sebuah tempat yang lapang. Ada area yang menyerupai tanah lapang, danau, hingga bukit/gunung. Dengan tahapan game yang begitu beragam dan setting yang sangat banyak, pastilah dibutuhkan tempat yang luasnya lebih besar dari lapangan bola. Tapi dimanakah tempat itu?
      Saya mencoba menelusuri jejak Takeshi's Castle yang sebetulnya sudah runtuh sejak penayangan terakhirnya, yaitu tahun 1990. Hasil dari semedi bersama mbah Google, diketahui jika lokasi shooting Takeshi's Castle dilakukan di tanah milik pribadi dari TBS selaku pencipta game show ini. Tepatnya, shooting dilakukan di studio Midoriyama (secara literal berarti Gunung Hijau) milik TBS.
      Pernah dengar tentang Yokohama? Ulasan singkat tentang Yokohama pernah saya tulis disini sebagai salah satu destinasi terbaik untuk melakukan side trip dari Tokyo. Adapun studio Midoriyama, letaknya berada di distrik Aoba, Yokohama. Alamat lengkapnya di 2100, Midoriyama, Aoba-ku, Yokohama, Jepang.
      Studio Midoriyama memiliki luas area yang cukup luas. Totalnya mencapai 80000 meter persegi! Di area yang luasnya beberapa kalinya lapangan sepak bola itu (ada yang mau bantu hitung?) tak hanya terdapat area tanah lapang dan bukit buatan dengan luas kurang lebih 20000 meter persegi yang menjadi lokasi shooting Takeshi's Castle, namun terdapat juga beberapa area lainnya yang populer sebagai tempat shooting outdoor. Terdapat juga gedung studio dengan berbagai perlengkapan produksi mutakhir, dan juga lapangan golf. Intinya, di Midoriyama ini tak hanya terdapat jejak peninggalan Benteng Takeshi saja, namun beragam acara populer lainnya seperti Ninja Warior dan lain-lain.
      Akhirnya, setelah bertahun-tahun menjadi pengagum Jo Michiru, ehm, Takeshi's Castle (baru patah hati setelah tahu umurnya Jo Michiru), saya tahu juga dimana lokasi benteng yang nyaris nggak pernah kalah itu. Nyaris lho, karena presentase peserta yang menang dengan yang gagal jauh lebih besar jumlah peserta gagalnya. Bagi yang memang ada rencana untuk main ke Yokohama saat wisata ke Tokyo, dan berminat untuk mengintip-intip salah satu surganya produksi acara TV Jepang ini, berikut contekan aksesnya:
      Dari Stasiun Shin-Yokohama, naik JR Yokohama Line ke Stasiun Machida. Transfer ke Odakyu Odawara Line, turun di Stasiun Tsurukawa. Dilanjutkan dengan naik bus dan turun di Midoriyama. Untuk akses dari Tokyo ke Stasiun Shin-Yokohama, bisa dilihat di
      tulisan ini. Untuk Google Maps, bisa cek disini. Sayangnya saya kurang tahu apa studio ini bisa dikunjungi oleh wisatawan atau tidak. Seandainya pun sudah terlanjur kesana tapi nggak bisa masuk ke dalam area shooting, tak perlu kecewa. Lokasi studio ini cukup dekat dengan sebuah theme park bernama Kodomo-no-Kuni, yang ternyata salah satu fasilitasnya disebut sebagai ice skating ring terbaik di area Tokyo. Jadi seandainya pun gagal melihat lokasi shooting Takeshi's Castle, tinggal lanjut saja bersenang-senang di negerinya anak-anak (= Kodomo-no-kuni).
      Semoga bermanfaat!
    • By vie asano
      Beberapa hari lalu saat sedang asyik berselancar di dunia maya, ada satu link artikel di sebuah website yang langsung mencuri perhatian saya. Judul persisnya saya lupa, begitu juga dengan website-nya. Kurang lebih judulnya seperti ini: Takeda Castle, Japan's Machu Picchu (yes, Picchu, bukan Pikachu).
      Machu Picchu! Inca! Wohoho! Saya memang doyan banget dengan hal-hal yang berbau sejarah dan arkeologi, khususnya tentang sejarah peradaban manusia. Apalagi karena saat kuliah Arsitektur dulu saya pernah mendapat mata kuliah tentang sejarah peradaban manusia (atau sejarah perkembangan arsitektur ya? Lupa!), kisah-kisah tentang cikal bakal peradaban modern seperti kota Mohenjo-daro, suku Inca, Maya, dan Aztec, selalu berhasil membuat saya terpukau. Dikombinasikan dengan ketertarikan pada budaya Jepang, tagline Japan's Machu Picchu sukses menyulut rasa penasaran saya. Betapa tidak? Walau nilai geografi saya hanya cukup untuk lulus dengan nilai ya begitulah, paling nggak saya tahu jika Machu Picchu, yang notabene ada di Peru, jelas nggak ada hubungannya dengan Jepang. Lha terus kok bisa sampai ada Machu Picchu di Jepang?
      Sayangnya, tak banyak informasi yang bisa saya dapat mengenai Takeda Castle dalam artikel singkat yang saya baca sekilas lalu itu. Jadi untuk memuaskan rasa penasaran, saya mengumpulkan beberapa informasi tentang kastil yang sekaligus dijuluki istana di atas awan itu (Katon Bagaskara mode on. Eh, itu mah Negeri di Awan ya?), sekaligus berbagi foto-foto menarik yang bisa ditemukan seputaran Takeda Castle. Siapa tahu ada yang berminat main ke Machu Picchu-nya Jepang suatu saat nanti.
      Sekilas info
      Takeda Castle, atau Kastil Takeda, berlokasi di kota Asago, Prefektur Hyogo. Masih satu prefektur dengan Himeji Castle, kastil paling populer di Jepang yang pernah saya singgung disini. Sejarah Takeda Castle dipercaya dimulai pada tahun 1441 (walau ada juga yang menyebutkan tahun 1431). Konon Ohtagaki Mitsukage, seorang penguasa di daerah tersebut, memerintahkan pembangunan kastil ini sebagai benteng kubu untuk Izushi Castle.
      Dari tadi saya menulis tentang Takeda Castle. Pada kenyataannya, kastil tersebut kini sudah tak ada, alias tinggal reruntuhannya saja. Jadi, setelah Takeda Castle dikuasai oleh Toyotomi Hideyoshi pada tahun 1557, pemilik kastil ini terus berganti-ganti. Setelah penguasa terakhirnya, yaitu Akamatsu Hirohide, bunuh diri pada tahun 1600-an, kastil ini pun lalu terbengkalai dan akhirnya kini tinggal fondasinya saja.
      Foto 01 (a-d):
      Takeda Castle [foto: Takeshi Kouno/wikimedia, Norio Nakayama/wikimedia, Baku13/wikimedia, Norio.Nakayama/flickr]
      Yang menarik dari Takeda Castle
      Sampai disini mungkin ada yang bingung, apa bagusnya mengunjungi reruntuhan kastil? Kenapa bisa Takeda Castle bisa disebut sebagai Japan's Machu Picchu dan Castle in the Sky?
      Foto 02 (a-d):
      Reruntuhan Takeda Castle [foto: Norio.nakayama/flickr, Norio.nakayama/flickr, Norio.nakayama/flickr, Bullets95/flickr]
      Kepopuleran Takeda Castle dipercaya cukup dipicu oleh sebuah film yang berjudul Anata e, yang bisa diterjemahkan sebagai dearest (dibintangi oleh Ken Takakura). Pada tahun 2012, film tersebut melakukan shooting di reruntuhan Takeda Castle. Ibarat gula, reruntuhan Takeda Castle pun mulai dikerubuti oleh wisatawan yang jumlahnya terus bertambah. Wisatawan yang telah berkunjung ke sana lalu menyebarkan berbagai informasi yang memancing wisatawan lainnya untuk datang, dan akhirnya Takeda Castle pun kini dikenal secara luas. Kabar terakhir, Takeda Castle ini telah diakui sebagai 1 dari 100 kastil paling populer di Jepang. Untuk masuk ke reruntuhan ini pun kini dikenakan biaya sebesar ¥300*.
      Foto 03 (a-d):
      Suasana di Takeda Castle [foto: m-louis/flickr, m-louis/flickr, m-louis/flickr, Reggaeman/wikimedia]
      Daya tarik utama dari Takeda Castle adalah posisinya yang berada tepat di puncak gunung. Di waktu tertentu, biasanya pada pagi hari di musim dingin, reruntuhan istana ini diselimuti oleh kabut tebal. Gara-gara kabut tebal itulah Takeda Castle terlihat seperti berada di atas awan dan menyentuh langit, dan dari kastil ini terkadang bisa menikmati pemandangan menakjubkan: lautan awan. Dari sanalah muncul julukan castle in the sky.
      Foto 04 (a-d):
      Takeda Castle, the castle in the sky [foto: Norio.nakayama/flickr, Norio.nakayama/flickr, Norio.nakayama/flickr, Bullets95/flickr]
      Daya tarik lain dari Takeda Castle tentu saja terletak pada reruntuhan kastil tersebut. Walau kini hanya tersisa pondasinya saja, ukuran reruntuhan ini cukup memukau. Takeda Castle membentang sepanjang 400 meter dari utara ke selatan, dan 100 meter dari timur ke barat. Dikombinasikan dengan posisinya yang berada di puncak gunung, inilah yang membuatnya dianggap sebagai Japan's Machu Picchu. Memang sih, ketinggiannya tidak setinggi Machu Picchu asli yang mencapai 2430 meter. Takeda Castle “hanya†berada di ketinggian 354 meter di atas permukaan laut. Namun kemegahan reruntuhannya plus posisinya yang berada di ketinggian, membuat kastil ini cukup memberikan nuansa ala Machu Picchu. Versi Jepang, tentunya.
      Foto 05 (a-d):
      Kompleks reruntuhan kastil [foto: Norio.nakayama/flickr, Tetsukun0105/flickr, Taka@城/wikimedia, Baku13/wikimedia]
      Point menarik lainnya, karena posisinya yang tepat di puncak gunung, dari reruntuhan kastil ini pengunjung bisa menikmati pemandangan 360 derajat ke sekitarnya, termasuk melihat-lihat kota di bawahnya. Suasananya relatif tenang, walau seiring dengan meningkatnya kepopuleran Takeda Castle, tempat ini mulai banyak dikunjungi oleh wisatawan. Waktu terbaik untuk berkunjung Takeda Castle adalah di musim gugur, karena pada saat itu pepohonan di gunung sekitarnya sudah berubah warna dan pemandangannya luar biasa indah.
      Foto 06 (a-d):
      View dari Takeda Castle [foto: Tetsukun0105/flickr, Tetsukun0105/flickr, m-louis/flickr, Reggaeman/wikimedia]
      Cara mengakses Takeda Castle
      Stasiun terdekat untuk mencapai kastil ini adalah melalui Stasiun Takeda. Berhubung prefektur Hyogo terletak di area Kansai, paling mudah mencapai stasiun ini jika berangkat dari Osaka dibanding dari Tokyo.
      Dari Stasiun Osaka: naik LTD.EXP Konotori 1, turun di Stasiun Wadayama. Transfer ke JR Bantan Line, turun di Stasiun Takeda. Total biaya yang diperlukan ¥4710* (¥2590* untuk tiket, ¥2120* untuk biaya tempat duduk), total waktu 165 menit.
      Setelah sampai di Stasiun Takeda, ada 2 opsi yang bisa ditempuh untuk mencapai Takeda Castle. Jika kondisi badan sangat fit dan suka naik gunung, bisa menempuh jalur hiking. Diperlukan waktu kurang lebih 30-60 menit jalan kaki untuk mencapai reruntuhan kastil ini. Namun jika punya masalah kesehatan (misalnya punya masalah tulang punggung seperti saya), naik bus maupun naik taksi mungkin jadi opsi yang jauh lebih “manusiawiâ€. Tambahan info, karena Stasiun Takeda termasuk stasiun kecil, kereta hanya singgah setiap 2 jam sekali. Jadi jika ada kesempatan untuk berkunjung ke tempat ini, jangan lupa memperhatikan baik-baik jadwal kedatangan dan kepergian kereta dari Stasiun Takeda.
      Foto 07:
      (a.) Stasiun Takeda [foto: Reggaeman/wikimedia], (b.) Stasiun Takeda dan jalur kereta api [foto: Kounosu/wikimedia], (c & d.) Hiking menuju Takeda Castle [foto: Norio.nakayama/flickr, Tetsukun0105/flickr]
      ***
      * Harga sewaktu-waktu dapat berubah.
      ** Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.