Sign in to follow this  
vie asano

Jalan-Jalan Ke Kyoto: Daftar Obyek Wisata Yang Masih Direnovasi Tahun 2015

7 posts in this topic

Jika nggak ada aral melintang, insya Allah akhir April nanti saya dan keluarga akan pergi ke Jepang, tepatnya ke kota Kyoto, Osaka, dan mungkin ke kota lain di sekitarnya. Dan sepertinya ada beberapa Jalan2ers yang juga akan bepergian ke Jepang di bulan Maret-April ini ya? Jika ya, pastinya sekarang-sekarang ini ada beberapa orang yang tengah pusing mendata obyek wisata mana saja yang akan dikunjungi selama berada di Jepang dan menyusun itinerary wisata, termasuk saya.

 

Bicara soal itinerary, ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh wisatawan yang akan pergi ke Jepang tahun ini karena di tahun 2015 masih ada beberapa obyek wisata populer di Jepang yang berada dalam proses renovasi. Maklum, seperti layaknya bangunan lainnya, berbagai obyek wisata populer (seperti kuil dan taman) pun nggak luput dari berbagai kerusakan dan harus diperbaiki melalui serangkaian proses renovasi dan rekonstruksi ulang.

 

Lantas, bagaimana jika sudah terlanjur menyusun itinerary dan ternyata obyek wisata yang diinginkan masih ada dalam tahap rekonstruksi maupun renovasi? Jangan dulu panik. Sebagian besar obyek wisata tersebut rata-rata masih dibuka untuk umum saat proses renovasi/rekonstruksi berlangsung, sehingga mungkin nggak akan sampai mengganggu itinerary yang sudah terlanjur disusun. Namun jika kalian keberatan mendengar suara palu yang bertalu dan mesin yang menderu di sela momen menikmati keindahan sebuah obyek wisata (plus bonus debu yang berterbangan saat proyek renovasi), sebaiknya hindari mengunjungi obyek wisata yang masih berstatus under reconstruction.

 

Berikut beberapa daftar obyek wisata populer di Jepang yang masih dalam proses konstruksi yang saya kumpulkan dari berbagai sumber. Untuk catatan tambahan, hanya proyek renovasi besar saja yang saya cantumkan disini. Saya akan mulai dulu dari kota Kyoto yang paling banyak mengalami proses renovasi di tahun ini.

 

Kiyomizudera Temple (baca disini: Kiyomizudera part 1, Kiyomizudera part 2, Kiyomizudera part 3)

Akses: dari Stasiun Kyoto, naik bus nomor 100 atau 206 dan turun di halte bus Kiyomizu-michi atau Gojo-zaka. Dari sana, jalan kaki 10 menit menuju kuil.

Status: under reconstruction

Masa pelaksanaan: mulai tahun 2008 s/d 2019

 

Kiyomizu.jpg

Panggung di hall utama kuil Kiyomizudera, via Jordy Meow/wikipedia 

 

Kuil Kiyomizudera ini termasuk salah satu obyek wisata mayor di Kyoto. Daya tarik utamanya terletak pada panggung kayu setinggi 13 meter dengan pemandangan ke arah lembah dan kota Kyoto di kejauhan. Dulu sempat muncul mitos jika berhasil melompat dari panggung kuil ini dan mendarat dengan selamat, maka harapannya akan terkabul. Namun praktek lompat melompat yang populer pada Periode Edo (1603-1868) tersebut kini telah dilarang karena tingkat keselamatannya hanya sekitar 85,4 persen saja.

 

Saat ini, beberapa bangunan di kompleks kuil Kiyomizudera masih diperbaiki setahap demi setahap. Panggung utama yang menjadi daya tarik kuil ini memang masih dapat di akses oleh wisatawan, namun proyek renovasi ini bisa mengganggu bagi wisatawan karena beberapa bangunan populer seperti Okunoin Hall yang memiliki panggung tinggi kedua di kuil ini dan pagoda 3 lantai masih dalam tahap perbaikan. Amida Hall dan Shaka Hall juga masih ditutup untuk umum dan proses renovasi ini diperkirakan baru berakhir tahun 2019, dengan total ada 9 bangunan yang sedang diperbaiki. Jadi, pertimbangkan baik-baik sebelum memasukkan kuil Kiyomizudera dalam daftar kunjungan selama berada di Kyoto, atau datanglah setelah tahun 2019. Sayang, kabarnya setelah tahun 2019 hall utama-lah yang akan direnovasi, sehingga tampaknya perlu waktu bertahun-tahun lagi sebelum bisa menyaksikan keindahan kuil ini seutuhnya.

 

Beberapa foto proses renovasi yang bisa dikumpulkan dari berbagai sumber sebagai bahan pertimbangan:

 

P1040909.JPG

Salah satu sudut kuil yang masih direnovasi saat ini, via nipponandon.blogspot 

 

kiyomizu-dera-temple.jpg

Proyek renovasi di tahun 2014, via GAN L/tripadvisor 

 

kiyomizu-dera-main-hall-veranda-kyoto-bi

Renovasi di Okunoin Hall, via muza-chan 

 

***

 

Chionin Temple (baca disini: Chion-in Temple part 1, Chion-in Temple part 2)

Akses: 10 menit jalan kaki dari Stasiun Higashiyama (Tozai Line) atau 5 menit jalan kaki dari halte bus Chionin-mae (bus no 206 dari Stasiun Kyoto)

Stasus: under reconstruction

Masa pelaksanaan: mulai tahun 2012 s/d 2019

 

Kuil Chionin ini juga termasuk kuil populer di Kyoto karena letaknya nggak begitu jauh dari kuil Yasaka, Maruyama Park, dan juga kawasan Gion. Dan, kuil ini pun tengah berada dalam masa renovasi yang baru akan berakhir di tahun 2019. Proyek renovasi ini cukup besar karena hall utama-lah yang sedang diperbaiki dan selama proses tersebut, seluruh hall ditutupi oleh struktur khusus. Bagi yang tetap ingin pergi ke kuil ini, jangan berharap akan melihat banyak pemandangan selama proses renovasi. Tapi karena kuil ini bebas tiket masuk alias gratis, lumayan juga untuk dikunjungi sebagai pengisi waktu wisata, khususnya jika kalian tertarik berwisata juga ke kuil Yasaka.

 

Berikut foto-foto renovasi di Chionin Temple yang masih berlansung hingga kini:

 

chion-in_mainhall.jpg

Hall utama yang ditutupi oleh penutup khusus, via 28daysjapan 

 

JF4_041740.jpg

Antrian orang-orang yang ingin melihat lebih dekat proses renovasi hall utama, via regex 

 

JF4_041791.jpg

Melihat bagian atap yang tengah direnovasi, via regex 

 

***

 

Kamigamo Shrine (baca disini: Kamo Jinja 1, Kamo Jinja 2)

Akses: 15 menit jalan kaki dari Stasiun Kitayama (via Karasuma Subway Line)

Status: under reconstruction

Masa pelaksanaan: hingga tahun 2015

 

Kamigamo-jinja-Tower-Gate-romon-front.jp

Gerbang di Kamigamo Shrine, via japantravelmate 

 

Kuil Kamigamo, bersama dengan kuil Shimogamo, merupakan salah satu kuil penting dan juga kuil tertua di Kyoto yang telah dimasukkan dalam daftar UNESCO World Heritage Site. Tahun ini kuil Kamigamo pun masih berada dalam proses renovasi yang rutin diadakan setiap 21 tahun sekali dan yang direnovasi adalah hall utama. Kabarnya, proses renovasi direncanakan berlangsung hingga tahun 2015 (tidak ada keterangan lebih lanjut tentang bulannya). Jika tetap ingin berkunjung ke kuil ini, nggak ada salahnya untuk sekaligus mengunjungi kuil Shimogamo yang jaraknya terpisah 3,5 kilometer untuk melengkapi pengalaman wisata kalian.

 

Berikut foto Kamigamo Shrine yang sedang direnovasi:

 

Kamigamo-jinja-Chu-mon-and-Honden.jpg?re

Renovasi di bangunan utama, via japantravelmate 

 

***

 

Higashi Honganji Temple (baca disini: Higashi Honganji Temple part 1, Higashi Honganji Temple part 2)

Akses: 10-15 menit jalan kaki dari Stasiun Kyoto

Status: under reconstruction

Masa pelaksanaan: mulai tahun 2003 s/d Desember 2015

 

Higashi_Honganji_Honden.JPG

Main hall di Higashi Honganji, via wikipedi

 

Kuil Higashi Honganji cukup populer dikunjungi oleh mereka yang sedang melakukan wisata singkat di Kyoto, karena jaraknya hanya kira-kira 10-15 menit jalan kaki dari Stasiun Kyoto. Saat ini hall Amida di kuil Higashi Honganji tengah berada dalam proses renovasi dan seluruh bangunannya ditutupi oleh penutup khusus dan tertutup untuk wisatawan. Namun kuil ini masih cukup menarik untuk dikunjungi karena proyek renovasi ini nggak mengganggu bangunan utama dari kuil Higashi Honganji.

 

Catatan tambahan:

Jika benar-benar nggak ingin terganggu dengan proses renovasi, alihkan saja itinerary ke kuil Nishi Honganji yang hanya berjarak 1 blok dari kuil Higashi Honganji (baca disini: Nishi Honganji part 1, Nishi Honganji part 2).

 

Berikut foto kuil Higashi Honganji saat direnovasi:

 

6183258-Another_masterpiece_in_a_city_wi

Proyek renovasi di Higashi Honganji, via jlanza29/virtualtourist 

 

6241241-Higashi_Honganji-Kyoto.jpg

Proyek renovasi tahun 2012, via Jim_Eliason/virtualtourist 

 

Untuk obyek wisata besar lainnya yang tengah di renovasi, saya ulas kapan-kapan ya. Semoga bermanfaat!

 

 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By vie asano
      Udah lama nggak jalan-jalan ke Jepang secara virtual, ada rasa kangen juga terhadap negara gudangnya monster tersebut (menurut versi Kamen Rider, Ultraman, dan Power Ranger yah). Dan secara nggak sengaja saya menemukan sebuah topik yang menurut saya menarik banget untuk dibagi dalam blog ini, yaitu tentang sebuah kota yang tidak tercantum dalam peta Jepang.
      Sewaktu saya menemukan topik tersebut, imajinasi liar langsung melayang pada manga Eden no Ori (dalam versi Indonesia berjudul Cage of Eden), yang menceritakan tentang sebuah pulau yang dipenuhi oleh berbagai hewan prasejarah. Pulau tersebut sangatlah misterius sampai-sampai tidak tercantum dalam peta dunia, dan belakangan diketahui pulau itu sengaja dirahasiakan karena satu dan lain hal (kalau saya sebut disini nanti jadi spoiler dong). Masalahnya, pulau dalam Eden no Ori adalah pulau terpencil. Mengingat selama ini Jepang dikenal sebagai negara yang sangat maju, apakah betul di Jepang ada sebuah kota yang tidak tercantum dalam peta?
      Dan voila, ya, memang ada sebuah kota di Jepang yang sengaja tidak dicantumkan dalam peta Jepang. Adalah Kamagasaki, nama sebuah kota dalam kota yang keberadaannya tidak diakui oleh pemerintah Jepang, bahkan karena satu dan lain hal cenderung ditutup-tutupi. Penasaran seperti apa Kamagasaki itu?
      Sekilas tentang Kamagasaki
      Kenapa saya tulis Kamagasaki sebagai kota dalam kota? Karena Kamagasaki memang bukan kota yang sesungguhnya. Tempat ini merupakan sebuah kawasan yang menjadi bagian dari Distrik Nishininari di Osaka, tepatnya terdiri dari area Nishinari-ku Taishi, Haginochaya, Sanno, North Hanazono, dan Tengachaya. Nama Kamagasaki sudah ada sejak tahun 1922, namun nama resmi tempat ini adalah Airin-chiku (digunakan sejak tahun 1966). Luasnya kurang lebih mencapai 1-2 kilometer persegi.
      Seperti apa Kamagasaki itu?
      Berbanding terbalik dengan image Jepang sebagai negara modern, dan khususnya image Osaka sebagai salah satu kota terbesar di Jepang, Kamagasaki merupakan area kumuh terbesar di Jepang. Karena dianggap tidak sesuai dengan standar hidup penduduk Jepang pada umumnya, area Kamagasaki kemudian dianggap tidak ada oleh pemerintah Jepang. Bahkan pemerintah Osaka tidak mengijinkan nama Kamagasaki muncul dalam peta resmi, dan tercatat beberapa kali ada usaha dari pemerintah untuk membatasi penyebutan nama Kamagasaki dalam berbagai media (termasuk menarik sebuah film berjudul Fragile dari Osaka Asian Film Festival karena film tersebut menyorot kawasan Kamagasaki). Akibatnya, nama Kamagasaki hanya muncul dari mulut ke mulut saja dan tidak diketahui dengan pasti berapa jumlah penduduk disini walau ada yang memperkirakan sekitar 30000 populasi yang ada di Kamagasaki.
      Foto 01 (a-d.):
      Kamagasaki [foto: Kounosu/wikimedia, Kamagasaki450/wikimedia, Kounosu/wikimedia, Kamagasaki450/wikimedia]
      Apa saja yang ada di Kamagasaki?
      Saat ini, populasi di Kamagasaki didominasi oleh para pengangguran, pekerja paruh waktu, maupun pekerja kasar. Tak sedikit dari mereka yang datang ke tempat ini setelah di PHK oleh perusahaan tempat mereka bekerja, sekedar melarikan diri dari kenyataan hidup, bahkan ada juga yang sengaja lari untuk menghindari jeratan hukum. Jadi tak heran jika pemandangan tuna wisma (mayoritas sudah berusia lanjut) tidur di pinggir jalan menjadi pemandangan yang wajar ditemukan di Kamagasaki, termasuk pemandangan antrian para tuna wisma yang ingin mendapat makanan cuma-cuma dari lembaga/yayasan non-profit. Pemandangan lain yang biasa ditemukan di Kamagasaki adalah banyaknya hotel murah yang dikenal dengan istilah doya. Begitu juga dengan bar murah, dan orang-orang yang berkumpul di taman untuk menyaksikan TV bersama-sama.
      Foto 02:
      (a.) Airin Hello Work [foto: Ogiyoshisan/wikimedia], (b.) Liberation Hall di Kamagasaki [foto: Kamagasaki450/wikimedia], (c-d.) Contoh penginapan murah di Kamagasaki [foto: Kamagasaki450/wikimedia]
      Walau begitu, di Kamagasaki juga tetap bisa ditemukan adanya sekolah seperti SMP dan sekolah Teologi. Ada juga beberapa bangunan lain seperti Nishinari Labor Hello Work, Airin Labor and Welfare Center, dan Nishinari Citizen Center. Kamagasaki juga memiliki beberapa hari besar seperti Kamagasaki May Day (1 Mei), Kamagasaki Summer Festival (13-15 Agustus), Come Here Festival, aneka konser, dan lain-lain. Intinya, walau Kamagasaki bukanlah tempat yang biasa dibayangkan dari negara Jepang, dan juga bukanlah tempat tujuan wisata favorit untuk warga setempat sekalipun, tempat ini cukup menarik untuk diketahui oleh mereka yang ingin mengenal Jepang yang sesungguhnya.
      Foto 03:
      (a.) Summer Festival [foto: Kamagasaki450/wikimedia], (b.) Come Here Festival [foto: Kamagasaki450/wikimedia], (c.) Twilight Concert [foto: Kamagasaki450/wikimedia], (d.) Yotteki Festival [foto: Kamagasaki450/wikimedia]
      Apakah Kamagasaki berbahaya?
      Sebetulnya, tergantung dari definisi berbahaya bagi masing-masin orangg. Memang di tempat ini tercatat pernah terjadi beberapa kali kerusuhan, termasuk bentrokan dengan pejabat kepolisian setempat. Di Kamagasaki juga menjadi tempat berkumpulnya para anggota yakuza, dan nggak sedikit juga yakuza yang bermarkas di area ini (konon jumlahnya mencapai 90 kantor yakuza). Belum lagi di area ini tingkat konsumsi alkoholnya sangat tinggi, dan mayoritas penduduknya pun berjenis kelamin laki-laki sehingga nyaris tak ada ruang untuk perempuan (kecuali yang punya kepentingan bisnis di Kamagasaki). Tak heran jika kaum perempuan bisa jadi akan merasa kurang nyaman berada di area ini.
      Foto 04 (a-d.):
      Suasana demo di Kamagasaki [foto: Kamagasaki450/wikimedia]
      Walau begitu, penduduk Kamagasaki sebetulnya cukup ramah, punya ikatan persahabatan yang kuat, dan juga berpendidikan. Minimal bisa baca dan tulis. Rata-rata rutinitas harian mereka diawali dengan membaca koran, dan karena mereka umumnya merupakan korban dari krisis ekonomi, tak sedikit penduduk Kamagasaki yang punya pandangan luas dalam bidang politik maupun ekonomi. Jauh lebih luas dari rata-rata pekerja kantoran sehingga menarik dijadikan teman bertukar pikiran. Jadi tak sedikit juga orang yang akhirnya lebih suka menggunakan kata “unik†untuk menjelaskan tentang Kamagasaki setelah bersentuhan langsung dengan penduduk setempat.
      Kenapa saya berbagi tentang Kamagasaki?
      Ada satu alasan mengapa saya tertarik menulis tentang Kamagasaki. Saya ingin memberikan informasi saja bahwa negara semodern Jepang pun bukanlah sebuah negara yang sempurna. Jadi jangan terlalu berkiblat pada luar negeri dan menjelekkan negeri sendiri, karena belum tentu negara lain sebagus kelihatannya. Lebih baik fokus membangun negeri sendiri, betul nggak?
      Oya, bagi yang tertarik melihat langsung Kamagasaki, tempat ini bisa dicapai diantaranya melalui Stasiun Shin-Imamiya (Nankai Main Line, Koya Line, Osaka Loop Line), Stasiun Imaike (Hankai Line), Stasiun Dobutsuen-mae (Midosuji Line, Sakaisuji Line). Semoga informasinya bermanfaat yah.
      ***
      * Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
    • By vie asano
      Pertama-tama (eaaa, sambutan dimulai), saya ingin mengucapkan terima kasih pada momod Deffa. Berkat komentarnya disini, saya jadi terinspirasi untuk menulis sebuah kastil yang paling populer di seluruh dunia, yaitu Takeshi's Castle! Mumpung momennya pas lagi bahas kastil-kastilan, boleh deh sekalian bahas kastil yang bukan kastil itu.
      Pada tahu Takeshi's Castle kan? Saya rasa generasi 80-an ke bawah pasti tahu acara TV yang satu ini. Mungkin ada juga sebagian generasi 90-an yang pernah beruntung menyaksikan Takeshi Castle pada waktu masih kecil. Konon sih Takeshi's Castle masih suka diputar di Indonesia sampai saat ini, dengan nama lokalnya adalah Benteng Takeshi.
      Foto 01: Takeshi's Castle
      [sumber foto:
      01a, 01b, 01c, 01d, via google] Takeshi's Castle, yang dalam bahasa aslinya berjudul Fuun! Takeshi-jo, adalah nama sebuah game show produksi Tokyo Broadcasting System (TBS). Acara ini tayang perdana di Jepang pada tahun 1986 hingga tahun 1990, alias sudah lama banget. Saya lupa persisnya kapan acara ini mulai tayang di Indonesia. Yang pasti, seingat saya, saat baru tayang (di Indonesia) acara Benteng Takeshi langsung booming dimana-mana. Nama-nama pengisi acara tersebut mendadak populer, seperti Tuan Takeshi, penasihatnya yang berhidung merah (lupa namanya siapa), reporter yang selalu heboh, hingga pengawalnya yang caem Jo Michiru (yang ternyata kini sudah berumur 57 tahun). Bahkan ada beberapa TV lokal yang meluncurkan program adaptasi dari acara tersebut, yang sayangnya umurnya kurang dari umur jagung.
      Kembali ke Takeshi's Castle. Yang sudah pernah lihat mungkin masih ingat konsep utama dari acara ini. Lebih dari 100 peserta dikumpulkan oleh Jendral Hayato Tani (yang juga nggak kalah caem dari Jo Michiru) untuk menyerbu kediaman Tuan Takeshi (diperankan oleh Takeshi Kitano, aktor ternama Jepang). Peserta diharuskan melewati serangkaian tes fisik seperti memanjat dinding yang tinggi dan licin, tembak-tembakan dengan pengawal Takeshi, hingga menyeberang jembatan Gibraltar (atau selat Gibraltar ya?). Kadang-kadang ada juga rangkaian tes fisik yang diganti dengan tes non-fisik seperti bernyanyi karaoke sambil menari. Di akhir setiap episode, penantang yang tersisa akan langsung berhadapan dengan Tuan Takeshi dan pengawal-pengawalnya. Sukur-sukur jika yang tersisa lebih dari selusin dan bisa melakukan kerja team. Kadang-kadang yang lolos hanya 1-2 orang, itupun langsung KO sebelum Tuan Takeshi (dan kendaraan kebesarannya) sempat bergerak.

      Foto 02: permainan dalam Takeshi's Castle
      [sumber foto:
      02a, 02b, via google] Intinya, Takeshi's Castle itu luar biasa serunya. Epic! Dan bukan hanya saya saja yang kecanduan nonton Takeshi's Castle. Buktinya, selain Indonesia, game show ini telah tayang juga di berbagai negara lain mulai dari wilayah Asia (seperti Thailand, Taiwan, Malaysia, India, dan Filipina), Amerika, hingga wilayah Eropa (seperti Inggris, Jerman, Prancis, dan lain-lain). Negara Arab dan Brazil pun tak mau kalah menayangkan kegagahan Tuan Takeshi dalam mempertahankan kastilnya. Jadi nggak salah kan jika saya bilang Takeshi's Castle adalah benteng paling terkenal di seluruh dunia?
      Dari sekian banyak hal menarik yang bisa saya tulis tentang Takeshi's Castle, satu yang membuat saya penasaran adalah dimana sih lokasi Benteng Takeshi itu? Lokasi shooting acara Takeshi's Castle selalu dilakukan di sebuah tempat yang lapang. Ada area yang menyerupai tanah lapang, danau, hingga bukit/gunung. Dengan tahapan game yang begitu beragam dan setting yang sangat banyak, pastilah dibutuhkan tempat yang luasnya lebih besar dari lapangan bola. Tapi dimanakah tempat itu?
      Saya mencoba menelusuri jejak Takeshi's Castle yang sebetulnya sudah runtuh sejak penayangan terakhirnya, yaitu tahun 1990. Hasil dari semedi bersama mbah Google, diketahui jika lokasi shooting Takeshi's Castle dilakukan di tanah milik pribadi dari TBS selaku pencipta game show ini. Tepatnya, shooting dilakukan di studio Midoriyama (secara literal berarti Gunung Hijau) milik TBS.
      Pernah dengar tentang Yokohama? Ulasan singkat tentang Yokohama pernah saya tulis disini sebagai salah satu destinasi terbaik untuk melakukan side trip dari Tokyo. Adapun studio Midoriyama, letaknya berada di distrik Aoba, Yokohama. Alamat lengkapnya di 2100, Midoriyama, Aoba-ku, Yokohama, Jepang.
      Studio Midoriyama memiliki luas area yang cukup luas. Totalnya mencapai 80000 meter persegi! Di area yang luasnya beberapa kalinya lapangan sepak bola itu (ada yang mau bantu hitung?) tak hanya terdapat area tanah lapang dan bukit buatan dengan luas kurang lebih 20000 meter persegi yang menjadi lokasi shooting Takeshi's Castle, namun terdapat juga beberapa area lainnya yang populer sebagai tempat shooting outdoor. Terdapat juga gedung studio dengan berbagai perlengkapan produksi mutakhir, dan juga lapangan golf. Intinya, di Midoriyama ini tak hanya terdapat jejak peninggalan Benteng Takeshi saja, namun beragam acara populer lainnya seperti Ninja Warior dan lain-lain.
      Akhirnya, setelah bertahun-tahun menjadi pengagum Jo Michiru, ehm, Takeshi's Castle (baru patah hati setelah tahu umurnya Jo Michiru), saya tahu juga dimana lokasi benteng yang nyaris nggak pernah kalah itu. Nyaris lho, karena presentase peserta yang menang dengan yang gagal jauh lebih besar jumlah peserta gagalnya. Bagi yang memang ada rencana untuk main ke Yokohama saat wisata ke Tokyo, dan berminat untuk mengintip-intip salah satu surganya produksi acara TV Jepang ini, berikut contekan aksesnya:
      Dari Stasiun Shin-Yokohama, naik JR Yokohama Line ke Stasiun Machida. Transfer ke Odakyu Odawara Line, turun di Stasiun Tsurukawa. Dilanjutkan dengan naik bus dan turun di Midoriyama. Untuk akses dari Tokyo ke Stasiun Shin-Yokohama, bisa dilihat di
      tulisan ini. Untuk Google Maps, bisa cek disini. Sayangnya saya kurang tahu apa studio ini bisa dikunjungi oleh wisatawan atau tidak. Seandainya pun sudah terlanjur kesana tapi nggak bisa masuk ke dalam area shooting, tak perlu kecewa. Lokasi studio ini cukup dekat dengan sebuah theme park bernama Kodomo-no-Kuni, yang ternyata salah satu fasilitasnya disebut sebagai ice skating ring terbaik di area Tokyo. Jadi seandainya pun gagal melihat lokasi shooting Takeshi's Castle, tinggal lanjut saja bersenang-senang di negerinya anak-anak (= Kodomo-no-kuni).
      Semoga bermanfaat!
    • By vie asano
      Beberapa hari lalu saat sedang asyik berselancar di dunia maya, ada satu link artikel di sebuah website yang langsung mencuri perhatian saya. Judul persisnya saya lupa, begitu juga dengan website-nya. Kurang lebih judulnya seperti ini: Takeda Castle, Japan's Machu Picchu (yes, Picchu, bukan Pikachu).
      Machu Picchu! Inca! Wohoho! Saya memang doyan banget dengan hal-hal yang berbau sejarah dan arkeologi, khususnya tentang sejarah peradaban manusia. Apalagi karena saat kuliah Arsitektur dulu saya pernah mendapat mata kuliah tentang sejarah peradaban manusia (atau sejarah perkembangan arsitektur ya? Lupa!), kisah-kisah tentang cikal bakal peradaban modern seperti kota Mohenjo-daro, suku Inca, Maya, dan Aztec, selalu berhasil membuat saya terpukau. Dikombinasikan dengan ketertarikan pada budaya Jepang, tagline Japan's Machu Picchu sukses menyulut rasa penasaran saya. Betapa tidak? Walau nilai geografi saya hanya cukup untuk lulus dengan nilai ya begitulah, paling nggak saya tahu jika Machu Picchu, yang notabene ada di Peru, jelas nggak ada hubungannya dengan Jepang. Lha terus kok bisa sampai ada Machu Picchu di Jepang?
      Sayangnya, tak banyak informasi yang bisa saya dapat mengenai Takeda Castle dalam artikel singkat yang saya baca sekilas lalu itu. Jadi untuk memuaskan rasa penasaran, saya mengumpulkan beberapa informasi tentang kastil yang sekaligus dijuluki istana di atas awan itu (Katon Bagaskara mode on. Eh, itu mah Negeri di Awan ya?), sekaligus berbagi foto-foto menarik yang bisa ditemukan seputaran Takeda Castle. Siapa tahu ada yang berminat main ke Machu Picchu-nya Jepang suatu saat nanti.
      Sekilas info
      Takeda Castle, atau Kastil Takeda, berlokasi di kota Asago, Prefektur Hyogo. Masih satu prefektur dengan Himeji Castle, kastil paling populer di Jepang yang pernah saya singgung disini. Sejarah Takeda Castle dipercaya dimulai pada tahun 1441 (walau ada juga yang menyebutkan tahun 1431). Konon Ohtagaki Mitsukage, seorang penguasa di daerah tersebut, memerintahkan pembangunan kastil ini sebagai benteng kubu untuk Izushi Castle.
      Dari tadi saya menulis tentang Takeda Castle. Pada kenyataannya, kastil tersebut kini sudah tak ada, alias tinggal reruntuhannya saja. Jadi, setelah Takeda Castle dikuasai oleh Toyotomi Hideyoshi pada tahun 1557, pemilik kastil ini terus berganti-ganti. Setelah penguasa terakhirnya, yaitu Akamatsu Hirohide, bunuh diri pada tahun 1600-an, kastil ini pun lalu terbengkalai dan akhirnya kini tinggal fondasinya saja.
      Foto 01 (a-d):
      Takeda Castle [foto: Takeshi Kouno/wikimedia, Norio Nakayama/wikimedia, Baku13/wikimedia, Norio.Nakayama/flickr]
      Yang menarik dari Takeda Castle
      Sampai disini mungkin ada yang bingung, apa bagusnya mengunjungi reruntuhan kastil? Kenapa bisa Takeda Castle bisa disebut sebagai Japan's Machu Picchu dan Castle in the Sky?
      Foto 02 (a-d):
      Reruntuhan Takeda Castle [foto: Norio.nakayama/flickr, Norio.nakayama/flickr, Norio.nakayama/flickr, Bullets95/flickr]
      Kepopuleran Takeda Castle dipercaya cukup dipicu oleh sebuah film yang berjudul Anata e, yang bisa diterjemahkan sebagai dearest (dibintangi oleh Ken Takakura). Pada tahun 2012, film tersebut melakukan shooting di reruntuhan Takeda Castle. Ibarat gula, reruntuhan Takeda Castle pun mulai dikerubuti oleh wisatawan yang jumlahnya terus bertambah. Wisatawan yang telah berkunjung ke sana lalu menyebarkan berbagai informasi yang memancing wisatawan lainnya untuk datang, dan akhirnya Takeda Castle pun kini dikenal secara luas. Kabar terakhir, Takeda Castle ini telah diakui sebagai 1 dari 100 kastil paling populer di Jepang. Untuk masuk ke reruntuhan ini pun kini dikenakan biaya sebesar ¥300*.
      Foto 03 (a-d):
      Suasana di Takeda Castle [foto: m-louis/flickr, m-louis/flickr, m-louis/flickr, Reggaeman/wikimedia]
      Daya tarik utama dari Takeda Castle adalah posisinya yang berada tepat di puncak gunung. Di waktu tertentu, biasanya pada pagi hari di musim dingin, reruntuhan istana ini diselimuti oleh kabut tebal. Gara-gara kabut tebal itulah Takeda Castle terlihat seperti berada di atas awan dan menyentuh langit, dan dari kastil ini terkadang bisa menikmati pemandangan menakjubkan: lautan awan. Dari sanalah muncul julukan castle in the sky.
      Foto 04 (a-d):
      Takeda Castle, the castle in the sky [foto: Norio.nakayama/flickr, Norio.nakayama/flickr, Norio.nakayama/flickr, Bullets95/flickr]
      Daya tarik lain dari Takeda Castle tentu saja terletak pada reruntuhan kastil tersebut. Walau kini hanya tersisa pondasinya saja, ukuran reruntuhan ini cukup memukau. Takeda Castle membentang sepanjang 400 meter dari utara ke selatan, dan 100 meter dari timur ke barat. Dikombinasikan dengan posisinya yang berada di puncak gunung, inilah yang membuatnya dianggap sebagai Japan's Machu Picchu. Memang sih, ketinggiannya tidak setinggi Machu Picchu asli yang mencapai 2430 meter. Takeda Castle “hanya†berada di ketinggian 354 meter di atas permukaan laut. Namun kemegahan reruntuhannya plus posisinya yang berada di ketinggian, membuat kastil ini cukup memberikan nuansa ala Machu Picchu. Versi Jepang, tentunya.
      Foto 05 (a-d):
      Kompleks reruntuhan kastil [foto: Norio.nakayama/flickr, Tetsukun0105/flickr, Taka@城/wikimedia, Baku13/wikimedia]
      Point menarik lainnya, karena posisinya yang tepat di puncak gunung, dari reruntuhan kastil ini pengunjung bisa menikmati pemandangan 360 derajat ke sekitarnya, termasuk melihat-lihat kota di bawahnya. Suasananya relatif tenang, walau seiring dengan meningkatnya kepopuleran Takeda Castle, tempat ini mulai banyak dikunjungi oleh wisatawan. Waktu terbaik untuk berkunjung Takeda Castle adalah di musim gugur, karena pada saat itu pepohonan di gunung sekitarnya sudah berubah warna dan pemandangannya luar biasa indah.
      Foto 06 (a-d):
      View dari Takeda Castle [foto: Tetsukun0105/flickr, Tetsukun0105/flickr, m-louis/flickr, Reggaeman/wikimedia]
      Cara mengakses Takeda Castle
      Stasiun terdekat untuk mencapai kastil ini adalah melalui Stasiun Takeda. Berhubung prefektur Hyogo terletak di area Kansai, paling mudah mencapai stasiun ini jika berangkat dari Osaka dibanding dari Tokyo.
      Dari Stasiun Osaka: naik LTD.EXP Konotori 1, turun di Stasiun Wadayama. Transfer ke JR Bantan Line, turun di Stasiun Takeda. Total biaya yang diperlukan ¥4710* (¥2590* untuk tiket, ¥2120* untuk biaya tempat duduk), total waktu 165 menit.
      Setelah sampai di Stasiun Takeda, ada 2 opsi yang bisa ditempuh untuk mencapai Takeda Castle. Jika kondisi badan sangat fit dan suka naik gunung, bisa menempuh jalur hiking. Diperlukan waktu kurang lebih 30-60 menit jalan kaki untuk mencapai reruntuhan kastil ini. Namun jika punya masalah kesehatan (misalnya punya masalah tulang punggung seperti saya), naik bus maupun naik taksi mungkin jadi opsi yang jauh lebih “manusiawiâ€. Tambahan info, karena Stasiun Takeda termasuk stasiun kecil, kereta hanya singgah setiap 2 jam sekali. Jadi jika ada kesempatan untuk berkunjung ke tempat ini, jangan lupa memperhatikan baik-baik jadwal kedatangan dan kepergian kereta dari Stasiun Takeda.
      Foto 07:
      (a.) Stasiun Takeda [foto: Reggaeman/wikimedia], (b.) Stasiun Takeda dan jalur kereta api [foto: Kounosu/wikimedia], (c & d.) Hiking menuju Takeda Castle [foto: Norio.nakayama/flickr, Tetsukun0105/flickr]
      ***
      * Harga sewaktu-waktu dapat berubah.
      ** Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
    • By vie asano
      Sesuai janji saya disini, kali ini saya ingin berbagi informasi tentang WWOOF Japan. Program ini seru banget lho, terutama bagi Jalan2ers yang suka dan ingin melakukan petualangan di Jepang.
      Ada yang pernah dengar tentang WWOOF Japan? Jujur saya pribadi baru-baru ini saja mendengar tentang WWOOF Japan, padahal program itu sudah cukup lama ada di Jepang. WWOOF, singkatan dari World Wide Opportunities on Organic Farms, merupakan sebuah program yang menawarkan kesempatan bagi wisatawan dari seluruh dunia yang ingin makan dan menginap gratis di berbagai negara (dalam hal ini, WWOOF Japan menawarkan kesempatan tersebut untuk wilayah Jepang). Sebagai gantinya, wisatawan (yang selanjutnya akan disebut sebagai WWOOFers) harus bekerja selama 4-6 jam per-hari di tempat mereka yang menjadi tuan rumah (selanjutnya akan disebut sebagai Host). Nah, host inilah yang akan menyediakan makanan, minuman, dan juga akomodasi sebagai imbalan atas kerja part time dari wisatawan.
      Mungkin ada di antara wisatawan yang berpikir males dong kalau harus kerja. Bagi wisatawan yang betul-betul ingin berwisata, kata bekerja mungkin sedikit mengganggu mood untuk liburan. Tapi jika Anda tipe wisatawan yang juga suka untuk berpetualang dan tertarik mencoba hal-hal baru, WWOOF Japan jelas memberikan tantangan lebih. Mau tahu apa saja yang akan didapat oleh WWOOFers?
      Yang pertama, tentu saja adalah pengalaman merasakan berbagai jenis pekerjaan. Sesuai dengan singkatan WWOOF, semula host di WWOOF Japan hanya yang berhubungan dengan pertanian. Jenis pekerjaan yang harus dilakukan oleh wisatawan pun berkaitan dengan pertanian, seperti menyiram ladang, bercocok tanam, memanen, dan sebagainya. Namun belakangan tipe host pun bervariasi, begitu juga dengan jenis pekerjaan yang bisa dilakukan wisatawan. Ada yang membutuhkan guru les untuk anak-anak, pekerja untuk membuat aneka kerajinan tangan, pelayan untuk kafe organik, computer programmer, tenaga untuk membangun rumah, dan banyak lagi. Lokasi host pun bervariasi lho dan tersebar di berbagai area di Jepang. Saya coba membuat daftar lokasi host WWOOF Japan, antara lain sebagai berikut:
      -Hokaido Area;
      -Tohoku Area (prefektur Aomori, Iwate, Miyagi, Akita, Yamagata, dan Fukushima);
      -Kanto Area (prefektur Tochigi, Ibaraki, Gunma, Saitama, Chiba, Tokyo, dan Kanagawa);
      -Chubu (prefektur Yamanashi, Nagano, Niigata, Toyama, Ishikawa, Fukui, Shizuoka, Aichi, dan Gifu);
      -Kansai Area (prefektur Mie, Shiga, Kyoto, Nara, Wakayama, Osaka, dan Hyogo);
      -Chugoku Area (prefektur Okayama, Hiroshima, Tottori, Shimane, dan Yamaguchi);
      -Shikoku Area (prefektur Kagawa, Tokushima, Kouchi, dan Ehime);
      -Kyushu Area (prefektur Fukuoka, Saga, Nagasaki, Kumamoto, Oita, Miyazaki, Kagoshima, dan Okinawa).
      Banyak kan? Jadi WWOOFers dapat memilih sendiri lokasi wisata yang ingin dilakukan, serta memilih host yang menawarkan pekerjaan yang paling sesuai dengan keinginan. WWOOFers juga bisa mencoba beragam jenis pekerjaan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Seru kan?
      Kedua, perlu diingat rata-rata pekerjaan yang ditawarkan oleh host hanya berkisar antara 4-6 jam sehari, dengan waktu kerja antara 5-6 hari dalam seminggu (berbeda-beda tergantung host). Jadi Anda tetap memiliki waktu luang untuk berwisata, baik selepas bekerja maupun saat waktu liburan. Tak sedikit lho host yang sekaligus menjadi pemandu wisata dan mau mengajak WWOOFers mengunjungi berbagai tempat menarik, atau setidaknya meminjamkan transportasi seperti sepeda. Jika ditambah dengan akomodasi dan makan yang sudah ditanggung oleh host (plus pengalaman yang akan di dapat), rasanya bekerja 4-6 jam sehari cukup masuk akal, bukan?
      Point menarik lainnya, WWOOF Japan membuka kesempatan bagi WWOOFers untuk mengenal budaya Jepang sehari-hari. Anda bisa menjalin pertemanan dengan WWOOFers lain yang berasal dari berbagai tempat, berteman dengan penduduk lokal, dan memperoleh berbagai pengalaman budaya lainnya. Bahkan menurut Facebook WWOOF Japan, ada juga WWOOFers yang akhirnya cinlok dan akhirnya menikah dengan host-nya (dan kini menjadi host bagi WWOOFers lainnya).
      Berikut beberapa foto aktivitas WWOOF Japan [sumber foto: Strikeael, via creative commons]:
      Tertarik untuk menjadi WWOOFers? Perlu diketahui, bahwa untuk tinggal bersama host dan mendapat akomodasi serta makan, Anda takkan dipungut biaya sedikitpun. Namun hanya mereka yang terdaftar sebagai member WWOOF Japan yang bisa menjadi WWOOFers, dan Anda harus berusia minimal 16 tahun untuk bisa menjadi WWOOFers. Dan satu lagi yang perlu diketahui, untuk menjadi WWOOFers akan dikenakan biaya sebesar ¥5500 dengan masa keanggotaan selama setahun. Sangat hemat jika dibandingkan dengan akomodasi per-malam di Jepang. Oya, ¥5500 itu hanya untuk tahun pertama saja. Untuk tahun kedua, member cukup memperbaharui keanggotaannya dan membayar Â¥5000. Tahun ketiga dan keempat, biayanya menjadi ¥3000, sedangkan tahun kelima dan seterusnya menjadi ¥1500/tahun.
      Sampai sini, kira-kira ada yang bingung nggak? Secara mudahnya, berikut langkah-langkah yang harus diambil:
      -Anda harus jadi WWOOFers dulu untuk bisa mengikuti program ini. Tahapannya: daftar secara online (atau offline dengan cara datang langsung ke kantornya di Sapporo), dan membayar biaya pendaftaran (melalui PayPal, transfer bank, dan lain-lain).
      -Setelah menjadi WWOOFers, member dapat mengakses berbagai informasi yang berkaitan dengan host dan jenis pekerjaan yang ditawarkan. Member lalu menghubungi host untuk mendapat informasi tentang jenis pekerjaan yang akan dilakukan (termasuk jam kerja per-hari, hari libur, dan durasi waktu tinggal). Pastikan juga spot lowongan masih tersedia pada waktu yang diinginkan. Perlu diingat, dilarang menghubungi host jika belum menjadi WWOOFers Japan.
      WWO-Pada hari yang ditentukan, member datang ke tempat host dengan membawa identitas dan WWOOFer Permit document (satu dokumen untuk setiap host yang diinginkan). Selanjutnya WWOOFers akan mendapat arahan dari host dan bisa mulai kerja. Mudah, bukan?
      Oya, biaya visa, tiket perjalanan, maupun transportasi menuju host, sepenuhnya ditanggung oleh WWOOFers ya. Visa-nya pun menggunakan visa wisata biasa, karena aktifitas WWOOF ini dapat dianggap sebagai bagian dari aktifitas wisata. Dan tak perlu khawatir jika tak dapat berbahasa Jepang. Mayoritas host dapat sedikit berbahasa Inggris dan sangat terbuka pada orang asing. Sebaliknya, WWOOFers dapat sekaligus belajar (atau memperlancar) bahasa Jepangnya, karena para host umumnya senang jika ada yang mau belajar bahasa Jepang (lumayan kan sekaligus kursus bahasa, hehe).. Semoga infonya bermanfaat!
      Note:
      Bagi yang ingin informasi lengkap tentang WWOOF Japan, bisa mengakses website resminya disini.
    • By vie asano
      Sudah baca tulisan tentang kota Narita? Kalau belum, baca dulu disini ya. Secara singkat, kota Narita merupakan kota tempat Narita International Airport berdiri. Jadi kota ini ideal untuk dijelajahi jika Anda sudah check-out dari hotel di Tokyo namun masih ada jeda waktu cukup lama sebelum terbang kembali ke Indonesia (maupun menuju kota atau negara tujuan lainnya). Sebaliknya, Anda juga bisa menjelajah Narita sebelum mampir ke Tokyo.
      Saya ingin merekomendasikan beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi sebelum menuju ke Bandara Narita. Agar lebih mudah, saya menyertakan informasi akses dari Tokyo menuju obyek wisata tersebut, dan dari obyek wisata menuju ke Bandara Narita. Jika bermaksud untuk singgah sebelum menuju ke Tokyo, tinggal dibalik saja aksesnya. Mudah kan? Semoga bermanfaat ya!
       
      Naritasan
      (estimasi waktu wisata: 30-60 menit untuk wisata singkat, 1-2 jam untuk menjelajah seluruh area kuil)
      Alamat:
      1 Narita, Narita-shi, Chiba
      Jam operasional:
      Selalu buka (untuk area kuil)
      Harga tiket:
      free
      Akses:
      [Tokyo-Naritasan] Lihat disini untuk akses menuju ke Stasiun JR Narita maupun Stasiun Keisei-Narita. Dari kedua stasiun tersebut, jalan kaki 15-20 menit menuju Naritasan.
      [Naritasan-Narita Airport] via Stasiun Narita, naik JR Sobu/Narita Line, ¥230*, 11 menit, turun di Narita Airport terminal 1. Atau dari Stasiun Keisei-Narita, naik Keisei Main Line, ¥250*, 9 menit, turun di Narita Airport terminal 1.
      Naritasan, atau Narita Shinsho-ji Temple (alias kuil Narita) merupakan kuil terpopuler yang ada di kota Narita. Jaraknya tak begitu jauh dari Bandara Narita, sehingga ideal dikunjungi di sela waktu transit dari atau menuju Tokyo.
      Foto 01: Naritasan
      (a.) Niomon [foto: Self/wikimedia], (b.) Main hall [foto: 663highland/wikimedia], (c & d) Shakado [foto: Joel Bradshaw/wikimedia, Abasaa/wikimedia]
      Ada beberapa hal yang membuat kuil ini menarik selain masalah faktor kedekatan jarak dengan Bandara Narita. Dari segi sejarah, kuil ini telah berusia lebih dari 1000 tahun, dan telah menjadi saksi dari berbagai peristiwa bersejarah di Jepang. Naritasan juga memiliki beberapa benda bersejarah yang masih terjaga dengan baik, seperti patung buatan Kukai (salah satu pendeta Budha legendaris) yang sudah dibuat sejak periode Heian. Beberapa bangunan di Naritasan, yaitu Komyodo, pagoda 3 tingkat, Deva gate, Shakado, dan Gakudo; telah diakui sebagai important cultural properties karena sudah dibangun sejak tahun 1700-an. Di kuil ini juga terdapat taman yang luas dan Calligraphy Museum. Faktor menarik lainnya, di dekat Naritasan terdapat sebuah shopping street yang disebut Omotesando. Di sepanjang jalan ini terdapat beragam jenis toko dan restoran, sehingga Anda bisa sekaligus berburu oleh-oleh sebelum kembali ke Indonesia.
      Foto 02: Naritasan
      (a.) Komyodo [foto: Abasaa/wikimedia], (b.) Shokutaishido [foto: Joel Bradshaw/wikimedia], (c.) Pagoda [foto: 663highland/wikimedia], (d.) Great Pagoda of Peace [foto: Joel Bradshaw/wikimedia]
      ***
      Museum of Aeronautical Science
      (estimasi waktu wisata: 1-2 jam)
      Alamat:
      Iwayama 111-3, Shibayama-machi, Sanbu-gun, Chiba 289-1608
      Jam operasional:
      10.00-17.00 (penjualan tiket terakhir pukul 16.30). Tutup setiap hari Senin (atau hari berikutnya jika Senin adalah hari libur), 29-31 Desember. Buka setiap hari pada bulan Januari dan Agustus.
      Harga tiket:
      ¥500* (dewasa), ¥300* (pelajar SMP dan SMA), ¥200* (usia 4 tahun ke atas)
      Akses:
      [Tokyo-Museum of Aeronautical Science] via Stasiun Narita Airport (keisei line) atau dari Narita Airport Terminal 1 maupun 2, naik Airport Museum Shuttle Bus menuju museum (¥200*, 15-20 menit). Lihat disini untuk akses dari Tokyo menuju Stasiun Narita Airport maupun dari Terminal 1 dan 2. Alternatif lain, naik taksi (± ¥1600*).
      [Museum of Aeronautical Science-Narita Airport] bisa naik Airport Museum Shuttle Bus lagi, atau naik taksi ke Bandara Narita.
      Museum of Aeronautical Science ini merupakan museum aviasi pertama yang ada di Jepang. Disini pengunjung dapat melihat-lihat berbagai display yang berhubungan dengan perkembangan dunia penerbangan di Jepang. Terdapat berbagai replika pesawat, observation deck yang menawarkan pemandangan 360 derajat (termasuk melihat runway di Bandara Narita), restoran, dan simulator menarik yang membuat pengunjung dapat merasakan pengalaman virtual menjadi pilot.
      Foto 03: Museum of Aeronautical Science
      (a.) Jalan masuk ke museum [foto: Abasaa/wikimedia], (b.) Bangunan museum [foto: Hyougushi/flickr], (c & d) Interior museum [foto: Abasaa/wikimedia]
      Lokasi museum ini sebetulnya tepat di luar Bandara Narita, tepatnya di ujung selatan dari runway bandara ini. Namun sebetulnya museum ini agak sulit diakses menggunakan kendaraan umum. Untuk mengakses museum ini (dari maupun menuju Bandara Narita) wisatawan bisa menggunakan shuttle bus maupun taksi (detail bisa dilihat di bagian akses). Tambahan informasi, di sekitar museum juga terdapat spot menarik untuk melihat runway pesawat, yaitu Sakura no Oka Observation Area (di ujung selatan Bandara Narita, dekat dengan museum); dan Sakura no Yama Observation Area (di sebelah utara Bandara Narita). Jadi jika sekedar ingin melihat runway sambil menikmati suasana dan tak sempat untuk masuk ke dalam museum, bisa pergi ke dua tempat tersebut.
      Foto 04: Museum of Aeronautical Science
      (a.) Pesawat di luar museum [foto: Mamo/wikimedia], (b.) Cockpit [foto: Alec Wilson/wikimedia], (c.) Cesna 172 [foto: Alec Wilson/wikimedia], (d.) Hangar pesawat [foto: Alec Wilson/wikimedia]
      ***
      Jika punya waktu transit yang lebih senggang (lebih dari 4 jam), bisa juga mampir ke tempat-tempat berikut ini:
       
      Boso no Mura
      Alamat:
      1028 Ryukakuji, Sakae-machi, Imba-gun, Chiba 270-1506
      Jam operasional:
      09.00-16.30, tutup setiap hari Senin (atau Selasa jika Senin bertepatan dengan hari libur)
      Harga tiket:
      ¥300* (dewasa), ¥150* (pelajar SMA dan mahasiswa), gratis (anak-anak, pelajar SD dan SMP, usia 65 tahun ke atas)
      Akses:
      [Tokyo-Boso no Mura] lihat disini untuk akses ke Stasiun JR Narita. Dari Stasiun Narita, naik bus Chiba Kotsu yang menuju ke Ryukakuji-dai-shako, turun di Ryukakuji-dai-2-chome (¥390*, 12 menit). Lanjutkan dengan jalan kaki 8-10 menit.
      [boso no Mura-Narita Airport] naik bus ke Stasiun Narita, dilanjutkan dengan naik JR Sobu/Narita Line, ¥230*, 11 menit. Turun di Narita Airport Terminal 1.
      Tempat ini merupakan museum terbuka yang bertujuan untuk memberikan gambaran kehidupan lokal pada periode Edo. Terdapat berbagai display rumah dan bangunan berskala 1:1 dari periode Edo, serta replika rumah dari periode Jomon (13000-300 tahun sebelum masehi). Suasananya mengingatkan pada Edo-Tokyo Open Air Architectural Museum dan Nihon Minka-en, sehingga perlu waktu beberapa jam untuk betul-betul menjelajah museum ini.
      Foto 05 (a-d): Boso no Mura [foto: Tanaka Juuyoh/flickr]
      ***
      Sawara
      Akses:
      [Tokyo-Sawara] lihat sini untuk akses ke Stasiun Narita. Dari Stasiun Narita, naik JR Narita line, ¥480*, 30 menit. Turun di Stasiun Sawara.
      [sawara-Narita Airport] dari Stasiun Sawara, naik JR Narita Line, ¥650*, turun di Stasiun Narita. Transfer ke JR Sobu/Narita Line Rapid, 11 menit, turun di Narita Airport Terminal 1.
      Sawara sejatinya merupakan sebuah kota kecil yang berada sedikit di luar Narita. Lalu kenapa kota ini layak dikunjungi jika punya waktu luang saat berada di Narita? Itu karena Sawara memiliki spot menarik, yaitu kawasan dengan suasana ala kota tua, yang terletak di sekitar kanal (10-15 menit dari Stasiun Sawara). Beberapa rumah dan bangunan dari periode Edo dipertahankan, sehingga area tersebut dikenal dengan sebutan Little Edo. Sawara juga menjadi tuan rumah dari beberapa festival unik, salah satunya adalah Higenade Matsuri.
      Foto 06 (a-d): Sawara [foto: At by At/wikimedia, At by At/wikimedia, Aktorisi/wikimedia, アリオト /wikimedia]
      ***
      * Harga sewaktu-waktu dapat berubah.
      ** Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
      ***
      Baca juga:
       
      Side trip from Tokyo (1): Yokohama
      - Yokohama Chinatown, Kenapa Harus Kesana?
      - Serba-serbi Minato Mirai 21, Landmark Kebanggaan Yokohama
      Side Trip From Tokyo (2): Kawasaki
      - Yang Seru dari Kawasaki: Ikuta Ryoukuchi Park
      Side trip from Tokyo (3): Kamakura
      - Inspirasi Itinerary Kamakura: Obyek Wisata + Hiking Trail
      - Setengah hari di Kamakura, kemana saja?
      - Seru-seruan di Kamakura, mulai dari pantai hingga aneka event tahunan
      Side Trip from Tokyo (4): Enoshima
      - Yang Wajib Dikunjungi di Enoshima
      Side trip from Tokyo (5): Narita
      - Transit di Narita, Main Kesini Dulu Yuk!
    • By vie asano
      Yokohama, sudah. Kawasaki, sudah. Kamakura dan Enoshima, juga sudah. Lalu masih ada lagi nggak kota lain yang bisa dijadikan tujuan side-trip dari Tokyo?
       
      Jawabannya, banyak. Kota-kota yang sudah disebut di atas baru sebagian kota yang termasuk dalam wilayah prefektur Kanagawa. Nah, Tokyo sendiri posisinya diapit oleh prefektur Kanagawa (di sebelah selatan), prefektur Chiba (di sebelah timur), prefektur Saitama (di sebelah utara), dan prefektur Yamanashi (di sebelah barat). Masing-masing prefektur tersebut memiliki banyak sekali kota dengan aspek pariwisata yang dikelola dengan baik, sehingga masih sangat banyak kota tujuan wisata lain yang bisa dikunjungi sebagai alternatif side-trip saat berada di Tokyo.
       
      Walau kota-kota tersebut jumlahnya banyak, dan bahkan ada juga yang termasuk obyek wisata paling populer di Jepang seperti Gunung Fuji, Nikko, dan Hakone, namun saya ingin fokus dulu pada kota-kota yang bisa dikunjungi pulang-pergi dari Tokyo (tanpa harus memindahkan akomodasi ke kota tersebut). Baru setelahnya giliran aneka kota tujuan wisata yang bisa dikunjungi pulang-pergi maupun (karena satu dan lain hal) harus menginap disana. Kali ini saya ingin bergeser ke sebelah timur Tokyo, yaitu prefektur Chiba. Disana banyak juga kota yang menarik untuk dikunjungi, salah satunya adalah Narita.
       
      Sejarah singkat
      Narita? Memangnya ada tempat wisata di Narita International Airport? Kalau bicara tentang Narita, pasti yang langsung terpikir adalah Narita International Airport alias Bandara Narita. Selain Bandara Haneda (atau Haneda International Airport), Bandara Narita memang bandara internasional terdekat dari Tokyo. Tapi sebetulnya, bandara tersebut dinamakan Narita karena memang berdiri di kota Narita, yang jaraknya kurang lebih 60 km dari Tokyo. Jadi Narita yang dimaksud disini bukanlah Bandara Narita, melainkan kota Narita.
      Sejarah Narita sudah dimulai sejak jaman Japanese Paleolithic, kira-kira 50000-30000 sebelum masehi. Karena di kota ini terdapat beberapa sungai kecil, Narita pun perlahan-lahan menjadi pusat kehidupan untuk daerah sekitarnya. Seiring berjalannya waktu, di Narita kemudian berdiri beberapa fasilitas penting seperti kuil Shinsho-ji (tahun 940) yang menjadi salah satu pusat ziarah. Setelah dibangunnya Bandara Narita, kota Narita pun memantapkan diri menjadi kota yang berfokus pada transportasi, logistik, dan juga wisata.
      Foto 01: Narita City
      (a.) Narita City Office [foto: Hoku-sou-san/wikimedia], (b.) Jyoso Bridge [foto: Katorisi/wikimedia], (c.) Sanrizuka Park [foto: Katorisi/wikimedia], (d.) Sakura no Yama [foto: Katorisi/wikimedia]
      Yang menarik di Narita
      Ada beberapa fasilitas menarik di kota ini yang bisa dikunjungi sebelum meninggalkan Jepang (via Narita) maupun sesaat setelah mendarat di Narita (sebelum menuju Tokyo). Daya tarik utama dari kota ini tentu saja Narita International Airport. Bandara yang dibangun untuk mengurangi kepadatan Bandara Haneda ini (dibangun pada tahun 1960-an) memang dikenal sebagai salah satu pintu masuk dan pintu keluar terpenting dari dan menuju Jepang. Namun jika bicara tentang obyek wisata, yang paling populer adalah Naritasan (atau Naritasan Shinshoji Temple), alias kuil Shinsho-ji. Kuil Budha yang usianya sudah ribuan tahun ini lokasinya tak begitu jauh dari Bandara Narita, dan sudah sangat dikenal sebagai salah satu tempat wisata populer di Narita. Jika punya waktu senggang sebelum flight dari Narita (atau jika kebetulan transit di Narita), bisa mengunjungi kuil ini.
      Foto 02 (a-d):
      Narita Airport [foto: Abasaa/wikimedia, Terence Ong/wikimedia, Hyougushi/flickr, Marufish/wikimedia]
      Obyek wisata lain yang lokasinya tak jauh dari Bandara Narita adalah Museum of Aeronautical Sciences. Museum ini lokasinya persis di luar Bandara Narita, dan memiliki beberapa fasilitas menarik seperti observation area untuk mengamati runway. Obyek wisata terdekat lainnya dari Bandara Narita adalah Boso no Mura, sebuah museum terbuka mengenai kehidupan tradisional daerah Boso; Yamato no Yu, pemandian air panas khas Jepang; dan National Museum of Japanese History, yaitu sebuah museum sejarah Jepang. Diluar obyek wisata yang sudah disebutkan, masih ada obyek wisata lainnya seperti Sawara (kota kecil yang dikenal dengan sebutan Little Edo), dan Katori Jingu (kuil Shinto yang menjadi pusat dari ratusan kuil Katori di seluruh Jepang). Mudah-mudahan untuk tulisan berikutnya ada beberapa obyek wisata yang bisa di review lebih lanjut, maupun disusun dalam bentuk itinerary.
      Foto 03:
      (a.) Naritasan [foto: 663highland/wikimedia], (b.) Museum of Aeronautical Science [foto: Mamo/wikimedia], (c.) Boso no mura [foto: Tanaka Juuyoh/flickr], (d.) Sawara city [foto: Katorisi/wikimedia]
      Rekomendasi
      Jika memang berniat untuk bepergian dari Tokyo-Bandara Narita dan sebaliknya, sebaiknya membeli kartu SUICA NEX. Detail mengenai SUICA NEX bisa dibaca disini. Dari Bandara Narita, tinggal mengakses stasiun kereta lain untuk mencapai berbagai obyek wisata di Narita.
      Akses dari Tokyo
      Ada beberapa stasiun yang terdapat di Narita. Namun saya hanya akan mengulas akses dari Tokyo menuju beberapa stasiun besar di Narita, yaitu Stasiun JR Narita, Stasiun Keisei-Narita, dan Narita Airport.
      Foto 04:
      (a.) Stasiun Narita [foto: Kouchiumi/wikimedia], (b.) Stasiun Keisei-Narita [foto: Mutimaro/wikimedia], (c.) Stasiun Narita Airport [foto: Filler/wikimedia], (d.) Stasiun Narita Airport Keisei Line [foto: Filler/wikimedia]
      Dari Stasiun Shinjuku:
      -JR Yamanote Line (outer loop), ¥190*, 21 menit. Turun di Stasiun Nippori, ganti naik Keisei Main Line, ¥750*, 71-84 menit. Turun di Stasiun Keisei-Narita.
      -Atau, di Stasiun Nippori naik Keisei Skyliner, ¥1200*, 45 menit, turun di Narita Airport Terminal 1.
      -JR Chuo/Sobu Line, ¥1280*, 69 menit. Turun di Stasiun Chiba, transfer ke JR Narita Line, ¥0*, 34 menit. Turun di Stasiun Narita.
       
      Dari Stasiun Shibuya:
      -LTD EXP Narita Express, ¥1450*, 72-76 menit. Turun di Narita Airport Terminal 1 atau Terminal 2.
      -JR Yamanote Line, ¥190*, 29 menit. Turun di Stasiun Nippori, lalu naik Keisei Main Line Ltd.Exp., ¥750*, 68 menit. Turun di Stasiun Keisei-Narita.
       
      Dari Stasiun Tokyo:
      -JR Keihin-Tohoku/Negishi Line, ¥150*, 11 menit. Turun di Stasiun Nippori, lalu naik Keisei Main Line, ¥750*, 64 menit. Turun di Stasiun Keisei-Narita.
      -LTD.EXP Narita Express, ¥1280*, 55 menit. Turun di Narita Airport. Jika ingin lanjut ke Stasiun Narita, dari Narita Airport tinggal naik LTD.EXP Narita Express, ¥190*, 9 menit.
       
      Dari Stasiun Shinagawa:
      -LTD.EXP Narita Express, ¥1450*, 69 menit. Turun di Narita Airport.
      -JR Keihin-Tohoku/Negishi Line, ¥190*, 22 menit. Turun di Stasiun Nippori, ganti naik Keisei Main Line, ¥750*, 65 menit. Turun di Stasiun Keisei-Narita.
      * * *
      * Harga sewaktu-waktu dapat berubah.
      ** Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya.
      * * *
      Baca juga:
      Side trip from Tokyo (1): Yokohama
      - Yokohama Chinatown, Kenapa Harus Kesana?
      - Serba-serbi Minato Mirai 21, Landmark Kebanggaan Yokohama
      Side Trip From Tokyo (2): Kawasaki
      - Yang Seru dari Kawasaki: Ikuta Ryoukuchi Park
      Side trip from Tokyo (3): Kamakura
      - Inspirasi Itinerary Kamakura: Obyek Wisata + Hiking Trail
      - Setengah hari di Kamakura, kemana saja?
      - Seru-seruan di Kamakura, mulai dari pantai hingga aneka event tahunan
      Side Trip from Tokyo (4): Enoshima
      - Yang Wajib Dikunjungi di Enoshima
      Side trip from Tokyo (5): Narita
      - Transit di Narita, Main Kesini Dulu Yuk!
    • By vie asano
      Masih seputar kota tujuan yang bisa dijadikan alternatif side-trip saat sedang berwisata ke Tokyo. Sebelumnya, saya telah menulis tentang Yokohama dan Kawasaki, 2 kota terdekat dan juga paling mudah di akses dari Tokyo sehingga bisa dikunjungi pulang-pergi dalam waktu beberapa jam saja. Selain Yokohama dan Kawasaki, kota lainnya yang populer sebagai obyek wisata selingkuhan adalah Kamakura.
       
      Kamakura merupakan sebuah kota yang berada di Prefektur Kanagawa. Posisi tepatnya berada di sebelah selatan-barat daya prefektur Tokyo, kira-kira 50 kilometer dari Tokyo. Walau kota ini tak begitu besar, Kamakura termasuk salah satu kota tujuan wisata favorit di Jepang, lho. Hal tersebut karena selain Kyoto dan Nara, Kamakura merupakan salah satu kota terbaik untuk melakukan wisata sejarah karena banyaknya obyek wisata sejarah di kota ini. Menariknya, kota ini tak hanya memiliki aneka obyek bersejarah, namun juga menawarkan alternatif untuk melakukan wisata alam. Jadi jangan heran jika banyak juga wisatawan yang menjadikan Kamakura sebagai kota tujuan wisata utamanya, dan Tokyo justru menjadi kota tujuan tambahan.
       
      Seperti biasa, tulisan ini hanya akan memuat informasi global seputar Kamakura. Mengingat banyaknya obyek wisata menarik yang ada di Kamakura, rencananya saya akan mengangkat beberapa obyek wisata populer ke dalam tulisan terpisah. Selamat membaca..
       
      Sejarah singkat
      Jika melihat peta Jepang, Kamakura hanyalah merupakan sebuah kota kecil yang ada di tepi pantai. Namun beberapa ratus tahun lalu, tepatnya pada tahun 1192, Kamakura menjadi pusatnya kekuatan politik di Jepang. Adalah Minamoto Yoritomo (1147-1199), nama tokoh yang memulai era keshogunan di Kamakura. Pemerintahan di Kamakura berjalan selama beberapa ratus tahun sebelum akhirnya, pada abad ke-14, kedudukan Kamakura sebagai pusat pemerintahan mulai digantikan oleh Kyoto. Kamakura sempat dipertahankan menjadi pusat politik di wilayah Timur Jepang, namun lama kelamaan kedudukannya terus tergeser dan akhirnya Kamakura betul-betul turun tahta. Walau saat ini hanya berupa kota kecil, masih banyak sisa peninggalan masa lalu yang bisa ditemukan di Kamakura; membuatnya sering disebut sebagai “Kyoto-nya bagian Timur Jepang.
      (1), (2), (3), (4) Kamakura [foto: Sailko/wikimedia, Michaelvito/flickr, dbaron/flickr, TAKA@P.P.R.S/flickr]
      Yang menarik dari Kamakura
      Selain karena faktor waktu tempuh yang cukup singkat dari Tokyo, Kamakura menarik karena kota ini memiliki banyak sekali obyek wisata menarik. Namun secara garis besar, obyek-obyek wisata sejarah, budaya, dan alam merupakan obyek wisata favorit di Kamakura. Untuk wisata sejarah, Kamakura memiliki beberapa kuil maupun monumen populer. Salah satu monumen yang wajib dikunjungi di Kamakura adalah The Great Buddha of Kamakura, atau Kamakura Daibutsu. Patung perunggu Amida Buddha ini memiliki ketinggian 13,35 meter dan sudah dibangun sejak tahun 1252. Sedangkan untuk kuil, Kamakura memiliki banyak sekali kuil bersejarah. Beberapa yang populer dikunjungi antara lain: Tsurugaoka Hachimangu Shrine, kuil Shinto terpopuler di Kamakura; Hasedera Temple, salah satu kuil dimana pengunjung bisa menikmati pemandangan ke arah laut; Zeniarai Benten, kuil tempat pengunjung mencuci uangnya; serta beberapa kuil yang berkaitan dengan aliran Nichiren (salah satu aliran Budha), kuil-kuil yang menjadi saksi sejarah di Kamakura, dan kuil-kuil yang termasuk dalam daftar Kamakura’s Great Zen Temple (Kamakura Gozan).
      (5) The Great Buddha of Kamakura [foto: Specialoperations/flickr], (6) Tsurugaoka Hachimangu [foto: Chris 73/wikimedia], (7) Hasedera Temple [foto: U-kane/wikimedia], (8) Zeniarai Benten [foto: Bernard Gagnon/wikimedia]
      Untuk wisata alam, Kamakura memiliki satu hal yang tidak dimiliki oleh Tokyo, yaitu pantai. Walau sama-sama berada di tepi laut, Tokyo hampir tidak memiliki pantai. Pantai paling populer di Tokyo terdapat di Kasai Rinkai Park, itupun merupakan pantai buatan untuk melindungi taman dari air laut. Kamakura memiliki 5 pantai yang populer dikunjungi saat musim panas. Selain pantai, Kamakura juga memiliki bukit dengan jalur-jalur hiking yang menarik. Tambahan informasi, dari Kamakura wisatawan juga bisa mengakses Enoshima, pulau wisata yang memiliki beraneka obyek wisata menarik: kuil-kuil, taman, gua, dan sebagainya. Untuk detail lebih lengkap mengenai obyek-obyek wisata menarik di Kamakura beserta rekomendasi waktu kunjungan terbaik, ikuti terus tulisan-tulisan selanjutnya ya..
      (9), (10), (11), (12) Pantai-pantai di Kamakura [foto: Urashimataro/wikimedia, TAKA@P.P.R.S/flickr, Michaelvito/flickr, Urashimataro/wikimedia]
      Rekomendasi
      Sebelum menjelajah Kamakura, mampirlah dulu ke Tourism Information Center yang berlokasi di East Exit di Stasiun JR Kamakura (buka setiap hari, pukul 09.15-16.30). Disini pengunjung dapat menyewa audio service dengan harga ¥500*/hari. Audio service tersebut akan aktif secara otomatis saat wisatawan berada di sekitar obyek wisata di Kamakura, dan akan memberikan penjelasan dalam bahasa Inggris maupun Jepang mengenai obyek wisata tersebut. Jadi wisatawan tak perlu khawatir menjelajah Kamakura sekalipun tidak menggunakan pemandu wisata. Keuntungan lain jika mampir ke pusat informasi tersebut, wisatawan bisa memperoleh informasi mengenai aneka free pass yang berlaku di wilayah Kamakura (baik diskon tiket wisata maupun diskon transportasi).
      Aneka obyek wisata lain di Kamakura
      (13) Jochi-ji Temple [foto: Urashimataro/wikimedia], (14) Pemakaman di Jofuku-ji [foto: Tarourashima/wikimedia], (15) Kaizou-ji Temple [foto: Tarourashima/wikimedia], (16) Museum of Literature [foto: Wiiii/wikimedia]
      Akses dari Tokyo
      Di Kamakura, stasiun yang paling mudah di akses dari Tokyo ada 2: Stasiun Kamakura dan Stasiun Kita-Kamakura. Untuk mencapai kedua stasiun tersebut, rata-rata membutuhkan waktu kurang dari 1 jam saja (dari berbagai stasiun di Tokyo). Berikut adalah akses langsung maupun akses termudah dari Tokyo menuju kedua stasiun tersebut:
      Dari Stasiun Tokyo:
      -JR Yokosuka Line, ¥780*, 52-55 menit. Turun di Stasiun Kita-Kamakura.
      -JR Yokosuka Line, ¥890*, 54-58 menit. Turun di Stasiun Kamakura.
      Hanya berlaku untuk unreserved seat. Untuk green seat (=first class) harganya beda lagi.
      Dari Stasiun Shinagawa:
      -JR Yokosuka Line, ¥690*, 47 menit. Turun di Stasiun Kita-Kamakura.
      -JR Yokosuka Line, ¥690*, 46-50 menit. Turun di Stasiun Kamakura.
      Dari Stasiun Shinjuku:
      -JR Shonan-Shinjuku Line (via Tokaido Line), ¥890*, 46 menit. Turun di Stasiun Ofuna, transfer ke JR Yokosuka Line (3 menit), turun di Stasiun Kita-Kamakura atau Stasiun Kamakura.
      Dari Stasiun Shibuya:
      -JR Shonan-Shinjuku Line (via Tokaido Line), ¥780*, 35 menit. Turun di Stasiun Totsuka, transfer ke JR Yokosuka Line, 12 menit, turun di Stasiun Kita-Kamakura.
      -Tokyu Toyoko/Minatomirai Line, ¥260*, 32-40 menit (tergantung naik kereta express atau local). Turun di Stasiun Yokohama, transfer ke JR Yokosuka Line: ¥290*, 21 menit, turun di Stasiun Kita-Kamakura; atau ¥330*, 24 menit, turun di Stasiun Kamakura. Ini akses termurah menuju Kamakura.
      (17) & (18) Stasiun Kamakura [foto: Douglaspperkins/wikimedia, SElefant/wikimedia], (19) & (20) Stasiun Kita-Kamakura [foto: LERK/wikimedia, urashimataro/wikimedia]
      Untuk aneka rail passes di sekitar Kamakura dan Enoshima, lihat disini dan disini.
       
      Trivia
      Familiar dengan nama shogun pertama di Kamakura, yaitu Minamoto Yoritomo? Beliau adalah kakak dari Minamoto Yoshitsune, jendral besar yang disebut-sebut sebagai pahlawan paling tragis se-Jepang karena dikhianati oleh Yoritomo yang selama ini didukungnya (menurut versi Heike Monogatari atau Tale of the Heike). Tokoh Yoshitsune ini cukup sering muncul dalam berbagai game dan manga, salah satunya adalah manga berjudul Shanao Yoshitsune. Tokoh Yoritomo juga cukup sering muncul dalam versi pop, antara lain dalam game Genpei Toumaden dan Sengoku Rance (bersama Yoshitsune). Yang penasaran dengan Yoritomo maupun klan Minamoto lainnya, silahkan mampir ke Kamakura..
      (21) Patung Minamoto Yoritomo [foto: wikimedia], (22) Akses ke makam Minamoto Yoritomo [foto: Tarourashima/wikimedia], (23) Makam Minamoto Yoritomo [foto: Chris 73/wikimedia], (24 Shirahata Jinja, tempat Yoritomo disemayamkan [foto: Urashimataro/wikimedia]
      * * *
      * Harga dapat berubah sewaktu-waktu.
      ** Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya.
      * * *
      Baca juga:
      Side trip from Tokyo (1): Yokohama
      - Yokohama Chinatown, Kenapa Harus Kesana?
      - Serba-serbi Minato Mirai 21, Landmark Kebanggaan Yokohama
      Side Trip From Tokyo (2): Kawasaki
      - Yang Seru dari Kawasaki: Ikuta Ryoukuchi Park
      Side trip from Tokyo (3): Kamakura
      - Inspirasi Itinerary Kamakura: Obyek Wisata + Hiking Trail
      - Setengah hari di Kamakura, kemana saja?
      - Seru-seruan di Kamakura, mulai dari pantai hingga aneka event tahunan
      Side Trip from Tokyo (4): Enoshima
      - Yang Wajib Dikunjungi di Enoshima
      Side trip from Tokyo (5): Narita
      - Transit di Narita, Main Kesini Dulu Yuk!