baihaki1985

Jalan-Jalan Ke Cina: Tradisi Sky Burial Di Tibet

7 posts in this topic

*warning yak, artikel ini memuat cerita yang sangat tidak menyenangkan di mata. Jadi, kalau kurang begitu suka, mending enggak deh :D

 

Dibandingkan dengan lokasi lainnya di Cina, Tibet yang merupakan daerah otonomi khusus memang mempunyai daya tarik berbeda. Lebih khusus, wilayah ini memang menjadi lokasi yang sangat religius, secara khusus bagi para pemeluk Selain itu, tak jarang banyak yang datang ke sini sekedar untuk mempelajari bagaimana cara bermeditasi.

 

Namun di balik itu, masyarakat di Tibet memiliki sebuah tradisi yang kerap dianggap sebagai tradisi paling mengerikan dunia. Tradisi yang dimaksud adalah sky burrial atau pemakaman langit. Di zaman dulu, Sky burial ini biasanya ditujukan untuk masyarakat umum di Tibet yang meninggal dunia. Sementara itu untuk para biksu lama memperoleh perlakuan yang berbeda karena mereka akan dikremasi.

 

640px-Sky_burial_site%2C_Yerpa_Valley.JP

Bukit Yerpa yang menjadi kerap menjadi lokasi sky burrial di Tibet

 

Namun kini, karena kemajuan teknologi, proses kremasi juga banyak dilakukan pada saat ada masyarakat umum yang meninggal dunia. Terlebih pada saat ini, proses kremasi juga lebih murah dan mudah dilakukan ketimbang sky burial, terlebih harus membawa mayat dengan menggunakan yak, yang tentunya biayanya tidak murah. Jadi tradisi penguburan mayat dengan cara ini mulai banyak ditinggalkan oleh masyarakat Tibet.

 

Meski begitu, tak semua masyarakat biasa di Tibet akan diperlakukan dengan pemakaman seperti ini. Biasanya, mereka yang meninggal kurang dari usia 18 tahun, wanita hamil atau mereka yang meninggal karena penyakit menular dan kecelakaan tidak akan diperlakukan dengan tradisi ini. Dan tradisi ini, konon memang berasal dari Tibet dan juga kini dilakukan di berbagai wilayah lainnya seperti Qinghai, Sichuan serta daerah pedalaman Mongolia.

 

Langkah pemakaman seperti ini pun cukup normal kalau dilakukan di daerah dengan kondisi seperti di Tibet. Berada di daerah ketinggian, tentu saja mereka akan sangat sulit menemukan lokasi penguburan normal. Hal ini karena tanah yang keras dan berbatu. Sementara kalau dikremasi, stok kayu serta bahan bakar juga tidak banyak.

 

Selain itu, masyarakat mempercayai kalau sky burrial merupakan salah satu tradisi keagamaan yang sangat penting. Terlebih Sakyamuni, salah satu Buddha, pun pernah melakukan tradisi seperti ini. Alkisah, Sakyamuni bermaksud untuk menyelamatkan seekor merpati yang akan dimangsa oleh elang. Dan sebagai pengganti nyawa merpati, Sakyamuni pun merelakan dagingnya sendiri untuk dimakan oleh elang.

 

Proses pemakaman ini tidak dilakukan secara serta merta. Sebelum proses pemakaman, mayat akan dibiarkan selama tiga hari tiga malam. Selama rentang waktu tiga hari itu, para biksu pun akan bertugas untuk membacakan doa dan mantra di sekeliling tubuh mayat. Setelah tiga hari lewat, maka mayat akan dibersihkan dan dilapisi dengan kain putih.

 

640px-Vulture.jpg

Proses sky burial

 

Proses berlangsungnya sky burial ini sendiri, kalau di mata masyarakat awam pun bakal terlihat sangat mengerikan. Bagaimana tidak, para biksu akan bertugas sebagai algojo yang akan mencacah tubuh para mayat. Terlihat cukup aneh bukan, bagaimana seorang biksu yang biasanya menampakkan wajah teduh ternyata bertugas untuk mencacah daging mayat.

 

Setelah itu, mayat biasanya akan dieksekusi di area suci yang kebanyakan terletak tidak jauh dari wilayah wihara-wihara di Tibet. Biksu lama pun akan bertugas untuk membacakan mantra di sana, berharap agar mantra tersebut bisa menjadi pembinging dari roh mayat. Selain itu, sebelum mayat akan dieksekusi, biasanya diatur posisinya dalam posisi fetus, sama seperti posisi bayi baru lahir.

 

Setelah proses pembacaan doa dan matra selesai, maka proses selanjutnya adalah acara inti dari sky burial, yakni pencincangan daging mayat dan selanjutnya memberikannya kepada para burung nasar yang dianggap sebagai Dakini. Dakini oleh masyarakat Tibet disebut sebagai sosok yang bertugas untuk membawa roh untuk bisa pergi ke surga.

 

Para biksu yang bertugas untuk mencincang mayat pun nampaknya harus ekstra kuat ya. Kalau mencincang daging hewan mungkin sudah menjadi hal yang umum dilakukan di rumah hewan ya atau di pasar. Namun kayaknya kalau mencincang mayat manusia, kejadian seperti ini mungkin hanya dilakukan oleh para pelaku kanibalisme. Namun tentu saja para biksu di Tibet bukan seorang pelaku kanibalisme.

 

1305983627-sky-burial-secret-ritual-of-t

Proses pencincangan mayat

 

Setiap anggota bagian tubuh dari mayat pun akan dicacah sedemikian rupa agar bisa dimakan oleh para burung. Tulang yang merupakan sajian pertama para burung biasanya akan dihancurkan dan dicampur dengan tepung. Selanjutnya, para biksu pun akan memberikan sajian organ dalam yang biasa dipotong dalam bentuk yang kecil-kecil. Dan sebagai penutup, para burung nasar akan memperoleh sajian yang paling enak, yakni daging.

 

Mereka yang datang pada upacara sky burrial pun biasanya hadir dalam suasana yang sangat kontras jika dibandingkan dengan pemakaman biasa. Para saksi mata yang datang di acara pemakaman ini biasanya malah akan bercakap-cakap biasa dan bahkan bercanda. Hal ini menurut masyarakat setempat, dilakukan untuk memberikan kemudahan roh dari mayat untuk meninggalkan jasadnya.

 

Pemerintah Komunis Cina sendiri sempat melarang adanya aktivitas sky burrial, baik itu di wilayah Cina ataupun Mongolia. Mereka menganggap kalau aktivitas ini sebagai tradisi yang primitif dan berdampak buruk terhadap sanitasi. Pelarangan itu pun dilakukan dalam rentang antara tahun 1960 hingga 1980. Meski begitu, tradisi ini tetap dilakukan, terutama di daerah pedalaman dan pinggiran.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Tradisi pemakaman sky burial di Tibet ini mungkin memang merupakan aktivitas yang sangat tidak menyenangkan ya, terlebih untuk masyarakat awam. Namun percaya atau tidak, ternyata ada juga lho tour wisata yang memberikan akses untuk bisa menyaksikan bagaimana jalannya upacara sky burial di Tibet.

 

Bagi masyarakat Tibet sendiri, upacara Sky Burial merupakan upacara yang sangat sakral dan penting. Hal ini karena seperti yang saya tulis di atas, sky burial menjadi momen penting bagi roh orang yang telah meninggal untuk bisa menuju ke surga. Dan pada umumnya, tak sembarang orang bisa datang ke upacara sky burial.

 

Merebaknya cerita tentang sky burial sayangnya tak bisa menutupi tingginya rasa penasaran para traveler untuk menengok aktivitas upacara ini secara langsung. Dan saat ini, terdapat beberapa agen wisata di Tibet yang memberikan akses untuk itu. Tentu saja bisa ditebak dengan mudah, lokasi wihara ini berada di ketinggian, mencapai 4.150 meter di atas permukaan laut. Masa iya lokasi yang terkenal dengan sky burial berada di dataran rendah? :D

 

640px-Drigung_monastery11.jpg

Pemandangan dari wihara

 

Namun tentu saja, mereka berharap agar traveler yang datang tidak mengganggu proses sky burial. Dalam hal ini harus berusaha untuk menghormati adat masyarakat setempat, tidak terlalu dekat dengan lokasi, tidak mengambil foto ataupun bertanya yang aneh-aneh selama di lokasi. Untuk amannya, para traveler lebih baik diminta diam saja.

 

Wihara di Tibet yang kerap melangsungkan upacara pemakaman sky burial adalah Drigung Monastery. Wihara yang satu ini selain terkenal sebagai tempat berlangsungnya sesi upacara sky burial, juga merupakan salah satu peninggalan sejarah yang penting di Tibet. Wihara ini didirikan pada tahun 1179 dan pada masa pendiriannya, Drigung Monastery ini mempunyai peran yang sentral baik dalam aspek agama ataupun politik.

 

Wihara ini terletak sejauh 150 km dari kota Lasha. Dan seperti yang telah saya tuliskan, kompleks bangunan wihara ini merupakan lokasi yang biasanya dipilih sebagai tempat untuk dilakukannya upacara sky burial. Jadi, kalaupun ingin menyaksikan upacara sky burrial, bisa sekaligus menikmati keindahan bangunan serta alam yang ada di sekitar wihara ini.

 

dsca08408.jpg

Drigung Monastery

 

Drigung Monastery ini mempunyai perjalanan sejarah yang sangat panjang. Bahkan sempat pula mengalami kerusakan beberapa kali. Pada tahun 1240, pasukan mongol sempat menyerbu ke wihara ini. Penyerangan tersebut didasari atas persaingan sekte keagamaan. Pemimpin penyerangan tersebut menganggap kalau wihara yang mengajarkan sekte Kagyu Agama Buddha Tibet tersebut berkembang terlalu pesat dan membahayakan keberadaan sekte lain.

 

Alhasil, karena serangan tersebut, kompleks bangunan Drigung Monastery pun mengalami kerusakan. Sempat pula banyak manuskrip, stupa, patung dan beberapa benda penting lainnya di wihara ini yang hilang pada masa Cultural Revolution yang berlangsung pada rentang tahun 1966 hingga 1976. Dan lagi-lagi, bangunan wihara kembali mengalami kerusakan.

 

Selanjutnya, pemerintah Cina pun memutuskan untuk memperbaiki bangunan wihara tersebut dan dilakukan pada tahun 1983. Pada saat itu, sebanyak 15 kuil berhasil dibangun. Kondisinya memang sudah tidak seperti sedia kala. Dan posisi wihara ini dalam aspek agama ataupun politik pun tidak sekuat dulu. Namun wihara ini mempunyai tradisi yang kuat dalam hal meditasi.

 

Pada zaman dulu, banyak para biksu yang melakukan aktivitas meditasi di lingkup wihara ini. Biasanya, para pelaku meditasi tersebut melakukan meditasi di gua-gua yang berada tidak jauh dari kompleks bangunan wihara. Sayangnya, aktivitas tersebut saat ini mulai mengalami penurunan, terlihat dari jumlah biksu yang kini mulai sedikit.

 

Pada tahun 1959, diketahui terdapat sebanyak 400 orang biksu yang tinggal di wihara ini. Namun pada tahun 2015, menurut data dari Jangchubling Drikung Kagyu Institute di India, jumlah biksu yang kini menempati wihara ini adalah sebanyak 250 orang. Setiap tahunnya, pada saat perayaan tahun baru Tibet, biasanya akan banyak para peziarah yang datang ke tempat ini.

 

Drigung.jpg

Tarian para biksu di Drigung Monastery

 

Sebagai salah satu bangunan bersejarah di Tibet, Drigung Monastery ini memiliki bangunan yang menarik. Total kompleks wihara ini terdiri dari kurang lebih 50 bangunan. Masing-masing bangunan tersebut terhubung dengan sebuah jalan yang sangat curam atau bahkan terkadang hanya bisa tuju dengan menggunakan tangga yang terbuat dari kayu.

 

Dari semua bangunan yang ada, bangunan bernama Tsuglakhang merupakan yang terbesar. Bangunan tersebut dibangun di atas pondasi batu setinggi 20 meter. Di depan bangunan utama ini, terdapat sebuah teras berukuran luas yang pada zaman dahulu merupakan lokasi pendidikan para biksu lama. Di dalam bangunan pun terdapat berbagai macam patung dan stupa, termasuk di antaranya adalah patung Jigten Sumgon yang terbuat dari bahan-bahan berharga seperti emas dan perhiasan langka.

 

Oh iya, untuk menuju ke sini sendiri tentu saja tidak bisa dengan menggunakan kendaraan. Dari lokasi parkir kendaraan, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki di jalan yang cukup curam. Meskipun begitu, pemandangannya sangat indah dan biasanya suasana pun cukup ramai oleh para peziarah yang berasal dari Tibet bagian timur.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now