Nightrain

Akhir Tahun Di Phuket Yang Menyenangkan ( Panduan Ke Phuket Lengkap )

47 posts in this topic

Phuket, 10 - 14 December 2015

 

post-22151-0-16511600-1426650719_thumb.j

 

Awal sampai pertengahan Desember merupakan waktu yang tepat untuk mengunjungi Phuket karena musim hujan sudah berakhir di awal November dan kondisi laut cenderung tenang sehingga memungkinkan untuk menyeberang ke Phi Phi dan Phang Nga Bay dengan aman. Namun usahakan jangan pergi akhir Desember karena Phuket sudah memasuki high season, selain akomodasi yang mahal, kalau pantai, kafe, dan toko terlalu padat jadinya kurang nyaman juga.

2 minggu sebelum berangkat, kita sudah janjian dengan mas Warsono alias @Sononi Noni untuk menjadi tour guide kita sekaligus menyiapkan mobil agar kita keliling kota jadi gampang dan efisien, apalagi kita memang ngajak papa mertua untuk jalan dan kakinya sudah sakit untuk berjalan terlalu jauh. Overall, servis Sononi memuaskan dan kita rekomen untuk temen-temen yang mau ke Phuket karena selain dia memang asli orang Indo jadi ngobrolnya gampang dan asik, dia juga kenal dengan berbagai operator tur dan show jadi harga yang didapat bisa lebih murah jauh ketimbang langsung beli on the spot.


Day 1 - Patong

Kita tiba di bandara sudah jam 8 malam dan ruangan imigrasi sudah sangat padat dengan turis dari berbagai negara. Kerja para petugas agak lelet, bahkan mungkin lebih lama dari Indo, dan baru belakangan kita tau kalo ternyata di Thailand pun masih umum praktek sogok-menyogok, jadi kalau berani keluarin 100 baht, bisa disediakan pintu khusus biar lebih cepat haha. Setelah mengambil bagasi, kita segera keluar dan ketemu dengan Sononi di depan. Cuaca malam itu tidak bersahabat dan ternyata Phuket seharian diguyur hujan, tapi mending gitu daripada hujan pas kita ke Phi Phi haha malemnya kita menuju ke hotel dan lokasi airport ke kota cukup jauh sekitar 1 jam kurang dan karena perut agak keroncongan, kita minta untuk mampir makan dulu.

Kita diajak ke restoran No 6 yang ada di Patong, rupanya resto ini memang rame dan terkenal, selain karena rasanya yang enak, harganya juga murah. Pad thai yang terkenal seperti kwetiau itu harganya sekitar 35rb-an, minuman rata-rata sekitar 25rb, dan ada beberapa makanan yang harganya 40rb-an. Hujan masih masih mengguyur Phuket namun bar, resto, dan sepanjang jalan Patong ini masih rame dipadati turis, sebagian mengenakan rain ponchos, semacam jas hujan, ada juga yang cuek dan santai saja berjalan di luar walaupun basah.

Hotel yang kita pilih adalah Patong Mansion yang lokasinya cukup dekat dari restoran itu dan tiba disana sekitar jam 10 malam. Interior lobi hotel ini sederhana saja namun relatif bersih dan hotel ini masih tergolong baru, mulai beroperasi sejak 2 tahun lalu. Kamarnya termasuk besar dan extra bed yang kita pesan juga sudah diatur rapi di dalam. Setelah mandi, kita beristirahat karena besok jam 8 pagi kita akan mengawali tur Phuket ke Phi Phi Island.

Share this post


Link to post
Share on other sites

post-22151-0-51384400-1426651266_thumb.j

 

Day 2 - Phi Phi Islands dan Simon Cabaret

Setelah sarapan, sekitar jam 8 kita dijemput oleh Sononi dan menuju ke tempat berkumpul untuk bergabung dengan beberapa turis lain yang akan ikut di speedboat yang sama. Yang menjadi guide ke Phi Phi kita adalah orang Thai asli yang memiliki nickname 'Bob', bahasa Inggrisnya cukup fasih walaupun kental dengan aksen Thai, dan total ada sekitar 25 orang lebih yang ikut. Biasanya ada 2 opsi yang ditawarkan untuk menuju Phi Phi, yang pertama menggunakan speedboat kalau kondisi laut tenang dan jauh lebih cepat karena 45 menit sudah sampe, dan yang kedua adalah cruise besar, ini kapal yang aman walaupun laut agak berombak namun dua kali lebih lama dan biasanya di Maya Beach tidak bisa turun, jadi kalau bisa, pilih speedboat aja.
 

post-22151-0-13582100-1426651347_thumb.j post-22151-0-37670200-1426651281_thumb.j

 

Sebelum berangkat, Bob menjelaskan ada beberapa spot di Phi Phi yang akan kita kunjungi. Yang pertama menuju Phi Phi Don untuk snorkeling dan swimming, melihat Monkey Island, dan lunch di salah satu pulau, kemudian lanjut ke Phi Phi Leh untuk menuju Maya Bay yang menjadi lokasi syuting film The Beach dan bersantai disana, sebelum kembali lagi ke Khai Island yang ada di Phi Phi Don untuk bersantai baru kembali ke Phuket.

 

post-22151-0-51316400-1426651334_thumb.j post-22151-0-82189600-1426651364_thumb.j

 

Perjalanan pagi itu kita tempuh sekitar 30 menit untuk mampir sebentar melihat Monkey Island sebelum lanjut menuju spot snorkeling. Buat yang minat untuk snorkeling, biasanya sebelum berangkat, kita diperbolehkan untuk menyewa fin dan membeli ocean pack drybag agar peralatan elektronik, paspor, dll aman, namun buat yang males nyebur dan cuma pengen santai juga oke karena pemandangan sekitar bagus dan air laut yang jernih sehingga bisa terlihat ikan berseliweran. Lokasi disini tidak banyak coral yang bagus dan harus berhati-hati karena cukup banyak bulu babi juga.
 

post-22151-0-01060100-1426651425_thumb.j post-22151-0-24115500-1426651452_thumb.j

 

Dari sini, kita lanjut menuju pulau pertama untuk lunch. Jangan terlalu berharap banyak karena makanan yang disuguhkan rasanya hambar dan cenderung tidak enak, yang penting cukup buat ganjel aja tapi tempatnya lumayan untuk sekedar ngebir santai, menikmati es krim, dan melihat hamparan pasir putih, pantai yang tenang, deretan longtail boat, dengan background formasi limestone yang berjejer cantik.

 

Lunch break sekitar 1 jam pun berakhir dan kita semua kembali naik ke speedboat untuk lanjut menuju destinasi berikut yaitu Maya Bay. Di tengah perjalanan, kita mampir sebentar untuk photostop di Viking Cave. Ada beberapa turis yang merapat untuk masuk ke dalam gua dan biasanya ada orang lokal yang nongkrong untuk memungut biaya masuk namun foto-foto dari luar rasanya udah cukup karena masih lebih oke untuk menghabiskan waktu di Maya Beach.
 

post-22151-0-44784600-1426651463_thumb.j post-22151-0-59395400-1426651487_thumb.j

 

Tiba di Maya Beach, speedboat kita merapat ke pantai dan semua berloncatan untuk turun. Sore itu matahari masih sangat terik namun cukup banyak bule yang cuek saja berjemur di pantai. Maklum karena bulan Desember gini buat mereka panas tropis malah nikmat karena di negara asal mungkin suhu-nya minus. Air laut yang jernih dengan dasar pasir putih yang lembut dan latar belakang limestone memang membuat pantai Maya ini sangat indah untuk dijadikan latar belakang foto.

Dari pantai, kita bisa berjalan sekitar 10 menit ke tengah pulau dan ada tangga kecil yang menuju ke lagoon. Di sini juga merupakan spot bagus untuk berfoto namun karena lokasinya yang terlalu sempit membuat tidak nyaman untuk berlama-lama karena banyak turis yang lalu lalang dan antri untuk berfoto. Setelah puas bermain di lokasi ini sekitar 1 jam lebih, kita balik ke speedboat untuk kembali ke Phuket dan sebelumnya mampir dulu ke Khai Island untuk bersantai.
 

post-22151-0-18788700-1426651510_thumb.j post-22151-0-79412600-1426651520_thumb.j

 

Bob sudah menyiapkan buah-buahan dan minuman segar untuk digelar buat para peserta tour. Pulau Khai ini terkenal dengan banyaknya ikan yang santai berenang bersama para turis di sekitar pantai. Di tengah pulau juga sudah dibangun banyak pondok yang ditempati oleh banyak penduduk lokal untuk mengais rejeki. Ada yang berjualan bir, minuman alkohol, jus, aneka ragam snack dan makanan, dan tentunya dengan harga premium. Jadi jangan heran kalau segelas jus mangga bisa dihargai 200 baht :D

 

post-22151-0-01584400-1426651536_thumb.j post-22151-0-43320500-1426651576_thumb.j

 

Sore sekitar jam 5 kita tiba di Phuket dan mobil pun mengantar kita kembali ke area Patong. Kita mampir dulu ke Banzaan Market dan buat yang seneng seafood, di pasar ini kita bisa bebas milih-milih kepiting, kerang, udang, ikan dan kalau minat untuk dimasakin, silahkan ke lantai dua dan tinggal pilih restoran mana yang sreg. Biasanya mereka charge harga masaknya per kilo namun hari itu kita mau yang gampang saja dan ga ribet, jadi kita keluar Banzaan dan nyebrang ke Tiger Inn Restaurant, persis di samping Thaiboxing Arena. Sekitar jam 6 sore, di depan Banzaan Market sudah banyak pedagang kaki lima yang menyiapkan dagangannya, dan macam-macam mulai dari fried chicken, sate buaya, martabak, buah, dan sebagainya.
 

post-22151-0-82762900-1426651551_thumb.j post-22151-0-08795100-1426651565_thumb.j

 

Makan di Tiger Seafood ini mirip dengan Bandar Djakarta dan sebetulnya ngga banyak beda dengan Banzaan, kita pilih yang kita mau di depan dan mereka akan masak di dalam, namun di Tiger bukan cuma seafood tapi macam-macam makanan lain seperti Chinese dan Thai Food juga ada, jadi kalau yang seneng makan macam-macam, restoran ini cukup rekomen dan harganya juga reasonable. Ngga murah tapi wajar ! Selesai makan, kita nunggu Sononi datang sekitar jam 7.15 dan tujuan terakhir malam itu adalah Simon Cabaret. Tiba di lokasi sekitar 15 menit karena tidak jauh dari Patong dan syukurnya malam itu tidak macet, kita langsung bergegas masuk ke dalam dan dapat seat di balkon atas. Jarak pandang agak jauh tapi cukup nyaman dan jelas. Theater-nya juga bagus dan tidak usah khawatir soal pakaian karena bebas kita mau pakai celana pendek, sandal, dan kaos.

 

post-22151-0-16221300-1426651594_thumb.j post-22151-0-48864800-1426651605_thumb.j

 

Pertunjukan dimulai sekitar jam 8an malam dan durasi show sekitar 90 menit atau lebih. Kita cukup impressed dengan show ini karena performers yang tampil bukan sekedar ladyboy dan performers asal-asalan karena sudah diseleksi dan juga punya kemampuan dance yang lumayan bagus. Penampilan mereka merepresentasikan kostum dari berbagai negara sesuai tema-nya mulai dari Thailand sendiri, China, Korea, Japanese, Egypt, European, American, dan sebagainya, dan uniknya ada dua kali selingan bencong lucu dan gendut dengan kostum kocak. Overall, show ini termasuk sangat menghibur dan rekomen untuk nonton setidaknya sekali. Menurut Sononi, ada satu kompetitornya yang baru muncul, namanya Aphrodite, dan menurut review ada yang bilang show ini lebih bagus lagi namun kita belum sempat nonton, mungkin next time kalo balik ke Phuket lagi.

 

post-22151-0-06165300-1426651619_thumb.j post-22151-0-82606900-1426651631_thumb.j

 

After show, para performers dengan kostum mereka akan berdiri berjejer di depan untuk berfoto dengan turis dan mereka meminta tips 100 baht untuk sekali foto. Lumayan kalo satu orang bisa dapat 20 turis hahaha dan kata Sononi, biasanya abis show, beberapa dari mereka lanjut lagi ke Bangla untuk 'kerja'. Selesai show sekitar jam 10, kita balik ke hotel untuk beristirahat.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 3 - City Tour dan Phuket Fantasea

Kita mengawali hari ini dengan menuju ke Karon Beach yang terletak di sebelah selatan Phuket. Jarak pantai Karon dari hotel kita yang berada di sekitar Patong kurang lebih sekitar 10 km. Lokasi Karon ini agak jauh dari kebisingan downtown Phuket sehingga sangat cocok buat yang pengen menikmati suasana pantai yang sunyi. Di sekitar jalanan, berdiri banyak resort yang cukup banyak ditempatin oleh turis-turis berumur 40-50an. Terlihat juga beberapa keluarga yang tidak peduli dengan teriknya matahari siang, mereka dengan santai berlari menuju pantai untuk bermain air sambil berjemur.

 

post-22151-0-98769700-1426652515_thumb.j

Menurut Sononi, memang Karon cukup populer untuk para turis yang sudah bosan dengan nightlife Phuket dan justru pengen santai walaupun setiap hari kerjanya ya hanya menikmati matahari di pantai. Dari Karon, kita lanjut ke selatan dan tiba di Kata Beach. Di pantai ini terlihat lebih hidup dan memang cukup padat. Banyak yang lebih suka dengan Kata karena selain lebih ramai, di sekitar lokasi sini lebih gampang nyari cafe atau restoran, namun menurut kita, pantai yang lebih bagus justru di Karon.

 

post-22151-0-47161200-1426652541_thumb.j post-22151-0-15837600-1426652556_thumb.j

Titik ujung paling selatan Phuket adalah Promthep Cape, lokasi yang fantastis untuk menanti sunset dan menikmati hamparan luas laut Andaman. Sebelum sampe di Promthep Cape, kita mampir dulu di dua view point. Yang pertama adalah lokasi dekat power plant dan windmill yang tidak terlalu rame tapi justru view-nya lebih bagus dari Promthep. Ada beberapa pasangan juga yang memutuskan untuk berfoto pre-wedding disini karena background-nya cantik dan tidak terhalang banyak batu seperti di Promthep. Kondisi laut pada bulan Desember juga sangat tenang sehingga kita bisa melihat cukup banyak yacht dan speedboat yang lagi 'parkir' dari atas.

 

post-22151-0-16038600-1426652581_thumb.j

 

Dari powerplant ini, kira-kira 10 menit driving menuju Promthep, kita sempat mampir sebentar di Karon View Point. Dari atas sini juga view sangat bagus karena pantai Karon dan Kata terlihat jelas. Buat yang pengen santai lama-lama, lebih mending spend waktu di powerplant karena selain ada yg jualan kelapa muda dan minuman dingin, disitu juga jauh lebih sepi sedangkan Karon View Point merupakan tourist spot yang lebih terkenal sehingga suka banyak bus-bus tur yang mampir. Jadinya kalo mo foto-foto atau santai jadi ribet karena banyak yang antri, apalagi kalo ketemu turis yang rese yang minta tolong fotoin tapi ngomongnya kasar. Biasa yang kaya gini kita cuekin dan pura-pura ngga denger :D

 

post-22151-0-18468500-1426652596_thumb.j post-22151-0-11749900-1426652624_thumb.j

 

Setelah tiba di Promthep, jujur memang benar kata Sononi, lebih asoi view di powerplant dan Karon View Point, namun Promthep ini cukup menarik karena view agak berbeda dan karena lokasi yang cenderung luas, turis cukup gampang menemukan photospot yang sepi dan tidak mengganggu turis lain. Setelah Promthep, kita lanjut menuju salah satu landmark Phuket yaitu Big Buddha yang lokasinya ada di antara Chalong dan Kata. Dulunya tempat ini hanya sekedar bukit tempat nongkrong orang lokal untuk menikmati sunset namun akhirnya dikembangkan menjad proyek ambisius yang uniknya, pembangunan patung raksasa ini didanai sebagian besar oleh turis yang datang.

 

post-22151-0-19349600-1426652655_thumb.j

 

post-22151-0-66690200-1426652635_thumb.j post-22151-0-51560200-1426652688_thumb.j

 

Di dalam ruangan sebelum naik tangga menuju Big Buddha, terpampang sebuah papan yang ditempelin dengan berbagai mata uang dari seluruh dunia, termasuk uang Indonesia. Bahkan ada beberapa uang lama yang sudah ditarik dari peredaran masih nangkring disana. Setelah naik tangga menuju puncak bukit, Anda akan disuguhkan pemandangan yang indah dan patung Buddha setinggi 45 meter yang gagah. Di samping patung besar ini juga terdapat patung Buddha yang lebih kecil dan terbuat dari kuningan, dan konon patung 'kecil' ini dibuat dari 22 ton kuningan dan menghabiskan biaya sebesar 8 juta baht atau sekitar 3.2 milyar rupiah, sedangkan Big Buddha sendiri menghabiskan biaya kurang lebih 4 kali lipat-nya.

 

post-22151-0-84461500-1426652676_thumb.j

 

Dari Big Buddha, kita lanjut menuju Wat Chalong, salah satu lokasi kuil di Phuket yang sangat terkenal. Arsitektur dan detail kuil-kuilnya sangat bagus dan jangan lewatkan untuk mampir kesini kalo ke Phuket, walaupun untuk sekedar berfoto sebentar atau mampir ke dalam kuil. 30 menit rasanya sudah cukup untuk explore tempat ini dan foto-foto kecuali kalau Anda beragama Buddha dan pengen sembahyang di dalam.

 

post-22151-0-40302900-1426652699_thumb.j post-22151-0-44815100-1426652712_thumb.j

 

post-22151-0-42323800-1426652745_thumb.j

 

Dari Wat Chalong, tidak terlalu jauh untuk mampir ke Central Festival, shopping centre untuk kelas menengah atas dan lebih apik dibanding Jungceylon. Barang-barang yang dijual kurang lebih mirip dengan mal Jakarta namun ada juga beberapa barang unik seperti ada satu counter yang menjual tas cewek yang bisa dipompa jadi handy banget untuk travelling karena bisa dikempesin lagi untuk diselipin di dalam koper. Harganya juga tidak beda jauh dengan Jakarta jadi buat yang bosen mampir mal, ngga perlu kesini juga oke tapi lumayan kalo pengen bersantai sejenak abis panas-panasan di luar.

 

post-22151-0-56747100-1426653710_thumb.j post-22151-0-08186400-1426653737_thumb.j

 

post-22151-0-84625900-1426653851_thumb.j

 

Tujuan terakhir hari itu adalah Phuket Fantasea. Banyak yang merekomendasikan tempat ini karena lighting yang bagus, dinner yang enak, dan show yang menarik. Tiba di lokasi, sudah banyak turis yang sibuk berfoto dengan logo Fantasea atau dengan ladyboy berkostum tradisional yang berdiri di dekat loket. Harga tiket normal sekitar 2.200 THB / orang dewasa termasuk dinner dan 2.000 THB untuk anak-anak, namun kalau anaknya berumur 4 tahun ke bawah, boleh masuk gratis namun tidak dapat reserved seat pada saat show.

 

post-22151-0-13640900-1426653889_thumb.j post-22151-0-39949600-1426653988_thumb.j

 

Tempatnya cukup luas dan banyak attraction di dalam seperti small theme park, namun tidak ada extreme rides. Bisa dibilang agak mirip dengan pasar malam. Ada live show stage di dekat pintu keluar buat yang suka musik namun waktu itu hampir ngga ada yang tertarik dengerin lagu, kebanyakan orang masuk ke dalam untuk naik gajah atau dinner santai sambil nunggu show mulai. Lampu-lampu di sepanjang jalan memang bagus dan bernuansa ceria, lokasi dinner juga terkesan mewah dan variasi makanan yang banyak, rasanya juga tasty, dan show-nya buat kita standar aja. Buat turis yang seneng culture, tentunya bagus dan banyak yang bilang lebih menarik dari Siam Niramit, tapi buat yang seneng pure entertainment, paling ada sekitar 3 atau 4 scene aja yang kocak, termasuk sekumpulan anak ayam yang berlari rapi haha adegan perang-nya juga not bad, dan overall kalau bayar full price, rasanya agak rugi, tapi kalo dapat special price kaya kita kemaren sih oke banget.

 

post-22151-0-40820300-1426654001_thumb.j post-22151-0-98398100-1426654020_thumb.j

 

Yang bikin bete adalah antrian untuk menyimpan kamera dan hp yang ngabisin waktu hampir setengah jam dan pada saat bubaran untuk mengklaim barang-barang kita juga mesti antri panjang yang disortir dari kartu berwarna, jadinya pegel berdesak-desakan hampir kehabisan oksigen gara-gara ginian haha. Setelah proses retur barang selesai, kita pun balik ke hotel untuk istirahat.
 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 4 - Phang Nga Bay dan Thai-girl show

Pukul 9 pagi kita sudah siap di lobi hotel dan dijemput oleh operator tour untuk menuju Phang Nga Bay. Perjalanan kurang lebih 45 menit menuju dermaga dan disana kita berkumpul ditemani oleh dua guide asli Thai yang cukup fasih ngomong Inggris, bahkan ada satu yang sangat fasih ngomong Mandarin karena memang tiap hari ada aja puluhan turis China yang naik cruise. Kita menunggu sekitar 30 menit sampai kurang lebih 35 orang semuanya terkumpul baru rame-rame menuju ke kapal dengan berdesak-desakan di dalam minibus yang modelnya mirip bemo. Model kapal yang kita naiki ini seperti cruise kayu yang cukup besar dan di dek atas ada meja makan panjang yang memang disiapkan untuk lunch nanti.
 

post-22151-0-10074500-1426654644_thumb.j post-22151-0-53966200-1426654670_thumb.j

 

Setelah basa-basi dan menjelaskan do-and-don't, si guide mulai membagikan minuman dan life jacket untuk berjaga-jaga dan kapal pun perlahan meninggalkan dermaga untuk menuju ke lokasi pertama. Cuaca hari itu sangat cerah dan matahari bersinar cukup terik, laut pun terlihat tenang sehingga perjalanan kesana kita tempuh tanpa banyak goncangan. Setelah 30 menit lebih di laut, formasi limestone sudah mulai terlihat yang menandakan lokasi cave pertama sudah dekat. Aktivitas kita yang pertama siang itu adalah naik kano menyusuri pinggir bukit dan masuk ke dalam gua untuk menuju hidden lagoon. Satu kano bisa muat 2 sampai 3 orang penumpang dan 1 kapten, tapi lebih bagus diisi 2 orang saja biar ngga terlalu sempit.

 

post-22151-0-94566200-1426654688_thumb.j post-22151-0-33073600-1426654731_thumb.j

Siang itu terlihat sekitar 20 kano yang berseliweran dan di sekitar mulut gua, terdapat puluhan monyet yang terlihat ganas. Guide sudah mewanti-wanti untuk jangan iseng bawa atau melempar makanan, namun mertua iseng aja bawa jeruk di kantong, katanya pengen dilemparin, eh siapa yang sangka monyetnya lapar dan lincah kaya Sun Go Kong bisa loncat sana sini dan berenang, untung pas satu monyet lompat ke kano, si 'kapten' udah pengalaman dan berhasil ngusir pelan2 dan ngga ada yg jadi korban gigitan haha

 

post-22151-0-44985000-1426654882_thumb.j post-22151-0-60605200-1426654907_thumb.j

Di dalam gua, ada ratusan kelelawar yang bergelayutan namun tidak terlalu terlihat jelas tapi kita bisa mendengar kepakan sayap mereka. Sambil mengayuh, kapten mengingatkan kita untuk memperhatikan banyak batu tajam di atas kepala jadi kita disuruh tiarap atau menunduk sampai keluar dari gua dan tiba di lagoon. Lagoon ini tidak bisa dicapai apabila air sedang pasang tinggi karena mulut gua pasti tertutup air, namun beruntung kita hari itu air lagi ngga tinggi. Suasana di lagoon sepi dan sekeliling terdapat tebing tinggi yang ditumbuhi banyak pohon dan rumput hijau, dan di sekeliling lagoon cukup banyak pohon mangrove yang bisa dinaikin untuk sekedar berfoto. Kurang lebih 15 menit kita ada disini, kapten pun balik menuju gua untuk kembali ke kapal.

 

post-22151-0-52268200-1426654922_thumb.j post-22151-0-83066200-1426654937_thumb.j

 

Kita lanjut menuju ke lokasi berikutnya untuk naik kano lagi dan kali ini lagoon-nya lebih besar dan pemandangan di sekitar lagoon lebih bagus dibanding lokasi pertama, dan untungnya disini ngga ada monyet. Air laut agak burem dan dibanding Phi Phi memang kalah jernih, namun aktivitas kano ini sangat fun, terutama menyusuri gua dan masuk ke lagoon, dan setelah merapat ke pulau kecil, kita juga dikasi kesempatan untuk naik kano sendiri, jadi buat yang berani, boleh dicoba dan make sure laut ngga terlalu berombak karena buat pemula, ngayuh kano bisa agak berat kalo pas arus gede dan kalo panik bisa berabe :D

 

post-22151-0-28989300-1426654996_thumb.j post-22151-0-30108100-1426654969_thumb.j

post-22151-0-20393300-1426654950_thumb.j post-22151-0-96106000-1426654982_thumb.j

 

Sekitar jam 1 siang, semuanya diajak untuk naik ke kapal lagi dan makan siang sudah disiapkan. Sedikit catatan dan peringatan - kalo satu kapal dengan banyak turis China, mereka ini paling brutal kalo ngambil makanan jadi pastikan jangan malu-malu ngambil yang pengen kita ambil daripada nunggu abis dulu baru ambil lagi, dijamin udah ludes haha setelah makan, tujuan berikut kita menuju James Bond Island yang tersohor itu. Lokasi pulau James Bond ini tidak terlalu besar dan dipadati oleh ratusan turis setiap harinya. Sebetulnya cukup berfoto dengan papan James Bond dan background 'needle' yang terkenal itu sudah cukup karena toko souvenir disana ngga terlalu menarik dan juga rasanya percuma untuk naik ke atas bukit karena view tidak terlalu spektakuler.

 

post-22151-0-31874300-1426655008_thumb.j post-22151-0-08048700-1426655043_thumb.j

Cuaca sore itu agak sedikit mendung dan untungnya pas kita sampe disana, kita masih sempet berfoto-foto dulu sebelum hujan pun akhirnya turun. Untungnya hanya 20 menit hujan, cuaca kembali cerah dan matahari bersinar terik lagi. Sekitar jam 3 sore, acara kita sudah kelar dan kita kembali ke Phuket yang ditempuh dalam waktu 1 jam. Setelah tiba di Phuket, kita naik minibus dan diturunkan di Jungceylon Mall untuk bersantai sambil menunggu acara puncak, Thai-girl show haha

 

post-22151-0-90216600-1426655055_thumb.j

 

Jungceylon Mall ini sedikit mengingatkan kita akan Cihampelas Walk yang ada di Bandung dimana di bagian dalam banyak toko dan di luar tempat makan, dan jejeran kafe dan restoran ini agak sedikit mirip style-nya dengan Cilandak Town Square. Kita ngadem di dalam dan sekitar jam 6, kita mulai celingak-celinguk di luar mo nyari resto apa nih yang cocok buat dinner. Setelah muter 2 lap, akhirnya kita mutusin untuk secara random nyoba salah satu restoran disitu yang keliatannya menyediakan western sekaligus Thai menu, tapi apesnya steak yang saya pesan sama sekali tidak bisa dimakan karena keras dan memang ngga enak, namun untungnya Pad Thai kayanya lumayan, dan saladnya juga not bad. Ada kejadian mengagetkan pas kita makan, di samping kiri meja kita ada sepasang bule berumur 50an yang agak gemuk dan tiba-tiba si ibu yang badannya gendut jatuh dari kursi dan kepalanya terbentur di lantai. Para pelayan pada berhamburan untuk menolong dan kita curiga dia kena stroke ringan mungkin. Kasian juga dan kejadian itu mengingatkan kita untuk waspada dengan kesehatan, kalo perlu sebulan sebelum berangkat cek darah dulu untuk memastikan semuanya normal, daripada kejadian kaya gini kan bikin bete dan khawatir.

 

post-22151-0-30253400-1426655068_thumb.j post-22151-0-29999300-1426655083_thumb.j

 

Setelah perut kenyang, ngga berapa lama kita kontak Sononi dan nanya mengenai plan menuju lokasi show dan dia menjelaskan kalau kita akan dijemput oleh temannya yang memang kerja di club tersebut. Jadi kita nongkrong di depan dan 5 menit kemudian, orangnya datang dan ternyata lokasinya sangat dekat dengan Jungceylon, barangkali kalo jalan ngga sampe 10 menit. Club ini lokasinya sama tapi sempat berganti nama beberapa kali dan terakhir kita kesana, namanya WAKE CLUB, dan harga resmi show ini termasuk tinggi yaitu sekitar 2.500 THB tapi untungnya kita dapat harga 'orang dalam' dan udah di-include semuanya, ya barangkali satu orang sekitar 300rb-an. Kamera dan HP semuanya harus dititipin di depan karena kalo ketauan lagi video atau foto di dalam, pasti akan 'ditendang' ke luar haha

 

post-22151-0-33369500-1426655130_thumb.j

 

Show ini sangat unik, entertaining, sekaligus extreme karena nudity sudah pasti dan yang gilanya banyak akrobat-akrobat sinting dengan kemaluan jadi buat yang tadinya ragu-ragu untuk nonton, saya rekomen untuk coba karena selain ini cuma ada di Thailand, anggap saja ini entertainment show seperti nonton sirkus, jadi jangan lihat dari sisi negatif-nya, karena di dalam semua haha hehe untuk lucu-lucuan kok. Ini ada sedikit spoiler dan tips untuk rundown acara-nya tapi untuk yang belum pernah nonton dan pengen dapet surprise-nya, jangan dibaca ya :

** SPOILER ALERT **

Show dimulai sekitar jam 6 sore dan ada sekitar 12 adegan berbeda selama kurang lebih satu jam dan akan balik lagi ke ronde pertama dan akan diulang terus barangkali sampe jam 1 pagi. Biasanya setelah satu putaran selesai, akan ada 2 cewe yang datang membawa 'kotak sumbangan', ini ngga wajib tapi ngga ada salahnya untuk nyumbang sekitar 100 baht karena ini tips untuk tukang pel dan sapu arena. Para performers terdiri dari cowo tulen, cewe tulen, dan bencong tulen haha tapi untuk ladyboy ngga ketauan sampe mereka telanjang di tengah acara hihi. Secara bergantian akan ada striptease show, sex show, atraksi pukul tambur dengan Mr P, nembak balon dengan Miss V, main pingpong dengan Miss V (tapi yang lalu kita dapet yang ladyboy dan nembak pingpong pake pantat, mati deh hahaha), keluarin silet dari Miss V, dan yang kocak ada 2 adegan yang melibatkan penonton jadi make sure kalo ngga mau ditarik ke stage, jangan nongkrong di front row. Waktu itu kita ngakak pas ada 2 turis China yang diajak ke panggung dan dipelorotin celana, udah gitu ada yg diajak masuk ke bathtub dan dimandiin hihi ya seru aja dan biasanya pas masuk kita dibagi minuman, ya sebaiknya jangan minum daripada kebelet pipis, suasana di dalam rame banget dan kalo kita ke toilet, bisa-bisa tempat diambil orang lain.

Menurut Sononi, show di Wake Club ini yang terbaik karena di Bangla biasanya pendek, monoton dan terlalu banyak scam, jadi make sure untuk nonton disini tapi kalo bisa dapat 1/3 harga tiket lebih ok.

** SPOILER ALERT **

 

post-22151-0-95060600-1426655161_thumb.j post-22151-0-31301600-1426655180_thumb.j

 

Dari club ini, kita langsung balik ke hotel untuk istirahat sambil packing karena besok malam kita udah balik menuju Jakarta.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 5 - City Tour

Pagi ini diawali dengan mengunjungi Phuket City View Point yang terletak di atas bukit dan pemandangan kota dari atas ini cukup bagus. Kita bisa melihat laut Andaman di sebelah kiri, kota Phuket di depan, dan Big Buddha di sebelah kanan. Ada gazebo putih tempat berteduh kalau pas hujan dan di dekat situ, ada restoran kecil dan warung yang menjual berbagai macam snack, termasuk es krim home-made durian yang rasanya agak mirip dengan Musang King yang agak pahit sedikit. Kita menghabiskan waktu sekitar 30 menit di lokasi ini dan kemudian mampir sebentar di Wat Khao Rang. Di lokasi ini, Anda bisa mengambil foto Buddha yang sedang bertapa yang berukuran cukup besar dan di samping ini terdapat wihara dengan berbagai patung dewa.

 

post-22151-0-34575100-1426656298_thumb.j post-22151-0-43078600-1426656310_thumb.j

post-22151-0-94766700-1426656379_thumb.j post-22151-0-26225700-1426656504_thumb.j

 

Tujuan berikutnya adalah Phuket Old Town. Dulu daerah ini merupakan daerah Phuket yang paling ramai, namun sejak fokus keramaian berpindah ke Patong, bisa dibilang banyak hotel disini akhirnya tutup karena sangat sedikit turis yang mau tinggal disini. Memang sih untuk mampir sebentar oke, paling nyari restoran kecil untuk jajan atau sekedar ngopi, tapi lebih fun untuk tinggal di daerah Patong atau yang sepi sekalian di Karon. Nuansa bangunan tua dan jalan yang tidak terlalu sepi malah mengingatkan ke kota kecil seperti Cirebon haha.

 

post-22151-0-82118100-1426656517_thumb.j post-22151-0-08824700-1426656528_thumb.j

post-22151-0-64251700-1426656545_thumb.j

 

Setelah makan bakso di sekitar Old Town, kita mampir ke Phuket Trickeye Museum, dan tempat ini rekomen untuk didatangi karena fun dan banyak background photo yang unik dan lucu. Harga tiket masuk per orang sekitar 200rb dan umumnya 1 jam saja cukup. Buat yang sudah pernah datang ke Trickeye Museum di negara lain, boleh skip tempat ini dan langsung menuju ke Surin Beach atau Kamala Beach untuk bersantai. Kalau musim durian datang, boleh juga mampir ke salah satu pasar lokal karena biasanya harga durian pasti sangat murah. Sayang waktu pas kita datang Desember, durian lagi ngga musim, jadi di pasar yang dijual kebanyakan cuma nanas aja.

 

post-22151-0-00225400-1426656558_thumb.j post-22151-0-44611200-1426656570_thumb.j

post-22151-0-65640000-1426656580_thumb.j post-22151-0-38197000-1426656594_thumb.j

post-22151-0-48152100-1426656659_thumb.j post-22151-0-82359500-1426656668_thumb.j

post-22151-0-58226800-1426656679_thumb.j post-22151-0-43252600-1426656690_thumb.j

 

Setelah mampir di Surin dan Kamala, kita menuju ke salah satu viewpoint bagus dengan hamparan pemandangan pantai Kamala yang cantik. Deretan rumah yang dibangun di atas bukit disertai dengan belasan perahu yang terapung di atas pantai yang tenang bisa membuat Anda betah berlama-lama nongkrong disini. Sambil menunggu flight malam, kita akhirnya mampir dulu ke salah satu mall kecil di dekat airport untuk sekedar jajan dan makan malam, dan akhirnya kita dianter Sononi ke airport untuk balik ke Jakarta.

 

post-22151-0-18064100-1426656699_thumb.j post-22151-0-90788700-1426656712_thumb.j

post-22151-0-81549100-1426656746_thumb.j post-22151-0-20406700-1426656912_thumb.j

post-22151-0-98142400-1426656926_thumb.j

 

Kesan kita terhadap Phuket bisa dibilang 'better than expected' karena banyak yang mengcompare Phuket dengan Bali dan banyak turis asing yang lebih prefer Phuket dibanding Bali karena dianggap lebih teratur, lebih bersih, barang souvenir berkualitas bagus, dan taste makanan yang lebih cocok dengan lidah mereka. Menurut kita, masing-masing ada kelebihannya, dan tentunya yang paling menarik dari Bali adalah kultur-nya dan yang juara dari Phuket adalah pulau-pulau seperti Phi Phi dan Phang Nga Bay, juga tentunya nightlife yang unik dan extreme haha. Buat yang belum pernah ke Thailand dan pengen tau mana yang lebih oke untuk didatengin, sudah pasti Phuket lebih oke dibanding Bangkok, namun kalau mau liat dua2nya pastikan minimal punya 4 hari untuk explore Phuket dan pulau-pulaunya :)
 

* * *

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Nightrain

hahay PHUKET i love it 

gak tau saya pribadi gak pernah bosen kesini

tar april kesini lagi hahaha

kayak nya bakalan ke Phi Phi lagi deh kangen abis liat poto2 ini terakhir kesana dah lama 2012 :P

 

wah akhir nya ketemu mas @Sononi Noni ya asik orang nya dan saya suka minjem motornya buat keliling Phuket hehehe

 

City tour nya memang paling pas ending nya di Promthep Cape ya, pas datang kesana dapat sunset gak mas ?

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa

haha iya def, asik ke Phuket tapi lo balik lagi april ? berarti udah 3x ya ? hihi ngga explore tempat lain yg deket Thailand kaya Myanmar atau Kamboja ? nanti kapan2 gw balik lagi kesini mau coba Similan Island yg kata noni juga oke

iya waktu itu dia sempet ngomong lo naek motor sendirian keliling haha

 

waktu ke Prompthep kita atur pas siang mampir sebentar dan skip sunset soalnya acara kita agak padat, malamnya kita mau ke Fantasea :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa

seinget gw harga tiketnya segitu def tapi coba tanya noni nanti disana siapa tau bisa dapet harga miring

patung buddha yg tidur itu ? bukan di Kamala beach-nya tapi dekat situ, pokoknya ngga jauh sih rasanya tapi agak lupa nama daerahnya :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

wah bawaan-nya pengen ke phuket lagi, tapi kalau dilihat dari fotonya, airnya udah kgk sejernih dulu :(

btw, as always nice share :salut

 

kalo daerah Phang Nga Bay memang ngga jernih, cenderung ijo ya, kalo daerah Phi Phi gw bilang masih jernih banget kok, tapi katanya Similan lebih jernih lagi karena mungkin lebih sepi :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

kalo daerah Phang Nga Bay memang ngga jernih, cenderung ijo ya, kalo daerah Phi Phi gw bilang masih jernih banget kok, tapi katanya Similan lebih jernih lagi karena mungkin lebih sepi :)

dulu sih saya mampirnya ke Phi Phi Island, wah Similan lebih jernih yah !? lebih jauh dari Phi Phi yah?

 

@kyosash

kayak nya sebagian daerah nya masih biru air nya tapi kalo andaman sea memang terakhir saya ke Phuket udah banyak yang ijo

icic

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa

iya asik tuh, overall harga Sononi semuanya sangat reasonable, iya coba Wake Up club, deket dari Jungceylon, tapi kata noni mrk kadang suka ganti nama club mungkin biar berasa club baru haha tapi orang dan tempatnya ya maybe itu2 aja :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa

kemaren di sekitar Karon, ada satu tempat latihan surfing lucu juga, jadi semacam arena seperti skateboard gitu tapi ada semprotan air-nya haha barangkali karena di Phuket ga ada pantai surf ya, boleh iseng2 coba def hihi

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now


  • Similar Content

    • By Sari Suwito
      Kalau tidak salah ini kali ketiga saya mengunjungi Hatyai (pertama kali ke Hatyai tahun 2012 lalu yang kedua tahun 2013 hanya singgah sebentar sepulang dari Phuket). Di dua kali kunjungan sebelumnya saya belum sempat mengunjungi obyek wisatanya. Makanya kali ini sepulang dari Brunei Darussalam dan Kota Kinabalu, saya lanjut ke Hatyai selama dua hari. Hari pertama sampai sudah tengah hari jadi cuma istirahat di hotel dan keluar untuk makan siang dan malam saja. Hari kedua baru deh mau jalan-jalan half day tour Hatyai dan Songkhla.
      Untuk menuju obyek wisata di Hatyai dan Songkhla kita bisa menggunakan songthaew. Bagi yang pernah berkunjung ke Thailand pasti tidak asing dengan kendaran ini, sejenis pickup yang dimodifikasi dengan kursi panjang berhadapan. Untuk songthaew wisata terdapat gambar-gambar obyek wisata di bagian body mobilnya. Jadi ketika kita akan memesan kita tinggal tunjuk aja mau ke destinasi yang mana aja. Waktu itu saya naik songthaew dari depan Lee Garden Plaza, setelah nego dengan drivernya akhirnya dapat harga THB 600/orang.  
      Destinasi pertama adalah Samila Beach di Songkhla. Menempuh perjalanan sekitar 53 menit kalau lihat di google sih jaraknya sekitar 33,6 km. Dalam perjalanan menuju Songkhla saya perhatikan sedang berlangsung pembangunan jalan raya dan flyover di tepi kota Hatyai. Rupanya sejak terakhir kali saya ke Hatyai beberapa tahun lalu sekarang Hatyai sudah berbenah. Bahkan untuk imigrasi di perbatasan Malaysia - Hatyai pun sudah berubah lebih bagus. Dulu hanya seperti melewati pagar besi saja.

      Sekitar jam setengah sembilan sampailah saya di destinasi pertama di Samila Beach. Pantai dengan hamparan pasir putih dan deretan pohon cemara di pinggirnya. Di pantai ini terdapat patung putri duyung yang sedang duduk di atas batu di tepi pantai. Pagi itu tidak terlalu ramai jadi saya langsung aja deh berfoto dengan icon Golden mermaid. 

      Setelah itu saya berjalan ke arah taman yang berada di pinggir pantai. Disini terdapat patung kucing besar dan tikus. Cerita tentang patung tikus dan kucing ini bisa dibaca di batu prasasti di samping patung.

       
      Oh ya disini juga ada fasilitas kuda tunggang. Bagi yang ingin mencoba menunggang kuda, bisa menyewa kuda, harga kalau ga salah ingat THB 50/100 gitu dech.
      Di pantai ini juga terdapat kedai souvenier dan makanan/minuman. Bisa mampir sebentar untuk membeli minuman dingin dan cenderamata. Waktu itu sih saya beli air minum dan magnet kulkas. 
      Selanjutkan kami menuju destinasi berikutnya yaitu patung naga. Jaraknya tidak begitu jauh dari pantai samila, sekitar 15 menitan kali ya. Dalam perjalanan menuju lokasi saya sempat melihat ada seperti patung badan naga gitu deh. Entah apa maksudnya...mungkin ini nyambung ke kepala naga gitu ya. 


      Nah akhirnya sampailah saya di lokasi patung kepala naga. Kalau di batu prasasti sih ditulisnya The Great Serpent "Nag". Setting patungnya mirip seperti patung merlion di Singapura gitu. Dari dalam mulut naga keluar air mancur yang menyembur ke arah air laut. 

      Berdasarkan tulisan di batu prasasti ternyata patung naga ini di desain dibagi menjadi tiga bagian, bagian kepala naga sebagai simbol kecerdasan dan kebijaksanaan warga terdapat di Laem Son Orn, Suan Song Tale. Bagian perut naga simbol kekayaan kota terletak di Lan Chom Doaw, Sabua Laem Samila. Sedangkan bagian ekornya simbol karisma dan kekuatan masyarakatnya terdapat di area Samila Beach, Chalatad Road.
      Dalam perjalanan pulang dari lokasi patung kepala naga saya mampir ke Songkhla aquarium. Lokasi berada di antara patung naga dan pantai Samila. Harga tiket untuk orang asing, THB 200 untuk anak dan THB 300 untuk dewasa.

       
      Memasuki ruangan aquarium masih sepi, ya mungkin karena masih pagi banget bahkan sebagian lampu pun belum dihidupkan. Di bagian depan terdapat keterangan ekosistem di Thailand selatan, lalu di dinding terdapat entah replika atau asli ikan yang diawetkan gitu, antara lain leopard shark, spotted guitarfish, udang berukuran besar dan ikan pari. 
       
       
      Akuarium ini dibagi menjadi beberapa zona, antara lain zona A Freshwater fish, zona B Brackish fish, C marine fish dan terdapat satu tangki besar yang berisi aneka ikan (seperti di Sea World Ancol gitu dech). Kita bisa berjalan di bawah akuarium besar ini. Di jam-jam tertentu kita bisa nonton pertunjukan The Unseen Show.


      Dari Songkhla aquarium kami kembali ke Hatyai, nah dalam perjalanan kami singgah di beberapa spot wisata di kota Songkhla.
       
      Songkhla city wall 
      Saat ini hanya tersisa tembok sepanjang 114 meter, tinggi 5.5 meter dengan ketebalan 4 meter. Sebagian besar bata dan batu dinding pun sudah digunakan untuk paving jalanan kota Songkhla. 

       
      Di seberang Songkhla city wall ini terdapat Songkhla National Museum. Bangunan museum bergaya Chinese dengan dominasi warna putih dan merah. Sayangnya saat saya kesana museumnya sedang tutup. Jadi saya cuma berfoto-foto di depannya saja. Di bagian depan museum terdapat koleksi beberapa meriam tua, jangkar dan tiang kapal kali ya.

      Sebetulnya saya sempat googling kalau di Songkhla old town tedapat street art sejenis mural art gitu dech. Lalu sewaktu di pantai Samila saya sempat bilang ke driver songthaew (sambil nunjukin gambar dari google) untuk diantar ke lokasi street art di old town Songkhla. Drivernya bilang iya bisa nanti kita mampir dalam perjalanan menuju Hatyai. Tapi begitu pulang dari Songkhla city wall koq mobilnya jalan terus  tau-tau sudah masuk jalan besar arah Hatyai. Gagal deh foto-foto di mural artnya
      Dalam cuaca panas terik songthaew menuju ke arah Hatyai Municipal Park. Hatyai municipal Park ini lokasinya sekitar 5 km di pinggiran kota Hatyai. Areanya luas banget berada di perbukitan gitu. Selain lokasi wisata juga merupakan tempat ibadah para pemeluk agama Budha. 
      Saya tidak sempat main di lokasi taman-tamannya, jadi kami langsung menuju ke bagian paling atas bukit, ke kuil Four Faces Budha. 
       
      Four Faces Budha Temple (San Phra Phrom)
      Begitu memasuki area ini dekat tempat parkir songthaew terdapat dua patung gajah berwarna emas di kiri dan kanan jalan. 

      Naik sedikit ke bagian atas, terdapat patung gajah berkepala tiga disampingnya terdapat tangga dengan deretan lonceng besar di kiri kanannya.

       
      Memasuki area kuil, di bagian luar kuil four faces Budha terdapat banyak banget patung gajah berwarna emas. Di dalam kuil inilah terdapat patung four faces Budha, beberapa pemeluk agama Budha menyempatkan diri beribadah, bahkan disini terdapat para penari dan musik yang mengiringi selama ibadah. 


      Di pelataran kuil terdapat patung dewa, tempat pembakaran kertas-kertas perlengkapan ibadah gitu dech (saya ga tau apa itu namanya), lalu ada juga penjual burung-burung kecil. Sepertinya burung-burung kecil ini dibeli untuk kemudian didoakan dan kemudian dilepaskan sebagai rangkaian ibadah. 
      Oh ya disini terdapat stasiun cable car juga. Cable car ini menghubungkan antara kuil four faces Budha dengan kuil standing Budha. Bagi yang pengen nyoba bisa naik, tapi kalau saya sih kan sudah nyewa songthaew sih ga perlu lah, sayang duitnya. hahaha...
       

      Dari four faces Budha saya naik songthaew menuju ke kuil standing Budha. Nah sebelum sampai di Standing Budha Temple kami melewati bangunan Hatyai Planetarium. 

       
      Standing Budha Temple (Phra Budha Mongkol Maharaj) 
      Songthaew parkir di bagian depan kuil, lalu saya jalan kaki menuju ke bangunan kuil. Nah di samping kuil ini terdapat stasiun cable car yang terusan dari kuil Four Faces Budha tadi. 
      Saya kemudian menuju ke halaman depan kuil, di area bagian tengah kuil terdapat patung Budha berdiri berwarna emas dengan ketinggian sekitar 20 meter. Berat patung ini sekitar 200 ton. 

       
      Dari depan kuil ini kita bisa memandangi kota Hatyai, bahkan kita bisa melihat masjid besar Songkhla di sebelah kanan. 

      Di depan kuil Standing Budha ini terdapat tangga turun menuju ke area Laughing Budha dan Patung Dewi Kuan Yin. Lumayan capek juga menuruni tangga lalu disambung jalan kaki di jalanan pavingblock gitu deh saya nggah ngeh, tapi karena menuruni bukit jadi jalan agak melingkar jadi saya pun ambil jalan pintas dengan menuruni tanah yang lumayan licin sambil pegangan pepohonan.  

       
       
      Fat Laughing Budha
      Di sebelah kanan terdapat kuil pemujaan, lalu di bagian kiri terdapat patung Dewa dan diorama bergambar naga. Nah pas di ujung jalan terdapat patung Fat Laughing Budha. 

       
      Berjalan agak ke depan akan tampak mulut naga raksasa yang sekaligus berfungsi sebagai jalan untuk menuju ke area Bodhisattva Kuan Yin.  

       
      Di area ini terdapat beberapa patung disekitar bangungan utama. Sedangkan patung Dewi Kuan Yin berdiri di atas bangunan utama. Patung Dewi Kuan Yin berwarna putih menjulang setinggi 20 meter. Di sekeliling patung terdapat patung kecil-kecil berwarna putih juga. 

      Setelah merasa cukup melihat-lihat saya kembali menuju kuil Standing Budha, dan kali ini harus menaiki anak tangga yang lumayan menguras tenaga. Entah berapa kali saya berhenti karena kelelahan.  Ini efek karena penasaran dan ga baca review tentang lokasi tujuan.
      Tips: untuk lebih hemat tenaga tidak perlu menuruni/naik tangga yang di depan Standing Budha, kita bisa naik kendaraan sewaan kita untuk menuju ke area Patung Dewi Kuan Yin.  Jadi setelah foto-foto di sekeliling Standing Budha, kita kembali ke kendaraan kemudian kendaraan akan menuruni bukit menuju area patung Dewi Kuan Yin. Hemat tenaga dech. 
      Dari area Dewi Kuan Yin, kami menuju kota Hatyai. Siang itu udara lumayan panas membuat tenggorokan ikutan berasa kering dan haus. Sampai di kota Hatyai saya minta diturunkan di dekat Clock Tower. 

       
      Ini dia Songthaew yang membawa kami half day tour Hatyai + Songkhla.

       
      Di dekat Clock Tower ini terdapat pasar dan saya pun sekalian mampir untuk makan siang.
      Tadaaa menu makan siangnya....yummyyyy

       

       
      Setelah selesai makan baru deh saya berkeliling di pasar sambil beli oleh-oleh kemudian naik tuktuk untuk pulang ke hotel. Sekitar jam 3 sore saya check out dari hotel kemudian menuju ke agen bus yang tak jauh dari hotel untuk menuju ke Kuala Lumpur.
       
    • By Sari Suwito
      Kota Kinabalu atau biasa disebut KK dulunya dikenal dengan nama Jesselton. Maka tak heran jika pelabuhan tempat kami mendarat dari Labuan bernama Jesselton Point. Jesselton diambil dari nama gubernur dari Inggris yang pernah berkuasa disini yaitu Sir Charles Jessel. Oh ya, sewakatu kapal sudah mendekati pelabuhan dari dari atas kapal sudah tampak pemandangan yang menggugah selera, yaitu deretan tempat makan sea food di tepi laut. Hmmmm...jadi lapar.
      Meninggalkan pelabuhan Jesselton Point, bus berjalan melalui jalan yang berada di tepi pantai dimana sedang berlangsung pembangunan entah resort/mall. Tak lama kemudian kami memasuki wilayah Kota Kinabalu mulai tampak kemacetan di sepanjang jalan menuju ke hotel Winner, tempat kami menginap di daerah Jalan Pasar Baru – Kampung Air.  Di bawah ini view dari hotel tempat saya menginap.

       
      Setelah check ini dan beberes, sekitar jam 7 malam kami keluar untuk makan malam di Pasar Malam Sinsuran.  
       

       
      Pasar malam Sinsuran ini dekat dari penginapan kami jadi cukup berjalan kaki saja. Suasana pasar malam Sinsuran lumayan ramai pengunjung apalagi di jam makan malam seperti ini. Kedai makan lumayan berjubel. Aneka makanan bisa kita temukan disini, seperti: nasi campur, sea food, ayam panggang, ikan panggang, aneka camilan dan aneka minuman. Di Kota Kinabalu merasa sedikit lega karena makanan lumayan lebih murah dibandingkan di Brunei Darussalam.  Beli cendol di Brunei Darussalam harganya $1, di Kota Kinabalu cendol harganya RM 1. Kalo di kurs rupiah harga cendol di Brunei 3x lipat harga cendol di Kota Kinabalu. Hahaha...

      Salah satu gerai tempat kami makan malam

       
      Sudah selesai makan, tapi masih lapar mata, jadi jajan chicken wing dulu deh.

      Bagi yang mau shopping di sepanjang perjalanan dari Pasar Malam Sinsuran menuju hotel tempat kami menginap juga ada pasar malam yang menjual pakaian, aksesories dll.
                                                                                                   
      Hari kedua
      Setelah sarapan pagi kami pun berangkat menuju obyek wisata di kawasan luar Kota Kinabalu. Sekitar 1,5 jam perjalanan melintasi jalan yang menanjak, sampailah kami di Pekan Nabalu, Kota Belud. Ini merupakan salah satu spot untuk melihat gunung Kinabalu. Tapi sayang sekali sewaktu kami sampai lokasi ternyata gunung Kinabalu tertutup kabut yang lumayan tebal. Belum rejeki dech…

       

      Seperti obyek wisata pada umumnya, disini terdapat banyak gerai yang menjual aneka camilan, buah-buahan dan cenderamata. 
      Setelah menunggu beberapa saat ternyata kabutnya tak kunjung hilang. Jadi kami pun memilih untuk  melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya.
       
      Fish Spa di Sungai Moroli
      Tagal Sungai Moroli, Kampung Luanti Baru, Ranau ini merupakan pemenang  Malaysia River Care Award 2006. Tagal dalam Bahasa  Kadazan Dusun berarti “dilarang memancing” di aliran sungai Moroli. Sungai sepanjang 54 km ini dihuni oleh banyak ikan yang ukurannya lumayan besar. Untuk menjaga ekosistem sungai, maka penduduk dilarang memancing, menjala ataupun menangkap ikan sepanjang tahun. Hanya di bulan Mei penduduk diberi kesempatan untuk mengambil ikan dari sungai Moroli. 
       

       
      Di lokasi ini kita bisa fish spa langsung masuk ke dalam aliran sungai. Tetapi sayangnya saat itu air sungai sedang keruh karena tadi malam hujan. Untuk keselamatan pengunjung, aliran sungai dikasih pita pembatas agar pengunjung tetap berada di tepian sungai.
      Sebelum masuk ke aliran sungai kita bisa membeli pakan ikan terlebih dahulu. Jadi nanti begitu masuk ke dalam air sungai kita bisa taburkan pakan ikan di dekat kaki kita, maka ikan akan bergerombol di sekitar kaki. Nah disaat itu ikan juga akan mematuk kaki…hiiii geliii….
       

      Satu hal yang perlu diperhatikan adalah kita dilarang memegang ikan ataupun mengangkat ikan keluar dari air. 
      Sudah cukup ber-fish spa? Saatnya istirahat dengan menikmati camilan cempedak goreng,pisang goreng ataupun aneka durian yang di jual di kedai bagian depan fish spa. Harga durian mulai dari RM 6/kg.

      Dari Tagal, Kampung Luanti Baru kami melanjutkan perjalanan menuju Dataran Sayur Kundasang.

      Dataran Sayur Kundasang
      Kundasang adalah sebuah kota di distrik Ranau, Sabah. Kawasan ini dihuni oleh suku dusun asli yang merupakan salah satu kelompok penduduk asli Sabah. Daerah ini meliputi daerah pegunungan dan lembah dengan panorama yang indah. Selain itu Kundasang juga merupakan penghasil sayuran dan buah-buahan. Kita bisa membeli hasil pertanian warga Kundasang di Dataran Sayur Kundasang. Dataran sayur Kundasang ini kalau di Indonesia mirip lah seperti pasar buah dan sayur Brastagi. 

       

      Dataran sayur Kundasang terletak di pertigaan jalan, menempati area yang lumayan luas. Disini terdapat ratusan gerai yang menjual aneka sayuran dan buah-buahan. Jadi jangan heran kalau kita bakalan lapar mata ketika melihat aneka buah-buahan disini. Saya pun membeli aneka buah potong dan durian mini yang dalamnya berwarna kuning agak orens gitu.
       

      Di pertigaan jalan dan jalan lingkar yang tak jauh dari dataran sayur Kundasang terdapat dua icon sawi putih dan kol bulat sebagai symbol daerah ini merupakan daerah penghasil sayuran. Mirip di Brastagi juga sih ini. Hehehe…
       

      Sebetulanya di daerah Mesilau, Kundasang  juga terdapat Desa Dairy Farm (peternakan sapi perah), tapi kami saat itu tidak berkunjung kesana. 
      Dari Dataran Sayur Kundasang kami langsung kembali menuju Kota Kinabalu dan ternyata sepanjang perjalanan menuruni pegunungan Kinabalu cuaca hujan lebat. Kami akhirnya sampai di Kota Kinabalu sudah menjelang malam. 
       
      Hari ketiga
      Setelah sarapan pagi, merupakan waktunya free and easy. Saya berjalan-jalan di Sunday morning market lorong Pasar Baru yang berada di belakang hotel Winner, isinya ya para pelapak yang berjualan pakaian bekas / baru dan aneka aksesories. Dari sini saya berjalan menuju daerah Pasar Besar Kinabalu, saya masuk ke mall yang berlokasi di seberang Pasar Besar Kinabalu, karena masih pagi jadi belum banyak kedai yang buka, disini saya pun hanya melihat-lihat ke salah satu kedai yang menjual produk aksesories mutiara laut. Harganya lumayan mahal sih, jadi saya pun cuma melihat-lihat saja. 
      Keluar dari mall ini saya berjalan menuju ke food court Pasar Besar Kota Kinabalu, food court terletak di lantai 2. Pasar ini merupakan pasar basah (seperti pasar inpres gitu kalau di Indonesia) menjual aneka sayuran dan kebutuhan sehari-hari. Dan di bagian belakang pasar ini juga pasar ikan jadi jangan heran kalau disini suasananya ya bau amis ikan. Hehehe… 

      Walaupun begitu saya sempat memesan ABC (air buah campur) semacam es buah gitu deh. Ya ampun satu mangkuk isinya banyak banget, saya sampe ga habis.  

      Dari Pasar Besar Kinabalu kita bisa berjalan ke arah kiri, disini terdapat Philipino Market. Di pasar ini dijual aneka ikan asin, garam dan produk hasil laut lainnya. Walaupun begitu ada yang jual pakaian dan cendera mata juga koq. 
      Dari Philpino Market saya langsung kembali ke hotel untuk bersiap-siap check out.
      Setelah check out dari hotel kami makan siang di salah satu restaurant dalam perjalanan menuju ke Masjid Negeri Sabah untuk sholat Dzuhur. 
       
      Masjid Negeri Sabah
      Masjid ini terletak di Jalan Tunku Abdul Rahman, Sembulan, Kota Kinabalu. Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1970 dan selesai sepenuhnya pada tahun 1975.
      Struktur bangunan masjid ini merupakan perpaduan konsep timur tengah dan modern. Kubahnya yang megah berdesain pola sarang lebah berwarna keemasan menandakan kecemerlangan Islam di negeri Sabah. Di bagian kiri dan kanan terdapat 16 tiang berkubah kecil berwarna emas. Di lilitan setiap tiang ini dihiasi dengan potongan ayat suci Al Quran dengan tinta warna emas. Masjid ini memiliki satu menara setingi 215 kaki yang konsepnya diilhami oleh masjid di Istanbul dan Isfahan, melambangkan ketinggian dan kemuliaan Islam.   

      Masjid Negeri Sabah
      Masjid ini mempunyai serambi yang luas sehingga mampu memuat sekitar lima ribu jamaah. Tempat sholat perempuan terletak di lantai dua, bisa memuat hingga lima ratus jamaah. Masjid ini juga menyediakan ruangan untuk memandikan jenazah (masih jarang kita temui di Indonesia). 
      Masjid Negeri Sabah ini memiliki halaman dan area parkir yang luas, dan ketika saya berkunjung kesana di bagian belakang masjid sedang ada pembangunan (mungkin) sarana pendukung masjid.
      Setelah selesai sholat Dzhuhur di Masjid Negeri Sabah untuk mengisi waktu sebelum menuju Bandara Kota Kinabalu, kami mampir ke Imago. 
       
      IMAGO Shopping Mall
      Imago the mall terletak di  KK Times Square, merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Kota Kinabalu. Disini terdapat outlet produk-produk fashion branded dan restaurant franchise. Makanya tak heran jika banyak warga Brunei Darussalam yang datang ke Kota Kinabalu untuk shopping, khususnya di musim liburan sekolah atau ketika mall-mall mengadakan great sale karena tentu saja harganya lebih murah dibandingkan di Brunei. Disini juga terdapat kedai yang menjual oleh-oleh dan cenderamata. Waktu itu saya membeli magnet kulkas harga RM 4/pcs. Di lantai lower ground juga terdapat foodcourt, harganya lumayan ramah di kantong.

      Ketika saya kesini, sedang ada pertunjukan Kulintangan. Para penari juga mengajak pengunjung untuk memainkan kulintangan. 

       
      Saya menonton sampai pertunjukan selesai, kemudian di akhir pertunjukan ikut berfoto dengan salah satu penarinya.

       
      Sekitar jam empat sore kami meninggalkan imago untuk kemudian menuju ke Bandara Kota Kinabalu. Oh ya, kalau cuaca cerah Gunung Kinabalu bisa terlihat dari bagian depan Bandara lho. 

      Flight saya sebetulnya jam 8 malam, tetapi akhirnya pesawat kena delay sampai jam setengah sebelas malam, sepertinya dikarekan terjadi masalah teknis dengan pesawatnya. Jadi kami tiba di Kuala Lumpur sekitar jam setengah satu pagi.
       
      PS: Sebetulnya masih banyak lagi obyek wisata di Kota Kinabalu, tapi sayang karena keterbatasan waktu jadi belum sempat expolore pulau-pulau cantiknya. Bahkan saya pun belum sempat explore kotanya. Semoga suatu saat nanti ada kesempatan untuk kembali ke Kota Kinabalu.
       
    • By norma sofisa
      Halo apa kabar?
      Sudah lama nih, tidak menulis di Forum Jalan2.com.
      Kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman berkunjung ke Lisbon, Portugal.
      Merasa 'gerah' dengan udara dingin yang melanda Rotterdam pada akhir winter tahun ini, merupakan alasan yang tepat untuk melarikan diri sejenak ke Eropa Selatan. Kali ini pilihan saya jatuh ke Lisbon, satu kota yang cukup populer, ibukota dari negara Portugal.
      Berbekal tiket dari maskapai low cost (non) kesayangan, saya pun mendarat di Lisbon. Sayangnya, hari pertama tidak seindah bayangan. Awan gelap memayungi kota dengan suhu berkisar di angka 7 hingga 15 derajat. Tidak cukup hangat, mengingat Lisbon letaknya dekat dengan sungai yang muaranya mengarah ke Samudera Atlantik. Angin yang berhembus kencang mengharuskan saya untuk tetap berjaket agar badan tetap hangat.
      Saya cukup beruntung, beberapa jam setelah itu udara kian menghangat. Saya dan travelmate pun berjalan menyusuri jalan besar menuju pusat kota. Hotel yang kami tempati cukup dekat letaknya dengan sentral Lisbon. Jika berjalan kaki, kira - kira butuh waktu 10 hingga 15 menit.
      ]
      Sesuai dengan rekomendasi pamflet wisata Lisbon, tujuan pertama saya adalah Castelo S. Jorge, sebuah kastil Moor yang dibangun di puncak bukit São Jorge, yang merupakan salah satu tujuan turis di kota Lisbon (Sumber: Wikipedia). Matahari yang bersinar cerah, menaikkan semangat saya untuk naik menyusuri tangga ke arah kastil.
      Capek?
      Pastinya! Saya cukup kaget dengan anak tangga pertama yang cukup menukik. Tak ingin kalah dengan beberapa nenek di belakang, saya pun mempercepat langkah sambil berharap anak tangga ini segera berakhir.
      Bukit São Jorge merupakan kawasan pemukiman yang padat. Setelah anak tangga tadi, saya menyusuri jalanan dengan rumah - rumah penduduk di kanan dan kirinya. Beberapa hotel dan restoran kecil pun saya jumpai. Satu hal yang menggelitik adalah banyaknya jemuran pakaian yang tergantung di balkon - balkon rumah. Geli juga ketika mendapati beberapa pakaian dalam ikut terpajang disana.

      Pemandangan mengagumkan dari Kastil São Jorge
      Tak butuh lama dan perjuangan berat untuk sampai ke atas bukit. Tangga awal tadi adalah bagian terberat, selanjutnya hanya jalanan yang menanjak hingga pintu masuk kastil.
      Sesampainya di kastil, saya langsung mengantri untuk membeli tiket. Awalnya, antrian terlihat mengular panjang dan sempat membuat malas, namun ternyata ada tiga petugas loket, sehingga waktu antri pun lumayan cepat.
      Masuk ke kastil, hampir seluruh pengunjung langsung menghambur ke arah halaman. Dari titik ini, saya dapat melihat pemandangan kota Lisbon yang cantik dari atas bukit yang mengarah ke Sungai Tagus. Tampak dari jauh, rumah bercat warna - warni dan beberapa titik yang penuh dengan orang.
      Saya menduga bahwa kastil ini dahulu dipakai juga sebagai benteng pertahanan untuk mengawasi pergerakan musuh yang datang dari arah sungai. Di beberapa titik juga ditemukan meriam - meriam tua yang tampak masih kokoh.
      Karena cuaca yang tidak terlalu panas, saya pun naik ke benteng kastil. Tangga naik cukup curam dan licin, membuat saya harus berhati - hati. Ada beberapa bagian jalan yang hanya bisa dilewati satu arah sehingga saya harus berhenti dan memberikan kesempatan pengunjung dari arah berlawanan untuk lewat.
      Pemandangan dari beberapa titik di puncak benteng kastil memang tidak diragukan lagi. Bahkan patung Jesus di seberang sungai pun bisa dilihat semakin jelas. Beberapa bangunan dari bukit sebelah pun tampak lebih dekat.
      Uniknya lagi, kastil ini memelihara beberapa ekor burung merak jantan yang bulunya sangat indah. Mereka sering berlalu lalang di dekat pengunjung. Meskipun begitu, mereka ini tidak dapat dielus atau dipegang dengan mudah. Bahkan, jika mereka sadar sedang difoto langsung deh cepat - cepat kabur. Para pengunjung tentu saja tak mau kalah. Sebelum mendapatkan foto yang bagus, mereka tidak akan menyerah untuk mengejar. Saya pun termasuk di dalamnya. Lucu kalau diingat - ingat lagi.

      Dikarenakan topografi permukaan Lisbon yang cukup bergelombang, sebagai turis kita harus siap untuk berjalan naik turun bukit. Nah, bagi kamu yang memiliki keterbatasan fisik dan tenaga, ada alternatif lain jika tidak ingin berjalan kaki mengunjungi spot - spot wisata di Lisbon, yaitu dengan membayar paket transportasi khusus dengan tram, bus, maupun tuk-tuk yang tarifnya mulai dari 12 Euro hingga 26 Euro. Dengan membayar paket tersebut, kamu bisa dengan bebas menaiki tram klasik tipikal Lisbon, yang warnanya kuning atau merah. Jika kamu memilih paket lengkap pun, kamu bisa dengan bebas menaiki tuk-tuk atau ojek bemo yang juga terafiliasi dengan penyedia jasa transportasi.
      Oh ya, berdasarkan pengalaman, jika ingin pergi suatu tempat ke tempat lain di Lisbon, sebaiknya mengikuti arahan dari Google maps. Satu pengalaman saya, karena merasa tahu jalan, tidak mengikuti Gmaps dan malah berimprovisasi. Alhasil, kami harus naik bukit lagi dan berjalan lebih jauh. Beberapa jalanan di Lisbon memang sedikit rumit, namun sangat menantang nan menarik untuk ditelusuri. Kami menyebutnya treking di tengah kota hehe..
      Lalu gimana sih kuliner dan makanan khas di Lisbon?
      Tunggu di bagian kedua ya..
      Terima kasih dan semoga bermanfaat.
      Tulisan ini bisa dibaca juga di https://wp.me/p7BvKH-6T
    • By Sari Suwito
      Melanjutkan tulisan sebelumnya setelah dua hari di Brunei, kami akan melanjutkan perjalanan ke Kota Kinabalu (Malaysia).
      Pagi-pagi kami sudah bersiap-siap untuk check out hotel kemudian kami menuju ke Terminal Feri Serasa di Muara. Jarak  menuju ke Terminal Feri Serasa sekitar 25 km, ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit. Oh ya,selain terminal ferry penumpang disini juga terdapat terminal peti kemas, jadi selama perjalanan kita akan sering berpapasan dengan truck container sehingga perjalanan jadi agak lambat.
      Ketika kami sampai terminal feri Serasa karena bus yang kami sewa ukuran besar jadi tidak bisa masuk ke halaman terminal, terpaksa deh kami turun di depan pintu gerbang dan membawa koper masing-masing. 
       

      Karena tidak sempat sarapan di hotel maka kami pun akhirnya sarapan di cafe yang berada di sebelah pintu kedatangan terminal feri Serasa. 
      Note: Kalau mau  naik transportasi umum /bus dari Bandar Seri Begawan bisa naik bus nomer 39 menuju ke Terminal Muara, lalu dari Terminal Muara lanjut naik bus nomer 33 menuju Terminal Feri Serasa. Ongkos bus $1 per trip.
      Sekitar jam 9 kami bersiap untuk masuk ke dalam ferry. Oh ya untuk masuk ke dalam ferry ini kita melewati imigrasi Brunei secara kami akan melakukan perjalanan menuju ke Labuan (Malaysia) yang kemudian dilanjutkan ke Kota Kinabalu. Saat itu imigrasi lengang karena hanya ada satu ferry yang akan berangkat. Setiap penumpang disuruh buka koper untuk dilihat isinya satu persatu, segala tempat kosmetik, underware organizer, handbag, semua diperiksa. Mungkin juga dikarenakan disini tidak ada mesin x-ray. 
      Setelah selesai proses imigrasi kami pun menuju ke dermaga ferry. Kami menaiki Ferry Shuttle Hope untuk menuju Labuan. Awak kapal akan menyambut kita dan menanyakan barang bawaan akan dibawa naik atau ditinggal di bawah saja? Kalau di tinggal dibawah makan petugas akan menempatkan koper kita di bagian ujung kapal dekat pintu turun dari kapal ferry. Setelah menyerahkan koper, saya naik ke lantai dua ferry.

       
      Harga ket ferry Shuttle Hope adalah $15/orang dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 40 menit. Saya memilih duduk di dalam ruangan ber-AC di lantai 2 dan ternyata ACnya dinginnya minta ampun. Oh ya sebelum ferry berlayar, di TV ditayangkan doa naik kapal terlebih dahulu. Mungkin ini sudah menjadi SOP Brunei Ferry ya, biar perjalanannya aman dan lancar.

       
      Begitu ferry sudah berlayar dari atas ferry kita bisa menikmnati angin sepoi-sepoi di geladak atau bisa juga duduk manis di ruang utama sambil nonton film box office yang diputar di TV. Di dalam ferry juga terdapai kedai makanan, kalau lapar bisa beli snack dan minuman. Di kapal ini juga terdapat toilet yang lumayan bersih, di lantai dua bagian belakang kapal.
      Seteleh beberapa saat kapal berlayar kita akan menyaksikan pemandangan begitu banyak kilang minyak di lautan Brunei, gimana negara ini ga kaya ya, itu kilang minyak di laut banyak bangeett. 
      Saya juga melihat beberapa kapal besar yang dilengkapi dengan alat berat atau crane serta helipad. Baru kali ini saya lihat kapal segede itu. Hahaha…
       
       

       
      Sekitar jam 11an, kapal ferry sudah mendekati dermaga Labuan. Dari atas ferry sudah kelihatan deh gedung terminal ferry wilayah persekutuan Labuan. 
       

       
      Setelah turun dari kapal ferry kami langsung menuju ke gedung terminal ferry lalu menuju ke mesin x-ray untuk scan barang bawaan kita kemudian menuju counter imigrasi Malaysia untuk chop paspor. Setelah selesai chop paspor kami berjalan menuju ke rumah makan untuk makan siang. Kami makan di rumah makan yang berada di depan Terminal Feri Antarbangsa Labuan sekitar 300 meter kali kami berjalan di bawah  rintik hujan.

       
      Setelah selesai makan kami segera menuju ke Terminal Feri Antarbangsa Labuan. Terminal ferry Labuan ini lumayan ramai, di bagian depan terdapat banyak stand yang menjual aneka barang dan souvenier. Karena sudah dekat dengan jadwal keberangkatan kapal, jadi kami tak perlu menunggu di boarding room, kami langsung menuju ke kapal yang sudah bersandar di dermaga. 

       
      Kami naik kapal LBN Express Tiga untuk tujuan ke Kota Kinabalu, kapal ini mempunyai dua kelas, yaitu kelas ekonomi dan kelas eksekutif. Untuk kelas eksekutif harga tiket RM 44/orang. Perjalanan menuju Kota Kinabalu memakan waktu sekitar 3,5 jam. Jadi bisa tidur dulu deh di dalam kapal, karena ini kapalnya seperti speed boat jadi kita ga bisa berdiri di geladak kapal, cukup menikmati pemandangan dari balik jendela saja. Tapi kalau kita duduk di kelas ekonomi, ga bisa deh lihat pemandangan luar karena posisi berada di lantai bawah.
      Sekitar jam setengah lima, akhirnya sampailah kami di terminal ferry Jesselton Point. Setelah semua peserta sudah turun dari kapal ferry kami pun segera keluar terminal. Rupanya bus sudah menunggu kami di sebelah kanan pintu keluar Jesselton point, setelah semua peserta naik bus, kami pun berangkat untuk menuju hotel tempat kami menginap di kawasan Lorong Pasar Baru, Kampung Air. 
       

       
      **Sebetulnya bisa juga naik bus dari Bandar Seri Begawan menuju Kota Kinabalu, tetapi jadwal keberangkatannya hanya  satu kali setiap harinya yaitu sekitar jam 8 pagi. Lama perjalanan sekitar 8 jam (kalau ga salah ya).  Kalau ada budget lebih ya paling cepat naik pesawat. Hehehe...
       
       
    • By Sari Suwito
      Hai...haiii..haiiiiii
      Widiiiih lama banget saya ga nongol di forum...
      Ok, baiklah saya akan share FR saya beberapa bulan lalu ketika melawat Brunei Darussalam. Mungkin sudah agak basi kali ya, tapi semoga bermanfaat buat teman2
      .
      Brunei Darusalam adalah sudah masuk dalam wishlist trip saya, tapi baru kesampaian di tahun 2018 ini. Brunei Darussalam merupakan negara ASEAN ke-5 yang saya kunjungi (Indonesia tidak termasuk hitungan ya).  Berhubung saya tinggal di Yogyakarta jadi saya memilih untuk terbang dengan Air Asia ke Brunei melalui Bandara Soekarno Hatta kemudian transit di Kuala Lumpur. Saya tiba di Brunei sekitar jam 8 pagi waktu setempat. Dari airport kami langsung menuju obyek wisata di kota Bandar Seri Begawan.
       

       
      Obyek wisata apa saja yang saya kunjungi selama di Brunei Darussalam? Yuk, simak catatan perjalanan saya selama di Brunei Darussalam.
      Hari Pertama
      1.The Royal Regalia Building 
      The Royal Regalia Museum atau Museum Alat Kebesaran Diraja terletak di Jalan Sultan Omar Ali Saifuddien, Bandar Seri Begawan. Bangunan museum berbentuk kubah besar yang dilengkapi dengan mozaik yang cantik dan bagian dalamnya menggunakan marmer dan karpet yang mewah. Pengunjung diwajibkan menanggalkan sepatu di luar dan hanya diperbolehkan memakai sandal yang sudah disediakan ataupun tanpa alas kaki saja kalau tidak kebagian jatah sandal. Pengunjung diwajibkan meletakkan tas, handphone, kamera dan barang bawaan lainya di loker yang sudah disediakan di bagian depan museum. Setelah itu baru kita diperbolehkan masuk ke ruangan pamer museum. 
       

       
      Museum ini memiliki beberapa galeri, antara lain;
       Royal Regalia Exhibition  Royal Exhibition Hall  Silver Jubilee Exhibition Hall   Jubilee Theatre  Constitutional Exhibition Hall  Royal Lounge  Souvenier / Refreshment Lounge           Memasuki ruangan galeri museum kita bisa melihat foto silsilah keluarga Sultan Brunei, dan di dinding tercantum nama lengkap dan gelar untuk Sultan Hassanal Bolkiah, panjang banget lho. Lalu kita berjalan menuju ke bagian koleksi pribadi Sultan Brunei yang berupa pakaian kebesaran Sultan, perhiasan, cendera mata dari negara sahabat.  
      Selanjutkan kita akan menuju ruang pamer peringatan perayaan 25 tahun pemerintahan Sultan Hassanal Bolkiah. Di ruangan ini terdapat replika kemegahan acara perayaan Silver Jubilee dengan patung manekin tanpa kepala yang menggambarkan pasukan yang mengiringi kereta yang dinaiki Sultan Hassanal Bolkiah dan di sekelilingnya terdapat poster bergambar rakyat yang menonton iringan perayaan 25 taun pemerintahan Sultan.

       
       
      2. Masjid Omar Ali Saifuddien 
      Masjid Omar Ali Saifuddien merupakan masjid kerajaan Kesultanan Brunei yang terletak di Bandar Seri Begawan, tak jauh dari The Royal Regalia Building.  Arsitektur masjid ini memadukan arsitektur Mughal Islam dan Italia, membuat masjid ini menjadi salah satu masjid yang paling mengagumkan di Asia Pasifik. 
       

      Masjid ini memiliki menara marmer dengan kubah emas, dilengkapi dengan taman yang indah dan air mancur. Di samping masjid terdapat replika perahu Mahligai Kerajaan milik Sultan yang memerintah pada abad ke-16. Bangunan ini juga digunakan sebagai panggung Musabaqah Tilawatil Quran pada akhir tahun 1960 hingga awal tahun 1970.
      Di bagian kiri masjid terdapat Perpuspaan main gate 1968, disini juga terdapat taman dan air mancur yang cocok juga untuk berfoto.
       

      Sayang sekali waktu itu kami hanya foto stop di luar masjid dan cuaca yang panas membuat kami tidak bisa berlama-lama karena kami akan melanjutkan untuk makan siang.
      Kami makan siang di restoran yang terletak di kawasan Tarindak D’Seni yang berseberangan dengan Kampong Ayer. Dari restoran  tempat kami makan siang kami bisa melihat pemandangan Kampong Ayer dan Jembatan Raja Isteri Pengiran Anak Hajah Saleha. Jembatan ini disebut juga Jembatan Sungai Kebun. Jembatan ini  menghubungkan Bandar Seri Begawan dan Kampung Sungai Kebun.
       

      Setelah selesai makan siang kami melanjutkan ke destinasi berikutnya yaitu Istana Nurul Iman.
       
      3. Istana Nurul Iman
      Istana Nurul Iman terletak di tepi sungai dengan bukit yang hijau di tepi sungai Brunei, beberapa kilometer selatan Bandar Seri Begawan. Istana Nurul Iman merupakan kediaman resmi Sultan Brunei dan keluarganya serta merupakan pusat pemerintahan Brunei. Istana Nurul Iman merupakan istana terbesar di dunia, memiliki 1.788 ruangan, termasuk 257 kamar mandi. Dan di dalamnya terdapat ballroom yang mampu menampung hingga lima ribu tamu. Di dalam istana ini juga terdapat garasi yang berisi ratusan mobil koleksi Sultan Brunei.  
       

      Istana hanya dibuka untuk umum pada hari Raya Idul Fitri, dimana Sultan akan mengadakan open house selama 3 hari.  Jadi kami hanya bisa photo stop di depan Istana saja.

       
      4. Mercu Dirgahayu 60
      Mercu Dirgahayu 60 (dalam angka arab) berwarna emas ini merupakan monument untuk memperingati hari ulang Sultan Hassanal Bolkiah ke 60 tahun. Mercu Dirgahayu 60 terletak di waterfront Kampung Ayer. 

       
      Tak jauh dari Mercu ini terdapat dermaga taxi air untuk menuju ke Kampong Ayer. Wisatawan pun bisa naik taxi air dari sini untuk berkeliling di Kampong Ayer.
       

       
      Kampong Ayer adalah perkampungan terapung yang merupakan cikal bakal Bandar Seri Begawan.  Kampong Ayer merupakan perkampungan terapung yang terbesar di dunia, luasnya sekitar 10 km persegi, terdiri 42 kampung dan dihuni oleh 20ribu orang penduduk. Kampong Ayer juga memiliki fasilitas yang lengkap seperti: air bersih, listrik, sekolah, masjid, klinik, dan fasilitas lainnya. Bagi penduduk Kampong Ayer yang memiliki mobil, mereka akan memarkir mobil mereka di tepi jalanan seberang Kampong Ayer, kemudian mereka pulang ke rumah menggunakan taxi air.
      Sebetulnya di dekat kawasan Mercu Dirgahayu 60 juga terdapat beberapa perahu yang menawarkan wisata ke kampung ayer, tapi menurut guide  harus hati-hati supaya tidak kena scam. Guide sempat menawarkan siapa yang mau keliling kampung ayer bisa dikoordinasikan.  Tapi kami memutuskan untuk segera menuju hotel supaya bisa istirahat, secara kami sudah lelah setelah perjalanan panjang dan flight di awal pagi.
    • By Sari Suwito
      Melanjutkan tulisan sebelumnya, pada hari kedua di Brunei kami mengunjungi berbagai obyek wisata di Kota Bandar Seri Begawan dan Brunei Muara.
      Setelah sarapan kami langsung menuju ke obyek wisata pertama yaitu Masjid Jame’ Asr Hassanil Bolkiah.
       
      1.Masjid Jame’ Asr  Hassanil Bolkiah
      Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah merupakan satu dari dua masjid besar di Bandar Seri Begawan. Masjid besar satunya yaitu Masjid Omar Ali Saifuddien yang sudah saya kunjungi pada hari pertama di Brunei. Masjid Jame’ Asr Hassanil Bolkiah merupakan wakaf dari Sultan Hassanal Bolkiah dan menurut guide kami tidak diketahui berapa total biaya yang digelontorkan untuk membangun masjid ini karena semua biaya ditanggung oleh Sultan Brunei.  Masjid ini memiliki 29 kubah emas, 2 kubah emas besar dan 27 buah kecil. Dua puluh Sembilan kubah mengandung arti Sultan Hassanal Bolkiah yang membangun masjid ini merupakan Sultan Brunei yang ke-29. Masjid ini juga memiliki 4 menara dengan ketinggian 58 meter.

      Hari Kamis dan Jumat masjid tidak menerima kunjungan turis, jadi kami pun masuk ke masjid dengan tujuan untuk sholat dhuha. Kan setelah sholat juga bisa sambal melihat-lihat bagian dalam masjid. Oh ya di masjid ini terdapat larangan berfoto/memotret bagian dalam masjid. Jadi ya saya pun cukup menikmati keindahan bagian dalam masjid dengan lensa mata saja. 

      Tempat wudhu wanita lumayan luas dan tersedia banyak kran untuk wudhu, jadi tak perlu lah sampe antri untuk ambil wudhu. Ruang sholat wanita terletak di lantai dua, ruangannya luas dan nyaman berAC. Bahkan karpetnya tebal dan nyaman, ternyata menurut guide karpet masjid ini terbuat dari kapas berkualitas tinggi dari New Zealand dan karpetnya diproduksi di Thailand. Di dinding masjid bagian atas terdapat kaligrafi berwarna emas. Juga terdapat lampu gantung Kristal yang dilapisi emas berasal dari Austria.
      Setelah selesai sholat saya melanjutkan melihat-lihat dan berfoto di bagian luar masjid. Di bagian depan masjid terdapat pilar-pilar yang terbuat dari Blue Marble dan lmapu gantung yang cantik.  
       

      Di bagian kanan  masjid terdapat tangga melingkar berwarna putih dan terdapat escalator di bagian tengah.
      Masjid ini mempunyai taman dan tempat parkir yang luas.  Di bagian depan taman terdapat deretan pohon palem dan air mancur. 
       
      2.Darul ‘Ifta Building – Gedung Galeri Islam Brunei
      Kami hanya photo stop disini, jadi tidak masuk ke dalam gedungnya. Disini terdapat dua gedung, di gedung lama yang juga masih aktif terdapat perpustakaan Islam Brunei. Perpustakaan ini juga mengkoleksi mushaf Al Quran ukuran mini.
       

      Sedangkan gedung yang baru lebih megah dan besar masih dalam tahap penyelesaian. Rencana gedung ini akan menjadi Gedung Galeri Islam Brunei.
       

       
      3. Masjid Hassanal Bolkiah Kampung Mentiri
      Masjid Hassanal Bolkiah Kampung Mentiri terletak di Kampung Mentiri, Brunei Muara. Masjid ini dibangun atas perintah langsung dari Sultan Hassanal Bolkiah pada 10 April 2017 untuk menggantikan Masjid Rancangan Perumahan Negara Kampung Mentiri yang habis terbakar pada 5 April 2017. Pelaksanaan pembangunan Masjid Hassanal Bolkiah Kampung Mentiri dimulai pada 2 Mei 2017 dan selesai sepenuhnya pada 19 Juni 2017, jadi masa pengerjaan masjid hanya 49 hari saja. Amazing yaaa…
       

       
      Masjid Hassanal Bolkiah diresmikan oleh Sultan Hassanal Bolkiah dan sekaligus dipakai untuk sholat jumat pada tanggal 23 Juni 2017. Masjid ini bisa menampung sekitar 3500 jamaah. Masjid ini juga merupakan pusat kegiatan keagamaan, jadi di masjid ini terdapat banyak ruangan sesuai untuk peruntukannya, seperti ruang meeting/menerima tamu, ruang makan/untuk menjamu tamu, pantry dan lain-lain.
      Disini kami diijinkan berfoto/memfoto bagian dalam masjid.

       

                               
       
      4. Malay Technology Museum / Museum Teknologi Melayu
      Museum Teknologi Melayu terletak di Simpang 482, Kampung Kota Btu, Brunei Darusalam. Bangunan museum ini merupakan sumbangan dari perusahaan Royal Dutch/Shell Group pada saat kemerdekaan Negara ini pada tahun1984. Museum ini dibuka secara resmi pada tanggal 29 Februari 1988. Untuk masuk ke museum ini tidak dipungut biaya alias gratis. 
       

      Malay Technology Museum menampilkan teknologi dan diorama sejarah peradaban masyarakat melayu Brunei pada jaman dahulu.
       
      Display museum terbagi dalam galeri utama yaitu:
      1   1. Ruangan yang berisi diorama miniature bentuk rumah di Kampong Ayer pada akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20. Selain itu juga terdapat beberapa jenis perahu seperti perahu layar yang digunakan untuk pengangkutan  jarak jauh, dan menangkap ikan di pesisir laut, serta perahu gubang yang digunakan untuk transportasi antar rumah, serta perahu yang dipakai untuk menjual barang dagangan.  
          
       
           2. Ruangan yang berisi diorama teknologi tradisi masyarakat di Kampong Ayer pada jaman dahulu, seperti, menjala ikan, membuat perahu, pasar terapung, membuat perkakas rumah, menenun kain,  pandai besi tembaga, emas dan perak.
       

       
           3. Ruangan yang berada di lantai atas, berisi diorama miniatur rumah dan aktifitas masyarakat yang tinggal di daratan seperti suku Dayak dan Kadasan Dusun. Aktifitasnya antara lain: menganyam rotan, membuat gula dan mengolah sagu.

       
      Salah satu keunikan dari tangga spiral menuju ke lantai dua ini juga terdapat art work berbentuk seperti rencengan lampu.

       
      Setelah selesai berkeliling museum, kami pun melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kota Bandar Seri Begawan. Oh ya tak jauh dari Museum Teknologi Melayu ini terdapat Museum Brunei, tapi saat itu sedang renovasi jadi kami hanya lewat saja.

      Setelah sampai di kota Bandar Seri Begawan sudah sore hari, kami menuju ke Pasar Pelbagai Barangan Gadong.
       
      5. Pasar Pelbagai Barangan Gadong
      Pasar ini seperti night market, buka mulai jam 4 sore sampai jam 8 atau 10 malam gitu. Bangunan Pasar Gadong lumayan besar, terdiri dari 3 blok dengan . Di seberang pasar ini juga terdapat seperti open air market gitu tapi sepi kalau sore. Nah disini terdapat mushola jadi kalau tiba waktu sholat maghrib pengunjung Pasar Gadong bisa sholat disini.

      Di Pasar Gadong kita bisa menemukan aneka makanan dan minuman, buah-buahan dan ada beberapa stand yang menjual pakaian. Bangunan pasar lumayan luas, bersih dan nyaman. Selain itu juga tersedia meja dan kursi jika kita ingin duduk menikmati makanan/minuman yang sudah kita beli. Kebanyakan warga Brunei yang bekerja akan mampir ke pasar ini membeli makanan untuk makan malam di rumah.

       
      Disini saya membeli aneka buah-buahan dan durian kupas. Ketika saya sedang makan buah di meja dekat penjual durian, ada sepasang suami istri yang sedang membeli durian lalu mereka numpang di meja saya untuk membuka dan meletakkan durian ke dalam kotak makanan yang sudah dibawanya. Nah sambil meletakkan durian ke kotak si bapak dan ibunya mengajak kami ngobrol, bertanya kami datang dari mana? sudah berapa lama di Brunei? Eeh, tak lama kemudian si ibunya membagi kami separuh durian (sepertinya durian musang king), kami pun berterima kasih plus  basa-basi kok banyak banget kasih duriannya. Kemudian sebelum mereka pulang mereka pun memberi kami 1 pack durian kuning. Ya Allah…rejeki nomplok nich.

       
       
      6. Shopping time di  Happy Star and The Mall
      Tujuan pertama saya yaitu mencari magnet kulkas, nah saya akhirnya menuju ke toko Happy Star, berada di deretan ruko yang tak jauh dari The Mall. 
       

       
       
      Di toko ini saya membeli magnet kulkas harga $ 10 dapat 3 pcs dan kaos I Love Brunei seharga $ 12.90. Gileee mahal banget, padahal mah bahannya juga biasa aja. Setelah selesai membeli souvenier saya pun menuju The Mall, karena memang penduduk Brunei tidak banyak jadi mall pun tidak terlalu ramai pengunjung. Saya pun cuma melihat-lihat saja, tak membeli apapun, secara harga di Brunei lumayan mahal jadi sayang uangnya lah kalau mau belanja.  
      Dari The Mall kami pun menuju ke restoaran untuk makan malam kemudian kembali ke hotel untuk beristirahat.
      Oh iya, kebetulan kami menginap di Hotel Jubilee, nah di dekat hotel terdapat Teng Yun Temple. Seperti pada umumnya kelenteng ini berwarna merah, kontras dengan bangunan di sekitarnya, bahkan di bagian belakang dan samping Teng Yun temple berdiri bangunan gedung yang megah dan tinggi.