Nightrain

Akhir Tahun Di Phuket Yang Menyenangkan ( Panduan Ke Phuket Lengkap )

29 posts in this topic

Phuket, 10 - 14 December 2015

 

post-22151-0-16511600-1426650719_thumb.j

 

Awal sampai pertengahan Desember merupakan waktu yang tepat untuk mengunjungi Phuket karena musim hujan sudah berakhir di awal November dan kondisi laut cenderung tenang sehingga memungkinkan untuk menyeberang ke Phi Phi dan Phang Nga Bay dengan aman. Namun usahakan jangan pergi akhir Desember karena Phuket sudah memasuki high season, selain akomodasi yang mahal, kalau pantai, kafe, dan toko terlalu padat jadinya kurang nyaman juga.

2 minggu sebelum berangkat, kita sudah janjian dengan mas Warsono alias @Sononi Noni untuk menjadi tour guide kita sekaligus menyiapkan mobil agar kita keliling kota jadi gampang dan efisien, apalagi kita memang ngajak papa mertua untuk jalan dan kakinya sudah sakit untuk berjalan terlalu jauh. Overall, servis Sononi memuaskan dan kita rekomen untuk temen-temen yang mau ke Phuket karena selain dia memang asli orang Indo jadi ngobrolnya gampang dan asik, dia juga kenal dengan berbagai operator tur dan show jadi harga yang didapat bisa lebih murah jauh ketimbang langsung beli on the spot.


Day 1 - Patong

Kita tiba di bandara sudah jam 8 malam dan ruangan imigrasi sudah sangat padat dengan turis dari berbagai negara. Kerja para petugas agak lelet, bahkan mungkin lebih lama dari Indo, dan baru belakangan kita tau kalo ternyata di Thailand pun masih umum praktek sogok-menyogok, jadi kalau berani keluarin 100 baht, bisa disediakan pintu khusus biar lebih cepat haha. Setelah mengambil bagasi, kita segera keluar dan ketemu dengan Sononi di depan. Cuaca malam itu tidak bersahabat dan ternyata Phuket seharian diguyur hujan, tapi mending gitu daripada hujan pas kita ke Phi Phi haha malemnya kita menuju ke hotel dan lokasi airport ke kota cukup jauh sekitar 1 jam kurang dan karena perut agak keroncongan, kita minta untuk mampir makan dulu.

Kita diajak ke restoran No 6 yang ada di Patong, rupanya resto ini memang rame dan terkenal, selain karena rasanya yang enak, harganya juga murah. Pad thai yang terkenal seperti kwetiau itu harganya sekitar 35rb-an, minuman rata-rata sekitar 25rb, dan ada beberapa makanan yang harganya 40rb-an. Hujan masih masih mengguyur Phuket namun bar, resto, dan sepanjang jalan Patong ini masih rame dipadati turis, sebagian mengenakan rain ponchos, semacam jas hujan, ada juga yang cuek dan santai saja berjalan di luar walaupun basah.

Hotel yang kita pilih adalah Patong Mansion yang lokasinya cukup dekat dari restoran itu dan tiba disana sekitar jam 10 malam. Interior lobi hotel ini sederhana saja namun relatif bersih dan hotel ini masih tergolong baru, mulai beroperasi sejak 2 tahun lalu. Kamarnya termasuk besar dan extra bed yang kita pesan juga sudah diatur rapi di dalam. Setelah mandi, kita beristirahat karena besok jam 8 pagi kita akan mengawali tur Phuket ke Phi Phi Island.

Share this post


Link to post
Share on other sites

post-22151-0-51384400-1426651266_thumb.j

 

Day 2 - Phi Phi Islands dan Simon Cabaret

Setelah sarapan, sekitar jam 8 kita dijemput oleh Sononi dan menuju ke tempat berkumpul untuk bergabung dengan beberapa turis lain yang akan ikut di speedboat yang sama. Yang menjadi guide ke Phi Phi kita adalah orang Thai asli yang memiliki nickname 'Bob', bahasa Inggrisnya cukup fasih walaupun kental dengan aksen Thai, dan total ada sekitar 25 orang lebih yang ikut. Biasanya ada 2 opsi yang ditawarkan untuk menuju Phi Phi, yang pertama menggunakan speedboat kalau kondisi laut tenang dan jauh lebih cepat karena 45 menit sudah sampe, dan yang kedua adalah cruise besar, ini kapal yang aman walaupun laut agak berombak namun dua kali lebih lama dan biasanya di Maya Beach tidak bisa turun, jadi kalau bisa, pilih speedboat aja.
 

post-22151-0-13582100-1426651347_thumb.j post-22151-0-37670200-1426651281_thumb.j

 

Sebelum berangkat, Bob menjelaskan ada beberapa spot di Phi Phi yang akan kita kunjungi. Yang pertama menuju Phi Phi Don untuk snorkeling dan swimming, melihat Monkey Island, dan lunch di salah satu pulau, kemudian lanjut ke Phi Phi Leh untuk menuju Maya Bay yang menjadi lokasi syuting film The Beach dan bersantai disana, sebelum kembali lagi ke Khai Island yang ada di Phi Phi Don untuk bersantai baru kembali ke Phuket.

 

post-22151-0-51316400-1426651334_thumb.j post-22151-0-82189600-1426651364_thumb.j

 

Perjalanan pagi itu kita tempuh sekitar 30 menit untuk mampir sebentar melihat Monkey Island sebelum lanjut menuju spot snorkeling. Buat yang minat untuk snorkeling, biasanya sebelum berangkat, kita diperbolehkan untuk menyewa fin dan membeli ocean pack drybag agar peralatan elektronik, paspor, dll aman, namun buat yang males nyebur dan cuma pengen santai juga oke karena pemandangan sekitar bagus dan air laut yang jernih sehingga bisa terlihat ikan berseliweran. Lokasi disini tidak banyak coral yang bagus dan harus berhati-hati karena cukup banyak bulu babi juga.
 

post-22151-0-01060100-1426651425_thumb.j post-22151-0-24115500-1426651452_thumb.j

 

Dari sini, kita lanjut menuju pulau pertama untuk lunch. Jangan terlalu berharap banyak karena makanan yang disuguhkan rasanya hambar dan cenderung tidak enak, yang penting cukup buat ganjel aja tapi tempatnya lumayan untuk sekedar ngebir santai, menikmati es krim, dan melihat hamparan pasir putih, pantai yang tenang, deretan longtail boat, dengan background formasi limestone yang berjejer cantik.

 

Lunch break sekitar 1 jam pun berakhir dan kita semua kembali naik ke speedboat untuk lanjut menuju destinasi berikut yaitu Maya Bay. Di tengah perjalanan, kita mampir sebentar untuk photostop di Viking Cave. Ada beberapa turis yang merapat untuk masuk ke dalam gua dan biasanya ada orang lokal yang nongkrong untuk memungut biaya masuk namun foto-foto dari luar rasanya udah cukup karena masih lebih oke untuk menghabiskan waktu di Maya Beach.
 

post-22151-0-44784600-1426651463_thumb.j post-22151-0-59395400-1426651487_thumb.j

 

Tiba di Maya Beach, speedboat kita merapat ke pantai dan semua berloncatan untuk turun. Sore itu matahari masih sangat terik namun cukup banyak bule yang cuek saja berjemur di pantai. Maklum karena bulan Desember gini buat mereka panas tropis malah nikmat karena di negara asal mungkin suhu-nya minus. Air laut yang jernih dengan dasar pasir putih yang lembut dan latar belakang limestone memang membuat pantai Maya ini sangat indah untuk dijadikan latar belakang foto.

Dari pantai, kita bisa berjalan sekitar 10 menit ke tengah pulau dan ada tangga kecil yang menuju ke lagoon. Di sini juga merupakan spot bagus untuk berfoto namun karena lokasinya yang terlalu sempit membuat tidak nyaman untuk berlama-lama karena banyak turis yang lalu lalang dan antri untuk berfoto. Setelah puas bermain di lokasi ini sekitar 1 jam lebih, kita balik ke speedboat untuk kembali ke Phuket dan sebelumnya mampir dulu ke Khai Island untuk bersantai.
 

post-22151-0-18788700-1426651510_thumb.j post-22151-0-79412600-1426651520_thumb.j

 

Bob sudah menyiapkan buah-buahan dan minuman segar untuk digelar buat para peserta tour. Pulau Khai ini terkenal dengan banyaknya ikan yang santai berenang bersama para turis di sekitar pantai. Di tengah pulau juga sudah dibangun banyak pondok yang ditempati oleh banyak penduduk lokal untuk mengais rejeki. Ada yang berjualan bir, minuman alkohol, jus, aneka ragam snack dan makanan, dan tentunya dengan harga premium. Jadi jangan heran kalau segelas jus mangga bisa dihargai 200 baht :D

 

post-22151-0-01584400-1426651536_thumb.j post-22151-0-43320500-1426651576_thumb.j

 

Sore sekitar jam 5 kita tiba di Phuket dan mobil pun mengantar kita kembali ke area Patong. Kita mampir dulu ke Banzaan Market dan buat yang seneng seafood, di pasar ini kita bisa bebas milih-milih kepiting, kerang, udang, ikan dan kalau minat untuk dimasakin, silahkan ke lantai dua dan tinggal pilih restoran mana yang sreg. Biasanya mereka charge harga masaknya per kilo namun hari itu kita mau yang gampang saja dan ga ribet, jadi kita keluar Banzaan dan nyebrang ke Tiger Inn Restaurant, persis di samping Thaiboxing Arena. Sekitar jam 6 sore, di depan Banzaan Market sudah banyak pedagang kaki lima yang menyiapkan dagangannya, dan macam-macam mulai dari fried chicken, sate buaya, martabak, buah, dan sebagainya.
 

post-22151-0-82762900-1426651551_thumb.j post-22151-0-08795100-1426651565_thumb.j

 

Makan di Tiger Seafood ini mirip dengan Bandar Djakarta dan sebetulnya ngga banyak beda dengan Banzaan, kita pilih yang kita mau di depan dan mereka akan masak di dalam, namun di Tiger bukan cuma seafood tapi macam-macam makanan lain seperti Chinese dan Thai Food juga ada, jadi kalau yang seneng makan macam-macam, restoran ini cukup rekomen dan harganya juga reasonable. Ngga murah tapi wajar ! Selesai makan, kita nunggu Sononi datang sekitar jam 7.15 dan tujuan terakhir malam itu adalah Simon Cabaret. Tiba di lokasi sekitar 15 menit karena tidak jauh dari Patong dan syukurnya malam itu tidak macet, kita langsung bergegas masuk ke dalam dan dapat seat di balkon atas. Jarak pandang agak jauh tapi cukup nyaman dan jelas. Theater-nya juga bagus dan tidak usah khawatir soal pakaian karena bebas kita mau pakai celana pendek, sandal, dan kaos.

 

post-22151-0-16221300-1426651594_thumb.j post-22151-0-48864800-1426651605_thumb.j

 

Pertunjukan dimulai sekitar jam 8an malam dan durasi show sekitar 90 menit atau lebih. Kita cukup impressed dengan show ini karena performers yang tampil bukan sekedar ladyboy dan performers asal-asalan karena sudah diseleksi dan juga punya kemampuan dance yang lumayan bagus. Penampilan mereka merepresentasikan kostum dari berbagai negara sesuai tema-nya mulai dari Thailand sendiri, China, Korea, Japanese, Egypt, European, American, dan sebagainya, dan uniknya ada dua kali selingan bencong lucu dan gendut dengan kostum kocak. Overall, show ini termasuk sangat menghibur dan rekomen untuk nonton setidaknya sekali. Menurut Sononi, ada satu kompetitornya yang baru muncul, namanya Aphrodite, dan menurut review ada yang bilang show ini lebih bagus lagi namun kita belum sempat nonton, mungkin next time kalo balik ke Phuket lagi.

 

post-22151-0-06165300-1426651619_thumb.j post-22151-0-82606900-1426651631_thumb.j

 

After show, para performers dengan kostum mereka akan berdiri berjejer di depan untuk berfoto dengan turis dan mereka meminta tips 100 baht untuk sekali foto. Lumayan kalo satu orang bisa dapat 20 turis hahaha dan kata Sononi, biasanya abis show, beberapa dari mereka lanjut lagi ke Bangla untuk 'kerja'. Selesai show sekitar jam 10, kita balik ke hotel untuk beristirahat.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 3 - City Tour dan Phuket Fantasea

Kita mengawali hari ini dengan menuju ke Karon Beach yang terletak di sebelah selatan Phuket. Jarak pantai Karon dari hotel kita yang berada di sekitar Patong kurang lebih sekitar 10 km. Lokasi Karon ini agak jauh dari kebisingan downtown Phuket sehingga sangat cocok buat yang pengen menikmati suasana pantai yang sunyi. Di sekitar jalanan, berdiri banyak resort yang cukup banyak ditempatin oleh turis-turis berumur 40-50an. Terlihat juga beberapa keluarga yang tidak peduli dengan teriknya matahari siang, mereka dengan santai berlari menuju pantai untuk bermain air sambil berjemur.

 

post-22151-0-98769700-1426652515_thumb.j

Menurut Sononi, memang Karon cukup populer untuk para turis yang sudah bosan dengan nightlife Phuket dan justru pengen santai walaupun setiap hari kerjanya ya hanya menikmati matahari di pantai. Dari Karon, kita lanjut ke selatan dan tiba di Kata Beach. Di pantai ini terlihat lebih hidup dan memang cukup padat. Banyak yang lebih suka dengan Kata karena selain lebih ramai, di sekitar lokasi sini lebih gampang nyari cafe atau restoran, namun menurut kita, pantai yang lebih bagus justru di Karon.

 

post-22151-0-47161200-1426652541_thumb.j post-22151-0-15837600-1426652556_thumb.j

Titik ujung paling selatan Phuket adalah Promthep Cape, lokasi yang fantastis untuk menanti sunset dan menikmati hamparan luas laut Andaman. Sebelum sampe di Promthep Cape, kita mampir dulu di dua view point. Yang pertama adalah lokasi dekat power plant dan windmill yang tidak terlalu rame tapi justru view-nya lebih bagus dari Promthep. Ada beberapa pasangan juga yang memutuskan untuk berfoto pre-wedding disini karena background-nya cantik dan tidak terhalang banyak batu seperti di Promthep. Kondisi laut pada bulan Desember juga sangat tenang sehingga kita bisa melihat cukup banyak yacht dan speedboat yang lagi 'parkir' dari atas.

 

post-22151-0-16038600-1426652581_thumb.j

 

Dari powerplant ini, kira-kira 10 menit driving menuju Promthep, kita sempat mampir sebentar di Karon View Point. Dari atas sini juga view sangat bagus karena pantai Karon dan Kata terlihat jelas. Buat yang pengen santai lama-lama, lebih mending spend waktu di powerplant karena selain ada yg jualan kelapa muda dan minuman dingin, disitu juga jauh lebih sepi sedangkan Karon View Point merupakan tourist spot yang lebih terkenal sehingga suka banyak bus-bus tur yang mampir. Jadinya kalo mo foto-foto atau santai jadi ribet karena banyak yang antri, apalagi kalo ketemu turis yang rese yang minta tolong fotoin tapi ngomongnya kasar. Biasa yang kaya gini kita cuekin dan pura-pura ngga denger :D

 

post-22151-0-18468500-1426652596_thumb.j post-22151-0-11749900-1426652624_thumb.j

 

Setelah tiba di Promthep, jujur memang benar kata Sononi, lebih asoi view di powerplant dan Karon View Point, namun Promthep ini cukup menarik karena view agak berbeda dan karena lokasi yang cenderung luas, turis cukup gampang menemukan photospot yang sepi dan tidak mengganggu turis lain. Setelah Promthep, kita lanjut menuju salah satu landmark Phuket yaitu Big Buddha yang lokasinya ada di antara Chalong dan Kata. Dulunya tempat ini hanya sekedar bukit tempat nongkrong orang lokal untuk menikmati sunset namun akhirnya dikembangkan menjad proyek ambisius yang uniknya, pembangunan patung raksasa ini didanai sebagian besar oleh turis yang datang.

 

post-22151-0-19349600-1426652655_thumb.j

 

post-22151-0-66690200-1426652635_thumb.j post-22151-0-51560200-1426652688_thumb.j

 

Di dalam ruangan sebelum naik tangga menuju Big Buddha, terpampang sebuah papan yang ditempelin dengan berbagai mata uang dari seluruh dunia, termasuk uang Indonesia. Bahkan ada beberapa uang lama yang sudah ditarik dari peredaran masih nangkring disana. Setelah naik tangga menuju puncak bukit, Anda akan disuguhkan pemandangan yang indah dan patung Buddha setinggi 45 meter yang gagah. Di samping patung besar ini juga terdapat patung Buddha yang lebih kecil dan terbuat dari kuningan, dan konon patung 'kecil' ini dibuat dari 22 ton kuningan dan menghabiskan biaya sebesar 8 juta baht atau sekitar 3.2 milyar rupiah, sedangkan Big Buddha sendiri menghabiskan biaya kurang lebih 4 kali lipat-nya.

 

post-22151-0-84461500-1426652676_thumb.j

 

Dari Big Buddha, kita lanjut menuju Wat Chalong, salah satu lokasi kuil di Phuket yang sangat terkenal. Arsitektur dan detail kuil-kuilnya sangat bagus dan jangan lewatkan untuk mampir kesini kalo ke Phuket, walaupun untuk sekedar berfoto sebentar atau mampir ke dalam kuil. 30 menit rasanya sudah cukup untuk explore tempat ini dan foto-foto kecuali kalau Anda beragama Buddha dan pengen sembahyang di dalam.

 

post-22151-0-40302900-1426652699_thumb.j post-22151-0-44815100-1426652712_thumb.j

 

post-22151-0-42323800-1426652745_thumb.j

 

Dari Wat Chalong, tidak terlalu jauh untuk mampir ke Central Festival, shopping centre untuk kelas menengah atas dan lebih apik dibanding Jungceylon. Barang-barang yang dijual kurang lebih mirip dengan mal Jakarta namun ada juga beberapa barang unik seperti ada satu counter yang menjual tas cewek yang bisa dipompa jadi handy banget untuk travelling karena bisa dikempesin lagi untuk diselipin di dalam koper. Harganya juga tidak beda jauh dengan Jakarta jadi buat yang bosen mampir mal, ngga perlu kesini juga oke tapi lumayan kalo pengen bersantai sejenak abis panas-panasan di luar.

 

post-22151-0-56747100-1426653710_thumb.j post-22151-0-08186400-1426653737_thumb.j

 

post-22151-0-84625900-1426653851_thumb.j

 

Tujuan terakhir hari itu adalah Phuket Fantasea. Banyak yang merekomendasikan tempat ini karena lighting yang bagus, dinner yang enak, dan show yang menarik. Tiba di lokasi, sudah banyak turis yang sibuk berfoto dengan logo Fantasea atau dengan ladyboy berkostum tradisional yang berdiri di dekat loket. Harga tiket normal sekitar 2.200 THB / orang dewasa termasuk dinner dan 2.000 THB untuk anak-anak, namun kalau anaknya berumur 4 tahun ke bawah, boleh masuk gratis namun tidak dapat reserved seat pada saat show.

 

post-22151-0-13640900-1426653889_thumb.j post-22151-0-39949600-1426653988_thumb.j

 

Tempatnya cukup luas dan banyak attraction di dalam seperti small theme park, namun tidak ada extreme rides. Bisa dibilang agak mirip dengan pasar malam. Ada live show stage di dekat pintu keluar buat yang suka musik namun waktu itu hampir ngga ada yang tertarik dengerin lagu, kebanyakan orang masuk ke dalam untuk naik gajah atau dinner santai sambil nunggu show mulai. Lampu-lampu di sepanjang jalan memang bagus dan bernuansa ceria, lokasi dinner juga terkesan mewah dan variasi makanan yang banyak, rasanya juga tasty, dan show-nya buat kita standar aja. Buat turis yang seneng culture, tentunya bagus dan banyak yang bilang lebih menarik dari Siam Niramit, tapi buat yang seneng pure entertainment, paling ada sekitar 3 atau 4 scene aja yang kocak, termasuk sekumpulan anak ayam yang berlari rapi haha adegan perang-nya juga not bad, dan overall kalau bayar full price, rasanya agak rugi, tapi kalo dapat special price kaya kita kemaren sih oke banget.

 

post-22151-0-40820300-1426654001_thumb.j post-22151-0-98398100-1426654020_thumb.j

 

Yang bikin bete adalah antrian untuk menyimpan kamera dan hp yang ngabisin waktu hampir setengah jam dan pada saat bubaran untuk mengklaim barang-barang kita juga mesti antri panjang yang disortir dari kartu berwarna, jadinya pegel berdesak-desakan hampir kehabisan oksigen gara-gara ginian haha. Setelah proses retur barang selesai, kita pun balik ke hotel untuk istirahat.
 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 4 - Phang Nga Bay dan Thai-girl show

Pukul 9 pagi kita sudah siap di lobi hotel dan dijemput oleh operator tour untuk menuju Phang Nga Bay. Perjalanan kurang lebih 45 menit menuju dermaga dan disana kita berkumpul ditemani oleh dua guide asli Thai yang cukup fasih ngomong Inggris, bahkan ada satu yang sangat fasih ngomong Mandarin karena memang tiap hari ada aja puluhan turis China yang naik cruise. Kita menunggu sekitar 30 menit sampai kurang lebih 35 orang semuanya terkumpul baru rame-rame menuju ke kapal dengan berdesak-desakan di dalam minibus yang modelnya mirip bemo. Model kapal yang kita naiki ini seperti cruise kayu yang cukup besar dan di dek atas ada meja makan panjang yang memang disiapkan untuk lunch nanti.
 

post-22151-0-10074500-1426654644_thumb.j post-22151-0-53966200-1426654670_thumb.j

 

Setelah basa-basi dan menjelaskan do-and-don't, si guide mulai membagikan minuman dan life jacket untuk berjaga-jaga dan kapal pun perlahan meninggalkan dermaga untuk menuju ke lokasi pertama. Cuaca hari itu sangat cerah dan matahari bersinar cukup terik, laut pun terlihat tenang sehingga perjalanan kesana kita tempuh tanpa banyak goncangan. Setelah 30 menit lebih di laut, formasi limestone sudah mulai terlihat yang menandakan lokasi cave pertama sudah dekat. Aktivitas kita yang pertama siang itu adalah naik kano menyusuri pinggir bukit dan masuk ke dalam gua untuk menuju hidden lagoon. Satu kano bisa muat 2 sampai 3 orang penumpang dan 1 kapten, tapi lebih bagus diisi 2 orang saja biar ngga terlalu sempit.

 

post-22151-0-94566200-1426654688_thumb.j post-22151-0-33073600-1426654731_thumb.j

Siang itu terlihat sekitar 20 kano yang berseliweran dan di sekitar mulut gua, terdapat puluhan monyet yang terlihat ganas. Guide sudah mewanti-wanti untuk jangan iseng bawa atau melempar makanan, namun mertua iseng aja bawa jeruk di kantong, katanya pengen dilemparin, eh siapa yang sangka monyetnya lapar dan lincah kaya Sun Go Kong bisa loncat sana sini dan berenang, untung pas satu monyet lompat ke kano, si 'kapten' udah pengalaman dan berhasil ngusir pelan2 dan ngga ada yg jadi korban gigitan haha

 

post-22151-0-44985000-1426654882_thumb.j post-22151-0-60605200-1426654907_thumb.j

Di dalam gua, ada ratusan kelelawar yang bergelayutan namun tidak terlalu terlihat jelas tapi kita bisa mendengar kepakan sayap mereka. Sambil mengayuh, kapten mengingatkan kita untuk memperhatikan banyak batu tajam di atas kepala jadi kita disuruh tiarap atau menunduk sampai keluar dari gua dan tiba di lagoon. Lagoon ini tidak bisa dicapai apabila air sedang pasang tinggi karena mulut gua pasti tertutup air, namun beruntung kita hari itu air lagi ngga tinggi. Suasana di lagoon sepi dan sekeliling terdapat tebing tinggi yang ditumbuhi banyak pohon dan rumput hijau, dan di sekeliling lagoon cukup banyak pohon mangrove yang bisa dinaikin untuk sekedar berfoto. Kurang lebih 15 menit kita ada disini, kapten pun balik menuju gua untuk kembali ke kapal.

 

post-22151-0-52268200-1426654922_thumb.j post-22151-0-83066200-1426654937_thumb.j

 

Kita lanjut menuju ke lokasi berikutnya untuk naik kano lagi dan kali ini lagoon-nya lebih besar dan pemandangan di sekitar lagoon lebih bagus dibanding lokasi pertama, dan untungnya disini ngga ada monyet. Air laut agak burem dan dibanding Phi Phi memang kalah jernih, namun aktivitas kano ini sangat fun, terutama menyusuri gua dan masuk ke lagoon, dan setelah merapat ke pulau kecil, kita juga dikasi kesempatan untuk naik kano sendiri, jadi buat yang berani, boleh dicoba dan make sure laut ngga terlalu berombak karena buat pemula, ngayuh kano bisa agak berat kalo pas arus gede dan kalo panik bisa berabe :D

 

post-22151-0-28989300-1426654996_thumb.j post-22151-0-30108100-1426654969_thumb.j

post-22151-0-20393300-1426654950_thumb.j post-22151-0-96106000-1426654982_thumb.j

 

Sekitar jam 1 siang, semuanya diajak untuk naik ke kapal lagi dan makan siang sudah disiapkan. Sedikit catatan dan peringatan - kalo satu kapal dengan banyak turis China, mereka ini paling brutal kalo ngambil makanan jadi pastikan jangan malu-malu ngambil yang pengen kita ambil daripada nunggu abis dulu baru ambil lagi, dijamin udah ludes haha setelah makan, tujuan berikut kita menuju James Bond Island yang tersohor itu. Lokasi pulau James Bond ini tidak terlalu besar dan dipadati oleh ratusan turis setiap harinya. Sebetulnya cukup berfoto dengan papan James Bond dan background 'needle' yang terkenal itu sudah cukup karena toko souvenir disana ngga terlalu menarik dan juga rasanya percuma untuk naik ke atas bukit karena view tidak terlalu spektakuler.

 

post-22151-0-31874300-1426655008_thumb.j post-22151-0-08048700-1426655043_thumb.j

Cuaca sore itu agak sedikit mendung dan untungnya pas kita sampe disana, kita masih sempet berfoto-foto dulu sebelum hujan pun akhirnya turun. Untungnya hanya 20 menit hujan, cuaca kembali cerah dan matahari bersinar terik lagi. Sekitar jam 3 sore, acara kita sudah kelar dan kita kembali ke Phuket yang ditempuh dalam waktu 1 jam. Setelah tiba di Phuket, kita naik minibus dan diturunkan di Jungceylon Mall untuk bersantai sambil menunggu acara puncak, Thai-girl show haha

 

post-22151-0-90216600-1426655055_thumb.j

 

Jungceylon Mall ini sedikit mengingatkan kita akan Cihampelas Walk yang ada di Bandung dimana di bagian dalam banyak toko dan di luar tempat makan, dan jejeran kafe dan restoran ini agak sedikit mirip style-nya dengan Cilandak Town Square. Kita ngadem di dalam dan sekitar jam 6, kita mulai celingak-celinguk di luar mo nyari resto apa nih yang cocok buat dinner. Setelah muter 2 lap, akhirnya kita mutusin untuk secara random nyoba salah satu restoran disitu yang keliatannya menyediakan western sekaligus Thai menu, tapi apesnya steak yang saya pesan sama sekali tidak bisa dimakan karena keras dan memang ngga enak, namun untungnya Pad Thai kayanya lumayan, dan saladnya juga not bad. Ada kejadian mengagetkan pas kita makan, di samping kiri meja kita ada sepasang bule berumur 50an yang agak gemuk dan tiba-tiba si ibu yang badannya gendut jatuh dari kursi dan kepalanya terbentur di lantai. Para pelayan pada berhamburan untuk menolong dan kita curiga dia kena stroke ringan mungkin. Kasian juga dan kejadian itu mengingatkan kita untuk waspada dengan kesehatan, kalo perlu sebulan sebelum berangkat cek darah dulu untuk memastikan semuanya normal, daripada kejadian kaya gini kan bikin bete dan khawatir.

 

post-22151-0-30253400-1426655068_thumb.j post-22151-0-29999300-1426655083_thumb.j

 

Setelah perut kenyang, ngga berapa lama kita kontak Sononi dan nanya mengenai plan menuju lokasi show dan dia menjelaskan kalau kita akan dijemput oleh temannya yang memang kerja di club tersebut. Jadi kita nongkrong di depan dan 5 menit kemudian, orangnya datang dan ternyata lokasinya sangat dekat dengan Jungceylon, barangkali kalo jalan ngga sampe 10 menit. Club ini lokasinya sama tapi sempat berganti nama beberapa kali dan terakhir kita kesana, namanya WAKE CLUB, dan harga resmi show ini termasuk tinggi yaitu sekitar 2.500 THB tapi untungnya kita dapat harga 'orang dalam' dan udah di-include semuanya, ya barangkali satu orang sekitar 300rb-an. Kamera dan HP semuanya harus dititipin di depan karena kalo ketauan lagi video atau foto di dalam, pasti akan 'ditendang' ke luar haha

 

post-22151-0-33369500-1426655130_thumb.j

 

Show ini sangat unik, entertaining, sekaligus extreme karena nudity sudah pasti dan yang gilanya banyak akrobat-akrobat sinting dengan kemaluan jadi buat yang tadinya ragu-ragu untuk nonton, saya rekomen untuk coba karena selain ini cuma ada di Thailand, anggap saja ini entertainment show seperti nonton sirkus, jadi jangan lihat dari sisi negatif-nya, karena di dalam semua haha hehe untuk lucu-lucuan kok. Ini ada sedikit spoiler dan tips untuk rundown acara-nya tapi untuk yang belum pernah nonton dan pengen dapet surprise-nya, jangan dibaca ya :

** SPOILER ALERT **

Show dimulai sekitar jam 6 sore dan ada sekitar 12 adegan berbeda selama kurang lebih satu jam dan akan balik lagi ke ronde pertama dan akan diulang terus barangkali sampe jam 1 pagi. Biasanya setelah satu putaran selesai, akan ada 2 cewe yang datang membawa 'kotak sumbangan', ini ngga wajib tapi ngga ada salahnya untuk nyumbang sekitar 100 baht karena ini tips untuk tukang pel dan sapu arena. Para performers terdiri dari cowo tulen, cewe tulen, dan bencong tulen haha tapi untuk ladyboy ngga ketauan sampe mereka telanjang di tengah acara hihi. Secara bergantian akan ada striptease show, sex show, atraksi pukul tambur dengan Mr P, nembak balon dengan Miss V, main pingpong dengan Miss V (tapi yang lalu kita dapet yang ladyboy dan nembak pingpong pake pantat, mati deh hahaha), keluarin silet dari Miss V, dan yang kocak ada 2 adegan yang melibatkan penonton jadi make sure kalo ngga mau ditarik ke stage, jangan nongkrong di front row. Waktu itu kita ngakak pas ada 2 turis China yang diajak ke panggung dan dipelorotin celana, udah gitu ada yg diajak masuk ke bathtub dan dimandiin hihi ya seru aja dan biasanya pas masuk kita dibagi minuman, ya sebaiknya jangan minum daripada kebelet pipis, suasana di dalam rame banget dan kalo kita ke toilet, bisa-bisa tempat diambil orang lain.

Menurut Sononi, show di Wake Club ini yang terbaik karena di Bangla biasanya pendek, monoton dan terlalu banyak scam, jadi make sure untuk nonton disini tapi kalo bisa dapat 1/3 harga tiket lebih ok.

** SPOILER ALERT **

 

post-22151-0-95060600-1426655161_thumb.j post-22151-0-31301600-1426655180_thumb.j

 

Dari club ini, kita langsung balik ke hotel untuk istirahat sambil packing karena besok malam kita udah balik menuju Jakarta.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 5 - City Tour

Pagi ini diawali dengan mengunjungi Phuket City View Point yang terletak di atas bukit dan pemandangan kota dari atas ini cukup bagus. Kita bisa melihat laut Andaman di sebelah kiri, kota Phuket di depan, dan Big Buddha di sebelah kanan. Ada gazebo putih tempat berteduh kalau pas hujan dan di dekat situ, ada restoran kecil dan warung yang menjual berbagai macam snack, termasuk es krim home-made durian yang rasanya agak mirip dengan Musang King yang agak pahit sedikit. Kita menghabiskan waktu sekitar 30 menit di lokasi ini dan kemudian mampir sebentar di Wat Khao Rang. Di lokasi ini, Anda bisa mengambil foto Buddha yang sedang bertapa yang berukuran cukup besar dan di samping ini terdapat wihara dengan berbagai patung dewa.

 

post-22151-0-34575100-1426656298_thumb.j post-22151-0-43078600-1426656310_thumb.j

post-22151-0-94766700-1426656379_thumb.j post-22151-0-26225700-1426656504_thumb.j

 

Tujuan berikutnya adalah Phuket Old Town. Dulu daerah ini merupakan daerah Phuket yang paling ramai, namun sejak fokus keramaian berpindah ke Patong, bisa dibilang banyak hotel disini akhirnya tutup karena sangat sedikit turis yang mau tinggal disini. Memang sih untuk mampir sebentar oke, paling nyari restoran kecil untuk jajan atau sekedar ngopi, tapi lebih fun untuk tinggal di daerah Patong atau yang sepi sekalian di Karon. Nuansa bangunan tua dan jalan yang tidak terlalu sepi malah mengingatkan ke kota kecil seperti Cirebon haha.

 

post-22151-0-82118100-1426656517_thumb.j post-22151-0-08824700-1426656528_thumb.j

post-22151-0-64251700-1426656545_thumb.j

 

Setelah makan bakso di sekitar Old Town, kita mampir ke Phuket Trickeye Museum, dan tempat ini rekomen untuk didatangi karena fun dan banyak background photo yang unik dan lucu. Harga tiket masuk per orang sekitar 200rb dan umumnya 1 jam saja cukup. Buat yang sudah pernah datang ke Trickeye Museum di negara lain, boleh skip tempat ini dan langsung menuju ke Surin Beach atau Kamala Beach untuk bersantai. Kalau musim durian datang, boleh juga mampir ke salah satu pasar lokal karena biasanya harga durian pasti sangat murah. Sayang waktu pas kita datang Desember, durian lagi ngga musim, jadi di pasar yang dijual kebanyakan cuma nanas aja.

 

post-22151-0-00225400-1426656558_thumb.j post-22151-0-44611200-1426656570_thumb.j

post-22151-0-65640000-1426656580_thumb.j post-22151-0-38197000-1426656594_thumb.j

post-22151-0-48152100-1426656659_thumb.j post-22151-0-82359500-1426656668_thumb.j

post-22151-0-58226800-1426656679_thumb.j post-22151-0-43252600-1426656690_thumb.j

 

Setelah mampir di Surin dan Kamala, kita menuju ke salah satu viewpoint bagus dengan hamparan pemandangan pantai Kamala yang cantik. Deretan rumah yang dibangun di atas bukit disertai dengan belasan perahu yang terapung di atas pantai yang tenang bisa membuat Anda betah berlama-lama nongkrong disini. Sambil menunggu flight malam, kita akhirnya mampir dulu ke salah satu mall kecil di dekat airport untuk sekedar jajan dan makan malam, dan akhirnya kita dianter Sononi ke airport untuk balik ke Jakarta.

 

post-22151-0-18064100-1426656699_thumb.j post-22151-0-90788700-1426656712_thumb.j

post-22151-0-81549100-1426656746_thumb.j post-22151-0-20406700-1426656912_thumb.j

post-22151-0-98142400-1426656926_thumb.j

 

Kesan kita terhadap Phuket bisa dibilang 'better than expected' karena banyak yang mengcompare Phuket dengan Bali dan banyak turis asing yang lebih prefer Phuket dibanding Bali karena dianggap lebih teratur, lebih bersih, barang souvenir berkualitas bagus, dan taste makanan yang lebih cocok dengan lidah mereka. Menurut kita, masing-masing ada kelebihannya, dan tentunya yang paling menarik dari Bali adalah kultur-nya dan yang juara dari Phuket adalah pulau-pulau seperti Phi Phi dan Phang Nga Bay, juga tentunya nightlife yang unik dan extreme haha. Buat yang belum pernah ke Thailand dan pengen tau mana yang lebih oke untuk didatengin, sudah pasti Phuket lebih oke dibanding Bangkok, namun kalau mau liat dua2nya pastikan minimal punya 4 hari untuk explore Phuket dan pulau-pulaunya :)
 

* * *

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Nightrain

hahay PHUKET i love it 

gak tau saya pribadi gak pernah bosen kesini

tar april kesini lagi hahaha

kayak nya bakalan ke Phi Phi lagi deh kangen abis liat poto2 ini terakhir kesana dah lama 2012 :P

 

wah akhir nya ketemu mas @Sononi Noni ya asik orang nya dan saya suka minjem motornya buat keliling Phuket hehehe

 

City tour nya memang paling pas ending nya di Promthep Cape ya, pas datang kesana dapat sunset gak mas ?

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa

haha iya def, asik ke Phuket tapi lo balik lagi april ? berarti udah 3x ya ? hihi ngga explore tempat lain yg deket Thailand kaya Myanmar atau Kamboja ? nanti kapan2 gw balik lagi kesini mau coba Similan Island yg kata noni juga oke

iya waktu itu dia sempet ngomong lo naek motor sendirian keliling haha

 

waktu ke Prompthep kita atur pas siang mampir sebentar dan skip sunset soalnya acara kita agak padat, malamnya kita mau ke Fantasea :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa

seinget gw harga tiketnya segitu def tapi coba tanya noni nanti disana siapa tau bisa dapet harga miring

patung buddha yg tidur itu ? bukan di Kamala beach-nya tapi dekat situ, pokoknya ngga jauh sih rasanya tapi agak lupa nama daerahnya :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

wah bawaan-nya pengen ke phuket lagi, tapi kalau dilihat dari fotonya, airnya udah kgk sejernih dulu :(

btw, as always nice share :salut

 

kalo daerah Phang Nga Bay memang ngga jernih, cenderung ijo ya, kalo daerah Phi Phi gw bilang masih jernih banget kok, tapi katanya Similan lebih jernih lagi karena mungkin lebih sepi :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

kalo daerah Phang Nga Bay memang ngga jernih, cenderung ijo ya, kalo daerah Phi Phi gw bilang masih jernih banget kok, tapi katanya Similan lebih jernih lagi karena mungkin lebih sepi :)

dulu sih saya mampirnya ke Phi Phi Island, wah Similan lebih jernih yah !? lebih jauh dari Phi Phi yah?

 

@kyosash

kayak nya sebagian daerah nya masih biru air nya tapi kalo andaman sea memang terakhir saya ke Phuket udah banyak yang ijo

icic

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa

iya asik tuh, overall harga Sononi semuanya sangat reasonable, iya coba Wake Up club, deket dari Jungceylon, tapi kata noni mrk kadang suka ganti nama club mungkin biar berasa club baru haha tapi orang dan tempatnya ya maybe itu2 aja :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa

kemaren di sekitar Karon, ada satu tempat latihan surfing lucu juga, jadi semacam arena seperti skateboard gitu tapi ada semprotan air-nya haha barangkali karena di Phuket ga ada pantai surf ya, boleh iseng2 coba def hihi

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now


  • Similar Content

    • By desi asiah
      Ass. Mualaikum Wr.Wb
      Halloo teman Jalanâ€ners..udh tau donk sebelumnya tentang “Curug Malela†yang letak nya di Kabupaten Bandung Barat Org†sebut ntu Curug Litle Niagara….Curug Malela adalah Curug yg paling besar dan panjang dri sekian Curug yg pernah saya kunjungin….
       
      sedikit penampakan,
       

       
      Awal mula dari keinginan yg sudah lama terpendam hhahaha…saya  dan Teman saya sebut aja Kiki yg sama†mojang Bandung (Ehemmm) Janjian Pas Pulkam lebaran H+3 untk pergi kecurug Malela sebenrnya pengen banyakan cuman ngajakin teman sana sini pada gak mau katanya Jalannya OFF Road Banget,trs mlz lah,kapok lah, ada acara ini itu lah,dll…
      Dengan Modal Seadanya alias modal google map krna blom prnh kesana pukul 8.30 sya ktmu Kiki di cimohaii alias cimahi tepatnya depan alfamart setelah masjid alunâ€nya cimahi…kami putuskan untuk sarapan bubur  dlu..
      Setelah sarapan kmi melanjutkan perjalanan, krna disini kami menggunakan Motor dan masing†membawa motor ceritanya mau offroad nihh…TAPI…..(kita bahas nnti yaa..) lanjut, kami menuju arah padalarang nnti ada pertigaan ketemu jalan Cimareme belok kiri arah mau ke Cililin. Sya pikir jalannya ssh buat ke curug malela ternyata disetiap persimpangan ada tanda yg menunjukan tujuan ke curug malela…ya udh lbh gampang perjalanan kami ( tapi tak semudah yg dipikirkan pemirsa)…setelah mengikuti ptujuk jalan belok Kiri dan Kanan maka kmi memasuki desa Gunung Halu tak lama kmi mengisi bensin eceran dlu, krna disana gak ada SPBU. Buat klian yg lupa isi bensin jngn khawatir hampir di sepanjang jalan ada aja yg jualan bensin eceran…..Sya liat jam bru jm 10 kurng klo gak salah, trs saya nanya sama ibu yg jual bensin :â€sabaraha lami deui bu upami ka curug malela??â€, Ibu : “nya tebih keneh lah,sekitar jm 12 lah smpe ka curug.â€â€¦sya :â€elehhh elehhh geuningan meuni tebihh nyaaâ€. alias jauhh pisann euyy…hahahaha (dalam hati bisa tepos Pantat ini mah)…
      Lanjut perjalanan, awal†si jalan masi bagus mulus beraspal dan betony a walopun jln nya bolak belok seperti mau ke Puncak is ok lah….tp Lama kelamaan kmi melewati beberapa desa dan kiri kanan hutan,sawah, kebun tehh dan smpe akhirnya bertmulah dengan jalan yg LUMAYAN  JELEK, JELEK,  JELEK SEKALI, JELEK JELEK SEKALI SEKALI hahaha…

       
      smpe lah qt di gerbang menuju Curug tersebut, oia nnti ada dua jalan yg mau ke arh gerbangny curug sma jalan besar. Sebrnya Sblm gerbang qt kan ngelewati kebun tehh tuhh nahh nnti qt ktmu dengan sekawanan ojeg yg menawarkan/menanyakan kea rah Curug, kta mereka si ada dua jalan bisa Lurus terus Bisa kearah yg lain yg entah kemana jalan itu menuju yg jelas yg tau cuman para ojeg tersebut hehehe..tp kata si akangnya bisa aja lurus cuman jalannya JELEK JELEK SEKALI SEKALI…..Bukn JELEK SEKALI ya pemirsa…pdhl sblom smpe gerbang aja udh jelek bgt klo mnrt sya…tu jalan isinya Cuman batu kali yg gede sma tanah liat aja mana jalannya nanjak sma turunan kebayang lah klo ujan psti licin banget…

       

       
      Lanjut setelah Melewati gerbang kata penjaganya masi 2 kilo lagi neng trs sya nanya jalannya gmn a’??
      Katanya jelek lebih jelek dri sebelumnya…haha bener†Offroad ini mahh selama perjalanan gak nemu jalan yg bagus aslinyaa tah……tp pas pergi gak kerasa capenya, soalnya pengen cepet†sampe setelah beberapa menit jam menunjukan pukul 12.00 tepat sampe juga di curug…
      Alhamdulillah sampe juga…
       
      Ternyata sebelum qt sdh ada bnyak org yg berkndraan motor disana ada tmpat parkir dan 3 saung dri kayu yg 2 adalah warung yg 1 saung buat istrirahat kayanya si sengaja disediain buat pengunjung awalnya gak ngehh dipikir tu saung cuman buat duduk aja hehe tp setalh kembali dari curug baru sadar itu saung disediain buat apa…hahahaha (buat Geletakan setelah naik alias balik dri curug krna kecapean setengah matee)
       
      Sampe di sana langsung qt meluncur ke curugnya bertempat dibawah, jdi qt hrus jalan kebawah dulu buat smpe ke lokasi,,,lumayan lah sekitar 30 mnt prjalanan jalan smpe curug …turunnya si gak cpe tp pulangnya  baru kerasa setengah matii….cuuaaappeeee pake Buanget….Kapok Gakan Kesana kesana lagii…tp semuanya terbayar setelah smpe di curugnya hehe tapi sayang disana gak bisa terjun mandi coz alirannya ckup deras...kecuali yg nekad boleh" aja...
       

      perjalanan menuju curug,,,
       


      Curug Malela dilihat dari jauh,
       

      Curug Malela dilihat dari dekat...
       
       
      Rincian :
       
      Sarapan Bubur                       Rp. 10.000
      Bensin motor Pool tangki        Rp. 20.000
      Tiket masuk                            Rp. 5.000
      mineral + pocari                      Rp. 12.000
      Gorengan                               Rp. 1.500
      Makan Siang&sore (dirapel)   Rp. 15.000
      Bayar Toilet                            Rp.4.000
       
       TOTAL                                   Rp.67.500
       
       
    • By eka wibisono
      Gak kerasa udh hampir 1 tahun mengikuti Gatnas KJJI ke 9 di Lombok bln Oktober 2015, dan timbul perasaan kangen  pingin kumpul2 dgn teman-teman ex Gatnas Lombok. Akhirnya pas bulan Juni 2016, beberapa dari kami @luxia, @siti uko, @menie ketemuan di rumah @sitiuko di Ciawi. Nah disitulah tercetus ide utk ajakin reuni teman2 ex Gatnas Lombok, pergi bersama-sama ke Lombok tgl. 18-20  November 2016, pastinya dgn rute yg berbeda  dengan thn 2015. Eh ternyata ngumpulin teman2 ex Gatnas Lombok utk jalan bareng2 lg susah-susah gampang lho hehehe.... ada yg udh daftar...tiba2 cancel. Akhirnya dari teman2 yg sudah daftar,  ini lah yg terkumpul:
       1.  saya 
         2. @titisetianingsih 
         3 . @luxia 
        4.   @sitiuko
              5. @menie  
               6. @dimaz
                       7. @dhan doank 
                     8. [email protected] 
                     9.    [email protected] 
                10.  [email protected]
                11. [email protected]
      Berhubung peserta reuni ex Gatnas Lombok sedikit, akhirnya diputuskan kami boleh ajak teman2 kami yg lain. Jadilah bertambah 4 orang yg salah satunya [email protected] Zein (ex Gatnas KJII 8 di Padang). Jadi total peserta 15 orang. Walaupun ada peserta baru, tapi gak kalah seru  suasana reuni kami ini hehehe... maklum biang gokilnya jd nambah. 
      Untuk acara kami ini, kami minta tolong ke Dimas untuk atur transportasi dan itinerary selama di sana. 
      Yuk kita mulai perjalanan reuni kami. 
      Hari 1: tgl. 18 November 2016:
      Gili Petelu, Pantai Tangsi (Pink Beach), Gili Segui (Pink Beach 2),  dan Gili Pasir (Lombok Timur)
      Kami berangkat dari M Hotel di kota Cakranegara sekitar jam 7.00 pagi WITA menuju Pelabuhan Tanjung Luar di daerah Lombok Timur  yg memakan waktu perjalanan sekitar +/- 1,5 jam. Dalam perjalanan sempet tuh kami mampir ke daerah Puyung (Lombok Tengah) utk cobain Nasi Balap Inaq Esun yg terkenal di Lombok. Utk menuju tempat makan ini, dr jalan raya kita harus jalan kaki 150 meter memasuki gang rumah penduduk. Gak nyangka, di rumah yg sederhana ini nasi balap yg terkenal itu dijual. Utk teman-teman yg belum tau nasi balap, nih sedikit info ya. Nasi balap yaitu nasi dgn lauk ayam suwir crispy bumbu pedes, ikan asin crispy, sambal dan kacang kedele goreng.

      Yg terkenal dari nasi balap ini ya pedesnya itu yg super (dijamin perut langsung panas & mules kalo yg gak tahan pedes hahaha...), tp buat yg gak doyan pedes bisa minta kok nasi balap yg tidak pedes dan pedes sedeng. Nasi balap Inaq Esun ini harganya Rp.15 ribu per porsi, enak, murah dan kenyang jg lho. Setelah kenyang, lanjutlah perjalanan kami ke pelabuhan Tanjung Luar.
      Setelah tiba di pelabuhan Tanjung Luar, gak buang waktu lg kami langsung dibagi menjadi 2 kapal utk explore  ke gili-gili.
       
       
      1.        Gili Petelu.
      Di Gili Petelu ini airnya bening dan keliatan tuh karang-karang yg di bawah laut. Sayang kami gak bisa main lama-lama disini karena arus bawah lautnya tiba-tiba makin kuat.
       

       
      Diputuskan langsung kami lanjut ke Pantai Tangsi (Pink Beach).
       
      2.        Pantai Tangsi/Pink Beach.
      Nah ini lah dia Pink Beachnya Lombok. Warna pasirnya ternyata udah gak terlalu pink lho senasib dgn pink beach di Pulau Komodo, mungkin krn udah byk orang yg berkunjung ya jd plankton pinknya berkurang. Pantai Tangsi ini bagus lho viewnya tp sayang kebersihan di pantai ini kurang terjaga, jd kita mau main air di sini jadi males. Setelah makan siang, krn gak pada mau main air, kita semua pergi ke bukit di Pantai Tangsi utk foto-foto aja deh.
       

       
      Setelah puas foto-foto, lanjut lah perjalanan kami menuju Gili Segui.
       
      3.        Gili Segui.
      Letak Gili Segui ini gak terlalu jauh dari Pantai Tangsi, dan Gili Segui ini dijuluki Pink Beach 2. Hmm...benar lho pantainya msh bersih krn belum banyak dikunjungi orang. Dan pasirnya memang lebih keliatan pinknya dr pada di Pantai Tangsi. Mana tahan deh gak main air di sini.
       

       
      4.        Gili Semangkuk.
      Dalam perjalanan dari Gili Segui ke Gili Pasir, kami diajak mampir sebentar utk snorkling di Gili Semangkuk ini.

       
      Airnya masih bersih dan karang-karangnya juga masih bagus.
       

      Nah istimewanya dr Gili Semangkuk yaitu ada sumur di dasar laut. So pasti bikin kita penasaran pingin tau. Ini dia tampilan sumurnya.
       

       
      Bagus kan?  Krn airnya msh bening, gak usah susah-susah nyelem dalam-dalam, dgn  modal alat snorkling dan ngapung-ngapung santai aja kita udah bisa liat tuh sumur.
       
      5.        Gili Pasir.
      Akhirnya tiba juga kita di Gili terakhir yg dikunjungi yaitu Gili Pasir. Gili Pasir ini akan muncul jika air laut surut menjelang sore hari.
       

      Bagus bgt Gili Pasir ini karena selain bentuk pulaunya,bintang lautnya unik lho krn  ada berwarna kuning dan pasirnya beralur-alur seperti pasir berbisik di Bromo.
       

       
       
      Kami semua menghabiskan waktu agak lama di Gili Pasir ini sambil menikmati sunset.
       
       

       
      Akhirnya lewat magrib kami baru mendarat lagi di Tanjung Luar. Satu hal yg disayangkan nih, fasilitas kamar kecil utk bilas kurang  banget krn jumlah kamar kecil cuma 2 dan air bersih utk bilas kurang. Jd terpaksa deh kami bilas sekedarnya...hehehe...lumayan bawa “oleh-oleh” pasir yg nempel di badan dan rambut.
      Dari gili-gili yg kami kunjungi hari ini, kesan aku sih bagus-bagus kecuali Pantai Tangsi/Pink Beach yg kurang memuaskan, ya itu krn kurang bersih.
       
      Hari 2: tgl 19 November 2016:  Pulau Paserang dan Pulau Kenawa di Sumbawa Barat.
      Terinspirasi dgn kunjungan Deffa dan Dimas ke 2 Pulau ini setelah selesai Gatnas Lombok 2015,  kami semua penasaran jg pingin liat keindahan Pulau Paserang dan Pulau Kenawa. Makanya 2 Pulau ini kami masukkan ke kunjungan utama kami. Perjalanan dari kota Cakranegara ke Pelabuhan Kayangan yg terletak di Lombok Timur ditempuh +/- 2 jam. Di Pelabuhan Kayangan ini banyak bgt penjual nanas krn Lombok Timur (daerah Masbagik) memang  terkenal dgn nanasnya. Sambil nunggu Dimas beli tiket, dr pada penasaran kami beli deh 2 ikat nanas. 1 ikat nanas (5 buah) dihargai Rp. 15 rb (incl. ongkos kupas & potong) murah kan. Wah ternyata enak lho nanasnya,seger dan gak asem. Kalau teman-teman nyebrang ke Pototano via pelabuhan Kayangan jgn lupa cobain nanasnya ya, oh iya  sebaiknya membeli jg bekal makan siang  di rumah makan yg ada di sini sebelum menyeberang krn lebih higienis.

      Kapal ferry dari pelabuhan Kayangan ke Pototano (Sumbawa Barat) berangkat setiap 1 jam sekali, beroperasi 24 jam dan perjalanan penyebrangan sekitar 2 jam. Setelah kapal keluar dari pelabuhan Kayangan kita  akan disuguhi pemandangan yg bagus bgt.

      Suasana di kapal ferry ini cukup bersih dan ada hiburan musik organ tunggal tuh. Siapa aja boleh minta lagu, mau joget atau mau nyanyi jg boleh asal nyawer ke pemain organ tunggal.  Nah disini lah Netty, Menie, Onya, Ven-Ven dan Abdy (adik Lenny Zein) unjuk kebolehan mereka berjoget hehehe..... pokoke heboh deh.

      Lumayan sih bikin perjalanan gak bosen.
      Setelah sampai di pelabuhan Pototano, kami berjalan kaki sebentar menuju ke dermaga kecil utk naik kapal yang akan antar kami ke Pulau Paserang dan Pulau Kenawa. Jgn kaget ya liat dermaganya, hehehe....ya a la kadarnya gitu deh.

      1.    Pulau Paserang.
      Dari dermaga ini, kita akan berlayar sekitar 30 menit sudah sampai di Pulau Paserang.

      Kesannya..... ya ampun ternyata sepi dan gersang bgt ya Pulau Paserang. Sebaiknya bawa bekal makan dan minum deh krn gak ada orang yg jualan di pulau ini. Setelah makan siang, gak buang waktu, langsung deh kami berjalan menuju puncak bukit.

      Untuk yg gak kuat jalan, gak usah kawatir trekkingnya gak jauh  dan gak berat kok... enaknya udah ada jalur trekking yg disemen, tapi.....siap-siap  kaki kebaret-baret dengan tanaman liar putri malu yg berduri itu...hehehe... yg minta ampun banyak banget.

      Setelah sampai puncak bukit, rasa perih di kaki gak berasa lagi krn kita udah terpesona dengan viewnya.

      Setelah puas foto-foto, cusss.... kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Kenawa.
       
      2.    Pulau Kenawa
      Dari Pulau Paserang cuma berlayar sekitar 15 menit  udah sampe deh kita  di Pulau Kenawa. 

      Apa yg istimewa dari Pulau Kenawa ini? Selain view dari atas bukit,  uniknya rumput savananya bergerombol sendiri-sendiri seperti tanaman padi gitu deh.  Sambil menunggu panas matahari berkurang, kami santai-santai dulu di warung yg dekat dermaga, ada juga teman2 yg snorkling krn memang lautnya masih bersih dan bagus. Untuk toilet, jgn ngarep toilet yg bagus ya, adanya toilet darurat gitu . Sayang ya, fasilitas umum belum dibikin yg bagus padahal pengunjungnya  sudah banyak lho  dan ada yg kemping jg.
      Setelah sinar matahari gak terlalu ngejreng, kami semua memulai trekking ke puncak bukitnya. Sepanjang jalan, mata adem rasanya liat padang rumputnya yg mulai keliatan warna hijaunya.

      Setelah melewati padang rumput, siap-siap trekking ke atas bukit, gak terlalu tinggi kok, paling cuma 10 menit, asal jangan buru-buru dan harus hati-hati krn selain menanjak byk batu krikil kecil2 yg bisa bikin kepleset.

      Semua rasa cape dan panas terbayar lho dengan pemandangan yg terhampar di depan kita. Ini buktinya.


      Gak kerasa, duduk2 sambil menikmati pemandangan, tiba lah waktu sunset di bukit ini. Baguus.....banget sunsetnya. Emang Pulau Kenawa top deh.

      Udah posisi PW gini males rasanya mo jalan turun lg, tp dr pada kemaleman di atas dan susah turunnya krn gak ada lampu senter, cepet2  kami jalan turun lagi menuju pinggir pantai. Pas sampe di pantai, hari udah lumayan malam dan akhirnya sekitar jam 19.30 WITA kami meninggalkan Pulau Kenawa untuk menuju dermaga asal. 
      Akhirnya kami sampai kembali di Cakranegara sekitar jam 12.30  dinihari.
       
      Hari 3: tgl.20 November 2016: Air Terjun Benang Stokel, Air Terjun Benang kelambu dan Bukit Merese di Tanjung Aan. 
      Baru tidur sekitar 3 jam, mau gak mau mata harus melek pagi2 lagi. Waktunya packing! Ini lah hari terakhir perjalanan reuni kami dan kami semua cepat-cepat sarapan dan check out dari Hotel karena gak sabaran pingin liat keindahan Air Terjun Benang Kelambu. 
       

      Air terjun yg akan kami kunjungi ini termasuk kawasan hutan  di kaki Gunung Rinjani tepatnya di Desa Aik Berik, Lombok Tengah. Dari Kota Cakranegara,  lama perjalanan sekitar 1 jam, kita  bisa menempuh jalur Mataram-Narmada-Sedau-Pancor Dau-Teratak-Desa Aik Berik.Ke 2 air terjun ini belum setenar air terjun Tiu Kelep di kalangan wisatawan, jadi gak heran pengunjungnya sebagian besar orang lokal Lombok.
       

      Oh iya kalo teman-teman merasa gak sanggup jalan kaki menuju air terjun, byk ojek motor yg sudah standby di gerbang masuk kawasan air terjun. Ada jg beberapa teman kami yg lsng sewa ojek motor seharga Rp.30.000,- pulang pergi, tp nyesel lho kalo naik ojek motor krn kita gak bisa liat Air Terjun Benang Stokel.Jalan kendaraan bermotor dan mobil ternyata langsung menuju ke lokasi Air Terjun Benang Kelambu.
       
      1.    Air terjun Benang Stokel.
      Setelah kita melewati gerbang masuk, kita mulai berjalan melewati kawasan  pepohonan yang rindang dan hiruplah udara segar yg belum kena polusi. Jalur menuju ke lokasi air terjun sudah dibangun undakan2, sehingga kita berjalan menuju ke air terjun dengan cukup nyaman sih. Dari pintu gerbang, kita akan berjalan sekitar 1 km untuk menuju air terjun Benang Stokel.
       
       

      Dr kejauhan kita udah bisa liat tuh  Air Terjun Benang Stokel. Di air terjun ini ternyata ada dua air terjun dan nama air terjun ini yaitu “Benang Stokel” dalam bahasa lokal memiliki arti “seikat benang”. Dinamai demikian karena bentuknya yang menyerupai ikatan benang. Air terjun ini memiliki dua air terjun, dengan ketinggian masing-masing sekitar 20 Meter. Airnya sangat jernih dan segar.
       
       

       
       
      2.    Air terjun  Benang Kelambu.
      Setelah puas foto-foto di Air Terjun Benang Setokel, lanjutlah perjalanan kami menuju Air Terjun Benang Kelambu. Jalur trekkingnya cukup nyaman sih, gak yg curam banget (lebih gempor trekking di Air Terjun Tiu Kelep hehehe...).
       

      Santai aja jalannya supaya gak terlalu capek.Kalo haus atau lapar, gak usah takut, sepanjang jalan setapak ada beberapa warung yg standby jual makanan dan minuman.
       
       
      Taraaa... dari jauh udh keliatan tuh air terjunnya. Baguss kan air terjunnya dan kita cuma bisa bilang memang ciptaan Tuhan indah .
       
       

      Air terjun ini dinamai Air Terjun Benang Kelambu karena terjunan airnya yang berbentuk seperti kelambu. Air terjun ini memiliki 3 tingkat. Tingkat yang paling atas berasal langsung dari mata air, dan memiliki ketinggian sekitar 30 Meter. Tingkat yang kedua merupakan lanjutan dari tingkat pertama, dengan ketinggian sekitar 10 Meter. Tingkat yang ketiga memiliki ketinggian hanya 5 Meter.

      Gak seperti Air Terjun Benang Setokel, Air Terjun Benang Kelambu tidak memiliki kolam, jadi cuma bisa basah-basahan di bawah terjun. Kalo mau berenang bisa juga sih, dibawah ada tuh kolam buatan utk pengunjung berenang.
       
       

      Nah utk jalan pulang kami cobain lewat jalur kendaraan bermotor, dan ternyata jalannya lebih landai dan gak usah menderita melewati jalan menanjak dan anak tangga yg bikin kaki pegel hehehe... 
       
      3.    Bukit Merese, Kuta, Lombok
       
      Setelah istirahat makan siang, langsung cuss... kita mampir dulu beli oleh-oleh di toko oleh-oleh Gandrung (jual kaos, baju dgn kualitas dr yg biasa sampai yg bagus) dan toko Lestari (jual oleh-oleh makanan lokal). Sebelum menuju ke Bukit Merese, kami antar teman kami bang Duty Nath ke Bandara dulu krn pesawat dia lbh cepat dr pd kita semua.
      Dr bandara ke Bukit Merese gak terlalu jauh sih... sekitar 45 menit lah. Arah menuju ke Bukit Merese, ternyata melewati Pantai Kuta dulu dan melewati Pantai Tanjung Aan.
      Bukit Merese ini menarik lho krn ada padang rumputnya yg bagus utk foto-foto dan kita bisa melihat Pantai Tanjung Aan dan Batu Payung di kejauhan.
      Ini lah dia, view Bukit Merese. Bagus kan teman-teman.
       
       

      Nah karena terlalu menikmati suasana di Bukit Merese ini, jd lupa waktu deh, gak berasa udh jam 18, waah..langsung kami semua panik takut telat sampai di Bandara. Untung sopir mobil Elf kami cepet tuh nyupirnya... pas jam 19 malam sampe di Bandara (pesawat kami sekitar jam 20 malam). Puji Tuhan gak telat.
      Nah teman-teman demikian sedikit cerita dari reuni ex Gatnas IX.  Semoga kami semua tetap kompak deh. Salam jalan-jalan!
       
       

       
       
       
    • By Ahmad Andi Affandi
      Halo Jalan2ers ...jangan bosan sama saya ya ... , Kali ini mau cari teman nonton MotoGP di Chang International Circuit Buriram Thailand
      MotoGP Thailand berlangsung dari tanggal 5-7 Oktober 2018. Rencananya saya hanya menonton Sesi Race hari Minggu nya tgl 7 Oktober 2018.
      Saat ini kebetulan baru hanya punya Ticket Early Bird Side Stand seharga 1776.1 THB. Rencana Trip dari Sabtu 6-9 Oktober 2018. Itin Sementara sudah ada.
      So buat Jalan2ers yang hobi nonton MotoGP dan ada niat nonton disana boleh kontak ya.
       
      Terima Kasih 
      Andy WA : 08111698889

    • By noped
      Sedikit Review naik KA MALABAR Bandung - Malang minggu lalu 
      Buat yang suka naik umum, kereta ini sangat cocok dan di rekomendasikan untuk menempuh perjalanan yang cukup panjang dari Bandung – Malang dan sebaliknya. Harga tiket untuk kelas Eksekutif 465k, bisnis 270k, Ekonomi 225k. Untuk menghindari kehabisan tiket, sayapun memesan 3 minggu sebelum keberangkatan menggunakan aplikasi favorite pegipegi
      Nama kereta api Malabar diambil dari nama gunung berapi yaitu Gunung Malabar. Gunung ini terletak di bagian selatan Kabupaten Bandung dengan titik tertinggi 2.343 meter di atas permukaan air laut. Namun sebagian orang mengatakan nama Malabar tersebut berasal dari singkatan dari jurusan akhir kereta ini, yakni Malang-Bandung Raya (sumber wikipedia) atau lelucon dalam bahasa pejalan Malabar (Mantan Tak Lagi Berkabar).
      Kelebihan, sudah dilengkapi AC pada semua bagian kelas serta pengisian baterai. Tersedia TV hanya di bagian depan (kelas Eksekutif), Majalah “Rel” yang isinya ringan2 seperti kuliner,obyek wisata (kelas Eksekutif), Bantal mini yang telah tersedia di kursi sejak keberangkatan (kelas Eksekutif), untuk selimut disediakan saat mendekati jam tidur (kelas Eksekutif), AC sentral, bukan split seperti di kelas bisnis/ekonomi, menyewakan bantal tambahan dengan harga 7k
      Kekurangan kereta ini belum menyediakan wifi gratis, ruang khusus ibadah (mushola) dan AVOD di setiap bangku (kelas Eksekutif)
      Oh ya saran buat yang akan menggunakan kereta ini, di karenakan perjalanan malam hari dan kondisi suhu di dalam gerbong sangat dingin, gunakan pelindung kaki, jaket yang cukup tebal, pentup mulut dan telinga atau buff masker serta sarung tangan.
      saya post juga di noped.net
       
       



    • By adriepn
      Tanggal trip : 17-20 April 2014 (4 Hari 3 Malam)
      Destinasi trip : Maratua - Sangalaki - Kakaban - Derawan - Nabucco
      Peserta trip : 6 orang termasuk saya
      Travel : Kakaban Tour (www.kakaban.co.id)
      Biaya trip : Silahkan kontek saya untuk sekedar info 0818986510 atau bisa langsung kontek Kakaban Tour.

      All picture taken by iPhone 5S, not a pro camera. So perhaps some picture is not too sharp.
      Except for underwater photo, is taken by Nikon Powershot G12 with underwater casing.


      Setelah berdebat panjang tentang tujuan liburan kami di bulan April, akhirnya kami memutuskan untuk liburan ke Derawan. Berhubung ini perjalanan pertama kami ke Derawan, kami memutuskan memakai jasa travel supaya semua lancar. Travel yang kami pilih adalah Kakaban Tour.

      And now is the story

      DAY 1 : 17 April 2014

      Kami ber 6 berangkat dari Jakarta dengan pesawat Lion Air jam 5 pagi. Bisa dikatakan ini penerbangan paling pagi menuju Tarakan. Iya, kami memutuskan untuk mengambil jalur Jakarta – Tarakan – Derawan.

      Jalur lainnya sebagai alternatif adalah Jakarta – Balikpapan – Berau – Derawan. Namun, jalur alternatif ini terlalu panjang dan berpotensi membuat kita lelah di jalan. Tapi tergantung Anda lagi mau pilih jalur mana.

      Perjalanan ditempuh kurang lebih 3,5 jam dan kami tiba di Tarakan sekitar jam 9 pagi. Sesampainya di Tarakan, kami disambut oleh Guide kami, Mas Ryan. Dari bandara, Mas Ryan mengajak kami untuk sarapan dulu sebelum menyeberang ke Derawan karena perjalanan ke Derawan akan menempuh waktu selama 3 jam.


      Bandara Internasional Juwata Tarakan, Kalimantan Utara (KalTara)

      Usai sarapan, kami pun memutuskan mengisi perbekalan selama disana. Cemilan, minuman, peralatan mandi, dsb, yang kami pikir akan sulit didapatkan disana. Pukul 11 siang, kami tiba di Pelabuhan Tengkayu Tarakan untuk menyeberang ke Derawan. Kapal yang kami gunakan untuk menyeberang adalah speedboat fiber bermesin tunggal dengan kapasitas 250 HP.

       

      Berhubung kami menggunakan jasa travel, maka speedboat kami pun telah dicarter hanya untuk kami saja. Saya tidak tahu dengan prosedur travel lainnya, tapi travel yang kami pakai mencarter speedboat hanya untuk kami.

      Tepat pukul 11.30 WITA kami berangkat menuju Derawan menggunakan speedboat. Keadaan laut saat itu cukup tenang sehingga kapal dapat dilaju cukup kencang, kurang lebih sekitar 70-80 km/jam. Namun karena laju kapal yang cepat, membuat hentakan badan speedboat dengan permuakaan air, menjadi lebih keras. Untung saya sudah minum Anti*o, sehingga tinggal pasrah dengan efek biusnya.. 



      Walaupun trip kami ini ke Derawan, namun kami menginap di Pulau Maratua. Kurang lebih sekitar 1 jam dari Pulau Derawan. Tarakan – Derawan = 2,5 jam + 1 jam ke Maratua = 3,5 jam.

      Jam tangan saya menunjukan pukul 16.00 WITA saat kami tiba di Maratua. Sebagai info, Maratua dikhususkan kepada para tamu yang hobi diving. Sehingga saat Anda ke Maratua, mereka memiliki diving set yang lengkap untuk disewa oleh para tamu seperti snorkel, masker, fin, BCD, Nitrox, dll. Namun jika Anda hanya sekedar snorkeling, membawa set snorkeling Anda sendiri sangat disarankan agar Anda lebih puas & tenang liburannya.

         
       
      Di Maratua hanya ada 1 penginapan yaitu Maratua Paradise Resort. Kelebihan resort ini adalah vila penginapannya berada di atas laut. Ada juga vila yang berada di tepi pantai, namun hanya ada 8 unit saja. Bagi Anda yang ingin mendapatkan “perfect runawayâ€, tempat ini sangat direkomendasikan.

       

      Setibanya kami di resort, kami langsung menuju vila masing-masing untuk beristirahat. Khusus buat saya, saya perlu menyadarkan diri dari bius Anti*o.

      Pukul 17.30 WITA kami sudah siap-siap untuk menyambut sunset pertama kami di Maratua. Sepanjang garis horizon, kami hanya melihat hamparan laut yang jernih dan tenang. Tidak ada ombak yang menggulung.

      Dan sang Mentari Senja pun tiba dengan anggunnya di Maratua.

          
      Tidak ada dari kami yang mampu menyimpan hp di kantong. Selama 1 jam, kami semua begitu damai dalam posisi seperti tripod. Kami baru beranjak darI spot kami, setelah Mas Ryan (guide) kami mengundang kami untuk bersiap makan malam di resto apung.



      Semua di Maratua Paradise Resort, berada di atas laut, termasuk restorannya. Sebuah pengalaman yang seru saat kita menyantap ikan bakar sambil diliatin oleh si ikan yang asik berenang. Mungkin dalam hatinya sang ikan, “Titip sodara gw di perut lo yeee…â€

      Meminjam slogan Cherrybelle, hari pertama di Maratua, kami lalui dengan ISTIMEWAAAAA.. 

      DAY 2 : 18 April 2014

      Hari itu kami bangun sangat pagi. Bukan untuk mengejar sunrise, tapi untuk mengejar Pari Manta. Ya, hari itu kami menuju Pulau Sangalaki dimana disekitar pulau tersebut adalah tempat favorit para Pari Manta untuk muncul ke permukaan.
       
      Start pukul 8 pagi dari resort, speedboat kami mulai melaju kearah Sangalaki. Baru setengah perjalanan, kapten kapal melambatkan laju speedboatnya. Kami pikir kami akan snorkeling di tengah laut, namun teriakan semangat sang kapten membuat kami mengeluarkan seluruh perlengkapan foto.

      Lumba-lumba arah kiri 

      Benar saja. Terlihat kawanan lumba-lumba dari kejauhan. Sirip punggung mereka, bergantian muncul di permukaan. Lalu menghilang. Harapan bertemu lumba-lumba dari jarak dekat pupus sudah.

      Namun, tak lama kemudian, terdengar seperti orang bersiul yang lambat laun mendekat ke arah speedboat kami. Ternyata kawanan lumba-lumba tersebut berenang kearah kami, lalu mensejajarkan diri dengan kecepatan speedboat.

      Saya hitung ada sekitar 10-15 ekor lumba-lumba pagi itu yang menyambut kami. Mereka pun tak malu-malu menampakan diri. Dari berenang hanya sejarak 1 lengan saja dari speedboat hingga loncat akrobatik di atas permukaan air. Mereka seperti bisa membaca perasaan kami yang ingin melihat mereka lebih dekat.

       

      Hampir selama 30 menit lamanya, para kawanan lumba-lumba berenang di segala penjuru kapal, hingga akhirnya menghilang. Tak apalah, akhirnya kami melihat lumba-lumba dari jarak yang sangat dekat untuk beberapa waktu lamanya. Membuat semangat pagi itu semakin bergelora.

      Namun sayang, kami tidak bertemu sang Pari Manta karena kondisi laut saat itu sedang surut. It was not our lucky day.

      Tak lama kemudian, kami tiba di Pulau Sangalaki. Sekedar informasi, Sangalaki adalah pusat penetasan tukik penyu. Menetas pada pagi dini hari dan dilepaskan sore harinya. Tujuannya jelas, menjaga penyu dari kepunahan, dari mangsa predator (musang & biawak), serta dari pencurian telur. Saat ini telur penyu sudah dilindungi oleh undang-undang sehingga perlu tindakan nyata untuk menjaga telur-telur ini dari tangan jahil. Dan mereka di Sangalaki, sudah memulainya dari bertahun lamanya.

         

      Tapi narsis tetap wajib hukumnya..

      Setelah selesai berjumpa dengan para tukik, kami melanjutkan perjalanan ke spot diving pertama. Namun, karena kami semua belum menjadi Diver berlisensi, maka kami hanya melakukan snorkeling saja.

      Spot pertama di Sangalaki sungguh menawan. Ditunjang oleh cuaca cerah saat itu, jarak pandang ke dalam air sangat jelas. Kami bisa melihat dasar karang yang berjarak sekitar 5-7 meteran. 

      Berhubung ini adalah kali kami pertama nyemplung di perairan Derawan, maka 15 menit pertama lebih kepada penyesuaian diri terlebih dahulu. Arah arus, kuat arus, arah angin, menjadi salah satu pertimbangan kami saat itu. Kami beruntung dipandu guide professional yang juga seorang Diver Berlisensi AOW (Advanced Open Water), sehingga kami lebih merasa aman. Walau sertifikasi Mas Ryan "baru" sampai AOW, tapi jumlah dive-log nya sudah banyak. Ditambah Mas Ryan adalah orang asli Maratua.

      Kadar garam di perairan Derawan, termasuk tinggi. Sehingga untuk sekedar melakukan freedive, cukup membutuhkan usaha ektra. Tapi itu semua terbayar dengan pemandangan bawah laut yang menakjubkan.

         

      Setelah 1 jam kami snorkeling disana, naga di perut meraung-raung meminta jatah makan. Jadilah kita mlipir ke Pulau Derawan. Di Derawan kami hanya sekedar makan siang dan istirahat, setelah itu lanjut snorkeling di Pulau Derawan.

      Di Derawan, rencananya kami akan bermain bersama penyu. Jika melihat penyu saat di darat atau sedang bertelur, kami sudah sering melihatnya. Berenang bareng penyu ? That would be awesome!

       

      Selesai bermain bersama penyu, kami lanjut ke Pulau Pasir. Dikatakan Pulau Pasir karena sebenarnya ini adalah dasar laut saat air pasang. Saat air surut, maka timbullah si pasir ini sehingga seperti pulau.

      Pulau Pasir salah 1 spot keren untuk foto-foto. Pasir putih, air jernih kebiruan, view sekitar yang OK, jadilah 1 paket foto keren.

           

      Setelah puas bermain di Pulau Pasir, kami kembali ke Maratua untuk mandi, beristirahat dan siap menyambut sunset kembali. Oleh-oleh hari kedua adalah.. gosong!

      DAY 3 : 19 April 2014

      Inilah hari yang paling kami tunggu karena hari ini kami mengunjungi Pulau Kakaban. Pulau atol yang terkenal karena penghuni ajaibnya, yang tak lain tak bukan adalah Ubur-Ubur Tak Berbahaya.

      Ubur-ubur pada umumnya akan menyebabkan gatal dan panas pada kulit, apabila sulurnya terkena kulit kita. Namun, di Pulau Kakaban, mereka tidak menularkan gatalnya.

      Setelah speedboat merapat di dermaga, kami masih harus trekking sekitar 5 menit berjalan kaki. Trek nya adalah tangga kayu berkontur. Ada bagian yang menanjak, datar, dan turunan.

      Kami begitu tak sabaran untuk nyemplung bersama para ubur-ubur, begitu kami tiba di tepian danau Kakaban. Dari atas dermaga di pinggir danau, kita bahkan sudah bisa melihat rombongan ubur-ubur yang sedang berenang santai. Sepertinya hidup mereka begitu indah, tanpa perlu memikirkan meeting proyek..

      Perlu dipatuhi peraturan snorkeling di Danau Kakaban : Pertama, tidak boleh menggunakan fin karena ubur-ubur termasuk hewan yang fragile & kalau pakai fin, ubur-ubur akan tersapu kibasan fin kita. 

      Kedua, tidak boleh nyemplung masuk danau dengan loncat. Itu semua demi kelangsungan hidup para ubur-ubur & agar danau tidak menjadi keruh. Ketiga, berenanglah dengan sesantai mungkin. Ya, santai saja seperti ubur-ubur.

      Sekarang, mari kita nyemplung.
       

       
      Sungguh beda rasanya berenang bersama ubur-ubur. Terakhir saya berenang bersama ubur-ubur, saya harus pake salep kulit sekujur badan setelah berenang…

      Ada 3 jenis ubur-ubur di Danau Kakaban. Jenis ubur-ubur berukuran normal (sekepalan tangan) berwarna oranye cerah, jenis ubur-ubur mini, dan jenis ubur-ubur transparan.

         

      Snorkling semakin ke tengan danau, akan semakin banyak ubur-ubur yang kita jumpai. Pada umumnya, pengunjung hanya nyemplung di pinggiran danau saja sehingga area tersebut menjadi sangat keruh.

      Bermain bersama ubur-ubur ramah, sungguh damai. Waktu seolah berhenti. Saya sampai perlu dipanggil untuk diingatkan bahwa sudah waktunya lanjut ke spot berikutnya.

      Guide kami bilang kepada kami bahwa spot snorkeling berikutnya adalah yang the best dari Kakaban. Tempat itu disebutnya Wall Point. Ternyata spot nya hanya berjarak 100 meter dari dermaga Pulau Kakaban.

      Setibanya di spot, kami melihat coral yang cantik dari atas speedboat. Kondisi cuaca saat itu memang sedang cerah sehingga kami bisa melihat hingga ke dasar.

      Kejutan tiba saat kami semua sudah nyemplung. Saat sedang asik menelusuri jalur coral, kami dikejutkan oleh kontur coral yang semakin turun ke dalam. Namun, karena rasa penasaran kami lebih besar, kami terus maju. Dan kami pun tersadar kenapa itu disebut Wall Point.

      Wall Point adalah istilah untuk coral yang berjejer secara vertikal hingga membentuk seperti dinding besar. Ditambah dengan warna coral yang terang dan ikan berwarna cerah yang hilir mudik di depan masker kami, membuat Wall Point mendapat 4 jempol dari kami. 

      Bisa dikatakan Wall Point seperti palung di samudra. Namun sebenarnya ini adalah “kaki†dari si pulau atol Kakaban.
       
             
       
      Memang benar trip ke Derawan ini adalah pengalaman yang luar biasa. Kami selalu disuguhi pemandangan bawah laut yang memang luar biasa. Saya belum bisa membandingkan dengan Raja Ampat, Wakatobi, atau Bunaken, karena saya belum pernah ke 3 tempat yang disebutkan tadi. 

      Kurang lebih kami menghabiskan waktu 2 jam di Wall Point karena its so stunning! Ada rasa belum puas saat harus menyudahi petualangan di Wall Point. Namun, time is up dan siap lanjut ke spot 3, yaitu Kakaban Lagoon.

      Kakaban Lagoon adalah seperti sungai yang terjebak di dalam pulau karang. Terjebak karena kondisi surut & baru mengalir kembali saat pasang. Untuk mencapai Kakaban Lagoon, kita harus memanjat karang secara vertikal dengan tangga kayu & sedikit rock climbing. Betul-betul rock climbing! 



      Setibanya di atas, kami disuguhi lokasi yang super-duper-keren. Biru air, pasir putih, hijaunya pohon, dan kesunyian. It's a perfect a place to hide! 
      Namun, tak berarti tak ada gangguan. Nyamuknya cukup banyak. Ga ada pilihan selain pasrah..

        

      Dari Kakaban, kami kembali menuju Maratua untuk makan siang dan beristirahat. Tepat pukul 2 siang, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Nabucco.

      Sebagai informasi, Pulau Nabucco adalah pulau resort yang diperuntukan bagi wisatawan berkantong tebal. Kantong kami pun tak kalah tebal, hanya saja tebal oleh bon

      Pulau Nabucco terletak berjarak 30 menit dengan speedboat dari Maratua. Secara administrasi, Nabucco masih 1 kelurahan dengan Maratua. Ke Nabucco pun, hanya mengitari Maratua saja.

      Setelah menerjang ombak yang cukup tinggi untuk menuju Nabucco, akhirnya kami pun tiba disana. Kondisi nya sungguh terpencil dan jauh dari keramaian. Untuk yang mengincar suasana sepi, Nabucco bisa menjadi pilihan tempat menginap. Bagi kami, Nabucco terlalu sepi. Dan terlalu mahal...

      Untuk view, Nabucco punya nilai tawar yang tinggi untuk itu. Air sebening kaca dan pasir putih, menjadi latar foto kami. Ya, yang kami lakukan hanya berfoto disana. Foto, foto, foto, dan foto. Disini wajib narsis, atau menyesal telah tidak menjadi narsis.

            

      Kami hanya menghabiskan waktu selama 1 jam saja di Nabucco karena kami ingin bermain air di pantai Maratua. Jadilah sore itu kami kembali ke Maratua, snorkelng santai dan bersiap mengabadikan sunset terakhir sebelum esok hari kembali ke dunia nyata.
       
      DAY 4 : 20 April 2014

      Inilah hari tergalau. Galau karena kami tidak mau kembali ke Jakarta. Tapi kalau tidak kembali, mau makan apa besok…

      Berfoto dulu di dermaga Maratua sambil mengucap dalam hati bahwa ini bukan perjalanan terakhir ke Derawan. Ini hanya awal dari trip Derawan berikutnya.



      Speedboat pun perlahan meninggalkan dermaga Maratua. Tidak ada satu pun dari kami yang melepaskan pandangannya dari Maratua. Tempat kami berenam menghitamkan kulit.

      Semua terdiam.

      Sekitar pukul 12 siang, kami tiba di Pelabuhan Tengkayu, Tarakan. Menaiki bus penjemput pun dengan badan lemas. Lemas karena masih ingin liburan.

      Mas Ryan sebagai guide kami, membaca air muka kami. Tanpa sepengetahuan kami, Mas Ryan memerintahkan sang sopir menuju Hutan Bakau Kota di tengah kota Tarakan.

      Kondisi bakaunya sangat terjaga dan semangat kami mulai kembali. Kenarsisan kami mulai datang lagi. Bahkan kami pun bertemu para rombongan Bekantan. Tau Bekantan ? Monyet berhidung panjang yang dijadikan maskot oleh Dufan.

       

      Akhirnya jam menunjukan pukul 1.30 siang. Waktunya kami menuju bandara karena pesawat kami akan berangkat pukul 3 sore.

      Berpamitan di bandara pun terasa berat bagi Mas Ryan. Walau dia mencoba tegar, terlihat bahwa matanya berkaca-kaca. Semoga kami meninggalkan kesan yang baik kepadanya, agar kalau kami kembali ke Derawan, Mas Ryan mau menemani kami lagi.

      Kami pun sangat berterima kasih kepada Mas Ryan karena telah begitu perhatian, sabar, dan telaten kepada kami selama di Derawan.

      Kami menaiki pesawat Lion Air. Walau duduk kami pada 1 deret yang sama, kami hanya bisa tersenyum kepada 1 sama lain. Bahkan kami cuma bisa termenung saat mentari senja mengiringi perjalanan pulang kami. 
       
      "Kenapa liburannya harus usai sedemikian cepatnya.. "

       




      Derawan, we will meet again
       
      cc @deffa @Jalan2 @d_iis @astinsoekanto
    • By petrus.sitepu
      Keindahan 3 Gili dan pantai kuta mandalika di bagian barat dari pulau Nusa Tenggara ibarat mutiara yang tersimpan baik dan rapi yang sangat disukai oleh wisatawan asing.
      Kota lombok atau yang lebih terkenal dengan sebutan pulau dengan seribu masjid ini memiliki spot wisata yang tidak kalah menarik dengan pulau dewata. Tapi sayangnya keindahannya ini tidak dinikmati baik oleh wisatawan domestik.
      Apakah ada pernah nama pantai kuta mandalika, pantai yang belakang ini menjadi trending topik di sosial media. Pantai kuta mandalika adalah pantai yang baru ini diresmikan presiden Joko Widodo, pantai ini diprediksi akan menyaingi kesuksesan dari pantai kuta di pulau dewata. Pantai ini sudah dilengkapi oleh tempat makan dan juga penginapan yang tentunya akan memudahkan wisatawan yang akan menikmati pantai kuta madalika. Jarak  yang perlu ditempuh dari kota lombok menuju pantai kuta mandalika sejauh + 39KM. Anda tidak perlu kuatir karena jalan yang akan ditempuh sudah cukup baik dan anda akan merasa nyaman untuk menuju pantai kuta mandalika.
      Menunggu matahari terbenam sambil membaca buku dan menikmati segelas es kopi bisa menjadi salah satu pilihan aktivitas anda. Bentangan pasir putih dan juga arus ombak yang tidak terlalu deras akan membuat anda betah untuk bermalas-malasan disini.
      Tentunya tidak hanya pantai kuta mandalika, ada pula 3 gili yang bisa  anda kunjungi ketika berada di kota lombok. Gili trawangan, gili meno dan gili air merupakan nama dari 3 gili yang eksotik tersebut. Gili sendiri diartikan dengan pulau kecil.

      Gili Trawangan menjadi salah satu pulau yang paling sering dijadikan base ketika ingin meng-explore keeksotisan 3 gili tersebut. Anda tidak perlu kuatir untuk masalah penginapan ketika anda ingin meng-explore 3 gili karena di gili trawangan banyak pilihan hotel ataupun hostel (guest house) yang bisa anda pilih yang  dikelola baik oleh warga lokal atau turis asing. Ada beberapa hotel yang dikelola oleh turis asing menyediakan juga jasa untuk diving dengan harga yang bervariasi tergantung pilihan anda.
      Apabila anda ingin snorkeling di gili trawangan terdapat juga penawarkan paket untuk snorkeling di gili trawangan, gili air dan gili meno. Anda hanya cukup membayar Rp 100,000 anda sudah mendapatkan perlengkapan untuk snorkeling. Paket ini cukup menarik khususnya untuk backpacker yang ingin sekali  mengexplore keindahan bawah laut dari gili trawangan, gili meno dan gili air.
      Aktivitas lain yang ada harus lakukan ketika anda berada di gili trawangan yaitu menikmati matahari terbenam, karena gili trawangan merupakan spot yang terbaik untuk melihat matahari terbenam. Ada 2 cara anda untuk menikmati matahari terbenam yaitu dengan bersepeda mengelilingi gili trawangan ataupun duduk santai di sebuah cafe yang tersebar rapi dan cantik di sepanjang pinggir pantai gili trawangan.
      Cafe -cafe pinggir pantai tersebut juga memutarkan musik dan menyediakan spot foto yang menarik untuk mengabadikan memori anda selama di gili trawangan atau mensharing keberadaan anda di sosial media
      Selamat menikmati pantai kuta mandalika dan 3 gili, karena Indonesia lebih baik. 
      (www.jelajahtanpajejak.com)

    • By Barajiwa Patria Soedarmo
      Hallloo agan dan aganwati sekalian berjumpa lagi bersama ane sang travler super sejati:ngakak . Di perjalanan ini ane mau ajak agan liburan ke Lombok, NTB tepatnya ke Sengigi, dan 3 Gili:matabelo . Bukan seperti perjalanan sebelumnya ane selalu ditemani oleh temen-temen ane tapi kali ini ane liburan bersama keluarga ane:2thumbup . Seperti biasa ane mau memperlihatkan map Lombok dulu ya gan:wow

      Ane mau ajak agan dan aganwati ke tempat yang indah yang terletak di Baratnya Lombok tepatnya di daerah Senggigi, Pulau Gili yang berada di sebelahnya dan juga anak kaki gunung Rinjani:2thumbup . Sebelum itu ane mau memperkanalkan anggota keluarga ane dalam perjalanan ini:cool


      Karena sibuk foto keluarga, buat trit, dan buat Vlog ane lupa foto sendiri:ngakak



      Perajalanan ane bersama ane dan keluarga berlangsung selama 3 hari untuk lengkapnya nyok kita simak ceritanya:2thumbup
      Day 1, 28 Mei 2016
      Perjalanan ane dari Lombok dimulai dari persiapan barang-barang yang mau ane bawa selama 3 hari dan barangnya adalah
      Koper:
      1. Baju 7
      2. Celana 7
      3. Anduk
      4. Peralatan Sholat
      Tas Camera
      1. Canon 70D
      2. Lens Canon 10-18mm
      3. Lens Canon 50mm
      4. Lens Canon 18-55mm
      5. Mic Rode Video Go Rycote
      6. 2 Baterai Cadangan Canon 70D
      7. Baterai Cadangan Mic Rode
      8. GoPro 4 Black
      9. Laptop Dell
      10. Gorilla Pod
      11. Powerbank
      12. All Charger
      13. Pembersih Lensa
      14. HDD WDC 1TB
      Setelah ane rasa lengkap bawaannya ane berangkat dari rumah jam 07.00 WIB untuk mengejar penerbangan ke Surabaya jam 08.45 WIB dengan dianter temen ane dari Tembalang, Semarang:matabelo

      Perjalanan dari Tembalang ke Bandara Ahmad Yani hanya menempuh 45 menit jadi kami masi sempat cek in di Bandara ontime:2thumbup


      Masi banyak waktu ane dan adek ane jadi kami memutuskan untuk santai dulu buat sarapan pagi karena perut ane masi lapar maklum belum makan gan:ngakak . Secangkir Green Tea Latte hangat dan makan telur keju ane lupa namanya udah buat ane kenyang kok:matabelo

      Jam sudah menunjukan jam 08.45 WIB saatnya kami untuk naik pesawat Sriwijya Air yang akan mengantarkan kami ke tempat transit yaitu Bandara Juanda di Surabaya:ngacir2


      Perjalanan dari Semarang menuju Surabaya hanya memerlukan waktu 45 menit karena memang jaraknya yang tidak begitu jauh jika menggunakan pesawat.:lehuga . Ini kali pertama ane menginjakan kaki di Bandara Juanda, ane rasa Bandara Juanda mempunyai tempat yang nyaman untuk transit disana:matabelo


      Di Bandara kami mencari tempat untuk santai lagi dan setelah dicari-cari kami menemukan tempat santai yaitu Dunkin Donuts:matabelo


      Akhirnya jam keberangkatan kami ke Lombok sudah dekat kami mulai cek in dahulu untuk pesawat board jam 13.00 WIB :cool

      Akhirnya kami sudah bisa santai di Pesawat Sriwijaya Air :lehuga

      Setelah perjalanan panjang akhirnya kami bisa sampai di Lombok jam 14.50 WITA. Lelah yang kami rasakan seolah hilang karena terbayar rasa exited kami ke Lombok:2thumbup

      Perjalanan kami dilanjutkan dengan Taxi menuju Hotel Sheraton di Sengigi. Menurut ane sepanjang jalan overall sudah bagus karena pemerintah Lombok sudah menerapkan pembangunan tepat untuk kemajuan pariwisata Lombok:matabelo :matabelo


      Perjalanan menuju Hotel Sheraton ditempuh dengan waktu 2,5 jam karena jaraknya yang cukup jauh:nohope walaupun jalannya udah bagus cuman jauh ya mau gimana lagi gan:2thumbup tapi ane tetep seneng karena bisa liat pemandangan Lombok. Akhirnya kami sampai di Hotel Sheraton Senggigi dan bayar 250ribu rupiah ke taxi. Di Hotel Sheraton inilah ane dan adik ane bertemu dengan kedua ortu ane :salaman. Dan inilah Hotel Sheraton Senggigi





      Hotel Sehraton juga punya Pantai pribadi loh gan:matabelo :matabelo


      Malamnya kami sekeluarga tidak lupa untuk menyantap makanan khas Lombok yaitu ayam Taliwang yang enak pastinya:2thumbup di rumah makan Nada Alam Nyaman


      Day 2, 29 Mei 2016
      Di hari kedua dimulai dari sarapan di Hotel Sheraton :2thumbup yang pasti enak karena menurut pendapat ane makanan hotel itu mencerminkan kualitas hotel tersebut:wow

      Setelah makan yang kenyang kami bersiap-siap untuk perjalanan hari ini. Perjalanan pertama kami adalah ke air Terjun Sendang Gile di kaki Gunung Rinjani yang katanya bagus:matabelo . Perjalanan ane kesana ditempuh dalam waktu 2 jam dari Hotel:cd: . Nah inilah air Terjunnya beserta trek menuju kesana




      Perjalanan kami dilanjutkan menuju Puncak Desa Sembalun yang dulu pernah jadi shooting Jalan-Jalan Men:matabelo . Perjalanan kesana kami bisa melihat Gunung Rinjani lenih dekat loh:2thumbup


      Akhirnya kita tiba di Taman Wisata Pusuk Sembalun yang merupakan puncak tertinggi di Sembalun:wow . Perjalanan kesana harus ditempuh dengan mobil yang tenaganya kuat karena jalannya yang cukup menanjak tinggi:mewek dan banyak jurang:cd: oiya ditambah lagi ane juga kurang hoki karena cuaca menjadi hujan dan licin:cool


      Setelah kita puas taman Wisata Pusuk Sembalun kita pulang jam 13.00 dan mencari makan. Namun kami mencari sampai jam 17.00 tepatnya di Sengigi baru dapet makanan yang sesuai dengan keinginan kami:mewek . Jadi kami makan di Rumah Makan New Furama Senggigi


      Dan Setelah makan kami kembali ke Hotel Sheraton dan membayar jasa antar mobil itu sebesar 600ribu
      Day 3, 30 Mei 2016
      Perjalanan hari ini dimulai dengan naik kapal dari Senggigi menuju Gili Trawangan:matabelo . Kapal yang kami naiki adalah kapal speedboat yang kami bayar 600ribu PP padahal harga aslinya 900ribu jadi ketika disana ane bisa kasih saran harus jago nawar biar murah:wow . Perjalanan dari Senggigi menuju Gili Trawangan dengan Speedboat hanya 10 menit beda dengan Kapal Publik yang menempuh waktu 40 menit:lehuga . Akhirnya kami tiba di Gili Trawangan




      Setelah kita sampai di Gili Trawangan kami mencari paket snorkling yang buat umum saja agar rame dan lebih murah pastinya:lehuga . Harga paket snorkling ke 3 spot itu sebesar 100ribu :sup: dan diisi oleh 50 orang 1 kapal:travel :wow


      Setalah kami snorkling di 2 spot kapal merapat ke Gili Air untuk makan siang:2thumbup kebetulan perut ane sudah lapar gan:wakaka dan kami makan di Rumah Makan Pongkor, Gili air


      Setelah kenyang baru ane bisa motret Gili Air:motret :wakaka



      Setelah makan kami snorkling di satu tempat lagi dan di spot itu ane terbawa arus laut:takut:nohope  , ane renang terus menuju kapal namun tidak sampe-sampe untuk ada orang yang menolong ane:matabelo . Akhirnya ane dibawa ke spot yang bukan arus liar dan ane bisa kembali lagi ke kapal:cool . Setelah sampai di Gili Trawangan lagi kami melanjutkan pencarian tempat sunset yang bagus:2thumbup , kata Bunga adek ane ada hotel Sunset yang bagus dengan ayunan di lautnya namun kata pak kusir ayunan itu sudah tidak ada di hotel Ombak Sunset:mewek , Jadi kami pindah ke Pandawa untuk melihat Sunset. Inilah foto andong dan Pandawa



      Akhirnya malampun tiba kami dijemput kembali oleh speedboat jam 18.30 WITA dan akhirnya ane bisa foto Gili Trawangan di malam sebelum berpisah:motret :matabelo


      Day 4, 31 Mei 2016
      Yah udah hari ke4:mewek berat langkah kami meninggalkan pulau yang penuh dengan keindahan ini:sorry


      Sebelum kami ke BAndara Lombok dengan menggunakan Taxi kami pergi ke beberapa tempat seperti pusat oleh makanan dodol rumput laut, rumah adat Lombok, dan makan dulu di rumah makan yang belum sempet ane foto karena lupa:wakaka . Namun jangan sedih karena video lengkap perjalanan ada di Travel Vlog #2: Lombok nonton yah gan:2thumbup
      Jadi inilah sepenggal cerita perjalanan ane di Lombok, ane pribadi merasa Lombok masi akan lebih berkembang lagi bahkan bisa mengalahkan Bali dikemudian hari. Akhir kata ane ucapkan
      SALAM TRAVLER