• agoda-hemat.png

Nightrain

Akhir Tahun Di Phuket Yang Menyenangkan ( Panduan Ke Phuket Lengkap )

47 posts in this topic

Phuket, 10 - 14 December 2015

 

post-22151-0-16511600-1426650719_thumb.j

 

Awal sampai pertengahan Desember merupakan waktu yang tepat untuk mengunjungi Phuket karena musim hujan sudah berakhir di awal November dan kondisi laut cenderung tenang sehingga memungkinkan untuk menyeberang ke Phi Phi dan Phang Nga Bay dengan aman. Namun usahakan jangan pergi akhir Desember karena Phuket sudah memasuki high season, selain akomodasi yang mahal, kalau pantai, kafe, dan toko terlalu padat jadinya kurang nyaman juga.

2 minggu sebelum berangkat, kita sudah janjian dengan mas Warsono alias @Sononi Noni untuk menjadi tour guide kita sekaligus menyiapkan mobil agar kita keliling kota jadi gampang dan efisien, apalagi kita memang ngajak papa mertua untuk jalan dan kakinya sudah sakit untuk berjalan terlalu jauh. Overall, servis Sononi memuaskan dan kita rekomen untuk temen-temen yang mau ke Phuket karena selain dia memang asli orang Indo jadi ngobrolnya gampang dan asik, dia juga kenal dengan berbagai operator tur dan show jadi harga yang didapat bisa lebih murah jauh ketimbang langsung beli on the spot.


Day 1 - Patong

Kita tiba di bandara sudah jam 8 malam dan ruangan imigrasi sudah sangat padat dengan turis dari berbagai negara. Kerja para petugas agak lelet, bahkan mungkin lebih lama dari Indo, dan baru belakangan kita tau kalo ternyata di Thailand pun masih umum praktek sogok-menyogok, jadi kalau berani keluarin 100 baht, bisa disediakan pintu khusus biar lebih cepat haha. Setelah mengambil bagasi, kita segera keluar dan ketemu dengan Sononi di depan. Cuaca malam itu tidak bersahabat dan ternyata Phuket seharian diguyur hujan, tapi mending gitu daripada hujan pas kita ke Phi Phi haha malemnya kita menuju ke hotel dan lokasi airport ke kota cukup jauh sekitar 1 jam kurang dan karena perut agak keroncongan, kita minta untuk mampir makan dulu.

Kita diajak ke restoran No 6 yang ada di Patong, rupanya resto ini memang rame dan terkenal, selain karena rasanya yang enak, harganya juga murah. Pad thai yang terkenal seperti kwetiau itu harganya sekitar 35rb-an, minuman rata-rata sekitar 25rb, dan ada beberapa makanan yang harganya 40rb-an. Hujan masih masih mengguyur Phuket namun bar, resto, dan sepanjang jalan Patong ini masih rame dipadati turis, sebagian mengenakan rain ponchos, semacam jas hujan, ada juga yang cuek dan santai saja berjalan di luar walaupun basah.

Hotel yang kita pilih adalah Patong Mansion yang lokasinya cukup dekat dari restoran itu dan tiba disana sekitar jam 10 malam. Interior lobi hotel ini sederhana saja namun relatif bersih dan hotel ini masih tergolong baru, mulai beroperasi sejak 2 tahun lalu. Kamarnya termasuk besar dan extra bed yang kita pesan juga sudah diatur rapi di dalam. Setelah mandi, kita beristirahat karena besok jam 8 pagi kita akan mengawali tur Phuket ke Phi Phi Island.

Share this post


Link to post
Share on other sites

post-22151-0-51384400-1426651266_thumb.j

 

Day 2 - Phi Phi Islands dan Simon Cabaret

Setelah sarapan, sekitar jam 8 kita dijemput oleh Sononi dan menuju ke tempat berkumpul untuk bergabung dengan beberapa turis lain yang akan ikut di speedboat yang sama. Yang menjadi guide ke Phi Phi kita adalah orang Thai asli yang memiliki nickname 'Bob', bahasa Inggrisnya cukup fasih walaupun kental dengan aksen Thai, dan total ada sekitar 25 orang lebih yang ikut. Biasanya ada 2 opsi yang ditawarkan untuk menuju Phi Phi, yang pertama menggunakan speedboat kalau kondisi laut tenang dan jauh lebih cepat karena 45 menit sudah sampe, dan yang kedua adalah cruise besar, ini kapal yang aman walaupun laut agak berombak namun dua kali lebih lama dan biasanya di Maya Beach tidak bisa turun, jadi kalau bisa, pilih speedboat aja.
 

post-22151-0-13582100-1426651347_thumb.j post-22151-0-37670200-1426651281_thumb.j

 

Sebelum berangkat, Bob menjelaskan ada beberapa spot di Phi Phi yang akan kita kunjungi. Yang pertama menuju Phi Phi Don untuk snorkeling dan swimming, melihat Monkey Island, dan lunch di salah satu pulau, kemudian lanjut ke Phi Phi Leh untuk menuju Maya Bay yang menjadi lokasi syuting film The Beach dan bersantai disana, sebelum kembali lagi ke Khai Island yang ada di Phi Phi Don untuk bersantai baru kembali ke Phuket.

 

post-22151-0-51316400-1426651334_thumb.j post-22151-0-82189600-1426651364_thumb.j

 

Perjalanan pagi itu kita tempuh sekitar 30 menit untuk mampir sebentar melihat Monkey Island sebelum lanjut menuju spot snorkeling. Buat yang minat untuk snorkeling, biasanya sebelum berangkat, kita diperbolehkan untuk menyewa fin dan membeli ocean pack drybag agar peralatan elektronik, paspor, dll aman, namun buat yang males nyebur dan cuma pengen santai juga oke karena pemandangan sekitar bagus dan air laut yang jernih sehingga bisa terlihat ikan berseliweran. Lokasi disini tidak banyak coral yang bagus dan harus berhati-hati karena cukup banyak bulu babi juga.
 

post-22151-0-01060100-1426651425_thumb.j post-22151-0-24115500-1426651452_thumb.j

 

Dari sini, kita lanjut menuju pulau pertama untuk lunch. Jangan terlalu berharap banyak karena makanan yang disuguhkan rasanya hambar dan cenderung tidak enak, yang penting cukup buat ganjel aja tapi tempatnya lumayan untuk sekedar ngebir santai, menikmati es krim, dan melihat hamparan pasir putih, pantai yang tenang, deretan longtail boat, dengan background formasi limestone yang berjejer cantik.

 

Lunch break sekitar 1 jam pun berakhir dan kita semua kembali naik ke speedboat untuk lanjut menuju destinasi berikut yaitu Maya Bay. Di tengah perjalanan, kita mampir sebentar untuk photostop di Viking Cave. Ada beberapa turis yang merapat untuk masuk ke dalam gua dan biasanya ada orang lokal yang nongkrong untuk memungut biaya masuk namun foto-foto dari luar rasanya udah cukup karena masih lebih oke untuk menghabiskan waktu di Maya Beach.
 

post-22151-0-44784600-1426651463_thumb.j post-22151-0-59395400-1426651487_thumb.j

 

Tiba di Maya Beach, speedboat kita merapat ke pantai dan semua berloncatan untuk turun. Sore itu matahari masih sangat terik namun cukup banyak bule yang cuek saja berjemur di pantai. Maklum karena bulan Desember gini buat mereka panas tropis malah nikmat karena di negara asal mungkin suhu-nya minus. Air laut yang jernih dengan dasar pasir putih yang lembut dan latar belakang limestone memang membuat pantai Maya ini sangat indah untuk dijadikan latar belakang foto.

Dari pantai, kita bisa berjalan sekitar 10 menit ke tengah pulau dan ada tangga kecil yang menuju ke lagoon. Di sini juga merupakan spot bagus untuk berfoto namun karena lokasinya yang terlalu sempit membuat tidak nyaman untuk berlama-lama karena banyak turis yang lalu lalang dan antri untuk berfoto. Setelah puas bermain di lokasi ini sekitar 1 jam lebih, kita balik ke speedboat untuk kembali ke Phuket dan sebelumnya mampir dulu ke Khai Island untuk bersantai.
 

post-22151-0-18788700-1426651510_thumb.j post-22151-0-79412600-1426651520_thumb.j

 

Bob sudah menyiapkan buah-buahan dan minuman segar untuk digelar buat para peserta tour. Pulau Khai ini terkenal dengan banyaknya ikan yang santai berenang bersama para turis di sekitar pantai. Di tengah pulau juga sudah dibangun banyak pondok yang ditempati oleh banyak penduduk lokal untuk mengais rejeki. Ada yang berjualan bir, minuman alkohol, jus, aneka ragam snack dan makanan, dan tentunya dengan harga premium. Jadi jangan heran kalau segelas jus mangga bisa dihargai 200 baht :D

 

post-22151-0-01584400-1426651536_thumb.j post-22151-0-43320500-1426651576_thumb.j

 

Sore sekitar jam 5 kita tiba di Phuket dan mobil pun mengantar kita kembali ke area Patong. Kita mampir dulu ke Banzaan Market dan buat yang seneng seafood, di pasar ini kita bisa bebas milih-milih kepiting, kerang, udang, ikan dan kalau minat untuk dimasakin, silahkan ke lantai dua dan tinggal pilih restoran mana yang sreg. Biasanya mereka charge harga masaknya per kilo namun hari itu kita mau yang gampang saja dan ga ribet, jadi kita keluar Banzaan dan nyebrang ke Tiger Inn Restaurant, persis di samping Thaiboxing Arena. Sekitar jam 6 sore, di depan Banzaan Market sudah banyak pedagang kaki lima yang menyiapkan dagangannya, dan macam-macam mulai dari fried chicken, sate buaya, martabak, buah, dan sebagainya.
 

post-22151-0-82762900-1426651551_thumb.j post-22151-0-08795100-1426651565_thumb.j

 

Makan di Tiger Seafood ini mirip dengan Bandar Djakarta dan sebetulnya ngga banyak beda dengan Banzaan, kita pilih yang kita mau di depan dan mereka akan masak di dalam, namun di Tiger bukan cuma seafood tapi macam-macam makanan lain seperti Chinese dan Thai Food juga ada, jadi kalau yang seneng makan macam-macam, restoran ini cukup rekomen dan harganya juga reasonable. Ngga murah tapi wajar ! Selesai makan, kita nunggu Sononi datang sekitar jam 7.15 dan tujuan terakhir malam itu adalah Simon Cabaret. Tiba di lokasi sekitar 15 menit karena tidak jauh dari Patong dan syukurnya malam itu tidak macet, kita langsung bergegas masuk ke dalam dan dapat seat di balkon atas. Jarak pandang agak jauh tapi cukup nyaman dan jelas. Theater-nya juga bagus dan tidak usah khawatir soal pakaian karena bebas kita mau pakai celana pendek, sandal, dan kaos.

 

post-22151-0-16221300-1426651594_thumb.j post-22151-0-48864800-1426651605_thumb.j

 

Pertunjukan dimulai sekitar jam 8an malam dan durasi show sekitar 90 menit atau lebih. Kita cukup impressed dengan show ini karena performers yang tampil bukan sekedar ladyboy dan performers asal-asalan karena sudah diseleksi dan juga punya kemampuan dance yang lumayan bagus. Penampilan mereka merepresentasikan kostum dari berbagai negara sesuai tema-nya mulai dari Thailand sendiri, China, Korea, Japanese, Egypt, European, American, dan sebagainya, dan uniknya ada dua kali selingan bencong lucu dan gendut dengan kostum kocak. Overall, show ini termasuk sangat menghibur dan rekomen untuk nonton setidaknya sekali. Menurut Sononi, ada satu kompetitornya yang baru muncul, namanya Aphrodite, dan menurut review ada yang bilang show ini lebih bagus lagi namun kita belum sempat nonton, mungkin next time kalo balik ke Phuket lagi.

 

post-22151-0-06165300-1426651619_thumb.j post-22151-0-82606900-1426651631_thumb.j

 

After show, para performers dengan kostum mereka akan berdiri berjejer di depan untuk berfoto dengan turis dan mereka meminta tips 100 baht untuk sekali foto. Lumayan kalo satu orang bisa dapat 20 turis hahaha dan kata Sononi, biasanya abis show, beberapa dari mereka lanjut lagi ke Bangla untuk 'kerja'. Selesai show sekitar jam 10, kita balik ke hotel untuk beristirahat.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 3 - City Tour dan Phuket Fantasea

Kita mengawali hari ini dengan menuju ke Karon Beach yang terletak di sebelah selatan Phuket. Jarak pantai Karon dari hotel kita yang berada di sekitar Patong kurang lebih sekitar 10 km. Lokasi Karon ini agak jauh dari kebisingan downtown Phuket sehingga sangat cocok buat yang pengen menikmati suasana pantai yang sunyi. Di sekitar jalanan, berdiri banyak resort yang cukup banyak ditempatin oleh turis-turis berumur 40-50an. Terlihat juga beberapa keluarga yang tidak peduli dengan teriknya matahari siang, mereka dengan santai berlari menuju pantai untuk bermain air sambil berjemur.

 

post-22151-0-98769700-1426652515_thumb.j

Menurut Sononi, memang Karon cukup populer untuk para turis yang sudah bosan dengan nightlife Phuket dan justru pengen santai walaupun setiap hari kerjanya ya hanya menikmati matahari di pantai. Dari Karon, kita lanjut ke selatan dan tiba di Kata Beach. Di pantai ini terlihat lebih hidup dan memang cukup padat. Banyak yang lebih suka dengan Kata karena selain lebih ramai, di sekitar lokasi sini lebih gampang nyari cafe atau restoran, namun menurut kita, pantai yang lebih bagus justru di Karon.

 

post-22151-0-47161200-1426652541_thumb.j post-22151-0-15837600-1426652556_thumb.j

Titik ujung paling selatan Phuket adalah Promthep Cape, lokasi yang fantastis untuk menanti sunset dan menikmati hamparan luas laut Andaman. Sebelum sampe di Promthep Cape, kita mampir dulu di dua view point. Yang pertama adalah lokasi dekat power plant dan windmill yang tidak terlalu rame tapi justru view-nya lebih bagus dari Promthep. Ada beberapa pasangan juga yang memutuskan untuk berfoto pre-wedding disini karena background-nya cantik dan tidak terhalang banyak batu seperti di Promthep. Kondisi laut pada bulan Desember juga sangat tenang sehingga kita bisa melihat cukup banyak yacht dan speedboat yang lagi 'parkir' dari atas.

 

post-22151-0-16038600-1426652581_thumb.j

 

Dari powerplant ini, kira-kira 10 menit driving menuju Promthep, kita sempat mampir sebentar di Karon View Point. Dari atas sini juga view sangat bagus karena pantai Karon dan Kata terlihat jelas. Buat yang pengen santai lama-lama, lebih mending spend waktu di powerplant karena selain ada yg jualan kelapa muda dan minuman dingin, disitu juga jauh lebih sepi sedangkan Karon View Point merupakan tourist spot yang lebih terkenal sehingga suka banyak bus-bus tur yang mampir. Jadinya kalo mo foto-foto atau santai jadi ribet karena banyak yang antri, apalagi kalo ketemu turis yang rese yang minta tolong fotoin tapi ngomongnya kasar. Biasa yang kaya gini kita cuekin dan pura-pura ngga denger :D

 

post-22151-0-18468500-1426652596_thumb.j post-22151-0-11749900-1426652624_thumb.j

 

Setelah tiba di Promthep, jujur memang benar kata Sononi, lebih asoi view di powerplant dan Karon View Point, namun Promthep ini cukup menarik karena view agak berbeda dan karena lokasi yang cenderung luas, turis cukup gampang menemukan photospot yang sepi dan tidak mengganggu turis lain. Setelah Promthep, kita lanjut menuju salah satu landmark Phuket yaitu Big Buddha yang lokasinya ada di antara Chalong dan Kata. Dulunya tempat ini hanya sekedar bukit tempat nongkrong orang lokal untuk menikmati sunset namun akhirnya dikembangkan menjad proyek ambisius yang uniknya, pembangunan patung raksasa ini didanai sebagian besar oleh turis yang datang.

 

post-22151-0-19349600-1426652655_thumb.j

 

post-22151-0-66690200-1426652635_thumb.j post-22151-0-51560200-1426652688_thumb.j

 

Di dalam ruangan sebelum naik tangga menuju Big Buddha, terpampang sebuah papan yang ditempelin dengan berbagai mata uang dari seluruh dunia, termasuk uang Indonesia. Bahkan ada beberapa uang lama yang sudah ditarik dari peredaran masih nangkring disana. Setelah naik tangga menuju puncak bukit, Anda akan disuguhkan pemandangan yang indah dan patung Buddha setinggi 45 meter yang gagah. Di samping patung besar ini juga terdapat patung Buddha yang lebih kecil dan terbuat dari kuningan, dan konon patung 'kecil' ini dibuat dari 22 ton kuningan dan menghabiskan biaya sebesar 8 juta baht atau sekitar 3.2 milyar rupiah, sedangkan Big Buddha sendiri menghabiskan biaya kurang lebih 4 kali lipat-nya.

 

post-22151-0-84461500-1426652676_thumb.j

 

Dari Big Buddha, kita lanjut menuju Wat Chalong, salah satu lokasi kuil di Phuket yang sangat terkenal. Arsitektur dan detail kuil-kuilnya sangat bagus dan jangan lewatkan untuk mampir kesini kalo ke Phuket, walaupun untuk sekedar berfoto sebentar atau mampir ke dalam kuil. 30 menit rasanya sudah cukup untuk explore tempat ini dan foto-foto kecuali kalau Anda beragama Buddha dan pengen sembahyang di dalam.

 

post-22151-0-40302900-1426652699_thumb.j post-22151-0-44815100-1426652712_thumb.j

 

post-22151-0-42323800-1426652745_thumb.j

 

Dari Wat Chalong, tidak terlalu jauh untuk mampir ke Central Festival, shopping centre untuk kelas menengah atas dan lebih apik dibanding Jungceylon. Barang-barang yang dijual kurang lebih mirip dengan mal Jakarta namun ada juga beberapa barang unik seperti ada satu counter yang menjual tas cewek yang bisa dipompa jadi handy banget untuk travelling karena bisa dikempesin lagi untuk diselipin di dalam koper. Harganya juga tidak beda jauh dengan Jakarta jadi buat yang bosen mampir mal, ngga perlu kesini juga oke tapi lumayan kalo pengen bersantai sejenak abis panas-panasan di luar.

 

post-22151-0-56747100-1426653710_thumb.j post-22151-0-08186400-1426653737_thumb.j

 

post-22151-0-84625900-1426653851_thumb.j

 

Tujuan terakhir hari itu adalah Phuket Fantasea. Banyak yang merekomendasikan tempat ini karena lighting yang bagus, dinner yang enak, dan show yang menarik. Tiba di lokasi, sudah banyak turis yang sibuk berfoto dengan logo Fantasea atau dengan ladyboy berkostum tradisional yang berdiri di dekat loket. Harga tiket normal sekitar 2.200 THB / orang dewasa termasuk dinner dan 2.000 THB untuk anak-anak, namun kalau anaknya berumur 4 tahun ke bawah, boleh masuk gratis namun tidak dapat reserved seat pada saat show.

 

post-22151-0-13640900-1426653889_thumb.j post-22151-0-39949600-1426653988_thumb.j

 

Tempatnya cukup luas dan banyak attraction di dalam seperti small theme park, namun tidak ada extreme rides. Bisa dibilang agak mirip dengan pasar malam. Ada live show stage di dekat pintu keluar buat yang suka musik namun waktu itu hampir ngga ada yang tertarik dengerin lagu, kebanyakan orang masuk ke dalam untuk naik gajah atau dinner santai sambil nunggu show mulai. Lampu-lampu di sepanjang jalan memang bagus dan bernuansa ceria, lokasi dinner juga terkesan mewah dan variasi makanan yang banyak, rasanya juga tasty, dan show-nya buat kita standar aja. Buat turis yang seneng culture, tentunya bagus dan banyak yang bilang lebih menarik dari Siam Niramit, tapi buat yang seneng pure entertainment, paling ada sekitar 3 atau 4 scene aja yang kocak, termasuk sekumpulan anak ayam yang berlari rapi haha adegan perang-nya juga not bad, dan overall kalau bayar full price, rasanya agak rugi, tapi kalo dapat special price kaya kita kemaren sih oke banget.

 

post-22151-0-40820300-1426654001_thumb.j post-22151-0-98398100-1426654020_thumb.j

 

Yang bikin bete adalah antrian untuk menyimpan kamera dan hp yang ngabisin waktu hampir setengah jam dan pada saat bubaran untuk mengklaim barang-barang kita juga mesti antri panjang yang disortir dari kartu berwarna, jadinya pegel berdesak-desakan hampir kehabisan oksigen gara-gara ginian haha. Setelah proses retur barang selesai, kita pun balik ke hotel untuk istirahat.
 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 4 - Phang Nga Bay dan Thai-girl show

Pukul 9 pagi kita sudah siap di lobi hotel dan dijemput oleh operator tour untuk menuju Phang Nga Bay. Perjalanan kurang lebih 45 menit menuju dermaga dan disana kita berkumpul ditemani oleh dua guide asli Thai yang cukup fasih ngomong Inggris, bahkan ada satu yang sangat fasih ngomong Mandarin karena memang tiap hari ada aja puluhan turis China yang naik cruise. Kita menunggu sekitar 30 menit sampai kurang lebih 35 orang semuanya terkumpul baru rame-rame menuju ke kapal dengan berdesak-desakan di dalam minibus yang modelnya mirip bemo. Model kapal yang kita naiki ini seperti cruise kayu yang cukup besar dan di dek atas ada meja makan panjang yang memang disiapkan untuk lunch nanti.
 

post-22151-0-10074500-1426654644_thumb.j post-22151-0-53966200-1426654670_thumb.j

 

Setelah basa-basi dan menjelaskan do-and-don't, si guide mulai membagikan minuman dan life jacket untuk berjaga-jaga dan kapal pun perlahan meninggalkan dermaga untuk menuju ke lokasi pertama. Cuaca hari itu sangat cerah dan matahari bersinar cukup terik, laut pun terlihat tenang sehingga perjalanan kesana kita tempuh tanpa banyak goncangan. Setelah 30 menit lebih di laut, formasi limestone sudah mulai terlihat yang menandakan lokasi cave pertama sudah dekat. Aktivitas kita yang pertama siang itu adalah naik kano menyusuri pinggir bukit dan masuk ke dalam gua untuk menuju hidden lagoon. Satu kano bisa muat 2 sampai 3 orang penumpang dan 1 kapten, tapi lebih bagus diisi 2 orang saja biar ngga terlalu sempit.

 

post-22151-0-94566200-1426654688_thumb.j post-22151-0-33073600-1426654731_thumb.j

Siang itu terlihat sekitar 20 kano yang berseliweran dan di sekitar mulut gua, terdapat puluhan monyet yang terlihat ganas. Guide sudah mewanti-wanti untuk jangan iseng bawa atau melempar makanan, namun mertua iseng aja bawa jeruk di kantong, katanya pengen dilemparin, eh siapa yang sangka monyetnya lapar dan lincah kaya Sun Go Kong bisa loncat sana sini dan berenang, untung pas satu monyet lompat ke kano, si 'kapten' udah pengalaman dan berhasil ngusir pelan2 dan ngga ada yg jadi korban gigitan haha

 

post-22151-0-44985000-1426654882_thumb.j post-22151-0-60605200-1426654907_thumb.j

Di dalam gua, ada ratusan kelelawar yang bergelayutan namun tidak terlalu terlihat jelas tapi kita bisa mendengar kepakan sayap mereka. Sambil mengayuh, kapten mengingatkan kita untuk memperhatikan banyak batu tajam di atas kepala jadi kita disuruh tiarap atau menunduk sampai keluar dari gua dan tiba di lagoon. Lagoon ini tidak bisa dicapai apabila air sedang pasang tinggi karena mulut gua pasti tertutup air, namun beruntung kita hari itu air lagi ngga tinggi. Suasana di lagoon sepi dan sekeliling terdapat tebing tinggi yang ditumbuhi banyak pohon dan rumput hijau, dan di sekeliling lagoon cukup banyak pohon mangrove yang bisa dinaikin untuk sekedar berfoto. Kurang lebih 15 menit kita ada disini, kapten pun balik menuju gua untuk kembali ke kapal.

 

post-22151-0-52268200-1426654922_thumb.j post-22151-0-83066200-1426654937_thumb.j

 

Kita lanjut menuju ke lokasi berikutnya untuk naik kano lagi dan kali ini lagoon-nya lebih besar dan pemandangan di sekitar lagoon lebih bagus dibanding lokasi pertama, dan untungnya disini ngga ada monyet. Air laut agak burem dan dibanding Phi Phi memang kalah jernih, namun aktivitas kano ini sangat fun, terutama menyusuri gua dan masuk ke lagoon, dan setelah merapat ke pulau kecil, kita juga dikasi kesempatan untuk naik kano sendiri, jadi buat yang berani, boleh dicoba dan make sure laut ngga terlalu berombak karena buat pemula, ngayuh kano bisa agak berat kalo pas arus gede dan kalo panik bisa berabe :D

 

post-22151-0-28989300-1426654996_thumb.j post-22151-0-30108100-1426654969_thumb.j

post-22151-0-20393300-1426654950_thumb.j post-22151-0-96106000-1426654982_thumb.j

 

Sekitar jam 1 siang, semuanya diajak untuk naik ke kapal lagi dan makan siang sudah disiapkan. Sedikit catatan dan peringatan - kalo satu kapal dengan banyak turis China, mereka ini paling brutal kalo ngambil makanan jadi pastikan jangan malu-malu ngambil yang pengen kita ambil daripada nunggu abis dulu baru ambil lagi, dijamin udah ludes haha setelah makan, tujuan berikut kita menuju James Bond Island yang tersohor itu. Lokasi pulau James Bond ini tidak terlalu besar dan dipadati oleh ratusan turis setiap harinya. Sebetulnya cukup berfoto dengan papan James Bond dan background 'needle' yang terkenal itu sudah cukup karena toko souvenir disana ngga terlalu menarik dan juga rasanya percuma untuk naik ke atas bukit karena view tidak terlalu spektakuler.

 

post-22151-0-31874300-1426655008_thumb.j post-22151-0-08048700-1426655043_thumb.j

Cuaca sore itu agak sedikit mendung dan untungnya pas kita sampe disana, kita masih sempet berfoto-foto dulu sebelum hujan pun akhirnya turun. Untungnya hanya 20 menit hujan, cuaca kembali cerah dan matahari bersinar terik lagi. Sekitar jam 3 sore, acara kita sudah kelar dan kita kembali ke Phuket yang ditempuh dalam waktu 1 jam. Setelah tiba di Phuket, kita naik minibus dan diturunkan di Jungceylon Mall untuk bersantai sambil menunggu acara puncak, Thai-girl show haha

 

post-22151-0-90216600-1426655055_thumb.j

 

Jungceylon Mall ini sedikit mengingatkan kita akan Cihampelas Walk yang ada di Bandung dimana di bagian dalam banyak toko dan di luar tempat makan, dan jejeran kafe dan restoran ini agak sedikit mirip style-nya dengan Cilandak Town Square. Kita ngadem di dalam dan sekitar jam 6, kita mulai celingak-celinguk di luar mo nyari resto apa nih yang cocok buat dinner. Setelah muter 2 lap, akhirnya kita mutusin untuk secara random nyoba salah satu restoran disitu yang keliatannya menyediakan western sekaligus Thai menu, tapi apesnya steak yang saya pesan sama sekali tidak bisa dimakan karena keras dan memang ngga enak, namun untungnya Pad Thai kayanya lumayan, dan saladnya juga not bad. Ada kejadian mengagetkan pas kita makan, di samping kiri meja kita ada sepasang bule berumur 50an yang agak gemuk dan tiba-tiba si ibu yang badannya gendut jatuh dari kursi dan kepalanya terbentur di lantai. Para pelayan pada berhamburan untuk menolong dan kita curiga dia kena stroke ringan mungkin. Kasian juga dan kejadian itu mengingatkan kita untuk waspada dengan kesehatan, kalo perlu sebulan sebelum berangkat cek darah dulu untuk memastikan semuanya normal, daripada kejadian kaya gini kan bikin bete dan khawatir.

 

post-22151-0-30253400-1426655068_thumb.j post-22151-0-29999300-1426655083_thumb.j

 

Setelah perut kenyang, ngga berapa lama kita kontak Sononi dan nanya mengenai plan menuju lokasi show dan dia menjelaskan kalau kita akan dijemput oleh temannya yang memang kerja di club tersebut. Jadi kita nongkrong di depan dan 5 menit kemudian, orangnya datang dan ternyata lokasinya sangat dekat dengan Jungceylon, barangkali kalo jalan ngga sampe 10 menit. Club ini lokasinya sama tapi sempat berganti nama beberapa kali dan terakhir kita kesana, namanya WAKE CLUB, dan harga resmi show ini termasuk tinggi yaitu sekitar 2.500 THB tapi untungnya kita dapat harga 'orang dalam' dan udah di-include semuanya, ya barangkali satu orang sekitar 300rb-an. Kamera dan HP semuanya harus dititipin di depan karena kalo ketauan lagi video atau foto di dalam, pasti akan 'ditendang' ke luar haha

 

post-22151-0-33369500-1426655130_thumb.j

 

Show ini sangat unik, entertaining, sekaligus extreme karena nudity sudah pasti dan yang gilanya banyak akrobat-akrobat sinting dengan kemaluan jadi buat yang tadinya ragu-ragu untuk nonton, saya rekomen untuk coba karena selain ini cuma ada di Thailand, anggap saja ini entertainment show seperti nonton sirkus, jadi jangan lihat dari sisi negatif-nya, karena di dalam semua haha hehe untuk lucu-lucuan kok. Ini ada sedikit spoiler dan tips untuk rundown acara-nya tapi untuk yang belum pernah nonton dan pengen dapet surprise-nya, jangan dibaca ya :

** SPOILER ALERT **

Show dimulai sekitar jam 6 sore dan ada sekitar 12 adegan berbeda selama kurang lebih satu jam dan akan balik lagi ke ronde pertama dan akan diulang terus barangkali sampe jam 1 pagi. Biasanya setelah satu putaran selesai, akan ada 2 cewe yang datang membawa 'kotak sumbangan', ini ngga wajib tapi ngga ada salahnya untuk nyumbang sekitar 100 baht karena ini tips untuk tukang pel dan sapu arena. Para performers terdiri dari cowo tulen, cewe tulen, dan bencong tulen haha tapi untuk ladyboy ngga ketauan sampe mereka telanjang di tengah acara hihi. Secara bergantian akan ada striptease show, sex show, atraksi pukul tambur dengan Mr P, nembak balon dengan Miss V, main pingpong dengan Miss V (tapi yang lalu kita dapet yang ladyboy dan nembak pingpong pake pantat, mati deh hahaha), keluarin silet dari Miss V, dan yang kocak ada 2 adegan yang melibatkan penonton jadi make sure kalo ngga mau ditarik ke stage, jangan nongkrong di front row. Waktu itu kita ngakak pas ada 2 turis China yang diajak ke panggung dan dipelorotin celana, udah gitu ada yg diajak masuk ke bathtub dan dimandiin hihi ya seru aja dan biasanya pas masuk kita dibagi minuman, ya sebaiknya jangan minum daripada kebelet pipis, suasana di dalam rame banget dan kalo kita ke toilet, bisa-bisa tempat diambil orang lain.

Menurut Sononi, show di Wake Club ini yang terbaik karena di Bangla biasanya pendek, monoton dan terlalu banyak scam, jadi make sure untuk nonton disini tapi kalo bisa dapat 1/3 harga tiket lebih ok.

** SPOILER ALERT **

 

post-22151-0-95060600-1426655161_thumb.j post-22151-0-31301600-1426655180_thumb.j

 

Dari club ini, kita langsung balik ke hotel untuk istirahat sambil packing karena besok malam kita udah balik menuju Jakarta.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 5 - City Tour

Pagi ini diawali dengan mengunjungi Phuket City View Point yang terletak di atas bukit dan pemandangan kota dari atas ini cukup bagus. Kita bisa melihat laut Andaman di sebelah kiri, kota Phuket di depan, dan Big Buddha di sebelah kanan. Ada gazebo putih tempat berteduh kalau pas hujan dan di dekat situ, ada restoran kecil dan warung yang menjual berbagai macam snack, termasuk es krim home-made durian yang rasanya agak mirip dengan Musang King yang agak pahit sedikit. Kita menghabiskan waktu sekitar 30 menit di lokasi ini dan kemudian mampir sebentar di Wat Khao Rang. Di lokasi ini, Anda bisa mengambil foto Buddha yang sedang bertapa yang berukuran cukup besar dan di samping ini terdapat wihara dengan berbagai patung dewa.

 

post-22151-0-34575100-1426656298_thumb.j post-22151-0-43078600-1426656310_thumb.j

post-22151-0-94766700-1426656379_thumb.j post-22151-0-26225700-1426656504_thumb.j

 

Tujuan berikutnya adalah Phuket Old Town. Dulu daerah ini merupakan daerah Phuket yang paling ramai, namun sejak fokus keramaian berpindah ke Patong, bisa dibilang banyak hotel disini akhirnya tutup karena sangat sedikit turis yang mau tinggal disini. Memang sih untuk mampir sebentar oke, paling nyari restoran kecil untuk jajan atau sekedar ngopi, tapi lebih fun untuk tinggal di daerah Patong atau yang sepi sekalian di Karon. Nuansa bangunan tua dan jalan yang tidak terlalu sepi malah mengingatkan ke kota kecil seperti Cirebon haha.

 

post-22151-0-82118100-1426656517_thumb.j post-22151-0-08824700-1426656528_thumb.j

post-22151-0-64251700-1426656545_thumb.j

 

Setelah makan bakso di sekitar Old Town, kita mampir ke Phuket Trickeye Museum, dan tempat ini rekomen untuk didatangi karena fun dan banyak background photo yang unik dan lucu. Harga tiket masuk per orang sekitar 200rb dan umumnya 1 jam saja cukup. Buat yang sudah pernah datang ke Trickeye Museum di negara lain, boleh skip tempat ini dan langsung menuju ke Surin Beach atau Kamala Beach untuk bersantai. Kalau musim durian datang, boleh juga mampir ke salah satu pasar lokal karena biasanya harga durian pasti sangat murah. Sayang waktu pas kita datang Desember, durian lagi ngga musim, jadi di pasar yang dijual kebanyakan cuma nanas aja.

 

post-22151-0-00225400-1426656558_thumb.j post-22151-0-44611200-1426656570_thumb.j

post-22151-0-65640000-1426656580_thumb.j post-22151-0-38197000-1426656594_thumb.j

post-22151-0-48152100-1426656659_thumb.j post-22151-0-82359500-1426656668_thumb.j

post-22151-0-58226800-1426656679_thumb.j post-22151-0-43252600-1426656690_thumb.j

 

Setelah mampir di Surin dan Kamala, kita menuju ke salah satu viewpoint bagus dengan hamparan pemandangan pantai Kamala yang cantik. Deretan rumah yang dibangun di atas bukit disertai dengan belasan perahu yang terapung di atas pantai yang tenang bisa membuat Anda betah berlama-lama nongkrong disini. Sambil menunggu flight malam, kita akhirnya mampir dulu ke salah satu mall kecil di dekat airport untuk sekedar jajan dan makan malam, dan akhirnya kita dianter Sononi ke airport untuk balik ke Jakarta.

 

post-22151-0-18064100-1426656699_thumb.j post-22151-0-90788700-1426656712_thumb.j

post-22151-0-81549100-1426656746_thumb.j post-22151-0-20406700-1426656912_thumb.j

post-22151-0-98142400-1426656926_thumb.j

 

Kesan kita terhadap Phuket bisa dibilang 'better than expected' karena banyak yang mengcompare Phuket dengan Bali dan banyak turis asing yang lebih prefer Phuket dibanding Bali karena dianggap lebih teratur, lebih bersih, barang souvenir berkualitas bagus, dan taste makanan yang lebih cocok dengan lidah mereka. Menurut kita, masing-masing ada kelebihannya, dan tentunya yang paling menarik dari Bali adalah kultur-nya dan yang juara dari Phuket adalah pulau-pulau seperti Phi Phi dan Phang Nga Bay, juga tentunya nightlife yang unik dan extreme haha. Buat yang belum pernah ke Thailand dan pengen tau mana yang lebih oke untuk didatengin, sudah pasti Phuket lebih oke dibanding Bangkok, namun kalau mau liat dua2nya pastikan minimal punya 4 hari untuk explore Phuket dan pulau-pulaunya :)
 

* * *

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Nightrain

hahay PHUKET i love it 

gak tau saya pribadi gak pernah bosen kesini

tar april kesini lagi hahaha

kayak nya bakalan ke Phi Phi lagi deh kangen abis liat poto2 ini terakhir kesana dah lama 2012 :P

 

wah akhir nya ketemu mas @Sononi Noni ya asik orang nya dan saya suka minjem motornya buat keliling Phuket hehehe

 

City tour nya memang paling pas ending nya di Promthep Cape ya, pas datang kesana dapat sunset gak mas ?

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa

haha iya def, asik ke Phuket tapi lo balik lagi april ? berarti udah 3x ya ? hihi ngga explore tempat lain yg deket Thailand kaya Myanmar atau Kamboja ? nanti kapan2 gw balik lagi kesini mau coba Similan Island yg kata noni juga oke

iya waktu itu dia sempet ngomong lo naek motor sendirian keliling haha

 

waktu ke Prompthep kita atur pas siang mampir sebentar dan skip sunset soalnya acara kita agak padat, malamnya kita mau ke Fantasea :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa

seinget gw harga tiketnya segitu def tapi coba tanya noni nanti disana siapa tau bisa dapet harga miring

patung buddha yg tidur itu ? bukan di Kamala beach-nya tapi dekat situ, pokoknya ngga jauh sih rasanya tapi agak lupa nama daerahnya :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

wah bawaan-nya pengen ke phuket lagi, tapi kalau dilihat dari fotonya, airnya udah kgk sejernih dulu :(

btw, as always nice share :salut

 

kalo daerah Phang Nga Bay memang ngga jernih, cenderung ijo ya, kalo daerah Phi Phi gw bilang masih jernih banget kok, tapi katanya Similan lebih jernih lagi karena mungkin lebih sepi :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

kalo daerah Phang Nga Bay memang ngga jernih, cenderung ijo ya, kalo daerah Phi Phi gw bilang masih jernih banget kok, tapi katanya Similan lebih jernih lagi karena mungkin lebih sepi :)

dulu sih saya mampirnya ke Phi Phi Island, wah Similan lebih jernih yah !? lebih jauh dari Phi Phi yah?

 

@kyosash

kayak nya sebagian daerah nya masih biru air nya tapi kalo andaman sea memang terakhir saya ke Phuket udah banyak yang ijo

icic

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa

iya asik tuh, overall harga Sononi semuanya sangat reasonable, iya coba Wake Up club, deket dari Jungceylon, tapi kata noni mrk kadang suka ganti nama club mungkin biar berasa club baru haha tapi orang dan tempatnya ya maybe itu2 aja :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa

kemaren di sekitar Karon, ada satu tempat latihan surfing lucu juga, jadi semacam arena seperti skateboard gitu tapi ada semprotan air-nya haha barangkali karena di Phuket ga ada pantai surf ya, boleh iseng2 coba def hihi

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

  • Similar Content

    • By braska
      Foto diambil dari Tokyo Tower - (k)
      Hallo semua,
      Tahun ini saya berkesempatan mengunjungi Tokyo beberapa kali. Kebanyakan bersama teman2 (thx untuk teman2 II dan IV) dan beberapa kali dengan partner. Banyak yang bertanya ke saya tentang itinerary selama di Tokyo, jadi saya pikir lebih baik saya buatkan dalam satu Thread yang nantinya tinggal di share URL nya.
      Thread ini akan saya buat dalam beberapa tahap, dan diharapkan sudah bisa selesai sebelum bulan Desember 2018 berakhir.
      Beberapa pokok bahasan yang akan diulas dalam Thread ini antara lain
      I Persiapan
      II Itinerary
      III Kereta di Tokyo
      IV Shopping
      V Tempat Wisata Gratis
      VI Tempat Wisata Berbayar
      VII FAQ
      PERNYATAAN :
      FOTO
      Semua Foto yang tidak ada tanda dalam Thread ini berarti di ambil dari Google dan Screenshot, sedangkan foto yang bertanda merupakan hasil jepretan dari 
      (i) I Edy S
      (a) Adhitya A W
      (k) R CJatmiko
      WEBSITE
      Saya tidak memiliki kepentingan apapun dengan website yang ada dalam thread ini. Moderator dapat menghapus link jika di perlukan
      MUSIM
      Yang di bahas dalam Thread ini hanya untuk keberangkatan pada Musim Dingin di Tokyo dan sekitarnya, anda dapat tetap membaca thread ini dengan melakukan beberapa penyesuaian jika ingin bepergian di Musim lain.
      STYLE
      Khusus Perjalanan ke Tokyo, perjalanan saya bukan perjalanan Backpacker, saya selalu membawa Koper, naik penerbangan Full Service, Tinggal di Hotel, tetapi mencari harga paling murah yang bisa di dapatkan  
       
      I Persiapan
      Saya selalu menikmati Tokyo (sama halnya dengan saya menyukai Bangkok) Kota ini sangat hidup, penuh dengan budaya Jepang yang kental di satu sisi dan teknologi modern di sisi lain. Khusus untuk Musim dingin, saya menyukainya karena
      1. Musim dingin tidak ada di Indonesia, 2. Tidak terlalu berkeringat, 3. Ada banyak foto indah yang bisa di peroleh di musim dingin, 4. Salju, 5. Harga Tiket dan Hotel lebih murah...(ya, bandingkan jika anda pergi ke Jepang untuk melihat Sakura mekar) Jika kalian ingin mencoba musim dingin di Tokyo ayo kita mulai persiapannya.
      1. Passport dan Visa
      Untuk keluar negeri tentu saja kita harus mempunyai Passport dan untuk bisa ke Jepang kita juga harus mempunyai Visa. Ada banyak cara membuat passport yang bisa di temui di Google karena itu saya tidak akan mengulas lebih lanjut. Silakan masuk ke www.google.co.id lalu ketikkan "cara membuat e paspor" dan kalian akan menemukan lebih dari 100.000 tautan.
      Yang ingin saya sampaikan disini adalah BUATLAH E-PASSPORT, jangan membuat Passport biasa. Membuat passport biasa untuk bepergian ke Jepang sangatlah menyusahkan, karena artinya kita harus mengurus Visa. Sedangkan jika menggunakan E Passport kita tinggal mengurus Visa Waiver.
      Berikut saya tunjukkan perbandingannya :

      Dari perbandingan di atas terlihat kan, mempunyai E Passport berarti anda mengurangi keribetan mengurus Visa, jika visa di tolak anda terpaksa harus merelakan tiket pesawat PP dan (mungkin) hotel yang hangus. Sebaliknya jika anda mempunyai E Passport anda tinggal mengurus Visa Waiver terlebih dahulu baru melakukan pemesanan tiket pesawat, hotel, dll sesudah Visa Waiver di kabulkan. Anda juga bisa melewatkan ketakutan yang paling banyak di bicarakan orang saat membuat Visa "HARUS PUNYA DUIT MINIMAL SEKIAN PULUH JUTA", karena penguruan Visa Waiver hanya memerlukan E Passport anda. 
      Peluang untuk mendapatkan Visa Waiver juga sangat besar, jika anda orang baik2 tidak punya catatan kriminal, tidak pernah ditangkap di Jepang, maka saya bisa bilang Anda pasti dapat Visa Waiver.
      Cara mengurus visa waiver Jepang bisa di dapatkan dengan mengetikkan "cara membuat visa waiver jepang" di Google.
       
      2. Tiket
      Saya bukan orang yang anti dengan penerbangan Low Cost, pada dasarnya saya malah lebih sering menggunakan Maskapai Low Cost ketimbang Full Service, tapi mari saya tunjukkan kenapa saya lebih memilih penerbangan Full Service untuk pergi ke Tokyo
      Maskapai Low Cost hampir selalu menggunakan transit flight dari Jakarta ke Tokyo. Efeknya sangat berbahaya, saya sudah 2x mengalami kejadian tidak mengenakkan. Waktu transit biasanya hanya 1,5 - 2 jam. Akibatnya jika penerbangan dari Jakarta delay maka (hampir) dapat dipastikan (walaupun kita tidak ketinggalan pesawat menuju Tokyo) tidak cukup waktu untuk memindahkan bagasi kita. Kejadian paling parah yang saya alami adalah berada di musim dingin tanpa jaket tebal (yang tertinggal di Kuala Lumpur). Saat itu perlu 2 hari untuk bagasi saya sampai di hotel. Alhasil liburan sudah tidak lagi menyenangkan, dan saya harus rela kehilangan suara selama 2 minggu karena terkena radang tenggorokan (kupluk, syal dan semua baju ganti ada dalam koper di bagasi). Sekarang  bagaimana jika waktu transitnya lama, misal 16 jam. Anda mau tidak mau harus mengeluarkan uang lagi untuk membayar hotel di lokasi transit. Tentu saja ada pilihan untuk tidur di bandara. Tapi sebagaimana telah saya tuliskan di atas style perjalanan saya bukan backpacker. Jam kedatangan dan keberangkatan Maskapai Low Cost sering mengakibatkan anda kehilangan 1 hari di Hotel. Begini contohnya : Jika anda Tiba di Tokyo Pukul 23.00 maka sesudah proses imigrasi, pengambilan bagasi, transportasi dll maka kemungkinan anda akan tiba di hotel Pukul 01.00. Waktu Check in hotel biasanya adalah pukul 14.00 sehingga mau tidak mau anda telah kehilangan 1 hari di hotel yang telah anda bayar. Selain itu waktu keberangkatan juga seringkali jadi masalah. Maskapai Low Cost sering berangkat di jam-jam malam seperti 23.50, padahal waktu Check Out hotel Tokyo adalah 11.00 akibatnya ada waktu lebih dari 12 jam luntang lantung tanpa tempat istirahat. Ada biaya tambahan untuk bagasi di penerbangan Low Cost. Biasanya berkisar 400 - 700 ribu tergantung beratnya. Berarti kalau PP bawa bagasi maka ada tambahan biaya sekitar 1 juta dari harga tiket. Penerbangan ke Tokyo memakan waktu lama, direct flight saja bisa lebih dari 7 jam. Lalu di pesawat kita mau ngapain? duduk, diem, merenung dan tidur? jika anda memilih untuk mengisi perut maka ada biaya lagi yang harus di keluarkan untuk pemesanan makanan.  Ok, jadi kita akan memilih penerbangan full service yang menyediakan makanan dan minuman, entertainment flight, jarak antar kursi yang lapang, jam penerbangan yang tepat dengan kebutuhan, free bagasi, dan semua fasilitas lain yang tidak di dapatkan di penerbangan low cost. Mahal dong? Jawabnya TERGANTUNG. 
      Ini contoh penawaran maskapai low cost

      Dan ini tiket yang saya beli 

       
      Saya terbang menggunakan JAL yang masuk dalam daftar 5 Star Airlines. Bagasi 46 kg FREE, Full Service, dengan Jam kedatangan 15.45 dan Jam keberangkatan 17.45. Harga yang saya dapatkan lebih murah daripada maskapai Low Cost.
      Jadi bagaimana caranya? Saya menggunakan SkyScanner (silakan Googling). Dengan SkyScanner kita dapat melihat kapan, maskapai mana, dan website mana yang memberikan tiket paling murah. Tentu saja jika kita membeli dari jauh2 hari kita memiliki lebih banyak pilihan harga yang mungkin dapat berubah. Oh ya, sekali kita melakukan pencarian lewat SkyScanner maka saat membuka email, googling dan menggunakan media sosial iklan yang ditampilkan biasanya adalah iklan harga tiket yang paling murah. Rajin2lah mengecek harga tiket lewat SkyScanner karena FYI, harga tiket JAL biasanya 16juta sekali jalan. Harga 7,3juta PP saya dapatkan menggunakan Fasilitas "Dapatkan Info Harga" yang ada di situs SkyScanner. Fasilitas ini memungkinkan kita mendapatkan harga terbaru dari rute yang kita tuju.
      Sekedar tambahan, Tiket penerbangan dari Jakarta - Paris PP untuk Maret 2019 saya dapatkan dengan harga lebih murah daripada tiket ke Jepang. Lagi2 dengan SkyScanner.
       
      3. Hotel
      Rata-rata hotel di Jepang memiliki kamar yang kecil tapi harga yang "besar". Tokyo pun termasuk. Harga properti di Tokyo yang sangat mahal membuat Tarif Hotel juga tinggi untuk ukuran Indonesia. Walaupun demikian tetap saja jika bersedia susah sedikit masih ada kamar2 kapsul dan dormitory yang berharga di bawah 500ribu permalam. 
      Menyesuaikan style jalan-jalan, saya memberikan beberapa kriteria untuk memilih Hotel di Tokyo.
      Carilah hotel yang dekat dengan stasiun kereta. Kereta adalah transportasi nomor 1 di Tokyo. Dalam kondisi cuaca yang dingin akan lebih baik jika Hotel dekat dengan stasiun kereta sehingga kita tidak perlu berlama2 diluar. Hotel yang dekat dengan stasiun kereta juga memudahkan anda untuk menepati jadwal itinerary. Bawaan anda cenderung banyak, karena musim dingin membuat pakaian yang harus disiapkan berlapis2. Jika mendapatkan kamar hotel yang terlalu kecil maka anda akan kesulitan sendiri dalam meletakkan koper dan barang belanjaan Pastikan hotel anda memiliki sistem penghangat ruangan yang baik dan air panas yang mengalir 24 jam non stop. Saya tidak bisa membayangkan jika di tengah suhu 0 derajat lalu harus mandi pagi dengan air yang tidak terlalu panas karena sistem air panas dipakai beramai-ramai. Akan lebih baik jika Hotel menyediakan sarapan pagi. Buat anda yang terbiasa mengisi perut di pagi hari, tentu akan runyam jika harus jalan dulu mencari sarapan di tengah udara dingin. Hotel di sekitaran Tokyo memang lebih mahal daripada yang mengarah ke luar kota. Tetapi anda akan lebih mudah menentukan jalur tujuan jika berada di dalam kota. Dalam beberapa kesempatan, saya selalu memilih hotel yang sama untuk tempat menginap. Hotel Villa Fontaine Hatchobori. Hotel ini merupakan salah satu hotel dari jaringan Villa Fontaine yang tersebar di seantero Jepang. Saya memilih hotel ini karena semua kriteria yang saya sebutkan di atas dapat diakomodir. Harganya pun menurut saya termasuk murah. Sekitar 1,2 juta permalam, yang kalau di share bersama teman sekitar 600 ribuan permalam (sudah include sarapan), ukuran kamarnya juga sedikit lebih besar dari ukuran kamar di daerah Shinjuku dengan harga yang lebih mahal.
      Hotel ini hanya sekitar 1 menit jalan kaki dari Stasiun Kayabacho (uniknya Hotel Villa Fontaine Kayabacho justru sedikit lebih jauh dari stasiun Kayabacho, jadi jangan sampai salah hotel). Stasiun Kayabacho hanya berjarak 3 stasiun dari Ginza, 2 stasiun dari Otemachi, 3 stasiun dari Akihabara, bahkan hanya 5 stasiun dari Ueno dimana kita bisa melanjutkan perjalanan dengan Shinkansen. Posisinya sangat strategis.

      Suasana luar hotel - (a)

      Lobby - (a)

      Lift - (a)

       
      4. Pakaian
      Tidak bisa dielakkan Pakaian Musim Dingin pasti lebih tebal dan berlapis dibandingkan jika kita ke Jepang di musim panas. Suhu udara di Tokyo sepanjang musim dingin berkisar di angka -2 sampai 7 derajat celcius. Demi kenyamanan anda saya menyarankan untuk menggunakan 3-5 lapis baju. Tentu saja hal ini bergantung dari ketahanan tubuh anda terhadap udara dingin. Berikut list pakaian yang perlu dibawa :
      Kupluk Syal Long John Jaket / Sweater / Vest Mantel / Jaket Salju Celana Panjang (bahan cordoray lebih bagus) / Celana Insulated Sarung tangan Jika ada rencana untuk bermain salju saya sarankan dari awal bawalah celana insulated, celana ini memiliki beberapa lapisan, bagian paling luar memiliki jenis parasut sehingga tidak mudah kemasukan air, dan bagian paling dalam merupakan lapisan yang menghangatkan kaki. Hindari bermain salju dengan celana jeans, karena dapat merembes dan membasahi kaki. Oh ya, harga barang2 di atas sangat bervariasi tetapi ada beberapa lapak di tokopedia yang menjual Perlengkapan musim dingin dengan harga sangat murah tetapi kualitasnya bagus. Sebagai contoh saya mendapatkan mantel dengan harga 400 ribuan dan celana insulated dengan harga 100 ribuan. Nyaman saat di gunakan. Coba saja di searching.

       
      5. Komunikasi
      Sebenarnya Tokyo adalah kota yang ramah Wifi, kira-kira kalau diterjemahkan banyak Free Wifi bertebaran dimana-mana, di dalam bus, di tempat2 wisata, di stasiun kereta, dan pastinya di hotel. Hal ini memudahkan anda untuk berkomunikasi baik via media sosial maupun aplikasi chatting. Fasilitas free wifi ini dapat di peroleh dengan melakukan sign in ke salah satu jaringan wifi yang akan meminta anda untuk mengklik tautan yang di kirimkan ke email anda. Biasanya anda akan mendapat kesempatan 5 menit free yang dapat digunakan untuk membuka email dan mengklik tautan untuk mengkonfirmasi penggunaan free wifi.
      Walaupun demikian saya tidak menyarankan anda untuk bergantung pada fasilitas Free Wifi. Saya tetap menyarankan untuk mempergunakan jaringan komunikasi sendiri. Ada beberapa alternatif yang bisa anda lakukan :
      Beli SIM Card di Jepang  Beli SIM Card dari Indonesia Sewa Paket Wifi Bagi yang berangkat dalam rombongan, saya lebih menganjurkan untuk menyewa paket Wifi. Dalam 1 router biasanya bisa dikoneksikan untuk 6-8 alat. Sehingga jika di share biaya sewanya jadi lebih murah. Contoh untuk router unlimited 4G yang saya sewa dari QL Liner (via Klook.com) saya hanya perlu membayar Rp 115.000 per hari. Alat ini dapat dipergunakan untuk 14 alat sekaligus. Sehingga jika di share biaya ke 7 orang (masing2 mempergunakan 2 alat), 1 orang hanya perlu membayar Rp 16.500 per hari. Harga ini jauh lebih murah daripada membeli SIM Card dari Indonesia atau membeli di Jepang. Tetapi wajib diingat, kelemahan Wifi adalah jika pembawa router terpisah lebih dari 10 meter maka teman2nya yang lain tidak lagi mendapat sinyal. Kemudian jika alat hilang atau rusak ada denda yang lumayan besar sekitar 42.000 yen. Selain itu jangan lupa untuk membawa Power Bank sebab jika router kehabisan batrei maka komunikasi anda juga akan terputus.
       
      Jika anda memilih menggunakan SIM Card maka anda akan terhindar dari keribetan menenteng router kemana2. Selain itu anda tidak perlu harus selalu berada di dekat router untuk melakukan komunikasi. Kapan saja anda ingin menghubungi teman, atau upload instagram dapat dilakukan langsung.
      Untuk SIM card tidak ada salahnya anda melihat2 di website GlobalKomunika, mereka memberikan banyak pilihan paket SIM Card (Paket Data SAJA). Dengan membeli SIM Card langsung dari Indonesia anda bisa langsung mengaktifkan HP Anda saat berada di Bandara Narita / Haneda. Sayangnya ada batasan Quota 4G yang harus anda perhatikan saat memilih menggunakan SIM Card. Untuk SIM Card seharga Rp 195.000 anda bisa mendapatkan Quota 4G sebanyak 3GB untuk waktu 8 hari. Setelah itu jika Quota habis maka kecepatan akan turun menjadi 2G. Jadi jangan terlalu sering melakukan Video Call atau berselancar di Youtube jika anda menggunakan SIM Card. Jika anda memutuskan menggunakan SIM Card harap di baca baik2 petunjuk penggunaannya (sudah disertakan bersama SIM Card), karena tidak semua HP secara otomatis melakukan pengaturan APN.

       
      6. Tiket Wisata
      Kepada siapapun yang ingin ke Jepang saya selalu menyarankan untuk mempersiapkan Itinerary dengan sebaik-baiknya. Sejak awal pastikan tempat-tempat yang ingin anda tuju. Lalu lakukan survey untuk melihat apakah tempat2 tersebut membutuhkan tiket masuk. Kenapa hal ini penting : karena banyak tempat wisata di Tokyo yang memberikan Harga Tiket lebih murah saat pemesanan di lakukan di awal ketimbang saat anda datang dan membeli langsung di loket. Selain itu anda dapat menghemat waktu untuk melewatkan antrian orang2 yang ingin membeli tiket pada waktu bersamaan.
      Beberapa tempat wisata bahkan TIDAK MENJUAL TIKET DI TEMPAT. Jika anda ingin mengunjungi Fujiko F Fujio Museum, atau Ghibli Museum maka anda harus melakukan pemesanan dari sebulan sebelumnya. Karena jika anda langsung datang ke tempat tersebut tanpa memiliki tiket maka bersiaplah untuk kecewa. Anda tidak akan bisa masuk.
      Ada banyak situs yang menjual tiket wisata secara online, saya secara pribadi lebih sering memesan lewat Klook. Silakan lakukan pengecekan apakah Tiket tempat wisata yang ingin anda tuju tersedia di website mereka. Tapi sekali lagi lebih baik anda membeli tiket lewat online karena harga yang di dapat sering lebih murah daripada membeli langsung, sekaligus memastikan rencana liburan anda tidak berantakan karena gagal mendapat tiket.
       
       
    • By min0ru
      Pagi itu, saya dan keluarga mendarat di Kansai International Airport (Osaka) pukul 08.30 waktu setempat. Ini kali kedua saya mengunjungi negara yang kawaii ini dan kota pertama yang akan saya kunjungi adalah Takayama. Seusai mengambil bagasi, saya bergegas menuju ke JR Office untuk menukarkan JR Pass (Japan Railway Pass). Antrian ternyata cukup panjang mengular dan menghabiskan waktu lebih dari 30 menit sampai akhirnya saya mendapatkan JR Pass.
      Cara Menuju ke Takayama
      Karena saya menggunakan JR Pass, jadinya kami bisa langsung naik ke Shinkansen (kereta cepat). Dari Kansai International Airport (KIX) kami mengarah ke Shin-Osaka Station dahulu baru nyambung kereta lagi ke Nagoya Station sebelum akhirnya menggunakan Hida Train (JR) dan turun di Takayama Station.
      Jalan Sore di Takayama

      Sesampainya di Takayama, saya langsung bergegas menuju hotel karena memang sudah waktunya check-in, lagipula repot rasanya jika harus berjalan-jalan menggeret koper. Kami menginap di J-Hoppers Takayama yang jaraknya hanya 10 menit berjalan kaki dari Takayama Station.
      Saya bertanya kepada resepsionis hostel mengenai apa saja yang bisa dilihat di Takayama ini dan dijawab dengan sangat ramah olehnya. Jadi di Takayama ini ada bagian kota tuanya yang cukup ramai tapi hanya di akhir pekan dan banyak street food. Karena kami datang di hari biasa, jadi kami cukup manyun dan memutuskan untuk eksplorasi saja jalan-jalan di Takayama.
      Sebelumnya kami makan dulu di restoran ramen yang dipilih secara random karena cukup ramai. Rasanya pun cukup enak dan menghangatkan. Saat itu cuaca cukup dingin kalau tidak salah sekitar 5-10°C. Sayang banget karena kalap saya ngga sempet mengabadikan foto makanan maupun restorannya. 
      Berseberangan dengan restoran rame, ada sebuah jembatan kecil  untuk menyeberang sungai dan ada jalanan kecil di sisi sungai tersebut yang cukup cantik untuk berfoto. Jadilah ambil beberapa frame dulu ☺️. Ngga kerasa hari cepet banget gelap, suasana lampu bangunan tua satu persatu mulai menyalah membuat suasana malam itu makin cantik. Kebayang ngga sih bangunan tua yang kebanyakan berbahan kayu dihiasin lampu berwarna kuning atau lampion berwarna merah? 
      Malam itu kami kembali lebih cepat ke hostel, karena ngga banyak lagi tempat yang bisa dilihat dan memang tujuan ke Takayama ini hanya persinggahan untuk menuju ke Shirakawa-Go.
      Keindahan Desa Sejarah Shirakawa-Go (UNESCO's World Heritage Sites).

      Cara yang saya gunakan untuk menuju ke Shirakawa-Go dari Takayama adalah menggunakan tur yang di arrange oleh J-Hoppers Hostel. Kenapa saya memilih tur dari J-Hoppers? Karena harganya lebih murah ¥500 untuk orang yang menginap di J-Hoppers, kan lumayan 4 orang sudah jadi semangkok ramen. 

      Bus melaju dengan santai ke Shirakawa-Go, dalam waktu kurang dari 1 jam kami sudah tiba di situs bersejarah ini. Kami diberikan waktu bebas selama 2 jam di desa ini. Ngga pake lama, saya langsung ngacir turun dari bus dan cari spot buat pepotoan.


      Rumah-rumah di desa ini disebut Gasshō-style atau bebentuk seperti tangan sedang berdoa. Atapnya terbuat dari susunan jerami yang sangat kuat dari berbagai cuaca. Walaupun hanya terbuat dari jerami tetapi pada musim dingin tetap dapat menghangatkan dan sejuk saat musim panas.


      Senangnya saya liat sisaan salju yang masih terhampar luas dan tebal, pengen rasanya tambahin duren sama cendol trus sirup tjampolay~ *eh. 
    • By Dennis.Rio
      TOKYO 東京.....
      day 3
       
       
       
       
       
       
       
    • By Dennis.Rio
      POCKET WIFI di Jepang......
       
       
       
    • By ko Acong
      Bagi yang bosan di Kuala Lumpur boleh melipir ke Melaka cuma 2 jam perjalanan loh.
      Berapa uang yang saya habiskan selama main ke Malaka? Normalnya tiket pesawat PP 1 jutaan. Yang pasti tiket PP Indonesia-Kuala Lumpur kemarin saya dapat Rp 169.000 saja Malaysia Airlines Business Class (Promo).
      Mari kita hitung pengeluaran saya selama 2 malam 3 hari di Melaka:
      Tiket Bus, via Terminal BTS (Bandar Tasik Selatan) cukup 24 x 2 = 48 RM
      Jika langsung bus PP harganya 70 Rm, perbedaan waktu hanya 1 jam. Kelebihan transit di  BTS setiap 30 menit ada Bus. Kekurangannya, jika ketingalan jadwal bus harus buang waktu selama 3 jam.
      Hotel Saya Pake Hotel Hong https://goo.gl/maps/fhwLNd6fmzp
      yang terkenal buat Backpackers, karena serasa Hotel Keluarga ada di antar jemput di terminal bus dan ketika diantar mereka melepas kita satu persatu, sampai aman di terminal bus dan mengarahkan ke platform yang seharusnya. Terima kasih Ci Amey dan karyawan hotelnya yang bersih. Harga selama 2 malam kisaran Rp 550.000. 
      Tranportasi di Melaka semua ditempuh dengan berjalan kaki. Estimasi makan minum, cukup Rp. 100000 perhari, di tiap menu makanan perhari ada daging nya lumayan wah juga sih.
      Tinggal kita hitung oleh2 jajan yang aneh-aneh dan lainnya, jadi estimasi main di Melaka selama 2 hari:
      Bus 48 Rm = Rp 175.000 Hotel 2 malam = Rp 550.000 Biaya makan minum = Rp. 300000 Jumlah Rp 1.025.000.- sesuai Hitungan awal budget cukup 1 jutaan.
      Hehehe namun belum termasuk Cendol Musang King dan oleh-oleh Durian Jam San Shu Gong yang legenda, Wueeenak lembut banget. Nah bila mau lanjut main di Kuala Lumpur, cuma tinggal nambah hotelnya sekitar Rp 500.000 per malam.
      ____________________________________________________________________________________________________________











    • By Daniyah Isa
      Assalamualaikum 
      Salam kenal,
      Panggil saya, Nia
      Ini adalah pertama kalinya saya pergi ke LN dg mengurus semua keperluan sendiri. Biasanya, sdh terima beres dari kantor, karena memang ada urusan. Nah, destinasi yg saya pilih tdk jauh tp harus berkesan ! Melaka. Kota yg ditempuh dlm waktu 2 jam dari KLIA2. 
      Gimana caranya saya bisa sampai ke sana ? Inih dia, detailnya ;
      1. JKT-KLIA2
      Pesan tiket pesawat yg everyone can fly dari situs resmi. Lama waktu sekitar 2 jam, berangkat 10:10am sampai KLIA2 13:15pm.
      Di KLIA2, ikuti saja petunjuk arah yang ada, sambil ikuti arus kemana orang-orang pergi. Nanti, ada eskalator naik, lalu ada eskalator turun langsung ke tmpt imigrasi. Setelah keluar dari imigrasi, saya temukan mall dg counter-counter barang branded. Semacam Grand Indonesia, kalau di Jakarta.
      Buat yg terburu-buru sampai ke KL dg cepat, mgkn ada urusan meeting or apa, bisa lurus terus ke pintu keluar. Di samping pintu keluar ada loket pembelian tiket KL Ekspres, seharga 55RM dg waktu tempuh 33menit ke stasiun KL SENTRAL. Dari KL Sentral, bisa pilih kemana saja tujuan teman-teman yg mau dicapai. Ibarat di Jakarta nih, KL Sentral tuh Manggarai. 
      Tujuan wisata saya, dan teman saya adalah Melaka. Belajar dari blog dan bbrp artikel, butuh kendaraan bus utk sampai ke sana. Hanya bus saja, tdk ada kereta atau MRT yg menuju ke sana. Saya pun, turun lagi ke lantai G dg eskalator. Jangan takut kesasar ! Banyak petugas keamanan yg berjaga.
      Sampai di lantai paling dasar, ada sederet loket yang menjual tiket bus, taxi, sewa kereta (mobil). Langsung saja, membeli tiket bus Transnasional tujuan Melaka Sentral, seharga 24.10RM. Di tiket sudah tertera nomor tempat duduk, gate tempat menunggu. Wah, pokoknya tertib dan teratur! Meskipun busnya lebih bagusan DAMRI sih bagi saya, hehehe.
      2. Melaka dan Wisatanya 
      Selama 2 jam perjalanan dari KLIA2, sambil bengong-bengong liat pemandangan (apa bener gue di Malaysia? Ini mirip ke Ciawi yah ? Heheheh) yang membedakan tuh, sepanjang jalan lancar jaya. Mgkn supir bus kapalan nginjek gas, hehehe. Duh bahagia deh kalau Jakarta jalanannya kaya gini terus. Sampai tibalah saya di Melaka Sentral, ibaratnya Terminal Kp. Rambutan gituh. 
      Waduh, sepi banget ! Macam ga ada kehidupan. Bingung juga kan, mau ke hotel gimana ? Boro-boro kuota buat pesan taksi online, sinyal ajah ga dapat.
      Yaa, saya tanya ke petugas kebersihan, dan memang bus Panorama 17 tujuan Bangunan Merah, agak lama. Bukan karena macet yaa, ini karena jalanan di Melaka tuh Sehala (satu arah) jadi dia berputar dulu.
      Sejam menunggu, datanglah bus Panorama 17. Disinilah pengalaman dimulai, banyak yg Negor dan tanya "Indonesia ya ? Indonesianya mana ?" Agak bingung sih, ditanya begitu. Biasanya ditanya "Jawanya mana ?" Padahal sih, sama saja hehehe. 
      Saya menginap di hotel Hallmark Crown, 3H2M, seharga 147RM include Breakfest, free wifi. Wilayahnya dekat dengan mall Dataran Pahlawan, jalan kaki 10 menit lah. Jadi turun saja di Dataran Pahlawan, ongkos busnya 2RM saja. Hotelnya comfie banget ! Disetiap sudut ada galon. Jadi bisa refil sepuasnya, ditambah kulkasnya menyala dg sempurna. Wah, recomend deh!
      Saran utk teman-teman yg mau pesan hotel di Melaka, pesan di daerah sekitar Dataran Pahlawan (rate murah), Bangunan Merah, dan Jonker Street. Tiga tempat itu, sudah dekat banget kemana-mana. Jadi bisa jalan-jalan santai, foto-foto, interaksi sama penduduk lokal. Yg penting, rajin jalan kaki yaa, hehehe.
      Hari pertama saya mengunjungi Bangunan Merah, jalan kaki dari Hotel 15 menit. Melewati mall-mall Besar, dan rupanya ada carnaval becak hias, mobil hias dan barongsai. Jadi nggak berasa jauh dan capeknya.
      Di Melaka, ada yang saya lihat di maps Google itu jauh, ternyata dekatan. Menara Taming Sari, Bangunan Merah, Jonker Street dan River Cruise. Yang jauh, cuma Masjid Selat Melaka. Masjid Selat Melaka memang harus menggunakan taksi online, karena jaraknya terpisah dengan daratan Melaka kota dan masuk ke kompleks perumahan. 
      3.Kuliner dan Oleh-oleh Melaka
      Sempat bingung mau makan apa di Melaka. Hari pertama saya sampai di Melaka, sudah malam dan banyak yg tutup. Masa iyah sih, jauh-jauh ke Melaka, makanya McD? Nggak ada nasi lagi. Akhirnya mampir ke 7Eleven (horeee, Nemu 'sevel !) Beli nasi lemak instant dan mie instan. Lupa berapa harganya, tapi cukup menahan lapar. Serius deh, sebenarnya nggak lapar-lapar banget ! Cuma karena nggak mau masuk angin ajah.
      Terakhir perut diisi sama sandwich Subway yg beli di KLIA2. Hufh, gara-gara ngincer destinasi wisata jadinya lupa makan. 
      Hari kedua, masih hunting foto disekitar Bangunan Merah, Taming Sari, River Cruise. Cerah banget langit di Melaka, dan udaranya juga segar nggak ada polusi (kapan Jakarta begini ? Mungkin ga yah ?). Di samping Bangunan Merah, ada tangga menuju bukit. Diatasnya bangunan reruntuhan yang menghadap lautan lepas. Keren banget !!! Duduk-duduk saja sambil lihat pemandangan. 
      Oh Iyah, untuk beli oleh-oleh seperti gantungan kunci, kaos tulisan Melaka, tas Melaka, tempatnya di Medan Samudera. Tenang, ga jauh kok ! Ga perlu nyebrang. Dari Bangunan Merah, ambil sisi kanan dan lurus terus sampai lihat bangunan kapal pesiar. Nah di sana, yang paling murah ! Kaos dapat 10RM, gantungan kunci dapat 8RM, 6 gantungan kunci. Meski di Bangunan Merah juga ada lapak yang menjual, lebih baik beli di Medan Samudera, karena harganya lebih terjangkau. 
      Selain beli oleh-oleh, di tempat ini ada warteg Melayu loh ! Syukurlah, ada warteg juga. Awalnya sempat underestimate gitu. Makanannya mirip makanan warteg, dan ga lebih menarik dari warteg Jakarta. Karena Nggak enak sama Ibu penjualnya, yg tiba-tiba udah nyendokin nasi, mau ga mau dibeli. 
      Yaa sayur tumis kacang panjang dan ayam goreng jadi menu makan siang. Pas dimakan, enak ! Ini karena efek capek mungkin yaa. Minum air mineral, biar nggak makin haus. Tadinya sih mau makan nasi Briyani dan teh tarik, tapi dia hanya jual di hari Minggu. Seporsi makanan warteg Melayu cuma 6RM. Waah, amazing ! akhirnya bisa menghemat, heheheh.
      Lepas makan, lanjut belanja-belanja di sekitar Medan Samudera. Biasa, buat yang dirumah, mau dibeliin kaos dan gantungan kunci utk disebar, hehehe. Jalan lagi ke Bangunan Merah, baru ketemu kedai es cendol. Katanya sih, es cendol di Melaka itu khas banget. Yaudah, saya beli yang es cendol kacang merah. Rasanya ??? Waah, enak banget !!! Pass buat saya yang ga terlalu suka manis. Kuah santannya gurih, cendolnya segar dan kacang merahnya manis. 
      Wah, okeh banget lah ! Rencana kalau ngidam, maunya ngidam es cendol Melaka. Hahahah
      Menjelang sore, saya bersiap menuju Mesjid Selat Melaka. Menikmati sunset sambil menunggu waktu magrib. Magrib di Malaysia, setengah tujuh. Tapi langitnya seperti setengah enam, Jakarta. Waktu di Malaysia tuh cepat banget ! Mungkin ini planet Merkurius, satu menit tiga puluh detik. Semua terasa cepat.
      Saya dan teman-teman menuju Masjid Selat Melaka menggunakan taksi online. Sampai di sana, waah indah banget ! Lebih indah dari foto-foto Google. Garis cakrawala sudah menyapa di langit. Air laut biru bersih tanpa sampah. Saya berdiri di halaman belakang Masjid menatap langit sore. Diterpa angin laut, dan ada beberapa wisatawan lain berlalu-lalang. Sayang, lagi nggak sholat Magrib di sini. 
      Akhirnya cuma nunggu teman yang sholat Maghrib, sambil jaga sendal hahaha.
      Malam terakhir di Melaka, saya menuju rumah makan Eeji Ban Chicken, penjual makanan khas Melaka. Ada Rice Balls, Asam Pedas, Nasi Lemak, harganya pun terjangkau. Berkesan makan ditempat ini, karena rumah makan Eeji Ban recomend dari supir taksi online. 
      4. Check Out Melaka
      Hari terakhir di Melaka, saya merasa sedih banget ninggalin tempat ini. Padahal rumah ini kampung orang, negeri orang, huhuhu. Nggak mau repot karena tas udah beranak, jadinya saya dan teman-teman naik taksi online ke Melaka Sentral.
      Di Malaysia pada umumnya, jarang ada sirik-sirikan or persaingan. Contohnya di terminal Sentral Melaka. Tadinya mau naik bus Delima,  bus terkenal dikalangan blogger yg pernah kesana. Tapi sama kenek Delima, disuruh ke bus satunya lagi yg kurang eksis. But its OK ! Yg ptg sampai, heheheh.
      Dua jam perjalanan menuju terminal bus TBS (Terminal Bersepadu Selatan), amazing !!! Terminal Bus rasa Bandara Terminal 3. Bersih, tertib, rapi. Dibawahnya, ada stasiun menuju KL Sentral. 
      5. Sehari di Kuala Lumpur 
      Berhubung pesawat tengah malam, jadi siang masih bisa jalan-jalan sebentar di Kuala Lumpur. Hunting foto di KLCC, Dataran Merdeka dan jalan-jalan ke Mall *lagi. 
      Dari Terminal TBS, naik KL transit ke stasiun KL SENTRAL seharga 6.5RM. Dari KL SENTRAL, bisa ke Batu Caves, KLCC, Mesjid Jamek, KLIA2. Ada peta seperti peta yang ada di halte Transjakarta, di sana juga ada petugas yang membantu dan menanyakan "Can i help you ?" So, tak perlu takut tersesat. 
      Stamina udah low, meski cuma naik turun kendaraan umum tp cukup bikin lemas. Selain makan, kita juga butuh vitamin, kalau capek lebih baik istirahat.
      Di KL SENTRAL, ada loker penitipan dg kunci sensor wajah. Jadi kita ga perlu deh tengteng tas beranak kesana kemari. Harganya 20RM utk loker kecil dan 30RM utk loker besar. Sangat disarankan berpergian sama teman, biar segala biaya bisa ditanggung bersama. Tapi milih juga yaa, teman yang gimana buat diajak jalan jauh. Apalagi, ke LN yg jalan kakinya jauh-jauh.
      Baiklah, itu pengalaman pertama saya traveling ke Melaka, Malaysia. Saya sangat suka tempat itu, lebih indah dari yg saya bayangkan. Terutama yg hobi fotografi, ini banyak spot-spot bagus di Melaka. 
      Oh Iyah, makasih banyak buat Mba Vira. Mgkn dia jarang aktif di forum ini. Saya pun juga newbie. Ketemu jalan2.com karena random ajah, hehehe. Lagi bosen, drpd stalking sang EX atau baca berita hoaks, iseng-iseng cari soal Melaka. Tiba-tiba muncul situs ini, dan saya kenalan sama Mba Vira. Nggak ada sedikitpun curiga bakal gimana nnt disana, tinggal jalan ajah. Hehehe
      Nah buat teman-teman, semoga tulisan saya membantu dan jadi referensi kalau kalian mau ke sana. Ingat, No need bilang, barang ini murah atau mahal. Soalnya beda "Peradaban".
       








       
    • By seyakasamira
      Lalala-yeyeye..Setelah menunggu selama 7 Bulan lamanya, akhirnya nemu juga 5 orang korban lain (*eh?!) yang bersedia nge-trip bareng ke sini..uwowww jd terharu sayaa..  so, langsung saja..
      Day 1.
      Kita berangkat hari Jumat tgl 26 Sept'14, naik pesawat TriganaAir dari Jakarta menuju PangkalanBun. Sesampainya disana langsung dijemput oleh Tour Guide kami (Pak Andreas dari Yobel Tour), dan kita dicarterin taxi untuk menuju pelabuhan Kumai dengan jarak tempuh yg lumayan singkat yaitu 30 menit saja..Da..engingjrennggg... langsung terkesima dengan kapal yang akan kita kendarai selama 3 hari 2 malam mendatang..huhuhu..ga nyangka kapalnya oke banget,bersih dan ga se-prihatin yg saya bayangkan (mulai norak).
       
      Jadi awak kapal terdiri dari 1 orang kapten kapal, 1 orang crew kapal, 1 orang juru masak, dan Pak Andreas sbg Tour Leadernya. Kapal yg populer dinamakan kapal kelotok (karena bunyinya klotok..klotok..klotok) ini cukup luas buat kami ber 6 plus 4 orang awak kapal. Ada 2 dek, dek bawah itu untuk aktivitas awak kapal (buat nahkodanya, tempat menyimpan kasur2 tamu, tempat masak, dll). Dek atas disediakan untuk tamu. Fasilitasnya juga Ok bgt, kamar mandi pakai shower dan ada closet duduk, disediakan meja makan, ada balkon dengan 2 kursi leyeh2 untuk berjemur (what?berjemur??udah ky areng ginih -____- ! ) Oiya, jangan sedih..kita dapat 3x makan dan 2x snack dalam 1 hari. dan masakannya sungguhlah berlimpah dan super yummy..





       
      Di hari pertama ini kita langsung menuju Tanjung Harapan untuk lihat feeding time nya orangutan. Trekking masuk hutan sekitar 1 km dan sesampai di tempat feeding cuaca mulai mendung dan turunlah hujan. Eh, ternyata disana sudah menunggu beberapa rombongan tourist yg mau lihat proses feeding time ini. Dan dikarenakan wisata tanjung puting ini lebih populer atau diminati tourist luar, maka pemandangan disini adalah bule bule semua   . Disini kita menunggu ?-/+ 30 menit hingga orangutan yg masih ngumpet pada mau turun dari atas pohon menghampiri "panggung" yg berisi pisang2. Beruntung kita bisa melihat orangutan yg muncul dikarenakan kalau hujan biasanya mereka prefer leyeh2 di atas pohon (macam manusia yg kalo hujan lebih senang nedekem di rumah). Uwoww, beda lho rasanya ngelihat orangutan di ragunan/taman safari dengan orangutan disini. Kalo disini ada perasaan degdegan kalo mereka melintas dengan tubuh besarnya itu. Dikarenakan orangutan liar belum terbiasa disentuh oleh manusia (tdk sperti kbon binatang di jakarta), maka juga ada anjuran jangan sembarangan memberi makan orangutan, jangan berdiri diantara orangutan jantan dan betina, jangan bersuara terlalu keras/ribut yg akan mengganggu ketenangan orangutan dan beberapa rambu2 lainnya.







       
      Diperjalanan pulang, ketika melintasi sungai sekonyer kita bisa melihat sekawanan bekantan di kiri dan kanan pepohonan, kalau beruntung bisa melihat buaya pula. Dan saya beruntung melihat buaya dengan mata merahnya sedang mengincar mangsa.
      Malam harinya kita ber candle light dinner dengan lauk ikan nila bakar, tumis kangkung, tempe goreng, uhmm apa lagi ya lupa hehehe dan ditutup dengan dessert potongan buah mangga. Bener2 beruntung dapet chef yg jago masak.  Setelah kenyang, kapal menuju tempat dimana kita bisa melihat kunang2 dimana-mana..woww ga bisa dilukiskan dengan kata2 kita lihat pemandangan sejuta bintang dan kunang2 yg seprti pohon natal di kiri kanan kita..(sayang ga bisa ke photo). suasana malam hari disana sangat sunyi dan syahdu. Hanya ada suara jangkrik dan serangga2 lain yg bersahut2an dan Anyway kita tidur disediakan kasur beserta kelambu..Thanks God we had a marvellous momment and unforgettable experiences.
       
      Day2.
      Yang biasanya pagi2 di jakarta dibangunin sama kokok ayam, eh jangan sedihh disini kita subuh2 dibangunin sama suara bekantan jejeritan yg sedang bersendagurau..woww so sweet bgt ga sih dibangunin suara monyet.. hehehe..Setelah sarapan nasi goreng ikan asin yang banyaknya naujubilah (tapi abis dan kenyang) dan ngeteh2 cantik, maka berangkatlah kita menuju Pondok Tanggui dan dilanjutkan ke Camp Leakey. Di Pondok Tanggui trekkingnya seru, byk spot2 lucu buat foto2, nemu tumbuhan kantong semar, rayap, akar liana, dll tapi sayang setelah menunggu selama 1 jam, orangutannya ga ada yang mau turun di tempat feeding. Mungkin karena masih pagi dan byk bgt wisatawan yg berkunjung kesana jadi mereka malu-malu mau gitu kali ye..







       
      Perjalanan dilanjutkan ke Camp Leakey, pusat rehabilitasinya orangutan. Perjalanan lumayan jauh sekitar 8 km, namun pemandangannya mulai berubah, pohon2 lebih rindang, kiri kanan bisa lihat burung kingfisher, lihat buaya dan biawak berenang, pokoknya settingannya mirip film annaconda deh ngeri-ngeri sedap gitu heheheh.. dan air sungai berubah menjadi lebih jernih dan berwarna hitam. Warna hitam dikarenakan dasar tanahnya gambut namun bening sekali. Sampai bisa ngaca dan hasil fotonya mengagumkan bgt,krn pohon2 yg terpantul di air seperti ada reflection effectnya.  Begitu menginjakkan kaki disini, kita disambut oleh kedatangan Siswi, orangutan betina dewasa yang dari kecil sudah diasuh disini. Dikarenakan hujan, dia mulai ngumpet2 nyari tempat berlindung dan menutupi kepalanya dengan mencabut2 dahan2 yg ditumbuhi banyak daun. Uwoww lutunaaa.. Perjalanan ternyata masih panjang. Pak Andreas mengarahkan untuk ambil jalur masuk hutan sambil lihat2 tumbuhan endemik yang ada di hutan sini,jadi sekitar 1,5 km untuk sampai ke tempat feedingnya orang utan. Beruntung bisa lihat beberapa orangutan,uwa-uwak,squirel yg ke "atas panggung" buat ambil makanan. Yang menyenangkan lihat proses feeding ini adalah, kita jadi tahu gimana cara manggil orangutan supaya turun, gimana liat proses mereka bergelayutan dari pohon ke pohon, gimana cara mereka mengupas pisang dan memasukkan ke mulut, gimana cara ibu orangutan memberi makan anaknya, gimana mimik muka/ekspresi mereka mengendap2 atau mencuri makan lalu kabur, dan banyak lagi tingkah laku kocak lainnya. Adapula kedatangan babihutan yang ikut meramaikan suasana. Setelah sekitar 2 jam muncullah orangutan yg kita tunggu2 yaitu Tom, the king of Camp Leakey. Ya, si Tom ini penguasanya. Selayaknya raja, binatang lain akan mundur atau menyingkir ketika rajanya datang dan membiarkan si raja menghabiskan makanan yg disediakan. Jika ada orangutan dewasa disekitar sana yang dirasa mengancam kedudukannya, serta merta akan terjadi baku hantam disana. Hampir saja kami melihat proses baku hantam itu, yaitu ketika Ponorogo (salah satu orangutan dewasa ) terbirit2 dikejar oleh Tom karena lebih dahulu mengambil jatah makanannya. Namun sayang tidak terkejar dan Tom kembali duduk di singgasanannya sambil minum susu. Ya, makanan yg disediakan oleh Ranger hutan (petugas yg memberi makan orangutan) itu biasanya adalah pisang, tebu, dan susu dancow. wow. hehehe..Perjalanan trekking pulang, kita dihampiri juga oleh orangutan remaja bernama Gajah Mada. Serem ya namanya, tapi ternyata unyu2 gitu penampilannya hihihi..

      siswi

      the team
      Tom
      Gajah Mada
       
      Day 3.
      The Last Day, pagi2 seperti biasa kita dibangunkan oleh sekawanan bekantan, namun kali ini pemandangannya bekantan lagi pada lompat-lompat main air, ceritanya mau nyebrang pohon melintasi sungai, cuman ada aja jatoh2nya di sungai.. LUCU BGT, tapi ga sempet kefoto saking terseponanya. Oia, karena kita malam itu kapal berlabuh di pinggir rawa2 masih dekat Camp Leakey, maka paginya pun kita juga dibangunkan oleh kikikan burung kingfisher, iya kikikkan bukan kicauan karena ternyata suaranya macam kuntilanak yg lagi ngikik. hiiiii...
      Sepanjang perjalanan pulang ke pelabuhan kumai, puas2in berjemur (literally berjemur, panas sih untung byk angin dan hewan kece) demiii menikmati pemandangan yang sebentar lagi akan kami tinggalkan huhuhu..
      Jam 12 siang kami sampai di bandara pangkalan bun dan belum siap move on untuk menghadapi hiruk pikukknya jakarta