Nightrain

Akhir Tahun Di Phuket Yang Menyenangkan ( Panduan Ke Phuket Lengkap )

46 posts in this topic

Phuket, 10 - 14 December 2015

 

post-22151-0-16511600-1426650719_thumb.j

 

Awal sampai pertengahan Desember merupakan waktu yang tepat untuk mengunjungi Phuket karena musim hujan sudah berakhir di awal November dan kondisi laut cenderung tenang sehingga memungkinkan untuk menyeberang ke Phi Phi dan Phang Nga Bay dengan aman. Namun usahakan jangan pergi akhir Desember karena Phuket sudah memasuki high season, selain akomodasi yang mahal, kalau pantai, kafe, dan toko terlalu padat jadinya kurang nyaman juga.

2 minggu sebelum berangkat, kita sudah janjian dengan mas Warsono alias @Sononi Noni untuk menjadi tour guide kita sekaligus menyiapkan mobil agar kita keliling kota jadi gampang dan efisien, apalagi kita memang ngajak papa mertua untuk jalan dan kakinya sudah sakit untuk berjalan terlalu jauh. Overall, servis Sononi memuaskan dan kita rekomen untuk temen-temen yang mau ke Phuket karena selain dia memang asli orang Indo jadi ngobrolnya gampang dan asik, dia juga kenal dengan berbagai operator tur dan show jadi harga yang didapat bisa lebih murah jauh ketimbang langsung beli on the spot.


Day 1 - Patong

Kita tiba di bandara sudah jam 8 malam dan ruangan imigrasi sudah sangat padat dengan turis dari berbagai negara. Kerja para petugas agak lelet, bahkan mungkin lebih lama dari Indo, dan baru belakangan kita tau kalo ternyata di Thailand pun masih umum praktek sogok-menyogok, jadi kalau berani keluarin 100 baht, bisa disediakan pintu khusus biar lebih cepat haha. Setelah mengambil bagasi, kita segera keluar dan ketemu dengan Sononi di depan. Cuaca malam itu tidak bersahabat dan ternyata Phuket seharian diguyur hujan, tapi mending gitu daripada hujan pas kita ke Phi Phi haha malemnya kita menuju ke hotel dan lokasi airport ke kota cukup jauh sekitar 1 jam kurang dan karena perut agak keroncongan, kita minta untuk mampir makan dulu.

Kita diajak ke restoran No 6 yang ada di Patong, rupanya resto ini memang rame dan terkenal, selain karena rasanya yang enak, harganya juga murah. Pad thai yang terkenal seperti kwetiau itu harganya sekitar 35rb-an, minuman rata-rata sekitar 25rb, dan ada beberapa makanan yang harganya 40rb-an. Hujan masih masih mengguyur Phuket namun bar, resto, dan sepanjang jalan Patong ini masih rame dipadati turis, sebagian mengenakan rain ponchos, semacam jas hujan, ada juga yang cuek dan santai saja berjalan di luar walaupun basah.

Hotel yang kita pilih adalah Patong Mansion yang lokasinya cukup dekat dari restoran itu dan tiba disana sekitar jam 10 malam. Interior lobi hotel ini sederhana saja namun relatif bersih dan hotel ini masih tergolong baru, mulai beroperasi sejak 2 tahun lalu. Kamarnya termasuk besar dan extra bed yang kita pesan juga sudah diatur rapi di dalam. Setelah mandi, kita beristirahat karena besok jam 8 pagi kita akan mengawali tur Phuket ke Phi Phi Island.

Share this post


Link to post
Share on other sites

post-22151-0-51384400-1426651266_thumb.j

 

Day 2 - Phi Phi Islands dan Simon Cabaret

Setelah sarapan, sekitar jam 8 kita dijemput oleh Sononi dan menuju ke tempat berkumpul untuk bergabung dengan beberapa turis lain yang akan ikut di speedboat yang sama. Yang menjadi guide ke Phi Phi kita adalah orang Thai asli yang memiliki nickname 'Bob', bahasa Inggrisnya cukup fasih walaupun kental dengan aksen Thai, dan total ada sekitar 25 orang lebih yang ikut. Biasanya ada 2 opsi yang ditawarkan untuk menuju Phi Phi, yang pertama menggunakan speedboat kalau kondisi laut tenang dan jauh lebih cepat karena 45 menit sudah sampe, dan yang kedua adalah cruise besar, ini kapal yang aman walaupun laut agak berombak namun dua kali lebih lama dan biasanya di Maya Beach tidak bisa turun, jadi kalau bisa, pilih speedboat aja.
 

post-22151-0-13582100-1426651347_thumb.j post-22151-0-37670200-1426651281_thumb.j

 

Sebelum berangkat, Bob menjelaskan ada beberapa spot di Phi Phi yang akan kita kunjungi. Yang pertama menuju Phi Phi Don untuk snorkeling dan swimming, melihat Monkey Island, dan lunch di salah satu pulau, kemudian lanjut ke Phi Phi Leh untuk menuju Maya Bay yang menjadi lokasi syuting film The Beach dan bersantai disana, sebelum kembali lagi ke Khai Island yang ada di Phi Phi Don untuk bersantai baru kembali ke Phuket.

 

post-22151-0-51316400-1426651334_thumb.j post-22151-0-82189600-1426651364_thumb.j

 

Perjalanan pagi itu kita tempuh sekitar 30 menit untuk mampir sebentar melihat Monkey Island sebelum lanjut menuju spot snorkeling. Buat yang minat untuk snorkeling, biasanya sebelum berangkat, kita diperbolehkan untuk menyewa fin dan membeli ocean pack drybag agar peralatan elektronik, paspor, dll aman, namun buat yang males nyebur dan cuma pengen santai juga oke karena pemandangan sekitar bagus dan air laut yang jernih sehingga bisa terlihat ikan berseliweran. Lokasi disini tidak banyak coral yang bagus dan harus berhati-hati karena cukup banyak bulu babi juga.
 

post-22151-0-01060100-1426651425_thumb.j post-22151-0-24115500-1426651452_thumb.j

 

Dari sini, kita lanjut menuju pulau pertama untuk lunch. Jangan terlalu berharap banyak karena makanan yang disuguhkan rasanya hambar dan cenderung tidak enak, yang penting cukup buat ganjel aja tapi tempatnya lumayan untuk sekedar ngebir santai, menikmati es krim, dan melihat hamparan pasir putih, pantai yang tenang, deretan longtail boat, dengan background formasi limestone yang berjejer cantik.

 

Lunch break sekitar 1 jam pun berakhir dan kita semua kembali naik ke speedboat untuk lanjut menuju destinasi berikut yaitu Maya Bay. Di tengah perjalanan, kita mampir sebentar untuk photostop di Viking Cave. Ada beberapa turis yang merapat untuk masuk ke dalam gua dan biasanya ada orang lokal yang nongkrong untuk memungut biaya masuk namun foto-foto dari luar rasanya udah cukup karena masih lebih oke untuk menghabiskan waktu di Maya Beach.
 

post-22151-0-44784600-1426651463_thumb.j post-22151-0-59395400-1426651487_thumb.j

 

Tiba di Maya Beach, speedboat kita merapat ke pantai dan semua berloncatan untuk turun. Sore itu matahari masih sangat terik namun cukup banyak bule yang cuek saja berjemur di pantai. Maklum karena bulan Desember gini buat mereka panas tropis malah nikmat karena di negara asal mungkin suhu-nya minus. Air laut yang jernih dengan dasar pasir putih yang lembut dan latar belakang limestone memang membuat pantai Maya ini sangat indah untuk dijadikan latar belakang foto.

Dari pantai, kita bisa berjalan sekitar 10 menit ke tengah pulau dan ada tangga kecil yang menuju ke lagoon. Di sini juga merupakan spot bagus untuk berfoto namun karena lokasinya yang terlalu sempit membuat tidak nyaman untuk berlama-lama karena banyak turis yang lalu lalang dan antri untuk berfoto. Setelah puas bermain di lokasi ini sekitar 1 jam lebih, kita balik ke speedboat untuk kembali ke Phuket dan sebelumnya mampir dulu ke Khai Island untuk bersantai.
 

post-22151-0-18788700-1426651510_thumb.j post-22151-0-79412600-1426651520_thumb.j

 

Bob sudah menyiapkan buah-buahan dan minuman segar untuk digelar buat para peserta tour. Pulau Khai ini terkenal dengan banyaknya ikan yang santai berenang bersama para turis di sekitar pantai. Di tengah pulau juga sudah dibangun banyak pondok yang ditempati oleh banyak penduduk lokal untuk mengais rejeki. Ada yang berjualan bir, minuman alkohol, jus, aneka ragam snack dan makanan, dan tentunya dengan harga premium. Jadi jangan heran kalau segelas jus mangga bisa dihargai 200 baht :D

 

post-22151-0-01584400-1426651536_thumb.j post-22151-0-43320500-1426651576_thumb.j

 

Sore sekitar jam 5 kita tiba di Phuket dan mobil pun mengantar kita kembali ke area Patong. Kita mampir dulu ke Banzaan Market dan buat yang seneng seafood, di pasar ini kita bisa bebas milih-milih kepiting, kerang, udang, ikan dan kalau minat untuk dimasakin, silahkan ke lantai dua dan tinggal pilih restoran mana yang sreg. Biasanya mereka charge harga masaknya per kilo namun hari itu kita mau yang gampang saja dan ga ribet, jadi kita keluar Banzaan dan nyebrang ke Tiger Inn Restaurant, persis di samping Thaiboxing Arena. Sekitar jam 6 sore, di depan Banzaan Market sudah banyak pedagang kaki lima yang menyiapkan dagangannya, dan macam-macam mulai dari fried chicken, sate buaya, martabak, buah, dan sebagainya.
 

post-22151-0-82762900-1426651551_thumb.j post-22151-0-08795100-1426651565_thumb.j

 

Makan di Tiger Seafood ini mirip dengan Bandar Djakarta dan sebetulnya ngga banyak beda dengan Banzaan, kita pilih yang kita mau di depan dan mereka akan masak di dalam, namun di Tiger bukan cuma seafood tapi macam-macam makanan lain seperti Chinese dan Thai Food juga ada, jadi kalau yang seneng makan macam-macam, restoran ini cukup rekomen dan harganya juga reasonable. Ngga murah tapi wajar ! Selesai makan, kita nunggu Sononi datang sekitar jam 7.15 dan tujuan terakhir malam itu adalah Simon Cabaret. Tiba di lokasi sekitar 15 menit karena tidak jauh dari Patong dan syukurnya malam itu tidak macet, kita langsung bergegas masuk ke dalam dan dapat seat di balkon atas. Jarak pandang agak jauh tapi cukup nyaman dan jelas. Theater-nya juga bagus dan tidak usah khawatir soal pakaian karena bebas kita mau pakai celana pendek, sandal, dan kaos.

 

post-22151-0-16221300-1426651594_thumb.j post-22151-0-48864800-1426651605_thumb.j

 

Pertunjukan dimulai sekitar jam 8an malam dan durasi show sekitar 90 menit atau lebih. Kita cukup impressed dengan show ini karena performers yang tampil bukan sekedar ladyboy dan performers asal-asalan karena sudah diseleksi dan juga punya kemampuan dance yang lumayan bagus. Penampilan mereka merepresentasikan kostum dari berbagai negara sesuai tema-nya mulai dari Thailand sendiri, China, Korea, Japanese, Egypt, European, American, dan sebagainya, dan uniknya ada dua kali selingan bencong lucu dan gendut dengan kostum kocak. Overall, show ini termasuk sangat menghibur dan rekomen untuk nonton setidaknya sekali. Menurut Sononi, ada satu kompetitornya yang baru muncul, namanya Aphrodite, dan menurut review ada yang bilang show ini lebih bagus lagi namun kita belum sempat nonton, mungkin next time kalo balik ke Phuket lagi.

 

post-22151-0-06165300-1426651619_thumb.j post-22151-0-82606900-1426651631_thumb.j

 

After show, para performers dengan kostum mereka akan berdiri berjejer di depan untuk berfoto dengan turis dan mereka meminta tips 100 baht untuk sekali foto. Lumayan kalo satu orang bisa dapat 20 turis hahaha dan kata Sononi, biasanya abis show, beberapa dari mereka lanjut lagi ke Bangla untuk 'kerja'. Selesai show sekitar jam 10, kita balik ke hotel untuk beristirahat.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 3 - City Tour dan Phuket Fantasea

Kita mengawali hari ini dengan menuju ke Karon Beach yang terletak di sebelah selatan Phuket. Jarak pantai Karon dari hotel kita yang berada di sekitar Patong kurang lebih sekitar 10 km. Lokasi Karon ini agak jauh dari kebisingan downtown Phuket sehingga sangat cocok buat yang pengen menikmati suasana pantai yang sunyi. Di sekitar jalanan, berdiri banyak resort yang cukup banyak ditempatin oleh turis-turis berumur 40-50an. Terlihat juga beberapa keluarga yang tidak peduli dengan teriknya matahari siang, mereka dengan santai berlari menuju pantai untuk bermain air sambil berjemur.

 

post-22151-0-98769700-1426652515_thumb.j

Menurut Sononi, memang Karon cukup populer untuk para turis yang sudah bosan dengan nightlife Phuket dan justru pengen santai walaupun setiap hari kerjanya ya hanya menikmati matahari di pantai. Dari Karon, kita lanjut ke selatan dan tiba di Kata Beach. Di pantai ini terlihat lebih hidup dan memang cukup padat. Banyak yang lebih suka dengan Kata karena selain lebih ramai, di sekitar lokasi sini lebih gampang nyari cafe atau restoran, namun menurut kita, pantai yang lebih bagus justru di Karon.

 

post-22151-0-47161200-1426652541_thumb.j post-22151-0-15837600-1426652556_thumb.j

Titik ujung paling selatan Phuket adalah Promthep Cape, lokasi yang fantastis untuk menanti sunset dan menikmati hamparan luas laut Andaman. Sebelum sampe di Promthep Cape, kita mampir dulu di dua view point. Yang pertama adalah lokasi dekat power plant dan windmill yang tidak terlalu rame tapi justru view-nya lebih bagus dari Promthep. Ada beberapa pasangan juga yang memutuskan untuk berfoto pre-wedding disini karena background-nya cantik dan tidak terhalang banyak batu seperti di Promthep. Kondisi laut pada bulan Desember juga sangat tenang sehingga kita bisa melihat cukup banyak yacht dan speedboat yang lagi 'parkir' dari atas.

 

post-22151-0-16038600-1426652581_thumb.j

 

Dari powerplant ini, kira-kira 10 menit driving menuju Promthep, kita sempat mampir sebentar di Karon View Point. Dari atas sini juga view sangat bagus karena pantai Karon dan Kata terlihat jelas. Buat yang pengen santai lama-lama, lebih mending spend waktu di powerplant karena selain ada yg jualan kelapa muda dan minuman dingin, disitu juga jauh lebih sepi sedangkan Karon View Point merupakan tourist spot yang lebih terkenal sehingga suka banyak bus-bus tur yang mampir. Jadinya kalo mo foto-foto atau santai jadi ribet karena banyak yang antri, apalagi kalo ketemu turis yang rese yang minta tolong fotoin tapi ngomongnya kasar. Biasa yang kaya gini kita cuekin dan pura-pura ngga denger :D

 

post-22151-0-18468500-1426652596_thumb.j post-22151-0-11749900-1426652624_thumb.j

 

Setelah tiba di Promthep, jujur memang benar kata Sononi, lebih asoi view di powerplant dan Karon View Point, namun Promthep ini cukup menarik karena view agak berbeda dan karena lokasi yang cenderung luas, turis cukup gampang menemukan photospot yang sepi dan tidak mengganggu turis lain. Setelah Promthep, kita lanjut menuju salah satu landmark Phuket yaitu Big Buddha yang lokasinya ada di antara Chalong dan Kata. Dulunya tempat ini hanya sekedar bukit tempat nongkrong orang lokal untuk menikmati sunset namun akhirnya dikembangkan menjad proyek ambisius yang uniknya, pembangunan patung raksasa ini didanai sebagian besar oleh turis yang datang.

 

post-22151-0-19349600-1426652655_thumb.j

 

post-22151-0-66690200-1426652635_thumb.j post-22151-0-51560200-1426652688_thumb.j

 

Di dalam ruangan sebelum naik tangga menuju Big Buddha, terpampang sebuah papan yang ditempelin dengan berbagai mata uang dari seluruh dunia, termasuk uang Indonesia. Bahkan ada beberapa uang lama yang sudah ditarik dari peredaran masih nangkring disana. Setelah naik tangga menuju puncak bukit, Anda akan disuguhkan pemandangan yang indah dan patung Buddha setinggi 45 meter yang gagah. Di samping patung besar ini juga terdapat patung Buddha yang lebih kecil dan terbuat dari kuningan, dan konon patung 'kecil' ini dibuat dari 22 ton kuningan dan menghabiskan biaya sebesar 8 juta baht atau sekitar 3.2 milyar rupiah, sedangkan Big Buddha sendiri menghabiskan biaya kurang lebih 4 kali lipat-nya.

 

post-22151-0-84461500-1426652676_thumb.j

 

Dari Big Buddha, kita lanjut menuju Wat Chalong, salah satu lokasi kuil di Phuket yang sangat terkenal. Arsitektur dan detail kuil-kuilnya sangat bagus dan jangan lewatkan untuk mampir kesini kalo ke Phuket, walaupun untuk sekedar berfoto sebentar atau mampir ke dalam kuil. 30 menit rasanya sudah cukup untuk explore tempat ini dan foto-foto kecuali kalau Anda beragama Buddha dan pengen sembahyang di dalam.

 

post-22151-0-40302900-1426652699_thumb.j post-22151-0-44815100-1426652712_thumb.j

 

post-22151-0-42323800-1426652745_thumb.j

 

Dari Wat Chalong, tidak terlalu jauh untuk mampir ke Central Festival, shopping centre untuk kelas menengah atas dan lebih apik dibanding Jungceylon. Barang-barang yang dijual kurang lebih mirip dengan mal Jakarta namun ada juga beberapa barang unik seperti ada satu counter yang menjual tas cewek yang bisa dipompa jadi handy banget untuk travelling karena bisa dikempesin lagi untuk diselipin di dalam koper. Harganya juga tidak beda jauh dengan Jakarta jadi buat yang bosen mampir mal, ngga perlu kesini juga oke tapi lumayan kalo pengen bersantai sejenak abis panas-panasan di luar.

 

post-22151-0-56747100-1426653710_thumb.j post-22151-0-08186400-1426653737_thumb.j

 

post-22151-0-84625900-1426653851_thumb.j

 

Tujuan terakhir hari itu adalah Phuket Fantasea. Banyak yang merekomendasikan tempat ini karena lighting yang bagus, dinner yang enak, dan show yang menarik. Tiba di lokasi, sudah banyak turis yang sibuk berfoto dengan logo Fantasea atau dengan ladyboy berkostum tradisional yang berdiri di dekat loket. Harga tiket normal sekitar 2.200 THB / orang dewasa termasuk dinner dan 2.000 THB untuk anak-anak, namun kalau anaknya berumur 4 tahun ke bawah, boleh masuk gratis namun tidak dapat reserved seat pada saat show.

 

post-22151-0-13640900-1426653889_thumb.j post-22151-0-39949600-1426653988_thumb.j

 

Tempatnya cukup luas dan banyak attraction di dalam seperti small theme park, namun tidak ada extreme rides. Bisa dibilang agak mirip dengan pasar malam. Ada live show stage di dekat pintu keluar buat yang suka musik namun waktu itu hampir ngga ada yang tertarik dengerin lagu, kebanyakan orang masuk ke dalam untuk naik gajah atau dinner santai sambil nunggu show mulai. Lampu-lampu di sepanjang jalan memang bagus dan bernuansa ceria, lokasi dinner juga terkesan mewah dan variasi makanan yang banyak, rasanya juga tasty, dan show-nya buat kita standar aja. Buat turis yang seneng culture, tentunya bagus dan banyak yang bilang lebih menarik dari Siam Niramit, tapi buat yang seneng pure entertainment, paling ada sekitar 3 atau 4 scene aja yang kocak, termasuk sekumpulan anak ayam yang berlari rapi haha adegan perang-nya juga not bad, dan overall kalau bayar full price, rasanya agak rugi, tapi kalo dapat special price kaya kita kemaren sih oke banget.

 

post-22151-0-40820300-1426654001_thumb.j post-22151-0-98398100-1426654020_thumb.j

 

Yang bikin bete adalah antrian untuk menyimpan kamera dan hp yang ngabisin waktu hampir setengah jam dan pada saat bubaran untuk mengklaim barang-barang kita juga mesti antri panjang yang disortir dari kartu berwarna, jadinya pegel berdesak-desakan hampir kehabisan oksigen gara-gara ginian haha. Setelah proses retur barang selesai, kita pun balik ke hotel untuk istirahat.
 

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 4 - Phang Nga Bay dan Thai-girl show

Pukul 9 pagi kita sudah siap di lobi hotel dan dijemput oleh operator tour untuk menuju Phang Nga Bay. Perjalanan kurang lebih 45 menit menuju dermaga dan disana kita berkumpul ditemani oleh dua guide asli Thai yang cukup fasih ngomong Inggris, bahkan ada satu yang sangat fasih ngomong Mandarin karena memang tiap hari ada aja puluhan turis China yang naik cruise. Kita menunggu sekitar 30 menit sampai kurang lebih 35 orang semuanya terkumpul baru rame-rame menuju ke kapal dengan berdesak-desakan di dalam minibus yang modelnya mirip bemo. Model kapal yang kita naiki ini seperti cruise kayu yang cukup besar dan di dek atas ada meja makan panjang yang memang disiapkan untuk lunch nanti.
 

post-22151-0-10074500-1426654644_thumb.j post-22151-0-53966200-1426654670_thumb.j

 

Setelah basa-basi dan menjelaskan do-and-don't, si guide mulai membagikan minuman dan life jacket untuk berjaga-jaga dan kapal pun perlahan meninggalkan dermaga untuk menuju ke lokasi pertama. Cuaca hari itu sangat cerah dan matahari bersinar cukup terik, laut pun terlihat tenang sehingga perjalanan kesana kita tempuh tanpa banyak goncangan. Setelah 30 menit lebih di laut, formasi limestone sudah mulai terlihat yang menandakan lokasi cave pertama sudah dekat. Aktivitas kita yang pertama siang itu adalah naik kano menyusuri pinggir bukit dan masuk ke dalam gua untuk menuju hidden lagoon. Satu kano bisa muat 2 sampai 3 orang penumpang dan 1 kapten, tapi lebih bagus diisi 2 orang saja biar ngga terlalu sempit.

 

post-22151-0-94566200-1426654688_thumb.j post-22151-0-33073600-1426654731_thumb.j

Siang itu terlihat sekitar 20 kano yang berseliweran dan di sekitar mulut gua, terdapat puluhan monyet yang terlihat ganas. Guide sudah mewanti-wanti untuk jangan iseng bawa atau melempar makanan, namun mertua iseng aja bawa jeruk di kantong, katanya pengen dilemparin, eh siapa yang sangka monyetnya lapar dan lincah kaya Sun Go Kong bisa loncat sana sini dan berenang, untung pas satu monyet lompat ke kano, si 'kapten' udah pengalaman dan berhasil ngusir pelan2 dan ngga ada yg jadi korban gigitan haha

 

post-22151-0-44985000-1426654882_thumb.j post-22151-0-60605200-1426654907_thumb.j

Di dalam gua, ada ratusan kelelawar yang bergelayutan namun tidak terlalu terlihat jelas tapi kita bisa mendengar kepakan sayap mereka. Sambil mengayuh, kapten mengingatkan kita untuk memperhatikan banyak batu tajam di atas kepala jadi kita disuruh tiarap atau menunduk sampai keluar dari gua dan tiba di lagoon. Lagoon ini tidak bisa dicapai apabila air sedang pasang tinggi karena mulut gua pasti tertutup air, namun beruntung kita hari itu air lagi ngga tinggi. Suasana di lagoon sepi dan sekeliling terdapat tebing tinggi yang ditumbuhi banyak pohon dan rumput hijau, dan di sekeliling lagoon cukup banyak pohon mangrove yang bisa dinaikin untuk sekedar berfoto. Kurang lebih 15 menit kita ada disini, kapten pun balik menuju gua untuk kembali ke kapal.

 

post-22151-0-52268200-1426654922_thumb.j post-22151-0-83066200-1426654937_thumb.j

 

Kita lanjut menuju ke lokasi berikutnya untuk naik kano lagi dan kali ini lagoon-nya lebih besar dan pemandangan di sekitar lagoon lebih bagus dibanding lokasi pertama, dan untungnya disini ngga ada monyet. Air laut agak burem dan dibanding Phi Phi memang kalah jernih, namun aktivitas kano ini sangat fun, terutama menyusuri gua dan masuk ke lagoon, dan setelah merapat ke pulau kecil, kita juga dikasi kesempatan untuk naik kano sendiri, jadi buat yang berani, boleh dicoba dan make sure laut ngga terlalu berombak karena buat pemula, ngayuh kano bisa agak berat kalo pas arus gede dan kalo panik bisa berabe :D

 

post-22151-0-28989300-1426654996_thumb.j post-22151-0-30108100-1426654969_thumb.j

post-22151-0-20393300-1426654950_thumb.j post-22151-0-96106000-1426654982_thumb.j

 

Sekitar jam 1 siang, semuanya diajak untuk naik ke kapal lagi dan makan siang sudah disiapkan. Sedikit catatan dan peringatan - kalo satu kapal dengan banyak turis China, mereka ini paling brutal kalo ngambil makanan jadi pastikan jangan malu-malu ngambil yang pengen kita ambil daripada nunggu abis dulu baru ambil lagi, dijamin udah ludes haha setelah makan, tujuan berikut kita menuju James Bond Island yang tersohor itu. Lokasi pulau James Bond ini tidak terlalu besar dan dipadati oleh ratusan turis setiap harinya. Sebetulnya cukup berfoto dengan papan James Bond dan background 'needle' yang terkenal itu sudah cukup karena toko souvenir disana ngga terlalu menarik dan juga rasanya percuma untuk naik ke atas bukit karena view tidak terlalu spektakuler.

 

post-22151-0-31874300-1426655008_thumb.j post-22151-0-08048700-1426655043_thumb.j

Cuaca sore itu agak sedikit mendung dan untungnya pas kita sampe disana, kita masih sempet berfoto-foto dulu sebelum hujan pun akhirnya turun. Untungnya hanya 20 menit hujan, cuaca kembali cerah dan matahari bersinar terik lagi. Sekitar jam 3 sore, acara kita sudah kelar dan kita kembali ke Phuket yang ditempuh dalam waktu 1 jam. Setelah tiba di Phuket, kita naik minibus dan diturunkan di Jungceylon Mall untuk bersantai sambil menunggu acara puncak, Thai-girl show haha

 

post-22151-0-90216600-1426655055_thumb.j

 

Jungceylon Mall ini sedikit mengingatkan kita akan Cihampelas Walk yang ada di Bandung dimana di bagian dalam banyak toko dan di luar tempat makan, dan jejeran kafe dan restoran ini agak sedikit mirip style-nya dengan Cilandak Town Square. Kita ngadem di dalam dan sekitar jam 6, kita mulai celingak-celinguk di luar mo nyari resto apa nih yang cocok buat dinner. Setelah muter 2 lap, akhirnya kita mutusin untuk secara random nyoba salah satu restoran disitu yang keliatannya menyediakan western sekaligus Thai menu, tapi apesnya steak yang saya pesan sama sekali tidak bisa dimakan karena keras dan memang ngga enak, namun untungnya Pad Thai kayanya lumayan, dan saladnya juga not bad. Ada kejadian mengagetkan pas kita makan, di samping kiri meja kita ada sepasang bule berumur 50an yang agak gemuk dan tiba-tiba si ibu yang badannya gendut jatuh dari kursi dan kepalanya terbentur di lantai. Para pelayan pada berhamburan untuk menolong dan kita curiga dia kena stroke ringan mungkin. Kasian juga dan kejadian itu mengingatkan kita untuk waspada dengan kesehatan, kalo perlu sebulan sebelum berangkat cek darah dulu untuk memastikan semuanya normal, daripada kejadian kaya gini kan bikin bete dan khawatir.

 

post-22151-0-30253400-1426655068_thumb.j post-22151-0-29999300-1426655083_thumb.j

 

Setelah perut kenyang, ngga berapa lama kita kontak Sononi dan nanya mengenai plan menuju lokasi show dan dia menjelaskan kalau kita akan dijemput oleh temannya yang memang kerja di club tersebut. Jadi kita nongkrong di depan dan 5 menit kemudian, orangnya datang dan ternyata lokasinya sangat dekat dengan Jungceylon, barangkali kalo jalan ngga sampe 10 menit. Club ini lokasinya sama tapi sempat berganti nama beberapa kali dan terakhir kita kesana, namanya WAKE CLUB, dan harga resmi show ini termasuk tinggi yaitu sekitar 2.500 THB tapi untungnya kita dapat harga 'orang dalam' dan udah di-include semuanya, ya barangkali satu orang sekitar 300rb-an. Kamera dan HP semuanya harus dititipin di depan karena kalo ketauan lagi video atau foto di dalam, pasti akan 'ditendang' ke luar haha

 

post-22151-0-33369500-1426655130_thumb.j

 

Show ini sangat unik, entertaining, sekaligus extreme karena nudity sudah pasti dan yang gilanya banyak akrobat-akrobat sinting dengan kemaluan jadi buat yang tadinya ragu-ragu untuk nonton, saya rekomen untuk coba karena selain ini cuma ada di Thailand, anggap saja ini entertainment show seperti nonton sirkus, jadi jangan lihat dari sisi negatif-nya, karena di dalam semua haha hehe untuk lucu-lucuan kok. Ini ada sedikit spoiler dan tips untuk rundown acara-nya tapi untuk yang belum pernah nonton dan pengen dapet surprise-nya, jangan dibaca ya :

** SPOILER ALERT **

Show dimulai sekitar jam 6 sore dan ada sekitar 12 adegan berbeda selama kurang lebih satu jam dan akan balik lagi ke ronde pertama dan akan diulang terus barangkali sampe jam 1 pagi. Biasanya setelah satu putaran selesai, akan ada 2 cewe yang datang membawa 'kotak sumbangan', ini ngga wajib tapi ngga ada salahnya untuk nyumbang sekitar 100 baht karena ini tips untuk tukang pel dan sapu arena. Para performers terdiri dari cowo tulen, cewe tulen, dan bencong tulen haha tapi untuk ladyboy ngga ketauan sampe mereka telanjang di tengah acara hihi. Secara bergantian akan ada striptease show, sex show, atraksi pukul tambur dengan Mr P, nembak balon dengan Miss V, main pingpong dengan Miss V (tapi yang lalu kita dapet yang ladyboy dan nembak pingpong pake pantat, mati deh hahaha), keluarin silet dari Miss V, dan yang kocak ada 2 adegan yang melibatkan penonton jadi make sure kalo ngga mau ditarik ke stage, jangan nongkrong di front row. Waktu itu kita ngakak pas ada 2 turis China yang diajak ke panggung dan dipelorotin celana, udah gitu ada yg diajak masuk ke bathtub dan dimandiin hihi ya seru aja dan biasanya pas masuk kita dibagi minuman, ya sebaiknya jangan minum daripada kebelet pipis, suasana di dalam rame banget dan kalo kita ke toilet, bisa-bisa tempat diambil orang lain.

Menurut Sononi, show di Wake Club ini yang terbaik karena di Bangla biasanya pendek, monoton dan terlalu banyak scam, jadi make sure untuk nonton disini tapi kalo bisa dapat 1/3 harga tiket lebih ok.

** SPOILER ALERT **

 

post-22151-0-95060600-1426655161_thumb.j post-22151-0-31301600-1426655180_thumb.j

 

Dari club ini, kita langsung balik ke hotel untuk istirahat sambil packing karena besok malam kita udah balik menuju Jakarta.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Day 5 - City Tour

Pagi ini diawali dengan mengunjungi Phuket City View Point yang terletak di atas bukit dan pemandangan kota dari atas ini cukup bagus. Kita bisa melihat laut Andaman di sebelah kiri, kota Phuket di depan, dan Big Buddha di sebelah kanan. Ada gazebo putih tempat berteduh kalau pas hujan dan di dekat situ, ada restoran kecil dan warung yang menjual berbagai macam snack, termasuk es krim home-made durian yang rasanya agak mirip dengan Musang King yang agak pahit sedikit. Kita menghabiskan waktu sekitar 30 menit di lokasi ini dan kemudian mampir sebentar di Wat Khao Rang. Di lokasi ini, Anda bisa mengambil foto Buddha yang sedang bertapa yang berukuran cukup besar dan di samping ini terdapat wihara dengan berbagai patung dewa.

 

post-22151-0-34575100-1426656298_thumb.j post-22151-0-43078600-1426656310_thumb.j

post-22151-0-94766700-1426656379_thumb.j post-22151-0-26225700-1426656504_thumb.j

 

Tujuan berikutnya adalah Phuket Old Town. Dulu daerah ini merupakan daerah Phuket yang paling ramai, namun sejak fokus keramaian berpindah ke Patong, bisa dibilang banyak hotel disini akhirnya tutup karena sangat sedikit turis yang mau tinggal disini. Memang sih untuk mampir sebentar oke, paling nyari restoran kecil untuk jajan atau sekedar ngopi, tapi lebih fun untuk tinggal di daerah Patong atau yang sepi sekalian di Karon. Nuansa bangunan tua dan jalan yang tidak terlalu sepi malah mengingatkan ke kota kecil seperti Cirebon haha.

 

post-22151-0-82118100-1426656517_thumb.j post-22151-0-08824700-1426656528_thumb.j

post-22151-0-64251700-1426656545_thumb.j

 

Setelah makan bakso di sekitar Old Town, kita mampir ke Phuket Trickeye Museum, dan tempat ini rekomen untuk didatangi karena fun dan banyak background photo yang unik dan lucu. Harga tiket masuk per orang sekitar 200rb dan umumnya 1 jam saja cukup. Buat yang sudah pernah datang ke Trickeye Museum di negara lain, boleh skip tempat ini dan langsung menuju ke Surin Beach atau Kamala Beach untuk bersantai. Kalau musim durian datang, boleh juga mampir ke salah satu pasar lokal karena biasanya harga durian pasti sangat murah. Sayang waktu pas kita datang Desember, durian lagi ngga musim, jadi di pasar yang dijual kebanyakan cuma nanas aja.

 

post-22151-0-00225400-1426656558_thumb.j post-22151-0-44611200-1426656570_thumb.j

post-22151-0-65640000-1426656580_thumb.j post-22151-0-38197000-1426656594_thumb.j

post-22151-0-48152100-1426656659_thumb.j post-22151-0-82359500-1426656668_thumb.j

post-22151-0-58226800-1426656679_thumb.j post-22151-0-43252600-1426656690_thumb.j

 

Setelah mampir di Surin dan Kamala, kita menuju ke salah satu viewpoint bagus dengan hamparan pemandangan pantai Kamala yang cantik. Deretan rumah yang dibangun di atas bukit disertai dengan belasan perahu yang terapung di atas pantai yang tenang bisa membuat Anda betah berlama-lama nongkrong disini. Sambil menunggu flight malam, kita akhirnya mampir dulu ke salah satu mall kecil di dekat airport untuk sekedar jajan dan makan malam, dan akhirnya kita dianter Sononi ke airport untuk balik ke Jakarta.

 

post-22151-0-18064100-1426656699_thumb.j post-22151-0-90788700-1426656712_thumb.j

post-22151-0-81549100-1426656746_thumb.j post-22151-0-20406700-1426656912_thumb.j

post-22151-0-98142400-1426656926_thumb.j

 

Kesan kita terhadap Phuket bisa dibilang 'better than expected' karena banyak yang mengcompare Phuket dengan Bali dan banyak turis asing yang lebih prefer Phuket dibanding Bali karena dianggap lebih teratur, lebih bersih, barang souvenir berkualitas bagus, dan taste makanan yang lebih cocok dengan lidah mereka. Menurut kita, masing-masing ada kelebihannya, dan tentunya yang paling menarik dari Bali adalah kultur-nya dan yang juara dari Phuket adalah pulau-pulau seperti Phi Phi dan Phang Nga Bay, juga tentunya nightlife yang unik dan extreme haha. Buat yang belum pernah ke Thailand dan pengen tau mana yang lebih oke untuk didatengin, sudah pasti Phuket lebih oke dibanding Bangkok, namun kalau mau liat dua2nya pastikan minimal punya 4 hari untuk explore Phuket dan pulau-pulaunya :)
 

* * *

Share this post


Link to post
Share on other sites

@Nightrain

hahay PHUKET i love it 

gak tau saya pribadi gak pernah bosen kesini

tar april kesini lagi hahaha

kayak nya bakalan ke Phi Phi lagi deh kangen abis liat poto2 ini terakhir kesana dah lama 2012 :P

 

wah akhir nya ketemu mas @Sononi Noni ya asik orang nya dan saya suka minjem motornya buat keliling Phuket hehehe

 

City tour nya memang paling pas ending nya di Promthep Cape ya, pas datang kesana dapat sunset gak mas ?

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa

haha iya def, asik ke Phuket tapi lo balik lagi april ? berarti udah 3x ya ? hihi ngga explore tempat lain yg deket Thailand kaya Myanmar atau Kamboja ? nanti kapan2 gw balik lagi kesini mau coba Similan Island yg kata noni juga oke

iya waktu itu dia sempet ngomong lo naek motor sendirian keliling haha

 

waktu ke Prompthep kita atur pas siang mampir sebentar dan skip sunset soalnya acara kita agak padat, malamnya kita mau ke Fantasea :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa

seinget gw harga tiketnya segitu def tapi coba tanya noni nanti disana siapa tau bisa dapet harga miring

patung buddha yg tidur itu ? bukan di Kamala beach-nya tapi dekat situ, pokoknya ngga jauh sih rasanya tapi agak lupa nama daerahnya :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

wah bawaan-nya pengen ke phuket lagi, tapi kalau dilihat dari fotonya, airnya udah kgk sejernih dulu :(

btw, as always nice share :salut

 

kalo daerah Phang Nga Bay memang ngga jernih, cenderung ijo ya, kalo daerah Phi Phi gw bilang masih jernih banget kok, tapi katanya Similan lebih jernih lagi karena mungkin lebih sepi :)

Share this post


Link to post
Share on other sites

kalo daerah Phang Nga Bay memang ngga jernih, cenderung ijo ya, kalo daerah Phi Phi gw bilang masih jernih banget kok, tapi katanya Similan lebih jernih lagi karena mungkin lebih sepi :)

dulu sih saya mampirnya ke Phi Phi Island, wah Similan lebih jernih yah !? lebih jauh dari Phi Phi yah?

 

@kyosash

kayak nya sebagian daerah nya masih biru air nya tapi kalo andaman sea memang terakhir saya ke Phuket udah banyak yang ijo

icic

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa

iya asik tuh, overall harga Sononi semuanya sangat reasonable, iya coba Wake Up club, deket dari Jungceylon, tapi kata noni mrk kadang suka ganti nama club mungkin biar berasa club baru haha tapi orang dan tempatnya ya maybe itu2 aja :D

Share this post


Link to post
Share on other sites

@deffa

kemaren di sekitar Karon, ada satu tempat latihan surfing lucu juga, jadi semacam arena seperti skateboard gitu tapi ada semprotan air-nya haha barangkali karena di Phuket ga ada pantai surf ya, boleh iseng2 coba def hihi

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now


  • Similar Content

    • By itsmeu
      안녕하세요~~ (Annyeong haseyo, Hello)
       
      Pertama-tama,Alhamdulillah, finally, akhirnya meu menjejakkan kakinya di Korea Selatan. Setelah nabung nabung, momok visa yang menakutkan akhirnya guys, aku berangkat juga ke salah satu country goals akooh, secara basicnya ak emang anak yg doyan korea-an baik kpop/drama dr jaman full house.
      Tanpa banyak curcol lagi...FR yg sudah aku janjikan pas nulis thread malaka...check it out...
       Jadinya tanggal 28 April – 5 Mei 2018 kemarin aku dan 2 tmnku berangkat ke negeri gingseng.
      Tiket pesawat Air Asia: PP 3.78jt + bagasi 1 (20kg) = 4.28 jt
      Lokasi penginapan: BB Hostel Hongdaeline (KW hongdaeline) : 380000 won/seminggu (private bathroom,kamar isi ber3 aja)
      Sebelumnya ak kasih dulu summary itin 1 minggu di Seoul:
      28/04: Nginep di Incheon T2 (done)
      29/04: Gyeongbokgung Palace, Bukchon Hanok Village (done)
      30/04: Ewha University dan sekitarnya, Namdaemun Market, Namsan Tower (done)
      01/05: Nami Island, King sejong statue, kyobo bookstore, cheonggyecheon stream, Myeongdong (done)
      02/05: Itaewon, Myeongdong dst
      03/05: Napak tilas Kpop lol (Entertainment company,kroad star, Gangnam), seoul national univ (SNUFestival)
      04/05: Pendakian gunung Acha (Achasan), DDP, Lotte mart pusat, Seullo, Hongdae street, Hangang river
      05/05: Jimjilbang/Sauna, BT21 Hongdae store dan sekitarnya, ewha lagi, siap siap perjalanan pulang
      Jujur ini itin sebenernya full banget hahaha karena ternyata jalan kaki di korea itu jauh-jauh dan di indo kebiasaan dimanjain abang ojol...kaki bengkak tapi hati bahagia no problemo
      to be continue~~
    • By anna22
       
      Beberapa minggu pulang dari Korea sekitar akhir November 2017, gw diultimatum sama ortu untuk tidak ke Jepang atau Korsel lagi. Lebih baik umroh atau ke negara lain. Padahal gw masih penasaran dengan musim semi di Jepang. Ya udahlah gw coba melancarkan taktik dengan mengajak ortu gw untuk jalan2 ke Jepang di musim semi 2018. Kebetulan gw agak lowong di akhir bulan April, begitu pula dengan Ibu yg sudah santai dengan pekerjaannya. Nemulah harga tiket JAL pp jakarta-narita Tokyo 5,3 jt. Menurut gw sih udah lumayan harganya, full service airlines sekaligus direct flight. Cuman memang jam keberangkatannya hanya dapat yang pagi. Ya udahlah yaaa....
      Di bulan Desember tiket pun terbeli. Setelah itu sambil menunggu urus visa (krn masih pake paspor biasa), gw pun mulai membuat itinerary dan setelah fix lanjut mencicil pesan penginapan. 
      Ortu gw bilang perjalanan ke Jepang ini inginnya sekali aja jadi gw puter otak gimana caranya bisa mendatangi tempat2 yang ok di jepang pada waktu yang tepat pula. Kebanyakan tempat2 yang didatangi berupa taman bunga dan tidak ketinggalan tentunya Tateyama Kurobe Alpine Route. 
      Oleh karena itu, pemilihan tanggal 18-27 April ini banyak dipengaruhi beberapa faktor. Salah satunya rute Tateyama sudah dibuka, ada festival sakura besar di Hirosaki (pengen banget kesini dari dulu), taman bunga ashikaga dan hitachi seaside juga sedang mekar, dan belum dimulainya golden week. 
      Hmmm panjang yaaa cerita awal mulanya, boleh diskip kok hehe langsung baca yg di bawah ini saja ya ^^
      18 April
      Flight jam 6.15 pagi dari Soetta Terminal 2D. Sampai di Narita jam 4 sore. Cek Imigrasi aman dan lancar tanpa tanya jawab. Setelah itu, sambil ortu istirahat, solat dan bersih2, gw ngurus sim card khusus paket data internet yang sudah dipesan melalui Klook (8 hari 4G/3 GB = Rp. 280.000). Lanjut ke JR office untuk tuker voucher JR pass walaupun baru akan aktivasi di tanggal 20. (Voucher JR pass udah dibeli di Indonesia pesan di Bobobobo). Sekalian juga beli Tateyama Kurobe Alpine Ticket seharga 9000 yen. Setelah itu beli pasmo(seperti e-money utk naik kereta, bis, beli sesuatu di vending machine, bayar di minimart, atau bayar loker)buat ortu dan isi ulang pasmo gw yg lama. 
      Setelah urusan ini itu beres, sebelum ke Shinjuku Express Bus Terminal, kami makan terlebih dahulu di Tentei Tempura dan Soba (halal certified) di lantai 4 terminal 2. Setelah perut terisi, kami ke lantai bawah untuk naik kereta menuju Shinjuku. Sebenarnya banyak pilihan kereta, tapi gw milih yang murah walaupun lama toh gak ngejar waktu juga sih hehe
      Sekitar jam 8.30 malam, sampailah di Shinjuku setelah transfer dr Nippori. Tadinya pengen mampir ke Tokyo Metropolitan Government Building, tapi ortu masih jetlag kayaknya jadi lgsg aja menunggu di terminal. Nah gw kan gak betah ya anaknya, jadi pas ngelihat ada Don Quijito, setelah memastikan waktu dan tempat naik sleeper bus ke Osaka nanti, gw pun minta izin untuk jalan2 sebentar. Bapak gw akhirnya ikut. 
      Oiya kenapa kami lgsg ke Osaka, dan menggunakan bus malam??? Selain efektif dan efisien yaitu, juga memberikan pengalaman sleeper bus ke ortu. Ternyata mereka senang karena baru pertama kali naik bis seperti itu. 
      Tepat jam 23.30, bus pun datang yang ternyata gak penuh2 amat. Setiap 2 jam sekali, bus pasti akan berhenti di rest area sekitar 20 menit untuk mempersilahkan penumpang ke toilet.
      19 April
      Tepat jam 7 pagi, sampailah kami di Willer terminal Umeda Sky Building. Setelah cuci muka dan ke toilet, kami lanjut ke penginapan untuk titip koper. Dari Umeda Sky Building, jalan kaki ke Osaka Station. Disana saya sempat ke information center untuk membeli Osaka Amazing Pass 1 day yang akan digunakan seharian ini (2500 yen) baik untuk tiket masuk lokasi wisata maupun osaka subway.
      Pilihan penginapan adalah Osaka Guesthouse Nest (selain dekat JR station =teradacho st, ada pilihan kamar untuk 3-4 orang, harga sesuai kantong juga ). 

      Setelah titip koper, kami lanjut ke Osaka Castle. Sebelum naik ke atas Castle, kami makan bekal dulu di tempat duduk yg ada di halaman depan castle. Harga tiket masuk sudah tercover OAP juga ya...



      Perjalanan dilanjutkan ke Osakako Station  untuk menuju Tempozan Giant Ferris Wheel dan Santa Maria Cruise. Ini juga sama tercover OAP. 

      Menjelang sore, kami memutuskan ke Matsuri Halal Restaurant. Sebenarnya ingin ke tempat lain, tapi terlalu jauh sedangkan kami sudah lapar. Kalau menurut kami sih rasa dan harga kurang sepadan. Rasanya biasa saja kalau dibandingkan makanan halal di resto lain yaa tapi balik lagi tergantung selera loh


      Malamnya kami ke daerah Sinsekai untuk ke Tsutenkaku Tower. Sama ini juga tercover OAP. Tadinya mau lanjut ke Namba Dotonburi tapi ortu udah ga sanggup dan mengingat juga besok akan ke Kyoto pagi2 jadilah akhirnya kami pulang ke penginapan dan istirahat.
      20 April 
      Jam 7 pagi setelah sarapan perbekalan di penginapan, kami menuju Kyoto. Hari ini JR pass sudah mulai diaktifkan. Tujuan pertama di Kyoto adalah Bamboo Forest Arashiyama. Disini kami berhenti di Jr saga arashiyama st krn pakai kereta Jr. Sekitar jam 9 sudah sampai dan kebetulan belum terlalu ramai. 1,5 jam kemudian saat kami akan kembali ke station, tiba2 makin banyak orang dan terutama anak2 sekolah ternyata banyak yang sedang study tour. 

      Di Kyoto ada penyesalan saya yaitu membeli 1 day Kyoto Bus Pass karena kami tidak memaksimalkan penggunaannya. Apalagi harganya sudah naik yaitu 600 yen huhu. Kami hanya memakai sekitar 460 yen aja. 

      Perjalanan dilanjutkan ke Kinkakuji (kuil emas). Ini juga tempatnya ramai dikunjungi orang. Dan cuaca sangat bersahabat bahkan cenderung panas terik. Inginnya minum terus. Mengingat belum makan siang, gw pun mencari resto halal terdekat dan nemu Ayam-Ya yang dekat Karasuma. Ini sebuah keputusan tepat, selain enak harganya juga bersahabat dan yang serve itu 2 perempuan Indonesia jadi nyaman untuk nanya2 menu (berhubung ortu gw suka agak bingung milih menu makan). Ada tempat solatnya pula. 

      Setelah kenyang, kami menuju Fushimi Inari Shrine dengan menggunakan kereta JR juga. 


      Untuk masuk kesini gratis dan kalau sanggup bisa sampai ke atas. Tapiiii ya kami ga sanggup jadi hanya foto2 di dekat gerbang torii saja. Udah cukup puas lah. Sama disini juga ramai dengan turis. 
      Tadinya gw merencanakan ke Nishiki Market dan Gion. Tapi ortu sudah tidak sanggup dan lelah. Pada akhirnya gw putuskan kembali ke Osaka dengan mampir ke Dotonburi sebelum pulang ke penginapan. 
      21 April

      Pagi sekitar jam 7, kami check out karena harus pindah kota, yaitu ke Kanazawa. Tercover dengan JR pass naik Thunderbird sekitar 3 jam. Sesampainya di Kanazawa kira2 jam 12an, kami check in di Good Neighbors Hostel yang hanya sekitar 5-7 menit jalan kali dari JR kanazawa station. Selain dekat, disini juga ada kamar khusus ber-3 dengan shared bathroom dan toilet. Ternyata bisa lgsg check in. Setelah istirahat sebentar, jam 1 an, kami pergi ke Kenrokuen Garden. Oiya sebenarnya saya sempat merencanakan ke Shirakawa Go, tapi tampaknya akan sangat melelahkan apalagi besok kami akan berpergian seharian jadi harus menghemat tenaga. Ya sudah akhirnya jalan2 di sekitar Kanazawa dengan 1 day city bus pass (500 yen). 

      Kira2 2 jam kami berkeliling di dalam Kenrokuen Garden ini (tiket masuk 300 yen). Dan masih ada bunga sakura tipe Kikuzakura. Lumayaaan..disini sempet nyoba eskrim berlapis emas karena tahun lalu penasaran hehe mumpung ada yang bantuin ngabisin beli deh walaupun muahaaal hiks 
      Perjalanan lanjut ke Omicho Market. Makan siangnya Seafood dan Vegetable Tempura. Pulangnya beli strawberry yang segar dan manis. 
      Nah ortu udah nyerah nih dan pengen pulang aja istirahat sedangkan gw pengen banget ke 21st Contemporary art Museum (karena tahun lalu mau kesini tapi tutup). Ya udah akhirnya gw jalan sendiri. Tapi gw cuman lihat exhibition yang di luar aja termasuk kolam renang yg terkenal itu karena gratis (haha). Tadinya mau lanjut ke daerah Chaya District (samurai district) tapi entah kenapa rasanya cape banget dan super ngantuk, sehingga gw memutuskan pulang. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. 

      Kami pun tidur cepat karena besok pagi sekali harus berangkat. 
      22 April 

      Bertepatan dengan hari Minggu, jam 6 pagi kami sudah keluar penginapan. Oiya tiket kereta cepat ke Toyama sudah reserve seat sehari sebelumnya. Lamanya hanya sekitar 25 menit. Kenapa ke Toyama? Karena ini adalah salah satu titik awal perjalanan Tateyama Kurobe Alpine Route. Kalau ga dari Toyama ya sebaliknya Nagano.
      Dari stasiun Toyama, kami menuju ke Dentetsu Toyama station yang hanya berjalan kaki ke gedung sebelah. Dari sini, tiket pass yang sudah dibeli sebelumnya diaktifkan (jadi nanti sampai Nagano station ga usah bayar apa2 lagi). Disini kami menukarkan voucher dan mendapatkan 1 pass yang tidak boleh hilang karena harus selalu ditunjukkan sebelum menaiki transportasi tertentu. 
      Ga usah bingung ketika disini ya karena mmg lagi dibuka rutenya jadi segala petunjuk jelas begitu pula dengan petugasnya helpful banget. Jadi gak akan mungkin kesasar heee
      Berikut gw kasih gambaran perjalanan ya ya: 
      Dentetsu Toyama-Tateyama (naik kereta lokal sekitar 1 jam, sebaiknya sih dapet duduk ya karena lumayan juga lama) 
      Tateyama-Bijodaira (Tateyama Cable Car). Gak lama sih ini. 
      Bijodaira-Murodo atau snow wall (Highland Bus) jadi di perjalanannya itu makin lama makin naik dan berkelak kelok, kanan kiri itu hutan dengan tumpukan salju. Lamanya naik bus ada 15 menit. Jujur gw agak mabok sih hahaha karena berkelok2nya agak esktrem dan busnya pelan.

      Begitu sampai di Murodo, kami berjalan kaki di sepanjang jalan dengan dinding salju yang saat itu paling tinggi 17 meter. Bisa juga jalan melalui jalanan berlapis salju (tapi karena gw masih trauma jatuh di tahun lalu, yg baca FR gw pada tau lah yaaa) gw pun memilih jalan di aspal heuheu. 


      Di tempat perberhentian Murodo itu ada 3 lantai, ada restoran, waiting room, jual oleh2, dan di lantai 3 paling atas ada observation desk yang ternyata menuju bukit gitu, jadi bisa main2 salju disini nih. Orang2 yg mau snow boarding juga lewat sini. Daan saat gw mau foto dengan hamparan salju, gw berpegangan erat ke tangan Bapak saking takutnya jatoh h
      Oiya jangan terlena main disini ya kawan, karena kita harus melanjutkan perjalanan. 
      Murodo-Daikanbo (Tateyama Tunnel Trolley Bus) ini menarik sih karena trolley bus ini melewati lorong yang panjang. Berhubung terminal Daikanbo ini kecil dan orangnya banyak, kami langsung ke Kurobedaira.
      Daikanbo-Kurobedaira (Tateyama Ropeway) ini kereta gantung cukup ngeri sih secara di bawahnya itu lembah/jurang.  Mana dipenuh2in gitu pas naik. Tapi untung tidak terlalu lama. Disini kami sempat ke observation deck untuk melihat pemandangan sekitar. 
      Kurobedaira-Kurobeko (Kurobe Cable car) nah dari sini jalan kaki melewati Kurobe Dam. Besar banget sih dan anginnya itu loh lumayan dingiin. Agak jalan kaki tapi diselingi foto2 juga. 

      Kurobe Dam - Ogizawa (Kanden Tunnel Trolley Bus) disini terminal untuk naik bus menuju Nagano. Karena masih termasuk pass, kami naik Alpico Express Bus ke Nagano JR station. Sekitar 1 jam perjalanan. 

      Sampai di Nagano Station, kami kembali ke Kanazawa menggunakan shinkansen sekitar 1 jam perjalanan. 
      Fyi: Tateyama Kurobe Alpine ini cukup menguras tenaga. Ada tempat2 yang harus jalan dan menanjak. Bawa makanan atau cemilan karena restoran ramai. Untuk yang muslim bisa juga bawa bekal saja karena sulit mencari halal food disana.
      23 April

      Hari ini kami pindah kota lagi menuju Aomori. Aomori itu letaknya di utara Jepang dan termasuk Tohoku Region. Untuk ke Aomori, kami harus naik shinkansen, yaitu Kanazawa-Omiya. Omiya-Shin Aomori. Nah waktu transfer di Omiya ini mepet banget cuman 6 menit, mana ada drama salah platform lgi jadilah ketinggalan kereta. Akhirnya reserve seat lagi untuk keberangkatan kereta selanjutnya yaitu 1 jam kemudian. (Kalau jalan sama ortu, gw harus selalu reserve seat). Tapi jadinya duduk agak pisah2, ya sudahlah ga apa2 yg penting cepet nyampe. Total perjalanan sekitar 5 jam. 
      Jam 1an sampailah kami di Shin-Aomori. Berhubung kami menginap dekat Aomori Station, jadi kami naik kereta lokal sekitar 6 menit. Disini kami menginap 1 malam di Iroha Ryokan yang hanya sekitar 5 menit jalan kaki dr station. Berhubung Ryokan, ya ala2 penginapan khas Jepang yang beralaskan tatami. Meski kecil, Ryokan ini bersih dan cukup lengkap. Di dalam kamar sudah disediakan cemilan, teh, kopi,air panas,handuk, dan kimono untuk tidur. Overall, ortu gw seneng banget sih nginep disini hehehe karena berasa seperti di film2 Jepang, sayang cuman semalam. 
      Setelah check in dan solat, kami lgsg berangkat lagi menuju Hirosaki. Sebenarnya ada beberapa jenis kereta, salah satunya kereta dengan waktu tempuh cukup cepat yaitu 30 menit. Tapiii waktunya tidak pas sehingga kami naik kereta lokal sekitar 45 menit (Aomori-Hirosaki). 
      Sesampainya di Hirosaki st., mampir dulu ke Information Center untuk ambil peta Hirosaki Park. Berhubung sedang festival, ada bus lgsg menuju salah satu gate, harga tiketnya 100 yen. Perjalanan naik bus sekitar 10 menit. 

      Begitu sampai di Hirosaki Park, kami piknik dulu makan siang eh sore deng tepatnya di taman yang telah disediakan. Lalu dilanjutkan dengan berkeliling taman yang luas termasuk ke Hirosaki Castle. Untuk masuk kawasan castle ada tiket masuk yaitu 300 yen. 

      Tempatnya luas banget sih dan saran saya lebih baik dateng kesini dari siang menuju malam karena ada light up illumination menjelang malam dan juga ada pasar malam. Yang saya lihat sih kebanyakan turis lokal seperti anak2 sekolah. Turis asingnya agak jarang. Kalaupun ada kebanyakan dari China dan Korea. 


      Akhirnya sekitar jam 7 malam, kami kembali ke penginapan. Seruuu, kalau disuruh ngulang kesana lagi pas musim semi, gw mau2 aja sih hahahaha

      24 April
      Seperti biasa kami check out pagi karena hari ini akan ke Tokyo, yaitu kota terakhir. Selama 3 malam 4 hari kami akan di Tokyo. Perjalanan ditempuh sekitar 4 jam. Oiya di Aomori ini terkenal dengan buah Apelnya. Untuk oleh2 bisa beli jus apel atau makanan olahan dari Apel. Jus apelnya enaaaak banget sampe Ibu saya beli beberapa botol kecil sebagai oleh2 hahahahaha
      Di Tokyo kami menginap dengan airbnb di daerah Ryogoku. Ini juga cukup nyaman dan ok tempatnya. Hostnya cepat tanggap. Berhubung akan sampai jam 1 sedangkan waktu check ini baru jam 3, tadinya niat titip koper tapi wa si host, ternyata boleh check in lebih awal..yeaay. 
      Nah sebelum ke Ryogoku pasti transfer di Akihabara. Kebetulan ada Coco Curry Halal di dekat station ini. Yaa kami melipir dulu sekalian makan siang. Enaaaaknyaaa (sorry ya yg baca ini lagi puasa hehehe)
      Sorenya hanya gw dan Bapak yang jalan karena Ibu makin parah flu dan batuknya sehingga memutuskan istirahat aja di kamar. 
      Untuk menghabiskan waktu sore dan malam, gw ngajak Bapak ke Shibuya, Harajuku dan terakhir Odaiba. Oiya jalan sama ortu itu kudu sabar dan jangan bikin mereka kelaperan! 
      25 April
      Pas bangun pagi ini, seperti biasa gw cek accuweather dan ternyata hari itu akan hujan seharian. Agak bimbang sih pergi atau enggak ke Hitachi Seaside Park. Gw pun gambling dengan berpikir mungkin kalau udah agak siangan hujannya berhenti. Untuk kesini, naik kereta dari Ueno sekitar 1,5 jam berhenti di Katsuta Station. Lalu dilanjutkan naik bus sekitar 15 menit. Ternyata oh ternyata... selama disana masih hujan disertai angin. Mana gw ga pake jaket, jadi walaupun pake payung tetep basahlah baju, celana, sepatu. Mana ada acara pake kepisah pula dengan ortu 
      Jadi ceritanya untuk menuju miharashi hill yg terdapat hamparan bunga nemophila (baby blue eyes), ada 2 cara yaitu dengan cara berjalan kaki sekitar 15 menit atau naik shuttle bis tapi bayar 300 yen sekali jalan. Nah gw lebih milih jalan dengan alasan ingin lihat taman lainnya sedangkan ortu naik bus itu. Kami pun sepakat untuk bertemu di dekat toilet (sambil menunjukkan peta). 

      Ternyata halte shuttle bus itu beda dengan arah kedatangan gw dan ada 2 toilet. Jadilah gw mencari2 dan bahkan sempat balik lagi ke pintu masuk sambil menunggu. Akhirnya gw memutuskan naik shuttle bus karena kemungkinan mereka nunggu dekat situ. Eeeh bener aja pas gw nyampe, mereka lagi duduk sambil foto2. Sempet khawatir gmn kalau sampe hilang huaaaa Alhamdulillaaah

      Nah tadinya kan setelah dari Hitachi Seaside Park, kami akan ke Ashikaga Flower Park. Tapi karena basah dan kedinginan dan kayaknya sama aja bohong kalau cuacanya ga mendukung. Akhirnya kami memutuskan pulang. Tapi sebelumnya pas di Ueno kami menyempatkan ke Ameyoko Market untuk beli cemilan dan makan malam. Sekalian pengen nyoba juga halal kebab dan ayam panggang. Herannya pas di Ueno, cuaca cerah dong. Kzl.

      Pesan moral: percayalah pada perkiraan cuaca di Jepang. Kalau memang hujan besar jangan memaksakan diri untuk berkegiatan di luar karena jadinya percuma kurang menikmati.
      26 April
      Di dalam itinerary yg gw buat, harusnya hari ini ke Kawaguchiko, tapi setelah berunding, kami memutuskan ke Ashikaga Flower Park apalagi hari ini diperkirakan cuaca cerah. 
      Ini keputusan yang sangat tepat karena ortu gw seneng banget ke taman bunga ini. Gw juga sih secara udah pernah ke Kawaguchiko, kalau kesini kan belum hehehe. 
      Untuk kesini jg sama, gw naik kereta dari Ueno ke Oyama lalu dilanjutkan dengan JR Ryomo Line menuju Ashikaga Flower Park Station. Tinggal jalan kaki 3 menit deh. Agak jauh sih ini dari tokyo, total 2 jam lah. 
      Enaknya dari pagi kesini jadi belum terlalu ramai, tapi sebenarnya bisa juga sore menjelang malam karena ada light up illumination. Harga tiket masuknya bervariasi tergantung banyaknya bunga yang sedang mekar. Saat itu harga tiketnya 1000 yen/orang. 

      Sebenarnya tempat ini lumayan luas dan banyak arena untuk duduk2 santai sambil makan siang. Ada juga restoran tapi karena kurang tahu ada halal atau tidak, kami sih bawa bekal. Seru juga makan bekal dengan pemandangan bunga warna warni. Wangi pula. Saking wanginya banyak lebah, tapi tenang aja mereka gak menyengat kok asal kita gak ganggu. 

      Bunga utama disini adalah Wisteria, ada warna putih, ungu, kuning, dan pink. Saat kami datang, yg sedang mekar adalah warna putih dan ungu. Ada 1 pohon wisteria yang paling tua dan besar loh. 

      Bagi pecinta bunga wajib sih kesini!!! Kebanyakan yang kesini orang tua, agak jarang lihat yang muda mudi hehehe. Jangan lupa mencicipi eskrim khas yg konon katanya terbuat dari bunga wisteria ungu. 

      Pulang dari sana, setelah mengantar Ibu ke apartemen, gw dan Bapak lgsg lanjut jalan lagi. Tujuannya sih belanja karena besok hari terakhir huhuhu. Sebelumnya sempat mampir ke Sensoji Temple dan Asakusa. 

      27 April
      Ini hari terakhir kami di Jepang. Meski penerbangan masih jam 6 sore, kami memutuskan hanya ke Tokyo Camii sekalian Bapak solat jumat disana. Jadilah kami leyeh2 dan baru check out jam 10. Sebelum ke Tokyo Camii, kami ke Nippori station untuk titip koper karena nantinya kami naik kereta dari Nippori untuk ke Narita. 

      Kami sampai di Tokyo Camii jam 11an dan ternyata waktu solat jumat baru mulai jam 12.45. Dan saat solat jumat tidak ada tempat menunggu untuk wanita. Alhasil saya dan Ibu kembali lagi ke Yoyogi-Uehara St untuk menunggu sambil makan bekal. Agak mepet sih pulangnya karena gw milih naik kereta biasa untuk ke Narita. Untungnya kami sudah web check in sehingga tinggal print boarding pass (secara mandiri) dan setelah itu drop bagasi. Cumaaan pas di imigrasi antriii daaaan gate kami jauuuh sekali, jadi gak sempet tuh yg namanya last minute shopping di airport. Kagak sempet, baru duduk 1 menit udah lgsg dipanggil boarding hahahaha
      Yuup sekian FR Jepang kali ini. Panjang yaaa moga2 ga pegel dan bosan bacanya hehehe. As usual kalau ada yang mau ditanyakan silahkan yaa komen atau dm juga boleh :)
       
      Apps berguna selama trip:
      -Japan Travel by Navitime. Selain menunjukkan waktu keberangkatan kereta dengan tepat, saat reserve seat shinkansen atau kereta express, bisa sambil menunjukkan ini ke petugas. Sayangnya harus ada konektivitas internet. Tapi kalau udah sebelumnya masuk ke pencarian akan tersimpan kok atau screenshoot aja.
      -Google Maps. Penting bagi yang suka nyasar dan pengen cari tempat tertentu. Akurat kok ini kalau di Jepang. 
      -google translate. Kalau mau nanya2 ke orang lokal. Atau menerjemahkan tulisan jepan.
      -Muslim Pro. Bagi yang muslim, untuk arah kiblat dan waktu solat. 
      -traveloka, booking.com, airbnb. Untuk pesan2 penginapan, tiket pesawat
      Website penting dan berguna:
      -www.japan-guide.com. Ini sih sumber no 1 bagi gw. 
      -www.halalmedia.jp. Untuk tahu resto halal dan tempat solat. 
      -forum jalan2. Ini juga penting karena banyak info keren dan menarik. 
      Note: foto2 disini diambil dengan kombinasi kamera hp dan kamera mirrorless

    • By ko Acong
      Bosan mengunjungi Jepang hanya Tokyo - Kyoto - Osaka? Perlu nih piknik dengan suasana berbeda 360 derajat. Cobalah destinasi anti mainstream yaitu Alpine Route memang biaya agak mahal sedikit, namun kita akan bahagia dengan pemandangan yang tiba2 berubah dari satu spot dan lainya dan disuguhi udara yang super bersih.
      Untuk menyusuri Alpine Route kita harus bayar terpisah dari tiket JR, mau itu JR Pass, JR West ataupun JR East yaitu harus bayar option tiket nya 9000 yen, lalu tinggal duduk manis. Atau mau eceran pun ada namun akanboros 3000 yen (total 12.000 yen ).
      Bagaimana cara ke Alpine Route?
      Ini adalah jalur saya yang pasti berbeda dengan pemegang JR Pass. Dari Shinjuku Tokyo, naik Highway Bus menuju Matsumoto seharga 4500 yen selama kurang lebih 3 jam waktu tempuhnya.
      Tak lupa saya tukarkan Tourist Pass Matsumoto - Takayama - Alpine,  beli di Travel Agent di Indonesia seharga 17.500 Yen. Dengan Rincian JR Pass mencakup: Shinan-omachi - Matsumoto - Kiso Fukushima - Ena - Nagoya - Gifu - Gero - Takayama - Hida - Toyama. 
      Saya tidak beli JR Pass karena akan lebih hemat sebesar Rp 1.2 jutaan dengan Tourist Pass ini,  karena tidak ke Osaka dan pulangnya Via Narita.
      Piknik seputaran Alpine - Takayama - Matsumoto bisa mengunjungi beberapa Prefektur. Yang saya kunjungi menggunakan JR campur dengan pilihan saya yaitu Tourist Pass, berlaku untuk 5 Hari seharga 17.500 yen.
      Berikut destinasi yang saya kunjungi.
      Matsumoto:
       Saya kunjungi Kastil Matsumoto, salah satu yang terkenal di Jepang. Jinjo (lupa namanya dengan warna yang dominan pink) Salah satu perguruan tinggi melegenda Kaichi School Museum Kami kochi  sungai yang jernih: http://www.kamikochi.or.jp/ Narai Juku / Kiso Valley:
      Desa kuno yang memegang peranan penting untuk jalur distribusi perdagangan  Tokyo ke Kyoto, dari hasil pegunungan Takayama dan desa seniman keramik, serta ada satu Obat dewanya yang sangat manjur sayang saya nggak bisa bacanya: https://www.japan-guide.com/e/e6080.html
      Hida:
      Sebuah kota kecil penghasil kayu paling berkualitas dengan ahli-ahli kayunya. Pemandangan sekeliling nya indah dengan dilintasi sungai besar berasal dari pegunungan di Takayama. Dan yang paling unik ada jalan yang berjejer, serta rumah-rumah kuno dengan ada selokan kecil yang isinya ribuan ikan koi besar-besar, ini untuk menandakan bahwa dampak Bom Atom jaman Hiroshima - Nagasaki telah clear. Daerah ini menjadi terkenal karena Ikan Koi tersebut.
      https://www.google.com/destination?dest_mid=/m/02jbp_#dest_mid=/m/02jbp_&tcfs=EhoaGAoKMjAxOC0wNi0wORIKMjAxOC0wNi0xMw
      https://www.infojepang.net/info-wisata-di-takayama/
      Gero Onsen
      http://video.metrotvnews.com/kokoronotomo/5b2E9mMN-jalan-jalan-di-gero-onsen-gassho-mura
      Kota wisata yang mempunyai sungai dan onsen umum, sayang saya datang nya kepagian, coba kalau nginap di Gero atau agak sore, tentu mataku berbinar-binar dengan onsen yang nyampur cewek cowok hihihih, jangan omes ya tradisi mandi bareng di onsen merupakan suatu kehormatan bagi tradisi lokal yang menjadikan kita termasuk satu keluarga besar saat itu.
      Semuanya berdekatan dengan Prefektur Gifu, hanya dengan 17.5000 Yen kita bisa mengunjungi tempat-tempat ini semua. Bisa dari Tokyo atau dari Osaka, tentunya berbeda-beda tipe JR Pass nya. Jika ingin nyaman beda sedikit pegang lah JR Pass.
      Perjalanan Ko Acong nano nano rasanya, kurang afdol jika tanpa kendala dan berbagai hambatan, secara “si bocah tua nakal“ (yang tidak bisa Bahasa Asing, Gaptek dan segala kekurangannya).
      Kendala pertama yang menghambat perjalanan saya selama 5 hari adalah teledor nya saya dikala menukar Tourist Pass tidak dibaca. Saya beli tiket terusan Tourist Pass Alpine - Takayama - Matsumoto sudah betul, namun petugas di JR Tokyo lalai salah menempelkan ke kartu yang JR West Pass. Nah, kendalanya pas mau digunakan ditolak oleh petugas di lapangan, satu petugas ke petugas lainya tetap ditolak, sampai lebih dari 5 orang. Waduh apa daya saya sekarang secara saya bawa uang benar-benar dibatasi mutlak hanya 20.000 yen untuk uang saku selama seminggu. 
      Begitu lunglai pas lirik ada Japan Tourist Information, nah saya coba deh kesana. "Please help me talk Bahasa?????" Bengong tuh semua. Aduh kumaha atuh ieu teh wot hepen cantik. Keluar deh seorang atasannya sambil bawa HP gede sebesar buku. Mulai dia taktik tuk eh keluar suara Indonesia "apa yang bisa kami bantu?"
      Saya jawab tapi tetap ngak nyambung pake input suaranya. Nah, disini bodoh tapi pandai (bawaan sejak lahir) nya si bocah tua nakal, secara saya pernah utak atik Translate Bahasa. Ku ketik juga via abjad dan BINGO nyambung deh walau lama mereka tetap sabar.
      Sudah tahu masalahnya, langsung bikin maklumat sakti untuk kepala stasiun. Bla bla bla mohon untuk membantu  Lao ye (bos tua). Hal ini yang salah adalah Pihak JR Tokyo dan ada Catatan Contact Person Pejabat JR Pusat.
      Walau udah beres, namun tetap ada saja tiap ganti prefektur kendala terjadi lagi. Saya keluarkan jurus nakal nya sampai kepala stasiun berkenan keluar kandang nya dengan gunakan Google translate, suara dikencangkan dan heboh kan hehehehe si bocah tua nakal punya mainan baru.








      Fr Alpine2018.docx













    • By Dantik
      Hari 1, 5 Mei 2018 : Athena
      Hari 2, 6 Mei 2018
      Pagi ini kami berangkat dari Athena menuju Roma menggunakan Ryan Air. Perjalanan selama 2 jam berjalan tepat waktu. Ryan Air adalah budget airlines yang cukup ketat dalam masalah kabin bagasi. Hanya diperbolehkan satu tas jinjing atau backpack yang muat dibawah kursi jika tidak membeli kabin bagasi.
      Mendarat di bandara Roma Ciampino, ada 3 pilihan transportasi dari bandara menuju kota. Pertama menggunakan taksi tarif flat 30 euro. Kedua menggunakan airport shuttle bus tarif 5-6 euro. Dan yang terakhir menggunakan bus + metro tarif 1.50 euro.
      Kami menggunakan pilihan ketiga yaitu dari Ciampino Airport menggunakan bus 520 turun di Cinecitta. Kemudian naik Metro A turun di Termini Station. Metrebus tiket 24 jam harga 7 euro.

       
      1.Santa Maria Maggiore
      Dari Termini Station kami mulai mengeksplore kota Roma. Pertama kami menuju Santa Maria Maggiore, sudah mulai terlihat antrian masuk gereja pada saat itu.


      2.San Giovanni
      Kemudian kami pergi ke San Giovanni menggunakan Metro A dari Vittorio Emanuele Station turun di San Giovanni Station.

      3.Colosseo
      Dari San Giovani kami pergi ke Colosseo menggunakan Tram 3. Di sini terlihat banyak sekali wisatawan, terlihat juga antrian yang panjang. Banyak orang yang menawarkan jasa Skip The Line untuk masuk ke Colosseum. Ada 3 objek wisatawan yang bisa kita lihat di sini. Pertama Coloseum itu sendiri, kedua Arch of Constantine, dan yang ketiga Roman Forum.

      4.Piramide
      Dari Coloseum kami pergi ke Piramide menggunakan Tram 3 yang sama turun di Porta S. Paolo. Mungkin ga banyak orang yang tau kalau di Roma itu ada Piramida juga.

      5.Circo Massimo
      Dari Piramide kami kembali ke Circo Massimo menggunakan Tram 3 arah balik turun di Aventino. Circo Massimo ini adalah lahan luas yang dulunya dipakai untuk arena sirkus seperti pacuan kuda dll. Kemarin saya lihat di sini kalau sore banyak juga yang jogging. Sebelah Circo Massimo adalah Palatine Hill.

      6.Bocca della Verita
      Dari Circo Massimo kami mulai berjalan menuju Bocca della Verita. Ternyata banyak orang mengantri untuk berfoto di Bocca della Verita. Bocca della Verita nama lainnya adalah Mouth of Truth. Konon katanya jika kita memasukan tangan kita ke dalam mulut batu kuno ini dan ketahuan berbohong, maka batu ini akan menggigit tangan kita sampai putus. Sayang, kami tidak sempat mengambil foto batu itu karena antrian yang panjang.

      7.Isola Tiberina
      Dari Bocca della Verita kami berjalan lagi menuju Isola Tiberina. Isola Tiberina adalah sebuah pulau kecil di tengah sungai Tiber. Di pulau ini ada gereja San Bartolomeo dan juga taman untuk duduk-duduk di pinggir sungai.


      8.Palazzo Farnese
      Setelah makan es krim di sini kami naik Bus 280 ke Palazzo Farnese.

      9.Campo dè Fiori
      Dari Palazzo Farnese ini kami berjalan ke Campo dè Fiori. Di sini banyak sekali orang berjualan, mungkin seperti pasar kaget kali yah.

      10.Capitoline Museums & Piazza Venezia
      Lalu kami berjalan lagi ke Capitoline Museums & Piazza Venezia melalui jalan Botteghe Oscure. Ini adalah tempat terakhir yang kami kunjungi sebelum kami berangkat ke Terminal Bus Tiburtina untuk melanjutkan perjalanan kami ke Venice dengan bus malam.

       
      Itulah itinerary hari pertama kami di Roma. Kami menggunakan Metrebus tiket 24 jam harga 7 euro untuk semua transportasi kami dalam satu hari.
      Dari Terminal Bus Tiburtina kami menggunakan Bus Center ke Venice harga tiket 21 euro.
    • By Dantik
      Hello guys!
      Udah lama nih ga bikin FR. Mumpung masih seger biar ga lupa kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya di Yunani.
      Hari 1, 5 Mei 2018
      Penerbangan langsung dari Singapore – Athens memakan waktu 12 jam. Setelah sampai di Athens ada 3 pilihan transportasi dari bandara ke kota. Pertama menggunakan taksi tarif flat sekitar 38 euro, kedua menggunakan Metro 3 tarif 10 euro, ketiga menggunakan Bus X95 tarif 6 euro. Kami menggunakan Bus X95 Airport – Syntagma Square 6 euro, perjalanan sekitar 45 mnt tergantung arus lalu lintas. Kami menginap di daerah Syntagma Square.
      1.The Athenian Trilogy
      Tujuan pertama adalah The Athenian Trilogy yaitu National Library, University of Athens dan Academy of Athens. 3 neoklasik bangunan di Jalan Panepistimiou tidak jauh dari tempat kami menginap.

      2.National Archaeological Museum
      Kemudian National Archaeological Museum. Dari National Library bisa mengggunakan Trolley Bus 2,4,5,11,15. National Archaeological Museum adalah museum arkeologi yang terpenting di dunia. Tempat artefak Yunani diantaranya Patung Zeus dan Kuda dengan Joki yang terkenal itu. Tiket masuk 10 euro.

      3.Syntagma Square
      Kemudian dari National Archaelogical Museum kami kembali ke Syntagma menggunakan Trolley Bus yang sama. Di Syntagma Square kami melihat pergantian prajurit di depan Gedung Parlemen (The Tomb of The Unknown Soldier). Pergantian prajurit yang berlangsung sekitar 15 menit setiap jamnya.

      4.National Garden dan Zappeion
      Setelah itu kami berjalan melewati National Garden dan Zappeion.

      5.Panathenaic Stadium
      Kemudian menuju Panathenaic Stadium. Di Panathenaic Stadium ini kami hanya foto dari luar.

      6.Temple of Olympian Zeus
      Dari Panathenaic Stadium kami berjalan ke Temple of Olympian Zeus. Di sini kami membeli tiket kombinasi Acropolis sebesar 30 euro mencakup Temple of Olympian Zeus, Acropolis, Roman Forum and Tower of the Winds, Hadrian's Library, Ancient Agora dan Kerameikos.

      Beberapa meter dari Temple of Olympian Zeus berdiri Arch of Hadrian.
      7.Plaka
      Dari Arch of Hadrian kami menuju Acropolis. Melewati Melina Merkouri , Monument of Lysicrates / Plaka. Di sini banyak menjual souvenir dan tempat makan.

      8.Acropolis
      Dari Plaka kami menuju Acropolis. Sayang, kami tidak ke Acropolis Museum karena sudah terlanjur masuk ke pintu masuk bagian tenggara Acropolis. Masuk menggunakan tiket kombinasi yang sudah kami beli.
      Acropolis adalah tempat yang wajib dikunjungi jika kita berada di Athena. Acropolis yang berada di atas bukit melewati beberapa bagian yaitu The Ancient Theatre of Dionysos, The Stoa of Eumenes, The Odeion of Herodes Atticus.

      Setelah melewati itu semua dari pintu tenggara, akhirnya kami berada di pintu gerbang Acropolis. Propylaea merupakan pintu utama Acropolis. Di sebelah kanan Propylaea kita akan melihat kuil Athena Nike.

      Setelah masuk di sebelah kiri kita akan melihat Erechtheion. Di sebelah kanan kita akan melihat Parthenon, kuil yang terbesar dan paling termasyur di Acropolis.

      Dari Acropolis kami keluar dari pintu barat melewati bukit Areiospagos menuju Ancient Agora.
      9.Roman Forum and Tower of the Winds
      Sayang, Roman Forum and Tower of the Winds sudah tutup pukul 15:00. Jadi kami hanya bisa melihat dari luar. 

      10.Hadrian's Library
      Sayang, Hadrian's Library juga sudah tutup pukul 15:00. Jadi kami hanya bisa melihat dari luar. 

      11.Ancient Agora dan Temple of Hephaestus
      Untungnya Ancient Agora belum tutup hingga pukul 20:00. Ancient Agora adalah contoh yang paling terkenal dari agora Yunani kuno dan terletak di barat laut Acropolis. Di dalam Ancient Agora ini terdapat Temple of Hephaestus dan Stoa of Attalos.

      12.Kerameikos
      Dari Ancient Agora kami buru-buru ke Kerameikos ternyata sudah tidak bisa masuk lagi karena sudah mau tutup. Cuma bisa lihat dari luar, hiks...

      Kami kembali ke penginapan melewati Thession Station, Monastiraki Sq. / Flea Market.
      Kami menginap di Small Funny World Athens Hostel, dekat dengan jalan Ermou. Berada di tengah antara Syntagma dan Monastiraki.

       
      Itulah itinerary hari pertama kami di Athena. Menurut kami Athena bisa dikunjungi dalam satu hari. Karena area yang cukup kecil berada di tengah kota sehingga mudah dijangkau dengan berjalan kaki.
      Hari 2, 6 Mei 2018 : Roma
    • By ko Acong

      Berapa Biaya perjalanan saya selama seminggu sejak sari Bandung - Japan - Bandung? Berikut rinciannya:
      Tiket Pesawat CGG - Narita - CGK PP: Rp. 2.420.000,- Bus Bandung - Jakarta PP: Rp. 230.000,- Turispass Matsumoto Alpine Takayama  @17500 yen: Rp. Rp 2.275.000.- Bus Narita - Matsumoto @11.000 yen: Rp. 1.430.000.- Hostel Cabin dan Hotel 5 malam x 500.000.-: Rp 2.500.000.- (Gratisss tis dari Voucher Agoda) Bus Narita - Matsumoto seharusnya PP @12000 yen: Rp. 1.560.000,- Uang saku buat makan  minum kopi ngemil dan tiket masuk berbayar, bawa Cash 20000 yen sisa 3850 yen, terpakai 16150 yen: Rp 2.100.000.-  
      Jika tranportasinya di campur ala saya: Bus 1.430.000 + Matsumoto alpine Turispass Rp. 2.275.000 = Rp. 3.705.000 (hemat Rp 1.015.000.-)
      Note: Ada yang kasih tiket Narita - Tokyo bus, lumayan irit 2000 yen atau Rp 260.000)  
       
      Total pengeluaran Pasti semuanya Trip Tokyo, Matsumoto, Narai, Hida, Gero, Gifu, Ena, Toyama, Nagano, Nagoya, Takayama dan masih bisa ke tempat lainya adalah:
      Simulasi bila pake JR Pass perbedaannya: 27000 Yen
      Tiket Opsional Alpine Route: 9300 Yen
      Jumlah 27000 - 9300 = 36300 yen (Rp 4.720.000.-)























    • By Gulali56
      Jadi ceritanya saya ke Bali dapet promo Traveloka discount 100rb utk pesawat domestik. Gara2 gagal mulu dpt tiket murah di tahun ini, akhirnya saya memutuskan solo traveling domestic aja sekalian cari jodoh #eh..
      Rata-rata orang Indonesia ke Bali itu se-rombongan jadi bisa share cost sewa kendaraan atau kalau pergi sendiri or berdua pun pastilah sewa motor, moda transportasi termurah dan tercepat.
      Nah apa jadinya kalau ke Bali sendiri aja, mau ketempat jauh-jauh kemahalan utk sewa mobil, plus gak bisa nyetir motor kayak saya.
      Walaupun Blue bird taxi, Grab/Uber dan Gojek sudah masuk Bali, ternyata mrk itu hanya bisa beroperasi di wilayah tertentu saja (mostly seputaran Kuta-Legian-Seminyak). Dan yang pasti di Ubud dilarang.
      Padahal saya tiap kali ke Bali , kudu wajib ke Bebek Bengil cabang Ubud.  Khan pusing tuh.
      Setelah browsing kanan kiri , justru dari Traveloka juga lah ketemu alternatif bus hop on hop off di Bali. YAY..
      Namanya Kura Kura Bus. Perusahaan bus ini masih tergolong baru di Bali, baru 5 tahunan, sehingga gak banyak yang tau. 
      Jangkauan area bus nya masih sekitar yang umum2 must-to-do spot di Bali . 

      Untuk harga tiket nya cukup ekonomis one way rata-rata dibandrol Rp 20ribu kecuali ke Ubud Rp 80rb.
      Selain itu juga ada day pass nya. Untuk 1 hari (Rp 100.000), 3hari (Rp 150,000) dan 7 hari (Rp 250,000) . 
      Berhubung saya butuhnya ke Ubud, jadilah saya ambil day pass 3 hari, biar ekonomis. Beli via website nya jadi Rp 135,000.
       
      Saya menginap di Seminyak Square hotel yang terletak persis disamping Seminyak Village yang juga merupakan halte stop 2 jalur Kura Kura Bus line 3 dan 4.
      Karena saya ceritanya mau makan siang di Bebek Bengil, saya ambil keberangkatan dari DFS (terminal pusat) yang jam 11 pagi.
      Ambil line 4 dari Seminyak Village yang jam 09.56 AM. Karena bus pertama , bus nya on time.
      Sampai di DFS jam 10.40-an liat-liat T-galeria Mall dulu sekalian numpang ngadem dan ke wc.

      Bis line 5 ke Ubud , teng brgkt jam 11  dari DFS.
      Halte stop: Alaya Ubud Resort
      Terletak persis disamping resto Bebek Bengil.



      Saya tiba di Bebek Bengil jam 12.45.
      Kelar makan siang dan leyeh2 dulu di bale-bale resto ngilangin pegel2,  baru deh saya menanti bus berikutnya utk ke Puri Lukisan Museum jam 14.20
      Halte stop : Puri Lukisan Museum 
      Halte ini cocok utk yang mau ke Museum Blanco, Bukit Campuhan ataupun ke Babi Guling Bu Oka.
      Berhubung saya blm pernah ke Bukit Campuhan, jadilah saya kemari. Jalan pelan2 ke Museum Blanco dulu biar matahari gak terlalu terik.
      Apa daya krn saya gak tertarik masuk ke Museum Blanco, akhirnya saya jam 3 sore nanjak ke Bukit Campuhan , matahari berasa ada 3 biji alias masih panas pol.

      sisi bagusnya jam segini masih sepi, sisi gak bagusnya saking panasnya saya sendiri ampe ogah berhenti2 buat foto.

      Terus terang saya gak tll impress sama bukit Campuhan ini, saya malah langsung fokus ke Cafe dan Spa Karsa yang merupakan resto dan spa kecil samping pematang sawah setelah melewati Bukit gak penting ini. Sori to say ye.. Mungkin krn ga ada yg motoin, dan saya bukan tipe yg niat2 amat selfie kalo kepanasan . Terus ngapain kemari ye..

      Setelah menghabiskan satu kelapa dan foto2 di sawahnya sampai mati gaya krn matahari mulai terbenam saya pun memutuskan balik ke halte bus utk mengejar bus terakhir jam 18.55.
      Kesimpulan dari trekking dadakan ini, 2km uphill itu ditempuh +/- sejam tp pas pulang bisa +/- 30menitan..
      Karena takut ketinggalan bus, saya udh nongkrong dari sejam seblmnya di cafe seberang halte sambil ngopi2 dan numpang ke wc.

      Basically jam 18.55 itu udh gelap bgt sampai takut ketinggalan bus karena  gak keliatan.  Untungnya saya udh reserved via web, jadi nya supir bus nya sih udh tau bakal ada penumpang yg nungguin, scr saya cuma satu2nya penumpang mlm itu.

      Jam 08.30 malam akhirnya sampai juga di terminal DFS.
      Karena sudah gak kuat bermacet2 di area Seminyak, saya sambung naik gojek ke hotel. Tp nasib dapet tukang ojek org jawa alias nyasar2 muluk jd scr waktu gak beda jauh dgn misalnya saya pake Kura kura bus.. kesel... 
      Kelebihan Kura Kura Bus:
      + cukup ekonomis utk area  yang gak bisa dijangkau oleh kendaraan online.
      + bis ber-AC, ada free wi-fi dari telkomsel dan ada colokan listrik buat nge-charge selama mati gaya di bis.
      + memiliki aplikasi dan website informatif dengan pilihan bhs yang beragam dari Indonesia, Inggris, Jepang, Rusia, Korea, China
      + CS memiliki bhs inggris dan jepang yang cukup memadai .
       
      Kekurangan:
      - memakan waktu yang sangat lama apabila harus pindah line. Contoh dari seminyak village mau ke Ubud, dari  line 4 harus ke DFS utk pindah ke Line 5. Total perjalanan jadi 3jam misal dibandingkan dgn naik kendaraan direct ke tujuan yang hanya 1-1.5jam.
      - halte bis ke-2,dst biasanya hanya palang di pinggir jalan dan tidak ada tempat parkir sehingga bis tidak bisa menunggu lama
       - belum menjangkau area2 di utara Bali, ataupun area Canggu yang mulai jadi tujuan wajib turis
      - interval bis utk Ubud line 2 jam sekali, sehingga kurang flexible 
      - Aplikasi utk memonitor bis sangat tergantung gps bis maupun provider yang kadang angot2an..
       
      Kesimpulannya bis ini lumayan oke utk solo traveler yang mau ke area Nusa Dua, Jimbaran maupun Ubud.
      Sedangkan kalau tinggal /explore di area Legian-kuta-Seminyak,  lebih murah dan cepat naik ojek online saja.
       
      Kura Kura Bus
      http://kura2bus.com/
      Interval bus:
      a. Line 1 : every 90 minutes, 10 rounds per day
      b. Line 2 : every 90 minutes, 9 rounds per day
      c. Line 3 : every 20 minutes, 38 rounds per day
      d. Line 4 : every 45 minutes, 17 rounds per day
      e. Line 5 : every 2 hours, 5 rounds per day