Sign in to follow this  
vie asano

Jalan-Jalan Ke Jepang: Berburu Ninja

15 posts in this topic

Jika menyebut kata “ninjaâ€, apa yang akan kalian bayangkan? Sosok ninja Hattori dalam anime Ninja Hattori, sosok Naruto dan teman-temannya dalam anime Naruto, aneka film bertema ninja seperti American Ninja dan Kura-kura Ninja, atau lainnya? Apapun itu, yang pasti sosok ninja merupakan salah satu aspek dalam budaya tradisional dan sejarah Jepang yang paling misterius. Kemisteriusan ninja membuatnya menarik untuk diadaptasi dalam berbagai budaya pop modern, yang akhirnya memunculkan rasa penasaran akan sosok ninja yang sebenarnya dan mengundang siapapun yang tertarik dengan ninja untuk datang dan berwisata ke Jepang sebagai negara tempat ‘kelahiran’ ninja.

 

gallery_843_1101_160735.jpg

Anime Naruto Shippuden, contoh adaptasi sosok ninja dalam budaya pop modern, via uwants 

 

Masalahnya, nggak sedikit yang menganggap ninja hanyalah mitos belaka, dan kemampuan khusus yang dimiliki oleh seorang ninja hanyalah kreasi berlebihan dari karya sastra tempo doeloe. Padahal, ninja itu memang (pernah) ada di Jepang. Bahkan hingga saat ini kalian masih dapat mengunjungi beberapa peninggalan yang menegaskan eksistensi ninja di Jepang. Bagi yang ingin mengenal lebih lanjut tentang ninja dan cara untuk mengunjungi berbagai peninggalan sejarah yang berhubungan dengan ninja, kenalan dulu dengan ninja di Jepang yuk!

 

Tentang ninja, ahli spionase dan senjata rahasia dari Jepang

Ninja (kanjinya bisa juga dibaca sebagai “shinobiâ€) merupakan sebutan bagi prajurit yang memiliki keahlian “nggak biasa†dibanding prajurit pada umumnya. Seseorang baru bisa disebut sebagai ninja jika dia telah menguasai ninjutsu, yaitu strategi dan teknik bertarung yang merupakan kombinasi dari teknik mata-mata serta survival skill. Misalnya saja, salah satu keahlian khusus yang dimiliki oleh ninja adalah mahir menggunakan berbagai senjata rahasia, ahli menyusup ke kediaman lawan, bergerak tanpa bersuara, berjalan di atas air, melakukan berbagai manipulasi visual, terbang menggunakan layang-layang, dan banyak lagi; sesuatu yang nggak dipelajari dalam ilmu bela diri biasa. Karena keahlian utamanya adalah spionase, profesi ninja ini diselimuti dengan rahasia, serba misterius, identik dengan “trik dan jebakanâ€, dan itulah yang membuat dokumen yang menguliti kehidupan ninja sulit untuk ditemukan.

 

gallery_843_1101_39573.jpg

Ninja, via worsal 

 

Sebetulnya nggak jelas sejak kapan profesi ninja ini ada. Profesi mata-mata sekaligus pembunuh di Jepang di duga sudah muncul sejak abad ke-4, walau nggak ada catatan yang pasti tentang hal tersebut. Baru pada abad ke-10, beberapa taktik dan keahlian yang biasa digunakan oleh ninja mulai disebut dalam literatur. Profesi ninja semakin berkembang pada abad ke-11, dan pada masa tersebut reputasi klan Iga dan Koga sebagai klan ninja terbaik semakin dikenal luas. Banyak daimyo yang lantas memanfaatkan jasa ninja dari Iga maupun Koga untuk bermacam tujuan (terutama untuk memenangkan sebuah pertempuran), terutama pada abad ke-15 dan 16 saat politik Jepang sedang tidak stabil. Setelah periode Edo dimulai (tahun 1603), ninja dipekerjakan secara khusus oleh shogun Tokugawa untuk memata-matai para daimyo di setiap daerah. Banyak ninja terkenal yang akhirnya mengabdi pada klan Tokugawa, salah satunya adalah Hanzo Hattori (pasti pernah dengar nama itu kan?).

 

Ciri khas dan keahlian dari ninja

Ada beberapa perbedaan interpretasi ninja dalam berbagai literatur dan adaptasi modern dengan kenyataannya. Misalnya saja, dalam hal kostum. Saat ini ninja kerap digambarkan mengenakan kostum serba hitam dengan wajah yang nyaris tertutup. Pada kenyataannya, karena sifat profesinya yang memang serba rahasia, nggak ada bukti khusus maupun dokumentasi resmi jika ninja memiliki kostum serba hitam seperti yang dikenal saat ini. Justru kostum ninja asli diduga mirip dengan kostum samurai (sehingga tidak mencolok) yang dimodifikasi untuk memudahkan pergerakan. Dan, saat sedang menjalankan misi, seorang ninja tidak akan mengenakan pakaian ketat berwarna hitam yang akan terlihat mencolok di tengah cahaya bulan. Ninja asli akan mengenakan pakaian ketat berwarna biru laut gelap yang dianggap lebih adaptif secara visual terhadap berbagai situasi dan kondisi di lapangan.

 

gallery_843_1101_400359.jpg

Beberapa gadis mencoba berkostum ala ninja di sebuah tempat wisata, via selasar 

 

Begitu juga dalam hal senjata. Ninja kerap digambarkan membawa shuriken, yaitu senjata rahasia berbentuk bintang yang dapat dilontarkan kapanpun diinginkan. Namun konon ninja asli nggak selalu membawa shuriken karena akan membuat identitas mereka sebagai ninja terbongkar jika ada pemeriksaan saat mereka tengah menjadi mata-mata. Ninja asli akan membawa senjata yang mirip dengan benda-benda yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, contohnya seperti kama atau sabit rumput (jika diberi tambahan tali dapat digunakan sebagai alat pemanjat dinding), ashikaga atau sepatu berkait khusus untuk menginjak permukaan licin di sawah (yang bisa dimanfaatkan untuk memanjat dinding maupun memberikan tendangan khusus), dan banyak lagi. Tentu saja ada senjata yang memang betul-betul digunakan dalam pertarungan seperti katana (pedang panjang), shuriken, kunai (pisau berbentuk ujung mata tombak), dan sebagainya.

 

gallery_843_1101_144871.jpg

Sebagian kecil ragam senjata yang biasa digunakan oleh ninja, via Julio Ponce/pinterest 

 

Menelusuri jejak ninja di era modern

Pertanyaan yang sering dilontarkan oleh para penggemar ninja adalah: Apakah saat ini ninja itu masih ada? Kalau ada, dimana bisa melihat mereka secara langsung?

 

Untuk menjawab apakah ninja masih ada atau tidak, mari kembali ke masa beberapa ratus tahun silam. Saat politik Jepang semakin stabil, perlahan tapi pasti profesi ninja pun semakin menghilang. Saat ini ninja diduga telah punah, walau sebetulnya hal ini nggak bisa dipastikan dengan akurat. Ingat, ninja adalah seorang mata-mata dan juga pembunuh gelap profesional, sehingga jati diri mereka yang sebenarnya sangatlah rahasia (dan pada kenyataannya, sampai saat ini masih ada yang mengaku dirinya sebagai ninja maupun ninja terakhir di Jepang). Namun, kalian bisa mengunjungi beberapa tempat yang menjadi saksi bisu eksistensi profesi ninja yang tersebar di berbagai tempat di Jepang. Minimal, kalian bisa mengunjungi berbagai tempat di Jepang yang menjual ‘ninja’ sebagai daya tarik utamanya. Berikut beberapa diantaranya:

 

[to be continued] 

Share this post


Link to post
Share on other sites

1. Kota Iga Ueno, prefektur Mie

Iga Ninja Museum alias Ninja Museum of Iga-ryu.

 

gallery_843_1101_231052.jpg

Ninja Museum of Iga-ryu, via Hide-sp/wikipedia 

 

Klan Iga, bersama dengan klan Koga, dikenal sebagai klan ninja terkuat dan paling terkenal di seantero Jepang. Dan, eksistensi klan Iga ini bukan omong kosong belaka karena pada kenyataannya kota Iga ini memang betul-betul ada. Namun sejak tahun 2004 kota ini kerap disebut sebagai Iga Ueno karena dibentuk dari penggabungan wilayah Iga, kota Ueno, dan beberapa desa lainnya.

 

Saat ini, Iga Ueno terkenal akan atraksi bertema ninja-nya. Obyek wisata yang paling terkenal di kota ini adalah Iga Ninja Museum atau Ninja Museum of Iga-ryu; sebuah museum kecil yang menarik karena sarat akan informasi tentang kehidupan ninja yang sesungguhnya, khususnya ninja dari klan Iga. Di museum ini terdapat Iga-ryu Ninja House, alias rumah ala ninja. Dari luar rumah tersebut terlihat seperti rumah biasa, padahal di bagian dalamnya terdapat banyak pintu pintu tersembunyi, rute rahasia untuk melarikan diri, dinding putar, tempat untuk menyimpan senjata, hingga perangkap dan jebakan untuk lawan.

 

gallery_843_1101_130733.jpg

Seorang kunoichi (ninja perempuan) menunjukkan tempat penyimpanan senjata rahasia di Iga-ryu Ninja House, via 222 

 

Selain itu, di museum ini pun pengunjung dapat melihat berbagai senjata yang dimiliki oleh ninja, bermacam kode rahasia, pengenalan kehidupan ninja, hingga melihat berbagai pertunjukan dan demonstrasi penggunaan senjata ninja. Dan untuk menutup waktu kunjungan, terdapat berbagai pernak-pernik original yang dijual di toko souvenir.

 

gallery_843_1101_30170.jpg

Ninja show, via arabnews 

 

Point plus dari museum ini:

Lokasinya berdekatan dengan obyek wisata lain di Iga Ueno, yaitu Ueno Castle dan Danjiri Museum. Di Danjiri Museum wisatawan juga dapat menyewa kostum ninja untuk digunakan saat berjalan-jalan mengelilingi kota.

 

Detail teknis:

Alamat: 117-13-1 Ueno Marunouchi, Iga-shi, Mie-ken

Jam operasional: 09.00-17.00, tutup setiap tanggal 29 Desember-1 Januari.

Harga tiket: 756 yen (dewasa), 432 yen (anak-anak). Ada diskon khusus untuk group yang lebih dari 30 orang, dan ada tiket khusus bagi yang ingin melihat pertunjukan ninja.

Google maps: < klik

Akses:

< klik > 5-10 menit jalan kaki dari Stasiun Uenoshi.

< klik > untuk akses dari Tokyo.

< klik > untuk akses dari Kyoto.

 

2. Kota Koka, Prefektur Shiga

Ninja Village

 

gallery_843_1101_462231.jpg

Menjadi ninja di Ninja Village, via go.biwako/flickr 

 

Selain klan Iga, klan Koka (atau Koga) juga terkenal akan atraksi bertema ninja-nya. Itu karena Iga dan Koga sama-sama memiliki reputasi sebagai klan ninja terkuat di masa lalu. Walau atraksi ninja di Koga ini belum dimaksimalkan seperti yang dilakukan oleh kota Iga, ada beberapa spot bertema ninja yang bisa ditemukan di kota ini. Salah satunya adalah Koka Ninja Village (alias Koka Sato Ninjutsumura).

 

Sesuai dengan namanya, Ninja Village merupakan sebuah atraksi bertema ninja yang dirancang dengan konsep desa ninja. Desa ini lokasinya cukup terpencil (kalian harus jalan kaki 30 menitan dari stasiun terdekat untuk mencapai desa ini), namun cukup menarik karena di tempat ini banyak terdapat atraksi yang akan membuat kalian semakin mengenal kehidupan ninja. Ada museum yang menampilkan berbagai manual dan peralatan yang dulu pernah digunakan oleh ninja Koga, rumah yang dilengkapi dengan berbagai jebakan dan pintu tersembunyi, atraksi melempar shuriken, bahkan pengunjung bisa menjajal berjalan di atas air seperti yang biasa dilakukan oleh ninja sejati. Tentunya dengan bantuan peralatan khusus sehingga kalian nggak akan tercebur dan basah.

 

gallery_843_1101_57405.jpg

Mencoba berjalan di atas air layaknya ninja sejati, via go.biwako/flickr 

 

Point plus dari tempat ini:

Ada banyak pilihan atraksi yang bisa dilakukan oleh pengunjung, sehingga berkunjung ke tempat ini nggak akan membosankan.

 

Detail teknis:

Alamat: 394 Kokacho Oki, Koka, Prefektur Shiga 520-3405

Jam operasional: 10.00-16.00 (hari kerja), 09.00-17.00 (akhir pekan dan musim liburan). Tutup setiap hari Senin, atau hari berikutnya jika Senin bertepatan dengan hari libur nasional).

Harga tiket: 1030 yen*

Google maps: < klik

Akses:

< klik > 30 menit jalan kaki dari Stasiun Koka, atau naik shuttle bus gratis menuju Ninja Village. Jika nggak ada shuttle bus, bisa menghubungi 0748-88-5000 untuk minta disediakan bus.

< klik > akses dari Stasiun Tokyo ke Stasiun Koka, tinggal dilanjutkan dengan naik shuttle bus menuju Ninja Village.

< klik > akses dari Stasiun Kyoto menuju Stasiun Koka.

 

Ninja Mansion

 

gallery_843_1101_341865.jpg

Ninja Mansion, via higorono.blogspo

 

Satu lagi atraksi menarik bertema ninja yang bisa ditemukan di Koka ini adalah Ninja Mansion, atau Ninjutsu Yashiki. Tempat ini merupakan sebuah hunian yang dulunya dimiliki oleh Mochizuki Izumonokami yang berasal dari keluarga ninja Koga terkenal dibanding keluarga ninja Koga lainnya, dan usia bangunannya telah mencapai 300 tahunan. Dan, seperti yang bisa kalian harapkan dari rumah seorang ninja, mansion ini pun dipenuhi dengan berbagai perlengkapan menarik seperti aneka pintu rahasia, jalur tersembunyi, hingga aneka ragam jebakan. Wisatawan juga bisa mencoba melempar shuriken di jalur khusus yang telah disediakan.

 

Point plus dari tempat ini:

Walau tempatnya relatif terpencil dan kalian harus berjalan kaki cukup jauh dari stasiun terdekat, namun suasana khas ala kota kecil yang bisa kalian lihat saat menuju ke mansion ini cukup menarik untuk diamati. Tambahan lainnya, tempat ini menyediakan pamflet dalam bahasa Inggris.

 

Detail teknis:

Alamat: 2331 Konancho Ryuboshi, Koka, Prefektur Shiga 520-3311

Jam operasional: 09.00-17.00, tutup setiap tanggal 27 Desember-1 Januari.

Harga tiket: 600 yen*

Google maps: < klik

Akses:

< klik > 20 menitan jalan kaki dari Stasiun Konan (via JR Kosatsu Line).

< klik > akses dari Stasiun Kyoto menuju Stasiun Konan.

 

[to be continued]

Share this post


Link to post
Share on other sites

3. Kota Nagano, Prefektur Nagano

Selain kota Iga Ueno dan Koka, kota Nagano dikenal sebagai salah satu kota yang punya kaitan erat dengan dunia ninja. Dulu, sebuah sekolah ninja bernama Togakure Ninja School pernah terdapat di kota ini (didirikan oleh prajurit yang belajar ilmu ninja dari klan Iga), sehingga nggak heran jika aura per-ninja-an masih cukup terasa disini. Setidaknya ada 2 tempat bernuansa ninja yang bisa dikunjungi di Nagano, yaitu Togakure Ninpo Museum dan Kids Ninja Village.

 

Togakure Ninpo Museum

 

Dulu, di akhir abad ke-12 seorang samurai bernama Nishina Daisuke mempelajari ninjutsu dari klan Iga paska kekalahannya dalam sebuah perang. Dia lantas memadukan ilmu ninjutsu ala klan Iga dengan ilmu beladiri dari Cina dan Tibet, dan akhirnya melahirkan ilmu ninjutsu ala Togakure. Ninjutsu Togakure ini lantas menjadi salah satu aliran ninjutsu yang cukup terkenal, dan sebuah sekolah ninja didirikan untuk mengajarkan aliran ninjutsu Togakure yang disebut Togakure School of Ninpo.

 

gallery_843_1101_51257.jpg

Togakure Ninpo Museum, via minkara.carview 

 

Saat ini Togakure School of Ninpo memang sudah nggak ada. Untuk mengenang sejarah ninja di kota Nagano yang usianya mencapai 800 tahun, didirikanlah Museum of Togakure School of Ninpo a.k.a Togakure Ninpo Museum. Museum ini terdiri dari beberapa bangunan, yang mana salah satunya merupakan sebuah rumah ninja. Dari luar, rumah ninja ini terlihat seperti rumah biasa. Namun saat masuk ke bagian dalamnya, ternyata jalurnya rumit dan banyak pintu tersembunyi.

 

gallery_843_1101_164188.jpg

Salah satu jalan rahasia di rumah ninja, via yoshi/blog.goo.ne.jp 

 

Selain punya sebuah rumah ninja, museum ini juga dilengkapi dengan bermacam display yang berkaitan dengan ninja Togakure, seperti aneka foto maupun perlengkapan khas ninja.

 

gallery_843_1101_284600.jpg

Display di museum ninja, via yoshi/blog.goo.ne.jp 

 

Point menarik dari tempat ini:

Museum ini berada dalam satu kompleks dengan Museum of Tagushi Folklore, sebuah museum yang menampilkan bermacam peralatan dan perlengkapan yang biasa digunakan oleh penduduk setempat di masa lalu. Tambahan lainnya, museum ini paling keren dikunjungi saat musim panas. Lokasinya yang ada di gunung akan memberikan sedikit kesejukan di tengah teriknya musim panas di Jepang.

 

Detail teknis:

Alamat: 3688-12, Togakushi, Nagano City

Jam operasional: 09.00-17.00, penjualan tiket hingga pukul 16.30.

Harga tiket: 500 yen*

Google maps: < klik >    

Akses: naik bus no 70 atau 71 dari Stasiun Nagano yang menuju ke Togakushi (waktu tempuh kira-kira 65 menit).

< klik > 1,5 jam dari Stasiun Tokyo ke Stasiun Nagano, via shinkansen.

 

***

 

Kids Ninja Village

 

gallery_843_1101_312710.jpg

Anak-anak mencoba jadi ninja di Kids Ninja Village, via 4travel 

 

Jika Togakure Ninpo Museum menyasar pengunjung dari kalangan dewasa, maka anak-anak bisa mengunjungi Kids Ninja Village (alias Chibiko Ninja Mura). Tempat ini merupakan sebuah theme park bertema ninja yang dirancang untuk anak-anak, walau ada juga beberapa atraksi yang cocok untuk orang dewasa. Di theme park ini terdapat aneka atraksi ketangkasan ala ninja, mansion dengan ilusi optik, dan banyak lagi.

 

Detail teknis:

Alamat: 3193, Togakushi, Nagano City 381-4101

Jam operasional: 09.00-17.00, penjualan tiket hingga pukul 16.30.

Harga tiket: 500 yen* (tiket masuk saja), 300 yen*/atraksi yang ingin diikuti, 800 yen* (sewa kostum ninja).

Google maps: < klik >     

Akses: naik bus no 70 atau 71 dari Stasiun Nagano yang menuju ke Togakushi (waktu tempuh kira-kira 65 menit).

< klik > 1,5 jam dari Stasiun Tokyo ke Stasiun Nagano, via shinkansen.

 

***

 

4. Tokyo

Tokyo selalu menjadi kota favorit bagi wisatawan asing yang berkunjung ke Jepang. Sayangnya, Tokyo relatif jauh dari Iga Ueno, Koka, maupun Nagano. Tokyo juga nggak memiliki budaya dan tradisi ninja layaknya ketiga kota tersebut. Walau begitu, bukan berarti kalian nggak bisa merasakan pengalaman ber-ninja saat berada di Tokyo lho. Coba deh mampir ke dua tempat berikut ini, mudah-mudahan ini bisa menghibur rasa penasaran kalian akan ninja di Jepang.

 

Sainenji Temple/makam Hanzo Hattori

 

Ninja merupakan sosok yang penuh misteri karena tugas utamanya berkaitan dengan mata-mata. Namun, siapa sih yang nggak kenal dengan sosok Hanzo Hattori? Ninja yang satu ini bisa jadi merupakan salah satu ninja yang paling dikenal sepanjang masa dan paling sering diadaptasi dalam berbagai karya modern. Ninja sekaligus samurai yang juga dikenal dengan nama Hattori Masanari kerap digambarkan sebagai ahli strategi yang luar biasa dan sangat mahir menggunakan tombak.

 

Ngomong-ngomong, karakter Hanzo Hattori ini bukan karakter fiktif lho. Ninja yang berasal dari klan Iga ini betul-betul nyata, dan bahkan makamnya bisa kalian kunjungi di Tokyo. Cobalah untuk berkunjung ke kuil Sainenji (kini bernama kuil Anyoin) yang terletak di daerah Shinjuku. Kuil yang didirikan oleh Hanzo Hattori setelah dia mengundurkan diri dari dunia pertempuran dan menjadi pendeta Buddha ini menyimpan salah satu bukti eksistensi ninja ternama itu, yaitu tombak yang dulunya digunakan oleh Hattori (berukuran 2,58 meter dan berat 7,5 kg). Di kuil ini pun terdapat makam dari Hanzo Hattori, dan makam dari Nobuyasu (menantu Oda Nobunaga) yang dibuat oleh Hattori.

 

gallery_843_1101_132555.jpg

Makam Hanzo Hattori, via gabuchan.wordpress 

 

Tips:

Jika ingin melihat tombak Hattori, datanglah di siang hari. Tombak ini hanya dapat dilihat jika sedang tidak ada upacara Buddha, maupun jika pendeta di kuil ini sedang nggak sibuk.

 

Detail teknis:

Alamat: 2-chome 9-Wakaba, Shinjuku-ku, Tokyo 160-0011

Jam operasional: 24 jam

Harga tiket: free

Google maps: < klik >      

Akses:

< klik > 8 menit jalan kaki dari Stasiun Yotsuya.

 

***

 

Ninja Restaurant Akasaka

 

gallery_843_1101_92529.jpg

Seorang waitress berkostum ninja tengah menyiapkan sebuah menu di restoran Ninja Akasaka, via twistedsifter 

 

Oke, tempat ini mungkin nggak menawarkan pengalaman ala ninja yang sesungguhnya karena Ninja Akasaka ini hanyalah sebuah restoran yang mengadopsi tema ninja dan kehidupannya. Namun setidaknya di tempat ini kalian dapat bersantai menikmati aneka makanan dan minuman yang telah dipesan sambil menikmati suasana ala desa ninja yang dirancang dengan cukup cermat, dengan pelayan berbaju ninja yang kerap muncul tiba-tiba dari balik pintu rahasia. Asyiknya, di sela-sela menikmati hidangan, kalian akan dihibur oleh ‘ninja’ yang mahir memainkan aneka trik sulap.  

 

Detail teknis:

Alamat: Akasaka Tokyu Plaza 1st floor, 2-14-3 Nagatacho, Chiyoda, Tokyo 100-0014

Jam operasional: 17.00-01.00 (Senin-Sabtu), 17.00-23.00 (Minggu)

Google maps: < klik >       

Akses:

< klik > 4 menit jalan kaki dari Stasiun Akasakamitsuke.

 

***

 

5. Lainnya

Sebetulnya masih banyak kota lain yang juga memiliki budaya ninja yang masih eksis hingga saat ini. Misalnya saja di Kyoto ada Toei Eigamura (baca disini: Toei Kyoto Studio Park part 1, Toei Kyoto Studio Park part 2) yang memiliki atraksi bertema ninja serta menyewakan kostum ninja yang dapat digunakan saat mengelilingi theme park tersebut. Kemudian ada Nijo Jinya, sebuah bekas pengingapan yang sudah berdiri sejak Periode Edo (1603-1868) yang dilengkapi dengan berbagai pintu rahasia dan jebakan seperti rumah ninja. Intinya, nggak usah berkecil hati jika kalian tertarik dengan ninja namun nggak sempat berwisata ke Iga Ueno, Koka, Nagano, maupun Tokyo, karena siapa tahu di kota tujuan wisata kalian pun ada obyek wisata maupun atraksi bertema ninja yang bisa kalian kunjungi. 

Share this post


Link to post
Share on other sites

UPDATED

 

@vie asano

katanya di kyoto ya ada desa ninja gitu

kita bisa sewa baju nya untuk coba

 

Toei Eigamura ya mod? Itu taman hiburan doang sih. Emg ada atraksi dan fasilitas ala ninja juga disana.

 

sepertinya budayanya masih terasa didaerah Iga, Nagano & Koka :ph34r:

 

Betul, walau sayangnya sekarang budaya ninja hanya sebatas untuk wisata saja di kota2 tersebut....

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now
Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By annelialk
      Halo, saya berdua dengan teman saya akan pergi ke Jepang tgl 1-9 Maret 2019. Tiket sudah fix. Tempat yang mau dikunjungi Tokyo-Kyoto-Osaka. Tapi itin belum fix. Kalau ada yang gabung, sila. Lumayan kalau bisa share cost buat penginapan... hehe.
    • By pejalankaki
      Halo Jalan2.com! 
      Siapa yang tidak tahu dengan Universal Studio Jepang? Tempat yang satu ini wajib kamu kunjungi saat liburan ke Jepang. Di lokasi wisata yang ikonik ini, Travel Mates akan bertemu banyak karakter film yang pasti sudah nggak asing lagi deh! Tapi kalau kamu masih bingung mau ke mengunjungi spot yang mana dulu, Artikel HIS Travel rekomendasikan kamu ke spot Harry Potter yang super duper fantastis dulu, Travel Mates.
      Karena tempat yang satu ini menjadi para incaran para wisatawan manca negara yang ingin melihat langsung kastil atau bangunan yang mirip seperti di film Harry Potter.
      Setelah puas mengunjungi spot-spot yang seru, pastinya perut kamu butuh asupan kan? Selain karakter dan filmnya yang terkenal, Universal Studio Jepang juga memiliki menu kuliner yang wajib kamu cicipi ketika mengunjunginya. Pasti Travel Mates penasaran kan apa aja sih kuliner yang wajib dicicipi ketika mengunjungi Universal Studio Jepang?
      Yuk simak di bawah ini!
      Restoran The Three Broomsticks

      Sumber gambar: squarespace.com
      Buat kamu pecinta buku atau film Harry Potter pasti sering mendengar nama restoran yang satu ini. Ternyata beneran ada di dunia nyata lho, Travel Mates. Kalau kamu sedang mengunjungi Universal Studio Jepang, restoran ini ada di pintu Hogsmeade dengan tanda tulisan "Please Respect the Spell Limits". Dari pintu masuknya aja udah keren dan Harry Potter banget ya, Travel Mates?
      Kalau kamu belum tau, dalam buku-buku dan film Harry Potter, Three Broomsticks ini adalah penginapan dan restoran yang berada di Hogsmeade yang biasa dikunjungi oleh murid Hogwarts, termasuk Harry Potter dan teman-temannya.
      Untuk menu-menu makanan di sini juga mirip seperti yang ada di buku dan film Harry Potter, lho. Seperti Butterbeer, Fire Whisky, Gilly Water, dll. Untuk harganya sendiri mulai dari $2 - $9 per tiap menunya.
      Delicious Me! & POP-A-NANA

      Sumber gambar: https://idntimes.com
      Kalau baca nama restoran di atas, kira-kira menggambarkan karakter apa ya, Travel Mates? Dari logonya sih dominan warna kuning. Betul, apa lagi kalau bukan Minion! Di dua restoran ini kamu bisa cobain cemilan yang seru. Delicious Me! memiliki menu sandwich snack dengan rasa fruits and cream. Dan ketika memakannya Travel Mates akan menemukan rasa beberapa buah seperti stroberi, pisang, dan anggur yang dicampur dengan cream. Kamu akan diajak merasakan perpaduan biskuit yang manis dan buah yang segar dalam sekali gigit. Penasaran 'kan?
      Karena tempat ini berada di satu tempat, yaitu kawasan Minion Park, selanjutnya kamu harus mencoba mengunjungi restoran POP-A-NANA yang ada disebelahnya. Hayoo, apa makanan favorit Minion? Betul, jawabannya adalah banana atau pisang. Terinspirasi dari makanan favorit minion, restoran ini memiliki menu serba pisang, lho. Salah satu menu yang paling sering dipesan adalah popcorn rasa pisang cokelat.
       Amity Landing Restaurant, Teror Hiu Jaws

      Sumber gambar: https://tdrexplorer.com
      Jaws, pasti kamu pernah melihat film yang satu ini. Teror hiu yang satu ini ternyata tidak hanya di film, tapi juga ada di Universal Studio Japan, Travel Mates. Tenang, teror yang satu ini bisa kamu serang balik kok, caranya dengan memakannya langsung. Seperti di filmnya, Universal Studio Jepang memiliki area Amity Village atau biasa dikenal dengan rumahnya habitat atau rumah Jaws. 
      Pulau yang dikelilingi oleh laut ini memiliki restoran yang unik, yaitu Amity Landing Restaurant. Siapa yang tau kalau Travel Mates bisa memakan Jaws dalam bentuk dessert yang menggemaskan di restoran satu ini? Dengan harga $4 kamu bisa mendapatkan menu Jaws Cake yang dibentuk swiss roll dan dilengkapi dengan cream soda. Kalo terornya seperti ini, pasti Travel Mates maunya di teror mulu. Betul?
      Discovery Restaurant, Restoran bertema Jurassic Park

      Sumber gambar: https://www.usj.co.jp
      Travel Mates ingin merasakan langsung dunia Jurassic Park? Restoran ini sangat cocok untuk mewujudkannya. Dengan membuat konsep interior yang sama seperti di film dan pilihan menu bertema hutan Jurassic Park, para pengunjung akan merasakan atmosfer langsung seperti apa kehidupan di dunia Jurassic Park. 
      Tapi kamu harus berhati-hati Travel Mates, karena di restoran ini akan ada dinosaurus yang tiba-tiba muncul dihadapan kamu ketika kamu sedang makan. Jadi sebelum kamu ke sini, lebih baik kamu berlatih dulu seperti Owen Grady di film Jurassic Park saat mengendalikan Velociraptor, ya!
       
      SUMBER
    • By Clemenz Cave
      Hi,
      I'm just looking for mates to travel with to Japan through Xmas till New Year's Eve, so about 5 days give or take. Anyone is welcomed! 
      For now its only me and myself, haven't got the itinerary written down yet much less the exact dates to go and back. 
      You can invite your friends along if you want, THE MORE THE MERRIER! :D
    • By vie asano
      Masih tentang Hiroshima. Pada tulisan Hiroshima's Guide for Travellers (1), saya sudah menyinggung tentang moda transportasi publik dan juga beberapa bangunan lain yang tersisa paska serangan bom atom 6 Agustus 1945 yang menghancurkan hampir seluruh kota Hiroshima. Tapi Hiroshima nggak melulu berisi cerita tentang bom atom lho. Kota ini sudah lama move on dari kehancuran paska serangan bom dengan kode nama little boy tersebut, dan kini memiliki banyak obyek wisata yang menarik. Misalnya saja, untuk kategori wisata sejarah. Di Hiroshima terdapat 2 kastil yang cukup populer. Kastil pertama, Hiroshima Castle, aslinya dibangun oleh Terumoto Mori pada tahun 1590. Sayangnya kastil ini hancur oleh bom atom Hirosohima dan hanya menyisakan sedikit struktur aslinya. Kini Hiroshima Castle sudah selesai di rekonstruksi dan difungsikan sebagai museum yang mengangkat budaya samurai.
      Foto 01:
      Hiroshima Castle [foto: Fg2/wikimedia]
      Sedangkan kastil kedua adalah Fukuyama Castle yang terdapat di Fukuyama, Hiroshima. Sama seperti Hiroshima Catle, Fukuyama Castle ini bukanlah kastil asli, karena di Jepang kastil asli hanya berjumlah 12 saja (baca disini: Tahu Nggak, Hanya Ada 12 Kastil Original di Seluruh Jepang Lho!).
      Foto 02:
      Fukuyama Castle [foto: Jnn/wikimedia]
      Dari spot bersejarah, lanjut ke museum. Selain memiliki museum keren di Hiroshima Peace Memorial Park, Hiroshima juga punya stok museum bertema lain yang tak kalah kerennya. Contohnya adalah Mazda Museum. Dari namanya sudah bisa ditebak jika museum ini berkaitan dengan Mazda, dan memang benar adanya. Mazda memang salah satu produsen mobil yang memiliki peran penting dalam perekonomian Hiroshima, dan di Mazda museum ini wisatawan dapat melihat-lihat berbagai hal yang berkaitan dengan Mazda, mulai dari sejarah, proses perakitan mesin, dan lain-lain. Untuk bisa masuk ke museum ini sama sekali tidak dikenakan biaya. Hanya saja wisatawan wajib melakukan reservasi terlebih dulu.
      Foto 03:
      Salah satu display di Mazda Museum [foto: Taisyo/wikimedia]
      Hiroshima memiliki beberapa museum seni dengan koleksi yang sangat baik, antara lain Hiroshima City Museum of Contemporary Art yang memiliki berbagai koleksi seni dari beberapa seniman Barat ternama seperti Andy Warhol. Museum seni lainnya, Hiroshima Prefectural Museum of Art, juga memiliki koleksi seni yang sangat baik mulai dari seni klasik hingga modern. Begitu juga dengan Hiroshima Museum of Art dengan koleksi andalannya adalah karya seni bergaya Eropa.
      Foto 04:
      Hiroshima Prefectural Museum of Art [foto: Taisyo/wikimedia]
      Namun jika tak tertarik dengan museum seni maupun jika membawa anak-anak, masih banyak jenis museum lainnya seperti Hiroshima Children's Museum yang memiliki aneka eksibisi yang akan disukai oleh si kecil; Hiroshima City Transportation Museum, dan lain-lain.
      Foto 05:
      Hiroshima Children's Museum [foto: Taisyo/wikimedia]
      Dari museum, mari mengunjungi aneka kuil di Hiroshima. Ya, wisata kuil memang selalu menjadi salah satu aktifitas favorit untuk dilakukan di Jepang. Sayangnya, untuk kota Hiroshima sendiri minim kuil yang betul-betul menawarkan keunikan khas untuk wisatawan. Mungkin yang bisa masuk dalam kategori cukup unik adalah Mitaki-dera, kuil Budha yang memiliki pemandangan indah saat musim gugur. Tapi nggak perlu kecewa. Jika masih ingin melakukan wisata kuil, sekalian saja berkunjung ke Miyajima, karena disana ada kuil Itsukushima yang diakui sebagai salah satu dari Japan's 3 top scenic sight (2 lainnya adalah pine-clad island di Matsushima dan Amanohashidate. Untuk Amanohashidate, bisa dibaca disini: Amanohashidate part 1, Amanohashidate part 2). Info tentang Miyajima menyusul yah.
      Foto 06:
      Mitaki-dera [foto: Binabik155/wikimedia]
      Festival di Hiroshima
      Ada beberapa festival besar di Hiroshima, tapi saya hanya akan menyinggung yang paling populer saja. Salah satu festival terbesar dan terpopuler di Hiroshima adalah Hiroshima Flower Festival yang diadakan setiap tanggal 3-5 Mei setiap tahunnya (bertepatan dengan liburan Golden Week). Festival yang digelar di Hiroshima Peace Memorial Park ini dipenuhi dengan aneka pertunjukan meriah, mulai dari tari, nyanyi, parade, hingga pasar kaget. Tak heran jika setiap kali festival ini dilangsungkan, jumlah pengunjungnya bisa mencapai lebih dari 1 juta orang.
      Foto 07:
      Hiroshima Flower Festival [foto: Taisyo/wikimedia]
      Festival lain yang selalu mencuri perhatian wisatawan tentu saja adalah Hiroshima Lantern Festival, yang diselenggarakan di Hiroshima Peace Memorial Park setiap diperingatinya tanggal jatuhnya bom atom Hiroshima, yaitu 6 Agustus. Saya pernah menyinggung sedikit tentang festival tersebut pada tulisan Hiroshima Peace Memorial Park dan Sepenggal Cerita Bom Atom 1945 (3-end).
      Foto 08:
      Hiroshima Lantern Festival [foto: w00kie/flickr]
      Kuliner khas Hiroshima
      Akhirnyaaaa, sampai juga di bagian kuliner! Dan kuliner pertama ala Hiroshima yang akan saya ulas adalah Okonomiyaki.
      Lho, kok okonomiyaki? Bukannya okonomiyaki berasal dari Osaka?
      Ya, okonomiyaki memang populer sebagai kuliner khas Osaka. Saking populernya, Tokyo tak mau kalah dan akhirnya membuat versi tandingan dari okonomiyaki yaitu monjayaki (tempat paling populer untuk mencicipi kuliner ini ada di Tsukishima). Untuk Hiroshima, daerah ini memiliki okonomiyaki yang dibuat dengan gaya yang khas. Jika okonomiyaki khas Osaka dibuat dengan mencampuradukkan seluruh bahan ke dalam larutan tepung dan di goreng di wajan datar, okonomiyaki ala Hiroshima dibuat berlayer. Campurannya pun bervariasi, tak hanya sekedar kubis, telur, dan daging. Namun bisa dicampur juga dengan seafood (biasanya cumi maupun gurita), keju, dan juga mie (baik soba maupun udon). Kuantitas kubisnya pun jauh lebih banyak dibanding versi Osaka. Penampakan okonomiyaki ala Hiroshima kira-kira seperti berikut.
      Foto 09:
      Okonomiyaki ala Hiroshima, tahap persiapan. Kubisnya segunung! [foto: J. Miers/wikimedia]
      Foto 10:
      Hasil jadi okonomiyaki ala Hiroshima. Mie menjadi salah satu bahan dasarnya[foto: Daderot/wikimedia]
      Dan bandingkan dengan okonomiyaki versi Osaka.
      Foto 11:
      Okonomiyaki ala Osaka tahap setengah jadi [foto: Marcel Montes/wikimedia]
      Foto 12:
      Okonomiyaki ala Osaka [foto: Marcel Montes/wikimedia]
      Kuliner khas Hiroshima lainnya adalah momiji manju. Kue ini berbentuk seperti daun momiji (atau maple) dan diisi dengan pasta kacang merah. Nggak suka kacang merah? Jangan khawatir. Saat ini sudah banyak varian isian lain dari momiji manju, seperti coklat, keju, matcha, dan lain-lain.
      Foto 13:
      Momiji manju [foto: Daderot/wikimedia]
      Tiram merupakan kuliner khas lainnya dari Hiroshima. Tak sulit untuk menemukan tiram, karena aneka kuliner yang menggunakan tiram sebagai bahan dasarnya mudah ditemukan di berbagai restoran, ryokan, hingga stand pinggir jalan di Hiroshima. Tiram ini enak juga lho disantap mentah dengan dicocolkan ke dalam soy sauce. Bisa juga disantap setelah dibakar, seperti pada gambar berikut ini.
      Foto 14:
      Tiram bakar [foto: Daderot/wikimedia]
      ***
      Semoga informasinya bermanfaat!
      ***
      * Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
      ***
      Baca juga:
      Hiroshima: Dulu dan Sekarang
      Hiroshima Peace Memorial Park dan Sepenggal Cerita Bom Atom 1945 (1)
      Hiroshima Peace Memorial Park dan Sepenggal Cerita Bom Atom 1945 (2)
      Hiroshima Peace Memorial Park dan Sepenggal Cerita Bom Atom 1945 (3-end)
      Hiroshima's Guide for Travellers (1)
    • By vie asano
      Nagasaki sudah selesai dikupas dan dikuliti dalam seri tulisan Nagasaki's Short Guide for Travellers (1) dan Nagasaki's Short Guide for Travellers (2-end). Saya juga sudah mengulik tentang Gunkanjima, salah satu pulau tak berpenghuni paling populer di dunia, yang bisa dibaca disini: Gunkanjima, Pulau Kapal Perang Berhantu di Nagasaki (1) dan Gunkanjima, Pulau Kapal Perang Berhantu di Nagasaki (2-end). Supaya adil dengan Hiroshima yang sama-sama jadi korban bom atom 1945, kali ini giliran Hiroshima yang akan dikupas dalam bentuk panduan (yang mudah-mudahan cukup) singkat untuk wisatawan.
      Mengapa saya masih ingin mengupas tentang Hiroshima sementara bahasan tentang Nagasaki sudah selesai? Kok nggak move on aja ke topik lainnya? Sejak saya mengenal Hiroshima saat membantu menyusun itinerary wisata (sudah disinggung pada tulisan [sharing] Itinerary Wisata Jepang 23-31 Mei 2014 2-end), saya berpendapat Hiroshima termasuk kota yang cukup asyik. Jika dilihat aksesnya dari Tokyo, jarak Tokyo-Hiroshima pun nggak sejauh Tokyo-Nagasaki (±8,5 jam via shinkansen), yaitu hanya kira-kira 4-5 jam saja menggunakan shinkansen. Jadi jika Nagasaki saya ulik cukup mendalam, kenapa nggak dengan Hiroshima? Bukankah Hiroshima juga memiliki daya tarik yang nggak kalah dengan Nagasaki, dan bahkan lebih cepat di akses dari Tokyo.
      Saya nggak akan panjang lebar membahas tentang hal-hal basic seputar Hiroshima, apalagi dari segi sejarah, karena sudah saya singgung pada tulisan Hiroshima: Dulu dan Sekarang. Jadi saya akan langsung mulai dengan moda transportasi publik di Hiroshima, aneka obyek wisata yang menarik, beberapa festival penting, dan tentu saja kulineran. Selamat menikmati.
      Moda transportasi publik di Hiroshima
      Hiroshima memiliki moda transportasi publik yang sedikit berbeda dengan Tokyo dan Kyoto. Jika Tokyo punya jaringan kereta dan subway yang rumit, serta Kyoto memiliki jaringan bus yang menjangkau berbagai sudut kota, maka Hiroshima memiliki jaringan tram yang sangat baik. Hampir sama dengan Nagasaki yang juga memiliki tram sebagai moda transportasi andalan. Bedanya, jaringan tram di Hiroshima lebih besar, dan populer dengan nickname Hiroden (singkatan dari Hiroshima Dentetsu Kabushiki-gaisha). Terdapat 8 line tram yang menghubungkan stasiun terbesar di Hiroshima, yaitu Stasiun Hiroshima, dengan berbagai area di kota tersebut. Tak heran jika Hiroshima disebut-sebut sebagai kota dengan jaringan tram terbesar di Jepang.
      Foto 01:
      Hiroden [foto: Taisyo/wikimedia]
      Tak sulit untuk naik hiroden di Hiroshima. Pada prinsipnya, naik hiroden tak berbeda dengan naik kereta. Wisatawan tinggal memilih jalur mana yang akan melewati obyek wisata yang diinginkan. Tarifnya flat, yaitu ¥160* untuk seluruh area di pusat kota, dan naik secara bertahap saat pergi keluar dari pusat kota. Bagi yang ingin praktis menjelajah kota, tinggal membeli tiket terusan yang berlaku selama 1 hari kalender. Harganya hanya ¥600* saja. Namun jika membayar ekstra ¥240*, bisa sekaligus mendapat tiket ferry pulang-pergi ke Miyajima. Miyajima merupakan salah satu side trip favorit dari Hiroshima, dan termasuk salah satu obyek wisata favorit di Jepang lho. Kalau mood nggak berubah, mudah-mudahan sempat mengulik tentang Miyajima.
      Foto 02:
      Hiroden [foto: Flyingbear/wikimedia]
      Pertanyaan selanjutnya yang biasa muncul adalah, apakah JR Pass berlaku untuk naik tram? Jawabannya tidak. Tapi jangan dulu kecewa, karena wisatawan bisa naik Maple-oop, sebuah bus wisata untuk turis yang dikelola oleh JR. Bus wisata ini akan menghubungkan Stasiun Hiroshima dengan berbagai obyek wisata favorit, dan asyiknya, naik Maple-oop ini dicover oleh JR Pass.
      Foto 03:
      Familiar dengan pemandangan ini? Lokasinya di Miyajima lho. Tunggu ulasan tentang Miyajima yah [foto: Jordy Meow/wikimedia]
      Obyek wisata populer di Hiroshima
      Khusus untuk obyek wisata, walau saya telah mengupas tentang Hiroshima Peace Memorial Park (baca disini: Hiroshima Peace Memorial Park dan Sepengal Cerita Bom Atom 1945 1, Hiroshima Peace Memorial Park dan Sepenggal Cerita Bom Atom 1945 2, Hiroshima Peace Memorial Park dan Sepenggal Cerita Bom Atom 1945 3-end), namun ternyata masih ada beberapa obyek lain yang menjadi saksi hidup peristiwa bom atom Hiroshima. Maksudnya, A-Bomb Dome dan Rest House yang ada di Hiroshima Peace Memorial Park bukan satu-satunya, eh dua-duanya bangunan yang selamat paska bom atom Hiroshima. Masih ada lho beberapa bangunan lain di sekitar taman tersebut yang merupakan hasil renovasi bangunan yang selamat paska peristiwa tersebut. Misalnya saja bangunan bekas gedung Bank of Japan yang hanya berjarak 380 meter dari Hypocenter, atau titik pusat ledakan, termasuk salah satu yang relatif utuh karena strukturnya yang memang kuat. Kini bangunan ini dijadikan pusat aktifitas seni budaya dan dibuka untuk umum.
      Foto 04:
      Bekas gedung Bank of Japan [foto: Fg2/wikimedia]
      Bangunan lain yang relatif utuh paska ledakan bom atom adalah Fukuromachi Elementary School yang sebagian areanya kini difungsikan sebagai museum. Lalu ada juga bangunan bekas Hiroshima Mitsui Bank (kini jadi Andersen Bakery), dan banyak lagi. Intinya sih, jika memang alasan utama berkunjung ke Hiroshima karena tertarik dengan peristiwa bom atom Hiroshima, jangan terpaku dengan Hiroshima Peace Memorial Park. Cobalah berjalan-jalan di sekitar taman, siapa tahu Anda bisa menemukan harta karun peninggalan peristiwa 6 Agustus 1945 lainnya.
      Foto 05:
      Fukuromachi Elementary School [foto: Laika Ac/wikimedia]
      Dari Hiroshima Peace Memorial Park, saya ingin mengajak teman-teman untuk mengenal aneka taman indah lainnya yang dimiliki oleh kota Hiroshima. Shukkeien Garden termasuk salah satu taman tertua yang ada di Hiroshima (dibangun tahun 1620) dan dulunya dimiliki oleh Asano Nagaakira, penguasa Hiroshima. Taman bergaya Jepang ini termasuk salah satu yang wajib dikunjungi oleh para pecinta taman. Selain karena jaraknya yang tak begitu jauh dari Stasiun Hiroshima, juga karena harga tiketnya relatif murah (Â¥250* untuk pengunjung dewasa).
      Foto 06:
      Shukkeien Garden [foto: Jakob Halun/wikimedia]
      Taman lain yang menarik untuk dikunjungi adalah National Bihoku Hills Park atau Bihoku-kyuryo Park. Sesuai namanya, tempat ini merupakan sebuah taman nasional, tepatnya taman nasional ke-11 di Jepang (dan pertama di wilayah Chugoku). Fasilitas di taman ini cukup lengkap, mulai dari taman bunga, rumah kaca, hingga lapangan golf.
      Foto 07:
      National Bihoku Hills Park [foto: OS6/wikimedia]
      Lanjut lagi tentang aneka obyek wisata menarik di Hiroshima pada tulisan berikutnya yah.
      ***
      * Harga sewaktu-waktu dapat berubah.
      ** Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
    • By vie asano
      Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H buat Jalan2ers yang merayakan! Taqoballahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, minal aidzin wal faidzin Mohon maaf lahir dan bathin jika selama ini ada salah-salah kata, baik yang disengaja maupun tidak.
      Setelah beberapa hari absen menulis karena mudik, saya kangen sharing-sharing info lagi di blog sederhana ini. Berhubung masih dalam suasana mudik, kali ini saya ingin sharing info festival khas Jepang yang melibatkan tradisi mudik. Eits, jangan salah. Di Jepang juga ada tradisi mudik lho. Jika di Korea tradisi mudik biasa dilakukan saat perayaan Chuseok (bisa dibaca disini: Mengenal Chuseok, Thanksgiving ala Korea Selatan) dan Seollal (Lunar New Year), maka di Jepang tradisi mudik biasa dilakukan menjelang perayaan Obon atau Obon Festival. Apakah Obon Festival itu?
      Sekilas tentang Obon Festival
      Obon Festival, biasa disebut Obon atau Bon saja, merupakan salah satu festival khas agama Budha yang bertujuan untuk menghormati arwah leluhur. Perayaan ini diangkat dari kisah Maha Maudgalyayana (Mokuren), salah seorang murid Budha yang telah kehilangan ibunya untuk selamanya. Mokuren memiliki penglihatan jika arwah sang ibu menderita, dan dia pun akhirnya bertanya pada Budha bagaimana caranya menolong sang ibu. Budha kemudian memerintahkannya melakukan beberapa ritual melalui pendeta Budha yang telah selesai menjalankan retret musim panas mereka. Mokuren menuruti perintah tersebut, dan dia lalu melihat arwah ibunya kini jauh lebih bahagia. Ritual tersebut kemudian disebarluaskan dan dilakukan oleh banyak orang, dan dikenal dengan nama Obon.
      Kapan perayaan Obon itu?
      Obon dirayakan pada tanggal yang berbeda-beda di seluruh Jepang, walau biasanya berkisar antara bulan Juli dan Agustus. Perbedaan tersebut terjadi karena adanya perubahan sistem penanggalan Jepang. Semula Jepang menganut kalender Bulan, namun pada periode Meiji berganti mengikuti kalender Gregorian. Akibatnya, perayaan Obon yang biasanya jatuh pada bulan ke-7 mengalami pergeseran tanggal. Ada yang tetap merayakan Obon pada tanggal ke-15 pada bulan ke-7 berdasarkan kalender bulan (disebut Kyu Bon); ada yang merayakan pada tanggal ke-15 bulan ke-7 pada kalender Matahari (disebut Shichigatsu Bon); dan ada juga yang merayakan berdasarkan pada kalender Bulan, namun perayaannya mengambil waktu tanggal 15 Agustus (disebut Hachigatsu Bon). Bon yang terakhir ini yang banyak dirayakan di seluruh Jepang, sementara Kyu Bon masih dirayakan di daerah tertentu seperti wilayah Utara area Kanto, Shikoku, Chugoku, dan Okinawa.
      Apa yang dilakukan saat perayaan Obon?
      Inti dari perayaan Obon adalah menghormati arwah leluhur. Secara singkatnya sih orang Jepang percaya jika arwah leluhur akan mengunjungi mereka pada periode perayaan Obon. Karenanya, pada perayaan Obon orang-orang akan menggantungkan lentera di depan rumah mereka untuk memandu arwah leluhur agar bisa menemukan jalan kembali ke rumah.
      Foto 01:
      Lentera di depan rumah saat perayaan Obon [foto: Katorisi/wikimedia]
      Selain menggantungkan lentera, orang Jepang juga akan mempersembahkan makanan bagi para leluhur tersebut. Makanan persembahan tersebut akan disajikan di altar rumah, maupun di kuil. Ritual lainnya adalah mengunjungi makam para leluhur untuk berdoa dan membersihkan makam. Selain itu, mereka akan menarikan bon odori (lihat pada bagian tentang bon odori). Barulah pada akhir periode Obon lentera-lentera tersebut akan dihanyutkan di sungai untuk menuntun kembali para arwah kembali ke alamnya.
      Foto 02:
      Menghanyutkan lentera pada akhir perayaan Obon [foto: JamesAlexanderJack/wikimedia]
      Tentang Bon Odori
      Perayaan Obon tak bisa dipisahkan dari Bon Odori, alias Bon Dance. Tarian ini juga relatif populer ditampilkan di berbagai matsuri yang ada di Indonesia lho. Biasanya sih salah satu lagu favorit untuk mengiringi Bon Odori ini adalah soundtrack-nya anime Chibi Maruko-chan (lupa judulnya apa). Tentunya itu untuk Bon Odori versi Indonesia yah.
      Foto 03:
      Bon Odori [foto: Jiang Dong-Qin/wikimedia]
      Bagi yang masih bingung, Bon Odori merupakan tarian yang ditampilkan pada perayaan Obon. Tarian ini terinspirasi dari luapan kegembiraan yang ditunjukkan oleh Mokuren saat mengetahui jika arwah sang ibu sudah terbebas dari penderitaan. Koreografi dan lagu yang biasa digunakan saat Bon Odori berbeda untuk setiap daerah di Jepang, namun tipikalnya tarian ini dilakukan sambil mengitari sebuah pusat (biasanya yang menjadi pusat adalah yagura/panggung kayu khusus untuk festival). Para penari (biasanya pengunjung yang akan diajak berpartisipasi) akan melakukan serangkaian gerakan sambil bergerak mengitari pusat tersebut.
      Dampak perayaan Obon bagi pariwisata Jepang
      Sampai disini mungkin ada yang bingung yah. Katanya Obon berhubungan dengan mudik? Trus mana nih bagian mudiknya?
      Nah, info ini salah satu yang wajib diketahui oleh wisatawan yang akan berkunjung ke Jepang pada periode Obon (kira-kira 13-15 Agustus). Periode Obon merupakan salah satu periode liburan populer di Jepang. Pada perayaan Obon, orang-orang akan kembali pulang ke kampung halaman untuk ikut menyambut arwah leluhur, maupun sekedar meluangkan waktu untuk kumpul bersama keluarga besar. Bahasa Indonesia-nya sih, mudik!
      Lalu apa dampaknya aktifitas mudik tersebut pada pariwisata Jepang? Tentu saja ada, karena pada masa liburan Obon dianggap sebagai peak season. Harga tiket dan akomodasi akan jauh lebih mahal dibanding low season. Dan tak heran juga jika pada masa tersebut berbagai tempat wisata akan penuh sesak, toko banyak yang tutup, dan jalanan juga lebih ramai dari biasanya. Jadi, jika ingin lebih menikmati suasana liburan, hindari pergi ke Jepang pada periode Obon yah! Sebagai penutup, untuk tahun 2014 ini traffic di Jepang diperkirakan akan mulai meningkat pada tanggal 9 Agustus (saat orang-orang mulai meninggalkan kota besar untuk kembali ke kampung halaman) dan baru berakhir pada tanggal 16-17 Agustus (saat pemudik kembali pulang ke kota besar). Namun jika sudah terlanjur ada rencana liburan ke Jepang saat periode Obon, sekalian saja nikmati suasana festival. Berkunjunglah ke berbagai kuil karena selalu ada kemeriahan pada periode Obon.
      Semoga informasinya bermanfaat!
      ***
      * Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.
    • By vie asano
      Biasanya, kalau bicara tentang Jepang, image pertama yang terbayang adalah kota Tokyo yang modern dan serba canggih. Atau Kyoto, kota tua nan eksotis yang masih memiliki populasi geiko (istilah Kansai untuk geisha) dalam jumlah banyak; maupun Osaka yang memiliki aneka kuliner khas. Namun ternyata Jepang nggak melulu tentang kota-kota tersebut. Banyak tempat lain di Jepang yang cukup membuat mata terbelalak karena keunikannya, seperti Kamagasaki, Kota yang Dihilangkan dari Peta Jepang, dan Gunkanjima.
      Gunkanjima. Ada yang pernah dengar nama tersebut? Yang suka mampir ke thread Jalan2 mungkin sudah pernah masuk dalam thread berjudul Gunkanjima. Saya pribadi pertama mendengar nama tersebut saat membaca ulasan seorang teman pada sesi omake (=tambahan) untuk manga Montage dalam sebuah majalah yang khusus membahas anime dan manga. Montage memang mengambil setting Gunkanjima, dan kisahnya diangkat dari kisah nyata. Namun saya nggak akan membahas lebih lanjut tentang manga yang berkisah tentang perampokan tersebut. Silahkan googling atau cari majalah yang saya maksud yah (ada di volume 177).
      Kembali ke Gunkanjima. Tempat ini sudah saya singgung saat menulis Nagasaki Short Guide for Travellers (2-end) sebagai salah satu tempat yang wajib dikunjungi saat berwisata ke Nagasaki. Pada tulisan tersebut saya juga berjanji akan mengulas Gunkanjima secara lebih detail, dan voila, berikut tulisan tentang Gunkanjima mulai dari A-Z.
      Tentang Gunkanjima
      Secara literal, Gunkanjima dapat diartikan sebagai pulau kapal perang. Asal katanya dari kata gunkan yang artinya kapal perang, dan jima (bentuk lain dari shima) yang berarti pulau. Sebetulnya nama asli dan nama resmi dari pulau ini adalah Hashima Island (alias pulau Ha, karena shima sendiri berarti pulau). Alasan kenapa pulau ini akhirnya populer dengan nama Gunkanjima, tak lain dan tak bukan karena bentuk pulaunya yang menyerupai kapal perang. Saya sendiri pun lebih menyukai nama Gunkanjima, jadi untuk tulisan ini nama Gunkanjima yang akan saya gunakan untuk menjelaskan tentang pulau Hashima.
      Foto 01:
      Hashima a.k.a Gunkanjima [foto: Jordy Meow/wikimedia]
      Gunkanjima semula berada dalam wilayah kota Takashima. Namun sejak tahun 2005, terjadi penggabungan antara kota Takashima, Iojima, Koyagi, Nomozaki, Sanwa, dan Sotome ke dalam wilayah kota Nagasaki, sehingga otomatis Gunkanjima a.k.a Hashima Island pun masuk dalam wilayah Nagasaki. Pulau ini sendiri berjarak kira-kira 15-20 kilometer dari Nagasaki, dan menjadi satu dari 505 pulau tak berpenghuni yang ada di wilayah prefektur Nagasaki. Ukurannya sendiri tak seberapa besar, kira-kira 480 meter (panjang) dan 150-160 meter (lebar).
      Foto 02:
      Posisi Gunkanjima pada peta [foto: Hisagi/wikimedia]
      Sejarah Gunkanjima
      Geliat kehidupan di Gunkanjima dimulai pada tahun 1810. Pada saat itu, ditemukan batu bara yang lantas memancing kegiatan pertambangan batu bara di pulau tersebut. Tak perlu waktu lama hingga perusahaan besar seperti Mitsubishi Corporation tertarik untuk membeli Gunkanjima, dan sejak tahun 1890 Mitsubishi resmi membeli pulau ini untuk dieksplorasi secara besar-besaran, khususnya untuk mengekstrak batu bara dari tambang di dasar laut. Tak tanggung-tanggung, Mitsubishi sekaligus membangun kota kecil untuk para pekerja dan keluarganya. Berbagai fasilitas didirikan di pulau ini, mulai dari apartemen, pertokoan, sekolah, rumah sakit, restoran, hingga pemandian umum dan teater! Tak heran jika pada masa kejayaan Mitsubishi di Gunkanjima, populasi di pulau ini pernah mencapai lebih dari 5000 jiwa alias 83500 jiwa/kilometer persegi (untuk seluruh pulau) atau 139100 jiwa/kilometer persegi (khusus untuk area residensial-nya saja). Lebih padat dari kota manapun di dunia ini (pada masa itu).
      Foto 03:
      Aktifitas di Gunkanjima pada tahun 1930 [foto: unknown/wikimedia]
      Sepintas kejayaan Gunkanjima seolah akan berlangsung untuk selamanya. Sayangnya takdir berkata lain. Sekira tahun 1960-an, di Jepang, minyak bumi mulai menggantikan fungsi batu bara. Perlahan tapi pasti tambang batu bara di seluruh Jepang, termasuk Gunkanjima, mulai ditutup. Puncaknya, pada tahun 1974, Mitsubishi resmi menutup tambang batu bara di Gunkanjima dan seluruh pekerjanya harus meninggalkan pulau tersebut. Gunkanjima pun menjadi pulau kosong, dan semua fasilitas lengkap yang ada di pulau tersebut perlahan menjadi puing walau masih ada beberapa bangunan yang berdiri tegak hingga saat ini. Julukan “pulau hantu†mulai disematkan pada pulau kapal perang yang kini kosong tak berpenghuni, dan Gunkanjima pun akhirnya ditutup untuk umum.
      Foto 04:
      Gunkanjima dilihat dari atas [foto: Kntrty/wikimedia]
      Gunkanjima saat ini
      Setelah kegiatan pertambangan di Gunkanjima ditutup dan pulau ini jadi pulau tak berpenghuni, pada tahun 2002 kepemilikan Gunkanjima diserahkan pada kota Takashima, yang berarti otomatis saat ini Gunkanjima dimiliki oleh pemerintah Nagasaki. Pulau ini pun lalu ditutup untuk umum dengan alasan keamanan, mengingat bangunan yang ada di Gunkanjima dalam kondisi tidak terawat dan terancam hancur sewaktu-waktu.
      Pada tahun 2005, atau 31 tahun sejak populasi terakhir ada di pulau ini, Gunkanjima mulai dibuka secara terbatas untuk jurnalis saja. Tak perlu waktu lama bagi Gunkanjima meraih popularitas secara internasional, dan Gunkanjima pun mulai sering disebut dalam berbagai media. Gunkanjima kemudian disorot oleh berbagai program dokumenter seperti History Channel dan menjadi salah satu lokasi shooting film James Bond yang berjudul Skyfall (2012). Bagi yang suka musik Jepang, group band B'z juga pernah shooting video klip di Gunkanjima untuk lagunya yang berjudul My Lonely Town. Sedangkan untuk manga, salah satu yang mengambil setting Gunkanjima adalah Montage yang sudah saya sebut sebelumnya. Gunkanjima pun dipromosikan untuk masuk dalam UNESCO World Heritage Site untuk kategori The Modern Industrial Heritage Sites in Kyushu and Yamaguchi.
      Foto 05:
      Kapal merapat di Gunkanjima [foto: 64/wikimedia]
      Dengan semakin disorotnya Gunkanjima, pulau ini pun mulai menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke sini. Semula pemerintah hanya mengijinkan pulau ini untuk dikelilingi atau dilihat dari laut saja. Namun minat wisatawan semakin tak terbendung, dan pemerintah pun memilih untuk mulai memfasilitasi kegiatan wisata di Gunkanjima. Pada tahun 2009 sebagian kecil wilayah Gunkanjima akhirnya dibuka untuk umum. Pelabuhan mulai di restorasi, dan jalur untuk wisatawan mulai dibuat sehingga wisatawan dapat menjelajah sebagian wilayah Gunkanjima. Seperti apa detail tour menjelajah pulau kapal perang ini? Dan kira-kira ada cerita seru apa saja yang pernah terjadi di Gunkanjima sehingga membuatnya disebut sebagai pulau hantu? Tunggu ulasan detailnya dalam tulisan selanjutnya yah.
      ***
      * Seluruh foto diambil melalui creative commons. Tidak ada perubahan dari foto aslinya. Credit nama berdasarkan username flickr/wikimedia.