Sign in to follow this  
pleasejackys

Agar Tidak Tersesat Saat Menjelajah Alam

3 posts in this topic

Agar Tidak Tersesat Saat Menjelajah Alam

 

 

Menjauh sejenak dari kehidupan kota yang modern dan menceburkan diri ke dalam belantara hutan yang alami adalah sebuah petualangan yang sangat menarik untuk dilakukan. Penjelajahan alam seperti bukan saja bisa menantang jiwa petualang kita, namun juga memberikan banyak manfaat. Badan kita akan terlatih agar lebih sehat dan kuat. Selain itu, udara yang akan kita hirup pun jauh lebih menyegarkan daripada udara yang biasa kita hirup di kota. Indahnya suasana ciptaan Tuhan yang kita eksplorasi ini juga bisa memberikan kenyamanan dan ketentraman batin saat kita berada di dalamnya sehingga rasa stress dan jenuh pun akan hilang dari pikiran kita.

 

Namun, tak bisa dipungkiri juga bahwa kegiatan jelajah alam bukanlah tanpa resiko.Medan yang tidak biasa dan liar ini bisa saja membawa kita ke dalam suatu masalah.Salah satu masalah besar yang mengancam kita saat menjelajah alam adalah tersesat.Tersesat di belantara alam dapat terjadi karena kita kehilangan arah, lupa jalan yang dilalui, dan lain sebagainya.

 

 

post-17283-0-96534000-1427337058_thumb.j

Hutan untuk Dijelajah

(Sumber: Flickr. Credit: Azfar Nasirudin)

 

Berbagai resiko mengerikan mengancam kita jika kita tersesat seorang diri di tengah hutan, mulai dari kelaparan, kehausan, kedinginan, ketakutan, dan banyak hal lagi. Untuk itu, wajar jika orang-orang selalu melakukan berbagai macam usaha persiapan sebelum menjelajah alam agar terhindar dari resiko tersesat. Tanpa perlu basa-basi, mari kita simak berbagai tips berikut ini yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir resiko kita tersesat di tengah hutan belantara:

 

 

1. Hindari Pergi Sendirian

 

Sebagian orang memang lebih suka berkelana sendirian di alam bebas. Dengan begini, dia akan memiliki lebih banyak kebebasan dalam menentukan segala hal termasuk rute mana yang harus ditempuh, kapan dan berapa lama akan beristirahat di tengah jalan, seberapa cepat berjalan, dan lain sebagainya. Ketika menjelajah hutan sendirian, kita juga memiliki kesempatan untuk merenung dan larut dalam pikiran kita sendiri.Namun di sisi lain, berpetualang sendirian di alam bebas memiliki resiko tersesat yang jauh lebih tinggi daripada saat kita pergi bersama orang lain.

 

Ketika kita menjelajah alam secara berkelompok, antar satu sama lain akan saling mengingatkan jika ada salah satu anggotanya yang salah dalam menentukan arah jalan. Jika salah arah pun, kita tentu akan jauh lebih mudah kembali ke jalan yang benar karena kita dapat mengingat dan memikirkan solusinya bersama-sama. Sementara kalau sendirian, kita tidak bisa memastikan apakah jalan yang kita tempuh saat ini benar atau tidak.

 

 

post-17283-0-60165000-1427337060_thumb.j

Mendaki Gunung Sendirian

(Sumber: Flickr. Credit: Dave Schreier)

 

Jika tidak ada teman untuk diajak pergi bersama, cobalah menyewa jasa dari seorang pemandu hutan untuk menemani kita melintasi alam liar. Pemandu hutan tentu sudah mengenal obyek tersebut dengan baik sehingga tahu jalan mana saja yang harus ditempuh.Apabila kita memang benar-benar ingin sendirian dalam menjelajah hutan, maka pilihlah jalur tempuh yang paling aman agar kita bisa menyelesaikan petualangan kita dengan mudah. Jika nanti kita tersesat pun, kita akan cenderung lebih mudah untuk ditemukan kembali oleh team penyelamat.

 

 

2. Jangan Terpisah dari Kelompok

 

Dari poin di atas, kita sudah bisa menyadari bahwa menjelajah alam bersama dalam sebuah kelompok akan jauh lebih aman daripada menjelajah seorang diri. Namun, itu semua akan sia-sia saja jika kita sampai terpisah dari kelompok kita. Maka dari itu, sebuah kelompok penjelajah hutan seharusnya mengatur strategi agar tidak ada satu anggota pun yang terpisah dari mereka untuk menghindari resiko mereka tersesat di tengah hutan.

 

Ketika berjalan melintasi alam, pastikan tidak ada satu anggota pun yang terpisah. Jangan berjalan jauh mendahului kelompok dan jalan berjalan terlalu lambat sampai berada jauh di belakang mereka. Pastikan langkah kita dan semua anggota kelompok berada dalam kecepatan yang sama. Setiap beberapa waktu sekali, hitung jumlah anggota kelompok dan pastikan jumlahnya masih sama seperti saat kita berangkat tadi.

 

 

post-17283-0-69912300-1427337062_thumb.j

Mendaki Bersama Teman

(Sumber: Flickr. Credit: Mike Robinson)

 

Ketika merencanakan untuk berpetualang bersama kelompok, pilihlah anggota kelompokmu dengan baik. Pertama, pastikan mereka dapat berjalan dengan kecepatan yang sama dengan kita sehingga tidak ada yang berjalan mendahului di depan ataupun tertinggal di belakang. Tiap orang juga harus memiliki kemampuan mendaki atau trekking yang cocok dengan medan yang akan kita tempuh nanti sehingga kita tidak akan kesulitan melintasinya. Saat berangkat, pastikan tiap anggota sedang berada dalam kondisi fisik yang baik.

 

 

3. Pilih Jalur yang Aman

 

Dalam setiap obyek wisata alam, biasanya ada berbagai macam track yang sudah disediakan pihak pengelola untuk memudahkan para turis melintasinya dengan mudah. Beberapa track memiliki tingkat kesulitan dan tantangannya masing-masing. Di tengah-tengah track, biasanya akan terdapat beberapa pos pengelola dimana kita bisa beristirahat sejenak. Di pos ini kita juga bisa mendapatkan bantuan jika kita mengalami masalah seperti kehabisan minum atau terluka.

 

Ketika akan menjelajah hutan, kunjungilah pos yang berada di titik awal dan mintalah informasi yang lengkap tentang pilihan jalur yang ada. Pilihlah satu jalur yang medannya sesuai dengan kemampuan kita. Jangan memaksakan diri memilih jalur yang sulit, apalagi mencoba mencari jalur baru sendiri yang belum pernah dilalui oleh orang lain. Jalur ini hanya akan membawa masalah kecuali kita memang memiliki keahlian jelajah alam yang sangat tinggi.

 

 

post-17283-0-68277500-1427337065_thumb.j

Jalur yang Sulit dan Penuh Resiko

(Sumber: Flickr. Credit: Ameer Hamza)

 

Sampaikan kepada petugas pos jalur mana yang akan kita tempuh dan berapa lama waktu yang sekiranya akan kita perlukan untuk mencapai pos berikutnya. Dengan begini, pos kedua akan bersiap menunggu kehadiran kita nantinya. Cara ini akan lebih memudahkan para petugas untuk menyadari jika nanti kita tersesat sebelum mencapai pos berikutnya. Mereka pun juga akan lebih mudah dalam berusaha mencari keberadaan kita.

 

 

4. Peta, dan Kompas

 

Penyebab utama tersesat yang paling umum dialami oleh para petualang adalah hilang arah dan lupa jalur mana yang harus ditempuh.Maka dari itu, jangan pernah lengah dan menyepelekan urusan ini.Setiap kali kita melangkah, kita harus tahu arah mata angin dan arah tujuan kita yang benar.Jalan yang kita pilih pun harus kita yakini dengan pasti bahwa itulah jalan yang tepat.

 

Jika berjalan-jalannya di tengah kota, kita bisa mengandalkan GPS untuk memberitahu dan memastikan dimana kita berada dan arah mana yang harus dituju. GPS akan sangat memudahkan kita untuk melangkah dengan benar. Masalahnya, di tengah hutan, teknologi ini  tidak bisa terlalu diandalkan. Sinyal GPS akan sangat lemah dan bahkan mungkin hilang saat kita berada di tengah hutan. Ini berarti, arah dan lokasi yang ditunjukkan bisa jadi tidak valid. Belum lagi jika baterai gadget kita habis, maka GPS pun akan ikut mati.

 

post-17283-0-27017900-1427337067_thumb.j

 

Membaca Peta dengan Kompas

(Sumber: Flickr. Credit: Forest History Society)

 

Untuk dapat bertahan di tengah belantara alam liar, kita harus bisa menentukan arah dengan cara yang lebih konvensional, misalnya dengan menggunakan peta fisik dan kompas. Penjelajah hutan sudah seharusnya tahu cara menggunakan kompas dan tahu cara membaca peta manual dengan baik dan benar. Selain dapat memastikan kita menempuh jalan yang benar, dua alat ini juga bisa membantu kita menemukan kembali jalur yang benar jika kita tersesat nanti.

 

 

5. Meninggalkan Jejak

 

Kondisi alam yang lebat dan tidak beraturan seringkali membingungkan para penjelajah, terutama para pemula.Tak jarang kita lupa jalur mana yang baru saja kita lewati karena semuanya tampak tidak jelas.Orang yang sudah cukup ahli dalam trekking mungkin bisa dengan mudah mengenali pohon mana saja yang baru saja dilaluinya sehingga mereka bisa berbalik arah kapanpun tanpa kebingungan. Masalahnya bagi para pemula, akan sulit untuk mengingat bentuk, ukuran, dan jenis pohon apa saja yang ada di jalur yang ditempuhnya. Inilah yang akan menyulitkan mereka jika tersesat nanti.

 

Solusinya, kita bisa memberi tanda pada setiap pohon yang kita lewati agar kita tahu arah mana yang baru kita tempuh.Seandainya nanti tersesat, yang perlu kita lakukan adalah berjalan menyusuri pepohonan bertanda yang sudah kita buat tadi. Tanda-tanda inilah yang akan menuntun kita kembali ke titik awal perjalanan kita.

 

 

post-17283-0-43866400-1427337070_thumb.j

Tanda di Pohon

(Sumber: Flickr. Credit: Paul Yurkovich)

 

Hindari menggunakan spidol, paku, atau benda apapun yang bersifat permanen atau merusak pohon saat membuat tanda. Sebaliknya, gunakan bahan yang bisa hilang tanpa bekas.Sebagai contoh, kita dapat menggambar suatu tanda di batang pohon dengan menggunakan kapur.Atau kita bisa mengikatkan sehelai kain slayer di rantingnya.Meninggalkan jejak dalam penjelajahan alam memang penting untuk keselamatan kita.Namun, jangan sampai usaha kita justru mengganggu keselamatan alam itu sendiri.

 

 

6. Pakaian

 

Pemilihan pakaian yang tepat juga dapat membantu kita terhindar dari bahaya tersesat.Caranya adalah dengan memilih pakaian yang memudahkan kita untuk bergerak bebas.Pakaian juga harus cukup tebal sehingga tidak mudah robek jika tersangkut ranting pohon.Namun, jangan terlalu tebal juga karena bisa membuat kita kegerahan. Jika dapat bergerak bebas, kecil kemungkinannya kita akan tertinggal dari rombongan. Dan jika kita tersesat, pakaian ini akan memudahkan kita untuk melakukan banyak hal yang kita usahakan untuk bertahan hidup.

 

Pilihlah pakaian dengan warna mencolok sehingga lebih mudah ditangkap oleh mata orang lain. Jika mendaki bersama teman, warna ini akan memudahkan mereka untuk mengenali keberadaan kita. Ini berarti, mereka akan lebih cepat sadar jika kita terpisah. Selain itu, warna yang mencolok juga akan memudahkan tim penyelamat untuk menemukan kita.

 

 

post-17283-0-49463400-1427337073_thumb.j

Pakaian Mencolok di Hutan

(Sumber: Flickr. Credit: Agustinus Benedictus)

 

Alas kaki pun harus kita pilih dengan bijak. Alas kaki sebaiknya tertutup agar kaki terlindungi dari kerikil tajam maupun binatang kecil-kecil yang ada di sekitar permukaan tanah. Gunakan sepatu olahraga yang kuat agar tidak mudah rusak jika kita pakai berjalan di tanah dengan kondisi apapun.Sepatu juga tidak boleh terlalu berat agar kita tidak mudah lelah saat berjalan.

 

 

7. Perbekalan

 

Masalah besar yang dihadapi orang-orang yang tersesat di hutan adalah kelaparan dan kehausan. Semakin lama tersesatnya, resiko ini akan semakin mengancam nyawa. Untuk meminimalisir resiko ini, sangat disarankan bagi tiap orang untuk membawa bekal makanan dan minuman yang cukup setiap kali melakukan penjelajahan hutan.

 

 

post-17283-0-43180700-1427337076_thumb.j

Bekal Makanan untuk ke Hutan

(Sumber: Flickr. Credit: Noor Ali Hasan)

 

Bekal harus dibawa sendiri-sendiri tiap orang, jangan dikumpulkan di satu orang dalam kelompok karena tiap orang bisa saja terpisah dari rombongan.Dengan membawa bekal masing-masing, setidaknya tiap orang memiliki cadangan untuk bertahan hidup selama beberapa waktu ketika tersesat nanti.

 

Semakin banyak bekal yang dibawa tentu akan semakin menjamin keberlangsungan hidup kita saat di alam liar. Namun di sisi lain, perbekalan yang terlalu banyak akan membuat ransel kita terasa lebih berat. Untuk itu, perhitungkanlah dengan bijak sebarapa banyak bekal makanan dan minuman yang akan kita bawa.

 

 

8. Perlengkapan Antisipasi

 

Selain perbekalan makanan dan minuman, kita juga perlu menyiapkan beberapa peralatan yang bisa membantu kita bertahan hidup jika kita tersesat nanti.Ini adalah tindakan antisipasi yang penting untuk dipersiapkan. Beberapa perlengkapan standar yang diperlukan antara lainpeta dan kompas untuk menentukan arah, kapur tulis untuk memberi tanda di pohon atau di bebatuan besar, alat penyuling air, kotak P3K dan obat-obatan standar, dan sebagainya.

 

 

post-17283-0-71306000-1427337079_thumb.j

Perlengkapan Bertahan Hidup di Alam Liar

(Sumber: Flickr. Credit: Have Fun SVO)

 

Kita juga bisa membawa peluit untuk ditiup saat tersesat nanti. Suara peluit yang tinggi dan melangking dapat terdengar hingga jarak yang cukup jauh. Ini akan memudahkan orang lain untuk melacak keberadaan kita. Selain peluit, kita juga bisa memanfaatkan senter untuk memberi sinyal darurat dengan cara menyorotkannya ke langit. Untuk itu, jangan pernah pergi berpetualang di alam liar tanpa membawa senter dengan baterai dan tingkat keterangan yang memadai.

 

 

9. Pelajari Kemampuan Bertahan Hidup di Alam

 

Tindakan antisipasi selanjutnya yang penting untuk kita persiapkan saat akan menjelajah alam liar adalah kemampuan untuk bertahan hidup dan menyelamatkan diri. Ada berbagai trik sederhana yang bisa kita pelajari dengan mudah, namun cukup efektif untuk membantu kita bertahan dalam kondisi tersesat sendirian di tengah hutan belantara.

 

 

post-17283-0-89532400-1427337082_thumb.j

Bertahan di Alam Liar

(Sumber: Flickr. Credit: Fransesco Vitarelli)

 

Hal pertama yang perlu kita kuasai adalah pedoman S.T.O.P. Pedoman ini merupakan urutan langkah yang harus dilakukan saat tersesat. STOP merupakan singkatan dari Stay Calm (Tetap Tenang), Think (Berpikir), Observe (Amati), dan Plan (Rencanakan). Selain menguasai pedoman ini, kita juga perlu menguasai beberapa keahlian dasar seperti bagaimana menyalakan api unggun, bagaimana menemukan tempat berteduh yang aman, bagaimana cara menghindari binatang buas, tindakan pertolongan pertama jika kita menderita cedera, cara menemukan dan menyuling air, dan lain sebagainya.

 

 

 

Tersesat di hutan adalah pengalaman yang paling tidak diinginkan oleh siapapun. Bahkan orang yang terbiasa hidup di alam liar pun tidak ingin mengalaminya. Karena itulah kita tetap harus berusaha menghindarinya. Namun, kita perlu menyadari bahwa kemungkinan itu pasti ada.Ini berarti, kita juga harus mampu menyiapkan tindakan antisipatif. Setiap kali akan menjelajah alam, kita juga harus sudah siap mental untuk menghadapi resiko terpisah dari rombongan dan tersesat. Jika mental, fisik, dan perbekalan sudah siap, maka resiko tersesat tidak akan terasa begitu mengerikan. Yang paling penting, rajinlah berdoa untuk keselamatan dan kelancaran kita setiap kali berpetualang menjelajah liarnya alam ciptaan Tuhan.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By pleasejackys
      Tersesat Waktu Menjelajah Alam? Ini Solusinya!
       
       
      Menjelajah alam adalah suatu kegiatan yang sangat seru dan penuh manfaat.Berjalan melintasi lebatnya hutan belantara, menyusuri sungai, mendaki gunung, dan memanjat tebing adalah sebuah petualangan yang penuh tantangan dan memicu adrenalin. Memang sangat melelahkan untuk dikerjakan, namun apa yang kita dapatkan pada akhirnya akan sepadan dengan perjuangan yang kita lakukan. Di ujung petualangan nanti, kita akan mendapatkan kenikmatan tak ternilai berupa segarnya udara, asrinya pemandangan, dan suasana menakjubkan yang langka. Rasa puas dan bangga pun akan membuat hati terasa penuh.
       
      Memang bukanlah hal yang mudah untuk bisa menyelesaikan petualangan dalam sebuah penjelajahan alam.Berbagai persiapan dan trik perlu kita upayakan semaksimal mungkin demi kelancaran penjelajahan kita. Alam yang akan kita pilih untuk dijelajah pun tidak bisa sembarangan. Tiap obyek memiliki tantangan dan tingkat kesulitannya masing-masing.Di sini, kita harus bisa memilih obyek mana yang sesuai dengan kemampuan kita agar kita terhindar dari berbagai resiko dan masalah.
       
      Namun kadangkala, masalah tetap datang walaupun kita sudah berusaha menghindarinya. Salah satu masalah yang biasa muncul pada kegiatan penjelajahan alam antara lain adalah tersesat. Wajar saja jika seorang petualang bisa tersesat di dalam hutan atau gunung karena di sana tidak ada papan penunjuk arah seperti di jalan raya di perkotaan. Belum lagi bentuk lingkungan yang cenderung monoton dan tak beraturan berupa pepohonan memang bisa sangat membingungkan.
       

      Tersesat di Hutan
      (Sumber: Flickr. Credit: Dean Aston)
       
      Walaupun cenderung umum, tersesat adalah masalah yang cukup serius. Berbagai macam resiko seperti kedinginan, kehausan, kelaparan, dan trauma akan siap menyerang kita jika kita tidak segera kembali. Agar terhindar dari berbagai resiko mengerikan tersebut, ada baiknya kita mempelajari langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan jika kita tersesat nantinya. Mari kita simak penjelasan di bawah ini:
       
       
      S.T.O.P
      Ada sebuah panduan yang sudah berlaku secara internasional untuk orang-orang yang tersesat saat hiking, camping, atau trekking.Panduan tersebut dikenal dengan istilah S.T.O.P. yang merupakan singkatan dari Stay Calm, Think, Observe, dan Plan. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing poin:
       
       
      1. Stay Calm (Tetap Tenang)
       
      Stay Calm berarti Tetap Tenang. Inilah hal pertama yang harus dilakukan saat kita menyadari bahwa kita sudah tersesat. Umumnya orang akan langsung panik jika menyadari bahwa ia telah tersesat. Kepanikan ini akan membuatnya semakin sulit untuk mencari jalan keluar. Jika terus dibiarkan, kepanikan bisa membuat kita mengambil sikap yang salah dan justru merugikan diri sendiri. Sebagai contoh, kepanikan akan membuat kita berjalan semakin tak tentu arah yang berakibat membuat kita tersesat semakin jauh atau menciptakan masalah lain yang lebih buruk lagi. Panik juga bisa membuat kita mudah ketakutan dan putus asa sehingga semangat kita untuk berusaha bertahan hisup akan menurun drastis. Maka dari itu, sebaiknya jangan membuat keputusan atau mengambil tindakanapapun sebelum kita berhasil menguasai emosi kita saat tersesat.
       

      Menenangkan Diri Terlebih Dahulu
      (Sumber: Flickr. Credit: Tristan O Tierney)
       
      Segera hentikan langkah begitu menyadari bahwa kita telah tersesat.Letakkan semua barang bawaan agar badan terasa ringan.Carilah sebuah pohon yang rindang dan duduklah di bawah agar badan terasa rileks. Tarik napas dalam-dalam dan keluarkan. Lakukan berulang kali dalam tempo yang pelan sampai kita merasa tenang.Jika otak sudah terasa tenang, kita bisa memulai langkah selanjutnya.Jika badan dan pikiran sudah cukup tenang, mencari solusi akan terasa lebih mudah.
       
       
      2. Think (Berpikir)
       
      Langkah selanjutnya yang perlu kita lakukan saat tersesat setelah kita berhasil menguasai diri adalah Think alias Berpikir.Coba ingat kembali rute mana saja yang sudah kita lewati dan bagaimana caranya kita bisa mencapai titik kita berada saat ini.Pikirkan dimana kita mulai salah langkah tadi.Ingat-ingat kembali apakah ada hal yang cukup unik untuk kita ingat yang bisa dijadikan patokan, misalnya pohon besar yang pernah kita lewati atau danau kecil tempat kita mampir minum tadi.
       
      Jika kamu menjelajah alam secara berkelompok dan hanya kamu yang tersesat seorang diri, ingat-ingat kapan terakhir kali kamu berada bersama mereka.Apakah sudah cukup jauh atau belum.Pikirkan berapa lama kira-kira waktu yang mereka perlukan untuk menyadari bahwa kamu sudah tidak ada di tengah-tengah mereka lagi.Selain mengingat-ingat, kita juga perlu memikirkan berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi mulai saat ini sampai selanjutnya. Adakah orang yang akan segera mencari kita di tengah belantara ini?
       

      Berpikir di Tengah Hutan
      (Sumber: Flickr. Credit: Lou By Lou)
       
      Pikirkan segala kemungkinan yang ada, dari yang terburuk sampai yang terbaik. Pastikan kita tetap tenang agar pikiran tetap jernih, walaupun saat kita sedang memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Jangan langsung menarik kesimpulan dan mengambil sikap sebelum kita berpikir cukup banyak dalam kondisi tenang.
       
       
      3. Observe (Amati)
       
      Observe atau Amati adalah langkah yang akan kita ambil setelah selesai mengingat dan berpikir. Amati yang dimaksud di sini adalah kita mengamati lingkungan sekitar kita.Sekilas pandang, yang kita lihat tentu hanyalah hamparan pepohonan lebat yang tidak beraturan. Sepintas, semuanya akan tampak sama saja. Tetapi, jika kita bisa bersikap tenang dan mengamati dengan lebih seksama, kita akan menyadari bahwa setiap satu pohon pasti berbeda dengan pohon lainnya.
       
      Dari pengamatan tersebut, mungkin kita bisa mengingat kembali arah mana saja yang baru saja kita lewati. Perhatikan juga keadaan langit, apakah mendung atau cerah. Apakah hujan akan segera turun? Apakah ada binatang buas yang tinggal di sekitar tempat kita berada saat ini?Perhatikan sebanyak mungkin detail yang ada di sekitar kita, siapa tahu ada hal-hal yang bisa kita jadikan petunjuk.
       

      Mengamati Pohon
      (Sumber: Flickr. Credit: Jun)
       
      Selain keadaan lingkungan, amati juga keadaan diri kita sendiri. Misalnya, seberapa lelahnya kah badan kita?Seberapa banyak bekal makanan dan minuman yang masih tersisa? Kemudian amati lagi keadaan di sekitar kita, dapatkan kita mencari sumber makanan dan minuman yang cukup aman dikonsumsi? Adakah tempat yang cukup nyaman dan aman untuk kita beristirahat sementara?
       
       
      4. Plan (Rancana)
       
      Setelah cukup banyak berpikir dan mengamati, mungkin kita akan mendapat petunjuk tentang arah mana yang harus kita tuju untuk dapat kembali ke jalan yang benar. Selanjutnya, kita hanya perlu melakukan Plan atau Rencana. Rencana yang perlu kita buat saat tersesat antara lain jalan dan arah mana yang akan kita tuju, berapa lama kira-kira waktu yang diperlukan untuk sampai ke pos atau sampai bertemu kembali dengan rekan sekelompok.
       
      Selain rute, kita juga perlu memastikan bekal makanan dan minuman kita cukup. Jika tidak cukup, kita harus mempunyai rencana dimana kita akan mendapatkan makanan dan minuman darurat jika kita terlanjur kehabisan sebelum sampai di pos. Tenaga juga harus dipastikan cukup kuat untuk berjalan sejauh itu. Jika sekiranya tidak kuat, rencanakan dimana kita akan berisitirahat nantinya.
       

      Rencana yang Matang
      (Sumber: Flickr. Credit: Julia Nimke)
       
      Ketika menyusun rencana, pastikan pikiran kita berada dalam kondisi yang benar-benar tenang. Jangan terburu-buru untuk segera melaksanakan rencana tersebut.Ambillah cukup waktu untuk mereview rencana kita secara perlahan, siapa tahu ada hal yang terlewatkan. Bayangkan kendala apa saja yang mungkin timbul saat kita menjalankan rencana tersebut. Sempurnakanlah rencana kita dengan sebaik-baiknya agar masalah yang ada tidak bertambah parah.
       
       
      Dari empat langkah yang ada dalam panduan S.T.O.P, yang paling sulit untuk dikerjakan adalah langkah terakhir ini (Plan/Rencanakan). Dengan informasi, perbekalan, dan keadaan yang sangat terbatas, seringkali kita ragu atas apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Salah langkah akan membuat kita semakin sulit untuk mendapatkan jalan keluar. Solusinya, adalah dengan Stay Put atau Tetap di Tempat.
       
       
      STAY PUT ( Tetap di Tempat)
      Stay Put atau Tetap di Tempat adalah langkah yang paling aman dan bijak untuk dilakukan saat tersesat ketika kita tidak merasa yakin dengan rencana kita. Stay Put bukan berarti pasrah dengan keadaan, tetapi kita hanya menunggu orang lain datang untuk menemukan kita. Ketika memutuskan untuk Tetap di Tempat pun, ada hal-hal yang harus kita waspadai baik-baik, antara lain:
       
       
      1. Tempat
       
      Sembari menunggu bantuan datang, diamlah di tempat yang sekiranya cukup mudah bagi kita untuk ditemukan, misalnya di tempat kita berada saat ini, di tepi sungai atau danau, atau di tempat terakhir kali kita masih bersama kelompok. Namun, pastikan bahwa tempat itu cukup aman dan nyaman untuk kita beristirahat sementara.Jika tempatnya kurang memadai, segeralah cari tempat lain yang lebih baik. Usahakan agar tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat kita berada saat ini agar kita tidak terlalu sulit untuk ditemukan.

      Gua yang Aman untuk Berteduh
      (Sumber: Flickr. Credit: Lynn Roebuk)
       
      Tempat yang kita gunakan untuk beristirahat hendaknya berada cukup dekat dari sumber air seperti sungai atau danau. Tempat tersebut juga harus memiliki suhu udara yang nyaman, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin sehingga kita bisa bertahan cukup lama di sana tanpa menderita. Pastikan juga bahwa tempat tersebut cukup aman dari serangan binatang buas.
       
       
      2. Dehidrasi dan Air Minum
       
      Dehidrasi adalah ancaman yang cukup serius bagi orang yang tersesat di tengah hutan atau gunung.Maka jika kita sampai tersesat saat sedang asyik menjelajah alam, segera periksa seberapa banyak bekal minuman yang kita miliki.Perhitungkan kira-kira berapa lama kita sanggup bertahan hidup dengan sisa air yang ada tersebut.
       
      Tanpa air minum, manusia hanya bertahan hidup selama 3 hari bahkan mungkin kurang. Jika beberapa jam tidak minum saja, tubuh akan beresiko terserang dehidrasi. Jika aktivitas kita cukup tinggi, maka kebutuhan air minum akan semakin bertambah. Dapat dikatakan juga, semakin banyak kita beraktivitas, kemungkinan dehidrasi akan semakin tinggi. Maka dari itu wajar jika kita tersesat dengan bekal air minum yang sangat terbatas, kita perlu segera mencari sumber air untuk membantu kita bertahan hidup.
       

      Sumber Air Bersih di Belantara
      (Sumber: Flickr. Credit: Irene Furton)
       
      Jika air bersih cukup sulit untuk ditemukan, maka air yang agak keruh pun bisa kita jadikan sebagai air minum darurat. Mungkin air ini akan membuat kita sakit perut. Tetapi, itu masih tetap lebih baik daripada tidak minum sama sekali. Agar resiko penyakitnya dapat dikurangi, kita bisa membuat api unggun dan merebus air tersebut terlebih dahulu. Atau jika bisa, buatlah peralatan suling air sederhana.
       
       
      3. Kelaparan
       
      Ancaman lain setelah dehidrasi bagi para petualang alam yang tersesat adalah kelaparan. Tanpa makanan, manusia maksimal dapat tetap hidup selama 3 minggu.Durasi ini memang jauh lebih panjang daripada jika tanpa minum.Namun, bukan berarti hal ini bisa kita sepelekan.Jika fisik badan tidak cukup kuat, bisa jadi kita hanya bertahan beberapa hari saja tanpa makan apa-apa.
      Jika bekal makanan yang ada di ransel tidak cukup banyak, kita harus mengatur strategi agar terhindar dari kelaparan.Makanlah sedikit demi sedikit dengan tempo yang pelan agar perut lebih terasa kenyang walaupun belum banyak makan.Hindari makan lagi sebelum kita benar-benar merasa lapar.Minum air putih sebanyak mungkin untuk mengganjal perut sehingga makanan bisa lebih dihemat.
       

      Berburu Ikan di Sungai untuk Dimakan
      (Sumber: Flickr. Credit: Ranch Seeker)
       
      Demi bertahan hidup, kita juga perlu mencari bahan makanan lain yang ada di alam di sekitar kita sebagai jaga-jaga seandainya bekal makanan sudah terlanjur habis namun bantuan masih belum datang. Perhatikan tumbuhan dan pohon di sekeliling, apakah ada buah atau dedaunan yang sekiranya cukup aman untuk dikonsumsi.Jika ada sungai atau danau, mungkin kita bisa memancing beberapa ekor ikan setiap kali merasa lapar.Namun, berhati-hatilah dengan jenis ikan yang bisa beracun jika dimakan.
       
       
      4. Usir Kesepian dengan Kesibukan
       
      Sangatlah wajar jika berada seorang diri di tengah belantara alam liar akan membuat kita merasa kesepian. Semakin lama kita tersesat, rasa kesepian biasanya akan semakin meningkat.Kesepian akan membuat kita lebih mudah merasa lelah dan putus asa. Kesepian juga dapat menumbuhkan rasa takut dan paranoid. Akibatnya, kita akan semakin kekurangan semangat untuk terus berusaha bertahan hidup.
       
      Jangan pasrah terhadap keadaan dengan memelihara rasa kesepian tersebut. Sebaliknya, kita justru harus berusaha keras menjauhkan diri dari perasaan tersebut. Cara paling efektif untuk mengusir kesepian adalah dengan menyibukkan diri.Jika kita sibuk, pikiran kita tidak akan melantur kemana-mana sehingga berbagai pikiran buruk akan jauh.
       

      Jangan Sampai Kesepian dan Melamun
      (Sumber: Flickr. Credit: Ryan)
       
      Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menyibukkan diri sembari menunggu bantuan datang. Antara lain, kita bisa berburu makanan, menjerang air, membuat api unggun, olahraga ringan, atau menyusun tempat yang nyaman untuk tidur. Jika merasa lelah dengan kesibukan, kita bisa tidur.Tidak masalah jika kita menghabiskan banyak waktu untuk tidur siang karena itu masih lebih baik daripada duduk diam sembari melamun atau memaksakan diri untuk terus beraktivitas.
       
       
      Tersesat di tengah alam belantara adalah hal yang paling tidak diinginkan oleh siapapun. Berbagai upaya tentu akan kita lakukan agar terhindar dari ancaman yang satu ini. Akan tetapi, sebagai seorang petualang, kita harus menyadari bahwa kemungkinan kita tersesat akan tetap ada sehingga kita juga harus mempersiapkan diri sejak sebelum mulai menjelajah alam. Persiapan tersebut bukan saja dari perbekalan, namun juga berupa persiapan mental yang kuat.Dengan mempelajari strategi di atas, mungkin ilmu ini bisa kita jadikan bekal sebagai antisipasi jika kita tersesat di tengah hutan suatu saat nanti.
    • By nonaJJ
      Apa ada yang punya pengalaman kesasar di tempat-tempat rekreasi? Bukan cuma anak kecil lho yang bisa nyasar, orang dewasa pun nggak menutup kemungkinan merasakan hal ini. Kok bisa begitu ya? Alasannya ya pasti karena kebingungan. Wajar saja, taman-taman rekreasi (apalagi yang besar) punya area yang luas dan membingungkan. Ditambah lagi, jika taman rekreasi tersebut pertama kalinya anda kunjungi.
       
      Ada cara untuk mencegah hal tersebut terjadi. Apa saja? Jadi begini...
       
      Pertama, Jika bersama rombongan, jangan pernah pisah dari rombongan.
      Jalan2 bersama rombongan ini emang berpotensi menyebabkan seseorang kesasar. Soalnya, kalau jalan2 sebagai pengikut bukan guide ya, itu biasanya ga tahu detail lokasi tempat wisata. Karena merasa ada pemandu dan penanggung jawab rombongan, para peserta sering mengabaikan pentingnya mengenal lokasi wisata.
       
      Akibatnya, bagi yang membandel suka pisah dari rombongan dan akhirnya kesasar. Ya walaupun kalau kesasar di tempat wisata bukan masalah besar, tapi tetap saja namanya rombongan sebaiknya ikut aturan timnya. Jadi, hindari pisah dari rombongan untuk kenyamanan bersama.
       
      Ke dua, memiliki peta lokasi
      Banyak tempat wisata yang memiliki peta lokasi yang bisa anda dapatkan di loket atau pusat informasi. Peta lokasi tersebut sebaiknya anda bawa untuk berjaga-jaga. Meski sudah ada plang penunjuk jalan, anda tidak selamanya bisa menemukan jalan lebih mudah semudah anda membaca peta. Nggak ada salahnya kan membawa secarik kertas peta lokasi wisata?
       
      Ke tiga, Tahu pusat informasi
      Mudah jika anda tahu pusat informasi yang terletak di tempat rekreasi yang anda kunjungi. Jadi, ketika masuk, pastikan anda tahu letak pusat informasi tersebut. Ini bisa membantu anda ketika mulai tersesat atau pisah dari rombongan.
       
      Ke empat, Hafalkan sebuah meeting point
      Nah, biasanya ini cukup efektif ketika anda tersesat atau pisah dari teman perjalanan. Jika memang mau berpisah dan tidak bingung untuk kembali, buat kesepakatan di antara kelompok anda sebuah meeting point yang bisa dituju. Misalnya ketika pergi ke taman bermain seperti Dufan, anda bisa janjian untuk bertemu di salah satu wahana termudah untuk ditemui. Jadi, anda tak perlu repot saling mencari ketika mulai tersesat.
       
      Ke lima, Jangan Putus Komunikasi
      Ketika berpisah dan bingung bertemu dengan teman perjalanan, hal yang paling penting adalah alat komunikasi. Kebayang kan bagaimana kesalnya ketika berada di situasi tersebut anda repot tak bisa menggunakan alat komunikasi seperti handphone. Jadi, siapkan baterai ketika hendak jalan2 atau bawa energi cadangan seperti power bank untuk mengurangi resiko hal-hal tersebut.
       
      Ke enam, Ingat Waktu
      Penting untuk memperhaikan waktu bermain anda. Jangan sampai lupa waktu dan membuat satu sama lain menunggu, jika anda bersama rombongan. Jika sendiri, ingat waktu juga penting. Anda akan sulit mencari jalan di saat minimnya cahaya. Jadi, jangan lupa lihat-lihat jam ketika bermain.
       
      Ke-7, Perhatian dengan tempat dan jalan yang dikunjungi
      Tak ada salahnya memberikan perhatian terhadap sejumlah lokasi dan jalan yang anda lewati. Anda bisa menghafal lokasi yang dikunjungi untuk memudahkan pencarian jalan kembali ketika tersesat. Biasanya, ketika tidak menghafal dan tersesat kita suka menyesal karena bingung memilih jalan. jadi, hal tersebut bisa diantisipasi dengan cara ini.
       
      Ke-8, Ingat rute dari pertama
      Atau anda bisa juga pakai langkah ini. Ingat pintu masuk dan rute yang anda lalui dari pertama anda berkunjung. jadi, anda bisa lebih mudah menemukan jalan yang kembali. Atau bisa menggunakannya untuk saling bertemu kembali dengan teman-teman lainnya.
       
      Ke-9, Malu bertanya sesat di jalan
      Sebagaimana pepatah mengatakan, malu bertanya sesat di jalan. Jangan ragu bertanya tentang petunjuk arah jika sudah mulai kebingungan. Ketika anda tersesat pun, tanya petugas agar informasi yang didapat lebih rinci dan valid. Kalau tanya orang lain mungkin bisa lebih bingung, jadi lebih baik langsung tanya petugas setempat.
      Sebenernya masalah dan tipsnya sangat simple sih, tapi semoga bermanfaat, ya. Happy travelling J