Sign in to follow this  
pleasejackys

Tersesat Waktu Menjelajah Alam? Ini Solusinya!

6 posts in this topic

Tersesat Waktu Menjelajah Alam? Ini Solusinya!

 

 

Menjelajah alam adalah suatu kegiatan yang sangat seru dan penuh manfaat.Berjalan melintasi lebatnya hutan belantara, menyusuri sungai, mendaki gunung, dan memanjat tebing adalah sebuah petualangan yang penuh tantangan dan memicu adrenalin. Memang sangat melelahkan untuk dikerjakan, namun apa yang kita dapatkan pada akhirnya akan sepadan dengan perjuangan yang kita lakukan. Di ujung petualangan nanti, kita akan mendapatkan kenikmatan tak ternilai berupa segarnya udara, asrinya pemandangan, dan suasana menakjubkan yang langka. Rasa puas dan bangga pun akan membuat hati terasa penuh.

 

Memang bukanlah hal yang mudah untuk bisa menyelesaikan petualangan dalam sebuah penjelajahan alam.Berbagai persiapan dan trik perlu kita upayakan semaksimal mungkin demi kelancaran penjelajahan kita. Alam yang akan kita pilih untuk dijelajah pun tidak bisa sembarangan. Tiap obyek memiliki tantangan dan tingkat kesulitannya masing-masing.Di sini, kita harus bisa memilih obyek mana yang sesuai dengan kemampuan kita agar kita terhindar dari berbagai resiko dan masalah.

 

Namun kadangkala, masalah tetap datang walaupun kita sudah berusaha menghindarinya. Salah satu masalah yang biasa muncul pada kegiatan penjelajahan alam antara lain adalah tersesat. Wajar saja jika seorang petualang bisa tersesat di dalam hutan atau gunung karena di sana tidak ada papan penunjuk arah seperti di jalan raya di perkotaan. Belum lagi bentuk lingkungan yang cenderung monoton dan tak beraturan berupa pepohonan memang bisa sangat membingungkan.

 

post-17283-0-34408000-1427360963_thumb.j

Tersesat di Hutan

(Sumber: Flickr. Credit: Dean Aston)

 

Walaupun cenderung umum, tersesat adalah masalah yang cukup serius. Berbagai macam resiko seperti kedinginan, kehausan, kelaparan, dan trauma akan siap menyerang kita jika kita tidak segera kembali. Agar terhindar dari berbagai resiko mengerikan tersebut, ada baiknya kita mempelajari langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan jika kita tersesat nantinya. Mari kita simak penjelasan di bawah ini:

 

 

S.T.O.P

Ada sebuah panduan yang sudah berlaku secara internasional untuk orang-orang yang tersesat saat hiking, camping, atau trekking.Panduan tersebut dikenal dengan istilah S.T.O.P. yang merupakan singkatan dari Stay Calm, Think, Observe, dan Plan. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing poin:

 

 

1. Stay Calm (Tetap Tenang)

 

Stay Calm berarti Tetap Tenang. Inilah hal pertama yang harus dilakukan saat kita menyadari bahwa kita sudah tersesat. Umumnya orang akan langsung panik jika menyadari bahwa ia telah tersesat. Kepanikan ini akan membuatnya semakin sulit untuk mencari jalan keluar. Jika terus dibiarkan, kepanikan bisa membuat kita mengambil sikap yang salah dan justru merugikan diri sendiri. Sebagai contoh, kepanikan akan membuat kita berjalan semakin tak tentu arah yang berakibat membuat kita tersesat semakin jauh atau menciptakan masalah lain yang lebih buruk lagi. Panik juga bisa membuat kita mudah ketakutan dan putus asa sehingga semangat kita untuk berusaha bertahan hisup akan menurun drastis. Maka dari itu, sebaiknya jangan membuat keputusan atau mengambil tindakanapapun sebelum kita berhasil menguasai emosi kita saat tersesat.

 

post-17283-0-26783800-1427360970_thumb.j

Menenangkan Diri Terlebih Dahulu

(Sumber: Flickr. Credit: Tristan O Tierney)

 

Segera hentikan langkah begitu menyadari bahwa kita telah tersesat.Letakkan semua barang bawaan agar badan terasa ringan.Carilah sebuah pohon yang rindang dan duduklah di bawah agar badan terasa rileks. Tarik napas dalam-dalam dan keluarkan. Lakukan berulang kali dalam tempo yang pelan sampai kita merasa tenang.Jika otak sudah terasa tenang, kita bisa memulai langkah selanjutnya.Jika badan dan pikiran sudah cukup tenang, mencari solusi akan terasa lebih mudah.

 

 

2. Think (Berpikir)

 

Langkah selanjutnya yang perlu kita lakukan saat tersesat setelah kita berhasil menguasai diri adalah Think alias Berpikir.Coba ingat kembali rute mana saja yang sudah kita lewati dan bagaimana caranya kita bisa mencapai titik kita berada saat ini.Pikirkan dimana kita mulai salah langkah tadi.Ingat-ingat kembali apakah ada hal yang cukup unik untuk kita ingat yang bisa dijadikan patokan, misalnya pohon besar yang pernah kita lewati atau danau kecil tempat kita mampir minum tadi.

 

Jika kamu menjelajah alam secara berkelompok dan hanya kamu yang tersesat seorang diri, ingat-ingat kapan terakhir kali kamu berada bersama mereka.Apakah sudah cukup jauh atau belum.Pikirkan berapa lama kira-kira waktu yang mereka perlukan untuk menyadari bahwa kamu sudah tidak ada di tengah-tengah mereka lagi.Selain mengingat-ingat, kita juga perlu memikirkan berbagai macam kemungkinan yang akan terjadi mulai saat ini sampai selanjutnya. Adakah orang yang akan segera mencari kita di tengah belantara ini?

 

post-17283-0-36513000-1427360980_thumb.j

Berpikir di Tengah Hutan

(Sumber: Flickr. Credit: Lou By Lou)

 

Pikirkan segala kemungkinan yang ada, dari yang terburuk sampai yang terbaik. Pastikan kita tetap tenang agar pikiran tetap jernih, walaupun saat kita sedang memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Jangan langsung menarik kesimpulan dan mengambil sikap sebelum kita berpikir cukup banyak dalam kondisi tenang.

 

 

3. Observe (Amati)

 

Observe atau Amati adalah langkah yang akan kita ambil setelah selesai mengingat dan berpikir. Amati yang dimaksud di sini adalah kita mengamati lingkungan sekitar kita.Sekilas pandang, yang kita lihat tentu hanyalah hamparan pepohonan lebat yang tidak beraturan. Sepintas, semuanya akan tampak sama saja. Tetapi, jika kita bisa bersikap tenang dan mengamati dengan lebih seksama, kita akan menyadari bahwa setiap satu pohon pasti berbeda dengan pohon lainnya.

 

Dari pengamatan tersebut, mungkin kita bisa mengingat kembali arah mana saja yang baru saja kita lewati. Perhatikan juga keadaan langit, apakah mendung atau cerah. Apakah hujan akan segera turun? Apakah ada binatang buas yang tinggal di sekitar tempat kita berada saat ini?Perhatikan sebanyak mungkin detail yang ada di sekitar kita, siapa tahu ada hal-hal yang bisa kita jadikan petunjuk.

 

post-17283-0-69064700-1427360992_thumb.j

Mengamati Pohon

(Sumber: Flickr. Credit: Jun)

 

Selain keadaan lingkungan, amati juga keadaan diri kita sendiri. Misalnya, seberapa lelahnya kah badan kita?Seberapa banyak bekal makanan dan minuman yang masih tersisa? Kemudian amati lagi keadaan di sekitar kita, dapatkan kita mencari sumber makanan dan minuman yang cukup aman dikonsumsi? Adakah tempat yang cukup nyaman dan aman untuk kita beristirahat sementara?

 

 

4. Plan (Rancana)

 

Setelah cukup banyak berpikir dan mengamati, mungkin kita akan mendapat petunjuk tentang arah mana yang harus kita tuju untuk dapat kembali ke jalan yang benar. Selanjutnya, kita hanya perlu melakukan Plan atau Rencana. Rencana yang perlu kita buat saat tersesat antara lain jalan dan arah mana yang akan kita tuju, berapa lama kira-kira waktu yang diperlukan untuk sampai ke pos atau sampai bertemu kembali dengan rekan sekelompok.

 

Selain rute, kita juga perlu memastikan bekal makanan dan minuman kita cukup. Jika tidak cukup, kita harus mempunyai rencana dimana kita akan mendapatkan makanan dan minuman darurat jika kita terlanjur kehabisan sebelum sampai di pos. Tenaga juga harus dipastikan cukup kuat untuk berjalan sejauh itu. Jika sekiranya tidak kuat, rencanakan dimana kita akan berisitirahat nantinya.

 

post-17283-0-65327000-1427360997_thumb.j

Rencana yang Matang

(Sumber: Flickr. Credit: Julia Nimke)

 

Ketika menyusun rencana, pastikan pikiran kita berada dalam kondisi yang benar-benar tenang. Jangan terburu-buru untuk segera melaksanakan rencana tersebut.Ambillah cukup waktu untuk mereview rencana kita secara perlahan, siapa tahu ada hal yang terlewatkan. Bayangkan kendala apa saja yang mungkin timbul saat kita menjalankan rencana tersebut. Sempurnakanlah rencana kita dengan sebaik-baiknya agar masalah yang ada tidak bertambah parah.

 

 

Dari empat langkah yang ada dalam panduan S.T.O.P, yang paling sulit untuk dikerjakan adalah langkah terakhir ini (Plan/Rencanakan). Dengan informasi, perbekalan, dan keadaan yang sangat terbatas, seringkali kita ragu atas apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Salah langkah akan membuat kita semakin sulit untuk mendapatkan jalan keluar. Solusinya, adalah dengan Stay Put atau Tetap di Tempat.

 

 

STAY PUT ( Tetap di Tempat)

Stay Put atau Tetap di Tempat adalah langkah yang paling aman dan bijak untuk dilakukan saat tersesat ketika kita tidak merasa yakin dengan rencana kita. Stay Put bukan berarti pasrah dengan keadaan, tetapi kita hanya menunggu orang lain datang untuk menemukan kita. Ketika memutuskan untuk Tetap di Tempat pun, ada hal-hal yang harus kita waspadai baik-baik, antara lain:

 

 

1. Tempat

 

Sembari menunggu bantuan datang, diamlah di tempat yang sekiranya cukup mudah bagi kita untuk ditemukan, misalnya di tempat kita berada saat ini, di tepi sungai atau danau, atau di tempat terakhir kali kita masih bersama kelompok. Namun, pastikan bahwa tempat itu cukup aman dan nyaman untuk kita beristirahat sementara.Jika tempatnya kurang memadai, segeralah cari tempat lain yang lebih baik. Usahakan agar tempatnya tidak terlalu jauh dari tempat kita berada saat ini agar kita tidak terlalu sulit untuk ditemukan.

post-17283-0-41289400-1427361003_thumb.j

Gua yang Aman untuk Berteduh

(Sumber: Flickr. Credit: Lynn Roebuk)

 

Tempat yang kita gunakan untuk beristirahat hendaknya berada cukup dekat dari sumber air seperti sungai atau danau. Tempat tersebut juga harus memiliki suhu udara yang nyaman, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin sehingga kita bisa bertahan cukup lama di sana tanpa menderita. Pastikan juga bahwa tempat tersebut cukup aman dari serangan binatang buas.

 

 

2. Dehidrasi dan Air Minum

 

Dehidrasi adalah ancaman yang cukup serius bagi orang yang tersesat di tengah hutan atau gunung.Maka jika kita sampai tersesat saat sedang asyik menjelajah alam, segera periksa seberapa banyak bekal minuman yang kita miliki.Perhitungkan kira-kira berapa lama kita sanggup bertahan hidup dengan sisa air yang ada tersebut.

 

Tanpa air minum, manusia hanya bertahan hidup selama 3 hari bahkan mungkin kurang. Jika beberapa jam tidak minum saja, tubuh akan beresiko terserang dehidrasi. Jika aktivitas kita cukup tinggi, maka kebutuhan air minum akan semakin bertambah. Dapat dikatakan juga, semakin banyak kita beraktivitas, kemungkinan dehidrasi akan semakin tinggi. Maka dari itu wajar jika kita tersesat dengan bekal air minum yang sangat terbatas, kita perlu segera mencari sumber air untuk membantu kita bertahan hidup.

 

post-17283-0-80664900-1427361010_thumb.j

Sumber Air Bersih di Belantara

(Sumber: Flickr. Credit: Irene Furton)

 

Jika air bersih cukup sulit untuk ditemukan, maka air yang agak keruh pun bisa kita jadikan sebagai air minum darurat. Mungkin air ini akan membuat kita sakit perut. Tetapi, itu masih tetap lebih baik daripada tidak minum sama sekali. Agar resiko penyakitnya dapat dikurangi, kita bisa membuat api unggun dan merebus air tersebut terlebih dahulu. Atau jika bisa, buatlah peralatan suling air sederhana.

 

 

3. Kelaparan

 

Ancaman lain setelah dehidrasi bagi para petualang alam yang tersesat adalah kelaparan. Tanpa makanan, manusia maksimal dapat tetap hidup selama 3 minggu.Durasi ini memang jauh lebih panjang daripada jika tanpa minum.Namun, bukan berarti hal ini bisa kita sepelekan.Jika fisik badan tidak cukup kuat, bisa jadi kita hanya bertahan beberapa hari saja tanpa makan apa-apa.

Jika bekal makanan yang ada di ransel tidak cukup banyak, kita harus mengatur strategi agar terhindar dari kelaparan.Makanlah sedikit demi sedikit dengan tempo yang pelan agar perut lebih terasa kenyang walaupun belum banyak makan.Hindari makan lagi sebelum kita benar-benar merasa lapar.Minum air putih sebanyak mungkin untuk mengganjal perut sehingga makanan bisa lebih dihemat.

 

post-17283-0-22415900-1427361017_thumb.j

Berburu Ikan di Sungai untuk Dimakan

(Sumber: Flickr. Credit: Ranch Seeker)

 

Demi bertahan hidup, kita juga perlu mencari bahan makanan lain yang ada di alam di sekitar kita sebagai jaga-jaga seandainya bekal makanan sudah terlanjur habis namun bantuan masih belum datang. Perhatikan tumbuhan dan pohon di sekeliling, apakah ada buah atau dedaunan yang sekiranya cukup aman untuk dikonsumsi.Jika ada sungai atau danau, mungkin kita bisa memancing beberapa ekor ikan setiap kali merasa lapar.Namun, berhati-hatilah dengan jenis ikan yang bisa beracun jika dimakan.

 

 

4. Usir Kesepian dengan Kesibukan

 

Sangatlah wajar jika berada seorang diri di tengah belantara alam liar akan membuat kita merasa kesepian. Semakin lama kita tersesat, rasa kesepian biasanya akan semakin meningkat.Kesepian akan membuat kita lebih mudah merasa lelah dan putus asa. Kesepian juga dapat menumbuhkan rasa takut dan paranoid. Akibatnya, kita akan semakin kekurangan semangat untuk terus berusaha bertahan hidup.

 

Jangan pasrah terhadap keadaan dengan memelihara rasa kesepian tersebut. Sebaliknya, kita justru harus berusaha keras menjauhkan diri dari perasaan tersebut. Cara paling efektif untuk mengusir kesepian adalah dengan menyibukkan diri.Jika kita sibuk, pikiran kita tidak akan melantur kemana-mana sehingga berbagai pikiran buruk akan jauh.

 

post-17283-0-06340500-1427361020_thumb.j

Jangan Sampai Kesepian dan Melamun

(Sumber: Flickr. Credit: Ryan)

 

Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menyibukkan diri sembari menunggu bantuan datang. Antara lain, kita bisa berburu makanan, menjerang air, membuat api unggun, olahraga ringan, atau menyusun tempat yang nyaman untuk tidur. Jika merasa lelah dengan kesibukan, kita bisa tidur.Tidak masalah jika kita menghabiskan banyak waktu untuk tidur siang karena itu masih lebih baik daripada duduk diam sembari melamun atau memaksakan diri untuk terus beraktivitas.

 

 

Tersesat di tengah alam belantara adalah hal yang paling tidak diinginkan oleh siapapun. Berbagai upaya tentu akan kita lakukan agar terhindar dari ancaman yang satu ini. Akan tetapi, sebagai seorang petualang, kita harus menyadari bahwa kemungkinan kita tersesat akan tetap ada sehingga kita juga harus mempersiapkan diri sejak sebelum mulai menjelajah alam. Persiapan tersebut bukan saja dari perbekalan, namun juga berupa persiapan mental yang kuat.Dengan mempelajari strategi di atas, mungkin ilmu ini bisa kita jadikan bekal sebagai antisipasi jika kita tersesat di tengah hutan suatu saat nanti.

Share this post


Link to post
Share on other sites

Create an account or sign in to comment

You need to be a member in order to leave a comment

Create an account

Sign up for a new account in our community. It's easy!

Register a new account

Sign in

Already have an account? Sign in here.

Sign In Now

Sign in to follow this  

  • Similar Content

    • By pleasejackys
      Teman Travellingmu Ternyata Menyebalkan? Coba Solusi Ini…
       
       
      Travelling bersama teman bisa menjadikan petualangan kita terasa lebih seru dan berkesan, asalkan kita bisa mendapatkan teman travelling alias travel partner yang cocok dengan kita. Cocok maksudnya adalah memiliki kesamaan minat dengan kita, memiliki kepribadian yang baik, dan kemandirian. Teman yang seperti itu tentu akan menjadi anugrah tersendiri bagi pengalaman kita dalam mengeksplorasi tempat baru.
       
      Sebaliknya, travelling bersama teman juga bisa mengubah seluruh mimpi indah petualangan kita menjadi kenyataan yang buruk. Hal itu dapat terjadi umumnya jika teman travelling kita ternyata memiliki beberapa sifat yang kurang menyenangkan, misalnya manja, egois, cerewet, tukang mengeluh, dan lain sebagainya. Belum lagi jika minat kita ternyata cukup berbeda dengannya.Jika sudah begini, acara travelling kita tentu menjadi sesuatu yang tak tertahankan lagi.Bisa jadi, kita justru merasa ingin segera pulang agar terhindar dari teman menyebalkan itu tadi.
       

      Teman yang Menyebalkan dan Tak Tertahankan
      (Sumber: Flickr. Credit: Jodie Dee McGuire)
       
      Masalahnya, sungguh disayangkan jika acara travelling kita harus dibiarkan menjadi kekacauan hanya gara-gara orang lain, apalagi jika kita sudah banyak mengeluarkan pengorbanan untuk perjalanan ini, misalnya menabung sekian lama dan menyusun rencana sedemikian matangnya. Sebagai seorang petualang, hendaknya memang kita tidak mudah menyerah dengan keadaan begitu saja.Kita harus bisa berpikir dan bersikap kreatif dalam menghadapi masalah agar tidak dikalahkan dengan keadaan. Untuk urusan travel partner yang menyebalkan, berikut adalah beberapa trik yang bisa kita coba lakukan agar acara travelling kita tidak terasa kacau:
       
       
      1. Earphone atau Buku
       
      Teman yang terlalu banyak mengoceh dan suka mengeluh tentu akan terasa menyebalkan jika kita mendengarnya berbicara atau saat kita mengobrol. Solusi untuk masalah ini cukup sederhana; Hindari mengobrol.Salah satu caranya adalah dengan menggunakan earphone dan nyalakan musik.Bersikaplah seolah-olah kita sedang ingin menikmati musik yang kita mainkan di gadget. Secara tidak langsung, hal ini akan menunjukkan bahwa sekarang bukanlah saat yang tepat untuk mengobrol. Melihat kita sedang asyik dengan earphone, tentu teman kita yang menyebalkan tadi akan diam dan mencari kesibukan lain dengan dirinya sendiri, atau orang lain.
       
      Jika menggunakan earphone masih kurang memuaskan dan tidak cukup untuk menghindarkan kita dari celotehannya, maka lengkapi persenjataan kita dengan satu barang lagi; buku.Biasakan untuk membawa satu buku bacaan yang cukup menarik setiap kali kita travelling untuk mengisi waktu luang dan juga untuk melindungi diri dari travel partner yang membosankan. Sembari mendengarkan musik, bacalah buku tersebut dengan fokus maksimal.Secara logika, orang tidak mungkin bisa konsentrasi membaca jika sambil diajak mengobrol.Jika partner kita masih nekat berceloteh, mintalah supaya dia bisa diam karena kita sedang ingin konsentrasi membaca.
       

      Sibukkan Diri dengan Fokus Membaca
      (Sumber: Flickr. Credit: Lezi Tan)
       
      Trik mendengarkan music dan membaca ini bisa kita terapkan di waktu-waktu tanpa kegiatan, misalnya selama di perjalanan atau saat sedang rehat di kamar hotel. Trik ini cukup efektif untuk menghindari rasa bosan akibat terpaksa mendengarkan omongannya.
       
       
      2. Sewa Hostel
       
      Jika partner travelmu ternyata menyebalkan, segeralah atur akomodasi agar kalian bisa menginap dalam sebuah kamar hostel.Di dalam hostel, satu kamar bisa diisi lebih dari 2 orang yang mana antar penghuninya tidak semuanya saling kenal.Hostel juga memiliki ruang umum dimana semua penguninya boleh berkumpul dan menghabiskan waktu bersama dengan santai.Keadaan inilah yang bisa membantu meringankan beban kita dalam menghadapi teman travelling yang menyebalkan.
       

      Hostel dengan Banyak Penghuni
      (Sumber: Flickr. Credit: Nomads Hostel)
       
      Banyaknya orang asing dalam satu kamar tentu akan membuat temanmu tadi untuk lebih menjaga sikapnya. Lain halnya jika kalian hanya berdua saja dalam satu kamar hotel biasa dimana tentu temanmu akan bersikap lebih bebas dan tidak membatasi diri. Mungkin, hal ini bisa membuatnya tidak terlalu menyebalkan.
       
      Masalah akan lebih ringan untuk dihadapi dan lebih mudah untuk diatasi jika ada orang lain yang ikut mengusahakannya bersama kita. Dengan menginap di hostel, otomatis para penghuni lain juga akan merasa terganggu dengan sikap temanmu tadi. Maka, merekapun akan mencari cara untuk mengendalikannya.
       
       
      3. Cari Teman Baru
       
      Ingin berpetualang bersama teman tetapi teman yang ada malah menyebalkan?Ini berarti kita memerlukan seorang teman baru.Lagipula, bukankah salah satu tujuan dari travelling adalah untuk mendapatkan teman baru?Teman baru bisa didapatkan di mana saja.Kita bisa memulainya dari sesama penghuni hostel tempat kita menginap tadi.Kita juga bisa mencari teman baru secara online lewat forum komunitas atau situs traveler.
       

      Teman Baru
      (Sumber: Flickr. Credit: Nomads Hostel)
       
      Dengan adanya teman baru, kita tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu dengan teman kita yang menyebalkan tadi. Kita juga bisa beraktivitas bersama teman baru sehingga petualangan kita bisa tetap terasa lebih seru, persis seperti apa yang kita harapkan di awal perjalanan. Teman baru juga bisa diajak bergabung sehingga kita tidak perlu sendirian menghabiskan waktu bersama si menyebalkan.Siapa tahu, teman baru ini justru bisa menjadi penengah yang menyelesaikan masalah yang kita alami sebelumnya.
       
       
      4. Rencanakan Aktivitas Sendiri
       
      Travelling bersama teman bukan berarti kita harus menghabiskan waktu 24 jam bersama dengannya selama berada di tempat tujuan. Sesekali, wajar jika masing-masing dari kita menghabiskan waktu dengan kegiatan dan acaranya sendiri-sendiri.Inilah kesempatan emas untuk menghindar sejenak dari si teman menyebalkan tadi.
       

      Berjalan-Jalan Sendiri untuk Merefreshkan Diri
      (Sumber: Flickr. Credit: Sergio)
       
      Teman kita mungkin akan paham dan merasa wajar jika kita mengatur jadwal untuk pergi sendiri seharian tanpanya. Namun, ada juga jenis travel partner yang tidak suka ditinggal. Teman seperti ini mengharapkan kita bisa selalu bersama setiap waktu setiap hari, yang tentu saja akan terasa tidak nyaman bagi kita. Triknya untuk menghadapi situasi ini adalah dengan merencanakan kegiatan yang sangat tidak disukainya sehingga dia memilih untuk ditinggal dan beraktivitas sendiri.
       
       
      5. Kabur Mendadak
       
      Merencanakan sebuah kegiatanuntuk dilakukan sendiri seperti poin di atas adalah cara halus untuk menghindari dari teman yang menyebalkan. Cara ini bisa saja gagal jika teman kita ternyata memutuskan untuk tetap mengikuti kemana kita pergi atau memaksa kita untuk mengubah rencana sesuai keinginannya. Nah, jika teman kita termasuk orang yang manja dan keras kepala seperti ini, maka kita harus melakukan cara yang sedikit lebih ekstrim, yaitu kabur mendadak.
       
      Kabur mendadak bukan berarti lari secepat kilat atau menghilang begitu saja tanpa kabar. Hal semacamitu justru akan menimbulkan rasa kaget dan panik. Maksud dari kabur mendadak ini adalah dengan menyampaikan secara mendadak pada teman kita atas rencana kegiatan sendiri yang akan kita lakukan, dan kemudian langsung pergi.
       

      Kabur!
      (Sumber: Flickr. Credit: Amanda Widzinski)
       
      Sebagai contoh, kamu bisa bangun lebih awal dari temanmu dan pergi sebelum dia bangun sehingga tidak ada kesempatan baginya untuk protes. Tinggalkan catatan kecil atau SMS yang menjelaskan bahwa kamu akan pergi seharian seorang diri untuk satu kegiatan. Atau, kita bisa menyampaikan di pagi hari saat sedang bersiap-siap untuk pergi.Buatlah kesan bahwa ide ini muncul mendadak di otakmu dan segeralah pergi begitu selesai memberitahunya.
       
      Kabur seperti ini mungkin memang cara paling efektif untuk menghindar dari teman yang menyebalkan. Akan tetapi, belum tentu cara ini bisa menyelesaikan masalah. Bisa jadi, teman kita justru merasa marah dan tersinggung karena merasa “ditinggal mendadakâ€. Hal ini justru akan berakibat terjadinya konflik yang lebih heboh dari sebelumnya. Untuk itu, cara ini mungkin harus diikuti dengan alasan yang meyakinkan mengenai kenapa kita harus memberitahunya dengan sangat mendadak dan sepihak. Jika teman kita tadi termasuk orang yang sensitif, sangat dianjurkan agar kita tidak menggunakan kiat ini untuk menghindar dari mereka.
       
       
      5. Bicarakan dengan Lembut
       
      Seribu satu cara bisa kita usahakan agar tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu dengan partner travelling kita yang menyebalkan. Akan tetapi, kita tidak mungkin selamanya menghindar.Pada beberapa kesempatan, tetap saja kita harus bersamanya untuk menghabiskan waktu karena itulah rencana awalnya.
       
      Supaya kita tidak berlarut-larut dalam perasaan sebal, ada baiknya kita menghadapi masalah ini dengan bijak dan berani.Caranya adalah dengan membicarakan masalah ini kepada teman tersebut secara langsung. Katakan dengan lembut sikap apa darinya yang membuat kita tidak nyaman dan sampaikan apa yang kita harapkan darinya.Lagipula sebagai seorang teman, sudah sepatutnya kita membicarakan setiap masalah dengan baik-baik dari hati ke hati dan kemudian bermusyawarah bersama untuk mencari solusinya yang terbaik.
       

      Bicara dari Hati ke Hati
      (Sumber: Flickr. Credit: cassielane)
       
      Sebelum mengajaknya berbicara, kita harus sudah mempertimbangkan terlebih dahulu bagaimana kira-kira reaksinya nanti. Apakah dia akan tersinggung, marah, atau justru dia akan menerimanya dengan bijak dan terbuka. Siapkan diri kita atas segala kemungkinan reaksinya.Jangan mudah terpancing emosi agar komunikasi bisa tetap terjaga dengan baik.
       
      Kemungkinan teman kita tersebut memiliki alasan dan penjelasan sendiri atas sikapnya yang kita tidak ketahui. Untuk itulah kita perlu memberinya kesempatan untuk berargumen. Dengarkan apayang perlu diungkapkannya sebelum kita mulai menuntut suatu sikap darinya. Jika kita dan teman kita cukup bisa bersikap terbuka dan dewasa, masalah ketidakcocokan yang menyebalkan tadi tentu dapat terselesaikan dengan mudah setelah dibicarakan dengan baik-baik dari hati ke hati.
       
       
      6. Tegaskan dan Atur Batasan
       
      Jika kita sudah membicarakannya dengan baik-baik dan teman kita masih belum bisa mengubah sikapnya, maka kita harus membicarakannya sekali lagi dengan sedikit lebih tegas dari sebelumnya. Ulangi pernyataan kita tentang sikapnya yang mengganggu dan sampaikan apa yang kita harapkan darinya. Tidak perlu berteriak atau bersuara sinis ketika mengucapkannya.Tapi, katakan dengan lembut namun tegas.Ingat bahwa bagaimanapun juga, orang tersebut adalah teman kita dan tidak sebaiknya kita melakukan sesuatu yang dapat merusak pertemanan tersebut.
       
      Selain menegaskan hal itu, buat juga batasan atas bagaimana kalian bersikap terhadap satu sama lain. Batasan tersebut berupa sejauh mana kita bisa memberikan toleransi atas sikapnya yang negatif tadi dan apa yang paling mengganggu kita dari sikapnya. Sampaikan juga apa yang akan kita lakukan jika dia melakukan sikap yang sudah melewati batas tolerasni kita tadi.
       

      Tentukan Garis Batas
      (Sumber: Flickr. Credit: delombre)
       
      Sebagai contoh, anggaplah kita berhadapan dengan travel partner yang manja.Jelaskan padanya sampai batas mana kita dapat mentolerir kemanjaannya. Misalnya, dia boleh memilih tempat makan yang disukainya, tapi tidak boleh mengeluh jika harus berlama-lama naik kendaraan umum untuk pergi ke sana. Contoh lain misalnya ketika kita bepergian dengan teman yang hobi terlambat. Sampaikan bahwa toleransi keterlambatan baginya hanya 30 menit atau kita akan pergi sendiri meninggalkannya.
       
      Walaupun sudah membuat ketegasan dan aturan batasan, tidak sebaiknya kita bersikap terlalu keras padanya. Sesekali, buatlah toleransi yang lebih longgar dan bersabarlah.Jika perlu mengingatkan teman kita atas sikapnya, sesekali sampaikan dengan rasa humor agar suasana tidak terlalu kaku dan tegang. Melihat sikap kita yang baik dan sabar, tentu teman kita akan termotivasi untuk bersikap lebih baik lagi.
       
       
      7. Temukan Cara untuk Santai
       
      Seberapapun mengganggunya sikap teman kita, perlu kita ingat bahwa tujuan kita pergi jauh adalah untuk menikmati hidup dan bersenang-senang.Untuk itu, jangan sampai sikap teman kita tadi membuat kita pusing dan ribet sendiri.Ingat selalu bahwa waktu kita terlalu berharga untuk dihabiskan dengan mood yang suram dan aura negatif.
       

      Tetap Tersenyum dan Cerialah
      (Sumber: Flickr. Credit: lindseyy)
       
      Setiap kali merasa sebal, alihkan perhatian kita pada hal lain yang jauh lebih menyenangkan. Temukan caramu sendiri untuk bisa tetap santai dan tidak terlalu memikirkan perasaan sebal tersebut. Sebagai contoh, mungkin kita bisa meminum secangkir teh hangat dan kemudian berjalan-jalan sendirian keliling kota. Dengan bersantai sejenak, kita dapat mengembalikan mood kita yang tadi rusak sehingga kita bisa kembali berpetualang dengan penuh riang gembira.
       
       
      8. Ambil Hikmahnya
       
      Sebagai seorang traveler, sebaiknya kita mampu bersikap bijak dalam menghadapi setiap masalah yang ada. Ingat selalu bahwa dibalik setiap masalah pasti akan ada hal positif lain yang bisa kita petik, termasuk saat kita terjebak dengan seorang travel partner yang menyebalkan. Coba renungkan dalam hati, hal baik apa yang kita dapatkan dari sini. Misalnya, dengan travel partner yang menyebalkan, kita jadi tergerak untuk mencari teman baru.Kita jadi termotivasi untuk memberanikan diri berjalan-jalan sendiri.Atau, kita bisa bersikap lebih dewasa dengan berusaha mentoleransinya.
       

      Renungkan Hikmahnya
      (Sumber: Flickr. Credit: SuperDewa)
       
      Dengan mengambil hikmahnya, setiap masalah yang ada akan terasa lebih ringan dan mudah untuk dilalui. Pikiran dan perasaan kita pun juga akan lebih tenang dan tidak terganggu. Otomatis, rencana jalan-jalan kita pun tidak akan terlalu terkacaukan.
       
       
      Adanya teman atau partner saat kita travelling bisa memberi banyak manfaat. Kita bisa merasa lebih aman dan nyaman karena ada orang di sebelah kita untuk menghadapi setiap hal bersama. Selain itu, pengalaman dalam beraktivitas bisa terasa lebih seru dan mengasyikkan karena adanya teman untuk berbagi. Akan tetapi, semua keuntungan tersebut bisa sirna dan justru berbalik ke arah sebaliknya jika kita memilih teman travelling yang salah.
       
      Awalnya mungkin kita tidak akan menyangka bahwa partner kita akan berubah menjadi orang yang menyebalkan saat travelling nanti. Sifat tersebut baru terlihat saat kita sudah mulai melakukan perjalanan sehingga tidak mungkin untuk dibatalkan. Akan tetapi, hal itu tidak sebaiknya menghalangi niat kita untuk tetap bersenang-senang dan berpetualang.
    • By pleasejackys
      Agar Tidak Tersesat Saat Menjelajah Alam
       
       
      Menjauh sejenak dari kehidupan kota yang modern dan menceburkan diri ke dalam belantara hutan yang alami adalah sebuah petualangan yang sangat menarik untuk dilakukan. Penjelajahan alam seperti bukan saja bisa menantang jiwa petualang kita, namun juga memberikan banyak manfaat. Badan kita akan terlatih agar lebih sehat dan kuat. Selain itu, udara yang akan kita hirup pun jauh lebih menyegarkan daripada udara yang biasa kita hirup di kota. Indahnya suasana ciptaan Tuhan yang kita eksplorasi ini juga bisa memberikan kenyamanan dan ketentraman batin saat kita berada di dalamnya sehingga rasa stress dan jenuh pun akan hilang dari pikiran kita.
       
      Namun, tak bisa dipungkiri juga bahwa kegiatan jelajah alam bukanlah tanpa resiko.Medan yang tidak biasa dan liar ini bisa saja membawa kita ke dalam suatu masalah.Salah satu masalah besar yang mengancam kita saat menjelajah alam adalah tersesat.Tersesat di belantara alam dapat terjadi karena kita kehilangan arah, lupa jalan yang dilalui, dan lain sebagainya.
       
       

      Hutan untuk Dijelajah
      (Sumber: Flickr. Credit: Azfar Nasirudin)
       
      Berbagai resiko mengerikan mengancam kita jika kita tersesat seorang diri di tengah hutan, mulai dari kelaparan, kehausan, kedinginan, ketakutan, dan banyak hal lagi. Untuk itu, wajar jika orang-orang selalu melakukan berbagai macam usaha persiapan sebelum menjelajah alam agar terhindar dari resiko tersesat. Tanpa perlu basa-basi, mari kita simak berbagai tips berikut ini yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir resiko kita tersesat di tengah hutan belantara:
       
       
      1. Hindari Pergi Sendirian
       
      Sebagian orang memang lebih suka berkelana sendirian di alam bebas. Dengan begini, dia akan memiliki lebih banyak kebebasan dalam menentukan segala hal termasuk rute mana yang harus ditempuh, kapan dan berapa lama akan beristirahat di tengah jalan, seberapa cepat berjalan, dan lain sebagainya. Ketika menjelajah hutan sendirian, kita juga memiliki kesempatan untuk merenung dan larut dalam pikiran kita sendiri.Namun di sisi lain, berpetualang sendirian di alam bebas memiliki resiko tersesat yang jauh lebih tinggi daripada saat kita pergi bersama orang lain.
       
      Ketika kita menjelajah alam secara berkelompok, antar satu sama lain akan saling mengingatkan jika ada salah satu anggotanya yang salah dalam menentukan arah jalan. Jika salah arah pun, kita tentu akan jauh lebih mudah kembali ke jalan yang benar karena kita dapat mengingat dan memikirkan solusinya bersama-sama. Sementara kalau sendirian, kita tidak bisa memastikan apakah jalan yang kita tempuh saat ini benar atau tidak.
       
       

      Mendaki Gunung Sendirian
      (Sumber: Flickr. Credit: Dave Schreier)
       
      Jika tidak ada teman untuk diajak pergi bersama, cobalah menyewa jasa dari seorang pemandu hutan untuk menemani kita melintasi alam liar. Pemandu hutan tentu sudah mengenal obyek tersebut dengan baik sehingga tahu jalan mana saja yang harus ditempuh.Apabila kita memang benar-benar ingin sendirian dalam menjelajah hutan, maka pilihlah jalur tempuh yang paling aman agar kita bisa menyelesaikan petualangan kita dengan mudah. Jika nanti kita tersesat pun, kita akan cenderung lebih mudah untuk ditemukan kembali oleh team penyelamat.
       
       
      2. Jangan Terpisah dari Kelompok
       
      Dari poin di atas, kita sudah bisa menyadari bahwa menjelajah alam bersama dalam sebuah kelompok akan jauh lebih aman daripada menjelajah seorang diri. Namun, itu semua akan sia-sia saja jika kita sampai terpisah dari kelompok kita. Maka dari itu, sebuah kelompok penjelajah hutan seharusnya mengatur strategi agar tidak ada satu anggota pun yang terpisah dari mereka untuk menghindari resiko mereka tersesat di tengah hutan.
       
      Ketika berjalan melintasi alam, pastikan tidak ada satu anggota pun yang terpisah. Jangan berjalan jauh mendahului kelompok dan jalan berjalan terlalu lambat sampai berada jauh di belakang mereka. Pastikan langkah kita dan semua anggota kelompok berada dalam kecepatan yang sama. Setiap beberapa waktu sekali, hitung jumlah anggota kelompok dan pastikan jumlahnya masih sama seperti saat kita berangkat tadi.
       
       

      Mendaki Bersama Teman
      (Sumber: Flickr. Credit: Mike Robinson)
       
      Ketika merencanakan untuk berpetualang bersama kelompok, pilihlah anggota kelompokmu dengan baik. Pertama, pastikan mereka dapat berjalan dengan kecepatan yang sama dengan kita sehingga tidak ada yang berjalan mendahului di depan ataupun tertinggal di belakang. Tiap orang juga harus memiliki kemampuan mendaki atau trekking yang cocok dengan medan yang akan kita tempuh nanti sehingga kita tidak akan kesulitan melintasinya. Saat berangkat, pastikan tiap anggota sedang berada dalam kondisi fisik yang baik.
       
       
      3. Pilih Jalur yang Aman
       
      Dalam setiap obyek wisata alam, biasanya ada berbagai macam track yang sudah disediakan pihak pengelola untuk memudahkan para turis melintasinya dengan mudah. Beberapa track memiliki tingkat kesulitan dan tantangannya masing-masing. Di tengah-tengah track, biasanya akan terdapat beberapa pos pengelola dimana kita bisa beristirahat sejenak. Di pos ini kita juga bisa mendapatkan bantuan jika kita mengalami masalah seperti kehabisan minum atau terluka.
       
      Ketika akan menjelajah hutan, kunjungilah pos yang berada di titik awal dan mintalah informasi yang lengkap tentang pilihan jalur yang ada. Pilihlah satu jalur yang medannya sesuai dengan kemampuan kita. Jangan memaksakan diri memilih jalur yang sulit, apalagi mencoba mencari jalur baru sendiri yang belum pernah dilalui oleh orang lain. Jalur ini hanya akan membawa masalah kecuali kita memang memiliki keahlian jelajah alam yang sangat tinggi.
       
       

      Jalur yang Sulit dan Penuh Resiko
      (Sumber: Flickr. Credit: Ameer Hamza)
       
      Sampaikan kepada petugas pos jalur mana yang akan kita tempuh dan berapa lama waktu yang sekiranya akan kita perlukan untuk mencapai pos berikutnya. Dengan begini, pos kedua akan bersiap menunggu kehadiran kita nantinya. Cara ini akan lebih memudahkan para petugas untuk menyadari jika nanti kita tersesat sebelum mencapai pos berikutnya. Mereka pun juga akan lebih mudah dalam berusaha mencari keberadaan kita.
       
       
      4. Peta, dan Kompas
       
      Penyebab utama tersesat yang paling umum dialami oleh para petualang adalah hilang arah dan lupa jalur mana yang harus ditempuh.Maka dari itu, jangan pernah lengah dan menyepelekan urusan ini.Setiap kali kita melangkah, kita harus tahu arah mata angin dan arah tujuan kita yang benar.Jalan yang kita pilih pun harus kita yakini dengan pasti bahwa itulah jalan yang tepat.
       
      Jika berjalan-jalannya di tengah kota, kita bisa mengandalkan GPS untuk memberitahu dan memastikan dimana kita berada dan arah mana yang harus dituju. GPS akan sangat memudahkan kita untuk melangkah dengan benar. Masalahnya, di tengah hutan, teknologi ini  tidak bisa terlalu diandalkan. Sinyal GPS akan sangat lemah dan bahkan mungkin hilang saat kita berada di tengah hutan. Ini berarti, arah dan lokasi yang ditunjukkan bisa jadi tidak valid. Belum lagi jika baterai gadget kita habis, maka GPS pun akan ikut mati.
       

       
      Membaca Peta dengan Kompas
      (Sumber: Flickr. Credit: Forest History Society)
       
      Untuk dapat bertahan di tengah belantara alam liar, kita harus bisa menentukan arah dengan cara yang lebih konvensional, misalnya dengan menggunakan peta fisik dan kompas. Penjelajah hutan sudah seharusnya tahu cara menggunakan kompas dan tahu cara membaca peta manual dengan baik dan benar. Selain dapat memastikan kita menempuh jalan yang benar, dua alat ini juga bisa membantu kita menemukan kembali jalur yang benar jika kita tersesat nanti.
       
       
      5. Meninggalkan Jejak
       
      Kondisi alam yang lebat dan tidak beraturan seringkali membingungkan para penjelajah, terutama para pemula.Tak jarang kita lupa jalur mana yang baru saja kita lewati karena semuanya tampak tidak jelas.Orang yang sudah cukup ahli dalam trekking mungkin bisa dengan mudah mengenali pohon mana saja yang baru saja dilaluinya sehingga mereka bisa berbalik arah kapanpun tanpa kebingungan. Masalahnya bagi para pemula, akan sulit untuk mengingat bentuk, ukuran, dan jenis pohon apa saja yang ada di jalur yang ditempuhnya. Inilah yang akan menyulitkan mereka jika tersesat nanti.
       
      Solusinya, kita bisa memberi tanda pada setiap pohon yang kita lewati agar kita tahu arah mana yang baru kita tempuh.Seandainya nanti tersesat, yang perlu kita lakukan adalah berjalan menyusuri pepohonan bertanda yang sudah kita buat tadi. Tanda-tanda inilah yang akan menuntun kita kembali ke titik awal perjalanan kita.
       
       

      Tanda di Pohon
      (Sumber: Flickr. Credit: Paul Yurkovich)
       
      Hindari menggunakan spidol, paku, atau benda apapun yang bersifat permanen atau merusak pohon saat membuat tanda. Sebaliknya, gunakan bahan yang bisa hilang tanpa bekas.Sebagai contoh, kita dapat menggambar suatu tanda di batang pohon dengan menggunakan kapur.Atau kita bisa mengikatkan sehelai kain slayer di rantingnya.Meninggalkan jejak dalam penjelajahan alam memang penting untuk keselamatan kita.Namun, jangan sampai usaha kita justru mengganggu keselamatan alam itu sendiri.
       
       
      6. Pakaian
       
      Pemilihan pakaian yang tepat juga dapat membantu kita terhindar dari bahaya tersesat.Caranya adalah dengan memilih pakaian yang memudahkan kita untuk bergerak bebas.Pakaian juga harus cukup tebal sehingga tidak mudah robek jika tersangkut ranting pohon.Namun, jangan terlalu tebal juga karena bisa membuat kita kegerahan. Jika dapat bergerak bebas, kecil kemungkinannya kita akan tertinggal dari rombongan. Dan jika kita tersesat, pakaian ini akan memudahkan kita untuk melakukan banyak hal yang kita usahakan untuk bertahan hidup.
       
      Pilihlah pakaian dengan warna mencolok sehingga lebih mudah ditangkap oleh mata orang lain. Jika mendaki bersama teman, warna ini akan memudahkan mereka untuk mengenali keberadaan kita. Ini berarti, mereka akan lebih cepat sadar jika kita terpisah. Selain itu, warna yang mencolok juga akan memudahkan tim penyelamat untuk menemukan kita.
       
       

      Pakaian Mencolok di Hutan
      (Sumber: Flickr. Credit: Agustinus Benedictus)
       
      Alas kaki pun harus kita pilih dengan bijak. Alas kaki sebaiknya tertutup agar kaki terlindungi dari kerikil tajam maupun binatang kecil-kecil yang ada di sekitar permukaan tanah. Gunakan sepatu olahraga yang kuat agar tidak mudah rusak jika kita pakai berjalan di tanah dengan kondisi apapun.Sepatu juga tidak boleh terlalu berat agar kita tidak mudah lelah saat berjalan.
       
       
      7. Perbekalan
       
      Masalah besar yang dihadapi orang-orang yang tersesat di hutan adalah kelaparan dan kehausan. Semakin lama tersesatnya, resiko ini akan semakin mengancam nyawa. Untuk meminimalisir resiko ini, sangat disarankan bagi tiap orang untuk membawa bekal makanan dan minuman yang cukup setiap kali melakukan penjelajahan hutan.
       
       

      Bekal Makanan untuk ke Hutan
      (Sumber: Flickr. Credit: Noor Ali Hasan)
       
      Bekal harus dibawa sendiri-sendiri tiap orang, jangan dikumpulkan di satu orang dalam kelompok karena tiap orang bisa saja terpisah dari rombongan.Dengan membawa bekal masing-masing, setidaknya tiap orang memiliki cadangan untuk bertahan hidup selama beberapa waktu ketika tersesat nanti.
       
      Semakin banyak bekal yang dibawa tentu akan semakin menjamin keberlangsungan hidup kita saat di alam liar. Namun di sisi lain, perbekalan yang terlalu banyak akan membuat ransel kita terasa lebih berat. Untuk itu, perhitungkanlah dengan bijak sebarapa banyak bekal makanan dan minuman yang akan kita bawa.
       
       
      8. Perlengkapan Antisipasi
       
      Selain perbekalan makanan dan minuman, kita juga perlu menyiapkan beberapa peralatan yang bisa membantu kita bertahan hidup jika kita tersesat nanti.Ini adalah tindakan antisipasi yang penting untuk dipersiapkan. Beberapa perlengkapan standar yang diperlukan antara lainpeta dan kompas untuk menentukan arah, kapur tulis untuk memberi tanda di pohon atau di bebatuan besar, alat penyuling air, kotak P3K dan obat-obatan standar, dan sebagainya.
       
       

      Perlengkapan Bertahan Hidup di Alam Liar
      (Sumber: Flickr. Credit: Have Fun SVO)
       
      Kita juga bisa membawa peluit untuk ditiup saat tersesat nanti. Suara peluit yang tinggi dan melangking dapat terdengar hingga jarak yang cukup jauh. Ini akan memudahkan orang lain untuk melacak keberadaan kita. Selain peluit, kita juga bisa memanfaatkan senter untuk memberi sinyal darurat dengan cara menyorotkannya ke langit. Untuk itu, jangan pernah pergi berpetualang di alam liar tanpa membawa senter dengan baterai dan tingkat keterangan yang memadai.
       
       
      9. Pelajari Kemampuan Bertahan Hidup di Alam
       
      Tindakan antisipasi selanjutnya yang penting untuk kita persiapkan saat akan menjelajah alam liar adalah kemampuan untuk bertahan hidup dan menyelamatkan diri. Ada berbagai trik sederhana yang bisa kita pelajari dengan mudah, namun cukup efektif untuk membantu kita bertahan dalam kondisi tersesat sendirian di tengah hutan belantara.
       
       

      Bertahan di Alam Liar
      (Sumber: Flickr. Credit: Fransesco Vitarelli)
       
      Hal pertama yang perlu kita kuasai adalah pedoman S.T.O.P. Pedoman ini merupakan urutan langkah yang harus dilakukan saat tersesat. STOP merupakan singkatan dari Stay Calm (Tetap Tenang), Think (Berpikir), Observe (Amati), dan Plan (Rencanakan). Selain menguasai pedoman ini, kita juga perlu menguasai beberapa keahlian dasar seperti bagaimana menyalakan api unggun, bagaimana menemukan tempat berteduh yang aman, bagaimana cara menghindari binatang buas, tindakan pertolongan pertama jika kita menderita cedera, cara menemukan dan menyuling air, dan lain sebagainya.
       
       
       
      Tersesat di hutan adalah pengalaman yang paling tidak diinginkan oleh siapapun. Bahkan orang yang terbiasa hidup di alam liar pun tidak ingin mengalaminya. Karena itulah kita tetap harus berusaha menghindarinya. Namun, kita perlu menyadari bahwa kemungkinan itu pasti ada.Ini berarti, kita juga harus mampu menyiapkan tindakan antisipatif. Setiap kali akan menjelajah alam, kita juga harus sudah siap mental untuk menghadapi resiko terpisah dari rombongan dan tersesat. Jika mental, fisik, dan perbekalan sudah siap, maka resiko tersesat tidak akan terasa begitu mengerikan. Yang paling penting, rajinlah berdoa untuk keselamatan dan kelancaran kita setiap kali berpetualang menjelajah liarnya alam ciptaan Tuhan.
    • By Agus Bolang Setiawan

      Kali ini topik yang akan sedikit saya ulas adalah tentang Cagar Alam. saya sendiri pun tak lebih pantai dengan kalian semua, tak ada maksud untuk mengurui atau sok tau. saya hanya saling mengingatkan kepada semua terutama para pengiat alam (pelaku kegiatan alam). langsung saja ke pokok utama.  Belakangan ini kegiatan di alam bebas sangat ramai dan populer. alam indonesia memang indah sayang jika tidak kita nikmati, tapi lokasi kegiatan alam juga di kelomkpokan menurut fungsinya yaitu antara lain Cagar Alam, Taman Nasional, Wisata Alam dll. tapi untuk kali ini saya hanya fokus pada Cagar Alam. karena banyak pelaku kegiatan alam masih salah kaprah, atau sebenarnya tau tapi pura pura tidak tau, atau berdali ikut ikutan yang lain. Banyak pelaku kegiatan alam yang menjadikan cagar alam sebagai tujuan wisatanya, padahal sejatinya Cagar Alam itu sendiri adalah 
       
      Tetapi masih saja banyak yang beralasa untuk membenarkan diri sebagi salah satu cara untuk menuju ke lokasi Cagar Alam tersebut, entah alasan tidak mengotori, bersih bersih lokasi atau alasan untuk penelitian (tapi tidak ada surat keterangan penelitian), dan masih banyak lagi alasan alasan lainnya. sebagia pelaku kegiatan alam bebas yang cerdas tentunya bisa berfikir sudah tidak ada lasan lagi untuk berwisata dengan embel embel alasan. karena fungsi cagar alam ini sudah jelas sebagia suaka alam karena di dalamnya terdapat flora dan fauna yang di lindungi, dan jika banyak kegiatan alam bebas di lakuakan di loaksi tersebut otomatis akan menganggu keseimbangan alam yang terjadi disana. contohnya satwa satwa tentunya sangat tergangu kedatangan manusia apalagi jumlah banyak dan sering. begitu juga fauna disana.    Jadi saya disini hanya saling mengingatkan kepada para pengiat alam bebas untuk saling menjaga dan lebih cerdas dalam memilih lokasi untuk berwisata. masih banyak lokasi wisata yang indah dan cantiknya tak kalah dengan lokasi cagar alam.
    • By nonaJJ
      Apa ada yang punya pengalaman kesasar di tempat-tempat rekreasi? Bukan cuma anak kecil lho yang bisa nyasar, orang dewasa pun nggak menutup kemungkinan merasakan hal ini. Kok bisa begitu ya? Alasannya ya pasti karena kebingungan. Wajar saja, taman-taman rekreasi (apalagi yang besar) punya area yang luas dan membingungkan. Ditambah lagi, jika taman rekreasi tersebut pertama kalinya anda kunjungi.
       
      Ada cara untuk mencegah hal tersebut terjadi. Apa saja? Jadi begini...
       
      Pertama, Jika bersama rombongan, jangan pernah pisah dari rombongan.
      Jalan2 bersama rombongan ini emang berpotensi menyebabkan seseorang kesasar. Soalnya, kalau jalan2 sebagai pengikut bukan guide ya, itu biasanya ga tahu detail lokasi tempat wisata. Karena merasa ada pemandu dan penanggung jawab rombongan, para peserta sering mengabaikan pentingnya mengenal lokasi wisata.
       
      Akibatnya, bagi yang membandel suka pisah dari rombongan dan akhirnya kesasar. Ya walaupun kalau kesasar di tempat wisata bukan masalah besar, tapi tetap saja namanya rombongan sebaiknya ikut aturan timnya. Jadi, hindari pisah dari rombongan untuk kenyamanan bersama.
       
      Ke dua, memiliki peta lokasi
      Banyak tempat wisata yang memiliki peta lokasi yang bisa anda dapatkan di loket atau pusat informasi. Peta lokasi tersebut sebaiknya anda bawa untuk berjaga-jaga. Meski sudah ada plang penunjuk jalan, anda tidak selamanya bisa menemukan jalan lebih mudah semudah anda membaca peta. Nggak ada salahnya kan membawa secarik kertas peta lokasi wisata?
       
      Ke tiga, Tahu pusat informasi
      Mudah jika anda tahu pusat informasi yang terletak di tempat rekreasi yang anda kunjungi. Jadi, ketika masuk, pastikan anda tahu letak pusat informasi tersebut. Ini bisa membantu anda ketika mulai tersesat atau pisah dari rombongan.
       
      Ke empat, Hafalkan sebuah meeting point
      Nah, biasanya ini cukup efektif ketika anda tersesat atau pisah dari teman perjalanan. Jika memang mau berpisah dan tidak bingung untuk kembali, buat kesepakatan di antara kelompok anda sebuah meeting point yang bisa dituju. Misalnya ketika pergi ke taman bermain seperti Dufan, anda bisa janjian untuk bertemu di salah satu wahana termudah untuk ditemui. Jadi, anda tak perlu repot saling mencari ketika mulai tersesat.
       
      Ke lima, Jangan Putus Komunikasi
      Ketika berpisah dan bingung bertemu dengan teman perjalanan, hal yang paling penting adalah alat komunikasi. Kebayang kan bagaimana kesalnya ketika berada di situasi tersebut anda repot tak bisa menggunakan alat komunikasi seperti handphone. Jadi, siapkan baterai ketika hendak jalan2 atau bawa energi cadangan seperti power bank untuk mengurangi resiko hal-hal tersebut.
       
      Ke enam, Ingat Waktu
      Penting untuk memperhaikan waktu bermain anda. Jangan sampai lupa waktu dan membuat satu sama lain menunggu, jika anda bersama rombongan. Jika sendiri, ingat waktu juga penting. Anda akan sulit mencari jalan di saat minimnya cahaya. Jadi, jangan lupa lihat-lihat jam ketika bermain.
       
      Ke-7, Perhatian dengan tempat dan jalan yang dikunjungi
      Tak ada salahnya memberikan perhatian terhadap sejumlah lokasi dan jalan yang anda lewati. Anda bisa menghafal lokasi yang dikunjungi untuk memudahkan pencarian jalan kembali ketika tersesat. Biasanya, ketika tidak menghafal dan tersesat kita suka menyesal karena bingung memilih jalan. jadi, hal tersebut bisa diantisipasi dengan cara ini.
       
      Ke-8, Ingat rute dari pertama
      Atau anda bisa juga pakai langkah ini. Ingat pintu masuk dan rute yang anda lalui dari pertama anda berkunjung. jadi, anda bisa lebih mudah menemukan jalan yang kembali. Atau bisa menggunakannya untuk saling bertemu kembali dengan teman-teman lainnya.
       
      Ke-9, Malu bertanya sesat di jalan
      Sebagaimana pepatah mengatakan, malu bertanya sesat di jalan. Jangan ragu bertanya tentang petunjuk arah jika sudah mulai kebingungan. Ketika anda tersesat pun, tanya petugas agar informasi yang didapat lebih rinci dan valid. Kalau tanya orang lain mungkin bisa lebih bingung, jadi lebih baik langsung tanya petugas setempat.
      Sebenernya masalah dan tipsnya sangat simple sih, tapi semoga bermanfaat, ya. Happy travelling J
    • By ariza
      Tarusan Kamang, sebuah danau kecil yg cukup luas, dengan keunikan tidak sepanjang tahun menajdi danau. adakala tempat ini menjadi padang rerumputan hijau. salah satu fenomena alam yang unik dan pantas disinggahi bagi para petualang. Berada sekitar 12 Km arah Selatan kota Bukittinggi. berada ditepi Bukit barisan dengan pemandangan alam yg indah dan udara yang segar.
    • By ariza
      Danau Diateh ( danau dibawah ) merupakan salah satu keunikan Alam yang indah, berjarak 1 jam perjalanan dari Kota Padang. dilokasi ini ada dua danau ( Danau kembar ) yaitu Danau diateh dan Danau dibawah, dua danau yg bersisian dengan jarak sekitar 700 meter, dikatakan danau diateh (atas) karena permukaannya berada lebih tinggi dari Danau yg satu lagi. Danau diateh lebih populer karena mudah dijangkau oleh kendaraan dan dan lengkap dengan sarana penginapan maupun boat. sementara danau dibawah, hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki, menuruni lereng sisi danau tersebut.